ARE YOU GHOUL? [3/?]

suju08-1

 

ARE YOU GHOUL?

 

Title : Are You Ghoul? PART 3

Author : Fanynda Kim

Leght : Long Story

Cast :

  • Lee Dong Hae
  • Song Ji Ae (OC)
  • Super Junior’s Member
  • Etc

Genre: Kekerasan, Romance. Fantasy, Chapter.

PG : 16+

Ji Ae kembali menelan salivanya sendiri. Tubuhnya benar-benar sudah bergetar hebat. Sungguh. Ini seperti mimpi.

“Oh Song Ji Ae. Bangunlah dari tidurmu sekarang juga. Bangunlah dari mimpi buruk ini..” Ji Ae menggumam dalam hatinya.

Ji Ae menutup kedua matanya secara perlahan. Lalu semenit kemudian wanita itu membuka matanya perlahan. Keadaan tidak berubah. Dia tidak bermimpi. Ini nyata!

Donghae yang sedang menikmati makanannya langsung menghentikan aktivitasnya tersebut ketika mendengar suara seseorang dari belakang punggungnya. Perlahan pria itu membalikkan tubuhnya. Melihat siapa yang ada dibelakangnya.

Tulang yang dipegang pria itu langsung jatuh begitu menyadari siapa yang berada dibelakangnya. Walaupun dia tidak sadar sepenuhnya, tetapi dia sangat menyadari wajah itu. Mengenali siapa pemilik wajah itu. Song Ji Ae. Apa?! Song Ji Ae?!

Mata keduanya bertemu.

“Lee Donghae? Kau…. seorang Ghoul?” Ucap Ji Ae dengan bibir yang bergetar hebat.

Donghae hanya diam. Terus memandang wanita itu.

“Mengapa kau tidak memberitahuku tentang hal ini?”

Donghae kembali diam. Sungguh dia ingin menjelaskan semuanya. Tetapi sekarang tubuhnya masih seperti ini. Bisa-bisa dia memakan Ji Ae juga.

“Aku tidak percaya ini!” Teriak Ji Ae. Langsung berlari meninggalkan Donghae sendirian.

“Song Ji Ae…” Donghae bergumam pelan. Matanya terus menatap punggung wanita itu yang semakin lama semakin menjauh dan hilang dibalik tembok.

**

Suara langkah kaki Ji Ae terus terdengar disepanjang jalan itu. Langit semakin mendung, seperti tahu akan kesedihan yang dia rasakan kini. Akhirnya, tanpa menghitung menit, tetes demi tetes air turun dari langit. Dari hanya gerimis kecil berubah menjadi deras. Ji Ae membiarkan dirinya basah oleh air hujan yang semakin lebat itu. Ini sangat menguntungkan baginya, siapapun yang melihatnya tidak akan tahu wanita itu sedang menangis sekarang.

Ji Ae menghentikan langkah kakinya. Berdiri mematung seperti orang yang sangat kebingungan. Matanya menatap apa yang ada disekitarnya. Sunyi. Ya, kalimat itu memang sangat cocok digunakannya sekarang. Orang-orang yang berlalu lalang tadi sudah berlari, mencari tempat berteduh. Sedangkan mobil-mobil yang melintas disampingnya semakin sedikit.

Langkah Ji Ae berlanjut. Kali ini tidak berlari lagi, hanya berjalan tetapi lebih lamban dari biasanya. Wanita itu terus mengepal kedua tangannya. Masih meyakinkan apa yang dilihatnya tadi adalah mimpi, atau hanya khayalannya saja.

Haruskah Ghoul?

Kenapa harus Ghoul?

Kenapa harus orang yang sangat dicintainya itu?

Kenapa?

Kenapa takdir begitu kejam kepadanya?

Ji Ae menghembuskan nafasnya perlahan. Ini benar, ini adalah sesuatu kenyataan yang harus diterimanya.

Lee Donghae adalah seorang Ghoul.

Ya. Itu benar. Dia tidak bisa mengubah takdir.

**

‘Brak’

Jung Soo yang sedang tertawa karena mendengar lelucon Hyuk Jae langsung terdiam ketika mendengar hentakan pintu itu. Seketika kelima orang yang sedang asyik bicara langsung terdiam. Mata mereka memandang kesatu titik. Lee Donghae.

“Ada apa denganmu?” Tanya Shindong heran. Matanya terus menatap Donghae. Pakaiannya bahkan seluruh tubuhnya basah.

“Kau.. Memangsa orang?” Hyuk Jae juga tidak kalah detail memperhatikan Donghae. Dikemeja yang dia pakai ini, ada bercak darah yang sudah bercampur dengan air. Hyuk Jae tahu itu. Dari penciumannya yang tajam juga dia tahu bahwa Donghae baru menikmati makan malamnya.

Mata Donghae terus menatap kelima orang yang sedang duduk disalah satu meja dikafe itu. Dadanya masih berdebar keras, ketika mengetahui suatu fakta bahwa Ji Ae sudah tahu siapa dia sebenarnya.

“Oh tuhan Lee Donghae.. Jangan menatap kami seperti itu..”

“Jung Soo hyung.. Sudahlah. Biarkan saja bocah ingusan itu seperti itu.. Dia memang sedikit aneh” Hyuk Jae lalu mengalihkan pandangannya ke Jung Soo yang ada disebelahnya.

“Aku tahu. Dia ketahuan oleh Ji Ae bahwa dia seorang Ghoul”

Skak mat! Bagaimana bisa pria dingin itu menebaknya? Apakah mudah ditebak? Oh tuhan.. sebaiknya dia tidak memandang remeh Jong Woon. Mati dia! Jika Jong Woon tahu, pria dingin itu bisa membunuh Ji Ae kapan saja.

Tanpa aba-aba, Donghae langsung melangkah pergi meninggalkan kelima orang itu. Dia tidak ingin memperpanjang masalah disana. Lagipula sekarang dia hanya butuh ketenangan jiwanya. Ya sebuah ketenangan.

Sekarang, Ji Ae sudah tahu bahwa dia Ghoul. Inilah sebuah konsekuensi berat yang harus diterimanya. Padahal dia sudah tahu ini akan terjadi suatu saat. Tetapi mengapa ada rasa sakit yang menyelimutinya?

Apakah sekarang dia benar-benar sangat mencintai wanita itu?

Tidak! Sesungguhnya ini tidak boleh terjadi. Seharusnya perasaan gila yang tidak bisa diungkapkan itu tidak pernah hinggap dihatinya.

Seandainya saja tidak ada program belajar mengajar, pasti dia tidak akan pernah berfikir akan ini.

Ini sungguh gila! Dia bahkan tidak percaya dia akan mencintai wanita itu seperti ini.

Donghae mengacak rambut hitamnya kasar, dengan langkah cepat pria itu langsung masuk kedalam kamarnya.

**

“Apakah Donghae benar-benar mencintai wanita itu?”

Suara Ryeowook berhasil memecahkan keheningan.

“Selama 10 tahun terakhir, aku tidak pernah melihat ekspresi wajahnya seperti itu. Terakhir kali sejak kejadian itu”

“Donghae tidak pernah setenga-setengah. Aku tahu. Dia pasti sangat mencintai Ji Ae. Tetapi apakah benar ini karena Ji Ae?”

“Entahlah.. Menurut instingku, Donghae sudah ketahuan oleh Ji Ae bahwa dia adalah seorang Ghoul”

Setelah kalimat itu, Keheningan kembali datang.

“Jong Woon Hyung?”

Jong Woon lalu menatap dingin Ryeowook yang memanggilnya.

“Apakah kau akan membunuh Ji Ae jika Donghae benar-benar sudah ketahuan olehnya?”

“Mmm.. Itu sudah kewajiban bukan?”

**

“Donghae-ya! Kau tidak apa-apa?”

Donghae lalu menatap kearah pintu. Hyuk Jae sudah berdiri disana.

“Tidak apa..” Pandangan Donghae beralih lagi kelangit langit kamarnya. Berbaring dalam keadaan kacau begini mungkin bisa membuat hatinya tenang.

“Sudahlah.. Kau tidak perlu menyembunyikan perasaanmu. Kita sudah seperti saudara bukan?”

Donghae diam. Kedua matanya terus memandang langit-langit kamar.

“Jika kau tidak bisa menceritakannya, tak apa. Aku tidak akan marah ataupun kecewa” Hyuk Jae lalu melangkahkan kakinya, berbalik.

“Hyuk Jae-ya..”

Suara itu berhasil membuat langkah kaki Hyuk Jae terhenti seketika.

“Bagaimana jika Jong Woon benar-benar membunuh Ji Ae?”

“A.. Apa?”

Donghae kembali diam. Sedangkan Hyuk Jae memutar balik tubuhnya. Lalu menatap pria yang sedang berbaring ditempat tidur itu.

“Apa maksudmu?”

“Ji Ae.. Benar-benar melihatku..”

Kalimat itu berhasil membuat Hyuk Jae membeku seketika. Jadi benar? Donghae ketahuan oleh Ji Ae? Wanita itu benar-benar mengetahui pria ini adalah Ghoul?

“Bagaimana.. Bagaimana bisa?”

Donghae menutup separuh wajahnya dengan punggung tangan kanannya.

“Aku.. Tidak tahu bagaimana. Itu terjadi begitu saja..”

“Oh Lee Donghae.. Ini sangat gawat”

“Aku tahu..”

“Bagaimana jika Jong Woon Hyung tahu?”

Donghae lalu membalikkan tubuhnya. Sekarang pandangannya beralih kearah Hyuk Jae.

“Aku tidak tahu”

“Kau rela Ji Ae mati?”

Donghae terdiam seketika. Ya. Dia tidak akan rela wanita yang dicintainya itu mati. Itu artinya Ji Ae akan pergi untuk selama-lamanya bukan?

“Lee Donghae.. Kau benar-benar tidak perduli jika Ji Ae mati?”

“Tentu saja aku peduli bodoh! Aku tidak akan rela jika dia mati!”

“Jadi bagaimana?”

“Jika kau tidak menceritakannya kepada Jong Woon Hyung, ini akan aman..”

“Hei! Aku memang tidak ingin wanita itu mati Donghae, tetapi Ji Ae itu adalah manusia. Jika dia mengetahui kau adalah Ghoul, dia pasti tahu kami semua yang ada dikafe ini adalah Ghoul juga! Ini benar-benar serba salah! Aishh..”

“Aku tidak akan membiarkan Jong Woon Hyung tahu masalah kecil ini”

“Masalah kecil katamu? Kau tidak mengerti bagaimana manusia? Oh tuhan.. Sudah kubilang dari awal seharusnya kau tidak berteman ataupun memiliki rasa terhadap manusia Lee Donghae. Walaubagaimanapun dunia kalian itu berbeda. Ini adalah masalah besar! Bagaimana jika Ji Ae menceritakan apa yang dilihatnya? Semua orang akan mengetahui jika kita adalah seorang Ghoul!”

Donghae terdiam. Ya Hyuk Jae benar. Sangat benar malahan. Seharusnya dia tidak pernah menaruh perasaan kepada Ji Ae. Ini adalah kesalahan dasar. Seharusnya dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Ji Ae. Dunia mereka berbeda.

“Aku tahu, Jong Woon pasti akan mencari tahu masalahmu, setelah dia mengetahuinya aku yakin Ji Ae akan dibunuh olehnya”

“Ti.. Tidak!”

“Apanya yang tidak? Oh Tuhan.. kau masih membela Ji Ae lagi? Lee Donghae! Sadarlah! Dia benar-benar tidak bisa bersamamu. Kalian berbeda. Aku tahu.. Ji Ae cinta pertamamu bukan? Tetapi kau harus bisa menerima semua ini..”

“Hyuk Jae.. Jadi bagaimana?”

“Entahlah. Aku sangat sulit memilih. Tetapi jika aku berfikir lagi, aku akan mendukung Jong Woon untuk membunuh Ji Ae. Daripada nyawaku terancam..”

“Hyuk Jae-ya..”

“Oh baiklah Lee Donghae.. Aku akan mendukungmu. Sebaiknya mulai sekarang kau menjaga Ji Ae saja. Awasi setiap gerak geriknya”

“Dia tidak akan mau melihatku lagi setelah kejadian tadi..”

“Oh ya? Mm.. Awasi saja dia dari jauh. Bagaimana?”

Donghae hanya tersenyum kecut. “Ya.. Mungkin bisa..”

“Dan kau harus pastikan dia tidak akan menceritakan tentang kejadian itu kepada orang lain. Kau mengerti?”

Donghae hanya mengangguk.

“Dan setelah dia benar-benar sudah melupakan apa yang dilihatnya, atau kau menyuruhnya untuk bungkam, tinggalkan dia. Dia tidak untukmu Lee Donghae.. Kalian berbeda..”

“A.. Apa?”

“Berhentilah mencintainya..”

Donghae terdiam lagi. Berhenti mencintai Ji Ae?

“Bagaimana? Bagaimana aku bisa berhenti? Oh tuhan..”

“Kau tidak ingin dia celaka bukan? Dunia kita terlalu kejam untuknya”

Donghae tersenyum lagi. Senyum yang sangat pahit mungkin. “Ya, kau benar..”

Jong Woon melangkahkan pergi meninggalkan pintu kamar Donghae begitu sudah tahu inti dari pembicaraan kedua orang yang ada didalam kamar itu. Wajah dinginnya membuat sebuah senyum. Senyuman yang sulit untuk diartikan.

**

“Song Ji Ae!!..”

Ji Ae langsung mengalihkan pandangannya dari semangkuk sup panas yang daritadi dia lihat.

“A.. Apa?”

Sungmin mendengus pelan “Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau melamun seperti itu”

“A.. Apa? Aku tidak melamun. Jangan asal menuduhku..”

“Terus.. Bagaimana tanggapanmu tentang ceritaku tadi?”

Ji Ae langsung terdiam. Mati dia. Dia benar-benar tidak tahu apa yang diceritakan Sungmin tadi.

Lagi-lagi Sungmin mendengus. “Kau benar-benar tidak mendengarku..”

“Ma.. Maafkan aku..”

“Ada apa denganmu? Apa yang diperbuat Donghae sehingga kau bisa seperti ini?”

Ji Ae terdiam lagi. Lee Donghae. Nama itu sekarang sedang menyelimuti seluruh kepalanya. Ghoul. Kekasihnya itu adalah seorang Ghoul. Kata-kata itu juga terus berterbangan dikepada Ji Ae. Bagaimana reaksinya jika nanti dia akan bertemu dengan Donghae? Apakah biasa-biasa saja? Atau dia harus menjauhinya?

“Jadi benar ini karena Donghae? Aishh.. Awas saja pria itu! Sudah kubilang bukan? Jangan pernah membuat hubungan dengannya, apalagi berpacaran dengannya..”

“Oh Lee Sungmin.. Ini tidak karena Donghae. Hanya sebuah sedikit masalah dirumah. Tenanglah.. Kami baik-baik saja..” Ji Ae tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan.

Sungmin mendengus pelan. “Baiklah. Jika itu masalahmu. Tetapi jika ini berkaitan dengan Donghae.. Awas saja pria dingin itu!”

Ji Ae hanya membalas Sungmin dengan senyum palsunya. Kalimatnya yang menyebutkan ‘kami baik-baik saja’ itu benar-benar seperti sudah memenuhi kepalanya sekarang. Sebenarnya kalimatnya seharusnya ‘kami tidak sedang baik-baik saja’. Atau ‘Hubungan kami mungkin sudah berakhir’

Deg

Seketika dada Ji Ae berdebar keras. Apa kalimat yang tadi terlintas diotaknya? Hubungannya yang sudah berakhir? Sudah berakhirkah dia? Haruskah?

Jujur. Didalam hati terdalam Ji Ae tidak ingin melepaskan pria paling dikagumi disekolah itu. Atau seorang pria yang paling diidam-idamkan para wanita untuk dijadikan kekasih. Sungguh. Ji Ae bukan mencintai Donghae karena fisik ataupun otaknya yang sudah sangat sempurna. Tetapi dari hati. Ya. Hati. Tetapi apakah Hatinya itu bisa menerima ini semua?

Ghoul.

Makhluk yang sudah membunuh ayahnya.

Jika saja ayahnya mati bukan karena Ghoul. Jika saja…

“Ji Ae?”

“Song Ji Ae?!”

Lagi-lagi Ji Ae tersentak kaget oleh suara Sungmin yang keras itu.

“A.. Apa?”

“Kau tidak balik kekelas? Sebentar lagi bel akan berbunyi”

“Ya.. Ayo..”

**

Sehun menatap datar Donghae yang ada disebelahnya. Tak biasanya pria itu memasang wajah seperti itu. Apakah ada masalah besar yang menimpanya? Sakitkah? Ataukah para penggemar wanitanya sudah berkurang?

Sehun menghembuskan nafasnya perlahan. Kalimatnya kedua tadi sungguh tidak masuk kedalam daftar ‘masalah Lee Donghae’. Penggemar wanita? Bahkan pria itu tidak memperdulikan wanita-wanita yang sering menyapanya, memberinya hadiah atau lebih dari itu.

Suara bel berhasil membuat keadaan kelas bertambah rusuh. Jam pulang. Jam yang paling ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Dengan cepat Sehun langsung memasukkan buku-buku yang berserakan diatas meja kedalam tasnya. Tetapi pergerakan tangannya berhenti ketika melihat Ji Ae melintas begitu saja dari meja Donghae.

Sehun lalu menatap Donghae. Pria itu masih duduk dikursinya.

Ada apa ini?

Selama Donghae dan Ji Ae resmi berpacaran, kedua orang itu selalu pulang bersama. Bahkan jika Ji Ae menghadiri rapat eskul yang diikutinya Donghae rela menunggu. Begitu juga dengan Ji Ae, Jika Donghae sedang rapat pengurus kelas Ji Ae akan setia menunggunya.

Sehun menatap Ji Ae lagi. Wanita itu belum keluar dari kelas, tetapi menunggu didepan pintu. Sehun tersenyum tipis. Dia salah sangka. Pastinya Ji Ae sedang menunggu Donghae. Oh itu pasti cara terbaru wanita itu untuk menunggu sang kekasih.

“Sungmin-a.. Bisakah kau cepat?”

“Ke.. kenapa?” Tanya Sungmin heran.

“Ayo kita pulang sama”

Kalimat itu berhasil membuat dahi sehun menjadi membentuk lipatan lipatan kecil. Pulang sama? Jadi Donghae?

Sehun kembali menatap Donghae. Masih seperti semula. Pria itu tidak bergerak dari posisi awalnya.

Jadi ini masalahnya?

“Donghae..”

Belum sempat Sehun meneruskan kalimatnya, Donghae langsung berdiri dari kursinya dan berjalan keluar, membuat Sehun semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

**

Donghae hanya menatap Ji Ae dari kejauhan. Wanita itu tetap ceria seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa kemarin. Apakah dia sudah menceritakan semunya kepada Sungmin? Oh Donghae sangat berharap bahwa wanita itu belum menceritakan apa-apa.

Dia harus bisa menjelaskan kepada Ji Ae. Atau memohon kepada wanita itu supaya dia tidak menceritakan apapun kepada orang lain.

Dengan cepat Donghae langsung berlari mengejar Ji Ae. Hanya ini waktu yang tepat. Dia tidak perlu menunda lagi. Setelah ini dia hanya menjaga wanita itu supaya Jong Woon tidak benar-benar membunuhnya.

“Ha.. Hai?”

Tubuh Donghae berhasil membuat Ji Ae dan Sungmin menghentikan langkah mereka.

Dada Ji Ae seketika berdebar keras lagi. Mengapa pria itu tiba-tiba muncul dihadapannya? Sungguh. Dia tidak ingin melihat pria itu sekarang. Dia harus bisa menguatkan hatinya. Menguatkan perasaannya bahwa Donghae tidaklah untuknya.

“Bisakah aku meminjam Ji Ae?”

Sungmin hanya menatap pria yang ada dihadapannya itu dengan tatapan kesal.

“Baiklah.. Terserahmu saja..”

“Terima kasih..” Donghae tersenyum. Lalu membiarkan Sungmin pergi.

“Ja.. Jadi.. Apa tujuanmu?” Tanya Ji Ae dengan suara pelan. Hampir tidak terdengar.

“Bisakah kita mencari tempat? Bagaimana jika dikafe? Atau ditaman?”

“Tidak Lee Donghae. Jelaskan saja disini”

Donghae menggigit bibir bawahnya. Sepertinya Ji Ae benar-benar sudah ingin berpisah dengannya. Oh tuhan Lee Donghae. Ini memang yang kau harapkan bukan? Kenapa kau sesedih ini?

“Jadi.. apa yang mau kau katakan?”

“Kau tidak merasa lapar?” Lagi-lagi Donghae berusaha untuk mengulur waktu.

“Tidak.. Sudahlah. Jelaskan saja apa yang ingin kau katakan”

“Baiklah.. Begini.. tentang kemarin itu.. Ya. Kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang Ghoul..”

Ji Ae hanya diam, tetapi didalam hatinya sungguh bergetar hebat. Inilah waktunya. Inilah saatnya dia berpisah dengan pria ini.

“Jadi.. Aku hanya ingin satu permohonan darimu..”

“A.. Apa itu?”

“Tolong rahasiakan ini. Aku mohon..”

Ji Ae hanya tersenyum tipis “Baiklah akan kujaga rahasia ini..”

Donghae tersenyum. Senang rasanya dia bisa mengungkapkan hal itu.

“Te.. Terima kasih. Yasudah. Terima kasih juga atas waktunya..” Donghae lalu membalikkan tubuhnya. Lalu melangkah pelan meninggalkan Ji Ae.

“Lee Donghae! Tunggu!” Ji Ae langsung menggenggam pergelangan tangan pria itu. Adegan ini sungguh membuat keduanya berdebar.

Donghae langsung menghentikan langkahnya. Dadanya berdegup kencang. Ada apa ini?

Ji Ae menghirup udara secara perlahan, lalu menghembuskannya. Kalimat ini sungguh sangat sulit untuk diucapkan.

“Mungkin.. Aku tidak bisa lagi bersamamu..”

Kata-kata itu berhasil membuat jantung Donghae semakin berdegup keras. Sangat keras malahan. Kalimat itu akhirnya datang juga kepadanya.

“A.. Aku tahu..”

“Terima kasih untuk semuanya..”

Donghae diam. Tidak tahu harus berkata apa sekarang. Hatinya benar-benar hancur.

“Dan anggap saja jika kita tidak pernah saling kenal..”

“A.. Apa?”

“Maafkan aku Lee Donghae..” Ji Ae langsung memeluk tubuh Donghae yang membelakanginya. Wanita itu belum melepaskan genggamannya. Membiarkan dirinya merasakan hangatnya tubuh pria itu. Sesungguhnya dia tidak ingin seperti ini. Sangat tidak ingin berpisah dengan Donghae. Tetapi apa daya. Ini adalah solusi. Mereka dari dunia yang berbeda.

Donghae memejamkan matanya perlahan. Entah apa sekarang yang ada diperasaannya. Kenapa sekarang Ji Ae mendadak memeluk tubuhnya? Salam perpisahankah?

Ji Ae merasa air matanya sudah mengalir. Benar-benar sangat berat melepaskan Donghae. Pria ini benar-benar cinta pertamanya. Sejak 3 tahun lalu. Saat tahu bahwa dia berpacaran dengan seorang Lee Donghae, berita itu benar-benar menjadi hotnews disekolahnya. Untuk anak kelas 1 ataupun kelas 3 seperti dirinya mengetahui info bahwa Song Ji Ae, wanita yang biasa-biasa saja, dibawah standard, berpacaran dengan sang pangeran, idola disekolah ini.

Tetapi. Berpacaran denga seorang Ghoul. Seorang monster yang sudah merenggut nyawa ayahnya sendiri. Itu adalah pilihan yang sangat sulit.

“Aku mengerti Song Ji Ae.. Terima kasih juga untuk segalanya..” Donghae perlahan melepaskan genggaman tangan Ji Ae, bahkan melepaskan sebelah tangan wanita itu yang melingkar dipinggangnya.

Ji Ae terkejut dengan perlakuan Donghae. Tetapi sebenarnya itu adalah hal yang wajar. Mungkin saja Donghae marah karena perlakuannya. Atau mungkin benci. Karena ucapan Ji Ae waktu itu. Kalimat yang mengucapkan walaupun seorang Ghoul, jika cinta, dia akan tetap mencintai pria itu.

“Kau sama saja seperti manusia pada umumnya. Akan mengatakan hal itu. Aku adalah seorang monster dan kau adalah seorang manusia. Kau juga tidak bisa bersamaku, nyawamu bisa saja terancam. Untung saja kita sekarang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Yasudah. Song Ji Ae.. Sekali lagi terima kasih”

“Lee Donghae.. Mak..”

“Aku akan menjalankan permintaanmu. Kita tidak saling kenal bukan? Ji Ae.. Hati-hati dijalan..” Donghae lalu melangkahkan kakinya cepat, meninggalkan Ji Ae. Kalimat gila itu mengalir saja dari mulutnya tanpa dikomando. Oh Lee Donghae. Sekarang. Kau benar-benar harus melepaskan wanita itu.

Ji Ae terdiam. Dadanya semakin berdegup kencang. Air matanya kembali mengalir. Bukan! Bukan karena Donghae adalah seorang Ghoul. Jika saja bukan Ghoul yang membunuh ayahnya, dia tidak akan seperti ini.

Ji Ae hanya menatap tubuh Donghae yang semakin lama semakin menjauh. Besok. Dia tidak akan pernah lagi mendengar suara pria itu memanggil namanya. Ji Ae lalu menunduk lesu. Penyesalan datang. Dia menyesal. Dia benar-benar tidak tahu entah apa yang sekarang ada diotaknya. Penyesalan, kesedihan, bercampur aduk menjadi satu.

Menyesal? Mungkin sudah terlambat untuk itu. Dia tidak akan kembali lagi kepelukan Donghae.

**

‘Kring’

“Dimana Jong Woon Hyung?”

Ryeowook yang sedang mengantarkan nampan berisi dua gelas coffee hanya mengangkat bahu.

“Shindong Hyung. Kau melihatnya?”

“Siapa?”

“Jong Woon Hyung..”

“Tidak..”

“Oh, Mungkin dia ada diatas. Ada apa?” Tanya Jung Soo setelah selesai membuat coffee.

“Tidak.. Hanya bertanya saja..”

Hyuk Jae yang sedang mencatat pesanan pelanggan hanya tersenyum penuh arti kearah kertasnya. Tanpa melihat Donghae sedikitpun. Sepertinya pria itu sudah menebak apa yang ingin dibicarakan Donghae.

“Jika kau sudah selesai dengan urusanmu cepatlah kebawah. Pelanggan hari ini cukup banyak. Arra?” Ucap Jung Soo ketika melihat Donghae sudah melangkah pergi menaiki tangga.

“Arrasseo Hyung..” Balasnya.

Donghae melanjutkan langkahnya naik keatas. Setelah itu, pria itu langsung melangkahkan kakinya lagi keruangan Jong Woon.

Langkah Donghae terhenti begitu melihat Jong Woon melewatinya begitu saja. Pria itu tampak tergesa-gesa turun dari tangga. Seketika perasaan Donghae menjadi tak enak.

“Oh Jong Woon Hyung! Kau dicari..” Kalimat Ryeowook terhenti begitu mengetahui Jong Woon tidak memperdulikan ucapannya.

“Donghae.. Aku melihat Hyung..” Ucapan Ryeowook terhenti lagi. Donghae juga tidak memperdulikannya. Ada apa dengan dua orang aneh itu?

Dengan cepat Donghae langsung mengikuti langkah Jong Woon. Secara diam-diam tentunya. Memang mengerikan jika kita mengikuti langkah pria dingin itu. Dia benar-benar tahu gerak-gerik kita dengan cepat. Maka dari itu, Donghae terus berharap disepanjang perjalanannya.

“Jong Woon Oppa?”

“Song Ji Ae.. Maaf menunggu lama..”

Mata Donghae membulat begitu mengetahui siapa yang ada didepan Jong Woon sekarang. Oh tidak! Ini sangat gawat! Jadi Jong Woon sudah mengetahui semuanya? Sudah mengetahui bahwa Ji Ae sudah tahu tentang Ghoul?

“Bagaimana jika kita duduk disana?” Jong Woon lalu melangkahkan kakinya. Lalu duduk disebuah bangku taman yang entah mengapa tempat itu sangat sepi sekarang.

Ji Ae. Wanita polos yang tidak tahu apa-apa itu. Hanya mengikuti langkah Jong Woon yang ada didepannya.

“Jadi apa yang ingin Oppa bicarakan?”

Jong Woon seketika menjadi diam. Atmosfir sudah berubah menjadi dingin, membuat Ji Ae sedikit merinding. Mata Jong Woon berubah menjadi warna merah tanpa Ji Ae sadari.

“Oppa? Kau tidak apa-apa?” Ji Ae sekali lagi menatap pria yang duduk disampingnya. Pria itu hanya menunduk. Tetapi sesaat kemudian mata Ji Ae langsung terbelalak ketika melihat sesuatu yang ganjil.

Tiba-tiba saja ada akar-akar putih keluar dari tubuh Jong Woon. Itu membuat Ji Ae menutup mulutnya. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ingin menjerit, tetapi tidak bisa.

Dapat dilihat, mata Jong Woon sudah memerah. Ji Ae tahu ini apa.

Ghoul.

Ternyata Jong Woon adalah Ghoul.

Ji Ae memang kurang mengenal pria ini, karena dia adalah salah satu pria yang paling menutup diri di Aide Coffee.

Jika Jong Woon adalah Ghoul. Apakah Jung Soo yang selalu baik kepadanya itu juga Ghoul?

Bagaimana dengan si ramah Ryeowook?

Si Jahil Hyuk Jae?

Atau dengan Shindong yang selalu ceria?

Mereka semua adalah Ghoul?

Oh tuhan…

Sekarang apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba Jong Woon berubah menjadi seperti ini?

“Oppa.. A.. Ada apa?” Tanya Ji Ae gugup. Sungguh wanita itu sudah sangat ketakutan sekarang.

Akar-akar ditubuh Jong Woon langsung melilit tubuh wanita itu. Membuat wajah Ji Ae menjadi pucat pasi. Wanita itu benar-benar ingin berteriak keras sekarang. Tetapi mengapa suaranya tak juga keluar?

Dalam hitungan detik. Tubuh Ji Ae sudah terhempas keaspal yang ada didepan kursi. Membuat kedua tangan Ji Ae menjadi berdarah.

“A.. Ada apa..?”

Jong Woon langsung menatap Ji Ae dengan wajah dinginnya.

“Satu aturan yang harus kau tahu.. Song Ji Ae..”

Ji Ae memundurkan tubuhnya. Tetapi kaki kanannya langsung dililit oleh Quinquenya Jong Woon.

Sekali lagi Jong Woon menghempaskan tubuh wanita itu.

Air segar mengalir didahi Ji Ae. Wanita itu benar-benar sudah sangat putih. Seperti mayat hidup.

“Aturan yang sangat wajib dilakukan. Kau tahu apa itu? Kekasih Lee Donghae?”

Jong Woon menggerakkan sebuah akar putihnya itu kearah Ji Ae, lalu perlahan seperti mengangkat wajah wanita itu. Agar menatapnya.

“A.. Aku tidak tahu!” Sekuat tenaga Ji Ae berusaha menjawab pertanyaan Jong Woon.

‘Ck’ Jong Woon menatap Ji Ae lagi. Entah apa maksud tatapan itu, tetapi itu sangat membuat Ji Ae ketakutan. Membunuh. Ya. Itu tatapan membunuh.

“Baiklah. Biar kukasi tahu..”

Jong Woon lalu membuat akar-akarnya berkumpul menjadi satu. Mirip seperti pedang.

Ji Ae bergidik ngeri melihat Jong Woon. Ghoul sangat mengerikan. Sangat. Apakah Donghae juga seperti ini?

“Aturanku adalah…”

“Aku akan membunuh setiap orang yang sudah tahu bahwa aku adalah Ghoul..”

Jantung Ji Ae semakin berdetak cepat begitu melihat sebuah gumpalan akar-akar tadi telah menjadi benda runcing.

“Dan ini adalah waktumu!” Jong Woon mengatakannya dengan suara tinggi.

Quinque besar itu mengarah tepat kearah Ji Ae. Wanita itu refleks menutup kedua matanya. Akhir hidupnya rupanya disini.

“Arggghh..”

Ji Ae langsung membuka kedua matanya perlahan. Dia masih hidup. Lalu teriakan apa itu?

Mata Ji Ae membulat ketika melihat apa yang ada dihadapannya sekarang. Donghae yang sudah bersimbah darah. Para ekor-ekor itu bukan menusuk tubuhnya. Tetapi menghujam tubuh Donghae.

Pria itu menyelamatkannya.

“Lee Donghae! Minggir!” Teriak Jong Woon. Wajahnya tetap dingin. Tidak berekspresi.

“Ti.. Tidak Hyung..”

Jong Woon langsung melayangkan Quinquenya kearah Donghae, sehingga pria itu terguling kesamping.

Tubuh Ji Ae benar-benar membeku sekarang. Dia tidak percaya dengan semua yang dilihatnya ini.

Akar-akar itu melayang lagi kearahnya. Tetapi Ji Ae tidak bergeming. Wanita itu masih sangat tidak percaya dengan apa yang dihadapannya. Kematian. Perlindungan. Entahlah.

‘Brak’

Lagi-lagi tubuh Donghae dihujam oleh akar-akar gila itu. Membuat tubuh Ji Ae semakin bergetar hebat. Tidak perduli dengan darah yang bercucuran diatas kepalanya. Tidak perduli dengan sakit kepala yang sekarang menggerogoti kepalanya.

“Ji Ae-ya.. pergilah. Cepat..”

Suara itu. Suara yang sudah seminggu lebih tidak didengarnya itu. Memanggil namanya. Dengan posisi yang dibilang sangat mengenaskan.

“Aku mohon.. pergilah sekarang..”

“Donghae.. A.. Aku..”

“Aku mohon.. Anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi.”

Ji Ae masih memandang Donghae yang tak jauh darinya. Berapa kali Jong Woon sudah menghempaskan tubuh pria itu, tetapi Donghae terus berusaha melindungi Ji Ae. Ya. Melindungi Ji Ae.

“Ji Ae-ya.. Aku mohon..”

Ji Ae langsung pergi melangkahkan kakinya secepat mungkin. Hatinya sudah bercampur aduk. Bagaimana jika Donghae mati karenanya? Jika itu memang terjadi, Ji Ae pasti tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

“Donghae-ya! Apakah kau sudah gila? Mau menyerahkan nyawamu kepadaku?” Sekali lagi Jong Woon menghempaskan tubuh Donghae.

Donghae menggigit bibir bawahnya. Menahan semua rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. Donghae yakin. Sekarang tulang-tulangnya sudah remuk. Badannya sudah hancur. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya sekarang. Darimana dia mendapat tenaga itu?

Mata Donghae mulai memerah. Ekor-ekor birunya mulai keluar. Tidak. Dia tidak ingin membalas serangan Jong Woon. Kekuatannya yang tidak seberapa ini hanya mampu melindungi tubuhnya. Itupun dalam jangka waktu yang singkat. Selain itu, dia juga berusaha untuk menutupi luka besar yang dibuat Jong Woon. Jika saja dia berusaha menyerang pria itu. Itu sama saja seperti dia ingin bunuh diri.

“Belum menyerah juga?!”

Suara Jong Woon meninggi. Wajah pria itu benar-benar sangat menyeramkan. Sebisa mungkin Donghae menahan akar-akar Jong Woon dengan Quinque miliknya. Donghae lalu melirik kebelakangnya. Ji Ae sudah tidak ada disana.

Wanita itu sudah pergi.

Sesuai dengan perintahnya.

“Hyung.. Aku mohon. Jangan bunuh Ji Ae..”

“Apa? Jangan dibunuh? Kau mau jika rahasia kita terbongkar hah?!”

“Tidak.. Aku tidak ingin.. Ta.. Taphi…”

“Hm…?”

“Aku.. bisa pastikan jika Ji Ae tidak akan memberitahukan kepada siapapun..”

“Hm.. Pemikiran yang baik.. Lee Donghae..” Jong Woon menghentikan kalimatnya. “Tetapi bagaimana jika aku yang ingin membunuhnya? Ada baiknya bukan jika kau tidak ikut campur?”

“H.. Hyung?”

“Minggir!” Sekali lagi. Jong Woon menghempaskan tubuh Donghae.

Dengan cepat Donghae langsung melilitkan ekor birunya ke pergelangan kaki Jong Woon. Membuat langkah pria itu terhenti.

Jong Woon hanya berbalik. Menatap Donghae lagi.

“Lepaskan..”

“Hyung.. Aku mohon..”

“Bisakah kau tidak menghalangiku Lee Donghae?”

“Hyung.. Aku mohon. Jika Ji Ae memberitahukan rahasia itu. Kau bisa membunuhku saat itu juga..”

Jong Woon langsung diam sebentar. Ada apa dengan pria yang ada didepannya itu? Selama ini, tidak pernah didengarnya Donghae menyerahkan nyawanya begitu saja. Pria itu sangat menyayangi nyawanya sendiri. Lalu? Hanya karena seorang manusia, bisa merubahnya seperti ini?

“Ada apa denganmu?”

“Aku mohon Hyung.. Biarkan dia tetap hidup selama dia bisa menepati janjinya..”

Jong Woon terdiam lagi. Lalu pria itu langsung melepaskan genggaman Quinque Donghae yang ada dipergelangan kakinya.

“Baiklah.. Tetapi aku akan tetap memata-matainya sampai itu benar-benar aman”

Donghae langsung melebarkan matanya. Sekuat tenaga pria itu berusaha tersenyum. Walaupun sangat banyak luka diwajahnya.

“Hyung.. Terima.. Terima kasih!”

“Tetapi.. Jika dia mengingkari janjinya itu. Aku akan langsung membunuhnya”

Setelah kalimat itu, Jong Woon langsung meninggalkan Donghae.

Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Donghae merasa hatinya sangat lega sekarang. Sangat.. sangat lega.

Akhirnya. Dia bisa mengatasi pria dingin itu.

**

Berita bahwa kandasnya hubungan Ji Ae dan Donghae benar-benar menjadi hotnews (lagi). Padahal itu sudah terjadi hampir sebulan yang lalu. Sekarang adalah hari keempat sesudah ujian sekolah. Setelah kejadian sepuluh hari yang lalu, sampai sekarang Donghae benar-benar tidak pernah berbicara lagi dengannya. Menatapnya saja tidak. Apalagi berbicara.

Ji Ae memandang tumpukan buku yang ada diatas mejanya, lalu memasukkannya kedalam tasnya. Setelah mereka ujian, hari-hari seperti ini merupakan jam kosong. Saat dimana tidak ada program belajar lagi.

Ji Ae melangkahkan kakinya keluar. Suasana kelas benar-benar membuatnya tidak nyaman. Terlebih lagi, pria yang ada didepannya. Lee Donghae. Bagaimana dia bisa nyaman jika seperti itu?

Toilet. Mungkin tempat itulah yang sering dia kunjungi sekarang. Setelah mengetahui bahwa saat jam pelajaran lantai atas atau atap sekolah diberi penjaga, dia tidak bisa lagi bersembunyi disana, akhirnya Ji Ae memilih untuk berdiam diri ditoilet.

“Kau sudah dengar tentang kandasnya hubungan Donghae dan Ji Ae?”

Suara itu benar-benar membuat Ji Ae kaget. Dengan cepat wanita itu langsung mendekatkan telinganya kepintu toilet.

“Ya. Aku sudah mendengar itu. Kenapa mendadak seperti itu ya? Apakah terjadi sesuatu?”

“Entahlah. Aku tidak mengerti. Tetapi baguslah! Aku sangat senang jika Donghae putus dengan Ji Ae. Aish… Pria sesempurna Donghae tidak akan cocok dengan seorang Song Ji Ae. Donghae sangat pintar, sedangkan Ji Ae? Selalu masuk rangking rendah. Donghae tampan, sedangkan Ji Ae? Dibawah standard..”

Ji Ae langsung menggigit bibir bawahnya. Apa-apaan perkataan itu?! Menghinanya? Dibawah standard?

“Aku setuju. Kenapa Donghae tidak memilih Hae Na yang jadi pacarnya ya.. Bukankah itu wanita yang paling cantik seangkatan kita? Terlebih lagi, Hae Na kan juga menyukai Donghae..”

“Aku juga tidak mau itu terjadi. Itu akan menambah saingan kita..”

“Betul juga. Tetapi dari pada Ji Ae, aku lebih memilih Hae Na”

“Lebih baik kau pilih saja aku”

“Hahaha. Jika seperti itu. Aku lebih memilih diriku Jae Mi! Yasudah. Ayo kita kembali kekelas. Mungkin bel pulang akan berbunyi sebentar lagi”

“Hahaha. Ayo..”

Ji Ae mengepal kedua tangannya. Apa-apaan kedua wanita tadi? Menghinanya kah? Jika saja dia adalah seorang Ghoul juga. Pasti Ji Ae langsung memakan kedua wanita tadi.

Setelah mengetahui bahwa kedua wanita itu sudah keluar, dengan perlahan Ji Ae langsung keluar dari pintu toilet. Wanita itu lalu bercermin.

Benar. Dirinya tidaklah begitu cantik.

Dibandingkan dengan Jung Hae Na. primadona disekolah ini. Dia bagaikan 1 banding 100.

Dia juga tidak pintar. Otaknya bahkan dibawah rata-rata.

Tetapi kenapa Donghae mau menerimanya?

Ji Ae langsung tersentak. Sekarang Donghae bukanlah miliknya lagi. Bukan miliknya.

Tetapi.. mengapa dadanya menjadi sesak seperti ini?

Apakah dia sudah sangat menyesal melepaskan pria itu?

Seketika Ji Ae menyadari satu hal. Ya. Dia sangat menyesal sekarang. Pria itu benar-benar mencintainya.

Bahkan Donghae rela mengorbankan nyawanya.

Sekarang Ji Ae benar-benar tidak perduli jika Donghae itu adalah seorang Ghoul.

Perasaannya. Dia tidak bisa membohongi itu.

Mampukah dia untuk kembali kepada Donghae lagi?

Ji Ae langsung berdebar keras saat menduduki kursinya. Pria itu tepat dihadapannya sekarang. Dia harus bagaimana untuk membuat pria itu berbicara kepadanya?

Ji Ae langsung tersenyum begitu melihat pensil mekanik yang ada disebelahnya. Dia punya ide!

Dengan sengaja, Ji Ae menggeser pergelangan tangannya hingga membuat pensil mekanik itu terguling.

Terus berguling, hingga sampai disamping Donghae.

Key, teman sekelasnya, melintas begitu saja, sehingga membuat pensil mekanik itu terguling kearah Sehun yang berada disamping Donghae.

“Pensil siapa ini? Oh, Ji Ae.. Pensilmu bukan?” Tanya Sehun, sambil menyerahkan pensil itu ketangan Ji Ae.

Sial si Key ini…

Ji Ae langsung tersenyum paksa. “Oh ya! Itu pensilku. Terima kasih Sehun..”

Rencana pertamanya ‘Gagal Total’

Rencana kedua. Ini adalah jam makan siang. Setelah rencana pertamanya kemarin, Ji Ae benar-benar sudah berfikir keras untuk rencana kedua ini.

Dengan cepat Ji Ae langsung mengambil tempat antri tepat didepan Donghae. Dengan ini dia pasti bisa berbicara kepada Donghae.

Dengan berpura-pura lupa mengambil dessert nya.

Menu penutup hari ini adalah sebuah pudding.

Pasti rencananya ini berhasil.

Sekarang adalah gilirannya, dengan cepat Ji Ae mengambil makanannya. Tetapi dengan sengaja meninggalkan puddingnya.

Berharap jika Donghae akan memberikannya kepadanya.

“Hei.. Pudingmu..”

Ji Ae langsung menghentikan langkahnya. Wajahnya sudah membentuk seulas senyum. Misinya berhasil.

Tetapi mengapa suara Donghae berubah?

“Kenapa kau meninggalkan pudingmu Ji Ae?”

Ji Ae sangat terkejut begitu mengetahui siapa yang memberikan pudding ini kepadanya. Bukan. Bukan Donghae pastinya.

Sial. Pria tinggi sialan itu telah sudah merusak rencananya.

“Oh.. Terima kasih Changmin..”

Pria tinggi itu tersenyum. Lalu berlalu meninggalkannya.

Digaris bawahi. Mission Failed.

**

Sudah seminggu berlalu, Ji Ae terus-terusan saja berusaha untuk mendekati Donghae. Bahkan untuk berbicara saja, tetapi tidak ada satu pun rencananya yang berhasil. Ini melelahkan bukan?

“Pengumuman. Seluruh anak kelas tiga sudah dapat melihat hasil ujiannya sekarang”

Ji Ae langsung tersentak kaget begitu menyadari pengumuman itu.

“Pengumumannya sudah keluar? Kau mau melihatnya Donghae?”

Ji Ae langsung menutup mulutnya saat itu juga. Berbicara kepada Donghae setelah sekian lama tidak ada komunikasi diantara mereka? Oh tuhan.. Song Ji Ae.. Apakah kau tidak malu? Walaupun suaranya tadi sangat pelan. Bagaimana jika pria itu mendengarnya?

“Kau berminat melihat nilaimu?”

Donghae langsung melirik pria yang ada disampingnya itu.

“Baiklah.. Ayo..”

“Wah.. Wah.. biasanya kau tidak pernah mau melihat nilaimu. Apakah pertahananmu sudah mulai goyah? Hahaha..”

Ji Ae hanya menatap punggung kedua orang itu. Yang semakin lama semakin menjauh. Benar. Dalam sejarah, Donghae tidak pernah mau melihat nilainya sendiri. Kenapa sekarang dia mau?

Apakah karena Ji Ae tadi?

Apakah karena dia mendengar suara Ji Ae?

Ji Ae langsung tersenyum senang. Tidak. Pastinya Donghae mau bukan karena dirinya. Tetapi, tak apa bukan? Jika dia menyenangkan dirinya sendiri?

**

Song Ji Ae……. 35

Ji Ae langsung tersenyum senang. 35? Rangkingnya naik dua puluh peringkat? Oh tuhan.. Bagaimana bisa keajaiban ini terjadi?

“Song Ji Ae! Kau kenapa nilaimu naik seperti itu?”

“Aku tidak tahu. Mungkin ini adalah sebuah keajaiban. Oh ya. Kau peringkat berapa?”

“13. Tetap seperti semula..” Jawab Sungmin.

“Bagus! Pertahankanlah..”

Ji Ae langsung mencari nama Donghae. Tanpa menunggu lama, nama pria itu sudah ditemukan. Sangat mudah menemukannya. Karena namanya terletak diurutan paling atas.

Seperti biasa.

Selalu saja rangking satu, dengan nilai yang sangat baik pula.

“Sebentar lagi.. Kita akan meninggalkan sekolah. Wah.. wah.. aku pasti sangat merindukan ini semua..”

Suara wanita yang melintas disebelah Ji Ae langsung membuat wanita itu terdiam. Waktunya sebentar lagi. Ya. Itu benar.

Sebaiknya. Dia benar-benar mengungkapkan perasaannya lagi kepada Donghae.

Ji Ae benar-benar tidak tahan dengan penyesalan ini.

Dia tidak perduli lagi dengan rasa malu.

Dia benar-benar ingin mendengar pria itu, menyebut namanya lagi.

**

Suara bel itu akhirnya berbunyi juga. Waktu yang sangat ditunggu-tunggu Ji Ae. Dengan cepat wanita itu langsung berlari keluar. Menuju jalan pintas yang sering dilewati Donghae.

Sekitar sepuluh menit mungkin Ji Ae menunggu Donghae dijalan kecil itu. Tak apalah. Demi cintanya..

“Lee Donghae!” Ji Ae langsung terseyum senang begitu melihat Donghae dari kejauhan.

Donghae langsung mengerutkan dahinya. Ji Ae? Wanita itu? Ada apa dia disana? Mimpikah dia?

“Ada yang ingin kukatakan kepadamu..” Ucap Ji Ae perlahan, setelah Donghae sudah ada dihadapannya.

“Aku menyesal. Aku menyesal Lee Donghae..”

Donghae hanya diam.

“Bisakah kita kembali seperti waktu itu? Aku benar-benar menyesal. Ini memang pilihan yang sulit.. tetapi aku benar-benar mencintaimu..”

Seketika. Detik itu juga. Dada Donghae kembali berdebar keras.

“Bisakah? Kita memulai semuanya dari awal kembali?” Ji Ae langsung meraih kedua pergelangan tangan Donghae. Lalu menggenggamnya dengan kuat.

“Atau.. Jika kau tidak ingin berpacaran lagi. Kita bersahabat saja? Atau berteman?”

Donghae tetap diam.

“Kita bisa bermain-main bersama bukan? Kau juga bisa mengajak Sehun jika kau mau, atau aku mengajak Sungmin..”

“Kita bisa melakukannya bersama-sama..”

Donghae hanya menatap Ji Ae. Datar. Dingin. Ekspresi itu yang tergambar jelas diwajah Donghae sekarang.

“A.. Ada apa?” Tanya Ji Ae gugup. Kenapa ekspresi Donghae seperti ini?

“Maaf.. Aku tidak bisa..” Donghae langsung melepaskan tangannya dari genggaman Ji Ae tanpa menyentuh tangan wanita itu.

“Ke.. Kenapa?” Ji Ae semakin gugup. Dia tidak pernah menyangka jika Donghae akan menjawab seperti ini.

“Bukankah kau yang menyuruhku seperti ini?” Donghae hanya menatap Ji Ae sekilas. Lalu membalikkan tubuhnya.

“Anggap saja kita tidak pernah kenal.. Bukankah begitu?”

Setelah kalimat itu. Donghae langsung pergi meninggalkan Ji Ae yang sudah membeku seperti patung. Jantungnya berdetak cepat. Ji Ae merasa hatinya remuk seketika. Perasaannya hancur. Donghae ternyata sudah membencinya. Sudah sangat membencinya.

Bukankah itu yang dia inginkan?

Bukankah itu permintaannya?

Wajar bukan jika Donghae berkata seperti itu kepadanya?

Oh tuhan Song Ji Ae.. Kau harus sadar.

Kau bukan siapa-siapa lagi.

Bahkan berteman saja. Kau sudah tidak bisa.

Apalagi menjadi kekasihnya kembali.

Sadarlah…. Song Ji Ae..

 

TBC

Akhirnyaaaa.. Part 3 selesai juga. Gimana? Gimana? Disini kebanyakan Romancenya -_- sesosok Kyuhyun dkk (Dan kawan-kawan) juga engga kelihatan batang idungnya. Kenapa ya nama Key dan Changmin bisa nyelip di cerita ini? Tanyakan saja kepada yang maha kuasa dan hati Author. So? Apakah Donghae akan bersama Ji Ae? Atau tidak? Apa yang anda pilih?Tunggu kelanjutannya di PART 4^^

Thankyuuuuuu…

Arigatouu Gozaimasu..

 

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. yeonlee
    Mar 05, 2016 @ 21:57:06

    Ff ini udah lama dan baru di lanjut lagi yah thor? Seneng akhirnya ada lanjutannya lagi setelah nunggu. Donghae nya jadi ngejauh gegara permintaan ji ae dulu, ji ae jadi harus ngejar donghae. Makin seru, semoga cepet di lanjut lagi. Semangat!!!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: