The Big Deal

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

THE BIG DEAL

Author : Amanda Puspa

Cast : Cho Kyuhyun

            Lee Hyemin (OC)

            Park Seung Mi (OC)

            Park Jung Soo

            Kim Kangin

Genre : Thriller, Supranatural, Romance

Rating : AU

Type   : Oneshot

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams (Eleanor Rosevelt)

 

xxXXxx

 

Seoul, 10.00 pm, puncak kepadatan kota.

 

Ribuan pekerja kantoran yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mulia mereka tampak berjubel memenuhi trotoar Chungmuro-gil. Dengung obrolan membahana memcahkan kesnyuian malam. Dering ponselpun terdengar dari berbagai arah menandakan aktifitas yang tak akan kunjung terputus. Halte bus dipenuhi orang-orang yang tengah resah menunggu bus yang akan membawanya kembali pulang, kembali ke alam yang nyaman dan damai, bersama dengan keluarga yang dicintainya.

 

Asap – asap kendaran yang sarat akan kadar carbon monoksida melingkupi tubuh mereka dan mereka hirup layaknya sebuah “obat kuat” yang perlahan – lahan akan membawa mereka ke dunia keabadian, dunia kematian. Deru kendaran menandakan masih banyak suplei carbon monoksida yang harus mereka hirup sebagai konsekuensi mereka hidup di sebuah kota besar.

 

Tanpa disadari oleh orang-orang itu, malaikat kematian dengan sayap hitamnya yang besar diam-diam telah meminjamkan tangannya kepada seorang bajingan yang dipenuhi dendam masa lalu untuk menuntut balas. Dengan senyum liciknya sang malaikat kematian merentangkan sayapnya, melingkupi semua orang di sekitar Chungmuro-gil dengan sayap kematiannya.

 

***

10.30 pm, di sebuah apartemen murah di Seoul.

 

Seorang gadis manis berambut cokelat panjang tampak tengah tertidur lelap. Badannya tampak melemas dan diam. Kamar gelapnya terasa dingin, menampilkan sebuah kedamaian. Dia telah tertidur pulas saat orang-orang diluar sana, masih disibukan dengan perjalanan pulang mereka dari tempat kerja. Rasanya malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya bagi si gadis, yang akan berlalu dengan tenang dan damai. Namun semuanya tidak berjalan lama…

 

Tiba-tiba nafas si gadis menjadi menderu kencang. Tangannya mengepal keras seakan sedang menahan sebuah rasa sakit yang tiba-tiba menderanya. Bulir – bulir keringat dingin tampak mulai muncul di dahinya.

 

Si gadis merasakan tubuhnya seaka-akan tersedot dalam sebuah mesin waktu. Kelebatan-kelebatan kejadian bagaikan sebuah video yang dipercepat, tampak buram, tak jelas dan tak bermakna.

 

Dia bermimpi tengah berdiri disebuah gedung perkantoran yang sepi dan gelap, namun anehnya dia masih bisa melihat dengan jelas semua perabotan yang ada dalam gedung itu. dia menoleh kekanan dan kekiri berusaha mencari tahu keadaan disekitarnya. Dia bisa melihat deretan meja kerja dengan setumpuk dokumen pada masing-masing meja dan sebuah kursi empuk didepannya. Di ujung ruangan terdapat sebuah cabinet dari besi berwarna ke abuan yang tampak kokoh. Jendela-jendelanya tertutup korden berwarna putih yang menghalangi cahaya dari luar untuk masuk kedalam ruangan itu. Terakhir kali yang dia ingat, adalah dia tengah tetidur lelap di dalam kamarnya yang damai.

 

Dia berjalan menuju pintu ruangan yang berkusen kayu gelap dan memutar knopnya yang bulat. Saat pintu terbuka, di depannya tampak sebuah lorong gelap yang sangat menakutkan. Di sisi lorong itu ada banyak sekali pintu yang tertutup, hanya ada satu pintu yang terbuka yang memancarkan sinar kecil dari sebuah senter.

 

Disesak oleh rasa keingin tahuan yang sangat kuat, dia berjalan mendekati pintu itu dan melihat ke dalamnya. Seorang laki-laki berbaju serba hitam tampak sedang memasang sebuah alat berbentuk kotak berukuran 20 x 15 sentimeter dengan banyak kabel berwarna merah, biru dan kuning mencuat dari dalamnya, di bawah sebuah meja kantor berukir indah.

 

“Aku harus membawa semuanya yang telah membuangku.” Gumam si laki-laki dengan nada penuh dendam.

 

“Akan kubalas semua perbuatan mereka.”

 

Si gadis mengerutkan dahinya mendengar gumaman si pria berbaju hitam. Dia mendekatinya dengan perlahan dan berusaha untuk melihat wajah si pria yang sedang memunggunginya.

 

Chogiyo?” Panggil si gadis, tetapi tak ada reaksi apapun dari si pria, seakan gadis ini hanyalah sebuah banyangan semua tak terliha, tak teraba dan tak terasa.

 

Sebuah tawa melengking dan penuh dendam keluar dari bibir si pria dan membuat bulu kuduk si gadis meremang, Belum pernah dia mendengar suara tawa yang sangat menakutkan dan penuh hasrat membunuh seperti itu sebelumnya.

 

Dia semakin mendekati tubuh si pria yang masih disibukan dengan menyambung kabel-kabel warna-warni itu. Sejenak dia melihat sebuah bekas luka berbentuk silang di pergelangan tangannya.

 

Tiba-tiba saja pria itu menghilang bagaikan kabut meninggalkan si gadis beserta kotak yang sekarang permukaannya dihiasi sebuah laya berwarna merah yang menunjukan waktu yang mulai berdetak mundur.

 

30 detik lagi

 

Ya tuhan! Bukankah itu sebuah bom? Batin si gadis. Kepanikan segera melandanya. Dengan ukuran bom sebesar itu, dia tidak hanya bisa menghancurkan gedung tersebut tetapi juga gedung-gedung disekitarnya.

 

Dengan segera si gadis mendekati bom tersebut dan menyentuhnya. Tetapi anehnya tangan si gadis tak bisa menyentuhnya, tangannya menembus bom tersebut. Waktu terus berjalan, 25 detik lagi, 24 detik lagi, 23 detik lagi. Rasa frustasi si gadis semakin menjadi, namun sekeras apapun dia mencoba, dia tak pernah bisa untuk menyentuh bom tersebut.

 

“Siapapun yang ada disini tolong! Ada bom disini! tolong!” teriaknya.

 

Hening, tak ada tanggapan, dan tak ada seorangpun yang menghampirinya. Waktu hanya tinggal 10 detik terakhir, 9 detik, 8, 7, 6. Air mata si gadis sudah tak terbendung lagi, pikirannya kalut, dia tak siap menghadapi kematian, apalagi ditempat asing seperti ini. 5 detik terkahir, 4 detik, 3, 2, 1 .

 

Si gadis merasakan tubuhnya kembali tertarik oleh sesuatu yang lalu menjatuhkannya pada sebuah tempat, Chungmuro-gil. Dia ingat tempat ini, ini adalah jalan di depan kedai mungil tempat dia bekerja. Matanya terbelalak kaget saat dia lihat banyak sekali tubuh-tubuh mati bersimbah darah tergolek tak beraturan di tengah jalan. Banyak orang-orang berseragam berlalu lalang menolong orang-orang yang selamat namun terluka parah. Seorang petugas kepolisian berjalan didepan si gadis dengan wajah frustasi.

 

Chogiyo, gyeongchal-nim, ada apa ini? Kenapa mereka semua mati?” Tanya si gadis sambil mengikuti langkah si polisi yang tampaknya tak mendengarnya.

 

Gyeongchal-nim!” si gadis jatuh terduduk ditengah jalanan beraspal, air mata membasahi wajahnya, dia sungguh ingin bisa pergi dari sana, kembali ke kamarnya yang damai bagaimanapun caranya.

 

Tiba-tiba dia merasakan sebuah sinar yang menyilaukan menerpa wajahnya diiringi dengan deru mesin mobil yang tampaknya semakin mendekati tubuhnya. Dia menoleh ke arah sinar tersebut dan melihat sebuah mobil pemadam kebakaran meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya.

 

Aaaaaaaa” Teriak si gadis.

 

***

Seoul, pagi harinya…

 

Lee Hyemin memandangi pantulan wajahnya di cermin dengan seksama. Matanya tampak sedikit merah dan bengkak. Kepalanya dipenuhi baying-bayang mimpinya semalam. Mimpi mengerikan yang terasa sangat nyata baginya hingga dia menitikan air mata.

 

Hyemin menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua bayang-bayang itu. Ia mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya bersiap untuk bekerja. Dia bekerja pada sebuah café di daerah Chungmuro-gil. Setiap hari sebelum pukul 10 pagi dia harus berangkat bekerja sebagai pelayan café demi memenuhi kebutuhannya. Sudah hampir 3 tahun dia menjalankan profesinya, sebuah pilihan sulit sebenarnya untuknya, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, hanya dengan meninggalkan sedikit harta. Dia harus pindah ke sebuah apartemen murah dan tinggal bersama Park Seung Min, sahabatnya yang sama-sama seorang yatim piatu.

 

Hyemin keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan sebuah tas mungil menggantung di bahunya. Dia menatap sekilas Seung Mi yang masih tampak berantakan dan sedang menatap layar televisi dengan serius. Kedua tangannya menopang semangkuk besar sereal yang mengapung di atas susu putih.

 

“Kau belum mandi? Ini sudah hampir jam 9, kau ingin terlambat bekerja huh?” Bentak Hyemin sambil memukul pelan kepala Seung Mi.

 

Yak! Appo! Kita tidak perlu bekerja hari ini. Café kita udah hancur.”

 

Mwoya?” Seung Mi menunjuk televisi dengan dagunya sambil menyuapkan sesndok besar sereal ke dalam mulutnya.

 

Pandangan Hyemin tertuju pada layar kaca yang sedang menanyangkan hiruk pikuknya sebuah jalan yang di penuhi oleh mayat-mayat yang bergelimpangan. Seorang reporter berita pria tampak sedang menjelakan keadaan tersebut secara lisan.

 

“Sebuah bom telah meledak tepat tengah malam tadi, di sebuah gedung perkantoran di Chungmuro-gil. Belum bisa dipastikan berapa banyak korban jiwa yang ada.” Ucap sang reporter.

 

Mendadak kepala Hyemin terasa pening seperti telah dihantam oleh sebuah palu raksasa. Pandangannya kabur dan lututnya terasa lemas. Dia jatuh terduduk di sebelah Seung Mi. nafasnya memburu. Bayang-bayang akan mimpinya semalam kembali muncul di kepalanya. Bunyi detik bom yang akan meledak kembali terdengar sangat nyata di telinganya.

 

“Hyemin-ah, gwenchana?” Seung Mi menatap Hyemin dengan khawatir, namun tak ada reaksi darinya. Hyemin tetap menatap televisi dengan pandangan syok.

 

“Hyemin-ah!” Bentak Seung Mi sambil menggoncangkan kedua bahu Hyemin. Sesaat dia tampak seperti tersadar dari sesuatu.

 

Gwenchana?” Tanyanya lagi. Hyemin hanya mengangguk pelan dan sedetik kemudian pandangannya kembali tertuju pada layar televisi.

 

“Ah lihat, itu Kyuhyun.” Pekik Seung Mi sambil menunjuk ke arah layar televisi yang menampilkan sosok seorang polisi tampan dengan jaket kulit hitam ketat menempl di tubuhnya. Raut wajahnya tampak menunjukan kelelahan yang amat sangat.

 

“Kami belum bisa menyebutkan secara pasti jumlah korban. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkan kasus ini.”

 

“Kasian dia. Lihat lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas. Sebaiknya kau mulai siapkan makanan sekarang, sebentar lagi dia pasti akan kesini.” Ucap Seung Mi.

 

Kyuhyun adalah kekasih Hyemin. Mereka sudah hampir 7 tahun merajut hubungan. Sebenarnya setelah kdua orang tua Hyemin meninggal, Kyuhyun berniat untuk menikahinya, tetapi Hyemin menolaknya. Dia merasa dia masih terlalu muda, dan juga dia ingin merasakan memiliki uang sendiri. Kyuhyun hanya bisa mengiyakan karna dia tahu sifat keras kepala yeojanya tersebut.

 

Hyemin bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Lututnya masih terasa bergetar, begitu pula hatinya. Dia tak menyangka bahwa yang ia lihat di dalam mimpinya adalah sebuah kenyataan.

 

Bagaimana bisa aku berada disana tetapi sekaligus aku sedang bermimpi. Ada apa denganku? Batinnya.

 

***

Di sebuah kamar di apartemen kumuh…

 

Seorang pria tersenyum senang sambil menatap ke layar televisi yang sedang menanyangkan sesosok pria tampan berjaket kulit hitam, yang tampak sedang di wawancarai oleh seorang reporter.

 

“Kami belum bisa menyebutkan secara pasti jumlah korban. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memecahkan kasus ini.” Ucap pria dalam televisi.

 

Senyum si pria berubah menjadi tawa melengking yang mengerikan. Tangannya menggenggam erat remote televisi. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati dinding yang ditempeli berbagai gambar rumit tentang bom rakitan. Dia mengambil sebuah spidol merah dari dalam sakunya dan mencoretkan tanda silang pada sebuah foto kantor dengan tulisan Chungmuro-gil dibawahnya.

 

“Semuanya, semua yang menyia-nyiakanku! Semua yang menghinaku! Semua yang menganggapku kotor! Semuanya akan ku pastikan kalian berakhir di akhirat!” Teriaknya sambil memukul sebuah foto bergambar sebuah panti asuhan kotor.

 

xxXXxx

 

“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Seung Mi dengan raut wajah ngeri. Didepannya Hyemin pun tampak menunjukan ekspresi wajah yang sama. Dia sedang menceritakan mimpi yang dia alami semalam kepada Seung Mi.

 

“Tiba-tiba saja aku sudah ada di Chungmuro-gil, tepat di depan café kita. Disana banyak sekali mayat dengan darah segar masih mengalir dari tubuh mereka. Aku sudah berusaha bertanya kepada seorang polisi yang lewat di depanku, tetapi dia sepertinya tidak mendengarku, atau aku yang tak tampak di matanya. Setelah itu aku tak ingat apapun lagi.”

 

“Mungkinkah kau memiliki sixsense?” Seung Mi menatap mata Hyemin dengan lekat, seakan dia bisa menemukan jawabannya disana.

 

Molla.”

 

“Kau harus menceritakan ini semua kepada Kyuhyun saat dia tiba disini. Harus!”

 

“Dia tidak akan percaya padaku Seung Mi. Dia pasti akan menganggap ini hanya mimpi belaka, yang kebetulan sama dengan kejadian bom itu.” Hyemin menghela nafas, dia tahu betul sifat kekasihnya yang hanya percaya pada hal-hal yang nyata.

 

“Akan kupatahkan lehernya jika dia sampai tidak mempercayaimu.” Seung Mi mengepalkan tangannya dan membuat Hyemin sedikit tertawa.

 

Tiba-tiba alarm pintu apartemen mereka berbunyi, menandakan seseorang sudah berhasil memasukan password apartemen mereka.

 

“Itu pasti Kyuhyun! Tuhan benar-benar memberkartinya, datang disaat yang tepat.” Ucap Seung Mi.

 

Hey ladies.” Sapa Kyuhyun sambil mendekati Hyemin lalu mencium keningnya sekilas.

 

Wah, sup ayam gingseng, kau selalu tahu kalau aku sedang lapar.” Dia menarik kursi makan disebelah Hyemin lalu mulai mengisi mangkuk di depannya dengan sup ayam yang masih mngepulkan asap panas.

 

“Ceritakan pada kami tentang bom itu.” Ucap Seung Mi sambil menatap lekat Kyuhyun.

 

“Korban yang ditemukan meninggal ada Sembilan puluh lima orang. Seratus dua puluh orang luka-luka.” Jawab Kyuhyun sambil sesekali meniup mangkok supnya, mendinginkan isinya.

 

“Pelakunya?” Giliran Hyemin angkat bicara. Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil menggigit sepotong paha ayam dengan sumpitnya.

 

“Belum terpecahkan. Hanya saja sebuah fax masuk ke kantor kami semenit setelah bom meledak.”

 

“Fax?”

 

Hm..” Kyuhyun menghabiskan sisa kuah supnya sebelum bercerita lebih lanjut.

 

Ne, Akan kubawa semua yang membuangku, itu isinya.” Hyemin dan Seung Mi segera saling berpandangan dengan terkejut. Isi fax itu sama dengan kata-kata si pelaku yang didengar oleh Hyemin dalam mimpinya.

 

“Aku yakin si pelaku memiliki dendam yang sangat besar, hingga dia berani bertindak seperti itu. Aku sudah menyelidiki pemilik gedung itu, yang ternyata sudah meninggal 15 tahun silam. Sekarang gedung itu ditempati oleh sebuah perusahaan, dan sang pemiliknya ikut menjadi korban ledakan bom semalam.”

 

Hm, Kyuhyun-ssi ada yang ingin Hyemin ceritakan padamu.” Ucap Seung Mi diiringi tatapan kaget Hyemin.

 

Cheongmal?” Kyuhyun memutar badannya menghadap ke arah kekasihnya yang tampak bingung. Seung Mi mengangguk kepada Hyemin, dia menghela nafas dan mulai menceritakan mimpinya kepada Kyuhyun.

 

Pada awalnya Kyuhyun mendengarkan dengan serius, namun setelah setengah cerita dia menjadi acuh tak acuh.

 

“Aku lelah sekali, boleh kupinjam kamar kalian?” Ucap Kyuhyun saat Hyemin telah menyelesaikan ceritanya, yang tampaknya sama sekali tak menarik di matanya.

 

“Itu hanya mimpi chagiya, jangan kau pikirkan. Ah bangunkan aku jam 3 sore, aku harus kembali ke kantor.” Dia bangkit dari kursinya dan segera masuk ke dalam kamar Hyemin, tanpa menutup pintunya.

 

“Laki-laki itu benar-benar!” Geram Seung Mi.

 

“Sudah kubilang tadi, dia tidak akan percaya dengan hal-hal semacam itu. Sudahlah, kita lupakan saja.” Hyemin mengambil mangkuk sup Kyuhyun dan membawanya untuk mencucinya. Pikirannya terus terpancang pada kejadian bom itu, hatinya berkata semua ini baru permulaan, akan ada bom-bom lain yang akan meledak sebelum sang pelaku tertangkap.

 

***

2 minggu kemudian…

 

Waah semangka!” Pekik Seung Mi. Dia segera menghampiri tumpukan hijau buah semangka segar saat ia dan Hyemin sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Hyemin mengekor dibelakangnya dengan mendorong sebuah troli yang mulai dipenuhi barang-barang belanjaan mereka.

 

“Sepertinya ini sudah matang. Coba dengarkan.” Seung Mi mendekatkan buah semangka tersebut pada telinga Hyemin dan mengetuknya perlahan. Suara gaung ketukan terdengar dari dalam buah semangka yang menandakan buah tersebut sudah matang.

 

Ne, itu sudah matang.” Ucap Hyemin. Dengan gembira Seung Mi memasukan semangka tersebut ke dalam troli mereka.

 

“Seung Mi-ah, sebetulnya dari mana kau bisa dapatkan uang untuk berbelanja sebanyak ini?” Tanya Hyemin dengan dahi berkerut.

 

“Sudah kubilang bukan, kalau aku masih punya banyak tabungan. Jadi kau tak perlu khawatir.”

 

“Aku pasti akan mengembalikan semua uang yang sudah aku gunakan untuk membeli semua ini, jika besok aku sudah bekerja.”

 

Cheonmaneyo, kau juga sudah sering mentraktirku.” Seung Mi memeluk bahu Hyemin dengan erat dan tersenyum tulus. Sebenarnya Seung Mi berbohong, uang itu dia dapatkan dari Kyuhyun. Kyuhyun memberinya sejumlah uang untuk biaya hidup mereka selama mereka belum mendapat pekerjaan, dia tahu jika dia langsung memberikannya kepada Hyemin, dia pasti akan menolaknya. Maka satu-satunya jalan, hanya membiarkan Seung Mi mengatur segalanya.

 

Kajja, kita belum membeli sayuran.” Hyemin mendorong troli mereka menjauhi deretan buah-buahan musim panas yang tampak sangat segar.

 

Mendadak langkah Hyemin terhenti, kepalanya terasa sakit, sangat sakit, seakan sebuah gada telah menghantamnya keras-keras.

 

Aah” Rintihnya. Lututnya melemas dan membuatnya jatuh menghantam lantai.

 

Pandangan matanya menggelap, di sekitarnya tak lagi tampak pemandangan tumpukan buah-buahan. Dia merasa seperti sdang tersedot melewati berbagai dimensi ruang dan waktu, perasaan yang sama yang dia dapatkan saat mengalami mimpi aneh 2 minggu yang lalu.

 

Semuanya harus mati.” Tiba-tiba terdengar suara berat seorang laki-laki. Suara yang sama yang Hyemin dengar dalam mimpinya 2 minggu yang lalu. Hyemin membuka matanya dan mendapati dirinya telah berada di sebuah kamar gelap nan kumuh, hanya sebuah lampu neon berwarna kuning redup yang menjadi sedikit sumber cahaya di kamar tersebut.

 

Seorang pria terlihat sedang duduk di hadapan sebuah meja mencoba merangkai sesuatu sambil bergumam lirih. Hyemin kembali melihat sekilas bekas luka berbentuk silang di pergelangan tangannya.

 

“Kau! Kau si pelaku pemboman waktu itu!” Teriak Hyemin. Dia mendekati pria itu lalu meninju punggungnya, namun lagi-lagi yang dia rasakan hanya udara kosong dan hampa, dia tak bisa menyentuhnya.

 

“Siapa kau?” Tanya Hyemin dengan putus asa. Wajahnya memerah menahan marah, dan air mata yang hampir tumpah.

 

“Hari itu aku akan menuntut balas. Menuntut balas atas semua yang mereka lakukan pada anak berumur 8 tahun!” Pria itu menatap kalender didepannya, angka dua puluh tiga tampak dia lingkari dengan lingkaran semerah darah.

 

“Tanggal 23? Bukankah itu besok?” Hyemin membelalak kaget.

 

“APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?” Teriak Hyemin.

 

***

“Hyemin-ah gwenchana?” Sung Mi menggoncangkan tubuh Hyemin yang bersimpuh di lantai supermarket menahan rasa sakit di kepalanya.

 

“Hyemin-ah!” Perlahan Hyemin membuka matanya dan menatap Seung Mi yang menatapnya dengan pandangan sangat khawatir.

 

“Seung Mi, akan ada bom yang kembali meledak besok.” Ucap Hyemin dengan suara parau.

 

Mwo?”

 

“Kita harus pulang sekarang.”

 

Hyemin kembali berdiri walaupun lututnya masih terasa lemas. Dengan bergegas dia mendorong troli meninggalkan Seung Mi yang masih tampak terpaku karena terkejut.

 

“Seung Mi-ya­ palli!” Teriak Hyemin.

 

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Seung Mi saat telah berdiri disebelah Hyemin.

 

“Hanya Kyuhyun satu-satunya harapan kita.”

 

“Bukankah kau bilang dulu, dia tidak akan mempercayai hal-hal semacam ini?”

 

“Tapi tak ada cara lain Seung Mi-ya.”

 

Seung Mi mengangguk mendengar ucapan Hyemin. Memang hanya Kyuhyun satu-satunya harapan mereka untuk bisa mencegah semua itu terjadi. Hyemin sendiri sedang bergolak dengan batinnya, dia merasa tidak yakin akan keputusannya mnceritakan semuanya kepada Kyuhyun, dia sudah tahu akan seperti apa reaksi yang akan dia dapat darinya.

 

***

“Cukup Hyemin. Aku tidak ingin lagi mendegar omong kosong darimu,” Bentak Kyuhyun saat mendengar separuh cerita dari Hyemin. Didepannya Hyemin hanya terpaku mendapat perlakuan seperti itu dari Kyuhyun.

 

“Tapi dia tidak mengada-ada Kyuhyun! Aku melihatnya sendiri dia tiba-tiba jatuh dan merasakan sakit di kepalanya!” Bantah Seung Mi.

 

“Besok aku akan mengantarmu ke dokter. Sekarang aku mohon kau beristirahat agar tak terjadi lagi halusinasi seperti itu.” Kyuhyun memegang bahu Hyemin dan menatapnya lekat. Tatapan penuh kasih yang selama 7 tahun ini hanya dia berikan kepada gadis itu.

 

“Jadi, kau menganggapku gila?” Bisik Hyemin lirih. Rasa sakit hari kentara sekali terdengar dalam bisikannya.

 

“Jung Soo hyung menungguku. Proses investigasi kami belum selesai, aku harus kembali.” Dia mencium kening Hyemin lalu bangkit dari sofa.

 

“Kupercayakan dia padamu Seung Mi-ssi.” Seung Mi hanya mengangguk tanpa menatapnya.

 

“Apa aku benar-benar sudah gila Seung Mi-ya?” Ucap Hyemin selepas kepergian Kyuhyun.

 

“Aku percaya padamu Hyemin-ah.” Seung Mi memeluk Hyemin yang terisak erat-erat.

 

***

Keesokan harinya…

 

Hyemin berjalan bolak-balik sambil sesekali menatap jam dinding. Hatinya cemas, dia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, tetapi tak ada yang bisa dia lakukan sekarang.

 

“Sudahlah Hyemin-ah. Berhenti berjalan seperti itu, kau membuatku pusing.” Ucap Seung Mi yang masih asik memakan keripik kentang sambil menatap layar televisi yang sedang menayangkan sebuah program komedi.

 

“Bagaiman mungkin kau bisa setenang itu sedangkan sesuatu yang buruk bisa saja sedang terjadi sekarang.” Bentak Hyemin.

 

“Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kau sudah menceritakannya pada Kyuhyun, tapi dia tidak percaya. Jika memang bom itu meledak sekarang, itu salahnya yang tidak mempercayaimu. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya bedoa Hyemin-ah. Semoga bom itu tidak meledak, kalaupun benar-benar terjadi, semoga arwah para korban diberi tempat yang baik oleh Tuhan.” Kata Seung Mi menirukan ucapan pengkhotbah di televisi. Hyemin mendengus kesal sambil melemparkan sebelah sandal yang dia pakai ke arah Seung Mi.

 

“Jika bom itu di pasang di apartemen kita bagaimana? Jika sekarang si penjahat itu sedang tersenyum mengejek sambil memasang bom itu tepat di bawah kaki kita, apa yang akan kau lakukan huh?”

 

“Benarkah bom itu disini? Di apartemen kita? Apakah kau sudah mendapatkan ilham lagi?” Sergah Seung Mi. Dia segera bangkit dari sofa dan berlari ke balik punggung Hyemin sambil mencengkeram erat baju Hyemin.

 

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Hyemin dengan wajah mengejek. Tiba-tiba saja Seung Mi menarik tangan Hyemin, dan berlari keluar dari rumah.

 

Kyaaaa.”

 

***

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang polisi berpangkat Briptu di depan pintu masuk kantor kepolisian Seoul.

 

“Kami ingin bertemu dengan Ajun Komisaris Cho Kyuhyun. Beliau ada didalam?” Ucap Seung Mi. Disebelahnya Hyemin tampak sedang berusaha melepaskan cengkeraman erat Seung Mi dari tangannya.

 

Jongsohamnida, beliau sedang tidak bisa diganggu.” Ucap sang Briptu.

 

“Katakan padanya tunangannya ingin bertemu.” Sergah Seung Mi lagi.

 

“Tetapi tuan Cho bilang dia tidak ingin ditemui oleh siapapun.”

 

Cih, sekalipun tunangannya? Ya Tuhan!”

 

“Sudahlah Seung Mi, dia pasti sedang sibuk.” Hyemin menyeret Seung Mi yang masih kesal untuk pulang.

 

“Hyemin-ssi.” Panggil seseorang.

 

Ah! Jung Soo oppa! Annyeonghaseo.” Hyemin membungkukan badannya pada Jung Soo sebagai tanda salam.

 

“Kau pasti ingin bertemu dengan Kyuhyun, benar?”

 

Ne, apakah oppa bisa mempertemukan kami dengannya?” Ucap Seung Mi. Hyemin segera menginjak kaki Seung Mi untuk menyuruhnya diam.

 

Ish! Appo!” Rintih Seung Mi. Jung Soo tertawa melihatnya.

 

 

“Urusan kalian pasti sangat penting, hingga kau lupa memakai sebelah sandalmu Hyemin-ssi.” Hyemin terbelalak kaget mendengar ucapan Jung Soo. Dia segera menatap kakainya yang memang hanya memakai sebelah sandal rumah. Dia ingat sebelah sandalnya dia pakai untuk memukul Seung Mi sebelum mereka ke kantor polisi.

 

“Iya, kenapa kau hanya memakai sebelah sandalmu Hyemin. Memalukan sekali.” Mendengar ucapan Seung Mi, Hyemin melayangkan pukulannya ke bahu Seung Mi dan membuatnya merintih kesakitan.

 

“Ini semua karena kau!” Bisik Hyemin.

 

“Sudah, sudah. Bripka Kangin akan mengantar kalian ke ruangan Kyuhyun.” Ucap Jung Soo.

 

“Siap!” Hormat Bripka Kangin.

 

“Mari ikuti saya agashi.” Setelah membungkuk pada Jung Soo mereka berdua mengikuti langkah Kangin menuju ruangan Kyuhyun.

 

“Ini ruangan tuan Cho Kyuhyun.” Ucap Kangin saat mereka telah sampai di hadapan sebuah pintu kayu dengan kaca besar berada di tengahnya. Dari balik kaca itu terlihat Kyuhyun sdang serius membaca sebuah dokumen.

 

Gamsahamnida.” Ucap Hyemin. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Seung Mi membuka pintu dan membuat Kyuhyun kaget.

 

“Kalian? Kenapa kalian bisa ada disini? Apa sesuatu terjadi padamu Hyemin?” Ucap Kyuhyun.

 

“Tanyakan saja padanya.” Hyemin melirik Seung Mi yang berdiri disebelahnya. Kyuhyun lalu menatap Seung Mi dengan tatapan meminta penjelasan.

 

“Kyuhyun oppa, kau harus percaya pada Hyemin. Semua yang dilihatnya benar. Bom itu akan meledak hari ini, sekarang. Kau harus bisa mencegahnya.” Ucap Seung Mi. Mendengarnya, Kyuhyun hanya bisa menghela nafas berat.

 

“Sudah berapa kali kubilang, itu tidak akan terjadi. Tidak akan ada lagi bom yang meledak di Seoul, apa kalian kurang mengerti?”

 

“Apa ada jaminan bahwa tak akan ada lagi bom yang meledak. Kau tahu sendiri si pelaku memiliki dendam yang besar. Apa mungkin hanya dengan sebuah bom semua sudah terselesaikan?” Sergah Hyemin. Kyuhyun hanya bisa menatapnya dengan kesal. Berbagai pikiran telah bertumpuk dikepalanya dan itu membuatnya mudah terpancing emosi.

 

“Keluar kalian dari ruanganku sekarang.”

 

Hajiman..” Potong Seung Mi.

 

“SEKARANG!”

 

“Ayo kita pergi Seung Mi-ya. Tak ada gunanya berbicara dengan orang yang hatinya sekeras batu.” Ucap Hyemin dengan nada penuh amarah.

 

Sebelum tangan Hyemin sempat membuka pintu, pintu tersebut telah terbuka dan menampilkan sosok Jung Soo dengan wajah pucat pasi seakan baru saja mengalami sebuah syok yang dahsyat. Tangannya tampak gemetar memegang sebuah kertas.

 

“Fax yang sama kembali muncul.” Ucap Jung Soo dengan suara parau. Dia segera berlari mendekati Kyuhyun dan menyerahkan kertas itu padanya. Sedetik kemudian Kyuhyun menatap Hyemin dengan pandangan syok.

 

“Apa yang pelaku itu katakan di dalam mimpimu?” Tanya Kyuhyun.

 

“Aku akan menuntut balas. Menuntut balas atas semua yang mereka lakukan pada anak berumur 8 tahun!” Ucap Hyemin.

 

“Hyemin-ssi kau sudah…” Ucap Jung Soo dengan terbata.

 

Ne hyung dia sudah tahu semua yang akan terjadi.” Bisik Kyuhyun lirih. Rasa bersalah terdapat dalam setiap katanya. Seung Mi menatap Hyemin dengan pandangan –akhirnya dia percaya-.

 

Tiba-tiba sirine berbunyi, menggaung ke seluruh gedung, diiringi dengan suara seorang perempuan di balik pengeras suara.

 

“Sebuah bom telah meledak di Lotte Word. Lokasi di Sincheon-dong, Songpa-gu. 881) harap segera berangkat ke TKP.”

 

Kyuhyun meremas kertas di dalam genggamannya dan meninju meja kayu di hadapannya dengan keras.

 

“Sial!”

 

“Kalian bertiga ikut keruanganku sekarang.” Jung Soo menyeret Hyemin menuju ruangannya diikuti oleh Seung Mi dan Kyuhyun di belakangnya.

 

“Duduk.” Perintah Jung Soo saat mereka sampai diruangannya. Hyemin duduk di sebuah sofa putih sedangkan Jung Soo tampak sibuk mencari sebuah buku di rak yang terletak di sebelah meja kerjanya.

 

“Ada apa hyung?” Tanya Kyuhyun saat ia telah menyusul masuk kedalam ruang kerja Jung Soo.

 

“Benar dugaanku! Hyemin-ssi kau seorang precognitioner.” Ucap Jung Soo sambil menatap Hyemin dengan mata berbinar.

 

Mwo?” Pekik Kyuhyun, Hyemin dan Seung Mi bersamaan.

 

Precognitioner adalah orang yang bisa melihat kejadian di masa depan. Kau seorang prekognitioner Hyemin.”

 

“Pentingkah itu sekarang hyung? Sekarang seharusnya kita melihat keadaan di Lotte Word!” Bentak Kyuhyun.

 

“Penting sekali. Hyemin-ssi pastikan jangan sampai ada orang lain yang mengetahui bahwa kau seorang precognitioner. Dan segera beri tahu kami, aku dan Kyuhyun tentang apapun yang melintas di pikiranmu yang berhubungan dengan kasus bom ini. Dia adalah ‘kartu as’ yang kita miliki Kyuhyun.” Ucap Jung Soo penuh semangat. Dia memandangi Hyemin seakan Hyemin adalah barang berharga yang harus dijaga.

 

“Sebenarnya ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun tentang si pelaku.” Ucap Hyemin yang membuat semua mata di ruangan itu tertuju padanya.

 

“Pelaku memiliki bekas luka berbentuk silang di pergelangan tangannya.”

 

“Ajun Kyuhyun periksa semua saksi mata apakah mereka memiliki bekas luka itu, berikut saksi di kasus sebelumnya!” Perintah Jung Soo.

 

“Laksanakan Komisaris!”

 

“Kalian pakailah mobilku dan segera pulang ke rumah orang tua Kyuhyun. Kalian tak boleh lagi tinggal di apartemen kalian. Kyuhyun akan memeberitahu orang tuanya.” Jung Soo menyerahkan kunci mobilnya pada Seung Mi. Mereka berempat bersama-sama meninggalkan kantor kepolisian dengan hati bergemuruh, berbagai hal berlarian bersamaan di pikirang mereka masing-masing.

 

Precognitioner? Aku? Bagaimana bisa? Batin Hyemin.

 

Woow, aku merasa seperti sedang bermain film laga. Batin Seung Mi yang membuatnya terus tersenyum sepanjang jalan.

 

Nyawa Hyemin dalam bahaya jika sampai kemampuannya diketahui orang lain. Batin Kyuhyun penuh kekhawatiran.

 

Kau akan segera tertangkap! Aku sudah memiliki kartu as yang sangat berharga! Batin Jung Soo optimis.

 

***

Keesokan harinya…

 

Hyemin dan Seung Mi sedang menghabiskan sarapan mereka bersama dengan kedua orang tua Kyuyhun.

 

“Hyemin, kapan aku bisa segera menimang cucu dari mu?” Tanya Ibu Kyuhyun sambil menatapnya menggoda.

 

“Kami kan belum menikah Ahjuma.” Jawab Hyemin sambil menunduk malu.

 

“Sudah kubilang panggil aku ibu, jangan Ahjuma.”

 

Ah ne, mianhae Eommonim.”

 

“Selamat pagi semuanya.” Sapa Kyuhyun.

 

“Kyuhyunie kau sudah pulang? Kau mau sarapan apa?” Tanya Ibu padanya.

 

Aigo! Aku lelah sekali.” Ucap Kyuhyun.

 

“Berapa banyak korban yang meninggal?” Tanya Ayah Kyuhyun padanya.

 

“Seratus lima puluh orang. Lebih dari tiga ratus orang luka-luka.”

 

“Hyemin apakah kau baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun sambil membelai pipi merona Hyemin.

 

“Ne.”

 

“Kau tak perlu khawatir Kyu, ada Eomma dan Appa yang akan menjaganya.” Ucap Ibu Kyuhyun.

 

“Ada aku juga.” Sergah Seung Mi tak mau kalah.

 

Gomawo.”

 

***

Satu bulan kemudian…

 

Hyemin kembali merasakan gelisah dalam mimpinya. Dia kembali terbawa kedalam suasana sebuah ruangan yang dipenuhi dengan berbagai sketsa perakitan bom. Tak ada seorangpun disana. Dia hanya bisa melihat foto sebuah tower yang diletakan di bawah bom rakitan yang telah siap diledakan. Rasa takut segera mendera Hyemin. Badannya menggigil ketakutan.

 

Aku harus tahu kapan bom itu diledakan. Batinnya.

 

Hyemin berjalan berkeliling ruangan itu mencoba mencari tahu kapan bom tersebut diledakan. Ruangan itu tampak kosong, tak ada lagi barang-barang seperti dulu, seakan ruangan itu memang siap untuk ditinggalkan. Tak ada yang bisa Ia temukan, selain sebuah foto sekumpulan anak kecil di depan sebuah panti asuhan yang kumuh. Dia mengamati foto itu dengan seksama dan mencoba mengenali salah satu wajah dari anak-anak itu.

 

Belum sempat Hyemin mencari tahu lebih lanjut, sebuah kekuatan telah kembali menariknya ke dunia nyata. Dia terbangun dari tidurnya dengan peluh memenuhi wajahnya. Sinar matahari menyilaukan matanya, membuatnya tersadar bahwa pagi telah menjelang.

 

Dengan kalut dia mencari ponselnya dan segera menghubungi Kyuhyun.

 

“Oppa! Akan ada bom lagi! Mungkin pagi ini, di sebuah tempat yang memiliki menara pemancar.” Teriak Hyemin.

 

Baiklah, jangan kemana-mana, tetap di tempatmu! Arraseo!”

 

Ne.

 

***

Hyung! Hyemin baru saja menghubungiku, dia bilang pagi ini mungkin akan ada bom.” Ucap Kyuhyun dengan panik.

 

Mata Jung Soo membelalak kaget seketika. “Dimana tempatnya?”

 

“Dia pun tidak tahu, yang dia tahu hanya di tempat yang memiliki menara pemancar.”

 

“Kumpulkan semua orang segera.”

 

Kyuhyun segera berlari keluar dari ruangan Jung Soo dan berteriak menyuruh seluruh anak buahnya untuk berkumpul. Didalam ruangan Jung Soo mengepalkan tangannya dengan geram. Dia sangat ingin sekali menangkap pelaku pemboman itu.

 

Dengan penuh amarah dia keluar dari ruangannya, dan segera mendekati seluruh anak buahnya yang telah berkumpul.

 

“Akan kembali ada bom yang meledak. Untuk tempat kita masih gambling! Apakah ada yang ingin berpendapat dimana tempatnya? Tempat yang memiliki menara pemancar.” Ucap Jung Soo.

 

Bripka Kangin mengangkat tangannya. “Menara KBS tv! Pasti bom itu ada disana, bukan di Seoul tower. Dia pasti akan menyerang stasiun televisi kali ini.”

 

“Menara KBS tv. Aapakah ada pendapat lain?”

 

“Bagaimana kalau Seoul tower?” Ucap Kyuhyun.

 

Ani! Aku yakin sekali jika di gedung KBStv. Kita sudah tak punya waktu untuk menebak-nebak seperti ini.” Bantah Bripka Kangin.

 

“Bripka Kangin benar. Kalau begitu ayo segera kita pergi ke KBStv.” Perintah Komisaris Jung Soo.

 

***

Seluruh anggota kepolisian Seoul telah berkumpul di depan gedung KBStv. Lingkungan segera disterilkan dan unit 88 segera menyisir gedung untuk mencari tempat bom tersebut berada. Tanpa mereka sadari salah satu dari para pria berseragam itu menghilang diam-diam.

 

“Lapor Komisaris, tak ada tanda-tanda keberadaan bom dimanapun.” Ucap seorang Briptu pada Jung Soo.

 

Mwo? Tidak mungkin Hyemin salah!” Ucap Jung Soo frustasi.

 

Kyuhyun hanya terdiam mendengar laporan Briptu tersebut. Dia merasa ada yang salah. Bukan Hyemin yang salah, tetapi mereka yang salah menarik kesimpulan.

 

Menara radio KBS tv! Pasti bom itu ada disana, bukan di Seoul tower. Dia pasti akan menyerang stasiun televisi kali ini. Sebuah ucapan berkelebat di pikiran Kyuhyun.

 

Kangin-ssi apa kau kidal? Kenapa kau memakai jam tangan di pergelangan tangan kananmu?

 

Ah tidak, aku hanya terbiasa memakainya disini.

 

Dia teringat akan percakapannya dengan Kangin dahulu. Percakapan yang dulu dia anggap tak penting. Namun sekarang menjadi sebuah kunci jawaban bagi kasusnya. Seakan disulut dengan rokok panas, Kyuhyun teradar akan sebuah kenyataan.

 

“Dimana Bripka Kangin?” Tanya Kyuhyun pada seorang Briptu didekatnya. Briptu itu tampak sedikit kebingungan lalu menggeleng.

 

Hyung! Kurasa aku tahu dimana tempat bom itu berada.” Ucap Kyuhyun penuh keyakinan.

 

“Dan juga pelakunya.” Tambahnya.

 

Jjinja?” Pekik Jung Soo.

 

Ne, sebelum kita mencurigai lawan, kita harus mencurigai kawan kita dulu.” Kyuhyun berlari menghampiri mobilnya diikuti dengan Jung Soo yang segera mmrintahkan semua anak buahnya untuk mengikuti kemanapun Kyuhyun pergi.

 

Hyemin, kumohon, kumohon kau jangan kesana. Batin Kyuhyun.

 

***

“Hyemin-ah untuk apa kita ke Seoul Tower? Apa kau sudah lupa pada perintah Kyuhyun?” Tanya Seung Mi.

 

Ani, aku tidak lupa.”

 

Disini adalah tempat bom itu berada Seung Mi. Batin Hyemin.

 

“Lalu?”

 

“Aku hanya ingin kesini. Kajja kita masuk.” Hyemin melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang. Namun tepat selangkah sebelum dia masuk, sebuah tangan kokoh menggenggam lengannya.

 

Kajima.”

 

“Kyuhyun oppa.”

 

“Cepat pergi dari sini. Polisi akan segera menyisisr tempat ini untuk mencari dimana bom itu berada.” Jelas Kyuhyun.

 

“Jadi oppa sudah tahu siapa pelakunya?”

 

Ne, Bripka Kangin.”

 

Mereka berdua berjalan beriringan. Tangan Kyuhyun terus menggenggam erat jemari Hyemin, seakan dia akan kehilangan gadis itu jika dia melepasnya. Saat mereka melewati sebuah mobil patrol polisi, sekilas Hyemin melihat dari pantulan kaca mobil, seorang pria gempal berjaket cokelat dan bertopi hitam telah membidik senapannya tepat pada tubuh Kyuhyun.

 

Secepat kilat Hyemin menarik tangan Kyuhyun lalu mengecup bibirnya. Tepat saat itu pula bunyi letusan senapan menggema di sekeliling Seoul Tower. Para wisatawan yang masih banyak berkumpul di depan gerbang berteriak-teriak histeris. Timah panas mengenai tubuh Hyemin.

 

“Tangkap dia! Dia pasti Bripka Kangin!” Teriak Komisaris Jung Soo. Dia segera berlari mengejar Kangin dengan pistol tehunus di dadanya.

 

Hyemin melepaskan ciumannya pada Kyuhyun. Darah yang keluar dari mulutnya meninggalkan bekas di bibir Kyu. Kyuhyun hanya terpaku kaget melihat kekasihnya tersenyum, namun dengan tubuh bersimbah darah.

 

“Hyemin-ah. Bertahanlah.” Tubuh Hyemin merosot jatuh pada pelukan Kyuhyun. Seung Mi berlari menghampiri tubuh lemas Hyemin dengan berurai air mata.

 

“Panggil ambulans! PALLI!!” Teriak Kyuhyun.

 

***

Kyuhyun berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Lampu operasi masih menyala semerah darah di atas pintu, menandakan sebuah operasi tengah berlangsung. Nyonya Cho tampak sedang menangis terisak-isak di bahu suaminya, begitupula Seung Mi. Komisaris Jung Soo yang datang ke rumah sakit setelah berhasil menjinakan bom di Seoul Tower pun menampilkan raut wajah yang sangat cemas.

 

Hyemin, ku mohon bertahanlah. Doa Kyuhyun dalam hati.

 

Seung Mi mendekati Jung Soo dan duduk disebelahnya.

 

“Kenapa Bripka Kangin sampai tega berbuat seperti itu, oppa?” Tanya Seung Mi pada Jung Soo.

 

“Dia diliputi dendam masa lalu. Dulu kedua orang tuanya dibunuh oleh pamannya sendiri yang merupakan pemilik perusahan gedung yang pertama kali dia bom dulu, maka dari itu target pemboman pertamanya adalah gedung di Chungmuro-gil. Lalu Lotte word, setelah dia menjadi yatim piatu, dia sangat ingin pergi ke taman bermain, tetapi petugas disana selalu melarangnya untuk masuk, begitupula dengan Seoul Tower.” Jelas Jung Soo.

 

“Akan aku bunuh dia!” Teriak Kyuhyun tiba-tiba. Wajahnya telah memerah menahan marah. Jung Soo segera berdiri dan memeluk Kyuhyun, mencegahnya berlari ke kantor polisi dan membunuh Kangin.

 

“Tenang, lebih baik kau pikirkan keadaan Hyemin sekarang.”

 

Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, dan dokter berseragam putih keluar. Peluh tampak membanjiri dahinya.

 

“Bagaimana keadaan Hyemin?” Tanya Kyuhyun segera.

 

“Beruntung peluru tidak mengenai jantungnya. Hanya sedikit mengenai hatinya, karena itu kami terpaksa memotong seperdelapan dari hatinya. Hatinya akan tumbuh kembali normal setlah beberapa bulan. Tetapi selebihnya keadannya stabil.” Jelas Dokter tersebut.

 

Seketika kelegaan terpancar dari wajah Kyuhyun, tak ada lagi semburat kekhawatiran dan amarah. Yang ada dihatinya sekarang hanya kembali melihat senyum Hyemin.

 

***

Delapan tahun kemudian…

 

Seorang gadis kecil berjaket merah muda tampak sedang mngejar kakak laki-lakinya yang berlari mngitari tumpukan dedaunan yang rontok karena musim gugur. Rambut panjang gadis kecil itu berkibar seiring dengan terpaan angin.

 

Oppa, oppa, oppa.” Teriaknya

 

“Ayo Hyumin, tangkap aku.” Balas si anak laki-laki.

 

“Hati-hati Kyumin! Jangan sampai adikmu terjatuh.” Teriak ibu mereka berdua dari kejauhan.

 

Ne, Eomma.”

 

Orang tua mereka mengamati mereka dari kejauhan dengan bahagia.

 

“Hyumin benar-benar sangat mirip denganmu.” Ucap Kyuhyun sambil mencubit pipi Hyemin, istrinya, dengan gemas. Hyemin hanya tertawa mendengarnya. Dia sandarkan kepalanya ke dada Kyuhyun sambil tetap mengamati kedua anaknya.

 

“Hyemin, sejujurnya ada yang ingin aku tanyakan padamu sejak delapan tahun yang lalu.”

 

Hmm..

 

“Apa yang kau lihat di masa depanku?” Hyemin mendongak menatap wajah Kyuhyun sesaat lalu tersenyum.

 

“Aku melihat diriku sendiri di masa depanmu. Maka dari itu, dulu saat kulihat Bripka Kangin membidikmu dengan senapannya yang ada dipikiranku hanya menyelamatkanmu, karena aku yakin aku akan hidup. Sebaliknya, jika aku membiarkanmu mati, maka berakhir pula hidupku saat itu juga.” Jelasnya.

 

Sebuah rasa haru terpancar dari hati Kyuhyun. Betapa wanita di dekapannya sekarang sangat mencintainya. Kyuhyun mencium kening Hyemin dan mendekapnya dengan semakin erat. Diiringi dengan derai tawa dari kedua malaikat kecil mereka.

 

 

xxENDxx

 

Note:

  • 88 : Kode untuk divisi bom.

 

Precognition adalah salah satu bagian dari kepercayaan supranatural tentang kemampuan tambahan pada seorang manusia untuk bisa mengetahui kejadian yang akan datang. Jenis lain dari Precognition, Clairvoyance adalah kemampuan untuk bisa mengetahui kejadian di tempat lain pada waktu yang bersamaan.

 

 

 

 

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. uchie vitria
    Feb 24, 2016 @ 16:41:30

    akhirnya happy ending
    gk nyangka kalo musuh sebenarnya ada didekat mereka sendiri
    hyemi penyelamat dengan mengorbankan dirinya

    Reply

  2. SG~
    Mar 29, 2016 @ 21:40:16

    Suuumpaaaah kereeeen..
    Tapi kayak.nya bakal asik kalo dibuat Chapter..hehehe~

    Reply

  3. Oyis Cho
    Aug 21, 2016 @ 14:51:35

    Kereeennnn.. Gilaa…
    Aku suka genre semacan ini ><
    Good Job author-nim😀

    Semangat^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: