Second World Inside Mirror

super-junior-sexy-free-splash

SECOND WORLD INSIDE ‘MIROR’

Cast : Song Ji Young

Kim Jong Woon (Demeter)

Lee Donghae (Artemis)

Lee Hyukjae (Athena)

Genre : Romance, God, Love, and Fantasy.

Author : @shiifly3424

***

Pernahkah kalian berpikir bahwa didalam kaca yang biasa kalian tatap selama berjam-jam bisa menjadi pintu yang menghubungkan dunia kedua yang tak pernah kalian ketahui?

Pernahkah kalian berpikir bahwa, akan ada disaat kaca tak lagi memantulkan bayanganmu?

Dan disaat itulah, Pintu dunia kedua dibuka. Dunia kedua, yang tak pernah kalian ketahui.

Dunia kedua yang hanya terdiri dari 13 kaum yang menjaga keseimbangan, Laut, Tanah, dan Tumbuhan.

Tidak, mereka bukan hanya kaum. Tapi, lebih tepatnya dewa.13 Dewa penjaga keseimbangan

Kaum yang hidup didalamnya akan selalu mematuhi semua peraturan, Kaum yang hanya akan mementingkan keseimbangan diatara semua yang ia miliki, membuat sebuah tatanan bumi baru yang gemerlap jauh dari kata rusak seperti yang terjadi di balik kaca berikutnya. Yap, bumi kita.

Keseimbangan tercipta jelas dari bumi kedua yang mereka ciptakan dibalik kaca, bumi indah idaman seluruh umat jagat raya. Dan 13 dewa tertinggi itulah yang mempunyai hak berarti untuk menjaganya, agar tetap seimbang seperti semula dan tak berubah sedikitpun, takkan pernah berubah.

Tapi, bagaimana jika salah satu pemimpin dari 13 dewa itu mati..? Tidak, bukan mati. Lebih tepatnya tertidur dalam jangka waktu yang lama. Matanya tetap terpejam, tidak bernafas tetapi tubuhnya tetap hangat dan detak jantungnya masih berdetak normal seperti biasanya.

Dan satu-satunya yang bisa menyelamatkannya hanya seseorang yang masuk dibalik kaca keramat dalam istana itu, kaca mewah yang menghubungkan antara dua dunia yang tak pernah terhubung sedikitpun, dan seseorang yang masuk itulah yang akan menyelamatkan pemimpin dewa yang tertidur untuk suatu alasan pelik, membangunkannya dan untuk kembali menyeimbangkan bumi kedua. Menyeimbangkan ke-13 dewa.

 

Author P.O.V

Sebuah mobil Audi mewah terparkis sempurna didepan sebuah vila dikaki gunung utara korea selatan, seorang yeoja dengan anggunnya turun dari mobil tersebut dengan dibantu pelayan yang membukakan pintu mobilnya. Yeoja paruh baya dengan umur kira-kira 38 tahun itu segera melangkahkan kakinya kedalam vila besar nan kuno dikaki gunung yang mungkin letaknya lebih jauh dari hiruk pikuk kota, yeoja itu masuk melalui pintu diikuti dengan bodyguardnya dan seorang yeoja lagi mengikutinya dibelakang, umurnya kira-kira 20 tahun perawakannya kurus kering, pucat pasi, dan penampilannya yang terlihat begitu kontras dengan yeoja yang berjalan angkuh didepannya.

Yeoja itu tetap menundukan kepalanya membawa tas koper miliknya dan tidak sedikitpun berniat untuk melakukan apapun selain diam dan tertunduk.

Mungkin sudah tak ada tenaga sisa lagi yang dimilikinya, ia pun bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia makan. Lapar menderu hebat diperutnya ia tetap menahannya hanya sampai yeoja dihadapannya itu memberi sesuap nasi walaupun itu nasi bekas makan untuk anjing-anjingnya.

Jika saja orang tuanya tidak meninggal saat itu, mungkin saat ini ia akan duduk manis dikursi makan dan memakan apapun yang dihidangkan koki terbaik dirumahnya.

Jika saja ia tau bahwa yeoja biadab didepannya ini akan berbuat sesuatu yang benar-benar merusak masa depannya sampai saat ini, mungkin ia akan segera menyuruh anjing-anjing peliharaannya untuk segera mencakar, menggerogoti kulitnya, dan bahkan membakar kulit dagingnya sampai tak ada satu sisa pun yang bisa mengingatkan dirinya lagi akan yeoja itu. Walaupun hanya setitik debu.

Tapi, percuma saja dengan khayalan itu. Nyatanya saat ini orang tuanya meninggal dan seluruh omset hartanya jatuh sempurna pada yeoja dihadapannya itu.

Terlalu licik, mengingat cara biadab yang dilakukan yeoja itu akan gadis lugu berumur 20 tahun sehingga membuat tubuhnya menjadi 7kali lebih kurus dari yeoja pada umumnya.

Lintah darat, panggilan yeoja itu. Bahkan jika ia berontak dan membuat kekacauan dirumahnya sendiri, maka kau akan tau resikonya. Terlalu berkuasa, yeoja itu terlalu berkuasa ia bisa saja membuat gadis itu mati kelaparan dan mengurungnya dalam bak mandi yang dingin.

Sorot mata gadis lugu berumur 20 tahun itu berubah sempurna saat menatap yeoja angkuh didepannya, Amarah, Luka, Perih, Dendam, Kebencian, dan Sakit hati, semuanya bercampur aduk membuat satu sorot mata yang sangat terlihat jelas mengerikan dibalik lensa coklat alami miliknya. Dan saat dia menunjukan tatapannya seperti itu, hanya senyuman licik yang terpampang diwajahnya. Terlalu licik bahkan ia bisa menebak apa yang ada dikepalanya saat ia tersenyum licik seperti itu kehadapannya.

Apa lagi yang bisa ia lakukan sekarang..?

Yeoja itu membuangnya kesebuah vila tua di utara korea selatan, bahkan ia pun tak tau persis apakah ini masih di korea atau bukan, mengingat susunan bangunannya yang terlihat jelas seperti bangunan zaman Victoria kuno di eropa sana. Tak terfikirkan bahwa ada bangunan seperti ini di korea.

“kau akan bekerja disini..” ucap yeoja angkuh itu membukakan mulutnya dan terduduk santai pada kursi mewah diruang tengah bangunan tersebut.

“sampai kapan kau puas..?” tanya gadis itu dingin. Terlalu dingin dan mencibir dari setiap nadanya, amarahnya sudah tak terbendung lagi, ia benar-benar ingin keluar dari jeratan yeoja itu yang menyiksanya setiap hari, membiarkannya tidur ditempat yang tak selayaknya bersama binatang-binatang menjijikan dengan air liur menetes disetiap mulutnya, membiarkan dirinya memakan sisa dari makanan anjing yang bahkan anjingpun sudah tak ingin lagi memakannya, dan membiarkan yeoja tersebut terkurung dalam rumah mewah dan membuat deadline besar bahwa dia sudah tewas.

“hanya sampai aku bosan nona Ji Young. Hahahahaha..” Jawab yeoja tersebut masih dengan keangkuhannya yang tak pernah lepas sedikitpun dari gerak-geriknya, menyesap pelan cerutu yang dipegannya dan membuang asap nya sembarangan denga smirk yang tak pernah lepas dari mulutnya. Menjijikan.

“Lintah darat…!!” teriak gadis tersebut tidak terima kali ini dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia membanting tas dalam rangkulannya dan hendak menghancurkan yeoja angkuh dihadapannya itu sebisa yang ia mampu, tapi percuma. Secepat kilat juga dua bodyguard langsung menahannya dan membuatnya tak bisa pergi kemanapun lagi.

“bahkan untuk menyentuh jari kukupun, kau tak bisa Nona Song Ji Young yang terhormat. Hahahahaha” ia tertawa puas diakhir kalimatnya, tawa yang paling memuakkan yang mungkin pernah didengar gadis lugu bernama Song Ji Young tersebut, sekuat tenaga pula Ji Young berusaha melepaskan cengraman kuat kedua bodyguarnya itu, mulutnya tak henti-hentinya merutuki membuat yeoja itu hanya semakin tertawa terbahak-bahak dan menyayat luka lebih dalam lagi dihati Ji Young. Mengatakan bahwa saat ini kau benar-benar tak berdaya.

“kau…” katanya terhenti saat yeoja yang dulu ia panggil Ajjuma Shin itu melepaskan paksa dagunya dan menampar pipi Ji young membuat lembam dipipi kanannya yang kurus kering.

“bawa dia ke gudang, dan pastikan bahwa tak ada satupun yang melihatnya. Arraseo…??” perintah yeoja itu dengan angkuhnya menyuruh kedua bodyguardnya untuk segera melaksanakan tugasnya, mengurung Ji Young.

Yeoja menghela angkuh dan membetulkan tatanan ‘dandanan menornya’ disaat Ji young dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan cengramannya dari kedua bodyguard itu, walaupun ia tau bahwa hasilnya akan percuma saja.

****

Buukkk…….

Dengan paksa kedua bodyguard itu mendorong Ji Young hingga terjatuh dilantai dan membuat yeoja itu semakin meringis kesakitan menahan apa yang ia rasakan kali ini, sakit… Terlalu sakit. Bahkan ia pun sudah tak mengenali dirinya sendiri akibat sakit yang diterima Ji Young akan dirinya. Putri anggun dan cantik gelar kehormatannya dulu kini pupus sudah digantikan dengan kata ‘yeoja lusuh dan kurus kering’, dan bahkan ini terlihat lebih mengerikan dari yeoja lusuh dan kurus kering.

Tangisan Ji Young pecah keluar paksa dari pelipis matanya, Ji Young menangis sambil memeluk lututnya. Menangis entah untuk apa. Meratapi hidupnya mungkin. Tangisnya terus pecah membuat yeoja angkuh yang menyiksanya itu tertawa puas dibalik pintu besar gudang tersebut, ia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana mungkin dizaman seperti ini masih ada orang yang menyiksa orang lain sedemikian rupa sepeerti ini?

Dan mengenai tempat ini, dimana tempat ini..?

Sebuah vila tua berdiri kokoh ditengah hutan lebat dikaki gunung utara korea selatan dan begitu jauh dari hiruk pikuk kota. Vila tua bernuansa zaman victoria kuno itu berdiri angkuh dan membiarkan dirinya terkurung dalam gudang yang ada didalamnya, membiarkan seorang yeoja menangis keras dan meratapi nasibnya yang mengerikan seperti ini, apa lagi yang bisa dia perbuat untuk mengubah segalanya yang sudah begitu buruk seperti ini untuk kembali seperti semula..? Tak ada hal lain lagi yang bisa ia lakukan selain mati. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua siksaan yang ia terima, mati…Lebih baik mati daripada terus menahan seperti ini.

Dengan segala tenaga yang tersisa, Ji Young mencari sesuatu yang mungkin bisa menyayat pergelangan tangannya, mencari benda tajam yang bisa mengakhiri hidupnya yang mengenaskan seperti ini. Tapi, tak ada satupun diruangan itu. Kosong. Hanya ruang kosong dan kotor, gudang ini kosong. Tak ada apapun lagi selain dirinya dan….

Kini matanya tertuju pada benda besar disudut ruang, benda tersebut ditutupi kain usang yang sudah penuh dengan debu dan jaring laba-laba disekitarnya, bahkan saking usangnya sudah ada beberapa sobekan bolong diujung kain tersebut menutupi benda besar didalamnya. Ji Young mendekati benda tersebut, langkahnya terhuyung terombang ambing mengingat sisa tenaganya yang sudah terkuras habis akan pemberontakan percuma tadi, dengan sekuat tenaga pula ia menarik kain usang itu melepaskannya dan dan membiarkan dirinya terbatuk-batuk akibat debu yang dihasilkan benda tersebut.

“uhuk…uhuk…uhuk….” tak henti-hentinya Ji Young terbatuk menutupi mulut dan hidungnya untuk menghindari debu masuk lebih dalam ketubuh kurus keringnya.

Matanya terus terpejam sampai akhirnya ia buka perlahan dan menatap benda besar apa dibalik kain itu. Yap, kaca.

Sebuah kaca berukuran 2×1 m dalam sebuah lemari besar berdiri tepat dihadapan Ji Young dan memantulkan bayangannya yang sudah tak seperti dulu lagi. Kaca itu berlapis emas murni disetiap ukirannya dengan banyak sekali batu permata dilekuk setiap ukirannya memudarkan kata usang yang semula ada pada kaca tersebut.

“bagus, kaca…” guman Ji Young pelan, seperti mendapat keberuntungan dalam hidupnya untuk segera mengakhirinya.

Sejenak ia tertegun menatap benda yang memantulkan bayangannya dengan tatapan kosong. Matanya menatap kosong bayangan dirinya yang dipantulkan kaca tersebut. Kotor, kusam, lusuh, dan acak-acakan itulah yang ada dalam pantulan kaca tersebut. Lebih tepatnya bayangan dirinya sendiri.

Kembali, tak habis pikir bahwa, bagaimana mungkin dirinya bisa menjadi separah ini..?

Terserah dengan semuanya,

Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera mengakhiri hidupnya, terserah dengan bayangan lusuh yang ada, yang terpenting adalah ia harus menemukan sesuatu untuk memecah kaca ini dan membuat kepingan tajam yang nanti akan menyayat pergelangan tangannya. Segera secepat mungkin.

Dengan sisa tenaga yang ada pula Ji Young membuka kenop pintu lemari itu dan berniat mencari sesuatu yang bisa memecahkan kaca dihadapannya ini, tapi apa yang ia temukan didalam lemari itu hanyalah sebuah kotak kecil usang dengan banyak debu diatasnya, Ji Young membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah batu permata saphire blue didalamnya, mengkilat. Benar-benar mengkilat sehingga pantulan dirinya yang lusuh itu tercetak jelas dalam kilatan batu saphire blue persegi 7 tersebut.

“mungkin ini bisa..” guman Ji Young pelan menutup pintu lemari itu bersiap hendak melemparkan batu saphire dalam genggamannya itu tepat pada kaca dihadapannya.

Deg….

Dimana bayanganku…? Ji Young membelakkan matanya tidak percaya saat mendapati dirinya tidak ada dalam bayangan cermin. Tidak mungkin. Cermin itu tidak memantulkan bayangannya sedikitpun, yang ada hanya ruang kosong dan tak ada satupun bayangan dirinya yang sudah jelas-jelas berdiri tepat didepan cermin itu. Tubuhnya bergetar hebat mendapati dirinya yang tak memantul dalam kaca Tidak mungkin, Ji Young berguman hebat mengepal erat batu Saphire blue ditangannya dan kakinya bergetar saking tidak percaya dengan apa yang dilihatnnya saat ini. Perlahan, Ji Young mulai mendekatkan tubuhnya mendekati cermin itu, takut saja jika ia memang salah lihat dengan apa yang ada didalamnya, ia melangkahkan kakinya terus sampai tepat berada didepan cermin itu, menggerakkan jari jemarinya perlahan dan mulai menyentuh kaca tersebut, berharap bahwa ini hanya ilusi semata.

Dan disaat ia tepat menyentuh permukaan kaca itu, perasaan lain menghinggapi dirinya, ia memejamkan mata seperti tertarik pada suatu tempat lain didalamnya.

Perasaannya kini berbeda, ia seperti tak berada dalam ruang lembab dan kotor seperti sebelumnya, ia merasa sangat berbeda saat ini, perasaan hangat dan nyaman tiba-tiba menghampiri tubuhnya bahkan hidungnya pun sudah tidak mencium bau busuk yang semula ia rasakan dalam gudang, yang tercium hanya bau bunga-bungaan yang sangat menyegarkan memaksa masuk kedalam hidungnya, memberikan perasaan lain dalam tubuhnya. Nyaman.

Ji Young membukakan matanya perlahan berharap bahwa ini bukan hanya ‘ilusi’ semata. Berharap ia segera mendapati dirinya sudah berada di surga dan berharap bahwa ia sedang tidak berada dalam alam mimpi.

“Dimana ini..?” matanya terbelak kaget saat mendapati dirinya sudah tak berada dalam ruang kotor lembab dan sangat berdebu seperti sebelumnya.

Ia mendapati dirinya dalam sebuah ruangan megah bahkan terlihat seperti sebuah istana mewah disebuah dunia yang tidak diketahui keberadaannya.

Ia mendapati dirinya tak seperti dulu lagi, sebuah gaun mewah berwarna putih berkilau melilit indah disetiap lekuk tubuhnya, rambutnya tergerai rapi dengan beberapa untaian kepang terikat rapi dengan segala perbedaannya, dan batu yang ia genggam tadi kini menghilang digantikan dengan kalung yang melilit longgar dileher putih mulusnya dengan permata saphire diujung liontin kalung tersebut membentuk sebuah lambang hati dengan tali yang melilit menyambungkan lambang tersebut dengan kalung yang dipakainya. Kontras.

Tempat ini terlalu kontras dengan sebelumnya, matanya masih terbelak menatap cermin dihadapannya yang memantulkan bayangan ‘sesungguhnya’ dari kecantikan, keanggunan, dan kegemulaian seorang putri kerajaan.

Ji Young meraba pelan wajah milikknya, menyubitnya bahwasanya ia memang sedang tidak bermimpi saat ini, ia tersenyum sumringah menampakan giginya didepan cermin bahwa memang ia tidak bermimpi saat ini, bahwa ia memang benar menapakkan kakinya disebuah dunia lain yang masih ia pikir bahwa ini surga dan dia sudah mati.

Biarkan saja, ia sudah tak mau lagi mengingat kejadian beberapa menit lalu bersama wanita biadab itu, biarkan saja ia menghilangkan memori itu digantikan dengan senyuman sumringah yang ia dapati didepan kaca besar yang memantulkan kecantikan asli dari seorang putri kerajaan.

Kembali ia mengagumi sosok baru yang ia dapatkan saat ini, cantik. Bahkan ia berpikir bahwa ia memang benar-benar cantik apa adanya, ia berputar, merasakan gaun yang melekat sempurna dalam tubuhnya, merasakan kenyamanan yang baru saja ia rasakan, sampai Ji Young tidak sadar dua pasang mata memperhatikannya lekat.

“tuan Putri..” akhirnya, Salah satu dari kedua pria itu berbicara, membuyarkan seluruh keterlenaan dirinya akan dunia yang baru ia dapati saat ini.

Secepat itu pula Ji Young berbalik dan mendapati dua orang namja berlutut sopan dihadapannya. Ji Young tak mampu berkata apa-apa lagi, tubuhnya sedikit menegang melihat perlakuan dua namja itu.

Sekilas diperhatikan bahwa kedua namja itu memakai pakaian yang berbeda, Namja pertama berambut panjang coklat emas dengan kemeja putih bersih dan beberapa rangkaian bunga diatara pelipis matanya hampir menutupi kedua matanya.

Dan namja kedua, terlihat lebih membungkuk sopan dibanding namja yang satunya, pakaiannya hitam nyaris trasparan rambutnya panjang namun tak sepanjang namja pertama dan sebuah kain putih jaring-jaring melekat diatas kepalanya membuat keserasian diantara keduanya.

Memori Ji Young kembali berputar, ia pernah menemui kedua namja ini, tapi dimana?

 

****

Seorang yeoja berumur 18 tahun dengan note book dan kamera ditangannya masih asik memotret benda-benda dengan karya seni tinggi dalam sebuah museum klasik disalah satu kota dinegara italia.

Gadis itu masih asik dengan dunianya mengikuti hasratnya untuk menuju tempat yang lebih menarik lagi, sampai ia pun menjauh dari rombongan lainnya dan memilih untuk mengikuti kata hatinya menuju tempat yang disukainya.

Kini matanya tertuju pada 3 lukisan tanpa pagar pembatas disekelilingnya, disudut ruangan sepi dimuseum tersebut, ruangan itu bahkan lebih sepi dibanding ruangan lainnya yang masih ada beberapa pengunjung memperhatikan lukisan lain, 3 lukisan namja.

Sepintas terlihat biasa, namun kata hatinya berkata lain seperti ada sesuatu disana yang harus ia ketahui dan memilih untuk mengikuti langkahnya mendekati 3 lukisan itu.

Lukisan pertama yang ia lihat adalah seorang namja dengan topeng bunga menutupi matanya, terduduk membungkuk dengan tangan yang memegang kursi yang didudukinya.

Sejenak Ji Young tertegun. Terpana lebih tepatnya, menatap lekat lukisan tersebut.

Rahang tajam dan hidung mancung menambah kesan keterpanaan dirinya akan lukisan itu.

Seperti. Ada perasaan lain yang menghinggapinya saat ia menatap lekat lukisan namja pertama, seperti perasaan tidak asing dengan namja ini, seperti ia memang sudah mengenalnya sejak lama dengan namja dalam lukisan ini, perasaannya berkata bahwa ia adalah sahabat namja ini. Tapi kapan? Bahkan Ji Young rasa ia baru menemukan lukisan ini beberapa detik lalu, tak mungkin. Hanya perasaannya, pikirnya.

Ji Young menggelengkan kepalanya pelan dan memilih untuk menatap lukisan kedua yang dilihatnya, seorang namja dengan baju trasparan dan topi jaring melekat indah dikepalanya sedang terduduk menatap lekat apa yang ada dihadapannya.

Untuk kedua kalinya ia terpana dengan lukisan tersebut, Indah. Benar-benar sangat memukau, sorot matanya teduh memancarkan ketenangan jiwa disetiap tatapannya. Dan baju transparan yang dipakainya menambah kesan lebih Kesempurnaan, akan namja ini. Lukisan namja kedua.

Ji Young merasa sesuatu yang aneh menghinggapi dirinya saat menatap lukisan tersebut, kali ini sedikit berbeda dengan lukisan pertama yang memberi kesan ‘hey, dia teman baikku, yang paling baik yang pernah kau temui’.

Perasaan nyaman hangat dan terkesan melindungi, menyelimuti hatinya saat ia menatap lukisan kedua namja tersebut, dia adalah belahan jiwaku.

Apa yang ada dalam perasaannya, berkecamuk dengan apa yang ada dalam pikirannya akan logika, bahwa mustahil merasakan hal tersebut hanya dengan menatap lukisan.

Ji Young memegang kepala pelan, yang entah sejak kapan merasa sedikit sakit dari sebelumnya, perasaannya berkecamuk dengan pikirannya. Akan perasaannya yang mengatakan bahwa ‘aku memang sudah mengenal mereka’ dan pikirannya yang berkata ‘tapi dimana?’.

Ia sedikit menghela nafas memberikan sejenak ruang hati dan pikirannya untuk membuatnya lebih tenang dan berpikir selaras seperti sedia kala kembali.

 

Langkahnya terhenti disebuah lukisan terakhir dihadapannya, untuk ketiga kalinya ia kembali terpana menatap lukisan yang bahkan dia sendiri pun tak bisa mengartikannya, lukisan namja ketiga.

 

 

 

Seorang namja berdiri tepat menatap apa yang dihadapannya. Dan untuk pertama kalinya Ji Young merasakan sesuatu yang lebih lain lagi menghinggapi dirinya, entah sejak kapan jantungnya berdetak kencang dan darahnya mengalir deras hanya karena ia menatap lukisan yang tak bisa ia artikan akan sorot matanya yang benar-benar membuat dirinya seperti merasakan ‘Jatuh Cinta’,

Lebih lama ia tertegun menatap lukisan ketiga, mengamati setiap lekuk wajah namja yang berada dalam lukisan dihadapannya, matanya, hidungnya, bibirnya, yang entah sejak kapan menjadi sesuatu yang lebih menarik untuk dilihat. Jantungnya berdetak lebih cepat, mungkin hanya karena menatap sorot matanya yang tajam dan teduh secara bersamaan.

Tanpa sadar Ji Young melangkahkan kakinya untuk meraih dan merasakan relief lukisan tersebut, tangannya terangkat keudara saat ia merasakan sesak didadanya akibat jantungnya yang berdebar terlalu kecang untuk segera menyentuh lukisan itu. Berharap bahwa perasaan itu lenyap saat ia menyentuhnya. Berharap bahwa desir darahnya yang terlalu kecang bisa terobati ketika ia benar-benar menyentuh lukisan tersebut dan membuatnya kembali normal.

Jantungnya kembali berdetak dan hatinya berkata ‘kau takdirku’ tapi, kembali pikirannya berkata ‘sejak kapan? Siapa mereka?’ membuat Ji Young merasa terombang ambing dengan apa yang berkecamuk dalam dirinya.

Jari-jemarinya terhenti disaat beberapa Millimeter lagi ia akan menyentuh lukisan itu, sebuah perasaan nyaman kembali melanda dirinya ketika mendekati lukisan tersebut. Dan disaat ia benar-benar menyentuh lukisan tersebut. Seseorang berkata pada batinnya.

 

‘Datanglah padaku,

Temui aku dalam kegelapan,

Ikat aku dalam takdirmu,

Dan berikan hembusan nafasmu untuk menyelamatkanku.’

 

Kata-kata itu menghujam hebat dalam batinnya bah petir yang melanda disiang bolong. Tubuh Ji Young terjatuh seketika ketika mendapati batinnya dihujam kata-kata asing yang membuat lututnya terkulai lemas dan seakan tak bisa lagi menopang tubuhnya.

Ji Young merasakan kakinya sudah tidak bisa lagi memopang tubuhnya, dirinya ambruk seketika terkulai lemas dengan nafas terengah-engah, benar-benar nyata. Bahwa perasaan itu benar adanya, dan datang secara tiba-tiba menghujam dirinya yang sudah tak mampu lagi mengartikulasikan apapun saat ia menerima perasaan aneh saat itu.

“Nona Song, anda baik-baik saja..?”

****

 

“Tuan putri, anda baik-baik saja?” tanya namja berbaju sedikit trasparan tersebut menyentuh pelan pundak Ji Young diikuti dengan anggukan khawatir namja berbaju putih disampingnya.

Ji Young sedikit tersentak kaget mendapat perlakuan seperti itu, sejak kapan kedua namja ini sudah berada tepat dikedua sampingnya?

“kau…?”

Halisnya sedikit mengkerut mengucapkan kata tersebut, memastikan bahwa ia memang benar dan tak salah.

“ah, ne… Sudah lama tidak bertemu nona, kau masih mengingatku rupanya…” jawab namja berambut panjang berbaju putih tersebut, nadanya lebih terdengar bersahabat. Dan cengiran lebar mengakhiri kalimatnya menunjukan deretan gusinya.

“Keunde…”

“tidak udah khawatir putri, kami semua tidak akan menyakitimu, bahkan kami bersyukur karena kau kembali. Kau pasti datang kesini untuk menemui takdirmu kan? Aku merindukan kebersamaan kita dulu, dan juga Hyung…” jelas namja berbaju putih tersebut, tersenyum lebar merangkul pundak Ji Young dan membawanya perlahan, diikuti langkah Ji Young yang sedikit ragu. Tepatnya gugup.

“Yaak, kau menakutinya, kau tau? Sudah, dia pasti sangat lelah, jangan buat dia takut lagi, kau membuat dia takut dengan gusimu..” teriak namja berbaju hitam sedikit transparan itu tidak terima, ia segera menarik lengan Ji Young dibalas dengan ucapan tidak terima dari namja berbaju putih, dan senyuman pelan dari Ji Young.

“Keundae, dimana ini? Apa aku pernah mengenal kalian sebelumnya?” tanya Ji Young akhirnya, menyuarakan pikiran penasaran akan tempat indah ini, terlalu indah.

“aish, apa kau melupakan kami, eo?” jawab Namja berbaju putih sedikit tidak terima. “baiklah, Karena kamu telah melupakan kami maka aku akan memperkenalkan diri kembali kepadamu, Namaku Lee HyukJae, kau bisa memanggilku Eunhyuk Oppa kalau kau mau, dan pria bermata sedih disampingmu namanya Lee Donghae kau bisa memanggilnya Donghae Oppa, atau Ikan, atau Si mata sedih, Cry Donghee atau apa saja terserah kau.. Aku memanggilnya Si mata sedih, aku harap kau juga memanggilnya seperti itu, bangapta putri..” lanjut Eunhyuk menjelaskan diakhiri dengan cengiran lebar dimulutnya menampilkan gusi dan gigi putih yang dimilikinya.

“Yaak, begitukah cara kau memperkenalkan diri? Dimana sopan santunmu, Maafkan kami Tuan..” teriak namja berbaju sedikit trasparan tersebut kembali meneriaki Eunhyuk.

“Ah, ne, gweanchana..”

“maaf kan kami..” ucap Donghae sedikit tertunduk.

“annio, gweanchana… Tidak usah meminta maaf..” sahut Ji Young tersenyum mencoba untuk membuat namja bernama Lee Donghae itu tidak semakin tertunduk malu.

“kajja, aku akan menceritakan lebih banyak lagi tentang tempat ini, upacara akan dilaksanakan lusa kan? Aigo~ aku sudah tidak sabar melihat kembali hyung, kajja. Biarkan saja dengan Si mata sedih…” ucap eunhyuk menarik lengan Ji Young membawanya keluar dibalas dengan gerutu kesal dari donghae.

******

“Mwo…??” Ucap Ji young tersentak dengan apa yang baru ia dengar saat ini, penjelasan dari Eunhyuk.

“tentu saja putri…” lanjut Donghae mencoba menjelaskan.

“Ja…Jadi…. Aku harus…. Itu…” sahut Ji Young sedikit terbata-bata, nafasnya sedikit tercekat diakhir kalimatnya.

“haha, putri, berhentilah bersikap seolah-olah kau baru melakukannya sekarang…” ucap Eunhyuk berbaring pada rerumputan hijau diatas bukit dan menggunakan kekuatannya untuk membuat beberapa rangkaian bunga yang menutupi matanya menghalau sinar matahari yang terlalu terik menembus kedua matanya.

“yaak, berhentilah memanggilku putri, aku tak menyukainya… Lebih baik jika kalian memanggilku Ji Young-ssi atau Ji Young-ah, pokoknya jangan panggil putri. Arra!” ucap ji young memanyunkan bibirnya, entahlah, padahal ia baru bertemu mereka tak kurang dari 2 Jam lalu, dua namja itu hanya mengajaknya kedalam sebuah taman dibelakang istana dan menceritakan banyak hal mengenai dunia kedua, dan mengenai namja yang akan diciumnya saat upacara bulan purnama lusa.

Seperti memang mereka sudah mengenal satu sama lainnya, donghae yang lembut dan eunhyuk yang menyenangkan, dan namja itu, Ji Young tak tau. Ia lupa.

“baiklah, Ji Young-ssi..”

“lalu, aku harus menciumnya dihadapan semua orang, seperti itu?” tanya Ji Young kembali merasa tidak terima.

“tentu saja…. Ji Young-ssi, itu sudah takdirmu dan kau harus menerimanya. Bahkan aku rasa seminggu lagi kalian akan menikah, cukkae…” jawab Donghae menjelaskan tersenyum lembut menatap Ji Young yang masih mengerucutkan bibirnya kesal dan Eunhyuk yang terkekeh pelan.

“aku tak mempercayai takdir..” ucap Ji Young pelan.

Ia menghembuskan nafasnya pelan dan kemudian mulai menyandarkan tubuhnya pada pundak Donghae, seolah bahwa. Memang benar mereka pernah bertemu dan berteman sejak lama dan baru bertemu sekarang.

Seolah bahwa sudah tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka yang membuat Ji Young dengan leluasa menyandarkan pundaknya pada Donghae dan Eunhyuk yang terlelap menjadikan paha Ji Young sebagai bantal.

Semuanya terjadi begitu saja. Mengalir seperti air, perlahan takdir yang tak pernah kau percayaipun mulai memudar digantikan dengan kenyamanan dikelilingi dengan orang-orang seperti itu, menjaga, melindungi, dan mencintainya setiap waktu.

“Namja itu, siapa namanya?” tanya Ji Young polos.

“Itu salahku..” jawab Donghae menghela nafas panjang dengan suara beratnya.

“Yak, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Seharusnya kau bersyukur masih ada yang bisa menyelamatkanmu, Arra?” sanggah eunhyuk membukakan topeng bunga yang menutupinya dan menatap Donghae yang tertunduk.

“kau benar… Namanya Kim Jong Woon, dia adalah Hyung kami, dia sudah tertidur selama 130 tahun, hanya untuk menunggu dirimu lahir…”

“Mwoo..?? 130 tahun..? Ja..jadi umur kalian..”

“nona song, 1 tahun di dunia kami sama dengan 100 tahun di duniamu, kau ini… Aish, aku bahkan meragukanmu apakah kau benar-benar orang yang ditakdirkan itu..”

“hah, syukurlah…” ucap Ji Young mengelus dadanya pelan.

“wae? Waeyo? Apa sesuatu terjadi?” tanya Ji Young penasaran, kali ini ia menatap namja disampingnya itu, matanya berwarna coklat dan benar-benar teduh. Lee Donghae.

“itu.. Saat itu, kami baru menemukan takdir kami, dan dunia dalam keadaan kacau balau karena seseorang, mahluk itu mengacaukan segalanya sampai akhirnya kami dipaksa bertarung dan bahkan kamipun tidak tau harus bagaimana menggunakan kekuatan kami seperti sekarang. Dan disaat itu, aku terjebak dan hampir terbunuh tapi, tiba-tiba hyung datang dan berlari, tubuhnya bercahaya dan dia mengucapkan mantra itu… Untuk menyelamatkan kami…” jelas Donghae dengan matanya sayu dan ada seburat penyesalan disetiap katanya. Tanpa sadar Ji Young merangkulnya dan membiarkannya menyandarkan kepalanya di pundak Ji Young, ia tak tau persis seperti apa kejadiannya.

Tapi, dia merasa bahwa memang benar adanya ia benar-benar menyesal seperti itu. Eunhyuk tersenyum dan lebih memilih untuk menyandarkan kepalanya diposisi semula.

“Mantra?”

“Benar, mantra ‘interchange’, mengatakan bahwa ia bersumpah demi langit dan bumi akan menukarkan jiwanya agar bisa menyelamatkan dunia kedua, dan menemui takdirnya sampai saat yang ditentukan… Dan membuat dirinya tertidur selama itu..” jawab Donghae, berkali-kali ia menghela nafas menahan air matanya yang hampir menetes dari pelipis matanya.

“mianhae…”

“annio, bukankah aku hanya perlu menciumnya dan membuatnya terbangun? Tidak usah menyalahkan dirimu seperti itu…” sahut Ji Young mencoba menenangkan namja yang menyandarkan kepalanya dipundaknya.

“sudahlah… Percayalah semuanya akan baik-baik saja..” ucap Eunhyuk menengahi.

 

****

####

 

2 Days Later

 

Ji Young’s P.O.V

 

Tidak terasa sudah 3 hari aku berada disini, aku dengar bawa waktu berjalan sangat lambat disini.

Tak banyak yang aku lakukan disini, semuanya memperlakukanku dengan baik. Mungkin, dunia kedua ini adalah dunia idaman seluruh jagat raya, tanahnya subur dan gembur. Pohon dan hutan dimana-mana, taman bunga, buah-buahan, binatang, manusia semuanya hidup selaras disini membuat sebuah tatanan yang luar biasa tidak mungkin jika dibandingan dengan duniaku. Bumi pertama.

EunHae Oppa, aku menyukainya, mereka memperlakukanku seperti teman biasa tak ada yang lain. Tak seperti yang lainnya yang memperlakukanku layaknya seperti barang yang mudah pecah rapuh dan hancur. Hey, aku tak seburuk itu..!

Dan mengenai namja yang akan aku cium nanti malam, aku sedikit memikirkannya. Aku tidak melihatnya lagi setelah saat itu, saat aku melihatnya dilukisan. Aku dengar dia didalam sebuah peti kaca berlapis emas dan perak.

Aku banyak mendengar, padahal EunHae Oppa, sudah mengajakku untuk melihat namja itu dibalik peti. Tapi, aku menolak.

Tidak sampai saat ini.

Hanya tinggal tersisa 3 jam lagi sampai saat itu tiba, aku hanya merasa seseorang memperhatikanku saat ini, menungguku, dan selalu memperhatikanku dimanapun aku, menunggu sampai saat aku membangunkannya.

 

****

3 hour’s later………………

 

Author’s P.O.V

Lagi, untuk yang kesekian kalinya Ji Young mengetuk pelan lantai dengan High Heelsnya, benar, dia memang tidak merasa baik-baik saja saat ini. Menunggu saat pintu besar itu dibukakan dan melihat seluruh rakyat, Raja Leeteuk, dan Ratunya, juga EunHae oppa, dan namja itu yang terbaring dalam peti kaca, seseorang yang akan dibangunkannya.

“eottokae..” guman Ji Young pelan, rasa gugup itu semakin besar disaat Eunhyuk menghampirinya dan meminta ia segera bersiap-siap sebelum kembali menghilang menggunakan kekuatannya dibalik pintu.

Dan disaat pintu terbuka pemandangan yang luar biasa indah ia lihat.

Seluruh rakyat berjejer rapi sepanjang mata memandang menghadap tepat pada balkon tertinggi dalam istana tempat dimana seluruh pengawal raja, ratu dan tentu saja dewa lainnya berdiri dan membungkuk sopan pada Ji Young dan tentu saja namja itu. Namja yang tebaring dalam peti.

Sinar bulan menerangi semuanya ditemani dengan cahaya kunang-kunang yang bertebaran kesana kemari, Eunhyuk dan Donghae tepat berdiri disamping peti diikuti dengan Raja Leeteuk yang entah sejak kapan sudah meneteskan air matanya.

Ji Young melangkahkan kakinya pelan disaat semuanya menunduk menghormat kepadanya, ia hanya berpikir bahwa terlalu berlebihan seperti ini.

Langkahnya pelan dan benar-benar gugup, sesekali ia menatap Donghae yang tersenyum ramah kearahnya dan Eunhyuk yang mengepalkan tangannya semangat dan ia pun sudah tau apa artinya.

Sekarang ia sudah tepat berada didepan peti itu, samar-samar ia melihat sebuah wajah dibaliknya, yang terlihat bahwa rambutnya sedikit merah tapi wajahnya tidak terlalu terlihat akibat relief kaca yg menutupinya.

Ji Young mengintip penasaran dengan apa yang ada dibalik peti tersebut sampai tanpa sadar Raja Leeteuk sudah menghampirinya dan memegang pundaknya dengan air mata berlinang. Mengharukan.

“anakku, kau adalah takdirnya… Biarkan dia terbangun olehmu, aku merestui kalian dan dengan ini takdirmu untuk bersamanya..” ucapnya sedikit tersendu-sendu, Dan ratu sudah berada disamping leeteuk memegang pundaknya pelan dan berkata ‘semuanya akan baik-baik saja’. Untuk segera menenangkannya, sebelum semuanya menjadi terlalu berlebihan menurut Ji Young.

Ji Young hanya tersenyum lembut saat itu, menatap Donghae dan Eunhyuk yang tanpa henti memberinya semangat disamping peti.

Benar ia sekarang sudah disamping peti, beberapa pengawal pun sudah bersiap untuk membuka petinya, Ji Young menutup mata.

Ia takut, tidak, bukan takut tapi gugup. Dirinya gugup setengah mati sampai ia rasa jari tangannya seperti balok es yang mencair, dan kakinya yang bergetar seperti ia tak mampu menopang tubuhnya kembali.

Ia menutup matanya.

Perlahan-perlahan ia membukanya kembali.

Peti itu sudah terbuka dan Ji Young masih ragu untuk membukakan matanya, sampai keberaniannya terkumpul dan ia membukakan matanya.

Benar, untuk kedua kalinya ia terpana dengan wajah itu. Sesosok namja tertidur dalam peti emas, rambutnya merah kehitaman, hidungnya mancung, matanya terpejam sempurna dan bibirnya penuh sedikit tipis. Kesempurnaan.

Ji Young merasa bahwa ia memang sedang tidak menapaki bumi, hanya dengan menatap wajahnya saja ia sudah bisa membuat dirinya hampir mabuk kepayang akibat wajahnya. Relief sempurna.

Jantungnya mulai berdetak liar saat ia melangkahkan kakinya untuk semakin mendekatinya.Darahnya kembali berdesir sama seperti 2 tahun yang lalu, saat ia melihat namja itu untuk pertama kalinya dalam lukisan.

Tak ada yang menuntunya, langkahnya begitu saja sampai kini wajahnya sudah benar-benar dihadapan wajah namja tersebut.Rambutnya tergerai berjatuhan merepa wajah namja yang ada dibawahnya, terlalu mempesona. Namja ini terlalu sempurna.

Bahkan Ji Young berpikir bahwa apa ia benar-benar seorang manusia? Dan benar saja ternyata memang, bukankah dia seorang pemimpin kaum ke-3? Dewa Dementer.

Darahnya berdesir hangat dalam tubuhnya, Ia mencondongkan tubuhnya pelan dan menatap namja yang sudah hanya berjarak beberapa centi lagi dari wajahnya.

Apa yang mereka bicarakan akan namja ini benar, ia tidak bernafas sama sekali. Dingin wajahnya sedikit pucat mungkin karena ia tidur dalam jangka waktu lama. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun, tapi Ji Young masih bisa mendengar bahwa jantungnya masih berdetak, normal.

Hanya tinggal bersisa beberapa centi lagi, Ji Young terlalu terpesona dengan wajah itu, darahnya, jantungnya, perasaannya, pikirannya, dimana mereka sekarang?

Tak pernah membayangkan bahwa akan seperti ini ketika merasakannya, bahkan dulu ia pernah berpikir bahwa ‘jatuh cinta itu Bulshit’ dan sekarang ia merasakannya sampai tak mampu mengartikulasikan apapun dengan apa yang ada dihadapannya, disekelilingnya, bahkan dirinya sendiri. Hanya namja itu.

Untuk beberapa detik Ji Young terdiam dalam keheningan, seolah semuanya diam tak bersuara. Ia kembali menarik nafas panjang, menutup matanya rapat dan perlahan, pelan namun pasti menghembuskan sedikit nafasnya tepat kehadapan wajah yang sudah mampu meluluhlantahkan prinsipnya akan ‘jatuh cinta itu Bulshit’.

Saat ia benar-benar akan menciumnya, angin kecil menerpa wajahnya, benar. Namja itu mulai bernafas, tangannya perlahan mulai bergerak.

Sontak saja Ji Young sedikit terkejut dan lebih memilih untuk tidak melakukannya. Niat Menciumnya tepatnya.

Nafas namja itu sedikit terbatuk-batuk, mungkin itu hanya karena ia baru bernafas kali ini. Matanya mulai terbuka dan tangannya bergerak perlahan, dan tanpa sadar memegang lengan Ji Young, yang kau tau bahwa Tangannya-Dingin-Karena-Gugup.

Ji Young tak tau lagi apa yang harus ia lakukan saat itu, tepat ketika namja itu menyentuh perlahan lengan Ji Young.

“Gweanchana..?” Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Ji Young memegang pelan pundak namja yang terbaring dihadapannya, yang sikapnya saja sudah menunjukan bahwa dia gugup setengah mati.

Namja itu membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali dan nafasnya sedikit memburu dan terkadang masih terbatuk-batuk. Memfokuskan matanya sampai benar-benar menatap Ji Young.

“Nu-gu?” tanya namja itu polos datar dan benar-benar tak berdosa, wajah polos seorang Dewa Dementer. Kim Jong Woon. Jelas membuat Ji Young membelakkan matanya sempurna dan tidak memilih untuk meneriaki namja itu sampai gendang telinganya pecah.

“MWO?” teriak Ji Young tidak terima, disambut dengan sorak sorai seluruh penghuni bumi kedua yang saling meneteskan air matanya dan memeluk satu sama lain dan membuat Ji Young mengurungkan niatnya untuk tidak lebih meneriaki namja dihadapannya itu.

 

*****

#####

 

1 Weeks Later…………

 

Author P.O.V

 

“Sedang apa disini?” tanya seorang namja lembut menghampiri seorang yeoja dengan dress berwarna cream coklat selutut tengah terduduk diatara luasnya padang bunga tulip yang tengah bermekarang, berwarna-warni bunga kesukaannya. Song Ji Young.

“Oppa, oh, ada Eunhyuk Oppa juga…” jawab Ji Young senang, menunjukan bahwa ia memang bahagia dihampiri oleh 2 Oppa kesayangannya itu.

“aigo~ jadi, sekarang apa lagi yang kau lakukan disini, eo?” tanya Eunhyuk mengelus pelan puncak kepala Ji Young membuat ia sedikit tertunduk malu akibat ulahnya.

“hanya menikmati taman bunga…” Jawab Ji Young menghirup nafas panjang dan tersenyum manis pada namja dihadapannya ini.

“besok kau akan menikah, kan?” tanya Donghae masih dengan nada lembut dan terkesan penuh perhatian, melebihi apapun.

“aku tidak tau, bahkan akupun belum pernah bertemu dengannya lagi setelah kejadian itu, minggu lalu…” Jawab Ji Young menghela nafas berat sedikit tertunduk dan memanyunkan bibirnya sebelum akhirnya kembali melanjutkan kalimatnya “Kau tau? Aku benar-benar meragukannya, bagaimana mungkin tampang yang seperti itu menjadi seorang Dewa Dementer? Apa kalian tidak menyadari, tampang polos yang benar-benar memuakan itu, lihat bahkan dia mempunyai mahkota yang aneh dari ranting-ranting dan daun, apa dia berniat untuk membuat sarang burung dikepalanya? dan lagi….” lanjut Ji Young membuat namja dihadapannya itu terkekeh tidak tahan dan bahkan Eunhyuk sudah tertawa terbahak-bahak akibat ucapan Ji Young.

“YAAK, AKU MENDENGAR SEMUANYA….!!” Teriak sebuah suara memotong ucapan Ji Young disambut lunjakkan kaget dari yeoja tersebut.

“oh, Hyung-a, kemari… Lihat yeoja-mu membuat lelucon tentang dirimu… Kajja…kajja…” ajak Eunhyuk disambut dengan kekehan pelan dari Donghae.

“cih, kenapa kau datang kemari?” tanya Ji Young menatap kesal namja yang baru saja terduduk disampingnya itu.

“kenapa? Tentu saja untuk menemuimu..” jawab namja itu tak mau kalah.

Ji Young hanya berguman tidak jelas dan lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap namja yang terduduk disampingnya itu. Kim Jong Woon.

“Hyuk-a, kajja… Aku tau ini hanya akan memperburuk suasana jika berlama-lama disini… Kita pergi sekarang…” Ajak Donghae menghela nafas disambut dengan Cengiran lebar Eunhyuk yang terlihat seperti ejekan dimata Ji Young.

“mau kemana? Aku ikut…” ucap Ji Young berusaha berdiri, tapi terhenti karena namja disampingnya itu memegang lengannya erat.

“diamlah disana… Aigo~ cara memegang tangannya benar-benar manis… Hyung-a, ceritakan aku jika kau berhasil melakukannya, aku akan menjadi pendengar yang baik…” Ucap Eunhyuk masih dengan Cengiran lebarnya dan mengedipkan matanya genit, jelas membuat Ji Young langsung membelakan matanya semperna membuat dia berpikir keras ‘apa yang dimaksud dengan melakukannya?’.

 

—–

 

Beberapa menit berlalu, tak ada pembicaraan lagi setelah kepergian Eunhyuk dan Donghae setelah itu, namja bernama Kim Jong Woon itu hanya terduduk dengan tangan yang menopang tubuhnya kebelakang dan wajahnya menatap langit sesekali menghirup nafas panjang dari angin yang mengalir lebut menyentuh setiap permukaan benda di dunia kedua.

“Yaak, berhentilah mencabuti rumput seperti itu, kau tau? Aku lelah menjaga dunia ini, dan kau seenaknya saja merusaknya seperti itu…” protes Jong Woon pada yeoja disampingnya yang lebih asik mencabuti rumput liar dan mencabik-cabiknya dengan kesal.

“aku tidak merusaknya… Rumput liar mengganggu tumbuhnya bunga tulip, maka dari itu aku mencabutnya. Aku tidak mau jika bunga-bunga ini akan terhambat pertumbuhannya akibat rumput liar…” Jawab Ji Young tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dan lebih memilih untuk tetap melanjutkan aktivitasnya. Mencabuti rumput liar.

“Mianhae….” ucap Jong Woon tiba-tiba, ia menghela nafas berat sebelum mengucapkannya, memposisikan tempat duduknya agar tepat menghadap yeoja disampingnya itu dan menatapnya dengan leluasa.

“Untuk apa?” Tanya Ji Young akhirnya menatap namja yang terduduk menghadap disampingnya.

“Untuk segalanya, Untuk perkataanku minggu lalu, untuk karena aku tidak menemuimu lagi setelah kejadian itu, dan untuk semua yang kau lakukan padaku…” ucap Jong Woon menjelaskan.

“itu…”

“wae? Kau tidak memaafkanku?” tanya Jong Woon heran, menatap lekat yeoja dihadapannya itu. Masih dengan tatapan tajam dari mata kecil yang ia miliki.

“anni, bukan seperti itu, hanya saja… Aku…” jawab Ji Young tertunduk salah tingkah. Jatungnya mulai berdetak tidak normal lagi saat ini. tapi, perasaan nyaman lah yang menghalaunya, nyaman bersama namja disampingnya itu. Nyaman saat ia menatap matanya yang seakan memiliki dua sisi yang berbeda, lembut dan tajam. Dan juga hidung bangirnya, itu juga mungkin termasuk hitungan. Dan bibirnya, Ji Young pikir bahwa itulah hal yang paling menggoda, sudahlah, membayangkannya saja sudah tak sanggup. Ji Young pikir.

“Saranghae….” Ucap Jong Woon akhirnya, menyuarakan apa yang ada dibenaknnya saat ini akan perasaan yang membludak hanya karena kau menatap wajahnya, bahkan jika disanding dengan malaikat lainpun mungkin tetap saja pilihannya hanya akan jatuh pada yeoja ini, yeoja yang memberikan separuh nafanya, hembusannya. Dan yeoja yang ia cintai saat ini.

“eo?” tanya Ji Young, merasa pendengarannya sedikit bermasalah saat ini.

“Saranghae, Ji Young-a…. Kau, satu-satunya orang yang memberikan sebagian nafasmu untukku dan aku, sudah menyukaimu. Tepat, bahkan ketika kelahiranmu saat itu..” Jawab Jong woon tersenyum, kali ini senyumannya lebih terlihat ramah dan menyenangkan, dan tulus, setulus dewa Dementer.

“kau, bagaimana mungkin?” tanya Ji Young penasaran menatap namja yang tersenyum manis didepannya, bahkan matanya hampir saja menghilang digantikan dengan buratan tipis dikedua matanya.

“Umurku 8 Tahun saat kau lahir, dan aku sudah mengetahui bahwa kau adalah tadirku kelak…” jawab Jong woon Enteng.

“aku tak mempercayai takdir…” ucap Ji Young menghela nafas berat dan mengalihkan pandangannya kembali menatap padang tulip dihadapannya.

“aku juga…. tapi, hanya takdirmu yang aku percayai, salahkah jika aku mengatakan itu, hmm?” kali ini Jong Woon lebih memilih menyilakan kakinya dan tangannya yang menopang tubuhnya sedangkan kepalanya ia condongkan tepat dihadapan Ji Young, bahkan hanya bersisa beberapa centi lagi dari wajahnya.

“anni, anniyeo…. Tidak usah berlebihan…” Ucap Ji Young menjauhkan sedikit kepalanya dari wajah namja disampingnya itu yang hanya bersisa beberapa centi lagi dari wajahnya.

“jadi, kau mau menikah denganku, besok? Ji Young-a… Hmm?” tanya namja bernama Kim Jong Woon tersebut lebih memposisikan tubuhnya, tepatnnya wajahnya untuk semakin mendekat dengan wajah yeoja dihadapannya itu.

Ji Young hanya terdiam menatap namja yang hanya berjarak beberapa centi lagi dari wajahnya, ia benar-benar terpana dengan pemandangan ini, sejak kapa seorang Song Ji Young yang tidak mempercayai takdir seperti ini, bisa luluh dengan namja bernama Kim Jong Woon tersebut?

Hanya karena tatapanya saja.

“Kau diam berarti jawabannya ‘ya’…” ucap Jong woon masih betah menatap Relief terindah yang pernah diciptakan tuhan saat ini, yeoja bernama Song Ji Young.

Ji Young benar-benar kehabisan kata-kata dengan kalimat terakhir namja itu, ia lebih memilih untuk menundukan kepalanya malu, sebelum diketahui namja itu bahwa mukanya sudah seperti kepiting rebus karena malu.

“Ji Young-a….” ucap Jong woon sedikit berteriak membuat Ji Young sedikit terbelak kaget dan menatap namja disampingnya itu.

“eo?” ucap Ji Young kaget menatap namja disampingnya itu.

Jong woon hanya tersenyum manis dan meraih tengkuk leher Ji Young dengan cepat sebelum akhirnya menyapukan sebuah kecupan manis dibibirnya, tidak, sebenarnya ia ingin sekali melakukan hal yang lebih terhadap Yeoja disampingnya itu, tapi.. Mengingat besok pernikahannya dan bukankah itu merupakan soal yang mudah hanya bertahan sampai hari esok.

Karena, orang yang berani menghembuskan nafas untuknya ialah orang yang benar-benar berharga dimata seorang dewa kehidupan, tumbuhan dan keseimbangan dunia kedua. Dewa Dementer. Kim Jong Woon.

Seseorang yang harus ia jaga, cintai, dan seseorang yang harus tetap berada disampingnya untuk selamanya.

 

*****

 

Fin!

2 Comments (+add yours?)

  1. Christin
    Mar 09, 2016 @ 20:02:11

    berarti ji young gk kembali kedunianya dong???

    Reply

  2. ranakim9387
    Mar 23, 2016 @ 15:35:28

    Lumayan nih thor.. Btw, eunhyuk athena? Bukannya athena itu cewek ya?

    Demeter jg cewek, ibu2 malah..

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: