Thinking Of You

kyufall

Author                    : Mrs. C

Title                          : Thinking Of You

Cast                          : Cho Kyuhyun, Lee Su Yeon (OC), Seo Eun Gi (OC)

Genre                      : Romance, AU, Fluffy Angst, Songfic

Rating                     : PG-15

Length                    : Oneshot (5.762 Words)

Note                         :

Hai readers!!!

Kalau merasa pernah denger/baca nama Seo Eun Gi, itu adalah nama ceweknya song joong ki di Mr. Nice Guy, sekaligus nama yang aku pake buat FF Telepathy dan Late Night Coffee yang pernah kukirim kesini. But, kalian jangan salah paham ya, ini bukan lanjutan dari kedua FF itu. Jangan jadi bingung ya guys…

FF ini terinspirasi dari lagunya Seo In Young ft. Zion T yang judulnya Thinking Of You. Beberapa hari ini lagu itu kayaknya terngiang-ngiang terus di kepala, jadi aku berniat buat bikin Oneshot ini. By the way, masalah yang timbul di cerita ini super klasik dan mainstream, dan maaf kalau ceritanya ngebosenin. Hope you like it ^^

Happy reading!!!

***

 

Kyuhyun POV

 

“Kyuhyun-ssi, pulanglah denganku. Kau sudah mabuk.” Seseorang mengguncangkan tubuhku, membuat vodka yang berada di tanganku tercecer di meja. Biasanya aku minum wine, tapi belakangan ini aku memerlukan sesuatu yang memiliki kandungan alkohol tinggi.

 

 

“Sebentar lagi, Su Yeon-ssi. Sebentar lagi.” Aku berusaha menegakkan tubuhku, namun nyatanya gagal. Aku terlalu pusing.

 

 

Aku mendengar Su Yeon, perempuan yang sekarang berstatus sebagai benalu dalam hidupku mendecak sebal, lalu merapikan rambutku. “Apa yang kau lakukan? Bar sudah tutup, Cho Kyuhyun! Kau harus pulang sekarang. Lihatlah, kau sudah minum hampir 5 botol. Kau mau mati besok juga?”

 

 

“Bar ini… Bar ini milikku. Aku bebas melakukan apapun disini. Kau pulanglah.” Aku berjuang mati-matian untuk menahan rasa pusing dan mual yang melandaku. Aku sendiri terkejut karena sampai saat ini aku belum meracau seperti orang gila.

 

 

“Aku tahu. Tapi semua karyawanmu itu sudah pulang, dan aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian disini. Setidaknya pulanglah, dan kau bisa melanjutkan mabukmu di rumah.” Oh keparat. Suaranya membuatku semakin pusing.

 

 

“Seo Eun Gi. Aku sedang berusaha melupakannya. Jadi diamlah!” Aku membentaknya dengan keras, dan dia merasa terkejut karenanya. Tidak. Aku tidak akan merasa bersalah.

 

 

Su Yeon berdiri dari tempatnya dan meletakkan kunci mobil yang tadi dipegangnya di sisi kiri kepalaku. “Tidak. Kau tidak berusaha melupakannya, Cho Kyuhyun. Kau sedang berusaha untuk menarik bayangannya dari memorimu. Mengisi tempat kosong yang ditinggalkannya bukan dengan diriku, tapi dengan bayangan tentang dirinya.” Aku diam, tidak berniat menjawab. Kalau dia tahu harusnya dia pergi dari tempat ini sesegera mungkin.

 

 

“Itu kunci mobilmu. Aku pulang dulu.” Bagus. Dia meninggalkanku.

 

 

Tak lama setelah Su Yeon pergi, aku tertidur.

 

Dan pagi harinya, aku terbangun dengan seluruh tubuh sakit, kepala pusing, perut mual, dan perasaan kosong yang sama seperti kemarin.

 

***

I drank again yesterday

Because i want to fill up your empty seat

The small memories of leaning you

Now i’m the only one remembering them

***

 

Jam 10 pagi, di kantor, telepon di atas meja kerjaku berdering pelan. Aku mengangkatnya, dan mendengar suara Maggie, sekretarisku, berbicara dengan tenang.

 

 

“Bos, Nona Seo ingin menemui anda.”

 

 

“Siapa yang ingin menemuiku? Siapa katamu?” Aku memejamkan mata sambil memijat pelipisku. Rasa pusingku karena mabuk kemarin malam belum hilang. Kenapa dia harus datang sekarang?

 

 

“Nona Seo. Seo Eun Gi.” Ulangnya lagi. Aku membuka mataku dan terdiam sejenak.

 

 

“Masuk ke ruanganku sekarang.” Setelah mengatakan itu, aku meletakan telepon di tempatnya kembali, meraih segelas air dan meminum 2 butir aspirin. Sepanjang 27 tahun aku hidup di dunia ini, aku baru merasakan parahnya dampak patah hati terhadap fisikku kali ini.

 

Aku berusaha menenangkan diriku, dan bertekad untuk tidak memelas agar dia kembali padaku. Aku berusaha bertingkah senormal mungkin. Kembali menyibukkan diri dengan dokumen yang sedang kuperiksa sebelumnya.

 

 

Pintu terbuka, dan Eun Gi masuk ke dalam ruanganku. Setelah enam bulan tidak menemuinya, aku tidak menemukan perubahan signifikan pada dirinya. Oh, kau begitu cepat menyesuaikan diri, sayang.

 

 

“Ada apa?” Tanyaku. Aku berusaha untuk mengatakannya sedatar mungkin. Tapi sialannya suaraku terdengar serak. Serak dan lemah.

 

 

“Paketmu sampai ke apartemenku. Mungkin pesanan beberapa bulan lalu. Aku tidak tahu juga. Aku kesini untuk memberikannya padamu.”

 

 

Dia meletakkan sebuah kotak berukuran besar di sisi kanan meja kerjaku tanpa tersenyum. Aku sempat mencium bau parfum lamanya ketika dia menunduk untuk meletakkan kotak itu. Sayang, bahkan aku hampir lupa dengan aroma tubuhmu.

 

 

“Paket?” Tanyaku menyuarakan kebingungan.

 

 

“Sepatu, dan tas beremerek itu. Yang waktu itu… yang waktu itu kau belikan untukku.” Katanya memperjelas.

 

 

Jadi dia mengembalikan hadiah dariku? “Tapi itu untukmu. Ambillah.”

 

 

Dia tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya perlahan. “Tidak bisa, Kyuhyun. Aku tidak bisa menerimanya lagi. Bukankah kita sedang berusaha untuk saling melupakan?”

 

 

Aku menunduk sambil memainkan pena di tangan. Saling melupakan. Tidak. Aku tidak bisa.

 

 

“Bagaimana kalau aku belum… atau bahkan, tidak ingin melupakanmu?”

 

 

Eun Gi terdiam sambil menatap mataku dalam-dalam. Aku berharap aku bisa membaca pikirannya saat ini. Beberapa saat kemudian, dia mengalihkan pandangan sambil tersenyum simpul, lalu berkata, “Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal, Cho Kyuhyun.”

 

 

Dia belum menjawab apapun, namun tubuhnya sudah menghilang dibalik pintu. Aku memang terlalu bodoh untuk mengharapkan ‘sampai jumpa’ dan kecupan manis di pipi.

 

 

Namun dia berkata selamat tinggal. Tanpa menjawab pertanyaanku. Tanpa memberikan harapan, walaupun hanya setipis helaian rambut sekalipun.

 

 

Aku tidak suka pertemuan kami kali ini. Terlalu cepat dan menyakitkan.

 

***

Like a mirage, you suddenly disappeared

I don’t even remember your scent anymore

***

 

Aku mengunjungi sebuah cafe di daerah Gangnam. Sebelum kami berpisah dulu, Eun Gi sering menemaniku di daerah ini saat makan siang. Dan malam harinya, ia akan menemaniku menyelesaikan pekerjaan sambil minum di bar milikku.

 

 

Namun itu dulu. Sebelum kami berpisah. Sebelum dia memilih untuk mengakhiri hubunganku dengannya.

 

 

Long Leg Ahjussi dalam drama City Hunter berkata bahwa kita tidak boleh takut dengan bayangan karena di dekat kita pasti ada cahaya. Menurut Noona, bayangan itu adalah rasa patah hatiku, dan cahaya itu adalah Su Yeon, perempuan yang sedang tersenyum sambil menceritakan harinya di hadapanku sekarang.

 

 

Biasanya aku menyukai cahaya. Cahaya matahari, penerangan yang cukup, cahaya bulan, cahaya lilin, cahaya apa saja. Tapi saat ini aku tidak menyukai cahaya itu. Tidak samasekali.

 

 

Setelah hubunganku dengan Eun Gi berakhir, ayahku mengenalkanku pada Su Yeon. Benar-benar hanya mengenalkan. Namun si jalang itu sepertinya memiliki kepercayaan diri setinggi langit, dan menganggap hubungan kami melebihi seorang kenalan biasa.

 

 

Awalnya aku merasa baik-baik saja dengan kehadirannya. Aku tidak pernah mencoba untuk mengusirnya. Berharap suatu hari nanti mungkin aku bisa melupakan Eun Gi.

 

 

Namun sekarang, setelah aku tidak merasakan apapun padanya, dan justru semakin gila karena Eun Gi tak lagi di sisiku, aku ingin dia berhenti jadi benalu, dan pergi menjauh dari hidupku.

 

 

“Oh, kau mau berapa sendok gula pada kopimu?” Dia bertanya ketika kopi pesananku datang. Tangannya menggenggam sebuah sendok kecil.

 

 

“Apa yang ingin kau katakan?”

 

 

“Ya?” Tanyanya bingung.

 

 

“Kau memintaku datang ke tempat ini beberapa jam lalu. Apa yang ingin kau katakan?” Aku mengangkat gelas kopiku, lalu menyesapnya. Aku tidak butuh gula untuk kopiku.

 

 

Su Yeon tidak kunjung bicara. Dia hanya menunduk sambil memainkan jarinya. “Waktuku tidak banyak, Su Yeon-ssi. Sebaiknya kau cepat.”

 

 

“Lupakan Seo Eun Gi, Cho Kyuhyun. Ada aku disini.” Dia sangat terang-terangan.

 

 

Mau tahu jawabanku?

 

 

“Tidak bisa.”

 

 

“Tidak… bisa?” Katanya dengan sedikit terperangah. Baiklah, ini kali pertamaku menunjukkan penolakan padanya dengan gamblang. Aku tidak merasa jahat. Aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.

 

 

“Ya. Apa kurang jelas? Aku tidak bisa melupakan Seo Eun Gi, dan aku tidak bisa menerimamu. Aku sudah mencobanya. 1 bulan? 2 bulan? Aku sudah mencobanya, dan tetap tidak bisa. Maaf.” Aku mengucapkan maaf tanpa merasa bersalah. Biasanya aku tidak berbohong. Aku benar-benar tidak mengenali diriku sendiri.

 

 

“Lalu… kita bagaimana?”

 

 

“Kita? Selama ini hanya aku, dan kau. Tidak pernah ada ‘kita’. Menjauhlah dari hidupku.” Ucapku sambil melirik jam tangan. 34 menit sudah kulewati bersama Su Yeon.

 

 

Dia menatapku langsung di mata. Dari tatapannya aku tahu dia berharap padaku. “Aku menyukaimu, Kyuhyun-ssi. Maukah kau berusaha sedikit lagi? Untukku?”

 

 

Dan aku punya alasan untuk sangat tidak menyukainya. Dia agresif. Wanita boleh agresif, tapi jika berlebihan mereka akan terlihat murahan.

 

 

“Terima kasih karena sudah menyukaiku, Su Yeon-ssi. Tapi aku tidak ingin mengusahakan apapun untukmu. Kalaupun aku ingin berusaha, maka satu-satunya usaha yang akan kulakukan adalah mendapatkan Seo Eun Gi kembali.”

 

 

Setelah mengatakan itu, aku segera keluar dari cafe tanpa berusaha mendengarkan kalimat Su Yeon lagi.

 

***

I try to erase you in another woman’s arms

But it’s useless

I want you again, My love

***

 

Aku bermalam di kantor. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, dan aku tidak bisa melakukan hal lain lagi selain merokok dan menghabiskan berbotol-botol vodka dari lemari penyimpananku di kantor.

 

 

Sebenarnya aku sudah lama berhenti merokok. Eun Gi tidak menyukai bau asapnya. Dia akan merasa pusing jika aku merokok di dekatnya. Kadang alasan kita berhenti dari sesuatu bisa saja sama dengan alasan kita untuk memulainya kembali.

 

 

Aku sudah menghisap batang Djarum keempat dalam kegelapan. Hanya lampu kota yang menerangi ruang kerjaku, dan aku tidak peduli. Aku benci dengan kesadaranku. Ketika aku sadar, maka bayangan Eun Gi akan segera muncul.

 

 

Kami sudah menjalin hubungan selama 6 tahun. Walaupun aku bajingan, melupakannya sama saja dengan menyatukan air dengan minyak.

 

 

Seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku. Ini sudah terlalu malam untuk bertamu. Jam 12 malam, yang benar saja! Dari layar komputerku aku melihat seorang wanita mengenakan hoodie berdiri di depan pintu.

 

 

“Masuk.” Kataku tanpa tahu siapa wanita itu sebenarnya.

 

 

“Mau minum denganku?” Suara itu. Aku berharap itu bukan sekedar bayanganku saja.

 

 

“Seo Eun Gi? Kau… datang.” Tanyaku setengah tak percaya.

 

 

Setelah dia menyalakan lampu, Eun Gi berjalan menuju ke sofa di tengah ruangan. Meletakkan beberapa botol minuman keras di atas mejanya.

 

 

“Untuk apa kau datang lagi? Kita sudah… selesai.”

 

 

Eun Gi hanya memberikanku tatapan aneh. Dia menahan bahuku yang hendak mendekat ke arahnya. “Apa yang kau bicarakan? Tunggu. Jangan mendekat. Kau bau rokok. Kelihatannya kau juga belum mandi.” Dia memandangiku dari kepala sampai kaki.

 

 

“Mandilah. Aku akan menunggu.” Eun Gi melepaskan sepatu dan menaikkan kakinya ke sofa. Melihat aku yang enggan meninggalkannya, dia tertawa kecil sambil menatapku. “Aku sudah bilang aku akan menunggumu. Aku tidak akan kemana-mana. Jadi mandilah.”

 

 

Aku menyelesaikan mandiku dengan cepat, mengganti pakaian kerjaku dengan pakaian yang lebih santai, lalu aku menyingkirkan rokok dan asbak yang ada di atas meja.

 

 

Eun Gi menyuruhku berbaring di sofa dengan pahanya sebagai bantalku.

 

 

“Aku merindukanmu, Kyuhyun.” Dia menyetuhkan hidungnya pada hidungku sambil tertawa. Rambut panjangnya berjatuhan di wajahku. Aku menahan kepalanya, lalu mengecup bibirnya.

 

 

Lalu semuanya berubah. Aku masih tertidur diatas sofa, masih dengan pakaian kantorku. Bau rokok dan bau vodka bercampur jadi satu. Aku berfikir dengan kepalaku yang sepertinya segera pecah sebentar lagi. Berusaha memahami situasi di sekitarku.

 

 

“Bos, aku pulang dulu. Pulanglah ke rumahmu. Sekarang sudah jam dua belas malam. Maaf aku menyalakan lampunya. Ruanganmu sangat gelap.”

 

 

Aku terduduk, memandangi jendela kantor dari celah rambutku yang berantakan. Bulan bersinar terang diluar sana, seakan mengejek aku yang terperangkap dalam kegelapan.

 

 

Keparat. Tadi itu hanya mimpi.

 

***

Today and tomorrow i’ll think about you

Everytime the moon rises, it’ll torture me

***

 

Aku bangun sangat pagi keesokan harinya. Jam empat pagi. Ibuku bilang aku harus mandi dengan air hangat saat aku kekurangan waktu tidur agar rasa pusingku membaik. Aku menuruti nasihatnya. Rasa pusingku memang membaik, namun sama seperti bulan, rasanya air hangat juga mengejekku karena aku telah kehilangan kehangatanku.

 

 

Aku mandi satu kali lagi dengan air dingin. Ini terasa lebih ralistis dan tidak membuatku merasa diolok-olok.

 

 

Aku mengingat suatu hari dimana pekerjaanku sangat menumpuk. Rasanya aku akan segera gila jika saja Eun Gi tidak datang.

 

 

Malam itu Eun Gi datang dengan tas ranselnya pukul 1 pagi.

 

 

Dia masuk ke ruang kerjaku sambil tersenyum tanpa dosa. Berbeda jauh dariku, Eun Gi adalah tipe manusia yang cepat sakit jika kurang tidur.

 

 

“Ini sudah terlalu malam, Seo Eun Gi. Kau tidak ingat dengan pesanku tentang jangan tidur terlalu malam? Lagipula aku tidak bisa menemanimu malam ini. Pekerjaanku menumpuk.” Aku memasang kaca mataku kembali.

 

 

Eun Gi tidak mengatakan apapun. Dia meletakan tasnya di sofa, lalu mendekatiku dan mengecup pipiku sambil tertawa-tawa.

 

 

“Siapa bilang aku tidak punya pekerjaan? Deadline novelku adalah minggu depan, dan aku ingin menyelesaikannya disini. Aku akan tertidur jika mengerjakannya di apartemen sendirian. Kita sama-sama bekerja. Kau punya banyak makanan dan minuman disini. Dan lihatlah pemandangan itu! Sangat memberi inspirasi!” Dia berkata dengan semangat. Aku memeluk pinggangnya.

 

 

“ Baiklah. Aku meminjamkan kantorku untukmu, tapi ada sesuatu yang harus kau lakukan sebagai imbalannya.”

 

 

“Apa yang harus kulakukan?”

 

 

“Bangunkan aku ketika aku akan tertidur. Semua ini harus selesai besok pagi.” Aku mengarahkan tatapanku pada kertas-kertas yang berserakan di meja.

 

 

“Dengan cara ini?” Tanyanya lalu mengecup bibirku.

 

 

“Bukan. Bukan seperti itu. Pikirkan cara lain, dan sebaiknya kau segera beranjak dari tempatmu karena kita masih harus bekerja.”

 

 

“Baiklah sajangnim.” Katanya sambil membungkuk. Aku tertawa pelan melihat tingkahnya.

 

 

Dan perkiraanku benar. Tidak sampai satu jam kemudian, aku jatuh tertidur di kursi kerjaku. Namun Eun Gi berlarian ke arahku sambil meneriakan ‘Andwae’ berkali-kali.

 

 

Beberapa saat kemudian aku merasakan Eun Gi duduk di pangkuanku. “Jangan tertidur. Bangunlah, Kyuhyun.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk pipiku. Aku menarik tubuhnya, memeluknya seperti guling.

 

 

“Sebentar saja.”

 

 

Dia sempat terdiam sesaat. “Ani. Kau harus bangun sekarang.” Eun Gi melepaskan pelukanku. “Bagaimana ya?” Dia berfikir sejenak.

 

 

“Oh! Aku tahu!” Dia lalu mengeluarkan ponsel dari celananya untuk menyetel lagu rock kesukaannya dengan volume paling keras. Tanpa beranjak dari pangkuanku dia mengubah ruangan kerjaku menjadi tempat karoke dengan suaranya yang selalu under atau over pitch a.k.a fals.

 

 

Aku menyumbat telingaku dengan tisu, lalu melanjutkan tidur, masih dengan Eun Gi yang duduk di hadapanku. “Tidak bangun juga? Bagaimana dengan lagu rap? Epik High? Bigbang? Oh… Lagu B.A.P pasti akan membangunkanmu. Tungu-tunggu! Aku punya lagu BTS yang pasti akan membangunkanmu.”

 

 

Dan sesaat kemudian dia tengah mengoceh dengan tidak jelasnya dalam rangka membangunkanku dengan lagu yang belakangan ini ku ketahui judulnya adalah Skool Luv Affair. Komentarku hanya satu. Sangat berisik.

 

 

Dia tidak berbakat menjadi penyanyi. Apalagi rapper. Jangan sampai dia menari dan berakting di kantorku malam ini.

 

 

Mau tidak mau akhirnya aku bangun dan segera merebut ponselnya untuk menghentikan musik sialan yang sangat berisik itu.

 

 

“Tuan muda sudah bangun! Akhirnya.” Katanya sambil tersenyum. Jemarinya bermain disekitar wajah dan rambutku.

 

 

“Ya. Terima kasih karena telah melakukan itu, kepala pelayan Seo.” Aku berkata sambil menahan senyum.

 

 

“Aku ini kekasihmu. Bukan kepala pelayanmu. Jadi berhentilah menyuruhku melakukan berbagai hal yang bersangkutan dengan kebutuhan pribadimu.” Eun Gi turun dari pangkuanku dengan wajah merengut.

 

 

Aku menahan tangannya sebelum ia kembali ke tempatnya mengetik beberapa saat lalu. “Oh? Memangnya apa yang biasa dilakukan oleh seorang kekasih? Aku penasaran.” Aku tersnyum jahil. Menggodanya.

 

 

“Mereka saling menggenggam tangan.” Dia menggengam tanganku.

 

 

“Berpelukan.” Dia memeluk leherku sambil tersenyum jahil.

 

 

“Mengecup.” Dia mengecup pipi dan dahiku.

 

 

“Bahkan berciuman panas sepe…-“ Kini aku yang melakukannya. Alu melumat bibirnya. Menjilati dan menghisapnya bergantian. Kami berdua masih tersenyum, bahkan setelah kami memisahkan bibir kami beberapa menit kemudian.

 

 

“Berhentilah jadi gadis nakal.” Kataku sambil memukul kepalanya dengan kepalan tanganku.

 

 

Dan suara tawanya hari itu kini berganti dengan isakan tangisku yang tertahan dibawah guyuran air dingin.

 

***

Night when you sang to me

It stop me from falling asleep

***

 

“Mag, datang ke ruanganku. Bawakan aku data-data tentang perusahaan keuangan yang akan bekerja sama dengan kita. Aku ingin mempelajarinya pagi ini. Jangan lupa kirimkan email jadwal-jadwalku hari ini.”

 

 

Aku menyukai Maggie. Oh, tentu saja ini bukan hubungan antara wanita dan laki-laki. Maggie berumur 38 tahun. 11 tahun lebih tua daripadaku. Dia sudah bersuami, dan memiliki seorang anak perempuan berusia 14 tahun. Dia bekerja padaku selama 4 tahun belakangan. Dia orang Korea tulen. Orang Korea tulen yang suka memakai nama kebarat-baratan.

 

 

“Ini data yang kau butuhkan. Jadwalmu sudah kukirimkan. Setelah ini kau harus memeriksa laporan keuangan bulan lalu. Aku sedang menyiapkannya. 30 menit lagi aku akan kembali.” Sebelum pergi Maggie memberikan sekotak pil kafein padaku. “Pesananmu kemarin.”

 

 

Aku mengangguk, lalu meraih ponselku untuk melihat jadwalku hari ini. Luar biasa. Setelah memastikan untuk kedua kalinya, aku segera menelpon Maggie lagi.

 

 

“Bisakah… kau ke ruanganku sekarang, Mag?”

 

 

“Tentu saja, bos.”

 

 

Aku masih memandangi ponselku sampai Maggie berdiri di hadapanku.

 

 

“Ini gila. Tidak ada jadwal apapun? Benar-benar hanya bekerja di kantor? Maksudku… Tidak bertemu dengan siapapun? Tidak pergi kemanapun?” Kataku sambil mengeryitkan kening tak percaya.

 

 

“Ya.”

 

 

“Kau berbohong.”

 

 

“Tidak.”

 

 

“Aku akan mati bosan, Maggie. Tolong jangan bercanda.”

 

 

“Kau terlalu gila kerja, bos. Seharusnya kau senang mendapatkan satu hari penuh tanpa harus pergi kesana kemari dan bertemu dengan orang ini dan itu.” Maggie melipat tangan di depan dada, memandangiku dengan tatapan yang berarti kau-manusia-paling-aneh-di-galaksi-ini.

 

 

“Kau selalu penuh ide. Katakan padaku apa yang harus kulakukan hari ini.”

 

 

Maggie menghela nafas berat. “Tidak biasanya aku mencampuri urusan pribadimu. Tapi yang kali ini terlalu parah, bos. Hari ini dirimu harus berbenah. Tatalah perasaanmu, Kyuhyun. Kau sangat kacau dan berantakan. Kalau setiap hari rokok dan vodka sialan itu selalu bertengger di tubuhmu, kau benar-benar akan mati. Ini sudah enam bulan lebih.”

 

 

Aku tersenyum sambil memandangi wajah prihatin yang ditunjukkannya. Ketika dia mengganti ‘bos’ dengan namaku, maka dia bukan lagi sekertarisku. Dia seperti kakak kedua, sahabat, sekaligus penasihat pribadiku.

 

 

“Aku tidak bisa, Mag… Dia benar-benar menolakku. Tidak ada harapan.” Aku melepas kaca mata, lalu mengusap wajahku kasar.

 

 

“Apa kau sudah mencoba?”

 

 

“Mencoba?”

 

 

Maggie menatapku tanpa minat. “Maksudku datang kepadanya, dan minta maaf padanya, lalu ya… mungkin menghabiskan malam bersama. Apa saja… yang bisa membuatnya memaafkanmu.”

 

 

“Dia sudah memiliki seseorang, Mag.” Sebenarnya ini hanya perkiraanku saja ‘sih.

 

 

“Kau pernah lihat?”

 

 

“Well, tidak juga.” Aku bisa jadi lebih gila dari ini jika melihatnya bersama laki-laki lain dengan mata kepalaku sendiri. Benar-benar gila.

 

 

“Pernah dengar dari mulutnya?”

 

 

“Ya. Tapi tidak juga.”

 

 

Maggie mengangkat bahu lalu berjalan menuju pintu ruang kerjaku sambil membenarkan blazer kerjanya. “Kebanyakan wanita hanya bisa menunggu, Kyuhyun. Benar-benar menunggu dan menunggu.”

 

 

“Apakah menurutmu Eun Gi termasuk dalam kategori itu?”

 

 

“Kau tidak akan tahu sampai kau memastikannya sendiri. Aku tahu kau bukan laki-laki dengan ego dan gengsi setinggi langit. Jadi seharusnya melakukan itu adalah hal yang mudah.” Lalu Maggie hilang dibalik pintu.

 

 

Karena percakapan singkatku dengan Maggie tadi pagi, siang ini aku berdiri di depan apartemen Eun Gi. Dia penulis yang selalu bekerja di rumah. Jadwalnya sangat lengang, dan aku sangat sibuk. Dia seperti desa, dan aku seperti kota.

 

 

Aku baru saja hendak menekan bel, namun seorang wanita paruh baya keluar dari apartemen itu.

 

 

“Aanak muda, kau mencari Eun Gi?”

 

 

“Ne, Ahjumma.”

 

 

“Tadi pagi Eun Gi bilang ia akan hadir di peluncuran novel baru miliknya. Acaranya dimulai jam satu siang tadi.” Ahjumma itu meletakan sebuah plastik hitam di dekat pintu apartemen. Sepertinya dia orang yang membersihkan apartemen Eun Gi.

 

 

“Apa dia menyebutkan tempatnya?”

 

 

“Sepertinya diadakan di sebuah hotel. Dia tidak mengatakan nama hotelnya, tapi dia bilang dia akan mentraktir teman-temannya di restoran Jepang dekat hotel itu setelah acaranya selesai.”

 

 

Restoran Jepang? Dekat dengan hotel? Tentu saja aku tahu restoran Jepang mana yang dimaksud. “Terima kasih. Aku harus pergi.”

 

 

“Tunggu, anak muda.” Suara Ahjumma itu mengentikan langkahku. “Apa kau Cho Kyuhyun?” Dia menyentuh lenganku sambil menatapku lurus-lurus.

 

 

“Ya. Itu aku.”

 

 

Wanita itu bergegas masuk ke dalam apartemen Eun Gi, dan beberapa saat kemudian, kembali dengan sebuah amplop coklat besar di tangannya. Aku memandangnya dengan bingung.

 

 

“Eun Gi menyuruhku membersihkan lemarinya beberapa hari lalu. Dia berpesan untuk membuang semua kertas yang ada di dalamnya. Diantara kertas-kertas itu ada beberapa lembar fotomu. Di dalamnya juga ada sebuah buku tebal. Di sampulnya tertulis namamu. Aku belum membaca apapun. Tapi menurutku, aku harus memberikan ini padamu.” Katanya mengakhiri kebingunganku.

 

 

Aku menerima amplop itu dengan ragu. “Baiklah. Terima kasih. Aku benar-benar harus pergi sekarang.”

 

 

Aku meninggalkan apartemen itu secepat yang aku bisa. Setelah masuk ke dalam mobil, aku melemparkan amplop coklat ke atas jok kosong di sampingku. Acara itu dimulai satu jam yang lalu, dan aku harus cepat.

 

 

Untungnya dugaanku benar. Setelah menyuap petugas administrasi di depan ballroom, karena aku tidak memiliki tiketnya, aku segera masuk dan duduk di baris paling belakang. Ruangan ini seperti bioskop, dengan tempat duduk yang bertingkat. Dari 15 baris kursi, yang terisi hanya 8 baris kursi dari depan. Kurang lebih ada 150 orang yang hadir hari ini.

 

 

Seo Eun Gi duduk di atas panggung, tersenyum sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penonton. Untungnya tempat dudukku gelap, dan nyaris tak terIihat. Tapi sebenarnya kalau boleh jujur… acara ini lebih pantas disebut jumpa fans, ketimbang peluncuran buku.

 

 

Aku baru tahu mantan kekasihku ternyata begitu terkenal.

 

 

“Sepertinya hari ini Nona Seo sangat berbaik hati pada kita. Di bawah tempat duduk anda sekalian ada buku terbaru karangan wanita cantik ini.” Master of Ceremony dari acara ini berkata lantang. Seseorang menghampiri tempat dudukku, dan memberikan sebuah buku yang sama dengan yang 200 orang lain terima.

 

 

“Boleh aku bertanya lagi?” Seorang penonton lelaki tiba-tiba mengacungkan tangannya.

 

 

Aku memandang ke depan. Eun Gi mengangguk sambil tersenyum. Aku jadi penasaran. Apakah senyum itu palsu atau dia memang benar-benar sedang tersenyum?

 

 

“Berapa lama kau menulis buku ini? Dan… dari mana kau mendapatkan inspirasi untuk menulisnya? Ini novel roman pertamamu. Apakah kau memiliki kesulitan saat menulisnya?”

 

 

Aku menunduk, dan membaca judul buka yang ada di tanganku. Mr. Busy.

 

 

Eun Gi terdiam untuk sesaat. Dia memandangi semua sudut tempat duduk penonton. Apa dia sedang memastikan kehadiranku di acara ini?

 

 

“Itu novel paling lama yang aku tulis. Aku mulai menulisnya 6 tahun lalu, dan baru selesai tiga bulan lalu. Itu adalah kisah nyata dari seorang teman. Ceritanya agak emosional bagiku, maka aku menulisnya. Kesulitan menulis novel ini adalah menentukan endingnya. Aku… Sedikit kebingungan.” Katanya dengan tenang. Senyumnya tidak sesumringah tadi.

 

 

Setelah dia menjawab pertanyaan itu, aku membuka plastik pembungkus bukunya, dan membaca bab terakhir.

 

 

Epilogue : The Best Couple Ring Ever!

 

 

Akhinya kami menikah. Dia terlihat sangat tampan hari ini. Tidak. Bukan hari ini saja. Setiap hari dia selalu tampan. Pria sibuk ini meluangkan satu hari penuh untukku. Satu hari penuh untuk kebahagiaan. Satu hari penuh untuk pernikahan kami. Bahkan dia juga sudah mengosongkan jadwalnya selama dua minggu ke depan untuk bulan madu bersamaku ke Swiss.

 

 

Kami tidak mengundang banyak tamu. Pertama, karena aku tidak terlalu suka keramaian. Kedua, pernikahan ini dilaksanakan di dekat kebun bunga bakung yang luas di Belanda. Kenapa harus di Belanda? Tidak tahu. Aku hanya benar-benar terobsesi pada semua hal tentang Belanda.

 

 

Aku suka saat dia mencium bibirku di depan pastur tadi. Oh, tentu saja kami sering berciuman. Tapi hari ini aku memakai gaun pengantin berwarna oranye pastel, dan ada orang lain yang menyaksikan ciuman manis itu. Biasanya aku akan tertawa-tawa kegirangan setelah dia menciumku. Tapi aku hanya bisa tersenyum, sambil menatapnya, dan mengeratkan tautan jariku di tangannya.

 

 

Tapi hal yang paling kusukai adalah saat dia memasangkan cincin pernikahan pada jari manisku.

 

 

Dia selalu menolak saat aku membelikan couple ring padanya. Katanya seleraku jelek. Padahal menurutku cincin-cincin itu bagus.

 

 

Suatu hari menunjukkan couple ring dengan ukiran tulang kecil di bagian depannya. Itu hadiah anniversary untuk temanku dan kekasihnya. Menurutku itu tidak bagus sama sekali, tidak cocok untuk aku dan dia yang terhitung nyaris kepala tiga. Namun dia memaksaku untuk memakaikan cincin itu di jarinya, dan di jariku sendiri. Katanya itu selalu mengingatkannya padaku yang sangat suka memakan paha ayam sampai bersih.

 

 

Sampai hari pernikahan ini, kami masih memakai cincin itu. Kami tidak pernah melepasnya. Kami membiarkan cincin pernikahan kami berdampingan dengan couple ring itu di jari manis kami.

 

 

Dan kedua cincin itu akan terus menjadi bukti cinta kami yang tak akan habis dimakan waktu.

 

 

Setelah membacanya, aku terdiam, lalu mengangkat tangan kiriku ke depan wajah. Cincin dengan ukiran tulang kecil di depannya itu benar-benar ada disana.

 

 

Aku mulai mengerti. Buku ini bukan tentang teman Eun Gi. Buku ini tentang kami yang telah menjalani hubungan selama 6 tahun.

 

 

“Dan sekarang adalah puncak sekaligus akhir dari acara kita hari ini. Kalian bisa mendapatkan satu tanda tangan di buku kalian masing-masing dari bintang kita hari ini.” Suara MC akhirnya terdengar setelah 10 menit aku terjebak dalam keheningan yang kuciptakan sendiri.

 

 

Tak lama kemudian, semua orang yang hadir mulai berbaris. Petugas yang kusuap tadi menghampiriku, dan berkata kalau aku bisa ikut dalam antrian itu. Aku hanya mengangguk. Aku memang akan melakukannya.

 

 

Setelah hampir 2 jam aku menunggu, akhirnya antrian tersisa 4 orang lagi. Biasanya aku akan sangat tidak sabar jika harus menunggu.

 

 

Tapi Eun Gi duduk disana sambil memberikan senyum bagi setiap orang yang datang ke acaranya. Aku rela menunggu seharian jika bisa melihat senyumnya walaupun dari jauh.

 

 

Aku akhirnya beranjak dari tempatku, dan ikut mengantri. Di tanganku ada buku miliknya. Sekarang adalah saatnya. Seperti kata Maggie, aku sedang mencoba.

 

 

Aku meletakkan buku diatas meja tanpa bersuara. “Siapa namamu? Aku akan menuliskannya.” Katanya sambil menggoreskan tanda tangannya dengan sepidol di lembar pertama buku itu. Dia belum mengetahui kalau aku adalah Cho Kyuhyun.

 

 

“Tulis saja ‘Mr. Busy’.” Kataku sebelum dia mendongak kaget. Tentu saja dia mengenal suaraku dengan sangat jelas.

 

“Kyu… Kyuhyun? Bagaimana bisa?”

 

 

“Bisakah kau mengatakan padaku alasanmu kesulitan menentukan ending dari cerita ini?” Tanyaku sambil menyilangkan tangan di depan dada. Dia kehilangan kata-katanya.

 

 

“Ikut aku.”

 

 

Aku menarik tangannya, dan segera bersorak gembira dalam hati karena dia tidak menolak sama sekali. Aku yakin dia sedang menduga-duga apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi. Hari ini aku hanya perlu bicara.

 

 

Aku menyuruhnya masuk ke dalam mobilku. “Apa ini?” Tanyanya sambil memegang amplop cokelat yang kudapatkan dari Ahjumma itu.

 

 

“Bukalah, dan seharusnya aku yang bertanya apa ini?”

 

 

Eun Gi meletakan buku dan foto-foto miliku di pangkuannya dengan sangat terkejut. “Kau mendapatkan ini? Bagaimana bisa?”

 

 

“Tentu saja bisa. Mengapa kau ingin membuangnya?”

 

 

“Aku ingin melupakanmu. Bukankah sudah kukatakan waktu itu?” Katanya sambil memutar-mutar cincin di jari manis kirinya. Bahkan couple ring itu masih bertengger manis di jemarinya. Kau bukan seorang pembohong ulung, sayang. “Apa yang kau inginkan?” Tanyanya sambil menatapku tajam.

 

 

“Kau. Aku menginginkanmu lagi. Aku tidak ingin melupakanmu. Aku tidak bisa. Dan aku tidak akan bisa.”

 

 

Dia menunduk.

 

 

“Apa kau menyesal telah memutuskan hubungan kita?” Aku menyelipkan rambut panjangnya yang jatuh terurai ke telinga. Dia tidak terkejut dan tidak menolak sentuhan itu.

 

 

“Kau selalu sibuk, Kyuhyun. Selalu. Aku berusaha memahamimu selama 6 tahun. Aku tidak pernah merasa dinomorduakan karena kesibukanmu. Karena buktinya pun kau masih menempatkan pekerjaan di prioritas kedua, ketiga, keempat, dan aku tidak pernah tahu aku ada di nomor berapa.” Katanya dengan suara lemah.

 

 

“Kau selalu yang pertama.” Aku berkata, walaupun tidak yakin dengan kata-kataku sendiri.

 

 

“Omong kosong! Kau lupa kejadian satu bulan lalu? Aku hanya memintamu untuk membaca tulisanku. Sebentar saja. Tapi… Kau melemparkan kertasnya seperti sampah, dan kembali bekerja. Bahkan kau tidak ingin memberikan 5 menitmu untukku, Kyuhyun.”

 

 

Dia lalu melanjutkan, “Semua hal pasti memiliki akhir ‘kan? Seperti mobil, hubunganpun bisa rusak. Sama seperti…-“

 

 

“Kita bisa memperbaikinya.” Aku memotong perkataannya.

 

 

Eun Gi menghela nafas. “Tidak. Tidak semudah itu. Yang harus diperbaiki adalah kau. Seorang manusia. Bukan barang.”

 

 

“Kalau begitu menikahlah denganku. Kau bisa berada di dekatku kapanpun. Dimanapun. Bahkan saat aku pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnisku. Atau saat aku bertemu klien, bekerja di kantor, dan ba…-“

 

 

“Cukup, Kyuhyun.” Eun Gi menatapku dengan marah. Jenis tatapan yang aku benci.

 

 

“Ini bukan tentang aku yang ingin berada di dekatmu setiap detik. Ini tentang kau yang selalu bekerja. Apa gunanya jika aku bersamamu, tapi kau bekerja? Apa gunanya jika aku bersamamu, tapi otakmu tidak dipenuhi olehku?”

 

 

Aku menyandarkan tubuhku ke jok mobil sambil menghela nafas berat. “Aku butuh waktu. Aku sudah bekerja seperti robot selama 8 tahun. Aku butuh waktu, Seo Eun Gi. Dan aku percaya kau bisa merubah kebiasaan itu.”

 

 

“Tapi tidak dengan menikah dan tinggal bersama.”

 

 

“Kalau begitu kembalilah padaku. Kau yang super santai mungkin bisa merubahku yang super sibuk.”

 

 

Eun Gi menggeram kesal entah kenapa. “Tidak. Aku bukan Seo Eun Gi yang super santai, Kyuhyun. Aku bekerja juga. Sama sepertimu. Tapi bedanya, aku lebih waras daripadamu. Aku tidak mati bosan saat tidak ada pekerjaan. Aku mengerjakan yang harus kukerjakan di saat yang tepat. Aku bisa membagi waktuku dengan baik. Aku tahu waktu saat aku bekerja. Aku bisa menikmati waktu, dan kau tak mampu.” Eun Gi menyelesaikan kalimatnya dengan suara tinggi dan meledak-ledak. Aku hanya bisa berharap setelah ini emosinya mereda.

 

 

“Apakah aku seburuk itu?”

 

 

“Ya. Seburuk itu.” Dia membuang wajahnya. “Dan semakin buruk lagi karena kau kembali merokok.” Aku mengedarkan pandangan , lantas menemukan satu pak rokok di dasbor mobilku. Sepertinya Eun Gi mulai luluh. Dia memperhatikan kesehatanku lagi.

 

 

“Seo Eun Gi,” Aku memanggilnya. Dia hanya menoleh ke arahku tanpa mengatakan apapun. Rautnya tidak sekeras tadi.

 

 

“Aku membutuhkanmu. Jadi mau tidak mau, aku akan menganggap kau telah kembali padaku. Seutuhnya.”

 

 

Eun Gi hanya diam menatapku. Tidak mengatakan apapun. “Aku akan berubah. Aku janji. Dan saat aku berjanji, aku tidak akan pernah mengingkarinya.”

 

 

“Aku tidak tahu.”

 

 

“Biarkan aku menentukan ending dari ceritamu. Kau menginginkan sesuatu yang bahagia. Aku tahu itu. Kau mengininkan aku. Aku juga tahu itu. Kau tidak perlu ragu. Aku dan kau sama-sama membutuhkan. Aku dan kau sama-sama mencintai.” Aku menjulurkan tanganku untuk menggenggam jemarinya.

 

 

Eun Gi melepaskan genggamanku pada jemarinya dengan sangat pelan. Aku segera tahu kalau apa yang dilakukan olehnya bukan permulaan dari sesuatu yang baik.

 

 

“Maaf. Aku harus pergi. Dan aku harus membawa ini.” Katanya sambil mengangkat amplop cokelat yang ada di pangkuannya.

 

 

Dia membuka pintu mobilku, dan segera beranjak keluar. Sebelum dia benar-benar menjauh, aku teringat sesuatu. Aku memiliki satu kesempatan lagi untuk membuatnya kembali padaku.

 

***

Don’t leave, please stay by my side

It’s all because my foolish stubborness

***

 

Hari ini adalah tepat 10 hari setelah aku bertemu dengan Eun Gi di peluncuran bukunya.

 

 

Aku bercerita pada Maggie tentang pertemuanku itu. Maggie berkata dia akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Eun Gi. Aku terlalu gila kerja. Terlalu loyal dengan rekan bisnisku. Aku tidak bisa membagi waktu. Aku selalu berusaha mengerjakan segalanya sendiri meskipun punya ratusan anak buah untuk diperintah.

 

 

Tapi aku merasa begitu beruntung karena memiliki sekertaris seperti Maggie. Dia berjanji akan sedikit melonggarkan jadwal harianku. Dia hanya meminta aku untuk benar-benar mematuhi jadwalnya, dan tidak menambahkan apapun yang tidak perlu.

 

 

Bos mematuhi sekertaris?

 

 

Itu lucu. Tapi aku rasa Maggie benar.

 

 

Malam harinya setelah aku kembali dari acara peluncuran buku itu, Aku segera membaca buku bersampul hitam dengan desain cover yang sangat manly. Eun Gi menceritakan semuanya dengan begitu jelas. Dia tidak melewatkan apapun. Bagiku buku itu seperti buku harian Seo Eun Gi.

 

 

Aku senang membaca caranya menggambarkan diriku. Aku yang tampan dan maskulin. Aku yang harum. Aku yang berkulit pucat. Aku yang perfeksionis. Aku yang romantis. Sampai aku yang gila kerja. Aku yang perokok. Aku yang suka mabuk. Aku yang egois.

 

 

Terkadang dia memujaku sampai gila. Terkadang dia memakiku. Dan karena buku itu, sekarang aku tahu, gadisku yang murah senyum, tidak pernah mengeluh, cerewet, dan penggila skinship itu pernah merasa kesal juga padaku.

 

 

Hari ini Ahra Noona yang tengah mengandung, mengadakan Baby Shower Party untuk kehamilan keduanya. Awalnya ibuku melarang karena itu tidak sesuai dengan tradisi Korea. Namun sepertinya Noona sedang menyukai sesuatu yang kebarat-baratan, sama seperti Maggie. Keinginannya begitu kuat, sehingga tidak ada satu orangpun yang bisa melarangnya mengadakan acara ini. Termasuk orangtuaku, dan suaminya sendiri.

 

 

Awalnya aku tidak menganggap acara ini adalah acara penting. Aku hanya adik dari wanita yang sedang mengandung itu. Jadi apa pentingnya buatku?

 

 

Aku tidak begitu tertarik untuk hadir di acara ini. Namun setelah melihat nama ‘Seo Eun Gi’ Tertulis di daftar tamu undangan, acara ini mendadak menjadi sangat penting bagiku.

 

 

Su Yeon datang 2 jam lalu. Tepatnya 30 menit sebelum acara dimulai. Wanita itu memakai strapless dress dengan motif bunga-bunga berwarna putih dan biru. Sialannya, dia tidak berhenti menempel padaku sejak aku datang tadi.

 

 

Sedangkan Eun Gi memakai long dress berwarna hitam. Cantik dan menawan seperti biasanya. Aku selalu berusaha menghilang dari pandangannya karena tidak ingin membuatnya salah paham dengan kehadiran Su Yeon yang seperti benalu itu.

 

 

Langit mulai gelap. Sekarang adalah acara pemotongan kue, dilanjutkan dengan pembukaan hadiah dari tamu yang datang.

 

 

Aku meraih ponsel dari saku celanaku, lalu berniat untuk mengirim pesan singkat pada Eun Gi.

 

 

To: Seo Eun Gi

Setelah ini kita harus bicara.

 

 

Lalu, tak lama kemudian aku menerima balasan darinya.

 

 

From: Seo Eun Gi

Bicara? Apa lagi yang kau ingin bicarakan?

 

 

To: Seo Eun Gi

Banyak.

 

 

Aku menunggu balasan Eun Gi sampai gila. Apakah menjawab pesan itu membutuhkan waktu yang lama? Dalam sepuluh menit terakhir aku sudah mengecek kotak masuk di ponselku sebanyak sepuluh kali, sampai akhirnya pesan balasan dari Eun Gi sampai juga.

 

 

From: Seo Eun Gi

Baiklah. Dimana aku harus menunggumu?

 

 

 

To: Seo Eun Gi

Tunggu di mobilmu.

 

 

Satu jam kemudian, acara itu benar-benar selesai. Venue itu hanya diisi oleh beberapa orang teman Noona yang sedang berkumpul. Setelah memastikan Su Yeon sibuk bersama Eomma untuk membereskan hadiah-hadiah yang menggunung diatas meja untuk dibawa pulang, aku menuju ke lapangan parkir. Menuju mobil Eun Gi yang warna dan plat nomornya sudah kuhafal dengan baik.

 

 

Seperti janjinya, dia benar-benar menungguku. Aku merasa sedih juga karena melihat wanita ini kehilangan senyumnya. Kalau berpisah dariku adalah keinginannya, kenapa dia tidak merasa bahagia? Kenapa dia tidak tersenyum sebanyak dan secerah dulu?

 

 

Dia tersentak kaget ketika aku membuka pintu mobilnya. Setelah aku duduk di dalam, dia bahkan tidak menyapaku lebih dulu dan justru bertanya, “Apa yang ingin kau sampaikan?”

 

 

Aku mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menunjukkan e-mail berisi jadwalku selama seminggu ke depan. Aku tahu ini mungkin tidak akan merubah pemikirannya. Tapi toh aku sedang mencoba. Berhasil atau gagal itu nomor dua.

 

 

“Jadwalmu seminggu ke depan? Untuk apa?”

 

 

“Aku mencoba untuk berubah.”

 

 

“Ya. Itu baik untukmu.” Astaga. Aku baru menyadari betapa sulitnya menghadapi wanita.

 

 

“Aku juga sudah memindahkan semua berkas di apartemenku ke kantor. Jadi aku benar-benar hanya akan bekerja di kantor, dan akan bekerja di rumah jika benar-benar terpaksa.”

 

 

“Ya. Kau memang membutuhkan lebih banyak waktu untuk dirimu sendiri di rumah.”

 

 

Eun Gi acuh tak acuh. Tapi seperti yang pernah kukatakan pada Su Yeon, satu-satunya usaha yang akan kulakukan adalah usaha untuk mendapatkan Seo Eun Gi. “Aku meliburkan diri di Sabtu sore sampai hari Minggu. Benar-benar tidak menerima telepon dan klien yang ingin bertemu.”

 

 

“Mmm. Itu bagus.”

 

 

Dan aku mulai menyerah.

 

 

“Aku sudah memulainya sejak tiga hari yang lalu. Maggie banyak membantuku.”

 

 

“Dia memang sekertaris yang baik.”

 

 

“Seo Eun Gi…” Panggilku pada akhirnya. Dia menoleh ke arahku. “Aku ada disini bukan untuk menerima dukungan dan serentet pujian darimu. Sungguh.”

 

 

“Lalu apa yang kau inginkan?”

 

 

“Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku sudah membaca novelmu. Seluruhnya. Dan seperti yang kukatakan di peluncuran bukumu waktu itu, aku tahu kita sama-sama menginginkan akhir yang bahagia. Kita sama-sama menginginkan satu sama lain.”

 

 

Hening.

 

Lima menit.

 

Sepuluh menit, Eun Gi menghela nafas berat. Jemari kanannya memutar couple ring yang dia sematkan di jari manis kiri. Oh, sayang, sesulit itukah menerimaku lagi?

 

 

“Katamu kau sedang mencoba, bukan?”

 

 

“Ya. Aku sedang mencoba.”

 

 

Dia diam sejenak. Beberapa saat kemudian matanya menatap mataku lurus-lurus. Katanya, “Aku juga selalu menginginkanmu. Jadi berubahlah untuk diriku dan untuk dirimu. Untuk kita.”

 

 

Dan setelah dia berkata begitu, aku merasa diriku adalah laki-laki paling beruntung yang masih hidup di muka bumi ini.

 

***

From morning to evening i’m thingking of you

The happy memories, and the endless feelings

I can’t handle it by myself

***

 

Hari ini adalah ulang tahunku yang ketiga puluh. Hari ini juga adalah akhir dari hubungan kami sebagai sepasang kekasih setelah delapan tahun lamanya.

 

 

Hari ini kami mengikat janji kami di hadapan Tuhan. Kami menjadi lebih dari sepasang kekasih. Kami menjadi sepasang suami.

 

 

Tamu yang diundang tidak banyak. Eun Gi dan aku memakai setelan senada berwarna oranye pastel. Dan sejauh mata memandang, yang kami temukan hanyalah hamparan bunga bakung di negara kincir angin. Hari ini kami menikah dengan dua tiket pesawat menuju Swiss menunggu nyaman di dalam koper kami.

 

 

Hari ini Eun Gi menjalankan hari yang paling dinanti-nantikannya seumur hidup. Ini adalah hari dimana impiannya terwujud. Ralat. Impian gilanya. Semua hal yang kami lakukan hari ini sama persis dengan apa yang tertulis di novel Eun Gi, Mr. Busy. Bedanya, aku bukan lagi Mr. Busy.

 

 

Pernikahan ini mungkin sedikit aneh, dan sangat tidak biasa.

 

 

Sebenarnya aku bisa saja menolak.

 

 

Tapi aku bisa apa?

 

 

Yang meminta semua itu adalah Seo Eun Gi,

 

 

Perempuan yang kucintai sampai gila hingga nafas terakhirku terhembus nanti.

 

 

-THE END-

 

Sebenernya saya sendiri nggak tau lagunya zion T sama Seo In Young itu endingnya happy atau enggak. But, semua orang pengen happy ending, dan fakta itu nggak bisa terelakkan lagi.. Jadi begitulah jadinya… Sampai bertemu di fanfic lain!!

 

XOXO

9 Comments (+add yours?)

  1. ilhoonniee
    Mar 15, 2016 @ 13:20:34

    Aku kira mc yeoja nya suyeon eh nyatanya eungi pdhal aku brharap bngt si suyeon yg bener2 brsama kyuhyun

    Reply

  2. Fafairfa
    Mar 15, 2016 @ 19:41:42

    Waaah…akhirnyaa mr.busy jg bisa berubah yaa
    Nice story thor ^^ ternyata orang terdekat memang bisa merubah jdi lebih baik yaa

    Reply

  3. Deesungie
    Mar 15, 2016 @ 23:52:39

    Akhir yg menarik.. Eun gi agak keras juga ya.. Tp mmng bnar juga klo chokyu ny sibuk bgt gitu… Haha.. Tp gpp klo akhirny mr. busy berubah… And finally , they got married 😊😊

    Reply

  4. Han Minchan
    Mar 17, 2016 @ 16:31:49

    ceritanya manis~
    fufufu akhirnya happy ending juga #udahwaswastakutsadending

    Reply

  5. ayumeilina
    Mar 21, 2016 @ 21:37:59

    dan ini ceritanya KEREN 😆😆😆

    cintanya Cho gak berlebihan, jadi enak buat di baca dan di bayangkan.

    author 👍👍kata2nya juga oke banget…hehehe

    Reply

  6. Hara-Fujiwara
    Mar 28, 2016 @ 16:46:55

    Weeeeeh baper tingkat dewa! Au ah no comment!!!

    Reply

  7. febrikim2247
    Apr 10, 2016 @ 11:10:20

    karena nama Su Yeon ditulis lebih dulu aku kira Kyuhyun akan berakhir bersamanya tapi ternyata berakhir bersama Eun Gi. entahlah aku tidak tahu harus bagaimana, disatu sisi kasian Su Yeon biasanya sih tipe cewek kayak gini yang akan bahagia jika di FF lain tapi jika membaca dari sudut pandang Kyuhyun betapa besar dan kuat cintanya untuk Eun Gi, aku jdi setuju jika akhirnya merekalah yang bersama. but.. bagaimana nasib su yeon? apakah ia bisa menemukan kebahagiaan baru?

    Reply

  8. dndilao
    Apr 29, 2016 @ 22:07:19

    Aku kira is suyoun tokoh utama ternyata eun gi hihi ketipu aku

    Reply

  9. kylajenny
    Aug 11, 2017 @ 20:56:27

    Bagus ceritanyaaaaaa
    Suka endingnya hehehe akhirnya kyu berubah jugaaa
    Ngakak sama kalimat kami menjadi sepasang suami wkwkwk

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: