The Edge Of The Lost

ksasa

The Edge of the Lost

Author: rizki effendie

Cast: Cho Kyuhyun-Super Junior

Genre: Supernatural, Plains, Runaway

Rating: PG-13

Type: Oneshoot

My Present Musics : Albeniz-Asturias

A/N: Pertamanya sih pingin bikin cerpen recovernya The Edgenya Agatha Christie. Gak tahu deh kenapa jadinya kepikiran abang satu ini. Udah deh, yg penting kekirim aja udah cukup.

Summary : Berbicara itu jauh lebih gampang daripada melakukan.

 

***

Pada akhirnya, Kyuhyun tak peduli. Dia tetaplah Cho Kyuhyun.

***

Dasar gila!

Mobil Porsche hitam berkilat itu terantuk-antuk di jalanan sepi berlubang-lubang dan curam, melaju dari ujung tikungan. Hari sudah berganti sedari tadi, namun matahari masih malu untuk menampakkan sinar terangnya. Tiba-tiba mobil itu berjalan di lubang besar, sehingga menciptakan guncangan sedang di dalam mobil.

God damn!

Di sisi kanan kiri jalanan itu, ada banyak gerombolan semak beri hitam yang diselingi rerumputan kecil-kecil. Aroma tanah lembab yang khas menambah suasana hening dan khidmat di jalanan sepi itu. Sesekali ada juga bunga-bunga daisy pink lembut tersembul di antara sesemakan itu. Seharusnya ini adalah pagi yang indah.

“Argh!”

Kyuhyun menghentakkan kakinya. Onyx tajamnya melotot penuh kesal di saat tak ada reaksi lagi di saat memutar kunci beberapa kali. Kerutan dahinya bertambah di saat mesin hanya mengeluarkan suara-suara sumbang mendecit melawan aspal.

“AYO JALAN MESIN SIALAN! PERSETAN KAU!” Namun tetap saja Porsche itu hanya bisa mendecit minta tolong.

“Damn!” Kyuhyun memukul setir keras-keras sebelum ia membenturkan kepalanya ke benda bundar itu. Pikirannya benar-benar kacau.

Ia ingat hari ini adalah hari Senin. Ada rapat, tumpukan tugas baru yang nanti ikutan mengendap bersama tugas lamanya, rapat lagi, manajer bagian yang sok, diikuti dengan GM yang ikut-ikutan sok, dan segala blablabla lainnya yang memaksanya pulang malam membawa bundelan tugas. Sampai sekarang aroma kertas dengan tinta printer masih mengendap di paru-parunya.

Hari Senin juga hari mencuci, hari inspeksi, hari penghormatan pada bendera Korsel, hari macet disaat semua orang harus bertahan hidup di jalanan, dan ada banyak tetek bengek yang harus dilakukannya kini.

Lelaki itu mengerang, terselip bundelan kekesalan campur kebencian di nada abstraknya.

‘Aku tak peduli lagi!’ Ia memutuskan untuk mencabik proyeksi hari-hari itu. Lalu dia kembali konsentrasi dengan posisi menangkupnya itu.

Cukup lama dia berada di posisi itu, sampai akhirnya seberkas sinar matahari menyentuh pipi setengah tembamnya itu. Lagi-lagi dia mengerang, kali ini lebih menyedihkan. Kyuhyun mendongak; di depannya masih sepi, ada tikungan tajam di sekitar lima ratus meter depan sana. Semak beri masih setia berada di tepi jalan, memanjang sampai titik perspektifnya. Masih ada sedikit kabut putih yang menyaluti pemandangan di luar.

Kyuhyun ingat tempat ini.

Ia merasa begitu tatkala dia keluar dari mobilnya dan langsung diserbu angin timur yang membawa aroma musim panas. Menerpa rambut jibrak kecoklatannya lembut dan perlahan. Ya, dia ingat aroma angin ini.

Angin yang begitu khas sampai otaknya tak lama kemudian menyebutkan dia berada di Incheon. Desanya, kampung halamannya, dan tempat dirinya mengisi masa kecilnya.

Pria itu kemudian menutup pintu mobil lalu menyusuri jalanan, sendiri. Sesekali tangannya menyentuh semak beri yang mulai tak setia menemani jalanan aspal, merasakan embun merembes menuju pori kulit ari jemarinya.

“Berbeda sekali dengan kota,” gumamnya dengan senyum simpul yang baru terukir. Baru? Yah, senyum terakhir adalah saat ia mengecek kalender bahwa kemarin adalah tanggal muda.

Ia menghirup dalam-dalam sampai dadanya terasa penuh. Setelah sampai di tikungan, ia agak menyesal tidak membawa jaket tebalnya. Ia lupa kalau tekanan dataran tinggi pasti tak terlalu sesuai dengan paru-paru kotanya. Tapi sesal itu segera sirna di saat hazelnya menangkap sebuah pemandangan.

Indah, pikirnya sembari menarik nafas keras-keras, menahan cairan pekat hidungnya keluar. Ash, aku tak bisa mengharapkan kemejaku untuk menghangatkan tubuhku. Inginnya dia kembali ke mobil lalu mengambil jas, tapi dia malah menunda keinginan itu.

Kyuhyun melangkahkan kakinya lagi menyusuri tepi kiri jalan lalu dia berhenti lagi. Senyum simpulnya tersungging lagi di wajahnya; ia menemukan bukit itu.

Sebenarnya bukit itu hanya bukit biasa yang seperti kau lihat di majalah-majalah fotografi. Besar, namun tak sebesar gunung. Berumput hijau, ada jalan setapak yang seolah membuat kita berpikir bahwa dunia nyata dan dongeng itu hanya setipis kertas tisu.

Namun, bagi Kyuhyun kecil sampai seusia seperempat abad—sekarang—bukit itu istimewa.

Seolah lupa dengan matahari yang mulai menaik dan masalah hari Seninnya, dia melangkah lagi menyusuri setapak menaik menurun menuju bukit. Tak ada bedanya seperti dulu, pikirnya. Hutan akasia yang menjulang menyerbu langit selalu bisa membuatnya merasa adem. Dan Kyuhyun bersyukur hutan itu masih ada.

Ia kembali teringat di saat masih ingusan—belum tahu apa-apa—ayahnya selalu mengajaknya kesini. Entah itu hanya memotret—ayahnya adalah fotografer, mengumpulkan herbarium, atau bahkan sesekali berkemah—seingatnya rumahnya dulu hanya berjarak satu kilometer dari sini.

Namun, lima tahun itu habis tatkala ayahnya secara tiba-tiba meninggalkannya. Ibunya hanya bisa diam. Kyuhyun ingat lamat terdengar tangis dari mulut wanita itu di saat ayahnya pergi, menyatu dengan tanah. Lalu, tak selang beberapa lama, Kyuhyun pindah ke Seoul. Tinggal bersama keluarga besarnya. Tak terasa, Kyuhyun kecil berubah menjadi pria dewasa workaholic seperti sekarang.

Kyuhyun menatap jalan setapak yang menjulur ke depan, keluar dari hutan. Jalan itu mengarah ke bawah bukit. Ketika dia menoleh ke kiri bukit, ia dapat melihat bukit itu melandai ke arah laut. Jadi, sebenarnya bukit ini juga sebuah tebing. Yah, tak terlalu mengagetkan karena Incheon memang dikepung lautan.

Tapi, landaian itu makin mengarah ke bawah, curam dan seolah tak berujung. Jadi, bisa dibayangkan betapa berbahayanya jika tak beruntung terpeleset ke sana.

Ah, memang segala yang indah pasti juga menyimpan banyak bahaya di sampingnya.

“Hei,”

Kyuhyun menoleh ke belakang, dan dia mendapati sosok anak kecil yang menyengir ke arahnya. Sejenak dia merinding sendiri, karena anak laki-laki itu begitu mirip dengan dirinya.

“Paman, aku bosan. Temani aku, kumohon,”

Kyuhyun menatap anak itu dengan tatapan aneh. Masih tak hilang keterkejutannya bahwa anak itu mirip dengan dirinya, namun tubuhnya seolah bergerak sendiri. Tak lama kemudian mereka berdua duduk bersejajaran di rerumputan.

“Paman kesini sendirian?”

Bodoh, maki Kyuhyun sendiri. Lah, ya aku tadi sama siapa coba barusan? Tolol sekali anak ini tak bisa melihat!

“Eum.. aku sendiri,” Kyuhyun berusaha tersenyum, menjadikan lengkungannya lebih ganjil dari biasanya. Manik matanya meneliti setiap senti anak kecil di sebelahnya yang menatapnya tak terkesan.

Anak ini, betul-betul mirip dirinya. Wajah bulat, rambut coklat, onyx kecoklatan, pipi setengah tembam, dan kulit putih pucat. Kaos Winnie the Poohnya—oh dia ingat!—juga seperti yang ia kenakan saat umur lima tahun.

Ini ilusi atau apa?

Mendadak Kyuhyun pusing sendiri, ia mencengkram dahinya. Dia pernah mendengar mitos kalau kau bertemu seseorang yang sangat mirip dengan dirimu, maka esok hari kau akan mendapati kau berpisah dengan tubuhmu. Atau bahasa lazimnya: mati.

Tapi, bukankah ini anak kecil? Apakah mitos konyol itu menyebut kembaran yang dimaksud itu anak kecil?

Kyuhyun menutup matanya sejenak, menenangkan dirinya sendiri. Ini hanya ilusi, Kyuhyun ah. I-L-U-S-I. Anak kecil ini hanya bayangan semumu, ingat itu!

Baiklah jika begitu, aku akan melayaninya. Dia mungkin hanya setan kecil yang kesepian di hutan. Yah, seperti aku bukan?

Cukup lama pria itu menutup matanya, dan ia kembali terkejut: anak kecil itu berada di sebelahnya dengan cengiran jahilnya. Bahkan Kyuhyun sampai dapat melihat giginya ada yang ompong satu di sebelah kanan. Dan hei! Kyuhyun tak ingat apakah ia dulu juga punya gigi kosong satu begitu.

Kembali Kyuhyun mengakui kalau kopiannya sukses menyalin dirinya.

“Kamu siapa?” tanya Kyuhyun akhirnya setelah berdiam sekian lama. Sejujurnya, tenggorokan Kyuhyun juga terasa kering serta ludahnya tak bisa membantu untuk membasahinya. Tapi, dia tetap menatap anak kecil salinannya itu.

Anak kecil itu tertawa, dan oke. Tawanya ganjil. “Aku? Aku itu paman,”

Oh, great. Tak cukup membuatku takut, sekarang dia membuatku harus berbingung-bingung ria?

“Aku itu paman. Dan aku yakin hari ini paman akan datang, jadi aku juga datang kesini,” lanjutnya dengan nada ceria. Anak kecil itu memeluk lututnya, membuat ekspresi imut dan tatapan oh-so-damn-cute.

“Apa maksudmu?” Kyuhyun berani bersumpah kalau kali ini suaranya serak. “Aku bukan pamanmu.”

Anak kecil itu memutar matanya, “Memang bukan. Kan sudah kubilang kalau aku itu paman. Uuh, bodoh amat sih paman ini,” lanjutnya dengan nada merajuk. Kyuhyun melongo, heran.

“Uhmm.. oke, oke. Lalu, kenapa kamu menungguku?” tanya Kyuhyun lagi. Kali ini dia ikut memeluk lututnya, sehingga kini angin yang menerpanya tak terlalu membuatnya kedinginan. Dia mulai bertanya-tanya apakah anak itu masih bertahan dengan kaos kuningnya dan celana pendek warna khaki yang melekat di tubuh ringkihnya itu.

Cengiran anak itu melebar,”Ya, aku ingat ada sesuatu yang paman tinggal disini. Tepatnya di pinggir bukit ini,”

Giliran mata onyx Kyuhyun yang menyipit, bingung melandanya. “Apa? Memang apa yang kutinggal? Aku tinggal disini hanya lima tahun, apa yang kutinggal?”

Lelaki kecil itu mengerucutkan bibirnya,”Yah, padahal aku sudah menunggu paman lama disini. Kok paman gak inget sih?”

Kyuhyun terdiam, masih dengan mata menyipitnya. Kembali dia memutar otaknya, mencari memori lima belas tahunnya yang lalu. Apa sebenarnya? Ketinggalan? Apa memang? Apakah dia meninggalkan sesuatu yang berharga sampai-sampai anak ini menunggunya? Tapi apa?

Anak itu melengos, tak kunjung menemukan Kyuhyun menemukan jawaban.

”Ah, paman ini gimana sih? Gak asik ah,”

Kyuhyun melihat anak itu mengambil sebuah kerikil lalu melemparnya ke arah laut. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali sampai akhirnya sebuah senyuman ganjil terukir di wajah bulat pucat anak itu.

“Paman masih ingat kenapa paman kesini?”

Kyuhyun terperangah, ia tidak menatap anak itu tapi melebar ke lautan lepas. Ya, dia ingat kenapa ia bisa berada disini. Semalam, setelah ia menenggak Sherry dan Vodka secara sukarela bersama kawannya, secara tak sengaja ia menemukan seorang wanita yang sedang bergumul dengan seorang laki-laki di kamarnya.

Dan kebetulan saja perempuan itu adalah istrinya.

Kejadian itu berlangsung cepat, karena Kyuhyun tak berkata-kata namun tetap menarik lengannya dari pelukan dan tatapan penuh mohon dari Victoria. Lalu, melajukan Porsche hasil kerja keras lemburnya dari flatnya—yang juga hasil kerja kerasnya.

Entah itu pengaruh alkohol yang masih mengendap di perutnya atau hanya insting liar Cho Kyuhyun yang bangkit, dia mengebut mobilnya sembarang arah. Di kepalanya hanya berisi ‘aku benar-benar benci Vicky, dan kini aku punya alasan untuk kabur’.

Insting liarnya betul-betul membuat dirinya jauh dari Vicky, laki-laki bergumul itu, kantor, dan semuanya. Sekarang di saat kadar mabuknya hilang, tangki bensinnya juga ikutan habis.

Lalu? Sebenarnya ‘kan Kyuhyun kesini cuma karena dia mencoba kabur bukan? Lalu apanya yang ditunggu, menunggu, dan hal yang hilang? Argh, sekarang dia benar-benar mabuk lagi.

“Tak usah paman ceritakan pun aku sudah tahu. Kerjaanmu menumpuk setiap hari, impian menjadi fotografermu gagal, perjodohan paksamu dan semuanya aku tahu. ‘Kan aku sudah bilang kalau aku itu paman,”

“Oh.. ya,” Jawaban singkatnya tak mengungkap kejengahan yang kini menguasainya. Dia memang aku. Absurd jika dia punya kosakata begitu platonik jika melihat rupanya. Tapi, seberapa banyak yang ia tahu? Apakah dia mengerti seberapa tersiksanya aku hidup?

“..dan aku tahu paman sangat ingin membunuh manajermu karena gajimu kemarin kembali dikorupsi. Sudah berkali-kali bukan paman ingin mencekik dan mencabik-cabik mulutnya ‘kan?”

Uh, oke. Dia anak kecil yang jujur.

“Tapi..” Suara Kyuhyun sarat tekanan. “..apa yang kutinggalkan? Kau bilang aku meninggalkan sesuatu,”

Anak kecil itu memudarkan senyumnya lalu berdiri sehingga kini ia sejajar dengan pria yang duduk berpeluk lutut itu. Tangan kecilnya memegang dahi Kyuhyun, menyibakkan poni ikal pria itu. Seiring dengan itu, perlahan sebuah kenangan mulai tersibakkan tirainya.

***

Kenangan itu amatlah segar, berani, dan berbahaya. Segar, karena Kyuhyun seperti merasakan kembali ingatan itu kembali terjadi. Replay. Walking My Baby Back Home mendengung dengan sempurna di telinganya.

Berani. Kyuhyun sangat berani untuk turun dari mobil neneknya, ia ingin tahu apa yang dilakukan neneknya setelah secara tiba-tiba seorang wanita menghadang mobil VW kodok yang dikendarai neneknya itu. Ia mengenali wanita itu adalah ibunya. Orang yang menangis di saat Kyuhyun kecil dijemput neneknya dan setengah menjerit di saat ditarik paksa mertuanya itu menuju bukit itu. Ya, bukit kenangan tempat dia berada sekarang.

Lalu, dia juga berani karena dia perlahan berjingkat menyusuri hutan akasia yang menjulang seperti membelah langit itu. Dia tak peduli dengan kabar ada banyak hantu yang bersemayam di sana. Lagipula saat itu matahari sedang suka-sukanya menyengati kulit dan dia sudah beberapa kali bermalam disana. Dan tidak ada apa-apa selain jangkrik serta kawan-kawannya.

Tambah, dia juga sangat berani di saat neneknya secara beruntun memukul, menjambak, dan mendorong perempuan itu ke pinggir tebing.

Lamat terdengar teriakan penuh pilu. Ya, Kyuhyun ingat itu. Ia juga ingat ia langsung berlari menuju mobil kodok, melewati sesemak beri hitam yang belum matang, dan duduk di jok mobil kuning itu.

Oh ya, juga berbahaya. Karena Kyuhyun ingat mata neneknya saat itu berkilat tajam, penuh amarah memuncak. Namun, bulu romanya baru menegak saat wajah tua itu tersenyum lembut padanya. Ia mati rasa.

‘Kau milikku sekarang. Wanita jalang itu sudah pergi,’

.

Kenyataan yang selalu membuat Kyuhyun berusaha menutup matanya kembali terkuak. Perih dan penuh gelegak kebencian. Perlahan ia merasakan pipinya basah.

.

“Ah..” Kyuhyun sedikit terkesiap saat membuka matanya lagi. Kali ini anak itu duduk di sebelahnya. Kali ini senyum anak itu tak ganjil seperti tadi. Menyiratkan kepolosan anak lima tahun yang dia sadari sudah hilang sejak dua puluh tahun lalu. Sebuah kepolosan yang terpaksa menunggu untuk diambilnya lagi…

“Aku menunggumu, dan dua puluh tahun bukan waktu yang singkat,” sahut anak itu dengan nada kalem dan sarat makna. “Hanya saja, aku juga harus tahu kalau kau sedang berusaha menghilangkan kenangan itu. Yah, memalukan memang—mempunyai ibu setengah gila lulusan RSJ yang disangka membunuh ayah dengan satu tegukan arsenikum.

“Tapi nyatanya, kita sama-sama tahu kalau ayah sudah berniat bunuh diri dan tanpa sadar dia sudah menarik ibu bersamanya. Akhirnya, ibu sudah benar-benar gila karena kematian ayah dan kematiannya di jurang ini.”

Kyuhyun terpekur, ia menghembuskan nafasnya panjang sembari menatap laut lepas.

“Kau tahu? Kau bisa lebih kacau lagi jika kau terus bertarung dengan pikiranmu,” ujar lagi anak itu.

Kyuhyun tertawa pendek.

“Maksudmu menjadi gila?” Pria itu tergelak kecil. Ia menyisir rambut jibraknya dengan tangannya. “Hei, kau mau berkata aku bakal jadi gila semacam ibu?”

“Victoria tak pernah memberitahumu kalau dia juga tersiksa denganmu? Kau sudah mengakui kalau hidupmu itu penuh loncatan tak berarti,”

Lagi-lagi Kyuhyun tertawa, kali ini lebih lepas. “Begitukah?”

Anak kecil itu diam, lalu menatap ke laut di bawahnya. Lalu senyuman ganjil kembali terukir di wajah bulatnya yang paralel dengan Kyuhyun.

“Yah, kau bisa saja mengatakan kalau kau akan kembali lagi padanya. Sekalipun hatimu terus memekik meminta tolong untuk kabur lagi,” Anak kecil itu berpaling pada Kyuhyun. “Tapi, aku tak pernah tanggung jawab jika kenangan yang akan kau bawa ini bakalan mencengkram bahkan memangsa kewarasanmu,”

“HEI!” seru Kyuhyun. “Dasar brengsek! Persetan dengan segala kenangan ini! Kau tahu, aku bukan orang gila yang selalu mengejar bayangan yang bahkan terlalu absurd untuk dikata!”

Nafas Kyuhyun tersengal-sengal, seolah separuh nafasnya pergi begitu saja setelah membentak kembaran kecilnya. Tapi, tetap saja anak kecil itu menatap pria itu inosen.

“Tapi, nyatanya kau begitu ‘kan?” lirih anak kecil itu membuat Kyuhyun terkesiap. Stuck in.

“Aku memang tak memikirkan Vicky…”Kyuhyun mengatupkan bibir plumnya. “Oke, aku memang bukan suami yang baik, tapi dia juga busuk karena sudah berselingkuh di belakangku. Jadi, kami sama-sama busuk, dan aku tak mau ambil resiko untuk menjadi ayah dari anak yang sama sekali bukan dari benihku.

“Dan yah, aku memang sudah ada rencana untuk membunuh Yoo sajangnim tempo depan. Aku bahkan sudah memikirkan Vodka dari bar mana yang akan kuminum begitu selesai memanipulasi kematian paman mesum itu,”

Kyuhyun menoleh ke arah anak kecil itu, “Lalu, kamu tahu tidak kalau sebenarnya aku kesini itu sama sekali tak kurencanakan? Padahal kau tahu sendiri aku itu bukan orang tanpa cetak biru untuk setiap yang dilakukannya.

“Dan.. kau juga harus tahu satu hal, nak.” Sebuah lengkungan manis terukir di wajah bulat pucat Kyuhyun. “Cetak biruku mengatakan kalau suatu saat aku juga harus mati,”

“Bicara memang gampang,” ejek anak kecil itu. Tapi nada sinis itu sama sekali tak mengubah air muka Kyuhyun yang masih seperti di saat ia hendak membuka kado Natal. “Mati itu harus punya keberanian yang besar,”

Kyuhyun meregangkan kepalanya, tak menghilangkan senyumannya. “Ya, aku tahu itu. Tapi, aku tak mau dijemput—ya, terlalu lama untuk menanti Tuhan mendesahkan namaNya di telingaku,”

“Ada cara yang mudah,” Anak kecil itu menjentikkan jari kecilnya lalu menunjuk jalan setapak yang memanjang ke arah dataran melandai. “Kau bisa menyusuri setapak itu,”

Kyuhyun memalingkan kepalanya memandangi setapak berumput itu.

“Cara itu jauh lebih mudah daripada mengalungkan tambang atau menelan sianida almond. Kau hanya perlu beberapa menit untuk berlari,” lanjut anak itu tersenyum melihat air muka Kyuhyun yang berubah.

“..dan tentu lebih mudah daripada menunggu Vicky menjerat lehermu dan menyiksamu, atau dihantui arwah penasaran manajermu,”

Kyuhyun tersenyum lembut, tergelak kecil. “Begitu?”

Beberapa saat Kyuhyun berdiri, diam sejenak memandang kosong. Tak lama dia melepas sepatu pantofel yang masih membungkus kakinya hingga kini kakinya sudah telanjang.

Dia masih berdiri, mempertimbangkan entah apa itu. Tapi, setelah senyumannya melebar, dia langsung berlari kecil, sesekali berjingkat menyusuri jalan setapak itu. Kakinya terasa segar di saat menginjak rerumputan yang mulai kehilangan embunnya. Sekali ini dia mulai merasakan dirinya kembali menjadi anak kecil berusia lima tahun.

Bukannya berhenti dan membelok, dia justru makin mempercepat larinya. Dia berlari seperti mengejar anjing yang lepas dari ikatnya, dan rasa senang makin menggelegak. Menyingkirkan segala dogma dan idealisme yang selama ini mengurungnya.

Duniawi sudah hilang dari sorot onyxnya, kini hanya terlihat debur laut yang makin jelas ingin meruntuhkan tebing secara perlahan. Sekali dia memalingkan tubuhnya, tertawa keras dan meneriakkan sesuatu seraya melambai tangan pada anak itu.

Tapi anak itu sudah tiada.

Sampai akhirnya dia berlari mundur dan menutup matanya, ia dapat merasakan ada banyak panggilan horor dan suram yang menggema dari bawah. Tapi bisa apa dia di saat ia sadar tubuhnya sudah melayang dan akan jatuh?

Pada akhirnya, Kyuhyun tak peduli. Dia tetaplah Cho Kyuhyun. Tubuhnya mulai masuk ke dalam sebuah dinding. Dinding itu tinggi, besar, dan putih.

Sesak! Pejal! Kyuhyun mulai ingin menangis. Takut merajalelanya! Kesepian makin mencekam! Mengapitnya, memitingnya, dan mengecupi tubuh ringkihnya dalam hening.

Tapi ia tahu itu percuma. Dinding itu sudah terlalu tinggi dan perlahan menutup tirai pesakitan—yang semuanya begitu memerihkan—batinnya.

Sesaat ia mendengar jeritan pilu itu lagi, sama seperti dua puluh tahun lalu. Sedetik kemudian dia merasakan selipan tawa iblis dari anak kecil di antara jeritan pilu itu.

***

Seorang pria memanjat naik.

Diikuti beberapa orang mengikutinya, mengangkut sesuatu. Sesuatu yang bertutup jas hitam milik pria pertama yang memanjat. Bersaputkan darah dimana-mana dan aura suram. Orang-orang itu diikuti pandangan penasaran sekaligus takzim dari kerumunan orang lainnya.

“Ya, dia jatuh dari tebing itu,” Salah seorang dari kerumunan berkata.

“Mengerikan,” balas yang lain. “Untung saja dia cepat meninggal sebelum sekarat.”

“Hei,” kata orang pertama. “Katanya, ada saksi yang melihat pria ini tertawa keras dan meneriakkan sesuatu,”

Orang kedua mulai menajamkan telinganya untuk mendengar lebih jelas.

“Dia meneriakkan ‘goodbye, my goddamn life!’. Dan dia melambai-lambai seperti orang gila,”

Sejenak terjadi hening di antara mereka berdua. Mereka berdua memang tak tahu siapa dia. Tapi satu hal yang membuat mengerti sekaligus bergidik adalah fakta bahwa orang egois adalah orang yang paling cepat gila. Tak aneh memang, mengingat level posesif dan romantisisme narsis yang tinggi sudah begitu melekat di jiwa orang-orang semacam itu.

Orang egois adalah orang yang paling cepat gila.

 

-THE END-

Credit to Agatha Christie, The Edge.

3 Comments (+add yours?)

  1. SG~
    Mar 29, 2016 @ 21:54:18

    Antara paham dan gak paham siih sama ceritanya..wkwk..
    Tapi sepertinya ini cerita yg baguuus..😁😁

    Reply

  2. Devil Kyu
    May 01, 2016 @ 21:42:50

    Kalo setangkepnya aku mah ceritanya kyuhyun berhalusinasi gitu kan?
    Bahasanya masih banyak yg kurang pas jd kalo pas baca agak gimana gitu
    Kalo saran aku mah, lebih baik gunain bahasa yg baku aja deh dari pd bahasa sehari-hari (kurang enak pas dibaca)

    Reply

  3. Oyis Cho
    Aug 21, 2016 @ 15:16:06

    Ya ampun..
    Dia berhalusinasi, lalu mulai terbawa dalam halusinasinya sendiri.. Dan… Bam! Dia bunuh diri!
    Mengerikan juga yang namanya halusinasi ><

    Semangat Author-Nim ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: