Just One Night [Sequel of One Night]

choooo

Author : Rizki Amalia

Cast : Cho Kyuhyun

Jung Nari (OC)

Eunhyuk

Genre : Romance, family

Rate : PG -15

Hallo semuanya. Masih ingat FF One Night? Kalo ada yang ingat, sekarang saya kembali membawa sekuelnya. Kalo yang kemaren lebih fokus ke Nari, sekarang giliran Kyuhyun. Buat yang penasaran sama kelanjutan kisah Nari dan Kyuhyun, yuk dibaca!!

Happy reading!!!

***

“Dasi, tas, sepatu, bekal, air mineral. Hm…sudah tidak ada yang tertinggal?”

“Ada.”

“Apa itu?”

“Ciuman ayah.”

Kyuhyun tersenyum. Ia berjongkok lalu mengecup dahi Jinju cukup lama. Ia menjadi sangat pelupa belakangan ini. Dan setelah mencium kening anaknya, ia sadar sudah cukup lama tak melakukannya.

“Maafkan ayah.”

“Tidak apa-apa. Aku tahu ayah sudah mulai tua dan akan jadi pelupa seperti salah satu guruku di sekolah itu.”

Kyuhyun semakin tak bisa menahan senyumnya. Ia usap kepala anaknya lalu mengantarnya hingga gerbang.

“Ayah akan menjemputmu! Jangan pergi kemana-mana, oke?”

Hanya dengan anggukan kecil, anak itu sudah berlari bersama gerombolan kawan-kawannya. Kyuhyun pun terus melambai sampai akhirnya gerbang ditutup dengan pelan dan tubuh mungil itu tak lagi bisa ia lihat.

Ia menghela nafas. Tugas pertamanya dipagi ini sudah selesai. Sekarang….ia harus bergegas untuk melaksanakan tugas kedua.

Ia berbalik, berlari mengejar bus lalu duduk dikursi paling belakang. Jas dan dasinya ia lepas dengan cepat lalu dimasukkan ke dalam tas kerjanya yang hanya berisi kertas kosong. Kemudian lengan kemejanya ia singsingkan. Begitu bus berhenti, ia turun dan tersenyum pada seorang temannya yang sudah menunggu.

“Apa aku terlambat?”

“Kau sangat tepat waktu. Tapi…..”

Pria itu memandangnya dari atas hingga bawah. Ia nampak risih melihat apa yang dikenakan Kyuhyun. Kemeja, celana kain yang rapi serta sepatu yang sangat mengkilap.

“Kyuhyun, kupikir kau tahu pekerjaan apa yang akan kita lakukan dan-“

“Aku tahu. Aku tahu,” sergah Kyuhyun cepat. “Aku mengerti. Aku juga akan segera mengganti pakaianku. Yang penting sekarang bawa aku padanya.”

Pria itu mengambil handuk kecil dari kantung celananya lalu diberikan pada Kyuhyun.

“Kuharap kau pernah mengangkat barang berat sebelumnya.”

Mereka berjalan kaki memasuki kawasan pasar Yangdong yang merupakan pasar tradisional terbesar di Gwangju. Donghae, nama pria yang bersama Kyuhyun itu berjalan lebih dulu lalu berbicara pada seseorang. Kyuhyun sendiri memilih berdiri agak jauh dari mereka. Ia hanya perhatikan gelagat keduanya yang nampak sedang membicarakannya. Donghae sesekali menunjuknya. Lalu pria yang belum ia kenal itu melihatnya, memperhatikannya dari atas hingga bawah. Dan sesuai prediksinya, ia pasti akan mendapat tatapan risih yang sama.

“Kau tidak perlu mengganti pakaianmu. Kita bekerja dari pagi hingga siang. Semua karung-karung itu kita angkut dari truck ke dalam gudang. Setelah itu kita berpindah ke sana untuk mengangkut ikan dan kepiting. Biasanya truck pengangkut ikan itu tiba pukul dua belas. Dan kau akan diupah perhari. Tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk makan malammu.”

“Tidak masalah. Jadi, kapan kita mulai bekerja?”

Donghae mengambil handuk kecil miliknya dari bahu dan diikatkan ke kepala. Ia pandang Kyuhyun dengan serius lantas menjawab, “Sekarang.”

Harus Kyuhyun akui bahwa ini bukanlah keahliannya dan ia tak punya pengalaman apa-apa soal mengangkut barang. Ia bukan tipe laki-laki atletis yang berotot dan kuat. Waktu ia masih beruang, urusan seperti ini dikerjakan oleh orang bayarannya. Sedang rasanya barang paling berat yang terakhir kali ia angkut dengan kedua tangannya adalah sebuah televisi.

Tapi ia takkan mengeluh saat ini. Ia baru mulai. Akan sangat konyol kalau ia memilih mundur. Lagipula, sebenarnya inilah guna seorang pria diciptakan. Kalau hanya untuk urusan pekerjaan yang membutuhkan otot ia tak bisa, maka ia akan segera operasi pergantian jati diri menjadi wanita.

Ini adalah pekerjaan serabutan kesekian yang ia lakukan selama beberapa bulan ini. Sebelumnya ia menjadi juru parkir, sales kosmetik, sampai kekasih sewaan. Beruntung untuk yang terakhir tak bertahan lama. Bulan lalu ia memang sudah mendapat pekerjaan tetap dengan menjual beberapa jenis roti dari seorang kakek-kakek renta. Awalnya ia hanya kasihan, tapi kemudian kakek itu memintanya untuk menjajakkan roti buatan anaknya. Singkat kata, ia setuju. Tapi pekerjaan itu terpaksa ia tinggalkan minggu lalu. Karena ia harus bekerja pada malam hingga larut, ia jadi tak bisa menemani Jinju di rumah. Jinju mengatakan bahwa ia kesepian dan ia kesulitan mengerjakan PR. Maka dengan berat hati Kyuhyun berhenti.

Mulai hari ini, ia harap semuanya membaik. Ia hanya bekerja hingga siang, lalu ia menjemput anaknya dari sekolah. Mereka makan siang bersama, bermain bersama dan malam hari ia bisa membantu anaknya belajar. Sayangnya, ada satu hal yang belum bisa berubah.

Jinju tidak tahu siapa dirinya.

Jinju hanya tahu bahwa ayahnya bukanlah lagi seorang bos pemilik perusahaan. Tapi Jinju pikir ayahnya masih bekerja di perkantoran. Setiap pagi ketika mengantarnya ke sekolah, Kyuhyun selalu berpakain rapi layaknya seorang karyawan di sebuah perusahaan. Dengan kemeja, dasi, serta jas, ia membuat Jinju percaya bahwa semua baik-baik saja. Tapi Jinju tak pernah tahu bagaimana ia harus memeras keringat setelahnya. Jinju tak pernah tahu bahwa ayahnya rela tidak makan apapun asal bisa membelikan makanan enak untuknya. Jinju juga tidak tahu bahwa ayahnya bukan lagi duduk dibalik meja dan komputer melainkan berkeliaran dipinggir jalan dan melakukan apapun demi menghasilkan uang. Jinju tak tahu apa-apa. Yang ia tahu, ia punya seorang ayah yang akan mengurusinya dipagi hari, mengantarnya sekolah, lalu menjemputnya disiang hari dan selalu ada untuknya hingga ia terlelap di malam hari. Semua nampak sempurna dimata anak itu. Dan Kyuhyun belum berniat untuk merusak kesempurnaan itu.

Ia sadar bahwa apa yang ia bangun dengan banyak kebohongan ini tidak akan bertahan lama. Ia tak yakin sampai kapan ia bisa menyembunyikan semua ini dari Jinju. Jinju mulai pintar membaca situasi. Tapi sebisa mungkin ia bertahan dan mengulur waktu. Jinju belum boleh tahu. Bahkan mungkin Jinju tak perlu tahu.

“Ini upahmu.”

Donghae memberinya beberapa lembar uang. Ia menghitungnya lalu mengucapkan terima kasih. Meski jumlahnya tak seberapa, tapi ini murni hasil keringatnya dan ia bangga. Jauh berbeda ketika ia memegang uang berkali-kali lipat dari ini beberapa bulan lalu. Sekarang ia jadi lebih menghargai dan mensyukuri sekecil apapun uang yang ia terima. Kecil bagi sebagian orang, tapi besar baginya dan juga anaknya.

“Kerja bagus untuk hari ini. Tapi besok bos tidak mau melihat kau pakai kemeja lagi.”

Kyuhyun memberikan tiga jempolnya. Setelahnya ia pergi ke sekolah Jinju untuk menjemputnya. Mungkin ia sudah terlambat dan mungkin Jinju akan merajuk sesaat. Tapi ia akan membelikan eskrim lebih dulu untuk mengambil hatinya. Dan sebelum itu, ia harus merapikan diri. Ia membersihkan sepatunya, memakai lagi dasinya kemudian menyisir rambutnya. Begitu siap, ia naik bus lagi menuju sekolah Jinju.

Seperti tebakannya, Jinju nampak cemberut di depan sana. Sambil duduk diatas sebuah batu besar, ia memainkan bibirnya sambil melipat tangan di depan dada.

“Ayah terlambat setengah jam.”

Kyuhyun tersenyum sambil berjongkok. “Maafkan ayah. Tadi ayah mendapat tugas tambahan dari atasan ayah. Jadi ayah harus menyelesaikannya dulu.”

Jinju masih cemberut. Ia buang muka.

“Jinju…..” Kyuhyun membujuknya. Tapi nampaknya percuma. Maka pelan-pelan dikeluarkannya satu cup eskrim dari balik punggungnya lalu dipamerkannya.

“Hmm, sebenarnya ayah juga terlambat karena tadi singgah di kedai tuan Cwang Jin untuk membelikan ini. Yummy….”

Kyuhyun mencium aroma eskrim tersebut. Dengan ekspresinya yang super berlebihan, ia berhasil membuat Jinju mencuri pandang padanya dan diam-diam menelan ludahnya sendiri. Dan sebelum Kyuhyun sempat menjilatinya, Jinju langsung merebut eskrim itu dari tangannya.

“Ini milikku!! Ayah kan tidak pernah suka eskrim!!” kata Jinju yang kemudian melahap eskrimnya. Kyuhyun tak menanggapi. Ia hanya mengelus puncak kepala anak itu lantas menawarkan sebelah tangannya.

“Ayo kita pulang! Ayah akan masak makan siang yang enak.”

Tanpa kata-kata, Jinju sudah memegang tangan Kyuhyun erat. Mereka berjalan kaki dengan riang lalu naik bus bersama menuju ke rumah mereka. Sudah beberapa bulan ini mereka pindah dari apartemen elit ke sebuah rumah sederhana. Letaknya tak jauh dari sekolah Jinju. Itulah yang dijadikan alasan Kyuhyun pada anaknya, bahwa mereka lebih baik pindah rumah supaya mereka hanya perlu naik bus satu kali untuk sampai ke sekolah. Untungnya Jinju tak lagi protes soal dua mobil ayahnya yang raib entah kemana. Jikapun ia bertanya, Kyuhyun selalu menjawab bahwa mobil-mobil itu masih berada di bengkel dan akan sangat lama untuk bisa diperbaiki.

Jinju memang anak yang punya rasa ingin tahu sangat tinggi. Tapi ia selalu percaya akan jawaban ayahnya. Sekali atau dua kali saja ia bertanya. Begitu Kyuhyun memberikan jawaban, ia akan mengangguk dan tak memperpanjangnya lagi.

Seperti saat ini, ketika tak sengaja Jinju melihat sepatu ayahnya yang kusam dan hampir lepas dibagian bawahnya, ia hanya bertanya satu kali.

“Ayah, kenapa dengan sepatu ayah? Ayah harus beli yang baru.”

Kyuhyun memeriksa sepatunya dan sesungguhnya ia baru menyadari hal itu. Segera ia lepas sepatunya lantas menjawab dengan tenang. “Hmm, ya, ayah akan membeli yang baru. Ah, sekarang kau harus ganti pakaian. Ayah akan masak makan siang dulu, oke?”

Jinju mengangguk. Ia langsung masuk ke kamarnya dan setelah itu barulah Kyuhyun bisa bernafas lega. Dipandangnya sekali lagi sepatunya itu dan ia hanya bisa tersenyum.

Rasanya dulu ia tak perlu menggelengkan kepala seperti ini untuk hal sepele. Ia bahkan akan mengganti sepatunya sebelum sepatu itu rusak. Ia juga punya koleksi yang banyak. Tapi itu dulu. Sedangkan sekarang….sepertinya ia harus memperbaikinya nanti malam setelah Jinju tidur. Jinju tidak boleh melihatnya.

Maka detik berikutnya ia sudah menyimpan sepatu itu lalu bergegas ke dapur. Ia buka kulkas dan mulai menyiapkan bahan makanan.

Sebenarnya ia tidak pandai memasak. Hanya setelah ia pindah kesini dan memberhentikan pelayannya, ia mengharuskan dirinya sendiri untuk bisa masak. Ia sering membuka internet untuk mencari resep masakan. Hasilnya? Lumayan. Setidaknya hanya satu kali Jinju memuntahkannya. Selebihnya, anak itu bisa menikmati masakannya.

Selain memasak, ia juga jadi belajar mengurus rumah sendirian. Menyapu, mengepel, mencuci pakaian dan piring kotor, mengelap kaca jendela hingga membersihkan toilet. Semua ia lakukan sendiri. Hanya sesekali Jinju membantunya, itupun atas inisiatif Jinju atau tepatnya pemaksaan. Tak jarang Kyuhyun memang mengacaukannya. Tak terhitung piring yang pecah karena tangannya yang licin. Pakaian yang ia setrika pernah gosong karena disaat bersamaan ia menyuapi Jinju yang sedang sakit kala itu. Namun, berkat semua kekacauan yang pernah ia buat, sekarang ia jauh lebih mahir lagi. Jinju bahkan pernah mengatakan bahwa ayahnya bisa melamar menjadi seorang pelayan. Tentu Jinju hanya mengoceh sembarangan, tapi Kyuhyun sempat terdiam mendengarnya. Bagaimana jika Jinju tahu bahwa ia memang pernah mencoba menjadi pelayan di sebuah perusahaan?

Sebenarnya bukan masalah jika ia mulai membuka rahasia ini pada anaknya. Ia yakin Jinju bisa menerima kenyataan. Jinju anak yang baik. Jinju bukan anak yang rewel dan suka menuntut macam-macam. Tapi setiap kali ia berpikir untuk menceritakannya, ia selalu mundur pada detik terakhir. Ia tak sanggup. Ia tak sanggup mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah ayah yang tak berguna yang bahkan tak bisa mempertahankan apa yang dimilikinya.

“Jinju, kau mengantuk?” tanya Kyuhyun saat melihat anaknya menguap. Hari sudah malam. Selepas belajar, Jinju merebahkan kepalanya di meja makan dan nampak menguap beberapa kali. Anak itupun tak menyahut saat Kyuhyun bertanya. Jinju diam hingga Kyuhyun menyimpulkan bahwa anak itu sudah tertidur pulas.

Ia pun mendekatinya. Dengan hati-hati ia angkat tubuh Jinju dan dibawanya ke kamar. Ia tutupi separuh tubuhnya dengan selimut lalu memberinya kecupan selamat tidur.

“Mimpi indah, sayang.”

Jinju nampak benar-benar menggemaskan saat tidur seperti ini. Pipinya yang bulat berisi, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang mungil, ia jadi ingin mencubitnya kalau saja tak sengaja melihat sesuatu yang terselip di bawah bantal. Penasaran, ia mengambilnya dengan hati-hati. Dan setelah dilihat, rupanya itu adalah foto pernikahannya dengan mendiang istrinya.

Sejenak ia duduk di lantai, memperhatikan foto itu dan Jinju bergantian. Sepertinya Jinju sedang merindukan ibunya. Sejak kemarin ia mencari foto tersebut yang setahunya selalu ada di laci kamarnya. Entah kapan anak itu punya waktu untuk mengambil. Yang jelas sekarang bukan hanya Jinju yang merindukan wanita difoto itu, tapi juga dirinya.

Sudah lama sekali ia tak ‘berbincang’ dengannya. Bahkan pergi ke makamnya pun bisa dihitung dengan jari dalam waktu belakangan ini. Apa ia harus ke sana sekarang juga? Ia tersenyum dengan pikirannya sendiri. Mungkin besok ia memang harus kesana sambil mengajak Jinju. Sedangkan sekarang….ia harus memperbaiki sepatunya.

Ia melihat jam. Masih terlalu pagi untuk tidur. Anaknya pun sedikit aneh. Jarang sekali ia bisa tidur pada jam segini. Biasanya anak itu baru akan tidur setelah Kyuhyun berdongeng atau setelah memutar film kesukaannya. Tapi ia mensyukurinya. Setidaknya ia punya kesempatan untuk memperbaiki sepatunya malam ini.

Ia pun menyimpan foto tadi ke saku piyamanya lalu bergegas ke lemari sepatu, kemudian menyiapkan perekat yang baru dibelinya kemarin. Maka ia duduk di lantai dan mulai merekatkan bagian sepatunya yang terlepas. Untungnya yang rusak hanya dibagian tumit. Jadi ia bisa menyelesaikannya dengan cepat. Untuk meyakinkan kekuatan perekatnya, ia tindih sepatunya di bawah lemari.

“Nah, selesai!”

Ia puas melihat hasilnya. Ia hanya perlu menyemirnya besok pagi sebelum Jinju bangun supaya terlihat seperti sepatu baru. Ah, ia lebih berharap anak itu tak menanyakan atau menyadarinya. Namun, begitu ia berbalik untuk pergi ke dapur, ia justru merasa akan ada banyak pertanyaan untuknya dari Jinju.

“Aku melihatnya.”

Kyuhyun terdiam. Sejak kapan anaknya ada disitu? Di depan pintu kamarnya?

“Jinju, kau…apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun gugup. Ia melihat arah pandang anaknya dan seketika itu juga ia menarik sepatunya dari bawah lemari.

“Ah, ini….ayah hanya mencoba untuk memperbaikinya. Tapi ayah tetap akan membeli yang baru besok siang sepulang dari kantor.”

“Kantor yang mana yang ayah maksud?”

Kyuhyun semakin membeku. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi setelahnya. Ia hanya bisa terus menerus menelan ludah saat anaknya berjalan mendekatinya. Ia berusaha mengatur nafasnya dengan baik tapi itu tak cukup berhasil. Ia malah makin gugup.

“Ayah…”

Suara Jinju menyapa telinganya, membuatnya sadar bahwa ia sudah tak bisa lari kemanapun.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Tidak! Apakah Jinju…

Kyuhyun tak mau berpikir atau menebak apapun. Jinju pasti hanya bingung karena melihat apa yang dilakukannya barusan. Yang dimaksud dengan mengetahui semuanya pastilah bukan soal kebohongan yang dilakukannya selama ini.

“Aku tahu semuanya.”

Kyuhyun menunduk. Ia tak sanggup menatap mata lugu anaknya yang seolah sedang memohon kejujurannya. Dan tak lama setelahnya, ia bisa merasakan sentuhan anaknya dipipinya.

“Kita pindah kemari bukan karena rumah ini dekat dengan sekolahku. Mobil-mobil ayah tidak rusak. Dan ayah bukan bekerja di perusahaan lagi.”

Kyuhyun tak bisa berkata apa-apa. Bagaimana mungkin……Jinju tahu segalanya?

“Kenapa ayah menyembunyikannya dariku? Apa ayah pikir aku akan malu? Kenapa ayah harus bohong padaku?”

Air matanya jatuh. Sebelum ia berhasil menggapai tangan anaknya, tangan itu sudah menjauh.

“Jinju, maafkan ayah. Ayah hanya…”

“Ayah sudah berbohong. Ayah bohong tentang pekerjaan ayah. Ayah bohong tentang rumah kita, mobil, dan semuanya.”

“Jinju, Kau jangan marah dulu. Ayah-“

“Aku benci ayah! Aku pikir ayah akan jujur. Tapi ayah terus saja membohongiku!!” bentak Jinju keras. Ia menangis. Kyuhyun pun mengalami hal yang sama. Ia berusaha mendekati anaknya. Namun, anak itu lagi-lagi menjauh. Dan ketika Kyuhyun nyaris berhasil meraih bahunya, Jinju sudah berlari kencang menembus pintu depan.

“Jinju!!! Jangan pergi!!!”

Terlambat. Jinju sudah tak terlihat dan mau tak mau Kyuhyun harus mengejarnya. Tanpa peduli bagaimana kondisi rumahnya, ia berlari sekencang mungkin untuk mengejar anak itu dan hanya sempat menarik jaketnya dari kursi. Dapat dilihatnya Jinju berlari ke arah jalan besar dan mulai tertutupi para pejalan kaki.

“Jinju!! Tunggu ayah! Jangan pergi dulu!!!” teriak Kyuhyun lebih keras. Anak itu berlari sangat kencang. Beberapa kali Kyuhyun harus menubruk orang lain sampai ia terjatuh. Dan setelah itu ia baru sadar bahwa ia kehilangan jejak anaknya.

“Jinju!! Kau dimana????” teriaknya kencang. Orang-orang disekitarnya juga jadi sasarannya untuk bertanya. Tapi tak banyak yang sudi menjawabnya apalagi membantu. Malah kebanyakan orang terganggu dengan aksinya yang berteriak sambil menahan langkah mereka.

“Kau melihat anakku?”

“Apa kau melihat anak kecil perempuan umur 8 tahun disekitar sini? Dia memakai baju warna kuning.”

“Hey, apa kau melihat Jinju?”

Orang terakhir yang ditanyainya menaikkan alis dengan bingung. Dari cara Kyuhyun menanyakannya, seolah-olah orang pasti tahu siapa itu Jinju. Sadar tak berhasil, ia berhenti bertanya dan mencari sendiri sambil terus memanggil-manggilnya. Ia juga sempat masuk ke dalam sebuah toko kue untuk menjajaki kemungkinan anaknya sembunyi di dalam. Tapi nihil, ia justru di usir karena membuat keributan.

Ini benar-benar aneh. Jinju memang suka merajuk padanya, tapi tak pernah sampai kabur seperti ini. Dan Jinju harusnya mau mendengar penjelasannya dulu.

“Jinju, kau dimana, sayang?” lirihnya setelah hampir satu jam mencari. Ia duduk di pinggir jalan sambil meremas rambutnya dengan kasar. Ini bukan lagi soal bagaimana Jinju kecewa padanya, tapi juga keselamatannya. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Bagaimana jika Jinju sedang bersama orang asing yang hendak berbuat jahat padanya? Bagaimana jiika Jinju sebenarnya sedang mencarinya juga? Bagaimana jika Jinju tersesat? Bagaimana jika…………Jinju tak ia temukan?

Berbagai pikiran buruk merasuki kepalanya. Kepalanya pun pusing. Ia sampai memukul kepalanya sendiri dan berharap bisa memutar waktu untuk memperbaiki kesalahannya. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kyuhyun bodoh!

Ia lalu mendongak, melihat ke atas langit yang sama sekali tak terdapat bintang malam ini.

“Sayang, andai kau ada disini,” ucapnya sangat pelan. Tak sadar air matanya jatuh perlahan. Ia jadi teringat akan mendiang istrinya. Andai wanita itu ada disini, keadaannya pasti akan berbeda. Akan ada yang menenangkan Jinju sebelum anak itu memilih lari. Ia benar-benar payah sebagai seorang ayah.

“Kau lihat apa yang sudah kulakukan? Aku benar-benar bodoh. Bahkan untuk hal seperti ini aku tidak bisa menjaganya. Bisakah kau menunjukkan padaku dimana anak kita sekarang? Aku berjanji setelah ini aku tidak akan berbohong lagi. Aku akan jujur padanya.”

Ia benar-benar menangis kali ini. Putus asa. Akhirnya ia hanya meluapkan emosinya dengan membenamkan wajahnya dibalik kedua lututnya. Jinju, kau dimana?

“Ayah….”

Suara Jinju terdengar. Ia menaikkan wajahnya tapi tak ada siapa-siapa. Sampai suara kedua terdengar lagi, ia segera menoleh ke samping kanannya dan menemukan Jinju berdiri sambil menangis.

“JINJU!!!”

Ia langsung menarik anak itu dalam dekapannya. Ia peluk dengan erat lalu menghujani wajahnya dengan banyak kecupan.

“Ya Tuhan, Jinju, ayah pikir ayah sudah kehilanganmu.”

“Aku bertemu ibu.”

Apa?

Kyuhyun melepaskan pelukannya. Dipandangnya wajah Jinju yang memerah sehabis menangis.

“Apa maksudmu, Jinju?”

Sambil mengelap air matanya, Jinju menjawab, “Aku melihat ibu. Wajahnya sama dengan yang ada difoto di rumah kita.”

Kyuhyun menggeleng. Tak mungkin. Tak mungkin istrinya ada disini. Istrinya sudah…..

“Adik kecil, kau sudah bertemu ayahmu?”

“Itu Ibu!!” seru Jinju sambil menunjuk ke belakang Kyuhyun. Mau tak mau Kyuhyun merasa gugup sekaligus penasaran. Apakah anaknya hanya berhalusinasi? Tapi…ia juga mendengar suaranya dan suara itu adalah suara……….

“Kau?”

Tubuhnya membeku. Setelah berbalik, ia menemukan seorang wanita berdiri di hadapannya dan itu adalah….

“Nari?”

*****

“Jadi..dia adalah Jinju yang dulu kau ceritakan?”

Kyuhyun tersenyum. Setelah waktu yang cukup menegangkan, sekarang ia bisa tersenyum lega. Rupanya Jinju tak sengaja bertubrukan dengan Nari. Melihat Jinju yang menangis, Nari membawanya ke sebuah restoran lalu mengajaknya makan. Dan pelan-pelan Jinju menceritakan bahwa ia marah pada ayahnya yang sudah berbohong padanya. Nari sendiri mengatakan bahwa ia tak menyangka pria yang diceritakan anak itu adalah Kyuhyun.

“Ini benar-benar suatu kebetulan. Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi,” ujar Kyuhyun sambil memperhatikan anaknya yang duduk tenang di kursi taman sambil memainkan boneka beruang yang dibelikan Nari untuknya.

“Apa kau tidak suka bertemu denganku lagi?” tanya Nari. Kyuhyun lekas-lekas menyela,”Ya! Aku memang tidak pernah berharap akan melihatmu. Cukup satu kali kau merepotkanku dan aku tidak ingin hariku berantakan lagi.”

“Jadi saat itu kau merasa kesusahan karena aku?” tanya Nari lagi. Kali ini dengan nada lebih kesal.

“Tentu saja! Kau pikir laki-laki mana yang akan senang bertemu dengan wanita frustasi di halte bus? Bersyukurlah itu aku.”

Nari mendengus kesal. Tapi kemudian ia tersenyum setelah melihat tingkah Jinju.

“Anak itu lucu sekali. Saat menceritakan kekesalannya padamu, dia juga makan dengan lahap. Aku sampai bingung dia itu sedang marah atau lapar,” ujar Nari sambil tersenyum. “Bisa kau jelaskan kebohongan apa yang kau buat padanya?”

Kyuhyun membuang nafasnya. Ia tak tahu apakah ia perlu menceritakan masalahnya pada Nari. Tapi sejurus kemudian ia sudah menatap Nari dengan serius dan berkata, “Aku berbohong banyak hal padanya.”

Nari mengangguk pelan.“Kalau tidak salah saat itu Jinju juga marah padamu.”

“Ya, tapi kali ini lebih serius. Karena aku………..sudah membohonginya akan segala hal.”

“Maksudmu?”

Kyuhyun memperbaiki letak duduknya. Segelas kopi yang tadi di belinya dipinggir jalan sempat ia hirup lalu menghadap ke arah Nari.

“Kupikir kau bukan tipe orang yang selalu ingin tahu.”

“Oh, Kyuhyun. Cukup jawab pertanyaanku.”

Kyuhyun tersenyum melihat ekspresi penasaran Nari. Apakah ia benar-benar harus membaginya? Selama beberapa bulan ini ia menyimpannya rapat-rapat. Masalah ini ia telan sendiri dan tak ada satu orangpun dari pihak keluarga yang ia ceritakan. Tapi begitu ia memandang Nari di sebelahnya, bibirnya tahu-tahu sudah terbuka.

“Aku bangkrut.”

“Apa?”

“Kau tuli?”

“Bukan begitu. Aku hanya……..” Nari diam sejenak. Nampak berusaha mencerna maksud dua kata yang baru saja ia dengar. “Bisa kau jelaskan?”

“Aku memang akan menjelaskannya kalau saja kau tak lebih dulu bertanya.”

“Oh, oke. Aku diam.”

Kyuhyun memulainya kembali. Kali ini ia lebih serius sampai Nari yang ada di sampingnya tak berani bersuara lagi. Ia merasa bahwa sekarang ia harus tutup mulut dulu.

“Aku ditipu oleh kawanku sendiri. Sulit kujelaskan. Yang jelas aku kehilangan sahamku, aku kehilangan hampir seluruh hartaku dan aku tak mengatakannya pada Jinju.”

Nari mengangguk samar. Dilihatnya lagi Kyuhyun dengan hati-hati dan ia merasa belum saatnya untuk menyela.

“Kami pindah dari apartemen ke rumah yang sederhana. Aku mengatakan padanya bahwa akan lebih baik jika kami tinggal di rumah yang dekat dengan sekolahnya. Kami pergi dengan bus dan aku mengatakan bahwa mobil-mobilku sedang rusak. Aku juga tak mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang pengangguran. Aku tetap berpakaian rapi setiap paginya agar ia tetap berpikir bahwa tak ada hal besar yang terjadi. Ia tak kuberitahu bahwa selama beberapa bulan ini aku sudah hampir sepuluh kali berganti pekerjaan. Dan hari ini……aku baru saja diterima sebagai kuli di pasar tradisional.”

Nari termangu. Ia bukan lagi takut untuk menyela, tapi kali ini ia memang kehilangan kata-kata.

“Aku pikir aku berhasil menutupinya. Ternyata aku salah. Ia sudah tahu semuanya bahkan mungkin sebelum aku berpikir untuk menyembunyikannya. Ia marah dan…..yah seperti yang kau lihat sebelumnya. Ia kabur dari rumah.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega. Baru kali ini ia membuka rahasianya di depan seseorang. Anehnya, hal ini justru didengar oleh orang yang sudah lama tak ditemui. Ah, masihkah bisa ia menganggap Nari sebagai sahabat?

Ia menoleh ke arah Nari dan ia menemukan wanita itu sedang mengusap air matanya diam-diam.

“Hey, aku tidak menyuruhmu menangis. Apa kisahku begitu memilukan? Sudah pernah kubilang jangan suka mendramatisir keadaan,” tegur Kyuhyun sambil menyenggol bahu Nari. Nari buru-buru mengelap ujung matanya lantas menatap Kyuhyun kesal. “Aku hanya tidak menyangka kalau aku akan mendengar hal semacam ini darimu. Padahal aku selalu berdoa pada Tuhan supaya kau dan Jinju diberi kebahagiaan.”

Kyuhyun terkejut. “Wow! Kau mendoakanku?”

Nari mengangguk yakin. “Tentu! Saat itu kau sudah banyak menolongku dan kurasa mendoakanmu beberapa kali bukanlah sesuatu yang salah.”

Kyuhyun tersenyum tipis. Ia pikir Nari akan melupakannya selepas malam yang luar biasa itu. Ia pikir hanya ia yang masih mengingat malam itu dengan jelas. Dan sejujurnya tadi ia sempat mengira bahwa Nari tidak akan mengingat wajahnya. Ternyata Nari bahkan mengingat namanya.

“Jadi kau dan Jinju sudah berbaikan?” tanya Nari memecah hening. Mereka sama-sama menoleh ke arah Jinju. Anak itu masih bermain dengan bonekanya.

“Ya, aku sudah menjelaskan padanya dan syukurlah ia tidak merajuk terlalu lama. Mungkin karena tadi kau memberinya makan. Ia mudah sekali lapar dan biasanya makanan adalah obat merajuk yang paling mujarab untuknya.”

“Begitu?”

Mereka tersenyum bersama. Diam-diam Kyuhyun memperhatikan Nari. Ia perhatikan wanita itu dari rambutnya yang makin panjang hingga kakinya yang dilapisi sepatu hak tinggi. Semuanya nampak baik-baik saja. Sepertinya tak ada hal buruk lagi yang terjadi pada wanita itu. Tapi….Hey, sepertinya ada yang janggal.

“Nari, bukankah harusnya kau………….”

“Ayah!!!” suara Jinju terdengar. Mereka menoleh bersamaan. Jinju berjalan ke arah mereka sambil membawa bonekanya.

“Kenapa, sayang?”

“Aku mau jalan-jalan. Kita ke Olympic Park bersama ibu.”

Kyuhyun bertatapan dengan Nari. “Nari, maafkan anakku. Dia memanggilmu ibu karena mungkin….”

“Tidak masalah. Aku juga senang dipanggil begitu.” Nari berjongkok menyamakan tingginya dengan Jinju. Ia usap poni di dahi Jinju dan memandang wajah anak itu cukup lama. Ia terus memandangnya sampai tak sadar ada setetes air matanya meluncur.

“Kenapa ibu menangis?”

Nari lekas mengusapnya lantas tersenyum manis. “Tidak apa-apa. Jadi, Jinju mau kita pergi ke Olympic Park?”

Jinju mengangguk. Maka tanpa kata-kata Nari berdiri dan menawarkan tangannya pada Jinju. Jinju segera meraihnya, menggenggamnya erat-erat. Kyuhyun awalnya hanya terpaku. Tapi kemudian ia tersadar saat Jinju mencoba meraih tangannya juga.

“Ayah kenapa diam saja? Ayo pergi!!!”

Kyuhyun menelan ludahnya. Nari dan Jinju sudah berpegangan dan siap pergi. Sementara ia masih tak paham apa yang sedang terjadi. Dan dadanya mendadak berdegup kencang saat ada tangan asing yang memegang tangannya. Ia melihat ke depan dan menemukan Nari meraih tangannya untuk disatukan dengan Jinju.

“Jangan bertingkah aneh. Sebaiknya kita turuti saja kemauannya,” ujar Nari dengan santai. Maka detik berikutnya mereka sudah berjalan beriringan menuju Olympic Park yang kebetulan memang tak jauh dari lokasi mereka sekarang. Mereka hanya perlu berjalan kaki tak sampai lima belas menit dan sudah bisa langsung menikmati pemandangan di sana.

Sepanjang perjalanan, sesungguhnya Kyuhyun tak bisa berkonsentrasi. Ia bingung. Ia tak mengerti kenapa ia tak bisa tertawa lepas seperti Nari dan Jinju. Mereka begitu akrab. Mereka membicarakan banyak hal yang sama sekali tak ia mengerti. Ia malah merasa waktu berjalan begitu lambat sampai-sampai ia bisa menghitung sudah berapa langkah mereka berjalan kaki.

“Nanti saat anak kita lahir, kita akan mengajaknya ke tempat dimana kita pertama kali bertemu. Kita berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Kita berjalan sambil bernyanyi. Ah, aku sudah bisa membayangkannya.”

Kyuhyun mendongak, tak ingin air matanya jatuh dengan mudahnya. Ia teringat perkataan istrinya satu bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan apa yang ia alami saat ini seolah mengamini harapan sederhana itu.

“Yeay!!! Kita sudah sampai!!” seru Jinju. Sesampainya disana, Jinju langsung melepaskan tangan Kyuhyun dan Nari. Anak itu langsung berlarian dengan girang. Nampak ia suka sekali melihat pemandangan disini dan membiarkan angin menerbangkan rambutnya.

Kyuhyun sendiri tak bisa menolak bahwa sudah lama sekali ia tak melihat Jinju sebahagia ini. Padahal ia dan Jinju sering kemari diakhir pekan. Baik untuk berolahraga atau sekedar jalan-jalan. Tapi sekarang berbeda. Anak itu…………..benar-benar bahagia.

“Dia pasti sangat merindukan ibunya.” Nari berdiri di sebelah Kyuhyun yang sedang memperhatikan anaknya. Kyuhyun menunduk sejenak. Jika disebut rindu, rasanya itu bukan kata yang tepat. Bagaimana bisa Jinju merasakan rindu jika kenyataannya Jinju tak pernah bertemu ibunya?

“Sebenarnya….seperti apa istrimu itu?” tanya Nari tanpa bermaksud macam-macam. Tapi Kyuhyun malah diam. Ia memilih untuk memainkan sepatunya di tanah.

“Tidak masalah kalau kau tidak mau menceritakannya. Aku hanya bertanya.”

“Tapi kau ingin tahu sekali, kan?”

Nari menatap telunjuk Kyuhyun yang mengarah ke wajahnya. Ia menjauh dan berjalan pelan.

“Kau masih menyebalkan.”

“Dan aku yang menyebalkan ini juga sangat kau rindukan.”

Nari menggeleng mendengar jawaban Kyuhyun. Pria ini benar-benar handal membuatnya terhibur.

“Jadi bagaimana? Kau tetap tidak mau menceritakan soal istrimu? Maksudku…..aku hanya ingin tahu wanita mana yang mau menikah denganmu.”

Kyuhyun yang berjalan di samping Nari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mau tak mau bayangan wajah dan tingkah laku istrinya bermain-main dikepalanya. Sedetik kemudian ia memandang Nari lalu berbisik,”Dia sepertimu.”

Nari berhenti berjalan. “Sepertiku?” tanyanya menunjuk diri sendiri.

“Ya, sepertimu.”

“Maksudmu?”

Kyuhyun hanya mengangkat bahu dengan cuek. Ia malas memperpanjangnya sampai Nari terus mengejarnya dan memaksa agar ia memperjelas maksudnya itu. Iseng, Kyuhyun pun menjawab singkat, “Dia aneh. Sama sepertimu.”

Kyuhyun berlari menjauh begitu sadar sudah membuat kepala Nari berasap. Ia berlari dan mengabaikan pertanyaan tak terima dari Nari. Ia lebih suka bermain dengan Jinju lalu menggendongnya.

“Hey, Kyuhyun! Apa maksudmu dengan aneh? Apa aku ini aneh? Aneh bagaimana? Hey! Kau harus jelaskan!!”

Pertanyaan-pertanyaan itu masih enggan digubris oleh Kyuhyun. Ia yang tadinya bermain dengan Jinju justru kini lari memutari tubuh anak itu untuk menghindari kejaran Nari. Sedangkan Jinju yang melihat kelakuan ‘orang tua’nya hanya bisa tertawa. Dan tawanya baru berhenti saat tak sengaja Nari tersandung batu hingga tubuhnya jatuh menindih tubuh Kyuhyun. Sontak Jinju menutup matanya.

“Oops.”

Sementara Kyuhyun dan Nari terdiam. Jarak wajah mereka yang terlalu dekat membuat mereka sama-sama bisa merasakan deru nafas masing-masing. Hidung mereka bahkan sempat bersentuhan. Kyuhyun pun tak sanggup menahan diri untuk tidak menatap ke dalam bola mata Nari. Dan sekali lagi, Nari mengingatkannya akan seseorang.

“Sampai kapan kalian akan seperti itu?” celetuk Jinju yang sukses menyadarkan keduanya. Nari lekas berdiri lantas merapikan pakaiannya. Kyuhyun juga melakukan hal yang sama, bedanya ia tak bisa menenangkan jantungnya yang masih berdebar-debar. Ia pun berbalik, berlagak sibuk dengan rambut dan pakaiannya yang berantakan. Sementara dibalik punggungnya ia bisa merasakan bahwa Jinju dan Nari kembali bermain-main seakan-akan tak ada hal aneh yang baru saja terjadi.

Kyuhyun berusaha mengatur nafasnya. Ia tidak boleh gugup. Ia tidak boleh berpikir atau membiarkan perasaannya menjadi kacau. Ia harus bisa mengendalikan diri.

Oh, Kyuhyun……apa yang terjadi dengan dirimu?? Apa yang kau pikirkan???

Kyuhyun mengetuk pelan kepalanya sendiri sembari tersenyum-senyum persis seperti orang kurang waras.

“Kyuhyun, kau mau kue beras? Kami mau membelinya disana!!” seru Nari. Kyuhyun hanya berbalik sepintas dan menggeleng. Kemudian ia memilih duduk di atas rumput sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sesekali ia juga tak kuasa menahan tawa ketika teringat apa yang telah terjadi. Ini bukan dirinya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan hal aneh semacam ini. Dan….kenapa bisa? Setan apa yang sedang merasukinya tadi?

Beberapa menit selanjutnya ia berusaha mengenyahkan pikiran itu. Ia gosok-gosok kedua tangannya sambil membuang udara dari mulutnya. Ketika ia menoleh ke samping, ia melihat Nari bersama Jinju tengah berjalan ke arahnya. Mereka berdua nampak begitu kompak. Nari dengan mudahnya memeluk anak itu dan Jinju dengan nyamannya memanggil wanitu itu dengan sebutan ibu.

Jika setelah malam ini mereka tak bertemu lagi, penjelasan apa yang bisa ia berikan pada Jinju? Haruskah kesempurnaan malam ini lenyap begitu saja?

Rasanya terlalu egois jika kelak ia meminta Jinju untuk melupakan Nari sementara Nari nampak sudah terpatri dihati anak itu. Jinju tak pernah merasakan dekapan seorang ibu. Lalu sekarang Jinju diberi kesempatan untuk merasakannya. Jinju pasti akan bertanya. Dan setelah kebohongan yang ia buat, ia jamin Jinju takkan lagi mudah percaya akan semua yang keluar dari mulutnya.

“Hey, apa yang kau pikirkan?”

Kyuhyun menoleh ke kiri. Nari duduk di sebelahnya membawa satu jagung rebus yang masih panas. Jinju berada beberapa meter dari posisi mereka, bermain suap-suapan dengan boneka beruangnya.

Kyuhyun mengernyit. Bukankah tadi mereka berkata ingin membeli kue beras?

“Kyuhyun, aku bertanya padamu. Apa yang kau pikirkan?”

“Oh, tidak. Aku hanya bingung kenapa kau malah membeli jagung rebus.”

“Kau mau?”

Kyuhyun menggeleng malas. Ia kembali melihat ke depan dimana malam sedang menawarkan pemandangan terbaiknya.

“Aku tahu bukan itu yang kau pikirkan,” tebak Nari. Kyuhyun tersenyum sambil membuang batu kecil yang kebetulan didapatnya.

“Aku hanya memikirkan bagaimana jika besok Jinju menanyakanmu. Dia pasti akan sangat sedih.”

Nari ikut menatap Jinju. Ia tersenyum simpul. “Akupun memikirkan perasaannya. Dia nampak sangat membutuhkan seorang ibu. Tapi…kau adalah ayahnya. Dan kau sudah mengalami ini selama delapan tahun. Kau pasti bisa melaluinya lagi.”

Kyuhyun tersenyum. Kedengarannya ia hebat sekali. Merawat Jinju seorang diri bukan perkara mudah. Bukan karena Jinju merepotkan, tapi karena kemampuannya yang terbatas. Karena bagaimanapun juga, ia tetaplah hanya seorang ayah. Ayah biasa yang tak pandai memasak, tak handal mengurus rumah, tak ahli dalam merawat anak dan tak cukup sempurna sebagai orang tua tunggal bagi anaknya.

“Kenapa kau tidak cari pengganti saja?” tanya Nari enteng. Kyuhyun langsung memainkan alisnya. “Ah, maaf. Maksudku…..kau cukup tampan. Dan kupikir kau bisa jatuh lagi pada seorang wanita dan…..ya….menikahinya.”

“Kau lupa? Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku setia. Aku tidak akan mencari pengganti.”

“Kurasa kata pengganti tidak sesuai. Ini adalah seseorang yang akan kau cintai selama sisa hidupmu, bukan menggantikan posisi mendiang istrimu.”

Kyuhyun menatap Nari yang mengunyah jagung rebus itu dengan lahap. Tergiur, ia rampas jagung itu lantas menggigit bagian yang belum digigit oleh Nari.

“Hm, bagaimana jika itu kau? Kau mau menikah denganku?”

“Uhukkk…”

Nari terbatuk-batuk. Beberapa potong jagung keluar dari mulutnya sementara Kyuhyun tertawa terbahak-bahak sampai memukul rumput. Ia benar-benar puas melihat wajah panik Nari.

“Astaga, Nari. Kau pikir aku serius????”

Kyuhyun masih tertawa bahkan lebih keras. Ia baru terdiam saat sadar bahwa Nari benar-benar kesal padanya. Tak ingin berlarut-larut, ia pun mencoba mengendalikan aura tak menyenangkan disekitar Nari.

“Oh, ayolah Nari. Aku hanya bercanda. Lagipula…selera humormu payah sekali.”

Nari tak menjawab. Kyuhyun akhirnya ikut diam dan membiarkan wanita itu meredakan kemarahannya.

Tak berapa lama suasana berubah sepi. Kyuhyun tiba-tiba kehilangan moodnya untuk bicara sementara Nari sibuk memperhatikan tingkah laku Jinju yang lucu. Anak itu sungguh menggemaskan. Andai bisa, Nari ingin sekali benar-benar memilikinya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ada seorang anak yang memanggilnya ibu. Dan ia hampir tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat Jinju melihatnya lantas langsung memeluknya. Anak itu menangis, mencium pipinya lantas berkata, “Ibu, apakah ini benar-benar ibu? Ibu baru pulang dari surga?”

Air matanya menetes. Entah kenapa panggilan ibu yang keluar dari mulut Jinju terdengar amat nyaman ditelinganya, seakan tak ada sesuatu yang salah disana. Seolah-olah…..bahwa Jinju adalah darah dagingnya.

“Jadi bagaimana? Tidak ada yang ingin kau ceritakan?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. Nari menoleh dengan bingung. “Maksudmu?”

“Maksudku…sebenarnya sejak tadi aku ingin bertanya soal kehamilanmu. Jika dihitung dari waktunya, harusnya kau sudah melahirkan atau tepatnya baru saja melahirkan. Benar?”

Pertanyaan Kyuhyun membuat Nari mendadak muram. Ia menunduk, menekuk kedua kakinya lalu meletakkan dagunya di atas lutut. Kyuhyun yang tak mengerti memilih untuk mengikuti gerakannya lalu menyenggol bahunya pelan. “Kenapa diam saja?”

Nari menghembuskan nafasnya. “Aku keguguran.”

“Apa?”

Nari mengangkat bahu. “Ya, aku memang keguguran.”

“Tapi….”

“Dua bulan setelah pertemuan kita, aku terjatuh di kamar mandi. Aku mengalami pendarahan hebat dan akhirnya bayiku tak selamat. Setelah itu, aku belum juga hamil.”

Kyuhyun memainkan telunjuknya didagu. Kedengarannya memang tak kalah menyedihkan. Ia bangkrut dan Nari keguguran, tapi…. “Ah, apa suami dan mertuamu marah lagi? Untuk itu kau kabur dari rumah dan sekarang berkeliaran denganku lagi?”

Giliran Nari yang menyenggol bahunya. “Jangan konyol! Eunhyuk dan mertuaku baik-baik saja. Mereka bisa menerimanya dan tidak menjauhiku lagi.”

“Baguslah. Tapi…” Kyuhyun memiringkan kepalanya perlahan. Ia menatap Nari dengan alis naik turun seolah sedang menyelidiki sesuatu.

“Tapi kenapa?”

“Sepertinya pertemuan kita kala itu adalah pertanda sial. Aku bangkrut dan kau keguguran. Masih untung kau tidak ditinggalkan suamimu lagi.”

Nari tertawa. Tak habis pikir Kyuhyun punya pikiran seperti itu.

“Asal kau tahu, justru menurutku pertemuan kita saat itu adalah titik balik dalam hidupku. Aku sangat malu mengakuinya tapi aku memang belajar banyak darimu.”

Kyuhyun tersenyum bangga. Ia putar tubuhnya menghadap Nari. “Benarkah?”

Nari mengangguk. “Harus kuakui semua yang kau katakan itu memang benar. Kadang aku terlalu mendramatisir keadaan. Kadang aku lupa akan segala hal baik hanya karena satu keburukan. Dan kalau bukan karena kau, mungkin waktu itu aku dan Eunhyuk tidak akan bertemu lagi. Mungkin aku sudah mati ditabrak mobil, mungkin juga hanyut di sungai Han. Tidakkah kau berpikir? Semua hal bodoh yang kau katakan saat itu adalah benar. Dan kadang satu hal yang kita anggap kecil bisa berdampak besar bagi seseorang. Seperti yang kau lakukan.”

Kyuhyun tak bisa menahan senyumnya mendengar penuturan Nari. Ia pun merasa di atas awan. “Pujian apalagi yang ingin kau berikan? Aku masih ingin terbang. Jangan buat aku turun!”

Kesal, Nari menjitak kepalanya. “Tak bisakah kau sedikit serius?”

“Uhh, baiklah. Aku minta maaf. Hanya saja sangat aneh ketika aku mendapat pujian dari orang sepertimu.”

“Seperti apa?” tanya Nari penasaran. Giliran ia yang menghadap Kyuhyun. Ia tatap mata Kyuhyun dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi sedetik kemudian tatapan itu berubah. Kyuhyun mulai lupa bahwa awal mula ia hanya bercanda. Ia jadi ingin terus menatap ke dalam bola matanya dan menemukan hal-hal lain yang belum dilihatnya. Dan Nari pun mulai lupa caranya berhenti menatap mata Kyuhyun.

Kenapa ini harus terjadi lagi? Bagaimana cara menghentikannya?

Tanpa bisa ditahan, bayang-bayang wajah istrinya menggeliat dikepalanya. Ia seperti melihat istrinya berada di depannya, tertawa lepas sambil mendorong bahunya. Istrinya yang ceria, istrinya yang suka merajuk persis seperti Jinju. Dan istrinya………….yang ternyata tak sedang ada di hadapannya.

“Ayah, Ibu…ayo kita pulang!!!”

Rengekan Jinju menyadarkan mereka. Kyuhyun segera berdiri, mendekati Jinju lalu menggendongnya.

“Kau mengantuk?”

Jinju mengangguk. Anak itu menoleh kepada Nari. “Ibu akan ikut pulang bersama kami?”

Kyuhyun dan Nari berpandangan. Sebelum Kyuhyun menjawab, Nari buru-buru menyela. “Tentu! Ibu akan ikut denganmu.”

“Hore!!! Ayah, nanti aku ingin tidur dengan ibu dan ayah. Boleh kan?”

Kyuhyun semakin kehilangan kata-kata. Dan lagi-lagi Nari yang menjawab,”Ten…tentu saja, sayang. Tapi sekarang kau sepertinya sudah mengantuk. Kita harus pulang.”

Jinju minta diturunkan lagi. Ia ingin berada dibahu sang ayah dan Kyuhyun pun mengamininya.

“Maafkan anakku,” bisik Kyuhyun setelah ia berhasil meletakkan Jinju dibelakangnya.

“Tidak apa-apa,” balas Nari.

Anak itu pun mulai tertidur dengan kedua tangan memeluk leher Kyuhyun. Kyuhyun merasa lega melihatnya. Setidaknya setelah ini ia tak perlu mengajak Nari ke rumahnya apalagi ke kamarnya. Ia tak bisa bayangkan jika itu benar terjadi.

Namun, rupanya Nari tetap ingin ikut dengannya. Nari ingin mengantarnya sampai depan rumah.

“Nari, bukankah lebih baik kau pulang saja? Kalau Jinju terbangun, ia tak perlu mengajakmu tidur bersama lagi.”

Nari tersenyum santai. “Jangan khawatir. Aku rasa dia sudah benar-benar tertidur. Sekarang, jangan tolak aku. Kau sudah menolak untuk kucarikan taksi, maka sekarang kau tidak boleh menolakku yang ingin mengantar kalian sampai rumah.”

Kyuhyun menyerah. Percuma melawan kemauan Nari. Mereka bertiga pun pulang berjalan kaki. Dan setelah dipikir-pikir, Kyuhyun rasa ia tak punya alasan untuk menolak permintaan Nari. Lagipula…..mungkin ini adalah perpisahan kedua untuk mereka. Jadi ia ingin memanfaatkannya, menikmati sisa waktu yang mungkin takkan ada lagi.

“Sepertinya kali ini aku yang harus berterima kasih padamu. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana nasib Jinju.”

Nari tersenyum mengejek. “Jadi sekarang kau yang suka melebih-lebihkan? Anggap saja sekarang kita impas. Kau sudah membantuku dan sekarang giliranku.”

“Kau benar. Kita impas.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega. Sesekali ia memperbaiki letak tubuh Jinju dipundaknya. Sesekali juga ia menggerakkan kepalanya yang mulai lelah. Sudah jam dua belas malam dan sudah lama sekali ia belum tidur selarut ini. Ia benar-benar butuh kasur dan bantal sekarang.

Dan sepertinya Nari juga mulai terlihat mengantuk. Kyuhyun bisa melihat wanita itu sesekali menutup mulutnya dan menguap.

Drrrt

Handphone Nari bergetar. Ia segera mengangkatnya.

“Hallo.”

Kyuhyun memperhatikan raut wajah Nari. Nampaknya ada sesuatu yang baru disadari wanita itu. Ia kelihatan agak bingung, sedikit panik lalu mengecek jam tangannya. Dan terakhir, ia menyebutkan lokasi mereka sekarang.

“Baiklah, jemput aku disekitar sini. Sekali lagi maafkan aku.”

Nari menutup handphonenya.

“Siapa?”

“Eunhyuk.”

Kyuhyun mengangguk paham. Sepertinya ada yang kehilangan istri malam ini.

“Aku lupa. Tadi sebenarnya aku hanya ingin jalan-jalan disekitar rumah.”

“Aku tidak bertanya,” sahut Kyuhyun acuh.

“Aku hanya memberi tahu.”

“Tapi aku tidak mau tahu!”

Kesal, Nari berjalan kaki lebih dulu. Ia tinggalkan Kyuhyun dengan anaknya di belakang.

“Hey! Kalau kau jalan seperti itu bagaimana Eunhyuk bisa menemukanmu!” seru Kyuhyun yang berhasil menahan laju langkah Nari. Wanita itu pun diam menunggu sampai Kyuhyun tiba di sampingnya.

“Kau ini. Tidak kasihan denganku? Aku harus menggendong Jinju!”

“Itu akibat karena kau sangat menjengkelkan.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya. Malas meladeni ocehan Nari. Ia memilih melakukan peregangan supaya kepala dan bahunya tidak pegal. Kemudian mereka melanjutkan acara jalan kaki itu.

Suasana dipinggir jalan yang sepi turut membuat aura diantara keduanya mendadak kaku. Nyaris tak ada kendaraan yang lewat sehingga mereka mampu mendengar kicauan jangkrik dan kawan-kawannya. Kyuhyun lalu diam-diam melirik ke arah Nari. Pertanyaan iseng muncul di kepalanya.

“Kelihatannya Eunhyuk panik sekali mencarimu. Aku yakin dia pasti berpikir kau akan lari dan berkelana lagi.”

Nari menggeleng pelan mendengarnya. Kali ini ia tak menanggapinya dengan emosi. “Dia memang berubah sejak malam itu. Dia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya dan tak lagi mau mendengarkan hal-hal negatif tentangku.”

“Dan pada akhirnya aku lagi-lagi menjadi pahlawan,”ujar Kyuhyun bangga. Andai ia tak sedang membungkuk karena Jinju, mungkin dadanya sudah membusung saat ini.

“Anggap saja kau benar. Ah, lupakan saja semua pujianku. Aku lelah. Kau sendiri?”

Kyuhyun mengangkat bahunya. “Hanya menggendong Jinju. Ini hal biasa.”

“Tapi aku bisa melihat dari wajahmu. Kau sangat kelelahan.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya. Setelah diurut dari pagi hingga detik ini, mungkin bisa dibilang ini adalah hari terlelahnya. Bukan cuma fisik, tapi juga pikiran dan perasaan. Tapi Kyuhyun tak mau menjabarkannya. Ia hanya berkata, “Mungkin karena hari ini untuk pertama kalinya aku melakukan pekerjaan berat.”

“Untuk seorang lelaki harusnya itu bukan masalah. Kau tahu? Dulu saat masih sekolah, Eunhyuk adalah penjual sayur di pasar. Ia membantu orang tuanya. Ia harus bangun pagi untuk menyiapkan segalanya lalu pergi sekolah. Pulang dari sekolah ia kembali ke pasar menggantikan ayahnya yang harus melakukan pekerjaan lain.”

Cerita Nari membuat Kyuhyun tak sadar tersenyum. Jika ingatannya masih normal, kalau tidak salah Nari pernah berkata bahwa ia bukan orang yang gampang terbuka pada orang lain. Ia pun memandangnya serius.

“Kedengarannya kau sangat mencintainya.”

Nari berjalan sambil memandang langit. Ia tersenyum manis. “Kau bahkan tak perlu menanyakannya. Aku sangat mencintainya,” ujarnya dan itu terdengar sangat tulus ditelinga Kyuhyun. Ia pun merasa bahagia karena ini adalah hal yang jauh berbeda dibanding apa yang ia dengar beberapa bulan lalu. Namun, kenapa ia juga merasakan nyeri didadanya? Dan kenapa….sekarang air matanya jatuh?

“Kami memang banyak mengalami masalah. Tapi masalah itu yang membuat kami bisa seperti sekarang. Kami sudah berada dalam tahap yang jauh lebih tinggi. Dan aku….sangat bahagia.”

Kyuhyun berusaha tersenyum meski air matanya jatuh lagi tanpa permisi. Ia tak paham. Ia tak mengerti ada apa dengan dirinya. Ia hanya sadar bahwa sebentar lagi kebersamaan ini akan berakhir.

“Hmm, sepertinya Eunhyuk sudah datang.”

Sebuah mobil berhenti. Kyuhyun buru-buru mendongak dan berusaha mengelap air matanya. Ia tak mau nampak konyol.

“Nari!!”

Kyuhyun hanya diam memperhatikan Eunhyuk yang berjalan cepat mendekati Nari lantas memeluknya.

“Kau pergi lama sekali. Kau tahu kita harus istirahat karena pesawat kita akan berangkat pagi-pagi sekali.”

Pesawat? Kyuhyun bertanya-tanya seorang diri. Masih diperhatikannya interaksi suami istri itu yang nampak lupa bahwa ada dirinya disini.

“Ah, kau? Kyuhyun?”

Akhirnya Eunhyuk menyadari kehadirannya. Dengan satu tangan memegangi Jinju, Kyuhyun menyodorkan tangan kanannya.

“Ini kejutan! Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu lagi?”

Kyuhyun hanya mengangkat bahu. Ia tak mau menjelaskannya dari awal. Sepertinya itu akan memakan cukup waktu.

“Lupakan soal itu. Senang bertemu denganmu lagi. Tapi aku tidak senang bertemu istrimu. Rupanya dia masih suka berkeliaran tengah malam sendirian.”

Eunhyuk tertawa pelan. Ia raih pinggang Nari dengan manja. “Aku sudah melarangnya, tapi dia mengatakan ingin melihat-lihat kota sebelum kami benar-benar pergi.”

“Maaf, maksud kalian dengan pergi?”

Seolah baru menyadari sesuatu, Nari menepuk dahinya pelan.

“Aku benar-benar bodoh. Berjam-jam mengobrol denganmu aku sampai lupa tujuan jalan-jalan untuk apa.”

Kyuhyun mulai merasakan bahwa ia akan mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar. Apakah…..

“Sebenarnya aku dan Eunhyuk berencana untuk pindah ke Belanda. Eunhyuk mendapat tawaran pekerjaan dan kupikir kami memang harus mencari suasana baru. Jadi sebelum meninggalkan kota ini, aku pergi jalan-jalan dulu.”

“Tadinya aku sudah akan menolak tawaran itu. Tapi kurasa Nari ada benarnya. Kami memang butuh suasana baru. Setelah tahun-tahun yang berat ini, kami harus mengubah banyak hal.”

Kyuhyun tersenyum pahit. Kebahagiaanpun terpancar jelas dari Eunhyuk dan Nari. Keduanya saling melempar senyum. Bahkan dengan nyamannya Nari menyandarikan kepalanya dibahu Eunhyuk. Ia seperti melihat sebuah foto yang dibingkai dengan indah. Dan ia adalah orang biasa yang tak sengaja berhenti untuk melihat foto itu.

Kenapa rasanya sakit? Jika yang ia lihat adalah suatu kebaikan, kenapa ia harus merasakan sesuatu yang bertolak belakang? Jika yang ia saksikan adalah potret dari sebuah pasangan sempurna, kenapa ia tak bisa memberikan senyum yang sama? Dulu ia bisa melakukannya. Ia bahkan dengan gampangnya meminta Nari untuk tak hadir lagi dalam hidupnya. Namun, ketika Tuhan kembali mempertemukan mereka, kenapa semuanya jadi berbeda?

Sekarang…ia bisa melihat Nari melepas pelukannya pada Eunhyuk. Wanita itu mendekatinya, mengelus puncak kepala anaknya lalu mengecup pipinya.

“Maafkan aku. Aku ingin sekali malam ini berlalu lebih lama. Tapi aku harus pergi,” ucap Nari pada Jinju. Nari lalu berpindah pada Kyuhyun, tersenyum simpul. Namun bagi Kyuhyun, itu jelas adalah senyum perpisahan. Senyum yang dulu ia berikan pada Nari yang menggambarkan seolah-olah takkan ada lagi pertemuan setelah hari ini.

“Jika kau ingin menangis, menangis saja,” canda Kyuhyun. Namun, Nari tak menanggapinya. Ia masih menatap Kyuhyun dengan serius.

“Entah kenapa kita selalu bertemu dalam waktu singkat. Tapi bagiku, waktu yang pendek yang kita lewati adalah waktu yang sangat berharga dalam hidupku. Dulu aku tak sempat mengatakan banyak hal, maka sekarang Tuhan memberiku kesempatan untuk mengatakannya. Dulu kau yang membantuku dan sekarang aku yang membantumu.”

Kyuhyun diam saja meski sejujurnya ia bisa menyela dengan kelakarnya seperti biasa. Namun, saat ini bibirnya terkatup rapat. Ia ingin mendengarnya. Ia ingin mendengar semua yang ingin dikatakan Nari.

“Terima kasih karena sudah membantuku saat itu. Terima kasih atas hal-hal konyol yang kau lakukan. Kau mungkin orang paling gila yang pernah kutemui, tapi kau adalah orang yang sudah mengubah hidupku dan keluargaku.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya. Harusnya ia bisa menjawabnya dengan mudah. Ia bisa memutar balikkan puja puji Nari untuknya. Tapi yang terjadi ia justru kehilangan kata-kata. Yang ia tahu Nari sedang maju satu langkah untuk lebih dekat dengannya. Dan ketika ia meluruskan pandangan, wajah Nari menjadi sangat dekat.

“Boleh aku memelukmu? Pelukan pertama dan terakhir dari sahabatmu.”

Kyuhyun tersenyum. Ia melihat ke belakang dan Eunhyuk mengangguk dengan santai. Maka ia mengangguk lalu membiarkan Nari memeluknya.

Dalam caranya sendiri, ia merasa itu adalah pelukan yang luar biasa. Tak erat. Nari hanya menempelkan tubuhnya sedikit lalu mengelus kedua lengannya. Tapi entah bagaimana ia merasa senang, damai, sedih dan kesal dalam waktu bersamaan. Dan dengan satu tangannya yang bebas, ia berhasil membalas pelukan itu lalu meletakkan sesuatu disaku jaket Nari.

“Untuk masalah yang sedang kau hadapi, kurasa aku tak menasehatimu. Bukankah itu adalah keahlianmu?” ujar Nari sesaat sebelum pelukan itu terlepas.

“Terima kasih atas segalanya,” bisik Nari.

Pelukan itu benar-benar terlepas. Kyuhyun bisa melihat Nari menyeka air mata di sudut matanya. Ia kemudian menerima jabat tangan dari Eunhyuk.

“Kalau kau mau, kami bisa mengantarmu hingga rumahmu,” tawar Eunhyuk yang langsung disambut antusias oleh Nari.

“Tidak perlu, kawan. Aku ingin jalan kaki saja.”

“Tapi…” sela Nari. Sayangnya Kyuhyun masih menggeleng yang artinya tidak ada lagi tawar menawar.

Kyuhyun hanya bisa memberikan senyum permintaan maafnya. Dan beberapa detik kemudian, ia melihat keduanya berjalan menjauh. Nari terus melambai. Nari juga menyerukan nama Jinju sembari meminta maaf.

“Semoga kita bisa bertemu lagi!!!” seru Nari.

“Aku harap itu tidak akan pernah terjadi!!” balas Kyuhyun yang mendapat senyuman manis dari Nari. Setiap kata adalah doa dan ia memang berharap semuanya berakhir disini. Lebih baik…..jika mereka tak bertemu lagi. Nari bahagia dengan kehidupannya sedangkan ia bahagia bersama anaknya. Dan segala perasaan aneh yang menderanya malam ini akan musnah.

Ia pun berusaha tegar dengan melambai untuk terakhir kali pada mereka. Begitu mobil mereka semakin mengecil, perlahan-lahan ia berbalik, memperbaiki tubuh Jinju dipundaknya lalu tersenyum.

“Terima kasih, Tuhan. Karena Kau sudah membuat Jinju sangat bahagia malam ini.”

Sementara di dalam mobil, diam-diam Nari masih memperhatikan Kyuhyun melalui kaca spion. Ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia masih ingin menghabiskan waktu bersama mereka, terutama Jinju. Ia tak sampai hati jika membayangkan besok pagi Jinju akan merengek mencari kehadirannya.

“Kau menangis?” tanya Eunhyuk.

Nari lekas-lekas mengelap air matanya lalu melihat ke depan. “Aku hanya sedih jika mengingat Jinju. Anak itu………tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.”

“Tapi Kyuhyun adalah pria yang hebat. Aku tak yakin itu akan berhasil jika aku yang berada diposisinya.”

Nari mengangguk sekedarnya. Ia tak ingin memperpanjangnya lagi. ia memilih menyandarkan tubuhnya lantas kembali memandang spion. Ditengah lamunannya, ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam saku jaketnya. Maka ia mengambilnya lalu dilihatnya dengan seksama. Dan ketika ia berhasil mengamatinya, seketika itu juga matanya melebar.

“IBU!!!”

“Dia…sepertimu.”

“Sepertiku?”

“Ya, sepertimu.”

“Bagaimana jika itu kau? Kau mau menikah denganku?”

“Aku sudah mengalaminya satu kali dan aku pastikan aku tidak akan mengalaminya lagi di depan mataku!!”

Foto itu terlepas dari pegangannya. Tak ia hiraukan panggilan serta pertanyaan suaminya. Ia langsung menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan mereka. Namun, semuanya terlambat. Kyuhyun dan Jinju sudah tak terlihat.

“Nari, ada apa? Ada yang tertinggal?”

Nari tak menjawab. Tubuhnya kembali bersandar dan sedetik kemudian air matanya jatuh lagi.

Jadi………….inikah alasan Kyuhyun membantunya?

**THE END**

 

 

 

17 Comments (+add yours?)

  1. cici
    Mar 25, 2016 @ 12:38:44

    itu nari knpa pas end…kayak syok gitu?

    Reply

  2. uchie vitria
    Mar 26, 2016 @ 12:48:01

    gk nyangka kalo bakal ada sequelnya dan takdir memang membuat mereka berdua saling mengenal lagi dalam satu malam
    bersama jinju juga
    ya ampun kyuhyun gk nyangka sampai seperti itu
    nari keguguran tapi eunhyuk masih setia bersamanya
    bikin terharu ini

    Reply

  3. chohara03
    Mar 26, 2016 @ 15:56:22

    Kenapa lagi ini?? Narinya sadar suatu memori soal Kyu? Ada beberapa dialog yang di bold terakhir yang bikin gw bisa ngerti kenapa Nari kaget. SEQUEL MBA AUTHOR !! GAK MAU TAU POKOKNYA SEQUEL!!!!!

    Reply

  4. inggarkichulsung
    Mar 27, 2016 @ 15:39:35

    Wajah Nari dan alm istrinya Kyu oppa cukup mirip, hal itu yg membuat Kyu oppa membantunya saat itu, Nari jg lsg menyukai Jinju wlpn ia dipanggil ibu oleh Jinju bukan anak kandungnya sendiri, Kyu oppa dan Nari sama2 bijak dlm memberikan nasihat, daebak ff chingu

    Reply

  5. andradnf
    Mar 27, 2016 @ 19:10:12

    Setelah sekian lama nunggu sequelnyaaa akhirnya keluar jugaa😭😭 mau yg ini atau yg sebelumnya sama2 bikin terharu…

    Reply

  6. kartikstika
    Mar 30, 2016 @ 11:54:09

    huwaaaaaaaa sumpeh keren kasihan kyu harus jd duda …😥

    Reply

  7. Jung Haerin
    Mar 30, 2016 @ 21:04:43

    Oke ini keren…. Aku lupa udh baca apa blm yg one night, tp alhamdulillah nyambung alias paham, heeee
    Feel’y dpt bgt, daebak!!!

    Reply

  8. Monika sbr
    Mar 31, 2016 @ 19:08:43

    Ternyata ada sequelnya.
    Kasihan kyuhyun dan jinju. Gimana jinju setelah bangun tidur tdk menemukan nari yg dianggapnya sbg ibunya?? Apalagi nari yg mau pindah ke belanda sama eunhyuk…
    Semoga aja msh ada sequelnya.

    Reply

  9. harniyunhie
    Apr 03, 2016 @ 00:04:40

    wah keren bgt kak ceritanya. tapi sayang bgt ga ada sequel, padahal pengen tau kedepannya kehidupan kyu dan nari bakal jadi kaya gimana. Keep writing kak!

    Reply

  10. Y♥NGIE
    Apr 25, 2016 @ 21:45:22

    sumpah terharu :”) berkesan bgt ff’a! dpt bgt nilai positif yg bs d ambil 🙂
    kyu sosok ayah yg……………ssh d ungkapin kata2. kyu is the appa hero bgt lh ❤ ga mkirin diri sndr yg pnting bwt anak'a :') bangga bgt lh sm kyu :*
    hhh klo jinju ngambek sogok aj y sm mkanan hhh
    miris bgt lh gbsa bersatu 😥 kirain ktmu lg bkal brsatu. keren ff'a gbsa ktebak ending'a! keren!
    smoga ada seq lg & mreka bs jd kluarga kcil yg baru 😀 smoga nari bs jd ibu jinju!

    Reply

  11. josephine azalia
    Sep 28, 2016 @ 22:27:47

    eh oiii tlong penjelasannnn
    jadi nari itu beneran mamanya jinju ato mukanya cm mirip aja??
    sedih woiii beneran baca ff iniii….
    jadi nari itu beneran mamanya jinju kannn???
    ato cumann miriippp
    omoooo curioussss siapapun tlong jawb soalnya aku blm baca si one night nyaaaa
    nari mamanya jinju ato bukan gitu
    thanks!

    ps : author ini keren abis! nangis aku bacanyaaaaaaaaaaaaaaa

    Reply

    • rizzzkiii
      Sep 29, 2016 @ 00:24:40

      Baca aj yg one night dulu ckck . Untuk jawaban soal Nariiiii…biarlah reader menebak sendiri dan biarlah cukup saya yg tahu haha *ketawasetaaannn*

      Pada tanggal 28/09/16, Superjunior Fanfiction 2010

      Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: