Spotless Mind [2/5]

lw3-3_20150131111033993

Author: Metaz05

Title: LAST WISH [-3rd Story] Spotless Mind (2/5)

Cast  : Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Henry Lau, Park Jungsu, Kim Youngwoon

Genre       : Fantasy, AU

Rating: G

Length: chapter

Author’s note : Just.. Thankyou for reading…

***LAST WISH***

[3rd Story]

_Spotless Mind (2nd Part)_

 

***

Hurts, comfort, love. These are beyond my teritory. I’m just angel of memories, not angel of everything else. Why did you guys think I’m in charge of all those things as well?

__Shin Donghee-angel of memories__

***

 

Pria itu membongkar semua benda yang dapat dijangkaunya. tak ada sejengkal pun rumah jongwoon yang lolos dari sidik jarinya jika saja sentuhannya meninggalkan sidik jari.

 

“Kau masih belum selesai?” Tanya jongwoon menenangkan dirinya saat melihat studionya tak berbentuk seperti baru saja dilewati angin topan. Pria itu tersenyum begitu manis memamerkan deretan gigi putihnya dan matanya yang menghilang sempurna saat tersenyum membuat jongwoon hanya bisa menghela napas pasrah sekali lagi.

“apa kau harus melakukan ini?” Tanya jongwoon lagi tak bisa teriak didepan muka polosnya.

 

“You know..There’s a sort of angel called shindong – if i’m not mistaken. And He works on memories, like ours, well, mine.. saat aku menghilangkannya mereka bilang ada baiknya untuk memeriksa sekelilingku…… whenever wherever.” Jawabnya tak berhenti membuka laci yang ada dihadapannya. Jongwoon hanya menatapnya absurd.

 

“Tapi henry ssi… kurasa BUKAN disini yang mereka maksud. Maksudku, Aku tak mengenalmu sebelumnya dan kau juga tak mengenalku saat kau hidup.” Ujar jongwoon berusaha sesabar mungkin menjelaskan padanya.

 

“Aku tak mengingatnya bagaimana bisa aku mempercayaimu semudah itu. Bagaimana jika kau termasuk villain yang sesungguhnya berusaha menyembunyikan apa yang kucari?”

 

 

“Arasseo..arasseo..Terserahmu saja.”

 

 

***

○Spotless mind○

***

 

Ahra mendorong kyuhyun yang dengan awkward duduk di kursi rodanya. Ia memutar bola matanya menyapu ruangan yang sudah lama tak dilihatnya lalu berhenti pada satu sosok yang dengan tenang duduk di ruang tengah. Ia membenarkan letak kacamatanya saat duduk sambil membaca koran pagi di tangannya.

 

Suasana tegang tercipta saat kedua lelaki keluarga cho itu bertemu. Cho Kyuhyun tak melewatkan waktu untuk menyapanya saat pandangan mereka bertemu, ia hanya membungkuk sopan sementara ayahnya memeriksa keadaannya dari ujung kepala hingga kaki. Ia memang tak pernah datang ke rumah sakit ataupun menanyakan keadaan kyuhyun tapi ia pasti sudah tau a sampai z riwayat kesehatan anaknya dari beribu informan yang dimilikinya.

 

“Seminggu lagi kau akan kembali ke perusahaan. Sudah cukup kau buat noonamu membereskan semua kelalaianmu. Kuharap tak ada yang berikutnya.” Ujarnya dingin saat kembali pada korannya.

 

Kyuhyun menepuk pelan punggung tangan ahra di handle kursi rodanya, menginstruksikannya untuk berhenti saat mereka berada di depan kepala keluarga cho. Kyuhyun memutar kursinya untuk duduk berhadapan dengan ayahnya lalu mulai membuka mulutnya.

 

“Aku lari karena aku muak menjadi bonekamu. Aku akan kembali ke perusahaan, tentu saja. Tapi tidak dengan pernikahan. Perkembangan perusahaanmu ini penting tapi kehidupanku juga sama pentingnya.” Tutur kyuhyun lantang menelan semua kegugupannya. Ia kembali untuk ini. Untuk satu kalimat ini.

 

Cho younghwan berdiri lalu melayangkan tamparan di wajah kyuhyun.

“Appa!” Teriak ahra kaget.

 

Kyuhyun tak bergeming menatap mata ayahnya walaupun dalam hatinya ketar ketir setengah mati. Ia hormat pada ayahnya, ia takut pada ayahnya, tapi ini tak lagi benar. Kyuhyun hanya ingin mengendalikan setidaknya satu saja keputusan di hidupnya.

“Aku melupakan minatku di musik untuk mengambil study bussiness agar dapat memimpin perusahaanmu. Aku meninggalkan posisi vocalis untuk menjadi direktur di perusahaanmu. Aku bisa mengorbankan apapun untuk perkembangan perusahaan ini, untuk mu, tapi tidak hidupku.”

Ayahnya diam menahan amarahnya yang jelas terlihat dari kedua matanya yang memerah dibalik kacamatanya. Ahra hanya mematung diam dibelakang kursi roda kyuhyun merasakan sorot yang tak sengaja juga mengarah padanya. Kyuhyun mencengkram pegangan kursi rodanya erat meredam gemetar yang sesungguhnya menguasai seluruh tubuhnya.

 

“Kyuhyun baru saja keluar dari rumah sakit.. Apa yang kalian bicarakan sekarang.” potong eommanya menengahi pertengkaran kedua lelaki di keluarganya.

 

“Bawa kyuhyun ke kamarnya.” perintahnya yang langsung membuat ahra mengambil langkah seribu tak menyia nyiakan sedetikpun kesempatan untuk melarikan diri dari kemarahan ayahnya. Nyonya cho mengambil koran yang sudah gumal dari sofa lalu membereskannya sebelum duduk disana.

 

“Kyuhyun masih sakit. Aku diam saja karena aku tau kau juga menginginkan yang terbaik untuk kyuhyun. Tapi kyuhyun sakit. Kumohon mengertilah sebentar.”

 

***

 

Jongwoon menutup pintu balkonnya walaupun malam itu masih belum terlalu dingin. Ia menarik tirai beige untuk membungkus rapat kamarnya dari cahaya bulan yang mencoba masuk kedalamnya lalu melirik ke arah henry yang tiba tiba meringkuk memeluk lututnya di sofa saat menyadari matahari sudah sepenuhnya tenggelam.

 

“Sudah cukup? You are really such a troublesome style. Kita sudah bisa bicara sekarang..? Why are you overacting?” Ujarnya mencari posisi dihadapan henry yang masih bergerak gelisah di tempat duduknya.

 

“Aku tak tau…aku sudah seperti ini saat aku melupakan semuanya.” jawabnya tanpa nada ceria yang biasa selalu mewarnai kalimatnya. “Mereka hanya bilang saat itu aku deman tinggi, lalu tadaa~ aku seperti ini. Aku tak suka melihat jendela terbuka saat gelap, aku tak suka melihat beranda, dan aku tak bisa mengingat apapun sebulan terakhir ini.” Kenangnya polos.

 

“Hanya demam tinggi lalu kau melupakan segalanya? Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi.. Pertama tama, sampai dimana kau mengingatnya?” Ujar jongwoon memancing henry memetakan pikirannya, mengajaknya menentukan awal dan akhir yang akan ditujunya. Henry berhenti bergerak untuk berpikir, sungguh berpikir serius tentang alasannya ada disana.

 

Kurasa aku hanya ingat terakhir aku makan malam bersama keluargaku lalu….lalu..”

 

“Itu dimana?” potong jongwoon melihat henry kesulitan mengingat lanjutan ceritanya. “Kita mulai dari sana!” Lanjutnya semangat sambil menepuk kedua tangannya membuat henry semakin kebingungan di tempat duduknya.

 

“Menurutmu begitu?” tanyanya tak bisa menyembunyikan wajah bingungnya.

 

“Yah.. Seperti saat kau melupakan barang, jika kau menelusuri jejakmu satu persatu mungkin saja tubuhmu meresponnya. Aku yakin itu yang dimaksud malaikat itu. Kita kesana!” Simpulnya yakin.

“Jika benar, maka aku juga dapat bertemu dengan mereka disana. Shindong atau Park joongsoo. Benar kan?” Jongwoon menoleh kebelakang menagih jawaban dari henry yang sudah menghilang meninggalkannya bicara sendirian di kamarnya.

 

“Yaaa!! Mengapa kau pergi sendirian!! Berapa kali kubilang KITA. Kita bukan hanya kau…”

 

***

 

Kyuhyun berbaring diatas ranjangnya setelah mengirim ahra kembali ke alamnya, dengan gelisah ia menggeser layar smartphone-nya untuk alasan yang tidak jelas. Ia menekan gambar buku telepon lalu menyusuri kontaknya dalam perasaan kalut. Ia tak pernah bisa tahan sendirian dalam keadaan emosi seperti saat ini. Ia butuh berbicara dengan seseorang dan ia sadar ia tak bisa mengeluh pada ahra lagi.

 

Kyuhyun berhenti menyusuri nama dalam kontaknya, kini ia menekan susunan angka seperti telah menghapalnya diluar kepala. Jarinya bergerak lincah diantara angka yang menyala dari ponselnya untuk menekan kombinasi yang begitu diingat tubuhnya. Tak butuh waktu lama ia telah menekan tombol hijau untuk mengawali sambungan teleponnya. Selama puluhan detik ia memandangi nomor yang dihubungi ponselnya sambil mendengarkan nada sambung lewat headset ditelinganya. Tak ada jawaban dari panggilan pertamanya, lalu jempolnya reflek menekan tombol hijau lagi untuk mengulang sambungan teleponnya.

 

 

 

“Kau dimana.? Temani aku bicara sebentar.” sambarnya saat nada sambung itu berhenti menandakan teleponnya telah terhubung.

 

 

 

“Ng..? Kyu..? kyuhyunie?” Sapanya ragu setelah hampir seminggu tak mendengar suaranya.

Kyuhyun terdiam mencerna suara yang rasanya tak begitu asing di telinganya. Ia lalu melrik lagi layar ponselnya, mengecek nama yang tak muncul untuk nomor yang dihubunginya barusan. Tanpa sepengetahuannya keningnya berkerut. Ia masih ingat suara ini bergaung di telinganya saat pertama kali membuka matanya.

 

“Hyejin-ssi??” Tebaknya heran tak habis pikir bagaimana caranya ia bisa terhubung dengan gadis ini lagi. Tak bisa percaya walaupun ia sendiri yang menekan susunan angka itu

 

Hyejin tak bersuara di seberang sana sama seperti kyuhyun yang tiba tiba saja memikirkan banyak hal dalam kepalanya. Keduanya sibuk menerka kejadian apa yang sedang berlangsung saat ini. Terutama kyuhyun. Apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hal penting apa yang dilewatkannya. Dan siapa Kim Hyejin ini, mengapa ia harus terus berujung pada wanita ini.

 

Banyak pertanyaan menumpuk didalam kepalanya membuat rasa sakit itu kembali muncul setiap ia berusaha mengungkap ingatannya. kyuhyun meraih keningnya yang hampir meledak kesakitan lalu menutup matanya, bungkam berusaha memfokuskan satu inderanya hanya untuk menangkap kembali suara napas yang terdengar dari speaker ponselnya.

 

Seberapa keras pun usahanya tak ada satu hal pun yang dapat diingatnya. Kyuhyun menyerah, tak ingin memikirkan apapun ia hanya bernapas beriringan dengannya menyulam birama yang serasi dalam keheningan yang menguasai mereka.

 

“Kau masih disana?” ujar hyejin pelan memastikan keadaan kyuhyun diseberang sana. karena tak ada respon sesudahnya Hyejin menarik telepon genggamnya menjauh dari telinganya.

 

“Tunggu jangan tutup teleponnya…kumohon.” tutur kyuhyun panik, gesekan rambutnya menimbulkan suara yang membuat kyuhyun was was.

 

Kyuhyun masih belum menyimpulkan hal apa yang akan dilakukannya tak juga dapat merangkai kalimat untuk berbincang dengannya, tapi ia tau ia tak ingin menyudahinya. Dengan canggung ia memelintir ujung selimut yang menutupi separuh badannya. Otaknya tak mampu memikirkan satu kata pun untuk didengar hyejin, tapi toh Hyejin tetap menurutinya, ia tak memutus sambungan telepon mereka seperti yang diminta kyuhyun padanya.

 

Kyuhyun masih tak berbicara, Tak ada satupun kata tertukar diantara mereka tapi hanya dengan keberadaannya disana kyuhyun dapat menenangkan hatinya, meredam emosinya, Ia mampu menjernihkan kepalanya. Kyuhyun memejamkan matanya lagi kali ini untuk menikmati setiap detik yang dilewatkannya bersama wanita ini – bahkan terlalu menikmatinya.

 

“Sudah malam. sebaiknya kau beristirahat.” Tutur hyejin membuka suara bermaksud mengakhiri perbincangan sunyi mereka.

 

Lagi – lagi tak ada respon dari kyuhyun. Bukan karena ingin bersikap dingin atau apa, tapi Ia sudah terlelap jauh kedalam mimpinya membuat hyejin lagi-lagi memutar bola matanya bingung.

 

“Sleep well …..kyu” bisik hyejin sebelum menutup sambungan telepon mereka. Ia menghembuskan napasnya cemas. Hyejin terlalu kenal gelagat kyuhyun. Sesuatu pasti terjadi hingga ia menelponnya tengah malam, walau ia tak tau bagaimana kyuhyun bisa menelpon dirinya yang ia tau nomornya tak pernah disimpan kyuhyun di ponselnya.

 

***

 

“Sudah kubilang ini tak akan mudah.” Ujarnya serak.

 

Jongwoon tak berbalik, tangannya tak berhenti mengembalikan barang barang lemarinya yang masih berserakan diluar, tak terlalu terkejut mendengar suara itu ada dalam unit apartemen pribadinya.

 

“Kau tak perlu menasihatiku…” jawabnya santai walau kesal saat membuka lebar jendela balkonnya membiarkan udara dingin kembali menyeruak memenuhi kamarnya. “Bagaimana keadaan kyuhyun?” Tanyanya tak pernah absen setiap bertemu dengan angel ini.

 

“Jangan buat profesiku terlihat seperti mata mata pribadimu.” Protesnya tak mau menjawab pertanyaan jongwoon.

 

“Kuanggap itu berarti ia sehat sehat saja. Apa kau se-senggang itu, hingga bisa terus menemuiku akhir-akhir ini.?” Tanyanya asal melempar tubuhnya sembarangan diatas sofa setelah merapikan separuh isi kamarnya

 

“Kau pikir sedang apa jika aku bersamamu. sekarang aku sedang bekerja. Hanya kau yang membuat beban pekerjaanku meningkat, kau tahu. Untung saja Henry hanya menghilang begitu saja tanpa mengajakmu.” ujarnya ikut menyandar disebelah jongwoon.

 

“Dibanding henry, pikiranku lebih berat pada cho kyuhyun.. Ia tidak akan hanya berakhir seperti itu kan??” Ujarnya tiba tiba bertanya serius pada youngwoon. “I mean.. he’s not supposed to forget at the first place.. apa yang terjadi dibalik ini semua. Karena Sena kah? Apa yang harus kujawab jika ahra bertanya soalnya.. kau mengetahui sesuatu kan?”

 

Kalaupun aku tau, Aku tidak punya kuasa untuk menceritakannya padamu. “ ujarnya mengingatkan pria itu.

 

“Aku tau… dan aku juga tak akan bertanya padamu… cepat atau lambat toh aku akan bertemu dengannya. Aku cukup menempel terus pada henry..”

 

***

 

Kyuhyun bangkit dari ranjangnya, meraih tongkat penyangga untuk membantu kakinya melangkah menuju ruang makan dilantai yang sama. Kyuhyun tak kembali pada kamarnya di lantai atas, selama kondisinya masih belum memungkinkan, Ia akan menghuni kamar tamu yang letaknya lebih mudah diakses dengan kondisinya sekarang.

 

Seluruh keluarganya sudah duduk rapi di tempatnya masing masing. Tak ada yang protes dengan keterlambatan kyuhyun melihat ia hanya bisa bergerak sepertiga dari kecepatannya biasa. Kepala pelayannya lalu meletakkan appetizer pagi mereka di meja. Pelayan lainnya telah berkeliling mengisi gelas disebelah mereka dengan jus dan susu sebelum kembali ke dapur menyiapkan menu berikutnya sekaligus menyediakan privasi bagi majikannya.

 

Kyuhyun mengambil sendok di sebelah kanannya setelah melirik ayahnya telah menyuap soup itu ke dalam mulutnya. Hanya suara benturan alat makan mereka yang sesekali mewarnai keheningan sarapan pagi kali ini.

 

Kyuhyun berusaha berkonsentrasi menyendok soup dihadapannya, Ia tak bisa lengah walaupun ini hanya sarapan pagi di meja makan bersama keluarganya. Ia tau mata itu selalu mengawasinya, apalagi setelah kejadian kemarin malam. Kyuhyun tau ia masih belum bisa bebas walau ia sudah berkoar koar atasnya. Tak tahu sampai kapan ayahnya akan membiarkan kelakuannya kemarin, kyuhyun tahu benar ayahnya tak pernah menyukai pembangkangan.

 

Kyuhyun mencoba tetap fokus saat pikirannya terbelah belah tak menentu lalu kembali menyatu hanya untuk ingat pada wanita itu. Ingat pada teleponnya kemarin. Bagaimana caranya ia menghapal nomor itu jika ia sama sekali tak mengenalnya, mengapa ia bisa kebetulan menekan nomer itu diluar kesadarannya saat ia kalut, dan mengapa ia bisa tenang hanya dengan mendengar deru napasnya. Tak ada satu pertanyaan pun yang dapat dijawabnya. Ia hanya dapat menyimpulkan satu hal. Tak mungkin hyejin bukan siapa-siapa.

Ahra menyenggol kakinya dan menatapnya cemas. Mungkin karena kyuhyun terlalu lama menunduk mengaduk makanannya.

 

“Hari ini aku akan mengantar kyuhyun terapi ke rumah sakit” tutur ahra tanpa bantahan dari kedua orang tuanya. Ahra menatap eommanya yang mengangguk samar sementara Appa-nya tak merespon apapun. Lalu ia melirik kyuhyun yang masih sama sama angkat senjata tanpa ingin bersinggungan satu sama lain. Anggap saja ini hanya karena pertengkaran mereka kemarin sore. Anggap saja.

 

 

“Kau sudah siap?” Tanya ahra saat membuka pintu membawa satu tas besar yang terisi penuh sampai seletingnya tak mampu menutup lagi.

 

“Kau ingin mengusirku pergi dari sini?” Ujar kyuhyun heran melihat hampir separuh isi lemarinya pindah ke dalam tas yang dibawa ahra. “Aku tak akan menginap satu malam pun disana noona….”

 

“Aku tak tau baju apa yang harus kau pakai nanti, jadi ku bawa semuanya kesini” jelasnya sambil mengeluarkan satu persatu pakaian kyuhyun yang diambilnya dari lantai atas. Kyuhyun membiarkan ahra mengacak acak ranjangnya menebar seluruh isi tas yang dibawanya disana. Ahra diam saja saat memilah pakaian kyuhyun yang ada di kedua tangannya. Begitu juga Kyuhyun yang masih bingung harus menyelesaikan pikirannya dari mana, terlalu banyak hipotesis memenuhi kepalanya.

 

 

“…Noona..Hyejin…..siapa?” Tanya kyuhyun memutuskan untuk menarik satu pertanyaan yang membuatnya tak tenang semalaman

Ahra tak langsung menjawabnya. ia hanya menatap kyuhyun saat dikepalanya menggaung pesan dari jongwoon kala itu.

“Jika kyuhyun akan mengingatnya, biarkan ia mengingatnya sendiri. Jangan kau jelaskan apapun padanya, karena tak akan ada gunanya jika ia hanya tau – bukan ingat. Dan dua hal itu jauh berbeda.”

 

Ahra menyodorkan kemeja yang ada di tangannya ke dada kyuhyun lalu mengusap kepalanya.

“Jika masih tak bisa mengingat siapa dia, Ya sudah. Tak usah memaksakannya, pelan-pelan saja. Nanti Kau pasti ingat.”

 

***

 

Henry duduk diam tak dapat berbuat apa apa diantara lalu lalang pelayan restaurant mewah yang waktu itu disingahinya. Ia ingat saat melangkah melewati daun pintu besar disamping ayah dan ibunya kala itu. ia duduk di meja yang sama, pada kursi yang sama – walau kali ini hanya sendirian. Semalam sudah ia duduk disana, menunggu restaurant itu beroperasi membawa suasana yang sama dengan apa yang ada di ingatannya.

 

Satu persatu pramusaji berdatangan membereskan setiap meja yang ada di ruangan itu, tak terkecuali meja yang diduduki henry. Tak lama berselang pelanggan datang memenuhi masing masing meja dan memulai pesanan mereka. Alunan musik waltz perlahan mengalun mengiringi sarapan mereka pagi itu dan henry masih duduk tak bergerak di tempat yang sama – sampai satu pramusaji membawa nampan berisi makanan dan meletakannya dihadapan henry. Henry tak memesannya – tentu saja, walaupun ia mengenali menu yang ada di mejanya sekarang sama persis dengan apa yang ia makan malam itu. Ia menoleh pada pramusaji tadi yang kemudian melonggarkan serbet di pinggangnya lalu mengisi kursi dihadapannya.

 

 

“Kau bisa memakannya ..” ujarnya lembut

 

“I can eat all these dish?” Ungkapnya kaget

 

Tepat pada saat henry menyentuh garpu dan pisau dengan jarinya seluruh keadaan disekitarnya berubah. Senyum Mr & Mrs.Lau menyambutnya saat henry menatap dua orang yang duduk dihadapannya. Pakaiannya bukan lagi kaos hitam dan kemeja flanel santainya tapi setelan jas dengan dasi merah yang menempel rapi di kerah kemejanya.

 

Henry lalu melongok keluar, menyadari sinar matahari yang juga ikut menghilang menciptakan suasana yang persis sama dengan apa yang ada di ingatannya. Kedua orang tuanya berbincang satu sama lain meninggalkan henry bergulat sendirian dengan steak dihadapannya.

 

 

Tak lama berselang satu orang wanita yang umurnya tak terlalu jauh dengan eommanya ikut bergabung dengan mereka. Ia melangkah dengan anggun menyeret gaunnya lalu berhenti di meja henry.

Wanita itu memeluk kedua orang tua henry lalu menatapnya lekat. Dari apa yang dipakainya semua orang bisa melihat ia bukan orang sembarangan.

 

Ayah henry bergeser duduk disebelah henry, membiarkan wanita itu duduk disebelah istrinya. Hanya pada saat melihat keduanya duduk berdampingan, henry baru menyadari satu hal. Wajah wanita itu begitu mirip dengan eommanya, bahkan terlalu mirip.

 

“Kau tumbuh begitu cepat, henry-ya..”

 

Dengan ragu Henry tersenyum membalas senyuman wanita dalam ingatannya. Lalu tanpa ia sadari air mata menetes dari sudut matanya saat menjabat tangan kurus itu.

“Dia, eonni-ku. Saudara kembarku.” Ujar eommanya memperkenalkan wanita yang baru sekali ini dilihatnya.

 

Dari sekian banyak hal yang dapat diingatnya. mengapa ia memulainya dari sana, dari fakta soal ibunya memiliki saudara kembar yang baru saja diketahuinya lagi saat ini. Lalu ini kah yang ia lupakan? Mengapa air matanya harus menetes saat melihat wajah wanita itu. Just a simple why…

 

***

 

“Sekarang disini basecamp-mu?” Tanya ahra sinis saat melihat jongwoon berdiri menganggur di depan ruangan yang beberapa hari lalu sempat mereka lewati. Jongwoon menoleh lalu tersenyum sedikit terpukau selalu menemukan gadis ini, semudah ini.

 

“Long time no see, apa kau yakin kau bukan stalker-ku?” Tanyanya tak menampik senyum sumringah saat menemukan pikiran ahra yang masih tak bisa diintipnya.

 

“Sudah bisa banyak bicara sekarang?” Sindir ahra mengingat jongwoon hampir tak bersuara pada pertemuan mereka terakhir.

 

“Kau mengantar kyuhyun terapi?” Tanya jongwoon jelas basa basi karena ia tau ahra tak punya alasan lain selain itu. Ia melangkah menuju tempat duduk yang ada disana lalu menempelkan celananya di atas cushion kelabu yang melapisi kursi tunggu itu.

 

“Ada… yang sudah kau ketahui? kau sudah mengerti mengapa kyuhyun bisa seperti itu?” Tanya ahra bergabung duduk disebelahnya. Jongwoon tak menjawabnya.

 

“..sudah hampir seminggu. Mengapa kyuhyun masih tak mengingat hyejin. Mengapa hanya hyejin… sahabatnya…. just, why..” papar ahra bingung.

 

Masih belum menggubrisnya jongwoon hanya menghela napas putus asa sambil melihat pintu ruang rawat henry dihadapan mereka.

“Kau pikir aku punya jawaban untukmu.?” Jawab jongwoon menggantung.

 

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Ahra masih menatapnya, menunggu tanggapan darinya sebelum ia menyimpulkan pria ini tak akan pernah menjawabnya. Lalu ia juga ikut bungkam menemaninya menatap pintu coklat dihadapan mereka.

 

“Lalu orang itu bagaimana? Ia seperti kyuhyun saat itu, kah?” Tunjuknya pada ruangan henry.

“Orang itu Henry lau? Benar Henry lau putra tunggal Lau corporation?” Ujarnya merangkai kalimat yang lebih banyak dari yang pernah dilakukannya tentang orang lain.

 

Jongwoon menoleh menatapnya bingung tak berhasil mendeskripsikan sikap ahra barusan.

“Kukira Kyuhyun menggambarkanmu orang yang cuek, dingin, tak perduli apapun, …” lalu ia mengangkat telapak tangannya mengarahkan sepuluh jarinya menunjuk pada wanita disebelahnya yang seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dengan kalimatnya barusan.

 

“Anak itu tak mengetahui apapun soalku.” Jawabnya cuek sambil mengibaskan tangannya, “Lagipula apa yang harus kuperdulikan sebelumnya.? Tidak ada. Aku akan bertanya jika aku ingin mengetahuinya.. seperti saat ini. Benar orang itu henry lau? Aku sempat bertemu dengannya di tempat kursus biola dulu.”

 

“Kau bertanya karena tertarik dengan genre ini atau pada tokoh yang membintanginya?” Sindir jongwoon “Jangan melongok terlalu jauh.. nanti kau sulit kembali.” Saran jongwoon saat bangkit mendekati pintu ruangan henry.

 

 

 

Hyuuuunngggg..” henry berteriak dari ujung lorong saat berlari menuju kim jongwoon yang menoleh kaget ke arahnya..

 

 

 

 

Jongwoon cepat menempelkan jari telunjuk dibibirnya lalu berbalik memeriksa keadaan ahra dibelakangnya. Ahra mencengkram ujung kaos jongwoon was was membuat jongwoon tau ahra juga menyadari keberadaan henry disana. Ahra kembali membeku tak berani bergerak sedikitpun tak mampu menoleh satu cm pun hanya terus memastikan kim jongwoon tetap berada disekitarnya.

 

 

 

“Apa kalian yakin tak ada apa apa diantara kalian..??” Ujar kyuhyun memecah keheningan yang baru saja terjadi di lorong itu.

 

 

 

Kyuhyun menatap curiga melihat mereka selalu melekat saat ia tak ada. Ahra bangkit dengan gesit menggantikan perawat yang berdiri dibelakang kursi roda kyuhyun. Ia masih tak suka keadaan aneh ini, dan tak ada alasan ia harus menyukainya.

 

“Kupikir aku akan canggung saat menemuimu dalam dunia nyata, tapi ternyata telingaku masih mengenal mulut pahit-mu dengan sangat baik.” Jawab jongwoon setelah memastikan henry duduk diam disebelanya

 

“Kau sendirian disini, hyung?” Ujarnya sejujurnya mengharapkan kehadiran sepupu jongwoon disitu.

 

“Technicaly.. no.” Jawabnya singkat membuat kyuhyun menganguk mengerti, berikut dengan scene yang dilihatnya barusan. Ia melihat sekelilingnya lalu berhenti pada arah yang tak ingin dilihar ahra.

 

“Mr.Roh.. nikmatilah kekuatanmu saat ini sepuasnya. sebelum kau kembali pada tubuhmu yang tak berdaya.” Pesannya memberi saran sebagai senior dibidang itu.

 

Ahra menepuk kepala kyuhyun yang ada persis dihadapannya lalu mendorong kursi rodanya menjauh dari jongwoon dan siapapun yang bersamanya.

 

***

 

“Oppa mu tak menjemputmu hari ini?”

 

Hyejin menggeleng padanya, wanita itu lalu bertolak pinggang sebelum menyertakan pertanyaan lain untuknya. “Lalu sahabatmu?”

 

Hyejin hanya tersenyum membalas ke-sinis-an lawan bicaranya

“Lalu kekasih-mu?” Balasnya jahil membuat wajah wanita itu berubah merah saat menyenggol pundak hyejin kesal.

 

“Jangan menyebar rumor tak benar. Kita tidak sedang membicarakan diriku saat ini.” Jawabnya kesal.

 

“Aku tak akan bisa berhenti mencemaskanmu jika kau masih terus sendiri. Menikahlah secepatnya dengannya agar aku bisa tenang.” Jawab hyejin mengejek danbi yang makin jadi kepiting rebus.

 

“A-apa kau bilang.?”

 

“Kau sudah menunggu lama? Hyukjae berulah lagi jadi aku terlambat..mianhae.” ujarnya terengah berusaha menjelaskan segalanya saat baru saja menapakkan kaki disana. Danbi menoleh tak melanjutkan perdebatannya dengan hyejin lalu menatapnya cemas.

 

“Kau berlari sampai kesini lee donghae? Bukankah kakimu masih sakit?” Tuturnya menyodorkan sapu tangan untuk menyeka keringat donghae yang bercucuran.

 

“Kakiku tak apa.” Jawab donghae tersipu saat mengambil sapu tangan danbi.

 

Hyejin tersenyum melihat kelakuan keduanya

“Aku duluan..” ujarnya menepuk pundak kedua manusia itu.

 

“Kemana kau? Kau akan pulang bersamaku hyejin-ah..” potong danbi menarik lengan hyejin menahannya berjalan menuju bus yang sebentar lagi berhenti di halte mereka.

 

“Lalu bagaimana dengannya…??” Sindir hyejin tersenyum pada donghae yang salah tingkah.

 

“Ani, aku.. kalian akan..”

 

“Tolong Kau antar dia pulang donghae-ssi, atau aku akan ketinggalan bus karena kalian.” Hyejin meninggalkan mereka berdua lalu buru buru masuk kedalam bus yang tak terlalu ramai itu. Ia duduk di pojok dekat jendela lalu melambaikan tangannya pada danbi dan donghae saat bus itu berjalan meninggalkan keduanya.

 

Samar samar senyum hyejin berhenti saat ia kembali sendirian, la memeriksa layar ponselnya yang gelap. Satu pesan masuk dari jongwoon menanyakan keberadaannya. Hyejin memang bukan anak kecil lagi, tapi Kim jongwoon selalu memperlakukannya seperti itu. Ia membalas pesan jongwoon seadanya dan secepatnya karena kalau tidak sebentar lagi telpon dari jongwoon akan menerornya sampai mereka bertatap muka. Hyejin mengecek daftar panggilannya lalu melihat nama itu lagi. Tak biasanya ia lengser dari urutan tiga teratas daftar panggilan terakhirnya. Masih karena alasan yang sama, Kyuhyun belum mengingatnya.

 

Hyejin kembali menarik sudut bibirnya kaku, menghapus deretan angka yang sebelumnya ia tekan lalu menutup layar ponselnya.

 

“Bagaimana kabarmu? Yet…. i miss you….still” bisiknya saat melihat keluar jendela menatap jalanan yang bergerak mundur menjauhinya.

 

***

 

“Darimana saja kau.”

Tanpa menjawabnya Henry buru buru menutup tirai di rumah jongwoon sedetik setelah ia menapakan kakinya diruangan itu baru ia dapat bernapas lega sesudahnya. Jongwoon terus memperhatikan gerak geriknya. Akhirnya anak ini kembali.

 

“Henry yah.. Hal yang pertama kali kau lakukan setelah kembali, ini? Sebenarnya di bagian mana penyakitmu bermula? Apa yang menyebabkan kau jadi seperti ini?” Ia kembali menatap henry setelah selesai membombardirnya dengan sekian banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Melihatnya hanya diam, saat itu jongwoon tau ia bertanya terlalu jauh.

 

“Lupakan.. Darimana saja kau? Apa yang kau lakukan seharian ini?” Ujar jongwoon meralat pertanyaannya sambil melembekkan nada bicaranya.

 

“Itu.. ada suatu restaurant.. lalu aku bertemu dengan jungsu disana. Park jungsu, the angel wish.Kurasa ia menggunakan sedikit kekuatannya untuk membantuku. Aku mengingatnya hyung. Aku Berhasil mengingat beberapa hal, tapi … aku tak bisa mengerti.”

 

“Apa? Hal apa yang berhasil kau ingat?” Tanya jongwoon sabar mengajak henry duduk bersama di ruang tengahnya. Henry masih bergerak gelisah menggerakkan tangannya saat berusaha mengungkapkan pikirannya dalam kata-kata.

 

“Malam itu adalah malam perkenalanku dengan saudara kembar eomma. Tapi…. mengapa aku memulainya dari sana. mengapa aku melupakan segalanya dari sana. That point quite disturbing me..”

 

Jongwoon masih menyimak menunggunya selesai mengungkapkan setiap pertanyaan yang ada dalam kepalanya.

 

 

“Moreover… it hurts…. without a reason my tears start flowing when i saw her…. aku tak mengerti mengapa itu terjadi.”

 

 

***

 

Bus tumpangannya berhenti dan ia melangkah turun beberapa halte sebelum kompleks rumahnya. Angin berhembus kencang menghamburkan dedaunan yang mulai rapuh lepas dari ranting pepohonan yang dilewatinya. Hyejin mengeratkan jaket tipisnya saat berjalan di sepanjang pedestrian itu. Setelah sekian lama akhirnya ia kembali lagi kesini. Kembali ketempat pertama kali ia menyumpal mulut anak lelaki sombong itu dengan roti buatan ibunya.

 

Hyejin duduk sejenak menikmati daun kuning yang berjatuhan selama memutar kembali ingatannya pada wajah anak lelaki manja dengan hidung mancung yang selalu diangkatnya tinggi tinggi. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia menghabiskan siangnya bermain bersama kyuhyun saat menunggu jongwoon yang pulang sekolah lebih sore darinya. Bagaimana kyuhyun mengejeknya dari atas papan seluncur saat melihatnya terjungkal dari papan seluncur yang sama. Senyumnya selalu merekah saat mengingat masa-masa itu. Andai saja pria itu juga mengingatnya.

 

Hyejin masih betah melamun, lalu setetes air hujan jatuh diatas hidungnya. Ia reflek mengadah menyadari langit yang kini mulai gelap. Ia bangkit berdiri lalu berlari hendak menemukan tempat berteduh di sekitarnya. Matanya berulang kali berkedip menghindari deru angin yang menerjangnya lalu ia berhenti melangkah membiarkan rinai hujan menghujaninya lagi. Berhenti bergerak justru saat jarak menuju tempat berteduhnya tak sampai 2 meter lagi.

 

Tak jauh dari sana seorang pria duduk sendirian menikmati tetes air yang membasahi kain kemejanya. Hyejin hanya termenung. Kakinya tak kuasa berlari menghambur padanya seperti dulu. Senyum cerianya tak lagi mengembang sempurna saat bertemu dengannya. Situasinya berbeda dan ia tak bisa mengerti mengapa ia bisa melihat pria-yang-memang-ingin-dilihatnya duduk di taman yang sama dengannya sore ini.

 

 

“It’s raining. What are you doing? sitting all alone in the rain?”

 

 

***** to be continued *****

 

***

○Spotless Mind○

***

1 Comment (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Apr 06, 2016 @ 09:20:03

    Siapa yg dilihat hyejin?? Kyuhyun kah??

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: