My Namu

kyu_!

Nama : Aryn
Judul Cerita : My Namu
cast : Cho Kyu-Hyun and Park Ni-Young
Genre : Romance
Rating : PG-15
Length : One-Shot
Wp : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

You becoming far as my heart can’t reach you
Can we go back once again?

***

Ni-Young tidak pernah menantikan musim dingin di penghujung tahun. Satu-satunya yang ia nantikan di bulan-bulan terakhir adalah cuti libur. Namun hal itu terdengar mustahil di telinganya sendiri mengingat meningkatnya jumlah pasien di rumah sakit tempatnya bekerja. Sudah dua minggu terakhir ini Ni-Young harus lembur menangani pasien, dan ia tidak dapat berbohong kalau tubuhnya juga lelah, mungkin sebentar lagi ia sendiri yang akan dirawat di rumah sakit.

Hari ini hari sabtu, Ni-Young tidak punya janji kencan dan ia memang ditugaskan di rumah sakit hingga pukul delapan malam. Pukul delapan lewat tujuh belas menit, ketika ia berniat meninggalkan ruangannya, saat itulah pasien terakhir masuk dan membuatnya ingin tinggal lebih lama.

“Ni-Young Eonni,” Ni-Young masih ingat sapaan gadis bermata bulat besar yang dulu tidak lebih tinggi darinya itu. “Aku sakit lagi,” sambungnya sambil manyun.

Kemudian Ni-Young melihatnya. Dia berdiri tepat di belakang gadis itu. Dia memegang kedua pundak gadis itu, dan Ni-Young sadar betapa orang itu sangat mencintai gadis yang menyapanya barusan. Betapa orang itu akan merelakan apapun demi gadis manis itu.

“Bisa tolong sembuhkan dia?”

Orang itu tersenyum. Mencairkan auranya yang beku. Membuat matanya yang bersinar tegas sedikit terlihat lebih teduh.

Orang itu berbicara dengan si gadis bermata bulat, menenangkannya. Ia mengacak rambutnya, ia bernapas. Ia nyata. Dan rasanya Ni-Young mulai bernapas lagi setelah hampir enam tahun sekarat.

***

“Dia nyaris pingsan saat upacara. Bisa kau temani dia?”

Ni-Young hanya mengangguk tanpa bersuara. Ia lalu duduk di dekat pintu UKS sambil sesekali memerhatikan anak laki-laki yang belakangan menjadi sangat populer di Sekolahnya. Cho Kyu-Hyun menjadi bahan perbincangan baik di antara para murid maupun guru-guru. Tidak lupa Bibi di kantin juga, serta pak Satpam di depan sekolah. Dia memenangkan medali emas. Lagi. Setelah masuk ke Sekolah ini kira-kira dua tahun yang lalu, dia memang begitu. Yah, begitu. Tampan dan cerdas. Juga sangat angkuh.

“Jadi… kau tidak mengikuti pelajaran dan bermalas-malasan di sini ya, Nona Park?”

Ni-Young menoleh sekilas, tadi wajah Kyu-Hyun pucat pasi, sekarang dia terlihat bugar saat mencela orang. “Bukan urusanmu.”

“Menjabat sebagai pengurus UKS ada untungnya juga. Boleh aku mendaftar?”

“Tentu,” Kyu-Hyun yang duduk di atas ranjang menaikkan sebelah alis. “Tentu tidak.”

Kalau Kyu-Hyun bersinar karena medali emas dari olimpiade Matematika, maka Ni-Young unggul dalam hal kesehatan, entahlah. Sekolah menengah atas yang ia pilih ini memang tidak terlalu mementingkan mengenai hal itu, karena cenderung menilai dari sisi akademik. Tapi Ni-Young berusaha sebaik mungkin agar ruang UKS itu bukan hanya menjadi tempat persembunyian siswa yang malas masuk kelas.

“Aku tahu jawabanmu,” kata Kyu-Hyun. Kepalanya masih agak berdenyut. Ia lelah terus belajar. Walaupun sesungguhnya ia tidak harus belajar sekeras itu, walaupun ia bisa dengan mudah memenangkannya, tapi tetap ada rasa khawatir. Dan di sini nama baiknya dipertaruhkan. “Aku ingin bertanya.”

Ni-Young tersenyum mendengar suara dingin khas Cho Kyu-Hyun. Suara yang ia keluarkan ketika menolak para gadis, suara yang ia gunakan untuk membuat orang lain merasa terintimidasi, suara yang membuat semua orang mengikuti apa yang ia katakan. Suara yang membuat orang ketakutan.

“Kenapa kau membenciku?”

Ni-Young menoleh, untuk apa dia peduli?

“Aku tidak membencimu.”

“Ah… apa karena aku memukul Kim Jong-Woon rabu lalu? Karena bibirnya pecah dan berdarah lalu dia lari dan merengek padamu.”

“Diamlah.”

“Atau karena aku mengalahkannya saat olimpiade?”

“Ini tidak ada hubungannya dengan Kim Jong-Woon.”

“Kenapa tidak? Dia kekasihmu.”

Ni-Young berhenti, niatan awal memberikan Kyu-Hyun secangkir teh hangat sirna sudah. “Dia bukan kekasihku.” Ni-Young menatap Kyu-Hyun, tepat di kedua matanya. Mencari alasan mengapa ia membenci laki-laki itu. “Karena kau Cho Kyu-Hyun.”

“Aku memang Cho Kyu-Hyun.” Kyu-Hyun tidak pernah bicara sepanjang ini pada seorang gadis, bahkan ini bukan bincang-bincang, ini perdebatan. “Aku hanya tidak nyaman dengan caramu menatapku.”

Ni-Young tersenyum. “Kau pikir semua gadis akan melihatmu dengan tatapan memuja?”

Sudut bibir Kyu-Hyun terangkat. “Tentu saja begitu.”

“Kau sangat salah, Cho Kyu-Hyun.” Ni-Young melangkah meninggalkan Kyu-Hyun. Sejak awal ia mengenal laki-laki itu, dia memang tidak ingin berurusan lebih jauh dengannya. “Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang menghargai perempuan, dalam bentuk apapun, tidak sepertimu.”

“Kau ingin aku seperti Kim Jong-Woon?”

“Aku tidak bilang begitu,” Ni-Young berbalik dan mengangkat bahu. “Karena laki-laki brengsek sepertimu tidak akan bisa melakukannya.”

Kyu-Hyun bangkit dari ranjang, wajahnya mengeras dan matanya bersinar tajam. Wajahnya yang angkuh dan langkahnya yang tegas. Ia tidak menatap Ni-Young ketika hendak meninggalkan ruang UKS, bahu mereka bertabrakan dan Ni-Young meringis, tapi Kyu-Hyun tidak peduli. Kyu-Hyun menatap semua gadis di sekolah layaknya sampah. Sikap sombongnya itu membuat sebagian besar gadis terpesona dan jatuh begitu saja, namun membuat sebagian kecil gadis termasuk Ni-Young muak. Kalau ada Cho Kyu-Hyun, lebih baik menghindarinya. Dia berbahaya. Sifatnya mengerikan.

Ni-Young tersenyum sinis, ia memang tidak pernah menyukai orang itu. “Semoga kau masih diberkahi, Cho Kyu-Hyun.”

***

Kalau boleh jujur, Ni-Young tidak ingin mencari musuh. Ia ingin hidup damai, dan ia tau betul jika memilih Cho Kyu-Hyun sebagai musuh, itu berarti masalah. Pertama, sekolah itu milik ayahnya. Kedua, Kyu-Hyun selalu menjadi kebanggaan. Ketiga… dia tampan. Bukan, sangat tampan. Mungkin point ketiga tidak masuk hitungan Ni-Young, tapi yah, itu masuk hitungan semua gadis di sekolah.

Masih banyak hal lain yang dapat membentuk kesombongan seorang Cho Kyu-Hyun. Tapi tiga hal itulah yang utama. Dia jadi semena-mena, dan Ni-Young benci itu. Kenapa Cho Kyu-Hyun tidak bisa seperti Tuan Namu miliknya? Ah, Ni-Young pasti sudah gila mengharapkan Kyu-Hyun sedikit saja berubah dan menghormati perempuan.

“Selamat pagi, Pak. Saya…”

“Saya tahu.”

Sudah tujuh bulan terakhir ini, setiap pukul sembilan pagi di hari selasa dan kamis Ni-Young rutin mengunjungi pos Satpam. Mengambil titipan dari Tuan Namu miliknya. Sebuah susu kotak rasa pisang yang selalu bisa membuat dadanya terasa lebih ringan.

“Langit hari ini cerah, lalu kenapa kau cemberut begitu?”

Selalu ada note yang terselip di susu kotak rasa pisang murahan itu. Kata-kata sederhana yang entah bagaimana selalu berhasil membuat Ni-Young bersemangat. Merasa ia tidak pernah sendiri.

Tuan Namu namanya, Ni-Young tidak tahu siapa orang itu. Katanya dia tidak bersekolah, dia ingin sekolah seperti anak-anak biasa,tapi ia tidak bisa. Dia bilang melihat Ni-Young saat di toko bunga dan mengikutinya sampai di sekolah. Dia bilang dia ingin berteman dengan Ni-Young, jadi ia mengirimkan surat. Ni-Young tidak keberatan sama sekali. Dia senang mendengar pengalaman Tuan Namu, tentang apapun. Termasuk ceruita-ceritanya ketika menjelajahi Seoul pada jam-jam tidak wajar.

Ni-Young suka bagaimana Tuan Namu memberikan perhatian padanya. Ni-Young dapat merasakan bahwa Tuan Namu adalah orang yang hangat. Tulisan sambungnya sangat rapi, kertasnya selalu harum. Ni-Young ingin sekali bertemu Tuan Namu, ingin sekali.

Hingga akhirnya hari itu dia benar-benar bertemu dengan Tuan Namu-nya.

Sesuai janji Tuan Namu, mereka bertemu di hari kelulusan.

Tuan Namu memberikan Ni-Young susu kotak rasa pisang, dan seikat besar bunga Baby’s Breath cantik.

Tuan Namu terlihat sangat tampan hari itu.

Untuk pertama kalinya, Ni-Young melihat senyuman Tuan Namu.

Dan Tuan Namu adalah Cho Kyu-Hyun.

***

“Kau terkejut?”

Ni-Young menatap satu persatu Baby’s Breath ditangannya dengan gugup. Saat ini ia dan Kyu-Hyun duduk berdua di dalam bus terakhir, duduk di bangku paling belakang dengan jarak yang cukup jauh.

“Kau kecewa karena orang itu adalah aku?”

Ni-Young menatap Kyu-Hyun. Ada yang berbeda dengan laki-laki itu. Dia tidak seangkuh biasanya. Matanya juga menyiratkan begitu banyak beban dan penderitaan.

“Maaf,” kata Kyu-Hyun. Ia melirik Ni-Young sekilas, lalu melihat jalanan melalui jendela. “Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya berteman.”

Ni-Young menahan napas. Ia benci perasaan bersalah yang muncul didirinya. Ia tidak tahu mengapa ia tidak tega melihat wajah Kyu-Hyun sekarang. Bukan, Kyu. Bukan seperti itu. Aku tidak kecewa Tuan Namu adalah kau. Aku hanya… terkejut. Benar-benar terkejut.

“Aku bukanlah orang yang baik dalam menjalin hubungan pertemanan. Apa yang kukatakan akan terdengar salah di telingaku sendiri.” Kyu-Hyun menghela napas, menatap Ni-Young lagi. “Maaf merepotkanmu.”

“Bukan…”

Kyu-Hyun menunggu. Ia menatap Ni-Young dengan cemas sementara gadis itu hanya meliriknya takut-takut. Lima menit berlalu, Kyu-Hyun tahu ini akan terjadi. Selama ini orang-orang hanya menatapnya karena kekayaan orang tuanya. Tidak ada yang namanya teman karena ketulusan. Bahkan Ni-Young, satu-satunya orang yang ia percaya menjadi temannya pun sepertinya tidak bisa menerimanya layaknya anak normal. Kadang Kyu-Hyun menyesal terlahir sebagai Cho Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun berdiri ketika bus berhenti di halte selanjutnya. Ia berdiri dan melangkah meninggalkan Ni-Young. Sementara Ni-Young hanya memeluk bunga pemberian Kyu-Hyun dengan perasaan menyesal yang menyesakkannya. Sampai akhirnya ia menemukan wangi Kyu-Hyun di sekitarnya. Kyu-Hyun belum pergi.

Kyu-Hyun berbalik dan berdiri di hadapan Ni-Young.

“Selamat atas kelulusanmu,” kata Kyu-Hyun dengan wajah yang datar, sedatar nada bicaranya. Ni-Young hanya mengangguk, terlalu bingung untuk berkata-kata. Lalu Kyu-Hyun menundukkan badannya, mengecup singkat pipinya. “Aku menyukaimu, Nona Park.”

***

Ni-Young tersenyum sedih ketika berada di toko bunga langganannya. Saat ia menyentuh permukaan Baby’s Breath yang putih, saat itulah kenangan di musim dingin bertahun-tahun lalu datang dan membuatnya sesak.

Bagaimana tidak? Laki-laki bernama Cho Kyu-Hyun itu tidak pernah terlihat lagi sejak malam itu. Dia meninggalkan Ni-Young dengan rasa bersalah dan penyesalan. Harusnya Ni-Young tahu betapa kesepiannya seorang Cho Kyu-Hyun. Saat itu Ni-Young sadar hidup Kyu-Hyun tak semulus yang terlihat. Ia menanggung beban yang berat. Putra orang terpandang membuatnya harus menjaga tingkah lakunya, dan hal itu mengekangnya hingga ia menjadi terlalu hati-hati dan membatasi diri saat bersikap.

Ketika Ni-Young membaca lagi surat-surat dari Tuan Namu-nya, ketika itulah ia sadar, Kyu-Hyun butuh teman yang memandangnya sebagai seorang teman. Bukan teman karena dia adalah putra seorang Konglomerat.

Ni-Young harusnya sadar sejak awal, ketika Kyu-Hyun rutin mengunjungi kedai Ramyun kecil milik ayahnya. Kyu-Hyun sangat akrab dengan ayah Ni-Young, ayah Ni-Young juga bilang kalau Kyu-Hyun sering datang bersama adik kecilnya. Adik perempuan Kyu-Hyun yang pendiam, namun matanya bersinar-sinar dan ia tersenyum begitu banyak saat bersama Kyu-Hyun. Begitupula si Tuan Namu, melalui suratnya, ia berkata bahwa ia punya mataharinya sendiri, yang bisa menghangatkannya di malam-malam gelap, adik perempuannya. Ni-Young mengerti sekarang, satu-satunya orang yang dapat dipercaya Kyu-Hyun adalah adik perempuannya, Sun-Ae. Dia adalah gadis yang terkadang melarikan diri ke kedai Ramyun tengah malam karena bosan dengan makanan di rumah. Sesekali dia berbincang-bincang dengan ayah Ni-Young, juga dengan Ni-Young sendiri. Gadis kecil itu terlihat sangat menyayangi Kyu-Hyun. Dia bertanya pada Ni-Young apakah Kyu-Hyun di sekolah baik-baik saja atau sebaliknya. Ni-Young selalu berkata jujur bahwa Kyu-Hyun adalah anak yang tidak ingin bergaul, dan Sun-Ae bilang Kyu-Hyun adalah orang yang paling ingin bergaul. Ni-Young tidak mengerti, setiap ia ingin bertanya pasti Kyu-Hyun sudah datang dan memarahi Sun-Ae, mengajak gadis itu pulang di punggungnya. Kemudian ketika melihat sikap kurang ajar Kyu-Hyun di sekolah, Ni-Young mengurungkan niatnya. Ia tidak mau tahu tentang Kyu-Hyun dan apapun tentang laki-laki itu. Dia hanya berteman dengan Sun-Ae, gadis kecil manis yang sangat berbeda dengan Kyu-Hyun yang beku.

“Ni-Young Eonni?”

Ni-Young menatap gadis yang tingginya hampir sama dengannya. Gadis itu terlihat lebih dewasa, dia sangat manis seperti terakhir kali mereka bertemu. Matanya yang hitam masih saja indah.

“Wah, kebetulan sekali. Terakhir kali kita tidak bicara banyak karena Kyu-Hyun harus kembali ke kantor.” Sun-Ae meletakkan Anggrek Bulan di meja kasir dan menatap Ni-Young lagi. “Eonni punya waktu? Ingin minum kopi bersamaku?”

Ni-Young menepuk lembut jidat Sun-Ae. “Kau ingin Kyu-Hyun membunuhmu?”

Sun-Ae mendengus. “Baiklah, jangan kopi kalau begitu.” Sun-Ae tersenyum. “Kita beli es krim?”

“Di musim dingin?”

“Hah, kau terdengar seperti Cho Kyu-Hyun sekarang.”

Ni-Young tertawa. “Kita coba Pancake?”

Sun-Ae mengangguk. “Apakah porsinya besar? Kebetulan perutku sedang sekarat.”

Ni-Young mengambil Baby’s Breath miliknya dan Anggrek milik Sun-Ae. Lalu merangkul gadis itu ketika keluar dari toko bunga. “Kapan perutmu tidak sekarat? Dulu kau selalu datang padaku kalau sedang kelaparan.”

Sun-Ae tertawa. Ia ingat bagaimana ia kabur dari rumah lalu makan dua mangkuk ramyun di kedai milik ayah Ni-Young tanpa membawa uang.

“Baiklah, kita makan sepuasnya Eonni,” kata Sun-Ae senang. “Aku yang traktir.”

***

Sun-Ae memotong pancakenya dengan bahagia. Tidak ada hal lain yang lebih baik dari pulang dan menikmati apa yang bisa dinikmati di rumah sendiri. “Eonni yakin?”

Ni-Young yang duduk di sofa di apartemen milik Sun-Ae dan Kyu-Hyun menoleh. “Yakin tentang apa?”

Sun-Ae tersenyum. “Yakin tidak ingin bertanya tentangnya? Tentang bagaimana dia tiba-tiba pergi dan kembali. Tentang bagaimana dia selama tidak bersama Eonni. Yah, tentang keadaannya sekarang mungkin?”

Ni-Young ingin. Dan dia penasaran. Selama ini tidak ada satu haripun yang dilewatkannya tanpa bayang-bayang Cho Kyu-Hyun. Andai dia sadar sejak awal, malam itu, ketika Kyu-Hyun mengatakan bahwa ia ingin berteman, Ni-Young akan berkata bahwa mereka sudah berteman. Ketika Kyu-Hyun berkata bahwa ia menyukainya, Ni-Young akan menerimanya.

“Dia tidak baik-baik saja, Eonni.” kata Sun-Ae tenang. “Aku selalu menyulitkannya.”

Ni-Young duduk di kursi makan di hadapan Sun-Ae. “Hidupnya memang hanya untukmu, bukan?” tanyanya sambil mengelus kepala Sun-Ae. “Oleh karena itu, hiduplah dengan baik. Jaga kesehatanmu dan aku yakin orang itu juga akan baik-baik saja. Mengerti?”

Sun-Ae mengangguk. “Kami ke luar negeri untuk pengobatanku. Dan Kyu-Hyun meninggalkan Eonni sendiri. Maaf.”

“Bukan salahmu Sun-Ae-ya. Bukan salah siapa-siapa.”

“Tapi Eonni masih menyukainya, bukan?”

Ni-Young mencubit pipi Sun-Ae. “Masih katamu? Sejak kapan aku menyukai manusia batu itu?”

Sun-Ae menatap Ni-Young tulus. “Sejak Kyu-Hyun mengamuk di kedai Ramyun. Eonni mengingatnya kan? Itu musim dingin, aku tidak pakai mantel dan sepatu, tidak mempunyai uang dan aku kelaparan. Aku makan di kedai ramyun dan tidak pulang ke rumah hingga larut. Kyu-Hyun marah-marah padaku saat itu.” Sun-Ae berhenti sejenak, lalu menatap Ni-Young. Membaca Ni-Young dari raut wajahnya. “Aku juga tidak tahu, rasanya malam itu Eonni melihat Kyu-Hyun sebagai orang yang berbeda.”

Memang.

Malam itu Kyu-Hyun bukanlah si brengsek yang membuang gadis-gadis sesuka hatinya seperti di sekolah.

Malam itu Kyu-Hyun marah-marah karena khawatir padamu, Sun-Ae-ya.

Kyu-Hyun membuka mantelnya dan memakaikannya padamu, mengganti kaos kakimu dan membawamu di punggungnya. Kau tahu betapa dinginnya malam itu, kan? Kyu-Hyun tidak pakai mantel. Dia melindungimu. Ada sinar yang menyiratkan kelegaan luar biasa di matanya saat menemukanmu di kedai malam itu. Kyu-Hyun terlihat rapuh saat itu. Dua detik sebelum menemukanmu dia benar-benar putus asa. Setelah menemukanmu makan dengan tenang dia seakan hidup kembali. Walaupun dia marah-marah dan ribut sekali, tapi bukankah dia begitu hangat, Sun-Ae-ya? Kakakmu yang angkuh itu… dia seperti selimut hangat milikmu, kan?

“Setidaknya malam itu aku tahu Ch Kyu-Hyun masih punya hati.”

“Dia punya, Eonni.” Sun-Ae tersenyum, ia menatap foto-foto dirinya dan Kyu-Hyun sejak kecil hingga sekarang yang tergantung di dinding-dinding ruangan apartemen mereka. “Hatinya cukup besar untuk kita tinggal di sana.”

***

Park Ni-Young kini mulai berharap ia bisa melihat Kyu-Hyun lebih sering. Iya, dia ingin melihat wajah tampan yang ia rindukan sampai mendarah daging. Di masa depan seperti sekarang ini pun manusia robot seperti Kyu-Hyun belum berubah. Dia tidak berada di apartemen padahal ini hampir larut. Dia memang gila kerja. Ni-Young tahu sifat itu sejak masih sekolah.

Kyu, kau sudah menikah?

Bagaimana kalau Ni-Young bertanya tentang hal itu?

“Bukan urusanmu.” Mungkin Kyu-Hyun akan menjawab seperti itu. Sama seperti apa yang ia lakukan ketika Kyu-Hyun ingin memulai pertemanan.

Ni-Young tersenyum melihat jalanan yang dilewati bus yang membawanya. Ketika ia melewati sekolahnya dulu, tiba-tiba ia merasa ingin kembali ke masa lalu. Ke masa-masa ketika Kyu-Hyun ada di sisinya. Ah, mungkin bukan Kyu-Hyun. Tapi Tuan Namu. Ni-Young merindukan Tuan Namu. Ia meridukan Kyu-Hyun.

“Kau masih sering melamun?”

Ni-Young menoleh pada orang asing yang duduk bersamanya di bangku paling belakang di bus terakhir malam itu.

“Kau haus kan?”

Ni-Young terdiam ketika orang itu menyodorkan susu kotak rasa pisang murahan padanya.

“Dasar kekanakan.” Ni-Young menerimanya dan ia melihat segaris senyum di wajah tampan Kyu-Hyun. Lama, mereka hanya berdiam diri. Kyu-Hyun membuka mantel hitamnya dan memerhatikan jalan. Ni-Young punya seribu pertanyaan yang ingin ia ajukan tapi ia tidak bisa melakukannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyu-Hyun pelan. Bahkan nada bicaranya belum berubah.

“Ya, tentu.”

“Malam itu, terima kasih.”

“Untuk?”

“Untuk menyembuhkan Sun-Ae.”

“Aku bukan menyembuhkannya, aku hanya menulis resep obat.”

Kyu-Hyun mengangguk. “Apalah itu,”katanya sambil lalu. Ia menatap Ni-Young dan bertanya, “Ada yang ingin kau katakan padaku?”

Ni-Young menahan napasnya tanpa alasan. Ia menatap Kyu-Hyun lama. Demi Tuhan, ia tidak pernah menyangka bisa melihat laki-laki ini lagi.

“Kyu, aku…”

“Aku merindukanmu,” kata Kyu-Hyun dengan satu embusan napas. “Aku rindu padamu Nona Park, setiap hari.”

Ni-Yong hanya terdiam sambil menatap Kyu-Hyun. Ia terkejut, sama terkejutnya ketika ia tahu bahwa Kyu-Hyun adalah Tuan Namu-nya. Tuan Namu yang berupa pohon besar tempatnya berlindung ketika terik dan hujan, Tuan Namu pelindung yang selalu tahu isi hatinya. Dia, Cho Kyu-Hyun, si Tuan Namu.

Ni-Young tidak bersuara hingga lima menit setelah itu. Bus berhenti di halte selanjutnya. Ni-Young menatap Kyu-Hyun ketika wajah datarnya berubah sendu. Ini sama seperti saat Kyu-Hyun ingin menjalin pertemanan bertahun-tahun yang lalu. Itu wajah kecewa Kyu-Hyun. Persis seperti hari itu.

Kyu-Hyun melangkah pergi. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Tidak ada penumpang lain di bus itu selain Kyu-Hyun dan Ni-Young. Hal ini membuat Ni-Young semakin gugup, semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Kyu-Hyun. Kyu-Hyun pergi? Meninggalkannya? Lagi?

Tidak.

Kyu-Hyun berhenti melangkah. Ni-Young dapat melihat pungguhnya yang kokoh.

Kyu-Hyun berbalik, mata mereka bertemu, wangi Kyu-Hyun menyebar dimana-mana. Wangi yang sama seperti hari itu. Wangi Tuan Namu yang menenangkan hati Ni-Young.

Kyu-Hyun berdiri di hadapan Ni-Young, ia menunduk dan ia menyentuhkan bibirnya ke bibir Ni-Young selama enam detik. Setelah itu Kyu-Hyun kembali berdiri tegap. Ni-Young menatap mata Kyu-Hyun dan ia sadar bahwa mata itu selalu indah, dulu dan sekarang, tetap indah.

“Aku mencintaimu, Nona Park.” Kyu-Hyun tersenyum, membuat bibirnya yang penuh terlihat menawan. Membuat wajahnya terlihat bak Dewa. Membuat Ni-Young hampir mati di tempat.

Kyu-Hyun berbalik, ia turun dari bus dan Ni-Young menangis. Dia akan pergi lagi?

“Kau menolakku lagi?” seru Kyu-Hyun ketika menyembulkan kepalanya di jendela bus. Ni-Young tersenyum dan turun dari Bus. Ia menggenggam tangan Kyu-Hyun. Rasanya hangat. Tidak sedingin dugaannya. Ni-Young melihat wajah Kyu-Hyun yang berseri. Dan ia bersumpah tidak akan ada wajah lain yang bisa sedamai itu selain milik Cho Kyu-Hyun. Ni-Young bersumpah ingin melihat wajah itu setiap hari. “Pastikan kau tidak menyesal Nona Park.”

Ni-Young mendengus. Sepertinya ia harus lebih sering mengejarkan Kyu-Hyun cara berekspresi dengan baik. “Menurutmu aku akan menyesal karena memilihmu?”

“Awasi saja dirimu sendiri,” katanya dengan wajah meremehkan. “Kalau aku, dapat kupastikan aku tidak akan mudah melepaskan apa yang sulit kudapatkan. Kau mengerti, kan? Setelah kau menyatakan bersedia untuk bersamaku, aku tidak akan melepasmu sekuat apapun usahamu berusaha melepaskan diri dariku. Tolong ingat itu baik-baik.”

 

You who were always beside me,

One thing that can’t be hidden,

Someone who wait for me,

Someone who my breath wants to hold,
Like a dream, like now, like this…

 

-THE END-

8 Comments (+add yours?)

  1. uchie vitria
    Feb 26, 2016 @ 21:53:34

    manis dan sedih bersamaan
    mau membalas ungkapan cinta kyuhyun aja susah banget ni young
    padahal dia juga memiliki perasaan yang sama
    tapi akhirnya mereka bisa bersama juga
    mengharukan tahu

    Reply

  2. Fafairfa
    Feb 26, 2016 @ 22:03:32

    Sukaaa bangeeet

    Karakter kyuhyun dan ni young kuat, suka sama angkuh tp peduli nya kyuhyun
    Sweet lah mereka ber2 ini ^-^

    Reply

  3. rereazhari
    Feb 27, 2016 @ 06:28:43

    Mygod! Duh duh duh romantis amattt ihhh kerennnn!!! 😂😍😍😍

    Reply

  4. vivinmutia
    Feb 27, 2016 @ 19:33:39

    Love will make you crazy can’t think anything but Love will make you happy

    Reply

  5. ifaraneza
    Feb 28, 2016 @ 10:54:18

    udah lama ngga nemu ff yg simple tapi menyentuh gini.
    simple dan ide ceritanya mungkin emang udah banyak dipake di kebanyakan ff, tapi tetep aja pas aku bacanya apa yg pengen disampaikan penulis bisa nyampe ke aku dan yg pastinya cerita ini menyentuh banget.
    siapapun penulisnya, aku salut sama kamu dan terus berkarya ya dengan si dingin Cho ini!😀

    Reply

  6. Mrs. C
    Feb 28, 2016 @ 15:04:33

    omaigat.. ngefly… suka banget sama bahasanya, alurnya cepet tapi entah kenapa rasanya ya pas aja… Suka banget sama Kyuhyun yang /mungkin/ sebenernya kaya tapi justru merakyat gitu disini.. naik buslah makan ramyunlah…
    Jjang lah pokonya!🙂🙂

    Reply

  7. vannyradiant
    Feb 29, 2016 @ 17:36:49

    jjang nih ff-nya! enak dibaca thor…🙂

    Reply

  8. jurypanjaitan
    May 17, 2016 @ 08:19:21

    Simpel, berasa nanggung, tapi kereeeen =’) rasanya tuh ya greget pengen jawab kyuhyun karna ga dijawab ni young, tapi sendirinya bingung mau jawab gimana. Terus berkarya author-nim!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: