Inception

INCEPTION

Nama : L

Tittle : Inception

Genre : Mystery, Fantasy

Length: Ficlet

Rated: PG-13

With Kim Hee Chul and You

Disclaimer : Kim Heechul belong to himself but the plot and story was mine

Note: Inspired dari film Inception

It’s also posted on my blog https://stardustonneverland.wordpress.com/

***

 

Aku sedang berdiri di suatu tempat. Entah dimana. Rasanya seperti di ruang tamu. Ada sofa, lampu di pojok, lukisan di dinding. Tapi dimana ini? Aku tidak mengenali apapun yang ada. Kulangkahkan kaki. Memijak lantai parket yang berderit. Ku naiki tangga dan berbelok ke kiri. Lorong yang lumayan panjang ada di depanku. Di sisi-sisi dindingnya lagi-lagi terdapat lukisan aneh. Gambar yang tak beraturan. Kotak-kotak, proporsi yang aneh. Ketika menoleh ke depan ada seorang pria berdiri di ujung sana.

Matanya lurus-lurus menghunjamku. Wajahnya tampan namun tak berekspresi apapun.
Dengan ragu aku meneruskan langkahku, berusaha untuk mendekatinya. Lalu kulihat tangannya terulur. Aku mengangkat tanganku. Tinggal berjarak lima senti dari tangannya sebelum tiba-tiba suara alunan musik menghentakku.
***
Aku terperanjat. Melihat langit digantungi kapas-kapas putih yang berarak tiupan angin.
Kuedarkan pandanganku demi mengetahui keberadaanku saat ini. Alang-alang tumbuh tinggi tak jauh dari tempatku, sepoinya angin membuatku hanyut. Rasanya ingin kembali memejam mata.
Suara-suara gesekan daun bergemerisik semakin membuat hikmat suasana. Tak peduli lagi ada dimana diriku. Tempat asing yang nyaman tak boleh dilewatkan dengan kerisauan. Mungkin tak lama lagi Momster (gabungan kata dari Mom dan Monster) akan membangunkanku. Mungkin kami hanya sedang piknik. Dan benar saja. Aku mendengar langkah kaki.
Ketika membuka mata, seorang pria sedang berbaring disampingku. Wajah kami berhadapan. Ah! Dia lelaki yang tadi. Dia mengulas senyum manis. Angin bertiup memainkan rambutnya dan tanpa sadar tanganku bergerak menyingkirkan tiap helai yang menutupi wajahnya. Ia melakukan hal yang sama padaku. Masih dengan senyumnya. Lalu tatapannya melembut. Seiring wajahnya yang kian mendekat, aku memejamkan mata dan menunggu.

Tunggu! Kenapa aku membiarkan seorang asing menciumku?!

Seketika ku buka mataku. Namun pria tadi sudah tak ada. Ilalang cokelat juga menghilang. Tak ada awan lagi, bahkan tak ada tiupan angin. Yang ada hanya pintu cokelat tepat di depan hidungku. Ku tolehkan kepalaku. Bukankah ini lorong itu? Tapi lukisan-lukisan yang menggantung itu seperti sedang melotot padaku. Menatapku tajam. Mereka tertawa!

Secepat kilat kubuka pintu itu dan berlari masuk. Membanting cukup kuat untuk menutupnya kembali.

Ketika berbalik. Ku lihat ranjang dengan sprei biru berbunga-bunga kuning. Ada seseorang di atasnya. Aku bergerak mendekat ke sisi kiri ranjang. Eh? Dia laki-laki yang tadi? Apa dia sedang tidur? Ataukah mati?
Aku mengulurkan tanganku.

Tap!

Aku membelalak. Dia menangkap pergelangan tanganku.
Ku coba menarik kembali tapi nihil. Dia keras seperti batu.

“Kau sudah selesai?”

Aku tersentak kaget mendengarnya. Nada suaranya super sinis. Matanya membelalak tajam menatapku. Dia berdiri dalam sekali gerak tanpa melepasku. Jubah hitamnya bergerak-gerak seperti ditiup angin. Nyalang matanya membuatku menciut ketakutan.
Lalu dia menerjang ke arahku. Membuatku mau tak mau memejam mata.

Secepat pejaman mataku, secepat itu juga aku membukanya.
Laki-laki itu berdiri dihadapanku. Menyeringai.
Kuedarkan pandanganku. Tak dapat menemukan ranjang bersprei cantik tadi. Tak ada kamar yang hangat. Semuanya lenyap berganti kekosongan yang gelap gulita.

Aku semakin ketakutan saat menyadari pijakanku sedari tadi hanya lapisan kaca tipis. Api yang berkobar di bawah sana telah siap menelanku. Apakah itu neraka?

“Times up.”

Lelaki itu berbisik. Seringai di wajahnya tak pudar. Ku coba bergerak ketika ia dengan sangat pelannya melangkah mundur. Tubuhnya bagaikan kapas yang ringan. Kaki memijak sekali lalu melayang, mundur beberapa meter. Terus begitu hingga ia mencapai tebing yang terlihat aman. Sangat kontras dengan keadaanku.

Aku menunduk, menatap kaca tipis di bawahku ketakutan. Bagaimana jika aku jalan dan semuanya jadi pecah? Bagaimana nasibku?

Kupandangi lagi lelaki itu. Berharap dia tak melakukan apapun atau melakukan apapun untuk menolongku. Tapi pikiran itu ternyata hanya angan saja, dia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah kapak besar yang kemudian ia ayunkan menghantam kaca yang kupijak. Sedetik kemudian semuanya lebur. Aku belum sempat berpikir apapun. Hanya mampu menahan napas dan kegelapan segera menyelimuti.

 

***

 

Silau matahari menusuk ke dalam mataku. Ku buka dengan pelan dan melihat langit-langit. Aku bangkit dengan cepat lalu menyadari bahwa semuanya hanya mimpi. Yeah, hanya mimpi.

Aku masih di ranjangku yang bersprei bunga-bunga kecil kuning. Aku masih di kamarku. Ini memang kamarku yang hangat. Sejenak aku terpaku pada sebuah pigura yang ada di dinding. Diriku dan lelaki itu. Gaun pink berpasangan dengan tuxedo hitamnya membuatnya begitu tampan berkali lipat. Ah! Ngomong-ngomong dimana sih lelaki itu? Tak biasanya dia bangun sepagi ini. Kuputuskan untuk beranjak dari kasur.

 

Keluar dari kamar, aku terhenti dan mengamati lukisan-lukisan Picasso yang seperti berbaris di dinding. Memang hanya replika, karena lukisan-lukisan aslinya terlampau mahal untuk mampu ku miliki. Dahiku tiba-tiba berkerut mendengar suara alunan musik. Mahler masih terlalu pagi untuk hari ini.

 

“Honey!” aku berseru memanggil suami tampanku (tertawa). Berjalan ke ruang keluarga dimana gromophone miliknya berada, namun lelaki itu tak ada. Dimana dia?

 

“Hee?! Kim Heechul!” memanggil lagi. Menuju dapur, melihat ke ruang tamu lalu berhenti di lorong karena dirinya berdiri di sana menghadap jendela, membelakangiku.

 

“Kenapa tak menjawabku?” berkata manja dan memeluknya dari belakang, aku menyandarkan kepala di punggungnya. Tiada jawaban.

 

“Honey?”

 

Lalu dia berbalik. Membuatku tertegun karena mengingat mimpiku semalam. Lelaki dalam mimpi itu suamiku sendiri. Kim Heechul. Dengan ekspresi sama. Otakku mulai menyebarkan rasa takut keseluruh tubuh; bergetar, jantung berdegub dan napas berat.

 

“Selamat pagi sayang.” Sapanya menyungginggkan senyum. Tapi bukan jenis senyum yang biasa ia tebar sehari-harinya. Dia mencengkram tanganku. Tiba-tiba tubuhnya berbalut jubah hitam. Tidak! Tidak mungkin! Dia menarikku melompat keluar jendela.

 

“Hey! Hey! Darling! Wake up! Are you alright?”

 

Wajah tampan beraut cemas terpampang di depanku. Dengan napas tersengal dan masih ketakutan aku mendorong lelaki itu yang langsung memasang raut penuh bertanya.

 

“Kau baik-baik saja sayang? Bad dream about me?”

 

Ia mendekat lagi untuk membelai pipiku. Masih setengah ragu aku menahan tangannya untuk menangkup pipiku. Merasakan hangat yang menjalar dari sana. Mimpi apa itu?

 

“Aku melihatmu menjadi pencabut nyawa.”

 

Aku menggeleng memejam mata dan memilih bersandar di dadanya. Mendengar detakan jantungnya. Tunggu! Aku tak mendengar apapun!

 

“Kau tidak bermimpi sayang,”

 

Ketika mataku terbuka, yang kulihat hanya kobaran api tepat di depan mataku.

 

 

 

Fin.

5 Comments (+add yours?)

  1. jungyoohee
    Mar 21, 2016 @ 19:15:58

    What the?? Tengang sort of great, tapi kurang jelas. Atau mungkin iq aku yg gk nyampe, great! Arghh Inception is one of my favourite movie, and you made it so good onto this FF! Thanks! ^^

    Reply

  2. ayumeilina
    Mar 21, 2016 @ 21:03:39

    seraammmmm…
    kata2nya keren 😊😊
    Heechul mah emang cocok jadi malaikat pencabut nyawa 😆😨✌✌

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: