The Only Exception [2-END]

kyuhfall5

Title:The Only Exception

||Main Cast: Cho Kyuhyun, Kim Hyo Joo||Rate: 16+||Genre: Romance||Length: Twoshot-END||Author:Maysea Zimar||

***

Previous….

 

Kyuhyun terkekeh, mendekat kembali hingga dahi mereka saling bersentuhan.“Bukankah, ini sudah terlalu jauh bagimu untuk menghindar, Hyo Joo-ya?”

 

Kyuhyun mendesah, memejamkan matanya dan berbicara di atas permukaan wajah gadis itu. “Kau mungkin sedang sial karena terjebak dengan pria sepertiku tapi setidaknya, biarkan aku bersikap egois. Sekali ini saja.”

***

Kyuhyun melangkah keluar dari kamar mandi, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kemudian dia berhenti. Tersenyum sinting saat mengingat kembali kejadian di gang tadi. Ciumannya dan Hyo Joo. Apa ini karena pengaruh alcohol yang diminumnya sehingga pertahanannya runtuh dengan mudah. Tapi, maaf saja apa pun alasannya, Kyuhyun tidak menyesali tindakannya.

 

Sementara itu, Hyo Joo yang terbaring di tempat tidurnya, berguling tidak nyaman. Dia berbaring menghadap balkon, menggigit kecil bibirnya, menganalisis perasaannya sendiri. Ketika dia mengingat kembali ciumannya di gang tadi, jantungnya berdegup dengan kencang. Perasaannya pada pria itu belum bisa Hyo Joo jabarkan karena dia juga masih mencaritahu.

***

 

 

Hyo Joo melangkah dengan pelan, menaiki undakan tangga yang mengarah ke rooftop gedung Universitas. Suara derit terdengar ketika Hyo Joo membuka pintu rooftop itu, gadis itu berjalan menuju pembatas rooftop lalu berdiri dalam diam. Memandangi langit sore yang memendarkan spectrum warna jingga.

 

Kadang-kadang Hyo Joo menghabiskan sisa sorenya di sana sebelum kembali ke ruang redaksi hanya untuk melepas penat, menyaksikan bagaimana fenomena fisika terbentuk. Ketika berkas cahaya matahari melewati panjang atmosfer maksimum, menghamburkan pendaran polikromatiknya hingga membentuk warna kemerahan.

 

Pancaran sinar matahari yang diam-diam meredup, memudarkan warna kemerahan saat kembali ke peraduan dan menghilang dibalik cakrawala senja. Hyo Joo akan berlalu setelah langit berubah gelap seluruhnya ketika malam mulai menyapa.

 

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau pikirkan Hyo Joo-ya?”

 

Hyo Joo tersentak dengan suara familiar yang menyapanya itu. Dia berbalik lalu menemukan Kyuhyun yang sedang bersandar pada dinding di belakangnya, tidak jauh dari pintu dengan kedua tangan yang tenggelam di saku celana.

 

Tatapan pria itu seperti biasa selalu tampak menusuk dan sedang memandang ke arahnya. Sejak kapan pria itu berdiri di sana dan bagaimana bisa Hyo Joo tidak menyadarinya.

 

“Sejak kapan kau berdiri di sana?”

 

Kyuhyun mendengus karena gadis itu tidak menjawabnya dan malah mengajukan pertanyaan balik padanya seperti biasa. “Sebelum kau datang dan melamun di sana.”

 

“Aku tidak melamun.” Elak Hyo Joo. “Aku menikmati pemandangan, melihat matahari sore. Dan apa yang kau lakukan di sini?”

 

Sepertinya cara menyerang terbaik gaya Hyo Joo dan selalu menjadi andalannya adalah dengan melempar pertanyaan balik sehingga pertanyaan sebelumnya yang tak terjawab terlupakan begitu saja. Kyuhyun tidak meragukan kemampuan Hyo Joo dalam hal itu.

 

“Menyendiri.” Jawabnya dengan nada santai.

 

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.” Ujar Kyuhyun mengingatkan.

 

“Yang mana?”

 

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

 

“Aku bilang, tidak ada yang kupikirkan. Aku hanya menikmati pemandangan.”

 

“Aku kecewa sekali. Tidak ada aku di dalam pikiranmu.” Katanya, ada nada kecewa samar yang menyelinap keluar seolah itu sungguhan dan raut wajah pria itu menggambarkan hal yang sama.

 

Hyo Joo berdiri tidak tenang, dia tidak suka dengan topik pembicaraan mereka. “Kenapa aku harus memikirkanmu?”

 

“Kenapa kau tidak bisa membiarkanku masuk? Aku pikir kejadian semalam mengubah sesuatu.”

 

Hyo Joo menarik napas sedikit panjang, beusaha menormalkan kegugupan yang perlahan menyusup. “Karena aku tidak tahu siapa dirimu. Kau bukan seseorang yang kukenal dengan baik. Bagiku kau masih sebuah rahasia yang belum terkuak dan tidak ada yang bisa masuk ke sana kecuali kau mengizinkannya.”

 

Kyuhyun menggeleng dengan pelan dan tiba-tiba saja wajahnya berubah jadi muram. “Kau tidak akan melihatku dengan cara yang sama lagi jika kau tahu seperti apa diriku. Apa yang kusembunyikan selama ini.”

 

“Itu karena kau tidak cukup percaya pada orang lain.”

 

Kyuhyun menatap ke dalam mata Hyo Joo sebentar dan Hyo Joo bisa melihat ada sorot luka yang tersirat di sana. “Kau benar. Aku tidak yakin bahkan dengan diriku sendiri atau denganmu sekali pun.”

 

“Tidak perlu berbagi dan menceritakan semua hal padaku Cho Kyuhyun. Simpan saja ceritamu sendiri! Jangan pernah menceritakannya pada orang lain, biar itu menjadi rahasia milikmu pribadi.”

 

“Itu sindiran yang tajam sekali, Kim Hyo Joo!” kata Kyuhyun dengan nada lemah. Dia menangkap dengan baik maksud Hyo Joo dibalik perkataannya.

 

Hyo Joo mengangkat bahu tak acuh. “Aku tidak merasa melakukannya.”

 

“Kau selalu bisa membuat orang lain berbicara. Bagaimana kau melakukannya?”

 

“Bakat alami mungkin. Tapi itu tidak berlaku padamu, kurasa.”

 

“Kau tidak tahu, aku sudah mengungkap diriku terlalu banyak padamu. Kau cukup berbahaya bagiku.”

 

“Jadi, jauhi saja diriku!”

 

“Sayangnya, aku lebih tertarik melakukan hal yang sebaliknya.” Ujar Kyuhyun menjeda. “Mendekatimu.”

 

Hyo Joo membuang pandangan, tidak mau pria itu melihat emosi di matanya. Dia takut pria itu bisa membaca sesuatu yang tersirat di dalamnya. Pandangan pria itu seolah bisa menembus jauh ke dalam hatinya, mengungkap apa yang tersembunyi di dalamnya.

 

Lama mereka terdiam, kesenyapan itu hanya diusik oleh suara desiran angin malam.

“Saat itu usiaku 12, pertama kalinya aku mengikuti kejuaran nasional pertandingan bisbol.”

 

Hyo Joo berpaling memandang Kyuhyun ketika mendengar pria itu berbicara dengan nada mengenang, begitu pelan. Tatapan pria itu menerawang, samar-samar mengeluarkan desahan rendah seolah kesulitan memfungsikan sistem tubuhnya dengan benar.

 

Hyo Joo sadar pria itu sedang mencoba untuk memulai dan seolah sedang berjuang melanjutkan kata-katanya yang tertahan. Hyo Joo tidak melihat raut kebimbangan di wajahnya akan tetapi dia melihat sebuah perlawanan untuk meloloskan kalimat-kalimat yang seolah sudah dia siapkan.

 

“Kyuhyun ssi, jika kau tidak siap, kau tidak perlu—”

 

“Aku merengek pada Ayahku, memintanya untuk datang menonton permainanku karena itu pertandingan final.” Dia menyelesaikan satu baris kalimat itu lalu memandang Hyo Joo dalam diam dan seolah mendapat energi baru, dia melanjutkan.

 

“Ayahku sudah mengatakan dia tidak bisa datang karena ada pertemuan bisnis penting dengan klien yang tak bisa dia batalkan.”

“Aku marah karena dia lebih memilih meeting dengan klien daripada mendukungku di final.”

 

“Aku tidak bicara padanya selama 2 hari. Aku sangat ingin dia datang, aku ingin menunjukan padanya permainan terbaikku, seseorang yang mengajariku banyak hal. Seseorang yang pertama kali mengenalkan bisbol padaku saat usiaku 10 tahun.”

 

“Aku marah karena tidak sekali pun dia hadir selama kompetisi itu berlangsung. Tapi dia berjanji akan datang jika aku bisa menembus babak final karena itu aku berjuang keras untuk bisa sampai ke sana.” Hyo Joo bisa mendeteksi kesedihan dalam nada bicaranya tapi dia hanya diam saja. Mendengarkan pria itu bercerita.

 

“Final itu berakhir dengan tim sekolahku yang meraih posisi runner up karena aku sebagai andalan tidak bermain dengan sungguh-sungguh. Aku kehilangan semangat untuk memenangkan pertandingan karena tidak ada seseorang di bangku penonton yang ingin kupersembahkan kemenangan itu untuknya.”

“Aku kecewa pada Ayahku dan membalasnya dengan permainan buruk. Dan sekarang, hal itu menjadi peneyesalan terbesar dalam hidupku.”

 

“Saat pertandingan usai Noona memelukku, dia menangis di bahuku yang tidak kutahu sebabnya apa. Apa dia kecewa dengan permainanku yang begitu buruk hari itu? Tapi dia tidak mengatakan satu patah kata pun, dia mengajakku bertemu dengan supir kami di luar yang kemudian membawa kami pulang.”

 

“Tapi mobil itu tidak membawa kami ke rumah melainkan ke sebuah tempat yang pekerjanya mengenakan seragam putih-putih. Aku begitu merasa was-was saat mengikuti langkah Noona yang berjalan di koridor rumah sakit, aku ingin bertanya tapi tidak satu pun kata yang keluar sampai aku melihat Noona masuk ke salah satu ruangan dan aku berdiri mematung di tempat.”

 

“Aku membeku dan suara-suara yang tadinya bersisik seolah menghilang, tiba-tiba semua berubah jadi senyap. Aku merasa sendiri menghadapi ketakutanku saat Noona bergerak memeluk sosok yang terbujur kaku di bangsal dengan suara tangis yang pecah. Dia meratapi kepergian Ayah kami dan aku, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan satu tetes air mata pun. Aku seolah mati rasa dan aku ingin bumi menelanku detik itu juga.”

 

Sekarang Hyo Joo bahkan bisa melihat air mata yang tertahan di lapisan kornea pria itu tapi Kyuhyun memalingkan wajah berusaha menghindar dan menahan diri sekeras mungkin agar emosinya tidak tumpah. “Apa yang terjadi dengan Ayahmu?” kata Hyo Joo dengan nada pelan. Begitu hati-hati menyanyakannya.

 

“Kecelakaan mobil. Saat itu Ayah dan Ibuku bermaksud memberi kejutan untuk datang ke pertandingan finalku setelah mereka selesai dengan pertemuan bisnisnya. Ayahku berhasil membujuk klien untuk melakukan pertemuan lebih awal dari waktu yang ditentukan.”

 

“Tapi di perjalanan, mobil yang dikendarai Ayahku mengalami tabrakan hebat dengan sebuah truk dari arah yang berlawanan. Ayahku hanya bisa bertahan sebentar, dia meninggal setelah beberapa menit tiba di rumah sakit dan Ibuku, seperti yang kau tahu, dia tidak bisa berjalan karena lumpuh.”

 

Kali ini Kyuhyun menadahkan wajahnya ke atas, menahan sebisa mungkin air matanya agar tidak jatuh. Sangat sulit dilakukan ketika semua itu menggenang di pelupuk matanya.

 

Hyo Joo hendak mendekat tapi dia menahan diri. Dia tahu pria itu belum selesai jadi dia tetap diam di tempat. Menunggu, pria itu melanjutkan ceritanya.

 

“Berhari-hari aku menolak berbicara dengan orang lain atau bahkan menemui mereka. Aku menjadi penyendiri dan menyalahkan diri sendiri. Hanya Noona yang sesekali datang menemuiku karena kamarku terletak di lantai atas, mengajakku bicara dan membujukku untuk memakan makananku.” Katanya memulai kembali.

 

“Dia sama sekali tidak menyalahkanku atas kecelakaan yang dialami orang tua kami, begitu juga dengan Ibuku, dia bilang itu takdir bukan sesuatu yang disebabkan oleh tindakanku. Tapi ucapan mereka tidak memengaruhi pikiranku, aku tahu jika saat itu aku tidak merengek pada Ayahku, tidak menunjukan rasa marahku padanya, Ayahku tidak akan memaksakan diri untuk datang ke pertandingan dan kecelakaan maut itu tidak akan terjadi.”

 

“Tidak ada yang tahu betapa aku kehilangan sosoknya melebihi siapa pun. Dia bukan hanya sekadar Ayah bagiku tapi dia juga seorang guru yang mengajarkanku segala hal.”

 

“Bulan-bulan berlalu tapi aku tidak bisa terbiasa tanpa kehadiran sosoknya. Aku berubah menjadi anak pendiam dan menyibukan diri dengan bermain bisbol karena aku ingin membayar permainan burukku waktu final pertama itu dengan menjadi pemain bisbol yang andal.”

 

“Lalu seolah semua itu belum cukup, hal buruk lain menimpa Noona.” Kyuhyun melakukan tarikan napas panjang seolah sedang bersiap mengatakan sesuatu yang tak harusnya dikatakan.

 

“Saat itu, aku baru saja pulang saat mendengar suara terisak dari kamar Noona. Aku mencoba mencaritahu tapi ketika aku berada di depan kamarnya, pintu itu terbuka menampakan wajah yang kubenci sepanjang masa, menyeringai padaku dengan tatapan pongah. Dia adalah guru privat biola Noona.”

 

“Aku mengintip dari balik celah pintu, menemukan Noona yang menangis di sudut. Kondisinya sangat berantakan tidak jauh berbeda dengan penampilan orang di hadapanku. Dari sana, aku tahu bahwa telah terjadi tindakan pemaksaan. Dia sudah melecehkan Noonaku dengan tidak hormat.”

 

“Aku sangat marah dan mengepalkan tinju kuat-kuat. Aku terlambat. Aku terlambat pulang dari biasanya. Orang itu tersenyum mengejek lalu merunduk ke arahku. Mengatakan sesuatu di depanku. ‘Tidak ada yang bisa kau perbuat anak kecil semuanya sudah terjadi.’ Lalu dia bergerak melewatiku, hanya beberapa langkah karena pukulan yang kulayangkan pada belakang tubuhnya yang bisa kucapai dengan tongkat bisbol yang selalu kubawa kemana-mana.”

 

“Dia tersungkur memegangi railing tangga dan aku memukulnya sekali lagi hingga dia benar-benar kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling menuruni anak tangga. Aku melihatnya tergelatak di lantai dengan wajah bersimbah darah.”

 

Hyo Joo menutup mulutnya saat mendengar Kyuhyun menceritakan semua itu padanya.

“Di bawah sana Eomma yang baru pulang dari check up menatapnya dengan pandangan ngeri lalu dia beralih menatapku. Tapi dia tidak menghakimiku, aku hanya mendapat pelukan lembut ketika semua itu berlalu.”

 

“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Hyo Joo ingin tahu.

 

“Dia mati. Aku sudah membunuhnya.” Kata Kyuhyun memandang lurus Hyo Joo, mendapati reaksi kaku gadis itu.

 

“Setidaknya, itu yang kupikirkan selama bertahun-tahun sebelum sebulan yang lalu aku tahu bahwa orang itu masih hidup dengan belas kasih Eommaku.”

 

“Setelah jatuh dari tangga dia mengalami koma, dia nyaris mati tapi Eomma mengusahakan segala cara untuk membuatnya tetap hidup. Membayar dokter terbaik untuk menyelamatkan nyawanya yang tidak berharga sama sekali.”

 

“Dia tidak mau aku menjadi kriminal dan mendapat hukuman pidana karena perbuatanku. Dia melakukan semua itu tanpa sepengetahuanku. Eomma mengurusnya dengan rapih, orang itu tidak memiliki keluarga, mungkin dia hanya hidup sebatang kara jadi itu memudahkan Eomma untuk menjaga rahasiaku.”

 

“Orang itu mengalami luka parah di otaknya. Dia hidup tapi dia tidak bisa kembali pulih seutuhnya. Aku melihatnya, sengaja datang untuk memenuhi rasa ingin tahuku. Dia duduk di kursi roda dengan suster yang menyuapkan makanan ke mulutnya di taman rumah sakit. Dia cacat dan tidak bisa mengenali sia pun. Dia hidup dengan cara seperti itu.”

 

“Tapi aku tidak menyesal melihatnya kondisinya sekarang. Dia sudah membuat Noonaku menderita. Setelah kejadian itu Noona mengalami depresi berat, dia jauh lebih sakit saat tahu bahwa dia mengandung anak keparat itu.”

 

“Noona berusaha melenyapkan janinnya dengan cara melukai diri sendiri. Dia menusuk perutnya dengan benda tajam, beruntung nyawanya selamat tapi tidak dengan psikisnya yang terganggu. Dia menderita sakit mental sehingga harus mendapat perawatan intensif dari dokter ahli jiwa.” Tampak kesedihan di matanya saat mengatakan semua itu.

 

“Sepertinya Tuhan bermurah hati, hanya aku satu-satunya orang di keluargaku yang dibiarkan hidup tanpa luka fisik atau apa pun sehingga aku bisa menanggung semua beban itu sendiri.” Katanya mengakhiri, Hyo Joo bisa mendeteksi ada tangis di tenggorokannya tapi sepertinya pria itu masih berusaha untuk melawan.

 

Dia sudah mengungkap dirinya terlalu banyak pada Hyo Joo. Rahasia kelam yang selama ini berusaha disembunyikannya, dia tumpahkan di depan gadis itu. Sekarang dia merasa terlucuti, dia melepas semua pertahanan yang selama ini dibangunnya agar Hyo Joo bisa masuk dan melihat seperti apa sosoknya yang sebenarnya.

 

Dia membiarkan gadis itu mengetahui jiwanya yang begitu rapuh, nuansanya yang begitu kelam diselubungi oleh rasa bersalah yang membuatnya terluka. Menghakimi dirinya sendiri karena tidak satu pun dari keluarganya yang melakukan itu padanya.

 

Dia adalah sosok menyedihkan yang tidak memercayai siapa pun. Tapi gadis itu berhasil meluruhkan kekerasan hatinya, mendobrak pertahanan dirinya hingga dia merasa tanpa pelindung. Begitu rentan.

 

Hyo Joo bergerak mendekatinya dan Kyuhyun hanya diam saja sampai gadis itu meraih kepalanya, membawanya ke bahunya yang kecil. “Tidak apa-apa.” Kata Hyo Joo pelan. Mengusap lembut rambut pria itu.

 

“Bebaskan saja. Lepaskan lah! Jangan menahannya lagi!”

Hyo Joo merasakan sepasang tangan merengkuhnya dengan erat lalu tiba-tiba tetes air mata berjatuhan, membasahi lekuk lehernya. Sesakit itukah hidup yang dijalaninya?

***

Mereka duduk di kursi paling belakang. Bis itu cukup sepi penumpang membuat suasana lebih hening dari biasanya.

 

Hyo Joo merasakan remasan di jarinya, dia melirik jemari tangan mereka yang saling bertautan ditempatkan di atas perut Kyuhyun yang duduk bersandar di kursi penumpang.

 

Ada sentakan kebahagiaan yang menciptakan sedikit kegugupan ketika menyadari betapa dekat mereka sekarang. Hyo Joo tersenyum, ada perasaan membuncah di dalam dadanya yang disebabkan keakraban mereka. Sensasi menyenangkan yang tidak ingin dia akhiri secepatnya.

 

Hyo Joo menjulurkan tangan, mengusap rambut Kyuhyun secara spontan saat pria itu mendaratkan kepala di bahunya. Merekam wajah pria itu dengan senyum yang terefleksi di matanya.

 

“Jangan melakukannya!” bisik Kyuhyun memegang tangan Hyo Joo yang bertahan terlalu lama di kepalanya. “Atau kita akan berhenti di halte terdekat karena aku tidak tahan untuk memelukmu.”

 

Hyo Joo berhenti detik itu juga, menurunkan tangan lalu berpaling memandang jendela dengan semburat merah di wajah. Sementara Kyuhyun hanya tersenyum dengan mata terpejam, sadar bahwa gadis itu sudah mulai terpengaruh olehnya.

***

Hyo Joo tersenyum saat pria itu tersenyum, satu tangan mereka masih saling tartaut bahkan meski kini mereka sudah berada di undakan tangga yang terhubung langsung dengan balkon kamar Hyo Joo.

 

Gadis itu berdiri di puncak tangga terkhir dan Kyuhyun berada di satu anak tangga di bawahnya saling menatap satu sama lain seperti orang yang sedang mabuk oleh cinta.

“Kau mau teh?” tawar Hyo Joo.

 

Kyuhyun diam sebentar tampak menimbang, sedetik Hyo Joo berpikir mungkin pria itu akan menolak, tidak bisa tinggal walau hanya untuk meminum segelas teh.

 

“Apa kau punya kopi?”

 

Hyo Joo mendengus dengan senyum, dia mengangguk. “Yah, aku punya.”

 

Ketika Hyo Joo hendak bergerak untuk masuk, Kyuhyun menahannya membuat gadis itu berbalik menabrak tubuhnya yang sekarang dalam posisi yang sama.

 

Mereka bertatapan beberapa detik sebelum Kyuhyun mengeliminasi jarak di antara mereka, menciumnya dengan kelembutan yang menggoda. Membuat Hyo Joo larut dengan semua sentuhannya.

 

Dia membiarkan pria itu menjamah setiap sudut mulutnya, membuatnya bergetar dengan sensasi menyenangkan yang ditimbulkannya hingga membuatnya ketagihan. Pria itu sudah menyesatkannya dan Hyo Joo tahu, dia sudah memasuki zona berbahaya.

***

Kyuhyun terbangun dengan sorot matahari yang menembus tirai jendela kamar, dia menguburkan wajahnya pada seprei satin putih yang menguarkan kelembutan wangi lavender yang menenangkan.

 

Kyuhyun menarik wajahnya kembali, tersenyum ketika serbuan ingatan membanjirinya. Dia terbangun di ranjang Hyo Joo setelah semalaman mengahabiskan waktu bersama, mengobrol hingga larut dengan secangkir kopi yang dibuat gadis itu.

 

Tidak ada yang ingin mengakhiri kebersamaan itu sampai dia mengantuk dan terlelap dalam pelukan hangat gadis itu.

 

Dia memutuskan untuk bangun, beringsut turun dari tempat tidur lalu membuka pintu, berjalan turun melewati anak tangga dan menemukan Hyo Joo yang tengah sibuk di dapur.

 

Gadis itu menggelung rambutnya ke atas, mengenakan sweater putih gading yang tampak kebesaran di tubuhnya yang kecil. Dia sedang mengambil roti dari pemanggang dan ketika dia berbalik, dia menemukan Kyuhyun yang berdiri memandangnya dengan sorot mata memerhatikan.

 

“Kau sudah bangun,” gumam Hyo Joo menaruh roti bakarnya di atas piring yang sudah dia siapkan.

 

“Pertama kalinya aku terbangun di atas tempat tidur orang lain.” Ujar Kyuhyun, menyeret langkahnya menuju meja pantry lalu menarik sebuah kursi dan mendaratkan tubuhnya di sana. Mencium aroma roti panggang yang menggugah nafsu makannya.

 

Hyo Joo tersenyum, menyodorkan piring yang berisi roti bakar dengan lelehan keju dan cokelat di dalamnya ke hadapan Kyuhyun. “Kau mau kopi?”

 

Kyuhyun mengangguk. “Krim atau gula?” TanyaHyo Joo.

 

“Krim dengan gula.” Jawab Kyuhyun rendah dan mendapat lirikan mata dari Hyo Joo.

 

“Kau begitu serakah, Tuan Cho.”

 

“Aku hanya mencoba menikmati apa yang ditawarkan.” Katanya berdalih.

***

Kyuhyun memotong kuku Ahra yang sudah memanjang dengan terampil, sikap hati-hatinya tidak menganggu ketenangan Ahra yang hanya diam saja, menatap dengan pandangan kosong dinding putih di depannya.

 

“Noona,” katanya lembut, jarinya mengambil alih jari tangan Ahra yang lainnya, menuntaskan pekerjaannya yang belum selesai.

 

“Aku bertemu seorang gadis.” Lanjutnya kemudian, dia tersenyum saat mengatakannya.

 

Meski sudah sering kali mengunjungi Ahra, setidaknya ada 3-4 kali dia menjenguk kakaknya di Rumah Sakit Jiwa, ini pertama kalinya dia bercerita tentang gadis yang disukainya kepada kakak perempuannya itu.

 

Meski Ahra tampak sakit, itu tidak mengurungkan niat Kyuhyun untuk tetap mengajaknya bicara seperti orang normal. Dia selalu menceritakan hal-hal yang berkesan dalam hidupnya pada wanita itu, meski dia tidak mendapat respon apa pun.

 

“Dia cantik, sama sepertimu.”

 

“Semakin cantik ketika tersenyum. Tapi sayangnya, dia jarang melakukannya.” Ujar Kyuhyun mendengus. Tersenyum dengan kecut.

 

“Kau tahu, pertama kali aku melihatnya, detik itu juga aku merasa tertarik padanya. Sejak saat itu, dia menjadi sosok yang ingin selalu kutemui setiap harinya.” Katanya pelan. Masih melanjutkan memotong kuku Ahra.

 

“Aku selalu mengamatinya secara diam-diam dan dia tidak pernah sadar aku melakukannya. Aku bahkan pergi ke kafeteria, tempat yang sangat kuhindari karena terlalu ramai dan berisik, hanya untuk mengetahui minuman apa yang dia suka atau makanan apa yang sering dia pesan. Dia begitu membaur dengan yang lain, bertolak belakang sekali denganku.”

 

 

“Ada satu momen yang masih kuingat hingga detik ini, saat kami bertabrakan di pintu perpustakaan, insiden yang tidak disengaja karena aku benar-benar tidak menduga akan melihatnya di sana. Matanya yang berwarna cokelat jernih menawanku, dari jarak sedekat itu aku bisa melihat betapa cantik dan memikatnya wajah itu sampai aku tidak mampu berkata apa-apa saat dia mengucapkan kata maaf, aku hanya mengangguk dan berlalu dari pandangannya.”

 

“Aku terlalu takut pada reaksiku sendiri. Aku tidak mau dia tahu bahwa diam-diam aku menjadi pengagumnya.” Katanya mendengus dengan senyum.

 

Kuhyun menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Hyo Joo di bench dan wawancaranya dengan gadis itu yang gagal karena dia bersikap begitu menjengkelkan.

 

Cerita itu mengalir dari mulutnya begitu saja dan dia tampak menikmati ketika dia mengulas kembali momen-momen yang dilaluinya bersama Hyo Joo.

 

“Dia bisa jadi begitu berisik dan selalu merecokiku dengan bermacam pertanyaan tapi aku tidak mengeluh dan tidak jarang percakapan kami akan di akhiri dengan perdebatan.”

 

“Noona, kau tahu, memikirkan gadis itu membuatku lupa akan rasa sesak itu. Dia seperti ekstasi sekaligus sedative alami bagiku, membuatku candu dan di sisi lain memberi efek menenangkan.”

 

Ahra memandang Kyuhyun, untuk pertama kalinya dia menatap wajah Kyuhyun secara langsung dan untuk sepersekian detik, Kyuhyun merasa tatapan Ahra berbicara tapi kemudian menghilang seolah itu hanya ilusi. “Kau mendengarku ‘kan? Aku tahu kau selalu mendengarku.”

***

 

Hyo Joo berada di kamar tempat Ahra di rawat sekarang, membantu dengan sabar suster yang mencoba menyuapkan makanan kepada Ahra. Hubungannya dengan Kyuhyun berkembang dengan sangat baik. Mereka selalu melewatkan setiap harinya dengan kebersamaan.

 

Tidak jarang Hyo Joo berkunjung ke rumah Pria itu dan bertemu dengan Ibunya, membicarakan banyak hal. Membuat hubungan mereka lebih akrab dari sebelumnya.

 

Ibunya Kyuhyun sudah bisa membaca gelagat hubungan anaknya dan Hyo Joo. Jadi, pada suatu hari, Cho Hana berbagi cerita tentang Kyuhyun pada Hyo Joo, entah bagaimana Cho Hana tahu bahwa Kyuhyun sudah menceritakan semua rahasia hidupnya pada gadis itu.

 

Cho Hana memberitahu Hyo Joo betapa Kyuhyun sangat menyayangi kakaknya dan selalu rutin mengunjungi Noonanya di rumah sakit. Dia begitu menjaga kakaknya sekali.

 

Dari Cho Hana, Hyo Joo tahu di mana tempat Ahra di rawat. Jadi dia berinisiatif untuk berkunjung, ingin menjenguk sekaligus berkenalan dengan sosok kakak perempuan Kyuhyun meskipun kondisinya tidak memungkinkan untuk diajak berkomunikasi.

 

Hyo Joo menyodorkan sesuap sendok ke depan mulut Ahra tapi tiba-tiba ada tangan yang menepisnya kemudian terdengar bunyi kelontang dan suara pecahan piring yang jatuh ke lantai.

 

Dia merasakan tangannya ditarik secara paksa, mengikuti langkah panjang yang menyeret kakinya keluar ruangan.

 

Kyuhyun menyudutkan Hyo Joo ke dinding koridor, menatap matanya dengan tatapan menghakimi. “Apa yang kau lakukan di sini?” desis Kyuhyun tajam. Mengurung gadis itu dengan satu tangan.

 

 

“Aku hanya—”

 

 

“Kim Hyo Joo tidak bisakah kau diam saja!” potong Kyuhyun, memenggal kalimat gadis itu. Dia bisa merasakan aura kemarahan Kyuhyun dari nada bicara dan ekspresi wajahnya.

 

“Kau sungguh tidak tahan ya, melihat penderitaan orang lain. Tidak bisa menahan diri untuk ikut campur masalah orang lain. Kau sudah melewati batas Kim Hyo Joo!” katanya dengan nada tajam di antara rahangnya yang terkatup.

 

“Maaf,” Meski Hyo Joo merasa tidak ada yang salah dengan tindakannya tapi dia tahu dia sudah membuat kesalahan di mata Kyuhyun. Jadi, dia mengatakannya.

 

 

“Dengar!” desis Kyuhyun memeringatkan. “Jangan pernah melakukan ini lagi! Jangan pernah mencampuri urusanku atau mencoba mengusik Noonaku, kau mengerti!”

 

Hyo Joo memandangnya dengan sebersit rasa takut karena pria itu bersikap begitu menghakimi. Hyo Joo tidak menjawab dan Kyuhyun bergerak mundur, menarik napas panjang kemudian berlalu dari pandangan Hyo Joo. Meninggalkan gadis itu sendirian.

 

Kyuhyun membuka pintu kamar Ahra lalu menutupnya dan bersandar di sana. Dia memejamkan mata lalu mengusap gusar belakang kepalanya. Ada ekspresi penyesalan di wajahnya. Dia bergumam entah pada siapa. “Mianhae,”

***

Hari ini Kyuhyun mengantar Eommanya melakukan check up rutin. Dan seperti yang sudah dikatakan oleh dokter di telepon sebelumnya pada Kyuhyun, ada kabar baik untuk Eommanya.

 

Kaki Eommanya bisa sembuh kembali dengan pengobatan dan terapi dari dokter ahli. Dokter itu memberitahunya segala hal-hal medis yang tidak terdengar asing baginya dan mengatakan bahwa sudah banyak orang yang mencobanya dan berhasil sembuh.

 

Tapi untuk merealisasikan semua itu mereka harus terbang ke Amerika karena pengobatan itu tidak ada di Korea.

 

Kyuhyun setuju-setuju saja tapi Eommanya dengan segala kebijakan seorang Ibu bertanya sekali lagi pada Kyuhyun.

“Apa kau yakin?” katanya berbicara di ruangan dokter Han.

 

“Apa maksud Eomma? Kenapa aku harus ragu jika itu demi kesembuhan Eomma.”

 

“Kyu, kita akan meninggalkan Korea dan kau akan meninggalkan gadis itu.”

 

“Tidak apa-apa.” Jawab Kyuhyun menenagkan.

 

“Tapi kau mencintainya.” Kata Cho Hana dengan sorot mata lembut memandang anaknya

 

“Tidak masalah. Aku bisa mengejarnya kembali atau beralih menatap wanita lain.”

 

Tapi Cho Hana tahu bagaimana putranya. Hidup tanpa gadis itu tidak akan mudah baginya.

 

“Untuk saat ini kaulah prioritas utamaku Eomma, aku bisa mengesampingkan hal lainnya.” Cho Hana menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kemudian merengkuh anak lelakinya itu ke dalam pelukannya.

***

Hyo Joo duduk di kursi tunggu halte dalam keheningan malam yang merayap masuk, dia merasakan kehadiran sosok lain yang duduk di sebelahnya dan tanpa memandang dia tahu, siapa pria yang berada di sampingnya.

 

“Aku minta maaf, sikapku waktu itu mungkin sedikit keterlaluan.” Kata Kyuhyun memulai.

 

“Tidak apa-apa. Aku tahu, kau mungkin tidak ingin ada orang lain yang melihat kakakmu dalam kondisi seperti itu.” kata Hyo Joo rendah, memandang ke depan.

 

“Kau benar. Aku tidak suka ada orang lain yang mencoba mengusik privasi kakakku.”

 

“Aku tidak bermaksud untuk mengusik kakakmu, Kyu.” Kata Hyo Joo menyangkal dengan desisan pelan.

 

“Aku tahu. Aku tahu maksudmu Hyo Joo. Kau tidak tahan untuk berbuat kebajikan. Menolong orang-orang lemah yang membutuhkan terlebih orang dekat di sekitarmu. Kau orang yang terlalu perhatian terhadap masalah orang lain.”

 

Hyo Joo menatap Kyuhyun dalam diam, mendengarkan penilaian pria itu terhadap dirinya.

“Tapi kakakku tidak termasuk ke dalamnya. Dia adalah sisi lain dari privasiku dan kau mencoba untuk masuk ke sana tanpa seizinku. Itu wilayah Noonaku dan aku sangat amat menjaganya.”

 

“Aku mungkin sudah membiarkanmu memasuki daerah privasiku, menceritakan semua rahasia kelam hidupku padamu tapi bukan berarti kau bebas menorobos privasi Noonaku begitu saja, kau masih orang lain yang tidak memiliki ikatan keluarga denganku.”

 

“Apa maksudmu?” kata Hyo Joo dengan tajam. “Aku mengerti kemarahanmu karena sikapku yang maaf saja jika itu terlalu lancang bagimu, mengunjungi kakakmu tanpa memberitahumu atau segala sikap yang kau anggap tidak pantas. Aku minta maaf.”

 

“Aku rasa kau tidak cukup mengerti,”

Hyo Joo mendelik dengan perkataan pria itu.

 

“Kau tahu, aku pernah bilang bahwa kau adalah orang yang seharusnya kuhindari. Aku tahu, harusnya aku berhati-hati karena kadang-kadang kau bertindak melawan privasi. Mungkin, seharusnya aku memang menghindarimu.”

 

“Kau mengatakannya seolah semua komunikasi di antara kita adalah sebuah kesalahan.”

 

“Mungkin seperti itu.” kata Kyuhyun dengan nada lemah. Membenarkan. Dia menarik napas dalam sebelum mengeluarkan kalimat lain dari dalam mulutnya.

 

“Kau tahu, aku memikirkannya berkali-kali dan sekarang aku sadar, kau hanyalah orang asing yang lewat dan kebetulan membuatku tertarik, Kim Hyo Joo.”

 

“Kau hanya sebatas itu bagiku—”

 

“Cukup.” Hardik Hyo Joo menyela.

 

“Seperti yang pernah kau bilang, aku bukan gadis bodoh yang sekali diberitahu tidak paham dengan maksudmu.”

 

“Aku mengerti.” Katanya dengan nada tegas yang sedikit kasar dan ketika dia melihat bis berhenti dia tidak melewatkannya.

 

Dengan sedikit tergesa dan langkah yang dipaksakan Hyo Joo membawa kakinya menaiki bis, mencari tempat duduk yang kosong kemudian mengempaskan tubuhnya di pojok kursi.

 

Percakapannya dengan Kyuhyun masih menggema di dalam kepalanya dan seperti bayangan yang tidak mau pergi, ingatannya berada di sana, menguras habis semua fokusnya.

 

Meski dia sudah sering menerima sarkasme pria itu tapi ucapannya tadi seperti cambuk yang memukul keras hatinya dan meluluh lantahkan segala harapannya.

 

Emosi mengalirinya kembali dan tanpa ditahan dia membiarkan air matanya menyeruak keluar. Kenapa rasanya sesakit ini? Hyo Joo menyeka air matanya, sedikit khawatir meski sebenarnya dia sedikit tidak peduli, hanya saja dia tidak mau mengundang perhatian orang-orang karena sikapnya.

 

Hyo Joo tidak tahu dan tidak pernah tahu jika pria itu mengikutinya, mengamatinya secara diam-diam dari sudut lain. Hatinya jauh lebih sakit ketika melihat gadis itu terluka karenanya. Meski sebenarnya dia ingin sekali merengkuh gadis itu ke pelukannya tapi dia sudah memutuskan dan itu tidak bisa diubah.

***

“Tolong berikan surat ini pada Hyo Joo! Anakku, mungkin tidak menyampaikannya dengan baik pada gadis itu.” Perintah Cho Hana pada supir pribadinya.

 

“Nona Kim,” seseorang mencegatnya di depan pintu gerbang rumahnya sendiri saat dia baru saja tiba dari kampus. Hari sudah menjelang malam ketika dia sampai dan sepertinya orang itu sudah cukup lama berdiri di sana. Menunggunya? Untuk apa?

 

“Ada apa?” Tanya Hyo Joo, memandang pria setengah baya yang berpakaian serba hitam. Mencoba mencari tahu maksud kedatangannya.

 

“Saya supir pribadi keluarga Cho,”

“Ada titipan untuk Anda, ini dari Nyonya Cho.” Orang itu memberikan sebuah amplop pada Hyo Joo yang ditanggapi gadis itu dengan dahi mengernyit tapi kemudian dia mengulurkan tangannya, menerima pemberian orang tersebut.

***

Hyo Joo ini aku, Ibu Kyuhyun. Mungkin ketika kau membaca surat ini aku sudah tidak berada di Korea lagi. Ada seorang kenalan dokter keluarga kami, dia menemukan cara untuk menyembuhkan kakiku jadi aku pergi ke Amerika untuk menjalani pengobatan, teknologi di sana juga sudah sangat maju. Alasanku mengirim surat ini padamu karena aku merasa bertanggung jawab sudah membuatmu dan Kyuhyun saling berjauhan. Aku menduga anak itu tidak memberitahumu dengan baik.

 

Entahlah, Kyuhyun memiliki kecenderungan memberi kesan tidak baik pada orang lain. Mungkin sedikit egois jika aku memintamu untuk memahami dia. Ketahuilah Hyo Joo-ya selama yang aku tahu, Kyuhyun bukan orang yang bisa membuka dirinya pada orang lain. Dia cenderung tertutup, tersembunyi dan selalu menjaga jarak dengan orang lain. Tapi melihatmu saat itu datang ke rumah, aku merasa lega bercampur bahagia, Kyuhyun sepertinya sudah mulai membuka hatinya.

 

Kau orang pertama yang berhasil menyentuh sisi hatinya yang tak terjamah oleh siapa pun. Hati anak itu penuh dengan luka meski dia selalu bersikap baik-baik saja. Dia berpura-pura seperti itu dan aku membiarkannya.

 

Ketika dokter memberikan kabar bahwa ada kemungkinan aku akan sembuh kembali, aku memandang anak itu khawatir, bagaimana dia akan meninggalkan hatinya di sini. Di Korea. Tapi dia menguatkanku, dia bilang bahwa aku adalah prioritas utamanya saat ini. Tentu saja, dia adalah anakku. Ketahuilah Hyo Joo-ya, kau adalah gadis pertama dan satu-satunya yang Kyuhyun percayakan rahasianya padamu dan aku tahu pasti putraku, dia mencintaimu.

 

Hyo Joo mendesah panjang kemudian melipat surat itu kembali. Dia memandang ke kejauhan, menembus tirai jendela kamar yang memantulkan cahaya lampu balkon yang berpendar.

 

Hatinya kosong, dikuasai kehampaan yang membuat matanya berair. Dia tidak tahu siapa yang harus dipersalahkan, yang jelas dirinya tidak baik-baik saja saat ini. Hatinya tidak seutuh dulu, seseorang baru saja membawanya pergi.

 

Hyo Joo tidak mengundang pria itu datang ke kehidupannya dan sekarang pria itu pergi sesuka yang dia mau, tanpa pemberitahuan, tanpa salam perpisahan. Meninggalkannya dalam ketidak-pastian. Pria angkuh dan arogan itu, apakah Hyo Joo harus membuang-buang waktu untuk menunggunya? Sementara pria itu tidak pernah mengatakan bahwa dia akan kembali.

 

Hyo Joo sedikit tidak mau mengakuinya, tapi apakah dia sudah benar-benar terjerumus ke dalam bentuk perasaan yang tidak mengenal batas rasionalitas itu?

***

Hyo Joo membuka kenop pintu, mencari saklar dengan posisi yang dihapalnya dan lampu menyala seketika. Radiasi cahaya betebaran di seisi ruang kamarnya yang tadinya gelap gulita.

 

Gadis itu mematung di tempatnya, tidak ada pergerakan saat cahaya berdifraksi menuju sudut ruangan dan menampakan sosok tegap itu, yang kini sedang menatapnya dengan focus seolah hal itulah yang sedari-tadi dilakukannya.

 

Mulai dari saat gadis itu membuka pintu, menyalakan saklar dan kemudian cahaya menangkap basah dirinya. Hal yang tidak dihindarinya saat kemudian gadis itu melakukan hal yang serupa. Menatapnya dengan cara yang sama. Bentuk komunikasi yang disukainya.

 

“Kau memiliki bakat sebagai pencuri, Tuan Cho.” Gadis itu bersuara, memecah keheningan di antara mereka dan Hyo Joo masih berdiri di sisi pintu, begitu juga dengan pria itu. Masih menjaga kontak mata dengannya.

 

Pria yang diajak bicara olehnya hanya tersenyum tipis, terlalu singkat sampai jejak senyum itu tidak nampak di bibirnya. Wajahnya tidak banyak berubah, masih sedingin dulu dan selalu tampak memesona.

 

“Begitukah caramu menyambut tamu? Dengan sarkasme, sindiran dan semacamnya.”

 

“Seorang tamu akan mengetuk pintu utama kemudian mengucapkan salam dengan sopan. Sementara yang kau lakukan—” Ujar Hyo Joo memandang dengan mata mencibir.

 

“Menyelinap diam-diam ke kamar seorang gadis. Tindakannmu lebih mirip seperti pencuri, penyusup, penguntit dan sebutan lain semacamnya.”

 

“Woa, aku tidak tahu kau punya banyak sebutan untukku. Aku hanya mempersingkat waktu untuk menemuimu.” Katanya berdalih.

 

“Kau memiliki kecenderungan melanggar etiket, aneh sekali media massa tidak menuliskan itu ke dalam daftar keburukanmu.”

 

Oh tentu saja, 5 tahun tidak bertemu, mereka tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Hyo Joo dengan profesinya sebagai jurnalis di sebuah harian surat kabar ternama di Korea dan pria itu dengan serangkaian bisnis gemilangnya yang merambah ranah Amerika, tidak hanya sebatas Asia.

 

Real estate, otomotif, fashion, resort, kuliner dan Hyo Joo punya daftar bisnis lainnya yang menghasilkan gelontoran won dengan nominal mencengangkan yang tidak pernah putus mengalir ke kas pribadi pria itu. Hebatnya, dia sudah memulai usahanya dari semenjak pengalihan tanggung jawab itu, setelah Ayahnya meninggal.

 

Dia begitu potensial secara finansial, memiliki seluruh daya pikat yang bisa menarik seluruh wanita ke arahnya, bahkan mungkin rela mengemis di kakinya. Tapi tidak ada wanita. Tidak pernah ada, pria itu selalu tampil sendiri di setiap kemunculannya di surat kabar.

 

Wajahnya terlalu sering hilir mudik di banyak tabloid dan surat kabar. Mulai dari yang bertemakan bisnis sampai majalah gosip murahan. Tapi tidak ada yang pernah berhasil mengungkap privasinya lebih jauh. Termasuk urusan wanita, sepertinya dia begitu tertutup, tidak suka mengumbar kehidupan pribadinya ke publik.

 

Meski media berusaha mengorek hal itu darinya. Media tidak seharusnya memasukan hal itu ke daftar pertanyaan karena mereka hanya akan mendapat jawaban yang tidak diharapkan dan terpaksa mengambil kesimpulan mentah.

 

Pria itu menyimpang atau memang tidak ada wanita dalam hidupnya. Sesuatu yang akan menimbulkan kericuhan dan ketidakstabilan di antara pemegang saham karena pria itu membutuhkan pewaris untuk meneruskan kerajaan bisnisnya.

 

“Insting jurnalismu selalu bekerja, eh? Bahkan meski sudah memasuki waktu pribadi.”

 

Hyo Joo mengangkat bahu. “Tentu. Karena itu adalah bagian dari diriku.”

 

“Dan aku akan berada dalam bahaya jika terus berbicara denganmu.”

 

“Tidak ada yang menyuruhmu berbicara denganku.”

 

“Benar. Aku melakukannya atas kemauanku sendiri.”

 

“Dan kau selalu melakukan segala hal dengan cara seperti itu. Semua harus sesuai dan tergantung pada kemauanmu, tidak peduli orang lain setuju atau tidak, yang terpenting kemauanmu terlaksana.”

 

“Kau sedang mengeluh, ya?”

 

“Sama sekali tidak.” Hyo Joo mengangkat bahu singkat.

 

“Penyangkalan yang gagal.” Debat Kyuhyun.

 

“Memangnya kenapa jika aku mengeluh atau tidak? Aku bahkan tidak peduli dengan apa yang kau lakukan. Kau mau datang padaku atau tidak, mau bicara padaku atau tidak, itu urusanmu.”

 

“Kau pikir kau bisa memaksakan kehendakmu pada semua orang? Aku tidak peduli apa kedudukanmu, kau tidak bisa melakukan hal yang sama padaku.”

Kontrol. Hyo Joo sudah lupa dengan itu. Kalimat itu keluar mencari jalan pembebasan seperti luapan emosi yang selama ini ditahannya. Brengsek. Pria itu sudah berhasil memancing emosinya.

 

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya di saku celana, tidak kehilangan ketenangannya dalam caranya berdiri, mendengarkan setiap lontaran kalimat yang diucapkan gadis itu dengan penuh emosional.

 

Bohong, jika dia bilang tidak terpengaruh. Bahkan saat ini dia sedang mengusahakan setengah mati untuk tidak meraup gadis itu ke pelukannya.

 

Dia tahu, jika dia melakukannya detik ini, gadis itu pasti akan menolaknya dan mungkin akan melakukan gerakan perlawanan yang membuatnya harus bersusah payah untuk menenangkannya. Dia harus semacam melakukan pemilihan waktu. Waktu yang tepat untuk meluluhkan gadis itu.

 

“Dari caramu berbicara, aku seperti melakukan kesalahan yang tak termaafkan.”

 

“Oh, tentu saja. Kau mungkin melupakannya dan menganggap itu hal remeh sehingga ketika kau melakukan kesalahan, kau bisa datang kembali pada orang itu tanpa rasa bersalah seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Itu yang selalu kau lakukan, eh?”

 

Entah kenapa pertanyaan menyudutkan itu memunculkan senyum yang bermain di ujung bibir Kyuhyun seolah sedang menertawai kalimat barusan. Karena dia sudah lama tidak mendengar teriakan gadis itu, mungkin.

 

“Ayolah Hyo Joo-ya itu sudah lima tahun, apa kau masih berada di sana dan mengingat semua itu?”

 

“Kau membuatku muak Cho Kyuhyun ssi!”

 

Pria itu mendengus dengan seringai yang terbentuk di sudut bibirnya. Kali ini dia lebih santai, punggungnya bersandar pada dinding di sudut ruangan. “Biasanya kau melempariku dengan pertanyaan, aku senang ada perubahan. Kau tidak berhenti berteriak padaku dari tadi.”

 

“Brengsek kau!” umpat Hyo Joo kemudian.

 

Dan sekali lagi pria itu tersenyum. Hal yang jarang dilakukannya tapi gadis itu sudah membuat dia melakukannya berulang kali pada malam ini. Sungguh konyol. Dalam kurun waktu 5 tahun, gadis itu masih saja memengaruhinya.

 

“Kau tahu, hidupku sudah tenang tanpamu setelah kau membuangku saat itu—”

Hyo Joo menggigit kecil bibirnya dan senyum di bibir pria itu seketika lenyap. Tidak. Dia tidak pernah membuangnya. Tidak pernah benar-benar melakukannya. Brengsek. Apa gadis itu benar-benar berpikir seperti itu.

 

“Bagiku, kau tidak pernah ada dalam hidupku, lagi.” Hyo Joo berusaha melawan arus emosinya sendiri tapi sebaliknya emosi itu malah tampak di matanya, berupa genangan air yang siap menetes dengan sekali mengedip.

 

“Aku sudah membuangmu sama seperti—”

 

“Pembohong.” Tuding Kyuhyun menyanggah.

 

“Aku tidak—”

 

“Seberapa keras pun kau menyangkal kau tidak akan berhasil melakukannya,” Kyuhyun mengarahkan dagunya, membimbing pandangan Hyo Joo pada sebuah poto yang menempel di majalah dinding dekat tempat tidur.

 

Poto setengah badan seorang pria yang mengenakan kemeja putih lengkap dengan dasi yang masih melingkar rapi di kerahnya. Poto yang Hyo Joo ambil dari salah satu majalah kemudian ditempelnya di sana dan sekarang pria itu menangkap basah dirinya. Sialan. Dia harus memberikan alasan apa?

 

“Poto itu tidak berarti apa-apa.”

 

“Poto itu berarti sesuatu dan jelas kau tidak membuangku.”

 

“Jadi apa maumu? Katakan dengan cepat dan pergilah dengan segera! Kau sudah menyita waktuku terlalu banyak, aku butuh istirahat.”

 

“Kau.” Jawabnya singkat, menunjukan maksudnya dengan jelas.

“Kau tidak bisa mendapatkanku.”

 

“Aku akan mengajukan pertanyaan dan aku butuh jawaban yang jujur.” Kata Kyuhyun dengan suara yang dalam. “Apa kau menungguku? Kau ingin aku kembali?”

 

“Tidak pernah.” Desis Hyo Joo dengan emosi yang tertahan.

 

Kyuhyun menggerakan kepalanya, sedikit frustrasi sebenarnya, hanya saja itu tidak nampak di wajah tenangnya. “Kau bukan aktris, tidak usah berakting dan kau juga pembohong yang payah. Kau tidak bisa menipu lawan bicaramu dengan raut wajah seperti itu.”

 

“Dan kau pria menyebalkan yang masih sama. Aku berhak mengajukan penolakan dan mengatakan kata tidak bahkan terhadap orang sepertimu sekali pun.”

 

“Jangan banyak menuntut apa-apa dariku! Kau meninggalkanku dengan kata-kata kasarmu, kau tidak pernah mengatakan kemana tujuanmu, berapa lama kau pergi dan kenapa aku harus menunggumu?”

 

“Mengharapkanmu kembali? Hidupku sudah tenang tanpa kehadiranmu. Kau hanya selibat dan aku baik-baik saja tanpamu.”

 

Kyuhyun tersenyum, mengejek dirinya sendiri. Lihatlah! Bagaimana gadis ini membalikan semua kata-katanya waktu itu. Selibat katanya?

 

“Akulah yang tidak baik-baik saja,” Dia mulai bergerak, meninggalkan sudut yang redup, menghampiri gadis itu dengan langkahnya yang lugas. Hyo Joo berada dalam garis antisipasi. Bagaimana pun dia tidak siap dengan kemunculan pria itu.

 

“Akulah yang ingin kembali padamu dan karena itu lah aku datang. Menghampirimu lagi, berharap kau akan menerimaku.” Dia berhenti, menyisakan jarak yang cukup lebar dengan gadis itu.

 

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan menerimamu?” nada emosional masih terdengar meski kalimat itu keluar berupa desisan.

 

“Karena aku memiliki keyakinan bahwa kau ingin aku kembali.” Katanya dengan nada rendah, ada senyum samar di sepanjang garis bibirnya.

 

“Kau terlalu percaya diri.” Kali ini nada Hyo Joo lebih rendah, tidak seemosional tadi.

 

“Percaya diri selalu menjadi modal awal yang penting untuk memulai semuanya. Kembali.”

 

“Kau tahu, selama 5 tahun aku menjalani hidup seperti cangkang kosong, hanya kehampaan yang ada di dalamnya. Aku memang terbiasa menjalani hidup sebagai pesakitan tapi ketika aku bertemu denganmu semua berubah, aku merasa lebih hidup. Lebih bersemangat menanti hari esok, hanya untuk melihatmu lagi.”

 

“Kau selalu memancing rasa penasaranku. Seperti apa kau akan terlihat saat kita bertemu lagi atau bisa secantik apalagi kau hari ini, hal apa yang akan kita bahas nanti? Dan hanya dengan memikirkannya saja aku sudah tesenyum seperti orang sinting.”

 

“Tapi ketika aku jauh darimu, itu adalah hal buruk. Lebih mengerikan saat menjalaninya daripada membayangkannya.”

 

“Aku tidak pernah bisa membiasakan diri dengan ketidakhadiranmu di hidupku. Aku sudah sampai pada titik di mana aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku menyerah.” Katanya rendah, sinar di matanya tiba-tiba meredup, mereflesikan kesakitan yang selama ini ditahannya.

 

“Kau lah yang mendorongku menjauh!” kata Hyo Joo dengan raut wajah sedih, ada isak samar yang keluar dari nada suaranya.

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, mengembuskan napas di sela mulutnya yang terbuka.

“Aku tidak bermaksud seperti itu.”

 

“Lalu kenapa?” tuntut Hyo Joo dengan nada bicara yang tidak berubah. Meski dia sudah tahu alasan pria itu, kenapa dia pergi, dia ingin mendengarnya langsung dari mulut pria itu.

 

“Karena aku harus pergi.”

 

“Kau tidak memberikan alasan yang cukup.”

 

Pria itu menghela napas lagi seolah oksigen sulit untuk diraup.“Karena Ibuku,” Ujarnya menjeda. “Aku ingin dia sembuh dan demi semua itu aku rela mengesampingkan segala hal.”

 

“Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku?”

 

“Karena aku tidak ingin saat aku tidak berada di sisimu, kau akan terjebak dengan semua ingatanmu tentangku, aku hanya ingin mempermudah saja.”

 

“Untuk melupakanmu?” Tanya Hyo Joo.

 

“Ya. Keputusan yang sulit karena berlawanan dengan keinginanku. Faktanya, aku ingin kau selalu mengingatku, tidak melupakanku sedetik pun.” Katanya dengan nada rendah, sorot matanya menyiratkan banyak hal, kesakitan, kerinduan dan emosi lain yang tidak bisa Hyo Joo jabarkan detailnya.

 

Pria itu sepertinya tidak tahu jika Ibunya menulis surat untuk Hyo Joo, menjelaskan semuanya dan Hyo Joo hidup dengan pemahaman isi surat itu, tentang alasan kenapa Kyuhyun pergi darinya. Meninggalkannya tanpa kejelasan apa pun.

 

Ada jeda lama di antara mereka. Hyo Joo membuang napas di antara celah mulutnya yang terbuka, berdebat dengan pikirannya sementara pria itu masih berdiri di tempatnya semula, hanya 3 langkah dari Hyo Joo dan menatapnya dengan cara yang sama seolah sedang menunggu Hyo Joo mengambil keputusan.

 

Gadis itu mendesah, menatap Kyuhyun dalam, memancarkan emosi yang menyengat pandangannya. “Kau sudah selesai bukan? Sekarang pergilah!” Hyo Joo mengucapkannya dengan nada rendah yang dalam. Gadis itu melangkah, bermaksud menyudahi percakapan dan pertemuan mereka yang tidak direncanakan.

 

Namun tangan Kyuhyun dengan sigap menangkap gerakan tangannya dan membawa punggung gadis itu menabrak dadanya. Memeluk Hyo Joo dari belakang.

 

Pria itu merundukan wajahnya hingga hidungnya terkubur dalam helai rambut Hyo Joo, menghidu aroma gadis itu dalam. Sesuatu yang sangat dirinduinya.

 

Hyo Joo berusaha bertahan dari segala macam responsif yang menyerang inderanya, debaran jantungnya yang bereaksi berlebihan dan desiran aneh yang merambat melalui pembuluh darahnya, sedikit-banyak mengacaukan fokusnya. Dia sedikit kesulitan menelan ludahnya sendiri.

 

“Kyuhyun ssi, lepaskan aku!” desis Hyo Joo. Dia berusaha berontak tapi tubuhnya seolah menghianati mulutnya sendiri karena dia hanya bergerak lemah dan ketika Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya untuk membuat gadis itu tenang, tubuhnya kembali diam. Membuatnya kesal pada dirinya sendiri, dia begitu lemah terhadap perlakuan pria itu.

 

“Sssttt! Buang saja sikap defensifmu itu dan biarkan saja seperti ini.” Pria itu semakin mengetatkan pelukannya. Melingkari bahu Hyo Joo dengan kedua tangannya. Mengubur wajahnya lebih dalam di antara helaian rambut Hyo Joo hingga gadis itu bisa merasakan embusan napasnya di sana.

 

Bahkan meski Hyo Joo sudah mencoba tapi dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Dia terlalu merindukan pria ini dengan segenap nuansa yang ada pada dirinya.

 

Tapi Hyo Joo tidak ingin menyerah dengan mudah, dia masih mempertahankan egonya yang tinggi. Dia sedikit mendongakan wajah, menahan sesuatu yang nyaris menyeruak di ujung matanya. “Bukankah bagimu aku hanya orang asing yang sekadar lewat?” Tanya Hyo Joo lirih.

 

Hyo Joo merasakan gelengan Kyuhyun di belakang kepalanya. “Lupakan saja kata-kata bodohku waktu itu! Sialan Kim Hyo Joo, lima tahun berlalu dan hanya kau yang ada di dalam kepalaku.”

 

“Kau tahu,” Hyo Joo berkata dengan nada tertahan dengan air mata yang siap pecah di pelupuknya. “Kata-kata itu selalu bergema di dalam kepalaku.”

 

Kyuhyun membalikan tubuh gadis itu, dia menatap mata Hyo Joo yang memerah dengan air mata yang siap jatuh. Kyuhyun menyentuh kedua sisi wajahnya hingga sudut mata dan ketika Hyo Joo mengedip, air mata itu jatuh membasahi jari Kyuhyun yang seolah sengaja di maksudkan untuk menampung air matanya.

 

“Maaf,” katanya dengan nada tulus. Berusaha agar kata-kata itu tersampaikan dengan baik. Pria itu menarik Hyo Joo ke dadanya dengan gerakan lembut.

 

“Maafkan aku Hyo Joo-ya!” katanya dengan suara rendah yang dalam. Air mata Hyo Joo tumpah detik itu juga dengan suara isak yang teredam di dada Kyuhyun.

 

“Dan biarkan aku memperbaiki semuanya.”

 

Hyo Joo membiarkan dirinya larut, menumpahkan emosi yang selama ini terpenjara di hatinya di tempat yang seharusnya, di tempat yang dirasanya tepat, pelukan pria itu.

 

Seseorang yang menumbuhkan rasa sekaligus mengacaukannya dan kemudian dia kembali, berniat memperbaiki semuanya. Sisi emosional dalam dirinya mendominasi dan Hyo Joo tidak berusaha untuk melawan atau melarikan diri.

 

 

Hyo Joo mencengkram kemeja Kyuhyun dengan jari-jarinya. “Kau lama sekali,”

“Kau membuatku menunggu begitu lama.” Katanya dengan suara serak.

 

 

Kyuhyun meregang pelukannya, menangkup wajah Hyo Joo dengan kedua tangannya, membawa pandangan gadis itu ke mata cokelatnya yang bersinar dengan lembut.

 

“Butuh keberanian besar untuk muncul di hadapanmu lagi Kim Hyo Joo dan aku menyesal tidak melakukannya dari dulu.” Katanya dengan suara khasnya yang lembut. Hyo Joo masih menatapnya dengan pandangan yang sama dan Kyuhyun tidak tahan untuk menyapukan satu kecupan di bibir gadis itu.

 

Dia menarik diri, memandangi gadisnya lagi. Sebelum mengangsurkan wajah untuk mengecup sudut matannya, beralih menuruni sisa sembab di wajahnya. Menghapus jejak basah di sana.

 

Ciumannya sampai ke ujung dagunya kemudian kembali lagi ke sudut bibir dan dengan lembut melumat permukaan bibir gadis itu. Menggodanya sampai dia diizinkan untuk masuk lebih dalam, mengeksplorasi setiap sudut mulut gadis itu lebih jauh.

 

Indera Hyo Joo dibanjiri oleh sensasi, perasaanya dihantam gelombang kerinduan yang mendesak untuk dibebaskan, getaran listrik merambati seluruh pembuluh darahnya, perutnya bergejolak oleh letupan hasrat yang sulit dideskripsikan, seolah ada sekumpulan lebah yang berkerumun di dalamnya tapi anehnya terasa menyenangkan.

 

Ciuman pria itu membuatnya mabuk. Lima tahun tidak bertemu kenapa pria itu jadi mahir berciuman seperti ini. Membuat Hyo Joo kewalahan meladeninya, dia membenamkan jemarinya diantara helai rambut Kyuhyun yang terasa lembut dalam sentuhan kulitnya. Meski dia belum mau mengakhirinya tapi kebutuhannya akan oksigen membuatnya harus berhenti.

 

Hyo Joo melepaskan diri, mengisi paru-parunya dengan oksigen kembali. Napasnya tersengal dengan aliran darah yang naik ke permukaan wajahnya, menimbulkan rona merah di sana.

 

Dan pria itu tersenyum. Sialan. Setelah kekacauan yang sudah dilakukannya pada Hyo Joo, pria itu tersenyum saat melihat penampilan Hyo Joo pasca ciuman mereka yang sedikit panas. Jika itu bisa disebut demikian.

 

Kyuhyun memajukan wajahnya kembali, “Mau apa kau?” kata Hyo Joo dengan nada penuh antisipasi.

 

Kyuhyun terkekeh singkat, menyelinapkan satu tangannya di pinggang gadis itu, menariknya mendekat hingga menabrak tubuh depannya dan menjatuhkan satu kecupan di dahinya, “Hanya ingin memelukmu saja.” Berbicara di sana dengan nada setengah berbisik.

 

“Ngomong-ngomong, aku merindukanmu Hyo Joo-ya. Sangat.” Lanjutnya kemudian, membuat jantung Hyo Joo tidak berhenti berdetak denga cara keterlaluan.

***

Kyuhyun memandangi wajah Hyo Joo yang terlelap seolah itu adalah hal menyenangkan, dia meraih helai rambut gadis itu dan menyelipkannya di belakang telinga. Memusatkan pandangannya kembali ke wajah yang berhasil menawan Kyuhyun sampai sekarang. Membuatnya betah berlama-lama melakukannya.

 

Pria itu tersenyum, bahagia karena bisa memeluk gadis yang dirinduinya lagi, senang karena gadis itu tidak menolaknya. Apa sih yang sudah dilakukan Hyo Joo padanya sampai dia tidak bisa beralih menatap gadis lain.

 

Lima tahun mereka berpisah dan dia sudah bertemu dengan banyak wanita menarik di luar sana tapi tidak ada yang bisa memesonanya seperti Hyo Joo.

 

Kepalanya dipenuhi dengan wajah Hyo Joo dan jutaan sel-sel saraf neuron di otaknya seolah memetakan nama gadis itu sehingga pikiran dan ingatan Kyuhyun hanya sebatas padanya saja. Menguras penuh segala rasa ketertarikannya karena otak dan hatinya hanya menginginkan yang satu itu saja.

 

Kyuhyun menjangkau pipi Hyo Joo dengan ciuman singkat sebelum beringsut turun dari tempat tidur gadis itu. Dia meraih coat abu-abu dengan sentuhan warna biru dikerah dan ujung tangannya yang tersampir di kursi single dekat jendela. Kemudian mengenakannya.

 

Hyo Joo terbangun oleh suara Kyuhyun yang sedang terlibat pembicaraan di telepon. Pria itu menoleh setelah mengakhiri sambungan teleponnya dan tersenyum ke arahnya.

“Aku membangunkanmu, ya?” katanya dengan sudut bibir tertarik membentuk lekukan.

 

“Kau mau pergi.” Itu terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

 

Kyuhyun mendesah rendah. “Ya.” Katanya dengan raut wajah menyesal. Dia menghampiri Hyo Joo yang sudah duduk di ranjang.

 

“Kemana?”

 

“Suatu tempat.”

 

“Kau tidak akan mengatakannya padaku.”

 

Kyuhyun menggeleng lalu menjatuhkan bagian bawah tubuhnya di sisi ranjang, bersebelahan dengan Hyo Joo. “Belum. Aku akan menceritakannya padamu setelah semuanya selesai.”

 

“Dan meski aku melarangmu, kau akan tetap pergi bukan?”

 

“Sayangnya iya.” Tatapan mereka masih terhubung.

 

“Oke.” Kata Hyo Joo rendah, membuang pandangannya ke arah lain. Tidak bisa menyembunyikan nada kecewa yang keluar dari mulutnya.

 

Kyuhyun meraih dagu Hyo Joo sehingga pandangannya jatuh kembali di matanya. “Hyo Joo-ya, ada beberapa hal yang menjadi daftar prioritas dalam hidupku,” katanya memulai.

 

“Tentu saja kau berada dalam daftar itu, seharusnya aku menyelesaikan urusanku lebih dulu sebelum menemuimu tapi aku tidak sabar. Kau adalah orang pertama yang kujumpai setelah aku menginjakan kakiku di Korea beberapa jam yang lalu. Kalau kau mau tahu.”

 

“Aku bahkan akan meninggalkan acara tanda tangan kontrak penting jika itu perlu hanya untuk menemuimu saja. Tapi untuk urusan yang satu ini, aku sudah tidak bisa menundanya lagi dan aku akan menceritakannya padamu jika semuanya sudah beres.”

 

“Baik, pergilah!” kata gadis itu bersungguh-sungguh meski sebenarnya dia sedikit berat melepas Kyuhyun setelah perpisahan panjang mereka.

 

Kyuhyun menatapnya dengan seksama dan dalam sehingga Hyo Joo merasa tidak nyaman karena sorot mata pria itu seolah bisa menembusnya hanya dengan tatapan saja.

 

Lama mereka saling menatap satu sama lain dengan sorot kerinduan yang terpancar dari mata masing-masing. Bahkan udara seolah bisa mendeteksi hasrat yang diam-diam menyelinap di antara mereka. “Kau akan selalu menjadi tempatku kembali Hyo Joo-ya,” katanya menjalankan tangannya ke sisi wajah Hyo Joo dan berhenti di sana.

 

“Pergi saja! Jangan mengumbar rayuan dengan kata-kata seperti itu padaku.” Decak Hyo Joo memeringatkan.

 

“Hey! Hanya karena aku tidak pintar melakukannya, bukan berarti kau bisa mengusirku!”

 

“Aku tidak mengusirmu, bukankah kau yang ingin pergi.”

 

“Dan aku akan kembali, oke. Jadi, jangan memasang wajah cemberut seperti itu.” Ada janji yang terselip di sana.

 

“Ya! Aku tidak cemberut.” Sangkal Hyo Joo pelan.

 

“Kim Hyo Joo yang selalu siap berdebat dan gemar menyangkal!” katanya dengan nada mengejek. Entah kenapa perdebatan kecil seperti ini membuat Kyuhyun senang saat melakukannya.

 

“Ya! Cho Kyuhyun, cepat pergi sana sebelum aku benar-benar mengusirmu.”

 

“Oh, kau tidak akan bisa, Sayang!”

 

Ada jeda sebentar dan mata pria itu berkilat dengan rencana yang membuat perasaan Hyo Joo tidak nyaman. “Aku hanya akan pergi atas dasar keinginanku sendiri.”

 

Cho Kyuhyun, pria sombong dan arogannya sudah kembali. Hyo Joo menatapnya dengan dengusan pendek, lalu tiba-tiba pria itu bergerak lebih dekat, memajukan wajahnya hingga permukaan bibir mereka saling bersentuhan sebelum mengubahnya menjadi ciuman.

 

Mungkin hanya sekadar ciuman perpisahan jika saja tubuhnya tidak bereaksi berlebihan. Kyuhyun mendorong kepala gadis itu agar lebih dekat lagi dengannya. Menciumnya lagi.

 

Lebih dalam dan dia berjuang keras mempertahankan kontrolnya agar tidak menguap dan hilang ditelan oleh hasratnya yang berkobar. Sialan. Sensasinya benar-benar membuat dia gila. Memabukan dan membuatnya kecanduan.

 

Kyuhyun melepaskan tautan bibirnya sebelum semua berubah tak terkendali. Napasnya menderu, mencoba memasok udara sebanyak-banyaknya.

 

Dia mengecup dahi gadis itu dan bernapas di sana, lama. Menetralkan mekanisme pernapasannya yang memburu. Sialan, dia bisa apa jika godaannya tak tertahankan seperti itu. Jika saja urusannya bisa diwakilkan, dia akan lebih memilih menghabiskan waktunya bersama gadis ini.

***

 

Hari kedua dan belum ada kabar apa pun dari pria itu. Bohong, jika Hyo Joo mengatakan dia baik-baik saja setelah pria itu datang kembali menemuinya.

 

Merayunya lagi dan dia seperti gadis gampangan yang jatuh kembali ke dalam jebakannya yang menyesatkan. Beragam spekulasi merebak di dalam kepalanya, membuat pikirannya tidak tenang.

 

Sial. Dua hari yang sungguh menyiksa dan dia harus melewati berapa hari lagi sampai pria itu menepati kata-katanya atau mungkin pria itu tidak akan pernah kembali lagi. Deringan nada panggilan menyentak Hyo Joo dari lamunanya. Nomor tak dikenal. Siapa?

 

“Halo,” sapa Hyo Joo rendah.

 

“Senang mendengar suaramu lagi.”

 

Jantung Hyo Joo tiba-tiba saja terentak, berdegup dengan cepat. Suara ini. Dia menelan ludah, berusaha mengeluarkan suara senormal mungkin. “Aku pikir mungkin kau sudah lupa padaku.”

 

“Kau marah padaku?”

 

“Kau pikir itu lucu!”

 

Hyo Joo bisa mendengar suara kekehan dari sebrang sana. “Senang bisa membuatmu merindukanku.”

 

“Kau merasa hebat, hah?”

 

Kali ini suara pria itu berubah jadi gelak tawa. “Aku tidak tahu jika dua hari ini aku begitu meresahkanmu. Maaf, membuatmu menunggu!”

 

“Lupakan saja dan maaf aku sedang sibuk.” Kata Hyo Joo sebal, bermaksud mengakhiri pembicaraan.

 

“Tunggu dulu!” katanya menyela. Suaranya berubah serius kembali. Hyo Joo menunggu.

 

“Apa kau punya waktu, aku ingin bertemu.”

 

Tawaran yang menggiurkan dan rasa bahagia diam-diam merayap masuk ke hati Hyo Joo. Tapi dia tidak ingin membuatnya menjadi mudah. “Kau tidak dengar aku sedang sibuk. Ada pekerjaan yang harus kubereskan.”

 

“Baiklah. Aku akan menghubungimu lagi nanti.”

 

Sial. Kenapa malah jadi pria itu yang memutuskan sambungan teleponnya. Beberapa menit berselang, telepon di meja Hyo Joo berdering. Dari bosnya dan dia diminta menghadap sekarang.

 

Hyo Joo kembali lagi ke meja kerjanya. Entah harus bahagia atau bagaimana, dirinya dibebas tugaskan hari ini.

 

Sedikit aneh sebenarnya karena dia harus mengejar deadline. Perubahan mendadak ini membuat insting jurnalistik Hyo Joo menyala dan ketika dia sedang memikirkan berbagai kemungkinan di dalam kepalanya, smartphonenya kembali berdering. Hyo Joo mengangkatnya pada deringan kedua.

 

“Apa kau sudah bisa pergi sekarang?” suara familiar itu menyapanya kembali.

 

“Apa kau yang berada dibalik ini semua?”

 

“Ketika aku mengatakan ingin pergi denganmu, maka kita akan pergi, Kim Hyo Joo!”

 

“Cho Kyuhyun—” desis Hyo Joo tertahan.

 

“Kau baru saja menyebutkan namaku. Dan kau masih dibalik meja kerjamu, kurasa.”

 

Hyo Joo menggerakan pandangannya ke sekeliling, berharap tidak ada orang yang mendengar pembicaraannya.

 

Mengingat betapa popularnya pria itu dan selalu menjadi nama yang selalu diburu pewarta berita. Terlebih rekan-rekan kerja wanita yang selalu histeris setiap kali melihat pria itu muncul menghiasi halaman surat kabar.

 

Apa jadinya jika mereka tahu bahwa Hyo Joo, Ah, lupakan saja.

 

Hyo Joo berdiri, bergerak menjauh dari mejanya sampai dia merasa menemukan posisi aman untuk berbicara dengannya di telepon. “Dengar! Tuan sok kuasa, tidak semua hal bisa kau dapatkan dengan mudah—”

 

“Kau ingin aku menjemputmu di basement atau halte dekat kantormu?” ucapan Hyo Joo terpotong oleh kalimat Kyuhyun yang mengajukan pilihan ganda padanya.

 

“Siapa bilang aku mau pergi denganmu.”

 

“Atau kau ingin aku menemuimu di kantor. Jika kau lebih suka mengambil risiko itu.”

 

Hyo Joo berdecak sebal. “Kau benar-benar semaumu, ya?”

 

“Tentukan saja pilihanmu Hyo Joo,”

 

“Sesukamu sajalah!” kata gadis itu dengan nada menyerah.

***

 

Hyo Joo berdiri di halte, dekat Starbucks dan sedikit jauh dari kantornya. Dia sempat mampir untuk memesan kopi dan sudah menghabiskannya saat berjalan kaki tadi.

 

Beberapa menit kemudian sebuah Porsche Cayman hitam bergerak pelan sebelum akhirnya menepi dan berhenti di depannya. Jendela kaca mobil diturunkan sehingga Hyo Joo bisa melihat sosok di baliknya.

 

Jantungnya berdegup lagi, dengan detakan yang sama setiap kali mata mereka saling beradu. Pria itu duduk dibalik kemudi, tanpa supir dan menyetir sendiri. Sial. Kenapa hal itu malah terlihat keren di matanya. Mengingat kebanyakan CEO lebih memilih menggunakan jasa supir pribadi dan hanya duduk tenang di belakang tanpa harus berkonsentrasi penuh pada jalanan.

 

Pria itu memiringkan wajahnya ke satu sisi, tersenyum menawan, memberi isyarat pada Hyo Joo untuk masuk. Sial. Gadis itu beberapa detik masih mematung, menikmati pemandangan karena pria itu terlalu memesona, membuat Hyo Joo kehilangan pikiran untuk sesaat.

 

Gadis itu membuang karbon dioksida lewat dengusan rendah, memalingkan wajah sebelum menggerakan kakinya menuju mobil Kyuhyun dengan segala aksen mewahnya yang kental.

 

Ketika Hyo Joo sudah duduk di samping pria itu dan mencoba memakai sabuk pengaman, wajah pria itu sudah begitu dekat dengannya sampai dia bisa merasakan deru napasnya yang berembus.

 

Hyo Joo berusaha keras mempertahankan ekspresi wajahnya agar terlihat biasa-biasa saja atau kalau bisa dia ingin memasang wajah kesal dan ketusnya seperti biasa. Tapi jika pria itu sedekat ini, menggodanya dengan segala cara itu hanya membuat usahanya sia-sia saja.

 

Dia bahkan sudah melunak ketika pria itu menatapnya dari balik jendela mobil. Hyo Joo bisa apa jika kekuatannya sudah dilucuti bahkan sebelum dia memulai.

 

“Apa kopinya enak?” bisik Kyuhyun, menatap Hyo Joo lekat sembari memainkan jemarinya di antara helai rambut gadis itu.

 

Hyo Joo mendengus. Jika dia bertanya tentang kopi, itu artinya pria ini sudah berada di sini sejak dari tadi bukan. Tapi pria itu malah membuatnya menunggu.

 

“Apa yang kau dapat dengan memataiku seperti itu?” mata Hyo Joo masih menatap ke depan dan membiarkan Kyuhyun melakukan apa pun yang dia mau di sebelahnya.

 

“Aku tidak memata-mataimu ko.”

 

“Lalu darimana kau tahu jika aku habis minum kopi.” Dengus gadis itu dengan jengkel. Kyuhyun tergelak singkat kemudian menjawab pertanyaan Hyo Joo dengan senyum yang belum memudar.

 

“Aku sudah berada di sekitar sini ketika kau keluar dari kantormu tapi kau malah mampir dulu ke kedai kopi itu. Bukannya aku tidak mau menyusulmu ke sana, hanya saja tadi aku menerima beberapa panggilan telepon dan terpaksa harus menunda waktu untuk menghampirimu.”

 

“Ah, orang sibuk.” Desah Hyo Joo dengan nada setengah mengejek.

 

“Kau masih marah padaku.” Tanya Kyuhyun dengan nada lembut.

 

“Daripada terus berbicara kenapa kau tidak langsung jalan saja!”

 

“Apa kau sedang terburu-buru, bukankah hari ini kau bebas?”

 

Hyo Joo menoleh seketika seolah disadarkan oleh ucapan pria itu. Dia tidak memedulikan sedekat apa wajah mereka sekarang. Kedua alis Kyuhyun melengkung, matanya bersinar dengan senyum dan juga kelembutan.

 

“Apa kau yang berada di balik semua ini? Aku memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum deadlineku habis dan beberapa jam berselang bosku memanggilku ke ruangannya, mengatakan bahwa aku bisa menyelesaikan pekerjaanku nanti saja dan dia menyarankan agar aku mengambil waktu istirahat. Satu hari ini kalau mau dan itu terjadi setelah kau meneleponku.”

 

Kyuhyun hanya memiringkan wajahnya semakin rendah dengan sorot mata penuh rahasia.

“Menurutmu?”

 

“Cho Kyuhyun! Ya Tuhan! Jangan katakan padaku jika kau—” Hyo Joo meloloskan udara dari celah mulutnya yang terbuka dengan kalimat menggantung di ujung lidah.

 

Jika Kyuhyun bisa mengintervensi pekerjaannya, hanya ada satu hal dalam pikiran Hyo Joo kenapa pria itu memiliki kewenangan itu.

 

“Kau tidak—”

“Kau bukan bos baruku ‘kan?”

 

Kyuhyun tertawa tanpa suara, “Apa semengerikan itu jika aku menjadi bosmu Hyo Joo-ya?” bisiknya pelan.

 

Hyo Joo tergelitik menanyakan sesuatu tapi dia tidak sepercaya diri itu. “Kenapa dan sejak kapan?”

 

“Karena aku punya uang,”

 

Tentu saja.

 

“Dan menyukai investasi. Media massa menarik minatku akhir-akhir ini, aku melihat peluang dan juga prospeknya yang cukup menjanjikan, mengingat kita butuh informasi setiap harinya. Dan aku menyukai visi mencerdaskan bangsa dengan budaya membaca. Perusahaanmu cukup memiliki nama dalam dunia jurnalistik dan jangan lupa dengan perkembangan digital yang semakin pesat, kemudahan mendapat informasi adalah sesuatu yang akan memanjakan pencari berita juga pembaca biasa.”

 

“Jadi, aku tidak keberatan saja mengeluarkan uangku untuk mencoba peruntungan di bidang ini.”

 

“Mencoba peruntungan katamu?”

 

“Kau tenang saja, jika aku gagal aku tidak akan bangkrut dengan mudah.” Katanya santai dan hanya ditanggapi Hyo Joo dengan dengusan pendek.

 

“Lagi pula, aku memiliki pekerja yang andal kenapa harus khawatir.”

 

“Oh, tentu saja, kau pasti sudah mempertimbangkannya dengan matang. Jika kau menguasai media, bukankah kau juga bisa mengontrol opini publik.” Meski tidak ada alasan pribadi yang diungkapkan pria itu seperti yang dicurigainya, Hyo Joo masih saja was-was.

 

“Wah, Hyo Joo, pendapatmu itu, ckckckck….” Kata Kyuhyun berdecak. “Apa kau pikir aku melakukannya demi kepentingan personal?”

 

“Beberapa politisi melakukan itu, memanfaatkan media sebagai jalan meraih simpati publik sehingga berita yang disajikan tidak berimbang antara fakta dan rekaan semata.”

 

“Untungnya kau hanya seorang pengusaha. Oh, atau mungkin kau berniat menjadi walikota Seoul selanjutnya Cho Kyuhyun Sajangnim?

 

“Dan apa kau suka dengan profesi Ibu walikota Seoul berikutnya?”

Pertanyaan balasan Kyuhyun membuat Hyo Joo terdiam seketika. Bukankah itu artinya pria itu sedang membicarakan masa depan dengannya. Sial. Kenapa pikiran itu terlintas di benaknya dan menghasilkan rona merah di pipinya.

 

“Lupakan saja.” Jawab Hyo Joo ketus memalingkan wajah, menyembunyikan semburat merah di pipinya meski dia tahu Kyuhyun masih bisa melihatnya.

 

“Kau tidak suka ya, bekerja denganku?” katanya dengan nada rendah dan sorot mata redup.

 

“Bukan itu. Hanya saja tidakah ini terlalu kebetulan? Kau kembali ke Korea lalu tiba-tiba mengambil alih kepemimpinan perusahaan tempatku bekerja. Ini sesuatu yang sulit dicerna bagiku?”

“Sebenarnya itu sudah direncanakan dari tahun lalu dengan bermacam diskusi dan negosiasi yang panjang sampai akuisisi itu terjadi 2 bulan yang lalu. Kalau kau mau tahu.”

 

Hyo Joo mendelik lagi padanya. “Apa?”

 

“Jika kau curiga ada alasan personal dibaliknya, itu bukan karena aku ingin mengontrol opini public, aku tahu kau sudah bisa menebaknya.”

 

“Hyo Joo, itu karena aku ingin lebih dekat denganmu. Ketika aku kembali ke tanah kelahiranku, aku tidak hanya bernegosiasi dengan perusahaanmu saja tapi juga bernegosiasi dengan hatimu.”

 

“Saat langkah pertamaku gagal untuk kembali dekat denganmu, setidaknya aku harus punya rencana cadangan lain bukan?”

 

“Kau penuh rencana sekali.” Komentar Hyo Joo pelan.

 

 

Kyuhyun menarik tubuh Hyo Joo merapat padanya, memeluknya lembut. “Harus. Kau tidak tahu berapa banyak rencana yang sudah kususun untuk meluluhkanmu atau hal apa saja yang akan kita lakukan setelah kita kembali bersama. Aku tidak sabar untuk merealisasikannya satu per satu.”

***

Roda mobil itu bergerak pelan bergesekan dengan permukaan jalan yang kasar, memasuki halaman rumah yang di sisi kiri dan kanannya terdapat hamparan rumput yang luas, beberapa aneka tanaman hias dan semak bunga, juga rindangnya dedaunan pohon maple yang berdiri kokoh di pekarangan, semuanya tampak cantik dan terawat dengan baik. Rumah bergaya modern dengan sedikit sentuhan klasik itu tampak menyatu dengan alam.

 

Kyuhyun membawa Hyo Joo pada rumah lamanya, hanya saja sekarang rumah ini jauh lebih luas dari sebelumnya dengan beberapa renovasi di beberapa bagian tanpa meninggalkan gayanya yang lama.

 

Mesin mobil berhenti berdengung, Hyo Joo membuka pintu ketika pria itu melakukannya lebih dulu dan keluar dari mobil, berjalan memutar lalu menunggu Hyo Joo, menawarkan tangannya untuk digenggam dengan senyum dikedua sudut bibir.

 

Hyo Joo menyambut uluran tangannya tanpa ragu, merasakan hangatnya jemari pria itu ketika tangannya di genggam. Ada kehangatan yang menular dan menjalar hingga sampai ke lubuk hatinya.

 

Entah kenapa, genggaman ini menghilangkan segala bentuk kegusarannya, membuatnya merasa dia akan baik-baik saja karena ada tangan kuat yang menggenggamnya. Sesuatu yang seperti itu.

 

“Aku ingin mengajakmu menemui seseorang,” beritahu Kyuhyun pelan.

 

“Ibumu?” tebak Hyo Joo, yang mendapat anggukan kepala dari Kyuhyun. “Dan ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu. Ayo…” ajaknya kemudian membawa Hyo Joo menuju taman belakang rumah.

 

Dari kejauhan Hyo Joo bisa melihat sosok wanita paruh baya yang sedang sibuk merangkai berbagai jenis bunga, duduk saling berhadapan dengan seseorang yang membuat Hyo Joo tidak yakin dengan penglihatannya sendiri sehingga dia menatap Kyuhyun dengan sorot bertanya dan ingin tahu.

 

Mereka menghentikan langkah sebentar, Kyuhyun mengangguk pada pertanyaan tersirat Hyo Joo bahkan sebelum gadis itu bersuara. “Ya, dia kakakku. Cho Ahra.”

 

“Apa urusan yang kau maksud adalah—” Hyo Joo menggantung kalimatnya sendiri hingga mendapat jawaban yang diinginkan dari Kyuhyun.

 

“Ya, ketika aku mengatakan ada urusan yang harus keselesaikan, itu adalah Ahra Noona.” Katanya pelan.

 

“Aku mengurus beberapa syarat-syarat kebebasan dan lain sebagainya untuk membawa Noonaku pulang kembali. Ketika di Amerika, aku terus memantau perkembangan kesehatan mentalnya yang semakin menunjukan kemajuan. Dan setelah melalui serangkaian tes kejiwaan, kondisi Noona sudah bisa dibolehkan untuk dibawa pulang dan berbaur dengan orang normal lainnya. Meski dia masih canggung dan tampak tidak nyaman tapi dia bisa diajak berkomunikasi.”

 

Jadi itu alasannya menghilang tanpa kabar dua hari ini, Kyuhyun pasti sangat focus pada kesembuhan Noonanya. Hyo Joo merasa malu dan ada sebersit rasa bersalah karena sudah menduga yang tidak-tidak. “Ayo, aku akan mengenalkanmu padanya.”

 

Meski Hyo Joo sudah pernah bertemu dan berkomunikasi secara fisik tapi tentu saja mereka tidak saling berkenalan karena saat itu kondisinya berbeda. Kyuhyun melambaikan tangan kemudian berseru dengan suara keras sehingga kedua perempuan itu menoleh ke arah mereka.

“Eomma, lihatlah siapa yang datang bersamaku sekarang.”

 

Hyo Joo menegur pria itu dengan nada mendesis yang diabaikan Kyuhyun dan membawa langkahnya mendekat pada Ibu dan Noonanya.

 

“Oh, Hyo Joo-ya,” sapa Cho Hana dengan nada antusias dan senyum yang mengembang di bibir dan wanita itu berdiri.

 

Benar-benar berdiri dengan kedua kakinya, keadaanya berbeda jauh sekali dengan kondisinya lima tahun lalu. Jadi, pengobatan itu benar-benar berhasil, Hyo Joo bahagia sekali melihatnya.

 

Dia menghambur ke pelukan wanita itu yang merentangkan kedua tangannya.

“Eommonim,” kata Hyo Joo dengan nada haru.

 

“Aku senang sekali bertemu denganmu lagi, bagaimana kabarmu?” Nada suaranya tidak berubah sama sekali, masih terdengar lembut seperti biasanya. Mereka saling meregangkan pelukan.

 

“Baik dan Anda?”

 

“Aku juga, jauh lebih baik. Lihatlah aku sekarang sudah bisa berdiri dan tidak menggunakan kursi roda lagi.”

 

Hyo Joo tersenyum dengan sorot mata haru. “Ya dan aku sangat senang melihatnya.”

 

“Hyo Joo, biarkan aku mengenalkanmu pada Noonaku.” Kyuhyun menyela ditengah-tengah momen saling merindukan itu, merangkul bahu Hyo Joo sehingga pandangan gadis itu jatuh pada sosok perempuan lain yang berdiri dengan anggun dan tampak cantik meski menunjukan mimic dan gerak-gerik tidak nyaman. Tapi dia berusaha untuk membaur.

 

Hyo Joo segera tersadar kemudian dia membukukan badan dengan sopan. “Annyeong Hasseo,”

 

“Aku sudah tahu namamu,” sela Ahra dengan nada lembut yang nyaring. “Kyuhyun sudah sering menceritakanmu padaku bahkan saat aku masih dalam masa perawatan, samar-samar aku mengingatnya. Kurasa, hanya kau satu-satunya wanita yang diceritakannya padaku.”

 

“Ah, benarkah….”

Apakah Ahra juga mengingat bahwa Hyo Joo pernah mengunjunginya saat itu.

 

“Noona,” katanya dengan nada mengeluh.

 

“Tsk, jangan membocorkan rahasiaku….” Tambahnya lagi dengan nada bercanda, membuat semua orang yang ada di sana tergelak dengan tawa

***

Hyo Joo setengah terbangun ketika merasakan ada bobot tubuh lain yang bergerak di kasurnya. Lalu tubuhnya yang berbaring menyamping ditarik merapat hingga menabrak dada kokoh seseorang. Aroma familiar segera saja menjamah indera penciumannya, kemudian dia merasakan sapuan napas pria itu yang berderu dibalik lehernya.

 

Wajah dan hidung yang ditekan di antara rambutnya dan pelukan hangat pria itu yang memenjarakan tubuhnya dengan kedua tangan, membuat Hyo Joo terjaga dari tidurnya. Kenapa pria ini suka sekali menyelinap diam-diam ke kamarnya dan mengganggu tidurnya di tengah malam. Hyo Joo bergerak pelan, mencari posisi nyaman.

 

“Ssst, hanya 2 jam, aku harus pergi lagi.” Desis Kyuhyun dibalik kepalanya. Ada nada enggan dalam suaranya.

 

“Perjalanan bisnis lagi, kali ini kemana?” tebak Hyo Joo tepat sasaran.

 

“Jepang. Aku akan di sana selama 4 hari. Aku butuh waktu bersamamu dan aku akan memanfaatkan 2 jamku yang berharga.” Yah, dia akan melakukannya, jika tidak mau disesaki oleh rindu yang menyiksa.

 

“Apa yang sedang kau rencanakan di dalam pikiranmu, Cho Kyuhyun ssi?”

 

“Daripada membicarakannya, aku lebih suka mempraktikannya Kim Hyo Joo.”

Kyuhyun membalik tubuh gadis itu sehingga dia bisa mendaratkan ciuman di sudut alis kemudian berlanjut menjamah seluruh permukaan wajahnya. Membuat Hyo Joo menggeliat tak nyaman.

 

“Hey!” protes Hyo Joo, merasakan stimulus yang menyengat seluruh inderanya.

 

“2 jam Hyo Joo dan waktunya semakin berkurang jika menghabiskannya dengan mengobrol.” Katanya menjatuhkan satu kecupan di rahang. “Tolong katakan berhenti jika kau tidak siap melanjutkan!” dan kecupan berikutnya di sudut bibir.

***

Pagi itu dia terbangun dengan semerbak wangi bunga freesia yang memenuhi ruang kamarnya. Inderanya segera terjaga dengan kekuatan yang dipaksakan pasca disorientasi bangun tidurnya.

 

Gadis itu beringsut turun dari pembaringannya, menerobos pintu prancis dengan napas di tenggorokan, sedikit terengah, tidak memedulikan kaki telanjangnya menyentuh rumput yang basah oleh embun pagi.

 

Hanya setengah langkah dia bergerak kemudian berhenti, terdiam dengan napas yang masih belum beraturan. Tubuh kecilnya gemetar oleh kerinduan, dia nyaris tumbang melawan berat tubuhnya sendiri, memandang sosok yang dirinduinya setiap pagi atau diingatnya di setiap waktu-waktu senggang, siang dan malam.

 

Empat hari mereka tidak bertemu kemudian tiga jam mereka menghabiskan waktu bersama sekembalinya pria itu dari jepang. Keesokannya, pria itu pergi lagi dan hanya memberitahunya lewat telepon seolah kepergiannya kali ini tanpa direncanakan, begitu mendadak.

 

Satu minggu berlalu dan pria itu tidak kembali, melanjutkan perjalanan bisnis lagi, melanglang buana ke Kepulauan Pasifik, Eropa Barat dan kembali ke daratan Amerika.

 

Nyaris satu bulan mereka tidak bertemu dan hanya berkomunikasi lewat telepon atau Skype. Jika rasa rindu itu sudah tak tertahankan. Sialan. Hyo Joo sepertinya salah memilih pacar seorang jutawan.

 

Sekarang, Hyo Joo memandang punggung kokohnya dengan jantung yang berdegup di atas frekuensi normal. Pria itu berdiri di bawah sinar matahari pagi di antara sentuhan kabut yang mulai memudar, radiasi cahaya membanjiri wajah rupawannya dengan silau keperakan.

 

Kadang-kadang ketampanan pria itu tampak tidak wajar dengan sentuhan efek alam, seperti jelmaan makhluk fiksi yang keluar dari novel fantasi yang sering dibacanya, membuat Hyo Joo lupa caranya untuk berhenti menatap.

 

Minggu-minggu terakhir yang dilaluinya, melemparkan memori Hyo Joo pada masa lima tahun dia menghabiskan waktu dengan rindu dan harapan yang menyeruak, mengusik ketenangan inderanya. Akankah pria itu kembali?

 

Perasaan familiar yang tidak asing baginya, diam-diam menyelinap masuk. Merengkuh ingatan Hyo Joo ke masa itu lagi. Menunggu. Merindu.

 

Setelah sekian lama dia menunggu di sepanjang musim yang selalu berganti di setiap tahunnya, pesona pria itu tidak memudar. Selalu tampak mengagumkan dan tidak pernah bosan untuk dipandangnya.

 

Kemudian dengan perlahan seperti gerakan slow motion yang biasa dijumpai dalam adegan-adegan Televisi, pria itu menoleh dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya dan dia hanya bisa mematung, terpaku memandangi pria itu tanpa berkedip, mungkin karena sosok itu terlalu indah untuk dilewatkan.

 

Bibir pria itu bergerak membentuk satu kata yang terdengar lembut dan dalam di telinganya,

“Hai,” katanya dengan senyum yang tidak meninggalkan bibirnya.

 

Dan dia terjebak lagi, meski dia mencoba, dia tidak menemukan jalan untuk kembali. Mungkin karena dia tidak ingin beranjak dari pesona menyesatkan pria itu yang selalu membuatnya terjatuh berkali-kali di tempat yang sama. Hatinya.

 

“Aku merindukanmu.”

 

Pria itu kembali, menyatukan kepingan hatinya yang tercecer, pria itu di sana mewujudkan mimpi-mimpi yang mengunjunginya setiap malam. Pria itu kembali mengisi hatinya. Lagi. Membuatnya bernapas tanpa sesak itu lagi.

 

Pria itu kembali dengan hati yang dibanjiri oleh segenap rasa. Orang-orang menamai itu cinta. Dan dia tidak menemukan terjemahan yang tepat untuk mendeskripsikannya selain satu kata itu.

 

Meski terdengar sederhana, kata itu sering kali sulit terucap dari mulutnya tapi siapa yang peduli. Perasaan itu yang disebut dengan cinta, selalu mencari jalan untuk membebaskan diri. Tanpa mengurangi makna dan kadarnya sedikit pun.

 

Hyo Joo menghambur ke pelukannya didorong oleh perasaan rindu yang mendesak. Pria itu menangkapnya, memeluknya dengan erat. “Kau benar-benar merindukanku, ya?” bisik Kyuhyun dengan nada menggoda. Berbicara di lekukan leher Hyo Joo dengan senyum bahagia.

 

“Sangat.” Bisik Hyo Joo dengan suara teredam, berusaha menjangkau rambut lembutnya yang menguarkan wangi shampoo mewah dan berkelas. Membuat Hyo Joo betah menguburkan hidungnya di sana. Berlama-lama.

 

“Ngomong-ngomong, aku mencintaimu.” Bisik Kyuhyun rendah dengan nada jernih yang jelas sehingga Hyo Joo bisa mendengarnya tanpa pengulangan.

 

Kyuhyun bisa merasakan tubuh gadis itu menegang sebelum kemudian menjadi normal kembali. Dia meregang pelukan mereka, ingin tahu ekspresi wajah gadis itu pasca pengakuan cintanya.

 

“Apa ini pengakuan pertamamu?” Tanya Hyo Joo ingin tahu.

 

“Pada seorang gadis, ya.”

 

Dan tiba-tiba bibir Hyo Joo berkedut membentuk senyum yang memesona Kyuhyun.

“Sepertinya aku juga, mencintaimu.” Kata Hyo Joo bergerak semakin mendekat hingga dahi mereka saling beradu dengan napas yang saling bertabrakan.

 

Tatapan mereka bertemu, dalam dan intens hingga Kyuhyun mengambil inisiatif untuk mengambil ciuman lebih dulu.

 

Ciuman mereka kali ini begitu lembut, tidak terburu-buru. Menyampaikan segala bentuk perasaan yang menyeruak, mencari jalan pembebasan tapi masih saja membuat candu.

 

Memabukan seperti ciuman-ciuman sebelumnya. Bayangan pohon maple dan pinus bergerak di bawah pantulan sinar matahari, membingkai bayangan mereka berdua yang dilanda oleh perasaan cinta dan hasrat murni. Terlalu indah sampai tidak ada perbendaharaan kata yang tepat untuk mengambarkan semuanya.

 

END

 

Tengkyu untuk semua yg sudah meluangkan waktu untuk sekadar membaca, komen atau like ff ini. Begitu juga dg Admin yg sudah memfasilitasi untuk berbagi bacaan yg tidak seberapa ini. Tulisanku masih jauh dr kata bagus, berharap ada kritik dan saran yg membangun…

Jika ada yg tertarik utk membaca karyaku yg lainnya silakan mampir ke blog pribadiku di sini https://nowordtodescribeit.wordpress.com/

Gamsahamnida J

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

13 Comments (+add yours?)

  1. Fafairfa
    Mar 04, 2016 @ 16:49:02

    Aaakkkk…astagaaaa
    Indaaaah..semua bisa tertuang ke setiap kata dengan indah dan manis..ikut ngerasain bahagianya dua insan di cerita ini

    Authornim..kereeen !! Ah benar-benar..semuanya terlalu indah dan ajaib..luar biasa

    Ditunggu karya lainnya yg luar biasa indah dan bikin kacau hati ngebacanya..haha

    Reply

  2. leekhom
    Mar 04, 2016 @ 21:46:14

    Hwaaaa gila gilaaaa baca satu part aja lama bgtii q yg lola bc’a apa ff’a yg panjang bgt😀,,q kira bakal berakhir sad ternyta kgk kyuhyun daebak bgti yakin suka bgt karakter kyu yg bgini dan gk sia” q bc dua part sekaligus puas bgti dari cerira to pun panjang ff’a memuaskan bgti …sukses trus bt yg bikin kpn” q mampir keblog’a yh

    Reply

  3. leeechoika
    Mar 04, 2016 @ 23:41:10

    entah kenapa… aku bacanya deg2an sendiri… ceritanya bagus bener2 bagus. hebat!! ini mah wajib kudu mesti ada sequel nya.. kyuhyun yang ngelamar hyo joo, mereka nikah sampai punyak anak. plis… hehe. semangat terus thor!!!

    Reply

  4. Deesungie
    Mar 04, 2016 @ 23:55:55

    Bagusss… Sukaaa..
    Ending yg bahagia.. Walo msh kurang.. Adegan married life ny hahaha..
    Tp gpp .. Ini aj udah bikin aq dag dig dug ser bacanya.. Keyeeeee…..nnnnn 😁😁😁
    Ditunggu karya lainnya.. 😊

    Reply

  5. missrumii
    Mar 05, 2016 @ 12:05:42

    Selain ceritanya yang bagus, bahasanya juga cantik 👍

    Reply

  6. anissaholly
    Mar 05, 2016 @ 13:58:20

    Aak kereeeeennnn.. aku suka banget jalan ceritanyaaa

    Reply

  7. lieyabunda
    Mar 06, 2016 @ 03:39:26

    akhirnya mereka bersama juga,,,,,
    keren…

    Reply

  8. july
    Mar 06, 2016 @ 23:41:59

    Keren abis….
    Tiap kata yg tertuang di dalam y membuat terhanyut dan seakan ikut larut dalam alur cerita y.benar benar luar biasa.Di tunggu karya selanjutnya y…fighting!!!🙂

    Reply

  9. sitidiah13
    Mar 08, 2016 @ 17:35:32

    bagus banget sequel dong please

    Reply

  10. elimns
    Mar 11, 2016 @ 08:20:06

    Bagus banget ceritaanyaaaaaaaaa,, daebak !!, nyesek sekaligus terharu. kalo aku jadi hyo joo sih pasti nggak akan tahan ditinggal terus.Tapi untuk seorang si cho kyuhyun sih, apa boleh buat,hahaha. mantap thor,, sequel nya kalau ada ya.

    Reply

  11. Deborah sally
    Mar 11, 2016 @ 08:55:31

    Nikah nya kagak nih?

    Reply

  12. devsparkyu
    Mar 14, 2016 @ 10:35:10

    huuaaa indah sekali ceritamu chingu :’) so swet aku suka #jempol
    ♥♥♥♥♥

    Reply

  13. BukanUpilTapiEvil
    Mar 15, 2016 @ 19:35:31

    Readers baru ^_^ Ijin baca author-nim
    Sweet story & I Like moral value’s :-*
    Sebuah penantian panjang yang berbuah manis :-*

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: