The Missing National Treasure Of ROK

Title        : The Missing National Treasure of ROK

Author : Iqlima Ramiza Fauzi

Cast        :

  1. Raina NyCo (OC)
  2. Cho Kyuhyun as Marcus Cho
  3. Anatasya Navendra (OC)
  4. Choi Siwon as Detektif Choi
  5. Shin Donghae as Big D
  6. Han Soohyun (OC)
  7. Kim Yesung as Kim Easter
  8. Lee Donghae as Aiden Lee

Genre    : Western-life, FBI-POLICE-SECRET AGEN

Rating   : pg-13

***

Maryland Port. 03.47 AM. 12 Mei 2012.

Seorang pemuda berjalan di sepanjang pelabuhan Maryland. Kakanya terseok-seok dan berlumuran darah. Ia berjalan ke arah pos penjaga terdekat untuk minta tolong. Namun malangnya beberapa meter dari pos penjaga, ia terbunuh oleh timah panas.

Suara tembakan terdengar sampai pos penjaga. Dua orang penjaga menghampiri ke asal suara. Dan mereka menemukan pemuda tadi yang sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka berdiri dan mengamati sekitar dalam posisi berjaga-jaga. Namun salah satu penjaga menembak penjaga lainnya. Penjaga itu menyeringai dan melepaskan pakaiannya.

“Kau hebat Inspector Choi. Buang mayat itu ke laut dan siarkan sebuah pembunuhan. Kau mengerti?” Inspector Choi menerima sebuah pesan di handphonenya. Ia paham dengan tugas selanjutnya dan ia pun melakukannya.

Sebuah pesan pun datang lagi dan Inspector Choi terkekeh membaca isinya. ‘Lakukan hal sama pada dua orang yang menjadi musuh besarmu itu. Aku yakan mereka akan mengungkap kasus ini dan menyeretmu ke meja hijau.’ Inspector Choi menyeringai “Tak perlu di suruh pun, aku akan melakukannya dengan sukarela” ucapnya.

“Namun sebelum membunuh kedua orang itu, aku harus membunuh orang yang mengintipku dari belakang.” Ucap Inspector Choi sambil berteriak. Seorang pemuda yang bersembunyi diantara barang-barang angkut pelabuhan pun segera berlari menyadari nyawanya dalam keadaan bahaya.

Inspector Choi pun berlari mengerjarnya. Mereka saling berkejar-kejaran satu sama lain. Sampai akhirnya pemuda itu naik ke sebuah motor dan pergi meninggalkan Inspector Choi yang berulang kali melepaskan tembakan.

“Sial! Plat motornya di tutupi.” Teriak Inspector Choi berang. “Aku akan membunuhmu!”

-ooo0ooo-

Canal New Orleans. 06 AM. 12 Mei 2012

Anatasya sedang berlari di sepanjang kanal. Namun tiba-tiba ia berhenti saat sebuah motor hitam sport berhenti di depannya.

“Kau masih bisa berlari saat situasi seperti ini?” Ucap pemuda yang baru saja turun dari motornya.

“Apa ada berita baru?” Anatasya duduk di pinggir kanal.

“Kau belum dengar?” Pemuda itu duduk di samping Anatasya. Anatasya mengangguk.

“Tadi pagi di Maryland ada pembunuhan. Dua orang penjaga terbunuh dan barang curian berhasil di bawa kabur. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 4 pagi dan polisi tiba pukul 5 pagi.”

“Hanya itu, East?”

“Tentu saja tidak. Apa kau meremehkan kemampuanku memberikan informasi?” Easter berkacak pinggang dan Anatasya hanya mengangguk-angguk 1.

“Ceritakan lebih detail lagi. Itu hanya informasi untuk wartawan biasa dan tidak untuk wartawan sepertiku.”

Easter terkekeh pelan. Easter paham dengan sifat Anatasya yang begitu haus akan informasi. Anatasya adalah seorang wartawan di New Orleans Daily. Tasya sangat terkenal di dunia jurnalistik. Ia selalu menerbitkan artikel penuh kontroversi. Namun mengandung kebenaran. Tasya selalu menyoroti dunia politik. Dan itu membuat politikus dan para senator jengah.

“ Baiklah. Informasi yang ku tahu bahwa kejadian itu adalah rahasia, tapi sayang sekali banyak wartawan yang sudah tahu. Dan dengan uangnya mereka memboikot seluruh berita yang sudah di cetak. Ditambah lagi yang ku dengar, barang curian itu adalah beberapa artifak atau semacamnya dari Korea Selatan. Kau tahu kan maksudku?” Easter memandang Tasya.

Tasya mengangguk lagi. “Semacam artifak ya? Apa maksudmu seperti harta nasional?”

Easter tertawa “Kau pintar” Tasya tersenyum. “Berikan aku informasi yang bermanfaat lagi.” Kemudian Tasya memberikan sebuah amplop pada Easter.

“Pasti” Easter mengambil uang itu dan pergi menggunakan motornya ke arah barat.

“Kesimpulannya ini ada hubungannya dengan negara lain. Korea? Sepertinya aku punya sesuatu untuk di tulis. Namun aku membutuhkan orang lain. Apa aku harus memhubungi orang yang ku kenal di Korea?” Gumam Tasya pada dirinya sendiri.

-ooo0ooo-

Wallace Street. 07.30 AM. 12 Mei 2012.

Aku mencium bau darah yang lebih menyengat daripada biasanya. Pembunuhan terjadi lagi dan yang lebih mengkhawatirkan, lebih parah dari biasanya. Seorang mata-mata intelegen bawahanku yang melaporkan hal itu dan aku sangat sangsi bisa mengungkap semua pembunuhan yang mencapai angka fantastis seribu pembunuhan lebih untuk tahun ini.

Aku menikung di simpangan Wallace Street. Seperti yang ku duga, ia berada di sana. Seorang pria berambut kecoklatan dengan jas hitam dan topi bundar lusuh yang biasa ia pakai. Aku turun dari mobil. Ia menengok sekali dan lebih memilih untuk menghindar.

“Tuan Cho!” Panggilku dengan nada sedikit berteriak. Ia menghentikan langkahnya.

“Saya ingin berbicara dengan anda. Bisakah?” Tuan Cho membalikkan badan dan memiringkan kepalanya. “Ada apa?” Aku berjalan mendekatinya. Ia dengan mata sipitnya melihatku dengan tatapan menyelidik.

“Kau tak bermaksud mengambil seluruh kasus ini, bukan?” Aku tertawa dan ia semakan menatapku.

“Apa tuan sudah gila?” Giginya menggeretak dan aku tahu ia marah dengan ucapanku yang mengatakan ia gila.

“Jangan salah sangka Tuan Cho. Saya tidak mempunyai minat dengan kasus yang anda tangani.”

“Lalu?”

“Ini mengenai pembunuhan di Pelabuhan Maryland pagi tadi.” Matanya membelalak tajam. Aku menyeringai.

“Kau tahu?” Dengan melihat matanya aku bisa melihat mata tikus yang sedang ketahuan mencuri.

“Apa anda lupa siapa saya?” Ia mengangguk.

“Tentu saja tidak akan pernah lupa. Raina Nyco, seorang Agen Divisi Kejahatan Dalam Kota. Tapi yang saya bingungkan, bukankah kau berada di daerah Namforks dan mengapa kau bisa menanyakan kasus dari Maryland ?” Tuan Cho menyeringai seperti kebiasaannya. Aku tertawa.

“Yah, kau benar Tuan Cho. Saya juga bingung mengapa sampai ke daerah Maryland. Namun yang lebih membingungkan lagi adalah anda. Bukankah anda seorang Agen Intelegen Korea Selatan? Mengapa anda mengambil alih tugas Kepolisian Amerika?” Tuan Cho tertawa dan ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau pintar.” Ia menyeringai dan melepaskan topi lusuhnya itu. “Tapi juga licik” Lanjutnya.

“Begitulah aku” ucapku seadanya. Tuan Cho berjalan mendekatiku dan membisikan sesuatu yang membuatku bergidik ngeri.

“Tapi Maryland masih berada di wilayah yuridiksiku!” Bantahku cepat. “Ingat Tuan Cho! Saya sudah dimutasikan ke kantor pusat. Semua tempat termasuk Maryland, aku yang pegang. Anda harus menyerahkan kasus itu pada saya. Anda tak berhak!” Sekali lagi Tuan Cho tertawa.

“Kau ternyata juga bodoh” Ia bersiap melontarkan sebuah kalimat yang aku yakani pasti akan membuatku kalah telak. Namun sebuah sirine mobil polisi memaksa kami menoleh kea rah sumber suara.

Seorang laki-laki berperawakan tinggi putih menghampiri kami. Dia adalah manusia sejenis Tuan Cho.

“Apakah aku menggangu kencan kalian?” Ucapnya enteng. Aku membelalakkan mataku. Seenaknya saja aku dibilang kencan dengan manusia tak beradap seperti Tuan Cho.

“Jaga ucapanmu Inspector Choi”

-ooo0oo-

New Orleans Daily Office. 09 AM. 12 Mei 2012.

Anatasya sekarang berada di depan meja kerjanya. Matanya terus memperhatikan beberapa data yang temannya kirimkan dari Korea. Beberapa harta nasional korea yang di curi dini hari tadi. Harta nomor 61 yaitu seladon poci teh berbentuk naga dari National Museum of Korea. Harta nomor 98 yaitu seladon jar dari National Museum of Korea. Harta nomor 135 yaitu Hyewon pungsokdo, tiga puluh daun album lukisan bergenre oleh Sin Yunbok dari Gansong Art Museum. Dan masih banyak lagi. Tasya terus berdecak melihat angka pencurian dan total kerugian yang di alami pihak Korea Selatan.

Tasya mulai mengetik pesan ke temannya yang juga seorang wartawan di Korea.

‘Kau yakan?’

‘Sangat yakan. Aku sudah menyelidikinya. Di tambah lagi, hari ini National Museum of Korea dan Gansong Art Museum di tutup. Itu saja sudah membuktikan adanya barang yang hilang.’ Balas teman Tasya.

‘Apa ada yang kau curigai, Soohyun?’ Tasya pun mengetik kembali. Beberapa detik kemudian Tasya menerima balasan.

‘Ada dua orang. Satu orang korea dengan julukan Big D dan seorang lagi dari Amerika bernama Don Zidane. Keduanya dari beberapa bulan yang lalu selalu ingin membeli barang-barang yang di curi tersebut. Namun pihak museum secara tegas menolak. Dan hanya itu yang aku tahu.’ Tasya sejenak berfikir. Ia mengambil bolpoin dan memutar-mutarnya di antara jari-jarinya.

Seusai memainkan bolpoin di jarinya. Tasya mengetik lagi. ‘Bisakah kau kirimkan data mengenai mereka?’

Beberapa detik kemudian, Tasya menerima faks dari temannya Han Soohyun. Faks tersebut berisi beberapa data mengenai ke dua orang yang di curigai Soohyun.

Bbip.. Terdengar bunyi pesan masuk. ‘Kau selidiki Don Zidane. Biar aku saja yang selidiki Big D.’ Soohyun mengirim pesan dan Tasya pun menyutujuinya.

Tasya pun mulai mengetik di komputernya. Ia mencari informasi tentang Don Zidane. Namun hasilnya nihil. Ia pun mengambil handphonenya dan mengetik pesan untuk Easter. Beberapa detik kemudian Easter membalas. ‘Temui aku di tempat biasa dan akan ku ceritakan semuanya tentang Don Zidane.’

-ooo0ooo-

La café. 10.07 AM. 12 Mei 2012.

Sebuah mobil polisi berhenti di depan sebuah café. Inspector Choi, Raina dan Marcus Cho turun darinya. Mereka bertiga memasuki café dan memilih duduk di meja paling pojok.

Marcus Cho dan Raina akhirnya berdamai berkat usaha dari Inspector Choi. Keduanya memutuskan untuk menyelidiki bersama-sama kasus pencurian harta nasional korea tersebut. Keduanya memiliki informasi yang sama-sama mereka butuhkan.

“Don Zidane ikut andil dalam pencurian ini. Anak buahku sudah menyelidikinya dan mereka mendapatkan bahwa Don Zidane melakukan sebuah transaksi besar-besaran dengan seorang laki-laki asal Korea bernama .. ” Belum selesai Raina menjelaskan, ucapannya di potong oleh Marcus Cho.

“Big D. Big D memang terlibat dan dia sekarang menghilang.” Timpal Marcus dan itu membuat Raina agak naik darah.

“Hanya itu?” Raina mengawali perdebatan dengan pertanyaan sinis.

“Tentu saja tidak. Banyak hal lain.” Inspector Choi terkekeh pelan. Ia merasa menang karena mungkin ia tidak akan terseret ke meja hijau karena kedua orang yang sedang berdebat di depannya. Dan kadang Inspector Choi mengumpat dalam hati bahwa keduanya bodoh tidak mengetahui pembunuh di Pelabuhan Maryland adalah dirinya.

“Big D mempunyai banyak relasi besar dari Amerika Utara. Kebanyakan relasinya adalah para kolektor barang antic dan bandar-bandar besar narkoba dari Cuba. Hasratnya terhadap barang antic dan pesanan yang melimpah akan uang pasti membuatnya mencuri. Dan yang memesan barang itu adalah Don Zidane mengingat kau mengatakan terjadi transaksi besar-besaran.” Marcus Cho berusaha menghubungkan keduanya dan ia mendapatkan sebuah kesimpulan.

“Bila ia bisa mencuri barang tersebut dan mengirmnya ke Amerika melalui pelabuhan. Berarti ada pihak berwenang yang juga terlibat.” Ujar Marcus yang disetujui oleh Rania.

“Menurut temanku, transaksi itu di lakukan oleh seorang anggota kepolisian korea. Orang tersebut adalah adik dari Big D. Kabarnya karena hal itu pencurian dan pengiriman barang ke Amerika berjalan mulus Tampa hambatan.” Tambah Rania. Hal ini membuat Inspector Choi agak gusar. Karena menurutnya kasus ini tidak menambah baik untuknya. Benar yang dikatakan oleh Rania kalau dirinya adalah adik Big D. Bila semuanya terbongkar, ia benar-benar takut untuk di seret ke meja pengadilan.

Marcus dan Rania semakan berdebat tentang kasus ini. Sementara itu, Inspector Choi semakan gusar mengenai fakta-fakta yang berhasil keduanya bongkar. Kegusaran Inspector Choi membuat Marcus menaruh curiga kepadanya.

Sebuah dentingan bel pintu masuk membuat ketiganya menengok. Di sana terlihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang berbincang dan menuju meja paling depan. Mata Inspector Choi terbelalak melihat laki-laki yang sekarang berada di depan matanya. Laki-laki itu adalah laki-laki yang sama dengan yang ia lihat sewaktu di pelabuhan. Saksi yang ia kejar dan tidak berhasil ia bunuh bersama seorang wartawan yang cukup terkenal.

Marcus dan Rania tidak menghiraukan lagi dentingan bel dan kedua orang yang masuk tadi. Mereka semakan liar membahas tentang fakta yang baru saja mereka ungkapkan. Hal ini membuat Inspector Choi kehabisan kesabaran. Ia melihat empat orang yang membahayakan kehidupannya dan ia bersiap mengmbil pistol di saku celananya.

Sementara itu, kedua orang yang masuk tadi adalah Anatasya dan informannya, Easter Kim. Keduanya ingin membicarakan tentang Don Zidane.

“Apa informasi yang kau dapatkan?” Tasya memandang penuh selidik pada Easter.

“Tentang Don Zidane hanya ku dapatkan sedikit. Ia adalah seorang pengusaha kaya. Pengkolektor barang antic dan pembunuh berdarah dingin. Ia mempunyai satu anak angkat bernama Aiden Lee. Aiden adalah orang korea dari daerah Mokpo. Terkadang ia mengajak anaknya untuk melakukan sebuah pembunuhan besar yang melibatkan para politikus terkenal dari berbagai negara. Tapi keduanya tidk pernah terjamah oleh hokum apapun.” Easter menjelaskan apa yang ia ketahui. Tasya pun memahaminya.

“Kalau hubungannya dengan Big D?” Easter cukup kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tasya.

“Kau tahu Big D?” Tasya mengengguk. “Soohyun mengatakan kepadaku bahwa keduanya adalah orang yang ia curigai pada pencurian ini.”

“Kau menghubungi Soohyun?” Tasya mengangguk. “Apa Soohyun menyuruhmu menyelidiki Don Zidane dan ia menyelidiki Big D?” Tasya mengangguk lagi. Easter menghela nafas.

“Soohyun juga terlibat. Jangan pernah percaya padanya.” Bagai sebuah sambaran petir, Tasya di buat terhenyak dengan fakta yang diberikan Easter.

“Apa maksudmu? Soohyun, sahabatku itu terlibat? Kau jangan bercanda!” Easter memandang sendu Tasya.

“Maafkan aku.” Hanya itu yang mampu Easter ucapkan. Keduanya terdiam sampai pesanan mereka datang.

“Terima kasih” Ucap Tasya kepada pelayan café. Ia pun meminum pesanannya dan menghela nafas.

“Bagaimana kau tahu?” Easter tersenyum kecut.

“Dia adalah pacar seorang polisi korea yang merupakan adik Big D. Adik Big D inilah yang melakukan transaksi dengan Don Zidane. Kemungkinan besar Soohyun mengetahui hal itu. Ia sepertimu, Sya. Dia pasti tahu tapi ia tidak memberitahumu.” Tasya tersenyum pahit.

“Kau tahu siapa orangnya?” Easter mengangguk.

Beberapa meter dari meja keduanya. Rania dan Marcus pun hampir menemukan hal yang sama.

“Bawahanku mengirimkan pesan. Ia mengatakan bahwa polisi itu sudah di mutasi ke Amerika satu tahun yang lalu. ” Marcus agak terperanjat.

“Di Amerika?” Rania mengangguk.

“Kau tahu siapa namanya?”

“Belum. Anak buahku akan memberikan kabar jika sudah mengetahuinya.” Inspector Choi ang mendengarkan hal itu semakan mengenggam erat pistol yang ada di sakunya.

Bbip.. Bunyi pesan masuk pun terdengar. Inspector Choi berkeringat dingin. Tasya hendak membuka pesan tersebut saat Inspector Choi tiba-tiba saja berdiri dan berteriak. “Hai kau! Berhenti di sana!” Inspector Choi mengacungkan pistolnya ke arah Easter yang sedang berbincang dengan Tasya.

Semua orang yang ada di sana melihat ke arah Inspector Choi. Easter yang tahu keadaan yang membahayakan nyawanya pun menggenggam tangan Tasya dan berbisik itu orangnya. Tasya yang kaget pun tidak tahu harus berbuat apa.

Marcus dan Rania berdiri.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Marcus. Inspector Choi terus berkeringat dingin dan masih mengarahkan pistol ke Easter.

“Dia! Dia adalah adik Big D!” Teriak Inspector Choi dan hal itu membuat Marcus, Rania, Tasya, dan Easter sendiri pun terlonjak kaget.

“Apa aku? Aku bukan adik Big D!” Easter pun kebingungan. Marcus dan Rania pun bersiap menangkap Easter. Tasya yang mengetahui kalau bukan Easter pun semakan kebingungan.

Sebuah tembakan pun meleset di antara Easter dan Tasya. Keduanya kaget dan secara spontan lari bersama pengunjung café yang lain.

“Kenapa kau tak bilang dari tadi?” Marcus dan Rania pun mengejar Easter dan Tasya. Inspector Choi berlari menyusul ke empatnya.

Di persimpangan jalan. Easter dan Tasya berpisah. “Temui aku di apartementku” Teriak Easter yang mengambil jalan ke arah kiri dan Tasya arah sebaliknya. Marcus dan Rania yang mengejar pun terpaksa harus berpencar. Marcus mengejar Easter sedangkan Rania mengejar Tasya. Inspector Choi lebih memilih membunuh ke empatnya yang di dahului membunuh Easter dan Marcus. Ia pun berbelok ke kiri.

Rania terus mengejar Tasya yang berlari cepat menembus kota. Kejar-kejaran mereka terhenti saat Tasya terpojok di sebuah gereja tua di tengah kota.

“Berhentilah berlari. Kau tak akan bisa kabur dariku.” Ucap Rania. Tasya pun menyeringai.

“Kau ingin menangkapku?” Rania mengangguk.

“Apa alasanmu? Aku tak melakukan kesalahan apapun.” Rania menyeringai. Tasya pun memandang kedua bola mata Rania tanpa takut.

“Teman laki-lakimu adalah penjahat. Yang aku yakani kau tahu itu.” Tasya tertawa keras. Rania menautkan alisnya.

“Siapa? Temanku yang di teriaki adalah adik Big D?” Rania mengangguk.

“Kau lucu. Temanku bukan adik Big D. Adik Big D adalah temanmu yang mengacungkan pistol kepada kami. Temanmu, Inspector Choi Siwon.” Rania terperanjat sesaat.

“Kau jangan memutar balikkan fakta.” Rania berteriak sedangkan Tasya semakan keras tertawa.

“Kau bodoh. Saya wartawan dan teman saya adalah seorang informan. Kami sedang menyelidiki kasus pencurian harta nasional korea seperti yang kau lakukan. Temanku, Easter adalah saksi kejadian pembunuhan di Maryland Port dan seorang informan yang bekerja untukku. Apa kau masih belum percaya?” Kini giliran Tasya yang berteriak. Rania terdiam mendengar fakta tentang temannya.

Bbip .. Sebuah pesan masuk. Rania membuka handphonenya. Ia terbelalak membaca pesan yang ternyata sama dengan yang di ucapkan Tasya.

“Maaf” Hanya itu yang keluar dari mulut Rania.

“Tak apa” Ucap Tasya. “Kabari temanmu. Kemungkinan besar ia akan terbunuh.” Tasya memandang Rania.

“Apa maksudmu?”

“Easter bercerita padaku bahwa tugas selanjutnya yang akan Inspector Choi lakukan adalah membunuh dua orang yang akan membongkar kasus ini. Tapi kami tidak tahu siapa.” Tasya bercerita pada Rania yang semakan menunduk menyadari kebodohannya.

“Kau tahu, kemana temanmu akan pergi?” Tasya mengangguk. “Ke apartementnya” Jawab Tasya.

“Ayo kita ke sana.” Ajak Rania. Tasya menyetujuinya.

-oo0oo-

Temnot Apartemen. 11.57 AM. 12 Mei 2012.

Wajah Easter memerah. Nafasnya memburu. Kakanya lemas setelah berlari menghindari kejaran kedua orang yang mengira Easter adik Big D.

“Shit!” Pintu apatemennya di ketuk membabi buta. Easter berniat keluar dari jendela. Namun urung ia lakukan karena apartemennya di lantai 12.

Beberapa kali tembakan di pintu dan pintu yang di kunci berlapis itu akhirnya terbuka. Easter meringkuk di pinggir ruangan.

“Aku bukan adik Big D!” Teriak Easter. Marcus semakan mendekat. Inspector Choi menyeringai. Pistolnya ia arahkan ke Easter namun perlahan ia arahkan kea rah Marcus.

Marcus yang tepat berada di depan Easter pun mengeluarkan pistol di balik bajunya.

“Katakan padaku, kenapa kau bukan adik Big D? Jangan berbohong!” Marcus mengarahkan bidikannya ke Easter sedangkan Inspector Choi mengarahkan ke Marcus.

“Karena .. ” Belum sempat Easter memberikan alasan. Inspector Choi menembak Marcus. Namun beruntungnya Marcus membungkuk dan menembak kea rah Inspector Choi.

DOR .. Desingan peluru membahana di apartemen milik Easter. Marcus selamat namun Inspector Choi tergeletak di lantai. Marcus berdiri dan menendang pistol milik Inspector Choi yang terjauh di tanah.

“Jangan pernah kau berpikir aku bodoh. Aku sudah tahu. Tapi aku pura-pura tidak tahu.” Ucap Marcus. Easter yang pun bangkit berdiri.

“Di mana barang curian itu?”Easter bertanya pada Inspector Choi yang sedang sekarat. Namun sampai nafas terakhirnya. Ia tak menjawab pertanyaan itu.

Rania dan Tasya sampai di apartemen Easter saat Marcus sedang menutupi jenazah Inspector Choi dengan kain putih. Easter menceritakan segala kejadian pada keduanya.

“Jadi benar dia pelakunya?” Rania bertanya pada Marcus. Marcus mengangguk.

“Kau sudah tahu?” Marcus mengangguk lagi.

“Kenapa kau tak bilang?” Marcus tersenyum. “Aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.”

“Apa itu?” Rania memandang Easter penuh selidik.

“Kita ke Georgia. Kita harus mencari Don Zidane dan Aiden Lee. Aku harus memastikan mereka terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan menceritakan semua hal yang ku tahu padamu.”

-oo0oo-

Georgia. 15.01 PM. 12 Mei 2012.

Aiden melangkahkan kedua kakanya di jejeran toko pakaian di distrik 9. Seketika langkahnya terhenti saat ada yang memanggil namanya dari sebuah lorong kecil di samping Beautique la robe.

“Lee! Kemarilah!” Perintah seorang laki-laki tua yang sedang bersembunyi di lorong itu.

“Don Zidane? Apa yang anda lakukan di daerah kecil seperti ini?” Lee masuk ke dalam lorong itu bersama laki-laki yang ia panggil dengan gelar don di depan namanya.

“Kau harus cepat meninggalkan distrik ini. Atau kalau perlu tinggalkan georgina dan bahkan benua ini. Kembalilah ke asalmu!” Aiden menautkan kedua alisnya.

“Ada apa dengan anda, tuanku? Mana mungkin saya meninggalkan .. ” Ucapan Aiden terhenti saat Don Zidane berteriak marah.

“Diam! Turuti saja perintahku!” Aiden semakan menolak dan hal itu membuat Don Zidane menarik kerah kemeja yang di pakai Aiden.

“Dengarkan aku baik-baik. Jika kau tidak ingin mati di tangan agen rendahan seperti Marcus Cho atau membusuk di bui. Tinggalkan benua ini. Kasus itu, sudah terbongkar seutuhnya. Tak ada lagi alibi yang bisa kita pakai. Kau dengar?” Aiden tersentak sejenak. Ia begitu terkejut dengan berita yang akan membunuhnya ini.

Mata Don Zidane semakan tajam menatap Aiden. Ia menunggu jawaban. Aiden hanya diam. Don zidane menggertakkan giginya tanda ia tak suka menunggu dan akhirnya ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

“Bagus.” Don Zidane melepaskan cengkraman pada kerah Aiden. Ia pun berencana pergi.

“Bagaimana dengan anda?” Aiden menatap cemas pada laki-laki yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.

“Aku?” Don Zidane menghela nafas. “Kau fikir apa aku akan menderita hanya kerena kasus bodoh itu?” Aiden tertawa kecil dan Don Zidane mencoba mengintip keluar lorong.

“Apa anda punya cara melarikan diri?” Aiden menatap punggung Don Zidane yang sekarang berada di bibir lorong.

“Kau pikir aku bodoh? Tentu saja aku punya.” Ucapnya bangga.

“Lalu anda tak mengajakku?” Don Zidane menengok ke arah Aiden yang sekarang berada di belakangnya.

“Apa aku perlu menyekolahkanmu lagi? Aish, betapa bodohnya kau.” Don Zidane menggelengkan kepalanya. Kemudian ia mendekati Aiden, “Kau harus tahu, kasus ini bukan main-main anakku. Kasus pencurian yang melibatkan banyak Negara. Tentu saja aku tidak akan mengajakmu. Kau masih muda dan punya mimpi yang panjang. Ingat! Di pelabuhan ada sebuah kapal dengan logo phoenix. Kau bisa memakainya.” Ucap Don Zidane. Aiden hanya terdiam. Ia tahu bila kasus ini adalah kasus yang sangat sulit untuk di manipulasi seperti kasus-kasus sebelumnya.

Sebuah mobil ternak berhenti tepat di depan bibir lorong. Don Zidane pun pamit. “Aku sekarang adalah seorang peternak. Jangan mencariku.” Ucap Don Zidane sebelum pergi. Aiden hanya tertawa kecil. “Kau juga bodoh ayah.”

-oo0oo-

Aiden kembali ke rumahnya. Ia membereskan beberapa barang-barangnya. Ia agak sangsi dengan kasus yang menyeret keluarganya itu.

Pintu depan terbuka. Marcus masuk dan ia di sambut tinju di bagian dada oleh Aiden.

“Siapa kau?” Teriak Aiden. Keduanya bertarung hebat. Rania, Easter, dan Tasya hanya bisa menonton.

“Kami polisi dan wartawan.” Ucap Rania seketika itu juga Marcus di banting ke lantai oleh Aiden.

“Apa yang kalian lakukan di rumahku?” Aiden terlihat berang.

“Kami hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu.” Marcus berdiri. Ia memegang punggungnya yang terasa nyeri.

“Ini mengenai pencurian harta nasional korea dini hari tadi. Apa kau mengetahui sesuatu?” Aiden terdiam. Ia kemudian bertanya “Apa hubungannya denganku?” Marcus tersenyum kecil.

“Kau anak dari Don Zidane yang sekarang entah berada di mana. Ia mempunyai kemungkinan terlibat dalam kasus ini.”

“Memang terlibat namun kami di paksa.” Aiden berterus terang.

“Ayahku seorang kolektor. Ia punya banyak koleksi barang-barang antic. Namun banyak koleksinya yang hilang dicuri. Ia kemudian di paksa membayar uang tebusan pada Big D. Hal itu di lakukan untuk membuat alibi orang yang mencuri koleksi ayahku.”

“Kau tahu siapa orang itu?” Rania bertanya pada Aiden.

“Aku tahu. Orang China yang sekarang bertempat tinggal di Manhattan, NY. Semua barang curian ayahku di kembalikan tadi pagi dan as gantinya kami tidak punya alibi untuk membuktikan kami tidak bersalah.” Ujar Aiden.

“Kami akan membantumu. Asal kau mau membantu kami.” Ucap Marcus. Aiden memandang Marcus dengan tatapan sangsi.

“Kau bisa percaya pada kami.” Ucap Rania.

“Baiklah. Aku akan membantumu.”

Aiden pun bercerita tentang hal-hal yang ia ketahui sehubungan dengan pencurian tersebut. Mereka pun terbang ke New York dan menghubungi Agen Interpol yang bermarkas di sana. Penangkapan berlangsung singkat. Namun tidak ada kendala. Orang China tersebut bernama Henry Lau. Ia tidak bisa di dakwa seperti Don Zidane yang mempunyai kekayaan yang tida batas.

Namun Rania dan Marcus terus berusaha. Tasya pun ikut membantu kasus ini dengan menerbitkan artikel bertajuk internasionalnya. Ia mendapatkan reaksi positif dari masyarakat dan kasus akan di meja hijaukan.

Easter tetap menjadi informan Tasya. Namun ia juga sekarang bekerja untuk kepolisian atas rekomendasi Rania.

Sementara Marcus Cho membawa barang curian berupa Harta Nasional Korea kembali ke asalnya. Ia juga mendakwa Big D. Dan menyeretnya ke dalam bui.

Kasus ini bergulir cukup lama. Sampai akhirnya Henry Lau berhasil di masukkan ke dalam bui 5 tahun kemudian.

-FIN-

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. sitidiah13
    Feb 27, 2016 @ 17:06:17

    menurut ku alurnya kecepetan ya apa gak sih?tapi bagus kok,cuma aa beberapa kata2 yang salah tulis,but semuanya bagus aku suka sama genrenya seru

    Reply

  2. Hara-Fujiwara
    Mar 26, 2016 @ 17:13:48

    Idenya udah bagus banget! Tapi masih agak membingungkan untuk beberapa fialog dan endingnya kurang greget gitu. Mungkin bisa diperpanjang lagi. Semangat thor!!

    Reply

  3. SG~
    Mar 29, 2016 @ 22:19:48

    Hhhmmm..mungkin dibuat chapter bakal lebih menarik..hehehe😁😁
    #cuman saran kok😊😊

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: