STUCK IN BLOOD [1/?]

HBGC_20151023205212

Nama : Tian Cho

Judul : “STUCK IN BLOOD Part 1”

Tag (Cast) : Cho Kyuhyun, Sarah Lee OC and others.

Genre : Romance, Mysteri, Fantasi

Rating : PG-15

Lenght : Chapter

Catatan Author : FF ini murni pemikiranku dan dimohon dukungannya dengan tidak memplagiat atau bash dengan komentar yang tidak smart. Makasih buat admin yang udah mau posting FF abal-abal ini. Btw salam kenal buat semuanya chingu aku Tian Cho kalo mau berkunjung ke blog aku ada FF lain masih dengan cast Cho Kyuhyun tentunya silahkan di www.chotianfanfiction.wordpress.com

Happy Reading all jangan lupa kritik dan saran yang bisa membangun ne!!

STUCK IN BLOOD [PART 1]

Stasiun Gangnam  terlihat sangat padat merayap dengan berbagai jenis kegiatan yang dilakukan manusia disana. Beberapa diantaranya berjalan kesana kemari, ada yang berbelanja virtual dengan smartphone nya di Home Plus dan tak sedikit yang berdesak-desakkan keluar masuk kereta serta beberapa yang sibuk menunggu kereta datang hanya dengan duduk, sibuk mengobrol, mendengarkan musik, nge game dan melamun dengan tatapan kosong disalah satu sudut tempat duduk yang ada. Salah satunya Sarah dan eommanya, Yoona. Mereka dari berjalan-jalan dan sedikit berbelanja di sekitar Apgujeong sekedar menghabiskan Satnite sepasang ibu-anak dengan ritual shopping.

Sarah Lee gadis berusia 17 tahun pada bulan Oktober sebulan yang lalu kini sibuk dengan smartphone yang baru dibelinya dengan kartu kredit milik ibunya. Sarah bukan tipe remaja yang menyukai kehidupan glamor tapi hari ini kegilaan itu muncul begitu saja. Lee  Donghae ayahnya hanya karyawan di stasiun TV KBS sedangkan ibunya seorang koki di Paradise Restaurant milik keluarga Baek, keluarga dari musuh bebuyutan Sarah sejak mereka pertama kali bertemu di Junior High School. Baek HyeRim yang selalu saja mengganggu hidupnya. Sarah masih sibuk mengagumi smartphonenya lalu melirik tas ibunya karena mendengar deringan ponsel disana sedangkan ibunya seperti tidak mendengar apapun.

“Eomma, ponselmu sepertinya ada yang menelpon.” Ujarnya sambil menunjuk tas ibunya. Ibunya agak terperanjat tidak biasa saat merogoh ponsel dan melihat caller id disana lalu dengan ragu mengusap tombol hijau.

“Yeo…yeoboseo?” Sarah mendengar nada ragu dan suara sedikit bergetar yang ibunya lontarkan, Sarah agak penasaran kenapa ibunya yang biasanya sangat tenang menjadi seperti hendak didatangi malaikat maut.

“Ne….wae? Aku tidak tahu apa yang anda bicarakan, tolong jangan hubungi aku lagi kumohon!” meski ibunya sudah agak menjauh dan berbicara sangat pelan, Sarah masih bisa mendengar apapun dengan radius 10 meter. Sejak dia berumur 17 tahun tubuhnya menjadi aneh seperti lebih peka terutama semua alat indranya. Sarah yang notabene bukan seseorang yang suka mencampuri urusan oranglain termasuk orangtuanya, Sarah percaya semua manusia memiliki rahasia yang akan disembunyikan atau diungkapkan kepada oranglain itu pilihan mereka dan Sarah tidak akan memaksa seseorang berbicara jika mereka enggan. Tapi ini ibunya seperti terintimidasi dan entahlah alarm bahaya berbunyi dikepalanya.

Dengan nada bergetar seperti menahan tangis, ibunya menjawab sambungan diseberang, ”Kumohon jangan ganggu hidupku!”

Sarah mendekati ibunya dan dengan isyarat mata seolah berkata ‘ada apa eomma?’ Ibunya hanya menganggukkan kepala sambil membalas dengan matany ‘everything’s allright aegy!’. Tak lama ibunya memasukkan ponselnya kedalam tas, Sarah masih memperhatikan gerak gerik ibunya dalam diam, mata ibunya berpencar melihat sekeliling statsiun lalu menyerahkan semua belanjaan ketangan Sarah. Sarah yang bingung tetap menerima lalu ibunya meneteskan sebulir air matanya dan menggenggam tangan Sarah.

“Sayang, kau tunggu disini dan jangan beranjak sedikit pun eomma akan membeli minum 5 menit, lalu kita pulang, arra?”

Seperti orang bodoh Sarah hanya mengangguk meski otak cerdasnya menyadari bahwa ibunya berbohong. Sarah hanya menurut dan kembali duduk dibangku stasiun yang tadi diduduki dengan ibunya. Tak lama, kereta yang menjadi tujuannya berhenti dan pintunya terbuka dengan pemandangan orang yang keluar dan masuk tapi Sarah masih menunggu ibunya yang sejak 2 menit lalu belum tiba hingga pintu kereta kembali menutup. Sarah mulai cemas dan berlari kesana kemari mencari ibunya, “Eomma! Eomma!” Serunya yang terdengar frustasi.

‘DOOOOR!!!’

Terdengar suara tembakan yang lumayan memekakkan dan menuntun Sarah dengan perasaan kalut untuk mendekat ke sumber bunyi. “Eomma, kumohon ini hanya firasat buruk yang tak beralasan kumohon bukan kau yang ditembak.”

Sarah setengah berlari dan menerobos kerumunan orang-orang yang mengerubungi korban penembakan, Sarah melihat pakaian yang dikenakan manusia yang tergeletak disana.

“Itu mantel yang dipakai eomma tadi!” Serunya dalam hati sambil terus memaksa air matanya yang melesak ingin keluar, Sarah berjalan mendekat dan meraih kepala korban untuk memastikan apakah ini wajah ibunya atau bukan. Jantungnya berhenti berdetak selama 5 detik hingga suara seorang ahjumma memekik.

“HwaJung-ah!” Sarah mendongak melirik ahjumma yang kini mengambil tubuh korban penembakan yang baru saja dipangkunya.

“HwaJung-ah!” Masih terdengar teriakan ahjumma tadi memanggil mayat yang bernama HwaJung itu. Sarah berdiri dan merasa sangat pusing saat melihat betapa banyaknya darah yang mengalir dari tubuh korban. Sarah merasa tercekat dan berusaha menjauh dari kerumunan dengan lemas dan beberapa kali terdorong dan terjatuh Sarah makin pusing mendengar semua orang berteriak dan semua seperti dengungan lebah. Sarah mencari toilet, iya dia butuh menenangkan diri.

Sarah menghembusskan napasnya dengan kasar beberapa kali dan menghirup oksigen disekitarnya dengan rakus. Setelah mencuci tangan yang berlumuran darah dan mencuci wajahnya. Sarah memandangi pantulan tubuhnya di cermin, Sarah melihat ada bercak darah disekitar mantel dan kaos yang dikenakannya, penampilannya sangat kacau seolah baru saja membunuh orang. Tanpa pikir panjang Sarah mengganti kaosnya dengan sweeter yang baru dibelinya beberapa jam yang lalu dengan eommanya.

“Eomma!” isaknya pelan, Sarah merogoh saku belakang jeansnya dan berniat menelpon ibunya. ‘Nomor yang anda tuju berada diluar jangkauan.’

Sarah melihat ponselnya dan menggeram pelan, “Eomma sebenarnya apa yang terjadi? Eodigayo eomma? Tolong jangn buat aku jadi gila begini!” pekiknya membuat seorang wanita yang baru saja masuk kedalam toilet menatapnya aneh.

Sarah tidak mempedulikannya dan segera memasukkan pakaiannya kedalam handbag dan bergegas keluar. Sarah menyusuri tiap sudut stasiun dan menajamkan telinga dan matanya pada sekitar mencari ibunya sekali lagi. Sarah melirik jam tangannya dan terkejut karena jarum pendeknya menunjuk angka 12. Sarah pun memilih pulang dengan menggunakan Seoul Metro.

Sampai dirumah, Sarah berharap ibunya sudah menunggunya dirumah dan menceritakan semua kegilaan tadi hanya lelucon. Sarahh masuk ke dalam dan mendapati appa dan namdongsaengnya masih sibuk menonton pertandingan bola di tv flat 40inc. Sarah setengah berlari memeluk appanya dan tanpa sadar ia menangis, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan hingga membuat appa dan adiknya keheranan.

“Noona! Gwenchanayo? Kenapa menangis? Apa kau tidak jadi membeli ponsel?” Sarah melirik adiknya dan mendongak melihat wajah appanya tanpa ekspresi. “Appa, apa eomma sudah pulang lebih dulu dariku?”

Donghae makin mengerutkan dahinya bingung dengan pertanyaan anak gadisnya. “Apa maksudmu Sarah? Bukankah kalian berbelanja bersama kenapa harus pulang sendiri-sendiri eoh?”

Lee Joon makin merasa penasaran, “Noona apa kau akan mengatakan bahwa kalian terpisah? Ya ampun dasar yeoja! Kalian berbelanja atau bermain petak umpet sebenarnya eoh?” Mendengar sindiran adiknya membuat Sarah menangis makin keras. “Appa tolong katakan padaku bahwa eomma sudah pulang, geumanhae!”

Donghae mendengar nada frustasi menyimpulakan bahwa ada yag tidak beres dan sepertinya memang benar kata Lee Joon bahwa mereka terpisah.

“Sarah apa kalian terpisah dan pulang sendiri-sendiri?” Sarah mengangguk dan hendak menjawab namun suaranya tercekat. Lee Joon yang entah kapan kedapur mengambil air putih yang disodorkan padanya. Sarah meraih gelasnya dan meneguk air hingga habis. “Gomawo Joonnie.”

Sarah mengusap air matanya dengan punggung tangan dan mengatur napasnya kemudian mulai bercerita kepada appa dan adiknya. Suasana hening setelah Sarah selesai bercerita tentang kronologi kejadian hilangnya eomma. Tidak ada komentar apapun yang dilontarkan appa dan adiknya, mereka berdua cukup shock dengan pikiran masng-masing hingga terdengar suara Lee Joon.

“Appa, apa eomma memiliki musuh yang tidak menyukainya?” Sarah pun ikut menatap appanya menunggu jawaban atas pertanyaan Joon yang juga mengganggu kepalanya.

Donghae menggeleng pelan dengan wajah yang sulit dibaca. “Selama appa mengenal eommamu, dia orang yang jujur dan terbuka dengan semuanya. Setau appa hidup kami normal dan tidak ada yang kami curigai sebagai musuh.”

Donghae menghela nafasnya panjang dan meanjutkan kalimatnya. “Tapi sebulan terakhir, eomma kalian terlihat agak tidak tenang.”

Sarah dan Joon saling berpandangan dan seperti otak mereka terhubung dengan bluetooth, mereka mengatakan hipotesis dengan bersamaan.

“Berarti memang ada yang eomma sembunyikan sebulan ini mungkin musuh lama yang kembali atau eomma terlibat suatu kasus seperti menjadi saksi satu-satunya pada sebuah pembunuhan?” Donghae terhenyak mendengar kalimat yang keluar besamaan dari mulut kedua anaknya.

“Bagaimana bisa kalian mengatakan hal mengerikan seperti yang ada dalam film action, mistery dan detektif, kenapa kalian bisa berpikiran sama seperti itu?”

Joon menjawab dengan diplomatis, “Appa kami ini saudara jadi wajar saja pemikiran kami sama dan film dengan genre action, mistery dan detective menjadi favorit kami sejak kecil, oh ayolah appa kupikir semua orang yang mendengar cerita noona pasi akan mengambil kesimpulan seperti itu kan?” Sarah hanya mengangguk mengiyakan saat Joon menatapnya meminta persetujuan.

“Appa mungkin tahu setidaknya orang yang tidak menyukai eomma?” Donghae menggeleng lagi dengan perasaan berkecamuk merasa buruk dengan pertanyaan Sarah.

Joon yang merasa atmosfer di livingroom ini sangat tidak kondusif bahkan meski mendengar suara gool yang diserukan komentator untuk tim kesukaannya di tv tidak membuat moodnya berubah, appanya juga sama. Joon yang entah sejak kapan sudah membawa kertas dan pen lalu mulai menulis.

“Baiklah, kita tunggu sampai 48jam jika eomma tidak pulang juga kita lapor ke polisi, dan tugas kita saat ini mencari tahu keberadaan eomma ditempat yang sering dikunjungi, teman, hal yang mencurigakan, tempat masa lalu yang pernah eomma datangi dan keluarga.”

Sarah melirik tulisan adiknya yang masih berumur 13 tahun itu, “Paradise resto, bibi Yuri di Jepang, bibi Sunny, bibi Sooyoung dan rekan kerja di paradise resto, stasiun gangnam, motel dan kupikir mantan pacar?” Sarah melirik appanya dnegan ekor matanya sekilas setelah menyebutkan kata terakhirny. Seperti dugaan wajah appa Sarah agak mengeras. Joon melanjutkan menulis semua dugaannya lalu setelah itu mereka bagi tugas.

“Appa tugasmu menelpon semua orang yang kita curigai sebagai tempat tujuan eomma, noona kau mencari tahu setiap motel dan tempat-tempat dari no 24-40 ini mungkin salah satunya menjadi tempat eomma bersembunyi, dan aku akan meretas mencari tahu apakah eomma menggunakan kartu kredit, atm dan provider ponselnya aku penasaran dengan siapa yang berani-beraninya menelpon eomma dan menyebabkannya kabur.”

Sarah mengangguk dan Donghae ikut mengangguk meski dalam hati bertanya ‘Bagaimana bisa anak-anakku cerdas melebihi aku? Mereka seharusnya menjadi agen negara dan aku baru tahu ternyata anakku yang namja maish berumur 13 tahun mngatakan hack? Kapan dia mempelajarinya? Kupikir selama ini dia sibuk dengan pc untuk bermain game tapi ini sangat membanggakan kedua anakku diatas rata-rata. Meski sangat enggan mengakui bahwa aku kalah dari mereka tapi kupikir mereka membanggakan dan sepertinya Sarah sudah mengetahui semua tentang kemampuan Joon.’

Sarah kembali ke kamarnya setelah 2 jam berkonsolidasi bersama Joon dan appanya. Sarah menyadari jika 3 lebih baik dari 1 dan sepertinya menemukan ibunya bukan hal yang mustahil, sekarang tinggal berdoa semoga ibunya baik-baik saja. Amin. Besok hari minggu, ia dan adiknya akan mulai pencarian.

***

Karena semalam tidur pukul 2 dini hari setelah seharian mencari ibunya, Sarah bangun agak telat pagi ini. Dia bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap memakai seragam sekolah dan menata buku serta semua peralatan ke dalam tas ranselnya. Sarah keluar kamar dan menuju dapur dan mendapati meja makan yang kosong dan membuatnya tertegun karena biasanya ibunya yang menyiapkan semua kebutuhan dan kini siapa? Tak lama Sarah meletakkan tas sekolahnya ke kursi dan mulai memakai apron untuk membuat sarapan, setidaknya dia menjadi yeoja satu-satunya dirumah ini dan menggantikan tugas ibunya sementara. Sarah membuat sandwich dengan daging asap dan keju mozarella serta selada, tomat iris dan timun serta mayonaise dan saus tomat lalu memasukkan 3 sandwichnya kedalam microwave. Dan beralih membuat segelas susu coklat dan segelas susu putih yang dicampur melon yang dijadikan smoothies untuk adiknya serta cappucinno panas untuk appanya.

***

Joon menghampiri Sarah di dapur dan duduk dikursi menunggu sarapannya dengan mata mengantuk. Sarah megeluarkan sandwich tuna dari microwave dan meminta Joon memanggil appanya untuk sarapan. Joon mematuhi tanpa menjawab dan mengetuk pintu kamar appanya. Tak lama setelah Sarah meletakkan minuman ketiganya di meja makan, Donghae dan Joon datang, seperti biasa Donghae mengucapkan selamat pagi.

“Good morning my gurl and ma boy?” Sarah dan Joon menjawab serentak “Good morning appa!” mereka pun menghabiskan sarapannya.

Tidak seperti sebelumnya sarapan kali ini dipenuhi keheningan karena ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Sarah menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00 KST seraya memekik, “Ohh God! Aku bisa telat!”

Sarah meneguk habis susu cokelatnya dan membawa piring dan gelas ke wastafel lalu meneguk air putih dan memakai tasnya sambil mencium pipi Donghae dan adiknya.

“Joonie, hari ini kau berangkat dengan appa ya? Noona harus buru-buru oke boy? Aku pergi daah appa!” Teriaknya sambil berlari keluar.

Sarah berlari menuju lift untuk ke basement. Setelah masuk ke mobilnya dia pun bergegas keluar gedung apartement menuju sekolahnya “Hannyoung High School” di distrik GangDong-gu. Mobil Sarah ini hadiah ulangtahunnya ke 17 yang lalu karena Sarah selalu merengek pada ibunya jika dia sangat kesulitan dengan kendaraan umum terutama bus, dia harus menunggu lama di halte dan jarak halte dengan sekolahnya sangat jauh. Bukannya Sarah manja karena yang dia permasalahkan adalah matahari. Sarah tinggal di apartemen distrik Gangnam tepatnya di Yeoksam, cukup jauh dari sekolahnya yang berada di GangDong-gu.

Sejak usianya 17 tahun pada bulan Oktober lalu, kulit dan mata Sarah menjadi sensitif terhadap matahari, kulitnya terbakar hingga kemerahan bahkan melepuh seperti tersiram air panas dan puncaknya kepalanya ikut pusing hingga dia pingsan. Ini pernah terjadi sekali saat  sehari setelah ulangtahunnya, Sarah berangkat ke sekolah dengan bus seperti sebelumnya dan berjalan kaki hingga sekolahnya dengan alergii baru terhadap matahari lalu pingsan dan untung saja ditemukan oleh Henry sahabatnya. Setelah membawa Sarah ke rumah sakit hingga menelpon eommanya dan berakhir dengan vonis dokter bahwa Sarah mengalami alergi sinar UV matahari.

Lalu selama seminggu Sarah diantar jemput oleh ayahnya yang sebenarnya sangat memutar arah dengan kantor KBS. Terlebih yang membuat Sarah sebal adalah para siswa yang memandang appanya dengan tatapan memuja dan mengerumuni mobil appanya sambil memberi cokelat serta bingkisan lain untuk appa bahkan tidak sedikit yang mengajak foto bersama hingga Donghae selalu terlambat datang karena semua kelakuan teman sekolah Sarah. Sarah pun mengakui bahwa appanya sangat hot dan tampan tentu saja meski saat ini sudah berumur 38 tahun tapi wajah Donghae memang baby face dengan tubuh atletis. Dan setelah merelakan semua tabungan Sarah dari hasil pekerjaan freelance sebagai penerjemah di salah satu perusahaan penerbit serta uang tambahan dari orangtuanya.

Sarah dibelikan mobil bekas Suzuki Cervo keluaran tahun 2006 warna merah, setidaknya ini kado ulangtahun paling mahal yang pernah Sarah minta dari orangtuanya. Sarah tidak mempermasalahkan meski warna merah sangat tidak disukainya tapi setidaknya ini mobil termurah yang pas dengan budget keluarganya saat ini mengingat ibunya saja tidak memiliki mobil jadi hanya ada 2 mobil dikeluarganya yaitu mobilnya dan milik ayahnya Chevrolet Spark  warna biru keluaran tahun 2005 mobil produksi perusahaan GM Daewoo dan mobil ini lebih dikenal dengan nama Daewoo Matiz dibanding Chevrolet Spark.

Kembali ke pagi ini, Sarah mengendarai mobil yang dinamainya “Puppy” dengan kecepatan sedang meski ia hampir telat tapi Sarah berpegang pada prinsip ‘lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali’ dan ‘utamakan keselamatan daripada kecepatan’. Mobil di depannya berhenti mendadak hingga dengan terpaksa Sarah banting setir ke kiri yang malah menyerempet bagian belakang sebuah mobil mewah dan berakhir dengan menabrak trotoar jalan hingga bamper depan penyok. Tubuhnya terguncang untung saja seat belt menahan Sarah, sebagian kaca bagian depan mobil juga pecah.

“Aiissshhh!!! Kacau…..apa yang kau pikirkan Sarah Lee?” Gerutunya menyalahkan diri sendiri. Sarah meneliti tubuhnya dan semua masih utuh serta tidak terdapat luka. Sarah pun keluar dari mobilnya dan memakai payung hitam bergambar kucing miliknya, menghampiri mobil mewah yang tadi diserempet.

Tok-tok-tok- Sarah mengetuk jendela pengendara mobil Range Rover silver keluaran terbaru itu. Tak menunggu lama, pintunya terbuka seorang pemuda tinggi berbadan tegap dengan kulit pucat dan tak lupa kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya berdiri dihadapan Sarah yang masih melongo.

“Ehem!”

‘namja tampan itu berdehem ya ampun Sarah Lee, normalkan ekspresimu!” pekiknya dalam hati. Sarah pun memberanikan membuka suara sambil melirik kerusakan di mobil namja ituu.

“Uhm…langsung saja, mianhaeyo aku tadi menabrak bagian belakang mobimu tanpa sengaja.”

Namja itu ikut mengarahkan pandangannya pada bagian belakang mobil barunya. “Cukup parah!” gumamnya yang masih bisa didengar Sarah lalu kembali fokus melihat Sarah dari atas hingga bawah termasuk melihat ‘Puppy’ yang teronggok tak berdaya. Sarah masih menunggu respon namja dihadapannya yang malah sibuk mengamatinya bukannya menjawab atau setidaknya mengomel atau marah-marah mungkin lebih baik.

“Chogi????”

“Kyuhyun, aku Cho Kyuhyun!” Sambung Kyuhyun cepat tanpa mengalihkan tatapannya pada manik mata Sarah. Mereka berhadapan dengan jarak 1 meter yang cukup membuat Kyuhyun bisa mencium aroma Sarah yang menurutnya sangat memabukkan sekaligus manis menggiurkan. Kyuhun merasa akan kehilangan orientasinya jika lebih lama menghirup aroma Sarah dan ini pertama kalinya ia merasakan aroma semanis ini dan menahan napas agar ia tidak menerkam Sarah.

“Bagaimana dengan pertanggungjawabannya? Jujur saja aku yakin mobilmu sangat mahal dan pasti biaya reparasinya juga sangat mahal dan saat ini aku sedang tidak punya uang karena mobilku juga rusak parah sepertinya.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya Sarah menundukkan kepala dengan harap cemas menunggu apa yang akan Kyuhyun katakan padanya, setidaknya Sarah telah mempersiapkan telinga dan hatinya jika nanti dia harus dicaci maki. Oke, bukannya dia mau lepas tanggung jawab hanya ingin menunda sampai ia memiliki uang saja, benar bukan? Hello kau menabrak mobil super mahal Sarah!

“Lalu apa yang kau ingin lakukan nona…….” Kyuhyun sengaja menggantungkan kalimatnya, ia sangat penasaran dengan yeoja dihadapannya.

Sarah mendongak sekilas mencoba memberanikan diri menyuarakan apa yang ada dikepalanya.

”Aku Sarah Lee. Begini aku mau kau beri aku waktu mungkin seminggu atau 2 minggu untuk mengumpulkan uang dan membayar ganti rugi, tapi kumohon jangan laporkan pada polisi karena aku belum memiliki lisensi mengemudi, jebalyo!?”

Kyuhyun mengulum senyumnya, merasakan kepolosan Sarah. Kyuhyun merasa familiar dengan seragam yang dikenakan Sarah dibalik mantelnya dan voila. “Apa kau sekolah di Hannyoung High School?”

Sarah merasa heran karena Kyuhyun menanyakan sekolahnya bukannya membahas tentang bagaimana akhir kisah pertanggungjawaban mobilnya.

“Iya…aku sekolah disana tahun pertama.” Sarah pun menyadari jika Kyuhyun mengenakan seragam yang mirip dengan seragam yang biasa dipakai namja disekolahnya.

“Seolma….kau juga sekolah di Hannyoung High School? Ahhaa…kau Cho Kyuhyun? Siswa misterius di angkatanku? Ya ampun aku baru pertama kali melihatmu.”

Kyuhyun menanggapi pertanyaan Sarah dengan senyum tipis, lalu terdengar suara Kyuhyun dengan suara yang sangat dalam. “Aku juga baru pertama kali melihatmu, seperti takdir kita bersekolah ditempat yang sama.”

Tak lama setelah sesi perkenalan mobil polisi menghampiri mereka, seorang polisi yang sedang berpatroli itu keluar. Sarah makin mengkerut dan setengah bersembunyi dibalik tubuh kekar Kyuhyun. Ia terus memohon agar Kyuhyun membantunya, Sarah sudah sangat ketakutan jika ia harus berurusan dengan polisi. Apalagi polisi yang mendekati mereka berpenampilan super menyeramkan dengan kumis tebalnya.

-TBC-

2 Comments (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Feb 08, 2016 @ 03:55:21

    masih bingung ama ceritanya,,,,
    lanjut baca

    Reply

  2. Monita elfkry
    Feb 08, 2016 @ 20:41:43

    Aku cma mw ngasi masukan, tpi gk tau cra ngutarakannya
    Intinya nma donghae dan yoona tdk cocok dijadikan nma org tua. Jdi agak sulit pahami ceritanya. Itu menurut aku. Hehe..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: