Spotless Mind [1/5]

lw3-3_20150131111033993

Author    : Metaz05

Title   : LAST WISH [-3rd Story] Spotless Mind (1/5)

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Henry Lau, Park Jungsu, Kim Youngwoon

Genre : Fantasy, AU

Rating: G

Length : chapter

Author’s note : Haaiii….hehe… pertama, soal 3rd-story.. kalian bisa baca langsung dari chapter ini tanpa baca sequel sebelumnya atau kalau aja ada yg penasaran bisa search di blog ini, Last Wish – Heart’s Scent. Thankyou for reading…

***LAST WISH***

[3rd Story]

_Spotless Mind (1st Part)_

***

I don’t remember, I don’t know. Did we love? I really don’t know, it’s not in my memory. Who are you that you come into my arm? I really don’t know anything..

***

 

“Kim jongwoon…” panggil Ahra yang hampir berlari menghampirinya saat melihat punggung kurus itu bersandar pada tembok di lorong rumah mewah Siwon. Tentu saja Ia perlu menyombongkan intuisinya yang ternyata lebih tajam dari kemampuan omong kosong yang dimiliki jongwoon. Ahra merentangkan tangan untuk menggapai pundak pria itu tapi diurungkannya di tengah jalan. Ia membiarkan tangannya berhenti di udara saat jongwoon justru sudah berada dalam jangkauannya.

 

Pria itu menoleh pelan padanya, hanya menatapnya. Tanpa bicara sepatah kata pun jongwoon hanya merekam wajah ahra yang berdiri dihadapannya dengan kedua mata sipitnya yang membuat ekspresinya dua kali lipat lebih menakutkan dari biasanya. tak ada suara yang bergulir disekitar mereka dan ahra seharusnya tak dapat membaca pikirannya seperti yang dapat dilakukan pria ini. Ahra melangkah maju, menyelipkan kedua tangannya kebelakang badan jongwoon lalu menepuk punggungnya pelan.

 

“Tak apa. Tak ada apa apa.” Bisiknya dipundak jongwoon.

 

Jongwoon masih tak bergerak. Pikirannya masih entah dimana masih tak ingin menyetujui kenyataan yang membuatnya terus menyalahkan dirinya sendiri di masa lalu. Jongwoon masih menyelam makin dalam pada lubang penyesalannya. Apa yang seharusnya dilakukannya, apa yang seharusnya tak dilakukannya, jongwoon hanya makin tersesat, makin terombang ambing dalam pikiran buruknya.

Ahra menangkupkan tangannya pada kedua pipi jongwoon membuat wajah mereka berhadapan satu sama lain. Entah sejak kapan ia telah menguraikan pelukan hangatnya, jongwoon kini kembali menatap ahra, menatap jauh kedalam matanya untuk terhanyut bersama keberanian yang dipancarkannya. Ahra menariknya, menyeret pikiranya untuk kembali pada masa kini pada saat ini.

 

“Aku tak tau apa yang kau pikirkan saat ini, tapi Sena sudah kembali. Ia berhasil kembali menjadi Sena. Aku tak dapat melihatnya tapi aku tau ia kembali. Tak ada bencana seperti yang kau takutkan. Tak ada hal buruk yang terjadi pada siapapun. Karna itu berhenti mencemaskan apapun yang ada dalam kepalamu sekarang.” Ujarnya tak kalah cemas. Ia tak bisa mengacuhkan begitu saja kondisi jongwoon sekarang walau sejujurnya ia juga ingin tau kemana dan bagaimana keadaan adiknya kyuhyun saat ini.

 

Jongwoon melengos untuk menutupi airmata yang tanpa ia sadari mengalir dari matanya yang merah. Lalu selembar sapu tangan menempel pada pipinya.

 

“Pertama hapus air matamu. Ikut aku ke dapur untuk mengambil air lalu kembali ke kamar siwon. Jika sena akan pergi maka kau juga harus mengucapkan salam untuknya.” Jelas ahra sambil menarik pergelangan tangan Jongwoon yang hanya diam patuh mengekor dibelakangnya.

 

Ahra hanya melepas genggamannya sesaat sebelum mereka sampai di meja pantry lalu mengambil dua gelas kristal, mengisinya dengan air lalu menyodorkan salah satunya dihadapan jongwoon memberi isyarat padanya untuk menghabiskan isinya.

 

“Kau pernah mengalami hal ini sebelumnya? Facing a heartless soul like one?” Tanyanya hati hati “Karena itu kau panik saat tau sena mendengar perdebatan kita tadi??” Ujar ahra mencoba memecah kesunyian yang terus dijaga jongwoon.

 

Jongwoon masih diam memilih untuk meneguk habis setiap tetes yang ada dalam gelasnya. Mereka berjalan kembali menuju kamar siwon dan jongwoon tak berniat untuk menjawab pertanyaan ahra karena toh ia sudah membaca semuanya dengan tepat.

 

Jongwoon berhenti didepan pintu besar yang sedikit banyak memperlihatkan kejadian yang barusan terjadi disana. Engselnya rusak dan kayu mahalnya terbelah beberapa bagian meninggalkan cacat yang tak mungkin direparasi lagi. Ahra berjalan mendekati siwon yang masih bersimpuh persis ditempatnya tadi lalu meletakkan gelas yang dibawanya disebelah siwon.

 

Jongwoon tak mengikuti ahra kedalam untuk menghibur siwon. Bukan tak merasa kasihan padanya, tapi jongwoon sendiri masih belum bisa mencerna kenyataan ini. Ia belum selesai menghibur dirinya sendiri, apa yang bisa diharapkan darinya. Ia melirik kedalam, Choi siwon duduk sendirian tak ada sena disana.

 

“Kim Jongwoon…..maaf karena sempat mengecewakanmu.” Ujarnya membuat jongwoon hampir melonjak kaget.

 

Ia melirik lagi ketempat siwon memastikan pria itu memang duduk sendirian karena sena sekarang ada dihadapannya – masih bisa ada dihadapannya setelah semua hal yang terjadi. Jongwoon tak menyangka sena berhasil selamat dari kelalaian yang dilakukannya. Bayangan jihyun sekilas nampak dalam pikirannya, lalu penyesalan kembali melanda hatinya, masih menjadi penghuni terkuat dalam hatinya. Alangkah bagusnya jika jihyun setidaknya berakhir seperti Sena saat ini.

 

“Aku tau kau hanya ingin melindungiku.” Ujarnya menggenggam tangan jongwoon yang tak bergerak.

“Dan kalaupun aku sempat kehilangan kendali, kurasa itu murni bukan kesalahanmu, bukan tanggunganmu. Seperti juga masa lalumu jung jihyun.. “

 

Air mata jongwoon kembali menetes saat sena menyinggung hal yang sangat disesalkannya. Bayangan jihyun kembali menguat tak terelakkan dalam benaknya. Ia kembali pada jurang yang tadi berhasil dihalau ahra dari hadapannya.

 

“Kau telah melakukan semua yang kau bisa untuk melindungiku karena itu sekali lagi aku berterima kasih atas segalanya…… “

 

Jongwoon masih tak berniat menggerakkan pita suaranya walau ia tau sena akan segera pergi dari sini. Teriakan jihyun menarik semua konsentrasinya kembali ke masa lalunya. Mencabik cabik seluruh usahanya untuk bangkit dari masa kelamnya.

 

“kau pria baik.. hentikanlah penyesalanmu” tutur sena memeluk jongwoon ringan sebelum ia pergi

 

“Jika kyuhyun tak ada…..” Ujar Jongwoon tersendat membuat sena berbalik menatap pria itu lagi

 

“kau… kau juga akan berakhir seperti jihyun. Jika kyuhyun tidak ada. Aku akan mengulang takdir jihyun padamu” tuturnya berat menyampaikan ketakutannya hampir saja mengulang kejadian itu lagi hari ini.

 

Sena menangkup tangan jongwoon lagi menatapnya masih sama sabarnya seperti semula.

 

“Berhenti menyesalinya atau kami akan lebih menyesal telah menempatkanmu pada situasi ini.. kami memilih menjalani hal ini dan kau hanya terlibat karena kami yang menarikmu kedalamnya. Jihyun juga pasti akan mengatakan hal yang sama.

 

Jika kami tak menyalahkan dirimu. mengapa kau melakukannya?

 

…Terima kasih Kim Jongwoon.” Rangkum Sena sambil tersenyum hangat saat pamit dari hadapannya.

 

“dan sampaikan juga salamku pada kyuhyun.” Tambahnya mengedipkan sebelah matanya sebelum benar- benar hilang dari sana.

 

***

○Spotless Mind○

***

 

Derai hujan masih menjadi musik latar pertunjukan mereka malam itu. Kyuhyun terpaku ditempatnya berdiri saat mendengar tawaran heechul.

“apa saja?” tanyanya ragu. Matanya membesar memantulkan sinar bulan walau masih menyorot sayu pada setiap angel yang berdiri dihadapannya

Heechul mengangguk dengan elegant menjawabnya dengan penuh kepastian dari apapun yang ditawarkannya.

“Seperti menghapus sesuatu?” tanya kyuhyun lebih ragu dari sebelumnya.

 

Jungsu terperanjat kaget sementara Heechul masih menanggapinya santai. Ia mengangguk dan tersenyum, menjentikkan jarinya di udara lalu mengundang angel berambut perak disebelahnya.

 

“Kumohon……jangan biarkan aku memiliki sedikitpun pengetahuan tentangnya.” tuturnya berat.

 

“Jangkaman.. tunggu dulu..” ujar jungsu panik merentangkan tangannya menahan Shindong berjalan mendekati kyuhyun. “Kau bercanda, Cho Kyuhyun??!” ujarnya keras.

 

Kyuhyun menggeleng kuat menyatakan bantahannya. “Aku sungguh-sungguh.”

 

Jungsu tak mengerti dan tak akan bisa mengerti apa yang terlintas dalam pikiran manusia ini.

“Kau tak akan pernah bisa mengingatnya jika ia menghapusnya. Tidak dengan cara apapun!”

 

Kyuhyun mengatupkan kedua rahangnya kuat lalu menunduk. Ia keras kepala. Ia sadar itu dan karena itu juga ia dapat memastikan ia tak akan perduli apapun asalkan dapat mempertahankan hyejin disebelahnya saat bangun nanti.

 

““Ayahku pernah kecolongan dan aku berakhir seperti ini, kurasa ia tak akan pernah berniat mengulangnya untuk kali kedua. Aku bisa saja memaksanya, bukan.. aku pasti memaksanya. Tapi aku tak ingin membuat hyejin menjadi bahan taruhanku. Karena itu, kumohon.. hilangkan alasan itu.” Ujarnya memohon lemah. jungsu berdecak kesal sambil menatapnya tak percaya.

 

“Apa kau sungguh sudah menyelesaikan last wish-mu?” Tanyanya sinis, tak menerima alasan kyuhyun yang terlalu konyol baginya. Ia tak percaya kyuhyun meminta hal yang persis berkebalikan dengan apa yang telah dilakukannya hampir seminggu ini.

 

Shindong menyela diantara percakapan jungsu dan clientnya.

“Heechul memintaku meluluskan keinginannya. Apa-yang-diinginkannya.” Tutur shindong sambil memperhatikan ekspresi wajah kyuhyun. Leeteuk mengikuti tatapan shindong dan menemukan perubahan diwajahnya. Tangannya akhirnya jatuh meluluskan jalan shindong mendekati pria itu.

 

“Kau yakin?” Bisik shindong sebelum meletakan tangannya didepan kepala kyuhyun.

Dengan ragu Kyuhyun mengangguk.

 

Lalu hanya cahaya putih yang menyelimuti mereka.

 

***

○Spotless Mind○

***

 

_Choi vacation house_

 

Pintu besar yang membatasi ruang tamu dan halamannya terbuka lebar memperlihatkan taman luas yang penuh embun dan kerlip bintang yang masih tampak di subuh itu. Choi siwon berjalan sejajar dengan Ahra dan jongwoon saat mengantar mereka keluar dari villa nya. Ketiganya berjalan cukup lama diatas batu koral basah yang berujung pada pagar megah rumah itu.

 

“Kami akan kembali kerumah sakit. Kau yakin kau tak perlu ikut denganku?” Tawar jongwoon saat melewati pintu gerbang yang otomatis terbuka dihadapan mereka memperlihatkan mobilnya yang hanya ia parkirkan sembarangan disana.

Ia menggeleng, tersenyum sopan lalu membungkuk pada dua tamu yang selama ini telah menemani Sena-nya. Mereka masih dalam keadaan yang sama, masih belum menyentuh tempat tidur, masih berantakan, masih kebingungan, dan choi siwon masih kehilangan. Ketiganya sama-sama tau apa yang baru saja mereka lalui dan tak ada yang berniat membahasnya dalam waktu dekat ini.

“Aku akan baik-baik saja. Kalian tak perlu mengkhawatirkanya.” Jawabnya meyakinkan dirinya akan baik baik saja dalam keadaan seperti itu, setidaknya seperti yang dijanjikannya pada tunangannya.

Ahra menatapnya sebelum melangkah mendekat ke mobil jongwoon.

“Aku tetap akan menghubungi minho untuk menjemputmu disini. And i meant it. Kau harus menerima perawatan.” Tuntut ahra menunjuk babak belur disekujur tubuh siwon dengan matanya.

Siwon kembali tersenyum dengan kedua lesung pipinya lalu membungkuk menjawabnya.

“Hati-hati di jalan.” ujarnya lagi mengucapkan salam perpisahan pada mereka.

 

***

 

_Seoul Hospital_

Kyuhyun POV

 

Aku masih tak bisa berhenti menatapnya seperti air mata yang tak berhenti turun dari matanya. Aku masih tak dapat mengingatnya. Namanya Hye-jin, kah? Sepertinya itu yang disebut eomma-ku. Berulang kali aku membongkar isi kepalaku untuk mencarinya tapi nihil, aku sama sekali tak ingat susunan nama itu. Aku tak tahu. Tak ada sedikitpun gambaran wajahnya dalam memoriku. Aku sungguh tidak mengenalnya. Siapa dia, mengapa ia ada disini, terlebih mengapa ia menangis untukku, aku tak mengerti apapun. Aku tak mengetahui sedikitpun tentang wanita ini.

Ia masih duduk di sofa yang paling jauh dari ranjang rawatku. Eomma hanya diam di sebelahku sementara dokter jaga memeriksa keadaanku, mereka dengan kompak berhenti tersenyum saat kubilang aku tak mengenalnya, mungkin dia sedikit awkward karena aku tak mengenal gadis itu. Tapi apa yang dapat kulakukan, aku sungguh tak mengenalnya.

Tak ada yang berbicara di ruangan ini. Aku masih memperhatikannya terus menyeka airmata yang sepertinya tak habis-habis. Ada apa dengan perasaan aneh ini. Mengapa aku tak bisa berhenti memperdulikan airmatanya yang jatuh. Mungkin benar ada sesuatu yang tak beres dengan tubuhku.

 

“CHO KYUHYUN!”

 

Ah.. Perusak ketentraman itu datang. Ia meringsek masuk tanpa mengetuk pintu, persis gayanya. lalu satu orang lagi mengekor dibelakangnya membungkuk untuk menyapa eomma ku yang kebetulan ada di depan pintu. Mungkin mereka sudah selesai mengurus sena dan siwon. Lalu apa yang membuat mereka begitu lama sampai kesini. Gerak gerik mereka berdua selalu mencurigakan.

 

“Akhirnya kau siuman juga. Kau tak tau aku hampir gila karena perbuatanmu!!” Sambungnya merepet. Ada banyak yang ingin ku bantahkan padanya tapi kusimpan saja nanti. Tenagaku belum cukup untuk menantangnya.

Dokter jagaku sudah pergi, sepertinya aku akan melakukan banyak pemeriksaan lab setelah ini. Entah kapan aku bisa keluar dengan kondisi seperti ini. Aku melirik pada gadis tadi, pria itu duduk disebelahnya merangkul pundaknya erat, apa ia mengenalnya?

 

“Bagaimana keadaannya eomma?” Kudengar noona mencari informasi tentang keadaanku lalu Eomma menariknya keluar, mungkin mengadu tentang semua kelakuanku sebelum ahra noona sampai disini. Termasuk soal tak mengenal satu orang yang ada dalam ruangan ini.

 

“Kau mengenalku?” Ujar pria berkepala besar itu menunjuk dirinya dengan jari- jarinya yang mungil. Mungkin ia mendengar keadaanku dari hyejin.

 

Dari hyejin..? Mengapa aku menyebut nama itu dengan terlalu mudah.

 

Seperti menyahut kebimbanganku pria itu juga mengerutkan dahinya, ah aku lupa ia bisa membaca piliranku sekarang. Aku menggerakkan bibirku untuk menyebut namanya. Aku mengenalnya tentu saja, “Kim Jongwoon.”

 

Aku ingat semua yang kulakukan selama aku tak sadar, Hyung.

 

“Lalu mengapa kau tak mengenal hyejin?” Tanyanya bingung, lalu ia mengerutkan dahinya lebih dalam lagi.

 

Aku tak mengerti.. dan mengapa semua orang menanyakan mengapa aku tak mengenalnya.

 

“Kau sungguh tak mengenalnya?” Nadanya melemah, ia tau aku sama sekali tak berbohong.

 

Tidak. Tak tau harus berapa kali aku menjawab pertanyaan ini berulang ulang tapi jawabanku tetap sama, aku sama sekali tak mengingatnya.

 

***

 

Author POV

 

Lepas dari ahra, lepas dari Sena, lepas dari kyuhyun, Jongwoon meluangkan siangnya berdiri diatas dinding parapet di lantai atap rumah sakit itu. Kakinya melangkah berjalan lurus meniti jalur yang ada selama menunggu kedatangan-nya. Angin masih sayang padanya, tak berhembus begitu kencang untuk mengganggu keseimbangan tubuhnya.

 

Jongwoon merentangkan kedua tangannya merasakan hangatnya matahari yang sudah lama tak dinikmatinya. Merasa belum cukup ia lalu menutup kelopak matanya jujur saja kepalanya sangat berat karena belum sempat beristirahat sejak kemarin. Dengan kesadaran yang terbatas ia kembali melangkah memasrahkan segalanya, jika ia jatuh terpeleset, jika ia terjun bebas menuju lapangan parkir dibawahnya, jika besok ia tak bisa bangun lagi dengan nama itu.

 

“Aah waeeee….!! Apa lagi sekarang..??” Rengeknya kesal saat muncul didepan jongwoon. Jongwoon tersenyum lalu membuka matanya.

 

“Hanya Kau yang datang?” tanya jongwoon melongok mencari siapa tau ada angel lain dibelakang badan besarnya. Jongwoon mendengus lalu duduk diatas dinding pembatas itu sambil mengayunkan kakinya.

 

“Kau pun tak apa.” Ujarnya kembali tersenyum menerima kedatangan youngwoon dihadapannya.

 

“Kau sempat bertemu dengan sena kemarin?” Potong youngwoon khawatir diluar bahasan yang akan disampaikan jongwoon padanya. Ia menatap jongwoon lebih lega setelah melihatnya mengangguk menjawab pertanyaanya.

 

“Aku ingin bertemu dengan heechul atau angel wish kyuhyun. Kau tau dimana mereka sekarang?” Tanyanya serius masih belum lepas dari fokus awalnya mengundang oknum ini kesini. Youngwoon kembali mendelik malas padanya.

 

“Nah nah, Kau mulai lagi….. mereka sibuk.. sebaiknya kau tak mengganggu mereka.” Elaknya cepat.

 

Jongwoon kembali menariknya sebelum angel ini menghilang dari hadapannya.

 

“Aku hanya ingin bertemu saja.. tak bisakah kau menolongku seperti saat itu..” ia memberi jeda pada kalimatnya untuk sekali lagi meyakini dirinya ia akan mengulang kebiasaannya lagi.

 

“Siapakah dia, kali ini??”

 

***

 

Hyejin masuk ke ruangan kyuhyun untuk kembali melihat pemandangan yang sama. Banyak pikiran berputar dalam kepalanya sampai ia sendiri tak dapat menggambarkan apa yang dirasakannya sekarang. Kyuhyun masih terbaring diranjangnya dengan selang selang yang sama. Dadanya kembang kempis teratur menemani istirahatnya setelah keajaiban membuka matanya pagi ini. Ia tersenyum lega saat mengingatnya lagi. Kyuhyun hidup. Ia berbicara. Tak ada yang tak tau bagaimana hyejin menjenguknya setiap hari, bagaimana hyejin mendoakan keselamatannya setiap malam.

 

Hyejin kembali mengenang saat kyuhyun menggumam lemah memanggil eommanya. Hampir seperti mimpi kyuhyun berbicara, matanya berkedip memamerkan bulu matanya yang lentik saat menyapu bola matanya yang hitam. Lalu jarinya bergerak membalas genggaman ibunya. Tuhan menjawab doanya. kyuhyun kembali.

 

Air mata bahagia tak terelakkan menetes dari matanya. Sahabatnya benar benar kembali. Sahabatnya yang selalu berkomentar tajam tiap ada yang tak sesuai dengan perspektifnya, sahabatnya yang jahil bukan main tapi selalu bekerja keras memenuhi tanggung jawab yang ditanggungnya. Ia tak sabar mendengarnya kembali berteriak marah marah karena tak kebagian kue tiramisu buatannya. Ia tak sabar bertengkar dengannya soal hal kecil yang sesungguhnya tak begitu penting. Ia tak sabar menanti Cho kyuhyun-nya kembali.

 

Tapi sepertinya hyejin harus menunggunya lebih lama lagi. Kyuhyun bangun tanpa kenangan itu. Kyuhyun tak mengingatnya sedikitpun.

 

Hyejin tak memikirkan apa apa saat itu, hanya kekhawatiran yang pertama kali muncul daripada rasa apapun yang belakangan mulai terlihat olehnya.

Ia melangkah mendekat lalu duduk disebelah ranjangnya, memperhatikan wajah kyuhyun yang terlelap nyenyak di ruangan yang hampir satu minggu dihuninya. Ia kemudian menyusuri tubuh kyuhyun dengan matanya mengira-ngira seberapa sakit yang dirasakan badannya saat ini. Dengan hati hati ia menggenggam tangan kyuhyun tak terlalu erat takut pria itu terbangun dari tidurnya. Beberapa menit berikutnya ia masih termenung mengelus tangan kyuhyun dalam genggamannya sampai ia sadar ia terlalu lama berada disana, ia melepaskannya dan bangkit berdiri walau matanya masih tak sanggup meninggalkan wajah kyuhyun.

 

Hatinya seperti tersengat listrik saat kelopak mata kyuhyun terbuka diam menatap lurus kedalam matanya. Kyuhyun bergerak pelan merambet tangan hyejin yang baru saja meninggalkan genggamannya. Kekosongan itu membuat kyuhyun ingin mengulang rasa nyaman yang terlalu familiar untuknya sambil mengobrak abrik laci ingatannya lagi. Mengapa rasa itu familiar, Suhu tubuhnya kembali berbaur pada telapaknya. Kyuhyun menggenggam erat jari hyejin dalam tangannya lalu memejamkan matanya kuat kuat mengabaikan rasa sakit yang kembali menyerang kepalanya.

 

Hyejin menatapnya kasihan ia tau kyuhyun kesakitan karena jarinya bergetar tak beraturan saat mengeratkan genggamannya. Ia menarik tangan kyuhyun, memisahkan dengan tangannya dan mengembalikannya disamping pinggang kyuhyun. Sekuat tenaga ia menahan air di matanya yang sudah terkumpul hampir keluar dari kelopaknya.

 

“Kau tak mengenalku pun tak apa. Asalkan kau sehat semuanya akan baik baik saja.”

 

Kyuhyun hanya membeku mendengar kalimat hyejin, tak mampu merespon bagaimana gadis ini melihatnya. Entah mengapa ia merasa begitu bersalah karena tak mengetahui sosoknya. Entah mengapa ketidak tahuannya membuat ia merasa telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.

 

“Mungkinkah kita pasangan kekasih sebelumnya?” Tanya kyuhyun ragu ragu.

 

Hyejin tersenyum ramah padanya lalu menggeleng. “Tidak. Tak pernah ada hubungan apapun diantara kita. Aku hanya sepupu kim jongwoon, orang yang tak sengaja bertemu dengan noonamu disini.”

 

“Lalu mengapa kau ada disini? Kau menyukaiku? Atau….aku yang menyukaimu?” Balas kyuhyun lagi tak bisa menerima nalarnya.

 

“Jika kau menyukaiku mungkinkah kau mengecualikan diriku dalam ingatanmu saat kau bangun dari masa kritismu?” Jawab hyejin diplomatis mengembalikan pertanyaan kyuhyun dengan fakta yang terjadi diantara mereka.

 

“Kau tak mengenalku karena kau tak mengenalku. Itu saja.” Sambungnya menyelesaikan perbincangan mereka. Ia memunggungi kyuhyun dan tak menoleh lagi sampai hilang dibalik pintu.

 

“Kau tak menjawab pertanyaanku. Mengapa kau ada disini. Mengapa kau menggenggam tanganku. Dan mengapa aku tak bisa melepaskan genggaman itu.”

 

***

○Spotless Mind○

***

 

“Pertanyaanmu adalah bagaimana kau dapat mengembalikan ingatanmu. Angel ini akan menjelaskannya padamu.” Jelasnya memperkenalkan sosok yang muncul diantara mereka.

 

“Jadi aku sungguh dapat mengembalikan ingatanku??” Jawabnya bingung.

 

Lain dengan sorot matanya yang ceria Jungsu justru menatapnya cemas.

“Tapi kau yakin kau sanggup menahannya walau kenyataan ini menyakitimu?” Tanya jungsu lagi. Shindong kemudian menepuk pundaknya dan menggeleng pada jungsu. Ia menarik kursi disebelah jungsu dan duduk dihadapannya.

 

“Bukankah kau hanya menghilangkannya? Kau pun percaya kau dapat menemukannya kembali karena itu kau ada disini, kan? Pertama tama kita mulai dari pertanyaan yang paling mudah, namamu?” Tanya shindong sabar.

 

“Henry Lau” jawabnya hati hati.

 

***

○Spotless Mind○

***

 

Turun dari atap Jongwoon berenti didepan ruang rawat dengan papan nama Mr.Lau didepan pintunya. Ia melirik kedalam menemukan satu pasien tertidur lelap tak berdaya disebelah air purifier yang tak berhenti menghembuskan uap putih di ruangannya.

 

“Apa lagi yang kau lakukan disini? Kamar kyu masih lurus kedepan. Kau tak mengantar hyejin pulang? Mwo, ada orang yang kau kenal disini?” Tanya Ahra melongok lewat kaca yang ada di pintu kayu tersebut. “Kau sungguh mengenal banyak orang..” lanjutnya tak bermaksud sarkastik.

 

Jongwoon memutar pundaknya lalu mendorongnya berjalan menjauh dari pintu itu menuju ruangan kyuhyun. Ahra tak berontak mengikuti jalur yang jongwoon arahkan dibelakangnya. Banyak pertanyaan yang harus diverifikasinya pada orang ini. Karena hanya ia satu satunya orang yang mengetahuinya dan ada baiknya ia menanyakannya sekarang.

 

“Kau tau mengapa kyuhyun begitu? Mengapa kyuhyun tak mengenali hyejin?” Ujarnya membagi keresahan yang mengganggunya sejak tadi.

 

“Apa yang dokter katakan?” Tanya jongwoon masih tak melepas tangan dipundaknya, menolak melihat wajah cemas ahra.

 

“Itu, soal ia terlalu banyak meminum air, lalu terlalu banyak tekanan pada kepalanya saat terombang ambing, aku tak tau. dia tak memberi penjelasan yang terlalu jelas.” Jawabnya berbalik menghadap jongwoon.

 

“Mungkinkah kyuhyun terkena serangan sena kemarin? Atau karena kyuhyun sempat kritis dua hari yang lalu? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” Tanya ahra lagi mencoba melihat wajah jongwoon. Jongwoon memutar pundaknya lagi membuat ahra kembali berjalan didepannya. Ia belum bisa menjawab pertanyaan ahra karena ia juga memiliki pertanyaan yang persis sama, ketakutan yang sama.

 

“Jangan mencantumkan perihal yang bahkan tak bisa kau lihat.” Jawabnya dingin. “Aku akan mencari tau soal itu jadi kau tak perlu ikut campur dalam dunia ini.”

 

Ahra hanya menghembuskan napasnya tak berniat beradu mulut karena pria ini mendorongnya menjauh dari masalah ini.

 

“Pasien itu sama seperti kyuhyun?” Tanyanya beralih pada penghuni kamar yang mereka lewati barusan.

 

“Itu juga bukan urusanmu nona.” Ujar jongwoon mengingatkannya.

 

***

○Spotless Mind○

***

 

“Jadi..?” Tanyanya masih penuh kebingungan pada wajahnya.

 

“Jadi kembalilah kesana ikuti kata hatimu, cari kunci ingatanmu sendiri. Jejaki lagi hidupmu. dibagian mana kau mulai menyerah dan melupakannya.”

 

“Uhm…Well…how..” ia bergerak gundah tak begitu percaya ia akan menemukannya semudah yang dikatakan kedua angel ini

 

“Kau mengetahuinya di dalam sana.” Tunjuk shindong di depan dadanya.

 

***

○Spotless Mind○

***

 

Ahra dan jongwoon berjalan berdampingan saat melihat hyejin berdiri di depan pintu ruangan kyuhyun. Hyejin menoleh kearah mereka lalu tersenyum lembut menyapa keduanya.

 

“Kau sudah bicara padanya?” Tanya ahra yang memang memberi waktu pada hyejin agar kyuhyun dapat mengingatnya.

 

“Kyuhyun cedera di seluruh tubuhnya eonni..” jawabnya halus. “Sudah banyak rasa sakit yang ditanggungnya saat ini, kurasa ia tak perlu menambahnya lagi dengan bersusah payah mengingatku.” Lanjutnya masih menampilkan senyuman gentle yang sama membuat ahra menautkan kedua alisnya.

 

“Arasseo ayo pulang.” ajak jongwoon memotong ahra yang sepertinya tak puas dengan progres yang berjalan disana. Hyejin membungkuk berpamitan sementara Ahra hanya menatapnya simpatik. Hyejin akan menjauh dari kyuhyun jika itu membuatnya lebih baik. Hyejin akan menghilang bersembunyi untuk kembali menelan segalanya sendirian. Hyejin sebaik itu, dan jongwoon hapal benar kelakuannya.

 

***

 

Jongwoon menekan tombol kunci mobilnya sebelum berjalan menjauh dari mobil sedan hitam miliknya. Selesai mengantar hyejin pulang akhirnya ia sampai di parkiran apartemennya. Setelah petualangan panjangnya beberapa hari ini ia akan membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak.

 

“Hi…” sapa pria itu ceria.

 

“Hi?” Ulang jongwoon bingung

 

“Oh… nice to meet you..” ujarnya menjabat tangan jongwoon dengan semangat.

 

“Nice to meet me?” Jawabnya lagi hanya bisa mengulang semua kata katanya.

 

“In any chances, do you know me? Kau dapat melihatku kan? Kau yang tadi berdiri lama didepan ruang rawatku kan?” Ujarnya dengan logat inggris yang kental.

 

“Kau..”

 

“Henry Lau.. glad to see you.”

 

***** to be continued *****

 

***

○Spotless Mind○

***

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Apr 06, 2016 @ 08:57:45

    Wow… Ceritanya keren. Tapi msih misterius, kenapa sampai kyuhyun menghilangkan ingatannya tentang hyejin??

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: