Narmedia [3/?]

narmedia 

Title               : Narmedia Part 3

Category        : Fantasy, AU, Romance, Series

Cast                : Cho Kyu Hyun, Baek Shin Rin/Arene (OC)

Support Cast : Arion, Kim Jong Woon

Author            : SriMurni21/bsrBaek

WordPress      : https://bsrbaek.wordpress.com/

Jangan Copy Paste, kalo tidak suka jangan dipaksain baca. Typo selalu hadir. RCL

Cover by ©bbonArt

FF ini adalah remake dari MV SM The Ballad Miss You. Dan disarankan saat membaca cerita ini, mendengarkan lagu SM The Ballad Missing You.

*Selamat Membaca*

 

Sebelumnya…

 

“Shin Rin-ah, hari ini aku akan pulang cepat. Kau tidak boleh pergi ke mana-mana tanpa aku, oke” Shin Rin mengangguk. Kenapa tingkah Kyu Hyun seperti seorang suami yang akan pamit untuk bekerja? Aish… sudahlah itu hanya pikiran konyol Shin Rin saja.

 

Setelah mendapat jawaban, Kyu Hyun langsung menyeret paksa Jong Woon. Shin Rin melihatnya tersnyum geli. Tingkah mereka begitu kekanakan tapi cukup menghibur.

 

Shin Rin melangkah ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti di depan pintu. Tubuhnya mematung, di sana terdapat bulu putih halus. Tentu dia tahu bulu apa itu. Ini seperti bulu yang ada di sayapnya. Tapi melihat dari bentuknya bulu ini bukan bulu sayapnya. Ini mirip bulu sayap kakaknya. Shin Rin berjongkok dan mengambil bulu tersebut dan tiba-tiba air mata jatuh di pipinya.

 

“Arion. Kenapa kau mengirimkan bulu sayapmu? Apakah ini sinyal? Ataukah….?”

 

Part 3

 

“Arene, kau di mana? Pulanglah” Shin Rin terbangun begitu mimpi—panggilan—datang tiba-tiba.

 

Ditatapnya sekitar, dia masih berada di rumah atap Kyu Hyun. Shin Rin menghembuskan napasnya dan merebahkan kembali tubuhnya. Shin Rin menerawang jauh, ditatapnya lekat-lekat bintang yang terlihat dari tempatnya berbaring sekarang karena atap rumah Kyu Hyun terbuat dari kaca—tidak seluruhnya, hanya di bagian tempat tidur saja.

 

“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku kembali lagi? Tapi aku masih ingin di sini. Aku masih ingin bersamanya” Shin Rin bangkit dan melangkah menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut, berjalan dengan pikiran yang berkecamuk.

 

Shin Rin mendudukan dirinya di bale, ditekuknya kedua kakinya seraya memeluk erat. Tak peduli angin yang berhembus kencang menerbangkan rambut panjangnya yang tergerai. Setetes air mata menetes begitu saja di pipi Shin Rin. Pikirannya melayang pada mimpi yang memang disengaja itu. Haruskah ia pulang? Tapi ia masih ingin bersama Kyu Hyun. Bersama orang yang selama ini selalu ia awasi di langit lapisan ke tiga. Ia bimbang.

 

“Shin Rin-ah, sedang apa kau di sini? Di luar sangat dingin. Ayo masuk” Shin Rin menoleh begitu mendengar suara Kyu Hyun. Cepat-cepat ia menghapus air matanya dan menghampiri Kyu Hyun.

 

Ani. Aku hanya bosan” Shin Rin berusaha tersenyum saat Kyu Hyun menatapnya intens.

 

“Kau bosan? Maaf aku pulang terlalu malam”

 

Gwaenchana

 

“Kau sudah makan?” Shin Rin hanya menggeleng menjawab pertanyaan Kyu Hyun. Bagaimana mau makan, kalau bahan makanan saja tidak ada. Beli pun dia tidak punya uang.

 

“Maafkan aku, membuatmu menunggu. Kau pasti kelaparan”

 

“Aku tidak semenderita itu” Kyu Hyun hanya tersenyum mendengarnya, diusapnya rambut Shin Rin yang membuat Shin Rin terpaku. Bagaimana dia mau kembali kalau Kyu Hyun sendiri selalu memperlakukannya dengan begitu lembut. Shin Rin berulang kali menggumamkan kata maaf dalam hatinya. Maaf karena untuk saat ini dia belum bisa kembali. Shin Rin masih ingin menikmati waktunya bersama Kyu Hyun sebelum dia benar-benar kembali dan tak akan pernah bisa bersama Kyu Hyun lagi.

 

***

 

“Shin Rin-ah, besok kita jalan-jalan” Shin Rin menatap Kyu Hyun sejenak masih dengan wortel yang menggantung di mulutnya.

 

Diambilnya wortel itu sebelum dia menjawab ucapan Kyu Hyun. “Kau tidak bekerja?”

 

“Besok aku libur”

 

“Benarkah?”

 

“Emm.. kau ingin ke mana?”

 

Shin Rin menurunkan kedua kakinya ke lantai, melipat tangannya dengan tangan satu lagi yang tak behenti menyuapakan potongan wortel ke mulutnya.

 

“Aku ingin ke… entahalah, yang aku tahu, tempat itu adalah sebuah menara dan banyak gembok” Shin Rin mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di dagu begitu wortel yang ada di tangannya sudah habis ia lahap.

 

“Namsan Tower?” Shin Rin menoleh, kedua bahunya terangkat, tangannya kembali terulur kali ini mengambil potongan daging. “Ya! kau jorok sekali. Pakai sumpitnya” dengan santainya, Shin Rin melahap bulat-bulat daging di tangannya, tanpa menghiraukan pekikan Kyu Hyun.

 

“Jadi, nama menara itu Namsan Tower” Shin Rin mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali mengambil potongan daging, serta tak menghiraukan teriakan Kyu Hyun yang menyuruhnya memakai sumpit.

 

***

 

“Shin Rin-ah, cepatlah. Kenapa lama sekali. Kau sedang apa?” Kyu Hyun menghentak-hentakan kakinya kesal, pasalnya sudah lebih dari tiga puluh menit dia menunggu Shin Rin yang belum selesai berdandan. Tunggu. Sejak kapan Shin Rin pandai berdandan? Selama tinggal bersamanya, Kyu Hyun jarang sekali melihat Shin Rin berdandan. Ah entahlah…

 

Ya! Shin Rin-ah, sebenarnya kau sedang apa?” Kyu Hyun berbalik dan tubuhnya terpaku begitu melihat orang yang ditunggunya sudah menampakan dirinya.

 

“Kyu Hyun-ah, maaf aku sedikit lama. Dan bagaimana penampilanku?” Shin Rin merentangkan kedua tangannya dan berputar untuk memperlihatkan hasil kerja kerasnya.

 

Kyu Hyun masih terpaku melihatnya. Benar ‘kan ini Shin Rin yang tinggal bersamanya? Dia bagaikan bidadari. Eh tapi dia ‘kan memang bidadari, ah masih membingungkan juga sebenarnya. Bidadari atau bukan, kalau bukan kenapa punya sayap. Kyu Hyun menggelengkan kepalanya, dan berusaha menormalkan kembali ekspresi wajahnya.

 

Kyu Hyun menyanggah dagunya seraya menatap Shin Rin menyelidik seolah benar-benar menilai penampilan Shin Rin hari ini.

 

Sederahana saja, Shin Rin hanya memakai gaun putih panjang tanpa lengan dengan topi berwarna krem bertengger di kepalanya dan rambut yang ia gerai. Tapi entahlah, Kyu Hyun melihatnya lain. Ada aura tersendiri yang menguar dari tubuh Shin Rin.

 

“Kau cukup cantik. Setidaknya tidak membuatku malu” Shin Rin menghentakan kakinya dan mengerucutkan bibirnya. Ish.. Kyu hyun tidak menghargai sedikit saja usahanya agar tampil menarik hari ini.

 

“Padahal aku sudah memikirkannya dari semalam” gerutuan Shin Rin membuat Kyu Hyun tersenyum. Menggemaskan sekali, rasanya Kyu Hyun ingin sekali memeluknya. Kyu Hyun segera menepis pikiran konyol itu. Bagaimana bisa dia berpikiran ingin memeluk Shin Rin. Tapi sebenarnya ingin sih…

 

“Sudah jangan cemberut seperti itu. Ayo” Kyu Hyun mengulurkan tangan kanannya menunggu Shin Rin menyambutnya.

 

Shin Rin terpaku menatap tangan Kyu Hyun yang terulur. Ini maksudnya apa? Kyu Hyun ingin Shin Rin menyambutnya dan mereka jalan dengan bergandengan tangan, begitu maksudnya?

 

Dengan ragu, Shin Rin meraih uluran tangan Kyu Hyun. Begitu Shin Rin sudah menyambutnya, digenggamnya dengan erat namun lembut tangan Shin Rin. Perasaan hangat menjalar di hati Shin Rin. Akhirnya, impiannya selama ini dapat terwujud. Ditatapnya Kyu Kyun yang tengah menatapnya lembut dengan senyuman yang menawan, membuat Shin Rin semakin terpaku.

 

Senyuman itu yang membuatnya terpikat, senyuman itu yang membuat Shin Rin ingin sekali bertemu langsung dengan pemilik senyuman.

 

Dibalasnya genggaman Kyu Hyun, membuat senyuman Kyu Hyun semakin lebar dan tidak pernah pudar.

 

Mereka berjalan beriringan dengan langkah ringan tanpa tahu kalau saat ini ada yang tengah mengawasi mereka, lebih tepatnya mengawasi Shin Rin.

 

***

 

“Yang Mulia” merasa dipanggil, orang—entah orang atau bukan—membalikan tubuhnya dan menghampiri yang memanggilnya.

 

“Ada apa?”

 

“Nona Arene sudah ditemukan. Nona berada disebuah negara yang bernama Korea Selatan, lebih tepatnya Nona berada di kota Seoul” pengawal itu menunduk begitu melihat reaksi terkejut dari tuannya.

 

“Siapkan beberapa pengawal. Dan kita harus segera menjemputnya” sang pengawal mengangguk begitu mendapat perintah, dan segera pamit meninggalkan tuannya yang tengah duduk di kursi kebesarannya.

 

Sang tuan menatap menerawang—namun, entah apa yang ditatapnya. Hanya memandang ke depan, padahal di hadapannya hanya ada sebuah lemari besar berwarna coklat kayu. Tidak ada yang menarik.

 

“Arene, putri dari petinggi Narmedia sayap putih yang pembangkang” bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan menuju pintu yang menjulang tinggi. Dikepakan sayap berwarna hitamnya, terbang menyusuri jalan yang ia lalui. Dia ingin tahu bagaimana kegiatan Arene yang ada di dunia manusia.

 

Begitu sampai di tempat biasanya bangsa Narmedia menunggu roh-roh manusia untuk menjemputnya. Petinggi Narmedia sayap hitam mengedarkan pandangannya, disipitkannya mata berwarna abu-abu itu. Di sana. Arene tengah duduk bersama seorang laki-laki, namun tiba-tiba laki-laki itu berdiri di hadapannya, mengulurkan tangannya dan Arene menyambut uluran tangan tersebut. Dengan senyuman mereka berjalan beriringan meninggalkan tempat itu. Sedikit memicingkan matanya. Ada yang aneh. Tatapan Arene kepada pemuda itu sedikit berbeda. Ditatapnya lagi Arene dengan lekat. Sedikit tersentak. Tidak. Tidak mungkin Arene mencintai bangsa manusia. Bisa disimpulkan bahwa Arene turun ke dunia manusia karena pemuda ini. Karena dia ingin mengenal pemuda ini.

 

Tidak bisa dibiarkan.

 

Sang petinggi kembali mengepakan sayap hitamnya dan pergi meninggalkan tempat itu.

 

***

 

Kyu Hyun menatap heran Shin Rin yang duduk dengan gelisah, sesekali pandangannya mengarah ke sekitar, kadangkala menatap ke atas.

 

“Kau kenapa? Sedari tadi aku perhatikan, kau tampak gelisah”

 

Eoh? Aniya, gwaenchana” Shin Rin mengibaskan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya.

 

“Kau sakit?” Kyu Hyun menempelkan tangan kanannya di dahi Shin Rin, yang membuat sang empunya membeku akibat sentuhan tak terduga itu.

 

Aniya, aku tidak apa-apa” buru-buru Shin Rin menurunkan tangan Kyu Hyun. Sentuhan-sentuhan seperti ini membuatnya tidak dapat mengontrol tubuhnya sendiri. Beginikah rasanya jatuh cinta? Terasa sangat menyenangkan. Kalau tahu akan seperti ini, kenapa tidak dari dulu saja ia kabur ke dunia manusia.

 

Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” Kyu Hyun sedikit menjauh dari Shin Rin yang bersikap aneh hari ini. Padahal belum ada sepuluh menit tadi dia tampak gelisah, eh sekarang dia senyum-senyum sendiri sembari menatapnya. Mungkinkah Shin Rin tertarik padanya? Cih, terlalu percaya diri dan terlalu dini menyimpulkan kalau Shin Rin tertarik padanya. Tapi tidak masalah juga kalau misalnya iya, Kyu Hyun tampan, apa masalahnya.

 

Kalau boleh jujur sih, Kyu Hyun juga mulai tertarik pada Shin Rin. Terlepas dari Shin Rin manusia atau bukan. Siapa yang tidak tertarik? Shin Rin cantik, siapa yang tidak menyukai wanita cantik? Kyu Hyun pun tidak menampik itu. Hanya sebatas tertarik tidak lebih. Dan yang terpenting dia wanita.

 

“Kau tampan hari ini” Shin Rin buru-buru menunduk. Aish… kenapa dia bisa mengucapkan itu? Tapi… memang Kyu Hyun tampan.

 

Mwo?” Kyu Hyun hanya melongo. Dia tidak salah dengar ‘kan? Tadi Shin Rin bilang dia tampan ‘kan? Benar ‘kan? Senyum di bibir Kyu Hyun mengembang. Dia bahagia. Sangat. Dadanya berdegup kencang. Padahal bukan hanya Shin Rin yang selalu memujinya tampan, tapi entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat begitu Shin Rin memujinya tampan. Seperti kembang api saat tahun baru, yang meletup-letup indah di langit.

 

“Benarkah? Kau juga cantik” Kyu Hyun mengusap tengkuknya dan memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Kenapa dia jadi malu saat memuji Shin Rin? Padahal kemarin tidak sama sekali.

 

Ne? Gomawo” Shin Rin mendongak menatap Kyu Hyun yang berdiri di hadapannya seraya mengulurkan tangan kanannya. Sejak kapan Kyu Hyun sudah berdiri di hadapannya? Kenapa dia tidak tahu? Mungkinkah karena dia terlalu sibuk dengan perasaan bahagianya sampai-sampai tidak mengetahui Kyu Hyun sudah berdiri di hadapannya.

 

Dengan ragu dan canggung, Shin Rin menerima uluran tangan Kyu Hyun. Sekarang bukan hanya Shin Rin yang merasakan perasaan hangat saat tangan mereka saling bertautan, tapi Kyu Hyun juga merasakannya. Padahal tadi dia tidak merasakan apa-apa saat menggandeng tangan Shin Rin. Kyu Hyun juga merasa aneh dengan dirinya sendiri. Entahlah, tiba-tiba dia selalu ingin bersama Shin Rin.

 

Shin Rin bangkit berdiri, berjalan beriringan ditemani lampu-lampu taman yang temaram membuat suasana sedikit lebih romantis. Ditemani guguran daun yang mulai menguning. Meskipun sekarang masih musim panas. Namun sebentar lagi musim gugur akan tiba.

 

Tanpa Shin Rin, apalagi Kyu Hyun sadari, ada sepasang mata berwarna abu-abu menatapnya dengan lekat. Namun, setelahnya dia mengepakan sayapnya dan pergi meninggalkan tempat ia mengawasi Shin Rin.

 

***

 

Shin Rin berbaring terlentang menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip. Senyuman tak pernah lepas menghiasi bibir tipisnya. Dia bahagia. Tentu saja. Hari ini Kyu Hyun membuatnya benar-benar seperti manusia. Berjalan-jalan ke Namsan Tower, menatap ribuan bahkan mungkin jutaan gembok yang terpasang di sana. Dan tanpa Shin Rin duga, Kyu Hyun mengulurkan sepasang gembok berwarna biru dan merah muda kepadanya. Dengan ragu, Shin Rin menerima gembok itu. Ditatapnya gembok itu dengan terheran-heran. Tiba-tiba saja Kyu Hyun kembali mengulurkan sebuah spidol berwarna hitam. Saat ditanya untuk apa, Kyu Hyun menjawab, tuliskan nama mereka berdua di gembok itu dan pasang bersama ribuan gembok lainnya. Itu ‘kan gembok cinta. Berarti…. Entahlah, dia juga tidak tahu kenapa Kyu Hyun melakukan itu. Tapi dia bahagia.

 

Ditatapnya Kyu Hyun yang tidur menyamping menghadap sandaran sofa. Apakah dia nyaman tidur di sofa? Tapi sepertinya tidak, sesekali tubuh Kyu Hyun bergerak mencari posisi yang nyaman. Kenapa Kyu Hyun harus mengorbankan dirinya, menyiksa dirinya hanya untuk Shin Rin yang bukan siapa-siapanya.

 

Shin Rin bangkit dan menghampiri tempat Kyu Hyun tidur. Ditatapnya wajah Kyu Hyun, meskipun yang terlihat hanya pipi dan telinga kirinya saja.

 

Shin Rin mendudukan dirinya di samping Kyu Hyun, tangannya terulur mengusap rambut kecoklatan milik Kyu Hyun. Halus.

 

“Kenapa kau mau menolongku? Kenapa kau mau berkorban untukku?” Shin Rin bangkit dan melangkah menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut, kembali melangkah menuju pagar pembatas.

 

Shin Rin menatap jauh ke langit hitam penuh bintang. Bohong kalau dia tidak merindukan tempat tinggalnya. Tapi untuk kali ini saja, dia ingin merasakan bagaimana bisa bersama dengan orang yang kita cintai.

 

Setetes air mata jatuh di pipinya. Dia berjanji setelah puas, ia akan kembali. Apapun resikonya Shin Rin akan merima itu semua.

 

Tanpa Shin Rin sadari, seseorang di balik pintu tengah menatapnya sendu. Entah apa yang ia pikirkan. Hanya saja ia bisa merasakan kesedihan gadis itu. Mungkinkah Shin Rin merindukan tempat asalnya dan berencana untuk kembali. Entah kenapa Kyu Hyun tidak menginginkan Shin Rin kembali. Dia sudah nyaman dengan adanya Shin Rin disini, di rumahnya, tinggal bersamanya.

 

“Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Dan kenapa aku begitu ingin sekali menolongmu, melindungimu, berkorban apapun untukmu. Aku juga tidak tahu” Kyu Hyun hanya menatap punggung Shin Rin tanpa ada niatan untuk menghampirinya.

 

***

 

Arion dengan langkah terburu-buru dan tak menghiraukan tatapan heran para penjaga. Tentu saja, untuk apa dia melangkah dengan terburu-buru kalau mempunyai sayap. Gunakan saja sayapnya kalau memang ada keperluan yang sangat mendesak. Bukan hanya meminimalisisr rasa lelah tapi juga bisa lebih cepat.

 

Dengan tidak sabaran, Arion membuka pintu rumah—bisakah disebut rumah dengan pintu saja tinggi menjulang—dan mengedarkan pandangan ke segala arah.

Dihembuskan napasnya begitu menemukan yang dicarinya. Arion segera menghampiri orang—apa ya sebutan lebih enaknya—yang ia cari.

 

“Ayahanda” Arion menundukan kepalanya dan kembali menatap sang ayah yang menatapnya heran.

 

“Ada apa?”

 

“Arene sudah ditemukan”

 

“Benarkah?” itu bukan suara ayahnya, melainkan ibunya. Tentu saja, ibu mana yang tidak akan terkejut mendengar kabar baik ini, namun perasaan bahagia yang lebih mendominasi. Bahkan ayahnya pun sama terkejutnya.

 

Akhirnya putrinya yang kabur itu ditemukan juga.

 

“Di mana?” kali ini suara ayahnya yang terdengar.

 

“Di sebuah negara bernama Korea Selatan, tepatnya di kota Seoul” binaran bahagia terpancar jelas di wajah sang ibu yang beberapa hari ini hanya menampakan raut kesedihan.

 

“Cepat perintahkan kepada pengawal untuk menjemputnya”

 

“Tapi…” Arion menunduk, ragu untuk mengatakan kabar tidak mengenakan kepada kedua orangtuanya ini.

 

“Tapi kenapa?” tatapan cemas kali ini mendominasi wajah kedua orangtuanya.

 

“Narmedia sayap hitam sudah lebih dulu menemukannya, Ayahanda. Dan sekarang mereka semua sudah memerintahkan pengawalnya untuk turun ke bumi”

 

“APA?”

 

Brukk

 

Arion dan sang ayah langsung menoleh begitu mendengar suara debuman. Dihampirinya sanga istri yang terduduk lemas dengan berurai air mata.

 

“Tidak. Tidak. Putriku tidak akan dimusnahkan. Tidak”

 

“Ibunda. Aku berjanji Arene tidak akan mendapat hukuman itu. Dan aku berjanji akan segera membawa Arene pulang sebelum mereka membawanya pulang”

 

“Cepat perintahkan semua pengawal” sang ayah menatap Arion dengan tatapan penuh harap. Orangtua mana yang rela membiarkan anaknya menanggung sebuah hukuman.

 

“Baik, Ayahanda” Arion mengangguk dan meninggalkan kedua orangtuanya meskipun masih berat hati melihat sang ibu yang terduduk lemas dipelukan sang ayah.

 

Dia berjanji akan membawa adiknya kembali, dan tidak ada yang boleh menyentuh apalagi menghukum adiknya. Tidak. Dia akan pasang badan lebih dulu untuk melindungi adiknya.

 

***

 

Shin Rin tengah menyiram tanaman dengan perasaan yang lebih ringan. Entahlah, dia juga tidak tahu kenapa pagi ini terasa lebih ringan untuknya. Mungkinkah karena bunga-bunga ini yang bermekaran. Atau karena Kyu Hyun yang mengecup keningnya?

 

Benar sekali dengan penuh kesadaran, Kyu Hyun mengecup keningnya. Tadi sebelum berangkat, tiba-tiba saja Kyu Hyun mengecup keningnya, entah karena apa. Tentu saja Shin Rin syok. Namun dia bahagia. Mungkinkah Kyu Hyun juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya? Ia berharap seperti itu, namun lebih baik tidak. Shin Rin tidak ingin saat ia meninggalkan Kyu Hyun, ada yang tersakiti. Lebih baik Kyu Hyun tidak mencintai seperti ia mencintai Kyu Hyun. Dengan begitu, Shin Rin akan lebih mudah meninggalkan Kyu Hyun. Biarlah ia yang tersakiti karena tidak bisa bersama orang yang ia cintai. Tapi tidak untuk Kyu Hyun.

 

Shin Rin tersentak begitu ia merasakan ada yang menyentuh pipinya. Ditatapnya benda itu. Sekarang tubuhnya menegang. Bulu berwarna hitam. Tiba-tiba saja perasaan takut melingkupinya. Apakah Narmedia sayap hitam sudah tahu kalau ia kabur dari surga? Ia yakin kalau bulu yang ia pegang saat ini adalah bulu dari sayap Narmedia bersayap hitam. Berarti kalau pun dia kembali lagi, Shin Rin tidak akan pernah selamat. Oh Tuhan, apa yang harus ia lakukan?

 

***

 

Shin Rin kembali menatap bulu berwarna hitam yang ia pegang. Apa yang harus ia lakukan saat ini? Ia yakin kalau Narmedia sayap hitam tengah mencarinya. Haruskah ia kembali saat ini. Tetap saja dia tidak akan selamat. Di surga tau pun di sini, dia tetap akan ditangkap dan diadili karena telah melanggar peraturan. Dan dia tahu hukuman apa yang akan Shin Rin terima. Dimusnahkan. Tidak. Dia tidak mau. Shin Rin masih ingin bersama orang-orang terkasihnya, terlebih ia masih ingin mengawasi Kyu Hyun meskipun dari jauh.

 

Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Shin Rin merutuki keputusannya dulu. Tapi tidak. Saat mengambil keputusan saat itu dia sedang sadar dan tahu resiko ini. Dia sudah siap menerima apapun hukuman kalau ia ketahuan. Tapi….

 

Ditatapnya langit yang dihiasi bintang berkelap-kelip. Sangat indah, tapi untuk saat ini Shin Rin tidak bisa menikmati keindahan malam itu.

 

“Kau sedang apa?” Shin Rin tersentak dan buru-buru menyembunyikan bulu itu di saku jaketnya.

 

“Aku hanya sedang menikmati malam yang penuh bintang” Shin Rin kembali menatap langit mencoba menikmati indahnya malam meskipun dipikirannya masih banyak kemungkinan-kenungkinan terjadi kalau ia kembali entah hari ini, esok atau kapanpun itu.

 

Kyu Hyun menatap Shin Rin dengan sendu. Dia tahu kalau Shin Rin tidak menikmati indahnya malam, dia hanya menatap jauh dengan pandangan kosong. Sedari tadi Kyu Hyun sudah mengamati tingkah Shin Rin, dan dia tahu ada kesedihan dari tatapan Shin Rin.

 

Setiap menatap langit hitam penuh bintang itu, Kyu Hyu melihat ada kerinduan yang mendalam dalam tatapannya. Kyu Hyun tahu kalau Shin Rin merindukan tempat asalanya.

 

Kyu Hyun berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah atapnya. Shin Rin merasakan Kyu Hyun meninggalkannya sendirian. Tatapannya kembali ke langit malam. Tidak dapat dipungkiri kalau dia juga merindukan tempat asalnya, ibunya, ayahnya dan kakaknya. Sebenarnya dia ingin sekali kembali, tapi sekali lagi, keinginan terbesarnya saat ini bersama dengan Kyu Hyun, bersama dengan orang yang ia cintai. Biarkan ia menghabiskan sisa-sisa waktunya bersama Kyu Hyun sebelum ia tidak bisa melihat Kyu Hyun selamanya.

 

Shin Rin tersentak begitu merasakan genggaman tangan seseorang di tangan kirinya yang tengah memegang erat pagar pembatas. Menoleh ke samping kiri, senyuman Kyu Hyun yang ia lihat. Dibalasnya senyuman menentramkan itu. Namun ada yang aneh, ditatapnya punggung Kyu Hyun. Senyuman haru yang sekarang terkembang

 

Kyu Hyun. Dia, saat ini tengah memakai sayap palsu berwarna putih. Mungkinkah Kyu Hyun tahu kalau ia merindukan tempat tinggalnya? Mungkinkah Kyu Hyun tahu perasaanya sekarang?

 

Setetes air mata mengalir di pipinya. Melihat itu, tangan Kyu Hyun terulur menghapusnya.

 

Uljima. Aku tahu kau merindukan tempat asalmu” tanpa berpikir apa-apa lagi, Shin Rin mendekap tubuh tinggi Kyu Hyun dengan erat. Pelukan tiba-tiba itu tentu saja membuat Kyu Hyun terkejut. Namun itu tidak berlangsung lama. Dibalasnya dekapan, yang entah bagaimana terasa hangat dan menjalar ke relung hatinya. Ingin rasanya ia menghentikan waktu untuk hari ini. Kyu Hyun ingin lebih lama merasakan dan meresapi dekapan hangat ini. Menyimpannya di relung hati yang terdalam. Karena mungkin suatu saat dia tidak bisa merasakan dekapan hangat ini. Dia tahu itu, suatu saat Shin Rin akan kembali ke tempat asalnya. Dan Kyu Hyun berusaha mati-matian mempersiapkan dirinya untuk hari itu.

 

Mata Kyu Hyun melebar melihat Shin Rin tiba-tiba mengeluarkan sayapnya. Ini sangat indah. Berbeda sekali saat pertama kali ia melihatnya. Kali ini terasa bersinar, bahkan mampu menyilaukan Kyu Hyun. Bukan hanya bersinar, ini indah, sangat indah. Baru kali ini Kyu Hyun melihat sayap seindah ini—karena memang sebelumnya Kyu Hyun belum pernah melihat sayap bidadari.

 

Tangannya terulur ingin merasakan tekstur sayap itu di kulit tangannya. Halus, sangat halus. Indah, bersinar dan halus. Lengkap sudah. Bahkan pemiliknya juga sangat indah dan cantik. Senyuman Kyu Hyun terkembang. Dia tidak akan melupakan hari ini seumur hidupnya. Tidak akan pernah.

 

“Shin Rin-ssi, kau… punya sayap?”

 

Bersambung

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: