Narmedia [1/?]

narmedia

Tittle  : Narmedia Part 1

Genre : Fantasy, AU, Romance

Length: Series

Rated  : PG-15

Cast    : Cho Kyu Hyun, Arene/Baek Shin Rin (OC)

Support Cast : Kim Jong Woon, Arion (OC

Author: SriMurni21

WordPress      : https://bsrbaek.wordpress.com/

Jangan Copy Paste, kalo tidak suka jangan dipaksain baca. Typo selalu hadir.

Cover by ©bbonArt

 

*Selamat Membaca*

 

Prolog

“Hah… betapa menyenangkannya kalau bisa menginjakan kaki di bangsa manusia” gumam seorang gadis seraya menatap hiruk-pikuk kepadatan suatu kota.

 

“Mencoba kabur lagi? Atau memikirkan cara untuk kabur ke dunia manusia?” seorang laki-laki mendaratkan pantatnya di samping kiri sang gadis.

 

“Arion? Kau mengagetkanku. Tentu saja tidak” sang gadis menatap sekilas dan kembali mengalihkan tatapannya ke dunia manusia.

 

“Lantas?”

 

“Aku hanya sedang berpikir. Begitu menyenangkannya hidup di dunia manusia” sang gadis menengadah menatap birunya langit seraya menerawang jauh.

 

“Kau tidak berpikir untuk menjadi manusia ‘kan?” laki-laki tersebut memicingkan matanya penuh selidik.

 

“Kadang aku berpikir begitu” jawabnya enteng.

 

“Arene, kau ‘kan sudah tahu bagaimana hidup di dunia manusia. Meskipun kau tidak merasakannya sendiri tapi dari yang sering aku, kau dan kita semua lihat bagaimana itu hidup di dunia manusia dan dari cerita-cerita manusia yang telah meninggal tinggal bersama kita. Hidup di dunia manusia itu sangat kejam. Hukum rimba masih berlaku, yang kuat, yang cerdas, cerdik dan memiliki jabatan itulah yang menang. Banyak yang dari saudara jadi musuh, bahkan saling membunuh. Kau juga tahu sendiri ‘kan kalau kita menginjakan kaki di dunia manusia apa hukumannya” laki-laki tersebut memegang pundaknya dan menatapnya intens.

 

Sang gadis tertegun mendengar semua penjelasan kakaknya. Dia tahu, bahkan sangat tahu. Tapi…

 

“Aku tahu Arion” sang gadis kembali mengalihkan tatapannya dan kembali merenung. Entah apa yang dipikirkannya. “Kenapa kau masih disini?” laki-laki tersebut tersentak dan hampir terjengkang karena pertanyaan sang gadis yang memburu saat ia juga tengah merenung.

 

“Aku lupa! Aku disuruh ibunda untuk memanggilmu karena sudah waktunya makan siang” laki-laki tersebut menepuk dahinya.

 

“Baiklah” mereka berdua mengepakan sayapnya yang berwarna putih bersih dan segera pegi dari tempat itu.

 

Mereka adalah Narmedia. Mereka sama seperti malaikat tapi bukan malaikat tetapi penghuni surga yang nanti akan menemani manusia yang sudah meninggal dan yang menjemput manusia setelah arwahnya dipisahkan dari raganya oleh malaikat pencabut nyawa.

 

Mereka makhluk abadi, namun apabila melanggar peraturan-peraturan yang dibuat meraka akan dimusanahkan. Mereka tidak bertambah tua dan mereka bisa menikah serta memiliki keturunan. Hanya saja, mereka menikah harus dengan bangsanya sendiri.

 

Langit terdiri dari 7 lapisan, dan bangsa Narmedia dilarang untuk menginjakan kakinya di bangsa manusia. Karena tugas mereka hanya menemani dan juga menjemput manusia di langit lapisan ke 3.

 

Part 1

 

Ne show ne show opera

Norae haneun opera

Chumchuneun ne opera

 

Terdengar deringan ponsel dikeheningan pagi ini di salah satu rumah atap. Namun sang pemilik ponsel tidak terganggu sama sekali.

 

Ne show ne show opera

Norae haneun opera

Chumchuneun ne opera

 

Ne show ne show opera

Norae haneun opera

Chumchuneun ne opera

 

Ne show ne show opera

Norae haneun opera

Chumchuneun ne opera

 

Ne…” baru setelah deringan ke empat, sang pemilik menjawab panggilan tersebut. Masih dengan mata setengah menutup.

 

YA! CHO KYU HYUN!!!! JAM BERAPA INI? KENAPA BELUM KE STUDIO?” teriakan yang memekakan telinga mampu membuat Cho Kyu Hyun –sang pemilik ponsel- terperanjat –bahkan hampir terjungkal.

 

Ne, aku akan segera ke sana”

 

PIP

 

Kyu Hyun meletakan kembali ponselnya di nakas, dan segera beranjak menuju kamar mandi.

 

Setelah 15 menit berlalu, Kyu Hyun baru keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaiannya. Dia segera bergegas dan memasukan barang-barangnya ke dalam tas, supaya temannya itu tidak mengomel kembali.

 

Tiba-tiba saat Kyu Hyun mengambil kameranya, dia merasakan getaran. Seperti terjadi gempa bumi dan terdengar suara gemuruh di atas langit. Dia menoleh ke arah sumber suara dan mengarahkan lensa kameranya ke objek benda jatuh seperti meteor.

 

“Apa itu?” Kyu Hyun tertegun, namun lamunannya buyar karena dia mengingat temannya yang mengomel itu.

 

Dilihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Kyu Hyun meringis menatap jam yang sudah menunjukan pukul 9 pagi dan dia sudah terlambat satu jam. Pantas saja temannya itu mengomel.

 

Kyu Hyun mengalungkan kameranya dan segera meninggalkan rumah atapnya itu dengan sedikit berlari.

 

Ditengah perjalanan menuju halte, Kyu Hyun melihat banyak polisi mengelilingi sebuah taman dan tengah mengamati suatu objek, entah apa itu. Juga terlihat bulu-bulu seperti bulu angsa, padahal di taman itu tidak ada angsa sama sekali.

 

Kyu Hyun hanya mengendikan bahunya dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun langkahnya kembali terhenti saat tatapannya beralih ke arah gang sempit di antara pertokoan. Disana ada seorang perempuan bersayap yang terluka. Kyu Hyun terkejut. Tentu saja terkejut karena dia melihat perempuan bersayap. Dan dia baru mengerti kenapa di taman yang tadi dilewatinya banyak bulu-bulu angsa.

 

Perempuan itu seperti manusia. Tapi benarkah itu manusia? Kenapa memiliki sayap? Ataukah dia bidadari? Memangnya bidadari ada di dunia ini? Kalau bidadari tidak ada. Lantas itu siapa? Ah itu membuat Kyu Hyun bingung.

 

Karena penasaran, Kyu Hyun berjalan perlahan mendekati perempuan bersayap itu. Mungkin karena mendengar langkah kaki seseorang, perempuan bersayap tersebut menoleh dan terkejut karena ada seseorang yang mencoba mendekatinya. Segera dia sembunyikan sayapnya.

 

Kenapa orang itu bisa menemukannya? Padahal tadi setelah mendarat yang tidak terlalu mulus. Perempuan bersayap itu langsung melarikan diri dan bersembunyi di gang yang tidak terjamah orang.

 

Dia menampakan wajah ketakutannya. Ingin sekali dia pergi dari tempat itu. Namun, luka yang dideritanya cukup parah. Membuatnya tidak bisa berjalan dan hanya dapat menunduk saat Kyu Hyun semakin dekat dengannya.

 

Kyu Hyun berjongkok di hadapan perempuan bersayap tersebut. Dipandanginya dari atas sampai bawah. Dia meringis saat mendapati ada luka di sekitar bahu kanan hingga punggung serta kaki kirinya.

 

Gwaenchanayo?” Kyu Hyun menyentuh pundak perempuan bersayap itu untuk meyakinkan bahwa dia tidak akan berbuat jahat.

 

Laki-laki ini… akhirnya…

 

Ne” perempuan bersayap itu mengangguk ragu seraya menunduk takut.

 

“Jangan takut. Emm… itu… lukamu… tidak apa-apa?” Kyu Hyun menunjuk luka yang ada di bahu dan kaki.

 

Ne

 

“Kau ikut dulu denganku. Kita obati dulu lukamu”

 

“Tapi–“

 

”Tidak apa-apa” Kyu Hyun berdiri dan diikuti oleh perempuan bersayap itu. Namun, tiba-tiba dia meringis karena merasakan sakit di kaki kirinya.

 

Gwaenchana? Kau tidak bisa berjalan?” Kyu Hyun menatap luka di kaki kirinya. Perempuan bersayap itu kembali mencoba berdiri, namun baru mengangkat bokongnya saja dia sudah jatuh terduduk.

 

“Biar aku gendong” Kyu Hyun menyelipkan tangannya di sekitar lutut dan punggung perempuan bersayap itu. Sedangkan yang digendong, hanya dapat menundukan kepalanya dan mengeratkan pegangannya di leher Kyu Hyun.

 

***

 

Kyu Hyun kembali ke rumah atapnya dan dia melupakan seseorang yang selalu mengomeli serta berteriak-teriak tidak jelas kalau dia terlambat. Dan sekarang… Dia sudah terlambat serta mendapat teriakan sebelumnya. Makin terlambatlah ia setelah mengurusi orang asing, bersayap pula.

 

Kyu Hyun menurunkan perempuan bersayap itu di ranjangnya dengan hati-hati. Kemudian beranjak kembali untuk mengambil kotak P3K yang tersedia di rumahnya. Perempuan bersayap itu hanya duduk terdiam seraya menatap Kyu Hyun yang sibuk mondar-mandir mencari kotak P3K.

 

“Di mana kotak itu? Aku lupa menyimpannya” Kyu Hyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan salah satu tangannya berada di pinggang.

 

Perempuan bersayap itu hanya tersenyum melihat tingkah Kyu Hyun. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah sederhana Kyu Hyun –sebenarnya sih ini rumah atap, yang penting rumah. Disini tidak ada kamar, hanya satu ruangan luas, kamar mandi dan dapur. Ranjang hanya ada satu dan untuk satu orang, serta sebuah sofa, televisi yang berhadap-hadapan dengan sofa, lemari pakaian di samping kiri ranjang dan nakas di samping kanan ranjang. Terdapat juga jendela tepat di atap atas tempat tidur. Pada saat malam hari, bisa melihat bintang-bintang di langit dan pastinya akan sangat indah.

 

“Maaf membuatmu menunggu lama” perempuan bersayap itu tersentak. Dilihatnya Kyu Hyun membawa kotak kecil putih yang tadi membuatnya kelimpungan karena dia lupa menyimpannya.

 

“Balikan badanmu. Aku akan mengobati luka yang ada di punggungmu” tanpa banyak bicara, perempuan bersayap itu membalikan tubuhnya. Dan terlihatlah luka yang cukup parah membuat Kyu Hyun meringis melihatnya.

 

Pasti ini sakit sekali

 

Perempuan bersayap ini memakai gaun putih selutut dengan model punggung terbuka –mungkin punggung itu tempat sayapnya ada- jadi Kyu Hyun dapat melihat lukanya dengan jelas.

 

Dengan telaten, Kyu Hyun mengobati lukanya. Sesekali terdengar ringisan dari bibir perempuan bersayap itu.

 

“Tahan. Sebentar lagi juga selesai” setelah selesai mengobati punggung, Kyu Hyun berjongkok dan kembali mengobati kaki kiri perempuan bersayap itu.

 

“Sudah selesai. Sebaiknya kau istirahat dulu” Kyu Hyun membereskan kotak P3K itu dan meletakan kembali di tempat semula.

 

Ne show ne show opera

Norae haneun opera

Chumchuneun ne opera

 

Kyu Hyun merogoh saku mantelnya untuk mengambil ponselnya yang berdering. Dilihatnya nama pemanggil yang menghubunginya. Seketika matanya terbelalak. Dia ragu. Haruskah telpon itu diangkatnya?

 

Dengan ragu, Kyu Hyun menggeser layar hijau dan mulai menempelkan ponsel tersebut di telinga kanannya.

 

Yob…”

 

YA! CHO KYU HYUN!!!!!!! KAU MAU MATI???? KENAPA BELUM DATANG???? DALAM WAKTU 5 MENIT KAU SUDAH HARUS SAMPAI. KALAU TIDAK, KAU AKAN AKU PECAT!!!!!!!!!!” Kyu Hyun menjauhkan ponselnya seraya mengusap-usap telinga kanannya yang sakit karena teriakan dari seseorang di sebrang sana.

 

Ne. Arasseo Jong Woon Hyung

 

PIP

 

Kyu Hyun segera memutuskan sambungan telponnya dengan orang tersebut. Selalu seperti ini kalau dia terlambat. Ancamannya dari dulu tidak berubah. Pecat. Tapi sampai detik ini Jong Woon tidak memecat Kyu Hyun yang hanya hidup sendiri di kota besar seperti Seoul ini. Jong Woon terlalu menyayangi Kyu Hyun. Dia juga sering meminta Kyu Hyun untuk tinggal di rumahnya, namun Kyu Hyun selalu menolak. Dia tidak ingin merepotkan Jong Woon yang sudah sangat baik terhadapnya.

 

Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Pukul 11.30. pantas saja Jong Woon hampir mengamuk kepada Kyu Hyun. Dia seharusnya datang ke studio jam 8 pagi. Dia juga tadi telat bangun. Tamatlah riwatnya di tangan Jong Woon.

 

Kyu Hyun bergegas mengambil tasnya yang disimpan di samping ranjang. Seketika tatapannya beralih ke arah ranjang. Disana terlihat seorang gadis –apakah bisa disebut seperti itu?- tengah terlelap. Kyu Hyun tersenyum –entah karena apa. Melihatnya terlelap membuat hati Kyu Hyun tenang dan damai.

 

Diulurkannya tangan Kyu Hyun untuk mengusap puncak kepala perempuan bersayap itu. Namun belum sampai tangannya mengusap kepala sang gadis, Kyu Hyun sudah menariknya kembali. Apa yang dilakukannya? Kenapa dia seperti ini? Dia tidak mengenal gadis itu. Namanya pun Kyu Hyun tidak tahu. Sedari tadi dia hanya menyebut gadis itu dengan perempuan bersayap. Kyu Hyun menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran-pikiran anehnya. Seakan tersadar, dia segera bergegas pergi ke studio. Kalau tidak, dia benar-benar akan kehilangan pekerjaannya.

 

***

 

Tap Tap Tap

Brakk…

“Hosh.. hosh.. hosh.. Hyung.. mianhae.. aku terlambat” Kyu Hyun jatuh terduduk di hadapan Jong Woon yang tidak menatapnya –atau pura-pura tidak tahu- seraya mengatur deru napasnya karena berlari dari halte ke studio yang jaraknya 50 meter. Memang tidak terlalu jauh, tapi kalau berlari.. ya.. tetap saja membuat napasnya tersengal-sengal. Apalagi Kyu Hyun jarang berolahraga. Kemalasan yang menjadi penyebab utamanya.

 

Jong Woon hanya diam, sibuk tenggelam dengan urusannya memilah foto-foto yang baru saja diambilnya.

 

“Hyung, aku tahu aku salah. Mianhae, eoh?” Kyu Hyun mengusap-usap kedua tangannya yang berada di depan dada dan menatap Jong Woon dengan tatapan memelas.

 

Jong Woon menatapnya sekilas. Dia menghembuskan napasnya kasar. Kalau Kyu Hyun sudah seperti ini, Jong Woon tidak bisa marah. Inilah kelemahannya, dia tidak bisa marah terlalu lama pada Kyu Hyun. Dan itu selalu dimanfaatkan Kyu Hyun.

 

Arasseo” Jong Woon kembali tenggelam dengan kesibukannya.

 

Hyung tidak mau tahu kenapa aku terlambat?”

 

“Kalau kau ingin memberitahuku. Silahkan! Aku akan mendengarkannya”

 

“Aish… kau menyebalkan, Hyung” Kyu Hyun merutuk seraya bersungut-sungut tidak jelas ke arah Jong Woon.

 

Jong Woon hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Kyu Hyun yang kadang masih kekanakan kalau di hadapannya. Padahal umurnya sudah tidak remaja apalagi anak-anak tapi dia selalu bertingkah seperti itu.

 

“Aku sudah terlalu hafal alasanmu. Kalau tidak bangun kesiangan ya ada urusan yang tidak bisa diceritakan. Kau pikir aku tidak tahu”

 

“Hehe… Hyung, ternyata kau sangat mengenalku” Kyu Hyun tersenyum lebar layaknya anak kecil.

 

“Lanjutkan pekerjaanku, aku harus menghubungi model lain” Jong Woon beranjak dan melangkah ke ruangannya.

 

Kyu Hyun segera bangkit dan duduk kembali di kursi yang tadi diduduki Jong Woon. Dan dia mulai tenggelam dengan pekerjaannya.

 

***

 

“Eunghh…” seorang gadis baru saja bangun dari tidur lelapnya seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku.

 

“Di mana aku?” gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia mengernyit bingung merasa asing dengan tempat ini.

 

“Ah.. aku baru ingat. Kalau aku kabur dari surga” gadis itu beranjak dan berjalan-jalan di sekitar ruangan tersebut.

 

“Laki-laki tadi yang menolongku ke mana?” sang gadis menatap sekeliling. Tidak ada. Dia merasa heran karena tempat ini sepi. Ke mana perginya laki-laki itu?

 

Gadis itu mengendikan bahunya dan berjalan keluar. Dia terperangah menatap halaman rumah atap ini yang disulap menjadi taman sederaha namun tidak terurus. Banyak bunga-bunga yang mati karena kekeringan dan juga layu. Memang dasar yang tinggal disini laki-laki jadi tidak terlalu peduli dan akhirnya dibiarkan begitu saja. Lantas kenapa membuat taman ini kalau tidak mau mengurus? Dasar manusia aneh. Apakah semua manusia seperti laki-laki itu? Dia harap tidak.

 

“Lebih baik aku membersihkannya” gadis itu mulai mendekati sebuah pot dan mencabut bunga kering dan dia terus melakukan hal seperti itu. Dikumpulkannya bunga-bunga kering itu. Dan disimpan di plastik terpisah.

 

Saking asiknya dengan taman tersebut, dia sampai tidak menyadari hari sudah beranjak sore. Apalagi menyadari seseorang di belakangnya yang memperhatikannya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

 

“Sedang apa kau?” sang gadis terlonjak dan hampir menjatuhkan ember berisi air yang ia bawa untuk menyiram tanaman yang sudah layu.

 

“Ah… maaf… aku… hanya membersihkan taman ini… maaf kalau aku lancang” gadis itu menunduk ketakutan. Kenapa dia dengan lancangnya membersihkan tanpa seijin sang pemilik.

 

“Sudahlah. Eoh? Lukamu sudah sembuh?” Kyu Hyun menatap heran luka yang ada di punggung sang gadis sudah sembuh bahkan tanpa bekas.

 

Ne

 

“Kenapa bisa? Padahal itu luka yang sangat parah. Butuh waktu lama untuk sembuh” Kyu Hyun menatap sang gadis intens. Sedangkan gadis itu bergeming. Bagaimana mungkin dia memberitahu perihal ini. Cukup Kyu Hyun melihatnya memiliki sayap tidak untuk yang lain –setidaknya untuk saat ini. Boleh ‘kan dia waspada.

 

Arasseo. Aku tidak akan bertanya seperti itu lagi. Kau sudah makan?” sang gadis bernapas lega. Ternyata Kyu Hyun orang yang dapat mengerti keadaannya.

 

Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Aku bawa makanan untuk kita. Lebih baik kau makan dulu” Kyu Hyun melangkah ke dalam rumah atapnya dan meninggalkan sang gadis yang masih mematung tak percaya.

 

Orang itu bilang apa tadi? Untuk kita? Kenapa dia merasa kalau laki-laki itu seperti suaminya? Ah sudahlah jangan berpikiran yang aneh-aneh, mungkin itu hanya refleks saja.

 

Seakan tersadar, gadis itu meletakan ember berisi air yang masih dipegangnya karena niat awalnya ingin menyiram tanaman tapi Kyu Hyun sudah datang terlebih dahulu. Dia segera melangkah masuk ke dalam. Acara siram-menyiram bisa nanti ia lakukan setelah makan dan cuci piring.

 

***

“Jadi siapa namamu nona?” Kyu Hyun menatap gadis di hadapannya yang tengah menyantap makanannya dengan menundukan kepalanya. Sedari tadi gadis itu hanya menunduk. Mungkinkah dia takut pada Kyu Hyun? Mungkin saja. Tapi kenapa harus takut? Hei… Kyu Hyun tidak membunuh, tidak mengigit, tidak memakan daging manusia juga –tapi apakah gadis itu manusia?, dia manusia biasa, ya.. dia memang jahil. Tapi dia tidak mungkin mengeluarkan sifat jahilnya kepada gadis itu.

 

“Aku… Are– maksudku Baek Shin Rin” sang gadis menjawab tanpa menatap Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun hanya menganggukan kepalanya. “Aku Cho Kyu Hyun” tidak ada tanggapan dari gadis itu, membuat Kyu Hyun mengernyit heran. Sebegitu takutkah ia kepada Kyu Hyun. Sampai menatap pun dia masih takut.

 

“Hei… kau takut padaku?” Shin Rin hanya menggeleng.

 

“Lalu?”

 

Shin Rin masih bergeming.

 

“Ah… aku tahu. Masalah tadi tentang taman itu ‘kan? Gwaenchana, aku tidak marah. Dan kau bisa mengurusnya” sontak perkataan Kyu Hyun membuat Shin Rin mendongak menatapnya dengan mata berbinar dan senyuman bahagia.

 

“Benarkah?” Kyu Hyun hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

“Terimakasih”

 

Entah kenapa kedua sudut bibir Kyu Hyun terangkat dengan mudahnya hanya dengan melihat senyum bahagia Shin Rin. Senyuman Shin Rin seperti virus yang menularkannya untuk tersenyum juga.

 

***

 

Kyu Hyun baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Setelah seharian beraktivitas yang menguras tenaganya –meskipun dia hanya duduk-duduk saja di depan komputer. Dan kalau ada instruksi dari Jong Woon, baru dia akan mengangkat bokongnya dari kursi.

 

Saat tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk, Kyu Hyun tidak sengaja menatap Shin Rin yang tengah duduk di sofa seraya menonton TV.

 

Kyu Hyun menatap penampilan Shin Rin. Dia harus mandi. Didekatinya Shin Rin, kemudian duduk di sampingnya dan menyodorkan sebuah handuk bersih yang Kyu Hyun ambil di lemari. Shin Rin menatap handuk itu dan Kyu Hyun bergantian. Dia bingung kenapa Kyu Hyun menyodorkannya handuk, padahal dia tidak butuh itu.

 

“Ambillah. Kau harus mandi. Lihatlah penampilanmu. Kau sedikit kotor, mungkin tadi bekas membersihkan taman itu” Shin Rin menatap dirinya sendiri dan mengangguk menyetujui perkataan Kyu Hyun. Diambilnya handuk tersebut seraya tersenyum tapi sedetik kemudian senyuman itu hilang. Kyu Hyun menatap heran Shin Rin yang cepat sekali moodnya berubah.

 

Wae?” karena rasa penasaran yang terlalu tinggi, akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

 

“Aku tidak punya baju” jawaban polos Shin Rin membuat Kyu Hyun terkikik geli. Kyu Hyun kira kenapa, ternyata masalah baju. Shin Rin menatap Kyu Hyun yang terkikik. Kenapa Kyu Hyun tertawa? Adakah yang lucu? Shin Rin rasa tidak. Lantas kenapa tertawa? Molla….

 

“Kau bisa memakai bajuku untuk malam ini. Besok kita beli baju untukmu” senyum Shin Rin kembali terbit, membuat Kyu Hyun ikut tersenyum juga. Senyuman Shin Rin entah kenapa membuat Kyu Hyun tenang, damai dan hangat. Sering-seringlah tersenyum Shin-ah… mungkinkah dia menyukai gadis itu? Tidak. Tidak mungkin. Ini terlalu cepat, sangat cepat malah. Lagipula Kyu Hyun juga masih ragu kalau gadis itu manusia setelah dia tahu kalau gadis itu memiliki sayap dan tadi luka yang cukup parah bisa sembuh dalam beberapa jam –mungkin detik, karena Kyu Hyun yang tidak ada di rumah.

 

Sayap? Ya, Kyu Hyun baru sadar akan hal itu. Dia lupa bertanya pada Shin Rin perihal asal-usulnya dan kenapa dia bisa sampai di bumi. Eh tapi dia makhluk bumi juga ‘kan? Dia akan bertanya. Tidak sekarang, mungkin besok. Kyu Hyun juga sudah lelah.

 

“Huh…” Kyu Hyun menghempaskan tubuhnya di sofa. Kenapa di sofa? Tentu saja. Ranjangnya dipakai Shin Rin untuk tidur. Dan dia tidak mungkin satu ranjang dengan Shin Rin. Terlalu kecil kalau dipakai berdua. Kalaupun ukuran ranjangnya untuk dua orang, dia tetap tidak akan mungkin tidur di ranjang. Shin Rin perempuan, dia laki-laki dan mereka tidak memiliki ikatan apapun.

 

Kyu Hyun mulai memejamkan matanya dan tak lama kemudian terdengar deru napasnya yang teratur, menandakan dia sudah terlelap.

 

Shin Rin keluar dari kamar mandi menggunakan baju tidur Kyu Hyun yang nampak sedikit kebesaran ditubuhnya. Jelas saja, meskipun tubuhnya tidak mungil tapi tetap saja Kyu Hyun lebih besar darinya.

 

Dia menatap Kyu Hyun yang tertidur di sofa. Shin Rin melangkah ke arah ranjang dan mengambil selimut yang ada di sana. Diselimutinya tubuh Kyu Hyun.

 

Gomawo” bisik Shin Rin. Dia melangkah kembali ke arah ranjang, dan mulai merebahkan dirinya di kasur. Tak lama setelah itu, matanya terasa berat dan mulai menutup secara perlahan.

 

***

 

“Ayahanda, Ibunda. Arene… dia…” seorang laki-laki berlari ke arah dua orang paruh baya tapi mereka tidak terlihat tua. Jadi sebutan apa yang pantas untuk mereka?

 

“Ada apa Arion?”

 

“Ayahanda… Arene… dia… kabur” kedua orang tersebut yang merupakan orangtua Arene dan Arion membelalakan matanya terkejut.

 

“Kabur bagaimana? Kenapa bisa?” teriakan sang ayah membuat Arion gelagapan.

 

“Aku tidak tahu. Saat akan menemuinya di kamar, dia sudah tidak ada dan jendela kamarnya terbuka” jawab Arion dengan menunduk.

 

“Kenapa anak itu selalu menyusahkan?” gumaman frustasi terlontar begitu saja dari bibir sang ayah.

 

Hening. Semuanya bungkam. Pasalnya mereka tidak tahu Arene kabur ke mana dan kenapa sampai kabur. Ini kali pertama Arene kabur. Padahal Arene tidak pernah dikekang atau apapun itu.

 

“Mungkinkah ke dunia manusia?” gumaman Arion masih dapat didengar oleh sang ayah.

 

“Apa? Maksudmu?”

 

“Kemarin dia bilang padaku kalau dia igin ke dunia manusia. Dan aku sering memeregokinya akan kabur ke dunia manusia. Ayahanda maafkan aku karena tidak bisa menjaga Arene” Arion berlutut seraya menunduk di hadapan sang ayah yang menampakan raut muka tegang dan tatapan tajam.

 

“PENGAWAL!! Cari Arene sampai ketemu” para pengawal langsung bergegas mendapat perintah itu.

 

“Ayahanda ijinkan aku ikut mencarinya” Arion masih tetap berlutut dan menunduk.

 

“Jangan gila Arion. Kau tidak boleh ke dunia manusia”

 

“Tapi aku juga bertanggungjawab atas kaburnya Arene”

 

“Baiklah, tapi hanya di sekitar sini. Tidak turun ke dunia manusia. Berdirilah” Arion mengangguk dan berdiri, kemudian menunduk untuk berpamitan.

 

Setelah Arion pergi tinggalah orangtua mereka. Terdengar isakan tangis dari ibu Arene.

 

“Bagaimana kalau Narmedia bersayap hitam mengetahui hal ini? Arene… dia… dia bisa…” buliran air mata semakin deras menuruni pipi ibu Arene.

 

“Sudahlah. Kita pasti akan menemukannya terlebih dahulu. Kita berdoa saja, supaya Arene cepat ditemukan” sang suami segera menariknya ke dalam pelukan bermaksud menenangkan sang istri.

 

Narmedia bersayap hitam bisa disebut sebagai pengawas Narmedia bersayap putih. Tugasnya adalah menghukum Narmedia bersayap putih yang melanggar dengan cara memusnahkannya. Dan Narmedia bersayap hitam diperolehkan turun ke dunia manusia. Tujuannya untuk mencari Narmedia bersayap putih yang melanggar. Narmedia bersayap hitam tidak diperbolehkan berinteraksi dengan manusia di surga karena itu bukan tugasnya. Setiap bangsa Narmedia memiliki tugasnya masing-masing.

 

Membayangkan Arene dimusnahkan membuat sang ibu kembali histeris.

 

Tidak. Arene tidak boleh dan tidak akan bisa dimusnahkan. Sang ibu sendiri yang akan pasang badan untuk melindungi anaknya.

 

Bersambung

 

FF ini remake dari salah satu MV. Ayo tebak MV apaan….

2 Comments (+add yours?)

  1. Nicaa
    Jan 31, 2016 @ 07:15:28

    Remake dari MV SM The Ballad-Miss You? Btw next thor, nggak kebayang kalo endingnya bakal kek di MV Miss You :”v Bakalan nangis kejer2 lagi dah 😥

    Reply

  2. khalepa
    Feb 02, 2016 @ 19:03:39

    Deg degan pas akhir..
    Tp ngapain sih dy kabur..
    Sangsi.a bikin mrinding..
    Thx author

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: