Narmedia [2/?]

narmedia

Title               : Narmedia Part 2

Category        : Fantasy, AU, Romance, Series

Cast                : Cho Kyu Hyun, Baek Shin Rin/Arene (OC)

Support Cast : Arion, Kim Jong Woon,

Author            : SriMurni21/bsrBaek

WordPress      : https://bsrbaek.wordpress.com/

Jangan Copy Paste, kalo tidak suka jangan dipaksain baca. Typo selalu hadir. RCL

Cover by ©bbonArt

 

FF ini adalah remake dari MV SM The Ballad Miss You

*Selamat Membaca*

Sebelumnya…

 

“Sudahlah. Kita pasti akan menemukannya terlebih dahulu. Kita berdoa saja, supaya Shin Rin cepat ditemukan” sang suami segera menariknya ke dalam pelukan bermaksud menenangkan sang istri.

 

Narmedia bersayap hitam bisa disebut sebagai pengawas Narmedia bersayap putih. Tugasnya adalah menghukum Narmedia bersayap putih yang melanggar dengan cara memusnahkannya. Dan Narmedia bersayap hitam diperolehkan turun ke dunia manusia. Tujuannya untuk mencari Narmedia bersayap putih yang melanggar. Narmedia bersayap hitam tidak diperbolehkan berinteraksi dengan manusia di surga karena itu bukan tugasnya. Setiap bangsa Narmedia memiliki tugasnya masing-masing.

 

Membayangkan Shin Rin dimusnahkan membuat sang ibu kembali histeris.

 

Tidak. Shin Rin tidak boleh dan tidak akan bisa dimusnahkan. Sang ibu sendiri yang akan pasang badan untuk melindungi anakanya.

 

Part 2

 

Kaja” Kyu Hyun menghampiri Shin Rin yang tengah asik menyiram tanaman.

 

Eodi?” Shin Rin menatap Kyu Hyun sekilas dan kembali lagi sibuk menyiram.

 

“Kita akan membeli pakaian untukmu. Kau lupa?”

 

Shin Rin segera meletakan gayung yang dipakainya untuk menyiram tanaman dan berlari ke dalam rumah. Namun sedetik kemudian, dia kembali lagi dengan wajah bingungnya.

 

Wae?”

 

“Aku harus memakai pakaian apa? Tidak mungkin ‘kan memakai pakaian yang sedang ku pakai untuk keluar? Baju ku juga sudah kau kirim ke laundry tadi” Shin Rin menatap dirinya sendiri yang masih memakai baju Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun menatap Shin Rin seraya mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di tangan kiri. Karena ia melipat kedua tangannya di depan perut.

 

Tak lama kemudian, Kyu Hyun menjentikan jarinya dan bergegas melangkah menuruni tangga. Entah ke mana. Shin Rin yang melihat, hanya mengerutkan keningnya.

 

Aneh

 

Shin Rin mengendikan bahunya dan kembali mengambil gayung yang tadi disimpannya untuk melanjutkan aktivitas menyiram tanaman.

 

Tiba-tiba ada sesuatu yang menghalangi pandangan Shin Rin terhadap tanaman yang tengah ia bersihkan dari gulma-gulma yang ada di pot karena kemarin belum sempat dibersihkannya.

 

Ditatapnya sesuatu yang menghalangi pemandangannya itu dan orang yang melakukannya. Dia mengambil sesuatu itu dan mengangkatnya.

 

“Apa ini?”

 

“Pakaian untuk kau pakai sekarang”

 

“Aku tahu. Maksudku pakaian siapa ini, Kyu Hyun-ssi?” Shin Rin menatap Kyu Hyun memicing.

 

Mengerti arti tatapan Shin Rin, Kyu Hyun mengusap lembut wajah Shin Rin dan membuat bibir Shin Rin mengerucut.

 

“Aku meminjamnya dari anak Min Ahjumma yang tinggal di bawah rumah atapku. Dan aku tidak mencurinya”

 

“Aku hanya waspada” Shin Rin melengos masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaian Kyu Hyun yang dipakainya sekarang dengan pakaian yang barusan Kyu Hyun berikan.

 

Kyu Hyun hanya tersenyum tipis melihat tingkah Shin Rin yang menggemaskan. Menggemaskan? Tidak bisa dibilang seperti itu tapi memang seperti itu. Ah… molla

 

***

 

Kyu Hyun dan Shin Rin tengah asik mengengelingi mall. Mereka selalu berhenti dari satu toko ke toko yang lain untuk mencari pakaian yang cocok untuk Shin Rin. Entah kenapa Kyu Hyun begitu mudahnya memberikan sesuatu untuk Shin Rin. Mulai dari tumpangan tempat tinggal sampai memberikan pakaian. Padahal Shin Rin hanya orang asing yang tidak tahu asal-usulnya. Bahkan dia manusia pun masih diragukan.

 

Mereka mengenal terhitung baru 24 jam. Tapi keinginan hati Kyu Hyun untuk melindunginya begiu kuat. Meskipun dia tahu Shin Rin tidak sama sepertinya. Tapi Kyu Hyun yakin, Shin Rin sampai ke bumi yang Kyu Hyun tinggali ini pasti ada alasannya.

 

Kyu Hyun berhenti disalah satu toko saat matanya melihat gaun yang menarik perhatiannya. Membuat Shin Rin menghentikan langkahnya juga.

 

Wae?” Shin Rin menatap Kyu Hyun heran.

 

Kyu Hyun tak menghiraukan pertanyaan Shin Rin. Dia berjalan mendekati gaun yang terpajang membalut tubuh manekin. Gaun itu sederhana, dengan panjang selutut atau mungkin di atas lutut dengan tali di pinggangnya dan sedikit warna hitam di pinggang serta bagian bawah gaun. Kyu Hyun membayangkan gaun itu ada di tubuh Shin Rin. Pasti sangat cocok dan Shin Rin akan terlihat manis.

 

Dliriknya Shin Rin yang berada di sebelah kanan dan gaun tersebut bergantian. Mengangguk-anggukan kepala dan senyum tipis tersungging di bibirnya. Kyu Hyun memanggil pelayan dan menyuruh Shin Rin mengikuti pelayan itu untuk mencoba gaunnya. Shin Rin hanya menurut saja apa yang dikatakan Kyu Hyun.

 

Sembari menunggu Shin Rin mencoba gaunnya, Kyu Hyun menyusuri toko pakaian tersebut untuk melihat-lihat pakaian lainnya. Semoga saja ada yang cocok untuk dirinya juga. Meskipun dari awal tidak ada niat untuk membeli pakaian baru. Tapi kalau ada yang cocok, why not?

 

“Kyu Hyun-ssi” merasa namanya dipanggil, Kyu Hyun berbalik. Tubuhnya terpaku menatap Shin Rin dengan gaun tadi. ‘Kan, dia pasti sangat manis kalau memakai gaun itu. Perlahan Kyu Hyun menghampiri Shin Rin yang tertunduk.

 

“Kau cantik” Kyu Hyun membungkam mulutnya begitu pujian terlontar begitu saja. Sedangkan Shin Rin mendongak menatap Kyu Hyun. Hatinya bahagia. Sangat. Kyu Hyun baru saja memujinya cantik. Siapa yang tidak bahagia dipuji seperti itu.

 

“Benarkah?” Shin Rin kembali menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Aish… kenapa ia jadi malu seperti ini?

 

“Kau suka?” Shin Rin menatap gaun yang membalut tubuhnya. Suka. Dia sangat menyukai gaun ini. Shin Rin hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Kyu Hyun tersenyum melihat tingkah Shin Rin.

 

“Baiklah. Kaja ke kasir” Kyu Hyun menarik lembut tangan Shin Rin membuat yang ditarik tersentak. Namun setelah itu, senyum bahagia tersungging di bibir Shin Rin. Ini yang ia impikan selama ini.

 

***

 

“Selanjutnya kita mau ke mana?” Shin Rin menatap Kyu Hyun yang berjalan beriringan bersamanya.

 

Kyu Hyun menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sudah siang, pantas saja sedari tadi Kyu Hyun merasa perutnya terasa perih. Ya, meskipun tadi sudah sarapan tapi hampir setengah hari ia dan Shin Rin berjalan mengitari mall dan toko-toko pakaian.

 

“Sudah siang. Kita makan dulu” Kyu Hyun berjalan terlebih dahulu begitu menemukan tempat makan yang cocok—cocok juga dengan isi dompetnya yang sudah terkuras.

 

Kyu Hyun duduk di kursi dekat jendela yang menghadap jalanan. Ditatapnya Shin Rin yang kesusahan membawa tas-tas belanjaannya meskipun tidak banyak tapi membuat kerepotan.

 

Kyu Hyun menepuk jidatnya, kenapa ia bisa lupa kalau Shin Rin juga sama repot dengan dirinya. Dihampirinya Shin Rin yang sudah berada di pintu masuk, dan mengambil tas belanjaan itu dari kedua tangan Shin Rin.

 

“Maaf” Kyu Hyun tersenyum meringis begitu mengambil alih tas belanjaan itu.

 

Gwaenchana” belum sempat mencegah, belanjaan itu sudah berpindah tangan ke Kyu Hyun membuat Shin Rin hanya mengangguk canggung.

Sesampainya di kursi, Kyu Hyun langsung memanggil pelayan dan memesan makanan serta minuman. Shin Rin hanya menatap buku menu itu, membuat Kyu Hyun menatapnya.

 

Wae?”

 

“Emm… ani…”

 

“Jadi, apa pesananmu?”

 

“Samakan saja denganmu”

 

Kyu Hyun hanya mengangguk dan kembali menyebutkan pesanannya tadi kepada pelayan. Setelah selesai mencatat, pelayan itu pamit.

 

Sepeninggal pelayan tadi, terjadi keheningan diantara Kyu Hyun dan Shin Rin. Tidak seperti tadi. Entahlah, mereka juga tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Jadi lebih baik diam saja.

 

Sampai pesanan tiba, keheningan masih terjadi dan mereka makan tanpa mengeluarkan suara apapun kecuali dentingan sumpit yang menemani kebisuan mereka.

 

***

 

Arion terpaku menatap hiruk pikuk suatu kota dengan… entahlah sulit untuk dideskripsikan. Di sana ia melihat adiknya yang kabur. Dugaannya benar, adiknya pasti kabur ke bumi. Dan dia berinteraksi dengan laki-laki yang bersamanya tanpa canggung seperti manusia pada umumnya. Tapi, tunggu… laki-laki itu… ya, Arion ingat. Laki-laki itu adalah orang yang selalu adiknya perhatikan dari tempat ini. Jadi, dia kabur karena laki-laki itu? Arion mengepalkan tangannya kuat, dikepakan sayap putihnya dan buru-buru meninggalkan tempat itu sebelum ada yang mencurigainya dan melihat adiknya. Kalau sampai Narmedia sayap hitam tahu, adiknya tidak akan selamat. Tidak. Arion akan mencari cara supaya adiknya bisa pulang tanpa ketahuan oleh siapapun.

 

Tanpa Arion sadari, ada yang memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi. Makhluk itu juga menatap hiruk pikuk kota dan dia tidak bodoh dengan tidak mengenali makhluk dari bangsanya sendiri meskipun makhluk itu menyembunyikan sayapanya.

 

Ditatapnya Arion yang sudah meninggalkan tempat itu dan Arene bergantian. Jadi, ada yang melanggar peraturan. Makhluk itu mengepakan sayapnya yang berwarna hitam dan segera pergi dari tempat itu untuk melaporkan kejadian ini kepada petingginya. Peraturan tetap peraturan dan harus ditegakkan, meskipun yang melanggar itu adalah anak dari petinggi sekalipun.

 

***

 

Arion melangkah dengan gontai menuju kamarnya, meskipun dia punya sayap tapi kalau di rumah—atau bisa disebut juga dengan kastil—Arion tidak menggunakan sayapnya untuk ke mana-mana. Dia beranggapan kalau sayap digunakan untuk bepergian jauh saja. Dari pintu depan ke kamarnya tidak terlalu jauh, jadi untuk apa masih menggunakan sayap.

“Arion, bagaimana?” Arion tersentak dan cepat-cepat mendongak menatap orang yang baru saja bertanya dengan nada panik.

 

Arion hanya menggeleng begitu tahu kalau yang bertanya adalah ayah dan ibunya. Berkali-kali Arion mengucapkan maaf dalam hati kepada kedua orangtuanya. Dia tidak bisa memberitahu keberadaan Arene saat ini. Terlalu bahaya kalau banyak yang mengetahuinya. Keselamatan adiknya yang terancam. Dia akan mencari cara supaya bisa turun ke bumi dan membujuk adiknya untuk pulang.

 

Mengerti arti gelengan dari Arion, membuat air mata yang sudah berhenti kembali mengalir. Anaknya dalam bahaya. Tadi juga laporan pengawalnya tidak ada yang memuaskan.

 

Melihat itu membuat rasa bersalah Arion semakin besar. Untuk menutupinya, dia segera melangkah menuju kamarnya dan mengunci diri disana seraya merenungi dan mencari cara menyelamatkan adiknya.

 

***

 

Duk duk duk

 

Ya! Cho Kyu Hyun! Buka pintunya!” gedoran keras terdengar yang sarat akan kemarahan.

 

DUK DUK DUK

 

“CHO KYU HYUN!!!” meskipun sekeras apapun orang itu menggedor pintu rumah Kyu Hyun, tidak akan ada yang membukanya. Pemilik rumahnya sendiri sedang tidak ada di rumah.

 

“Aish… bocah gila. Dia seenaknya saja mangkir dari pekerjaannya dan tidak memberitahuku. Membuatku kerepotan seharian. Dan sekarang di mana dia?” orang itu berusaha mengintip melalui jendela rumah. Terlihat sepi. Pasti yang punya rumah sedang keluyuran tidak jelas. Orang itu terduduk di depan pintu. Lelah juga sedari tadi berteriak.

 

“Jong Woon Hyung? Kenapa kau di sini?” Jong Woon terlonjak begitu suara Kyu Hyun menyapanya—sebenarnya bukan menyapa. Entahlah apa istilahnya.

 

Ya! Kau. Dari mana sa—eh… nuguya?” Jong Woon dengan cepat bangkit dan menatap Kyu Hyun garang. Namun, begitu melihat seorang gadis di belakang Kyu Hyun tatapan garang itu berubah menjadi bertanya-tanya.

 

Shin Rin menunduk begitu melihat Jong Woon meskipun dengan ragu dan masih bertanya-tanya Jong Woon membalasnya.

 

“Dia… emm… dia sepupuku, namanya Baek Shin Rin” Kyu Hyun menatap Jong Woon was-was.

 

“Sepupumu? Sepupu dari mana? Setahuku kau tidak punya sepupu” ditatapnya Kyu Hyun dengan curiga. Namun, Kyu Hyun dapat mengatasi raut wajahnya agar tidak semakin mencurigakan.

 

“Aku hanya tidak pernah mengatakannya kepadamu Hyung. Sebenarnya aku punya. Ya Baek Shin Rin ini sepupuku” Jong Woon tidak menghiraukan Kyu Hyun, ia hanya menatap Shin Rin penuh selidik. Mendapat tatapan seperti itu membuat Shin Rin sedikit risih. Bagaimana tidak, Jong Woon menatapnya dari kepala samapai kaki dan balik lagi dari kaki sampai kepala. Memangnya ada yang aneh dengan penampilannya? Atau jangan-jangan Jong Woon tahu kalau Shin Rin berbeda. Hal itu membuat Shin Rin cemas. Dia takut, semakin banyak orang mengetahui siapa dirinya maka akan semakin berbahaya.

 

“Kim Jong Woon imnida” tiba-tiba saja Jong Woon mengulurkan tangannya dan memberikan senyuman manisnya. Shin Rin mengernyit menatap uluran tangan Jong Woon. tadi orang ini menatapnya penuh selidik seolah mencurigainya dan sekarang beramah tamah. Aneh.

 

“Baek Shin Rin imnida” Shin Rin menerima uluran tangan Jong Woon dengan canggung. Sebenarnya masih agak aneh saja dengan kelakuan Jong Woon.

 

Kyu Hyun hanya berdecak melihat kelakuan Jong Woon. muncul kembali sifat anehnya. Setelah tadi membuatnya ketakutan setengah mati dan sekarang bersikap manis sekali, sangat manis malah cenderung pahit.

 

Kyu Hyun melewati Jong Woon begitu saja yang masih tersenyum aneh dan sok beramah tamah kepada Shin Rin, untuk membuka pintu yang terkunci. Dia masuk begitu saja tanpa memedulikan kedua orang yang masih asik berkenalan.

 

Shin Rin tersadar dan segera menarik tangannya, membungkuk sekilas dan meninggalkan Jong Woon yang masih tersenyum aneh.

 

Jong Woon segera masuk ke dalam rumah dan duduk begitu saja di sofa masih dengan mengamati seorang gadis yang berada di dapur bersama sang pemilik rumah.

 

“Ada apa kau kesini, Hyung?” Kyu Hyun menyerahkan sekaleng minuman soda kepada Jong Woon dan diterima oleh Jong Woon. dibukanya penutup kaleng dan sedikit meminumnya membasahi tenggorokannya yang kering karena tadi berteriak-teriak, sebelum menjawab pertanyaan Kyu Hyun.

 

“Ah iya aku lupa. Ya! kenapa kau tidak masuk hari ini?” seakan tersadar, Jong Woon menatap Kyu Hyun tajam.

 

Mianhae Hyung…” Kyu Hyun meringis dan memelas membalas tatapan tajam Jong Woon. Hah… kalau sudah begini Jong Woon tidak akan bisa marah. Sampai kapan kelemahannya ini akan hilang. Semarah apapun Jong Woon tapi kalau Kyu Hyun sudah menampakan wajah memelas—meskipun gagal—Jong Woon tidak akan pernah tega memarahinya. Alhasil dengan mudahnya dia memaafkan Kyu Hyun. Dan sialnya, kelemahannya itu selalu dimanfaatkan Kyu Hyun.

 

Arasseo. Tapi besok kau harus masuk” Jong Woon menunjuk Kyu Hyun dan bangkit berdiri.

 

“Mau ke mana, Hyung?” Kyu Hyun menatap Jong Woon heran.

 

“Aku harus pergi”

 

“Tidak makan malam dulu di sini?” Kyu Hyun bangkit dan mengikuti Jong Woon menuju pintu rumahnya.

 

“Kapan-kapan saja. Shin Rin-ssi, aku pergi dulu” Shin Rin hanya menunduk dan tersenyum canggung.

 

“Aku pergi” ditepuknya bahu kiri Kyu Hyun, setelah bayangan Jong Woon hilang, Kyu Hyun baru menutup pintunya.

 

Begitu Kyu Hyun menutup pintunya, Shin Rin segera menghampiri Kyu Hyun dengan tatapan bertanya-tanya.

 

“Dia siapa?”

 

“Dia teman sekaligus atasanku” Shin Rin hanya mengangguk dan mengikuti Kyu Hyun duduk di sofa yang tadi diduduki Jong Woon.

 

Wae?”

 

Ani. Hanya saja, temanmu itu agak sedikit… aneh” Shin Rin menatap Kyu Hyun ragu-ragu dan mengamati raut wajah Kyu Hyun tapi setelah diamati, raut wajah Kyu Hyun tidak berubah. Datar.

 

“Dia memang seperti itu” Kyu Hyun bangkit tiba-tiba membuat Shin Rin harus mendongak untuk bisa menatap Kyu Hyun. “Aku mandi dulu” Kyu Hyun berjalan menuju kamar mandi, masih dengan diikuti oleh tatapan Shin Rin.

 

***

 

Kyu Hyun membuka kulkas dan mengamati isinya. Tidak terlalu banyak. Oh dia lupa untuk belanja mengisi kulkasnya. Rencananya hari ini dia akan memasak, tapi melihat isi kulkas yang hanya terdapat dua butir telur, sayuran yang sudah tidak segar dan beberapa botol air mineral saja rencana memasak itu urung dilakukan. Dan tentu saja dia bisa memasak. Hidup seorang diri membuatnya harus bisa segala urusan rumah tangga. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci sampai memasak. Memang sih masakan tidak seenak yang lain tapi masih bisa untuk dimakan.

 

Shin Rin baru saja keluar dari kamar mandi dan mengamti Kyu Hyun yang berdiri di depan kulkas yang terbuka dan tengah melamun—entah berpikir. Apa Kyu Hyun sudah gila atau di sini cuacanya panas. Sampai-sampai berdiri di depan kulkas yang terbuka seperti itu.

 

“Kau sedang apa?” Kyu Hyun terlonjak dan segera menoleh ke belakang. Didapatinya Shin Rin yang tengah menatap heran ke arahnya.

 

“Aku hanya sedang berpikir untuk memasak apa. Tapi melihat isi kulkas yang mengkhawatirkan, lebih baik memesan makanan saja” Shi Rin hanya mengangguk dan berjalan menuju jemuran kecil tempat menyimpan handuk. Dibentangkan handuk yang tadi dipakainya dan ditelatakan bersisian dengan handuk milik Kyu Hyun.

 

“Kau ingin makan apa?” Shin Rin menatap Kyu Hyun sekilas dan berjalan menuju sofa diikuti Kyu Hyun.

 

“Terserahmu saja”

 

“Baiklah. Ayam goreng saja” dikeluarkannya posel yang ada di saku celananya dan membuka kontak mencari nomor kontak toko ayam goreng langganannya. Setelahnya melakukan panggilan.

 

“Tinggal tunggu ayamnya datang” Kyu Hyun meraih remote yang berada di meja dan menyalakan tv untuk mengusir keheningan antara dirinya dan Shin Rin yang hanya terdiam.

 

Mereka terhanyut dalam tanyangan yang ada di tv. Tidak ada yang mengeluarkan suaranya, terlalu asik dengan acara yang ditonton. Sampai bunyi bel mempu mengejutkan mereka berdua.

 

Kyu Hyun segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut, disana seorang laki-laki memakai seragam toko ayam goreng tengah menyodorkan sekotak ayam goreng. Kyu Hyun menerimanya dan menyerahkan lembaran uang sepuluh ribuan dua lembar. Laki-laki tersebut merogoh tas kecil yang ada di pinggangnya dan memberikan tiga lembar uang seribuan kepada Kyu Hyun sebagai kembalian. Setelah mengucapkan terimakasih, laki-laki tersebut pamit. Dan Kyu Hyun menutup pintunya kembali.

 

 

Diletakannya di atas meja, dengan segera dibuka kotak ayam tersebut. Asap tipis menguar begitu kotak dibuka. Kyu Hyun mengambil paha dan memakannya.

 

“Makanlah” Kyu Hyun menunjuk ayam tersebut menggunakan dagunya. Dan kembali tenggelam dalam tayangan di tv.

 

Shin Rin mengambil sepotong ayam bagian paha dan kembali menatap tayangan di tv seraya menyandarkan tubuhnya di sofa. Sesekali terdengar tawa dari mereka berdua. Terlalu asik menonton dengan mulut yang bergerak karena mengunyah sampai tidak menyadari kalau ayam yang ada di kotak hanya tinggal tulang saja.

 

Dibereskannya meja yang berserakan tulang ayam dan juga kaleng soda yang sudah kosong. Dimasukan sisa-sisa tersebut ke dalam kantong kresek hitam dan Kyu Hyun membuangnya ke tempat sampah yang ada di dapur seraya mencuci tangannya, di belakang, Shin Rin mengekor. Kalau dipikir-pikir, Shin Rin selalu mengekor ke manapun Kyu Hyun pergi. Hanya ke kamar mandi saja dia tidak mengekor. Ck.

 

***

“Yang Mulia” yang dipanggil hanya mendehem untuk menjawab dan menatap anak buahnya.

 

“Ada apa?”

 

“Saya ingin melapor”

 

“Tentang?”

 

“Narmedia sayap putih melanggar peraturan” penuturan anak buahnya membuat makhluk yang dipanggil Yang Mulia itu mendongak.

 

“Siapa?” masih dengan wajah datar, petinggi Narmedia sayap hitam bertanya.

 

“Putri dari petinggi Narmedia sayap putih, Arene” kali ini, makhluk itu bangkit dari kursi kebesarannya dan menatap anak buahnya tak percaya.

 

“Benarkah? Kau tidak sedang menipuku?”

 

“Tidak, Yang Mulia. Tadi saya melihat Arion di langit lapisan ke tiga sedang mengamati adiknya yang turun ke bumi dan sedang berinteraksi dengan manusia”

 

“Besok kita ke bangsa Narmedia sayap putih untuk mengkonfirmasi ini” setelah anak buahnya pamit, petinggi Narmedia sayap hitam kembali duduk di kursi kebesarannya seraya menyandarkan pungunggnya. Dia masih memikirkan laporan tadi. Bagaimana bisa anak petinggi yang terhormat melanggar peraturan. Tidak bisa dipercaya.

 

***

 

Arion membuka pintu kamarnya dengan perlahan, mengamati sekitar. Dengan perlahan ia berjalan menngendap-ngendap menuju tangga. Namun, baru memegang pegangan tangga. Arion dikejutkan dengan kedatangan Narmedia sayap hitam yang dapat terlihat di tempatnya berdiri sekarang. Rencanya hari ini ia akan mencoba pergi ke bumi. Tapi kalau seperti ini, bukan hanya adiknya yang akan dimusnahkan tapi dirinya juga. Tidak.

 

“Ada apa ini? Kenapa kalian bisa ada di sini?” pemilik kastil—ayah Arion—berjalan tergesa-gesa mengampiri petinggi Narmedia sayap hitam begitu pengawalnya memberitahu bahwa mereka mendatangi kastilnya.

 

“Mohon maaf Yang Mulia. Kami ke sini hanya ingin bertanya”

 

“Iya, silahkan” ditatapnya satu per satu Narmedia sayap hitam yang datang ke kastilnya yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

 

“Apa benar putri anda melanggar peraturan?” seketika tubuh Arion menegang. Tidak. Kenapa mereka bisa secepat ini mengetahuinya?

 

“Tidak. Putriku tidak melanggar peraturan”

 

“Tapi kemarin salah satu dari kami melihat putri anda ada di bumi dan putra anda juga tengah mengamati putri anda di langit lapisan ke tiga”

 

Tidak hanya Arion, sang ayah dan ibunya pun sama. Mereka membelalakan matanya tak percaya. Air mata mengalir dari kedua mata sang ibu. Pikiran-pikiran buruk tentang hukuman untuk anaknya yang selama ini menghantuinya kembali terlintas.

 

“Tidak mungkin. Putriku tidak mungkin melanggar peraturan itu. Kalian mencoba memfitnahku?”

 

“Mohon maaf Yang Mulia. Tapi kami tidak memfitnah anda. Rencananya hari ini kami akan turun ke bumi dan mencari putri anda”

 

“Tidak!!”

 

“Mohon maaf, peraturan tetap peraturan meskipun itu putri anda. Kami permisi” setelah berpamitan, orang-orang yang ada di kastil itu masih mematung begitu pun Arion. Dilihatnya sang ibu yang sudah menagis terisak-isak dipelukan sang ayah, membuat hatinya semakin sakit. Sebagai kakak dia harus bisa melindungi adiknya. Dia harus turun ke bumi dan menjemput adiknya. Masalah hukuman… itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang adiknya kembali terlebih dahulu.

 

Dihampirinya kedua orangtuanya, dengan langkah mantap meskipun banyak resiko ia akan tetap melakukannya. Demi adik satu-satunya.

 

“Ayahanda, Ibunda. Maafkan aku. Sebenarnya aku sudah tahu kalau Arene ada di bumi. Tapi aku menyembunyikannya. Bukan bermaksud seperti itu, hanya saja aku ingin melindungi adikku dan rencananya hari ini aku akan turun ke bumi untuk menjemputnya” sang ayah menatap anaknya nanar. Kenapa hal penting seperti ini bisa Arion sembunyikan dari kedua orangtuanya? Dan juga karena kecerobohannya kemarin, Narmedia sayap hitam mengetahui kalau Arene melanggar peraturan. Dan apa katanya tadi? Turun ke bumi? Arion mencoba bunuh diri? Kalau Narmedia sayap hitam sampai tahu bagaimana? Bukan hanya Arene yang dimusnahkan tapi juga Arion.

 

“Jangan bertindak gegabah, nak”

 

“Tapi ini salahku. Karena kecerobohanku kemarin, mereka jadi tahu kalau Arene ada di bumi” Arion menundukan kepalanya tidak berani menatap sang ayah.

 

“Tapi kalau kau melakukan ini. Itu sama saja. Kalau kau sampai tertangkap saat mencari adikmu. Bukan hanya adikmu yang dimusnahkan tapi juga kau” penuturan itu membuat ibu Arion yang ada di pelukan ayahnya semakin histeris. Tidak. Tidak ada yang boleh menyakiti anaknya. Tidak Arene ataupun Arion.

 

“Ayah akan mencoba mengirimkan sinyal untuk adikmu melalui mimpi semoga saja bisa sampai” sang ayah melangkah masih dengan memeluk istrinya meninggalkan Arion yang masih menunduk.

 

“Maafkan aku ayahanda. Tapi aku tidak bisa berdiam diri seperti ini. Kalaupun harus dimusnahkan, itu bukan Arene tapi aku”Arion melangkah menuju halaman kastilnya. Pandangannya mengedar ke sekitar. Lumayan aman, dia akan berpura-pura jalan-jalan dan setelah lengah, Arion akan mencoba turun ke bumi.

 

***

 

Shin Rin tengah asik menyiram tanamanan. Sampai tidak menyadari ada seseorang di belakang tubuhnya yang tengah mengamati setiap gerak-geriknya. Begitu memutar tubuhnya, Shin Rin hampir saja menjatuhkan ember yang berisi air yang digunakannya untuk menyiram.

 

“Kau mengagetkanku, Jong Woon-ssi” orang yang mengamatinya sedari tadi hanya tersenyum begitu melihat keterkejutan Shin Rin.

 

“Kau sedang apa?” bodoh. Tentu Jong Woon tahu kalau Shin Rin tengah menyiram tanaman. Kenapa harus bertanya? Ya… sekedar untuk basa-basi apa salahnya ‘kan?

 

“Menyiram tanaman” Shin Rin kembali menyiramkan segayung air ke pot-pot tanaman dengan perlahan.

 

“Kau menyukai tanaman?” Jong Woon mengikuti setiap perpindahan Shin Rin yang menyirami tanaman satu ke tanaman yang lainnya. Meskipun taman ini tidak terlalu luas tapi di sini sangat segar. Padahal dulu sebelum Shin Rin datang, tempat ini sangat kumuh. Shin Rin merawatnya dengan sangat baik.

 

“Sangat” Shin Rin melepaskan sarung tangan berwarna kuning itu dan menyimpannya bersama ember di dekat pot bunga mawar.

 

“Tanaman apa yang kau sukai?”

 

“Apa saja aku suka”

 

Jong Woon hanya mengangguk. Tengah asik-asiknya berbincang dengan Shin Rin yang ternyata cepat akrab dengan orang baru, Jong Woon dikejutkan oleh kedatangan Kyu Hyun yang menatapnya aneh.

 

Hyung, tumben sekali pagi-pagi kau ke sini? Ada apa?”

 

“Aku hanya ingin memastikan, kalau kau masuk hari ini. Jadi, kalau misalnya kau tidak masuk, aku akan menyeretmu dengan paksa”

 

“Ck, kau kejam sekali Hyung. Baiklah, karena aku sudah di sini. Jadi, ayo” Kyu Hyun menyeret paksa Jong Woon yang—sepertinya—enggan untuk beranjak dari sana. Shin Rin yang melihatnya hanya tersenyum.

 

“Shin Rin-ah, hari ini aku akan pulang cepat. Kau tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa aku, oke” Shin Rin mengangguk. Kenapa tingkah Kyu Hyun seperti seorang suami yang akan pamit untuk bekerja? Aish… sudahlah itu hanya pikiran konyol Shin Rin saja.

 

Setelah mendapat jawaban, Kyu Hyun langsung menyeret paksa Jong Woon. Shin Rin melihatnya tersnyum geli. Tingkah mereka begitu kekanakan tapi cukup menghibur.

 

Shin Rin melangkah ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti di depan pintu. Tubuhnya mematung, di sana terdapat bulu putih halus. Tentu dia tahu bulu apa itu. Ini seperti bulu yang ada di sayapnya. Tapi melihat dari bentuknya bulu ini bukan bulu sayapnya. Ini mirip bulu sayap kakaknya. Shin Rin berjongkok dan mengambil bulu tersebut dan tiba-tiba air mata jatuh di pipinya.

 

“Arion. Kenapa kau mengirimkan bulu sayapmu? Apakah ini sinyal? Ataukah….?”

 

Bersambung

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: