Escape

002

Escape

Author : Yuditha Sucia (Mochamonca)

Cast : Ditha, Ara, Kyuhyun, Zhoumi, Enhyuk, Henry, Kangin, Siwon.

Rating : PG 13

Tema : Action & Thriller,

Wordcounts : 3139 words

 

                 ***

 Aku terbangun dengan kepala yang amat sangat berat. Tubuh ku rasanya kaku. Seberkas sinar membuat mataku silau. “Kau sudah bangun?” tanya sebuah suara. Aku mengerjapkan mata, membiasakan diri dengan keadaan sekitar. Kepala ku sangat sakit saat mengingat potongan kejadian kemarin. Namun sebelum sempat berteriak, tangan seseorang membekap mulut ku. “Sstt… diam!” bisiknya. Aku menengok ke si empu nya tangan. Seorang gadis manis oriental dengan rambut panjang berwarna madu dan kulit putih susu. Namun semua kecantikannya tertutupi oleh wajah pias dan keringat yang membanjiri tubuhnya.

Gadis itu duduk di hadapan ku dan mengulurkan tangan. “Nama ku Cho Ara, siapa nama mu?” tanya nya dengan bahasa inggris. “Aku Ditha. Aku berasal dari Indonesia. Apa yang terjadi? Dimana kita?” Ara menggigit bibirnya sambil menggeleng kan kepala. Potongan-potongan kejadian kemarin menari dalam kepala ku, rasanya sakit bukan main. “Ini, minum dulu.” Aku menenggak air yang di berikan Ara. “Baju mu tipis sekali. Ini, pakai syal ku.” Aku tersenyum sambil mengambil syal merah yang diberikan Ara.

BRAKK!!!

Dua orang pria masuk kamar kami. Salah seorang dari mereka menarik Ara keluar. “Tidak! Ara!.” Teriak ku sambil menarik tangan Ara. “Lepaskan! Lepaskan!.” Teriak kami berdua. Seorang pria lagi berusaha menikung ku dari belakang. Dengan membabi buta aku menendang nya. “Jangan lepaskan aku Ditha.” Rintihnya. Tiba-tiba pria itu menonjok ulu hati ku. Pegangan ku pun terlepas. “ARA!!!” teriak ku ke arah pintu. Terdengar suara-suara teriakan dari ruangan lain, menelan teriakan frustasiku yang menyebut Ara.

Pria yang tadi menonjok ku membaring kan aku diatas tempat tidur. Dengan sekuat tenaga aku meronta. Aku menendang, memukul, dan memaki kearahnya. Namun tenaga pria itu jauh lebih besar dari ku. Dia berhasil mengikat tanganku ke temapat tidur dan menyumpal mulut ku dengan syal yang diberikan Ara. Pria itu merogoh suntikan dan sebuah tabung kecil dari sakunya. Dia menyuntikan cairan tersebut ke tangan ku. Seluruh darah ku mendidih. Namun lama kelamaan aku merasa lemas dan mengantuk. Pria itu menyunggingkan senyum aneh. “Sayonara, Ditha-chan.”

Ya Tuhan, tolong aku…

***

Aku bisa mendengar suara teriakan dan serentetan tembakan dari arah luar. Tapi mata ku tidak bisa diajak kompromi. Entah berapa kali mereka menyuntikan cairan itu ke dalam tubuhku hingga aku tidak berdaya seperti ini. Aku mendengar suara pintu terbuka. Aku memaksakan diri untuk membuka mata. Sia-sia.

Orang itu membuka ikatan tangan ku dan menarik syal yang menyumpal mulutku. “Dari mana kau mendapatkan syal ini?” tanya nya dengan bahasa Inggris. Aku terlalu lemah untuk menjawabnya. Pria itu membopong ku keluar dari kamar. “Dengar nona, sadarlah. Jangan biarkan cairan busuk itu mengalahkan mu.” Ucapnya sambil membopong ku menyusuri lorong. Aku berusaha untuk berjalan walaupun seluruh tubuhku terasa lemas. Pria itu tiba-tiba melemparkan ku ke pinggir. Dengan cepat dia melepaskan tembakan untuk melumpuhkan musuh.

Dia kembali menarik dan membopong ku. Sesekali dia menampar ku yang hampir ambruk ke lantai. Akhirnnya kami sampai juga di dalam mobil setelah melalui perjalanan yang penuh desingan peluru dan teriakan. Tiba-tiba dia menundukan kepala ku. Untung saja, jika tidak tengkorak ku sudah penuh dengan lubang peluru. Pria itu menginjak pedal gas sambil memuntahkan tembakan. Lama-lama suara itu mengecil dan aku kembali kehilangan kesadaran.

***

Sinar matahari dari kisi-kisi jendela menyapa mata ku. Aku melihat tangan ku yang di infus dengan sesuatu. Aku berusaha menarik nya, namun sebuah tangan menghalau ku. “Itu adalah obat penetral heroin.” Pria itu memberiku sepotong sandwich dan segelas susu. Aku langsung menyambarnya saking lapar. “Bisa ceritakan dari mana kau mendapatkan syal ini?” aku memegang syal yang melingkar di leherku. Air mata ku mengalir mengingat kejadian kemarin semalam.

Pria itu menggenggam tangan ku. “Aku ingin kau kuat dan menceritakan semuanya pada ku.” Aku menahan tangisan ku. “Ada seorang gadis yang disekap bersama ku. Namanya Cho Ara.” Pria itu terdiam. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya. “Ara…”

Ting tong!

Pria itu meninggalkan ku menuju pintu depan. “ZHOUMI!” teriak pria itu. Aku mengambil botol infus dan membawanya. Dengan perlahan aku berjalan ke pintu depan. Aku menutup mulut melihat pemandangan di depan ku. Seorang pria tergeletak di lantai berlumuran darah. “Zhoumi, apa yang mereka lakukan padamu?” Aku melihat pria itu gemetaran sambil menekan luka tembak temannya.

“Tolong bantu aku.” Aku menghamprinya dan duduk bersimpuh disamping. Pria itu menarik lengan ku dan meletakannya di atas luka temannya. “Tekan terus lukanya dan jaga agar dia tetap sadar. Aku akan mencari pisau untuk mengeluarkan pelurunya.” Ucap pria tersebut. Sial! Tangan ku gemetaran!. Tapi aku harus melakukannya. Nyawa orang ini tergantung padaku.

“Tu…tuan tolong ingatkan aku ini tanggal berapa?” teriak ku untuk menjaganya tetap sadar. “Di… di dalam tubuhku… ada bomb… yang ak… akan meledak… jik…jika ak…ku mati… Dan… demi Tuhan… aku sudah tidak kuat…”. “Jangan banyak bicara tuan. Kau sedang terluka.” Tiba-tiba pria itu menarik kerah bajuku. “ Momiji Okiya…” bisiknya di telinga ku. Setelah itu pria tersebut kejang-kejang.

“ZHOUMI!!!.” Teriak pria itu, tanpa sadar pisau yang di genggamnya jatuh ke lantai menciptakan suara gemerincing. Aku berlari kearahnya dan menarik lengan pria tersebut sekuat tenaga menuju pintu keluar. “Lepaskan aku! ZHOUMI!”. “DI DALAM TUBUHNYA ADA BOMB YANG AKAN MELEDAK SAAT DIA MATI!!!” teriak ku. Aku sudah tidak peduli jika ada orang lain yang mendengar pembicaraan kami. Mata pria tersebut membulat mendengarnya.

Kami berdua berlari sekuat tenaga ke bawah. Deru nafas kami seperti kijang yang dikejar pemburu. Sesampainya di mobil pria tersebut langsung menancap gas dalam-dalam, bahkan kami menerobos pagar parkiran. Tidak lama setelah itu terdengar suara debum yang sangat keras hingga menggetarkan kaca jendela. Saat aku melihat ke belakang yang kulihat adalah hotel yang tadi kami tempati telah berubah menjadi arang yang di bakar api.

Gemerlap lampu menghiasi kota Tokyo di malam hari. Trotoar di sisi kanan dan kiri kami penuh oleh ribuan manusia yang ingin menikmati kota yang katanya tidak pernah tidur ini. Namun tidak dengan kami. Yang terdengar dalam mobil hanyalah suara radio. Sedangkan penumpangnya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tiba-tiba pria itu mengulurkan tangan. Dengan sedikit bingung aku menjabat tangannya. “Nama ku Cho Kyuhyun, siapa nama mu?”. “Nama ku Ditha. Jadi kau adalah kakak Ara?” Kyuhyun mengangguk lemah. “Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?.” Tanyaku. “Sejujurnya aku juga tidak tau apa yang terjadi. Tiga hari yang lalu Ara menelpon ku dan bilang kalau dia di culik. Tiba-tiba sambungannya terputus dan aku tidak bisa menghubunginya lagi.Aku melacak keberadaan Ara dan menemukan sinyalnya datang dari salah satu gedung di Tokyo. Disanalah aku menemukan mu.” Jelasnya panjang lebar. “Dan pria tadi?” Kyuhyun menelan ludah. “Zhoumi adalah adik ku sekaligus inspektur di kepolisian Korea. Kami merahasiakan ini dari semua orang karena takut nyawa Ara terancam. Zhoumi berangkat terlebih dahulu untuk mengumpulkan informasi. Seharusnya tempo hari kami berangkat bersama untuk masuk ke gedung itu, namun karena Zhoumi tidak juga datang aku berangkat sendiri kesana.”

“Dan sekarang aku kehilangan Zhoumi juga Ara. Kakak macam apa aku yang tidak bisa menlindungi adiknya?” ucapnya frustasi sambil membenturkan kepala ke stir mobil. “Ara belum mati. Aku bisa jamin itu.” Ucapku sambil meremas syal merah yang melingkar di leherku. “Sebelum meninggal Zhoumi mengatakan sesuatu padaku. Dia mengucapkan Momiji Okiya. Apa itu berarti sesuatu untuk mu?” Kyuhyun menggeleng. “Yang ku tau Okiya-Rumah Geisha- itu banyak di daerah Kyoto. Tapi pasti ada puluhan Okiya yang bernama Momiji.”

Kyuhyun mengambil PDA dari dasboard. “Ada banyak Okiya yang bernama Momiji di Kyoto, tapi hanya satu yang di miliki oleh orang Korea. Aku kenal siapa yang bisa menghubungkan kita dengan orang ini.” Kyuhyun memutar balik mobilnya. Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah tempat pachinko yang lumayan ramai. Kami masuk dan disambut oleh seorang pelayan wanita yang sangat ramah. Kyuhyun memperlihatkan sebuah kartu pada pelayan tersebut. Si pelayan mengantarkan kami ke sebuah pintu besar. Ternyata di balik pintu terdapat lorong panjang yang berujung di sebuah pintu lainnya.

Kyuhyun menyerahkan kartu tadi pada si penjaga yang bernama Kangin ini. “Password anda tuan?” tanya Kangin. “Siput emas.” Kangin membuka pintu. Namun dia tidak mengizinkan aku masuk. “Dia bersamaku.” Namun Kangin keukeuh tidak mengizinkan ku masuk. Dengan cepat Kyuhyun mengambil pistol dari pinggang Kangin dan menodongkannya pada pria besar itu.

“Aigoo… Aigoo… ada apa ini? Kekerasan di larang di sini tuan Cho.” Aku memperhatikan orang di hadapanku. Tubuhnya yang kurus di balut pakaian dan aksesoris yang serba bling-bling. Cowok itu melepas kaca matanya dan memperhatikan ku dari atas sampai bawah, membuat ku risih. “Wow, lumayan juga gadis yang kau bawa ini. Teman kencan mu? Ayo kita ngobrol saja di ruangan ku.” Cowok itu membawa kami melewati lantai dansa yang penuh dengan ratusan orang yang bergoyang mengikuti irama musik. Pintu ruangan ini tersembunyi di belakang akuarium raksasa yang berisi ratusan jenis ikan.

Cowok itu duduk dan meletakan kakinya diatas meja. “Jadi ada apa kau jauh-jauh mengunjungiku ke Jepang?” Kyuhyun melemparkan PDA nya pada cowok itu. “Pertemukan aku dengan pemiliknya Eunhyuk.” Eunhyuk tersenyum kecut dan meletakan PDA itu di meja. “Dengan Henry? Aku punya satu nasihat untukmu; jauhi dia! Dia adalah orang yang paling berbahaya di Jepang. Bahkan Yakuza pun bisa takluk olehnya.” Kyuhyun merenggut kerah Eunhyuk dengan wajah merah. “Aku sekarang lebih berbahaya dari dirinya! Dia membuat ku gila dengan menculik adik perempuanku dan membunuh adik laki-laki ku!”

Aku menghampiri Kyuhyun dan meremas kemejanya. “Kita tidak bisa mendapatkan informasi apapun jika membunuhnya.” Ucapku sambil menatap matanya. Dengan perlahan Kyuhyun melepaskan cengkramannya. “Jika kau mau bertemu dengannya datang saja langsung ke Momiji Okiya di daerah Karasuma, Kyoto. Aku dengar disana banyak Geisha non Jepang.” Kami berbalik pergi. “Sayonara, Ditha-chan.”

Deg!

Aku menghentikan langkah kaki ku dan membalikan badan.

“Kau… kau yang waktu itu…” Kyuhyun menarik ku ke belakang setelah itu menendang meja hingga terbalik. Di saat yang hampir sama aku mendengar suara tembakan yang menghantam meja. “Sial kau Lee Hyukjae! Beraninya kau berbohong pada ku setelah ku bebaskan dari penjara.”. Eunhyuk mengokang senjatanya. “Aku berani sumpah, aku tidak tau kalau gadis itu adalah Ara.”. Aku menepuk bahu Kyuhyun saat melihat ada sebilah samurai pajangan di sisi kanan dinding. Kyuhyun mencoba keluar, namun rentetan tembakan dari Eunhyuk menghalanginya. “Kau sudah memakai tujuh peluru Eunhyuk, haya tersisa satu peluru lagi di senapan itu.”

“Kau membebaskan ku sepuluh tahun yang lalu. Saat itu usia Ara baru tujuh tahun. Mana mungkin aku mengingat wajanya.” Kyuhyun mendengus kesal. “Jika kau bukan teman ku, aku sudah mengutuk mu agar membusuk di penjara!.”. “Tapi waktu tidak bisa di ulang Cho Kyuhyun. Jika memang bisa di ubah aku tidak ingin bertemu dengan Henry agar binatang itu tidak bisa melilit ku dengan hutang. Agar aku tidak terlibat dengan kasus penculikan yang di lakukan olehnya. Aku hanya ingin hidup normal sesuai janji ku padamu.” Ceritanya dengan suara parau karena menahan tangis.

“Tapi waktu tidak bisa di ulang Cho Kyuhyun. Dan aku, aku tidak ingin mati karena di bunuh oleh nya atau oleh mu saat ini!.” Lanjutnya. “Kau ambil samurai itu selagi aku mengalihkan perhatiannya.” Setelah berkata seperti itu Kyuhyun mendorong mejanya kedepan. Aku yang masih mempertahankan sedikit akal sehatku langsung berlari kearah kanan dan mengambil samurai yang di gantung di dinding. “KYUHYUN!” teriak ku sambil melempar samurai ke arah Kyuhyun.

Rupanya gerakan ku diketahui oleh Eunhyuk. Dia menembak samurai tadi sehingga arahnya berbelok. Dengan sigap cowok itu melompati meja dan mengambil samurai tadi. Kyuhyun yang menyadari posisinya terbuka langsung menendang meja tersebut kearah Eunhyuk. Eunhyuk memotong meja tersebut menjadi dua bagian.

Perang nyawa pun terjadi diantara mereka berdua. Bunyi sabetan samurai dan teriakan membahana dalam ruangan. Aku? Aku hanya berdiri mematung memandangi mereka berdua saking takutnya. Ekor mataku menangkap sebuah benda yang bercahaya ditimpa sinar lampu. Pistol yang tadi di gunakan Eunhyuk! Aku berlari dan mengambil pistol tersebut lalu sembunyi di balik meja kerja tidak jauh dari situ.

Ini pertama kalinya aku memegang senjata. Tanganku tidak bisa berhenti gemetar. Aku melihat isi pelurunya, kosong. Benar juga, peluru terakhir tadi digunakan untuk menembak samurai. Aku mengacak-acak rambutku. Sia-sia saja aku mempertaruhkan nyawa untuk mengambil pistol yang tidak berpeluru.

Aku membuka laci meja satu persatu. Seorang penjahat pasti menyediakan banyak peluru. Aku hanya tinggal mencarinya saja. Ternyata Tuhan masih berbaik hati padaku. Ada sebutir peluru di dalam laci. Aku langsung memasukan dan mengokangnya. Tapi tangan ku masih gemetar. Sampai akhirnya aku melihat Kyuhyun tersudut. Satu ayunan samurai lagi maka tamatlah riwayat pria itu. Akhirnya jari ku menarik pelatuk pistol, meluncurkan peluru ke tangan Eunhyuk. Samurai yang di genggamnya jatuh.

Kyuhyun meninju wajah Eunhyuk yang merintih kesakitan. “Baka! Babo! Aku mana mungkin membunuh mu Eunhyuk. Kita sudah berteman dari SMP dan masa itu tidak bisa diulang. Aku tidak menyesal mempunyai teman seperti mu.” Aku tertegun mendengar perkataan Kyuhyun dan kembali diam mematung. Semudah itukah memaafkan orang lain?

Dengan setengah sadar aku menghampiri mereka berdua. Eunhyuk melambaikan tangannya padaku. “Maaf Eunhyuk-san. Aku tidak bermaksud menyakiti mu.” Eunhyuk menghapus air mata ku. “Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku jadi dirimu. Ditha-chan, maukah kau memaafkan ku?” aku mengangguk sambil tersenyum. Ada beban yang lepas dari pundak ku saat memaafkan Eunhyuk. Perasaan lega yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

***

Mobil melaju menyusuri jalanan yang lengang. Kerlipan lampu warna-warni masih menemani kami. “Aku bisa mengingatnya sekarang.” Aku mengangkat dan memeluk kedua kaki ku erat-erat. “Aku datang ke Jepang karena kesal pada keluarga ku yang tidak megizinkan aku untuk kuliah di Jepang padahal aku sudah mendapat beasiswa. Sesampainya di bandara ada seorang cowok yang mengajak ku ngobrol dan memberikan segelas minuman pada ku. Setelah itu aku pingsan. Maaf aku tidak bisa membantu lebih banyak, aku… ternyat tidak mengingat apa lagi yang terjadi…” ucapku sambil memukul kepalaku berulang-ulang.

Kyuhyun menepikan mobilnya. Tangannya dengan lembut membalikan bahuku, membuat ku menghadap ke arahnya. “Ini pertama kalinya kau ke Jepang?” aku mengangguk. Cowok itu membuka sabuk pengamanku lalu membaringkan ku di pangkuannya. “Kau pasti sangat takut. Sendirian di tempat yang tidak kau kenal dan mengalami semua ini. Kau butuh istirahat Ditha.” Ucapnya sambil membelai rambutku. Aku menangis di pangkuannya hingga mengantuk dan tertidur pulas. Padahal harusnya dia yang paling lelah, tapi kata-katanya bisa menenangkan orang lain. Cho Kyuhyun, terbuat dari apakah dirimu?

***

“Aku ingin menjualnya.” Tubuhku gemetar mendengar Kyuhyun berkata seperti itu. Pria di hadapanku tersenyum sinis. “Maaf tuan, aku tidak mengerti maksudmu.” Kyuhyun menuangkan teh ke dalam cawan. “Jangan pura-pura Sakagi-san, ataukah harus ku panggil Henry? Aku sudah tau bisnis seperti apa yang kau jalankan.” Henry menyeruput teh yang di tuang Kyuhyun. “Bisnis yang ku jalankan sangat unik tuan Kim Hejoon. Barang yang di beli tidak dapat di kembalikan dan tidak ada pengembalian uang. Karena itu aku harus tau apa barang yang kau tawarkan ini dalam keadaan baik atau tidak.” Tangan ku dingin bukan main. Tuhan benarkah jalan yang ku ambil ini?

“Gadis ini pintar membaca puisi dan akting. Fasih berbahasa Inggris, Jepang, dan Indonesia. Dan yang lebih penting lagi dia masih perawan.” Henry mengangkat dagu ku. Dia tersenyum saat merasakan ketakutan di wajahku. “Barang yang anda tawarkan memang sangat langka tuan. Jarang sekali menemukan gadis perawan zaman sekarang. Pangsa pasar untuk barang Asia memang sedang meningkat. Baiklah aku ambil barang ini.” Beberapa orang pria membawaku keluar dari ruangan. Mereka membawaku ke sebuah kamar bergaya Jepang. “Pakai kimono itu. Pelanggan akan segera datang!.” Perintah mereka.

Beberapa menit kemudian mereka datang dan kembali menarik ku dengan sedikit kasar. Aku ada di dalam sebuah ruangan yang gelap sekarang. Tidak ada satupun sumber cahaya disini. Tiba-tiba muncul cahaya dari arah atas menyorotku, membuat mataku sedikit silau. “Baiklah tuan-tuan. Puncak acara kali ini adalah penawaran barang langka yang berasal dari Indonesia. Fasih berbahasa Inggris, Jepang dan Indonesia juga pintar berakting dan membaca puisi. Keadaan: perawan. Penawaran dimulai dari harga 2500 USD.” Ucap sebuah suara mendeskripsikan ku.

Kaki ku gemetar hingga aku jatuh terduduk. Tawar menawar hargaku masih terus berlanjut. Beginikah cara mereka memperlakukan manusia? Tidak ubahnya barang yang bisa dibuang jika sudah rusak. Aku bukan barang! Aku tidak bisa dinilai dengan uang!

Cho Kyuhyun, selamatkan aku!

Tiba-tiba terdengar serentetan tembakan. Aku menunduk sambil menaruh kedua tangan diatas kepala. “Aku tidak akan meninggalkan mu. Disaat kau tidak mempercayai orang lain, aku adalah orang yang harus kau percaya.” Ucap Kyuhyun sambil mengulurkann tangan. Tangan ini menarik ku berlari keluar. Sesekali Kyuhyun melepaskan tembakan atau memukul orang-orang yang menghalangi kami. Namun dia tidak pernah melepaskan tangan ku. “Aku sudah menemukan Ara. Setelah menjemputnya kita akan segera keluar dari tempat terkutuk ini.”

Kami berbelok ke sebuah ruangan besar tempat minum teh. Di dalam berdiri seorang pria menyandera gadis yang sangat ingin kami berdua temui. Di kakinya terbujur kaku mayat Henry. “Lama tidak bertemu Kyuhyun.” Pistol Kyuhyun yang terarah pada pria itu perlahan turun. “Pa… paman Siwon.” Aku melihat wajah ketakutan Ara dengan pisau yang siap melukai lehernya. “Aku tidak mengerti. Kenapa paman terlibat dengan Henry?” Siwon tersenyum penuh kemenangan. “Karena kau mengambil barang yang sudah ku pesan Kyuhyun. Bukankah orang tuamu mengajarkan bahwa mencuri itu tidak baik?” Kyuhyun kembali menghunuskan pistolnya. “Kau sakit Choi Siwon. Kembalikan adik ku!” perintah Kyuhyun dengan marah.

Siwon tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar. “Ayah mu belum menceritakannya padamu?” Siwon menyeka air matanya. “Malam saat ibumu melahirkan dia keguguran. Ayah mu yang mengetahui bahwa ibumu sangat menginginkan bayi perempuan akhirnya memutuskan untuk mengambil bayi lain dari panti asuhan. Bayi itu dia namakan Cho Ara, yang sekarang ada di hadapanmu.” Kami tertegun mendengarnya. Terlebih lagi Ara yang sudah menangis. “Bagaimana jika kita melakukan bisnis yang sama-sama menguntungkan kita. Aku tau kau tetap menyayangi Ara seperti adik mu sendiri. Tapi gadis itu? Dia bukan siapa-siapa. Kau mungkin baru mengenalnya 3-4 hari ini. Jadi bagaimana jika kita bertukar barang?” jelas Siwon. Aku mendengar suara kokangan pistol Kyuhyun.

Yang sekarang terarah tepat ke belakang tengkuk ku.

Aku menelan ludah. Tubuhku serasa dihempaskan dari tempat yang paling tinggi. Perasaan ku hancur berkeping-keping. Bulir-bulir hangat mulai jatuh dari mata ku. Aku masih diam bergeming. “Jalan.” Paksa Kyuhyun. Bibir ku bergetar. “Aku percaya pada mu Kyuhyun.” Ucapku getir sambil berjalan kedepan. Di saat yang sama Ara berjalan ke arah Kyuhyun. Aku tidak bisa menatap wajah Ara. Hati ku terlalu sakit. “Aku tidak akan ingkar janji.” Aku terhenyak mendengar ucapan cowok itu.

DOOR!!!

***

Aku sedang mengerjakan laporan ku ketika bel pintu berbunyi. “Aku yang buka!.” Teriak Ara dari bawah. Tiba-tiba mataku di tutup oleh seseorang. “Serius banget ngerjain laporannya.” Aku tersenyum mendengar suara khas yang sedang ingin kudengar. “Iyalah, aku janji akan lulus cum laude kalau di izinin kuliah di Jepang. Janji itu hutang, hutang itu harus di bayar.” Kyuhyun duduk di samping ku. Kepalanya bersandar di pundak ku seperti tidak ingin aku menyelesaikan laporan ini secepatnya. “Kalau begitu sediakan waktu luang untuk ku seharian ini.” Rengeknya sambil menggelayut manja di pundak ku.

Aku menyentil jidatnya dengan gemas. “Ah kau ini. Beginikah tingkah kepala kepolisian paling muda di Korea? Tidak dapat di percaya. Tapi…” lanjutku sebelum Kyuhyun memotong ucapanku. “Aku sudah memutuskan untuk magang di sebuah LSM anti traficking dan perdagangan manusia di Korea setelah lulus. Aku tidak ingin ada orang-orang yang mengalami nasib sama seperti ku. Aku juga ingin… selalu dekat dengan mu.” Ucapku sambil tersenyum. Wajahku pasti sangat merah sekarang. Kyuhyun memeluk ku dengan hangat dan mengecup puncak kepala ku. “Aku juga ingin selalu dekat dengan mu, ibu pengacara. Terimakasih telah mempercayai ku.” Aku membenamkan kepalaku ke dadanya yang hangat. Terimakasih karena tidak pernah ingkar janji, Cho Kyuhyun.

-THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. vivinmutia
    Mar 03, 2016 @ 09:45:53

    Ikutan kaget dahh gua tp keren karena actionn. Lanjutkannnnn

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: