Narmedia [4-END]

narmedia

Title               : Narmedia Part 4 End

Category        : Fantasy, AU, Romance, Series

Cast                : Cho Kyu Hyun, Baek Shin Rin/Arene (OC)

Support Cast : Arion, Kim Jong Woon

Author            : SriMurni21/bsrBaek

Jangan Copy Paste, kalo tidak suka jangan dipaksain baca. Typo selalu hadir. RCL

Cover by ©bbonArt

FF ini adalah remake dari MV SM The Ballad Miss You dan disarankan saat membaca cerita ini, mendengarkan lagu SM The Ballad Miss You.

*Selamat Membaca*

Sebelumnya…

Mata Kyu Hyun melebar melihat Shin Rin tiba-tiba mengeluarkan sayapnya. Ini sangat indah. Berbeda sekali saat pertama kali ia melihatnya. Kali ini terasa bersinar, bahkan mampu menyilaukan Kyu Hyun. Bukan hanya bersinar, ini indah, sangat indah. Baru kali ini Kyu Hyun melihat sayap seindah ini—karena memang sebelumnya Kyu Hyun belum pernah melihat sayap bidadari.

 

Tangannya terulur ingin merasakan tekstur sayap itu di kulit tangannya. Halus, sangat halus. Indah, bersinar dan halus. Lengkap sudah. Bahkan pemiliknya juga sangat indah dan cantik. Senyuman Kyu Hyun terkembang. Dia tidak akan melupakan hari ini seumur hidupnya. Tidak akan pernah.

 

“Shin Rin-ssi, kau… punya sayap?”

 

Part 4

 

“Shin Rin-ssi, kau… punya sayap?” Kyu Hyun dan Shin Rin menoleh bersamaan begitu mendengar suara yang sangat mereka kenali. Dilepaskannya pelukan Kyu Hyun dan sayap yang ada di punggungnya kembali Shin Rin sembunyikan.

 

“Benarkah yang aku lihat barusan? Kau punya sayap? Kau…bukan manusia?” mata Shin Rin melebar. Apa yang harus ia katakan? Kenapa ia bisa sebodoh ini mengeluarkan sayapnya. Tapi ‘kan yang Shin Rin tahu, hanya ada mereka berdua. Dia tidak tahu kalau misalnya ada orang yang datang.

 

“Jong Woon Hyung… ada apa kau kemari?” Kyu Hyun berjalan menghampiri orang tersebut berusaha mengalihkan perhatiannya.

 

Eo—eoh? Tadinya aku ingin berkunjung. Tapi…” Jong Woon kembali menatap Shin Rin lekat membuat yang ditatap tidak bisa berkutik.

 

“Jadi…? Apakah Shin Rin-ssi… bukan manusia?” Jong Woon menatap Shin Rin penuh selidik.

 

“Emm… begini Hyung… aduh bagaimana menjelaskannya ya?” Kyu Hyun bergerak gelisah menggaruk lehernya tidak menentu.

 

Wae? Ada yang kalian sembunyikan?” sekarang tatapan penuh selidik Jong Woon mengarah pada Kyu Hyun.

 

“Emm… Hyung ingat ‘kan saat beberapa hari yang lalu aku datang terlambat?” Kyu Hyun mencoba mengartikan tatapan Jong Woon yang tengah menatapnya. Namun, entahlah, seolah Jong Woon memiliki tembok besar di wajahnya yang tidak dapat ditembus. Kyu Hyun tidak dapat mengartikan raut wajahnya. “Saat itu…”

 

“Yang kau lihat memang benar, Jong Woon-ssi. Aku bukan manusia” baik Jong Woon maupun Kyu Hyun sama-sama menoleh ke arah Shin Rin yang dengan lantang mengakui dirinya sendiri.

 

“Maksudmu?”

 

“Aku akan menjelaskannya, tapi tidak di sini”

 

“Kalau begitu, lebih baik kita masuk ke dalam” Kyu Hyun menghampiri Shin Rin dan merangkul bahunya.

 

Jong Woon yang melihat itu tentu saja terkejut. Baru kali ini ia melihat Kyu Hyun bersikap lembut. Biasanya ia bersikap lembut saat ada maunya, tapi kali ini lain. Dan Jong Woon… entahlah, dia seperti melihat ada yang lain dari tatapan Kyu Hyun.

 

Hyung, masuklah” Jong Woon tersadar dari keterpakuannya. Buru-buru dia masuk ke dalam rumah Kyu Hyun.

 

***

 

“Jadi?” Jong Woon menatap lekat gadis yang duduk di hadapannya.

 

Hyung, jangan paksa dia” Kyu Hyun menyentuh lengan kiri Jong Woon mencoba menghentikan tatapan—entah tatapan seperti apa—mengarah ke Shin Rin.

 

“Emm… aku… aku sebenarnya… makhluk bernama Narmedia… aku—“

 

“Tunggu. Narmedia? Makhluk apa itu?” Jong Woon bungkam seketika begitu mendapat tatapan tajam dari Kyu Hyun. Oke, baru kali ini juga ia mendapat tatapan setajam itu. Dan ternyata sangat menakutkan. Jong Woon tidak menyangka kalau Kyu Hyun yang ia tahu hanya bisa bersikap seenaknya dan manja, memiliki tatapan yang sangat mengerikan.

 

“Makanya dengarkan dulu, jangan asal potong” Jong Woon hanya mengangguk patuh dan kembali fokus ke arah Shin Rin.

 

“Narmedia itu makhluk dari surga, kam—“

 

“Maksudmu malaikat?”

 

Hyung!”

 

Arasseo

 

“Bukan. Kami memang sama seperti malaikat tapi kami bukan malaikat. Tugas kami hanya menjemput roh manusia yang telah meninggal dan menemaninya di surga. Kami makhluk abadi, tapi apabila melanggar kami akan mendapat hukuman”

 

“Hukuman? Hukuman apa?” kali ini Kyu Hyun yang menyuarakan pertanyaan yang berputar-putar di otaknya. Pasalanya dia juga baru tahu kalau Shin Rin itu adalah makhluk seperti itu.

 

“Dimusnahkan” Kyu Hyun dan Jong Woon hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

 

“Pelanggaran apa yang bisa mendapat sanksi seperti itu?”

 

“Turun ke dunia manusia” baik Kyu Hyun maupun Jong Woon menatap Shin Rin dengan terkejut. Tunggu dulu. Kalau begitu… Shin Rin…

 

“Maksudmu… kau…” Kyu Hyun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Entahlah, ada sebagian dari hatinya yang tidak menginginkan Shin Rin mendapat hukuman itu.

 

“Ya. kau benar. Kalau aku sampai tertangkap aku akan dimusnahkan” Kyu Hyun masih berperang dengan akal dan hatinya yang tidak bisa menerima ini semua. Tidak. Dia tidak ingin berpisah dengan Shin Rin.

 

Sedangkan Jong Woon masih mencerna apa saja yang diucapkan Shin Rin. Ini tidak masuk akal. Memangnya di dunia ini ada makhluk seperti itu. Ingin sekali dia menyangkal ini semua tapi buktinya sudah ada di depan mata. Haruskah ia mempercayainya?

 

“Dan ini” Shin Rin menyodorkan sesuatu yang tadi ia sembunyikan di dalam saku jaketnya.

 

“Apa ini?” Jong Woon mengambil dan meneliti benda tersebut. Bulu? Bulu apa ini? Bulu unggas kah?

 

“Itu bulu sayap Narmedia sayap hitam. Mereka bertugas untuk memberikan dan mengeksekusi Narmedia sayap putih yang melanggar”

 

“Jadi, maksudmu. Mereka sudah menemukan keberadaanmu?”

 

“Bisa dibilang seperti itu” Shin Rin menundukan kepalanya. Matanya terasa panas, pandangannya mulai mengabur.

 

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya. Bangkit berdiri dan menghampiri tempat duduk Shin Rin. Digenggam erat kedua tangan Shin Rin. Jong Woon hanya menatap Kyu Hyun tidak mengerti. Kenapa seolah-olah Kyu Hyun tidak ingin kehilangan Shin Rin.

 

Shin Rin mendongak, menatap mata teduh Kyu Hyun. Seketika itu juga cairan yang sedari tadi ditahannya mengalir di pipinya.

 

Tangan Kyu Hyun terulur menghapus air mata Shin Rin. Namun, semakin air mata itu dihapus, justru semakin deras mengalir.

 

“Jadi, sekarang apa yang akan kau lakukan?” Shin Rin menoleh menatap Jong Woon, dan tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan Jong Woon.

 

Apa yang akan ia lakukan? Shin Rin sendiri pun tidak tahu apa yang akan ia lakukan untuk saat ini. Kembali lagi ke tempat asalnya itu sudah tidak mungkin. Pasti pengawal Narmedia sayap hitam sudah tersebar dimana-mana. Dan kalau ia sampai berkeliaran di luar, bisa-bisa ia tertangkap.

 

“Entahlah, aku tidak tahu” Kyu Hyun mengenggam erat tangan Shin Rin yang tiba-tiba saja menjadi dingin.

 

Geurae. Lebih baik sekarang kau istirahat saja. Masalah ini kita pikirkan besok saja” Jong Woon menganggukan kepalanya seraya bangkit berdiri.

 

“Kau mau kemana, Hyung?” Kyu Hyun mendongak menatap Jong Woon.

 

“Hari sudah larut malam. Aku harus pulang” Kyu Hyun dan Shin Rin ikut bangkit dan berjalan mengikuti Jong Woon menuju pintu keluar.

 

“Aku pulang dulu”

 

Ne. Hati-hati, Hyung” Jong Woon hanya melambaikan tangannya.

 

Begitu bayangan Jong Woon sudah menghilang, Kyu Hyun segera menutup pintu dan menguncinya. Dihampirinya Shin Rin yang tengah berjalan menuju ranjang.

 

“Sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu” Kyu Hyun ikut duduk di samping Shin Rin.

 

“Emm. Selamat malam Kyu Hyun-ah” Shin Rin membaringkan tubuhnya dan mencoba menutup kedua matanya meskipun bayang-bayang tentang ia yang akan tertangkap terlintas di benaknya.

 

Kyu Hyun yang melihat guratan kecemasan di raut wajah Shin Rin hanya mampu mengusap puncak kepala Shin Rin. Entahlah, kalau dia bisa ingin sekali menolong Shin Rin. Tapi, apa ia bisa?

 

Kyu Hyun menaikan selimut Shin Rin sampai sebatas leher, sekali lagi diusapnya kepala Shin Rin. Meski hasrat untuk mendaratkan ciuman di kening Shin Rin sangat kuat tapi ia harus menahannya. Tidak tidak. Apa yang akan Shin Rin katakan tentang dirinya kalau sampai ia lancang mencium Shin Rin.

 

Dimatikannya lampu yang menggantung dan dinyalakan lampu tidur di nakas samping kanan ranjang.

 

Kyu Hyun melangkah menuju sofa dan merebahkan tubuhnya. Rasanya lelah sekali. Entahlah, padahal tidak terlalu banyak pekerjaan di studio hari ini.

 

Mencoba memejamkan mata dan melupakan tentang cerita Shin Rin. Namun, esok hari ia harus memikirkannya. Memikirkan cara menyelamatkan Shin Rin.

 

***

 

“Jangan ada yang bergerak sebelum aku memberi perintah. Untuk saat ini kita pantau dulu setiap gerak-geriknya. Jangan sampai ada bangsa manusia yang mencurigai kita” para pengawal itu kompak mengangguk dan kembali memperhatikan rumah yang telihat sepi.

 

“Baik Yang Mulia”

 

Tatapan tajam milik pemimpin Narmedia sayap hitam tidak pernah lepas dari rumah itu. Lengah sedikit, bisa saja terjadi sesuatu dengan rumah itu—lebih tepatnya orang yang menghuni rumah itu.

 

Sebenarnya ‘dia’ sudah sangat ingin menangkap putri pembangkang pemimpin Narmedia sayap putih itu. Semenjak pengawalnya memberitahu bahwa Arene ditemukan, ‘dia’ sudah ingin turun ke bumi. Tapi harus ditahannya, ‘dia’ tidak mau terburu-buru. Oh, Arene itu sangat cerdas. Buktinya dia bisa melarikan diri ke dunia manusia tanpa ketahuan. Tunggu sampai mereka lengah, baru bergerak.

 

Perhatian mereka terfokus pada seorang laki-laki yang baru saja keluar dari rumah itu dengan kamera yang tergantung di lehernya.

 

“Siapa laki-laki itu?” sang pemimpin segera menoleh pada anak buahnya yang tiba-tiba bertanya tentang laki-laki itu. Yang ditatap segera menunduk meminta maaf karena sudah bertingkah lancang.

 

“Dia pemuda yang sudah menolong Arene” kembali tatapan tajam itu mengarah ke arah pemuda yang dengan santainya berjalan menuju halte seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

 

“Yang Mulia, haruskah kita memusnahkan pemuda itu?”

 

“Tidak perlu. Hanya hilangkan saja memori tentang bangsa Narmedia” tatapan tajam mereka masih mengikuti setiap pergerakan pemuda itu, meskipun bayangan sang pemuda hilang bersamaan dengan bergeraknya alat transportasi yang ia tumpangi.

 

***

 

“Shin Rin-ah, aku berangkat. Jangan keluar rumah kalau tidak ada yang mendesak dan hanya membeli makan. Jangan membukakan pintu untuk orang lain kalau bukan aku atau Jong Woon Hyung, mengerti?” Kyu Hyun meremas bahu Shin Rin dan menatapnya lekat.

 

Shin Rin hanya mengangguk menanggapi semua yang Kyu Hyun katakan. Tapi kalau dipikir-pikir itu seperti kata-kata ayah kepada anaknya. Ya apapun itu sebutannya.

 

“Oh iya, ini uang untuk membeli makanan. Maaf aku belum bisa menyediakanmu makanan. Dan kau harus hati-hati saat membeli makanan. Jangan yang terlalu jauh. Di perempatan depan sana ada sebuah kedai, beli saja dari situ” kembali Shin Rin mengangguk dan menerima tiga lembar uang pecahan sepuluh ribuan.

 

“Aku pergi” Kyu Hyun berbalik tapi masih menolehkan pandangannya ke arah Shin Rin. Entahlah, dia merasa berat meninggalakan Shin Rin sendirian di rumah. Perasaannya tidak enak.

 

Shin Rn melambaikan tangannya ke arah Kyu Hyun yang sudah hilang di balik pintu. Ditatapnya uang yang tadi Kyu Hyun berikan. Meskipun tidak tahu itu nominalnya berapa, tapi Shin Rin tidak bertanya. Dimasukannya uang tersebut ke dalam saku celananya.

 

Shin Rin mendudukan dirinya di sofa yang biasa Kyu Hyun pakai untuk tidur. Pandangannya mengarah ke sekitar. Baru ditinggal sebentar oleh Kyu Hyun tapi dia sudah merasakan kebosanan. Diambilanya remote yang ada di meja, dan menyalakan televisi.

 

Setelah beberapa kali mengganti chanel tapi tidak ada tayangan yang menarik perhatian Shin Rin, akhirnya dia memutuskan untuk mematikannya kembali dan melangkah menuju ranjang tidur.

 

Direbahkannya tubuh di ranjang yang hanya cukup untuk satu orang, pandangannya mengarah ke langit-langit kamar—tepatnya langit biru yang berhiaskan awan putih. Dengan memandang langit itu perasaan rindu akan tempat tinggalnya kembali menghinggapi diri Shin Rin. Di dalam benaknya dia bertanya-tanya, sedang apa mereka di sana? Orangtuanya? Kakaknya? Dan yang lainnya?

 

Sedang asik-asiknya memandangi langit biru dan awan putih, tiba-tiba saja hiasan langit itu ternodai oleh bayangan hitam yang melintas. Shin Rin tersentak dan terbangun. Tentu dia tidak bodoh akan hal yang baru saja terjadi. Kenapa secepat ini mereka bergerak? Shin Rin baru saja menikmati hari-harinya bersama orang yang sangat ia harapakan meskipun sulit untuk dimiliki.

 

Shin Rin bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir memikirkan kejadian tersebut.

 

Kalau sudah seperti ini, berarti dia memang harus benar-benar pulang. Dia tidak mau Kyu Hyun mendapatkan masalah dengan terus-terusan menyembunyikannya. Bagaimanapun juga Shin Rin tetap harus mengahadapinya. Tapi untuk saat ini dia belum siap. Itu yang membuatnya bimbang.

 

“Bagaimana ini?”

 

***

 

Kyu Hyun menatap kosong ke arah jalanan yang banyak dilalui kendaraan, dia masih duduk termangu menunggu kedatangan bus yang akan mengantarkannya ke tempatnya bekerja. Tapi bukan karena busnya yang sedikit lebih lama membuatnya melamun, namun perasaan tidak enaknya dan khawatirnya yang membuat ia termangu.

 

Sedari meninggalkan Shin Rin sendirian di rumah atapnya, dia hanya memikirkan Shin Rin. Entahlah, tapi perasaanya tidak enak dan khawatir. Seperti sesuatu akan terjadi.

 

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya begitu bus yang ia tunggu sudah tiba. Mungkin memang hanya perasaannya saja. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Lagian tadi juga Kyu Hyun sudah mewanti-wanti kepada Shin Rin untuk tetap tinggal di rumah selama ia tidak ada, ya kecuali kalau Shin Rin mencari makan, tapi itu juga tidak akan terlalu jauh. Kedai yang tadi Kyu Hyun sebutkan, mungkin hanya sekiar seratus meter dari tempat tinggalnya. Jadi itu tidak terlalu jauh.

 

Mungkin Kyu Hyun terlalu mengkhawatirkan keadaan Shin Rin setelah mendengar ceritanya semalam, jadi dia lebih waspada. Padahal sebelum-sebelumnya, dia selalu meninggalkan Shin Rin sendiri di rumah tidak pernah terjadi apa-apa. Ya, sepertinya Kyu Hyun terlalu mengkhawatirkannya saja.

 

Kyu Hyun duduk di kursi paling belakang, karena memang itu tempat yang masih kosong dan mencoba menghilangkan perasaan tidak enak serta khawatir berlebihannya itu dengan memejamkan matanya.

 

***

 

Arion berjalan mengendap-ngendap di antara pepohonan dan menyembunyikan dirinya di sana. Sesekali mengintip Narmedia sayap hitam yang tengah bersiap-siap turun ke bumi. Arion melongokan kepalanya untuk menatap keadaan di bawah langit. Tempat apa yang akan menjadi pendaratan Narmedia sayap hitam. Hutan kota. Karena memang di sana tempatnya yang sepi dari aktivitas manusia dan juga rimbunan pepohonan dapat menghalangi pandangan orang-orang.

 

Arion mencari-cari tempat yang pas untuk dirinya turun tanpa ketahuan oleh Narmedia sayap hitam, karena ternyata yang turun hanya pengawalnya saja, itu juga terdiri dari dua Narmedia sayap hitam.

 

Setelah menemukan, Arion segera bersembunyi di tempat itu yang terhalang oleh pohon besar, dan saat turun juga akan terhalang oleh awan. Jadi dia bisa aman.

 

Arion menunggu mereka turun, setelah menunggu beberapa saat baru dia juga akan turun di tempat Narmedia sayap hitam mendarat. Tentu saja dia tidak mau mengambil resiko ketahuan. Bisa-bisa dia juga tertangkap dan tidak bisa menolong adiknya.

 

Kembali Arion melongkan kepalanya ke bawah, mereka sudah tidak terlihat. Ini saatnya giliran Arion yang mencoba turun. Ada perasaan ragu yang menderanya, tapi setelah menepis perasaan ragu itu, dengan mantap Arion mengepakan sayap putihnya, memejamkan matanya dan melompat ke bawah.

 

Tubuhnya serasa melayang—Arion ‘kan memang melayang, dibuka kembali matanya, dan dia sempat merasa takjub melihat pemandangan yang ia lihat dari atas sini. Oh tidak tidak. Bukan saatnya untuk mengagumi keindahan yang terpampang nyata di hadapannya.

 

Arion mencoba membidik tempat yang enak dan tidak terlihat untuknya mendarat. Dapat.

 

Arion mendarat dengan mulusnya di antara pepohonan yang rimbun. Kakinya sudah berpijak di tanah. Disembunyikannya sayap putih itu di punggungnya. Untuk beberapa saat, Arion merasa takjub karena ia sudah berhasil mendarat di dunia manusia seperti yang ia impikan sejak dulu. Ternyata seperti ini dunia manusia. Namun ingat akan tujuannya kemari, Arion cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

 

Setelah berjalan sedikit, akhirnya ia menemukan jalan setapak, namun yang membuatnya bingung, harus jalan mana yang ia ambil. Ke kanan atau ke kiri? Berkali-kali telunjuknya mengarah ke arah kanan dan kiri, tapi ia belum bisa menentukan.

 

“Aku harus ke mana?” Arion menggaruk kepalanya. Sayup-sayup ia mendengar suara yang tengah berbicara, buru-buru ia menyembunyikan tubunya di balik pohon besar.

 

“Ini sudah siang hari. Aku yakin kalau nona Arene akan keluar dari rumah itu untuk mencari makan. Saat itu baru kita tangkap dia” Arion membulatkan matanya mendengar percakapan—entah siapa itu, namun Arion yakin kalau mereka adalah pengawal dari Narmedia sayap hitam. Ia harus bergegas menemukan adiknya sebelum mereka yang menemukan.

 

Arion segera berlari mengambil jalan berlawanan arah dari pengawal yang tadi. Entahlah akan ke mana ia, yang terpenting sekarang ia harus menemukan adiknya terlebih dahulu.

 

***

 

Kryuuk…. Kryuukkk…

 

“Aku lapar” Shin Rin mengusap perutnya yang baru saja mengeluarkan bunyi nyaring. Diliriknya jam yang tergantung di atas televisi. Jarum pendek menunjukan angka 1 dan jarum panjang menunjukan angka 3. Oh pantas saja dia merasa lapar.

 

Shin Rin bangkit dengan wajah bangun tidurnya. Karena tadi dia bingung mau apa dan karena kebosanan yang melanda, ia memutuskan untuk tidur saja. Tapi karena bunyi perutnya yang tidak bisa diajak kompromi, akhirnya ia terbangun dari mimpi indahnya.

 

Berjalan menuju kamar mandi hanya sekedar mencuci muka.

 

Shin Rin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lumayan segar meskipun kadang-kadang ia menguap.

 

Diambilnya jaket yang tergeletak di sofa, dan memakainya.

 

Dengan ragu-ragu, dia menyentuh kenop pintu. Haruskah ia keluar rumah? Tapi kalau tidak, Shin Rin sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Bagaimana ini?

 

Dengan ketekatan hati, akhirnya Shin Rin memutar kenop pintu itu dan membukanya dengan perlahan. Semilir angin menerpa tubuhnya membuat rambut panjangnya berkibar.

 

Shin Rin menatap sekitar, takut-takut ada yang memata-matainya. Namun, dirasa sudah aman, Shin Rin berjalan dengan perlahan meninggalkan rumah menuju kedai yang tadi Kyu Hyun sebutkan.

 

Karena merasa tidak ada yang mengikuti, Shin Rin melangkah dengan langkah ringan dan riang. Namun, tanpa disadarinya ada dua pasang mata yang mengawasinya semenjak ia keluar rumah sampai masuk ke dalam kedai yang Shin Rin masuki.

 

***

 

“Di mana ini? Kenapa aku bisa sampai di tempat ramai ini?” Arion dengan wajah kebingungan dan mengabaikan pandangan orang-orang yang menatapnya bingung serta ada juga yang menatapnya kagum. Jangan ditanya lagi kenapa orang-orang bisa menatapnya takjub. Dia memiliki paras yang rupawan, badan tinggi, atletis pula, kulit putih, hidung mancung. Oh siapa yang tidak terpesona.

 

Arion menatap orang-orang yang menatapnya, sesekali ia melihat penampilannya sendiri. Tidak ada yang aneh. Hampir sama seperti kaum laki-laki pada umumnya. Arion mengendikan bahunya tidak peduli. Lebih baik ia segera mencari keberadaan adiknya.

 

Arion menunggu lampu merah yang masih menyala hijau bersama orang-orang. Namun ia sedikit terganggu dengan keberadaan gadis di samping kirinya yang sesekali mencuri pandang ke arahnya. Bergeser sedikit ke arah kanan, kebetulan ada pria paruh baya di sampingnya, Arion segera berpindah dan tubuhnya terhalangi oleh pria paruh baya itu.

 

Setelah lampu untuk pejalan kaki berubah hijau, Arion buru-buru melangkah, tidak ingin berurusan dengan manusia.

 

“Dasar manusia aneh” Arion hanya menggerutu dan kembali fokus pada jalanan, sesekali pandangannya mengarah ke sekitar, siapa tahu saja adiknya ada di antara orang-orang yang berlalulalang.

 

***

 

Shin Rin tengah berjalan santai dan sesekali membaui bungkusan yang ia tenteng. Ia sudah tidak sabar untuk menyantapnya. Tengah asik-asiknya membaui bungkusan yang ia bawa, tiba-tiba jalannya dihadang oleh dua orang berbadan kekar. Shin Rin mendongak untuk melihat siapa yang sudah menghadang jalannya. Namun, betapa terkejutnya ia. Ternyata yang menghadang adalah pengawal Narmedia sayap hitam.

 

“Nona. Mohon maaf, anda harus segera ikut kami” suara tegas dan menggelegar milik salah satu pengawal itu membuat Shin Rin ketakutan. Pandangannya mengarah tak tentu, tangannya menggenggam dengan kuat bungkusan yang ia bawa, kakinya mundur perlahan. Bagaimana ini? Kalau sudah begini ia tidak akan selamat.

 

“Ak—aku…” dengan secepat kilat, Shin Rin berbalik dan berlari sekuat tenaga. Tidak mungkin ‘kan ia mengeluarkan sayapnya untuk saat ini.

 

Kedua pengawal itu tersentak, dan segera ikut berlari menyusul Shin Rin yang entah bagaimana caranya bisa berlari secepat itu.

 

Sesekali Shin Rin menengok ke belakang. Shit! Mereka ada di belakang. Shin Rin kembali menambah kecepatan larinya.

 

Shin Rin menatap ke depan, oh tangga rumah atap Kyu Hyun sudah terlihat, dia harus bergegas.

 

Saat tangannya baru saja akan menggapai kenop pintu, tiba-tiba saja bungkusan yang ada di tangannya terlempar dan tubuhnya terasa tertarik ke belakang. Shin Rin berusaha memberontak tapi ia tidak bisa, tubuhnya terasa kaku.

 

“Arene” Shin Rin mendongak begitu mendengar ada yang memanggil dengan namanya. Matanya serasa berkabut, ia tidak bisa lagi menahan air matanya ini.

 

“Arion”

 

***

 

“Mungkinkah aku tersesat? Konyol sekali” Arion terus berjalan sesuai dengan kata hatinya dan kemana saja langkahnya membawa tubuhnya.

 

Langkahnya terhenti di sebuah perempatan. Arion kembali menggaruk kepalanya. Jalan mana yang harus ia ambil? Saat menengok ke a ah kiri, matanya melihat seseorang yang sangat ia kenal. Dari postur tubuh gadis itu seperti tubuh adiknya. Tiba-tiba saja ada yang menghadang jalan gadis itu. Mata Arion membulat, sekarang ia yakin kalau itu adalah adiknya. Oh ia terlambat, adiknya tidak akan selamat.

 

Arion segera berlari begitu gadis itu—adiknya—berlari menghindari dua orang bertubuh kekar itu.

 

Arion melihat adiknya menaiki tangga sebuah rumah, diikuti kedua orang bertubuh kekar itu, dipercepat kembali larinya itu.

 

Terlambat. Arion melihat adiknya yang kaku tidak bisa bergerak ditangan kedua pengawal itu.

 

“Arene”

 

“Arion”

 

“Tuan Arion? Apa yang anda lakukan disini? Anda bisa dimusnahkan bersama dengan adik anda” mata tajam Arion mengarah pada kedua pengawal itu.

 

“Aku tidak peduli. Sekarang lepaskan adikku”

 

“Maaf tuan. Kami tidak bisa”

 

“Ka—“

 

“Shin Rin-ah…”

 

***

 

“Kau kenapa, Kyu Hyun-ah?” Kyu Hyun mendongak dan kembali menatap layar komputer di hadapannya. Namun pikirannya entah berada di mana.

 

“Entahalah, Hyung. Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak” Kyu Hyun menopangkan dagunya dan memejamkan matanya.

 

“Lebih baik kau pulang saja. Kalaupun dipaksakan, pekerjaanmu tidak ada yang beres” Kyu Hyun hanya mengangguk dan segera bangkit, membereskan barang-barangnya.

 

Kenapa tidak dari tadi saja menyuruh Kyu Hyun pulang. Setelah mengacaukan segalanya. Sedari tadi Kyu Hyun tidak fokus pada pekerjaannya, membuat gambar yang ia ambil selalu gagal dan membuat sang model menggerutu karena harus terus berpose tapi tidak ada hasil yang memuaskan.

 

“Aku pulang, Hyung

 

Eoh. Hati-hati” Jong Woon menatap punggung Kyu Hyun yang berjalan lesu. Jong Woon sudah tahu, kalau Kyu Hyun mulai tidak fokus pada pekerjaannya pasti ada yang Kyu Hyun pikirkan. Hanya saja kali ini ia tidak tahu apa yang mengganggu pikiran Kyu Hyun. Mungkinkah gadis yang tinggal di rumahnya? Entahlah. Jong Woon hanya mengendikan bahunya dan kembali ke kesibukannya.

 

***

 

Dengan langkah gontai, satu per satu Kyu Hyun menaiki anak tangga yang mengantarkannya ke rumah atapnya. Namun ada sesuatu yang mengganjal. Kenapa ada orang lain di rumahnya?

 

Ditatapnya heran punggung seseorang yang menghalangi pandangan Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun melangkah melewati orang tersebut, dan kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Namun betapa terkejutnya ia melihat Shin Rin yang berdiri di antara dua orang berbadan kekar dengan tangan yang dicengkram oleh salah satu diantara dua orang itu. Tiba-tiba saja perasaan marah melingkupi dirinya. Kyu Hyun marah melihat orang itu mencengkram Shin Rin sampai-sampai tubuh Shin Rin kaku tidak bisa bergerak—menurutnya.

 

“Shin Rin-ah…”

 

“Kyu Hyun-ah…” sekarang perasaan sakit yang mendera hatinya begitu melihat air mata Shin Rin jatuh. Kembali tatapan tajam mengarah pada dua orang itu.

 

Dengan membanting tas dan kamera yang menggantung di lehernya, Kyu Hyun berlari ingin menerjang kedua orang itu. Namun, belum sempat kepalan tangannya yang mengepal sampai diantara dua orang ini, tubuh Kyu Hyun sudah lebih dulu terpental dan terjatuh dengan menghantam pot-pot tanaman.

 

Melihat itu, Shin Rin berusaha melepaskan diri namun tidak bisa. Air matanya semakin deras mengalir begitu melihat Kyu Hyun yang tergeletak.

 

Arion yang melihat tindakan nekat Kyu Hyun terkejut. Ditatapnya dua orang itu. Belum sempat kakinya melangkah, tubuhnya terasa kaku. Salah satu diantara dua orang itu menatap Arion lekat yang bisa dipastikan membuat tubuh Arion tidak bisa digerakan.

 

“Akhh…” Kyu Hyun bangkit dan kembali melangkah mendekati dua orang itu meskipun sekujur tubuhnya merasakan sakit. Tapi dia tidak peduli, ia harus bisa menyelamatkan Shin Rin.

 

Brukk

 

“Argghh” kembali ringisan terdengar begitu tubuh Kyu Hyun kembali terlempar.

 

Shin Rin semakin berontak ingin lepas. Namun semakin ia berontak, tubuhnya terasa semakin kaku. Ia hanya bisa menangis.

 

Shin Rin mencoba memejamkan matanya, memusatkan pikirannya dan mengumpulkan kekuatannya. Tiba-tiba Shin Rin merentangkan kedua tangannya, sayap yang tersembunyi terbuka lebar dan dua orang yang menahannya terlempar jauh.

 

Arion jatuh terduduk dengan tubuh yang lemas begitu tatapan pengawal itu terlepas yang membuat tubuhnya terbebas, Shin Rin menghampirinya, namun Arion menggelengkan kepalanya dan telunjuknya mengarah ke tubuh Kyu Hyun yang tergeletak.

 

Air mata tak terbendung lagi di pelupuk mata Shin Rin. Dihampirinya Kyu Hyun, dipangkunya kepala Kyu Hyun.

 

“Kyu Hyun-ah, bangun. Ayo bangun” Shi Rin menepuk-nepuk pipi Kyu Hyun, namun Kyu Hyun tak kunjung bangun.

 

“Kyu Hyun-ah” dengan lemah, Kyu Hyun membuka matanya, senyuman terukir di bibir Kyu Hyun.

 

“Shin Rin-ah” Kyu Hyun menyentuh pipi Shin Rin, menghapus air mata yang mengalir. Digenggam erat tangan Kyu Hyun yang berada di pipinya.

 

“Shin Rin-ah, aku… rasa… aku menyukaimu dan maafkan aku” air mata Shin Rin kembali mengalir dengan derasnya mendengar pengakuan Kyu Hyun. Ia bahagia? Tentu saja. Namun kenyataan menohoknya. Kyu Hyun tidak boleh menyukainya.

 

“Aku juga menyukaimu, Kyu Hyun-ah. Bertahanlah” Kyu Hyun tersenyum. Tangan yang berada di pipi Shin Rin terkulai, dan dengan perlahan matanya tertutup.

 

“Kyu Hyun-ah, bangun. Kyu Hyun-ah” Shin Rin kembali menepuk-nepuk pipi Kyu Hyun. Namun, Kyu Hyun tak juga membuka kedua matanya.

 

“Kyu Hyun-ah…”

 

***

 

Epilog

 

Arene dan Arion saling menatap menunggu hukuman yang akan mereka jalani. Meskipun waktu itu mereka terbebas dari dua pengawal itu, tapi saat kembali mereka tidak bisa lagi terbebas. Apapun dan bagaimanapun juga mereka akan siap menerima sanksi itu.

 

Sayup-sayup terdengar ‘seseorang’ yang tengah membacakan peraturan dan juga pelanggaran yang mereka lakukan.

 

Tatapan mereka mengarah ke arah orangtuanya. Arene sudah tidak bisa menahan air matanya. Di dalam hati, ia terus meminta maaf karena sudah mengecewakan. Arion juga, meskipun tidak ada air mata, tapi dapat terlihat kalau sebenarnya dia menahan tangis. Arion juga berkali-kali meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya, malah dia juga sekarang ikut dihukum.

 

Arene dan Arion mengalihkan pandangannya, mereka sudah tidak sanggup melihat linangan air mata kedua orangtuanya.

 

Mereka menghadap sang eksekutor. Ditutupnya kedua mata mereka. Awalnya tidak terasa apa-apa, namun lama kelamaan mereka merasakan sekujur tubuhnya memanas, terdengar letupan-letupan api dari tubuh mereka, dan setelah itu mereka tidak tahu lagi apa yang terjadi.

 

***

 

Kyu Hyun terbangun dengan sekujur tubuh banjir dengan keringat. Ditangkupkannya wajah frustasinya.

 

“Mimpi itu lagi. Kenapa mimpi itu selalu datang? Siapa gadis itu?” Kyu Hyun menyibakan selimutnya dan turun dari ranjang. Dengan langkah gontai, dia melangkah menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti begitu kakinya menginjak sesuatu.

 

“Bulu? Bulu apa ini?” Kyu Hyun membulak-balikan bulu berwarna putih yang tengah ditatapnya. Namun sekelebat bayangan menghinggapinya. Saat ia tengah mengenakan sayap palsu dan mencoba menghibur seorang gadis. Dan tiba-tiba gadis itu memeluknya, yang mengejutkan, gadis itu mengeluarkan sayap di punggungnya. Tekstur dari sayap gadis yang ada di bayangannya sama dengan bulu yang saat ini ia pegang—begitu yang ia rasakan.

 

Kyu Hyun tersentak begitu bayangan itu kembali menghilang. Kepalanya terasa berputar. Entahlah, akhir-akhir ini ia sering sekali mengalami hal seperti itu. Banyangan tentang gadis yang entah ia pun tidak tahu selalu menghinggapinya bahkan sampai ke mimpi.

 

Tanpa mempedulikan tentang bayangan itu, Kyu Hyun masuk ke kamar mandi dan lebih baik ia bergegas berangkat bekerja sebelum bosnya memarahinya.

 

***

 

Kyu Hyun dengan langkah ringan berjalan melewati taman yang ramai. Di sana banyak sekali keluarga yang tengah menghabiskan waktu bersama. Bukan hanya keluarga kecil, tapi juga pasangan kekasih yang tengah berkencan ataupun para lansia yang tengah berolahraga.

 

Kyu Hyun mengarahkan kamera yang tergantung di lehernya mengarah ke taman. Dilihatnya hasil jepretannya, dan senyuman terbit di bibirnya.

 

Namun tiba-tiba bayangan itu kembali lagi. Kali ini banyangan mobil polisi di taman dan keadaan taman yang sedikit kacau serta terdapatnya bulu-bulu angsa.

 

Kyu Hyun menggelengkan kepalanya. Selalu seperti ini, ketika bayangan itu datang kembali.

 

Kyu Hyun melanjutkan kembali langkahnya, dia melewati gang sempit diantara pertokoan. Tiba-tiba saja dia mendekati gang sempit itu. Dan sekelebat bayangan kembali muncul, saat dia melihat seorang gadis bersayap, bertanya apakah baik-baik saja pada gadis itu dan menggendongnya membawa tubuh gadis yang terluka itu ke rumahnya.

 

Kyu Hyun kembali tersentak, dan tiba-tiba saja air mata mengalir dengan derasnya di kedua pipinya. Ia juga tidak tahu kenapa bisa mengeluarkan air mata, dan kenapa hatinya merasakan sakit yang sangat. Hatinya juga sangat merindukan seseorang, entah siapa itu.

 

***

 

“Shin Rin-ah…” Kyu Hyun terbangun masih dengan keadaan peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya.

 

“Shin Rin-ah” dengan sekali sentakan, Kyu Hyun melempar selimut dan melompat turun dari ranjang. Langkah terburu-burunya mengarah menuju kamar mandi.

 

“Shin Rin-ah” kosong. Di kamar mandi tidak ada seseorang yang Kyu Hyun panggil.

 

“Shin Rin-ah. Baek Shin Rin” Kyu Hyun jatuh terduduk di lantai dengan menangkupkan wajahnya. Air mata tidak henti-hentinya mengalir serta bibir yang terus memanggil nama seseorang.

 

“Shin Rin-ah, kau dimana? Aku merindukanmu”

 

***

 

“Kyu Hyun-ah, kau kenapa?” Kyu Hyun tersentak begitu Jong Woon menyentuh tangannya.

 

Eoh? Aku tidak apa-apa” Kyu Hyun mengambil cangkir kopinya dan meminumnya sedikit.

 

“Kau aneh akhir-akhir ini” tanpa menghiraukan ucapan Jong Woon, pandangan Kyu Hyun terpaku pada seorang gadis di luar kafe yang sekarang ia datangi.

 

Gadis itu… Kyu Hyun tidak salah lihat ‘kan?

 

Dengan langkah terbur-buru, Kyu Hyun mengejar gadis itu.

 

Ya! Cho Kyu Hyun, kau mau kemana?” masa bodoh dengan teriakan Jong Woon, ia harus bisa mengejar gadis itu.

 

“Shin Rin-ah” namun gadis itu masih tetap berjalan.

 

“Baek Shin Rin” sedikit lagi Kyu Hyun akan menggapainya.

 

“Shin Rin-ah” Kyu Hyun sudah menyentuh tangan kanan gadis itu. Dan gadis itu otomatis berbalik.

 

Ne? Anda mengenal saya tuan? Dan kenapa anda bisa tahu nama saya?”

 

“Shin Rin-ah” senyuman terbit di bibir Kyu Hyun. Dengan segenap hati, Kyu Hyun mendekap tubuh gadis itu.

 

“Tu—tuan? Anda siapa?” gadis itu berusaha melepaskan pelukan Kyu Hyun. Namun semakin gadis itu berusaha melepaskan, Kyu Hyun semakin mengeratkan pelukannya.

 

“Shin Rin-ah, aku merindukanmu”

 

Tamat

1 Comment (+add yours?)

  1. esakodok
    Feb 04, 2016 @ 13:10:29

    mirip mv..tp keren..endingnya dweet nanget..trs pertemua mereka lagi itu nikin trenyuh..cintanya kyu besar banget sama arene

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: