Simply Beautiful

Simply Beautiful Poster

 

 

AUTHOR : Septia08880 (@septia08880)

 

JUDUL : Simply Beautiful

 

MAIN CAST : – Kim RyeoWook (SJ)

  • Shim SeoRin (OC)
  • Cho KyuHyun (SJ)
  • Han IlJin (OC)
  • Lee DongHae (SJ)
  • Park SoNeul (OC)

 

GENRE : AU, ER, Romance, etc.

 

RATING : PG-15

 

LENGTH : Oneshot

.

.

.

Warning: This story is mine but the cast isn’t mine. Terdapat adegan romantis?/ di mana perlu menyiapkan kantung kresek untuk menjaga keselamatan masing-masing, sangat boring dan biasa. Sudah di post di blog pribadi, happy reading, guys!

 

Why you’re pretty, where you are so pretty

Why I’m holding your hand–I know you’re curious

Why I like you, what about you I like so much

If you ask me then I’ll say the same thing

Simply, It’s simply, Baby simply,

You’re simply beautiful

 

SeoRin merengut sebal.

Ia menghempaskan tubuh bagian belakang pada kursi berbahan besi dengan keras hingga membuat bokongnya sendiri kesakitan dan sampai mengeluarkan suara meringis.

Tapi tak apa, rasa kesalnya masih belum lenyap pada seseorang. Seseorang yang duduk di sampingnya. Pada pria yang selalu membuat dirinya gila tak karuan namun juga bisa membuat ia jengkel sampai ingin menimbun makhluk Tuhan ini enam kaki di bawah tanah.

Ah! Memang duduk di bawah pohon besar ditambah angin sepoi menyegarkan adalah salah satu surga dunia yang gratis.” RyeoWook menepuk-nepuk ke dua tangannya di atas paha, membersihkan debu yang hinggap di celana jeans miliknya.

“Kau tahu—“

“Aku tak tahu dan tak ingin tahu!” ujar SeoRin ketus yang berhasil membuat RyeoWook bergeming sejenak lalu kemudian RyeoWook menatap kekasihnya dengan teliti. Ada apa dengan gadis ini?

Ia baru menyadari bahwa SeoRin duduk agak jauh darinya, seperti membuat sebuah jarak. Tangan kiri SeoRin juga tengah mengepal-ngepal, wajahnya dingin tak berekspresi, dan terakhir sebuah tanda yang meyakinkan RyeoWook akan sesuatu adalah, hela napas keras keluar dari mulut SeoRin, membuat poni rambutnya sedikit bergerak.

“Kesal padaku, ya?”

“…”

SeoRin masih setia tak membuka mulut, ia masih kesal dan mencoba mengontrol dirinya sendiri agar tak meledak di tempat umum, selain karena ia akan mempermalukan diri sendiri ia juga bisa mencelakakan harga dirinya sebagai perempuan karena tega memarahi kekasih mungilnya.

RyeoWook sedikit khawatir melihat SeoRin yang terus-menerus mengepalkan tangannya, dan bersalah karena ia satu-satunya si tersangka yang harus disalahkan di kasus ini. Ia berinisiatif membantu menenangkan SeoRin, dimulai dari posisi duduknya bergeser mendekat pada SeoRin.

“Kenapa kau memaksaku untuk mengenakan pakaian yang sama denganmu?” Nada suara SeoRin bisa dibilang bersahabat sekarang, walau masih terdengar sedikit gusar.

“Baju pasangan ini? Ya Tuhan! Kau kesal karena ini?” RyeoWook terheran dengan SeoRin, selalu saja ia dikagetkan dengan segala alasan kesal SeoRin padanya. “Kita adalah sepasang kekasih, ‘kan? Jadi wajar saja bila sesekali memakai sesuatu yang sama. Kau hampir membuatku mati mendadak ketika melihat tingkah dinginmu ini.”

“Aku tak bisa menerima alasanmu. Alasan macam apa tadi? Kekanakan! Pokoknya, sebelum kau membeberkan alasan yang masuk akal, jangan harap aku akan menatapmu. Aku akan membuatmu seharian diliputi rasa bersalah,” ancam SeoRin. RyeoWook membuat mimik kecewa, ia harus menyuruh otaknya bekerja lebih keras untuk mengubah kekasihnya menjadi jinak kembali. Ada rasa penasaran menghinggapi pria bermarga Kim ini, saat mereka belum pergi, SeoRin tak meluncurkan ucapan protes apapun ketika disuruhnya memakai baju pasangan ini. Tapi saat tiba di sini, sikapnya menjadi berubah.

RyeoWook menyandarkan kepala di kepala kursi yang memanjang ini, ia menutup ke dua matanya dan merasakan semilir angin. Siapa tahu dengan begini ia mendapat sebuah ide brilian yang bisa membuat kekasihnya tak berkutik.

Semuanya terdengar sunyi di pendengaran RyeoWook. Mengatur napas menjadi lebih rileks malah membuat ia mengantuk. Dipikir kembali, daripada harus pusing memikirkan ancaman SeoRin, akan lebih bijak ketika memanfaatkan waktu ini untuk tertidur. Lengan tangan kanan menutup mata yang tengah tertutup, menghalangi sinar matahari. Walau sudah terlindung oleh dedaunan yang menggantung di pohon, tapi posisi seperti ini membuat ia akan cepat terlelap.

Oh, Tuhan!”

RyeoWook menyentakkan tubuhnya tak sadar karena sedikit terganggu oleh pekikan seseorang, tapi dengan cepat ia merasa tenang dan kembali tertidur.

SeoRin bangkit dari kursi, ia melangkah dengan cepat setelah matanya tak sengaja melihat anak kecil terjatuh tak jauh dari kursi yang ia duduki bersama RyeoWook.

“Kau tak apa-apa?” Digapainya tubuh anak kecil yang tersungkur itu lalu dibantu olehnya supaya duduk dengan nyaman di atas rerumputan. Tangannya menepuk-nepuk kecil pada baju anak tersebut, membersihkan debu yang menempel.

“Sakit.”

Sebuah kata yang membuat SeoRin kalut karena diucapkan oleh si anak perempuan dengan suara bergetar –menahan tangis-. SeoRin menatap wajah kecil itu dengan khawatir, mimik gadis kecil ini sangat menyedihkan, sebuah raut yang membuat orang yang melihatnya akan merasakan rasa sakit yang sama.

“Mana yang sakit? Akan aku coba untuk menyembuhkanmu.” SeoRin memberi anak itu sebuah kata yang dirasa akan menenangkan dirinya, telunjuk kecilnya mengetuk-ngetuk bagian lutut kiri. Pandangan SeoRin beralih, menemukan rok yang menutupi lutut milik gadis kecil ini kotor sekali. Perasaannya makin tak karuan.

“Boleh Kakak lihat lututmu?” Anak kecil itu mengangguk.

Dengan sikap hati-hati, SeoRin mengibaskan rok si anak kecil. Jantungnya bekerja lebih cepat karenanya, degupannya sama dengan degup jantung seseorang pejinak bom, dan “Astaga! Kau berdarah, bagaimana ini?”

***

RyeoWook merasa tersedak oleh ludahnya sendiri.

Ia dipaksa untuk bangun karena suara gaduh tadi tidak bisa membuatnya tidur lebih lama kemudian ketika ke dua matanya terbuka dia malah disuguhi sebuah pemandangan yang cukup…, aneh dan janggal.

Pemandangan yang membuat keningnya mengerut berlipat-lipat, membuat dirinya merasa harus ke dokter mata terdekat memeriksakan bahwa matanya masih bekerja dengan benar juga merupakan sesuatu yang menggelitik hati namun sebuah senyuman tulus keluar ketika melihatnya. Dan bisa juga sebuah pemandangan bersejarah bagi dirinya sendiri.

RyeoWook menangkap semua kejadian yang jarang dilihatnya dengan baik dan seksama, melihat iblis berhati batu itu menjelma menjadi sesosok malaikat tak bersayap. Melihat makhluk tak berperasaan itu tengah jongkok sembari meniup-niup lutut seorang anak kecil dengan raut khawatir.

Setelah mendengar bahwa anak kecil itu sudah tidak sakit lagi, SeoRin mengelus rambut lurusnya dengan sayang dan diakhiri dengan sebuah senyuman tulus. Senyuman yang membuat semua malaikat iri akan lengkungan bibir tipis itu, sebuah senyuman yang menggetarkan dada RyeoWook dengan hebat.

RyeoWook yang memandang itu semua hanya tersenyum dan kembali disadarkan akan sesuatu, bahwa SeoRin adalah seseorang yang tidak boleh ia sia-siakan. Ia harus menjaga SeoRin seperti apa yang ia lihat sekarang, membuatnya ceria kembali saat dalam keterpurukan, walaupun ia memilik sikap atau tingkah laku yang selalu di luar dugaan. SeoRin tetaplah perempuan yang cantik dengan caranya sendiri.

“Kau ke sini dengan orangtuamu, ‘kan?” GaEun mengangguk, “Baiklah kalau begitu, aku harus mengantarkanmu pada mereka. Kau harus cepat diobati, tapi sayangnya aku tak membawa apapun. Aku akan menggendongmu dan kau harus memberitahu tempat orangtuamu berada. Setuju?” SeoRin mengacungkan jari kelingking miliknya, menanti balasan pautan kelingking dari anak kecil ini. Baik SeoRin maupun GaEun tersenyum ketika akhirnya janji mereka diikat oleh sepasang kelingking yang saling terpaut.

Ayo! Kita bertemu orangtuamu,” ujar SeoRin semangat membuat GaEun tergelak sesaat karena suara SeoRin sangat lucu. Sebelum kembali melangkah, pandangannya beralih menatap kursi dan melihat orang yang mengenakan baju yang sama dengannya masih tak merubah posisi. Membuat SeoRin kembali merasa sebal.

***

SeoRin telah mengembalikan anak kecil itu kepada orangtuanya, dan hal itu membuat ia bernapas lega. Ia kembali ke tempat duduk asalnya dan melihat RyeoWook sudah terbangun. Kim RyeoWook menatap dirinya yang sedang berjalan mendekat padanya.

“Kau darimana?” tanya RyeoWook sesaat setelah ia duduk di sampingnya. “Aku habis dari toilet.” Balas SeoRin asal.

“Masih kesal padaku?”

“Aku makin kesal padamu.”

RyeoWook kembali tersenyum akibat sikap sang kekasih yang membuat RyeoWook semakin gemas pada SeoRin. Tangannya menggenggam lembut tangan kekasihnya. Hangat terasa menjalar ke seluruh tubuh, sebuah rasa menyenangkan yang tak bisa dilukiskan oleh apapun. Perasaan paling tenang yang pernah ada dalam hidup RyeoWook, sebuah sensasi yang membuat tubuh RyeoWook merinding nikmat. Memegang tangan SeoRin.

“Apa yang kau lakukan?” SeoRin sedikit menyentak RyeoWook karena perlakuan tiba-tiba ini, tangannya masih digenggam.

“Memegang tanganmu.”

“Kenapa kau melakukan ini?” SeoRin mencoba melepas genggaman RyeoWook, “Bisakah kau diam?” RyeoWook semakin mengeratkan tangannya di tangan SeoRin. Dan sensasi menggelitik itu kembali ia rasakan di dadanya. Berbeda dengan SeoRin, ia memikirkan cara agar ke dua tangan mereka terlepas.

“RyeoWook, aku mohon. Lepaskan tanganmu.” SeoRin gelagapan sekarang, ia harus segera melepaskan genggaman tangan RyeoWook. Tubuh SeoRin selalu bereaksi berlebihan dengan semua sentuhan yang diberikan dari tangan RyeoWook. Ia bisa sampai tak tahu lagi cara bernapas, dan SeoRin belum siap akan itu.

“Kenapa? Bukannya kita adalah sepasang kekasih?”

“Memang iya, tapi tetap saja aku kaget dengan tingkahmu ini. Kenapa kau seakan terobsesi memegang tanganku? Jangan terlalu kuat, bodoh! Bila sampai tanganku memerah, ku jamin kau tak selamat.”

“Tidak akan.”

“Kim RyeoWook, “ ucap SeoRin merajuk frustasi.

“Kau begitu cantik, dan aku mencintaimu. Makanya aku memegang tanganmu seperti ini.”

“Gila kau!” Apa yang diucapkan SeoRin sangat berbeda dengan kondisi tubuhnya yang mulai bereaksi atas sentuhan dari RyeoWook. Semuanya terasa sangat menyenangkan, bahkan semilir angin pun terasa sangat menyejukkan.

“Aku tak gila, aku hanya berbicara jujur.” RyeoWook berhasil mempertemukan matanya dengan mata SeoRin, membuktikan apa yang ia ucapkan sampai SeoRin tak dapat membuka mulut lagi. Tenggelam dengan iris mata kebenaran RyeoWook.

“Hei, lagipula kau berlebihan. Digenggam halus seperti ini kau bilang sakit. Dasar perempuan korban drama!” Mendengar hal ini, sukses membuat mata SeoRin membulat sempurna. RyeoWook tersenyum mengejek, senyuman di bibirnya berubah menjadi senyum miring. Ia menantang SeoRin setelah membunyikan genderang perang.

Oh, jadi kau ingin aku siksa di sini, hah?” Tak lama setelah mengucapkan kata tersebut, tangan SeoRin yang bebas dari genggaman RyeoWook berhasil mencapai pinggang lelaki itu dan mulai melakukan kegiatan menyiksa sang kekasih. Menggelitik RyeoWook hingga ia tak berdaya dan menyerah.

 

The End

***

If you put more makeup on, it just covers your beauty

Honey it’s all meaningless

You still don’t know, no matter how much I tell you

I know you’re nervous, thinking that it’s all a sweet lie

But I only have you, you’re simply perfect

 

Sudah hampir satu setengah jam KyuHyun duduk diam di kursi yang bertempat di sebuah restoran mewah. Menunggu seseorang yang akan menemaninya makan malam, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Bila seperempat jam lagi ia masih duduk tanpa memesan apapun, resiko diusir dari restoranpun menunggunya.

KyuHyun menatap layar handphone-nya, melihat kurang lebih lima puluh panggilan ditujukan pada perempuan yang ditunggunya namun tak pernah dijawab. Perasaannya sedikit was-was, takut akan sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Mengingat IlJin adalah perempuan paling ceroboh yang mewarnai kehidupannya. Dan mungkin, KyuHyun sudah tak bisa menghitung berapa gelas air bening yang ia minum untuk menghalau perasaan tak enak yang mucul dari alam bawah sadar yang sedang ketakutan ini.

“Maaf aku terlambat.” KyuHyun menggeser posisi kepalanya setelah mendengar suara kursi berderit nyaring. Ia menatap IlJin yang berpenampilan rapi namun sedikit acak-acakan. Tangan mulus milik IlJin mengusap-usap kening, membersihkan keringat yang ke luar.

“Jadi, kau sudah memesan makanannya?” IlJin tersenyum miris melihat meja yang menjadi sekat antara dirinya dan KyuHyun masih kosong. Terlebih dahulu ia mengatur napas, menenangkan detakan jantung yang masih bergerak kencang akibat kegiatan lari-lari dari tempat parkir sampai tiba di sini.

“Aku sudah kenyang.” IlJin menggigit bawah bibirnya refleks, matanya menatap wajah KyuHyun dengan perasaan malu luar biasa. Bahunya lemas manakala melihat wajah tak terbaca KyuHyun. Sorot matanya mengintimidasi namun sebagian rautnya menggambarkan bahwa ia kecewa luar biasa.

“Apakah aku harus aegyo di sini, agar aku bisa melihat wajah menawanmu lagi?” Dengan tiba-tiba, IlJin memiringkan wajahnya ke arah kiri, ke dua tangannya mengepal menopang dagu. Ia mulai melakukan posisi aegyo untuk KyuHyun.

Cara seperti ini selalu berhasil mengubah suasan hati KyuHyun menjadi lebih baik. IlJin selalu membuat dirinya tenang terlebih dahulu dan menunjukkan pada kekasihnya bahwa ia baik-baik saja. Selama empat tahun mereka menjalin hubungan, IlJin tahu di luar kepala apa saja yang dapat membuat KyuHyun kesal, kecewa, marah, dan ia juga sudah bisa mengatasi masalah seperti ini.

KyuHyun memandang IlJin dalam, melihat IlJin sedang melakukan pose-pose aegyo yang ia sering lihat tapi ajaibnya ia masih merasakan sensasi seperti baru pertama kali melihat hal tersebut, entah mengapa. KyuHyun menimbang-nimbang apakah ia langsung bilang memaafkan IlJin atau mempermainkan gadis ceroboh ini sebentar. “Ayolah, KyuHyunie-yong. Perutku lapar.”

“Baiklah, tapi aku pesankan makanan untukmu saja. Karena aku telah kenyang.” Akhirnya, KyuHyun memilih untuk memaafkan gadis ini.

“Kau sudah makan terlebih dahulu?”

KyuHyun tak menjawab pertanyaan IlJin. Juju saja, apa yang ia bilang memang benar adanya. Akibat puluhan gelas berisi air yang diminumnya seraya menunggu kedatangan IlJin tadi berhasil membuat perutnya kembung dan selera makan itu menghilang begitu saja. Dan apabila alasan tadi ia sebutkan pada IlJin, mungkin ia akan habis jadi bahan olokan.

“Kalau begitu, aku menunggumu sampai lapar kembali. Agar kita bisa makan bersama.” IlJin tersenyum kekanakan, seakan bangga terhadap apa yang ia ucapkan barusan. “Aku setuju.” KyuHyun menganggukan kepala.

“IlJin, kau—”

“Iya?” IlJin kembali memposisikan kepalanya menghadap KyuHyun, setelah sebelumnya matanya menjalar ke segala arah yang bisa ia jangkau.

“Kenapa kau sampai terlambat seperti ini?” KyuHyun mulai mengeluarkan pertanyaan yang mengganjal di kepalanya.

“Aku terlalu lama berdandan di salon, dan yah aku terjebak macet,” jawab IlJin enteng. Mendengar ini, mata KyuHyun kembali bergerak liar menatap IlJin. Menatap dengan teliti penampilan dan setiap inci wajah IlJin, wajah hasil polesan di salon.

IlJin memakai sebuah long-dress berwarna ungu cerah yang membalut tubuhnya pas. Rambut panjangnya dikepang. Dan untuk urusan riasan, entahlah tapi di mata KyuHyun tidak ada yang spesial dengan hal tersebut walau saat pertama kali sempat sedikit kaget karena riasan IlJin lebih ‘berani’ dari biasanya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yang salah denganku?” Kali ini giliran IlJin bertanya dengan gugup. Ia sedikit memundurkan tubuhnya, mendekatkan punggung pada kepala kursi. “Kau nyaman dengan riasanmu?”

“Memangnya ada apa dengan wajahku?” Dengan cepat, IlJin mengeluarkan sebuah kaca kecil dari tas miliknya.

“Ya Tuhan! Riasanku sedikit luntur ternyata. Pasti akibat keringat tadi. Bagaimana ini?” IlJin membentuk sebuah mimik masam, kecewa dengan riasannya. Ah, dasar! Padahal bukan itu maksud pertanyaan KyuHyun pada IlJin.

“Aku harus ke kamar kecil dulu, aku akan merapikan ini.” Telunjuk IlJin berputar-putar di depan wajahnya. Ia kemudian bangkit, “Oh iya, kau juga bisa memesan makanannya selagi aku di toilet. Karena aku pikir aku akan lama mengurus ini.” KyuHyun membalas nasehat IlJin dengan anggukan sekenanya. Hah, artinya ia harus menunggu kekasihnya lagi.

***

Kurang dari delapan menit lagi, tenggang waktu KyuHyun akan diusir dari resotan ini namun semuanya tak akan terjadi karena bisa dilihat sudah tersaji berbagai makanan di mejanya. Selang satu menit dari kepergian IlJin, KyuHyun mulai memesan makanan yang paling enak di sini.

Ke empat jari tangan KyuHyun diketuk secara estafet di atas meja dengan dagu ditopang oleh tangan yang satunya. Sebenarnya, KyuHyun merasa tak enak hati pada sang kekasih. Selain karena memang terjebak macet, pasti IlJin harus mengalami hal yang sedikit berat untuk bisa menemaninya sekarang. IlJin adalah seorang yang masih sibuk dengan pekerjaan barunya, tapi IlJin tetap menyatakan setuju ditambah senyuman tulusnya saat dipinta KyuHyun akan hal kecil yang bisa membuat hubungan mereka makin erat.

“Kau sudah memperbaiki riasanmu?” tanya KyuHyun setelah ia mendapati IlJin menuju ke kursinya kembali. Ke dua alis KyuHyun hampir menyatu, tersentak karena sesuatu. Pada penampilan IlJin, tentunya.

“Aku menghapus make-upku, tidak seluruhnya. Karena akan lama bila diperbaiki. Tidak apa-apa, ‘kan?” Senyum KyuHyun melebar, ia terpana dengan wajah IlJin sekarang. Percayalah, KyuHyun jatuh kepada pesona kecantikan IlJin ditambah dengan polesan tipis daripada ketika bahan-bahan kimia tadi menutupi wajah IlJin.

“Aku tidak apa-apa. Aku malah senang dengan penampilanmu sekarang,” jujur KyuHyun dibarengi gelengan kepala ringan. Wajahnya dimajukan lebih dekat mengahadap IlJin, merekam pahatan indah hasil tangan Tuhan lalu dikuncinya kenangan saat ini dan akan ia simpan dengan nyaman di memori otaknya. Ada perasaan meletup-letup di diri IlJin manakala mendengar ucapan KyuHyun, hanya saja masih terdapat perasaan bahwa apa yang dikeluarkan dari mulut KyuHyun adalan segelontor kata bualan.

“Kau bohong! Justru dengan penampilan sederhana macam ini, aku tak bisa menjadi spesial di matamu.” IlJin memberanikan diri untuk menyampaikan sedikit apa yang ia rasakan ketika riasan itu menghilang dari wajahnya. Tiba-tiba, ujung hidung mancungnya dicubit gemas oleh dua jari tangan KyuHyun, IlJin memekik karena kaget dan sakit. Mulutnya mengerucut ke depan. “Aku berbicara yang sejujurnya. Aku lebih menikmati kecantikanmu sekarang.”

“Aku tak mengerti denganmu, aku lebih nyaman bila wajahku dipercantik dengan make-up tapi kau lebih memilih ketika tak ada yang ditempelkan di wajahku. Bukankah bahan kimia itu dibuat untuk memoles wajah pemakainya agar lebih memesona?” IlJin sekarang mulai protes dengan kejujuran KyuHyun. Oh, astaga bukankah seharusnya IlJin lebih lega mendengar KyuHyun yang sangat menikmati wajah IlJin dalam keadaan polos? Tidak ingin memperpanjang perbincangan ini menjadi sesuatu yang dapat menimbulkan cekcok antara ia dan IlJin, KyuHyun mendiamkan IlJin dulu. Ia mengerti dengan sangat, mungkin perkataannya barusan menyinggung perasaan IlJin karena menurut kekasihnya, KyuHyun tak menghargai usaha IlJin agar lebih ‘istimewa’ dari biasanya.

“Tapi, bagaimanapun aku juga tak mengerti padamu.” KyuHyun mulai membeberkan maksud perkataanya lebih jelas. Air muka keruh IlJin secara perlahan berubah menjadi mimik tanya. Dalam situasi seperti ini, mau KyuHyun atau IlJin harus berani untuk mengeluarkan pandangan masing-masing dan saling mendengarkan dengan tulus agar masalah sepele menjadi tak besar dan tak berkepanjangan.

“Kenapa?”

“Sebelumnya, aku meminta maaf padamu karena terdapat perkatannku yang menyinggung hatimu. Aku juga tak mengerti padamu. Asal kau tahu, aku lebih jatuh cinta padamu lagi ketika melihatmu seperti ini. Make-up yang kau pakai barusan malah menutup kecantikan luar biasamu. Jantungku berdegup sangat kencang hampir copot malah saat melihatmu berjalan kembali dengan wajah seperti ini.” KyuHyun mengelus pipi IlJin pelan, merasakan bagaimana lembutnya kulit wajah kekasihnya. Ia berusaha meyakinkan IlJin melalui pancaran mata. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bagaimana cantiknya IlJin sekarang. Semburat berwarna merah muda menghiasi ke dua pipi IlJin, ia sedikit menundukkan kepala. Tak kuasa menghadap wajah tampan seorang KyuHyun.

“Ada sesuatu yang harus aku ucapkan padamu.”

“Apa itu?” tanya IlJin.

“Empat tahun lalu, aku melihat seorang perempuan ke luar dari rumahnya dengan baju tidur bercorak gambar kartun. Rambutnya ia ikat rapi, langkah kakinya ringan sekali. Mulutnya tak lelah bersenandung indah. Tak lupa, ia juga menyapa setiap orang yang dikenalnya dengan sebuah senyuman yang memabukkan. Dan tebak, apa yang aku rasakan? Semua yang disekitarku berasa sangat indah, aku seperti dilemparkan ke sebuah taman cantik nan rupawan. Aku jatuh cinta padanya.”

“Ya Tuhan. Apa yang sedang kau bicarakan?”

Perkataan sekaligus pertanyaan IlJin tak dihiraukan KyuHyun, ia melanjutkan ucapannya tanpa memikirkan frustasinya jantung IlJin mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan baik.

“Dan satu lagi, sesuatu hal yang akan mencengangkan dirimu. Perempuan itu tak merias wajahnya sama sekali, wajahnya sama cantik dengan wajah yang tengah aku tatap sekarang.” Nada suara KyuHyun sengaja dipelankan, memberi ciri bahwa hanya IlJin seorang yang mengetahui ‘rahasia’ ini.

Tubuh IlJin menggingil seperti ada seseorang yang meniupkan hembusan angin tepat di dada. Tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan sebuah jeritan senang juga menutupi senyum bahagia amat sangat karena ucapan KyuHyun. Oh, ayolah! Siapa yang takkan merasakan hal yang sama bila di posisi IlJin sekarang?

“Jadi, bagaimana? Bisa kita mulai makan malamnya?” KyuHyun bertanya dengan tenang yang dibalas sebuah anggukan mantap dari IlJin. “Kita mendinginkan makanannya.”

“Tak apa, aku sudah lapar kembali.”

“Dasar, Tuan perut buncit!” IlJin mengejek KyuHyun senang, yang diejek menulikan ke dua telinga karena sudah terhipnotis dengan hidangan yang menggugah selera.

“Selamat makan.” KyuHyun tak membalas ujaran IlJin, mulutnya terlampau penuh dengan makanan. IlJin menggelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya sebelum mulai bergabung makan dengan KyuHyun.

 

The End

***

Hurry and come to me baby, the most simple you can be

To me, who loves you

 

“Selesai!”

Suara hela napas lega terlontar pelan dari mulut kecil perempuan bernama Park SoNeul, sepasang matanya menatap sebuah kantung berisi bermacam bahan untuk dimasak dengan posisi ke dua tangan berada di pinggang.

“Baiklah. Mari kita mulai, tanganku sudah gatal rasanya.”

Saat ini ia berada di dapur. Memakai baju santai, ia mulai mengikat rambut lurusnya membentuk kuciran kuda. Tak lupa, celemek bermotif bunga kecil yang berserakan diikatkan olehnya pas di pinggang. Kain yang menutup ke dua tangannya digulung hingga siku. Dan dirinya siap untuk memulai kegiatan yang ia sukai, memasak.

Hari ini ia dan sang suami berencana membuat sebuah perayaan kecil sebagai bentuk rasa syukur atas suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan terkenal di daerah sini menginjak tahun pertama. Sebuah perayaan yang dilakukan di rumah saja tanpa mengundang siapapun. Cukup ia dan suami. Dan SoNeul akan menyiapkan sebuah menu makan malam tradisional, supaya terasa sebuah perayaan rumahan dan bertabur berkat.

Tangan kanannya memotong bahan makanan yang telah ia cuci sebelumnya. Di siang ini ia terlihat semangat sekali, sesekali ia bersenandung, menyanyikan lagu apa saja yang membuat semangatnya makin berkobar.

Banchan –lauk pauk sampingan— sudah selesai dipasak oleh SoNeul dan bergegas ia hidangkan di meja yang hanya butuh beberapa langkah dari tempatnya sekarang. Mulai dari Kimchi hingga Japchae kini sudah tersaji rapi di ata meja berukuran cukup untuk empat orang. Dan sekarang yang perlu di lakukannya adalah memasak menu utama, yaitu Yangnyeom Tongdak –ayam gorang pedas manis- dan Doenjang-Jjigae –sup berbahan utama sayuran dengan pasta kedelai-.

Tak terasa, SoNeul sudah memakan waktu satu jam lima puluh dua menit untuk memasak, itu berarti ada sekitar tiga puluh delapan menit yang dimilikinya untuk menyelesaikan pekerjaan dan bersiap-siap mempercantik diri.

Semuanya berjalan lancar bagaikan air mengalir di atas jalan, tak ada kesusahan apapun yang menimpa SoNeul. Biasanya ada aja sesuatu aneh terjadi di tengah sedang terlaksananya suatu kegiatan yang melibatkan diri SoNeul. Namun, pikiran positif itu mengenyahkan rasa aneh di kepala SoNeul. Mungkin Tuhan sangat merestui hal ini terjadi sehingga semuanya berjalan dengan aman.

Senyum lebar milik SoNeul begitu mengembang sempurna kala melihat berbagai hidangan tertata sempurna begitu menggugah selera. Ia tak perlu mengkhawatirkan lagi soal rasa karena SoNeul sudah merasakan atmosfer dapur dari ia duduk di bangku sekolah menengah, itu artinya sudah banyak pengalaman yang dialaminya berkaitan dengan hal yang familiar dengan perempuan ini.

Di tengah perjalanan menuju kamar untuk menyiapkan diri sendiri, telepon genggam di saku celana kainnya bergetar. Tangan kecil itu kemudian merogoh benda tersebut, di tempelkan benda persegi panjang warna putih ini ke telinga dengan nyaman. Sebuah suara yang menggetarkan hatinya terdengar di seberang sana.

“Halo, Park SoNeul. Apa yang sedang kau lakukan?”

***

Drt!

Drt!

Drt!

Badan SoNeul terperanjat kaget karena getaran telpon genggam miliknya, tangannya dibiarkan menjelajah area terdekat mencari keberadaan alat elektronik tersebut. Ke dua matanya masih tertutup, sedangkan pikirannya diperintah untuk menyadarkan tubuh SoNeul. Ketika benda yang dicarinya tergapai, ia mulai membuka perlahan kelopak mata indah itu melihat siapa gerangan yang mengganggu tidur siangnya.

Tunggu!

Bukankah ia tadi sedang berjalan menuju kamar tidur? Mengapa sekarang ia malah terbaring di sofa ruang tengah? Astaga! Park SoNeul ketiduran ternyata, dan ia mulai gelapan akibat ulahnya sendiri, ia terbangun dari posisi tidur dengan tangan masih menggenggam telpon yang bergetar. Ia makin kalang-kabut manakala melihat nama kontak yang memanggil, kontak sang suami. Lee DongHae.

“Halo?”

“…”

Yang menelepon malah bergeming tak bersuara, membuat hati SoNeul semakin tak karuan.

“Lee DongHae?”

“Suaramu parau, SoNeul. Kau bangun tidur? Apa aku mengganggumu?” tanya DongHae lembut. Yang ditanya malah menelan ludahnya sendiri sebelum membalas.

“Ti-tidak, kau tak mengganggu tidur siangku.” SoNeul mengusap-ngusap telapak tangannya yang basah karena keringat dingin. “Jam berapa sekarang?” gumam SoNeul pada dirinya sendiri, kepalanya sibuk menjelajah ke seluruh penjuru ruangan. Mencari jam dinding di ruang tengah.

“Jam empat lebih.”

Mata SoNeul membelalak ketika ia mendengar DongHae menjawab gumamnya sendiri bersamaan dengan penglihatannya melihat jelas jarum jam dan sialnya apa yang diucapkan DongHae bukanlah sebuah kebohongan. Tangannya secara refleks menepuk-nepuk jidat sebal, dalam hati ribuan sumpah serapah yang tak pantas diucapkan memenuhi diri SoNeul ditujukan untuk dirinya sendiri.

“Kapan kau pulang?” SoNeul bertanya pada DongHae diselimuti nada sedikit kesal. Mungkin DongHae yang mendengarnya akan merasa sedikit disalahkan oleh SoNeul mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut istrinya dengan nada seperti itu, padahal SoNeul sekarang tengah kesal pada dirinya sendiri. Bukan pada siap-siapa.

“Mungkin, sebentar lagi. Akan kuusahakan sebelum jam enam sore ini aku telah tiba di rumah dan merayakan rencana kita.” Berbagai macan raut terbentuk begitu saja di wajah SoNeul ketika mendengar penuturan DongHae. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?

Oh, begitu ternyata, baiklah. Akan aku tunggu kau. Aku tutup telponnya, dan semangat!” SoNeul dengan cepat menekan tombol merah di layar telponnya. Ia melangkah tergesa menuju dapur, rambut lebat miliknya diacak frustasi melihat bahan makanan yang dibeli olehnya siang tadi masih tersimpan dikantung besar berwarna coklat. Apa yang tadi terjadi sebelumnya hanyalah mimpi belaka.

Terduduk di kursi dapur dengan bahu lemas dan tatapan nanar adalah yang dilakukan oleh SoNeul sekarang, ia masih menyesali semua kelalaiannya. Ia percaya rencana indah di malam ini tidak akan semulus mimpi siangnya. Pandangan matanya mulai mengabur disusul rasa sedikit perih di area hidung, tidak, ia akan menangis.

SoNeul bukanlah seorang pintar memasak dengan menghabiskan waktu sedikit. Ia bukan jebolan acara kompetisi memasak yang dalam beberapa jam dapat menyajikan makanan yang nikmat dan pas. Ia adalah seorang yang bisa memasak bila dalam keadaan tenang, tidak diburu-buru oleh waktu seperti saat ini. Ia hanya memiliki dua pilihan, antara semuanya selesai sesuai waktu namun akan dipastikan makanan buatannya itu hancur tak berasa atau menyelesaikan masakannya dengan tenang hanya saja ia akan menyambut sang suami dengan keadaan yang berantakan.

“A-aku tak boleh membuang waktu dengan menangis seperti ini. Aku harus memulai memasak.” Dengan perasaan masih campur-aduk, SoNeul mulai mengeluarkan semua bahan makanan dari bungkusnya. Di cuci semua sayuran sampai jamur yang dibelinya di pasar dekat rumah. Sebelum memotong semua sayuran, SoNeul mencuci wajah terlebih dahulu.

Untuk memanfaatkan waktu yang sangat terbatas ini, SoNeul harus pintar-pintar bagaimana caranya agar ia bisa menyelesaikan semuanya dengan pas. Ia memiliki sebuah ide dengan memasak bahan utama bersama Banchan, jadi sembari menunggu Doenjang-Jjigae buatannya matang ia bisa menyiapkan Banchan yang ada. Semuanya dimulai, lima buah kentang mini, zucchini, bawang bombay, beberapa udang besar hingga pasta kedelai diletakkan di atas meja dapur. Lihai, tangan SoNeul memotong sayuran dan membersihkan udang. Kemudian ia memasukkan semua bahan tersebut ke dalam wajan dan terakhir diberi air. Ia hanya perlu menunggu kurang lebih sekitar lima belas menit hingga sup tersebut matang.

***

“Hei, Lee DongHae. Mari kita pulang, istrimu sudah menunggu.”

Di lain tempat, DongHae yang tengah menyelesaikan seluruh pekerjaan yang diberikan kepadanya di hari ini malah diganggu oleh Lee HyukJae. Teman seperusahaannya. DongHae hanya menatap HyukJae dengan sudut mata tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Kau ingin aku menunggumu atau kutinggal duluan?” tanya HyukJae padanya. DongHae mendengar semua tawaran HyukJae namun tatapan mata masih fokus pada layar komputer di depan wajahnya. “Aku lihat kau sebentar lagi selesai.” DongHae menganggukkan kepala merespon HyukJae. Mata DongHae sekilas melihat jam yang terletak di sudut kanan bawah layar komputernya menunjukkan pukul lima kurang enam menit. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan.

“HyukJae, kau bisa pergi duluan karena aku akan membeli sesuatu sebagai hadiah untuk istriku.” DongHae tersenyum setelah menyelesaikan ucapannya, pikirannya melayang membayangkan apa yang akan terjadi ketika ia pulang nanti. Dan khayalan itu berhasil membuat semangat DongHae makin tinggi. “Kalau seperti itu, baiklah. Annyeong.” Lee HyukJae membalikkan badan dan kakinya kemudian melangkah ke luar dari ruang ini.

“Tinggal satu halaman lagi. Nah, hadiah apa yang akan kuberikan pada SoNeul hari ini?” Beberapa menit ditinggal HyukJae, DongHae mulai bermonolog, selain karena ia mencoba mengusir rasa jenuh ia juga mencoba menghangatkan ruangan besar ini. Maklum hanya ia penghuni di sini. “Bunga? Atau apa, ya?” Jari-jari ke dua tangannya bergerak cepat di atas keyboard, menciptakan sebuah sekumpulan nada di tempat hening ini.

“Mungkin bunga saja.” Sekarang tangan kanan DongHae memegang mouse menekan ikon simpan di layar komputer lalu kursor beralih pada tanda silang warna merah dan diklik ikon tersebut. Kini DongHae tinggal mematikan komputer ini dan selesai. Hal selanjutnya yang harus ia lakukan adalah meninggalkan ruangan ini.

***

“Ya ampun! Aku tak salah lihat, ‘kan? Sebentar lagi DongHae pulang.” SoNeul yang habis meletakkan semua makanan juga menatanya di meja tercengang kala melihat jarum jam. Semuanya dirasa sangat cepat bagi SoNeul. Ia menggigit bibir cemas tak ingin menerka apa yang akan terjadi manakala DongHae pulang dan menemukan istrinya ini berpenampilan sangat menyeramkan.

SoNeul kembali menuju dapur berniat membersihkan peralatan di tempat ini, sebuah pemandangan dapur yang jarang terjadi dan kali ini terjadi karena waktu yang terus merongrong menyuruhnya untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat. Suara air mengalir terdengar, SoNeul sedang mencuci perabotan yang kotor. Mencoba menghibur diri sendiri, mulutnya mengeluarkan suara senandung.

SoNeul melakukan sedikit peregangan di hampir seluruh tubuhnya setelah selesai mencuci agar lebih rileks. Kegiatan bersih-bersih yang dilakukannya tinggal sedikit lagi, hanya perlu menyapu dan mengelap meja dapur. Mungkin, memang ia tak akan berpenampilan rapi di depan suaminya nanti tapi ia memiliki berbagai alasan untuk dibicarakan di depan sang suami. Tetap tenang, Park SoNeul.

Tubuh perempuan bertubuh semampai ini mengejang manakala suara pintu terbuka di dengan jelas oleh ke dua telinga. Pegangan pada gagang sapu makin erat, perutnya tiba-tiba saja sakit bagaikan diremas-remas dan pikiran SoNeul menjadi kosong begitu saja. Ya Tuhan, Lee DongHae telah tiba di rumahnya.

Suara langkah kaki Lee DongHae yang mendekat berhasil membuat SoNeul tersadar kembali, dengan cepat ia menyelesaikan kegiatan menyapu. Perasaan tenang yang susah payah ia bangun berikut berbagai pikiran positif yang ditanamkan pada kepalanya menghilang berterbangan seperti disapu angin kencang. SoNeul mulai cemas kembali.

“SoNeul sayang, aku pulang. Kau di mana?” SoNeul memandang ke dua tangannya yang bergetar, deru napasnya mulai tak teratur. Di tengah kekalutan yang menyelimuti atmosfer di dapur, sebuah ide aneh terlintas di pikiran SoNeul. Ia melihat celah antara meja dapur dan lemari berisi perabotan makan tempat menyimpan sapu. Ludahnya ditelan dengan susah. Apa ia harus melakukan ini? Ia kini sangat malu sekali.

DongHae berjalan masuk rumah dengan kepala yang tak diam, mencari gerangan yang dirindukannya. Jas hitam kini tersampir di lengan kiri dan tangan sebelahnya memegang sebuket bunga mawar. Senyum menawan kesukaan SoNeul menghilang di bibirnya tergantikan oleh raut tanda tanya ketika yang dipanggil tak membalas seruan. DongHae mencari SoNeul ke kamarnya tapi ia juga tak menemukan sosok istrinya. Ah, di mana dia?

Di tengah kegiatan mencari SoNeul, penciuman DongHae diganggu oleh aroma enak yang berasal dari dapur, dari kejauhan pun ia dapat melihat meja makan yang terletak tak jauh dari dapur milik mereka penuh oleh makanan. Penasaran, DongHae berjalan menuju letak aroma enak tersebut.

Jantung DongHae hampir copot dari tempatnya kala mendengar sesuatu terjatuh ketika ia selesai meletakkan jas yang tersampir di tangan ke kursi. Matanya melihat sekitar, dahinya berkerut melihat sebuah sapu tergeletak tak jauh dari posisinya sekarang. Sebelum ia membenarkan sapu tersebut, ia meletakkan bungan mawar di pinggir makanan buatan SoNeul.

“Astaga! Park SoNeul, apa yang kau lakukan di sana? Kau sedang bersembunyi?” DongHae kembali dikagetkan, bukan oleh sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding, namun oleh sesuatu yang menggelikan. DongHae memandang SoNeul yang kini terduduk di celah antara lemari dan meja dapur tempat sapu selalu diletakkan. Kikik geli keluar dari mulut DongHae ketika melihat wajah keruh SoNeul. Sejenak, DongHae menggeleng kepala, heran terhadap sikap SoNeul yang masih saja mirip anak kecil. Lalu tangannya terulur membantu SoNeul untuk berdiri.

“Aku malu.” Kepala SoNeul tertunduk dalam, tak mempunyai daya memandang balik wajah DongHae. “Kenapa kau malu?” DongHae yang berada di sampingnya mengelus rambut panjang SoNeul, menciptakan perasaan tenang untuk sang istri. “Lihatlah! Aku membawa bunga kesukaanmu.” DongHae mencoba menghibur SoNeul, ia mengambil bungan mawar tersebut dan diperlihatkan pada SoNeul.

Tangis SoNeul pecah begitu saja melihat bunga mawar warna merah merona di hadapannya. Ia menangis terisak, telapak tangannya menepuk kening miliknya berkali-kali. DongHae yang melihat tingkah SoNeul hanya bisa mengelus pundak SoNeul oleh dua tangannya, membiarkan istrinya menangis terlebih dahulu. “Kau jangan menahannya. Keluarkan saja, nanti kau bilang padaku apa yang membuatmu menangis. Jangan menyakiti dirimu!”

SoNeul sekarang kecewa pada diri sendiri. Amat sangat. Ia begitu bodoh hingga tak bisa mempersiapkan semuanya dengan baik. Terlebih ketika melihat DongHae membawakan hadiah kesukaannya, serasa apa yang DongHae berikan tak ada apa-apanya dengan yang dilakukannya.

“Kau akan berbagi ceritamu sekarang?” DongHae mengangkat kepala SoNeul menemukan sebuah anggukan dari sang istri. SoNeul menyenderkan kepalanya di bahu DongHae dengan nyaman. Ia tengah menyiapkan diri untuk bercerita tentang apa yang membuat dia menangis keras tadi.

“Aku malu padamu karena tak bisa cantik di depanmu,” ucap SoNeul tersedu-sedan. “Badanku beraroma buruk dan penuh keringat. Andai saja tadi aku tak ketiduran.” Senyum terbentuk sempurna di bibir tipis DongHae setelah mendengar ujaran SoNeul. Mulut DongHae mendecak berkali-kali. “Kau kecewa, ya? Aku jelek seperti ini?” SoNeul mengubah posisinya mensejajarkan duduknya, matanya menatap diri sendiri. Raut kecewa tercetak diwajah imutnya.

“Siapa bilang? Kau selalu cantik di mataku. Dalam keadaan apapun. Aku senang disambut olehmu seperti ini.” SoNeul memiringkan wajahnya, menuntut penuturan lebih jelas dari DongHae.

“Kau senang melihatku berkeringat dan bau, begitu?” DongHae mengangguk kepala tenang memjawab pertanyaan SoNeul.

“Iya, aku senang. Tapi bukan berarti setiap aku pulang kau harus dalam keadaan sedikit kotor seperti ini. Aku sangat senang melihatku sekarang karena kau bisa mengusir semua penatku dengan penampilan macam ini.”

“Aku tak mengerti ucapanmu.”

Tangan DongHae bergerak mengacak-acak rambut di puncak kepala SoNeul, dan, “Kau tahu melihatmu sekarang ini membuatku sadar juga tenang bahwa aku masih memiliki seseorang yang rela berpeluh untuk melayaniku. Masih ada seorang yang lebih lelah dibandingku, seseorang yang lebih bekerja keras melakukan sesuatu, seorang yang selalu dengan hati lembut dalam melakukan apapun dan semuanya untukku saja.”

SoNeul mengangkat dua alisnya mengerti dengan perkataan DongHae, senyum kekanakan itu muncul menghiasi wajah SoNeul. DongHae yang daritadi tangannya sudah gatal, mencubit pipi SoNeul gemas. “Ya Tuhan, terimakasih telah memberikanku seorang istri lucu seperti ini. Aku makin mencintainya dari hari ke hari.” Bibir DongHae mengecup sejenak kening SoNeul. Kemudian tubuh SoNeul dikekang oleh ke dua tangan DongHae, ia memeluk sang istri erat.

“Jadi makanan utama hari ini apa?”

“Hanya Yangnyeom Tongdak dan Doenjang-Jjigae.”

Ouh, mendengarnya pun membuatku lapar.”

“Kalau begitu, ayo kita makan. Dan selamat atas satu tahun kau bekerja di perusahaan impianmu.”

“Terimakasih. Dan aku ingin kau memberiku hadiah atas ini.”

“Apa yang kau inginkan?”

“Seorang anak?” DongHae membentuk raut menimbang, SoNeul mengangkat bahunya kemudian mengangguk setuju.

“Baiklah!” SoNeul menuangkan sup buatannya di atas mangkuk milik DongHae. Mereka memanjatkan doa sebelum memulai perayaan kecil-kecilan tersebut. Bersyukur pada Tuhan atas segala yang telah di berikan pada ke duanya. Entah sebuah kejadian pahit ataupun sesuatu yang menyenangkan hati.

***

The End

SABTU, 26/09/2015 20:07:25

@Septia08880

 

 

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: