If You Ever Come Back

85

Author : Azizashi_You

Tittle : If You Ever Come Back
Cast : Cho Kyuhyun, Kim So-Eun (OC) and other
Genre : Romance
Rating : PG-16
Length : One-Shot

Blog : http://theskystale.wordpress.com/

===For The Sake Of You===

“Kyu-Hyun, kau tidak ingin—“

“Tidak,” sentak Kyu-Hyun cepat. Tanpa repot-repot memandang So-Eun, ia lantas berjalan menuju kamar yang ada di sudut lorong. Mendorong pintunya. Lalu kembali menutup pintunya sebelum masuk ke dalam kamar tersebut. Mengabaikan So-Eun yang masih berdiri mematung di tempatnya. Menatap miris pintu kamar berwarna cokelat pucat tersebut.

So-Eun menghela napas. Menguatkan diri bahwa ia memang harus punya setumpuk kesabaran untuk bisa menghadapi Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun?

Ya, pria itu adalah seseorang yang amat teramat berjasa dalam hidup So-Eun—secara tidak langsung. Tepat ketika empat bulan lalu. Ketika ia dan kedua orang tuanya dalam satu mobil sedang pergi ke suatu tempat. Tidak sengaja mobil mereka mengalami kecelakaan. Bertabrakan dengan mobil lain hingga akhirnya mobil mereka terguling ke trotoar jalan. Menghantam tiang lampu jalanan dan berakhir ringsek karena tertahan pepohonan yang ada di sana. Asap mengepul di mana-mana. Darah bercucuran banyak saat itu. Tak ada yang bisa So-Eun lakukan. Tubuhnya terjepit antara jok mobil yang terbalik. Tapi setidaknya ia masih punya segenap kesadaran. Ia melirik ke samping. Memandang kedua orang tuanya yang berlumuran darah dan tidak bergerak sedikitpun.

Lama berangsur. Seseorang meninju kaca mobil mereka. Tergopoh-gopoh mengeluarkan So-Eun dan kedua orang tuanya dari sana. Tapi naas. Orang tua So-Eun tak ada satupun yang selamat. Keduanya kehilangan nyawa tepat ketika perjalanan menuju rumah sakit. Ayahnya karena mengalami pendarahan di otak akibat benturan yang terlalu keras. Ibunya karena mengalami gagal jantung akibat kecelakaan tersebut.

Hanya tinggal So-Eun seorang diri.

Lalu sebulan berikutnya. Dua orang paruh baya datang padanya. Satu laki-laki dan satu perempuan. Dua-duanya memiliki wajah ramah, senyum hangat, dan mata yang menenangkan. Hal yang sering So-Eun temukan dalam diri kedua orang tuanya. Saat itu, dua orang paruh baya tersebut banyak berbicara padanya. Menyapa hangat dan menanyakan kabar. Meskipun kebingungan, tapi So-Eun tetap menjawab. Masa bodo dengan kenyataan ia tidak mengenal dua orang paruh baya tersebut. Yang penting ia merasa nyaman. Ia merasa kembali memiliki seseorang yang menyayanginya. Layaknya orang tua.

Sebulan berikutnya, hal mengejutkan datang menghampirinya. Tiga puluh hari ia mengenal dua orang paruh baya tersebut. Baru kali itu ia melihat ada guratan kecewa dan prihatin dari pancaran mata mereka. So-Eun tidak mengerti. Apa yang salah? Hingga seseorang datang. Seorang pria tinggi yang tampan dan tegas datang menghampiri mereka. Duduk di antara mereka. Sebelum menyapa acuh kedua orang paruh baya tersebut. Dengan sapaan Ibu dan Ayah

Pria tersebut sangat sempurna di matanya. Mata tajam, hidung tinggi, bibir penuh, badan tegap. Apalagi yang bisa ia katakan tentang pria itu jika bukan sempurna? Ya, itu juga kalau bisa menggambarkan seberapa luar biasanya pria tersebut. Dan entah ia bodoh atau idiot. Tapi untuk pertama kalinya. Ia merasa jatuh hati pada pria tersebut.

Perbincangan dimulai. Dari hal hangat dan biasa ia dengar. Pembicaraan yang penuh tawa semua orang. Minus pria tersebut. Karena yang pria itu lakukan hanya menatap jengah, menghela napas. Sikap yang menunjukkan bahwa pria itu bosan setengah mati. Hingga pembicaraan mereka berangsur serius. Saat itu, ia tidak tahu apakah itu inti pembicaraan mereka atau bukan. Tapi ia merasa dunia memakunya seketika. Sekelilingnya berputar cepat hingga kepalanya pusing. Satu kalimat yang terlontar hati-hati dari salah satu paruh baya di depannya. Satu kalimat yang membuat dunianya… nyaris runtuh.

“Nak, Bibi sama sekali tidak bermaksud kejam padamu, sungguh. Bibi hanya ingin kau tahu yang sesungguhnya. Bahwa yang menabrak mobil orang tuamu dua bulan lalu. Adalah mobil…”

Ia memejamkan mata kuat-kuat saat itu. Ketika sejumput rasa nyeri menjalari sekujur tubuhnya. Saat tahu bahwa yang menabrak mobil kedua orang tuanya dua bulan lalu, adalah Anak mereka. Anak dua orang paruh baya yang belakangan ini sudah membuat dunianya sedikit lebih ringan. Anak dari dua orang paruh baya yang bahkan sudah dianggap orang tuanya sendiri. Pria itu… Anaknya.

“Bibi hanya tidak mau kau merasa kesepian. Bibi tahu kau hanya memiliki kedua orang tuamu, tapi sekarang kau harus menghadapi dunia sendirian. Bibi tidak tega, Nak. Bibi tidak mau gadis sebaik dirimu hidup sendirian tanpa ada yang melindungi. Karena itu, Bibi dan Paman sudah memutuskan untuk menikahkan kalian berdua. Sungguh, kami tidak bermaksud kejam padamu. Kami tahu, kau mungkin berpikir kami seperti monster karena harus menikahkanmu dengan orang yang telah melayangkan nyawa kedua orang tuamu. Tapi itu kami lakukan hanya untuk melindungimu. Kami juga merasa bertanggung jawab atas hidupmu. Karena Anak kami kau harus hidup sendirian di dunia ini. karena itu, biarkan Anak kami juga yang menemanimu di dunia ini. Menikahlah dengannya. Kau mau, kan?”

Ia ingin menolak. Sungguh. Manusia macam apa yang mau menikah dengan orang yang telah melayangkan nyawa orang tuanya? Jika ia melakukannya. Ia hanya akan melukai diri sendiri. Membuatnya kembali teringat akan kedua orang tuanya. Membuatnya kembali teringat dengan masa-masa sulitnya.

Tapi… ia melihat guratan memohon dari dua orang paruh baya tersebut. Ia melihat jelas seberapa sungguhnya permintaan mereka. Kentara sekali dari binaran mata mereka. Dari binaran dua orang paruh baya yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri. Dan tiba-tiba ada sejumput rasa aneh di dalam dirinya. Rasa yang tidak ia mengerti apa artinya. Hingga ia dengan pelan mengangguk.

Dua bulan berikutnya, semua berjalan seperti biasa. Layaknya manusia normal pada umumnya. Bekerja, bertahan hidup, kuliah. Hal yang biasa ia lakukan. Sedikit demi sedikit ia mulai sadar. Bahwa tidak ada gunanya ia berlarut dalam kesedihan apalagi kebimbangan soal pernikahannya. Ah, soal pernikahan dengan orang yang secara tidak langsung telah membunuh orang tuanya. Apa itu kedengarannya begitu kejam? Tadinya ia berpikir hal yang sama. Tapi ia mengerti sekarang. Ia hanya mencoba percaya pada takdir. Bagaimanapun, apapun masa lalu yang pernah dibuat pria tersebut tentang hidupnya. Jika takdir mengatakan mereka berjodoh. Maka apa yang bisa ia lakukan selain… menerimanya?

Hingga ia berakhir di sini. Di rumah mewah besar milik pria itu. Rumah mewah besar milik seseorang yang kini menjadi suaminya.

Rumah milik… Cho Kyu-Hyun.

Sadar bahwa ia sudah lebih dari sepuluh menit berdiri mematung di tempatnya. So-Eun menghela lagi. Berjalan beberapa langkah mendekati pintu yang baru dimasuki Kyu-Hyun. Lantas mengetuknya dua kali.

“Kyu-Hyun, kau harus makan malam dulu. Aku sudah menyiapkan—“

“Makan saja sendiri, bodoh! Jangan menggangguku.”

Bahu So-Eun melemas. Bergumam dalam hati untuk sekali lagi menumpuk kesabarannya di dalam dada. Dengan modal nekat menggeser pegangan pintu. Lalu menyelipkan kepalanya di antara papan pintu dan bingkainya.

“Kyu—“ suara So-Eun tercekat. Tepat ketika matanya lurus menatap Kyu-Hyun yang sedang berbaring di ranjang. Dengan satu kaki terlipat di atas satu kaki lainnya. Sebelah tangan yang tersimpan di dalam saku. Dan satu tangannya lagi terangkat di depan mulut. Memegang sesuatu.

So-Eun masih terpaku. Langsung merasa pusing saat melihat ada kepulan asap yang keluar dari mulut Kyu-Hyun.

“Kyu-Hyun. Jangan merokok di kamar.” Tegurnya pelan. Tapi sanggup untuk menginterupsi kegiatan Kyu-Hyun di atas ranjang. Lalu tanpa mengindahkan ucapan So-Eun, Kyu-Hyun malah semakin menghisap batang rokoknya. Dan tanpa canggung kembali menghembuskan asap yang ia hisap dari rokok tersebut.

Kyu-Hyun menyerigai. Memandang rokoknya sejenak. Lalu beralih pada So-Eun yang masih berdiri di ambang pintu.

“Kenapa? Kau tidak tahan dengan asap rokok?” Tawa remehnya menguar satu kali. “Kampungan.”

So-Eun memejamkan mata sambil menghela napasnya. Meringsek maju hingga berdiri di depan Kyu-Hyun. Mengibas kilat tangannya di udara saat merasakan asap-asap yang mulai mengganggu hidungnya. Lalu dalam sekali gerakan langsung mendekat pada Kyu-Hyun. Merebut paksa rokok yang masih pria itu hisap. Dan menginjaknya di lantai.

“HEY!” jerit Kyu-Hyun sambil mendorong bahu So-Eun kuat. Berhasil membuat gadis itu tersungur jatuh ke lantai. “APA YANG KAU LAKUKAN? HAH!!”

Ia murka. Menatap garang So-Eun dengan napas pendek-pendek. “Kau tahu berapa uang yang harus kukeluarkan untuk membeli sebatang rokoknya? Dan sekarang kau tanpa dosa menginjaknya? Dasar tidak tahu diri!” tatapan Kyu-Hyun memerah. Tangannya terkepal kuat di samping tubuh. “Sudah untung aku mau menampung hidupmu yang menyusahkan itu. Kalau bukan karena aku masih punya tanggung jawab untuk mengurusi hidupmu. Mana mau aku menikah dengan gadis sepertimu.”

Kyu-Hyun mendecih. Melewati tubuh So-Eun yang masih terduduk di lantai. Berjalan ke arah pintu dan membantingnya sebelum berkata. “Tahu begini, lebih baik kau mati saja bersama orang tuamu. Empat bulan lalu!”

_o0o_

Kyu-Hyun memang begitu. Selalu begitu. Tidak pernah bersikap manis padanya. Yang pria itu tahu hanya memakinya, meneriakinya, mendorong tubuhnya hingga terjatuh. Lalu bersumpah serapah bahwa seharusnya ia mati bersama orang tuanya.

Tapi So-Eun sudah terlalu peka untuk hal-hal seperti itu. Ia sudah terbiasa dan menganggapnya nyaris seperti angin lalu. Setiap Kyu-Hyun berteriak marah padanya. So-Eun hanya mensugesti diri, Kyu-Hyun seperti itu hanya karena merasa tidak nyaman dengan larangan So-Eun tentang kebiasaan pria itu. Kebiasaan merokoknya yang akut.

Kyu-Hyun memang seorang pecandu rokok. Dalam sehari tidak terhitung berapa batang rokok yang pria itu hisap. Ia sendiri tidak tahu alasan mengapa pria itu merokok. Dan saat ia menanyakan hal tersebut pada kedua mertuanya. Mereka hanya menjawab bahwa itu pelampiasan Kyu-Hyun. Hidup pria itu terlalu rumit dan melelahkan karena harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain. Membuat Kyu-Hyun nyaris frustasi. Jadi pria itu melampiaskan ke-frustasian-nya pada rokok. Menghisapnya berharap rasa lelahnya bisa hilang.

Kedua mertuanyapun tidak melarang. Kenapa? Karena lebih baik bagi mereka jika Kyu-Hyun melampiaskannya pada rokok daripada pada seks, apalagi obat terlarang.

Tapi tidak bagi So-Eun. Dia sama sekali menentang hal tersebut. Karena dia adalah salah satu penderita alergi asap rokok. Sekali ia menghirup asap rokok—langsung ataupun tidak langsung. Maka paru-parunya akan berkontraksi. Menyempit hingga membuat napasnya sesak. Sudah tak terhitung berapa kali ia menahan sesak napas saat mendapati seluruh ruangan di rumah itu terkena asap rokok Kyu-Hyun.

Dimanapun. Di dapur. Di ruang tengah. Di halaman belakang. Dan sekarang di kamar. Padahal kamar adalah ruangan yang So-Eun dan Kyu-Hyun gunakan untuk istirahat. Apa jadinya ia kalau ruangan tersebut juga terkena asap rokok?

Kyu-Hyun sendiri tidak pernah memperdulikan kondisinya. Pernah sekali So-Eun sesak napas di depan pria itu. Dan Kyu-Hyun hanya mendesah, meninggalkannya sendirian tanpa berhenti menghisap rokoknya. Sikap yang membuat So-Eun terperangah. Terkejut setengah mati tapi tetap tidak bisa membuatnya meninggalkan pria tersebut. Alasannya?

Aku percaya takdir…

Ponsel So-Eun berdering dua kali. Sukses membuatnya kembali ke alam sadar. So-Eun meletakkan majalah yang ia baca ke atas meja. Meraih ponselnya yang ada di sana. Lalu berseru, “Halo?”

“So-Eun?”

Alis So-Eun berkerut. Merasa tak mengenal suara di seberang sana. “Ya,”

“Aku Jong-Woon.”

“Jong-Wopn—Ah, teman Kyu-Hyun?”

So-Eun ingat, saat pesta pernikahannya dengan Kyu-Hyun. Ia pernah bertemu dengan Jong-Woon. Salah satu teman bisnis Kyu-Hyun.

“Benar, kau masih mengingatku?”

“Tentu saja. Ada apa menelepon, Jong-Woon ssi?”

“Ah, itu. Dari tadi aku mencoba menghubungi Kyu-Hyun. Tapi ponselnya tidak aktif. Aku hubungi sekertarisnya juga Kyu-Hyun sedang tidak ada di kantor. Apa Kyu-Hyun ada di rumah?”

So-Eun memutar kepala. Menatap ruang kerja Kyu-Hyun. Tahu betul apa yang sedang pria itu lakukan di dalam sana. Merokok.

“So-Eun ssi?”

So-Eun kembali dari lamunannya lalu berdeham. Mengatur suaranya sebelum berucap. “Ya, Kyu-Hyun ada di rumah. Ada yang ingin kau sampaikan?”

“Ah, tidak usah. Biar aku yang akan ke sana. Beritahu Kyu-Hyun saja aku akan menemuinya setengah jam lagi.”

So-Eun mengangguk dan sambungan telepon terputus. Ia lantas berdiri menghampiri pintu ruang kerja Kyu-Hyun. Sebelum meraih selembar kain yang sudah dibasahi untuk menutup hidung dan mulutnya. Atisipasi jika saat ia membuka pintu ruang kerja Kyu-Hyun akan ada banyak asap yang menusuk hidungnya.

Ia mengetuk pintu ruang kerja Kyu-Hyun dua kali namun tidak ada sahutan. Diketuknya pintu itu sekali lagi namun tetap tidak ada jawaban dari dalam. Maka So-Eun langsung menggeser pintu tersebut. Berdiri di ambang pintu dengan kain yang menutup rapat hidung dan mulutnya. Benar perkiraannya tadi, semua ruangan tersebut sudah tertutup asap.

“Ada apa?” ucap Kyu-Hyun rendah. Masih duduk angkuh di kursi ruang kerjanya.

So-Eun menarik napasnya perlahan. Mengatur dirinya yang mulai merasa sesak. Lalu berkata, “Tadi Jong-Woon menelepon. Katanya dia akan ke sini. Menemuimu. Setengah jam lagi.”

“Jong-Woo?” kepala Kyu-Hyun menoleh. Menatap So-Eun dengan alis berkerut.

“Ya, katanya dia menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif. Jadi dia menghubungiku dan memberitahu akan datang ke sini untuk menemuimu.”

Kyu-Hyun mengagguk lemah. Kembali berbalik dan menghisap rokoknya. Menahannya sebentar lalu menghembuskan napas—yang didominasi asap—ke udara.

“Kyu-Hyun, berhentilah…”

“Diamlah,” kata Kyu-Hyun cepat. Sekali lagi menghisap rokoknya. “Jangan membuat kupingku panas dengan ocehanmu yang tak berguna itu. Sana pergi.”

So-Eun mengalah. Ia mundur selangkah lalu menutup pintu. Sedetik sebelum napasnya tercekat. Tersangkut di tenggorokan hingga membuat lututnya lemas. Ia sudah menahan sesak napasnya sedari tadi dan sekarang So-Eun sudah tak bisa menahannya lagi. Ia terduduk di atas lantai. Memegang dadanya sambil ia tekan kuat-kuat. Meraih ujung bangkai pintu agar ia bisa berdiri.

Lantas terseok-seok berjalan ke dapur. Dengan sisa tenaganya menggeser salah satu laci yang ada di bahwa pantry. Mengambil botol kecil yang ada di sana. Lalu menyemprotkan isinya ke dalam mulut dan hidung. Semenit berikutnya, Ia sudah kembali tenang.

Baiklah, sekarang waktunya ia membersihkan rumah. Menaburkan pewangi ruangan demi menyamarkan bekas asap rokok Kyu-Hyun. Mungkin ia juga harus memasak. Karena sekarang sudah hampir jam makan siang. Setidaknya, dia harus memberi kesan ramah pada tamunya nanti, kan?

_o0o_

Jong-Woon tersenyum ketika ia sudah berdiri di depan pintu rumah Kyu-Hyun. Menekan bel dua kali hingga pintu perlahan terbuka. Menghadirkan sosok cantik di baliknya. Sejenak, Jong-Woon tak bisa berkedip. Tetap terpaku dan merasa sekujur tubuhnya membeku. Bukan pertemuan pertamanya memang, tapi ia selalu saja bereaksi seperti itu jika bertemu dengan So-Eun.

“Jong-Woon ssi?”

Jong-Woon mengerjap. Tersenyum tipis. Lalu bersapa ramah. “Apa kabar So-Eun ssi?”

Astaga, jantung Jong-Woon serasa dipompa ketika melihat senyum So-Eun merekah. Oke, baiklah. Tenangkan dirimu Jong-Woon. Jangan sampai terlihat bodoh di depannya.

“Silahkan masuk,”

Tubuh So-Eun bergeser sedikit untuk memberi ruang Jong-Woon untuk masuk. Ia lantas mengekori gadis itu dari balakang. Menatap ke sekeliling dengan pandangan takjub. Bergumam dalam hati bahwa Cho Kyu-Hyun benar-benar kaya.

“Silahkan duduk,” menyadari So-Eun kembali berbicara padanya. Jong-Woon lantas tersenyum kecil dan mendudukkan diri pada sofa panjang yang ada di ruang tengah. Sejenak menatap jejeran majalah resep yang ada di atas meja. Lalu tanpa sadar tersenyum—lagi.

“Kau suka memasak, ya?” Jong-Woon mendongak. Menatap So-Eun yang sedang berjalan menuju dapur. Tapi yang ia dengar hanya kekehan pelan dari gadis tersebut. Kekehan yang membuat wajahnya memanas. Oh, apa-apaan dia?

“Begitulah, Oh, ya. Jong-Woon ssi. Kau mau minum apa?”

“Apa saja.”

Dua menit berikutnya So-Eun sudah kembali dengan segelas jus jeruk di atas nampan yang ia bawa. Lalu meletakkan gelas tersebut ke atas meja. “Wow, kau tahu sekali di luar sana begitu panas?” kata Jong-Woon sambil meraih gelas tersebut. “Rasanya aku bisa kering kerontang jika lama-lama berada di luar sana. Ah, jus ini menyelamatkanku.” Lanjutnya bercanda. Langsung meneguk setengah jus tersebut.

So-Eun tersenyum simpul. Hingga matanya menyipit sedikit. Merasa terhibur dengan candaan Jong-Woon yang sedikit menggelitik hatinya. Ah, dia lupa. Jong-Woon memang orang yang menyenangkan.

“Sebentar. Aku panggilkan Kyu-Hyun.”

Jong-Woon mengangguk. Kembali meletakkan gelasnya di atas meja lalu menatap So-Eun yang mulai melangkah menjauh. Agak heran memang, ketika ia mendapati So-Eun meraih selembar kain dan membasahinya, lalu menempelkan kain tersebut di dekat mulut dan hidung. Sebelum mengetuk pintu sebuah ruangan dan masuk ke dalamnya.

Sambil menunggu So-Eun dan Kyu-Hyun. Ia melihat sekeliling. Berdecak kagum sambil memandangi desain interior rumah itu. Mewah, mahal, apalagi yang bisa ia katakan? Ah, tidak salah. Kyu-Hyun memang salah satu pebisnis muda yang dikenal sebagai orang yang telaten dan perfeksionis. Jadi tidak heran bukan kalau rumahnya sebesar ini?

Detik berikutnya pandangan Jong-Woon sudah menjalar ke sisi-sisi dinding. Tempat beberapa lukisan indah terpajang di sana. Juga ada beberapa piagam penghargaan. Mungkin itu piagam Kyu-Hyun. Karena setahu Jong-Woon, pria itu memang pernah mendapat penghargaan khusus dari pemerintah atas kesuksesan dan hasil kerja kerasnya membangun perusahaan yang berdampak baik pada pertumbuhan ekonomi negara. Ugh. Kepalanya saja sudah pusing memikirkan seberapa hebatnya pria sekaligus sahabatnya itu.

Lalu pandangan Jong-Woon teralih saat mendengar pintu dibuka. Menampilkan Kyu-Hyun di baliknya dan So-Eun di belakang pria tersebut. Masih menutupi hidungnya dengan kain yang sama.

Ia sontak berdiri. Menyambut Kyu-Hyun ramah sambil menjabat tangan Kyu-Hyun.

“Lama tidak bertemu. Tuan sukses.” Gurau Jong-Woon ringan. Sama-sama mendudukkan diri di sofa yang sama. “Sindiran yang manis.”

“Tunggu,” Jong-Woon tiba-tiba mengerutkan dahinya. Beralih menghadap Kyu-Hyun lalu membelalakkan mata tak percaya. “Ka-kau belum berhenti merokok?” tebaknya tepat sasaran. Karena ia hanya melihat Kyu-Hyun yang mengangkat bahu acuh. Pantas saja ketika ia duduk bersama dengan pria itu. Jong-Woon merasa ada bau aneh dan dugaannya itu adalah asap rokok.

“Ya Tuhan… kau belum berhenti juga?” katanya mendesis. “Kau bahkan sudah punya istri sekarang.”

“Memangnya kenapa?” jawab Kyu-Hyun sekenanya. “Jadi, ada hal penting apa yang membuatmu datang kemari, Kim Jong-Woon?”

Jong-Woon tersadar. Lalu menarik beberapa map dari dalam tas yang tadi ia bawa. “Ini, aku ingin membicarakan masalah kerja sama proyek kita yang baru di Boston.”

_o0o_

“Wah, masakanmu enak sekali So-Eun ssi.” Ujar Jong-Woon tulus. Masih dengan setengah makanan yang ada di mulutnya.

“Benarkah?” So-Eun berbinar. “Aku tidak tahu kalau masakanku seenak itu.”

Mereka bertiga kini duduk berseberangan di meja makan. So-Eun di samping Kyu-Hyun. Dan Jong-Woon duduk berseberangan dengan mereka. Menyantap makan siang bersama.

“Sungguh, masakanmu enak sekali. Seperti masakan restoran bintang lima. Bukan begitu, Kyu-Hyun?”

Kyu-Hyun tak menjawab. Hanya sibuk menusuk dan memotong daging di piringnya. Membuat Jong-Woon mengerutkan dahi atas sikap Kyu-Hyun tersebut. “Kyu-Hyun—“

“Jong-Woon ssi.” So-Eun buru-buru mengalihkan. Tahu bahwa Kyu-Hyun tidak suka diganggu saat makan. “Apa… kau juga seorang Direktur?” Ah, pertanyaan bodoh macam apa itu?

“Apa?” Jong-Woon mengangkat kedua alisnya namun didetik berikutnya malah terkekeh pelan. “Bukan. Aku hanya manager di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Kyu-Hyun. Karena atasan kami sedang ada urusan. Makanya beliau yang mengutusku untuk bertemu dengan Kyu-Hyun.”

So-Eun mengangguk. “Kenapa? Penampilanku mirip seperti Direktur, ya? Berwibawa. Berkharisma. Tegas. Tidak kalah dengan suamimu.”

Detik itu juga So-Eun tertawa tanpa bisa ditahan. Sikap yang membuat Jong-Woon lagi-lagi tersentak. Menggeram dalam hati saat jantungnya berdesir. Oh, Ya Tuhan… jangan gila. Dia istri sahabatmu!

“Tapi, aku juga seorang pengamat fotografi. Kalau kau mau tahu.”

Mata So-Eun melebar. “Pengamat fotografi?” tanpa sadar tangannya bertepuk ringan. “Wah, keren sekali. Aku belum pernah bertemu dengan pengamat fotografi.”

Jong-Woon menyipit aneh. “Eiy… lain kali biar kutunjukkan padamu seperti apa pengamat fotografi itu.”

So-Eun mengangguk cepat. Hendak kembali meraih sendoknya namun langsung tersentak. Saat bunyi dentingan sendok yang di banting memenuhi ruangan. So-Eun lantas mengalihkan kepalanya ke samping. Menatap Kyu-Hyun dengan alis berkerut.

“Kalian makan berisik sekali.” Katanya rendah. Langsung berdiri dari kursi dan berjalan menuju ruang kerjanya.

“Kyu-Hyun,” tegur So-Eun agak keras. “Makan siangmu belum habis.”

Kyu-Hyun berdiri di depan ruang kerjanya. Membuka pintu tersebut lalu berkata dengan nada tajam. “Nafsu makanku hilang.”

_o0o_

Kyu-Hyun membanting pintu di belakangnya. Lantas melangkahkan kaki ke dekat meja kerjanya. Membuka laci yang ada di sana. Meraih kotak kertas sebesar telapak tangan. Lalu mengeluarkan sesuatu dari kotak tersebut. Lalu menyelipkannya di antara kedua bibirnya. Sebelah tangannya meraih benda yang lain dari dalam saku. Mendekatkan benda tersebut ke dekat mulutnya. Menyundutkan api. Lalu detik berikutnya sudah mengeluarkan asap.

Ah… cukup membuat pikirannya sedikit tenang.

Kyu-Hyun mendudukkan diri di kursi kerjanya. Mengangkat satu kaki ke atas meja dan ditimpa dengan kaki lainnya. Sebelah tangan bertumpu ke lengan kursi. Dan sebelah tangannya memegang rokok yang terus ia hisap.

Makan siang tadi cukup membuatnya pening. Jujur saja, ia tidak pernah suka dengan makan siang yang berisik. Hidupnya perfeksionis. Terstruktur dan konsisten pada satu hal. Itu yang membuatnya bisa sukses seperti sekarang.

Hal-hal tersebut juga Kyu-Hyun terapkan untuk hal-hal kecil yang dilakukannya. Jika bekerja, ya bekerja. Jika bisnis, ya bisnis. Jika makan, ya makan. Jika berbicara, ya berbicara. Tidak boleh dicampur adukkan. Itu mengapa ia merasa pusing dan tidak suka jika makannya terganggu. Seperti makan siang tadi contohnya.

Kyu-Hyun menghisap rokoknya lagi dan itu cukup untuk membuat pusingnya mereda. Ia lalu mengalihkan pandangan ke samping. Melirik ke luar jendela yang masih tertutup rapat. Sampai sesuatu mengusiknya. Seperti suara berisik dari luar ruangan. Mungkin Jong-Woon yang sudah ingin berpamitan pulang.

Sahabatnya yang satu itu memang!

“Kyu-Hyun,”

Kyu-Hyun menoleh ke pintu. Memandang So-Eun di ambang pintu dengan alis berkerut. Tumben sekali gadis itu tidak mengetuk pintu sebelum membukanya.

“Jong-Woon ssi sudah mau pulang.”

Kyu-Hyun mengangguk. Lantas berdiri dan berjalan ke arah pintu sebelum meletekkan rokoknya di atas meja. Menilik sedikit pada So-Eun yang menutup mulut dan hidungnya dengan tangan. Dasar gadis kampungan. Kyu-Hyun sendiri heran mengapa gadis itu terlalu tidak suka dengan asap rokok. Apa dia tidak tahu kalau asap rokok itu sangatlah luar biasa?

“Kyu-Hyun, sepertinya aku tidak bisa lama-lama di sini.”

Kyu-Hyun berjalan menghampiri Jong-Woon lalu mencebikkan bibir. “Setelah memoroti makanan di rumahku. Kau mau pulang begitu saja?”

Jong-Woon terkekeh. “Yang membuat makanan itu kan istrimu. Lagipula dia juga tidak keberatan, kan?”

Kyu-Hyun mendengus dalam hati. Melihat senyum malu-malu gadis itu yang terbit begitu saja. Cih, menjijikkan.

“Kalau begitu. Sampai bertemu lagi. Aku akan menghubungimu jika ada masalah dengan proyek tadi.” kata Jong-Woon sambil berlalu ke arah pintu utama. “Mmm.” Pria itu sedetik berbalik. Memandang So-Eun dengan tatapan berbinar. Dan.. entah mengapa, Kyu-Hyun benci melihatnya.

“So-Eun ssi. Kapan-kapan, aku akan menunjukkan padamu seperti apa pengamat fotografi itu. Kau tidak lupa, kan?” So-Eun hanya mengangguk. Dan menit berikutnya Jong-Woon sudah benar-benar pergi dari rumahnya.

_o0o_

So-Eun kebingungan. Saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan ini sudah waktunya ia untuk tidur. Tapi So-Eun bahkan masih berada di atas sofa. Duduk dengan gelisah sambil meremas piamanya.

Masalahnya, kamar tidurnya dan Kyu-Hyun sudah terkena asap rokok pria itu. Tentu hal tersebut akan berdampak pada sesak napasnya. Lantas, bagaimana caranya So-Eun bisa tidur nyenyak sementara ia harus menahan sesak napas karena asap rokok?

So-Eun menghela napas untuk kesekian kalinya. Sambil melemaskan bahu ia menatap ke pintu kamar yang tertutup. Kyu-Hyun berada di sana dan pria itu pasti sedang merokok. Oh, apa yang harus ia lakukan?

Bukankah ia bisa tidur di kamar lain?

Tentu saja. Rumah ini punya tiga kamar. Dua kamar besar dan satu kamar tamu. Tentu So-Eun bisa menempati dua kamar sisa tersebut. Tapi… dulu. Sebelum pernikahannya dengan Kyu-Hyun, Ibu pria itu sempat memberitahunya. Bahwa Kyu-Hyun harus ditemani saat tidur. Karena jika tidak pria itu akan gelisah setengah mati. Kata Ibu Kyu-Hyun. itu akibat kecelakaan yang terjadi empat bulan lalu. Kenyataan bahwa Kyu-Hyun yang mengakibatkan kecelakaan tersebut akibat keteledorannya, membuat Kyu-Hyun selalu gelisah.

Menurut Ibu Kyu-Hyun. Kyu-Hyun akan selalu bergumam aneh saat ia tertidur sendiri. Mungkin karena merasa bersalah telah menyebabkan kecelakaan hingga menewaskan dua orang sekaligus. Hal itu juga, yang membuat Ibu Kyu-Hyun meminta So-Eun untuk berjanji agar terus menemani Kyu-Hyun untuk tidur. Setidaknya, ketika Kyu-Hyun punya teman saat tertidur. Ia tidak terlalu gelisah.

Dan entah mengapa. Itu memang terjadi. So-Eun selalu menemani Kyu-Hyun tidur selama pernikahan mereka dan tak pernah sekalipun So-Eun melihat Kyu-Hyun gelisah. Hanya kadang-kadang pria itu bergerak kecil namun akhirnya tertidur kembali.

Tapi sekarang, apa yang harus ia lakukan? Tetap menemani Kyu-Hyun dengan menahan sesak napas? Atau tinggalkan saja pria itu dan tidur di kamar lain?

Hati So-Eun tergerak cepat. Mengambil langkah meyakinkan sebelum bangkit dari sofa. Berjalan pelan menuju kamar dan hendak membuka pintu. Terlambat. Karena Kyu-Hyun lebih dulu membuka pintu tersebut. Yang langsung mengebulkan asap ke arahnya. Terang saja. Ini malam hari dan jendela kamar tidak dibuka. Otomatis asap rokok juga hanya berputar-putar di ruangan tersebut. Dan ketika pintu dibuka, semua asap yang ada di dalamnya seolah berlomba keluar dari celah pintu. Oh, astaga. So-Eun sudah menahan napasnya kuat-kuat.

“Kenapa berdiri di situ?” kata Kyu-Hyun pelan. Terkesan malas. “Kau tidak mau tidur?”

So-Eun hendak menjawab. Sudah membuka mulut tapi detik itu juga napasnya tercekat. Tenggorokannya mengering dan dadanya menyempit. Merasa oksigen yang ia hirup berangsur beringsut dari dalam paru-parunya. Dahinya berkerut. Menahan sesak napas.

Kyu-Hyun? Bukannya simpati pria itu malah menaikkan satu sudut bibirnya. Manatap So-Eun dengan pandangan jengah. “Sekedar pemberitahuan. Kamar ini sudah penuh dengan asap rokok. Jadi lebih baik kau tidak usah tidur di sini.” Ujar Kyu-Hyun sambil berjalan ke dapur. Sedetik berikutnya berbalik pada So-Eun. “Tidak usah besar kepala. Aku mengatakan begitu agar aku tidak usah repot-repot mengurusmu yang sesak napas. Cih, baru menghirup sedikit saja kau sudah sesak napas. Bagaimana kalau tidur di dalam sana?” dagu Kyu-Hyun menggedik pada pintu kamar mereka yang masih terbuka. Lalu beralih pada So-Eun yang sekarang sedang menutup mulutnya dengan mata berair.

Hanya sedikit, ingat, sedikit. Tapi Kyu-Hyun merasa ada yang terganggu dalam dirinya ketika melihat So-Eun mengeluarkan air mata seperti itu. Oh, ada apa dengannya?

Kyu-Hyun menggeleng. Mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas lalu meneguknya habis. Lantas berjalan cepat menuju kamarnya kembali. Mengabaikan So-Eun yang masih berdiri mematung. Ia masuk ke dalam kamar tersebut, berbalik menutup pintu. Lalu menghela napas. Sedetik sebelum ia mendengar suara ambruk dari luar kamar. Matanya melebar. Terkesiap seketika.

Apa itu?

Secepat kilat ia berbalik kembali. Meraih gagang pintu namun tiba-tiba terhenti. Berperang sendiri di dalam dirinya.

Suara apa itu? Mungkinkah di luar sana, So-Eun…

Tidak! Untuk apa kau memikirkannya? Apapun yang terjadi pada gadis itu bukan urusanmu.

Tapi…

“Sialan.” Kyu-Hyun menghela. Memejamkan matanya sejenak sebelum berbalik. Berjalan cepat menuju ranjang dan mengeluarkan rokoknya kembali.

Benar. Apapun yang terjadi pada gadis itu. Bukan urusannya.

_o0o_

So-Eun mengedipkan matanya saat merasa tubuhnya menggigil. Ia mengerjap. Sekali, dua kali. Dan dia akhirnya bisa membuka matanya dengan lebar. Menatap sekeliling dengan pandangan bingung sebelum pusing di kepalanya kembali mendera. Tenggorokannya sakit dan So-Eun merasa tubuhnya kedinginan.

Dengan sisa tenaga So-Eun menegakkan tubuhnya. Hingga terduduk di atas lantai dan ia baru sadar kalau ia masih ada di atas lantai. Lantai?

Oh, dia ingat. Tepat ketika Kyu-Hyun menutup pintu. Ia langsung terjatuh pingsan karena sesak napas.

“Ya ampun… dingin sekali.” Gigi So-Eun gemeretak. Otomatis memeluk tubuhnya dengan kedua tangan sambil mencoba berdiri. Berjalan terseok-seok ke dapur untuk mengambil segelas air putih.

Setelah cairan itu membasahi tenggorokannya yang sakit. So-Eun mendesah lemah. Melirik jam yang ada di sudut dinding. Pukul setengah satu pagi.

Pandangannya lalu beralih pada pintu kamar. Ragu sejenak. Apakah ia tetap harus masuk ke kamar itu? Tapi bagaimana jika ia akhirnya sesak napas dan malah pingsan seperti tadi? Tapi bagaimana dengan Kyu-Hyun? Bagaimana jika pria itu…

So-Eun menghela. Nyaris meringis. Dia tidak bisa. Tidak akan pernah bisa membiarkan hal yang buruk terjadi pada Kyu-Hyun. Jadi ia memilih untuk melangkah. Sebelum meraih kain yang sudah ia basahi untuk menutupi mulut dan hidungnya. Tanpa ada ketukan langsung membuka pintu kamar. Melongokkan kepalanya ke dalam dan hanya gelap yang ia dapat.

Kyu-Hyun mungkin sudah tidur.

Ia meraba tangannya ke sisi dinding. Mencari tombol lampu. Hingga ia menemukannnya dan seketika ruangan menjadi terang. Kamar tersebut sudah tidak seperti tadi. Tidak terlalu banyak dikepuli asap meski So-Eun masih bisa merasakan sisa-sisanya. Ia lalu berjalan ke sisi Kyu-Hyun. Meilhat ada puntungnya di lantai. So-Eun menghela, lagi. Ternyata benar, pria itu memang merokok sebelum tertidur.

“Apa kau benar-benar tidak bisa lepas dari benda itu?” tanya So-Eun lirih. Mengangkat tangannya untuk meraih selimut dan menyelimuti tubuh Kyu-Hyun hingga sebatas bahu. Lantas mendudukkan dirinya di samping Kyu-Hyun. Memandang wajah tertidur pria itu.

“Kenapa? Kau merasa tertekan dengan perusahaan. Kenapa kau lampiaskan pada rokok? Kenapa kau memilih untuk menyiksa dirimu sendiri. Kau tahu benar rokok tidak baik untuk kesehatanmu?” So-Eun terkesiap. kembali menarik selimut karena Kyu-Hyun sempat bergerak kecil. Tangannya tanpa kendali mengusap dahi Kyu-Hyun yang berkerut samar. Sadar dimenit berikutnya, bahwa apa yang baru saja dia sentuh. Berkeringat.

“Kyu-Hyun?” pantaunya cepat. Menegakkan tubuh untuk lebih leluasa memandang wajah Kyu-Hyun. Tanpa perduli lagi dengan kain basah yang terjatuh dari hidung dan mulutnya. Tangannya bergerak cepat ke leher pria itu. Lalu beralih pada dahi pria itu lagi. Benar. Kyu-Hyun demam.

“Ya ampun,” serunya panik. Bergerak cepat keluar kamar untuk mengambil handuk basah dan obat penurun panas.

Menit berikutnya ia sudah kembali. Sudah menempelkan handuk yang tadi ia bawa ke dahi Kyu-Hyun. Menarik selimut lebih tinggi lagi. Sampai sebatas dagu.

Inikah, yang dimaksud mertuanya dengan kegelisahan Kyu-Hyun jika tidak ditemani saat tidur? Oh, kenapa dia bodoh sekali. Kenapa dia malah pingsan dan membiarkan Kyu-Hyun tidur sendiri? Lihat bagaimana Kyu-Hyun sekarang? So-Eun terus meruntuki dirinya dalm hati.

So-Eun meraih handuk yang ada di atas dahi Kyu-Hyun. Memasukkannya ke dalam baskom kecil yang ada di atas meja, Lalu meletakkannya kembali ke atas dahi Kyu-Hyun. Memandangi wajah Kyu-Hyun saat tertidur. Damai. Tenang. Berbeda sekali saat pria itu terbangun. Tanpa sadar tangan So-Eun terangkat. Mengusap pelipis Kyu-Hyun yang berkeringat. Namun ia terkesiap seketika.

Saat tiba-tiba tangannya yang mengusap pelipis Kyu-Hyun di genggem erat oleh tangan Kyu-Hyun. Terlalu erat hingga So-Eun tak bisa mengelak sama sekali. Detik dimana Kyu-Hyun menarik tangannya kuat ke dada pria tersebut. Lalu mendekapnya.

Hal yang mebuat jantung So-Eun berdebar. Darahnya berdesir dan wajahnya mendadak memerah. Diperlakukan seperti itu oleh Kyu-Hyun. Membuat So-Eun merasa begitu amat-sangat dibutuhkan. Membuat bibirnya dengan ringan tersenyum dan sebelah tangannya yang bebas malah beralih untuk menepuk-nepuk lengan Kyu-Hyun.

“Tidurlah,” bisik So-Eun pelan. Tapi Kyu-Hyun menggeleng cepat. Masih dengan mata terpejam. Bibirnya bergerak-gerak gelisah. So-Eun kebingungan sekaligus panik. Apa yang harus ia lakukan? Mungkinkah Kyu-Hyun sedang bermimpi buruk di bawah alam sadarnya?

“Kyu—“

“Tidak.”

Mata So-Eun terbelalak. Ia menghela napas satu kali. “Hey, tenanglah. Aku ada di sini. Menemanimu, hmm?”

Kyu-Hyun semakin menggeleng. Dahinya semakin berkeringat dan So-Eun tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan. Hingga tiba-tiba Kyu-Hyun menarik tangannya lebih, membuatnya maju dan tubuh pria itu memiring. Benar-benar erat memeluk tangan So-Eun.

So-Eun menggigit bibirnya. Ragu sejenak sampai akhirnya ia bergerak maju. Membiarkan tangannya dipeluk Kyu-Hyun sementara tubuhnya condong ke arah pria tersebut. Satu tangannya yang bebas beralih mengusap punggung Kyu-Hyun yang bergetar.

“Sstt.. tenanglah… aku menemanimu. Aku di sini.”

_o0o_

Kyu-Hyun membuka matanya yang luar biasa berat. Perlahan. Hingga mendadak cahaya silau menusuk matanya. Satu tangannya terangkat untuk menutupi mata dari cahaya tersebut. Mengerjap berkali-kali hingga matanya bisa beradaptasi dengan cahaya dari luar jendela tersebut.

Saat ia mencoba untuk duduk. Kyu-Hyun baru menyadari bahwa ada yang aneh dengan tubuhnya.

Pertama, ia mendapati di dahinya ada handuk kecil yang basah.

Kedua, ia mendapati tangannya mendekap tangan So-Eun.

Ketiga, ia mendapati tubuh So-Eun yang tertidur di sampingnya.

Otak Kyu-Hyun mendadak kosong. Apa yang terjadi?

Untuk beberapa saat dia masih merasa bingung hingga akhirnya ia terkesiap. Teringat dengan kejadian semalam. Saat mimpi mengerikan itu kembali menghampirinya dan ia gelisah setengah mati. Detik ketika seseorang mengusap pelipisnya. Membuatnya tenang dan menggumamkan bahwa ia ditemani.

Kepala Kyu-Hyun otomatis menunduk. Beralih memandang wajah So-Eun yang tertutup setengah oleh rambut gadis itu. Tanpa kendali, tangan Kyu-Hyun bergerak untuk membenahi rambut-rambut tersebut. Menyelipkannya ke belakang telinga.

Ia baru sadar, bahwa So-Eun mempunyai dahi yang indah. Kulit yang mulus, hidung yang mancung. Alis yang melengkung sempurna. Dan bibir yang… indah. Kyu-Hyun tertawa kecil dalam hati. Kenapa ia baru menyadari keindahan itu sekarang? Kenapa ia baru menyadari bahwa So-Eun benar-benar cantik?

Sesungguhnya, sikapnya yang kasar pada gadis itu. Bukan sepenuhnya karena ia membenci So-Eun. Ia hanya merasa tidak suka. Jika kebiasaannya selama ini diganggu gugat oleh gadis itu. Merokok contohnya. So-Eun sering sekali mengomentarinya yang macam-macam saat mendapati Kyu-Hyun merokok. Padahal hanya rokok satu-satunya yang bisa Kyu-Hyun jadikan pelampiasannya ketika merasa resah, atau kelelahan. Hal itulah yang kemudian membuatnya kerap bersikap kasar pada So-Eun. Dia hanya merasa tidak suka kebiasaannya diganggu. Hanya itu.

Lama merengung, Kyu-Hyun akhirnya menghela napas. Menegakkan tubuh hingga turun dari ranjang. Mungkin dia mulai gila. Karena tangannya justru terangkat untuk menahan punggung dan belakang lutut So-Eun lalu memindahkan gadis itu ke atas ranjang. Menarik selimut hingga menyelimuti tubuh gadis itu sepenuhnya. Apapun namanya, bagaimanapun perasaannya. Kyu-Hyun sadar sekarang. Setidaknya, So-Eun tak seburuk yang ia pikirkan. Ya, jika mengingat bagaimana sikap gadis itu semalam yang terus berusaha menenangkannya. Bagaimana bisa ia masih berpikiran buruk tentang So-Eun?

Kyu-Hyun lalu berbalik hendak keluar kamar. Melirik sebentar ke arah So-Eun sebelum benar-benar menutup pintu. Entah ada setan apa yang merasuki dirinya. Tapi untuk pertama kali, Kyu-Hyun sanggup untuk mengangkat kedua sudut bibirnya. Tersenyum simpul.

_o0o_

Hari ini, Jong-Woon kembali datang ke rumahnya. Bukan untuk membicarakan bisnis dengan Kyu-Hyun melainkan bertemu dengan So-Eun. Pria itu ternyata benar-benar menepati kata-katanya. Ia datang dengan membawa kamera DSLR dengan kacamata hitam dan kostum santai. Dan sekarang pria itu sedang bersenda gurau dengan So-Eun di ruang tamu.

“Woah, aku tidak tahu ada foto sebagus ini.”

Kyu-Hyun berdecak malas. Melipat kedua tangannya di depan dada dengan mata yang fokus menatap layar televisi. Sesekali melirik dari sudut matanya apa yang dua manusia itu lakukan. Dan kali ini Kyu-Hyun melihat Jong-Woon menggeser pantatnya ke arah So-Eun.

Sontak matanya melebar. Punggungnya menegak dalam sekali gerakan dan tatapannya menajam. Lurus menatap dua orang itu. Tapi bahkan tak ada yang menggubrisnya. Jong-Woon dan So-Eun terlalu asik dengan DSLR milik Jong-Woon.

“Coba kau lihat yang ini. Unik sekali bukan? Aku suka sekali dengan foto ini.”

“Kau benar, aku juga—“

BRAKK

So-Eun dan Jong-Woon terkesiap. Kompak mendongak untuk melihat Kyu-Hyun yang membanting pintu kamar. Alis So-Eun terangkat. “Ada apa dengannya?”

Tapi Jong-Woon malah terkekeh kecil. “Mungkin dia cemburu.”

“Ce-cemburu?”

Jong-Woon menggedikkan bahunya acuh. Menatap pintu kamar So-Eun dan Kyu-Hyun dengan berbagai ekspresi. “Dari tadi aku sudah memperhatikan gerak-geriknya. Dia memang tenang menonton TV tapi dia tidak bisa membohongiku. Tadi saja, waktu aku bergeser mendekat padamu. Dia langsung melotot.”

Kali ini mata So-Eun yang melebar. “Benarkah?”

Tersenyum, Jong-Woon kemudian membenahi peralatan yang ia bawa. Termasuk kameranya. Memasukkan barang-barang tersebut ke dalam tas. Sebelum berujar pada So-Eun. “Sebaiknya kau bujuk suamimu itu dulu. Kyu-Hyun agak mengerikan kalau sedang marah.”

Dahi So-Eun berkerut samar. “Tapi kau baru ada di sini setengah jam dan—“

“Dan?” potong Jong-Woon dengan alis terangkat. “Kau lebih suka berduaan denganku daripada menghampiri suamimu yang sedang merajuk itu?”

“Tentu saja tidak.” Jawab So-Eun cepat.

“Kalau begitu, aku pulang. Nanti kapan-kapan kita bertemu lagi.” Jong-Woon tersenyum sejenak sebelum akhirnya berdiri. Menunduk sedikit pada So-Eun.

_o0o_

Kyu-Hyun menghempaskan dirinya ke ranjang sambil memijat pelipisnya pelan. Oh, apa sebenarnya yang terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba ia merasa panas saat So-Eun dan Jong-Woon terlihat akrab sekali? Ugh, sepertinya ada yang salah dengan otak Kyu-Hyun.

Lalu detik berikutnya pintu kamar terbuka. Dan Kyu-Hyun tahu pasti siapa yang membuka pintu tersebut.

“Mau apa kau?” Kyu-Hyun mengerutkan dahinya. Merasa aneh sendiri dengan nada bicara yang ia gunakan.

So-Eun mendekat. Mendudukkan diri di samping Kyu-Hyun. “Kau marah?”

Decihan Kyu-Hyun menguar tanpa bisa ditahan. “Kenapa aku harus marah?”

“Mungkin—karena aku terlalu banyak mengabaikanmu.”

“Kenapa aku harus merasa terabaikan?”

So-Eun terdiam dan Kyu-Hyun sontak mengangkat sedikit kepalanya. Untuk melihat bagaimana ekspresi So-Eun. Dan gadis itu menunduk. “Maaf,” gumamnya pelan. Namun masih bisa Kyu-Hyun dengar.

“Untuk apa minta maaf?”

“Kupikir kau marah karena aku terlalu banyak bercanda dengan Jong-Woon ssi dan mengabaikanmu. Karena itu aku minta maaf.”

“Kenapa minta maaf? Bukankah kau senang bersama dengan Jong-Woon?” Kyu-Hyun berjengit dalam hati. Apa yang baru saja ia katakan?

“Apa? Aku tidak—“

“Lupakan,” sentak Kyu-Hyun cepat. Bangkit dalam sekali gerakan dan hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Kepalanya sedang mendadak pening dan Kyu-Hyun butuh pelampiasan. Jadi ia…

“Jangan,”

Kyu-Hyun menoleh. Menaikkan sebelah alis sambil menatap So-Eun. Gadis itu balas menatapnya dengan pandangan sendu. Yang kemudian membuat Kyu-Hyun menggeram tertahan. Ia benci melihat tatapan sendu seperti itu.

“Jangan… merokok… lagi.” Kata So-Eun pelan. Pelan sekali.

Detik itu juga Kyu-Hyun tersentak. Menunduk untuk melihat tangannya yang sudah memegang sebatang rokok. Lalu tanpa sadar, ia melepas rokok tersebut. Hingga terjatuh di lantai. Ia sendiri bingung. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Dan setelah itu mulutnya bergerak tanpa bisa dikontrol. Hal yang Kyu-Hyun runtuki habis-habisan di dalam hati.

“Iya, aku tidak akan merokok. Di depanmu.”

Apa? Apa? Apa? Apa yang salah denganku?

So-Eun tiba-tiba tersenyum. Berjalan mendekat sambil tetap memandang Kyu-Hyun. “Baguslah. Kalau begitu, ayo sekarang kita makan.”

Kyu-Hyun mendongak. Tersadar dari runtukannya di dalam hati. “Apa?”

“Makan siang, Cho Kyu-Hyun. Aku tahu kau belum makan, kan?”

Dan tanpa sadar kembali. Kepala Kyu-Hyun mengangguk pelan.

_o0o_

Ini ajaib. Seharian ini Kyu-Hyun sama sekali belum bersinggungan dengan rokoknya. Tidak seperti biasa. Kegiatannya seharian ini tenang sekali. Membaca buku, menonton TV, makan. Dan semua kegiatan tersebut ia lakukan… dengan So-Eun.

Tadi, ketika selesai makan, ia memang berniat meraih rokoknya kembali. Sedikit merasa risih karena tidak mencecapi barang itu seharian. Tapi kemudian, sesuatu melingkupi hatinya. Larangan halus yang membuatnya mundur perlahan. Sugesti yang membuatnya tersadar. Lalu kembali melempar batang rokoknya begitu saja.

So-Eun… bisa sesak napas jika menghirup asap rokok.

Dia tidak tahu kenapa kalimat itu berputar cepat di otaknya dan membuat saraf-sarafnya reflek melemparkan rokoknya seperti bom yang siap meledak. Yang ia tahu… belakangan ini… ia begitu mudah menuruti semua kata gadis itu. Makan, beristirahat, dan terutama jangan merokok. Oh, Kyu-Hyun mulai tidak waras sepertinya.

Di lain sisi. Kyu-Hyun juga tidak tahu mengapa So-Eun mudah sekali mengalami sesak napas jika menghirup asap rokok. Meskipun itu secara tidak langsung. Apa gadis itu dulunya perokok juga dan sekarang sudah pensiun? Makanya ia mati-matian menghindari asap rokok dan malah berbalik sesak napas jika menghirup asap rokok?

Alis Kyu-Hyun berkerut samar. Sepertinya tidak mungkin.

Atau So-Eun punya gangguan dengan pernapasannya, sehingga ia tidak boleh menghirup asap rokok karena itu akan membuatnya sesak napas? Mendadak Kyu-Hyun jadi merasa bersalah karena selama ini sering sekali mengumbar asap bekas rokoknya ke depan wajah So-Eun. Bahkan ia terang-terangan melihat gadis itu sesak napas. Tapi ia malah mengabaikannya.

“Kyu-Hyun,” ia tersadar. Lalu buru-buru mengatur raut muka sebelum menoleh ke samping. “Ya?”

“Kau melamun?”

Kyu-Hyun gelagapan. Tapi sekuat tenaga masih bisa mengatur nada bicaranya. “Tidak.”

“Ini sudah malam. Kau—tidak beristirahat?”

Kyu-Hyun sontak melirik jam yang ada di sisi dinding. Memang sudah malam, dan matanya mulai merasa berat. Tapi ada yang lebih berat lagi yang sedang menimpa hatinya.

“Ada apa?”

Sekali lagi Kyu-Hyun menoleh pada So-Eun. Gadis itu, seperti tahu apa yang sedang Kyu-Hyun pikirkan. “Aku—“ Kyu-Hyun merasa tercekat ditenggorokan. Otaknya mendadak kosong tapi keinginan di dalam dirinya tidak bisa dibendung. Sebenarnya ada apa dengan dirinya?

“Kenapa?” tanya So-Eun lagi. Sambil mendekat pada Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun menghela napasnya sekali. Memejamkan mata erat-erat sebelum berujar. Sepelan, dan sedatar yang ia bisa. “Temani aku tidur.”

Bodoh. Bodoh. Apa yang kau katakan barusan? Kau baru saja merengek padanya? Oh, God..

Semua terasa hening dan Kyu-Hyun belum mau membuka mata. Masih asik meruntuki diri dengan sejuta umpatan. Padahal dia sudah menyiapkan suara agar terkesan tidak perduli. Tapi kenapa ia terdengar seperti seorang balita yang merajuk pada Ibunya? Kemana Cho Kyu-Hyun yang perfeksionis?

“Iya, aku temani.”

Apa?

Kyu-Hyun membuka mata detik itu juga dan langsung bertabrakan dengan tatapan So-Eun yang teduh. Menatapnya tenang dan penuh keyakinan. Dan ia mulai tenggelam dalam tatapan itu. Kyu-Hyun suka dengan tatapan itu. Apa? Dia bilang apa tadi? Ia berangsur gila sepertinya.

“Jadi kita tidur sekarang. Aku tahu kau sudah mengantuk.”

Kyu-Hyun tak tahu seperti apa raut wajahnya sekarang. Apalagi ketika So-Eun mengulurkan tangan padanya. Dia hanya membeku. Terdiam. Menatap uluran tangan So-Eun tanpa bergerak. Tapi gerakan So-Eun lebih cepat. Gadis itu lebih dulu meraih tangannya lalu mengaitnya erat. Menariknya pelan hingga Kyu-Hyun berdiri.

Kyu-Hyun sendiri sama sekali tidak bisa menolak. Ia hanya mengikuti So-Eun. Saat-saat ketika ia masuk ke dalam kamar. Berbaring di atas ranjang. Lalu membungkus diri di dalam selimut. Siap untuk tertidur.

“Selamat malam,”

So-Eun berujar pelan sambil mematikan lampu yang ada di atas nakas. Lalu ikut membaringkan diri di samping Kyu-Hyun. Memejamkan mata untuk terlelap. Sementara Kyu-Hyun sibuk menyikapi dirinya yang bereaksi aneh. Mendadak, ia teringat dengan mimpi buruknya tempo lalu. Atau mimpi-mimpinya seperti empat bulan lalu ketika ia tidur sendiri. Oh, ayolah. Sekarang ia sudah ditemani So-Eun. Apalagi yang harus ia pikirkan?

Kyu-Hyun memejamkan matanya berusaha untuk terlelap. Tapi tidak. Dia tidak bisa terlelap sama sekali. Masih ada yang mengganjal di hatinya. Ketika sejumput rasa aneh menyusup dalam hatinya dan mengacaukan otaknya. Teringat kembali saat-saat ketika ia bermimpi buruk dan So-Eun ada di sampingnya. Menenangkannya.

Mendadak, ia jadi ingin memeluk tubuh gadis itu dalam tidurnya.

Aku gila… aku gila…

“Kyu-Hyun?”

Lagi-lagi Kyu-Hyun tersentak. Secepat kilat menolehkan kepalanya ke samping. Berserobok dengan wajah So-Eun yang terlihat remang karena penerangan yang minim.

“Kenapa belum tidur?”

Gadis itu… Ya Tuhan… melihat wajahnya, Kyu-Hyun jadi semakin ingin memeluknya.

“Ng.. aku-aku belum mengantuk.”

“Benarkah? Tapi matamu sayu begitu.”

Kyu-Hyun menghela dalam-dalam. Anggota tubuhnya memang tidak bisa berbohong. Ayolah, Cho Kyu-Hyun. Jangan seperti ini. Kemana Cho Kyu-Hyun yang perfeksionis, konsisten, dan tajam? Kemana Cho Kyu-Hyun yang dingin? Kemana Cho Kyu-Hyun yang bersikap tak perduli?

Batin Kyu-Hyun terus bergejolak hingga ia tak sadar kapan So-Eun sudah mendekat padanya. Gadis itu memiring ke arahnya hingga rambutnya otomatis jatuh ke atas bantal. Sebelah tangannya tertumpu di dekat bahu dan sebelah tangan lagi menyentuh dahi Kyu-Hyun. Balas menatap Kyu-Hyun dengan pandangan khawatir.

“Kau merasa tubuhmu ada yang sakit?”

Kyu-Hyun menggeleng pelan. Dan ia lepas kendali. Benar-benar tak bisa menahan diri ketika ia ikut memiring. Mengangkat satu tangannya untuk menyusup di sela tangan dan pinggang So-Eun. Lalu menariknya mendekat. Hingga membuat So-Eun ikut terjatuh ke sisinya. Kyu-Hyun tak tahu lagi harus bagaimana tapi ia hanya mengikuti kata hatinya. Ketika ia bergerak, menempatkan kepalanya di cerukan leher So-Eun. Menghirup banyak udara dari sana. Hal yang membuatnya tenang. Tenang sekali.

“Kyu-Hyun…”

Ia mendengar suara So-Eun yang tercekat juga tubuh gadis itu yang terasa kaku dalam pelukannya. Masa bodo. Yang penting, malam ini ia harus tidur sambil memeluk gadis itu.

“So-Eun… hanya… temani aku tidur… Seperti ini.”

_o0o_

Kyu-Hyun sedang melihat So-Eun sibuk di dapur ketika ia keluar dari kamar. Menatap punggung So-Eun yang sedang sibuk—entah apa—di dapur. Sambil memegang panci dan sendok. Dengan langkah pelan, ia lantas mendekat. Menilik dari balik punggung So-Eun.

“Kau sedang apa?”

So-Eun sontak berbalik. Tersenyum simpul sambil membenarkan letak anak rambutnya yang mengganggu dahinya yang berkeringat. “Memasak sarapan.” Katanya singkat. Lalu kembali sibuk dengan panci-pancinya. “Kau tunggulah, duduk saja di pantry. Sebentar lagi masakannya matang.”

Kyu-Hyun mengangguk tapi tak bergerak dari posisinya. Malah memperhatikan punggung So-Eun yang begitu lincah. Juga tangan gadis itu yang sesekali tergerak untuk merapikan anak rambutnya yang terjatuh di samping wajah ketika ia menunduk.

Kyu-Hyun mendengus. Merasa terganggu akan hal itu. Bergerak maju ke dekat So-Eun lalu benar-benar berdiri tepat di belakang gadis itu. Tangannya terangkat. Meraih sisa anak rambut So-Eun yang terjatuh di sisi wajah gadis itu lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Kelakuan yang membuat So-Eun membeku. Terhenyak.

“Kau tidak punya jepit rambut atau semacamnya?”

Terdiam sejenak, So-Eun akhirnya menjawab dengan suara yang tergagap-gagap. “Ada. Di laci kamar.”

Tanpa berpikir, Kyu-Hyun lantas beranjak dari sana. Berjalan menuju kamar dan mengambil satu pita berwarna soft pink dengan hiasan bunga di dalam laci nakas. Lalu kembali berjalan ke dapur. Tepat berhenti di belakang So-Eun. Memegang anak-anak rambut yang terjatuh di sisi wajah So-Eun lalu menjepitnya dengan jepitan rambut yang ia pegang.

“Begini terlihat lebih cantik.”

“Apa?”

Apa? Kyu-Hyun mengikuti apa yang So-Eun katakan. Apa? Dia juga tidak tahu apa yang barusan ia katakan. Begitu saja meluncur dari mulutnya.

“Ka-kau tadi bilang apa?”

Kyu-Hyun berdeham. Mengatur nada suaranya sebelum berujar. “Tidak ada. Cepat buatkan sarapannya.” Lalu tanpa menoleh pada So-Eun lagi langsung berjalan menuju pantry dan mendudukkan dirinya di sana.

Diam-diam. Kyu-Hyun tersenyum. Sambil meraih segelas air dan meneguknya setengah. Lantas berujar pelan. “Kau cantik.”

Meski pelan, ia yakin So-Eun mendengarnya. Karena meskipun tak berbalik. Ia tahu bahwa gadis itu sedang membeku di tempatnya.

_o0o_

Empat hari lagi. Ya Tuhan… Kyu-Hyun bisa gila memikirkannya. Empat hari lagi So-Eun berulang tahun tapi ia belum menyiapkan apa-apa.

Kyu-Hyun lantas berdiri dari kursi kerjanya lalu beralih menatap kaca besar yang ada di sana. Memandang hamparan jalanan kota yang penuh sesak dengan berbagai kendaraan dan pejalan kaki. Ia lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Masih tenggelem pada pemandangan di depannya saat seseorang berdeham. Menginterupsi lamunan Kyu-Hyun.

“Maaf, mengganggu, PresDir.” Ujar Dae-Hyun canggung. Sambil meletakkan beberapa kertas di atas meja kerja Kyu-Hyun. “Ini laporan yang Anda minta.”

Kyu-Hyun mengagguk. “Dae-Hyun ssi.” Panggilnya tiba-tiba. Tepat ketika Dae-Hyun hendak mencapai pintu.

Dae-Hyun berbalik. “Ya?”

“Empat hari lagi… apa jadwalku ada yang kosong?”

Dae-Hyun. Sekertarisnya itu terlalu mengerti tentang Kyu-Hyun. Lima tahun menjadi sekertaris pria tersebut dan menemaninya kemana-mana. Cukup untuk membuat Dae-Hyun peka dan mengerti apapun yang PresDirnya rasakan. Dan sekarang ia mengerti, Kyu-Hyun bertanya. Empat hari lagi. Ada jadwal kosong? Dalam hati Dae-Hyun tertawa. Tentu bukan itu maksud Kyu-Hyun sebenarnya. Pria itu lebih memiliki arti.

Empat hari lagi. Bisa kosongkan jadwalku?

Jadi Dae-Hyun dengan senyum mengembang mengangguk. Berkata dengan nada sopan. “Tentu, empat hari lagi. PresDir hanya akan menghadiri rapat bulanan dari dewan direksi. Tapi aku bisa memundurkan waktunya.”

Mendapat senyuman tipis dari Kyu-Hyun, Dae-Hyun sontak menunduk sopan. Lantas berbalik dan keluar dari ruangan PresDirnya. Ia tidak tahu, apa yang membuat Kyu-Hyun mau mengosongkan jadwal untuk empat hari lagi. Karena, lima tahun Dae-Hyun bekerja dengannya, Kyu-Hyun nyaris terlihat seperti robot yang gila kerja.

Tapi, kalau boleh jujur, mungkinkah… Maksudnya, ini hanya perkiraan Dae-Hyun saja.

Mungkinkah, jika PresDirnya memiliki moment yang sangat penting di empat hari lagi? Di tanggal enam bulan september?

_o0o_

Hari sudah menunjukkan pukul lima sore ketika Kyu-Hyun menandatangani berkas terakhirnya. Ia lalu menghela napas. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi sambil memijat pelipisnya. Sudah dua hari dan ia belum menemukan apapun yang bisa ia berikan pada So-Eun untuk hari ulang tahun gadis itu.

Sebenarnya, bisa saja. Ia memberikan berlian, kalung emas, tas bermerek, sepatu mahal. Apapun. Karena Kyu-Hyun bisa membelinya. Tapi ia hanya ingin membelikan sesuatu yang disukai gadis itu. Dan parahnya, Kyu-Hyun sama sekali tidak tahu apa yang So-Eun sukai. Ugh, bertambah pusing lagi kepalanya.

Di saat seperti ini, di saat pusing mendera. Tentu Kyu-Hyun akan meraih rokoknya. Merogoh sakunya dan hendak menyundut benda tersebut dengan api. Tapi… ia teringat kembali. Detik ketika sebatang rokok sudah terselip di lekukan mulutnya. Kyu-Hyun teringat. Bahwa So-Eun melarangnya habis-habisan untuk merokok. Ia juga ingat kalau So-Eun mudah sesak napas jika mencium asap rokok.

Pertama, ia mulai sadar kalau rokok tak lagi membawa efek menenangkan bagi otak maupun tubuhnya.

Dan kedua, dia hanya tidak mau. Ketika ia pulang nanti. So-Eun akan mendapati sisa bau rokok di badannya dan gadis itu bisa sesak napas.

Jadi, dengan kasar ia melepas rokok yang ada di mulutnya. Lalu melemparnya sembarangan.

Tak sadar bahwa kelakuannya tersebut tertangkap oleh Dae-Hyun yang sudah berdiri di ambang pintu.

“PresDir.” Tegur Dae-Hyun menginterupsi. Yang otomatis membuat Kyu-Hyun menoleh padanya.

“Oh, Dae-Hyun. Ada apa?”

“Hanya memberitahu. Sudah waktunya jam pulang kerja.”

Kyu-Hyun mengangguk dengan ekspresi ragu. Sebelum ia memelankan suaranya. Menyeru Dae-Hyun untuk mendekat ke mejanya.

“Aku—ingin bertanya sesuatu padamu.”

Alis Dae-Hyun terangkat heran. Tentu saja, apa orang secerdas dan sesukses Kyu-Hyun masih punya sesuatu untuk dipertanyakan padanya?

“Tentu. Akan kujawab semampuku.”

Kyu-Hyun menengakkan punggungnya. Mendadak bingung harus memulai darimana. Tapi ketika ia menatap binar keyakinan dari mata Dae-Hyun. Kyu-Hyun lantas berujar. Dengan suara pelan.

“Kira-kira. Jika ada seseorang yang berulang tahun. Apa yang akan kau berikan?”

Dae-Hyun terdiam sejenak. “Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung bagaimana hubungan kita dengan orang tersebut. Jika itu Ibu, maka berikanlah sesuatu yang bisa membahagiakannya. Seperti piagam pernghargaan tentang kita. Itu pasti sudah menjadi hadiah istimewa untuknya. Jika itu Ayah.. mm, kusarankan berikan jam tangan. Ayah-ayah zaman sekarang mudah sekali terobsesi pada jam tangan.”

“Bukan seperti itu.”

Dae-Hyun balas menatap PresDirnya. “Kalau begitu, bisa beritahu aku. Siapa orang yang berulang tahun dan hendak PresDir berikan hadiah?”

“Apa? Bukan begitu. Aku kan hanya bertanya. Bagaimana jika—“

“Jangan mengelak.” Ujar Dae-Hyun, “Aku tahu PresDir sedang memikirkan hadiah yang tepat untuk seseorang. Mungkinkah… seseorang yang berulang tahun di tanggal enam?”

Kyu-Hyun terhenyak. Tapi ia tetap tidak bisa mengelak dari sekertarisnya. Jadi ia hanya menghela. “Tapi kau jangan menertawakanku.”

“Aku tidak akan tertawa jika tidak ada alasan untukku tertawa.”

Kyu-Hyun mengangguk, menarik napas dalam dan menghembuskannya. Lalu berkata, “Dia istriku. Dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Dan aku belum menyiapkan apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kuberikan padanya sebagai hadiah.”

“Istri?”

_o0o_

So-Eun menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara langkah mendekat. Ia mendapati Kyu-Hyun sedang berjalan ke arahnya dengan tampilan kusam. Jas yang sudah tersampir di tangan juga dasi yang luar biasa longgar.

“Ya, nanti akan kuberitahu lagi.”

So-Eun lalu memutus sambungan telepon. Meletakkan ponselnya ke atas meja lalu beralih memandang Kyu-Hyun. “Kau terlihat lelah.”

Sejenak, So-Eun menangkap ekspresi ragu dari wajah pria itu. Sebelum Kyu-Hyun dengan perlahan maju dan duduk di sampingnya di atas sofa. Cukup mengejutkan memang. Karena biasanya, sepulang kerja. Kyu-Hyun lebih mamilih untuk melengos ke kamar dan mandi daripada repot-repot duduk bersamanya sebentar.

“Tadi itu… kau bertelepon dengan siapa?”

“Jong-Woon ssi.” Jawab So-Eun tanpa ragu. Dan langsung mendapat tatapan tajam dari Kyu-Hyun.

“Jong-Woon? Mau apa dia?” So-Eun tak tahu mengapa Kyu-Hyun bisa begitu ketus berbicara padanya setelah mendengar nama Jong-Woon. Oh, bukankan pria itu memang selalu ketus? Tidak, tidak, akhir-akhir ini Kyu-Hyun sudah cukup baik padanya.

“Ya, dia hanya menanyai kabar dan—“

“APA?” So-Eun terlonjak. Sontak mundur sedikit karena terkejut dengan teriakan Kyu-Hyun. “Menanyai kabar?” tanya pria itu sengit. Yang hanya dibalas anggukan pelan oleh So-Eun. Karena memang itu kenyatannya, tapi…

“Kau lupa sudah bersuami? Masih bisa bertelepon dengan pria lain dan menanyakan kabar?” sentak Kyu-Hyun tajam. “Yang benar saja.” detik berikutnya Kyu-Hyun bangkit. Dengan langkah di hentak lalu membanting pintu kamar.

Dahi So-Eun berkerut. Ada apa dengan Kyu-Hyun? Apa dia salah bicara? Jong-Woon memang meneleponnya tadi, menanyakan kabar dia dan Kyu-Hyun. Bertanya apakah ia dan Kyu-Hyun punya waktu senggang pada minggu depan karena Jong-Woon ingin mengundang mereka pada acara pertunangannya. Ia ingin menjelaskan itu tadi, tapi Kyu-Hyun lebih dulu marah.

Apa… pria itu salah paham?

Mata So-Eun seketika membulat. Bisa jadi Kyu-Hyun berpikiran kalau Jong-Woon menanyai… kabarnya. Oh, Ya Tuhan…

Cepat-cepat So-Eun bangkit dari sofa lantas berjalan menuju kamar mereka. Menggeser pintu dan langsung masuk ke dalamnya.

_o0o_

Kyu-Hyun merasa panas. Seluruh jengkal tubuhnya serasa disengat listrik dan napasnya memburu. Ia marah. Emosi.

Otaknya berputar cepat sampai kepalanya pening. Fokus matanya hilang ketika hatinya menerka semakin jauh. Apa maksudnya? So-Eun dan Jong-Woon berhubungan di belakangnya? Menanyai kabar?

Gila.

Tanpa pikir panjang Kyu-Hyun langsung merogoh-rogoh laci paling bawah. Seingatnya ia pernah meletakkan satu bungus rokoknya di sana. Dan ia mendapatkannya. Sebungkus batang rokok yang isinya tinggal setengah.

Kyu-Hyun meraih satu batang lalu hendak menyelipkannya ke dalam mulut. Sebelum seseorang berseru keras dari belakang. “Kyu-Hyun, hentikan!”

Kyu-Hyun sontak menoleh ke belakang. Berserobok dengan So-Eun yang kini sudah berjalan cepat ke arahnya. Merampas batang rokok dari mulutnya lalu menginjaknya di lantai. “Akhir-akhir ini kau sudah jarang merokok. Dan sekarang kau mau merokok lagi? Sadarlah, Kyu-Hyun. Benda itu hanya semakin merusak kesehatanmu.”

Kyu-Hyun menajamkan pandangan. Berkata dengan nada sengit. “Apa pedulimu?”

“Tentu saja aku perduli. Kau suamiku dan—“

“Untuk apa?” potong Kyu-Hyun cepat. “Urusi saja Jong-Woon mu itu.”

Kyu-Hyun melihat So-Eun membeku tapi ia dengan cepat bergerak. Kembali meraih satu batang dari dalam bungkusan yang ia pegang lalu menyelipkannya ke dalam mulut. Secepat kilat menyundutnya dengan api hingga asap terkepul dari mulutnya. Seketika, Kyu-Hyun merasa pening di kepalanya mereda. Bertepatan dengan semakin banyaknya asap yang keluar dari dalam mulut.

Kyu-Hyun memejamkan mata. Merasakan sedikit ketenangan yang menjalari dirinya. Hanya sedikit. Dia sendiri bingung, sebenarnya setan macam apa yang merasukinya tadi? Saat ia medengar So-Eun dan Jong-Woon saling menanyakan kabar. Tiba-tiba Kyu-Hyun merasa seluruh darahnya naik ke ubun-ubun. Ia emosi. Benci sekali jika So-Eun harus berhubungan dengan pria lain selain dirinya. Dia benci mendengar So-Eun menyebut nama pria lain selain namanya. Huh, apa kedengarannya dia egois? Sepertinya memang begitu.

Tapi, apa salahnya? Kyu-Hyun suami gadis itu. Tentu ia yang paling berhak atas gadis itu, kan?

“Kyu-Hyun… uhuk uhuk.. hentikan. Jangan merokok lagi.” Samar-samar ia mendengar suara So-Eun tapi Kyu-Hyun mengabaikannya. Malah semakin kuat menghisap rokok yang ada di mulutnya. Sedikit-banyak, dia masih teramat kesal dengan gadis itu. Jadi ia lebih memilih untuk mengabaikan apapun yang So-Eun katakan.

“Kyu-Hyun, hentikan.”

Kyu-Hyun bergeming. Masih memejamkan mata dengan mulut yang penuh asap. Lalu meniupkan asap tersebut ke udara. Dan hal itu Kyu-Hyun lakukan beberapa kali.

Hingga… entah pada menit keberapa. Ia mendengar suara ambruk. Sesuatu yang jatuh. Ia membuka matanya perlahan. Menatap sekeliling tapi tidak ada yang aneh. Sebelum matanya turun ke bawah. Menatap tubuh So-Eun yang sudah tersungkur di lantai.

Detik itu juga Kyu-Hyun melepaskan rokoknya kasar. Berlutut di samping tubuh So-Eun dengan mata melebar. Tangannya terus mengguncang bahu gadis itu.

“So-Eun? So-Eun kau dengar aku? So-Eun?”

So-Eun tak bergerak. Sama sekali. Hal yang membuat sekujur tubuh Kyu-Hyun kaku. Titik-titik keringat mulai bercucuran dari dahinya dan fokus matanya mulai hilang kembali.

“So-Eun,” suaranya makin tercekat. Tangannya mulai gemetar. Tepat ketika ia mendapati wajah So-Eun yang pucat pasi. Jantungnya berpacu cepat dan sekujur tubuh Kyu-Hyun terasa ngilu. Ia panik setengah mati. Ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Bibirnya sudah menggumamkan yang macam-macam. Cemas, panik, gelisah, ketakutan, apapun yang Kyu-Hyun rasakan saat ini benar-benar membuat hatinya nyeri. Dan ia tak berpikir lagi. Langsung meraih So-Eun dalam gendongannya dan membawa gadis itu keluar kamar.

_o0o_

“Kyu-Hyun, tenang.”

Kyu-Hyun menggeleng. Tetap kokoh berdiri di depan ruangan tempat So-Eun di operasi. Dia tidak tahu. Sama sekali. Ketika ia dengan ketakutan membawa So-Eun ke rumah sakit. Memanggilkan Dokter untuk memeriksa tubuh gadis itu. Dan apa yang ia dapatkan? Dokter tersebut malah mengatakan bahwa So-Eun harus dioperasi. Memangnya apa yang terjadi? Separah apa kondisi So-Eun hingga gadis itu harus dioperasi?

Dalam hati Kyu-Hyun terus memaki dirinya habis-habisan. So-Eun, begitu, terbaring lemah. Jelas karena salahnya. Karena ia dengan egois kembali menghisap rokok. Terang-terangan mengebulkan asapnya di depan So-Eun padahal dia tahu gadis itu selalu sesak napas jika terkena asap rokok. Itu karena salahnya. Karena kemarahannya pada gadis itu.

Kyu-Hyun meremas rambutnya kasar. Pria brengsek!!

“Kyu-Hyun sudah, tenangkan dirimu.” An-Na—Ibu Kyu-Hyun mencoba menenangkannya. Menepuk bahu kaku Kyu-Hyun pelan. Tapi toh Kyu-Hyun tak merespon sama sekali. Ia tak mau bergeser dari tempatnya. Tak mau melepas pandangannya. Apalagi bersikap tenang. Di saat So-Eun sedang dioperasi di dalam sana, bagaimana caranya Kyu-Hyun bisa tenang?

An-Na menyerah. Mungkin sulit untuk membujuk Kyu-Hyun. Jadi dia ikut berdiri di samping puteranya. Masih tetap menepuk bahu Kyu-Hyun pelan. Hingga beberapa saat kemudian. Lampu di atas sisi pintu berubah warna. Dan seorang Dokter keluar dari sana.

Kyu-Hyun meringsek maju seperti orang kesetanan. Matanya liar dan memerah. Memegang sisi lengan Dokter tersebut. Nyaris meremasnya. “Bagaimana, So-Eun? Dia baik-baik saja, kan?”

Dokter tersebut tersenyum menenangkan. Hal yang sedikit membuat guratan tegang di wajah Kyu-Hyun mengendur. Cengkraman pria itu di sisi lengannya juga tak begitu kuat lagi.

“Sebelumnya, Apakah diantara kalian ada yang merokok?”

An-Na lantas maju selangkah. Mensejajarkan diri dengan Kyu-Hyun. “Ya, Anak saya perokok. Ada apa memangnya?”

Dokter tersebut lalu mengalihkan pandangannya pada Kyu-Hyun. “Apa Anda tahu bahwa Nona So-Eun punya alergi asap rokok?”

Seketika. Seluruh darah Kyu-Hyun tertarik ke ubun-ubun. Wajahnya pucat pasi. “A-alergi?”

“Ya, Nona So-Eun menderita alergi asap rokok. Karena saat operasi tadi. Kami menemukan ada bagian yang menyempit pada paru-parunya. Sepertinya Nona So-Eun terlalu banyak menghirup asap rokok secara tidak langsung karena penyempitan di paru-parunya cukup fatal. Tapi untung dia di bawa ke rumah sakit lebih cepat. Jadi bisa tertangani oleh Dokter.”

An-Na melebarkan mata. Lantas berkata dengan terbata-bata. “Tapi… apakah So-Eun sekarang sudah tidak apa-apa?”

“Nona So-Eun sudah kami operasi. Dan ia baik-baik saja. Hanya kita harus menunggu beliau sadar. Karena pasca operasi, organ dalamnya harus beradaptasi dulu dengan paru-parunya. Baru setelah itu ia bisa sadar. Dan mulai sekarang, usahakan, agar Nona So-Eun tidak menghirup asap rokok. Jauhkan dia dari hal-hal yang bisa menimbulkan asap rokok. Tapi apakah kalian tidak tahu jika Nona So-Eun alergi asap rokok? Biasanya penderita alergi asap rokok selalu sesak napas jika menghirup asap rokok.”

An-Na menggeleng tapi tidak dengan Kyu-Hyun. Pria tersebut masih begitu kaku dan sekujur tubuhnya terasa dingin.

“Saya.. tidak tahu.” Jawab An-Na akhirnya.

Dokter tersebut mengangguk. Lalu pamit untuk pergi dari sana. Dan sedetik berikutnya, tiba-tiba Kyu-Hyun ambruk ke lantai. Membuat An-Na memekik terkejut.

“Kyu-Hyun, kau kenapa?” serunya panik. Melihat tubuh Kyu-Hyun yang kaku. Wajah pria itu yang pucat dan matanya yang memerah. Orang tua mana yang tidak panik melihat Anaknya seperti itu?

Napas Kyu-Hyun pendek-pendek dan tersangkut di tenggorokannya. Kepalanya seperti tertusuk-tusuk paku tajam dan tubuhnya sakit sekali. Terutama di bagian dada.

“Dia…” lalu, dengan sejumput suara yang bergetar hebat. Kyu-Hyun memberanikan diri untuk berbicara. Berusaha menekan hatinya yang diremas kuat. “Begitu… karena aku…”

_o0o_

Kyu-Hyun masih terus menggenggam tangan So-Eun meski gadis itu tak merespon sama sekali. Bahkan saat ia—untuk pertama kali—mengecup dahi gadis itu, memanggil namanya, mengusap lengannya. Gadis itu hanya terdiam, tanpa bergerak. Hal yang kemudian membuat Kyu-Hyun kembali merunduk dalam. Menekan sesuatu di balik dadanya yang berjengit sakit.

Kyu-Hyun kembali mendekatkan dirinya. Menempatkan wajahnya di samping wajah So-Eun yang pucat. Mulai bergumam. “So-Eun… kapan kau bangun?” katanya lemah sambil mengusap tangan So-Eun yang digenggamnya. “Bahkan hari ini hari ulang tahunmu. Sekarang tanggal enam, So-Eun. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. Apa kau tidak mau membuka matamu itu? Lihatlah hadiahku, So-Eun…”

So-Eun masih bergeming. Dan Kyu-Hyun semakin menenggelamkan kepalanya di samping wajah So-Eun. Sambil membawa tautan tangan mereka ke dekat mulutnya. Mengecupnya berkali-kali. “Aku yakin kau akan suka dengan hadiahnya. Jadi cepat buka matamu, dan lihat hadiah apa yang aku berikan, hmm?”

Kyu-Hyun menghela napasnya. “Kenapa? Kau tetap tidak mau membuka mata, huh? Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali menghisap rokok sebanyak-banyaknya. Coba saja larang aku.” Katanya berusaha terdengar angkuh tapi yang keluar justru nada lemah. Sekuat apapun. Dia tetap merasa sakit tidak mendapat respon dari So-Eun.

“So-Eun…” lirihnya. Kali ini dengan mata berkaca-kaca. Tanpa sadar menggigit bibirnya dengan remasan tangan yang semakin kuat pada tangan So-Eun. Ia memandang wajah So-Eun dengan tatapan sendu. “Bangun, So-Eun, bangun. Jangan menyiksaku seperti ini.”

Tanpa sadar. Satu tetes air mata jatuh dari sudut mata Kyu-Hyun.

“Aku-aku tahu aku salah. Aku tahu kau begini karena aku. Maaf, maaf So-Eun. Maafkan aku.” Isaknya pelan. Tak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis. “Karena itu buka matamu agar aku bisa meminta maaf. Dan kau bebas mengomeliku sesukamu, hmm? Kau boleh melarangku tentang apapun. Kau boleh mengaturku. Memakiku. Apapun. Asal kau mau membuka matamu…”

Di ambang pintu. Dae-Hyun menghela napasnya berkali-kali. Iba setengah mati dengan kondisi So-Eun maupun Kyu-Hyun. Ia cukup terkejut saat mendapati kabar dari Ibu Kyu-Hyun mengapa pria itu tak masuk kantor dua hari ini. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Berniat menjenguk So-Eun dan melihat keadaan PresDirnya.

Dan hal yang mengejutkan kini terjadi. Pertama kali dalam hidupnya Dae-Hyun melihat Kyu-Hyun menangis. Berbicara lirih dengan nada terluka demi seseorang yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Istrinya.

Ia bisa melihat guratan putus asa yang sangat jelas terpancar dari wajah Kyu-Hyun. Bagaimana lelahnya pria itu. Garis hitam mengerikan di bawah matanya. Pipi yang semakin tirus. Cukup untuk menggambarkan bahwa Kyu-Hyun berada di kondisi terlemahnya.

Oh, Dae-Hyun bahkan sempat berpikir bahwa Kyu-Hyun tidak memiliki kelemahan.

Jadi, dengan doa yang terus ia panjatkan di dalam hati. Dae-Hyun hanya berharap bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik pada mereka berdua. Kyu-Hyun… dan istrinya.

Perlahan ia menutup pintu lalu berbalik dan menghela napas. Ia tahu, mungkin, untuk beberapa hari ke depan, walaupun Kyu-Hyun tak memerintahkannya. Tapi Dae-Hyun akan mengambil alih sebagian pekerjaan PresDirnya itu. Melihat dari bagaimana kondisi Kyu-Hyun saat ini. Tidak mungkin Kyu-Hyun bisa penuh fokus bekerja, kan?

Sudah dibilang. Dae-Hyun, terlalu mengerti Kyu-Hyun…

_o0o_

Ini sudah seminggu dan Dae-Hyun benar-benar meringis melihat bagaimana Kyu-Hyun saat ini. Istrinya yang terbaring lemah, tapi kenapa Kyu-Hyun yang terlihat seperti mayat hidup?

Kyu-Hyun, pria itu sedang mengelap badan istrinya sekarang. Dengan kain basah yang terus ia usapkan pada bagian tubuh So-Eun. Kedua tangan, samping leher, dan wajah. Tidak ada yang aneh. Tapi keanehan itu justru terletak pada ekspresi Kyu-Hyun.

Wajah pria itu datar. Tanpa ekspresi. Matanya tak memancarkan binar apapun. Cemas, takut, gelisah, sedih, tidak ada apapun yang bisa tertangkap dari mata pria tersebut. Guratan wajahnya mengerikan. Garis wajahnya semakin terlihat karena wajahnya yang kelewat tirus. Rambutnya awut-awutan. Bajunya lusuh. Bulatan hitam di bawah matanya terlihat jelas. Tak ada Kyu-Hyun yang perfeksionis. Tidak ada Kyu-Hyun yang konsisten. Tidak ada Kyu-Hyun yang tajam dan dingin. Mungkinkah. Pria itu sudah mati rasa?

Dae-Hyun menghela napas kembali. Masih menilik apa yang Kyu-Hyun lakukan pada So-Eun dari balik jendela ruangan tanpa berniat masuk ke dalamnya. Ia hanya merasa bahwa Kyu-Hyun begitu betah berduaan dengan Istrinya. Tanpa mau diganggu siapapun. Hingga detik berikutnya ponselnya berbunyi. Lalu ia dengan cepat meraih ponselnya. Mendekatkannya ke telinga.

“Ya Jong-Woon ssi.”

“Ya, di kamar nomor tiga puluh satu.”

“Ya, kutunggu di luar.”

Dua menit berikutnya Dae-Hyun sudah melihat Jong-Woon dan seorang gadis berjalan terburu-buru ke arahnya. Oh, Dae-Hyun ingat. Gadis itu, bernama Yu-Ra. Gadis yang bertunangan dengan Jong-Woon tepat kemarin malam.

Bagaimana bisa dia tahu?

Karena undangan yang seharusnya PresDirnya hadiri. Terpaksa Dae-Hyun ambil alih. Karena ia tahu, PresDirnya terlalu kacau. Bahkan hanya untuk menghadiri pesta pertunangan.

“Apa yang terjadi?” tanya Jong-Woon saat pria itu dan Yu-Ra sudah berdiri di depannya. Sedikit mencuri pandang ke balik pintu ruangan dan terkesiap melihat apa yang ada di dalamnya.

“So-Eun, Istri PresDir belum sadar juga dan ini sudah seminggu.” Kata Dae-Hyun pelan. Ikut melirik ke dalam ruangan. “Dan kukira lama kelamaan PresDir akan menyusul seperti itu.”

Jong-Woon sudah tahu semuanya karena Dae-Hyun memberitahunya tepat ketika ia datang ke acara pertunangannya. Dari mulai So-Eun yang mamiliki alergi asap rokok sampai pada ia yang terpaksa di bawa ke rumah sakit. Jadi, pertanyaan Jong-Woon terjawab. Kenapa waktu itu So-Eun menutup hidung dan mulutnya dengan kain basah saat ingin memanggil Kyu-Hyun.

Jong-Woon menghela napas lalu berujar pelan. “Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka.”

Sedikit-banyak, dia memang merasa khawatir pada So-Eun. Tapi… lebih wajar tentu saja. dia khawatir karena So-Eun juga merupakan salah satu orang yang dia kenal. Perasaan khawatirnya tentu bukan seperti yang awalnya sempat ia pikirkan. Karena setelah berpikir keras. Mustahil jika ia harus memiliki perasaan lebih pada Istri sahabatnya sendiri. Apalagi dia sudah memiliki Yu-Ra sekarang.

“Mm.. bolehkah aku masuk?”

Tatapan Jong-Woon beralih pada Dae-Hyun seolah meminta izin. Mereka terdiam sejenak hingga akhirnya Dae-Hyun mengangguk pelan. “Tapi jangan terlalu mengganggunya. PresDir sedang mudah emosi akhir-akhir ini.”

Jong-Woon mengangguk. “Aku tahu,”

Lalu Jong-Woon dan Yu-Ra masuk ke dalam ruangan tersebut. Tanpa dibalas sapaan ramah oleh Kyu-Hyun. Karena pria itu masih betah menatapi wajah Istrinya sambil sesekali membelainya halus.

“Kyu-Hyun,” panggilnya pelan. Dan Kyu-Hyun masih belum mau menoleh. Membuat suasana serasa mencekam dan Jong-Woon tanpa sadar berdeham demi menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba menggila. “A-apa kabar?”

“Untuk apa menanyakan kabarku?” suara Kyu-Hyun serak. Rendah. Dingin. Cukup untuk membuat Jong-Woon tersentak dan mundur selangkah. Lihat, suaranya saja berefek mengerikan. Tidak salah lagi kalau Kyu-Hyun benar-benar kacau saat ini. Cepat-cepat ia mengeratkan genggamannya pada tangan Yu-Ra. Mencari ketenangan.

“A-aku ke sini untuk menjenguk So-Eun ssi.”

Kyu-Hyun bergeming.

“Kudengar dia…”

“Keluar,” perintah Kyu-Hyun datar. “Aku muak mendengar suaramu.”

Mata Jong-Woon sontak terbelalak lebar. Menatap punggung Kyu-Hyun tak percaya. Apa katanya tadi?

“Kyu-Hyun kau—“

“Kau mengerti bahasa manusia, kan? Jangan sampai kau babak belur hanya karena tak mau keluar dari sini.”

Napas Jong-Woon tercekat. ”Tapi… kenapa?” suara Jong-Woon tercekat di tenggorokan. Tidak, dia mengenal Kyu-Hyun. Pria itu tidak mungkin bersikap sedingin ini pada orang lain jika tidak ada sebabnya. Kyu-Hyun tidak mungkin berbicara serendah itu pada orang lain kalau orang tersebut tidak mengganggunya. Jadi, apa Jong-Woon pernah mengganggu Kyu-Hyun?

Tapi apa? Kapan? Jong-Woon bahkan sama sekali tidak ingat.

Jadi, detik berikutnya ia memberikan senyuman tipis pada Yu-Ra, mengisyaratkan gadis itu untuk keluar ruangan tanpanya. Dia harus berbicara pada Kyu-Hyun dulu. Dan Yu-Ra harus jauh-jauh dari sana. Karena ia tahu, ketika Kyu-Hyun menggunakan suara rendah. Maka pria itu sedang manahan emosi. Dan fakta lainnya bahwa Kyu-Hyun amat-teramat terlihat mengerikan ketika emosinya mencuat.

Setelah Yu-Ra keluar ruangan, barulah Jong-Woon berjalan mendekat. Berhenti pada jarak satu meter di belakang Kyu-Hyun.

“Kyu—“

“Kau tetap tidak mau keluar?” suara Kyu-Hyun kembali terdengar. Kentara sekali bahwa pria itu sedang menahan gemeretak giginya. Oh, Kyu-Hyun benar-benar menahan emosi rupanya.

“Hey, kau kenapa? Kau marah padaku?”

“Masih bertanya apa aku marah padamu?”

Alis Jong-Woon terangkat. “Jadi kau benar-benar marah padaku. Tapi kenapa?”

“MASIH BERTANYA KENAPA?” detik itu juga teriakan Kyu-Hyun keluar. Bertepatan dengan pria itu yang berdiri dalam sekali gerakan. Berbalik menghadap Jong-Woon dengan mata memerah penuh emosi. Membuat Jong-Woon tanpa sadar mundur selangkah ketika Kyu-Hyun melangkah mendekatinya.

“Kau,” hardik Kyu-Hyun kasar. “Karena kau So-Eun seperti ini. Karena kau yang menghubungi So-Eun waktu itu hingga membuatku marah dan merokok di depannya. Ini semua gara-gara kau. Karena kau yang menghubunginya dan membuatku emosi!!”

Kyu-Hyun menaikkan nada suaranya pada kalimat terakhir. Matanya menyala garang. Giginya gemeretak tak bernada dan kepalan keras pria itu sudah siap di sisi tubuhnya. Kyu-Hyun sedang menahan murkanya sekarang.

Jika saja, Jong-Woon bukan sahabatnya. Kyu-Hyun pasti sudah menghajarnya sampai mati.

Sementara Jong-Woon hanya berdiri mematung sambil terus berpikir. Dia menghubungi So-Eun? Kapan? Dan kenapa Kyu-Hyun harus emosi hanya karena dia menghubungi So-Eun?

“Kau sudah punya gadis lain, tapi kau masih bisa menanyakan kabar Istri orang lain?” Seru Kyu-Hyun mencemooh. “Dasar bajingan.”

“Hey, hey, hey, tenangkan dirimu. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Aku menghubungi So-Eun? Membuatmu marah? Penyebab semua ini? Apa maksudnya?”

“Berpura-pura bodoh?” decihan Kyu-Hyun menguar begitu bengis dari sela bibirnya. “Jangan berlagak baik, Jong-Woon. Aku tahu, seminggu lalu kau menghubungi Istriku dan menanyakan kabarnya, kan? Aku tak percaya. Bahkan seminggu berikutnya kau sudah bertunangan.”

Jong-Woon terdiam. Memutar otak cepat lalu membelalakkan mata detik itu juga. “Ya Tuhan Kyu-Hyun. Aku memang menghubungi So-Eun waktu itu tapi…”

“Benarkan.” Potong Kyu-Hyun cepat. Sebelah sudut bibir pria itu tertarik ke atas. “Dasar bajingan sialan.”

“Hey, tapi aku menghubunginya bukan untuk menanyai kabar…”

“Lalu apa? Menanyai kabarku, begitu? Hah?” sahut Kyu-Hyun murka.

Dan detik itu juga. Suara lengkingan panjang terdengar memenuhi ruangan. Membuat Kyu-Hyun maupun Jong-Woon sontak menoleh ke samping. Ke tempat So-Eun berbaring. Seketika wajah Kyu-Hyun pucat. Jantungnya melonjak cepat dan tangannya bergetar hebat. Secepat kilat berlari ke arah So-Eun dan memegang bahu gadis itu. Melirik sekilas pada monitor kecil yang ada di samping ranjang. Tepat pada garis panjang dan bunyi melengking yang tertera pada monitor tersebut.

Titik-titik keringat mulai keluar dari dahinya. “So-Eun, So-Eun kau dengar aku?” serunya panik. Masih terus mengguncang bahu So-Eun sementara Jong-Woon sudah berlari keluar memanggil Dokter.

“So-Eun,” pantau Kyu-Hyun sekali lagi tapi tak ada yang meresponnya. Hanya terdengar bunyi lengkingan yang tak pernah berhenti serta wajah So-Eun yang semakin pucat. Reflek Kyu-Hyun menyentuh wajah So-Eun. Dan napasnya langsung tercekat. Merasakan kulit So-Eun yang begitu dingin.

“So-Eun, So-Eun, buka matamu, So-Eun.” air mata sudah berjatuhan dari sudut mata Kyu-Hyun. Juga tangan pria itu yang terus mengguncang bahu So-Eun sambil memanggil-manggil nama gadis itu seperti orang kesetanan. Bahunya sudah bergetar dan sekujur tubuhnya terasa lemas.

“So-Eun, kumohon buka matamu.”

Hingga Dokter dan beberapa orang lainnya masuk bersamaan. Hendak memeriksa keadaan So-Eun tapi Kyu-Hyun mengelak. Ia masih terus mengguncang bahu So-Eun tanpa perduli keadaan. Sadar bahwa bahu So-Eun yang juga semakin terasa dingin di bahwa sentuhannya. Kyu-Hyun menjerit. “SO-EUN BUKA MATAMU!!”

Dae-Hyun dan Jong-Woon lantas bertindak cepat. Menahan bahu Kyu-Hyun lalu menyeret mundur paksa pria itu hingga Dokter bisa memeriksa keadaan So-Eun.

Tapi Kyu-Hyun meronta hebat. Sempat menendang dan meninju lengan Dae-Hyun dan Jong-Woon saat mereka berusaha memisahkan Kyu-Hyun dari So-Eun. Tidak, tidak, TIDAK!! Tidak ada yang boleh memisahkannya dari So-Eun.

“LEPASKAN AKU!!” jeritnya lagi. Saat Jong-Woon dan Dae-Hyun memegang bahu dan tangannya begitu kuat. Membuat napas Kyu-Hyun tercekat. Pandangannya lalu beralih pada So-Eun. Gadis itu kini sudah dikerubungi para Suster dan Dokter. Dipasangkan berbagai macam alat di tubuhnya. Membuat dada Kyu-Hyun serasa diremas kuat.

Mendadak tenaganya lenyap. Kakinya lemas dan ia tak sanggup untuk berontak lagi. Hanya urat suaranya yang masih bisa berfungsi.

“So-Eun buka matamu.” Lirihnya penuh air mata. “Buka matamu… buka…” detik berikutnya Kyu-Hyun lepas kendali. Menjerit sejadi-jadinya hingga urat lehernya terlihat.

“BUKA MATAMU, GADIS BODOH!! BRENGSEK!! BUKA MATAMU!!!”

Tapi seakan tak ada yang menggubris teriakannya. Semua orang masih sibuk mengerubungi So-Eun dan Jong-Woon serta Dae-Hyun masih terus memeganginya. Jadi ia berteriak sekali lagi. Sekeras yang ia bisa. Berharap So-Eun mendengarnya.

“SO-EUN BUKA MATAMU!! SIALAN, BRENGSEK, KEPARAT, DASAR GADIS BODOH. APA HANYA MEMBUKA MATAMU SAJA KAU TIDAK BISA, HUH?? BUKA MATAMU, CEPAT!!!”

Setelah itu Kyu-Hyun merasa kepalanya pening luar biasa. Napasnya habis. Dan semuanya berangsur gelap. Dia tidak tahu apalagi yang terjadi setelah itu. Selain teriakan Jong-Woon dan Dae-Hyun yang memanggil namanya.

_o0o_

Kyu-Hyun merasa matanya berat. Sekujur tubuhnya juga. Seperti tertimpa sesuatu. Bahkan untuk bergerakpun rasanya sulit sekali. Ia mencoba menggerakkan jarinya tapi tenaga Kyu-Hyun sungguh tak kuat untuk melakukan hal itu. Lalu ia mencoba untuk mengangkat kelopak matanya tapi tak ada hasil sama sekali.

Jadi ia menyerah. Membiarkan dirinya seperti itu tanpa bergerak.

Hingga… ada sesuatu yang menyentuh wajahnya. Lembut sekali. Kyu-Hyun merasa nyaman dengan sentuhan tersebut. Sentuhan yang membuat dirinya menghangat dan berani untuk mengumpulkan sisa tenaga. Kembali untuk mencoba membuka mata.

“Kyu-Hyun, buka matamu.”

Suara itu

Kyu-Hyun hafal. Terlalu hafal sampai rasanya ia ingin secepat mungkin membuka mata dan melihat siapa yang barusan berbicara padanya. Tapi sekali ia mencoba. Pusing kembali mendera kepalanya. Hingga ia hanya bisa menggeram tertahan.

“Hey, kau bahkan berteriak memintaku membuka mata. Tapi sekarang kau tidak mau membuka matamu?”

Suara itu kembali terdengar. Kali ini dengan nada merajuk. Iya… iya… aku ingin membuka mata. Hanya…. aku tidak bisa.

Ketika Kyu-Hyun tetap berusaha. Ia merasakan sentuhan lembut itu kini mulai menyentuh dahinya. Menelusuri hidungnya lalu jatuh tepat di bibirnya. Detik itu juga jantung Kyu-Hyun menggila. Merasakan halusnya kulit itu yang membelai wajahnya. Kyu-Hyun sudah tidak tahan untuk membuka mata. Maka sekali lagi ia mencoba. Dan hasilnya tetap sama.

Apa? Apa yang terjadi pada kelopak matanya?”

“Kau… tidak mau membuka matamu?” suara itu semakin lirih. Membuat Kyu-Hyun meringis dalam hati. Ia benci nada lirih itu.

Lalu, entah pada detik keberapa. Kyu-Hyun merasakan aroma lembut yang memenuhi penciumannya. Aroma yang menenangkan dan terasa begitu dekat dengannya. Dia tahu jelas. Siapa pemilik aroma selembut ini. Hingga sekujur tubuh Kyu-Hyun menegang. Saat ia merasakan ada sesuatu yang kenyal, lembut, dan manis. Menyentuh bibirnya. Sesuatu yang basah tapi terasa pas di lekukan bibirnya. Sesuatu yang menekan bibirnya pelan. Seolah memberinya kekuatan.

Dan baru setelah itu. Kyu-Hyun bisa membuka matanya perlahan. Langsung bertabrakan dengan wajah So-Eun yang dekat sekali dengan wajahnya.

Wajah itu… wajah yang dirindukannya setengah mati…

Sedetik berikutnya. Bibir So-Eun menjauh dari bibirnya dan Kyu-Hyun merasa kehilangan. Ia menilik wajah So-Eun yang kini sudah tidak pucat. Matanya berbinar. Pipinya merona. Bibirnya basah. Penampilan yang membuat Kyu-Hyun terhenyak tak percaya.

“So-Eun…”

Tangan So-Eun terangkat untuk mengusap pelipisnya pelan. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. “Kau sudah sadar? Sebentar, biar kupanggilkan Dokter.”

Kyu-Hyun menggeleng lemah. Dengan sisa tenaga menahan tangan So-Eun sebelum gadis itu beranjak. Dia sedikit-banyak mengalami trauma. Detik ketika ia melihat So-Eun menjauh darinya. Ia hanya tidak mau berpisah dengan gadis itu.

“Di sini saja, kumohon.” Pelasnya. Memasang mata dengan binar memohon. Yang berhasil membuat So-Eun kembali terduduk pada kursi di sampingnya.

Kyu-Hyun lantas berusaha bangun. Dengan dibantu So-Eun hingga punggungnya bisa bersandar pada kepala ranjang.

“Tapi kau baru sadar. Aku harus memanggil Dokter untuk memeriksa keadaanmu.”

Sekali lagi Kyu-Hyun menggeleng. Malah mengulurkan tangannya ke depan. “Mau memelukku?”

So-Eun langsung menyambutnya tanpa ragu. Berhambur ke dalam pelukan Kyu-Hyun sambil menempelkan wajahnya pada dada pria itu.

Kyu-Hyun meringis. Semakin mengeratkan kedua tangannya seolah So-Eun masih terlalu jauh dalam dekapannya. Kepalanya ia tekan kuat-kuat pada cerukan leher So-Eun. Mencari aroma lembut yang bisa menenangkannya dari sana. Lalu bergumam serak, “Aku nyaris gila karenamu.”

So-Eun tak menjawab. Hanya membalas pelukan Kyu-Hyun. “Kau tahu seberapa ketakutannya aku saat kau sama sekali tidak mau membuka mata? Ini sudah seminggu dan kau belum sadar. Itu membuatku takut, So-Eun.” adunya lirih. Sambil menggesekkan hidungnya pada kulit leher So-Eun. “Aku takut kehilanganmu.”

“Kau tidak akan kehilangan siapapun.” Sahut So-Eun menenangkan. “Buktinya aku berada di sini sekarang, hmm?”

“Maaf, So-Eun. Maafkan aku. Karena kebodohanku kau harus terbaring di rumah sakit. Sungguh, aku tidak tahu kalau kau alergi asap rokok.”

“Sudahlah, tidak usah dibahas. Yang penting aku sudah sembuh sekarang.”

Perlahan Kyu-Hyun melepas pelukannya lalu memandang So-Eun lekat-lekat. “Kau sudah tidak apa-apa?”

“Ya, dua jam yang lalu aku sudah sadar dan semuanya kembali seperti semula. Paru-paruku sudah membaik dan aku bisa beraktifitas seperti biasa.”

“Tapi kau…”

“Kata Dokter. Itu hanya kontraksi paru-paruku saja. Aku tidak mengerti apa yang dijelaskan Dokter tapi yang jelas. Kebanyakan penderita alergi asap rokok memang mengalami yang seperti itu sebelum sadarkan diri.”

Oh, Kyu-Hyun menghela. Kembali meraih So-Eun dalam pelukannya. Hampir saja ia mengira bahwa So-Eun akan meninggalkannya sedirian.

“Tapi apa yang terjadi? Kudengar dari Dae-Hyun kau menjerit kesetanan sambil memakiku?”

Kyu-Hyun merengut di cerukan leher So-Eun. “Siapa suruh kau tidak mau membuka matamu? Kau tahu aku panik sekali saat itu?”

“Hey, kau boleh panik tapi apa pantas kau memakiku seperti itu? Gadis bodoh?”

Alis Kyu-Hyun berkerut. “Darimana kau tahu aku memakimu gadis bodoh?”

“Dae-Hyun,”

“Pria itu,” Kyu-Hyun menghela napas. “Mulutnya mudah sekali bocor. Biar saja, kupotong gajinya biar tahu rasa.”

“Awas saja kalau kau berani melakukannya.”

Sontak Kyu-Hyun melepas pelukannya ketika mendengar ancaman So-Eun. “Kau sedang mencoba membela pria lain? Di depan suamimu?”

Bukannya takut, So-Eun justru terkekeh. Menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Kyu-Hyun lalu berujar. “Kau tidak akan berani memotong gajinya. Malah aku yakin kau akan menaikkan gajinya saat tahu apa yang ia lakukan pada perusahaanmu saat kau sibuk mengurusku.”

Kyu-Hyun terdiam. Tapi tetap menikmati sentuhan So-Eun di wajahnya.

“Nah, sekarang. Aku harus meluruskan satu hal padamu.”

“Apa itu?”

So-Eun menurunkan tangannya. Lalu beralih menatap Kyu-Hyun serius. “Ini tentang Jong-Woon ssi.”

“Tentang pria itu lagi?”

“Hey, dengarkan aku. Kau salah paham, Kyu-Hyun. Hari itu Jong-Woon memang menghubungiku. Tapi untuk menanyakan kabar kita berdua. Ingat, kita berdua. Dia bertanya apakah kita punya waktu senggang di minggu depan karena dia mengundang kita untuk datang ke acara pertunangannya. Dia menanyakan kabar kau dan aku. Bukan hanya kabarku.”

“Tapi…”

“Aku ingin menjelaskannya padamu waktu itu tapi kau lebih dulu emosi. Kau malah lebih cepat menghisap rokok dan.. ya… semuanya terjadi.”

Otak Kyu-Hyun mendadak kosong dan pikirannya melayang terlalu jauh. Jadi, saat itu. ia emosi, uring-uringan, kesal, dan marah, tanpa alasan? Jadi semua yang terjadi hanya karena kesalah pahaman bodohnya, begitu?

“Maka berhentilah marah pada sahabatmu, Kyu-Hyun. Dia tidak mungkin bersikap lancang pada Istri sahabatnya sendiri.” So-Eun lalu terkekeh pelan. “Tapi kau mengerikan juga kalau sedang cemburu.”

“A-apa?”

“Kenapa? Kau mau mengelak? Apalagi namanya kalau bukan cemburu?”

Tidak ada yang bisa Kyu-Hyun lakukan selain menghela napasnya. Berdecak palan lalu memandang So-Eun jengah. “Memangnya salah jika seorang suami cemburu pada Istrinya sendiri?”

_o0o_

“Kenapa tersenyum sendiri?”

So-Eun tak bisa melepaskan matanya dari Kyu-Hyun. Apalagi karena pria itu terus saja tersenyum sendiri tanpa alasan. So-Eun merasa tidak ada hal lucu yang bisa ditertawakan, tapi kenapa Kyu-Hyun tersenyum? Bahkan ketika mereka turun dari mobil dan sampai di depan rumah.

So-Eun menggeleng pelan sambil hendak memegang gagang pintu. Tapi Kyu-Hyun langsung memegang tangannya.

“Ng… So-Eun. Tutup matamu.”

“Apa?”

Kyu-Hyun bergerak-gerak kecil sambil mengusap belakang lehernya. “Tutup saja matamu. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

“Sesuatu?”

“Ayolah, tutup saja matamu…” rajuk Kyu-Hyun dan So-Eun akhirnya menurut. Perlahan ia menutup matanya lalu merasakan tangan Kyu-Hyun memegang tangan dan sisi pinggangnya. Oh, mendadak wajah So-Eun memanas ketika merasakan hangatnya tangan Kyu-Hyun yang memegang pinggang dan tangannya.

“Jalan pelan-pelan.” Kata Kyu-Hyun kemudian. So-Eun memang merasa ada sesuatu yang bertabur banyak di lantai termpatnya berpijak. Seperti ada yang mengganjal di bawah sendal rumahan yang ia pakai.

“Kyu-Hyun, sebenarnya apa yang mau kau tunjukkan padaku?”

“Sesuatu.”

So-Eun menghela. Masih mengikuti Kyu-Hyun yang membimbingnya terus berjalan. Hingga langkah mereka terhenti. Tapi So-Eun tidak tahu dia berada di mana sekarang.

“Boleh aku membuka mataku?”

“Jangan.” Sentak Kyu-Hyun cepat. Ia merasakan Kyu-Hyun melepaskan tangan dan pinggangnya. Tapi ia masih bisa merasakan aroma pria itu di sekelilingnya. Sebenarnya apa yang sedang Kyu-Hyun lakukan?”

“Nah, sekarang. Buka matamu.”

Perlahan, So-Eun membuka matanya. Dan hal yang ia tangkap pertama kali adalah… wajah Kyu-Hyun yang tersenyum manis. So-Eun sontak ikut tersenyum sambil mengalihkan tatapannya ke sekeliling. Memandang takjub dengan mulut setengah menganga saat mendapati rumahnya yang berubah.

Di lantai banyak sekali taburan kelopak bunga mawar hingga nyaris menutupi seluruh lantai. Di sisi-sisi dinding kini sudah ditempeli lilin-lilin kecil yang sesekali bergoyang karena tiupan angin melam dari sela jendela. So-Eun tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini terlalu menakjubkan baginya.

“Kau suka?”

So-Eun menoleh. Kembali memandang Kyu-Hyun dengan berbagai macam perasaan. “Tentu saja aku suka. Ini… indah sekali.”

Lalu, entah bagaimana. Kyu-Hyun berbalik dan menjauh darinya. Semenit sebelum pria itu kembali berjalan ke arahnya sambil membawa sepotong kue. Hanya sepotong kecil berbentuk segitiga dengan satu lilin manis di atasnya. Tapi itu cukup untuk membuat napas So-Eun tercekat.

“Selamat ulang tahun, Istriku. Maaf terlambat merayakannya.”

So-Eun tak bisa berkata-kata. Suaranya mendadak tersangkut di tenggorokan.

“Nah, sekarang. Make a wish.” Pinta Kyu-Hyun sambil mendekatkan kue di tangannya ke dekat So-Eun. So-Eun lantas memejamkan mata. Mendekatkan tangannya ke dekat dada lalu berdoa dalam hati.

Aku ingin Kyu-Hyun berhenti merokok. Aku ingin bahagia bersamanya. Aku ingin yang terbaik untuk kami berdua.

Setelah itu So-Eun membuka mata. Meniup satu lilin di atas kue tersebut lalu tersenyum pada Kyu-Hyun.

“Kau mau mencoba kuenya?” tawar Kyu-Hyun. Dan langsung diangguki oleh So-Eun.

Pria itu tersenyum simpul. Menyuapkan sepotong kue yang dipegangnya ke dalam mulut So-Eun sebelum mencabut lilinya. Lalu mengusap sudut bibir So-Eun yang terkena krim kue dengan kekehan kecil.

“Kuenya enak. Apa kau yang membuatnya?”

Kyu-Hyun berdecak. “Kau tahu aku tidak becus di dapur. Mana bisa membuat kue?”

So-Eun terkekeh tapi tetap mengangguk. Lalu ia melihat Kyu-Hyun meraih sesuatu dari dalam sakunya. Sekotak kecil dengan kulit biru beludru.

Mata So-Eun berbinar. Apa itu cincin?

“Hadiahmu,” kata Kyu-Hyun pelan. Sambil mengangsurkan kotak yang dipegangnya pada So-Eun. Dan So-Eun tanpa ragu menerimanya. Membuka kotak berludru tersebut dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa isi kotak tersebut. Memang bukan cincin. Tapi itu lebih bersinar daripada sebuah cincin.

“Maaf aku hanya bisa memberikan hair clip itu padamu. Aku tidak tahu apa yang kau suka. Dan yang terpikirkan olehku hanyalah jepit rambutmu waktu itu. Makanya aku membelikan ini.”

Mata So-Eun berbinar. Tahu benar dengan apa yang ada di tangannya sekarang. Hair clip pheonix dengan jajaran berlian di setiap sisinya.

Ah, ini indah sekali…

Ia lalu mendongak. Menatap Kyu-Hyun dengan mata berbinar. “Ini indah sekali. Terima kasih, aku suka.”

“Kau suka?” kata Kyu-Hyun terkejut. “Tadinya aku khawatir kau tidak akan menyukainya.”

“Bagaimana mungkin aku tidak menyukai jepit rambut sebagus ini? Ya Tuhan…”

Kyu-Hyun tersenyum. Lalu maju selangkah, membuat So-Eun menatapnya bingung. “Maaf, kalau selama ini aku bersikap tidak layak padamu. Aku selalu berbicara kasar padamu. Mengabaikanmu. Tidak berduli padamu. Maaf.” Mulai Kyu-Hyun dengan pandangan lurus pada mata So-Eun. “Maaf juga karena aku tidak pernah menuruti laranganmu. Aku sadar sekarang. Merokok tidak ada gunanya sama sekali. Itu hanya akan memperburuk kesehatanku saja. Dan aku berjanji aku tidak akan bersentuhan dengan barang-barang itu lagi.”

“Kau janji?”

Kyu-Hyun mengangguk cepat. “Janji.”

So-Eun tersenyum dan langsung berhambur ke dalam pelukan Kyu-Hyun. Menempelkan wajahnya pada dada Kyu-Hyun. “Terima kasih karena sudah mau berhenti merokok.”

“Tidak, justru aku yang harusnya beterima kasih padamu. Kau yang sudah membuatku sadar. Kau yang sudah susah payah menarikku dari benda itu. Jadi aku yang harusnya berterima kasih padamu.” Kyu-Hyun terdiam sejenak untuk menghela napas. “Terima kasih, So-Eun.”

So-Eun merasa sudut bibirnya begitu ringan. Hingga senyumnya terbit begitu lebar. Semakin mengeratkan pelukannya lalu mengangguk. “Terima kasih kembali.”

“Oh, ada satu lagi.”

Kyu-Hyun melepaskan pelukannya lalu beralih memandang wajah So-Eun. Dengan binar tenang dan keyakinan yang kuat. So-Eun bisa melihat jelas ada kesungguhan di balik mata Kyu-Hyun. Maka tak ada yang bisa ia lakukan ketika Kyu-Hyun mendekat. Menunduk agar bisa meletakkan dahinya pada dahi So-Eun. Lalu berujar pelan, “Katakan jika kau mencintaiku.”

Alis So-Eun berkerut samar. Balas memandang Kyu-Hyun tepat dimata. “Apa?”

Kyu-Hyun tersenyum. Senyum tulus yang memiliki makna dalam. Pipi So-Eun tiba-tiba saja merona mendapat senyuman seperti itu. Ia merasa diistimewakan.

“Karena aku tidak akan mengatakan cinta pada orang yang tidak mencintaiku.”

Otak So-Eun mendadak kosong dan tubuhnya kaku seketika. Sulit sekali mencerna apa yang Kyu-Hyun katakan. Hingga pria itu kembali berkata. Dengan suara pelan. Rendah. Tapi penuh kesungguhan. Yang terakhir. Kalimat itu terasa begitu indah di telinga So-Eun.

“Aku mencintaimu. Jadi kau harus mencintaiku juga. Paham?”

Detik itu juga senyum So-Eun terbit sempurna. Setetes air matanya jatuh karena terharu. Lalu ikut menyahut dengan suara serak. “Aku juga mencintamu, Cho Kyu-Hyun.”

Tangan Kyu-Hyun terangkat untuk menghapus jejak air mata di pipi So-Eun sambil mengusapnya pelan. “Sekarang, bolehkan aku mendapatkannya kembali?”

“Huh?”

Kyu-Hyun semakin menunduk. Mengikis jarak antara wajahnya dan wajah So-Eun. “Ciuman di bibir. Seperti yang kau lakukan waktu itu. Bisakah aku mendapatkannya kembali?”

Pipi So-Eun semakin merona. Dan ia menunduk dalam. Menyembunyikan wajahnya yang memerah dari Kyu-Hyun meski ia tahu pria itu tetap bisa melihatnya. Lalu, detik berikutnya ia mengangguk pelan. Hanya dua kali anggukan.

Kyu-Hyun menarik pinggang So-Eun mendekat hingga depan tubuh mereka menempel. Tanpa basa-basi langsung menekan bibirnya pada bibir So-Eun. Tak sabar ingin kembali mencecapi rasa manis dari setiap lekuk bibir So-Eun. Lima detik berlalu dan bibir Kyu-Hyun bergerak. Mulai menyesap bibir So-Eun dari sudut ke sudut. Bahkan ia mulai memiringkan kepala.

Hingga beberapa saat kemudian. Kyu-Hyun melepaskan bibirnya saat So-Eun meminta napas. Lantas memandang mata So-Eun dengan sejuta binar. Lalu turun pada bibir gadis itu yang memerah dan bengkak. Sebelah tangan Kyu-Hyun otomatis terangkat. Mengusap sudut bibir So-Eun yang basah akibat ciumannya tadi. Lalu meracau dengan entah nada yang seperti apa.

“So-Eun,”

“Ya,”

“Kurasa… aku sudah menemukan yang lebih nikmat daripada rokok.”

“Apa?”

“Aku sudah mendapatkan pengganti rokok sekarang.”

Melihat ekspresi So-Eun yang tercenung. Kyu-Hyun kembali mendekatkan wajahnya pada wajah So-Eun. Lalu berbisik di depan mulut gadis itu.

“Setelah ini. Jangan salahkan aku kalau aku seperti orang kesetanan ketika menghisap bibirmu. Karena aku sudah tidak bisa menghisap rokok lagi. Jadi kau harus menggantinya dengan bibirmu, setuju?”

Detik berikutnya, Kyu-Hyun kembali memangut mesra bibir So-Eun dengan mata terpejam. Tangannya terangkat untuk mengusap-usap pinggang gadis itu. Bibirnya terbuka sejenak, membiarkan napas hangatnya beradu dengan napas hangat So-Eun. Lalu berujar dengan nada rendah.

“Bagaimana kalau kita melakukan yang lebih daripada sekedar ciuman?”

“Maksudmu?”

“Aku punya ide lain selain menghisap bibirmu saja.”

So-Eun terdiam tapi tak menolak ketika tangan Kyu-Hyun beralih untuk mengelus pipinya dengan sebelah tangan.

“Bagaimana kalau aku menghisap bagian tubuhmu yang lain? Bukan hanya bibir. Kedengarannya menyenangkan. Lebih dahsyat daripada rokok.”

 

 

–Fin^^–

Rcl, yaaa?

Tengkyu ^^

 

 

12 Comments (+add yours?)

  1. Thia
    Feb 29, 2016 @ 15:08:50

    ckckck kyu mesum
    keren thor ffnya feelnya dapat dan menurutku konfliknya ngak terlalu berat

    Reply

  2. leeechoika
    Feb 29, 2016 @ 15:32:42

    keren thor… bahasanya bagua dan ceritanya jelas. feel nya dapet.. sequel mereka punya anak dong thor hehe! fighting!!^^

    Reply

  3. cici
    Feb 29, 2016 @ 15:50:52

    gk pernakh berubah mesummya sm so eun

    Reply

  4. Mrs. C
    Feb 29, 2016 @ 18:21:28

    ‘lebih dahsyat daripada rokok’
    kalimat terakhirnya bikin senyum2 sendiri…
    btw aku ngebayangin kyuhyun ngerokok kok mimisan sendiri ya?

    Reply

  5. cho
    Feb 29, 2016 @ 23:55:04

    Omaygat omaygatt. Keren thor. Senyum2 sendiri bacanya. Aaaa cho kyuhyun..
    Good job.. Keep writing 🙂

    Reply

  6. ElvaZavier
    Mar 01, 2016 @ 02:16:59

    Berhenti jd perokok, kini beralih jd pria mesum. Wkwk…
    Bagus ceritanya, ada pesan moralnya juga. No smoking!

    Reply

  7. Jung Haerin
    Mar 02, 2016 @ 02:25:38

    Sweet bgt…… Kereeeennnn

    Reply

  8. Meuthia Nabila (@MeuthiaN03)
    Mar 03, 2016 @ 02:24:12

    Suka sama ceritanya..
    Keep writing ^^

    Reply

  9. soyou
    Mar 03, 2016 @ 16:58:27

    kyuhyun mesummmmmm… so eun lebih dasyat dari rokok

    Reply

  10. Nanakyu
    Mar 09, 2016 @ 23:32:41

    Nice story
    Keep writing yaa
    (*^_^*)

    Reply

  11. olaf0311
    Apr 04, 2016 @ 23:32:02

    Gila. Menyentuh banget. Aku juga alergi rokok sih. Tapi ga sampek separah itu.

    Reply

  12. cho
    Apr 14, 2016 @ 00:46:27

    hhhhahaha.
    yadong cho.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: