Ways To Say Goodbye

kyu_2

Nama : Aryn
Judul Cerita : Ways to say goodbye
cast : Cho Kyu-Hyun, Park Ni-Young, Lee Dong-Hae, Han Sun-Ae
Genre : Romance, sad
Rating : PG-15
Length : One-Shot
Wp : haeverlastingfriends.wordpress.com

 

***

Half crazy that sad and happy days, how can I forget

Don’t forget. Like it should be dark so the light could be seen

If you miss me you must back to me…

Kyu-Hyun tahu gadis itu gemetaran. Dadanya naik turun menahan rasa sakit yang tak terlihat, Kyu-Hyun tahu gadis itu ingin sekali menangis, tapi ia mungkin sudah tidak mampu. Menatap Kyu-Hyun pun sekarang dia enggan. Dia takut.

“Aku bukan monster, tahu?” Kyu-Hyun angkat bicara setelah tiga jam ikut bungkam bersama gadis di sampingnya itu. “Aku tidak akan mengamuk kalau kau mengajakku bicara, atau paling tidak kau harus bertanya aku sudah makan atau belum, seperti biasa.”

Kyu-Hyun tidak pernah melepaskan pandangan dari gadis itu. Dari setiap perubahan mimik wajahnya. Dari caranya bernapas yang kian berat setiap detiknya. “Persetan, pergi dari sini.”

Kyu-Hyun tersenyum miring, “Akhirnya aku mendengar suaramu. Setelah hampir lima jam.”

Gadis itu menoleh, matanya berair. Sebuah lampu jalanan di pinggir sungai Han menjadi saksi tangis gadis itu. Satu isakkan yang mati-matian ia tahan sejak tadi berhasil melompat keluar ketika ia mendekap Kyu-Hyun.

“Dasar cengeng, aku harus mengurangi jatah uang jajanmu bulan depan.”

Kyu-Hyun mengelus rambut Sun-Ae sementara gadis itu menangis dengan kencangnya dipelukan Kyu-Hyun. Sun-Ae memeluk Kyu-Hyun dengan sangat erat, seakan kakaknya itu akan menghilang kalau ia melepas pelukan. Kalau Sun-Ae tahu sejak awal akan begini jadinya, mungkin ia akan memeluk Kyu-Hyun setiap hari. Mengekorinya ke dapur, ke kantor, kencan, atau bahkan ke kamar mandi. Sejak ia lahir Kyu-Hyun selalu di sisinya. Bahkan ia lebih dekat dengan Kyu-Hyun daripada ayah dan ibu mereka yang kini menetap di Prancis. Sun-Ae memilih Cho Kyu-Hyun, sebagai tempatnya bersandar. Sebagai tempat dimana ia bisa mengerti apa artinya bahagia.

“Kyu, mereka bohong, kan?” Sun-Ae menyandarkan kepalanya di pundak Kyu-Hyun ketika kakaknya itu menggendongnya menuju apartemen mereka. Sekarang gerimis dan Sun-Ae tahu Kyu-Hyun pasti sangat lelah, tapi ia ingin terus menempel pada laki-laki itu. “Aku sungguh tidak ingin mendengar apa yang mereka katakan. Aku tidak suka.”

“Aku juga,” Kyu-Hyun menoleh ke samping, bukan pada Sun-Ae melainkan ke arah lain, berusaha membuang segala pikiran tentang kemungkinan terburuk. Termasuk meninggalkan gadis ini. “Makanya, mulai sekarang kau harus belajar memasak nasi.”

Kyu-Hyun salah berkata demikian, karena itu menandakan bahwa tidak akan ada Kyu-Hyun lagi di apartemen mereka nanti. Itu menandakan bahwa Sun-Ae harus mandiri dan bisa memasak makanannya sendiri. Ia tidak bisa mengharapkan ada Kyu-Hyun yang membangunkannya di pagi di hari minggu dengan memeluk dan menciumnya, yang kalau Sun-Ae marah, Kyu-Hyun akan ikut tertidur di sampingnya sampai siang. Di hari minggu yang seperti itu, kalau Kyu-Hyun tidak sibuk bekerja, mereka akan bersepeda berdua di sekitar sungai Han. Dengan keberadaan Kyu-Hyun di dekatnya, Sun-Ae merasa ia tidak membutuhkan hal lain, hanya beri Kyu-Hyun padanya dan dia akan hidup dengan baik.

Sebaliknya, kalau Cho Kyu-Hyun pergi, ia tidak akan baik-baik saja.

Sun-Ae membuka matanya yang sempat terpejam dan membiarkan Kyu-Hyun membuka sepatunya.

“Kau ini, dua bulan lagi kau akan lulus perguruan tinggi, masih saja aku yang membuka dan memakaikan sepatumu.”

Sun-Ae terisak. “Pembual, kau yang memaksa melakukannya.”

Kyu-Hyun mengangguk. Ia tersenyum, tapi Sun-Ae dapat melihat air matanya yang jatuh diam-diam. “Kau benar, aku selalu merasa kau adalah adik kecilku yang mungil. Bahkan sampai kau menikah nanti, kupikir aku masih akan tetap melakukannya.” Kyu-Hyun mendengar dan melihat Sun-Ae menangis. Matanya bengkak dan ia mulai menangis di luar kendalinya. “Lihat, adik kecilku masih saja cengeng. Kalau begini, bagaimana bisa aku meninggalkannya?”

Kyu-Hyun menggendong Sun-Ae ke dalam apartemen mereka. Ke tempat yang hampir delapan tahun mereka huni hanya berdua. Kyu-Hyun terbiasa hidup dengan Sun-Ae di sekitarnya, jadi ia tidak berani membayangkan bagaimana nanti ia pergi tanpa gadis itu.

Kyu-Hyun tersenyum melihat Sun-Ae yang duduk sambil melamun di atas tempat tidurnya. Kalau gadis itu sedang sedih pasti ia tidur dengan Kyu-Hyun, di dalam pelukannya. Sun-Ae bilang pelukan Kyu-Hyun adalah tempat terbaik. Kyu-Hyun berharap gadis itu masih akan tetap menjadikan pelukannya sebagai tempat terbaik walau Kyu-Hyun tidak ada lagi.

“Apa yang kau pikirkan?” Kyu-Hyun memeluk Sun-Ae, memperbaiki posisi selimut mereka berdua. “Kau tidak boleh terlalu banyak pikiran. Aku tidak mau kau sakit.”

“Bisakah kau diam?” Dan bisakah jangan terlalu baik padaku? Jangan membuatku lebih sedih.

“Dulu kau bilang suaraku bagus, sekarang bicara pun aku tidak boleh?”

Sun-Ae mencium piyama Kyu-Hyun. Lalu matanya mulai berair. “Jangan meninggalkanku, Kyu. Aku takut.”

Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah. Kita akan baik-baik saja. Dulu Kyu-Hyun sering mengucapkan kata-kata itu pada Sun-Ae jika adiknya sedang sensitif atau mulai berpikiran yang tidak-tidak. Dulu Kyu-Hyun selalu berusaha memberikan pengertian pada Sun-Ae bahwa ia akan tetap tinggal. Dulu Kyu-Hyun selalu ingin membuat Sun-Ae percaya bahwa ia tidak akan ke mana-mana.

Tapi sekarang sudah berbeda.

“Kau dengar sendiri, kan? Bahkan mungkin kau yang lebih tahu. Aku akan pergi.”

Sun-Ae tidak berkata apa-apa lagi setelah itu. Ia memilih untuk menangis sepuasnya dalam pelukan Kyu-Hyun. Memilih untuk memikirkannya besok. Memilih menikmati waktu saat Kyu-Hyun masih di sampingnya.

Suara tangis Sun-Ae terdengar samar karena derasnya hujan yang turun malam itu. Samar-samar, sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Kyu-Hyun, ia mendengar suara kakaknya itu. Kyu-Hyun juga menangis. Kyu-Hyun jarang menangis, apalagi di hadapan Sun-Ae, tapi sekarang Kyu-Hyun menangis. Cho Kyu-Hyun menangis. Rasanya Sun-Ae bersedia menghilang di telan bumi daripada mendengar Kyu-Hyun menangis.

“Kau harus ingat satu hal, Sun-Ae-ya. Kau harus sehat.” Suara Kyu-Hyun yang demikian berat membuat Sun-Ae ingin menghapus air matanya. Ketika Sun-Ae menghapus air matanya, Kyu-Hyun menatapnya dengan penuh sayang. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan? Jangan beritahu hal ini pada siapa pun. Termasuk ayah dan ibu. Ini janji kita.”

Sun-Ae tidak ingin berjanji, kalau ia berjanji berarti ia menyimpan hal itu sendirian. Dan ia tidak mampu. Tapi Kyu-Hyun telah mengaitkan jari kelingking mereka, jadi Sun-Ae tidak bisa lagi menolak.

“Gadis pintar. Ayo tidur. Besok kau kuliah pagi.”

“Aku tidak kuliah besok.”

“Benarkah? Kau libur?”

“Tidak. Aku ingin bersamamu.”

“Tidak bisa. Kau harus kuliah. Kau harus menyelesaikan pendidikanmu dengan segera.”

“Aku tidak mau. Aku mau menemanimu.”

“Aku tidak butuh kau temani. Cepat selesaikan kuliahmu agar aku bisa menghadiri upacara kelulusanmu, kau tahu aku tidak bisa bertahan, kan? Jadi kumohon turuti perintahku. Jangan menangis, bukannya aku menyuruhmu untuk tidur?”

“Bisakah kau tidak mengungkitnya?”

“Baiklah. Maafkan aku. Selamat malam. Aku menyayangimu.”

***

Selain Sun-Ae, tuugas berat lainnya telah menanti Kyu-Hyun. Masalahnya adalah gadis yang ada di hadapannya sekarang.

“Kyu, kenapa melamun? Ada masalah?”

Ada. Banyak sekali.

“Tidak apa-apa. Hanya memikirkan Sun-Ae.”

Park Ni-Young tersenyum lemah, lalu mengusap punggung tangan Kyu-Hyun. “Aku tahu kau sangat menyayanginya, tapi dia sudah besar, kan? Jangan terlalu berlebihan.”

“Aku tidak berlebihan,” kata Kyu-Hyun tidak mau kalah. “Aku hanya khawatir.”

Ni-Young tersenyum lagi. Hampir lima tahun lamanya mendampingi Kyu-Hyun membuatnya cukup hapal dengan sikap protektif Kyu-Hyun pada Sun-Ae. “Bukan itu maksudku,” Ni-Young menyeruput latte-nya. Mereka sedang makan siang di salah satu resto langganan. “Sun-Ae sudah besar, sebentar lagi akan ada orang yang menyayanginya dan menjaganya seperti yang kaulakukan sekarang.”

Kyu-Hyun mendengus. “Tidak akan ada orang yang bisa menyayanginya seperti aku menyayanginya.”

Ni-Young mengangguk. “Kau benar sekali,” sahutnya lembut. Ia lalu menatap Kyu-Hyun. “Dia sudah menemuimu? Datang ke apartemen mungkin?”

Kyu-Hyun tersenyum miring. “Aku yang menemuinya.”

Antara terkejut serta takut, Ni-Young lalu bertanya dengan hati-hati. “Tidak ada masalah, kan?”

Kyu-Hyun tertawa. “Sejauh ini belum,” katanya. “Dia tipe Sun-Ae sekali.”

“Kau terkejut, bukan?”

“Bukan. Aku hanya belum siap Sun-Ae pergi dariku.”

Ni-Young memberengut. “Dasar curang. Kau boleh memiliki kekasih sementara Sun-Ae tidak boleh. Malang sekali gadis kecil itu.”

“Selama masih ada aku, maka akulah yang akan terus menjaganya.”

“Oke, aku harusnya tidak membahas itu,” Ni-Young berdehem, lalu memperbaiki posisi duduknya. “Jadi bagaimana?”

Alis Kyu-Hyun terangkat naik, dengan malas ia balik bertanya, “Apanya yang bagaimana?”

“Tidak usah berbelit-belit. Bagaimana dia? Lee Dong-Hae?”

Kyu-Hyun terdiam. Ia menghampiri laki-laki itu kira-kira satu minggu yang lalu. Tepat ketika ia tahu bahwa Sun-Ae menerima telepon darinya lewat dari pukul sepuluh malam. Juga ketika ia melihat wajah Sun-Ae merona sepulang kuliah. “Yang pasti, dia jauh, sangat jauh lebih pendek dariku. Dia hanya sedikit lebih tampan. Sedikit lebih pandai memainkan alat musik. Sedikit lebih pandai merayu wanita. Sedikit lebih ramah. Sedikit lebih murah senyum.”

Ni-Young menggeleng tegas. “Dia hanya sedikit lebih pendek darimu. Dia sangat tampan. Dia sangat pandai memainkan alat musik. Dia bukannya pandai merayu wanita, tapi dia selalu menghormati wanita. Dia sangat ramah. Dia sangat murah senyum.”

Wajah Kyu-Hyun mengkerut. “Begitu?”

Ni-Young tersenyum lebar. “Begitu.”

“Oke, menikah saja dengannya.”

“Dia milik adikmu.”

“Tidak tanpa persetujuanku.”

“Ouh, kakak yang menyeramkan.”

“Aku tidak peduli.”

“Kau tidak usah khawatir, aku sudah mengenalnya hampir satu tahun ini. Sun-Ae sering mengajaknya setiap kali mengunjungiku.”

Kali ini Kyu-Hyun yang memperbaiki posisi duduknya. “Sun-Ae mengenalkannya padamu dan tidak padaku? Wah, hebat sekali gadis itu.”

“Dia hanya takut Dong-Hae lari terbirit-birit karena kakaknya yang galak.”

Kyu-Hyun berpikir selama dua puluh detik. Baiklah, ada topik bahasan baru yang akan ia selesaikan bersama Sun-Ae ketika di rumah. Sekarang ia harus menikmati harinya dengan gadis di hadapannya ini.

“Aku akan kembali ke kantor dua jam lagi. Kau ingin kutemani ke suatu tempat?”

Ni-Young menatap Kyu-Hyun dengan heran. “Suasana hatimu sedang baik? Tumben sekali.”

“Katakan saja, aku akan menemanimu kemana pun kau mau. Mumpung aku sedang baik hati.”

***

“Harusnya aku beli bunganya juga.”

Kyu-Hyun menyiram bibit-bibit bunga yang baru selesai ia tanam di pekarangan rumah Ni-Young yang asri. Agenda mereka hari ini hanyalah pergi ke toko bunga, awalnya Ni-Young hanya ingin membeli bunga dan kembali ke rumah karena pekerjaannya di rumah sakit telah selesai. Tapi semuanya menjadi panjang ketika Kyu-Hyun melarangnya terus membeli bunga.

“Itu hanya buang-buang uang, jauh lebih baik kalau kau membeli bibitnya.” Kyu-Hyun menata pot-pot berisikan bibit-bibit bunga yang nantinya akan bermekaran. “Pasti cantik sekali,warna-warni dan kau bisa menikmati keindahannya lebih lama, apalagi ketika hujan turun.”

Ni-Young tertawa, ia menggulung lengan kemeja kantor Kyu-Hyun agar tidak basah. “Kau gila, ya? Kenapa tiba-tiba jadi melankolis begitu?”

“Kau pikir kenapa? Dua bidadari jatuh dari langit dan merecokiku dengan benda aneh warna warni ini setiap hari, aku bahkan hapal semua artinya di luar kepala. Aku bingung apa memang kau dan Sun-Ae ditakdirkan bertemu atau bagaimana?”

Ni-Young tersenyum. “Kau tampan saat menggerutu,” katanya ketika mencium bibir Kyu-Hyun. “Kyu-Hyun-ku terlihat nyata kalau dia marah-marah.”

“Lalu kau pikir selama ini menjalin hubungan dengan patung?”

“Iya, mengingat betapa kerasnya kau itu.”

“Baiklah, aku akan berusaha lebih baik dari sekarang.”

“Jangan memaksakan dirimu,” Ni-Young memeluk Kyu-Hyun dari belakang. Bajunya basah karena hujan. Tadi Kyu-Hyun masih saja ngotot untuk menanam bunga-bunga itu walau gerimis mulai turun. “Bahkan memilikimu seperti sekarang ini rasanya aku masih bermimpi. Aku belum sepenuhnya percaya bahwa Cho Kyu-Hyun mencintaiku.”

“Kau salah besar, Nona Park,” Kyu-Hyun menuntun Ni-Young masuk ke pelukannya ketika hujan turun semakin deras. “Aku tidak mencintaimu, tapi aku sangat mencintaimu.”

Di bawah hujan, Kyu-Hyun menyentuhkan bibirnya ke bibir Ni-Young. Mereka berciuman di tengah damainya hujan yang turun. Ni-Young menatap mata Kyu-Hyun yang terpejam saat melumat bibirnya. Rasanya hangat. Kyu-Hyunnya yang galak sesungguhnya adalah orang yang hangat, juga seperti Dong-Hae. Ni-Young tersenyum ketika Kyu-Hyun belum melepaskan ciuman, hujan yang turun semakin deras. Dan di tengah derasnya hujan itu, Cho Kyu-Hyun menangis, melalui ciumannya ia ingin menyampaikan sesuatu yang tidak akan bisa ia sampaikan. Cho Kyu-Hyun menangis karena hatinya sakit. Karena ia tidak mampu mengatakan apa yang harus ia katakan pada gadisnya.

Selamat tinggal.

***

“Kau tahu betapa cemasnya aku?”

“Tahu.”

“Lalu kau masih bisa tersenyum seperti sekarang?”

“Bisa, kau tidak lihat senyumku yang menawan ini?”

Sun-Ae mendengus sambil mengusap kepala Kyu-Hyun yang masih basah dengan handuk. Di luar sedang hujan. Satu jam yang lalu Kyu-Hyun pulang dengan pakaian basah kuyup. Sun-Ae panik karena Kyu-Hyun tidak bisa dihubungi, Sun-Ae telah mendatangi kantor Kyu-Hyun dan sekretarisnya bilang Kyu-Hyun telah keluar sejak jam makan siang. Hah, laki-laki buncit itu sangat pandai membuat orang cemas.

“Kyu, sudah malam. Lebih baik kita tidur.”

Kyu-Hyun membersihkan pot-pot kecil yang ada di hadapannya dengan perasaan luar biasa bahagia. “Ternyata seperti ini ya, rasanya. Kalau saja aku tahu merawat bunga akan semenyenangkan ini, maka aku akan membuatkanmu taman bunga kecil di dekat balkon.”

Sun-Ae menatap kakaknya aneh. Pulang-pulang ia membawa satu kantung besar bibit bunga beraneka jenis. Sun-Ae yang biasanya bahagia kalau mendapatkan bunga anehnya bersikap biasa saja. Ia lebih mementingkan Kyu-Hyun daripada bunga-bunga itu.

“Kau bisa melanjutkannya besok. Ini malam dan mungkin akan mati sekarang juga.”

“Hey, kenapa kau pesimis begitu? Ada lahan kosong di dekat balkon. Iya taman di luar sana. Aku pastikan taman itu akan penuh dengan bunga-bunga kalau sudah mekar nanti.”

Sun-Ae mendesah dan merapikan rambut Kyu-Hyun. Lalu ia mengambil mangkuk bubur ayam hangat yang sengaja ia beli sepulang kuliah. Sun-Ae meniupnya, lalu menyuapkannya pada Kyu-Hyun.

“Tumben kau pulang dengan bibit bunga?” Sun-Ae mengeluarkan suaranya ketika memasukkan bubur ke dalam mulutnya sendiri. “Biasanya kau membawa pulang tumpukan berkas.”

“Bagaimana dengan laki-laki bernama Dong-Hae itu?”

Sun-Ae menyemburkan bubur dari dalam mulutnya hingga mengenai Kyu-Hyun.

“Aish, jorok sekali gadis ini.” Kyu-Hyun menggerutu sembari mengambilkan Sun-Ae air mineral yang tidak jauh dari mereka. Lalu membersihkan permukaan bibir Sun-Ae yang terkena bubur. Kyu-Hyun tersenyum geli ketika wajah Sun-Ae memerah, kemudian ia pergi untuk menata pot-pot berisi bibit bunga di area taman kecil dekat balkon. Setelah kembali, ia duduk di atas karpet lembut dan hangat bersama Sun-Ae. “Kau menyukainya?”

Sun-Ae merasa Kyu-Hyun memijat kaki kanannya. “Kau tahu?”

Kyu-Hyun menyindir. “Aku punya enam mata. Dua untuk mengawasimu. Dua untuk Ni-Young dan dua lainnya befungsi seperti orang normal. Sudah mengerti?”

Sun-Ae mendengus. “Belum.” Kemudian ia melanjutkan. “Iya, aku menyukai laki-laki bernama Dong-Hae itu. Dia sudah mengatakan bahwa menyukaiku juga. Tapi aku belum memberikan jawaban.”

Wajah Kyu-Hyun berubah serius. “Kenapa belum?”

“Aku masih ingin fokus kuliah.”

“Bukan karena aku?”

“Bukan.”

Kyu-Hyun mengangguk. Ia memijat kaki Sun-Ae dan Sun-Ae menyuapinya bubur ayam yang hangat. Mereka berbincang-bincang banyak malam itu. Mengenai Ni-Young dan Dong-Hae juga. Hingga jam menunjukkan pukul sebelas, Kyu-Hyun mengantarkan Sun-Ae ke kamarnya.

“Selamat malam, Kyu.”

“Hmm, selamat malam.”

“Kyu,” Kyu-Hyun berbalik ketika hendak mematikan lampu di kamar Sun-Ae. Gadis itu menyembulkan kepalanya dari selimut tebal yang membungkus tubuhnya. “Apakah aku pernah mengatakan ini padamu?”

Kyu-Hyun meletakkan kedua tangannya di sisi-sisi pinggang. “Apanya?”

“Aku bersyukur memilikimu sebagai kakakku. Aku sangat bersyukur karena terlahir sebagai adikmu. Terima kasih banyak.”

Kyu-Hyun tidak menjawab. Ia langsung pergi setelah mematikan lampu.

Sun-Ae menghela napas dan membalik badan. Ah, yang penting ia sudah mengatakannya. Kyu-Hyun saja yang sedingin es. Makanya ia bersikap begitu.

“Dan apakah aku sudah pernah mengatakan ini?” Sun-Ae berbalik dan menemukan Kyu-Hyun yang sudah masuk ke dalam selimutnya. “Aku sudah bilang belum kalau aku selalu direpotkan olehmu?”

“Kenapa kau di sini?”

“Aku ingin menemani adikku tidur. Dia takut petir. Sudah aku bilang, dia itu merepotkan.”

Sun-Ae tersenyum, lalu ia masuk ke dalam pelukan Kyu-Hyun. Pelukan Kyu-Hyun selalu menjadi tempat terbaik karena dalam pelukan Kyu-Hyun, Sun-Ae dapat merasakan pelukan ayah dan juga pelukan ibu.

“Apa aku pernah bilang kalau aku sangat menyayangimu, Sun-Ae-ya?”

Suara Kyu-Hyun itu lemah, juga terdengar mengantuk. Dia bicara setelah lima belas menit mereka menutup mata. Namun Sun-Ae masih bisa mendengarnya walau samar.

“Dan mengenai laki-laki bernama Dong-Hae itu, kalau kau yakin dia yang terbaik, pilihlah dia. Terima dia dan sayangi dia. Kau itu sama sepertiku, memilih sekali, setia sekali, sekali hingga akhir. Aku percaya padamu. Hey, kau dengar aku tidak?”

Kyu-Hyun tertawa. Sun-Ae telah bernapas teratur dan terlihat damai dalam pelukannya. Terima kasih Sun-Ae-ya, karenamu, walau harus berakhir seperti ini, aku tidak pernah menyesal terlahir sebagai Cho Kyu-Hyun.

***

Kyu-Hyun baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang ketika mendengar jeritan Sun-Ae. Hari ini hari yang panjang, ada masalah di kantor, tapi syukurlah sudah selesai. Ni-Young sibuk di rumah sakit, Sun-Ae dua minggu ini sibuk dengan tugas akhirnya. Kyu-Hyun merindukan suara gadis-gadisnya yang cerewet. Yang satu baru saja selesai menelpon untuk mengingatkan makan dan berkata agar jangan terlalu lelah, yang satu lagi, empat detik dari sekarang akan muncul dari balik pintu.

“Kyu?”

“Hmm?”

“Kau tidur?”

“Hmm.”

“Kau tidak tidur.”

Kyu-Hyun dapat mendengar suara langkah Sun-Ae. Kyu-Hyun merasa kasurnya bergerak dan benda empuk meloncat-loncat di perutnya.

“Terima kasih, ya!”

“Hmm.”

Kyu-Hyun belum membuka matanya. Ia penasaran apa yang akan di lakukan Sun-Ae sekarang.

“Kau lelah sekali, ya?”

“Hmm.”

“Bicaramu hanya sedikit.” Sun-Ae duduk bersila di atas kasur Kyu-Hyun. Sesekali ia bicara dengan boneka beruang yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhnya. Pulang kuliah tadi, Sun-Ae menemukan boneka itu tidur atau lebih tepatnya tergeletak di atas ranjangnya. Dan itu pemberian dari Kyu-Hyun. “Maaf aku mulai jarang menemanimu, kau tahu kan aku ini orang sibuk?” Sun-Ae mengelus perut Kyu-Hyun menggunakan tangan bonekanya, sementara Kyu-Hyun mati-matian menahan geli. “Maaf karena aku tidak pernah membeli makanan dan merawat bunga-bunga kita lagi.” Sekarang Sun-Ae pindah menggelitik telapak kaki Kyu-Hyun dengan bulu-bulu lembut dari bonekanya. “Maaf aku melakukan ini karena aku tidak mengijinkanmu tidur~”

“Ya! Cho Sun-Ae! Geli!”

Kyu-Hyun bangkit dengan wajah semerah apel. Sun-Ae memang tahu caranya membuat Kyu-Hyun gemas.

“Siapa namanya?”

Sun-Ae tertawa. “Boneka ini?”

“Iya, kau belum memberinya nama?”

“Belum. Siapa ya namanya?” Sun-Ae memutar matanya. “Ah, aku tidak pandai memberikan nama, kau saja yang memberinya nama. Berhubung dia perempuan, carilah nama yang feminim.”

“Ae-Hyun saja,” kata Kyu-Hyun lembut. “Namamu dan namaku.”

“Tidak buruk,” sahut Sun-Ae sambil memainkan bonekanya. “Omong-omong, kenapa kau memberiku boneka ini? Sekarang bahkan bukan ulang tahunku.”

Kyu-Hyun tersenyum. Ia memerhatikan boneka yang ia berikan pada Sun-Ae. “Entahlah, boneka ini terlihat kesepian ketika dipajang di toko. Jadi aku membelinya untuk menemanimu. Agar kau tidak merasa sendiri, agar kau punya teman selain aku.”

Sun-Ae menatap Kyu-Hyun dalam-dalam. “Aku tidak butuh apapun. Aku sudah punya kau.”

“Aku tahu,” Kyu-Hyun tersenyum pada Sun-Ae dan Sun-Ae baru tersadar bahwa kakaknya itu semakin kurus. “Maksudku, kalau nanti aku sudah tidak bisa lagi menemanimu.”

***

Sejak Sun-Ae marah-marah dan melarang Kyu-Hyun berpikir yang tidak-tidak, semuanya terasa lebih ringan. Percaya atau tidak, semuanya terasa jauh lebih mudah. Mudah bagi Kyu-Hyun, juga mudah bagi Sun-Ae. Mereka hidup seperti biasa dengan pertengkaran yang tak jarang mengiringi. Hubungan Kyu-Hyun dengan Ni-Young bahkan terasa jauh lebih baik dari sebelumnya, saking bahagianya, Kyu-Hyun bahkan bersedia jika ia mati besok.

Kyu-Hyun boleh merasa dua bulan sejak hari itu berlalu dengan cepat. Ternyata menjalani hidup setelah mengetahui kabar itu tidak semenakutkan dugaannya. Ternyata bisa lebih ringan. Sedikit. Setidaknya Kyu-Hyun harus baik-baik saja di hadapan Ni-Young dan Sun-Ae, juga kedua orang tuanya.

Kyu-Hyun sering tertidur di dalam mobil karena tidak sanggup menahan rasa sakit. Ia tidak berani memperlihatkan wajah pucatnya di hadapan siapapun. Bagi Kyu-Hyun, ditanya ini itu lebih mengerikan daripada meregang nyawa sendirian. Tapi tidak apa-apa, toh hebatnya rasa sakit itu hanya datang sesekali. Sebulan lalu sesekali. Sekarang hampir setiap hari.

Kyu-Hyun memasuki kamar Sun-Ae yang selalu rapi, salah satu alasan Kyu-Hyun percaya bahwa Sun-Ae benar-benar jelmaan hidup dari Ibu mereka. Kamar itu tidak pernah berantakan. Posisi setiap barang di sana selalu sama setiap kali Kyu-Hyun masuk, bahkan kadang-kadang terlihat lengang. Mungkin Sun-Ae membuangnya kalau dia sudah bosan. Entahlah.

Kyu-Hyun duduk di kursi meja rias Sun-Ae. Ia memerhatikan cermin, pasti gadis itu berlama-lama pagi hari tadi memandang wajahnya yang tanpa ekspresi itu. Kyu-Hyun terkekeh, seperti wajahnya punya banyak ekspresi saja.

“Jangan katakan ini padanya,” Kyu-Hyun memicing pada boneka besar di sudut ruangan. Boneka itu adalah Ae-Hyun yang kini telah menjadi anggota baru di apartemen mereka.

“Aku bertemu dengannya pertama kali ketika kelopak sakura pertama gugur.”

Kyu-Hyun manggut-manggut. Oh… bertemu Dong-Hae saat musim semi, ya? Klasik sekali si ratu es itu.

Kyu-Hyun membolak balik buku harian Sun-Ae selama tiga puluh menit penuh. Kyu-Hyun yakin jika Sun-Ae melihatnya, ia akan tinggal nama.

Tapi itu kan kalau Sun-Ae lihat, kalau tidak ya Cho Kyu-Hyun masih aman.

Cho Kyu-Hyun mungkin terlalu terkejut melihat tulisan-tulisan adiknya itu. Terkadang ia tersenyum, menggerutu, mengoceh dan bicara pada buku harian Sun-Ae seakan benda itu mengerti. Kyu-Hyun berada dalam keadaan antara percaya tidak percaya apa yang disampaikan gadis itu dalam tulisannya. Tapi kemudian akhirnya Kyu-Hyun tersneyum tipis, ia sadar, hidup mereka memang seindah itu. Mereka berdua, Cho Kyu-Hyun dan Cho Sun-Ae, memang bertingkah konyol dan tertawa sebanyak itu.

Sampai di pertengahan buku harian Sun-Ae, Kyu-Hyun terlena dengan kenangan mereka atau keluh kesah Sun-Ae yang ia tuangkan di sana. Tidak ada banyak nama, hanya ada orang tua mereka, Kyu-Hyun, sesekali Ni-Young dan belakangan nama Dong-Hae sering disebut. Kyu-Hyun tersenyum bangga, selamat, Lee Dong-Hae. Kau berhasil mencairkan musim dingin yang selama ini beku.

Kau mendapatkan restu dariku.

Berarti aku menginjinkanmu menjaganya, belum memilikinya.

Cho Kyu-Hyun tercenung ketika sampai di halaman tengah, di sana hanya ada satu baris kalimat, tidak seperti halaman-halaman sebelumnya. Pesannya singkat, namun Kyu-Hyun seakan mengerti bahwa hal itu adalah hal terbesar yang diinginkan Sun-Ae saat ini. Juga diinginkan Kyu-Hyun sendiri. Kyu-Hyun menatap gambar dirinya yang ada di halaman tersebut. Sun-Ae bilang itu adalah potongan rambut favoritnya. Sun-Ae bilang Kyu-Hyun terlihat gagah seperti itu. Sun-Ae bilang ia bahagia melihat senyum Kyu-Hyun yang seperti itu.

Kyu-Hyun mendengus ketika melihat air matanya yang jatuh. Hari ini hari kelulusan adikmu, harusnya jangan bersedih, Cho Kyu-Hyun.

Tapi tidak bisa.

Kyu-Hyun menangis saat sebaris kalimat itu berputar-putar di benaknya. Sebaris kalimat rapi dengan tinta perak yang masih harum, dengan goresan cantik khas Sun-Ae yang mampu membuat Kyu-Hyun lupa caranya bernapas.

Sebuah harapan tulus yang sederhana, sesederhana kebahagiaan mereka.

“Aku harap Cho Kyu-Hyun hidup selamanya.”

***

Ternyata Kyu-Hyun masih dapat bertahan di antara rasa takut yang mengerikan itu. Ini sudah hampir pengujung tahun, yang berarti dugaan Dokter salah. Tentu saja Kyu-Hyun bisa sembuh. Tapi bahkan hal itu terdengar mustahil di telinga Kyu-Hyun sendiri. Paling tidak sekarang ia tidak takut ketika memasuki apartemen dan menemukan Sun-Ae yang khawatir mengenai keadaannya, walaupun Kyu-Hyun menolak setiap kali Sun-Ae mengajaknya ke rumah sakit dengan alasan bahwa ia merasa sehat, tapi tetap saja Kyu-Hyun tidak percaya. ia tidak percaya bahwa ia akan baik-baik saja.

“Kenapa mengajakku ke sini?”

“Aku kan sudah bilang diam saja dan turuti aku. Lalu aku akan menuruti keinginanmu.”

Kyu-Hyun duduk di bangku taman di belakang bekas kampusnya dulu. Taman itu sepi karena cuacanya sama sekali buruk untuk duduk diam saja di taman yang dingin itu. Walau matahri masih ada, tapi sore ini terasa gelap dan mendung, mungkin malam nanti akan turun hujan lebat.

“Kyu, badanmu dingin sekali. Ayo ke rumah sakit.”

“Aku punya mimpi, Youngie. Kalau kita menikah nanti, kita punya anak, aku ingin mengajak kalian ke tempat-tempat di mana aku bersekolah dulu. Aku ingin bercerita pada anak-anakku bahwa di sinilah aku tumbuh, aku belajar dengan giat hingga seperti sekarang ini. Kemudian aku akan bercerita pada anak pertamaku, bahwa ketika di sekolah menengah atas, ketika aku sakit dan di rawat di ruang kesehatan, saat itulah aku bertemu Ibunya. Mungkin aku akan menyarankan anakku untuk berpura-pura sakit agar bisa bertemu dengan calon menantuku di ruang kesehatan. Bagaimana menurutmu?”

Ni-Young tertawa, tapi matanya berair melihat rambut Kyu-Hyun yang diterbangkan angin sore. Sementara laki-laki itu menyandarkan kepala di bahunya. “Aku tidak akan mengijinkan anakku mengikuti jejakmu. Aku tidak ingin dia gila kerja sepertimu.”

Kyu-Hyun tersenyum, dan Ni-Young menangis.

“Andai bisa kita punya anak.”

“Pasti bisa.”

“Andai bisa aku menikahimu.”

Ni-Young menghapus air matanya.

“Harus bisa.”

“Aku ingin mendengarnya,” kata Kyu-Hyun lemah bagai embusan angin. Ketika itu Ni-Young tidak lagi berusaha menghapus air matanya yang mengalir deras. “Park Ni-Young, bersediakah kau menikah denganku?”

Suara Kyu-Hyun terdengar berat, lemah, sarat akan penderitaan serta luka. Bahkan ketika mengutarakan niatnya itu Kyu-Hyun tidak menatap Ni-Young. Ia sudah terlalu lemah di dalam pelukan Ni-Young.

Ni-Young sendiri tidak ingin menatap Kyu-Hyun. Ni-Young tahu bahwa Kyu-Hyun mengatakannya dengan susah payah, setelah mengumpulkan seluruh tenaganya. Tapi Ni-Young bahagia, setidaknya ia bisa mendengar secara langsung bahwa laki-laki yang selama ini menghuni hatinya ternyata benar-benar tulus mencintainya.

“Aku bersedia.”

Ni-Young membisikkannya di telinga Kyu-Hyun ketika ia membawa Kyu-Hyun masuk ke dalam dekapannya. Walau samar, ia melihat Kyu-Hyun mengangguk pelan, lalu tersenyum, lalu Cho Kyu-Hyun tertidur di sana. Ni-Young melihat Cho Kyu-Hyun sangat pulas dan damai di dalam pelukannya, yang ia bilang selalu menjadi tempat kesukaannya.

***

Kau, Park Ni-Young, adalah wanita terhebat yang pernah kutemui selain Sun-Ae dan Ibu.

Bahkan ketika kau mengetahui semuanya, kau hanya diam. Kau tidak ingin melukaiku. Kau melindungiku dari rasa sakit. Dan itu adalah obat terbaik yang mampu menyembuhkanku.

Terima kasih.

Terima kasih karena telah sabar menghadapiku selama ini. Hampir enam tahun, kau terjebak bersama Cho Kyu-Hyun yang kau bilang sekeras batu ini, lalu kenapa kau tidak tinggalkan saja aku?

Cincin ini jangan kau buang. Bisakah kau memakainya pada saat pemakamanku? Atau pakailah sesekali kalau kau rindu aku.

Musim dingin tahun depan mungkin akan terasa lebih berat, tapi jangan menangis. Kita semua tahu ini adalah jalan terbaik. Musim dingin tahun depan, walau sudah tidak ada aku, kau tidak keberatankan mengunjungi Sun-Ae? Dia kadang lupa memasang penghangat ruangan. Tolong jaga dia seperti kau menjagaku, Youngie. Dan maaf merepotkanmu.

Sun-Ae mungkin akan mengamuk kalau dia tahu aku menulis hal-hal seperti ini. Tapi mungkin seperti inilah perasaan seseorang yang sebentar lagi akan pergi. Aku merasa dunia berputar begitu lambat. Saat tidur di malam hari, aku sering terbangun untuk memastikan bahwa aku masih bisa bangun. Bahwa aku masih bisa melihat matahari besok pagi. Dan itu sungguh menyiksa.

Kalau kau menerima surat ini, berarti sesuatu telah terjadi dan aku tidak menyesal karena menulisnya. Setidaknya melalui surat ini, aku ingin menyampaikan apa yang tidak bisa kusampaikan secara langsung kepadamu.

Aku ingin minta maaf. Maaf karena merepotkanmu, maaf karena membuatmu cemas. Maaf belum bisa menjadi Cho Kyu-Hyun yang baik untukmu. Maaf belum bisa menepati janjiku untuk menjadi ayah dari anak-anakmu.

Setelah ini, aku harap kau bahagia.

Keluarlah lebih sering, temui teman-temanmu, tertawalah lebih banyak dan jangan pernah takut untuk membuka hatimu kembali.

Kau harus tahu bahwa aku selalu mensyukuri hari dimana aku mengenalmu.

Aku adalah Cho Kyu-Hyun yang beruntung karena pernah memilikimu.

Walau telah hampir satu tahun berlalu, Ni-Young masih saja merasa bahwa kemarin adalah pertama kalinya ia melihat Kyu-Hyun di ruang kesehatan. Lalu mereka terpisah untuk beberapa saat, kemudian ketika kembali, laki-laki itu, Cho Kyu-Hyun, dengan tidak tahu malunya datang pada Ni-Young dan meminta hatinya. Dan laki-laki itu begitu jahat. Sekarang ia pergi dan membawa hati Ni-Young bersamanya.

Rasanya Cho Kyu-Hyun selalu ada di dekatnya ketika ia mencium wangi hujan. Rasanya baru kemarin Cho Kyu-Hyun menata pot-pot kecil berisi bunga warna-warni di pekarangan rumahnya. Rasanya baru kemarin Kyu-Hyun menciumnya. Rasanya baru semalam Kyu-Hyun menelponnya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa tidur.

“Bunganya cantik, Kyu. Seperti katamu, mereka warna-warni.”

Walau basah karena hujan, bluebells, lily calla, mawar dan beberapa Hydrangea di pekarangan Ni-Young terlihat cantik. Mereka bermekaran dengan indahnya. Sayang sekali Kyu-Hyun tidak di sini, tidak melihatnya. Padahal laki-laki itu berjanji bahwa ia akan menemani Ni-Young menikmati keindahan bunga-bunga itu.

Jauh sebelum Kyu-Hyun pergi, Ni-Young sudah tahu bahwa Kyu-Hyun sakit. Awalnya Ni-Young curiga dengan kondisi Kyu-Hyun, ia bertanya pada Sun-Ae dan ketika mengatakannya Sun-Ae tidak bisa berhenti menangis. Ni-Young juga menangis, terlebih karena Kyu-Hyun menolak melakukan pengobatan. Tapi Ni-Young tidak menyangka kanker otak itu merebut Kyu-Hyun darinya begitu cepat.

Sepertinya Kyu-Hyun tahu itu. Kyu-Hyun tahu bahwa Ni-Young tahu akan sakitnya, tapi dia juga hanya diam. Mereka berdua sama-sama diam untuk saling melindungi. Yang terjadi biarlah terjadi. Bagi Kyu-Hyun dan Ni-Young, cepat atau lambat mereka pasti juga akan terpisah, waktu akan menjawab segalanya.

Bagaimana pun, bahkan hingga detik ini Ni-Young masih sering tidur di apartemen Kyu-Hyun. Ia tidur di kamar Kyu-Hyun dan merasakan keberadaan laki-laki itu di sana. Ketika memasak makan malam dengan Sun-Ae, mereka juga selalu membuat makanan kesukaan Kyu-Hyun. Lalu berandai-andai jika Kyu-Hyun juga ada di tengah-tengah mereka. Duduk di kursi meja makan yang kini selalu kosong. Pasti akan lebih baik jika Kyu-Hyun duduk berdua dengan Ni-Young sambil menceramahi Sun-Ae dan Dong-Hae ketika makan malam. Lalu mereka akan tertawa berempat. Semuanya akan lebih baik kalau Kyu-Hyun menasehati adiknya tentang apa yang baik dilakukan dan apa yang tidak semetinya dilakukan. Pasti lebih baik kalau Kyu-Hyun ada di rumah. Di tengah-tengah mereka. Kalau Cho Kyu-Hyun menyebalkan itu pulang lagi, seandainya Cho Kyu-Hyun kembali lagi, semuanya pasti akan lebih baik.

***

“Itu bunga Kyu-Hyun.” Air mata Sun-Ae mengalir tenang di permukaan pipinya. Ia bersandar di dada Dong-Hae sambil melihat derasnya hujan yang turun di balkon. Taman kecil di sana juga basah. “Aku tidak terlalu suka bunga berwarna putih, menurutku putih melambangkan begitu banyak kesedihan. Tapi Cho Kyu-Hyun menyukainya.”

Dong-Hae mengelus rambut Sun-Ae. “Bunga yang di dekat pagar kayu itu?”

Sun-Ae mengangguk. “Lily of the Valley, itu bunga Kyu-Hyun. Yang basah karena hujan itu, itu bunga Kyu-Hyun.”

“Kyu-Hyun sangat menyayangimu, jangan menangis lagi. Dia pasti tidak suka melihatnya.” Dong-Hae menghapus air mata Sun-Ae ketika gadis itu duduk menghadap taman. “Tunggu di sini, kubuatkan cokelat panas agar kau merasa lebih baik.”

Sepeninggal Dong-Hae, Sun-Ae melihat bunga-bunga yang ditanam Kyu-Hyun. Sun-Ae tidak tahu jika dengan melihat bunga-bunga itu ia akan semakin merindukan Kyu-Hyun. Salahkah Sun-Ae kalau ia berharap bahwa Kyu-Hyun akan pulang dan memarahinya karena tidak menyiram bunga-bunganya lagi? Salahkah Sun-Ae kalau ia berharap akan ada Kyu-Hyun yang ribut di ruang TV setiap hari minggu pagi? Salahkah Sun-Ae kalau ia berharap Kyu-Hyun di sini, dan tidak akan meninggalkannya lagi?

Gadis kecil, kau lupa siapa aku? Aku ini Cho Kyu-Hyun. Cho Kyu-Hyun! Aku akan hidup seribu tahun lagi untuk menjagamu. Aku akan hidup selamanya untuk melindungimu. Sekarang jangan menangis dan ingat pesanku baik-baik. Jadilah wanita hebat yang selalu bisa kubanggakan. Jangan terlalu dingin pada laki-laki. Dong-hae laki-laki yang baik. Aku mulai sering bertemu dengannya tanpa diketahui olehmu, sepertinya dia menyayangimu sepenuh hati.

Jangan lupa sikat gigi dan cuci wajahmu sebelum tidur. Matikan lampu di ruang tengah dan jangan lupa memeriksa pintu dan jendela. Nyalakan penghangat ruangan saat musim dingin. Jangan makan es krim saat musim dingin! Pakai mantel saat musim dingin.

Aku tidak mau kau jatuh sakit.

Keinginanku saat aku kecil adalah aku ingin selalu bisa membuatmu tertawa.

Keinginanku saat ini adalah aku ingin melihatmu tertawa sebanyak mungkin walau bukan dengan atau karena aku.

Mudahkan?

Setelah ini aku tidak ingin melihatmu menangis atau bersedih, kau sudah sangat besar Sun-Ae-ya. Jangan membuatku cemas. Kau harus hidup dengan bahagia, kalau kau mau aku bahagia.

Aku menyayangimu, Sun-Ae-ya. Sangat. Maaf aku belum bisa menepati semua janji-janji kita, termasuk hadir dan melihatmu mengucap janji bersama laki-laki pilihanmu kelak. Maafkan aku kita menjadi seperti ini.

Kau tenang saja, waktu akan berlalu dengan sangat cepat dan pasti banyak sekali yang akan berubah.

Semuanya akan berubah, tapi tidak rasa sayangku pada gadis kecil bernama Sun-Ae yang senang tidur di atas perutku.

Sun-Ae-ya, kau harus makan yang banyak! Aku menyayangimu.

Sun-Ae selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis ketika membaca tulisan Kyu-Hyun di lembar terakhir buku hariannya itu. Tapi tidak berhasil. Tulisan itu menyatakan bahwa Kyu-Hyun selalu mengawasinya. Sun-Ae bahkan tidak tahu bahwa Kyu-Hyun akan sedetail itu. kakaknya yang ia pikir tidak bisa bersikap manis ternyata dapat terasa sangat hangat dengan caranya sendiri. Bagi Sun-Ae, Kyu-Hyun adalah Lily of the Valley putih yang sedang basah karena hujan yang turun hari ini. Setiap kali melihat bunga itu. ia akan teringat pada Kyu-Hyun. Teringat pada ketulusan yang terselip dalam kesedihannya selama ini. Ketulusan Cho Kyu-Hyun dimana ia tidak ingin semua orang mencemaskannya. ketulusan Kyu-Hyun ketika menginginkan segalanya yang terbaik untuknya. Bahkan di saat-saat sakit seperti itu, Kyu-Hyun masih saja mengkahawatirkannya.

“Aku kan sudah bilang, tidak baik berlarian ketika hujan. Jalanan licin dan kau bisa saja jatuh! Sekarang kau benar-benar jatuh dan lututmu berdarah! Kau mau dimarahi ibu?”

“Kyu, kau menggigil. Kenapa kau malah bermain hujan saat aku menangis tadi?”

“Bodoh. Aku membeli plester luka agar lututmu tidak berdarah lagi. Bodoh sekali kau ini. Dasar ceroboh. Ayo pulang!”

“Kyu, kenapa kau marah-marah?”

“Jelas aku marah! Aku kesal melihatmu yang tidak bisa menjaga diri. Sepuluh tahun, dua puluh tahun, kalau sampai nanti kau tetap seperti ini, kau pikir aku bisa hidup tenang?”

“Kau jahat. Aku terluka dan kau marah-marah. Aku benci kau.”

“Terserah. Ayo pulang.”

“Aku benci punya kakak sepertimu.”

“Terserah.”

“Kau jahat.”

“Iya, aku memang jahat.”

Dan Sun-Ae ingat betapa ibu mereka marah-marah ketika ia dan Kyu-Hyun sampai di rumah. Ketika itu Sun-Ae berusia tujuh dan Kyu-Hyun sembilan. Di tengah derasnya hujan sepulang sekolah, Kyu-Hyun menggendongnya. Sun-Ae langsung masuk ke dalam kamar dan Kyu-Hyun dimarahi ibu. Belakangan Sun-Ae tahu bahwa saat itu siku dan lutut Kyu-Hyun berdarah. ia juga terjatuh ketika berlarian panik mencari plester luka untuk Sun-Ae. Waktu itu Kyu-Hyun masih sangat muda, tapi ia tahu bagaimana menyayangi Sun-Ae. Sejak saat itu Sun-Ae berjanji tidak akan membenci Kyu-Hyun bagaimana pun kondisinya. Ia akan selalu menyayangi laki-laki itu sebaik laki-laki itu melindunginya selama ini.

Saat menghapus air matanya sore itu, hujan masih turun dengan derasnya. Sun-Ae tersenyum samar melihat bunga-bunga Kyu-Hyun yang mekar dengan cantiknya. Kyu-Hyun meninggalkan bunga-bunga itu untuk menemani Sun-Ae agar tidak kesepian. Juga Ae-Hyun, Sun-Ae mengintip dari jendela kaca. Melihat Ae-Hyun yang kini tidak duduk sendiri di sudut ruangan. Di hari kepergian Kyu-Hyun, kalau Kyu-Hyun pulang malam itu, Sun-Ae berencana memberikannya kejutan berupa beruang besar yang sama dengan Ae-Hyun, bedanya boneka yang Sun-Ae beli untuk Kyu-Hyun berwarna cokelat. Kyu-Hyun bilang Ae-Hyun akan menjadi teman Sun-Ae ketika Kyu-Hyun tidak dapat menemaninya. Tapi Ae-Hyun yang sendirian terlalu menyedihkan di mata Sun-Ae. Oleh karena itu ia membeli pasangannya.

Sekarang Ae-Hyun tidak sendiri. Tapi Kyu-Hyun yang pergi.

Melihat Ae-Hyun dan pasangannya yang belum diberi nama itu setiap masuk ke apartemen mengingatkan Sun-Ae pada Kyu-Hyun. Dengan begitu, Sun-Ae merasa Kyu-Hyun selalu ada di rumah menunggunya pulang untuk makan malam.

“Oui, cengeng! Sana masuk, di luar dingin.”

Sun-Ae menatap Kyu-Hyun yang berdiri di dekat Lily of the Valley miliknya. “Kyu, di luar hujan. Ayo masuk.”

“Aku akan kembali sekarang. Aku harus pergi, kau sudah menyalakan penghangat ruangan, kan?”

“Sudah. Yang di kamarmu juga sudah. Kau pasti lelah, ingin kubuatkan teh?”

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja sekarang.”

“Benarkah?”

“Iya, kau juga harus baik-baik saja, ya? Aku selalu mengawasimu, gadis kecil.”

“Aku tahu, terima kasih banyak.”

“Sama-sama. Sana masuk.”

“Iya, dasar cerewet. Aku masuk sekarang.”

“Apa lagi? Kenapa masih berdiri di sana?”

“Kyu…”

“Hmm?”

“Semoga kau bahagia.”

***

Thank you. It was the brightest days

Because you were there in my tough life, so I can laugh

Please remember. Please. If there is no one to lean your heart on

I will come. I’m still here for you

-THE END-

5 Comments (+add yours?)

  1. Choanhis13
    Feb 28, 2016 @ 12:58:33

    Keren.. Ah.. Kok nangis sih T_T
    Si kyu-nya sakit apa?? :O

    Reply

  2. XiaoHera
    Feb 29, 2016 @ 05:38:01

    Huaaa…meweek,,,nangis
    si kyu mesti ga ada…

    Reply

  3. uchie vitria
    Feb 29, 2016 @ 19:34:54

    i don’t know why,but pengen sedih tapi gk bisa
    lebih fokus ama sweet momentnya

    Reply

  4. vey
    Mar 01, 2016 @ 11:40:32

    hikssss…sedihhhh bacanya..feelnya dpt bangett

    Reply

  5. Ra
    Mar 11, 2016 @ 17:35:00

    aku nangis parah T_T kerreeennn

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: