Kembali

kyuuuuuu

Judul: Kembali

Author: Megan

Main Cast: Cho Kyuhyun, Jung Haneul

Support cast: Lee Donghae, Lee Sungmin.

Tema: Love, Memories, Friendship

“I’ve been planning all day about future, I’ve been thinking all night about best way to avoid trouble. But God always has another plan for me to do.”

***

The First Meet. Incheon Air port.

Saat kau pergi jauh dari rumah untuk merantau, kau akan merasakan rasa kasih sayang yang lebih besar pada keluargamu. Kau akan merindukan keluargamu, hal yang tak mungkin kau rasakan saat kau tinggal bersama mereka. Saat kau berada jauh dari keluargamu, malam natal atalah hal yang paling kau rindukan. Meski natal di tempat mu merantau begitu ramai, malam natal dengan keluarga akan terasa lebih hangat.

Saat kau berada jauh dari rumah, kamar nyaman dan hangat mu lah yang akan kau rindukan. Karena ditempat itulah kau mengahbiskan masa remajamu yang berwarna. Saat kau berada di tempat yang begitu jauh dari teman-temanmu, kau akan merindukan kejahilan yang sering membuat wajahmu merah karena menahan amarah.

Saat kau merantau, jauh dari kelaurga, jauh dari rumah, jauh dari teman-teman dan hidup yang nyaman, kau akan merasa terlampau bahagia saat akhirnya kau bisa pulang. Apalagi jika kau merantau jauh ke sebrang pulau, ke Negara lain yang ada dibelahan dunia lain. Negara yang berbeda budaya dan bahasa.

Kau akan merasa senang bisa pulang meski yang menjemputmu di bandara adalah adik laki-lakimu yang menyebalkan.

Noona! Disini!” sebuah lambaian tangan dan suara bass yang mengejutkan membuat endorphin di tubuhku meningkat.

“Sam-ah!” kulangkahkan kakiku dengan tergesa, mendorong troli yang kubawa dengan langkah panjang, menghampiri sosok jangkung Sam yang berdiri diantara pagar pembatas.

Kupeluk tubuh kurus Sam dengan cepat, “Noona!” Sam terdengar panik, mencoba melepaskan pelukanku, aku tahu dia malu dan canggung. Kudongakkan kepalaku, masih memeluk tubuhnya.

“Bagaimana bisa kau setinggi tiang listrik saat aku kembali? apa yang kau makan Sam?” Sam nyengir, menunjukan giginya yang merupakan duplikat dari gigi milikku.

“Sudah, lepaskan aku.” Sam mendorong wajahku, menunjukan ekspresi kesal yang dibuat-buat.

“Kau sendiri, apa yang kau makan di Prancis, huh? Kau gemuk sekali!” dia mencubit pipiku keras sebelum aku sempat menghindari tangannya.

“Ya! sakit! Dasar kau monyet antariksa!” kulepaskan tangannya dan memukul lengannya dengan dompet passport. Dia hanya meringis kecil dan tertawa keras.

Gaja[1]!” setelah tawanya berhenti dia mengambil alih troli yang kubawa dan berjalan cepat di depanku.

“Kau naik bus? Kukira kau akan terlambat.” kupercepat langkahku, mencoba menyamakan posisi dengannya, tapi langkahnya terlalu cepat dan lebar hingga aku tetap berjalan di belakangnya.

Aniyo[2], aku datang dengan Kyuhyun hyung.” Jawabnya datar.

Langkahku terhenti, nafasku yang terengah akibat melangkah terlampau cepat kini melambat, perutku bahkan terasa mulas. Kurasa jantungku terjun bebas ke lambung akibat mendengar nama itu. Aku merasakan kepanikan dan ketakutan yang begitu besar sekarang.

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun?” aku berbisik pada diriku sendiri. Ada listrik yang menyerang tubuhku saat menyadari aku akan bertemu dengannya sebentar lagi. Beberapa meter dari sini, beberapa menit lagi, beberapa langkah lagi aku akan bertemu dengan Cho Kyuhyun? Aku tidak siap.

“Ya, Cho Kyuhyun hyung. Dia…Noona? Apa yang kau lakukan? Mengapa terdiam disitu?” Sam nampak geli, matanya membulat saat melihatku jauh di belakangnnya. Aku terdiam, mengigit bibir dan menahan air mata. Pertengakaran yang terjadi saat terkahir kali kami bertemu beberapa tahun lalu terputar jelas di kepala.

Sam menghampiriku, nampak bingung dan khawatir. “Gwaenchanhayo[3]?” tubuhnya membungkuk kecil, menatap mataku.

Ne. jeon gwaenchanhayo[4].”

Jet lag[5]?” Sam menyentuh lengan atasku, aku menggeleng.

“Lalu ada apa? Mengapa kau berhenti, Noona?” tanyanya sekali lagi.

“Bagaimana bisa kau datang dengan Kyuhyun?” suara ceriaku hilang sudah, kepalaku pening.

“Ah, itu? Saat aku akan naik bus menuju bandara, sebuah mobil berhenti di depanku. Ternyata itu Kyuhyun hyung.” Dia menunggu reaksiku, lalu melanjutkan kata-katanya.

“Dia bertanya aku mau kemana. Saat aku bilang mau menjemputmu dia langsung bilang mau ikut.” Sam terdiam lagi, menatapku dalam-dalam.

“Memangnnya kenapa? Apa kalian…”

“Aku hanya terkejut.” Potongku sebelum Sam sempat meneruskan spekulasi dari keterkejutanku atas kehadiran Kyuhyun.

“Aku bahkan tidak memberitahunya aku pulang hari ini.” keluhku. Sam mengerutkan kening.

“Kukira kalian teman dekat, mengapa kau tak mau dia tahu kau pulang?” Sam menatapku curiga.

Used to be close friend.” Ucapku pelan. Sam tak bisa mendengarnya. Dia menatapku bingung lagi.

“Dimana dia sekarang?” Sam menghela napas pelan.

“Dia menungu dimobil.” Jawanya dengan nada kesal. Matanya masih meantapku dalam kebingungan. Aku baru saja ingin mengatakan padanya untuk naik taksi. Melarikan diri dari Cho Kyuhyun. Tapi nampkanya Sam mulai bisa membaca pikiranku. He already grew up.

“Aku tak mau naik taksi hanya karena kau tak mau bertemu Kyuhyun hyung. Seharusnya kau bilang dulu padaku untuk tidak memberitahu siapapun termasuk Kyuhyun hyung mengenai kepulanganmu.” Sam menekankan kata Kyuhyun hyung dan mendesah pelan.

“Jadi aku bisa menolaknya saat dia, dengan, senang, hati ikut menjemputmu.” dia berbicara dalam nada kesal. Dia dengan sengaja memotong kata-katanya dan memberi penekatan disetiap kata. Kami terdiam. Selama beberapa detik aku bisa merasakan Sam yang mendadak canggung menghadapiku.

Noona, apapun masalahmu dengan Kyuhyun hyung, kau tak boleh melarikan diri kan?” Sam berbicara dalam kehati-hatian, aku tak menjawab, masih terkejut. Sam tak tahu apa-apa tentang masalahku dengan Kyuhyun. Masalahnya terlalu rumit. Otakku berputar keras, memikirkan apa yang harus kulakukan. Menghadapi Cho Kyuhyun, atau melarikan diri. Melarikan diri itu bagus, tapi aku takut melukainya lagi.

“Ayo. Semua akan baik-baik saja, noona. Kau belum tahu kan seantusias apa Kyuhyun hyung selama perjalanan? Dia benar-benar nampak senang saat tahu kau akan tinggal di Korea lagi.” Sam menarik lenganku, memintaku berjalan. Kata-kata itu membuatku mengurungkan niat untuk memberontak dari Sam, ada perasaan lega saat mengetahui Kyuhyun tidak membenciku. Tentu, jika dia membenciku, dia pasti tak mau menemuiku kan? Dia pasti tak akan mau menemani Sam menjemputku dibantara. Ya, kurasa semua akan baik-baik saja.

Sam tak berjalan secepat tadi, kami berjalan beriringan menuju pintu keluar. Seorang security tersenyum kearah kami hingga akhirnya aku melihat mobil yang kukenali sejak pria itu memilikinya. Honda New Civic 2.0 AT Brilliant White Pearl. Mobil Cho Kyuhyun. Keberanian yang tadi menyeruak ke permukaan kini tenggelam lagi. Aku menahan tubuhku di hadapan pintu, membuat Sam terkjut dan menatapku.

“Ada apa lagi?” Sam menggaruk kepalanya yang tak gatal, aku membuatnya kesal.

“Kau saja yang naik mobil Kyuhyun. Aku mau naik taksi saja.” Kulepaskan tangan Sam dari pergelangan tanganku dan mencoba melarikan diri, tapi Sam sudah menarikku lagi. Cengkraman tangannya di pergelangan tanganku benar-beanr kuat.

“Sam-ah! Lepaskan aku, jebal.” Aku memohon. Sam menatapku bingung.

“Ada apa sebenarnya, noona?” aku benar-benar ingin menendang kaki Sam sekarang juga, mengigit tangannya, atau mungkin berteriak dan mengatainya penculik atau apa. Tapi dia itu adikku. Aku tak mungkin tega membautnya terluka.

“Aku tak tahu sebesar apa masalah kalian, tapi tidakkah ini tak adil untuk Kyuhyun hyung?” aku mengumpat dalam hati, Sam tak tahu sebesar apa perasaan bersalahku padanya. Aku malu dan…entahlah. Belum siap mungkin?

“Aku, aku belum siap bertemu dengannya, Sam-ah.” Jawabku jujur, Sam mengerutkan kening.

“Tapi ini tak adil baginya. Dia pasti ingin bertemu denganmu. Kau tahu tidak dia mengabaikan banyak telepon karena ingin cepat sampai ke bandara? Kau tahu sendiri sesibuk apa dia sekarang. Tapi karena ingin bertemu denganmu, dia rela mempertaruhkan jabatannya.”

“Kau tak tahu apapun, Sam-ah.” Ucapku sarkastis.

“Aku memang tak tahu apapun. Tapi aku tahu melarikan diri tidaklah benar. Kau sendiri yang belang begitu padaku.” aku mendengus kesal. Senjata makan tuan.

Tapi aku tidak melarikan diri, hanya menunda pertemuan. Aku tahu yang cepat atau lambat kami pasti akan bertemu, atau tidak. Pertemuan ini hanya terlalu cepat, aku tidak siap. Aku terlalu malu dan takut. Terlalu banyak kekhawatiran mengeni apa yang harus kukatakan padanya nanti.

“Kau akan menyesal saat kesempatan terbaikmu untuk menyelesaian masalah dengan Kyuhyun hyung telah kau sia-siakan. Siapa tahu ini adalah kesempatan terbaik? Kau bilang jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan di depan mata.” Sam menatapku dengan tatapan polosnya.

“Aku akan menemuinya nanti, saat sudah siap untuk berbicara dengannya.” Jawabku tegas.

“Kau akan selalu merasa tidak siap, noona. Bagaimana jika tak ada hari esok untuk menyelesaikan masalah kalian?” aku masih terdiam, tiba-tiba saja aku merasa bodoh.

“Bukankah Kyuhyun hyung itu penuh perhitungan? Bukankah kau bilang dia adalah pria dengan pemikiran yang matang? Tidakkah kau merasa ia tak akan menemuimu jika ia tidak merasa ini saat yang tepat untuk bertemu denganmu? Dia pasti akan sangat sibuk nanti.” kata-kata Sam seperti puzzle yang berserakan di otakku. Aku memahami itu semua, tapi aku tetap merasa takut.

Aku menggeleng. “Baiklah. Terserah padamu saja, noona. Aku memang tak tahu apa-apa.” Sam melepas tanganku.

“Aku akan bilang padanya kau tidak jadi pulang ke Korea. Kau bawa semua barang-barangmu ini ya. dia pasti sedih sekali kau tidak jadi datang.” Sam bergumam pelan, tangannya mendorong troli ke sisi ku. Mengapa Sam harus berbicara seperti itu padaku? bukankah seharusnya Sam membelaku? Bukan membela Kyuhyun. Aku benar-benar ingin menangis.

“Kau akan terlihat Kyuhyun hyung jika berdiri disini terus. Pergilah.” Sam melangkah pelan, menjauhi ku.

Bagaimana jika perkataan Sam tetang tak akan bisa bertemu lagi dengan Kyuhyun itu benar? Masalah yang terjadi diantara kami tak akan pernah terselesaikan. Aku akan terus menerus merasa bersalah padanya. Mungkin aku bisa menghindari Kyuhyun selamanya, tapi aku tak bisa menghindari perasaan bersalahku.

“Sam-ah!” aku berteriak, memanggil Sam yang sudah setengah jalan menuju mobil Kyuhyun. Aku mendorong troliku dan mengejar Sam. Siap atau tidak, aku harus menyelesaikan masalah ini. Tapi bagaimana jika ini bukan waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalahku dengan nya? Makan Kyuhyun tak akan meluangkan waktunya untuk menemuiku.

“Akhirnya kau sadar juga.” Mata Sam yang sipit membulat, ia tersenyum lebar.

“Kau hanya tak mau membawa barang-barangmuyang banyak ini sendirian kan?” Sam mengabil alih troliku lagi. Dia kira aku akan luluh karena hal itu? aku bahkan sudah sering membawa barang yang lebih banyak dari ini. Aku takut Kyuhyun kecewa, itu saja.

“Aku tidak…” kata-kataku terhenti saat Kyuhyun keluar dari mobil, dia menatapku. Tak ada tatapan kebencian, atau amarah. Hanya senyum dan tatapan yang hangat. Ekspresi dingin yang ditunjukannya saat pertengkaran itu bahkan tak ada sama. Dia nampak senang. Aku membeku, terkejut dengan sikapnya.

“Bagaimana kabarmu?” Kyuhyun menghampiri kami, aroma tubuhnya tertangkap hidungku. Sam berdehem pelan dan mendorong trolinya ke bagasi mobil. Aku tiba-tiba saja ingin menangis, aku merindukannya.

“Ba, baik.” aku menahan nafas, air mataku hampir keluar dan kepalaku berdenyut pelan.

“Bagus. Masuklah. Aku akan membantu Sam memasukan barang-barangmu.” Kyuhyun tersenyum lagi, aku tak merasakan kebencian di nada bicaranya. Perkiraanku benar-benar salah. Dia mungkin tak pernah membenciku.

***

Kami tak banyak bicara dalam perjalanan. Kyuhyun tidak menanyakan hal apapun padaku. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sibuk memikirkan cara untuk berbicara pada nya. Semua benar-benar diluar dugaan. Rencanaku hancur. Aku tak tahu mau mengatakan apa pada nya. Mungkin ia ingin mngatakan sesuatu, aku bisa merasakan tatapannya dari spion.

“Bagaimana jika kita makan Haemul Pa Jeon[6]? Aku tahu tempat yang enak dan dekat dari sini.” Sam menatap Kyuhyun dengan antusiasme yang berlebihan.

“Kurasa itu ide bagus.” Kyuhyun menganguk senang. Aku enggan memberi komentar, tapi itu memang ide bagus.

“Bagaimana denganmu, kau ingin makan apa Haneul-ah?” Kyuhyun meantapku dari spion, Sam mencibirku.

“Dia tak punya hasrat untuk makan apapun, hyung.” Kukerlingkan bola mataku, malas menimpali. Jika saja aku bisa melemparnya dari mobil ini.

Haemul Pa Jeon is great then.” Ucapku dengan senyuman yang kubuat setulus mungkin.

“Baiklah. Tunjukan jalannnya padaku ya, Sam ah.”

Jika adik laki-lakimu ada saat kau sedang bersama pria lain, dia bisa menjadi bencana atau anugrah untukmu. For now, Jung Samsoon is a gift from God.

Terkadang Sam mampu mengerti perasaanku, mampu peka terhadap apa yang terjadi, dan mulai bertindak dengan benar. Seperti sekarang ini. Meski penghianatannya itu menyebalkan, yang dilakukan Sam itu mungkin memang benar. Atau tidak.

Dia mendapat telepon dari seseorang yang membuatnya pergi untuk mengatasi beberapa masalah di toko roti milik mendiang ayahku. Kami mempercayainya karena dia terlihat panik dan sungguh-sungguh. Setelah beberapa saat, aku sadar dia telah membohongiku. Toko roti tutup karena ada renovasi. Sam yang memberitahuku sesaat sebelum ia memutuskan untuk menjemputku di bandra tempo hari lalu. Dia meninggalkan kami dalam kecanggungan.

“Kau mau pesan apa?” Sungmi menatap menu di hadapan nya dengan sepenuh hati. Aku meantapnya dalam tekanan besar.

“Aku mau oh jing uh jeon[7]kuucapkan pilihanku dengan suara yang bergetar, dia menyadarinya dan kini tengah menatapku.

“Kau baik-baik saja?” senyumnya memudar, digantikan ekspresi khawatir yang membuat ku merasa nyaman dan sedih. Sedih karena kenyataan bahwa pria ini mungkin sudah kehilangan rasanya padaku saat aku baru saja memiliki rasa padanya. Kenyataan bahwa perhatian ini tak lebih dari kekhawatiran seorang teman lama.

Ne. Aku baik-baik saja.” kugunakan nada ceria buatan yang selalu kugunakan padanya. Dulu saat Kyuhyun mulai terlalu khawatir, aku akan mulai menggunakan nada ceria buatan yang biasanya berhasil. Meski sekarang nada ceriaku terdengar buruk karena efek gugup, canggung, dan ragu.

Kyuhyun akhirnya mengatakan ia memesan menu yang sama denganku pada pelayan yang menunggu kami. Dia mentapku setelah pelayan itu pergi.

“Wajahmu pucat, apa kau sakit?” suaranya terdengar lembut dan sukses membuat jantungku berdegup kencang.

“Tidak. Mungkin efek jet lag atau lapar.” Jawab ku asal, Kyuhyun tertawa kecil. Kami terdiam lagi. Aku benar-benar ingin meminta maaf dan mengatakan aku lah yang salah. Tapi harga diriku masih terlalu mendominasi.

“Bagaimana kabar Lee ahjuma?” Kyuhyun mendongak, menatapku.

“Baik. Eomma selalu bertanya kapan kau akan datang ke rumah dan mengobrol dengannya lagi.” Nada suaranya datar, tidak menunjukan emosi apapun.

Kyuhyun menunjukan ketidaktertarikan pada topik pembicaraan kami. Dulu saat membicarakan hal ini ia akan menambahkan ‘Eomma bilang dia suka berbincang denganmu. dia selalu ingin memiliki seorang putri.’. Itu juga membuktikan perkiraanku tentang rasa yang dulu ia rasakan padaku.

“Ah, kau harus menghubungi eomma-mu, Haneul-ah. Dia pasti bertanya-tanya mengapa kau belum pulang.” Keheningan atas bentuk keterkejutan ku dari jawabannya kini menghilang, berubah menjadti kepanikan yang muncul setelah mendengar kata-kata nya.

Pergerakan tangan ku akan menjadi super cepat saat panik. “Anyyeong eomma, ini aku.” Sebuah pekikan membuatku terpaksa menjauhkan telepon dari telinga, aku bisa melihat Kyuhyun tertawa.

“Ne, ne. ia, aku sudah tiba di Korea. Ya, Sam menjemputku tadi, aku juga dijemput Kyuhyun eomma, jangan khawatir…” Kyuhyun mengulum senyum saat aku meliriknya.

“Ne eomma, Cho Kyuhyun.” Kupelankan suaraku, khawatir Kyuhyun mendengarnya. Meski itu tak berguna. Kyuhyun tetap mendengarnya.

“Ya. Aku sedang bersama Kyuhyun. Kami sedang makan, eomma…” jawabku jenuh, nada riang eomma membuatku sedih. Jangan berharap banyak pada Kyuhyun, eomma.

“Ne.” Eomma ingin berbicara dengan Kyuhyun. Eomma menyukai nya, bahkan Sam selalu direcoki pembicaraan tentang Kyuhyun yang dulu selalu datang untuk mengerjakan tugas denganku.

Itu sukses membuat Sam pernah membenci Kyuhyun. Tapi melihat gelagatnya tadi, kuarsa Sam tidak benar-benar membenci nya.

Eomma ingin berbicara denganmu.” ucapku malu, kurasa pipiku memerah.

“Benarkah?” dia mengulurkan tangannya, menyambut uluran tangan malas-malasanku dengan semangat.

Dia berbicara dengan riang pada eommaku. Aku dengar dia menyebut-nyebut tentang reuni, Sam, aku, eomma-nya, appa-nya, dan Sungjin. Kyuhyun sesekali meantapku dan tersenyum, membuatku merasa berkali-kali lipat lebih sedih dari sebelumnya.

Dulu saat eommaku tahu aku sedang bersama Kyuhyun, eomma akan menjadi sangat tenang. Akhirnya setiap kali aku ingin bermain dengan teman wanitaku ke tempat yang dilarang, aku akan menelepon Kyuhyun terlebih dahulu sebelum menelepon eomma. Menggunakannya sebagai tameng terdepanku. Dia awalnya tidak setuju, dia tak suka membohongi eomma-ku, apalagi itu akan menjadi tanggung jawab besar baginya. Tapi setelah perdebatan panjang yang sesungguhnya dimenangkan olenya, dia mengalah dan membiarkanku menjadi tamengnya. Betapa aku merindukan masa itu.

“Ini. Eommamu bilang kau tak boleh makan terlalu banyak, agar berat badanmu tidak naik lagi.” Kyuhyun mengatakannya dengan hati-hati, ada kegelian di setiap kata-kata yang diucapkan olehnya. Aku ingin masuk kedalam akuarium yang ada disisi kananku sekarang juga.

“Astaga eomma…” aku mengeluh, menerima handphoneku yang terasa panas akibat percakapan panjang antar Kyuhyun dan eomma.

“Ini dia, dua oh jing uh jeon. Silahkan.” Kali ini pelayan wanita yang mengantarkan pesanan kami, wajahnya tersipu saat Kyuhyun tersenyum padanya. Rasa cemburuku tiba-tiba berada dalam kadar tertinggi. Aku berdeham pelan, mengalihkan perhatian Kyuhyun atas pelayan yang kini mengatakn ‘panggil aku jika kau butuh sesuatu’ pada Kyuhyun dan mengabaikanku. Great.

“Terimakasih.” ucapnya, dia menatap ku serius. “Ada apa? Kau haus? Ingin minta air putih atau sesuatu mungkin?” aku mengeleng cepat, merasa malu dengan tingkah kekanakan yang kulakukan. Entah dia sengaja menggodaku atau memang tidak mengerti maksud ku.

“Bagaimana rasanya menjadi Direktur?” kuberanikan diri memulai pembicaraan, Kyuhyun menunjukan ekpresi berfikir.

Sweet and bitter in the same time.” Jawabnya dengan senyum singkat.

“Kau pasti sangat sibuk.” Mataku menatap wajahnya, dia lebih kurus sekarang.

“Tergantung. Aku bisa sangat sibuk di waktu tertentu, dan aku juga bisa begitu santai di waktu lain.” Aku mengangguk-angguk bodoh. Kehilangan ide untuk pertanyaan selanjutnya.

“Kau sendiri, bagaimana rasanya tinggal di Prancis?” Kyuhyun memasukan sepotong pajeon ke mulutnya.

Not bad. Masalahku adalah bahasa dan makanan.” Kyuhyun tertawa.

“Kau masih hidup.” Ucapnya geli. “Kau pasti sibuk sekali ya di sana?” aku berhenti bernafas, ini saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya.

“Kurang lebih begitu.” Aku berbohong, aku masih bisa mengiriminya e-mail kan? Tapi aku tak melakukannya. Kyuhyun nampaknya tak mau membahas hal itu lagi saat menyadari nada suaraku berubah.

Kami terdiam lagi. Hanya suara sumpit yang menyentuh bibir mangkuk saus dan suara soju yang dijuangkan lah yang terdengar olehku. Rasanya benar-benar aneh berbicara dengan sahabatmu seperti ini. Dulu sepertinya kami tak pernah secanggung ini. Hal-hal kecil semacam rasa saus, warna mangkuk, atau bentuk meja pun rasanya bisa dibicarakan. Tapi sekarang mengapa begitu sedikit hal yang bisa kami bicarakan?

“Kyuhyun ah? Kau Kyuhyun kan?” kepalaku mendongak. “Oh! Ada Haneul juga.” Mataku membulat. Lee Donghae. Kyuhyun nampak lebih terkejut dariku, dia langsung berdiri dan membungkuk kecil pada Donghae, aku tahu Kyuhyun melirikku sekilas sebelum berbicara.

Annyeong Donghae-ya. Sudah lama ya.” Sunmgin berbicara dengan nada ceria, menyembunyikan keterkejutannya atas kehadiran Donghae yang begitu tiba-tiba.

“Ya. Kau nyaris tak pernah datang ke reuni SMA.” Donghae tertawa kecil, dia masih setampan Lee Donghae yang dulu, bahkan lebih tampan lagi. Menggelikan sekali rasanya saat mengingat aku begitu menggilai pria ini dulu. Aku bahkan bertengkar dengan Kyuhyun hanya karena pria ini? astaga Donghae, kau tak tahu kan masalah apa yang telah kau timbulkan dalam kehidupan ku dan Kyuhyun?

“Haneul-ah.” Kyuhyun menyentuh tanganku, membuatku berhenti menatap Donghae yang kini tersenyum malu karena tahu aku melihatnya dengan tatapan kagum.

“Aku pamit dulu ya Haneul-ah, kau juga harus lebih sering datang ke reuni.” Donghae tersenyum manis. Dulu aku pasti sudah ribut saat Donghae tersenyum seperti itu padaku.

Saat Donghae menghilang bersama seorang wanita, aku diam-diam menatap Kyuhyun. Dulu saat kami bertemu Donghae seperti ini, setelah Donghae pergi seperti tadi, biasanya ia akan menatapku curiga, dan mulai ribut tentang rasaku. Dia akan terlihat marah karena aku terlalu tergila-gila pada Donghae. Tapi kini? Dia malah asik makan.

“Ada apa?” pergerakan kepala Kyuhyun yang begitu tiba-tiba membuatku menyenggol gelas soju dan membuat minuman itu mengalir di meja dan mengenai kemeja dan celana ku. Aku menjadi panik karena kaget dan malu ketahuan menatapnya seperti itu.

“Oh! Maafkan aku.” Dia menegakkan gelas soju dengan tergesa dan memanggil pejayan dengan cepat, dia sibuk membantuku mengelap kemeja dan celana yang basah. Aku berhenti mengelap dan menatapnya. Dia memang sudah melupakan rasanya padaku. I am not in his love passion anymore. Dan itu semua kesalahanku. Semua terjadi karena perbuatanku sendiri. Aku sudah diperingati tentang hal ini berulang kali. Tapi dulu aku terlalu bodoh untuk menghindari semua ini.

***

“Kau tak akan menyadari seindah apa hidup yang kau miliki saat kau tidak memilikinya lagi.”

Flashback

Hari Valentine, dibawah pohon besar di belakang sekolah.

“Bagaimana menurutmu?” gadis itu tersenyum lebar, menatap mata pria di sisi kanannya dengan bersemangat.

“Enak. Kau yang membuatnya?” gadis itu mengangguk cepat, wajahnya nampak begitu senang.

“Aku akan memberikan ini pada Donghae.” Ditutupnya kotak makan itu dengan cepat, menimbulkan ekspresi kecewa dari pria yang kini menatap kotak itu penuh harap.

“Aku mau. Buatkan untukku juga ya?” gadis itu mengangguk.

“Tentu saja. Aku sudah membuatkan satu kotak lagi untukmu. Sekarang kau mau membantuku kan?” pria itu memicingkan mata, menyesal.

“Kau ingin aku yang menyerahkan ini pada Donghae?” gadis berpipi tembam itu senunjukan gigi-gigi nya yang rapi.

“Ah, ya sudah. Sini berikan padaku.” pria berwajah manis itu menyodorkan tangannya, membiarkan gadis itu menyerahkan kotak coklat padanya.

“Gomawo Kyuhyun ah. Saranghae….hehe” Kyuhyun tersipu, meski gadis itu sahabatnya, mendapatkan pernyataan cinta seperti itu tetap membuat jantungnya berdetak lebih keras.

“Hey, seharusnya kau mengatakan itu pada Donghae, bukan padaku. Eh, kau belum mencantumkan namamu?” kening Kyuhyun mengkerut, “kau lupa ya? tulislah cepat!” Haneul mendengus kesal.

“Tidak mau. Aku malu. Cepat kirim saja.” Haneul mendorong tubuh Kyuhyun, tapi pria itu malah terdiam disana, masih menatap Haneul jengah.

“Kau ini tidak bodoh kan? Mengapa kau lakukan ini? kalau kau memang menyukainya, katakan saja, itu bukan dosa, Haneul ah.” Haneul menggeleng.

“Sudahlah Kyuhyun ah. Aku tak mau berharap banyak. Aku hanya ingin menyukainya seperti ini.” Kyuhyun masih terdiam, dia benci sahabatnya seperti ini. Haneul bukanlah tipe wanita penakut, tapi karena dia tak percaya diri pada tubuhnya dia jadi seperti ini.

“Lupakan saja. Aku tak mau memberikannya sebelum kau menaruh namamu disana.” mata Haneul melebar, menunjukan keterkejutan.

“Kyuhyun ah…” gadis itu merengek pelan, tapi percuma saja, Kyuhyun bukanlah pria yang bisa diubah pendiriannya.

*

“Haneul ah. Ayolah, jangan marah…” Haneul mengabaikan permohonan itu, dia melangkah cepat.

“Haneul ah. Kutraktir ice cream bagaimana?” priai tu masih diabaikan, tapi dia belum menyerah.

“Haneul ah…jangan marah…”pria itu memotong jalan Haneul dan memasang wajah aegyonya, membuat wanita itu tergelak dan nyaris tertawa.

“Kyuhyun ah. Hentikan itu.” Haneul mengulum senyum, tapi akhirnya ia tersenyum lebar juga.

“Baiklah. Tapi tadi itu kau sangat menyebalkan tahu.” Haneul berhenti melangkah, emosinya naik. “Sudah kubilang kan tak perlu diberi nama. Itu memalukan sekali…” Haneul menghela nafas panajang.

“Maafkan aku…aku hanya tak mau kau seperti itu terus. Kau harus percaya diri, Haneul ah.

“Aku selalu percaya diri, hanya saja soal yang satu ini…aku tak bisa.” Aku gadis itu pelan. Kyuhyun menatapnya.

“Itu dia. Memang apa salahnya menjadi fan? Dia harus tahu kau itu ada di dunia, baru adil.” Haneul malas berkata-kata lagi. Dia dan Kyuhyun selalu memiliki sudut pandang yang berbeda tentang masalah. Mereka selalu memiliki penyelesaian masalah yang berbeda. Mereka benar-benar berbeda, tapi mereka bisa menadi teman dekat.

“Ya. terserah lah.” Haneul mealngkah lagi.

“Hey, jangan marah.” Kyuhyun melangkah di sisi wanita itu.

“Aku sudah tidak marah. Hanya kesal. Aku menikmati ke anoniman ku, tahu. Jika sudah begini, aku pasti akan malu saat bertemu dengannya nanti.” Keluh Haneul, Kyuhyun tertawa.

“Mana boleh hal baik disembunyikan. Perasaan suka itu hal baik kan? Tidak boleh disembunyikan.” Haneul hendak protes, tapi ia tahu itu hanya akan menimbulkan perdebatan lain diantara dia dan Kyuhyun. Dia sedang tidak mood untuk menyanggah fikiran-fikiran Kyuhyun

“Belikan aku ice cream strawberry.” Haneul mengalihkan pembicaraan mengenai coklat yang dinamai menjadi ice cream strawberry. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan. Perdebatan kali ini dimenangkan olehnya.

“Baiklah.” Kyuhyun tersenyum, merasa lega.

Pertunjukan Musim panas.

Matahari sudah ada di barat saat dua orang siswa berlarian dilorong sekolah. Wajah mereka nampak panik dan lelah.

“Kyuhyun ah. Cepatlah! Au ini mengapa berlari selambat itu?” Kyuhnyun berhenti berlari, meantap gadis itu kesal.

“Ya! Siapa yang salah? Aku yang berlari lambat atau kau yang memaksaku menemanimu berlatih hingga sesore ini?” pria itu bertanya sarkastik.

“Aku tahu aku yang salah…tapi kau harus lebih cepat. Kau mau terkurung disini apa? Ayolah Kyu, ini bukan saat yang tepat untuk beragumen denganku…” Haneul merengek, menarik-naik lengan Kyuhyun.

“Shireo! Biar kita terkurung di sekolah saja. Yang salah kan kau, bukan aku.” Haneul akhirnya menyerah, dia tahu semakin di paksa pria ini akan semakin sulit bergerak.

“Baiklah. Kita berjalan saja.” Kyuhyun melotot.

“Kau gila apa? Aku takmau terkurung disini!” ucapnya kesal, menimbulkan kemarahan Haneul.

“Tadi kau bilang tak apa jika kita terkurung disini! Dasar plin plan!” Haneul melangkah cepat, meningglkan Kyuhyun yang masih ada dibelakangnya.

“Aish! Menyebalkan!” Kyuhyun megngikuti Haneul.

“Mengapa harus berlatih di aula sekolah sih? Mengapa tidak berlatih di rumah saja?” Kyuhyun terengah, dia selalu melewatkan kelas olahraga dengan berbagai alasan. Mungkin hanya beebrapa kali saja dia datang. Dia dan Haneul adalah pasangan sejati dalam hal bolos pelajaran olahraga.

“Agar aku tidak gugup saat pertunjukan nanti, Kyu…” Haneul tak meantap Kyuhyun, matanya terfokus pada jalan didepannya, ia meantap gerbang sekolah yang ternyata masih terbuka dengan lega.

“Kalau begitu kau tidak boleh hanya mengajakku. Kau harus mengajak yang lain untuk menontonmu.” Haenul mengelingkan mata nya.

“Sekalian saja satu sekolah melihatku berlatih.” Ucapnya dengan nada mengejek.

“Itu kan hanya saran. Tak perlu berbicara seperti itu…” Kyuhyun mendengus kesal. Mereka terdiam hingga akhirnya keluar dari sekolah.

“Kyu, terimakasih ya.” Kyuhyun menatap Haneul, kekesalannya menguap sudah.

“Ya. Sama-sama. Lain kali jangan menungguku selesai bermain game dulu baru memitaku menontonmu.” Haneul mengangguk, dia tertawa kecil.

“Habisnya aku tak tega melepaskanmu dari PSP mu itu. kau dan PSP mu nampak serasi.” Kyuhyun tertawa, itu yang dia sukai dari Haneul. Jika yang lain akan marah saat ia bermain game terus, maka Haneul akan terduduk di sisinya dan mulai berbicara panjang lebar meski tahu Kyuhyun tak akan mendengarkannya. Kyuhyun merasa nyaman dengan Haneul. Sayang sekali Haneul bukanlah tipe wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta. Dia merasa Haneul lebih cocok jadi saudara wanita keduanya setelah kakaknya, Cho Ahra. Mereka sama-sama menyenangkan. Bedanya Ahra sangat cantik, Haneul…

“Hei, traktir aku makan jjangmyeon!”

*

Home, insomnia attacked. Stand along midnight memories.

Aroma musim gugur baru saja melewatiku saat jam di dinding kamar memberitahuku bahwa ini sudah satu detik di hari yang baru. Terdiam di balkon kamar bukanlah ide bagus mengingat ini adalah pertengahan musim gugur. Kau pasti akan terserang flu jika terlalu lama terkena angin malam dan angin musim gugur. Tapi balkon adalah satu-satunya tempat yang cocok untuk menangis dan merenung.

Aku merenung, tak bisa menangis tapi merasa sedih. Itulah mengapa aku terjaga. Terlalu banyak hal di kepala membuatku tak bisa memejamkan mata. Cho Kyuhyun terus menerus mengisi slide kosong dalam pikiranku. Kotak berisi kenangan tentang Cho Kyuhyun sudah terbuka sepenuhnya sekarang. Setelah bertahun-tahun kututup kotak itu erat-erat. Menjaganya agar tidak terbuka, akhirnya karena sebuah kebetulan kotak itu malah terbuka.

Terlalu banyak waktu bersama Kyuhyun yang kulewatkan begitu saja. Saat ulang tahun nya saja aku tak pernah memberikan ucapan selamat. Sedangkan Kyuhyun masih saja mengirimiku ucapan-ucapan melalui e-mail. Saat aku pulang dari Prancis setiap satu tahun sekali, aku bahakan tak pernah meluarngkan waktu untuk sekedar datang ke rumahnya. Itu semua karena aku malu berhadapan dengannya.

Setelah kelulusan SMA semua masih sama. Kyuhyun masuk Universita yang sama denganku, Kyunghee University. Padahal ia bis amanus Universitas yang lebih baik lagi. Kami jadi lebih sering bersama karena jadwal kami benar-benar kosong.meski aku mengambil jurusan yang berbeda dengannya, tapi kami dengan mudah mengatur jadwal dan bertemu, mengobrol hal-hal absurd dan tertawa bersama.

Kami benar-benar teman pada awalnya, hingga musim gugur 5 tahun yang lalu, saat akhirnya aku menyadari aku masih saja sendiri karena aku benar-beanr menyayangi Cho Kyuhyun lebih dari sekedar teman dekat. Aku mencoba keras menakan rasaku itu agar persahabatan kami tidak dirusakkan perasaan random itu. lagipula aku bukan tipe Kyuhyun.

Semua berjalan baik, bahkan aku sempat menyukai pria lain. Hingga akhirnya kami tiba-tiba saja saling mengetahu perasaan satu sama lain. Itu terjadi saat aku tersedu setelah dipermainkan pria yang kukira beanr-benar tulus mencintaiku. Saat itu Kyuhyun lah yang dengan senang hati menghiburku. Mengatakan bahwa aku tidak seburuk yang ada dalam pikiranku. Dia bilang aku ini lebih dari sekedar loveable dan pria yang mencampakkanku itu lebih dari sekedar bodoh.

Dia bahkan rela kemeja dibasahi air mataku. Dia bahkan meminjamkan bahunya untukku. Saat itu pula ia bilang ia akan selalu ada untukku. Awalnya aku benar-benar tak menyadari itu adalah sebuah pernyataan cinta, tapi setelah Khyuhyun mendadak berteriak furstasi aku tahu ia menyatakan cintanya padaku.

Itu adalah pernyataan cinta yang termanis. Meski ia tak mengatakan saranghae atau johahe seperti yang biasanya terjadi, aku tahu dia tulus mengatakan hal itu.

“Kapanpun kau membutuhkanku, aku akan ada disana ”

Sejak saat itu kami menjadi lebih dari sekedar teman. Meski dia tidak pernah secara resmi memintaku menjadi kekasihnya, tapi dia memperlakuakan ku lebih manis dari sebelumnya. Dia memperlakukanku sebagai seorang wanita.

Saat ayahku pergi untuk selamanya dan hidupku benar-benar hancur, Kyuhyun lah yang terla memabntuku, menahan sikutku agar aku tak terjatuh, menghapus air mataku dan mulai menyemangatiku. Dia adalah teman sejati yang kumiliki setelah Sunmi, namun karena Sunmi berada di Universitas lain, kami hanya bertemu sesekali saja.

Kyuhyun selalu ada untukku.

Disaat yang sama, Kyuhyun menjadikan status kami lebih jelas. Dia memintaku menjadi kekasihnya secara tersirat. Dia tetap Cho Kyuhyun dengan tingkat gengsi tinggi. Dia bilang dia merasa nyaman dengaku dan ingin aku terus ada disisinya. Saat duniaku terasa tak adil, Kyuhyun lah yang membuat dunia itu kembali mejadi tempat yang menyenangkan untuk ditempati.

Tapi sebelum aku menjawab pernyataan cintanya yang menharukan itu, sesuatu membuat kami harus berpisah selama 3 tahun.

Sad Winter Song

“Apa katamu tadi? dia menolak kontrak ekslusif hanya karena tak ingin jauh dariku?” suaraku meninggi dan emosiku meluarp-luap. Sungmin memandangku takut-takut. Kaget.

“Ka, kau belum tahu?” suaranya bergetar, membuatku harus mengatur emosiku sebaik mungkin agar ia tetap mau buka mulut.

“Mengapa dia melakukan itu…” aku berbicara pada diriku sendiri. Mata Sungmin menunjukan penyesalan telah membocorkan rahasia Kyuhyun padaku.

“Sudahlah Haneul-ah, toh itu semua sudah terjadi kan? Nah bagaimana beasiswamu?” nafasku terhenti, benar. Beasiswa ke Prancis itu.

*

Wajah Kyu yang pucat dan berseri membuat kemarahanu sedikit memudar. Tapi saat dia duduk dihadapanku dan tersenyum lebar, aku merasakan amarah yang begitu besar lagi padanya. Dia mencubit pipiku perlahan, mengebalikanku pada dunia nyata setelah tenggelan dalam ketidak jelasan perasaan.

“Bagaimana kabarmu chagi ya?” dia nampak geli sendiri saat menatakan kata-kata itu. aku sudah kehilangan selera untuk tertawa atau menjawab pertanyaannya.

“Baik. Kyu ya…” kata-kataku terpotong karena seorang stewadres menghampiri kami dan bertanya apa kami sudah mau memesan sekarang. Aku menggeleng pelan, ingin cepat-cepat mengetahui apa yang sesunguhnya pria ini inginkan. Ia tak bisa terus berada disekitarku dan mengabaikan kehidupannya. Mana boleh dia melakukan hal itu.

“Kau yakin tak mau memesan sesuatu?” Kyuhyun menatapku khawatir, aku menggeleng cepat.

“Aku sudah makan, Kyu. Gwenchanha.” Dahi Kyuhyun mengkerut, meantapku curiga.

“Ada apa denganmu? Kau seharusnya senang kan mendapatkan beasiswa di Prancis?” Kyuhyun menatapku dengan lembut. Aku bisa melihat gurat kekecewaan disana

“Mengapa kau menolak kontrak ekslusif di Amerika Kyu-ya?” ekspresinya menunjukan keterkejutan. Matanya menatap benda lain, mencoba mencari alasan. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Saat ia hendak menjawab, pesanannya datang. Aku masih menatapnya, meski saat dia sedang mengucapkan terimakasih pada pelayannya.

“Aku juga akan menolak beasiswa di Prancis itu.” mata Kyuhyun nyaris keluar, mulutnya mengaga dan tatapannya meantapku tak percaya. Dia nampak gelisah, sesaat kemudian dia mencoba menata ekspresinya.

“Kau harus mengabil kesempatan itu. mana boleh kau melewatkan kesempatan sebesar itu?” aku tahu ada ketakutan saat mengatakan hal itu padaku.

“Kau sendiri bagaimana? Kau juga menolak dan melewatkan kesempatan besar untuk kehidupanmu kan? Aku juga ingin melakukan hal yang sama. Bukankah itu maumu Kyu? Kita selalu bersama-sama?” suaraku terdengar lirih, antara terharu dan marah. Aku terharu atas kebodohannya. Tapi aku marah ia melepaskan impiannya begitu saja.

“Tapi itu impianmu sejak dulu.”

“Kau juga melepaskan impianmu…”

“Itu berbeda! Maksudku…kau harus mengambil…”

“Kau ingin berpisah dariku?” Kyuhyun meantapku tak percaya, dia mendengus kesal.

“Mengapa kau katakan itu?!” dia mencoba menenangkanku, tangannya menggengam tanganku erat.

“Baiklah. Aku akan menerimanya dan berpisah denganmu selamanya!” Aku berdiri dengan cepat, minuman Kyu tumpah sedikit karena aku terlalu tergesa. Kulepaskan tangannya dengan kasar.

“Bukan itu maksudku!” Kyuhyun membalas teriakanku. Beberapa orang menatap kami takut-takut.

“Lalu apa? Aku juga ingin melakukan hal sama. Tidakkah itu adil? Mengapa kau ingin aku mengabil beasiswa itu?” Kyuhyun memijat kepalanya.

“Dengar, aku bukan ingin berpisah denganmu. aku juga ingin kau sekolah di Korea dan bersamaku selamanya. Aku tak bisa jauh jauh darimu, tapi aku tak mau kau melepaskan hidupmu demi aku. Aku menolak beasiswa itu karea…” mata Kyu berputar, dia pasti mau berbohong padaku.

“Karena apa?” aku mendesaknya, membuatnya menggeleng kecil dan menahan napas.

“Karena aku mau bergabung dengan perusahaan ayahku! Aku ingin berbakti pada ayahku.” Bohong. Aku tertawa sinis.

“Kau bohong. Lakukan apa yang kau mau. Aku akan mengikuti keinginanmu untuk jauh dariku.”

“Haneul-ah!”

Aku melangkah cepat, nyaris berlari. Lalu akhirnya benar-benar berlari karena mendengar langkah yang cepat dan berat milik Khyuhyun. Tangnaku mengacung dengan memangil taksi. Aku melarikan diri.

*

Aku menghindarinya selama dua bulan. Aku mengurusi surat-surat kepergianku dengan cepat dan tergesa. Aku tak mau menemuinya sama sekali saat itu. AKu menggap ia tak ada lagi diduniaku. Aku terlalu marah.

Saat itu aku cemburu pada seorang wanita bernama Seohyun yang dijodohkan dengan Kyuhyun. Dia lebih cantik dariku. Dia lebih baik dariku dari segi apapun. Aku bernilai 6 dan Seohyun bernilai 9. Kyuhyun tak mengatakan apapun tentang perjodohan ini, tapi aku tahu sendiri. Aku tahu saat Kyuhyun berbohong sedang membantu ayahnya, saat itu dia sedang menghadairi perjodohan. Aku tak pernah menjelaskan hal itu pada Kyuhyun hingga detik ini. dia hanya tahu aku ini wanita yang berjiwa labil.

Sudahlah. Lupakan saja. dia membuktikan kata-katanya. Dia memang membantu ayahnya. Dia terus menerus menghubungiku di tahun awal kepergianku dari Korea. Dia akhirnya menyerah menghubungiku di tahun kedua. Kami benar-benar hilang komunikasi saat aku sudah mendekati tahun-tahun akhir di Paris.

“Oh. Kau sudah bangun ya?” Suara bass Sam membuatku tersadar.

“Ne. baru saja bangun.” Ucapku, berbohong.

“Turunlah. Kau harus membuat Songpyeon[8] kan?”Sam menunjukan giginya. Merasa senang bisa mengerjaiku.

“Ya. aku akan turun. Tungggulah sebentar ya. Cepat pergi dari kamarku!” aku meneriaki Sam, membuat Sam tertawa keras.

*

Saat perayaan Chuseok aku akan menjadi bulan-bulanan kelaurga besarku. Mereka akn mmbicarakan keberhasilanku di dunia pendidikan dengan beasiswa dan keberhasilanku dalam mendapatkan kontrak ekslusif dengan perusahaan property. Tapi mereka juga akan menjadikanku contoh buruk dari wanita gila kerja. Mereka akan mengait-ngaikannya dengan bentuk Songpyeon ku yang buruk.

“Maafkan eommaku ya, eonni…” Mujiage berbisik pelan padaku saat kami berjalan beriringan menuju kamar nya.

“Tak apa. Bukan masalah besar, kan?” kulangkahkan kakiku dengan cepat. Membiarkan Mujiagae berjalan dibelakangku.

“Kau bilang kau bawa DVD, bagaimana jika kaita tak tidur dan menontong semua DVD yang kau bawa.” Aku mengganguk cepat. Mujigae berusia 2 tahun lebih muda dariku, tapi ia sudah akan menikah tahun depan.

“Tentu.” Aku terduduk nyaman di kasurnya. “Kau cari saja di tasku ya? hehe. Aku malas.” Kunyalakan TV, dan memejamkan mata. Lelah.

“Ya. mereka benar-benar serasi bukan? Cho Kyuhyun dan Han Seohyun. Keduanya adalah…” mataku terbuka. TV menayangkan wajah Kyuhyun dan Seohyun. Wanita itu.

“Mereka akan menikah bulan depan ya?” jantungku berhenti. Sebelum aku sempat mendengarkan semua dengan benar. TV sudah menayangkan triler film madagaskar 3. Mujigae kini duduk di sisiku. Wajhnya ceria. Aku sudah mati sekarang. Nafasku berhenti. Mataku perih sekarang. Aku menangis tersedu.

Inikah akhir dari kisah cintaku? Sat aku baru menysli semua aku malah benar-beanr patah hati?

“Astaga, eonni…ada apa?” Mujigae terdegar panik. Aku sendiri tak bisa menjawab dan masih menangis. Aku tak bisa berbicara sepatah katapun sekarang. Aku terlalu sedih dan kecewa.

Aku melangkah cepat melewati Mujigae yang kebingungan. Meninggalkannya sendirian. Aku berlari kearah pintu, Mujigae meemanggil-manggilku dengan nada panik dan bingung. Semua orang yang sudah ada didalam kamar sepertinya ikut terbangun dan mereka mulai berhamburan. Saat mereka bertanya aku sudha menutup pintu dan berlari.

Kau berbohong padaku, Kyu. Kau bilang selalu ada harapan saat kesulitan terjadi. Ceritamu tentang kotak Pandora itu hanya dongeng anak-anak yang sudah basi. Kau membohongiku, Kyu. Bagaimana bisa kau lakukan ini padaku?

Ckiit…!

“Noona!” kepalaku berputar, rasanya sakit sekali. Perutku juga mual. Apa yang terjadi?

***

“Kyu. Maafkan aku.”

“Untuk apa kau meminta maaf? Kau tidak menumpahkan soji ke tubuhku kan?”

“Bukan. Tentnag masalah tiga tahun lalu.” Mata Kyuhyun membulat. Dia tersenyum dan menghela nafas pelan.

“Aku sudah memaafkanmu. Bahkan jauh-jauh hari sebelum kita bertemu.” Nada suaranya terdengar tulus.

“Aku…bisakah kita menjadi seperti dlu lagi?” Kyuhyun terdiam. Tak menjawab. Dia tersenyum.

“Kau pernah dengar cerita tentang kotak Pandora?” aku menggeleng, merasa bingung. Tak ada hubungannya sedikit pun kan?

“Selain manusia, bumi dulu juga ditempati oleh para titan. Zeus sangat tidak menyukai beberapa titan, dan titan yang paling tak disukainya adalah Promotehus yang bersikukuh hendak mencuri cahaya pengetahuan dari puncak Olympus. Nietzsche sangat mengagumi titan satu ini yang menurutnya memiliki ciri “uebermensch” (sebagian menerjemahkannya “superman”, tapi penerjemah spesialis Nietzsche, Walter Kauffman, lebih suka menerjemahkannya menjadi “overman”)

Zeus, diceritakan, juga membenci titan lainnya yang bernama Ephimetheus. Dia adalah kakak Promotheus. Untuk itu Zeus memerintahkan seorang dewa yang dikenal buruk rupa tapi memiliki keahlian seni yang mumpuni untuk membuat sebuah patung perempuan. Nama dewa itu Haphaestus. Dia sendiri adalah anak Zeus dari hasil perkawinan dengan Hera. Karena dia memendam asmara tak kesampaian dengan Aprhodite, maka ia membuat patung perempuan yang kecantikannya menyerupai Aphrodite.

Zeus senang dengan kesempurnaan patung itu dan lantas memberi patung itu kehidupan. Patung itu sendiri bentuknya lebih kecil dari ukuran manusia. Patung yang sudah diberi kehidupan itu diberi nama Pandora. Oleh Zeus, Pandora dititipi pula sebuah kotak rahasia yang tak boleh dibukanya.

Zeus lantas menghadiahkan patung itu pada Ephimetus. Kendati Promotheus sudah memeringatkan kakaknya akan kemungkinan tipu muslihat Zeus, Ephimetus telanjur menyukai dan mencintainya karena Pandora memang sangat cantik. Singkat kata, Pandora dan Ephimetus hidup berdampingan. Pandora sendiri hingga beberapa lama mampu menaati perintah untuk tidak membuka kotak itu. Tapi, lama kelamaan, Pandora penasaran dengan apa isi kotak yang dititipkan padanya.

Maka dibukalah kotak tersebut. Dari dalam kotak, berhamburanlah segala macam keburukan, seperti penyakit, wabah kesedihan dan keputusasaan. Sejak itu, Bumi mulai mengenal penyakit dan segala keburukan hidup lainnya. Hanya saja, ternyata, di dalam kotak itu juga masih ada satu benda lain. Benda itu kecil bentuknya. Namanya: “Harapan”. Benda inilah yang kelak digunakan manusia di bumi untuk terus bertahan dari segala macam penyakit, wabah, kesedihan, dan lain-lain.”

Aku terdiam. Bingung. “Apa hubungannya, Kyu?”

“Kau membuka kotak yang seharusnya tak kau buka. Itu adalah kesalahan yang kau buat. Kau dengar kan ada setitik harapan? Kita juga masih punya harapan untuk kembali menjadi seperti dulu.” Aku tak mengerti.

*

Wanita itu terdiam, matanya menerawang jauh. Wajahnya memar dan dipenuhi plester. Kepalanya dililit perban. Ia terduduk diam, menatap jendela. Dia mengalami koma selama beberapa minggu setelah kecelakaan yang terjadi padanya tempo hari lalu. Dia baru siuman hari ini.

“Annyeong noona.” Wanita itu tersenyum lebar, menyambut adik laki-lakinya dengan tawa kecil.

“Lihat apa yang kubawakan untukmu. Jjangmyeon. Hehe. Jangan bilang dokter ya.” Haneul, wanita itu tertawa keras.

“Ssh. Jangan terlalu keras. Kau akan membuat orang-orang curiga tahu!” Sam terduduk di sisinya dan tersenyum lebar.

“Maaf.”

“Kyuhyun hyung mana?” Haneul mengerutkan kening.

“Dia ada disini?” Sam mengangguk.

“Kau tidak melihatnya?” Haenul menggeleng, penasaran. Tiba-tiba berita tentang pernikahan priai tu dengan Seohyun terdengar lagi. Dia merasa sedih lagi.

“Dia membatalkan pernikahannya dengan Seohyun, noona. Kau menjadi lebih terkenal dari siapapun di dunia ini.” ucap Sam berlebihan, Haneul masih tak mengerti.

“Kau ini bicara apa huh? Gila.”

“Hey. Jaga ucapanmu noona!” Sam memekik kaget.

“Kyuhyun hyung datang saat kau dirawat. Dia menungguimu terus loh. Tadi pagi sebelum kau siuman dia ada disini. Tapi ia harus mengurusi beberapa masalah dan pergi. Saat kau tidur siang tadi, dia juga datang. Kalian memang punya kehidupan yang lucu ya? nah dia menghilang sekarang.”

“Apa katamu?”

“Hai.” Sebuah suara bass membuat Haneul nyaris menjerit kaget. Itu Cho Kyuhyun.

“Sam, aku ingin bicara dengan noonamu sebentar boleh?” Sam mengangguk cepat, dan melesat pergi.

“Mengapa kau ada disini?”

“Sudah kubilang selalu ada harapan kan? Kita punya harapan untuk bersama. Kau percaya aku kan?” aku menggeleng.

“Kau membawa banyak masalah. Eomma membujuk appa untuk membatalkan pernikahan saat tahu kau kecelakaan. Kau harus bertanggung jawab.” Aku memelototinya. Sebelum sempat protes, pria itu sudah memelukku erat.

“You have to be my wife forever. Will you marry me?”

-THE END-

[1] Ayo!

[2] Tidak.

[3] Kau baik-baik saja?

[4] Ya, aku baik-baik saja

[5] Mabuk pascaterbang

[6] Makanan khas Korea yang menyerupai pancake dengan daging sebagai bahan tambahan. Haemul pajeon berarti pajeon yang diberi seafood sebagai bahan tambahan dalam pajeon.

[7] Pajeon dengan cumi-cumi sebagai bahan tambahan.

[8] Makanan istimewa liburan Chuseok yang terbuat dari tepung beras diisi kacang atau wijen.

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: