First Winter

 

fuhgvkjgbkl copy

Tittle : First Winter

Author : Miranda Choi (@mirmirandas_)

Blog : http://www.wookgooyaw.wordpress.com

Cast : -Choi Siwon

-Song Yura

Other Cast : -Kim Kibum

-And find the others

Genre : Romance,

Lenght : Oneshoot

Rating : PG15

Disclaimer : FF ini murni dari pemikiran author sendiri.

Notes : Annyeong yeorobun…ini ff pertama yang ku publish disini. Semoga kalian suka dan harap tinggalkan komentar. Masukan dari kalian sangat ku hargai^^

NO COPAS!

NO PLAGIAT!

NO BASH!

Summary : Di musim salju inilah aku bertemu dengannya. Pria yang membuatku nyaman seketika dengan kehangatannya. Dan bodohnya, aku tak sempat bertanya namanya. Inisal pria itu CSW. Begitulah yang tertera di sapu tangan miliknya yang diberikan padaku

 

 

                     HAPPY READING^^

Tak terasa musim salju sebentar lagi akan datang. Orang-orang yang berlalu lalang dijalanan sudah memakai baju yang agak tebal untuk menghangatkan diri. Mungkin beberapa hari lagi salju akan turun menghiasi bumi Korea Selatan dan membekukan Negara ini.

Namaku Song Yura. Saat ini aku tengah melangkahkan kaki menyusuri jalanan Seoul yang ramai. Mungkin orang-orang sedang berbelanja kebutuhan musim dingin mereka. Aku mengukir senyum ketika melihat sebuah bangunan tampak berdiri dengan kokohnya diseberang sana. Dengan semangat, aku melangkahkan kaki ku untuk menyeberang sampai kesana.

 

Tapi tanpa kusadari, seseorang berjalan dari sisi kananku membuat kami bertabrakan. Aku sedikit oleng karena tubuh besarnya. Namun orang yang tak kukenal itu menangkap tubuhku walau aku tidak terjatuh.

 

Gwaenchana?” tanyanya, aku mendengar nada khawatir di suara bass nya.

Aku hanya mengangguk pelan lalu melihat orang itu dengan sedikit mendongak. Dia sangat tinggi. Menurutku begitu, atau aku yang kependekan. Tapi kurasa memang pria itu yang sangat tinggi.

“Maaf karena menabrakmu” ucapnya sedikit canggung.

Ani. Aku juga salah karena tidak melihat dulu”

 

Lalu aku pun terdiam. Bingung mau berkata apa lagi. Akhirnya aku membungkukkan tubuh kearahnya dan melanjutkan berjalan. Kali ini lebih berhati-hati lagi. Huh. Mungkin aku yang terlalu bersemangat.

 

 

*     *   *     *

~~~~~~~~~~ ~                 *     First Winter *                        ~~~~~~~~~~

*     *   *     *

 

 

Gomawoyo” ucapku sambil tersenyum pada pelayan yang memberikan pesananku. Hot Chocolate memang yang terbaik diminum saat musim dingin seperti ini. Membuat perasaanku lebih tenang dan damai ketika meminumnya. Apalagi di Café Kona Beans yang selalu menjadi langgananku. Bahkan aku mengenal pemilik Café ini saking seringnya kemari.

 

Kurasakan getaran di saku mantel. Aku merogoh saku mantel dan melihat layar ponsel, ternyata ada pesan masuk. Dari Kibum. Kekasihku.

 

“Kau dimana? Bisa bertemu esok lusa?”

 

Dahiku mengerut. Kenapa harus lusa? Kenapa tidak sekarang saja?

Jariku bergerak membalas pesan darinya.

 

“Baiklah. Tapi kenapa tidak sekarang saja? Aku sedang di Café Kona Beans. Tak terasa musim dingin akan datang, aku sangat merindukanmu”

Aku tersenyum malu. Mengutarakan isi hati kepada kekasih sendiri tak masalah kan? Lagipula aku memang sangat merindukannya yang selama seminggu terakhir ini sangat sibuk hingga jarang memiliki waktu untukku. Bahkan rasanya bertemu saja sangat susah. Dan esok lusa ia akan mengajakku bertemu. Ah, bahagianya aku.

 

Aku menyeruput Hot Chocolate ku lagi sambil menunggu balasan darinya. Tapi sudah 3 menit tak ada juga balasan dari pria yang sangat kusayangi itu. Sebegitu sibuknya kah ia sampai-sampai tak sempat membalas pesan? Huft.

 

Tak sengaja retinaku menangkap sosok pria yang menabrakku tadi melewati cafe. Dari sini aku bisa melihat parasnya yang sangat tampan. Rahangnya yang tegas, hidungnya mancung, dan kedua pasang mata yang tajam tapi meneduhkan. Ah kenapa aku berpikiran seperti ini. Tentu saja Kibum jauh lebih baik darinya.

 

 

*     *   *     *

~~~~~~~~~~ ~                 *     First Winter   *                         ~~~~~~~~~~

*     *   *     *

 

Hari ini setelah seminggu lebih tidak bertemu dengan Kibum, aku akan bertemu dengannya. Sedari tadi senyum gembira tak pernah lepas dibibirku. Dengan setelan legging coklat kayu dan coat musim dinginku yang berwarna putih, aku berjalan riang menuju taman yang menjadi tempat pertemuan kami.

 

Sesampainya disana, aku mengedarkan pandangan mencari sosok yang sangat kurindukan. Ia harus membalas perbuatannya karena telah membuatku sangat merindukannya hingga selalu tidur larut karena memikirkan wajah tampan yang sangat kusayangi.

 

Namun aku tak menemukan Kibum. Sepertinya ia belum datang. Jam ditanganku menunjukkan pukul 11 siang, pas dengan waktu yang dikatakannya. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk disalah satu bangku taman untuk menunggunya. Mungkin sebentar lagi ia akan datang.

 

Tak lama kemudian, aku melihat seseorang memanggil namaku. Aku sangat mengenali suara itu. Pasti Kibum.

Kudongakkan kepalaku melihat sosoknya yang berdiri tak sendirian. Ada seorang gadis disampingnya.

Dahiku mengerut. Siapa gadis itu? Kenapa ia datang bersama Kibum? Apa dia adalah Noona-nya Kibum? Atau sepupu?

 

Aku berdiri dari dudukku sambil menatapnya tak mengerti, tapi dari tatapanku sangat jelas kalau aku ingin meminta penjelasan darinya.

“Lama….tak bertemu” ucapnya, canggung. Ada apa ini?

Kibum menghela nafas dan terdiam sebentar. Kemudian melanjutkan, “Aku mengajaknya bertemu untuk berbicara hal penting”

“A..apa?” jawabku terbata.

“Kurasa…kita tak bisa melanjutkan hubungan ini lagi” jawabnya yang membuatku kaget setengah mati. Apa maksudnya ini? Ia tidak sedang bercanda denganku kan?

 

“Ma..maksudmu?” tanyaku sedikit tercekat, berusaha menahan perasaanku yang tak karuan sekarang.

“Ini adalah pacarku. Namanya Seo Minna. Sebentar lagi kami akan menikah karena ia tengah….hamil 2 bulan” jelasnya yang membuatku semakin tercekat. Rasanya seperti biji sebesar mangga atau durian masuk di tenggorokanku. Sakit.

Aku tersenyum miring, entah darimana cairan bening telah berkumpul dimataku. “Kau…lucu”

Ia menatapku tak mengerti. “Sekarang tanggal berapa? Ya! Ini bukan tanggal 1 april. Candaaanmu tak lucu”

 

Kuharap dia akan tertawa karena melihatku seperti ini lalu mengatakan. ‘Maaf, aku bercanda’

Tapi yang kulihat jauh dari harapanku. Ia menggeleng pertanda bahwa dirinya sedang serius. Ya tuhan! Apa yang pernah kulakukan di masa lampau hingga aku mendapat perlakuan seperti ini?

 

Kibum mengambil sesuatu dari saku mantelnya. “Ini, undangan untukmu. Pernikahan kami akan dilaksanakan bulan depan”

 

Aku hanya terdiam menatap undangan laknat yang disodorkan padaku. Berusaha untuk tidak meledak sekarang dan menjernihkan pikiranku.

 

“Kenapa kau melakukan ini? Apa salahku? Hubungan kita selama ini baik-baik saja”

“Kau tidak salah apapun. Tapi aku merasa bosan denganmu dan aku bertemu dengannya. Kami pun berkenalan dan aku mencintainya. Tanpa kami sadari kami melakukan perbuatan yang seharusnya tak kami lakukan, akhirnya aku memutuskan untuk bertanggung jawab dengan menikahinya”

 

“Sudah berapa lama kalian menjalani hubungan dibelakangku?” aku sengaja bertanya dengan nada menusuk agar ia tau seberapa brengseknya dia.

“4 bulan”

“4 bulan? Kita sudah berhubungan lebih dari 7 tahun sementara kau dan dia baru 4 bulan? Lalu kau lebih memilihnya dariku?”

Ia mengangguk. Aku menatapnya tak mengerti dan menghela nafas kasar tak percaya.

 

“Kau…dasar bajingan” hina ku marah. Aku benar-benar marah dengan perbuatannya. Bagaimana bisa ia berbuat seperti itu padaku? Kurasa aku tak pernah membuat masalah apapun dengannya bahkan aku sangat mencintainya.

 

“Kuharap kau dapat menemukan pengganti yang jauh lebih baik dariku. Selamat tinggal” lalu mereka meninggalkanku sendirian yang terlihat begitu miris. Tanpa bisa kubendung, tangisan ku tumpah meruah dengan isakan yang sangat keras. Aku sangat sakit. Hatiku sakit sekali diperlakukan seperti itu. Bahkan ia tak mengucapkan maaf sedikitpun padaku. Brengsek.

 

Dengan segala kepedihan di hatiku, aku duduk di bangku taman itu tanpa berniat untuk pulang. Hatiku benar-benar sakit sekarang, tak bisa kujelaskan bagaimana.

 

Tiba-tiba saja butiran es yang dingin mengenai kepalaku. Salju turun lebih cepat dari perkiraan. Perlahan-lahan salju mulai mengguyur tubuhku yang dengan bodohnya tak beranjak untuk berteduh. Aku tak merasakan apapun selain perih. Dinginnya salju tak sebanding dengan kondisi hatiku sekarang.

 

Kenangan-kenangan dengannya tiba-tiba saja berputar dikepalaku. Kenangan indah yang pernah kami ukir. Saat dimana aku tertawa dan tersenyum senang karenanya. Saat dimana ia mengatakan hal-hal romantis padaku. Saat dimana ia memerangkapku kedalam pelukan hangatnya. Semua tentangnya. Dan kini hanya tinggal kenangan.

 

Isakanku tak mereda sedikitpun. Aku terus menangis dibawah guyuran salju dengan mirisnya. Bahkan badanku sudah bergetar hebat karena kedinginan, namun tetap saja aku enggan beranjak darisana. Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kurasa aku tidak berbuat sesuatu yang kejam dimasa lalu.

 

Dan bagaimana dengan tak tau malunya menjelaskan hal seperti itu padaku tanpa meminta maaf sedikitpun. Sepertinya aku sangat menyedihkan. Biasanya jika seorang gadis ditinggal kekasihnya yang selingkuh, si gadis yang memergokinya lalu si pria akan terus menganggunya dengan meminta maaf. Tapi aku? Disini sang pria lah yang mengaku pada kekasihnya jika ia selingkuh dan bahkan akan melangsungkan pernikahan. Dimana otak nya hah? Apa dia sudah gila?

 

Kurasakan sebuah benda -yang kuyakini adalah mantel- menyelimuti tubuhku. Aku mendongak melihat orang yang tengah berdiri dihadapanku. Pria ini. Pria 2 hari yang lalu menabrakku. Kenapa ia bisa ada disini?

 

“Jangan menangisi sesuatu yang tak pantas kau tangisi, itu hanya akan membuatmu seperti seonggok sampah yang tak ada pentingnya” ujar pria itu menusuk. Kata-katanya sedikit kasar untukku. Tapi aku tak berniat untuk memarahinya sama sekali. Justru sesuatu dalam diriku membenarkan.

 

Dia beralih duduk disampingku sambil memandangiku yang masih sesenggukan. Tangannya terulur membersihkan salju yang terdapat di kepalaku.

Entah kenapa tangan besarnya begitu membuatku terhanyut. Dia sangat lembut walau hanya membersihkan kepalaku saja. Bola mata ku bergerak menatap pria tampan itu. Pria misterius yang ada didepanku sekarang.

 

Pria itu menggeram, ia menatapku gusar dan tiba-tiba saja memelukku. Mataku terbelalak dengan kagetnya. “Kau tau? Aku tak suka seorang gadis menangis. Apalagi menangisi orang yang tak pantas di tangisi” ucapnya.

 

Mataku terus berkedip tak mengerti, mencoba mencerna kalimat yang terlontar dari mulutnya dan yang kudapatkan adalah aku tidak mengerti sama sekali kalimatnya, melainkan pelukan yang hangat. Sangat hangat. Dada nya yang bidang sangat pas memerangkapku hingga aku hanya terdiam begitu saja.

 

Tangan pria itu bergerak mengusap rambutku dengan lembut, bahkan ia tak melepaskan pelukannya. Ia tetap terus memelukku dengan erat seperti tak ingin kehilangan seorang kekasih. Aneh, padahal aku rasa tak pernah mengenalinya. Tapi kenapa ia berbuat seperti ini padaku seakan aku ini adalah teman atau sahabatnya?

 

Pria itu tak berbicara lagi, aku juga. Jadi kami hanya diam sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku memejamkan mata dan menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan.

Lama kami seperti itu. Tak ada satu pun dari kami yang berniat melepas pelukan, tak kami hiraukan tubuh yang semakin lama semakin putih karena diguyur butiran salju. Yang jelas aku ingin menenangkan diri dan dapat segera melupakan pria brengsek itu.

 

“Hapuslah air mata mu dulu” ucapnya memecah keheningan sambil melepas pelukannya. Kulihat sebuah sapu tangan berwarna biru laut kini telah menyapu cairan bening yang membasahi wajahku. Pria itu menghapus air mataku dengan lembut dan aku hanya bisa mematung melihat sikapnya. Pria ini layaknya sudah mengenalku sangat lama. Tapi aku yakin kalau sebelumnya kami tak pernah bertemu kecuali saat aku menabraknya.

 

Dia menatapku dalam sambil memegang bahu ku. “Sekarang tenangkan hati dan pikiranmu, aku tau kau sedang kacau”

 

Aku mengatupkan bibir dan mengeluarkan suara susah payah, “Gamsahamnida

 

Kulihat ia melirik jam berwarna hitam kelam yang melingkar di tangan kirinya. Sangat pas ditangannya. “Jeongmal mianhae, aku harus pergi sekarang. Segeralah pulang dan hangatkan badanmu, mengerti? Jangan berbuat hal bodoh apapun dan lupakan pria itu segera” ucapnya yang begitu cerewet ditelingaku, aku tertawa kecil melihat sikapnya.

 

Pria itu berdiri dan aku mengikutinya, “Jaga dirimu baik-baik” pesannya. Aku mengangguk dan membungkukkan badan. “Sekali lagi kuucapkan terima kasih banyak”

Dia mengangguk dan menatapku sebentar kemudian melangkahkan kakinya, mulai menjauh dari pandanganku. Kulihat badan tegapnya berbelok ke kanan dan benar-benar hilang dari pandanganku.

Aku menatap ke arah bawah sambil menendang-nendang kecil salju yang semakin menebal. Lebih baik aku menuruti perkataannya, lupakan Kim Kibum dan memulai hidupku yang baru. Yah.

Saat hendak pergi dari taman, aku menyadari ada sesuatu yang kutinggalkan. Langkahku terhenti dan menoleh kebelakang, sapu tangan milik pria itu tertinggal di bangku taman dengan sedikit salju yang berada diatasnya. Pria itu sudah pergi dan aku tak tau dia kemana, lagipula sangat tidak mungkin jika aku mengembalikan padanya karena mengetahui nama pria itu saja tidak.

Tunggu. Berbicara soal nama, aku belum menanyakan pria itu sama sekali. Bahkan kami belum berkenalan. Huh, bodohnya aku. Bagaimana bisa lupa menanyakan nama pria yang sangat baik padaku. Aku menggerutu sebal.

Aku melangkah maju mendekati bangku itu kembali, mengambil sapu tangan yang ia gunakan untuk menghapus air mataku. Ternyata terdapat inisial nama disana.

“C…S…W?” gumamku mengeja huruf alphabet itu. Kira-kira apa marga pria itu ya? Apakah Choi? Atau Cho? Ah molla.

 

Tak mau berlama-lama pusing memikirkan nama pria tersebut, aku membalikkan badanku dan pergi dari taman itu sambil mengantungi sapu tangan saku coat.

 

Ketika aku melihat banyak anak kecil berlari-larian disana, aku menatap mereka iri. Mereka berlari sebebasnya tanpa ada rasa beban di diri mereka, bermain salju layaknya tidak ada masalah sama sekali. Berbeda jauh denganku.

 

“Aiisshh, kenapa aku malah meratapi nasib lagi? Yaishh paboya” gerutuku sambil menggelengkan kepala.

 

 

*     *   *     *

~~~~~~~~~~ ~                 *     First Winter   *                         ~~~~~~~~~~

*     *   *     *

 

Tak terasa satu tahun telah terlewati. Sekarang sudah di penghujung tahun 2015 dan aku berhasil mengusir pria brengsek tak tau diri itu dari pikiran dan hatiku. Yah walaupun perasaan kesal bahkan membencinya tumbuh dihatiku. Salah sendiri kenapa membuatku menjadi seperti ini.

Kalau mengingat masalah Kibum, aku jadi teringat pria misterius itu. Aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Aku mencoba mengerti karena mungkin memang takdir mengatakan kalau aku hanya akan bertemu dengannya sekali saja. Tak apa. Anggap saja ia malaikat misterius ku.

Tanganku bergerak membuka tirai jendela dan melihat butiran salju perlahan turun. Senyum senang terlukis diwajahku kala melihat butiran salju lainnya berlomba-lomba untuk turun ke bumi. Dengan cepat, aku bergegas keluar Apartement menggunakan sandal berwarna kuning dengan hiasan bebek diatasnya, kentara sekali kalau itu adalah sandal yang dipakai di dalam rumah. Tapi aku tak memikirkannya sama sekali dan tetap berlari.

 

Kini aku benar-benar sudah diluar apartemen dan melihat beberapa mobil terparkir disana. Kutengadahkan kedua tangan untuk menampung salju dan memejamkan kedua mata. Rasa dingin merambat ke hatiku. Aku selalu menunggu musim salju datang lagi, tak bisa dipungkiri aku ingin bertemu dengan pria itu, lagi.

 

“Yura-ssi” panggil seseorang dari arah depan, aku membuka sebelah mata untuk mengintip siapa yang memanggil. Namun betapa kagetnya aku ketika menyadari jika yang memanggilku adalah kekasih Kibum. Mataku mengedip tak percaya melihat Kibum dan kekasihnya. Untuk apa mereka kesini?

Lantas aku membuang salju-salju yang mulanya ada ditanganku, kurapikan rambut yang sepertinya berantakan lalu berpura-pura meregangkan tubuh.

 

Gadis itu melihatku dari atas sampai bawah, “Sepertinya kau tinggal disini ya” ucapnya, sementara aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya malah melakukan beberapa gerakan pemanasan.

 

“Kami baru saja akan mendaftar disini”

Mwo?!” Tanyaku kaget ketika mendengar penuturannya. Yang benar saja. Jika mereka tinggal satu Apartement denganku, aku harus bersiap melihat ‘pasangan suami istri bahagia’ ini setiap harinya. Yaampun, apakah ini balasanku karena membunuh beberapa nyamuk yang berterbangan dan sangat mengaggu karena suara bisingnya semalam? Kenapa bisa aku akan menjadi tetangga mereka?

 

Eum. Kami masuk ya” katanya sok ramah. Cih, aku tidak membutukan keramahannya. Kalau mau masuk, ya sudah masuk saja sana. Tidak usah pamit-pamit padaku. Dia pikir aku ini siapa huh?

 

Aku mendesis sebal seraya menendang-nendang salju. “Tuhan, apa yang akan kau rencanakan lagi pada hidupku? Kenapa kau selalu merencanakan hal yang tidak pernah kuduga bahkan kupikirkan sebelumnya?” gumamku pada diriku sendiri.

Tiba-tiba saja sebersit ide muncul di otak cerdasku. Entah kenapa aku ingin kembali ke taman, siapa tau pria berinisial CSW itu ada disana dan kami bertemu. Membayangkannya saja membuatku tersenyum. Sepertinya aku sudah gila.

Setelah kuputuskan, aku melangkahkan kaki masuk kedalam dengan sedikit berlari kecil. Tak kuhiraukan pandangan aneh dari Kibum dan kekasihnya karena melihatku berlari-lari sambil tersenyum. Siapa peduli? Biarkan saja mereka menganggapku gila. Sesungguhnya merekalah yang lebih gila dariku. Menjalin hubungan dibelakang, aku yakin gadis itu tau jika Kibum memiliki aku saat itu. Tapi kenapa ia mau menjadi buangan? Cih, bodoh sekali.

.

.

.

Sepatu boots coklat milikku tertancap di jalanan yang penuh dengan salju, kuedarkan pandangan melihat keadaan sekitar. Anak-anak yang bermain disini tak sebanyak musim salju kemarin, mungkin saja karena hari ini adalah hari pertama salju sehingga salju belum begitu banyak turun. Aku tertawa kecil melihat seorang gadis kecil yang berhasil membuat boneka salju. Gadis kecil itu menancapkan wortel sebagai hidung untuk boneka saljunya. Aku jadi teringat masa kecil.

 

Setelah puas melihat anak-anak itu bermain, aku kembali melangkahkan kaki menuju bangku taman berwarna coklat kayu yang sekarang tengah diduduki sepasang kekasih. Niatku yang awalnya ingin duduk disana pun batal, aku masih memikirkan harga diri jika duduk disana sendirian. Kalau orang lain melihat bisa-bisa aku disangka tidak waras oleh mereka.

“Ahh, aku harus kemana sekarang?” tanyaku pada diri sendiri dan mulai berpikir, dingin-dingin seperti ini sebaiknya aku menghangatkan diri di Kona Beans saja. Aku pun memutuskan untuk pergi dari sana dan berjalan ke Kona Beans. Malas jika harus naik bus karena pemandangan seperti ini sayang untuk dilewatkan. Hitung-hitung cuci mata dan menghemat pengeluaran juga.

Setelah sampai disana, bel berbunyi tepat saat aku masuk kedalam. Aroma kopi menyeruak di indera penciumanku. Baunya menghangatkan juga menenangkan. Kulihat Leeteuk yang notabene adalah pemilik dari café ini sedang berdiri dibelakang meja kasir. Akhir-akhir ini pria berumur 33 tahun itu jarang sekali berada di café, mungkin karena sibuk. Aku pun berjalan menuju barisan antrian.

 

“Selamat datang di Kona Beans café, anda ingin pesan apa?” Tanya Leeteuk ramah tak lupa memasang senyum lesung pipi nya.

“Kau tau kan apa pesanan yang biasa ku pesan disini?” bukannya menjawab, aku malah balik bertanya padanya. Ia tersenyum kecil, “Tentu saja pelanggan terbaikku. Akan kuantarkan pesananmu nanti”

Oppa, kenapa aku jarang lagi melihatmu disini?” Tanya ku tiba-tiba, jangan heran karena aku memanggilnya dengan sebutan Oppa karena aku kenal baik dengannya.

“Aahh, beberapa waktu lalu aku liburan ke Swiss bersama keluargaku karena Ibu ku berulang tahun” jelasnya, aku mengangguk mengerti. “Geurae, aku akan menunggu pesananku” ucapku lagi kemudian duduk di tempat seperti biasanya.

 

 

*     *   *     *

~~~~~~~~~~ ~                 *     First Winter   *                         ~~~~~~~~~~

*     *   *     *

 

Bunyi alarm berdering sangat keras di kamar sehingga membuatku terbangun, tanganku menggapai-gapai alarm itu dan berusaha mengambilnya. Namun yang kudengar selanjutnya adalah, bunyi keras benda jatuh. Aku pun membuka sleeping mask dan beringsut melihat kebawah. Ah, ternyata alarm itu sekarang hanyalah tinggal kenangan. Benda itu pecah berkeping-keping dan baterai yang sudah menggelinding entah kemana. Aku menghela nafas kasar.

Aku berjalan menuju kalender yang tertempel di dinding, 2 tahun telah terlewati. Aku berhasil melewati tahun ketiga tanpanya. Sekarang sudah tahun 2017 dan hari ini tepat salju pertama turun berdasarkan ramalan cuaca. Aku selalu membuat pengingat di hari salju pertama karena diriku berencana untuk ke taman itu setiap hari di musim salju. Mungkin kalian menganggapku bodoh, tapi entah kenapa aku selalu menanti-nanti hari ini.

 

Setelah berhasil melupakan Kibum, sekarang aku malah selalu memikirkan pria itu. Pria berinisial CSW yang tidak sopannya mampir di pikiranku setiap saat. Satu hal yang kusadari, aku menyukainya.

 

Sikapnya yang dewasa membuatku nyaman, walau baru beberapa kali bertemu dengannya. Setiap hari saat musim salju aku selalu menyempatkan diri untuk pergi ke taman itu, sekedar untuk melepas rasa rinduku padanya. Taman itu mengingatkanku pada 2 hal. Bahagia dan sakit. Bahagia karena bisa bertemu dengan pria itu dan sakit karena Kibum. Tapi ingatan bahagia lebih kentara dibanding perasaan sakitku terhadap pria brengsek yang tak tau malunya menunjukkan kemesraan bersama istri barunya.

Jika kalian bertanya apakah aku datang di pernikahan mereka, jawabannya adalah TIDAK. Rugi sekali bagiku untuk datang kesana. Membuang waktu saja. Bahkan aku selalu bersikap cuek dan sinis pada mereka berdua. Menunjukkan betapa memuakkannya mereka bertetangga denganku. Apalagi Apartement kami berada di lantai yang sama.

 

Bunyi pintu tertutup menggema saat aku menutup pintu Apartement. Sepertinya bukan suara pintuku saja, aku menoleh kesamping dan melihat istri Kibum juga menutup pintu. Tatapanku langsung berubah drastis ketika melihatnya, mungkin karena dihatiku sudah tertanam perasaan tak suka melihatnya. Kulihat dia tersenyum ke arahku, aku hanya memalingkan muka dan berjalan menuju lift.

Kalau dipikir, istri Kibum yang bernama Joo Eun itu memang selalu bersikap baik padaku. Setiap dia melihatku pasti langsung menegur atau paling tidak tersenyum, walau aku tak pernah membalasnya sama sekali. Entah perasaanku saja atau tidak, dia hanya ingin menarik simpatiku.

Pintu lift terbuka dan aku segera keluar. Dengan balutan sweater putih susu dan coat berwarna soft pink sebagai luaran, aku melangkahkan kaki menuju taman itu lagi dengan senyum merekah diwajah.

Aku menghirup udara segar sebanyak yang kubisa. Rasanya seluruh pikiran yang ada di otakku tenang kala udara menyeruak masuk ke saluran nafas. Kupercepat langkahku untuk sampai ke taman.

 

Sesampainya disana, anak-anak dengan riangnya berlari-larian di taman. Ada yang membuat boneka salju juga. Melihat mereka tertawa membuatku ikut tertawa juga, layaknya merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Tanganku bergerak merogoh sesuatu yang berada di saku coat. Ketika sudah mendapatkannya, aku memotret pemandangan indah didepanku. Bersama salju sebagai latar belakang mereka, foto yang kuambil terlihat sangat cantik.

 

Saat aku sedang asyik mengambil beberapa gambar, sebuah bola menggelinding kearahku dan berhenti tepat didepan kakiku. Aku melihat bola itu sebentar dan menatap mereka. “Noona, bisakah kau melempar bola itu kesini?” ucap seorang anak laki-laki bertubuh gempal, lantas aku menendang bola itu kearah mereka.

 

Gomawoyo Noona” ucapnya lagi, aku hanya mengangguk seraya tersenyum manis.

 

Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka berlari kecil kearahku membuatku sedikit kaget, “Apakah kau mau bermain bersama kami Noona?” Tanya nya.

 

“Bolehkah?” tanyaku balik. Anak laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan menatap teman-temannya meminta persetujuan. “Tentu saja” jawab seorang anak lagi yang berdiri disana.

 

Aku berpikir sebentar kemudian menganggukkan kepala, “Baiklah” ucapku yang dibalas senyuman olehnya. Dia menarik tanganku untuk berlari menuju teman-temannya. Sekitar 6 anak bermain bola dan beberapa anak perempuan yang membuat boneka salju.

 

“Oke, permainan dimulai” teriak salah satu dari mereka dan kami pun mulai bermain. Kalau melawan anak kecil seperti ini sih aku bisa, setidaknya walaupun aku tidak terlalu mahir bermain bola. Aku bisa melawan dengan mereka.

 

Seperti bernostalgia di masa kecil, dengan semangat aku bermain dengan mereka dan kadang tertawa. Kedudukan sekarang adalah 2-1 dan sekarang sudah memasuki menit ke 15, tentu saja team ku mendapat 2 skor. Karena tubuh ku yang besar sendirian aku jadi bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Bahkan merebut bola sekalipun.

 

Noona, disini!” teriak seseorang sambil mengacungkan tangannya, aku melihat dan menendang bola kearahnya. Seringaian terpatri di wajahku kala dia berhasil menggiring bola dengan baik menuju gawang lawan. Sedikit lagi, bola itu akan gol.

Tapi kejadian tak terduga, tendangannya meleset menyebabkan bola tersebut out dari batas yang ditentukan. Semua team ku mendesah kecewa, sayang sekali.

 

Aku berlari ke anak tersebut dan sedikit membungkukkan badan. “Gwaenchana, kita masih memimpin. Biar Noona saja yang mengambil bolanya” tuturku mencoba menghibur, dia pun mendongak dan mulai tersenyum. Kemudian aku berlari mengejar bola yang berhenti cukup jauh dari tempat kami bermain membuat helaian rambutku yang kecoklatan menari-nari.

 

Saat sedang berlari, tak sengaja aku menginjak batu yang berukuran sedang sehingga membuatku kaget dan kehilangan keseimbangan. Aku terjatuh dengan naas nya diatas tanah yang kini telah diselimuti salju.

 

“Haiisshh…” gerutuku sambil menundukkan kepala. Oh, betapa malunya aku ketika semua orang melihatku yang tak juga beranjak darisana. Rasanya aku terlalu malu untuk mengangkat kepala ku saja. Dasar Song bodoh! Bagaimana aku bisa tak berhati-hati.

 

“Jangan mendekat…jangan mendekat…” bisikku seperti sedang mengucapkan mantra ketika mendengar langkah kaki seseorang mendekat. Kuharap siapapun jangan mendekatiku yang sedang teronggok memalukan disini.

 

Suara langkah kaki semakin dekat membuatku cemas, pasti setelah ini aku ditertawakan.

 

Namun berbeda jauh dari dugaan, aku merasakan sesuatu yang besar menimpuk kepala ku. Aku mengernyit bingung karenanya, kemudian seseorang bersuara. “Sampai kapan kau disitu? Tidak mau beranjak?”

 

Tubuhku menegang. Suara ini. Suara yang sangat kukenali dan selalu kurindukan. Apa aku sedang berkhayal? Bisa-bisanya aku berkhayal saat sedang jatuh seperti ini. Aku mengangkat kepalaku dan langsung melihat seorang pria yang sedang berjongkok di hadapanku sekarang. Tatapanku perlahan semakin lama semakin naik keatas dan melihat wajah pria itu.

 

Pria yang sedang menatapku itu tersenyum sangat manis, membuatku melayang di dunia fantasi sebentar kemudian menggelengkan kepala berusaha menghapus fantasi yang berkeliaran di otakku. Tanganku bergerak meraba benda yang berada diatas kepalaku. Ternyata sebuah coat.

 

Aku duduk dengan keadaan normal dan memandangi coat yang sekarang berada di genggamanku, “Hai” sapanya.

 

Kini tatapanku beralih ke wajahnya yang sangat tampan, namun ada sesuatu yang menjanggal sepertinya. Rambutnya terlihat sangat pendek, apa dia memotong rambutnya?

Tiba-tiba saja pria itu menarik tanganku untuk berdiri dan mengambil coat itu kembali. Aku hanya diam menatap apa yang ia lakukan, pria itu menyampirkan coat miliknya di tubuhku. Entah keberanian darimana, aku langsung memeluknya dengan erat. Setetes air mata perlahan jatuh membasahi sweater nya. Kurasakan tangan besarnya merangkak naik membalas pelukanku.

 

“Kau darimana saja?” tanyaku padanya sambil menangis.

“Aku baru saja menyelesaikan wajib militer ku” ucapnya yang membuatnya terkejut. Jadi selama ini dia masuk militer? Pantas saja aku tak pernah menemuinya lagi dan rambutnya juga lebih pendek dibanding terakhir kali kulihat.

 

“Apa kau menungguku?” Tanya nya balik, dengan malu aku menganggukkan kepalaku perlahan. Melihat respon ku yang malu-malu seperti itu dia langsung mengeratkan pelukannya sambil berbisik, “Aku sangat merindukanmu”

 

Diam-diam, aku tersenyum malu sekaligus bahagia didalam pelukannya. Aku makin menenggelamkan tubuhku di pelukan hangatnya. Inilah yang kusuka. Dia bisa membuatku nyaman walau baru beberapa kali bertemu.

“Aku yakin kau tak mengingatku. Dulu kau adalah Hoobae ku ketika kita masih Senior High School” terangnya membuatku kaget. Benarkah? Apa dulu dia adalah Sunbae ku? Tapi aku merasa tak pernah melihatnya.

 

Aku melepaskan pelukannya, “Jinja?

 

Dia mengangguk kemudian melanjutkan, “Tapi aku tak yakin kau mengingatku karena saat itu kau masih di tahun pertama sedangkan aku sudah di tahun terakhir. Beberapa bulan setelah penerimaan siswa baru, aku beserta keluarga ku pindah ke Mokpo”

 

“Aahhh…” balasku sambil menganggukkan kepala. “Tunggu, kenapa kau masih mengingatku? Itu kan sudah lama sekali” tanyaku masih sedikit tak mengerti.

“Karena aku sudah tertarik padamu sejak dulu. Tapi karena dulu kau sudah mempunyai kekasih dan aku harus pindah, aku tidak bisa berkenalan denganmu. Yura-ya

Ya! Kau mengetahui namaku tapi aku sama sekali tidak mengetahui namamu” sungutku sebal.

 

Pria itu tertawa melihat tingkahku disusul lesung pipi yang terlukis di wajahnya. “Namaku Choi Siwon” ucapnya pendek.

 

Kami saling menatap dalam satu sama lain, dia memerangkapku dalam pelukannya kembali. Kini aku benar-benar menyadari perasaanku. Aku mencintainya. Dan satu hal lagi, kami berpelukan ditengah keramaian dan menjadi tontonan gratis. Kudengar beberapa celotehan dari anak-anak yang bermain bola, itu pasti karena bola nya belum kuambil. Biar saja.

 

 

END

 

4 Comments (+add yours?)

  1. Bluesw
    Mar 25, 2016 @ 13:45:44

    Yaampun sweet banget… Snyum” sndiri bacanya. Pengen sequel, buat sequel dong author /kedipin mata/

    Reply

  2. Mery yana
    Mar 27, 2016 @ 10:16:58

    Author, ya !! Jeongmal daebak ceritanya !! 😂😂 , feel nya dapet bangetttt, pas udh jumpa dg siwonnya lagi, air mata eke lgsg netes sedikit 😭 . Gomawo atas ceritanya yang bagus. Sering2 buat FF ya, ku tungggu FF mu yg berikutnya 😍

    Reply

  3. indri juliana (@indriijuliana)
    Mar 27, 2016 @ 12:47:43

    daebak ceritanya dapet bgt bgt feel nya … seperti ceritanya nyata
    pertahankan ya …

    Reply

  4. inggarkichulsung
    Mar 27, 2016 @ 13:53:35

    So sweet jd Siwon oppa itu sunbae nya Yura dan sdh tertarik dr zaman sma dulu, Yura sendiri tdk ingat bahwa Siwon oppa adl sunbae nya, so sweet bgt penantian Siwon oppa berakhir manis krn Yura jg merasa nyaman di dekatnya dan ia th bhw Yura menunggunya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: