Saranghae

Henry-Fantastic--610x407

Nama : Song Pyong

Judul Cerita : Saranghae

Tag (tokoh/cast) : Henry, Kyuhyun, Kang Hanna ( OC ), Shin Hye ( OC ), members of Super Junior

Genre : Romance, Sad

Rating : General

Length : Chapter

Catatan Author (bila perlu): ini ff tentang Henry saat saya nge-fans sama mochi ini *sekarang juga masih ngefans tapi saya sudah dikontrak sama bang epil sejak lama syekali* dan suka banget sama lagu Trap-nya (dengerin berukang kali tetep suka, walaupun ini lagu lama tapi tak apa) dan ini bikinnya udah lama banget. Hoho, maaf bertebaran typo, soalnya saya gak terlalu teliti. Happy reading and thanks to admin for publishing this absurd FF. Btw, saya bikin ff ini udah lama banget. J

 

^^

20 – 05 – 2013

 

Dia pergi, seperti apa yang telah kuperkirakan sejak lama. Kisahku memang tak akan berakhir dengan bahagia. Takdir sudah menggariskan hal itu sejak dulu. Tetapi, mengapa hati ini rasanya sangat sakit? begitu menyesakkan dada, padahal aku sudah tahu bahwa ini akan berakhir seperti ini? terkadang hati memang tak pernah sejalan dengan akal sehat. Akal sehatku berkata bahwa memang inilah yang terbaik untuk membiarkannya pergi, tetapi hati ini masih berharap dia akan berbalik kepadaku dan memelukku sambil berkata “Mianhe, seharusnya aku tetap berada disisimu sekeras kepala apapun dirimu”. Lalu seperti biasa dia akan memainkan biolanya sambil memandangku lembut. Membuatku tertidur dengan alunan Bhrams Lullaby yang biasa dia mainkan khusus untukku. Tetapi, hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku dan dia sudah berpisah seperti yang seharusnya terjadi.

Wo ai ni.

 

***

2 years ago…

Seorang laki-laki muda berpenampilan aneh karena dia memakai masker hitam, kacamata hitam serta topi yang membuatnya makin tidak dikenali. Tingginya berkisar kurang lebih 176 cm berjalan sendirian di trotoar jalan. Matanya yang sipit mengawasi sepanjang trotoar dengan cermat. Sesekali ia menggumam sebal, berpikir betapa begitu sulitnya mencari barang yang ia tak sadari telah jatuh dari sakunya. Barang itu adalah dompetnya. Sesekali ia menengok ke belakang ketika ia merasa suara seseorang berteriak tetapi ia tidak yakin teriakan itu ditunjukkan kepadanya. Ia menatap kafe yang berada di depannya sambil tersenyum, semoga saja dompetnya tertiggal di dalam kafe.

“ Ya[1] !” Seorang gadis berperawakan mungil dengan pakaian yang serba longgar berlari pelan ke arah laki-laki yang akan masuk ke sebuah kafe. Ia berteriak dengan suara keras yang tidak cocok dengan penampilannya. Pipi chubby-nya memerah karena dingin.

“ Wae[2] ?” Jawab si laki-laki yang dituju si gadis dengan tampang bingung. Ia merasa tak mengenal yeoja[3] mungil yang memanggilnya itu. Sebenarnya lebih tepatnya dia tidak mengenal orang-orang yang berada di kota Seoul ini. Dia di Seoul atau lebih tepatnya Korea Selatan hanya untuk bekerja. Pekerjaannya mengharuskan ia bolak-balik Korea- China.

Gadis itu merengut. Dia sudah berlari-lari hingga nafasnya tersengal-sengal, tetapi orang yang dipanggilnya hanya bertanya dengan ketus. Tangannya yang mungil merapikan Syalnya dengan sebal dan rambutnya yang kusut karena telah berlari cukup lama. Mata bulatnya memandang laki-laki itu dengan tampang tak suka. Ia mengambil sesuatu dari kantong jaketnya dan menyerahkannya kepada si laki-laki. “ Ini.” Gadis itu berkata dengan sebal. “ Jangan salah sangka. Aku tadi memungutnya karena kau menjatuhkannya.”

Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Sebenarnya benda yang gadis itu berikan merupakan benda yang sedang dicari-carinya yaitu dompetnya. Ia memandang gadis itu dengan tatapan meneliti lalu mengangguk. Ia memasukkan dompet itu ke dalam saku jaketnya yang berwarna cokelat. Mata sipitnya meneliti wajah yeoja didepannya dengan saksama lagi.

“ Jangan memandangku seperti itu. Aku bukan fansmu dan aku tak tertarik padamu . dan satu lagi, aku tidak melihat-lihat isi dompetmu. Jika tidak percaya silahkan kau mengeceknya.” Gadis itu berkata dengan sebal sambil menjulingkan mata besarnya. Rambutnya yang pendek ia sisiri dengan tangan. “ Baiklah. Tugasku sudah selesai, maka aku akan pergi.” Dengan cepat gadis itu berbalik ke arah jalan raya meninggalkan si laki-laki yang hanya bisa terdiam sambil tetap memandang gadis itu. Ia berjalan cepat menyebrangi jalan menuju arah halte bus. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku mantelnya. Matanya menatap sekeliling halte bus dengan tidak peduli.

“ Thnak’s God. Aku tidak perlu menunggu lama busnya.” Mata besar gadis itu berpijar memandang bus yang sedang berjalan ke arah halte. Ia bernyanyi kecil dan langsung naik kedalam bus dan duduk dibagian belakang di bangku yang biasa diduduki oleh dua orang.

Gadis itu mengatur kenyamanan duduknya dan mengambil ponsel dari sakunya. Dengan bernyanyi kecil, ia memasang earphone pada telinganya dan berniat untuk beristirahat sejenak sambil mendengarkan musik. Matanya menatap pemandangan jalan dari jendela dan sesekali mengerjap bahagia. Baginya kota Seoul dimalam hari sangat indah. Tiba-tiba ia merasa seseorang duduk disampingnya. Ia memalingkan wajah ke sebelah dan dengan terkejut mendapati laki-laki tadi sedang duduk disampingnya sambil menatapnya tanpa tersenyum. Bibirnya mengerucut dan tangannya sibuk melepaskan earphone dari telinganya dengan sebal. Sepertinya ini akan menjadi urusan yang sangat panjang.

“ Ada apa lagi ?” Tanya gadis itu dengan sebal. Ia tidak mau berurusan dengan tipe orang seperti laki-laki itu.

“ Aku belum berterimakasih kepadamu.” Laki-laki itu menyodorkan sebuah kotak kepangkuan si gadis. “ Ini bentuk terimakasihku. Tak usah mengucapkan terimakasih.”

Mata gadis itu melebar dan bibirnya mengerucut. “ Aku tidak butuh hadiah darimu dan aku tak akan berterimakasih kepadamu.” Ia menyerahkan kotak itu kembali kepada silaki-laki. “ Kenapa kau duduk disini ? kau sudah tidak ada urusan lagi denganku.” Gadis itu memasang eraphonenya kembali dan menatap jendela bus.

“ Tapi, aku masih ada urusan denganmu.” Ia melepaskan earphone gadis itu dan mengambil ponsel gadis itu. Gadis itu menatap sebal dengan mata lebarnya.

“ Wae ?”

“ Ini untukmu.” Ujar laki-laki itu sambil menyerahkan kotak itu kembali ketangan si gadis. “ jangan ditolak. Aku tidak suka ditolak. Dan siapa namamu ?”

Dasar, namja menyebalkan. Aku tahu kau bukan orang Korea, tetapi bersikaplah sedikit baik kepada yeoja mungil sepertiku. Kau tidak tahu betapa lemahnya seorang yeoja kan ? Gadis itu berbisik sebal dalam hati.

“ Wae? aku tahu pasti kau berkata sebal tentangku kan? seperti bersikap baiklah kepada yeoja lemah sepertiku. Bukankah itu yang kau pikirkan?” laki-laki itu tersenyum tipis. Pikiran gadis itu tercetak jelas diwajah gadis itu. Sepertinya gadis itu tipe yang ekspresif.

Gadis itu tergagap dan wajahnya memerah malu. “ Anni.” Gadis itu menjawab dengan gugup “ Dan mengapa aku harus memberitahukan namaku padamu ?”

Laki-laki itu mengambil ponsel dari genggaman gadis itu dan menulis nomor ponselnya di phonebook ponsel si gadis. “ Ini nomorku, dan aku sudah tahu nomormu.”

“ Apa yang kau lakukan ? aku tidak mau berurusan dengan orang sepertimu.” Ia merebut ponselnya dari tangan si laki-laki dan segera memasukkannya kedalam tas kecilnya.

“ Baiklah. Tapi, aku sudah tahu nomormu dan namamu. Kang Hanna.” Laki-laki itu tersenyum manis kepada Hanna yang terkejut karena kaget. “ Oh, ya. Henry Lau imnida. Bukankah orang Korea selalu begitu jika akan berkenalan dengan seseorang ?” Henry bangkit dan menuju pintu keluar bus. “ Jangan kaget jika aku meneleponmu saat aku senggang. Dan bersikaplah sedikit sopan” Ia keluar dari bus dan menatap Hanna sambil melambaikan tangannya dari halte.

That guy is so creepy.” Hanna menggigit syalnya dengan gemas. Tangannya segera mengambil ponsel dari dalam tas dan mencari nama Henry di kontak phonebooknya. “ Ya ! honey bee ? apa maksud dia ?” ia menggeram dengan pelan merutuki hari sialnya dan segera menghapus nomor Henry. Ia tidak pernah mau berurusan dengan Idol. Apalagi idol seperti anggota Super Junior-M. Baginya benar-benar sebuah bencana yang sangat besar. Kesialan paling besar seumur hidup yang pernah dia alami.

“ Awas saja. Lihat saja, aku tidak akan pernah mau berurusan dengan Idol seperti dia. Jika boleh memilih aku lebih memilih Donghae daripada kau, Henry Lau.”

 

25 – Maret – 2011

Aku bertemu dengan orang menyebalkan. Semoga dia pergi dari kehidupanku. Aku tidak ingin orang berada dalam hidupku. Itu sungguh menggangguku. Aku akan membunuhnya jika dia sampai mengganggu kehidupanku dan merusak hidupku yang sempurna ini.

 

27 – Maret – 2011

Baguslah. Sepertinya dia sudah lupa kepadaku dan betapa sia-sianya hidupku dalam dua hari ini mencemaskan jika dia datang ke kehidupanku. Tapi, benar-benar beruntung sekali aku. Semoga dia akan selalu lupa dan tak pernah mengingatku lagi. Welcome my perfect world ^^

 

31 – Maret – 2011

Bahagianya, ternyata dia memang sudah lupa denganku. Bagi Idol seperti dia sangat mudah untuk lupa terhadap orang biasa sepertiku. Indahnya dunia ini. Kang Hanna hwaiting ! J

 

^^

“ Yoboseyo.” Suara seorang gadis terdengar dari ponsel salah satu member Super Junior- M. “ Yoboseyo ? siapa ini ?” Kali ini suara si gadis terdengar sangat gemas.

“ Ya ! Henry, kenapa kau tertawa seperti itu ? apa kau sudah gila ?”

Henry menoleh ke arah Donghae yang tengah menatapnya heran. Ia hanya tersenyum jahil, khas jika dia sedang senang. “ Ani, aku sedang senang saja hyung. Sudahlah jangan menggangguku. Pergi sana hyung.” Henry mengusir Donghae dengan pelan. Dia ingin menikmati kesenanganannya sendirian saja.

Dongahe menggelengkan kepalanya dengan gemas melihat dongsaeng mudanya ini dengan heran. “ Baiklah, aku akan pergi.”

“ Gomawo hyung.” Henry melambaikan tangannya kepada Donghae tanda terimakasih.

“ Yoboseyo ? siapa ini ?” Kali ini suara si gadis terdengar lagi. Henry tergagap takut percakapannya terdengar oleh si gadis yangsedang diteleponnya. “ Siapa ini ? Jika tidak ada urusan jangan meneleponku. Aku sedang sibuk saat ini.” Suara gadis itu terdengar sangat kesal.

Henry tertawa pelan menikmati kesenangannya. “ Ya ! Kang Hanna. Bersikaplah sedikit sopan kepadaku.” Henry mengatur suaranya seperti terdengar gusar.

“ Siapa kau menyuruhku bersikap sopan ? aku tidak kenal kau.”

“ Apa kau tidak tahu aku ?”

“ Tidak tahu dan aku tidak peduli. Memangnya apa urusanmu ?”

“ Ya ! kau yeoja tapi tidak bersikap seperti yeoja seharusnya. Aku Henry.”

“ Apa urusanmu ..” Hanna terdiam ketika otaknya dapat mencerna informasi yang barusan diterimanya. “ Maksudmu Henry Lau ? Babo ya ! kenapa kau meneleponku ? hidupku sudah damai jadi jangan menggangguku. Aku tidak ada urusan denganmu.” Hanna berkata dengan kesal.

“ Ya !” Henry menatap ponselnya dan keningnya berkerut. “ Babo, dasar yeoja aneh. Dia mematikkan teleponnya. Aku belum selesai berbicara. Dasar yeoja tidak sopan.” Ia mengerutu tentang Kang Hanna tetapi tiba-tiba dia tersenyum jahil. “ Awas saja kau Kang Hanna. Hidupmu tidak akan damai lagi.” Henry tertawa senang dan member Super Junior-M lain menatapnya dengan heran.

“ Ya ! kenapa kau tertawa seperti orang gila ? dasar kau aneh.” Kyuhyun menatap Henry sambil bertolak pinggang. “ Apa kau sedang dekat dengan yeoja ? sepertinya aku mengendus ketidakberesan di dirimu saat ini.” Kyuhyun mendekati Henry dan duduk di sebelahnya.

“ Hyung, aku sedang tidak dekat dengan siapa-siapa. Dan belum ada seorang yeoja dikehidupanku. Hyung, jangan ambil ponselku.” Henry tergagap menjawab pertanyaan kyuhyun. Ponselnya telah diambil oleh Kyuhyun yang sekarang sedang berdiri sambil memeriksa ponsel Henry.

“ Ah, jadi namanya Kang Hanna.” Kyuhyun tersenyum evil khas dirinya dan menyimpan nomor Kang Hanna untuk dirinya sendiri.

“ Hyung, apa yang kau lakukan. Kembalikkan ponselku hyung.” Henry merebut ponselnya dari Kyuhyun dan langsung mengamankannya di saku jeansnya. “ Hyung, dia bukan siapa-siapaku. Dia bukan yeojachingu-ku. Tolong, jangan menjahilinya hyung.”

Kyuhyun tertawa dan menatap Henry jahil. “ Aku tahu kau takkan berhasil jika tanpa bantuanku. Kau pasti akan terus menjahilinya terus menerus dan membuatnya sebal. Jadi serahkan saja padaku.”

“ Bukankah itu yang kau lakukan ketika kau mendekati Victoria noona, hyung ? kau menjahilinya terus menerus hingga dia hampir menangis dan membencimu. Benar kan hyung ?” Henry menatap Kyuhyun jahil. Sekarang bagian pembalasannya. Dia tahu seberapa malunya Kyuhyun jika diungkit tentang hal itu. Hanya Henry yang tahu betapa Kyuhyun sangat gugup di depan Victoria dan Kyuhyun terus menerus meminta saran Henry apa yang kira-kira harus dilakukannya ketika dia berhadapan dengan Victoria.

“ Ya ! jangan kau ungkit disini. Aku bisa mati karena malu jika member lain tahu.” Kyuhyun membekap mulut Henry dengan tangannya. Ia malu jika member lain tahu tentang tingkahnya terhadap Victoria.

“ Baiklah. Tapi, kau jangan sekali-kali menjahili Kang Hanna. Sebenarnya dia tidak menyukaiku hyung. Jangan ceritakan kepada member lainnya.” Henry menatap Kyuhyun minta tolong. “ Awas saja jika member lain tahu. Aku akan membocorkan tentangmu dengan victoria noona.”

Kyuhyun tertawa ngakak mendengar pengakuan Henry. “ Jadi kenapa kau mendekatinya jika kau tahu bahwa dia tidak menyukaimu ?”

“ Ya, hyung ! jangan tertawa seperti itu. Dia itu berbeda dari yeoja lainnya. Aku menyukainya dan akan terus mendekatinya.” Henry berkata dengan sangat yakin jika dia bisa mendekati Kang Hanna. “ Hyung, tolong jangan ceritakan kepada yang lainnya. Sebenarnya Kang Hanna menyukai Donghae hyung.”

Kali ini Kyuhyun tertawa dengan sangat puas hingga ia terbatuk-batuk. “ Donghae ? kau memang tidak pernah beruntung. Bersabarlah Dongsaeng-ku.” Kyuhyun menepuk bahu Henry dan pergi meninggalkan Henry masih sambil tertawa dengan pengakuan Henry.

“ Hyung, kau jahat sekali.”

 

02 – April – 2011

Dia meneleponku ! Dasar orang perusak kehidupan sempurnaku. Awas saja kau, telepon dan pesan textmu tidak akan pernah kuangkat dan kubalas !

 

^^

“ Babo. Kenapa dia meneleponku terus menerus dan mengirim pesan text yang tidak jelas seperti itu. Memangnya dia siapa menyuruhku untuk bersikap sopan, menjaga kesehatan, dan lain-lain. Dia buka eomma-ku dan bukan juga appa-ku bahkan bukan eonni atau oppa-ku. Dasar sok perhatian.” Hanna berkata dengan sebal sambil menggerutu terus menerus.

Ia menatap ponselnya dengan sebal. Ada pesan text lagi. Pasti dari dia. Siapa lagi kalau bukan Henry Lau member Super Junior-M yang paling menyebalkan itu ? kenapa dia tidak pernah kapok walaupun teleponnya selalu dimatikkan, pesan textnya tak pernah dibalas. Hal apa yang harus membuatnya kapok dan berhenti mengganggu kehidupan sempurnaku ?

Hanna berjalan pelan menuju meja tempat ponselnya berada. Ia menatap ponselnya dan melihat ada 5 pesan masuk. Satu dari eomma-nya, satu lagi dari Han shin Hye sahabatnya dan tiga pesan text dari Henry Lau, orang yang tidak disukainya.

 

From : Eomma

Hanna, kapan kau akan membawakan baju eomma-mu yang tertinggal di apartemenmu ? eomma harus memakainya minggu depan dipesta pernikahan sepupumu Kang Sora. Cepatlah pulang ke Anyang. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Appa titip salam untukmu.

 

From : Han Shin Hye

Hanna-ku, cepatlah masuk kuliah. Kuliah rasanya sangat sepi tanpamu. Sudah tiga hari kau tidak kuliah. Kau sebenarnya kemana ? bolehkah aku datang ke apartemenmu ?

 

From : Henry – The Evil Human

Ya ! Kang Hanna. Kenapa kau tidak menjawab teleponku ? cepat angkat !

 

From : Henry – The Evil Human

Ya ! kenapa kau tidak membalas pesanku ? cepat balas !

 

From : Henry – The Evil Human

Ya ! apakah kau sakit ? kenapa kau tidak mengangkat telepon dan membalas pesanku ? aku tidak bisa meneleponmu dan mengirimimu pesan terus menerus. Satu bulan kedepan aku akan pergi ke China untuk promosi album. Cepat angkat telepon dan balas pesan text-ku.

 

Hanna menatap ponselnya dengan bingung. Sebenarnya dia tidak sejahat itu hingga ia tidak mau mengangkat telepon atau membalas pesan text dari Henry. Hanya saja dia tidak mau terlibat masalah dengan Idol. Ia menatap ponselnya dengan ragu, Henry meneleponnya lagi dan tak pernah menyerah.

“ Angkat. Tidak. Angkat. Tidak. Angkat. Tidak. Angkat. Tidak. Baiklah untuk kali ini saja aku akan bersikap baik padanya sebelum dia pergi ke China.” Hanna mengangkat teleponnya dengan mantap. “ Yoboseyo.”

“ Ya ! kenapa susah sekali menghubungimu ? aku hampir gila kau tidak mengangkat teleponku bahkan tidak membalas pesan text-ku. Apa kau sakit ?” Kali ini suara Henry terdengar lunak. Tidak seperti suaranya yang terdengar ketus ketika bertemu pertama kali bertemu dengan Hanna.

Hanna menghela nafas pelan. Sebenarnya malas sekali meladeni orang macam Henry. “ Ani. Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja. Memang apa hubunganmu denganku sehingga kau begitu khawatir ? kau bukan siapa-siapaku dan bahkan bukan temanku. Apa pedulimu dengan kesehatanku ? kita hanya bertemu satu kali ketika aku mengembalikan dompetmu yang terjatuh dan apakah itu membuat kau menjadi temanku ? jawabannya tidak.” Hanna terdiam sejenak, menghirup nafas. Entah mengapa kali ini dadanya begitu sesak.

“ Aku memang belum menjadi siapa-siapa dikehidupanmu. Tapi itu belum dan bukan tidak. Suatu hari aku akan menjadi orang yang terpenting di kehidupanmu.” Henry berkata dengan pelan dan penuh keyakinan.

Hanna mendengus kesal. Percaya diri sekali dia. “ Ani. Kau tidak akan pernah menjadi siapa-siapa dikehidupanku. Lagipula aku tidak mau menjadi siapa-siapa dikehidupanmu. Aku dan kau berbeda. Walaupun kita menginjak bumi yang sama tapi kita hidup di dimensi yang berbeda. Jadi, tolong jangan ganggu hidupku. Aku tidak pernah mau berhubungan dengan Idol sepertimu.” Hanna terdiam mencoba mendengar respon dari seberang dan dia hanya mendengar helaan nafas Henry.

“ Ya ! Kang Hanna ! aku baru tahu ternyata ada seorang yeoja Korea yang sepertimu. Aku kira semua yeoja itu lembut, aegyo, bahkan tidak kasar. Kau ternyata berbeda sekali dengan yeoja pada umumnya yang aku tahu.”

“ Ya ! memangnya kenapa kalau aku berbeda ? tidak suka ?”

“ Ani. Aku lebih suka kau yang seperti ini. Kasar, barbar, creepy bahkan tidak imut sama sekali.” Henry tertawa menggoda Hanna. “ Aku lebih suka orang yang berbeda pada umumnya.”

Hanna mengembungkan pipinya. Tidak baik bagi kesehatannya jika ia berhubungan dengan namja seperti Henry. Bisa-bisa kesehatannya terus menerus memburuk. “ Tutup mulutmu. Aku tidak suka kau berkata menyukaiku. Aku tidak menyukaimu.” Ia menutup teleponnya dengan sebal dan membanting ponselnya ke arah sofa.

“ Awas saja kau Henry Lau. Aku tidak akan mengangkat teleponmu atau membalas pesan text-mu.” Hanna menatap ponselnya dengan tajam. Dia berniat untuk mengganti nomor ponselnya tetapi sepertinya itu tidak mungkin. Ia membenci hal yang harus dilakukan dua kali.

 

Henry tertawa mendengar suara Hanna yang begitu ketus. “ Ya ! babo, sepeti biasa selalu dimatikan sebelum aku bisa menggodanya lagi.” Ia menatap ponselnya. “ Beruntung, aku sudah merekam suaranya. Sehingga aku tidak perlu terus-menerus meneleponnya. Awas saja kau Kang Hanna. Kau pasti akan menyesal karena telah bersikap seperti itu kepadaku. Kau pasti akan kesepian karena aku tidak mengirimmu pesan text atau meneleponmu. Lihat saja siapa yang akan bertahan.” Henry tersenyum dengan penuh kemenangan dan dia memutar ulang rekaman suara Hanna yang ia sudah simpan di ponselnya.

“ Kang Hanna. Bersiaplah.”

 

16 – April – 2011

Memangnya dia siapa ? begitu yakinnya bisa menjadi orang berharga dikehidupanku ? Lihat saja, dia akan menyesal telah mengganggu kehidupan sempurnaku. Enyahlah kau Henry Lau the Evil Human in the world !

 

30 – April – 2011

Thank’s God. Semoga dia selamanya berada di China dan tidak akan pernah kembali ke Korea.

 

15 – Mei – 2011

Benarkan apa yang sudah kuprediksi ! dia memang sudah kapok mengganggu hidupku. Tuhan senangnya hari ini. Dia tidak akan pernah menggangguku lagi. Tuhan terima kasih atas berkah yang Kau berikan kepadaku. Jangan biarkan laki-laki menyebalkan itu mengganggu kehidupanku lagi.

 

16 – Mei – 2011

Eomma melarangku pergi kuliah untuk satu minggu. Aku akan membenci satu minggu ini. Aku tidak boleh jalan-jalan bahkan tidak boleh untuk ke supermarket di lantai bawah apartemenku ? eomma benar-benar keterlaluan. Aku kan hanya flu, betapa protektifnya eommaku ini.

Terima kasih Shin Hye yang mau menemaniku. Peluk Shin Hye ({})

 

^^

“ Aku datang, Hanna-chan.” Shin Hye berteriak dari pintu apartemen Hanna dengan suara melengking khas dirinya. Ia terbiasa memanggil Hanna dengan sebutan Hanna chan karena dia masih keturunan dari Jepang. Shin Hye masuk ke apartemen Hanna dengan santai. Baginya apartemen Hanna adalah apartemennya juga. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Ia melenggang memasuki dapur Hanna dan meletakkan belanjaannya di meja dapur. Memilah bahan masakan dan snack yang baru dibeli untuk dimakan. Ia mengambil beberapa makanan ringan dan minuman ringan kedalam kulkas milik Hanna yang selalu kosong tak pernah terisi makanan apapun sebelum Shin Hye yang membelikannya makanan.

“ Hanna chan, kau mau makan apa ?” Shin Hye lagi-lagi berteriak dari arah dapur. Dia masih sibuk menata makanan kedalam kulkas. “ Hanna chan, apakah kau baik-baik saja ?”

“ Geure, aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.” Hanna berjalan keluar dari kamar mandi masih memaka piyama Hello Kitty-nya. Rambut pendeknya berantakan dan wajahnyapun kusut. “ Aku ingin nasi omelet. Kau bisa memasakannya untukku ?” Hanna duduk dimeja dapur sambil menggenggam ponselnya ditangan kiri.

“ Geure, aku akan memasakkan apapun untukmu. My little pumpkin.” Shin Hye segera sibuk melakukan ritual hariannya yaitu membuat sarapan atau bisa disebut sarapan menuju makan siang untuk Hanna yang malas memasak. Dia telah diserahi tugas untuk mengurus dan menjaga Hanna oleh eomma Hanna yang telah dianggap eommanya sendiri oleh Shin Hye. Shin Hye hanya hidup berdua dengan appanya semenjak dia kecil karena eommanya telah meninggal saat dia berumur 3 tahun.

“ Shin Hye.”

“ Hemm, wae ?” jawab Shin Hye disertai gumaman pelan. Ia menatap Hanna heran, alis kiri matanya naik sehingga membentuk ekspresi “ Apa?”

“ Saranghae.” Hanna tersenyum dan segera mengambil apel yang masih segar dari dalam kulkas. “ Apelnya segar sekali. Terimakasih telah mau merawatku. Kau memang my the best sister in the world. Wae ? kenapa kau memandangku seperti itu ?” Apel yang dipegang Hanna segera beralih ke genggaman Shin Hye. Mata Hanna yang lebar menatap Shin Hye heran.

“ Apa kau sakit ?” Shin Hye meraba kening Hanna dengan perasaan aneh.

“ Ani. Aku baik-baik saja.” Hanna melepaskan tangan Shin Hye dari keningnya yang dingin.

“ Aneh saja, kau jarang menatakan Saranghae kepadaku. Yang lebih sering aku yang mengatakannya. Benarkan kau tidak apa-apa ?”

“ Ya ! Shin Hye, aku baik-baik saja. Kau tahu kan aku tidak pernah sakit sekalipun.” Hanna mengembungkan pipinya yang chubby dan mencubit pipi Shin Hye. “ Kau tahu aku lebih daripada diriku sendiri. Bukan begitu ?” Shin Hye tersenyum lalu mencubit balik Hanna. Hanna meringis pelan dan mengelus-elus pipinya dengan pelan. Ia mengerucutkan bibirnya sebal.

“ Geure, aku akan melanjutkan memasak untukmu. Selagi aku masak lebih baik kau mandi dan perbaiki penampilanmu yang seperti pengungsi itu. Cepatlah mandi.” Shin hye mendorong Hanna ke kamar mandi dengan pelan. “ Aku tidak mau masakanku terkontaminasi karena kau belum mandi, Hanna chan.”

“ Baiklah. Aku akan mandi. Puas ?” Hanna mengunci pintu kamar mandi dengan sebal dan bernyanyi tidak jelas dengan suara yang memekakan telinga dari kamar mandi.

“ Ya ! Hanna chan. Jangan bernyanyi. Suaramu membuat telingaku sakit !”

“ Terserah aku.” Hanna bernyanyi dengan suara yang lebih keras kali ini.

“ Hanna chan !”

“ Ya !”

^^

 

“ Selamat makan.” Hanna segera memakan masakan yang dibuat Shin Hye dengan lahap. Baginya masakan Shin Hye tidak ada yang bisa mengalahkan bahkan eommanya saja kalah. Shin Hye duduk disebelah Hanna dan menatap Hanna gemas. “ Wae ? kenapa kau memandangku seperti itu ?” Hanna bertanya dengan mulut yang penuh makanan. “ Lebih baik kau juga makan.”

“ Ani. Aku kenyang walau hanya melihatmu makan. Bagiku kau iklan yang sangat tidak menggiurkan.”

“ Apa maksudmu ?”

“ Ani.” Shin Hye tersenyum jahil. “ Hanna chan, ponselmu terus berbunyi dari tadi. Aku sebal mendengarnya.” Ia mengambil ponsel Hanna yang berada disebelahnya dan memberikannya kepada Hanna.

“ Hem.” Hanna membuka ponselnya dan mendapati beberapa pesan text dan telepon untuknya. Alisnya mengerut heran, nomor orang yang meneleponnya tidak dikenal dan tidak diketahui di phonebooknya. “ Babo, aku lupa dengan dia.” Hanna menggerutu pelan, ternyata orang yang mengirimi pesan text dan meneleponnya adalah Henry. Orang itu memakai nomor China.

“ Dari siapa ?” Shin Hye mengambil nasi omelet dari piring Hanna dan memakannya untuk dirinya sendiri.

“ Molla.” Hanna mengangkat bahunya agar Shin Hye tidak penasaran. Ia membaca pesan text dari Henry dan dengan menggerutu ia menyesali hari-hari damainya yang rasanya terlalu cepat untuk berakhir. Henry berkata kepada Hanna bahwa besok dia akan tiba di Seoul dan ingin bertemu dengan Hanna ditempat pertama kali mereka bertemu. “ Ani.” Gumamnya sebal sambil tetap membaca pesan text di ponselnya.

“ Wae ?”

“ Ani.” Hanna tersenyum kecut kepada Shin Hye. Ragu untuk berkata yang sebenarnya tentang apa yang menimpa hari-hari damainya.

 

27 – Mei – 2011

 

Aigoo, mengapa dia muncul lagi ? sudah bagus dia tidak pernah muncul dihadapanku. Sepertinya akan menjad hari-hari yang berat bagiku. Tuhan, kuatkan aku !

 

 

^^

 

From : Henry – The Evil Human

Kang Hanna, dimana kau ? aku sudah berada di cafe sejak tadi. Cepat datang kesini. Aku tak mau sampai ada yang mengenaliku. Bisa-bisa aku repot. Palli !

 

Hanna menatap sebal ponselnya dan membantingnya kearah sofa. Lagi-lagi ponsel dan sofanya menjadi sasaran kekesalan Hanna pada Henry. Entah sudah keberapa kalinya Henry mengajaknya untuk bertemu di cafe yang menjadi saksi ketika mereka pertama kali bertemu. Mata besarnya ia julingkan beberapa kali hingga membuat kepalanya pusing. Ia menghempaskan diri di sofa dan menutup kedua telinga dengan bantal. Telinganya lelah mendengar dering telepon yang telah berdering berkali-kali dan selalu ia abaikan.

“ Berhenti ! aku akan pergi ke kafe supaya membuatmu puas !” Hanna bangkit dan segera mengambil ponsel dan tas selempangnya. Ia segera keluar dari apartemen dan berjalan cepat ke halte bus. Tanpa menunggu lama bus telah sampai di halte dan dengan cepat dia masuk ke bus dan duduk di bangku yang bersebelahan dengan jendela bus.

“ Awas saja kau Henry Lau. Aku akan menamparmu karena telah mengganggu hidupku.”

 

^^

 

Henry menatap cemas ke arah luar kafe. Ia telah menunggu sekitar dua jam hanya untuk melihat keadaan Kang Hanna yang selalu ia cemaskan semenjak ia masih berada di China. Perasaan hatinya tidak pernah baik. Ia takut Kang Hanna sakit atau bahkan mungkin Kang Hanna berkencan dengan namja lainnya. Pikiran yang paling buruk dan paling sepertinya mungkin adalah Kang Hanna berkencan dengan namja lain dan ini makin membuat Henry gusar.

“ Awas saja kau Kang Hanna. Jika aku tahu kau berkencan dengan namja lain, kau tidak akan mendapat permohonan maafku.” Henry terdiam memikirkan perkatannya sendiri. “ Ah, Ani. Jika begitu aku tidak bisa bertemu Hanna. Bagaimana kalau, awas saja kau Kang Hanna. Aku akan mengganggu kehidupanmu sehingga kau hanya bisa menjadi milikku. Sepertinya itu lebih bagus.” Henry mengangguk-angguk setuju dengan perkataannya.

Bibirnya mengerucut berpikir keras dan matanya ia julingkan ke samping “ Ani, itu kedengarannya seperti dia benda.” Henry menggelengkan kepalanya lagi. “ Bagaimana kalau, Kang Hanna jangan berkencan dengan namja lain. Kau harus tahu betapa aku menyukaimu. Aku bersungguh-sungguh tentang perasaanku kali ini. Aku hanya ingin kau melihatku dan aku ingin kau berada disampingku.” Henry tiba-tiba terdiam dan menghela nafas panjang. “ Baru kali ini aku begitu posesif terhadap yeoja. Dia hanya satu-satunya yang bisa membuatku seperti ini. Apa mungkin dia juga menyukaiku ?”

Henry menatap ke arah luar kafe dengan pandangan kosong. Ini sudah hampir 2 jam setengah ia menunggu Kang Hanna. “ Apa mungkin dia tidak akan datang ? eottoke ? apa aku harus tetap menunggunya atau apa aku harus pulang ke dorm ?” Henry mengambil ponselnya dan berniat untuk menghubungi Kang Hanna lagi. Tiba-tiba dia mengurungkan niatnya. “ Pasti dia begitu terganggu dan tertekan karena aku.”

“ Begitulah.” Suara seorang yeoja tiba-tiba memasuki ruang pendengaran Henry. Ia menatap yeoja itu dengan bersemangat dan hampir memeluknya tetapi ia lagi-lagi mengurungkan niatnya. Dia harus bersikap sopan.

“ Mengapa kau begitu lama ? asal kau tahu saja, aku sudah menunggu sekitar 2 setengah jam. Aku sudah seperti orang aneh berada disini. Banyak orang yang menatapku aneh dan mungkin mereka berpikir bahwa kasihan sekali namja itu, pasti dia baru saja putus dengan pacarnya. Kau harus tahu betapa itu sangat memalukan.” Henry menggerutu sebal kepada Hanna untuk menutupi kenyataan bahwa dia terlalu bahagia karena bertemu Hanna. Hanna duduk didepan Henry dengan sebal.

“ Geureom ? Araseo. Kalau begitu kita jangan bertemu.” Hanna berkata pendek. Niat menampar Henry sedikit berkurang karena secara tidak langsung dia mendengar pernyataan cinta dari Henry ketika dia baru tiba di kafe.

“ Bukan begitu maksudku. Hanna !”

“ Aku pergi Henry-ssi. Terimakasih atas semuanya.” Hanna segera bangkit dan pergi meninggalkan kafe dan lebih tepatnya meninggalkan Henry.

Chakkaman !” Henry berlari keluar dan mencoba menyusul Hanna. Ia menemukan Hanna yang ternyata berjalan sangat cepat dan sudah tiba di halte bus. Sepertinya busnya belum datang, batin Henry.

Wae ? Aku tidak mau bertemu denganmu.” Hanna menatap sebal ke arah Henry yang ternyata sudah menyusulnya.

“ Tapi aku ingin bertemu denganmu.” Henry menggenggam jemari Hanna seolah tidak mau membiarkan Hanna pergi lagi. “ Hanna, kenapa tanganmu dingin sekali ? apa kau sakit ?” Henry menatap Hanna cemas. Ia menempelkan pungung tangannya ke kening Hanna.

Hanna melepaskan genggaman Henry dengan kasar. Dia tidak suka tangannya atau bagian tubuhnya disentuh oleh orang asing. Rasanya seperti dia disudutkan dan dikucilkan. “ Jangan sentuh aku ! aku baik-baik saja !”

“ Geure. Aku tahu kau baik-baik saja. Soalnya kau masih bisa membentakku.” Henry menatap mata Kang Hanna yang lebar. Posisinya sekarang berada tepat di depan Hanna. Hanna berdiri di trotoar sedangkan Henry berada di sisi jalan tidak naik ke troroar. Tinggi mereka terlihat sama. “Mianhe, jika aku mengganggumu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Itu saja.”

Hanna menatap Henry dengan tatapan heran. Bagaimana mungkin seorang Henry Lau yang pastinya berkemungkinana besar lebih banyak bertemu yeoja-yeoja cantik hanya ingin bertemu yeoja biasa macam Kang Hanna. Hanna menggelengkan kepalanya.

Ani, dia pasti sedang menggodaku. Jangan sampai aku masuk perangkapnya, batinnya.

“ Kamu bohong Henry-ssi.” Hanna mendorong Henry pelan. Henry tidak bergeming.

Henry menghela nafas pelan. Walaupun mereka baru bertemu sekali, tetapi entah mengapa Henry selalu ingin bertemu Hanna. Mendengar suaranya, baik itu suara marahnya, suara herannya bahkan suara yang menyebalkan. Dengan mendengar suaranya saja itu sudah cukup. Tetapi, entah mengapa Henry ingin menatap wajahnya juga. Menatap bola mata cokelat Hanna yang besar dan tidak ada pada yeoja lainnya. Menatap mata yang lebih sering sinis, ingin mencubit pipi chubbynya yang menggemaskan dan memencet hidung Kang Hanna yang tidak terlalu bangir. Bahkan ingin memeluk Kang Hanna yang dari luar terlihat rapuh ternyata sama sekali tidak rapuh. Dia kuat.

“ Aku tidak berbohong. Aku benar-benar ingin melihatmu, mendengar suaramu, bahkan aku ingin memelukmu. Aku ingin kau berada disampingku.” Henry berkata frustasi. Entah mengapa menghadapi yeoja seperti Kang Hanna membuatnya frustasi. Susah sekali untuk meyakinkannya. Apa yang harus dia lakukan agar Kang Hanna percaya apa yang dia ucapkan ?

Mata Kang Hanna membulat sehingga membuat matanya menjadi lebih besar. Wajahnya menatap Henry kaget, tidak percaya apa yang Henry katakan. “ Ani, kau pasti bercanda Henry-ssi. Kita baru bertemu satu kali dan kau sudah berkata seperti itu. Ini malah membuatku tak percaya kepadamu.”

Henry mengacak rambutnya yang tidak gatal. Frustasi bagaimana menjelaskan apa yang dia rasakan dan bisa membuat Hanna percaya. “ Apa yang harus aku lakukan supaya kau percaya Kang Hanna ? apa aku harus membawamu pada hyung-hyungku supaya mereka bisa menjelaskan bahwa aku seperti orang gila saat di China. Setelah mengisi acara aku hanya berada di dorm sedangkan yang lainnya jalan-jalan. Aku hanya berada di dorm, berkutat di kamarku dan mendengarkan rekaman suaramu. Bukankah itu gila ?”

Kali ini Kang Hanna menatap Henry seolah dia orang gila. “ Henry-ssi. Jujur saja perkataanmu sepertinya ngawur dan terlihat seperti kebohongan.” Kang Hanna terdiam menatap Henry prihatin. “ Maaf. Bolehkan aku pergi ? busnya sudah datang.”

“ Kang Hanna, untuk kali ini percayalah. Aku benar-benar berbicara jujur. Apa kau mau mendengar rekaman suaramu yang aku rekan saat kau marah-marah kepadaku ?” henry merogoh ponselnya dan Henry memutar rekaman suara Kang Hanna agar Kang Hanna percaya padanya. “ Aku mohon kau jangan marah atau memukulku. Aku merekam suaramu agar aku tak perlu repot terus menerus meneleponmu. Aku takut kau terganggu.”

Ani. Kau tidak akan pernah menjadi siapa-siapa dikehidupanku. Lagipula aku tidak mau menjadi siapa-siapa dikehidupanmu. Aku dan kau berbeda. Walaupun kita menginjak bumi yang sama tapi kita hidup di dimensi yang berbeda. Jadi, tolong jangan ganggu hidupku. Aku tidak pernah mau berhubungan dengan Idol sepertimu.

Kang Hanna ternganga. Ia terkejut bukan main. Seorang Idol seperti Henry Lau bisa melakukan hal seperti ini. Untuk kali Hanna percaya bahwa memang Henry merekam suaranya. “Jadi, mengapa kau melakukannya Henry-ssi. Ini seperti menunjukkan bahwa kau seorang psikopat, jika aku boleh berkata jujur.” Kang Hanna berbicara dengan suara pelan. Mencoba melepaskan dirinya dari suasana yang tadinya tegang. Ia menatap Henry-ssi dengan tatapan heran.

Henry lagi-lagi menghela nafas. Apakah yeoja ini tulalit atau dia hanya mencoba memastikan kembali ? padahal sudah jelas-jelas dari tadi Henry berkata bahwa ia menyukai Kang Hanna. Yeoja yang sekarang berada dihadapannya. “ Aku menyukaimu.”

Kang Hanna tergagap, ia tidak menyangka Henry akan berkata seperti itu. Dia jelas-jelas hanya ingin melepaskan diri dari Henry. Tidak mau bertemu atau bahkan berhubungan dengan Henry. Dia tidak mau terlibat di dunia Idol. Hanna menatap ke arah kananya dan melihat bus yang tadi sudah pergi. Meninggalkan Hanna dengan Henry yang berusaha ia hindari.

Eottoke ? aku harus melakukan apa ?

“ Apa kau mau menjadi pacarku ?” Henry menatap Kang Hanna berharap. Berharap Hanna akan menganggukan kepalanya dan memeluknya.

Menjadi pacar ? apa dia sudah gila ? aku tidak mau menjadi pacarmu ! aku tidak akan siap dengan konsekuensi menjadi pacar seorang Idol sepertimu. “ Molla, aku tidak tahu harus menjawab apa. Kita baru bertemu dua kali dan aku tidak mengenalmu Henry-ssi. Lagipula aku tidak siap dengan konsekuensi yang akan aku tanggung jika aku menjadi pacarmu.” Hanna menundukkan kepalanya. Dia mencoba menolak dengan halus.

Henry menghela nafas panjang. Ia sudah memperkirakan hal ini. Memang pastinya sulit jika menjadi pacar dirinya. Ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dan itu sama sekali tidak mudah. Bagaimana caranya supaya Kang Hanna mau menjadi pacarnya ? “ Baikah. Tapi, apa aku boleh berteman denganmu ? mengunjungi apartemenmu ? dan bertemu denganmu ?”

Hah ? kenapa jadinya seperti ini ? Hanna mengira dia akan marah dan langsung menghilang dari hadapannya dan tidak akan menghubunginya lagi. Hanna memegang kepalanya yang pusing dan mendesis sebal. Apa hal ini juga harus ditolaknya lagi ? apa dia berani ?

Hanna menghela nafas sebal dan mengangguk. Semoga setelah ini dia tidak menganggu Hanna. Semoga dia cukup puas walau hanya dengan berteman. “ Geure. Aku mau berteman denganku. Tapi, bisakah kau tidak setiap hari menelepon dan mengirimku pesan text ? aku tidak pernah menyukai hal itu dan itu sangat mengangguku. Bisa ?” Hanna tetap menunduk mencoba menjadi lembut supaya Henry bisa luluh dan tidak menganggnya. Semoga cara ini berhasil tanpa Henry berargumen.

Henry menatap Hanna yang tidak seperti biasanya. Biasanya Hanna akan berkata dengan kasar dan menoleh sinis pada Henry. Tapi, anehnya kali ini dia bersikap lembut dan menunduk. Seperti tidak ingin menyakitinya.

“ Baiklah. Tapi bolehkah jika aku mengunjungimu, meneleponmu atau mengirim text padamu? Aku janji, tidak akan sering. Hanya sekitar 1 hari sekali, boleh ?” Suara Henry bernada takut-takut. Ia takut jika Hanna menolaknya. Itu sangat menyakitkan baginya.

Hanna menatap Henry iba. Kasihan juga, pikirnya. “ Baiklah.”

Henry tersenyum sumringah dan dia hampir memeluk Hanna tapi ia mengurungkan niatnya karena tidak mau Hanna terganggu. “ Gomawo. Aku senang sekali. Bolehkah aku mengantarmu pulang ? aku janji ini terakhir kali. Karena kemungkinan minggu depan aku akan kembali ke China. Bolehkan ?” Mata Henry mengiba, ia berharap kali ini Hanna juga mengatakan ‘Ya’. Ia ingn tahu bagaimana tempat Hanna tinggal. Dia ingin mengenal yeoja ini.

Hanna menghela nafas panjang. Baiklah, ini terakhir kali. “ Geureom.”

Henry berjingkrak-jingkrak kesenangan. Akhirnya.

 

05 – Juni – 2011

 

Dia mengantarku pulang. Sikapnya begitu menyebalkan. Tapi, aku berpikir dia sangat imut. Dia begitu ekspresif. Dia tidak pernah menyembunyikan perasaannya. Semuanya tergambar jelas di wajahnya. Dia begitu polos. Dia mengantarku dan masuk ke apartemenku. Dia begitu senang dan dia sepertinya menyukai apartemenku.

Argh, apa yang aku pikirkan ? Babo !

 

^^

1 tahun yang lalu..

 

“ Hanna-ya. Aku datang.” Suara seorang namja memasuki ruang pendengaran Hanna yang masih mengantuk dan sedang berada di sofa. Hanna tidak menjawab, malah ia meringkuk dengan nyamannya di sofa. Mencoba untuk tidur kembali setelah pagi-pagi buta dibangunkan oleh seorang namja yang menyebalkan hanya untuk mendengarkan informasi yang tak berguna.

“ Hanna, ini sudah pagi.” Namja itu duduk dipinggir sofa sambil mengelus anak rambut Hanna. Ia mencubit pipi chubby Hanna dengan gemas. “ Ini sudah pagi. Bangun !”

Hanna melepaskan tangan namja itu dengan sebal dari pipinya dan mencoba untuk tertidur kembali. “ Jangan gangu aku Henry Lau. Kau menyebalkan.”

Henry tesenyum jahil. Ia menunduk dan mencium kening Hanna dengan pelan. Ambisinya untuk mencium kening Hanna akhirnya terwujud. Satu ambisi lagi yaitu mencium bibir Hanna dan tentu saja memiliki Hanna. “ Kang Hanna, bangun. Apa aku harus menciummu dibibir agar kau bangun ?” Bisik Henry tepat di daun telinga Hanna yang sekarang sudah memerah karena malu. Bagi Henry saat ini adalah momen yang tepat. Disaat Hanna tidak terlalu membentengi diri terhadapnya.

“ Coba saja kalau berani.” Tantang Hanna pelan. Ia masih memejamkan mata untuk menghindari kontak mata dengan Henry. Baginya ciuman dikening tadi membuatnya sangat malu. Bahkan ia merasa bahwa pipi dan telinganya memerah. Hanna memegang dadanya dan mendapati jantungnya berdebar keras. Entah karena gugup atau malu. Dalam hatinya ia berdo’a semoga Henry tak mendengar debar jantungnya.

Henry tersenyum nakal. Ia menyukai Kang Hanna yang tidak pernah mau kalah. Ia menunduk dan mendekati wajah Hanna. Pipi Hanna memerah walaupun ia tertidur. Henry mendekat dan sekarang ia bisa merasakan nafas Hanna. Ia menatap mata Hanna yang sepertinya pura-pura terpejam dan memandang bibir Hanna secara bergantian. Bibir Hanna terlihat mungil dan berwarna merah muda alami. Pagi hari, saat matahari baru menyembul dengan malu-malu dan seorang yeoja yang dia sukai tengah pura-pura tertidur di sofa merupakan situasi yang sensual. “ Benarkah aku boleh mencium bibirmu ?” Tanya Henry tepat di depan wajah Hanna.

Jantung Hanna berdegup kencang. Ia akhirnya membuka mata dan matanya persis bertubrukan dengan tatapan Henry yang bermata sipit sekaligus terlihat lembut. Jarak antara mereka hanya terpaut beberapa centi. Mata Hanna yang lebar menatap Henry dengan pandangan kaget. Tak menyangka Henry bisa seberani itu. Menatap wajah Henry secara close up membuat Hanna lebih kaget. Karena ternyata wajah Henry sangat imut dengan pipi chubbynya. Matanya yang sipit dinaungi bulu mata yang lentik dan alis yang tertata rapi, hidung yang bangir, pipi yang chubby seperti Kang Hanna, dan wajah yang mulus serta putih. “ Tentu saja tidak.”

“ Benarkah ?” Tanya Henry tidak percaya. Ia masih menatap Hanna dengan pandangan nakal. Mencoba untuk menggoda Hanna. Ia menatap wajah Hanna secara keseluruhan. Mata lebar dengan bola mata berwarna cokelat alami dan tatapan tajam, pipi chubby sama sepertinya yang memerah jika malu atau kedinginan, hidung yang tidak terlalu bangir dan wajah yang oval. Jika Hanna menatapnya, Henry seperti sedang ditatap oleh boneka.

Hanna mengangguk yakin. Ia tidak mau ciuman pertamanya berakhir di tempat tidak romantis. Ia masih berharap akan melakukan first kiss di saat romantis dan tepatnya saat melakukan candle light dinner dipenuhi dengan taburan bintang. “ Aku yakin kau takkan seberani itu untuk menciumku.” Hanna tersenyum yakin. Mencoba meyakinkan hatinya yang sedang sangat gugup.

“ Baiklah.” Henry akhirnya menegakkan tubuhnya dan Hanna menghembuskan nafas dengan perasaan lega. Tetapi tiba-tiba Henry menunduk dengan cepat dan langsung mencium bibir Hanna. Hanna hanya bisa ternganga. Ia masih terkejut dan tak percaya. Matanya melebar kaget saat Henry menciumnya tepat setelah ia menghembuskan nafas dengan perasaan lega. Hanna merasa bibirnya terasa hangat saat dan setelah Henry mencium bibirnya. Perasaan itu masih tertinggal dan teringat jelas oleh Hanna. Dan entah mengapa hati kecilnya merasa senang.

“ Jangan melotot seperti itu.” Henry menegakkan diri dan menatap Hanna dengan perasaan senang. Ambisinya terpenuhi. Ia hanya perlu menyatakan perasaan sukanya agar Kang Hanna bisa menjadi miliknya. Ia mengusap pipi Hanna yang memerah entah karena kaget atau gugup bahkan mungkin marah. Tetapi mata Henry bisa melihat bahwa tidak ada secuil pun kemarahan atas kelancangan Henry mencium bibirnya. Tangannya perlahan membelai pipi Hanna. Mencoba menjelajahi pipi Hanna yang mulus dengan tangan besarnya. “ Apa kau marah ?”

Hanna mendengus melihat perbuatan Henry setelah dia bisa mengontrol perasaannya. Ia membiarkan Henry untuk membelai pipinya. Mungkin karena Hanna menyukai rasa hangat yang dialirkan oleh tangan Henry. Mata lebarnya menatap Henry dengan perasaan kaget sekaligus senang tetapi ia mencoba untuk terlihat sebal tetapi seperti biasanya selalu gagal. Henry selalu bisa membaca perasaan hatinya. “ Tentu saja aku marah. Ya ! kau memang namja menyebalkan.” Hanna mengembungkan pipinya dan bibirnya mengerucut mencoba untuk bersikap sebal.

“ Benarkah ? jika kau seperti itu, malah seperti mengundangku untuk mencium bibirmu lagi.” Henry tersenyum jahil menatap Hanna yang sepertinya hanya berpura-pura sebal. Ia mengacak-acak rambut Hanna yang kusut karena ia membangunkannya di pagi-pagi buta. Sebenarnya besok dia akan pergi ke China dan sebelum itu ia ingin bertemu Hanna sampai perasaannya puas. Tetapi, sepertinya itu tak mungkin. Henry takkan pernah puas untuk bersama Kang Hanna.

“ Geureom. Tentu saja aku sebal dan marah. Kau mencuri..” Hanna langsung terdiam dan tak meneruskan perkataannya. Gengsi sekali jika harus berkata pada Henry bahwa itu adalah ciuman pertamanya.

“ Mencuri apa ? ciuman pertamamu ?”

Hanna ternganga mendengar tebakan Henry yang sangat tepat. Ia hanya bisa menunduk. Tidak mengangguk atau menolak pernyataan Henry.

“ Aku sudah tahu. Kau adalah tipe yeoja yang tidak suka berpacaran. Bersosialisasi pun kau tak suka. Aku benar kan ?” Henry menyentuh kedua pipi Hanna sehingga Hanna tidak bisa menunduk. Ia menatap lekat-lekat mata Hanna.

“ Wae ?” Hanna melepaskan tangan Henry dari pipinya dengan perasaan gugup.

“ Dasar kau merusak susasana saja.”

“ Maksudmu apa ?”

Henry mengangkat dagu Hanna dan membuat mata Hanna mau tak mau bersirobok dengan Henry. Dengan perlahan Henry mendekatkan wajahnya kepada Hanna. Ia menatap Hanna yang matanya tidak terpejam seperti yeoja lain. Henry memandang kening, mata dan bibir Hanna secara bergantian.

“ Kau berniat untuk menciumku lagi ? Apakah selalu begini ketika kau akan akan mencium seorang yeoja ?” Hanna memalingkan wajahnya tetapi gagal karena tertahan oleh lengan Henry yang berada di belakang kepalanya. Ia hanya bisa menelan ludah gugup.

“ Ckckck.” Henry berdecak sambil menggelengkan kepalanya heran. “ Mungkin. Tapi, baru pertama kali ini aku merasa ditolak oleh seorang yeoja yang aku sukai.” Ujar Henry lalu terdiam mencoba berpikir untuk mencari kata yang tepat agar bisa menohok hati Hanna. “ Hemm, rasanya bukan suka tapi cinta.”

Hanna mendengus sebal. “ Apa kau berniat merayuku Henry Lau ?”

“ Iya, seperti itulah. Tapi, sepertinya tidak berjalan dengan mulus.”

Hanna menelan ludah kalah. Entah apa yang harus diucapkannya lagi agar dia tidak kalah oleh seorang Henry Lau. “ Lalu, kau mau aku bersikap seperti apa ?”

Henry tersenyum senang. Sebuah pengakuan kalah secara tidak langsung dari seorang Kang Hanna yang membenci kekalahan. “ Diam dan pejamkanlah matamu.”

Hanna mengangkat alis kirinya heran. Apa dia harus melakukan seperti yang diperintahkan Henry. Tidak ada pilihan lain. “ Geure. Jika aku diam dan memejamkan mata maka apa yang akan kau lakukan ?”

Dengan senyum penuh rahasia Henry mengangkat bahunya pura-pura tidak tahu. “ Molla, lihat saja nanti.”

“ Araseo.” Hanna memejamkan mata dan terdiam menunggu apa yang akan dilakukan Henry kepadanya. Semoga bukan hal yang buruk.

Henry bangkit dan menyambar tas biolanya. Dengan perlahan ia mencoba mengatur biola agar nyaman saat ia pakai. Ia meletakkan biola di bahunya dan bersiap-siap untuk berman biola. Bhrams Lullaby, lagu yang akan dimainkan. Sebuah nada yang penuh kehangatan dan sangat indah. Henry memejamkan matanya mencoba menghayati lagu yang akan dia mainkan. Dengan gerakan pelan ia mulai menggesek biolanya dengan halus. Mencoba untuk tidak menyakitinya.

Hanna terkejut ketika alunan Bhrams Lullaby memasuki ruang pendengarannya. Tiba-tiba hatinya terasa hangat. Ia membuka matanya dan menatap Henry dengan perasan bahagia. Entah bagaimana Henry bisa mengubahnya. Padahal saat awal Hanna menolak sama sekali eksistensi seorang Henry Lau dikehidupannya. Menganggap Henry invisible, tak terlihat. Tetapi, saat ini seorang namja yang ia coba benci setengah mati tengah berdiri sambil bermain biola. Hal teromantis yang Hanna pernah bayangkan.

“ That’s so cool, oppa.” Hanna tersenyum dan bertepuk tangan ketikaHenry menyelesaikan permainannya. “ Aku tahu kau bermain biola tetapi aku tidak tahu kau sepertinya sering memainkan Bhrams Lullaby.”

“ Gomawo. Rasanya bahagia sekali ketika kau berkata That’s so cool, oppa. Sensasinya begitu berbeda.” Henry meletakkan biolanya dan mengambil sebuah buket bunga Lily yang belum terlihat oleh Hanna. Ia berlutut dihadapan Hanna yang sedang duduk bersila di sofa. Pemandangan yang sangat aneh. Seorang namja yang memakai kemeja putih dan celana berwarna hitam berlutut dihadapan seorang yeoja yang duduk bersila di sofa dan masih memakai piyama Hello kity baju kebangsaannya dengan rambut pendek yang acak-acakan dan wajah yang kusut.

“ Kau suka ?” Henry menyodorkan buket bunga dihadapan Hanna.

Dengan pelan dan senyum Hanna mengambil buket bunga. Ia menghirupnya dengan perlahan dan mendapati sensasi yang berbeda. Dipagi hari ada seorang yeoja yang baru ia sadari bahwa ia menyukai seorang namja yang dulu pernah ia hindari. Hanna mengangguk cepat. “ Aku suka. Gomawo.”

“ Hanna-ya.”

“ Hemm ? Wae?”

Henry terdiam beberapa saat dan sekarang ia menatap Hanna dengan perasaan mantap. “ Aku mencintaimu. Jujur saja, aku baru menyukai seorang yeoja dan itu kau. Bagiku kehadiranmu saja sudah cukup. Aku merasa diriku dan duniaku sempurna karena kau. Aku ingin melihatmu, mendengar suaramu, menghirup aromamu, menyentuhmu dan memilikimu. Maukah kau menjadi pacarku bahkan aku ingin kau menjadi pendamping hidupku ?”

Hanna menatap Henry dengan perasaan terkejut. Lebih terkejut daripada saat Henry mencium bibirnya, memainkan Bhrams Lullaby dan bahkan memberinya buket Lily. Kata-kata Henry kali ini rasanya membuat jantung Hanna berdegup lebih cepat. Bahkan Hanna takut Henry bisa mendengar suara detak jantung Hanna. “ Apa yang harus aku katakan ?” Hanna menatap Henry dengan perasaan lembut. Entah mengapa tiba-tiba rasanya ia ingin menangis. Belum ada seorang namjapun yang berkata dan memperlakukan Hanna seperti Henry.

“ Kau hanya perlu berkata Iya dan.” Henry terdiam dan mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia mengeluarkan kotak beludru berwarna merah. Dengan perlahan ia membukanya dan memperlihatkan sebuah cincin yang terlihat sangat manis. Cincin itu berwarna silver bertahtakan sebuah mutiara kecil berbentuk kristal. Hanna tiba-tiba merasa sangat tersentuh. Tersentuh atas segala sikap Henry. “ Memakai ini.” Henry mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Hanna.

“ Aku terharu.” Hanna menatap Henry dan cincin itu secara bergantian. Mata lebarnya tiba-tiba mendapati sebuah warna merah yang mengikuti lingkaran cincin. “ Ini apa ?” Hanna mengangkat jarinya dan memperlihatkan lingkaran warna merah.

“ Aku kira kau tidak akan sadar.” Henry tersenyum dan membelai pipi Hanna. Sebuah kebiasaan yang sangat disukainya. “ Warna merah itu dari darahku. Dengan adanya darahku dicincin itu dan dipakai dijari manismu itu menunjukkan kepemilikan. Bahwa kau milikku. Bukan milik namja lain. Kau memang sudah terikat denganku dan kau adalah bagian dari diriku bahkan jiwaku.”

Hanna menyipitkan matanya ke arah Henry dengan rasa curiga dan ngeri. “ Tahu tidak ?” Henry menggeleng. “ Kau lebih terlihat sebagai Psikopat daripada romantis.”

Ia mengangkat bahunya sambil tersenyum. “ Tidak apa-apa jika aku menjadi psikopat tapi bisa memilikimu.” Henry bangkit dan duduk disamping Hanna. Ia memeluk Hanna erat. “ Mulai saat ini kau adalah milikku. Katakan Ya, aku mohon.” Lengan Henry mengelus rambut Hanna dengan lembut. Ia menunduk dan mencoba meresapi aroma rambut dan kulit Hanna yang selalu tercium aroma buah-buahan yang menyegarkan. Terasa manis dan menggelitik di hidung Henry.

“ Kalau aku berkata tidak ?”

“ Aku akan bilang bahwa kau yeoja yang paling tidak peka di dunia ini.”

Hanna mengangguk dan membalas pelukan Henry. Rasanya Henry begitu hangat. Bahunya begitu lebar dan aromanya begitu maskulin.

“ Jangan mengangguk. Aku ingin mendengar suaramu.”

“ Kau namja paling tidak peka. Aku mengangguk karena aku berkata Ya.”

Henry tersenyum senang. Ia semakin mengeratkan pelukannya terhadap Hanna. “ Gomawo.” Bisiknya tepat ditelinga Hanna yang dipasangi sebuah giwang.

“ Aku juga.”

“ Mulai dari sekarang, kau hanya boleh melihatku saja dan tidak boleh melihat namja lain. Kau adalah milikku dan selamanya milikku.”

 

^^

 

5 bulan yang lalu.

 

Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kasar dengan perasaan sebal. Ia menunggu namja yang menyebalkan itu tetapi mengapa dia belum datang juga. Kali ini yeoja itu mondar-mandir di ruang tengah apartemennya. Ia sesekali mengecek ponselnya menunggu jika ada telepon atau pesan text dari namja menyebalkan itu. Tetapi, nihil. Tidak ada satupun pesan text atau telepon dari namja itu. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa dengan perasaan sebal. Tiba-tiba saja perasaannya terasa tidak enak. Ia meringkuk di sofa, merasa takut. Ia menatap cincin di jari manisnya dengan sebal.

“ Mengapa namja itu belum datang ? apa terjadi sesuatu padanya ?” Ia mengecek ponselnya kembali dan kali ini berinisiatif untuk mengirim pesan text terlebih dahulu. Ia menatap nomor di phonebook ponselnya dengan ragu. Tiba-tiba ia merasa gengsinya masih mendominasi pada dirinya. “ Kirim. Jangan. Kirim. Jangan. Kirim. Jangan. Kirim. Baiklah aku akan mengirim pesan text duluan. Awas saja kau namja menyebalkan.” Ia mengetik pesan dengan perasan sebal sekaligus khawatir.

 

To        : Lullaby

Kau dimana namja menyebalkan ? jika kau tidak mau datang tak usah datang !

 

Ia mengirim pesan masih dengan perasan sebal. Niatnya untuk melembutkan diri di pesan text yang akan dia kirim pupus sudah. Ia merasa ini terlalu berlebihan jika dia mengirim pesan text terlebih dahulu. Dengan perasaan gugup ia menggigit bibirnya dan sesekali mengecek ponselnya jika ada pesan text yang masuk. Ada ! ia berteriak kesenangan dalam hati.

 

From    : Lullaby

Kau merindukanku ? Mianhe, aku tidak bisa datang. Aku ada acara dengan hyung-hyungku. Mianhe, my sugar pie. J aku janji, besok aku akan datang.

 

To        : Lullaby

Tidak usah datang. Aku besok harus pergi. Nikmati acaramu dengan hyungmu. Jangan menghubungiku lagi.

 

From    : Lullaby

Kau marah ? baiklah. Aku tidak akan menghubungimu besok. Kau mau pergi kemana ?

 

To        : Lullaby

Bukan urusanmu ! urus saja urusnmu yang lebih penting daripada aku.

 

From    : Lullaby

Baiklah. Semoga acaramu menyenangkan juga. Jaga kesehatanmu. Aku tidak mau kau sakit. Jaga pola makan, jangan begadang. Aku tahu kau Insomnia, tetapi dengarlah alunan biola Bhrams Lullaby yang sudah aku rekam supaya membuatmu tenang dan bisa tidur. Jangan lupa, sampaikan salamku untuk eomma. Hati-hati. Wo Ai Ni, Kang Hanna.

 

To        : Lullaby

Jangan cerewet. Kau bukan eommaku, appaku, oppaku bahkan bukan eonniku. Aku tak mencintaimu.

 

From    : Lullaby

Baiklah. Have a nice trip. J

 

Hanna meletakkan ponselnya dengan kesal. Ia sudah merelakan waktu liburnya untuk memasak. Hanya untuk dia. Mengapa bahkan dia tidak menghargainya ? padahal siapa yang dahulu ingin datang ketika ia menolaknya. Saat ia menyetujuinya tetapi orang yang menyebalkan bahkan tak datang. Betapa menyebalkannya namja itu. Awas saja, jika dia sakit maka yang bertanggung jawab adalah namja menyebalkan itu.

“ Dasar namja menyebalkan ! awas saja kau.” Hanna memekik tertahan. Mencoba mengeluarkan kekesalannya. “ Awas saja kau Henry Lau ! dasar mochi menyebalkan. Aku tidak mau peduli lagi padamu.” Tiba-tiba saja air mata mengalir ke pipi chubby dari matanya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan meringkuk. Menangisi nasibnya yang harus berhubungan dengan idol menyebalkan seperti Henry Lau. Bertemu saja jarang. Bahkan saat bertemu mereka bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Henry begitu sibuk. Bahkan sangat sibuk hingga bisa melupakannya sewaktu-waktu.

Mengapa dulu dia tak menyerah saja ? saat ia tahu bahwa tidak mungkin bisa berhubungan dengan idol seperti Henry. Tapi, ia mencintai Henry. Entah bagaimana dia bisa mencintai Henry. Mungkin karena sikap Henry dan semangatnya yang terus mengejarnya walau dia sudah menolak bahkan memakinya. Henry tidak pernah menyerah. Ia menyukai Henry yang ceria, polos bahkan kekanak-kanakan.

Ia menyukai Henry yang begitu bisa tiba-tiba bertindak romantis. Saat Hanna mengira Henry akan menjahilinya tetapi tiba-tiba ia memainkan Bhrams Lullaby yang sangat Hanna sukai. Setelah itu ia memberikan sebuket bunga Lily putih. Entah darimana Henry mendapatkan informasi tentang semua hal yang sangat Hanna sukai.

Hanna menangis dan tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit. Ia memegang kepalanya dengan perasaan tak karuan. Wajahnya menjadi pucat dan membiru. Badannya tiba-tiba terasa tak bertenaga dan lemas. Ia lupa saat ini adalah waktunya dia pergi ke tempat yang sepertinya sudah menjadi rumah kedua baginya. Tanpa memperdulikan rasa sakitnya ia segera bangkit dan mengambil jaket, syal dan tasnya. Ia segera bergegas pergi dari apartemen meninggalkan ponselnya yang tiba-tiba berdering.

 

^^

 

Henry menatap ponselnya dengan perasaan sebal sekaligus khawatir. Tiba-tiba saja perasaanya tidak baik dan dia merasa semua ini berhubungan dengan Hanna. Ia merasa Hanna sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mengapa dia tidak datang saja ke apartemen Hanna dan menolak tawaran para hyungnya untuk mengadakan pesta tentang album mereka. Henry menekan kepalanya dengan sebal. Mencoba mengendurkan perasaan khawatir dan rasa bersalahnya kepada Hanna. Ia mencoba untuk menghubungi Hanna dan hasilnya tetap nihil. Tidak ada yang menjawab.

“ Ya Henry ! Wae ? mengapa mukamu begitu seram ?” Sungmin yang memang paling perhatian kepada Dongsaeng satunya ini merasa aneh dengan perubahan suasana hati Henry yang sangat tiba-tiba dan terlihat jelas diwajahnya.

Henry menatap Sungmin dengan perasaan kaget. Memang Sungmin yang selalu pertama tahu tentang perasaan Henry. Ia menggeleng mencoba untuk tidak membuat Sungmin khawatir. “ Hyung, bolehkah aku pergi duluan ? aku merasa tidak enak.”

Sungmin mengerutkan kening heran. Yang bisa membuat Henry tak enak pasti berhubungan dengan Kang Hanna yaitu yeojachingu-nya. Rasanya hanya yeoja itu yang bisa membuat suasana hati Henry gampang berubah tetapi hanya yeoja itu juga yang bisa membuat Henry selalu terlihat ceria dan bahagia. “ Ada apa lagi dengan Kang Hanna-mu itu ?”

Henry tergagap kaget. Tak mengira hyung-nya ini bisa menebak dengan tepat. Sepertiya dia harus bersikap jujur untuk kali ini. “ Aku merasa tidak enak, hyung. Biasanya jika aku merasa tidak enak maka sesuatu terjadi pada dia. Seperti sebulan yang lalu ketika di China aku merasa tak enak dan memang ternyata Hanna sedang dirawat inap di rumah sakit. Aku takut sesuatu terjadi lagi padanya, hyung.”

Sungmin tersenyum lembut. Dongsaeng satunya ini sepertinya memiliki kontak batin yang kuat dengan yeojanya. Ia mengannguk kepada Henry, membolehkan Henry untuk segera pergi kepada Kang Hanna. “ Geure. Kajja ! kau tidak mau sesuatu terjadi pada Kang Hanna kan ? cepat pergi sana! Sebelum sesuatu terjadi pada Hanna-mu”

“ Gomawo, hyung.” Henry segera berlari keluar dari kafe tempat mereka merayakan pesta tentang album mereka. Anggota Super Junior-M lainnya hanya memandang aneh dan bertanya-tanya. Ia tidak mengindahkan hal itu dan segera berlari menuju mobilnya. Meluncur menuju apartemen Kang Hanna.

 

To        : Sugar Pie

Kau dimana ? angkat teleponku ! aku tahu kau marah, tapi jangan seperti ini. Aku mohon !

 

Henry mengetuk-ngetuk setirnya dengan perasaan frustasi. Perasaan hatinya tidak enak. Entah mengapa perasaan hatinya selalu tidak enak disaat-saat seperti ini. Disaat Hanna menyetujui ajakannya untuk bertemu dan Henry membatalkannya karena sibuk. Ia merasa bersalah kepada Hanna. Tiba-tiba tanpa sadar ia merasa takut terjadi sesuatu yang buruk pada yeoja mungil dan chubby miliknya.

Henry segera tiba dikawasan komplek apartemen Hanna dan segera memarkir mobilnya. Dengan tergesa-gesa ia langsung menuju lift dan menekan angka 8. Lantai 8 dimana apartemen Hanna berada. Segera setelah lift terbuka, ia segera berlari menuju apartemen Hanna. Ia memasukkan kode apartemen Hanna yang sudah ia tahu semenjak ia ingin selalu berada dekat dengan Hanna. 200513, password apartemen Hanna. Entah mengapa Hanna memilih angka tersebut untuk mejadi passwordnya. Sampai saat ini Henry belum bisa paham apa yan dipikirkan Hanna.

Henry segera melepas sepatunya dan memakai sandal rumah yang sudah disiapkan Hanna khusus untuknya dengan motif biola yang sangat disukainya. Ia segera memanggil Hanna tetapi nihil tidak ada jawaban. Dengan sedikit berlari ia mengecek ke kamar tidur Hanna yang bercat , warna kesukaan dirinya. Disana terdapat photo-photo Hanna dan Henry yang diambil disetiap kali mereka bisa bertemu. Tetapi yang Henry sukai adalah ketika Hanna menatapnya sambil tersenyum bahagia dengan background pantai sore dimana matahari sedang tenggelam. Bagi Hanna itu sangat romantis.

Henry tersadar bahwa bukan saatnya ia melihat photo-photo itu. Ia harus segera mencari Hanna. Ia mengecek ponselnya dan segera menelepon ponsel Hanna. Tiba-tiba ia mendengar dering yang Hanna pakai khusus jika ia meneleponnya. Henry segera mencari-cari sumber suara tersebut dan mendapati ponsel Hanna tergeletak begitu saja di sofa. Henry merasa Hanna sepertinya lupa membawa ponselnya. Bagaimana mungkin seorang Kang Hanna bisa melupakan ponselnya yang sudah ia anggap sebagai pacar pertamanya. Henry menatap meja makan dan mendapati begitu banyak makanan yang tersedia di meja yang dimasak oleh Hanna. Tiba-tiba ia merasa telah sangat mengecewakan Kang Hanna-nya.

“ Mianhe, Hanna-ya.”

Dengan perasan berat ia menghela nafas panjang. Mencoba mencari-cari bagaimana cara supaya dia bisa menghubungi Kang Hanna. Tiba-tiba ia tersadar, bahwa ia belum mengubungi eomma Kang Hanna. Dengan cepat dia mengirim pesan text kepada eomma Hanna.

 

To        : Eomma

Eomma, aku tidak bisa menghubungi Hanna. Kira-kira dimana dia ?

 

Tidak lama ada pesan text masuk ke ponselnya.

 

From    : Eomma

Maaf, Henry. Eomma tidak tahu. Bukankah kata Hanna, hari ini kalian akan bertemu ?

 

To        : Eomma

Memang benar, eomma. Hanya saja ketika datang, Hanna sudah tidak ada.

 

From    : Eomma

Tunggu saja. Mungkin sebentar lagi dia akan datang.

 

To        : Eomma

Baiklah. Gomapta, eomma. Maaf, sudah membuatmu khawatir.

 

Henry menghela nafas panjang. Bagaimana dia tidak khawatir. Keadaan Hanna saja saat ini dia tidak tahu. Kaki panjangnya ia langkahkan ke kamar Hanna yang merupakan ruang paling dilarang Hanna untuk dimasuki Henry dan sampai saat ini Henry belum pernah menginjakkan kakinya di kamar Hanna. Tangannya ia paksakan untuk membuka kamar Hanna yang baru tadi ia masukki dalam keadaan kalut. Matanya menatap penjuru kamar Hanna yang luasnya kira-kira 5×5 m. Tidak seberapa luas jika dibandingkan kamar Henry yang berada di Amerika. Disana terdapat sebuah lemari buku yang kira-kira panjangnya sekitar 2m. Ada lemari kayu, sebuah meja rias yang dimejanya terdiri dari beberapa peralatan make up dan sebuah ranjang yang mungil dengan seprai berwarna violet. Benar-benar khas Hanna.

Ia berjalan ke arah lemari buku yang penuh dengan banyak novel romance dan fantasy kesukaan Hanna. Dia bagian bawah ia menemukan beberapa buku tentang kesehatan. Bukankah Hanna kuliah bidang Managemen dan mengapa disini terdapat buku kesehatan ? tangan Harry meraih buku tentang Thalasemia. Penyakit yang diturunkan dari orangtua dan thalasemia merupakan penurunan kemampuan untuk memproduksi hemoglobin yang berfungsi untuk mengikat oksigen dan zat makanan yang kan diolah menjadi energi.

“ Mengapa ada buku seperti ini dilemari bukunya ?” Henry meraih buku yang lain dan masih sama berupa buku tentang penderita Thalasemia. Ia meraih beberapa buku kesehatan lain dan ternyata masih berhubungan dengan penyakit Thalasemia. “ Apa ini hanya perasaanku saja ? mengapa begitu banyak buku tentang Thalasemia seperti ini ?” Ia menggelengkan kepala mencoba mengusir pikiran buruk yang melintas di otaknya. Ia membereskan buku-buku itu dan segera bangkit. Keluar dari kamar Hanna yang merupakan larangan baginya.

“ Kang Hanna, dimana kau ?”

 

^^

 

“ Hanna chan, gwenchana ?” Suara kecil Shin Hye membuat Hanna terbangun dari istirahatnya. Ia mendekati Hanna yang sekarang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus ditangannya. Dengan senyum lemah Hanna melambai ke arah Shin Hye. Wajahnya terlihat tirus dan matanya terlihat sayu. “ Hanna chan.”

Hanna tersenyum lemah menatap Shin Hye. “ Wae ?”

Shin Hye duduk dikursi yang berada disamping ranjang Hanna. Tanggannya menggenggam jemari Hanna yang tirus dan dingin. Rasanya selalu seperti ini ketika Hanna harus tranfusi darah. Ia menatap Hanna dengan wajah sedih. Tatapannya tiba-tiba tertumbuk pada lengan Hanna yang baru ia sadari penuh dengan bekas suntikan. Tangan kiri Hanna yang biasa dipakaikan jam ternyata untuk menutupi banyak bekas suntikan karena transfusi. Tiba-tiba Shin Hye terlihat sangat ngeri. Membayangkan rasa sakit yang harus diderita Hanna ketika dia harus transfusi darah.

“ Wajahmu pucat sekali. Apakah kali ini lebih sakit daripada biasanya ?” Shin Hye menggenggam tangan kiri Hanna dan menempelkannya dipipinya. Mencoba membuat tangan Hanna lebih hangat.

Hanna menggeleng pelan. Tidak mau menceritakan rasanya yang lebih menyakitkan daripada biasanya. “ Anni. Rasanya seperti yang biasa. Seperti digigit semut.” Hanna tersenyum dan menggeleng. Rasanya seperti kau menyayat nadimu sendiri. Sakit sekali.

“ Aku sangat bersyukur jika begitu. Bagaimana perasanmu ?”

“ Baik. Lebih baik daripada biasanya.” Salah, rasanya sangat buruk.

Shin Hye mengangguk paham. Ia tersenyum menatap Hanna mencoba menguatkan Hanna. Walaupun tidak bisa meredakan rasa sakit tetapi setidaknya dia memberikan kekuatan moral untuk Hanna. “ Hanna chan.”

Hanna menoleh dan dengan suara lemah dia menjawab dengan gumaman. “ Hmm ?”

“ Tadi Henry meneleponku. Dia menanyakan kau sedang ada dimana. Katanya setelah kau membalas smsnya seperti itu, aku tidak tahu seperti apa. Dia segera meneleponmu dan pergi ke apartemenmu untuk mencarimu bahkan dia mengirim pesan text pada eomma.”

Hanna terseyum lemah membayangkan Henry yang panik dan pasti akan menyalahkan dirinya sendiri ketika ia merasa bersalah pada Hanna. Pasti sekarang Henry masih berada di apartemennya, meringkuk di sofanya sambil menyalahkan dirinya sendiri. “ Katakan padanya aku sedang berada dalam liburan. Tiga hari lagi aku akan pulang dan katakan padanya jangan khwatir tentangku. Aku ini wanita kuat.”

Shin Hye tertawa pelan. Masih saja seperti biasa, mengatakan bahwa dia wanita kuat dalam keadaan lemah seperti inipun. “ Geureom. Jika itu yang kau mau.” Shin Hye mengeluarkan ponselnya dan menelepon Henry.

Henry-ssi. Hanna chan baik-baik saja. Dia sedang liburan.3 hari lagi dia akan segera pulang dan jangan mengkhawatirkannya.”

“ Tapi mengapa ponselnya tidak dibawa ?”

“ Dia memang suka seperti itu jika dia akan liburan. Menurutnya supaya tidak ada yang mengusiknya ketika dia berlibur.”

“ Baiklah. Katakan padanya aku merindukannya. Cepatlah pulang Hanna-ku.”

“ Haha, baiklah akan aku sampaikan.”

“ Gomawo, Shin Hye-ssi.”

“ Ne.”

 

Shin Hye meletakkan ponselnya di atas lemari kecil disebelahnya dan menatap jail pada Hanna. “ Kata dia, dia merindukanmmu dan cepatlah pulang.”

“ Jangan menggodaku. Aku sudah dengar tadi. Kau kan memakai mode Loud speaker jadi aku bisa mendengarnya.”

Shin Hye menepuk jidatnya dengan agak keras dan bersikap seakan-akan ia lupa. “ Aigoo, kenapa aku bisa lupa ya ?”

“ Dasar kau ini. Ngomong-ngomong eomma tahu aku transfusi darah ?”

“ Molla. Dia tidak bilang kepadaku. Dia kan hanya tahu bahwa kau mengidap Thalasemia alfa minor dan hanya butuh transfusi satu bulan sekali dan bukan Thalasemia beta mayor yang sangat parah. Kau tidak mau aku menceritakannya kepada eomma kan ?”

Hanna mengangguk lemah. Ia tidak mau membuat eomma khawatir. “ Geure, jangan beritahu eomma. Aku tidak mau membuatnya khawatir.”

“ Bagaimana dengan Henry ? apa kau sudah memberitahunya ? aku kasihan padanya.”

“ Aku berniat untuk memutuskannya. Entah kapan. Ketika aku sudah tak kuat dan akan menyerah maka disaat itu aku harus membiarkannya pergi. Apakah aku egois Shin Hye ?” Hanna mengulum senyum yang dibuat-buat tetapi matanya tiba-tiba menangis.

Shin Hye memeluk bahu Hanna mencoba menenangkannya. Dia tidak mau melihat Hanna menangis. Ia sangat takut kejadian yang dulu terulang. Jika Hanna sudah sangat sakit dan dia menangis maka tiba-tiba darah akan keluar dari matanya bersamaan dengan air mata. Entah, sampai saat ini dia belum tahu mengapa bisa terjadi seperti itu. “ Kau tidak egois Hanna chan. Itu wajar. Kau mencintainya kan ?”

Hanna mengangguk disela tangisnya. Tiba-tiba ia melihat baju yang dipakai Shin Hye yang berwarna putih tiba-tiba berubah menjadi bercak merah. Hanna mengusap air matanya dan tiba-tiba air matanya telah berubah menjadi merah. Merah darah. Hanna terdiam menatap tangannya, tidak mau membuat Shin Hye khawatir. Tetapi rasanya sia-sia.

“ Hanna chan. Wae ? mengapa kau terdiam ?” Shin Hye melepaskan pelukannya dan menatap wajah Hanna. Diwajah Hanna ia mendapati air mata Hanna telah berubah menjadi merah. Apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Darah Hanna ternyata menjadi air mata. Dengan pelan Shin Hye mengambil tissue dari atas lemari kecil dan mengusap air mata Hanna. Hanna hanya bisa terdiam menatap Shin Hye dan tidak melakukan penolakan terhadap apa yang dilakukan Shin Hye.

“ Gwenchana, Hanna chan. Kamu baik-baik saja.” Tissue yang tadi tadinya berwarna putih sekarang berubah menjadi merah. Shin Hye membuangnya segera ke tempat sampah tak mau Hanna melihatnya. Ia membersihkan tangan Hanna dengan tissue basah untuk menghilangkan darah yang ada di tangan Hanna.

“ Shin Hye-ya. Mianhe, selalu membuatmu kesusahan. Aku memang tidak berguna. Aku selalu merepotkan kau, eomma, appa, dan Henry. Seharusnya aku mati saja.” Hanna berkata dengan nada getir. Ia meratapi nasibnya yang menjadi orang yang selalu merepotkan dan menggantungkan diri pada orang lain.

Shin Hye menggenggam jemari Hanna dengan erat. “ Anni. Jangan pernah berkata begitu hanna chan. Kau seharusnya bersyukur bersyukur memiliki kami. Malah aku tidak tahu akan menjadi seperti apa jika kau tak ada. Aku mungkin akan menjadi orang yang tak berguna. Denganmu, aku merasa berguna. Aku merasa karena kau, aku tahu mengapa aku dilahirkan. Kau harus bertahan, Hanna chan. Kau wanita kuat kan ?”

Hanna menatap Shin Hye dengan pandangan letih. Ia letih jika terus seperti ini. Ia letih dengan rasa sakit yang selalu ia rasakan. Ia letih dengan jarum suntik yang selalu menusuk tangan kirinya yang sekarang terasa menyakitkan walau hanya melihatnya saja. Ia letih dengan air mata yang tiba-tiba bisa menjadi darah. Ia letih.

“ Katakan kau adalah wanita kuat, Hanna chan. Kau harus bertahan. Aku membutuhkanmu. Anni, semua membutuhkanmu. Kau harus membayangkan rasa sakit orang yang mencintaimu ketika kau menyerah untuk bertahan hidup. Kau wanita kuat kan ?”

Hanna mengangguk lemah. Menyerah kepada Shin Hye.

“ Kau memang harus bertahan, Hanna chan. Aku tahu kau wanita kuat.”

 

23 – Oktober- 2012

My Lullaby. Saranghae dan Mianhe jika aku akan menyakitimu. Aku tahu bahwa aku egois menginginkanmu lalu aku akan meninggalkanmu. Tapi, kau harus tahu betapa aku mencintaimu. Kau harus tahu itu.

 

^^

 

“ Mengapa kau terlihat lebih pucat ? wajahmu menjadi lebih tirus dan bahkan kau mempunyai mata rakun. Apakah kau selalu begadang atau kau tak bisa mengontrol insomnia mu Sugar Pie ? apa mungkin karena aku ?” Henry mengelus anak rambut Hanna yang sedang tertidur di pangkuannya. Ia memandang wajah Hanna yang ketika tertidur terlihat damai dan suci. Terlihat tanpa dosa dan baik hati. “ Sugar-ku jaga kesehatanmu. Makan yang teratur dan jangan pernah memaksakan diri. Aku tahu kau wanita kuat tetapi jangan sampai kau terlalu memforsir dirimu hingga kau bisa jatuh sakit. Aku tak mau kau jatuh sakit. Aku tak mau kau merasa sakit. Karena aku pun merasakannya bahkan aku akan merasa lebih sakit dari dirimu. Jangan sakit.”

Henry menatap Hanna dengan pandangan lembut. Ia sangat menyukai Kang Hanna mungilnya. Ia menyukai wajah Kang Hanna ketika dia tertidur. Melihatnya membuat dunianya terasa damai. Hanya Hanna yang dapat membuatnya merasakan hal ini. Dia tidak tahu harus bagaimana jika tak ada Kang Hanna disisinya. Hanya Kang Hanna yang ia butuhkan dan dia bisa berdiri lagi di dunia yang sering membuatnya merasakan sakit. Ia menyukai Kang Hanna apa adanya. Menyukai wajah jahilnya, cerewetnya, merengutnya bahkan wajahnya yang jelek sekalipun. Dengan adanya Hanna di hidupnya dia tahu bahwa hidup harus dinikmati dengan cinta.

Tangannya mengelus rambut Kang Hanna yang sudah agak panjang dibandingkan setahun yang lalu. Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya pada wajah Kang Hanna. Ia mencium lembut kening Kang Hanna. Ia menyukai reaksi yang sering diberikan Hanna ketika ia mencium keningnya. Dia hanya bisa terdiam dan wajahnya akan memerah. Lalu dia akan segera mengalihkan perhatian dengan pembicaraan yang lain.

“ Wo Ai Ni. Aku tidak tahu jika kau meninggalkanku. Aku rasa aku tidak akan bertahan.” Henry menatap Kang Hanna yang masih tertidur di sofa. Selalu seperti itu. Ia harus memainkan alunan Bhrams Lullaby dan Hanna baru bisa tertidur.

Henry mengangkat Hanna dan membawanya ke kamar tidurnya. Ia meletakkan Hanna di ranjang dan menyelimutinya. Selalu seperti itu. Sepertinya ini merupakan rutinitas yang menyenangkan bagi Henry. Dengan pelan ia mencium kening Hanna lagi. Mengucapkan selamat tidur yang tertunda. Ia bangkit lalu menatap sekekeling kamar Hanna dan tidak menemukan yang mencurigakan. Dengan perlahan ia mematikkan lampu kamar dan menutup pintu.

“ Selamat tidur Hanna-ku. Aku pergi.” Henry menatap kamar Hanna dan pergi dari apartemennya.

“ Selamat tidur juga Mochi.” Gumam Hanna pelan dan dia membuka matanya perlahan. Sebenarnya dia hanya berpura-pura tertidur. Ia bahkan mendengar penuturan Henry tentang dirinya dan ini membuat dirinya makin sakit dan sulit untuk melepaskan Henry. Tangannya menyentuh keningnya dan ia masih bisa merasakan rasa hangat saat Henry mencium keningnya dua kali. Dengan senyum dan dengan perlahan Ia mengambil diarynya dari laci dan mulai menulis.

 

28 – Januari – 2013

Sudah berapa tahun kita bersama ? rasanya begitu singkat. Berapa bulan lagi ketika saat itu tiba ? aku berharap saat itu tidak akan pernah datang. Karena jika saat itu datang, maka aku harus melepasmu. Wo Ai Ni.

 

^^

 

Henry menatap Hanna yang tengah bertolak pinggang dengan perasaan letih. Ia letih terus-terusan bertengkar dengan Hanna. Bahkan hal yang mereka pertengkarkan sangat sepele. Tentang Henry yang sering membatalkan janji karena kegiatannya yang terlampau sibuk. Henry bahkan sudah membawa sebuket bunga lily putih untuk Hanna dan sekarang buket bunga itu sudah ada di tempat sampah karena dilempar Henry dengan perasaan sebal dan marah pada Hanna. Hanna hanya bisa menatapnya dengan kaget dan amarahnya langsung meledak. Bahkan henry sempat dilempar oleh bantal sofa dan vas bunga.

“ Hanna, mengapa kau seperti ini ? Wae ?” Henry berkata frustasi kepada Hanna yang tengah menatapnya kesal. “ Aku sudah meminta maaf padamu dan aku berjanji akan mengganti hari itu di hari lain. Aku berjanji akan bertemu denganmu.”

Hanna menatap sebal Henry. “ Kau ! Kau selalu saja berkata seperti itu. Kau berjanji kepadaku lalu saat hari itu tiba kau selalu membatalkannya. Aku tidak perlu janjimu jika akhirnya kau membatalkannya lagi. Lebih baik kau tak usah berjanji dan kau tak akan menyakitiku.” Kali ini bantal sofa lagi yang ia lemparkan ke arah Henry.

Henry menatap Hanna dengan pandangan kaget. “ Jadi walaupun kau tidak bertemu denganku, kau merasa tidak apa-apa ?”

Hanna melotot kepada Henry sehingga mata besarnya melebar. Dengan wajah pongah ia mengangguk. “ Iya. Aku tidak apa-apa walau tak bertemu denganmu.”

“ Kau tidak mencintaiku ?”

Hanna tergagap. Ia jarang mengungangkapkan bahwa ia juga mencintai Henry. Baginya mungkin Henry sudah tahu bahwa ia mencintainya. Hanna terdiam dibawah tatapan Henry yang menuntut.

“ Kau benar-benar tidak mencintaiku ?” Henry meminta penjelasan kepada Hanna. “ Jawab aku !” Kali ini Henry berkata dengan suara keras dan membuat Hanna tersentak. Henry tidak pernah membentaknya atau berkata dengan suara keras.

Hanna menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Masih kaget dengan suara Henry. “ Cukup ! Jangan berkata keras kepadaku. Aku tidak suka itu !” Tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemas. Kepalanya sangat pusing. Ia menekan kepalanya dan rasa sakitnya hampir membuatnya terjatuh. Henry menatap Hanna dengan cemas. Ia akan menolong Hanna tapi Hanna mengangkat tangan kanannya meminta Henry untuk tetap diam di tempatnya. “ Jangan menolongku. Aku hanya sakit kepala biasa. Jangan bergerak.”

Henry mengangkat kedua tangannya menyerah. Ia akan melakukan apa saja untuk Hanna. Mata sipitnya masih menatap Hanna khawatir. Diseberangnya Hanna masih menekan kepalanya dengan keras. Wajahnya terlihat pucat dan pandangan mata Hanna terlihat letih. “ Hanna-ya, gwenchana ?”

Hanna menatap Henry dan mengangguk. Bodoh, kenapa dia bisa sampai lupa bahwa hari ini dia harus pergi ke rumah sakit lagi. “ Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir.” Dengan langkah cepat Hanna pergi ke kamarnya dan mengambil jaket, syal dan tasnya. Ia keluar dari kamar dan masih menemukan Henry tengah menatapnya khawatir. “ Kau bisa pergi. Aku tidak mau melihatmu.”

Henry menatap Hanna dengan perasaan aneh. Dalam sekejap ia telah mengenggam lengan Hanna. “ Wae ? mengapa kau berkata tidak mau bertemu denganku ? ada apa denganmu Hanna ? mengapa tiba-tiba kau emosional sekali ?”

Hanna melepaskan genggaman tangan Henry darinya dengan pelan. “ Aku lelah. Aku lelah terus-terusan begini. Kita tidak cocok, Henry. Kau dan aku hidup di dimensi yang berbeda. Aku hanya seorang yeoja biasa dan kau idol. Sampai saat ini bahkan fansmu tidak bisa menerimaku. Apa kau tahu bahwa mereka masih mengirimku surat ancaman ? Kau tidak tahu kan ?”

“ Tapi, bukankah kau bilang bahwa kau siap menanggung resiko berpacaran dengan orang sepertiku ?”

Hanna tergagap. Kalah oleh janjinya yang dulu.

“ Mengapa kau diam, hanna ? bukankah aku benar ?”

Hanna tiba-tiba menangis. Ia letih harus bersikap seperti ini.

“ Mengapa kau menangis ?” Henry langsung memeluk Hanna dengan perasaan bersalah. Ia jarang melihat Hanna menangis. Bahkan tidak pernah. Pembawaannya yang cuek, gampang kesal dan gampang terharu tidak pernah membuatnya harus menangis. “ Mianhe, jika aku berbuat salah. Aku janji, aku tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku berjanji.” Ia mengelus rambut Hanna dengan lembut. Mencoba menenagkan Hanna.

“ Mengapa kau masih disini ? aku tidak mau melihatmu.” Hanna terisak di pelukan Henry. Ia bingung bagaimana caranya supaya ia bisa berhenti menangis.

“ Karena aku mencintaimu.”

“ Bagaimana jika aku tak mencintaimu ?”

“ Tak apa-apa. Mencintaimu membuat aku cukup. Aku tak perlu lebih.”

“ Kau bodoh. Bagaimana mungkin aku tak mencintaimu ? mengapa kau tidak peka ?”

“ Jadi, kau juga mencintaiku ?”

“ Kau bodoh. Bukankah aku sudah mengatakannya ? aku tak mau mencintai orang bodoh sepertimu.”

“ Aku tahu. Kau memang bodoh, karena mencintaiku. Tapi karena kau bodoh itulah aku mencintaimu.” Henry mengelus rambut Hanna dengan bahagia. Mengapa dia bisa begitu bodoh menyangsikan bahwa Hanna mencintainya.

“ Babo..” Hanna mendadak terdiam ketika ia melihat bercak darah di baju Henry. Ia mengusap pipinya dan ketika ia melihat tangannya, tangannya penuh dengan bercak darah. Dengan segera ia melepaskan pelukan Henry dan mendorong Henry dari belakang.

“ Wae ?”

Hanna masih menangis dan darahnya tak pernah berhenti mengalir. “ Kau pergi. Aku tak mau melihatmu lagi.”

“ Wae ? bukankah kau baru berkata kau mencintaiku ?”

“ Itu bohong ! cepat pergi dari sini ! aku tak mau bertemu denganmu.” Hanna mendorong keras punggung Henry dan segera menutup pintunya ketika Henry sudah berhasil ia dorong keluar.

“ Hanna, tolong buka pintunya !” Henry mengetuk-ngetuk pintu apartemen Hanna dengan keras. Tak mengerti mengapa Hanna begitu mudah berubah. Henry merasa dia tidak melakukan apa-apa sehingga membuat Hanna berubah seperti itu. “ Hanna. Buka pintunya !”

Hanna masih menangis dan meringkuk didepan pintu apartemennya. Ia masih ingin mendengarkan suara Henry. Karena ia tahu bahwa ia tak bisa selamanya mendengar suara orang yang ia cintai. “ Pergi kau dari sini. Aku tak mau melihatmu bahkan bertemu denganmu.”

“ Hanna, jelaskan apa yang telah aku perbuat. Aku tak mengerti.” Kali ini suara Henry terdengar frustasi.

“ Ka ! aku tak mau bertemu denganmu.” Hanna berteriak keras dan hal ini mengagetkan Henry.

“ Hanna. Baiklah aku akan pergi. Tapi, aku akan datang lagi untuk bertemu denganmu.”

“ Kau takkan bisa bertemu denganku. Saat kau datang aku sudah pergi !”

“ Hanna !”

“ Pergi !” Hanna masih meringkuk dan tergugu. Ia ingin melepaskan Henry dan meninggalkan Henry. Tetapi, rasanya sakit sekali. Harus mengusir bahkan berbohong tak mencintainya. “ Henry, kau mencintaiku kan ? jadi tolong pergi ! aku mohon.”

Bahu Henry tiba-tiba melorot mendengar penuturan Hanna. Jika ia mencintainya maka ia harus pergi. “ Hanna. Untuk kali ini aku akan pergi. Tapi, aku akan datang lagi. Aku mencintaimu. Saranghae.” Henry menatap pintu dan masih yakin bahwa Hanna sedang meringkuk didepan pintu sambil menangis. “ Hanna, jaga kesehatanmu. Baik-baik saat aku tak ada. Wo Ai Ni.” Henry berbalik pergi masih sambil memandang pintu apartemen Hanna.

“ Nado sarangahe, my Lullaby. Mianhe.” Gumam Hanna pelan menjawab perkataan Henry setelah Henry pergi.

Hanna masih terugugu di depan pintu. Dalam hati ia berharap Henry tidak pergi dan masih menunggunya sambil berteriak agar dirinya keluar dan menjelaskan apa yang salah dengan Henry tetapi ia sudah mendengar derap langkah seseorang menjauh.

Kepalanya tiba-tiba terasa lebih sakit daripada sebelumnya. Ia memegang kepalanya dan berusaha untuk bangkit tetapi tiba-tiba setetes darah jatuh ke lantai. Darah itu keluar dari hidungnya tanpa ia sadari. Tangannya mengusap hidungnya dan mendapati darah mengucur dari kedua lubang hidungnya. Matanya hanya bisa menatap darah itu dengan pasrah. Darahnya semakin berkurang karena mata dan hidungnya mengeluarkan banyak darah. Dengan perasaan sesak Hanna berjalan dengan terseok-seok.

Tiba-tiba pandangannya memburam dan tanpa bisa dicegah ia ambruk ke lantai. Darahnya berceceran di lantai sehingga membuat lantai penuh dengan darah dan wajahnya terkena cipratan darah. Hanna mencoba untuk bangkit tetapi tubuhnya tidak kuat menanggung beban tubuhnya. Kali ini ia ambruk dan kehilangan kesadaran saat ia merasa mendengar jeritan seseorang di sampingnya.

^^

“ Gwenchana ?”

“ Geureom. Aku baik-baik saja. Wae ?” Tidak, aku tidak baik-baik saja. Bukankah kau bisa melihatnya ?

“ Anni.” Shin Hye menatap Hanna yang sekarang memang terlihat benar-benar seperti seorang pesakitan. Gambaran Hanna yang dulunya mungil, bermata bulat, berpipi chubby, cuek dan kuat hilang. Berganti dengan penampilan seperti mayat hidup. Wajah menjadi pucat dan tirus, tulang pipi terlihat menonjol, matanya cekung dan tubuhnya kurus dan yang paling parah ia terlihat rapuh. Seperti lilin yang sumbunya hampir mati. Tinggal menunggu waktu dan lilin itu mati tak bersisa.

“ Wae, Shin Hye-ya ?” Ujar Hanna pelan. Ia memandang Shin Hye dengan tatapan seperti biasa, menuntut penjelasan.

Shin Hye hanya bisa menggeleng. Tiba-tiba ia merasa gagal. Gagal menjadi seorang eonni yang seharusnya menjaga dan melindungi Hanna, gagal sebagai teman yang seharusnya selalu memberi dukungan dan menguatkan untuk Hanna. Ia telah gagal. Hatinya sesak, rasanya seperti mengetahui bahwa dia akan kehilangan seseorang yang sangat berharga bagi dirinya. “ Mianhe, Hanna chan.” Shin Hye menunduk dan berkata dengan perasaan getir. Ia tak mampu menatap Hanna yang seperti itu.

Hanna mengerutkan keningnya heran. Apa yang harus dimaafkan ? “ Wae ? apa yang harus dimaafkan Shin Hye-ya ? kau tidak salah apa-apa.” Hanna mencoba tersenyum tetapi gagal. Senyumannya lebih terlihat seperti seringaian. Dengan perlahan Hanna mencoba meraih jemari Shin Hye. Ia mengenggamnya dengan erat. “ Jangan seperti ini. Jika kau seperti ini malah akan membuatku terasa sakit. Lebih sakit malah.”

“ Mianhe, aku juga sakit melihatmu seperti ini. Aku gagal Hanna chan.”

“ Kau tidak gagal. Hanya saja aku yang membuat diriku seperti ini. Aku ingin menyerah Shin Hye. Aku letih. Aku tidak mau membuat eomma dan appa bahkan kau terluka. Terlebih Henry. Aku tidak mau membuat kalian lebih terluka karena aku. Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian.”

“ Anni !” Shin Hye langsung membalas genggaman Hanna dengan erat. Ia menempelkan tangan Hanna dipipinya. “ Kau tidak boleh menyerah. Ayo kita lalui bersama, semuanya.”

Hanna menggeleng pelan sambil tersenyum letih. “ Anni. Semua sudah cukup. Aku sudah merasa bahagia. Dan kau Shin Hye harus menerima keputusanku. Mau kau suka atau tidak. Ini sudah menjadi keputusanku sejak lama.”

“ Hanna chan.” Kali ini Shin Hye memanggil dengan suaranya yang paling lembut. Mencoba untuk menggagalkan rencana Hanna. “ Kau tidak boleh menyerah. Lagipula bagaimana dengan Henry yang sampai sekarang ini belum tahu tentang keadaanmu. Bukankah dengannya kau merasa hidupmu bertambah 1 tahun dan kau lebih bahagia ?”

“ Geure. tapi ketika umurku bertambah satu tahun dan lebih bahagia, aku akan lupa dengan kematian. Padahal kematian itu jaraknya sangat dekat dengan kebahagiaan. Aku tak mau mati ketika bersamanya.”

“ Hanna chan.”

“ Hemm ? Bukankah aku benar Shin Hye-ya ?”

“ Kau dingin. Aku akan memberitahu Henry bahwa kau sakit.”

“ Geure. beritahu saja dia dan kau akan membuatku lebih menderita.”

Hanna tersenyum sinis dan memandang tangan kirinya yang mengerikan. Ia lalu menatap Shin Hye yang sudah menangis sambil menggenggam jemarinya.

“ Hanna chan. Berjuanglah. Aku mohon.”

“ Anni. Sekarang sudah saatnya aku menyerah Shin Hye-ya. Ini sudah terlalu jauh dari perkiraanku yang semula. Seharusnya aku tidak jatuh cinta. Karena aku akan sulit melepaskan dan melupakan. Sekarangpun rasanya hatiku sakit karena aku begitu merindukannya. Sakit sekali.” Hanna menyentuh dadanya dan mencengkramnya. Berusaha untuk meredakan rasa sakit itu. Tapi, ia malah menangis. “ Aku merindukannya Hye-ya. Sangat merindukannya, sampai-sampai aku ingin mati saja.” Ia memeluk Shin Hye yang sudah menangis.

“ Aku merindukannya.”

 

^^

 

Henry berlatih dance dan olah vocal dengan perasaan tak menentu. Tetapi, tetap saja dia selalu memasang wajah riang dan seperti orang yang tak punya masalah. Ia berlatih koreografi untuk album solonya yang berjudul TRAP. Dan didalamnya terdapat lagu yang sama berjudul TRAP yang ia ciptakan khusus untuk Hanna. Untuk hal ini hanya beberapa orang yang tahu betapa besar makan lagu ini bagi Henry.

 

( TRAP – Henry Lau ) *Eng Sub

 

I can’t move, Why am i getting heavier

As I’m inside of the corner of your heart, yeah

I want to touch you but i’m in this black darkness

I keep settling down in this same place, in that place. Yeah

I’m getting more and more forgotten inside of you

Inside this love that always lingers

Oh, i’m trapped, i’m trapped

I’m getting tired, i guess i’m dreaming alone

Will you strongly shake me and wake me up, wake me up ?

I’m trapped, i’m trapped

I’m losing myself, i can’t even remember my name without you

Now will you let go of me from inside of you, let go of me ?

*****

Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dibelakang henry. Ia menoleh dan mendapati para hyungnya sedang berada dibelakangnya. Mereka menatap Henry dengan rasa iba yang tak dimengerti oleh Henry. Ia berjalan pelan menuju hyung-hyungnya ketika ia selesah berlatih. Sungmin memberikan sebotol air mineral kepada Henry yang diterima Henry dengan rasa terimakasih. Mungkin tanpa hyung-hyungnya ia takkan bisa bertahan sampai disini.

“ Lagu itu suara hatimu kan ?” Kyuhyun bertanya tetapi lebih tepat suatu tebakan.

Henry hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kyuhyun yang baginya lebih tepat seperti sebuah pernyataan. “ Anni. Hanya sekedar lagu hyung.”

“ Kau begitu tergila-gila padanya Henry-ah ?” Tanya Siwon yang sekarang duduk disamping Henry. Tangannya yang sebelah kanan menepuk bahu Henry. “ Sampai-sampai kau berkata bahwa kau bahkan tidak bisa mengingat namamu tanpanya.”

“ Anni. Itu hanya sebuah lagu, hyung. Itu bukan tentang dia. Lagipula aku sudah melupakannya.” Salah, yang benar. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Dia terlalu berarti bagiku. Sangat berarti. Dia adalah yeoja pertama yang membuat hidupku begitu berwarna. Dia segalanya bagiku.

“ Sudahlah. Akui saja. Kami bahkan tengah malam mendengar kau memutar rekaman suaranya terus menerus. Sampai-sampai kami bosan.” Kali ini ucapan Eunhyuk yang membuat Henry sadar bahwa para hyung-nya mengetahui tentang hatinya.

“ Mengapa tidak kau coba untuk menghubunginya lagi ? mungkin saja dia dulu hanya terbawa emosi karena surat dari fansmu yang tidak suka dengannya.” Ujar Donghae bijak.

Henry menghela nafas berat. Itu sudah dilakukannya berulang kali. tapi hanya mailbox yang ia temui. Hampir setiap malam ia mencoba untuk menguhubungi Hanna tetapi selalu gagal. Mungkin Hanna sudah berganti nomor. “ Gomawo, hyung. Itu sudah aku lakukan.”

“ Kenapa kau tidak mencoba menghubungi temannya atau eommanya ?”

“ Eomma bahkan tidak tahu menahu soal Hanna dan Shin Hye mencoba menyangkal bahwa dia tahu dimana Hanna.”

“ Hwaiting ! akan tiba saatnya kau bisa bertemu dengannya lagi. Lebih baik kau berlatih untuk persiapan solomu. Pasti dia akan menontonmu dan akan tahu bahwa lagu yang kau bawakan untukknya. Tapi, mungkin dia akan salah paham karena lirik lagumu yang ingin membiarkankau bebas dari dirinya. Pasti dia berpikir kau memang sangat ingin melupakannya.” Ujar Sungmin serius tetapi kemudian ia mendapatkan jitakan dari dongsaengnya itu.

“ Ya !”

 

^^

 

Shin Hye meletakkan baki makan yang disediakan rumah sakit untuk Hanna. Ia menatap Hanna yang masih fokus melihat penampilan solo Henry di Music Bank. Baginya merupakan sebuah kelegaan Hanna bisa tersenyum lagi setelah beberapa lama Hanna bersikap dingin. Ini sudah beberapa bulan ketika Hanna mencoba untuk melepaskan Henry.

“ Bukankah aku sudah melepaskanmu, Henry-ah ? mengapa kau berkata biarkan aku melepaskanmu ? mengapa kau merasa aku belum melepaskanmu ? apakah begitu pentingnya aku di hidupmu sampai-sampai kau bahkan tidak bisa mengingat namamu tanpa aku ? itu sudah terlalu Henry-ah.” Ujar Hanna pelan tetapi kemudian dia menangis menatap wajah Henry yang sendu saat menyanyikan lagu TRAP.

“ Apakah aku begitu kejamnya sehingga membiarkanmu tersiksa ?”

“ Wae, Hanna chan ?” Shin Hye menatap Hanna dengan wajah khawatir. Dia tidak mau Hanna merasa terluka lagi.

Hanna menatap Shin Hye dengan pandangan bertanya. “ Apakah aku begitu kejam sehingga Henry membuat lagu itu ? sehingga dia ingin lepas dan melupakan aku ? bukankah aku sudah melepaskannya Hye-ya ?” Hanna menangis dan mencengkram lengan baju Shin Hye.

“ Itu hanya sebuah lagu Hanna chan. Itu tidak berarti apa-apa. Itu hanya sebuah lagu.” Shin Hye mencoba untuk menenangkan Hanna yang gemetar.

Hanna hanya mengangguk pasrah. Shin Hye segera mematikan TV supaya Hanna tidak emosional lagi. Melihat Hanna menangis membuat hatinya terluka. Sangat sakit melihat wajah Hanna yang tirus dan seperti pesakitan dan menahan kesakitan.

“ Hanna chan. Aku keluar sebentar. Aku ingin membeli sesuatu di luar.” Shin Hye segera mengambil tas setelah memastikan bahwa Hanna sudah berbaring tenang. Dia segera keluar dari kamar dan berjalan tergesa-gesa menuju jalan keluar dari rumah sakit.

Saat ini yang dia butuhkan adalah Henry. Dia harus tahu bahwa Hanna tidak sekejam itu.

“ Yoboseyo ?”

“ Henry-ssi. Ini aku Shin Hye. Aku ingin bertemu denganmu.”

^^

Henry hanya bisa menunduk mendengar penuturan Shin Hye tentang Hanna. Ia tidak mau menginterupsi sedikitpun. Ia menyeruput Lemon Juice yang ia pesan dengan perasaan enggan. Ia sangat merasa bersalah pada Hanna.

“Thalasemia mayor merupakan  penyakit yang ditandai  dengan kurangnya kadar hemoglobin dalam darah. Akibatnya, penderita kekurangan darah merah yang  bisa menyebabkan anemia. Dampak lebih lanjut, sel-sel darah merahnya jadi cepat rusak dan umurnya  pun sangat pendek, hingga yang bersangkutan memerlukan transfusi darah untuk memperpanjang hidupnya.”

“Penderita thalasemia mayor akan tampak normal saat lahir, namun di usia 3-18 bulan akan mulai  terlihat adanya gejala anemia. Selain itu, juga bisa muncul gejala lain seperti jantung berdetak lebih kencang dan facies cooley. Facies cooley adalah ciri khas thalasemia mayor, yakni batang hidung masuk ke dalam dan tulang pipi menonjol akibat sumsum tulang yang bekerja terlalu keras untuk mengatasi kekurangan hemoglobin. Penderita thalasemia mayor akan tampak memerlukan perhatian lebih khusus. Pada umumnya,  penderita thalasemia mayor  harus  menjalani transfusi darah dan pengobatan seumur hidup. Tanpa  perawatan yang baik, hidup penderita thalasemia mayor hanya dapat bertahan sekitar 1-8 bulan.”

Shin Hye menahan nafasnya. Tak kuat untuk melanjutkan penuturannya. Setetes air mata mengalir ke pipinya dan dengan cepat ia segera menghapusnya dengan tissue yang selalu dia sediakan ditas. “Sumsum tulang yang terlalu aktif bisa menyebabkan penebalan dan pembesaran tulang, terutama tulang kepala dan wajah.Tulang-tulang panjang menjadi lemah dan mudah patah. Anak-anak yang menderita thalasemia  akan  tumbuh  lebih lambat dan mencapai  masa  pubertas  lebih lambat dibandingkan anak lainnya  yang normal.”

“Karena penyerapan zat besi meningkat  dan seringnya menjalani transfusi, maka kelebihan zat besi bisa terkumpul dan mengendap dalam otot jantung, yang pada akhirnya bisa menyebabkan gagal jantung.Oleh karena itu, untuk memastikan seseorang mengalami thalasemia atau tidak, dilakukan dengan pemeriksaan  darah. Gejala thalasemia dapat dilihat  pada banak usia 3 bulan hingga 18 bulan. Bila tidak dirawat dengan baik, anak-anak penderita thalasemia mayor ini hidup hingga 8 tahun saja. Satu-satunya perawatan dengan tranfusi darah seumur hidup. jika tidak diberikan tranfusi darah, penderita akan lemas, lalu meninggal.”

“ Sebuah keajaiban Hanna bisa bertahan sampai saat ini. Dia menderita Thalasemia Beta Mayor karena turunan dari appanya dan itu juga menurun padanya dan eonninya. Eonninya, Park Heul Na telah meninggal saat dia berumur 8 tahun. Dan kita hanya bisa menunggu kapan Hanna mencapai batasnya.” Shin Hye tidak bisa menahan tangisnya dan kali ini ia mengalah membiarkan air matanya turun. “ Henry-ssi, aku mohon untuk menjenguknya. Kau harus tahu, dia sangat menderita. Dia bahkan berkata kepadaku sambil menangis bahwa dia sangat merindukanmu sampai-sampai dadanya sesak. Dia sudah cukup menderita. Melihatnya keadaannya sekarang membuat hatiku terasa sangat sakit.”

Henry memalingkan wajahnya dan sekarang ia memandang ke arah jalan yang penuh dengan lalu lalang kendaraan. Ia ingat pertama kali ia bertemu dengan Hanna di depan cafe ini saat Hanna mengembalikan dompetnya yang terjatuh. Sejak itu Henry begitu tergila-gila pada Hanna. Ia masih ingat saat mereka pulang dari pasar malam dan hak sepatu Hanna patah, ia menggendong Hanna yang selalu meminta turun dari gendongan Henry tetapi akhirnya menyerah dan henry menggendong Hanna sampai mereka tiba di apartemennya.

“ Kau tahu, Henry-ssi ? saat tadi dia melihat penampilanmu di Music bank membawakan lagu TRAP, dia menyalahkan dirinya karena membiarkanmu terluka. Itu membuatku sakit Henry-ssi. Belum pernah aku melihat Hanna chan semenderita itu.”

Henry mengangguk. Ia menciptakan lagu itu supaya membuat Hanna merasa bersalah dan dugaannya benar. Tapi, ini tidak membuatnya lega malah menderita. “ Dia dirawat dimana ? apakah aku boleh pergi kesana ?”

Shin Hye mengangguk lega dan segera mencatat alamat rumah sakit tempat Hanna dirawat. Ia segera bangkit dan akan segera pergi. “ Gomawo, Henry-ssi.” Ujarnya dengan penuh rasa terima kasih dan pergi ke rumah sakit.

Sugar Pie, gwenchana ? maaf sudah membuatmu menderita.

^^

Hanna membuka matanya ketika sinar matahari menusuk matanya. Tetapi ia segera terkejut karena yang didapatinya sekarang dia bukan berada dibangsal rumah sakitnya tetapi disuatu tempat antah berantah. Tempat antah berantah yang indah. Pemandangan laut yang jarang ia temui. Ia menatap laut dengan senang. Ia segera menepuk-nepuk pipinya yang tirus dan tinggal tulang pipinya saja untuk memastikan apa yang dilihatnya memang kenyataan. Pipinya terasa sakit.

“ Memang kenyataan ternyata.” Gumamnya pelan.

Ia mengedarkan pandangannya dan ia sadar ternyata ia sedang berada dalam mobil. Lebih tepatnya Ferarri keluaran tahun lalu. Otaknya sedang sibuk mengingat sesuatu. Rasanya mobil ini terasa familiar baginya. Ornamen yang ada didalamnya sepertinya ia mengenalnya. Tiba-tiba matanya menatap sebuah miniatur namsan tower. Dia mengingat-ingat sesuatu yang terlupakan dan ketika dia hampir mengingat sesuatu itu, kaca mobil diketuk seseorang dari luar.

Hanna dengan ragu-ragu membuka pintu mobil dan mendapati Henry tengah tersenyum sambil membawa sarapan. Ia membawa roti dan 2 kaleng susu yang dia beli di supermarket. Hanna hanya bisa terkejut dan dia tiba-tiba ingat bahwa ini adalah mobil Henry. Pantas saja rasanya sangat familiar.

“ Sudah bangun ?” tanya Henry. Ia menyuruh Hanna yang masih berpakaian pasien rumah sakit untuk keluar dari mobil. Henry meletakkan roti dan 2 kaleng susu di tembok pembatas laut. Ia duduk disana dan segera melambai ke arah Hanna menyuruh Hanna segera mendekat.

Dengan ragu Hanna mendekat dan duduk disamping Henry. Ia memandang laut biru yang terbentang luas dihadapannya. Sudah berapa lama ia tidak pergi ke laut ? sepertinya sudah sangat lama sekali. Terakhir kali ia pergi ke laut saat Henry menculiknya dari kampus. Entah itu kapan. Hanna kesulitan untuk mengingatnya.

Henry memakaikan jaket yang sudah dia sediakan untuk Hanna. Hanna hanya menurut karena dia memang merasa dingin. Ia lalu menyodorkan roti dan sekaleng susu yang sudah henry buka untuk Hanna. Hanna dengan ragu menerimanya dan meletakkannya dipangkuannya. Belum terlalu berminat untuk menyentuh sarapannya.

“ Bagaimana kabarmu ?” Tanya Henry sambil memakan rotinya dengan pelan. Matanya menatap lurus ke arah laut.

Hanna memandang wajah Henry dari samping. Sudah berapa lama ia tidak melihat Henry secara langsung. Rasanya sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Rasa rindunya terobati sudah. Rasa sesaknya telah hilang berganti kelegaan. Memandangnya dari samping saja sudah membuat Hanna berdebar-debar.

“ Baik. Bagamana denganmu ?” Tanya Hanna balik. Tidak, aku tidak baik. Kau tahu dengan jelas itu kan ? kau tahu aku sangat tersiksa kan ?

Henry meneguk susunya yang dingin lalu tersenyum simpul. Matanya tak lepas memandang laut. Dia tidak berani untuk memandang Hanna yang menderita disampingnya. Terlalu sakit rasanya melihat keadaan Hanna saat ini. “ Anni. Kabarku tidak baik.”

Hanna hanya bisa terdiam. Rasanya sulit untuk berkata bahwa dia juga tidak merasa baik tanpa Henry disampingnya.

“ Apakah kau makan dengan lahap ?”

“ Ne, apakah kau juga ?” Hanna menggigit rotinya. Aku makan dengan lahap saat kau berada disampingku. Rasanya makanan yang pahitpun akan terasa manis jika kau ada disampingku. Bukankah aku benar ?

“ Apakah kau tidur dengan lelap ?”

“ Ne, apakah kau juga ?” Aku tidur dengan lelap saat kau disampingku dan memainkan Bhrams Lullaby untukku, mengecup keningku dan berkata Aku Mencintaimu.

“ Apakah kau hidup dengan baik ?”

“ Ne, apakah kau juga ?” Aku hidup dengan baik saat kau selalu ada bersamaku.

Henry meneguk susunya sampai habis. Matanya tetap memandang laut tetapi tangannya meremas kaleng susu yang sudah kosong dengan geram. Mengapa kau berbohong, Sugar pie ?

“ Apakah bagimu dirumah sakit itu rumahmu dan karena itu kau makan dengan lahap, tidur lelap dan bahkan kau hidup dengan baik ? apakah kau tahu bahwa aku sangat menderita ?”

Hanna hanya terdiam. Tidak bisa menjawab apa-apa. Semua yang dijawabnya memang bohong. “ Mianhe, telah membuatmu menderita. Bagaimana aku bisa menebus penderitaanmu ? apakah aku juga harus merasakan penderitaan yang sama denganmu ?” Aku sudah menderita. Bahkan mungkin lebih menderita darimu. Aku makin menderita karena merindukanmu dan aku tahu bahwa aku tak bisa melihatmu. Dan itu semakin membuatku menderita. Bukankah kau tahu itu ?

“ Anni. Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya jangan pernah untuk menyuruhku pergi dan kau jangan pernah sekalipun untuk berpikiran lepas dan melupakan aku.” Henry memeluk Hanna dengan protektif. Tidak mau membiarkan Hanna untuk pergi kedua kalinya.

“ Bogoshipeo.” Gumam Hanna pelan. Ia tidak berani menatap Henry. Jika ia menatap Henry maka pertahanannya akan bobol dan tangisnya akan keluar. Hanna menyandarkan kepalanya di bahu Henry. Menikmati pemandangan laut yang sepi di pagi hari hanya berdua.

“ Nado.” Henry memeluk bahu Hanna dengan lebih erat. Ia menghirup aroma rambut Hanna hingga memenuhi ruang penciumannya. Mencoba untuk membuat kenangan dan selalu mengingat aromanya.

“ Lullaby.” Panggil Hanna pelan. Matanya masih menatap laut.

“ Hemm ?”

“ Aku ingin kau selalu bahagia, makan dengan lahap, tidur yang lelap dan hidup dengan baik. Kau tidak boleh memeluk masa lalu dan mengikatnya. Tetapi, kau harus terus melihat ke masa depan tanpa melupakan masa lalu. Arachi ?”

“ Ne.”

“ Lullaby.”

“ Hemm ?”

“ Selalu tersenyum dan berbahagia. Jangan pernah berbalik ke belakang. Jangan pernah berharap untuk memutar waktu dan jangan pernah berkata seandainya. Jalani segalanya dengan baik dan perasaan bahagia. Jangan membuat para hyung-mu khawatir. Kau harus selalu bahagia untukku. Dan jangan pernah membandingkan siapapun denganku. Karena itu akan membuatmu menderita. Aku mohon hiduplah dengan baik dan jangan menderita.”

Henry hanya bisa terdiam tanpa mengangguk atau menggelengkan kepalanya untuk permintaan Hanna. Baginya permintaan itu sangat berat.

“ Lullaby.”

“Hemm.”

“ Gomawo karena kau selalu ada disampingku dan membuatku bahagia.”

“ Lullaby.”

“ Hemm ?”

“ Aku melepaskanmu dan aku mohon untuk melupakan aku.” Hanna tersenyum lembut. Matanya tak lepas memandang laut yang terlihat sangat indah. Ia menghirup udara dengan pelan dan mendapati aroma laut yang basah, aroma henry dan aroma dirinya bercampur. Rasanya sangat manis dan nyaman. “ Bolehkah aku tidur sebentar ? hanya beberapa menit saja.”

“ Ne.”

“ Gomawo.” Hanna sekali lagi menghirup udara dengan pelan. Ia menggenggam jemari Henry dengan erat dan menyendarkan kepalanya di bahu Henry yang nyaman. Dengan perlahan ia memjamkan matanya dan mencoba untuk tertidur. “ Saranghae.” Gumam Hanna pelan sambil menghirup udara laut dengan pelan. Mencoba menikmati saat-saat bersama Henry.

Henry mencium kening Hanna dengan lembut dan tangannya mengelus rambut Hanna. Ia mati-matian untuk tidak menangis karena ia tahu bahwa Hanna sudah menyerah.

“ Wo Ai Ni, Sugar Pie.” Setetes air mengalir dipipi henry dan jatuh di rambut Hanna.

^^

Lullaby, apakah kau hidup dengan baik ? aku harap iya.

Jangan merasa kesepian. Aku selalu ada dihatimu dan tak akan pernah hilang.

Wo Ai Ni.

Your Sugar Pie                

 

-THE END-

[1] Ya = hei *kata seruaan dalam bahasa korea
[2] Wae = apa *ibid
[3] Yeoja = perempuan

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: