Sunshine In Your Eyes

dongg

Nama : Aryn
Judul Cerita : Sunshine in your eyes
cast : Lee Dong-Hae and Han Sun-Ae
Genre : Romance, sad
Rating : PG-15
Length : One-Shot
Wp : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

***

Your warm hug

Why I more miss it today?

Because I just miss you at that time

***

“Sudah berapa kali kubilang? Aku tidak percaya.”

“Tapi mereka benar-benar ada.”

“Ya sudah, kalau benar-benar ada. Lalu kenapa?”

“Kau bilang kau melihatnya.”

“Lupakan. Semua salahku karena mengatakannya padamu.”

“Jangan seperti itu. Mungkin mereka butuh bantuanmu.”

“Bantuanku?”

“Mereka datang bukan tanpa alasan, kan? Mungkin butuh bantuanmu.”

“Dasar aneh.”

***

Sun-Ae duduk di atas ranjangnya sambil menguap. Ia melirik jendela kaca di salah satu sisi dinding dan menguap lagi ketika sadar hujan sedang turun dengan derasnya. Kalau ia tidak punya janji dengan Collin pagi ini ia mungkin akan menghabiskan setengah harinya untuk beristirahat. Perjalanan Seoul-Paris tidaklah dekat, belum lagi ia harus melanjutkan perjalanannya dua jam setelah makan siang ke Itterswiller.

Sun-Ae memutuskan untuk pergi dari Seoul bukan tanpa alasan. Atau mungkin iya juga. Sun-Ae tidak punya alasan. Tapi dia ingin pergi. Yah, pergi saja. Meninggalkan Seoul dan segala tetek-bengeknya. Sun-Ae tidak tahu, ia selalu dihantui perasaan tidak nyaman ketika berjalan sendirian di trotoar saat kembali dari kampusnya. Ia juga seakan sering diawasi ketika duduk sendiri di halte bus. Atau ketika ingin menenangkan dirinya, ia benar-benar tidak bisa tenang. Kepalanya terus memikirkan apa yang sulit ia pikirkan. Ia menjadi tidak bisa berpikir dengan baik, ada yang terlupa, pasti. Tapi Sun-Ae tidak tahu apa itu. Dan dia penasaran. Kalau Sun-Ae penasaran, itu tanda bahaya. Haha. Bahaya? Benar. Seseorang bilang begitu. Iyakah? Iya. Seseorang pernah bilang begitu.

“Stop it,” Sun-Ae bergumam ketika kepalanya tenggelam dalam selimut tebal kesayangannya. Ia berguling-guling di atas ranjang, di luar masih remang dan suara hujan semakin terdengar. Sun-Ae tidak tahan dingin, dan ia benci terbangun saat gelap. Menakutkan. Rasanya aneh, bangun sendirian di pagi buta rasanya menyeramkan, tidak ada orang, dan Sun-Ae takut. “Wah…” Sun-Ae ternganga ketika kembali melirik jendela kaca, matahari musim gugur pertamanya di Itterswiller mulai muncul dari gumpalan awan-awan pembawa hujan tadi subuh.

Sun-Ae bangkit dari ranjangnya dan menginjak lantai. Dan saat itu juga rasanya ia ingin meledak. Sialan. Kamar tidurnya seperti kandang babi. Dua puluh lima tahun hidup di dunia, Sun-Ae bersumpah baru pertama kali ini melihat ruangan sejorok ini. Pakaiannya berceceran, sepatu, syal, topi, tas-tas… Sun-Ae mendesah dan berjinjit melangkahi barang-barangnya. Tidak ada waktu untuk membersihkan wajah. Tempat ini harus rapi dalam dua jam.

Dua puluh menit kemudian Sun-Ae sudah selesai dengan baju-bajunya. Ia melihat sekeliling, flat kecil miliknya lumayan juga. Semua berkat Collin. Teman kampusnya itu membantunya keluar dari Seoul dan bekerja di tempat ini. Kalau Sun-Ae ingin, ia bisa saja bekerja di Seoul dengan kedudukan yang pantas, yang lebih baik dari ini. Tapi keinginannya untuk meninggalkan Seoul untuk sementara ternyata masih lebih besar dari obsesinya seperti saat pertama kali masuk kuliah dulu. Tapi hey, bukan berarti ia melupakan mimpinya, hanya saja mimpinya kini sedang dipercantik, diperlembut agar sesuai dengannya yang adalah seorang perempuan. Kata ayahnya, perempuan harusnya tidak bekerja seperti itu. Berbahaya. Tapi kan menangkap penjahat itu seru. Oke, mungkin Sun-Ae tidak perlu memikirkannya lagi sekarang. Ia hanya tinggal mengikuti instruksi Collin dan ia tetap dapat mewujudkan mimpinya, pelan-pelan, sembari menenangkan diri.

“Orang gila.”

Sun-Ae mendengus sembari melipat pakaian dalam terakhirnya. Ia melangkah mendekat ke jendela dan samar-samar memerhatikan orang yang disebutnya gila barusan. Orang seperti apa yang duduk di kursi taman di pagi sedingin ini? Tanpa mantel? Tanpa alas kaki? Dan tersenyum-senyum bocah pula! Sun-Ae bergidik, di desa secantik ini masih ada juga yang namanya orang gila. Sayang sekali. Padahal ia pergi untuk menenangkan diri. Ah… atau Collin sengaja mengusulkan tempat ini padanya? Tempat khusus orang gila? Di bawah pengampuan? Tidak waras? Sialan si Collin itu.

Sun-Ae meninggalkan orang gila yang dilihatnya dari jendela itu dan berlari menuju dapur kecil di dekat balkon. Dia lapar. Dan tidak ada makanan. Tahu-tahu Sun-Ae sudah keluar dan berjalan mengitari flatnya. Sepi sekali. Bagus. Sun-Ae memang mencari ketenangan. Sun-Ae berhenti di jalanan hitam yang masih basah karena hujan tadi subuh, bahkan sekarang masih rintik-rintik. Sun-Ae melihat jendela kamarnya, lalu menoleh ke arah samping, ini tempat orang gila tadi duduk. Sun-Ae berhenti sebentar. Ia duduk di sana dan mengasihani diri sendiri, ia kelaparan.

“Hai,”

Sun-Ae tidak terkejut mendapati orang gila yang ia lihat tadi. Biarkan saja. Hitung-hitung menambah teman. Ia tidak bicara dengan orang lain hampir dua hari terakhir. Ia takut menjadi gila juga.

“Apa yang kaulakukan?”

Alis Sun-Ae terangkat naik, bahasa Inggris yang buruk.

“Kau orang Asia, bicara seperti biasa saja.”

“Aku datang dari Seoul, kau?”

“Aku juga,” sahut Sun-Ae malas. “Pakai bahasa kita saja.”

“Bahasa kita?”

“Ya.”

“Oke.”

Sun-Ae tidak berkata apa-apa lagi. Ia memandang berkeliling, menyesal karena hanya mendekam di kamar dua hari ini. Menyesal karena melewati keindahan musim gugur di desa itu. Menyesal karena ia tidak menemukan makanan dimana-mana.

“Aku lapar.”

Laki-laki yang entah sejak kapan telah duduk nyaman di samping Sun-Ae tersenyum. “Aku tahu,” katanya lembut. “Makan ini.”

Sun-Ae menoleh dan menemukan roti isi yang disodorkan laki-laki itu. Wangi tunanya sedap sekali, masih hangat, sayurannya juga terlihat segar. Ah, ini efek kelaparan saja. Iya, lapar, makanya roti isi itu langsung habis kurang dari dua menit.

“Kau tidak punya lagi?”

Laki-laki bermata coklat itu menggeleng. “Maaf mengecewakanmu.”

Sun-Ae mendesah dan ia membersihkan bibirnya dari remah-remah roti. Ia masih lapar. “Siapa namamu?” Sun-Ae bertanya, setidaknya ia harus mengingat kebaikan orang ini.

“Dong-Hae, aku Lee Dong-Hae.” Suaranya lembut sekali, tatapan matanya juga. Sun-Ae menahan napas tanpa alasan. “Atau kau bisa memanggilku Aiden Lee. Terserah padamu, tidak apa-apa. Keduanya namaku.”

Sun-Ae mengangguk, “Dong-Hae saja.”katanya, “Aiden Lee terlalu bagus untukmu.”

Laki-laki bernama Dong-Hae itu tertawa. Dan Sun-Ae sadar laki-laki itu bukanlah orang gila yang senang tertawa konyol sembarangan. Itu sama sekali bukan tawa konyol menyebalkan yang Sun-Ae kesalkan pagi tadi. Itu tawa yang menyenangkan. “Kau yakin hanya karena itu?”

“Apanya?”

“Panggil aku Aiden saja.”

“Dong-Hae saja. Lebih cocok denganmu.”

“Aiden.”

“Hey, kenapa kau jadi memaksaku begitu? Kau sendiri yang bilang terserah padaku ingin memanggilmu seperti apa.”

Laki-laki itu tersenyum, tidak berniat berdebat lebih panjang. “Baiklah. Panggil aku Dong-Hae kalau begitu.”

Tanpa sadar, Sun-Ae tersenyum tipis. Hanya sedetik, tapi mampu membungkam Dong-Hae.

“Dong-Hae itu… nama yang bagus,” kata Sun-Ae ketika ia menyapukan pandangan ke wajah Dong-Hae. “Lee Dong-Hae, aku suka namamu.”

***

“Kalau butuh apa-apa tinggal menghubungiku.”

Sun-Ae mengangkat wajah dan menatap Collin yang duduk tepat di hadapannya. Mereka berdua sedang makan siang di flat Sun-Ae sekarang. “Kau membuatku terdengar menyedihkan.”

Collin tersenyum, laki-laki turunan Kanada-Jepang yang terdampar di Seoul itu terlambat datang karena beberapa urusan, juga mengurus administrasi Sun-Ae agar ia bisa mulai bekerja minggu depan. Tidak sulit bagi Collin karena pemilik badan hukum tempat mereka bekerja nantinya adalah pamannya, jadi bukan masalah. Collin memiliki orang tua lengkap yang saat ini tinggal di Jepang. Sebelumnya Collin tidak tahu alasan datang ke Seoul, ia hanya ingin menghadiri salah satu festival musik grup yang ia sukai. Tapi tahu-tahu ia menelpon orang tuanya dan mengatakan ingin menetap sementara di Seoul untuk berkuliah. Aneh, padahal sewaktu di Jepang ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk kuliah.

“Atau perlu aku pindah ke flat di seberang sana? Untuk mengawasimu?”

Kedua mata Sun-Ae menyipit dan ia menggeleng dengan tegas. “Kau itu sahabatku atau ayahku?”

Collin terkekeh, lalu nada suaranya berubah serius. “Mau ke rumah sakit?” tanyanya pelan.

“Aku tidak sakit.”

Collin mengangguk ringan dan menyodorkan air putih ke hadapan Sun-Ae. “Kau terlihat pucat.”

“Aku hanya lapar.”

“Setelah dua mangkuk bubur daging masih lapar?”

“Maksudku… tadi pagi.” Sun-Ae memijat pelipisnya. “Aku lapar sekali tadi pagi dan di sekitar sini tidak ada penjual makanan.”

“Jadi sejak pagi tadi kau belum makan? Astaga, Han Sun-Ae. Kenapa kau tidak langsung menelponku saat kau kelaparan?”

“Nah, lihat. Ayahku mengomel lagi.” Sun-Ae tersenyum kecil. “Aku sebenarnya hanya butuh pengganjal perut. Aku lapar karena membereskan kamar. Tapi tidak apa-apa, aku sudah makan roti isi.”

Collin memerhatikan ruangan di sekitarnya. Sudah bersih dan rapi. Terlalu bersih malah. “Kau membereskan semuanya sendiri?”

Sun-Ae menggeleng. “Bersama kenalan.”

Collin langsung melotot, “Kenalan? Kau punya kenalan?”

“Biasa saja,” Sun-Ae mengibaskan tangannya di udara. “Kau pikir aku batu yang tidak bisa bicara? Aku bertemu seseorang tadi pagi dan dia memberiku roti isi. Dia juga membantu membereskan flatku. Dia lincah sekali. Bicaranya sedikit. Tapi sering tersenyum. Dan dia bisa memasak. Dia bilang akan memasak makanan untukku kalau datang lagi.”

“Tunggu dulu,” kata Collin cepat. Lalu ia terheran-heran. “Kau membawa orang asing ke flatmu?” Sun-Ae mengangguk. “Kalian memberekan flat ini? Berdua?” Sun-Ae mengangguk. “Laki-laki?”

“Laki-laki.”

Collin menggeleng. Tatapannya seakan ingin menelan Sun-Ae. Seakan hal itu hal yang paling tidak wajar yang pernah ia dengar. “Kau gila?”

“Iya.” Sun-Ae tertawa dan menggigit apel. Lalu ia sadar Collin masih melototinya. “Aku juga tidak tahu,” katanya pelan. “Sungguh, aku tidak tahu mengapa aku melakukannya. Kau tahu aku kan, tidak sembarang orang kuijinkan memasuki ruang pribadiku. Tapi tadi dia membantuku memasang selimut, memasang tirai dan karpet di bawah tempat tidur. Dia mengatur kursi dan kami membersihkan kamar mandi.” Sun-Ae mengingat apa saja yang Dong-Hae lakukan bersamanya tadi. “Dia juga memberiku bunga matahari. Aneh, padahal ini musim gugur, dimana dia mendapatkannya, ya?”

Collin bengong mendengar cerita Sun-Ae. Benarkah ini temannya? Han Sun-Ae? “Ayo ke rumah sakit. Aku khawatir.”

Sun-Ae tertawa. “Tidak usah berlebihan seperti itu. Harusnya kau senang aku punya teman baru. Sepertinya dia baik. Auranya hangat. Aku suka.”

“Kau menyukainya?”

Sun-Ae memberengut. “Bukan dia, tapi aura yang keluar saat dia tertawa. Hangat sekali.”

Collin tidak mengerti jalan pikiran Sun-Ae. Gadis itu menilai orang bukan dari caranya bicara, penampilan atau kapasitas otaknya. Aura? Hah, memangnya ada hal semacam itu? Bagaimana dia merasakannya? Dari berjuta-juta teman wanita Collin, gadis bermata hitam itulah yang teraneh, namun juga terunik. Tidak tahu, Han Sun-Ae itu berbeda.

“Nah, dimana tadi aku menyimpan bunganya? Seingatku ada di sini.” Sun-Ae sudah berdiri di dekat dapur dan mencari setangkai bunga matahari dari Dong-Hae. “Kalau dia datang lagi, aku akan mengenalkannya padamu.”

Collin memainkan ponselnya, mencari tempat menjual bunga matahari di musim gugur, tapi tidak ada sama sekali. “Mungkin bukan bunga matahari. Mana ada bunga matahari yang tumbuh di musim gugur?”

“Makanya itu, tapi tadi dia memberiku bunga itu. Sungguh.”

“Mungkin kau bermimpi,” kata Collin sambil melangkah dan duduk di sofa ruang TV. Ia menyalakan televisi sembari bersenandung. “Atau aku yang bermimpi? Sejak kapan Han Sun-Ae mengijinkan orang asing masuk ke ruang pribadinya?” Sun-Ae datang dengan wajah tertekuk karena tidak menemukan bunganya. Ia berdiri dan melipat tangan di depan dada. “Sejak kapan Han Sun-Ae cepat dekat dengan orang asing?”

“Diam kau,” Sun-Ae memberengut kesal sembari kembali mencari bunganya. Diam-diam ia berpikir. Hanya bunga biasa, untuk apa dicari? Toh tinggal dibeli lagi. Kemudian ia melintasi dapur, mengingat bagaimana Dong-Hae membantunya mencuci perabotan. Mengapa ia membiarkan Dong-Hae masuk ke flatnya? Ke dapur? Ke ruang tengah? Ke kamar tidurnya? Mengapa sama sekali tidak aneh ketika Dong-Hae memberinya makanan di awal pertemuan mereka? Mengapa senyum Dong-Hae bisa begitu indah? Mengapa kehadiran laki-laki itu tidaklah asing… “Collin,”

“Hmm?”

“Bisa kau antar aku?”

“Tentu. Ke mana?”

“Rumah sakit.”

“Hey, ada apa?”

“Kepalaku sakit.”

***

“Kalau begitu, kau harus banyak makan ikan.”

Sun-Ae duduk di kursi tinggi di dapur sembari memerhatikan Dong-Hae yang mondar mandir dengan wajan dan spatula di tangannya. Laki-laki itu terlihat manis dengan apron bunga-bunga milik Sun-Ae.

“Wangi sekali, sepertinya enak.” Sun-Ae memanjangkan lehernya untuk melihat apa yang dimasak Dong-Hae untuknya, tapi laki-laki itu menghalanginya. “Kau itu juru masak ya? Wanginya saja sudah membuatku lapar.”

“Kau memang selalu kelaparan, kan?”

Sun-Ae memberengut, “Ibuku juga sering bilang begitu.”

“Ibumu?” Dong-Hae masih bicara sembari membelakangi Sun-Ae. “Ibumu sehat?”

Sun-Ae mengangguk. “Syukurlah ibuku sehat,” Sun-Ae menatap Dong-Hae curiga, memerhatikan punggungnya yang tegap. Punggungnya lebar, dan kokoh. Namun juga terlihat nyaman. Pasti tenang jika bersandar di sana. “Kau? Bagaimana keluargamu?”

Dong-Hae tidak langsung menjawab. Ia melangkah untuk mencuci sayuran lalu kembali merebus air. “Kedua orang tuaku tinggal di Seoul. Ayahku seniman, ibuku membuka restoran di kawasan Gangnam. Aku anak tunggal. Kekasihku satu.”

Sun-Ae tersenyum kecil. Mengasihani diri. Ia sempat sesak saat tahu Dong-Hae telah mempunyai kekasih. Hah, dia tidak cemburu! Hanya saja… Dong-Hae yang manis, kenapa kau sudah punya kekasih?! Menyebalkan.

“Lalu apa yang kaulakukan di sini?”

“Mencari kekasihku.”

Diam saja, Lee Dong-Hae. Aku tidak mau dengar tentang kekasihmu! Semoga tidak pernah ketemu.

“Tepat dua hari sebelum pertunangan kami, dia pergi meninggalkanku.”

Sun-Ae tersenyum kecil. “Mungkin saja dia sudah tidak menyukaimu.”

“Dia sangat mencintaiku.”

“Cih, percaya diri sekali kau.”

Dong-Hae tertawa, kemudian duduk di hadapan Sun-Ae dan menyodorkan pasta ikan salmon pada gadis itu. “Dia yang memintaku untuk selalu percaya.”

Sun-Ae mendengus dan menyuapkan pasta ke dalam mulutnya dengan tidak sabaran. “Percaya tentang apa?”

Dong-Hae tersenyum dan Sun-Ae menyesal mengapa ia baru bertemu Dong-Hae sekarang. “Dia memintaku untuk percaya, bahwa dimanapun aku berada, dia akan selalu mencintaiku sepenuh hatinya.”

***

The love that heart asked

Even after trying hard, the tears still flow

Even I want to meet you but now I can’t

Because I just miss you today too

***

“Kau melihat Collin? Lalu kenapa tidak bergabung bersama kami?”

Dong-Hae dan Sun-Ae sudah keluar dari flat Sun-Ae setelah makan siang. Dong-Hae kembali memberikan Sun-Ae bunga matahari. Sun-Ae sudah menyimpannya di vas kaca dekat ruang makan. Ia tidak terlalu sedih lagi karena bunga yang pertama kali Dong-Hae berikan tidak bisa ditemukan. Sekarang sudah ada penggantinya.

“Tidak apa-apa. Kalian terlihat terburu-buru, jadi aku duduk di kursi ini.”

Sun-Ae mencomot sosis panggangnya dan mengangguk. Kemudian mereka hanya berdiam diri untuk beberapa saat.

“Kau ke mana?”

“Hmm?”

“Saat bersama temanmu bernama Collin itu…”

“Oh… kami ke rumah sakit.”

“Rumah sakit?”

Sun-Ae meneguk air mineral dan membersihkan sekita bibirnya. “Iya. Waktu itu aku sakit kepala.”

Dong-Hae menoleh dan bertanya, “Kau sakit?”

Sun-Ae tersenyum. “Aku tidak sakit. Hanya sesekali kepalaku pusing kalau aku stress atau banyak pikiran.”

“Turunan?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Efek kecelakaan.”

Dong-Hae memejamkan matanya, lalu ia mendesah. “Masih sakit?” tanyanya dengan suara yang amat sangat pelan, nyaris tak terdengar.

“Sesekali,” kata Sun-Ae. “Tidak setiap hari.”

Dong-Hae menatap Sun-Ae, banyak sekali yang ingin ia katakan pada gadis itu. “Tolong jaga dirimu baik-baik, Sun-Ae-ya.”

Sun-Ae menoleh dan mata mereka bertemu. “Kau bilang apa tadi?”

Dong-Hae menghela napas. “Hampir sore, sebaiknya kau pulang.”

Sun-Ae sebenarnya tidak keberatan menemani Dong-Hae. Laki-laki itu menjadi teman berbincang-bincang yang lumayan. Dia tidak banyak bicara tapi Sun-Ae merasa nyaman berada di sekitarnya. Sun-Ae sudah bilang sejak awal bahwa laki-laki bernama Dong-Hae ini memiliki aura yang hangat.

“Baiklah, aku pulang dulu.”

Tepat ketika Sun-Ae berdiri dari kursi taman, ia melihat Collin melintas di depan flatnya. Sun-Ae masih berdiam diri di tempatnya ketika Collin menuju ke arahnya. Sun-Ae melangkah dan menempelkan pipi kiri dan kanannya ke pipi Collin. Lalu sambil tersenyum senang ia berkata, “Kebetulan kau datang,” Sun-Ae menepuk lengan Collin. “Ada yang ingin kukenalkan padamu.”

Sun-Ae berbalik dan menemukan bangku taman yang kosong.

“Apa yang kaubicarakan?” tanya Collin bingung. “Kenapa kau duduk di luar malam-malam begini?”

Alis Sun-Ae berkerut samar, “Ini masih sore.”

“Sore jidatmu, Han Sun-Ae. Ini pukul sembilan malam. Dan sekarang gerimis. Ayo masuk. Aku bawa sup ayam, selagi masih hangat. Ayo!”

Sun-Ae menurut saja ketika tangannya digenggam Collin. Ia menyeret kakinya agar bisa berlama-lama dan menyempatkan diri menoleh ke bangku taman yang kosong. Tadi di sana ada Dong-Hae… tadi dia berbincang-bincang dengan Dong-Hae… berdua. Ketika masih sore.

“Han Sun-Ae,” panggil Collin ketika membuka pintu flat Sun-Ae. “Kau melamun?”

Sun-Ae menggeleng bingung. “Tidak, tidak, bukan. Aku hanya bingung…”

Collin terkekeh, “Iya, aku juga bingung.”

Sun-Ae menatap Collin cepat, “Kau juga bingung?”

“Iya, aku bingung kenapa kau tidak mendengarku berteriak-teriak memanggilmu sejak sepuluh menit tadi dan membiarkanku berdiri bodoh di depan flatmu. Kau hanya duduk diam di kursi itu dan tidak merespon apapun.” Collin melihat Sun-Ae yang mematung, gadis itu terheran-heran menatapnya. “Hey, jangan melihatku seperti itu. Harusnya akulah orang yang paling bingung saat ini.” Collin melangkah menuju ke dapur untuk mengambil mangkuk, ia berhenti dan menatap Sun-Ae yang masih berdiri mematung di depan pintu. “Oh ya, omong-omong, apa yang kau lakukan di taman itu? Dan kenapa pula kau bicara sendiri seolah ada yang menemanimu?”

***

If I hit by this rain

Your memories grow inside my heart

I miss us at that time so much today too

***

Sun-Ae terbangun karena suara petir. Di luar belum turun hujan tapi suara petir yang menembus jendela flatnya membuatnya ngeri. Sun-Ae menatap jendela kamarnya, seakan ada sesuatu di sana. Kamarnya gelap gulita dan kilatan petir di langit membuat suasananya semakin menakutkan saja.

Sun-Ae bangkit dari ranjangnya setelah kurang lebih enam menit memberanikan diri. Sun-Ae menuju dapur untuk mendapatkan air mineral dingin. Kemudian ia duduk sendiri di kursi tinggi di sana. Lalu memikirkan apa yang ia lakukan seharian ini. Dan memikirkan Dong-Hae. Juga Collin. Sun-Ae beralih menatap vas kaca di dekat sana, bunga mataharinya hilang. Sun-Ae terlonjak kaget dan mengitari dapur, kemudian mengitar seluruh ruangan di flatnya, bunga matahari pemberian Dong-Hae tidak ada dimana-mana. Atau jangan-jangan Collin mengambilnya?

Sun-Ae bergegas menuju kamarnya untuk menghubungi Collin. Dasar laki-laki itu. Seenaknya saja ia tidak percaya bahwa Sun-Ae berbincang-bincang dengan Dong-Hae, seenaknya saja dia bilang Sun-Ae bicara seorang diri seperti orang tidak waras. Seenaknya saja ia mencuri bunga kesayangan Sun-Ae. Sun-Ae menempelkan ponsel ke telinga dan berdiri di dekat jendela. Ketika itulah ia lupa bahwa niat awalnya adalah untuk memarahi Collin. Ia lupa segalanya karena melihat Dong-Hae yang duduk sendirian di bangku taman. Dan laki-laki itu kedinginan.

“Kau gila, ya?”

Sun-Ae tidak mengerti mengapa ia berteriak marah pada Dong-Hae ketika sampai di hadapan laki-laki itu. Sun-Ae hanya mengenakan piyama tidurnya dengan kaos kaki ketika ia secara tidak sadar berlari untuk menemui Dong-Hae.

“Hai, kenapa kau belum tidur?”

“Bodoh. Kenapa kau diam di sini?”

“Aku baru saja selesai bekerja.”

Kening Sun-Ae berkerut samar, ia lalu menggeleng. “Bukan berarti kau harus duduk di sini, kan? Ini pukul satu dini hari dan sebentar lagi turun hujan. Sana pulang!”

“Kau sendiri? Kenapa belum tidur?”

Sun-Ae tidak berniat melanjutkan obrolan tengah malamnya di cuaca berbahaya seperti malam ini, jadi ia cepat-cepat menjelaskan, “Aku takut petir, aku terbangun karena suara petir. Lalu melihatmu duduk diam di sini. Pokoknya jangan duduk di sini lagi. Cepat pulang sana!”

“Tempat ini nyaman.”

“Tidak ada nyaman-nyamannya di cuaca berbahaya seperti ini, Lee Dong-Hae.”

Dong-Hae berdiri dan melangkah mendekat pada Sun-Ae, ia lalu menyodorkan setangkai bunga matahari pada gadis itu. “Untukmu.”

Lagi?

Sun-Ae tidak inginmenerimanya, tapi tangannya terangkat naik untuk menggenggam bunga itu.

“Kau tahu?” tanya Sun-Ae pelan saat ia menatap wajah Dong-Hae yang pucat. “Bungamu hilang.” Katanya. “Bunga matahari yang pertama kali kau berikan padaku, juga yang siang tadi, hilang. Aku tidak tahu ke mana perginya.”

Dong-Hae hanya tersenyum dan itu menyesakkan Sun-Ae. “Aku tahu.”

Sun-Ae semakin tidak mengerti, lalu akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada laki-laki itu. “Kau punya waktu? Aku ingin bicara.”

“Sudah sangat larut,” kata Dong-Hae masih dengan segaris senyum di wajahnya yang semakin menyedihkan. Sun-Ae sempat berpikir apakah Dong-Hae sedang sakit karena wajahnya yang terlihat berbeda. “Aku hanya ingin bilang selamat malam.”

Sun-Ae bernapas pelan-pelan, di luar dingin sekali dan ia mulai tidak tahan. “Baiklah,” katanya akhirnya. Sun-Ae tersenyum pada Dong-Hae. “Selamat malam.”

Selamat malam, Sun-Ae-ya. Tidurlah dengan nyenyak.

Sun-Ae melihat Dong-Hae tersenyum di hadapannya. Senyum itu tidak lebar, tidak berlebihan, tapi menenangkan. Senyum yang… senyum yang Sun-Ae rindukan.

“Dong-Hae-ya…” bisik Sun-Ae tanpa sadar. “Kenapa kau memberiku bunga matahari?”

Lee Dong-Hae itu kembali tersenyum, dan matanya bersinar-sinar tenang ketika menyapukan pandangan ke permukaan wajah Sun-Ae. “Karena Sun-Ae-ku seperti bunga matahari, karena Sun-Ae-ku terasa hangat, dan dia bersinar.”

***

“Kau hanya tinggal berteriak dari jendela kamarmu dan aku sudah pasti akan marah-marah. Tidak perlu menelpon begini.”

            “Aku hanya rindu kau, kenapa belum tidur?”

            “Tugasku harus selesai malam ini, Dong-Hae-ya. Bisakah kau bernyanyi untukku? Membantu agar aku tidak mengantuk mungkin?”

            “Tentu, kau ingin dengar lagu apa?”

            “Hmm, lagu apa, ya? Michael Jackson, Man in the mirror, saja.”

            “Sun-Ae-ya… ini musim dingin dan kau memintaku menyanyikan lagu itu?”

            “Kenapa? Lagu itu bagus dan kau sering menyanyikannya di kamar mandi. Ayo cepat! Biar aku semangat!”

            “Baiklah, aku bernyanyi. Tapi setelah aku bernyanyi, jangan kau tutup teleponnya.”

            “Kenapa jangan? Aku harus mengerjakan tugasku dan tidak mungkin aku bicara denganmu sepanjang malam, kan?”

            “Dasar kau, kekasih yang tidak romantis.”

            “Apa katamu?”

            “Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam.”

            “Ya sudah, ucapkan saja sekarang.”

            “Tapi kau belum pergi tidur setelah ini.”

            “Iya, memang belum.”

            “Aku akan menunggu sampai kau benar-benar akan pergi tidur.”

            “Kau kambuh lagi, ya? Ya sudah terserah padamu.”

            “Aku akan mengucapkan selamat malam padamu mulai malam ini dan seterusnya, sampai aku berumur seratus tahun, aku akan tetap mengucapkannya, sampai aku mati pun, aku akan mengucapkannya.”

            “Jangan bercanda, kalau kau mati, kau yang tidur, bukan aku, haha!”

            “Kalau aku mati, aku akan terus mengawasimu sampai waktuku benar-benar habis, mengerti? Jadi jangan coba-coba main gila kau!”

            “Iya, iya. Omong-omong, kapan aku bisa mendengarmu bernyanyi?”

            “Haha. Iya, aku bernyanyi sekarang. Dasar tidak sabaran.”

            “Aku hanya tidak suka kau bicara yang aneh-aneh.”

            “Nah, aku baru saja akan bernyanyi tapi kau menyelanya. Lagipula aku tidak bicara yang aneh-aneh.”

            “Kalau sampai mati nanti kau tetap mengucapkan selamat malam untukku, kupikir lebih baik tidak ada ucapan selamat malam itu.”

            “Kenapa begitu?”

            “Tidakkah kaupikir itu terlalu menyedihkan? Lagipula, kalau kau pergi, aku akan ikut bersamamu. Dengarkan aku baik-baik, kau harus percaya satu hal, Lee Dong-Hae. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, hari ini dan seterusnya, di mana pun kau berada. Tidak perlu mengkhawatirkan yang lain karena aku akan terus mencintaimu. Berjanjilah bahwa kau akan selalu percaya.”

            “Sun-Ae-ya,”

            “Hmm?”

            “Turunlah, buka pintu. Aku di bawah.”

            “Apa yang kau lakukan?”

            “Aku ingin tidur di kamarmu. Menemanimu mengerjakan tugas.”

            “Kau ini benar-benar… Hey, Lee Dong-Hae, kapan kau akan berhenti menjadi sangat manis?”

***

I love you I love you I love you

When the memories one by one stop because of tears

I feel like hit by my jumping heart

Because I just miss you today too…

 

-THE END-

2 Comments (+add yours?)

  1. ff71ocean
    Mar 17, 2016 @ 00:03:53

    Selalu suka sama HaeSun couple !! Aku penggemar ff mu eon .. menurutku semua ff mu enak hehehe . Tapi rasanya aku gk nemuin ff ini d blog mu .. apa aku yg gk liat kali ya /? . Lanjut buat HaeSun terus ya aku penggemar mereka hehehe ^^

    Reply

  2. BunnyEvil JoyElf
    Mar 20, 2016 @ 19:08:11

    aku gak ngerti nih. apa donghae mati? terus apa sun-ae hilang ingatan?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: