Marriage is a Joke?! [6/?]

miaj

Marriage is a Joke??!

[Part. 6]

 

Cast :

-Han Cheon Neul

-Lee Donghae

Other Cast :

-Cho Kyuhyun

-Choi Siwon

-Lee Hyukjae

-Lee Sungmin

-Kim Kibum, dst.

Genre : Romance, Marriage Life

PG/15

Disclaimer : Seluruh cast disini milik Tuhan, Orangtua mereka, dan mereka sendiri. Tapi, ff ini milik saya, dan murni dari hasil imajinasi saya!

***

Seseorang dari masa laluku yang tak pernah terlupakan..

Ia hadir dihadapanku tanpa ku sadari

Takdir benar-benar mempermainkan ku!

***

Pagi yang sejuk dimusim gugur kota Venesia. Pagi-pagi sekali ia telah bangun dari tidurnya. Waktu liburan mereka akan berakhir besok, dan ia tak ingin menyia-nyiakan liburan nya seperti kemarin.

Pria itu nampak segar setelah selesai dari acara mandinya. Setelah berpakaian rapi, ia bermaksud membangunkan istrinya yang masih meringkuk dalam selimut diranjang.

“Cheon Neul-ya, irreona” ucap pria itu seraya mengguncang kecil bahu gadis itu, hingga gadis itu merasa terusik dari tidurnya. Dengan malas, gadis itu membuka perlahan-lahan matanya lalu menatap tajam Donghae yang dengan tidak sopan nya membangunkan nya dari tidur nyenyaknya.

“Ya! Kenapa kau membangunkan ku?!” ucap Cheon Neul kesal dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Besok kita akan pulang. Kau ingin melewatkan kesempatan kita hari ini?” tanya Donghae hati-hati.

“Aku malas, kalau kau ingin jalan-jalan, hubungi saja guide mu itu!” ucap Cheon Neul ketus dan berniat kembali tidur. Donghae paham dengan ucapan ketus yang dikeluarkan gadis itu. Jelas-jelas gadis itu sedang menyindirnya.

“Kau masih marah padaku hm?” tanya Donghae hati-hati.

“Menurut mu?” balas Cheon Neul.

Donghae menghela nafas pelan, yah—ia memang menyadari kesalahan nya semalam. Seharusnya ia menerima ajakan istrinya untuk jalan-jalan bersama.

“Maaf, aku memang salah. Tapi, kau harus dengar penjelasanku dulu” ucap Donghae seraya menarik bahu gadis itu sebelum gadis itu kembali melanjutkan tidurnya.

“Tidak ada yang perlu kau jelaskan! Bersenang-senanglah! Aku ingin tidur seharian ini!” ucap Cheon Neul lalu kembali memejamkan matanya.

Donghae memilih mengalah dan tak lagi membalas ucapan Cheon Neul. Gadis itu tidak berada dalam mood yang baik saat ini. Pria itu lantas ikut berbaring bersama Cheon Neul lalu memejamkan matanya.

“Baiklah, kau ingin tidur? Kalau begitu aku juga akan tidur” ucap Donghae. Cheon Neul yang mendengar hal itu, segera bangun dari tidurnya lalu menatap tajam pria yang sedang berbaring di sebelahnya.

“Ya!”

“Wae? Aku hanya melakukan hal yang sama denganmu” ucap Donghae seraya tersenyum tipis.

“Kau gila?!”

“Tidak! Jika kau memilih tidur dari pada jalan-jalan seharian ini, sebagai suami aku akan mengikuti keinginan istriku” Mendengar kata ‘Istriku’ dari mulut pria itu membuat Cheon Neul merasa mual.

“Menjijikan!” ucap gadis itu segera bangkit dari tidurnya dan melenggang masuk kedalam kamar mandi seraya membawa peralatan mandinya. Donghae yang melihat ekspresi lucu dari wajah gadis itu membuat nya terkekeh. Sifat tomboy nan menyebalkan dari gadis itu menghilang begitu saja saat melihat ekspresi lucunya tadi.

***

“Hei Donghae! Sebaiknya kau bangun sekarang, sebelum pikiranku berubah lalu membatalkan niatku untuk mengikuti keinginan mu jalan-jalan hari ini!” ancam Cheon Neul, dengan seketika pria itu bangkit berdiri lalu merapikan kameja putihnya yang sedikit kusut.

Donghae nampak diam membisu saat melihat penampilan gadis ini yang sedikit berbeda dari yang biasanya. Gadis itu memakai dress putih selutut dengan flat shoes krem. Benar-benar serasi dengan pakaian yang dikenakan Donghae. ‘Benar-benar cantik!’ Puji Donghae.

“Aku sudah siap! Kau sudah siap?” tanya Donghae semangat dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Cheon Neul.

Dengan segera pria itu menggandeng tangan Cheon Neul dan dengan riang keduanya berjalan keluar dari kamar hotel mereka.

***

“Kau lapar?” tanya Donghae setelah keduanya telah berada di depan gedung hotel tempat mereka menginap. Cheon Neul kembali menjawab nya dengan anggukan. Tapi, kali ini gadis itu mengangguk seraya tersenyum manis. Sedikit terkesima dengan senyum manis yang ditunjukan gadis itu, membuat jantung Donghae bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

“Baiklah, kita cari tempat makan dulu! Kajja!” ucap Donghae seraya mengayunkan tangan nya yang sedang menggandeng tangan Cheon Neul.

***

“Kau ingin makan apa?” tanya Donghae sesaat setelah keduanya melihat daftar menu makanan.

“Aku ingin pasta barbeque dengan jus orange saja” ucap Cheon Neul.

“Two Pasta barbeque and Two Orange juice” ucap Donghae pada seorang pelayan restoran.

“Two Pasta berbeque and Two Orange juice, right?” ulang pelayan itu.

“Yes”

“Ok, please wait” ucap pelayan itu seraya meninggalkan keduanya.

 

Sekitar 5 menit kemudian, pesanan mereka telah tiba. Tanpa menunggu waktu lama, keduanya segera melahap makanan mereka dengan lahap.

Sejenak Donghae memperhatikan Cheon Neul yang tengah mengesap Juice Orange nya sedikit terburu-buru. Benar-benar menggemaskan!

Setelah selesai mengabiskan sepiring pasta dan segelas Orange Juice gadis itu mendesah lega. Perutnya benar-benar sudah terisi penuh sekarang. Sejenak Donghae kembali dibuatnya terkekeh. Dengan cepat pria itu menjulurkan tangan nya hendak membersihkan saus barbeque yang menempel disudut bibir Cheon Neul.

Deg!!

Ada perasaan aneh hinggap di hati Cheon Neul, entahlah! Ia merasa pipinya mulai memanas menahan malu yang sangat! Dan perlakuan lembut dari Donghae lah yang membuatnya jadi salah tingkah seperti sekarang.

“K—kau sudah selesai makan?” tanya Cheon Neul mencoba mencairkan suasana kaku diantara keduanya. Donghae yang mendengarnya hanya mengangguk singkat seraya menghabiskan juice orange nya yang tersisa sedikit.

“Baiklah, ayo kita pergi!”

***

“Donghae. Aku sudah pernah kemari, kenapa kau membawaku kesini?” tanya Cheon Neul sesaat setelah mereka berdua duduk manis didalam sebuah kanal. Awalnya Cheon Neul menolak, gadis itu pernah menaiki kanal sebelumnya. Namun, sifat pemaksa Donghae membuatnya terpaksa mengikuti keinginan pria itu.

“Waktu itu kau kemari sendirian. Sekarang kan kau sedang berjalan-jalan bersamaku. Tentu beda rasanya saat berjalan-jalan sendirian dengan berjalan bersamaku” ucap Donghae.

“Sir, can you sing a song for me and my wife? Please” ucap Donghae pada seorang pemilik kanal yang tengah ditumpanginya saat ini.

“Of Course! Oh! are you married couple?” tebak pemilik kanal itu.

“Yeah” ucap Donghae tersenyum tipis.

Pria berusia empat puluh tahunan itu kemudian mulai bernyanyi. Alunan suara yang begitu lembut membuat sepasang suami-istri itu ikut terhanyut dalam lagu berjudul Way Back Into Love yang tengah dinyanyikan pria itu. Lagu duet yang dinyanyikan penyanyi ternama Haley Bennett dan Hugh Grant itu berhasil dinyanyikan dalam bentuk solo oleh pria itu. Benar-benar memukau!

Cheon Neul dan Donghae bertepuk tangan kagum dengan penampilan pria itu setelah selesai menyanyikan lagu itu.

“Very Nice!” puji Donghae.

“Thank You sir”

“Sir, can i request one song again? I want you sing ‘time to say good bye’ eumm—Sarah Brightman and Andrea Bocelli? Please” ucap gadis itu.

“Of course madam”

Pria itu kembali bernyanyi, kali ini ia menyanyikan lagu duet milik Sarah Brightman dan Andrea Bocelli. Keduanya nampak begitu menikmati alunan lagu yang dinyanyikan pria itu seraya menikmati pemandangan indah kota Venesia dari atas kanal.

***

“Thank You sir” ucap Donghae seraya memberikan sejumlah uang kepada pria itu.

“No, thank’s sir. This is free show for you and your wife” ucap pria itu seraya menolak uang pemberian Donghae.

“But—Ok, sir thank you and bye” ucap Donghae seraya membungkuk singkat pada pria itu lalu kembali menggandeng lengan Cheon Neul dan berjalan meninggalkan pria itu.

Keduanya begitu puas dengan perjalanan mereka diatas kanal tadi. Kini keduanya melanjutkan kembali perjalanan mereka berkeliling kota Venesia.

Dengan wajah berseri, sepasang suami istri itu mengitari kawasan Piazza San Marco, seperti keinginan Cheon Neul kemarin. Yah, walaupun gadis itu sudah pernah berkunjung di tempat itu, tapi ia tetap antusias untuk datang berkunjung kembali. Karna kali ini ia tak sendirian seperti kemarin.

“Setelah ini aku ingin mengajak mu ke suatu tempat” ucap Donghae.

“Kemana?” tanya Cheon Neul penasaran.

“Kau akan tahu nanti” ucap Donghae senang seraya menarik lengan Cheon Neul lembut agar mengikuti langkahnya.

***

“Woaahh! Indah sekali” kagum Cheon Neul.

Keduanya telah sampai di pualu Murano. Perjalanan dari pusat kota Venesia sampai di pulau ini ta begitu banyak memakan waktu.

“Donghae-aa, ayo kita kesana” ucap Cheon Neul antusias. Donghae yang melihatnya hanya tersenyum senang, ia tak menyesal membawa gadis itu kemari.

Pulau Murano ini adalah pusat kerajinan gelas, kaca, lampu dan barang-barang antik di italia. Dan Cheon Neul tak kan mungkin melewatkan kesempatan berbelanja beberapa pernak pernik cantik dari pulau ini.

Cheon Neul lantas masuk kesebuah toko kecil yang menjual banyak pernah-pernik cantik. Dengan antusias gadis itu mengambil dua buah topeng berwarna emas dengan hiasan manik-manik menaburi pinggiran mata topeng itu.

“Donghae! Bagaimana dengan topeng ini? cantik bukan?” tanya Cheon Neul seraya mengenakan topeng itu.

“Cantik, kau ingin membelinya?” tanya Donghae seraya melihat pernak-pernik lain nya dengan antusias.

“Ne, tapi kau yang membayarnya”

Donghae tak membalas ucapan gadis itu dan lebih menyibukkan diri melihat-lihat pernak pernik lain nya. Senyum nya berkembang dengan sempurna, saat meliat dua buah gelas cantik berwarna Cokelat kayu. Ia lantas mengambil dua gelas itu lalu memperlihatkan nya pada Cheon Neul.

“Bagaimana dengan ini? gelas-gelas ini cantik bukan?” tanya Donghae dan dijawab dengan anggukan oleh Cheon Neul.

“ Ok, Madam. We buy this” ucap Donghae seraya memberikan dua buah gelas pilihan nya dan dua buah topeng pilihan Cheon Neul pada seorang wanita berusia 30 tahun-an, si penjaga toko.

***

Keduanya telah keluar dari toko itu seraya membawa beberapa pernak-pernik yang baru saja mereka beli tadi.

Keduanya begitu menikmati perjalanan mereka seraya mengabadikan moment-moment indah selama perjalanan mereka sejak pagi tadi.

“Setelah ini kita kemana?” tanya Cheon Neul.

Donghae lantas melirik jam di tangan nya, waktu telah menunjukan 15.30. waktu begitu cepat berlalu.

“Sebelum kita pulang, sebaiknya kita pergi cari makan dulu. Ini sudah sore” ucap Donghae dan disetujui Cheon Neul. Keduanya memutuskan untuk pergi mencari tempat makan sebelum pulang.

***

Matahari telah kembali ke peraduannya. Setelah puas berkeliling Pulau Murano, keduanya memutuskan untuk pulang menggunakan Vaporetti.

Ini adalah malam terakhir liburan mereka di Venesia, dan besok siang mereka harus berangkat pulang.

 

Cheon Neul POV.

Udara dingin cukup menusuk permukaan kulitku, pasalnya aku hanya menggunakan dress selutut tanpa jaket atau semacamnya. Hah! Seharusnya aku tidak usah menggunakan pakaian sialan ini!

“Kau kedinginan?” tanya Donghae saat kami dalam perjalanan pulang ke tempat penginapan kami.

“Tidak juga” ucapku setengah berbohong. Yah, ku akui aku cukup kedinginan saat ini, tapi bukan berarti aku sudah tidak kuat dengan udara dingin yang menusuk permukaan kulitku. Jangan mengira aku ini adalah wanita lemah!

Grepp

Langkahku terhenti seketika, sesaat kedua tangan besar itu mendekap ku dari belakang. Cukup terkejut memang, tapi aku berusaha mengendalikan keterkejutanku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” ucapku sedikit kesal dengan perlakuan nya yang tiba-tiba seperti ini.

“Saat ini aku tak membawa jaket. Biarkan aku memeluk mu seperti ini, karna aku tahu, kau sudah sangat kedinginan” ucapnya.

Tiba-tiba ada perasaan lain yang begitu hangat menjalar disekujur tubuhku. Entahlah, aku juga tak tahu itu apa. Apa ini efek pelukan nya?

Tidak!

Ya! Han Cheon Neul! Jangan berfikir yang macam-macam!

Aku segera melepaskan lengan nya dari tubuhku dan menatapnya tajam. Jangan ia kira sikap ku yang melembut padanya hari ini telah membuatku menjadi jinak.

“Jangan sembarangan menyentuhku seenak jidatmu!” ketusku lalu berjalan meninggalkan nya.

Kami telah sampai dihotel, aku segera membersihkan tubuhku yang lengket. Berendam di air hangat membuat pikiranku menjadi rileks. Ah~ tiba-tiba aku merindukan korea. Aku tidak sabar pulang besok!

Setelah selesai mandi, aku segera mengenaka piyamaku dan berjalan keluar kamar mandi.

Kamar ini kosong.

Kemana ia?

Aku mengedarkan pandangan ku kearah balkon kamar hotel ini dan kudapati ia tengah serius menelpon seseorang.

Setengah penasaran, aku segera berjalan menghampirinya. Tubuhnya segera berbalik menghadapku saat aku telah berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

“…Arraseo, aku akan pergi bersama istriku” ucapnya pada seseorang yang tengah menelponnya.

Istri? Apa maksudnya itu aku?

Setelah ia memutuskan sambungan telpon nya aku segera bertanya.

“Siapa itu?”

“Teman lamaku, ia berada di Roma sekarang. Ia mengundang kita ke acara pertunangan nya besok malam” ucap Donghae.

“Maksudmu—kau akan hadir begitu? Itu artinya—kita tidak jadi pulang besok?” tebak ku dan dijawab dengan anggukan olehnya.

“Kita ke Roma besok, Tidak apa-apakan?” tanya nya.

Aku berfikir sejenak

Ke Roma? Kurasa akan menyenangkan.

“Baiklah” ucapku.

***

Pagi ini kami akan segera bertolak ke Roma. Awalnya kami akan pulang ke Korea hari ini, tapi tidak jadi.

Aku segera merapikan isi koperku setelah aku selesai mandi. Setelah semuanya telah beres, aku sedikit menyegarkan mataku dengan pemandangan kota Venesia dari atas balkon kamar ini sebelum kami hendak pergi.

Hah~ lain kali aku akan kembali kemari.

“Kau sudah siap?” tanya Donghae yang baru saja selesai mandi.

Aku hanya mengangguk singkat seraya menoleh karahnya yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.

Ia hanya mengenakan kameja lengan panjang berwarna biru tua yang lengannya di gulung hingga ke sikut. Sementara kedua kancing bagian atas kamejanya dibiarkan terbuka.

“Kita sarapan di hotel saja sebelum berangkat” ucapnya. Aku hanya mengangguk kecil pertanda menyetujui ucapan nya.

***

“Di Roma kita akan tinggal dimana?” tanyaku seraya mengunyah makananku. Kami berdua tengah sarapan di hotel tempat kami menginap sebelum bertolak ke Roma.

“Kebetulan Hyukjae punya rumah disana. Aku sudah menghubunginya bahwa kita akan menginap semalam disana” ucap nya.

“Hyukjae? Maksudmu si Sepupu bodoh mu itu? Ah~ Hyungnya Taemin?” ucapku seraya mengingat-ingat wajah si pemilik nama jelek itu.

“Ne, ia Hyungnya Taemin. Tapi bukan berarti kau juga harus menghinanya”

“Ah~ aku hanya mengatakan faktanya” ucapku santai seraya meneguk segelas susu rasa coklat.

“Kau sudah selesai makan?” tanya Donghae, aku hanya mengangguk singkat sesaat setelah aku membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel dibibirku.

“Baiklah kita pergi sekarang”

***

Perjalanan dari Venesia ke Roma tidak membutuhkan waktu yang lama. Kini kami telah berada di Roma, tepatnya di depan Villa milik Hyukjae, Hyungnya Taemin.

Aku berdecak kagum melihat Villa ini. Tidak terlalu besar memang, tapi terkesan sangat simple dan nyaman untuk ditempati.

“Mr. Aiden?” seorang pria berusia sekitar 30an seraya menghampiri kami. Kurasa ia penjaga Villa ini. Aiden? Rasanya aku mengenal nama itu sebelumnya, tapi dimana?

“Oh, Mr. Ferdinand?” sapa Donghae ramah.

“Welcome to Rome” sambut pria bernama Ferdinand itu. Kemudian ia mempersilahkan kami masuk kedalam Villa ini.

“Is She your Wife?” tanya pria itu seraya tersenyum menatapku. Aku hanya tersenyum kaku membalas senyumnya.

“Yeah, you right” ucap Donghae seraya melangkah masuk ke dalam Villa dan aku mengikuti nya dari belakang.

“Hello I’m Angela. Nice to meet you” ucapku.

“Oh Hello Mrs. Angela, Nice to meet you too”

Aku kembali berdecak kagum melihat arsitektur dalam Villa ini. Nuansa eropa klasik membuatku berdecak kagum. Rumah ini—memiliki beberapa kemiripan dengan rumah lamaku di London.

“Tuan Lee” sapa seorang wanita parubaya bermata sipit dengan aksen korea yang sangat kental.

“Kwon Ahjumma?” ucap Donghae girang seraya memeluk erat wanita itu.

“Tuan Lee Donghae, benarkah yang saya lihat ini? Aigoo, aku tak menyangka anda telah tumbuh besar dan menjadi pria setampan ini” puji wanita itu. Sementara Donghae? Ia nampak tersipu mendengar pujian dari wanita yang dipanggil nya ‘Ahjumma Kwon’ itu. Perutku mendadak mual melihatnya.

Mata wanita itu kemudian memandang ku dengan tatapan hangat “Anda pasti Nyonya Lee? Benar bukan?” tebaknya. Aku hanya tersenyum kaku tanpa menjawab tebakan nya.

“Ahjumma, ia adalah istriku. Namanya Lee Cheon Neul” ucap Donghae.

Lee Cheon Neul?!

Siapa yang menyuruhnya mengubah marga ku seenaaknya?!

“Saya sudah tahu Tuan, ngomong-ngomong istri anda cantik sekali” ucap wanita itu.

“Terima Kasih” ucapku.

“Oh ya, kalian berdua pasti lelah. Sebaiknya istirahat saja dulu, kamar kalian sudah siap” ucap wanita itu seraya berjalan meninggalkan kami berdua.

“Kau tidak lelah?” tanya Donghae seraya berjalan meninggalkan ku.

Pria ini bodoh atau apa? tentu saja aku lelah!

“Yak! Kau pakai dimana otakmu?! Tentu saja aku lelah” ucapku kesal.

“Kalau begitu kenapa masih disitu? Cepat ikut aku” ucapnya seraya berjalan menaiki tangga yang membawanya menuju lantai dua rumah ini. Dengan kesal aku berjalan mengikuti nya dari belakang.

“Kita tidur sekamar lagi?” tanyaku saat aku ikut masuk kedalam sebuah kamar berukuran besar.

“Kurasa begitu”

Ake mengedarkan pandangan ku seluruh sudut kamar ini. Sangat nyaman untuk ditempati. Kemudian aku berjalan menuju balkon kamar ini.

Aku dapat menghirup udara segar dari balkon ini beserta pemandangan yang indah menakjubkan.

“Cantik sekali” ucapku terkagum-kagum.

“Ini tempat favoritku saat aku berkunjung kemari dulu” ucapnya seraya berdiri disampingku.

“Kau pernah kesini? Kapan?” tanyaku.

“Sudah lama sekali”

Aku hanya mengangguk paham dengan jawaban nya. Mataku kembali terfokus pada pemandangan menakjubkan dari balkon kamar ini.

“Cheon Neul-ya” ucap Donghae enggan.

“Hmm” aku hanya bergumam sebagai respon saat pria itu memanggilku. Aku menggernyit heran melihat keraguan yang jelas-jelas begitu kentara dari raut wajah si bodoh itu.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Ehm—apa benar, namamu—Angela?” tanya nya ragu.

Bagaimana bisa ia tahu namaku?

Sejenak, aku berfikir, mungkin ia tahu dari Appa atau Siwon Oppa. Aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban.

“Ahh~ benarkah? Tapi—bagaimana bisa kau memiliki nama lain? Apa kau pernah tinggal disuatu tempat sebelumnya?” tanya nya. Ish! Ada apa dengan nya? Kenapa ia suka sekali bertanya hal-hal pribadiku! Tapi, bukankah ia suamiku? Kurasa ia juga perlu tahu tentangku. Yah, walaupun pernikahan kami tak kan bertahan lama.

“Yah, kau benar—sebelum semua masalah itu terjadi, aku pernah tinggal di Inggris. Tak berapa lama kemudian aku ditarik kembali ke Seoul, setelah perceraian orang tuaku” ceritaku.

 

Donghae POV.

“Yah, kau benar—sebelum semua masalah itu terjadi, aku pernah tinggal di Inggris. Tak berapa lama kemudian aku ditarik kembali ke Seoul, setelah perceraian orang tuaku” ceritanya. Kulihat ia nampak menerawang jauh, dengan senyuman getir. Aku tak menyangka gadis bebal sepertinya bisa menunjukan ekspresi seperti ini juga.

Jujur saja, aku merasa sedih dengan ekspresinya saat ini. Dan satu hal lagi, sekarang aku benar-benar yakin bahwa gadis ini—adalah gadis kecilku dulu, Angela Choi.

Perasaan sedih dan senang berkecamuk dalam hatiku. Aku sedih melihatnya begitu menderita selama ini, yah gadis itu mungkin tak akan mengakuinya, tapi aku yakin ia benar-benar telah menderita. Di sisi yang lain, aku merasa senang, gadis ini.. ia adalah gadis kecilku yang pernah ku tinggalkan di London. Aku tak pernah menyangka ia sudah menjadi istriku sekarang.

Dan entah kenapa, aku merasa.. mulai saat ini aku harus melindunginya.

Aku akan mencoba membuatnya menatapku.

Menatapku sebagai seorang suami untuknya.

***

Hari sudah semakin gelap, aku tengah merapikan jas hitam yang kukenakan saat ini. Yah, aku sedang bersiap-siap pergi ke acara pertunangan temanku. Sebenarnya aku juga bingung, dari mana anak itu tahu aku di Italy?

Aku telah selesai bersiap-siap, aku tinggal menunggu gadis itu selesai bersiap-siap lalu berangkat.

Tak lama kemudian pintu kamar mandi didalam kamar ini terbuka. Aku sedikit tertegun melihat gadis itu saat ini. Gaun hitam selutut dengan lengan pendek bermotif bunga-bunga berwarna senada, benar-benar pas ditubuhnya.

“Yak! Apa yang kau lihat?! Dasar mata keranjang!” makinya seraya menatapku tajam. Apa ada yang salah? Aku tidak merasa ada sesuatu yang salah. Aku hanya—sedikit terkagum.

Dengan wajah jengkel, ia berjalan menuju meja rias di sudut kamar ini.

“Hae, apa harus aku memakai pakaian seperti ini? ini benar-benar sangat tak nyaman” ucapnya lalu mengoleskan bedak tipis di wajahnya.

“Tentu saja, kau ingin membuatku malu saat membawamu kepesta?” entah kenapa aku bisa bicara seperti itu, aish! Kau bodoh sekali Lee Donghae!

Kulihat ia menatapku dengan wajah sangar, aku sudah menduganya, ia pasti akan mengamuk sekarang.

“Mwo? Yak! Jika aku membuat mu malu, sebaiknya aku tak usah ikut saja!” ucapnya dengan nada meninggi. Ah~ gadis ini!

“Yayaya! Jangan seperti itu. sudahlah, pakai saja gaun itu, itu terlihat cocok untuk mu” ucapku. Ia mendengus kesal seraya merapikan sedikit dandanan nya.

***

Kami telah tiba disebuah Convention Center di pusat kota Roma. Suara piano classic menyambut kami begitu kami masuk kedalam gedung megah ini.

“Donghae Hyung!” sambut seorang pria berambut blonde dengan senyum kekanak-kanakan nya, Henry Lau.

“Henry! Oraemaniyo!” ucapku seraya berpelukan dengan nya.

“Yah begitulah. Oh ya! Apa ini istrimu?” tanya Henry setelah kami mengakhiri acara melepas rindu tadi dan berbalik menatap Lee Cheon Neul—istriku, eh? Tapi tak apa bukan jika mulai saat ini aku memanggilnya Lee Cheon Neul?

“Tentu, perkenalkan ini istriku, Lee Cheon Neul” ucapku seraya memperkenalkan Cheon Neul, kulihat Cheon Neul melirik ku tak terima dengan marganya yang ku ubah.

“Anyeonghaseyo” ucap Cheon Neul berusaha seramah mungkin. Aigoo, jika saja sifat lembut gadis ini permanen, pasti rasanya menyenangkan sekali. Ck! Tapi nyatanya? Gadis ini begitu mengerikan.

“Hyung istrimu cantik sekali! Kudengar kalian baru saja melangsungkan pernikahan beberapa hari yang lalu. Jadi, kalian berbulan madu disini?” tanya Henry.

“Siapa yang memberitahumu?” tanyaku tanpa mengindahkan pertanyaan dari Henry barusan.

“Dua hari yang lalu aku menghubungi Kibum, dan ia yang memberitahuku tentang pernikahanmu. Chukae!” ucapnya riang.

“Lalu bagaimana dengan Tunanganmu, aku ingin melihatnya” ucapku mengalihkan topik pembicaraan melihat aura gelap dari wajah Cheon Neul kembali.

“Tunggu disini sebentar” ucapnya seraya berjalan menuju seorang gadis dengan balutan gaun putih gading yang tengah bercengkrama dengan beberapa orang berwajah asia. Tak lama kemudian ia segera menggandeng gadis itu lalu membawanya ketempat kami –aku dan istriku­­­­­.

“Perkenalkan Hyung, dia Tunanganku. Hellen Wu” ucap Henry seraya memperkenalkan Tunangan nya. Gadis itu nampak tersenyum ramah kepadaku dan ekhem—istriku.

“Hi” sapanya.

“Hellen Wu? Ia orang China juga?” tanyaku sedikit terkejut karna gadis ini sama sekali tidak terlihat seperti orang asia.

“Begitulah”

***

Kami memutuskan pulang lebih dulu begitu acara telah selesai. Pasalnya gadis ini terus memaksa ku untuk kembali ke Villa dengan alasan sudah mengantuk. Hah! Gadis ini!

Dalam perjalanan pulang, gadis ini terus diam tak bersuara. Tumben sekali! Ada apa dengan nya? Setelah dipikir-pikir gadis ini tak kunjung bersuara sejak pertemuan kami dengan Hellen.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku begitu kami sampai di Villa. Dengan lesu gadis itu mengangguk singkat. Aku yakin ia sedang berada dalam keadaan yang tidak baik.

Aku memutuskan mengurungkan niatku untuk bertanya lebih jauh saat melihatnya masuk kekamar mandi begitu kami berada didalam kamar.

Drrrt..drrtt..

-Mr. Ferdinand Calling­­-

Aku segera merogoh ponsel dari saku celanaku dan mengangkatnya.

“Hallo?”

***

Aku menggeliatkan tubuhku begitu sinar matahari tanpa sengaja mengusik tidurku. Aku membuka mataku agak menyipit seraya meregangkan tubuhku yang kaku karna ditahan sesuatu.

Sesuatu?

Aku terkejut saat mendapati tubuhku yang masih terbalut kameja putih yang kukenakan di pesta tadi malam kini telah menjadi sandaran kepala seseorang yang tentu saja sudah sangat kukenal. Siapa lagi? Tentu saja Han Cheon Neul! Atau—haruskah aku memanggilnya Lee Cheon Neul?

Kedua sudut bibirku terangkat keatas, untuk pertama kalinya gadis ini tidur dengan kepala bersandar di tubuhku, tepatnya didadaku. Hffftt!! Tiba-tiba wajahku memanas!

Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku tak menyangka dalam hitungan hari terhitung setelah kami menikah aku bisa menyukai gadis ini dengan cepat. Apa karna gadis ini adalah Angela Choi? Entahlah aku tak ingin ambil pusing untuk memikirkan hal itu saat ini. Yang terpenting sekarang adalah aku bisa menikmati moment langka seperti saat ini sebelum gadis ini bangun dan kembali menunjukan sifat iblisnya.

Aku kembali tersenyum tipis saat melihat wajah polos gadis ini ketika tidur. Benar-benar menggemaskan! Jika saja sifat aslinya tak sekejam iblis, mungkin aku bisa mencubit pipinya gemas sepuasnya.

 

Sudah 15 menit berlalu, aku masih betah berada diatas tempat tidur seraya memandangi wajah polos gadis ini ketika tidur. Hingga tiba-tiba saja gadis ini mulai menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan segera bangun. Dengan cepat aku segera menutup mataku—berpura-pura tidur.

***

Cheon Neul POV.

            Entah ini perasaanku saja atau bukan, aku merasa tidurku sangat nyaman hari ini. Atau, apakah ini masih didalam mimpi? Sungguh, ini nyaman sekali! Rasanya aku ingin melanjutkan tidurku lebih lama.

Aku menggeliatkan tubuhku saat cahaya matahari mulai mengusik tidurku yang nyaman ini. Membuatku harus rela mengakhiri tidurku.

Aku sedikit terkejut melihat seorang lain nya yang tengah tidur disampingku. Ehm—oke, aku tahu ia memang selalu tidur dikasur yang sama dengan ku. —Tapi tidak dengan jarak sedekat ini—. Yah, syukurlah mata pria ini masih terpejam, setidaknya dia tidak akan tahu jika kami tidur dengan jarak sedekat ini.

Aku segera bangkit dari tidurku dan bergegas masuk kekamar mandi setelah mengambil baju ganti dan peralatan mandiku sebelum si bodoh itu bangun.

***

Author POV.

Pagi ini adalah pagi terakhir bagi Donghae dan Cheon Neul berlibur di negara Italy ini. Karna siang nanti keduanya akan kembali ke korea.

Kini Cheon Neul tengah sibuk membereskan kopernya begitu ia selesai dengan acara mandinya. Sementara itu, Lee Donghae yang telah bangun dari tidur pura-puranya itu memutuskan untuk mandi begitu gadis itu telah selesai mandi.

“Jam berapa kita berangkat?” tanya Cheon Neul yang tengah duduk di pinggir tempat tidur begitu dilihatnya pria itu telah keluar dari kamar mandi.

“Jam 3 siang nanti” ucap Donghae singkat seraya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Cheon Neul hanya mengangguk singkat mendengar jawaban dari pertanyaan nya tadi.

“Ini masih jam 8 pagi, setidaknya kita masih punya sekitar 6 jam lagi untuk berkunjung ke suatu tempat” ucap Donghae lagi seraya duduk disebelah Cheon Neul.

“Mwo? Suatu tempat? Kita? Tidak, terima kasih.. kau saja yang pergi, aku punya acara lain untuk 6 jam ini” ucap Cheon Neul seraya melipat kedua tangan nya didepan dada dengan angkuh.

“Ya! Aku sudah meminta Mr. Ferdinand memesan tempatnya kemarin untuk kita berdua! Bagaimana bisa kau menolak!” ucap Donghae sedikit meninggikan volume suaranya.

“Itu hak ku, kau tak perlu ikut campur! Kau lupa isi surat perjanjian kita nomor 2 dan 3?” ucap gadis itu tak peduli.

Donghae hanya mendengus kesal mendengar ucapan gadis itu. Ia tak habis fikir dengan isi kepala gadis dihadapan nya ini, bagaimana bisa ia mendapatkan seorang istri berhati batu seperti gadis ini? Tapi bukan Lee Donghae namanya jika ia hanya diam saja begitu gadis ini tidak menghargai usahanya, yah—walaupun ini tidak sepenuhnya usahanya sendiri, tapi setidaknya ia berusaha ingin memberikan kesan manis untuk istrinya dihari terakhir mereka disini.

“Aku tidak akan mengizinkan mu pergi kemana-mana sekarang, sebelum kita pergi ke tempat yang sudah ku pesan” ucap Donghae tak ingin dibantah.

“Yak! Kau sudah melanggar isi surat perjanjian kita!”

“Aku tidak melanggarnya, aku hanya ingin memberi kesan yang baik dihari terakhir kita disini. Aku jamin kau tak kan menyesal begitu kita tiba disana. setelah sarapan pagi, kita akan langsung kesana”

***

“Jadi, ini tempatnya? Ck! Jika kau ingin mengajak ku kemari, tanpa kau suruh pun aku memang berencana ke tempat-tempat ini” ucap Cheon Neul begitu mereka telah tiba disebuah daerah bernama Piazza Navona.

“Tidak, bukan ini tempatnya. Aku hanya ingin mengajakmu berjalan-jalan sebentar sebelum kita pergi dari kota ini” ucap Donghae seraya menarik Cheon Neul berjalan menyusuri jalan sekitar Piazza Navona.

Keduanya memutuskan untuk mampir disebuah kedai di pinggir jalan yang cukup padat dengan pengunjung.

“Kau ingin makan pizza?” tanya Donghae begitu mereka duduk disalah satu sudut kedai itu.

“Asal kau yang traktir”

Donghae segera memanggil seorang pelayan dan memesan sepiring Pizza berukuran jumbo serta 2 gelas minuman.

“Sebenarnya kau ingin mengajak ku kemana? Tadi kau bilang kita akan pergi dari kota ini, jadi maksudmu kau mengajak ku keluar dari kota ini?”

“Rahasia, kau pasti akan menyukainya. Sebaiknya cepat habiskan makananmu atau kita akan terlambat pergi ke tempat itu” ucap Donghae seraya memakan sepotong pizza berukuran jumbo itu.

***

Setelah keduanya telah selesai dengan acara makan mereka. Kini keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah objek wisata berikutnya yang terdapat dikota Roma ini.

“Kau mengajak ku kesini?” tanya Cheon Neul seraya mendengus kesal begitu mereka tiba di Piazza Di Tervi, dimana kita bisa mendapati kolam air mancur yang sangat terkenal dikota Roma ini, Trevi Fountain.

“Yah, ini tempat terakhir kita. Karna Mr Ferdinand sudah menunggu kita tidak jauh dari sini. Cha! Kita bisa melempar koin bersama! Siapa tahu kita bisa kembali ke kota ini bersama” ucap Donghae antusias seraya memberikan Cheon Neul sebuah koin.

“Aku memang ingin kembali kemari, tapi tidak bersamamu” ucap Cheon Neul angkuh.

“Oh ayolah, bisakah sekali saja kau bersikap manis? Apa susahnya melempar koin ke dalam kolam ini bersama” rengek Donghae.

“Tidak, kau saja”

“Aku tidak menerima penolakan!” ucap Donghae seraya memaksa gadis itu mematuhi perintahnya. Akhirnya Cheon Neul memutuskan mengalah begitu ia merasa tidak enak dengan para pengunjung lain nya yang menatap aneh Donghae dan dirinya.

“Baiklah, kita lakukan ini dengan cepat, lalu pergi dari tempat ini” ucap Cheon Neul seraya menerima koin pemberian Donghae.

“Baiklah, kita lempar bersama-sama!” ucap Donghae seraya mengatur posisinya dan Cheon Neul untuk membelakangi kolam itu.

“Hana, Dul, Set!” aba-aba Donghae, lalu keduanya melempar koin itu bersama.

“Woaaa!! Koin itu masuk!” pekik Donghae senang begitu mendapati koin mereka berhasil masuk kedalam kolam itu.

“Cih! Dasar kekanak-kanakan!” cibir Cheon Neul.

“Ayo pergi!”

“Tidak kah kau ingin berfoto-foto dulu sebelum pergi?” tanya Donghae.

***

Kini keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat tujuan utama mereka. Mr Ferdinand kali ini akan mengantar mereka menuju tempat utama mereka sebelum keduanya akan kembali ke korea.

“Kita akan pergi ke kota Florence” ucap Donghae begitu mereka tengah dalam perjalanan.

“Kota Florence?”

“Ne, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah di kota itu”

***

Jarak antara Roma dan Florence memakan waktu yang cukup lama. Kini mereka telah tiba di sebuah tempat di Kota Florence. Kelihatan cukup banyak pengunjung, namun tetap terlihat asri dan indah.

“Welcome to Florence City!!” ucap Donghae begitu keduanya telah tiba di tempat tujuan mereka.

“Kau pasti akan kagum dengan keindahan tempat ini, kita akan pergi ke The Bardini Garden” ucap Donghae seraya kembali menarik tangan Cheon Neul untuk mengikuti langkahnya.

The Bardini Garden adalah sebuah taman dengan luas sekitar 4 hektar ini terletak diantara Piazzale Michaelangelo dan Giardino Di Boboli di Oltrano, seberang sungai arno yang menjadi pusat dari sejarah kota Florence.

Donghae memutuskan mengajak Cheon Neul melewati Via Dei Bardi, dimana mereka akan mendapati kebun mawar kecil yang indah.

“Woaaa! Indah sekali!” kagum Cheon Neul begitu mereka melewati rimpun bunga mawar yang indah. Donghae nampak tersenyum senang begitu ia berhasil menyenangkan hati istrinya itu.

“Bagaimana bisa kau tahu tempat ini?” tanya Cheon Neul yang nampak begitu puas dengan keindahan disekitarnya saat ini. Donghae nampak terkekeh pelan seraya melanjutkan langkahnya menuju tempat utama.

“Aku mencarinya diinternet” jawab Donghae seadanya.

“Ck! Jadi ini juga pertama kalinya kau pergi ketempat ini?” cibir Cheon Neul.

“Begitulah”

Kini mereka berdua menyusuri jalanan cukup berliku di tengah taman, sesekali keduanya berfoto bersama ditaman itu. Perjalanan mereka berakhir di Villa Bardini, sebuah bangunan yang dirangkap menjadi Restoran, kafetaria, dan toko buku.

Keduanya memutuskan untuk mampir sebentar disebuah Caffehaus untuk melepas lelah.

“Bagaimana? Kau puas?” tanya Donghae setelah mereka menyebutkan pesanan mereka pada seorang pelayan wanita.

“Tempat ini tak kalah mengagumkan dari Venesia dan Roma! Tempat ini indah sekali! lain kali aku akan kembali kemari” ucap Cheon Neul seraya mengangguk antusias.

Donghae nampak tersenyum senang begitu melihat wajah antusias Cheon Neul.

“Sebelum kita pergi ke Bandara, sebaiknya kita membeli beberapa pernak-pernik di tempat ini. kebetulan tempat ini tidak jauh dari Piazzale Michaelangelo” ucap Donghae semangat.

“Baiklah”

***

Puas berbelanja pernak-pernik khas kota Florence, keduanya memutuskan untuk langsung berangkat ke bandara Marcopolo.

“Ahh—lain kali aku akan kembali kemari” gumam Cheon Neul seraya menarik kopernya yang baru saja dibawakan oleh Mr Ferdinand.

“Aku juga” sahut Donghae.

Keduanya memutuskan segera masuk pintu keberangkatan begitu mereka selesai berpamitan dengan Mr Ferdinand.

***

Perjalanan dari Italy-Korea memakan waktu yang sangat lama. Yah, tentu saja kedua pasangan suami-istri yang baru saja menyelesaikan liburan mereka begitu kelelahan, duduk dipesawat dengan waktu yang lama tentu membuat mereka keram.

“Ah~ beberapa hari disana membuatku rindu rumah” ucap Donghae begitu keduanya telah sampai di Korea.

“Siapa yang akan menjemput kita disini?” tanya Cheon Neul tanpa peduli dengan ucapan Donghae sebelumnya.

“Aku sudah meminta Oppamu untuk menjemput kita. Mungkin tak lama lagi ia datang” ucap Donghae. Cheon Neul hanya mengangguk-angguk kan kepalanya tanpa berniat membalas ucapan Donghae.

“Apa kalian sedang membicarakanku?” sambung seseorang dari belakang Donghae hingga membuatnya segera menoleh kebelakang.

“Oppa!!” ucap Cheon Neul girang seraya memukul bahu Siwon pelan.

“Bagaimana bulan madu kalian disana? apa menyenangkan?” tanya Siwon tanpa basa basi seraya memandang sepasang suami-istri itu dengan tatapan menyelidik. Baik Cheon Neul maupun Donghae yang mendengarnya seketika membisu. Siwon segera menyadari suasana yang tiba-tiba hening berkat pertanyaan nya yang terlalu ‘sensitif’. Baru saja Siwon ingin mengoreksi ucapan nya, tiba-tiba Donghae langsung memotong ucapan nya.

“Ahahaha!! Siwon-aa! Kau bicara apa? sebaiknya kita segera pergi, kami lelah sekali” ucap Donghae tertawa renyah seraya merangkul bahu Siwon dengan tangan kirinya sementara tangan kanan nya menggeret kopernya. Sementara itu, Cheon Neul hanya dapat menghela nafas lega (karna tak perlu berfikir untuk menjawab pertanyaan bodoh itu) seraya mengikuti langkah kedua pria itu dari belakang.

***

Perjalanan dari Incheon-Seoul memakan waktu yang cukup lama. Membuat Cheon Neul tertidur pulas selama perjalanan menuju rumah Keluarga Lee.

“Sepertinya kalian belum saling terbuka” komentar Siwon setelah ia yakin bahwa Cheon Neul benar-benar tertidur pulas dan tak mungkin mendengarkan pembicaraan mereka, pria berparas tampan itu nampak memperhatikan gadis itu dari kaca mobilnya, Donghae yang duduk di sebelah Siwon segera menoleh.

“Maksudmu?”

“Ia selalu menunjukan rasa tidak sukanya dengan sangat jelas. Sementara kau masih terikat dengan Jessica” ucap Siwon lagi. Donghae menghela nafas berat lalu mulai berucap “Hubungan kami—sudah berakhir” ucapnya kecil.

Mengingat hari dimana hubungan nya bersama gadis yang ia cintai berakhir membuat Donghae termenung sedih.

“Mwo? Hubungan kalian sudah berakhir? Maksudmu—hubunganmu dengan Jessica? Kenapa bisa kami tidak tahu?” tanya Siwon tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Awalnya aku berniat menyembunyikan perihal pertunanganku sampai aku benar-benar siap mengatakan nya. Tapi, sehari setelah acara itu, ia mengajak ku untuk bertemu dengan nya, dan saat itu pula ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami karna ia sudah mengetahui hal itu” cerita Donghae.

“Kisah kalian berakhir tragis” komentar Siwon seraya menoleh kebelakang memastikan bahwa Cheon Neul masih terlelap dan tak mungkin mendengarkan pembicaraan nya dengan Donghae.

“Tidak usah berlebihan!” kesal Donghae.

“Donghae-ya.. Sekarang kau adalah bagian dari keluargaku. Aku tetap menerima kenyataan bahwa kau telah menjadi suami adik ku walau sebenarnya aku tahu bahwa kau masih mencintai gadis lain. Tapi—aku berharap kau tak akan membuat gadis kecilku ini menangis, jika itu terjadi—aku tak kan segan-segan memukul sahabatku yang satu ini”

***

Cheon Neul POV.

Setelah sekian lama, mimpi ini kembali hadir. Mimpi seorang gadis kecil yang sedang menunggu seseorang dimusim dingin. Aku tidak mengerti sama sekali, kenapa mimpi ini kembali hadir.

“Where are you Aiden?” ucapnya seraya terisak. Suara ini—suara ini terasa nyata ditelingaku.

Aiden? Siapa pria itu?

Apa aku mengenalnya?

“Aiden..”

Apa gadis itu adalah aku? Apa ada suatu hal yang telah aku lupakan?

***

Donghae POV.

“Lee Cheon Neul—kita sudah sampai dirumah. Irreona” ucapku seraya menepuk-nepuk pipinya pelan.

“Ada apa dengan nya?” tanya Siwon seraya mendekatiku.

“Sepertinya ia bermimpi buruk” ucapku seraya memeperhatikan wajah gadis itu yang nampak pucat walaupun tengah tertidur.

“Sebaiknya kau bawa ia kekamar, biar aku saja yang membawa koper-koper ini” ucap Siwon, aku hanya bisa mengangguk patuh pada sahabatku atau—haruskah aku memanggilnya ipar? Entahlah, yang jelas aku harus segera membawa gadis ini masuk kedalam rumah.

Dengan hati-hati aku mengangkat tubuhnya dan segera berjalan memasuki kediaman keluargaku.

“Aiden..”

Langkahku tiba-tiba saja terhenti saat gadis ini menyebut namaku dengan nada pelan. Apa ia sedang mengigau?

“Aiden.. Where are you? Don’t leave me” ucapnya tanpa membuka matanya. Apa ia sedang memimpikanku?

“I’m here, mulai saat ini aku tak kan pernah meninggalkanmu..” bisik ku.

 

To Be Continue

Ok, gimana dengan ff ini? gaje kah?

Makasih buat admin yang udah bersedia untuk posting ff abal-abal saya ini.

Saya mengharapkan kritikan dan sarannya jika ada yang masih kurang.

So tengkyu..

Silahkan juga berkunjung di Blog gaje saya http://oursjfanfiction.wordpress.com

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Feb 19, 2016 @ 17:11:10

    Ternyata mereka sdh saling mengenal saat masih kecil. Tapi untunglah donghae sdh mengetahuinya, semoga aja cheun neul bisa mengenal donghae yg sebenarnya aiden….

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: