That One Table In The Corner [1/?]

TOTITC

That One Table In The Corner [1/?]

-Anoname-

 

Casts                       : Lee Hyukjae, Lee Donghae, Cho Kyuhyun
Genre                      : Romance, Friendship, AU
Rating                     : PG-15

Length                    : Series
Disclaimer           : Untuk dikirim ke sini aku melakukan beberapa perubahan supaya isinya sesuai.

Original version posted in my personal blog nightsingsthelullaby.wordpress.com

 

===

[FIRST ENCOUNTER : Lee Hyukjae] Hey Miss, Can I Have This Seat?

 

Aku membaca lagi tulisan yang tercetak pada kartu jadwal kuliah di tanganku. Memastikan bahwa aku telah berada di depan ruangan yang tepat, sesuai dengan apa yang tertera di selembar kertas asturo hijau berukuran B5 ini.

Land Deformation Surveying. Ruang 302.

Aku membuka pintu perlahan dan kudapati sebagian besar tempat duduk di dalam ruangan tersebut sudah hampir penuh. Tidak heran, hari ini adalah jadwal kuliah umum mata kuliah Mapping and Engineering Survey untuk materi Land Deformation Surveying.

Kabar baiknya , kuliah hari ini adalah kuliah kelas campuran, di mana mahasiswa dari kelasku dengan kelas satunya lagi akan bergabung dalam satu ruangan yang sama untuk beberapa pertemuan ke depan.

Kabar buruknya, aku tidak mengenal siapapun dari kelas sebelah.

Kabar yang lebih buruk lagi adalah, aku bahkan tidak akrab dengan siapapun yang berasal dari kelasku.

Aku menghela napas pelan merutuki ketidakberuntunganku seperti yang sudah sudah. Sepasang mataku segera berkeliling mencari tempat duduk yang masih kosong. Aku beruntung ada beberapa baris yang masih bisa ditempati di deretan terdepan. Segera saja kutempati tempat yang kosong tersebut sebelum ada orang lain yang menempatinya karena nampaknya kelas hari ini akan ramai sekali.

Diam-diam kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.

Pukul setengah sembilan lewat lima menit.

Masih ada kurang lebih 30 menit lagi sebelum kelas ini dimulai.

===

Dosen kami baru saja masuk dan menutup pintu. Seorang lelaki paruh baya yang kudengar sangat ahli dalam bidang geodinamika dan sejenisnya. Ia baru saja hendak memulai perkenalannya ketika pintu kelas yang sudah tertutup itu terbuka perlahan. Menimbulkan decit tertahan akibat bergesekan dengan lantai marmer yang dingin di bawahnya.

Mataku memicing mengikuti gerak pintu yang terbuka perlahan, tepat beberapa detik setelah dosen kami masuk dan menutup pintu kelas. Sepasang mataku menangkap sesosok pria jangkung dengan rambut berwarna cokelat madu membungkuk meminta maaf pada dosen kami yang tengah memasang wajah sebal karena kelasnya diinterupsi.

“Itu yang terakhir kali, Lee Hyukjae. Lain kali aku tak mau melihatmu terlambat lagi masuk ke kelasku. Do I make myself clear, Mr. Lee?”

Laki-laki yang ternyata bernama Lee Hyukjae itu hanya mengangguk pelan kemudian bergegas menuju satu-satunya tempat duduk kosong yang tersisa –yang ternyata- terletak persis di sebelah tempat dudukku saat ini.

“Hei.” Aku sedang sibuk menyiapkan buku catatan dan peralatan menulisku ketika sebuah suara tertangkap dalam indera pendengaranku. Aku berani bersumpah, aku bisa merasakan ada ribuan kupu-kupu yang mengepak bersamaan dalam perutku hanya dengan mendengar suaranya saja.

Kuberanikan diri untuk mendongak dan kudapati laki-laki itu sedag menatap lurus ke arahku. Beberapa helai rambutnya berjatuhan menutupi sebagian wajahnya. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

Dari tempatku duduk saat ini aku bisa melihat bagaimana kehadirannya mampu membuat sistem inderaku mendadak menolak bekerja dengan normal. Sungguh sial. Aku pasti tampak sangat bodoh saat ini.

“Kau tidak keberatan ‘kan kalau aku duduk di sini?”

Aku bisa merasakan kupu-kupu dalam perutku mengepakkan sayapnya sekali lagi. Perasaan menggelitik yang menyenangkan itu kembali singgah begitu kudengar kalimat itu meluncur keluar dari bibirnya yang selalu tersenyum itu. Yang tanpa pernah kubayangkan sebelumnya, menjadi awal perkenalan kami hari itu dan seterusnya.

Ia menarik kursi kosong di sebelahku dan duduk di atasnya tepat setelah aku mengiyakan permintaannya.

“Mulai saat ini sepertinya aku akan bergantung banyak padamu, hoobae. Jadi mohon bantuannya, ya. Ngomong-ngomong, namaku Lee Hyukjae. Siapa namamu?”

===

[ANOTHER ENCOUNTER : Gong Ah Reum-Lee Donghae] Good Game as Always

 

“Ada berapa sesi lagi yang harus kuselesaikan?” Ahreum menggeram tidak sabar. Ibu jarinya bergerak cepat di atas layar ponselnya, membuka portal berita olahraga online yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi. Dahinya berkerut sementara rahangnya mengeras. Sangat terlihat bahwa ia sedang teramat gelisah saat ini.

Barb, bisakah kau tenang sedikit? Aku tidak bisa menyelesaikan riasannya dengan baik kalau begini.” Greg mengeluh, sesekali membuat gerakan menghapus keringat tak kasat mata di dahinya. Melahirkan tatapan galak dari Ahreum yang dengan segera membuat nyalinya menciut.

Greg, you know how much I love the way you do the magic on my face and that’s the other reason why do I agree to sign the modelling contrat with this magazine you’re currently working at -aside from the money they pay me- but do you know that I could make you lost this job only in a blink of eye?” lanjutnya final dan Greg hanya bisa tersenyum kaku kepadanya.

I’m really sorry, miss.” Lanjut pria itu, kali ini sukses membungkam mulutnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.

“Sungguh, Greg. Kukira kau profesional.” Gerutu Ahreum lagi. Sedetik kemudian gerutuan itu berubah menjadi erangan kekecewaan.

I really do, Barb.” Sahut Greg. Ia baru saja hendak mengambil mascara dari dalam kotak make-up miliknya di atas meja rias ketika menyadari perubahan ekspresi di wajah cantik tanpa cela milik Ahreum. “Sesuatu yang buruk terjadi, Ahreum-a?”

Ahreum menghela napas, menatap balik pada Greg yang memberikan tatapan simpati padanya.

Greg knows her too well. No wonder she loves to work with him.

“Aku melewatkan quarter pertama pertandingan baseball Donghae. Dan Kyuhyun baru saja mengirimkan foto selfie dirinya dengan Hyuk sesaat setelah Donghae mencetak score dan itu sungguh membuatku marah.” Geramnya lagi.

Greg tampak berpikir sebentar sebelum memakaikan mascara pada bulu mata lentik milik Ahreum. “Donghae Lee? Atlet baseball yang sedang ramai dibicarakan media itu? Yang biasanya selalu menemani photo session-mu itu?” tanyanya memastikan dan Ahreum hanya menganggukkan kepalanya malas. “No wonder he is not here today.

“Ahreum-ah, pemotretannya lima menit lagi. Dan aku berjanji itu adalah sesimu yang terakhir malam ini. Setelahnya kau bisa pergi kemanapun yang kau mau, termasuk datang ke pertandingan baseball Donghae dan kuharap kau tidak melakukan kebodohan di sana. Greg you better hurry.” Seseorang masuk ke dalam ruang rias. Ahreum mengangkat wajahnya dan mendapati Kim Ryeowook, manajernya itu sedang menggerutu seraya melakukan sesuatu dengan iPad-nya.

“Aku benar-benar akan menuntut manajemen model baru itu. Bisa-bisanya ia terlambat untuk pemotretan pertamanya. Tidakkah dia tahu dengan siapa dia bekerja kali ini?” lanjutnya lagi.

“Kurasa kau harus benar-benar menuntutnya, Wook. Aku juga tidak suka dengan orang itu. Ia bekerja dengan sangat buruk.” Ahreum melemparkan tatapannya pada Greg yang sedang sibuk merapikan make up di wajah Ahreum. “Bisa-bisanya sih majalah sekelas ini mengontrak model payah seperti dia. Serius, Greg. Apa sih yang sedang dipikirkan oleh bosmu itu?”

Greg hanya mengendikkan bahunya tidak peduli. “Entah, kudengar payment-nya tidak seberapa. Dan ngomong-ngomong riasanmu sudah selesai. Dazzling as usual.” Ujar Greg seraya mengamati dandanan Ahreum dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Thanks Greg. You know you’re the best.”

“Said the one who was trying to fire me up a while ago.” Lanjut Greg lagi ketika Ahreum bersiap kembali ke studio pemotretan. “Ngomong-ngomong, Barb. Kau serius hanya berteman dengan baseball star satu itu? You know he is too hot to be that kind of best friend.”

Ahreum mengerling ke arahnya seraya membuka pintu ruang rias diikuti oleh Ryeowook di belakangnya.

I know right, Greg?

===

“Sebuah pukulan yang menakjubkan di sebelah sana, penonton sekalian!” Suara announcer pertandingan baseball menggema di seluruh penjuru stadion, diiringi sorakan para pendukung yang bergemuruh menyaksikan tim kesayangan mereka berhasil menambah skor. “Player number fifteen from Yonsei Tigers hits the home run! That’s Donghae Lee!”

Ladies and gentlemen, I proudly present to you, this session championship winner, The Yonsei Tigers!” seru announcer yang satunya lagi.

Gemuruh sorakan penonton semakin membahana, membuat Donghae tersenyum lebar seraya melambai kepada para pendukungnya.

“Hyung, kau melakukannya! Kita menang!” seorang player dengan nomor punggung 12 berlari sambil merentangkan lengannya lebar-lebar. Membuat Donghae tertawa dan segera membalas pelukan dari kawannya itu.

Yeah, Sehun. We fucking won tonight!” serunya lagi. Beberapa pemain yang lain berlari dan mengerubunginya, memberinya hadiah pelukan dan ucapan selamat.

“Permainanmu luar biasa malam ini, sunbae!” seru seorang pemain dengan nomor punggung sembilan. Donghae mencondongkan tubuhnya, kurang bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh rekan setimnya tersebut.

“Aku bilang, permainanmu luar biasa malam ini!” seru pemain tersebut dan Donghae tertawa dibuatnya.

“Maafkan aku Jonghyun, tapi aku tidak bisa mendengarmu dengan baik di tengah-tengah sorakan penonton yang mengatakan betapa kerennya aku malam ini.” Lanjut Donghae sambil menyeringai lebar dan membuat kawannya yang bernama Jonghyun itu menghadiahinya dengan sebuah pukulan ringan di lengan atasnya.

Damn you, Lee Donghae.” Serunya sambil tertawa bersama Donghae yang kini memberinya sebuah pelukan kemenangan.

“Kau juga, Jjong. Permainanmu malam ini tidak kalah luar biasa.” Ujarnya.

Congratulation, Fishy!” Donghae serentak menoleh ke arah datangnya suara. Dari kejauhan ia melihat sahabat-sahabatnya berlari memasuki lapangan. Ada Kyuhyun dan Hyukjae di sana, membuat Donghae semakin bahagia atas kemenangannya malam ini.

What the hell you’re doing here, guys? Aku tidak menyangka kalian datang dan menonton malam ini!” serunya gembira seraya menerima hadiah pelukan dari sahabat-sahabatnya itu.

“Hyung minggir, badanmu bau keringat.” Ujar Kyuhyun sadis, namun anehnya sama sekali tidak membuat Donghae sakit hati dan justru balas memeluk laki-laki yang usianya terpaut beberapa tahun lebih muda darinya itu dengan sebuah pelukan yang lebih erat.

“Aku tahu kau bangga sekali terhadapku, adik kecil.” Sahutnya dan ditanggapi dengan decihan setengah hati dari bibir Kyuhyun namun tak urung juga ia tertawa dibuatnya.

“Kudengar malam ini ada rapat dengan pemegang saham di hotelmu, Kyu? Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa di sini?” tanya Donghae ketika mereka dalam perjalanan menuju ruang ganti pemain. “Kau juga, Hyuk. Kau bilang kau tidak bisa datang malam ini karena ada lembur pekerjaan proyekmu di Jeju.” Kali ini Donghae tidak tahan untuk tidak menggerutu sebal.

“Serius, Lee Donghae. Menurutmu kami dengan semudah itu akan melewatkan pertandinganmu?” sahut Hyukjae dengan tatapan tidak percaya yang dibuat-buat. Tangannya bergerak mengacak-acak rambut Donghae yang basah kuyup oleh keringat.

“Terimakasih banyak, tapi sungguh aku bahagia sekali kalian ada di sini.” Lanjut Donghae, masih dengan senyuman lebar yang sama di wajahnya.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto dirinya dengan Hyukjae beberapa menit yang lalu saat Donghae berhasil mencetak score. “Kami bahkan mengirimkan ini untuk Ahreum yang keberadaannya tidak terlacak.” Ujarnya. “That walking skeleton is so obsessed with working lately until she doesn’t know how to enjoy life.

Donghae hanya tertawa seraya memberikan satu pukulan ringan di tulang rusuk Kyuhyun. “Ngomongngomong aku tidak melihat Ahreum. Di mana gadis itu?“

Did I miss something, Lee Donghae?

Seketika sepasang mata Donghae melebar, diikuti oleh senyuman yang tidak kalah lebar dari Hyukjae dan Kyuhyun.

“Aku tahu aku datang terlambat malam ini tapi hey, salahkan model bodoh yang bekerja denganku tadi. Dan ngomong-ngomong, aku minta maaf karena tidak bisa menonton pertandinganmu dari awal, but I know you played it well and congratulation for hitting the home run, Lee Donghae. Good game as always.

Donghae tahu, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya kali ini.

“Gong Ahreum. You’re here.”

===

[FIRST ENCOUNTER : Cho Kyuhyun] Would You Like to be The Star to My Night Sky?

 

Tengah malam sudah semakin dekat.

Jarum pendek sudah menunjuk pada angka sebelas, sementara jarum panjang lambat berpindah dari menit ke lima menuju menit ke enam.

Hyukjae merapatkan jaket kulit hitamnya berusaha menghalau dingin, sementara sepasang matanya lekat menatap jalanan di pinggiran kawasan Songcho-do yang biasanya lengang, namun untuk dini hari itu begitu padat oleh manusia. Ia meremas kedua tangannya gelisah, pikirannya mulai tidak tenang.

Donghae juga tidak ada bedanya. Laki-laki itu kini sibuk meremas pembatas jalan kuat-kuat. Tanpa ia katakan pun, Hyukjae tahu bahwa lelaki itu sedang gelisah. Sama seperti dirinya. Hanya Ahreum yang tampak begitu tenang. Gadis itu menyandarkan tubuh rampingnya ke pembatas jalan, tepat di sisi Donghae, ekspresi wajahnya terlihat begitu tenang.

He is here! He is here!” Donghae berseru tiba-tiba. Nyaris melompati pembatas jalan jika saja Ahreum tidak dengan sigap menarik bagian belakang kemeja denim yang ia kenakan malam itu.

Seseorang di antara kerumunan tiba-tiba berteriak nyaring, mengumumkan bahwa dua pembalap jagoan mereka masing-masing sudah semakin dekat. Tidak sampai sepuluh detik kemudian, dua buah mobil sedan mewah melesat cepat melewati garis finish.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Tidak sampai satu tarikan nafas hingga bendera hitam-putih dikibarkan pertanda bahwa race telah selesai. Hyukjae dan Dongahe melihat satu sama lain dalam diam. Kini tinggal menunggu diumumkannya pemenang race malam ini.

Suara microphone check dari atas sana membuat perhatian Dongahe dan Hyukjae teralihkan. Sesosok pria tambun berkumis tebal berdiri di atas sebuah podium setinggi setengah meter. Ada senyuman aneh tergambar di wajahnya.

Ladies and Gentlemen. I present to you this season winner, Cho Kyuhyun!”

===

“Lain kali aku akan membunuhmu jika kau membuatku panas dingin lagi seperti tadi.” Omel Hyukjae ketika mereka baru saja tiba di sebuah restauran fast food tidak jauh dari lokasi balapan, membuat Kyuhyun tertawa puas hanya dengan melihat wajah jengah Hyukjae yang menurutnya tidak ada tampan-tampannya sama sekali. Donghae sendiri tidak mengatakan apa-apa. Tapi Kyuhyun tahu bahwa laki-laki itu seratus persen setuju dengan Hyukjae.

“Kalian berdua ini bisa tidak sih berhenti mengkhawtirkan hal yang tidak perlu.” Ahreum muncul di samping meja mereka dengan senampan double cheeseburgers dan cola cider large size. Dengan sigap Donghae bangkit dan memindahkan nampan dari tangan Ahreum ke atas meja.

“Aku tahu hanya Ahreum yang sayang padaku.” Sahut Kyuhyun yang langsung disambut ekspresi muak oleh Donghae dan Hyukjae di hadapannya. Bahkan hingga Ahreum sendiri membuat gerakan ingin menghantam kepala Kyuhyun dengan nampan yang tadi ia bawa. Membuat Kyuhyun tidak tahan untuk tidak tersenyum geli.

“Aku bercanda. Ya Tuhan kalian ini kenapa sih. Ayo cepat dimakan semuanya. Aku yang traktir malam ini.” Lanjutnya lagi dan kali ini ditanggapi dengan sorakan bahagia oleh ketiga sahabatnya itu.

Kyuhyun baru saja hendak bangkit untuk memesan beberapa french fries ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia bisa mendengar seseorang berteriak nyaring kepadanya dari ujung sambungan telepon.

I told you to pick me up at Starbucks in Cheondam-dong at 11 pm, didn’t I?

Tidak perlu jadi peramal untuk tahu siapa yang menelepon.

“Kau ‘kan bisa pulang sendiri. Kenapa tidak telpon supir ayah saja? Merepotkan sekali.” Sahut Kyuhyun seraya membuat gigitan besar pada cheeseburger miliknya.

Jangan terkejut kalau besok kau dipanggil ayah ke ruangannya karena ayah tahu kau sering ikut balapan mobil.

Spontan punggung Kyuhyun menegang.

“YA! Cho Yeon Joo!”

===

Kyuhyun membanting pintu mobilnya keras-keras setelah ia tiba di depan sebuah kedai kopi yang dimaksud oleh adiknya di sambungan telepon beberapa saat yang lalu. Sepasang matanya bergerak liar menyisir bagian dalam bangunan berdinding kaca tersebut untuk mencari keberadaan adiknya. Tidak lupa dengan sumpah serapah beruntun yang mengalir lancar keluar dari bibirnya seperti mantra. Tingkat kekesalannya saat ini sedang berada dalam limit menuju tak terhingga.

Sudut-sudut bibirnya menegang ketika matanya menangkap sosok yang ia cari sejak tadi. Adiknya, Yeon Joo, duduk di sebuah kursi di sudut Starbucks. Ada seorang gadis mengenakan baju berwarna putih yang duduk di hadapannya. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk adiknya, mengabarkan bahwa ia sudah tiba.

“Kakakku sudah di sini. Terimakasih banyak sudah menemaniku hingga kakakku tiba.” Terdengar suara Yeon Joo berbicara pada gadis di depannya namun Kyuhyun tak ambil pusing. Ia terlalu sibuk dengan ponselnya saat ini. Berita mengenai dirinya memenangkan race malam ini cukup banyak menyita perhatiannya hingga ia terlalu tak acuh untuk memperhatikan sesosok gadis yang sedang mengobrol dengan adiknya.

“Ayo pulang.” Terdengar suara gerutuan dan seseorang menarik-narik lengan kemejanya. Kyuhyun memiringkan kepalanya, memberikan tatapan sinis terbaiknya untuk seseorang yang sedang ingin ia terkam saat itu, jika saja orang itu bukanlah adik kandungnya sendiri.

“Sebenarnya apa sih yang kau lakukan selarut ini di tempat ini?” tanyanya. Tidak ingin mengungkit-ungkit masalah balapan mobil dan ancaman adiknya beberapa menit yang lalu.

“Ada rapat mendadak.” Jawab adiknya itu dengan nada suara tidak peduli.

“Rapat apa?”

“Eum, kau tahu INFINITE akan menggelar konser solo mereka tidak lama lagi. Kami sedang mendiskusikan kemungkinannya untuk bekerja sama dengan promotor konser.”

Kyuhyun tidak bisa menahan keterkejutannya lagi. Masalah konser grup idola katanya? Memangnya tidak bisa dibahas di lain waktu dan di tempat yang lebih baik lagi? Benar-benar merusak moodnya saja.

“Ya Tuhan aku tidak menyangka bahwa kau akhirnya akan kehilangan akal sehatmu itu gara-gara sebuah grup idola.” Komentar Kyuhyun tajam. “Dan siapa pula gadis yang bersamamu tadi. Aku berani bertaruh kalian berdua pasti sama anehnya.”

Kyuhyun memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya, tepat ketika Yeon Joo tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan ke atas kepalanya.

“YA! Cho Yeon Joo!” umpatnya dan gadis yang berusia lebih muda darinya itu hanya balas menatap garang ke arahnya.

“Jangan bicara sembarangan tentang oppadeul!” serunya lagi.

Kali ini Kyuhyun sukses menganga dibuatnya tapi tidak berniat membalas karena dirinya sedang sibuk memundurkan mobil sebelum akhirnya berputar ke arah yang berlawanan. Sepasang matanya awas menatap jalanan yang lengang namun padat. Tidak ada yang tahu jika ada sebuah mobil atau kendaraan lain yang bisa saja tiba-tiba muncul dan menghantam bagian belakang mobilnya.

Sangat tidak lucu, pikirnya.

Ia masih sibuk dengan setir dalam genggamannya. Sekalipun jalanan sedang lengang namun banyak sekali mobil-mobil yang diparkir di pinggir jalan. Ia baru saja berhasil memutar mobilnya dan hendak menginjak pedal gas ketika sesuatu yang menarik tertangkap oleh matanya.

Mungkinkah seorang malaikat baru saja dijatuhkan ke bumi? Pikirnya.

Di sana.

Di ujung jalan sana. Seorang gadis dengan baju terusan berwarna putih berdiri sambil merapatkan coat berwarna cokelat susu yang ia kenakan. Rambut panjangnya yang kecokelatan menjuntai hingga nyaris menyentuh pinggangnya

Eksistensinya begitu indah. Seperti bintang yang mengusir kelamnya langit malam di musim dingin.

Kemudian bola mata itu.

Sial.

Selama ini hanya gadis-gadis bermata biru yang sanggup mencuri perhatiannya.

Siapa sangka gadis sederhana dengan bola mata sehitam jelaga itu mampu membuatnya melewatkan beberapa degupan jantungnya sekaligus dalam satu waktu?

“Dan gadis itu,” Yeon Joo tiba-tiba menunjuk pada sosok gadis di pinggir jalan yang tengah diamati oleh Kyuhyun. “Gadis yang kau bilang aneh tadi adalah gadis baik-baik. Ia punya nama.” lanjut Yeon Joo lagi.

Kyuhyun menatap wajah adiknya dan sedetik kemudian fokusnya sudah teralihkan kembali oleh si gadis cantik bermata jelaga yang baru saja masuk ke dalam sebuah mobil sport berwarna hitam.

“Namanya Sae Byul. Kim Sae Byul.”

Sae…Byul?

Kenapa namanya juga cantik sekali?

-To Be Continued-

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: