Sweetheart

don

Author  : Betty Dwinastiti

Genre    : Romance, AU, little of comedy

Cast        : Lee Donghae (Super Junior), Senandung as Cho Alana, Cho Kyu Hyun (Super Junior), Shin Rhae Hoon (OC)

Length  : Oneshot (1951 words)

Ekslusif cover by Thertika/Kimchi Fanfiction

WP : shinrhaehoonstalkerchokyuhyn.wordpress.com

***

Gadis kurus –atau lebih tepatnya kering kerontang tanpa lekuk tubuh menawan itu menuruni tangga dari lantai dua sambil menguap lebar. Dia memakai kaos kebesaran berwarna putih dan celana pendek kain yang hanya menutupi sebagian paha mulusnya. Yah, mulus…tapi tetap saja aku tidak tergoda sama sekali pada wanita 19 tahun yang mau tak mau harus Kyu Hyun akui sebagai adik kandungnya. Astaga, lihat rambut singanya yang mengerikan itu! Aku jadi meragukan kata-kata ibuku ; beliau pernah bilang seorang gadis akan terlihat cantik ketika bangun pagi dan menampakkan wajah polosnya. Yah, mungkin semua gadis akan terlihat cantik di pagi buta –kecuali mahluk kecil yang kini tidur sambil berjalan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang aku yakini kusut luar biasa.

“Minggir!”

Dia hampir duduk di pangkuanku kalau aku tak segera berpindah ke sofa yang terletak di samping kanan ruang TV keluarga Cho. Aku menggaruk tengkuk, gadis ini sama sekali tak menyadari keberadaanku sepertinya.

“Oppa! Aku ada kuliah jam sepuluh. Nanti antarkan aku ya?!” Alana mengeluarkan suara seraknya. Aku yakin dia mengira aku ini adalah Cho Kyu Hyun, kakaknya yang malang. Yah, malang karena harus mendapat kutukan mengerikan memiliki adik dengan perilaku mengenaskan sepertinya.

“Oppa?” Alana memasukkan secuil keripik kentang yang ia dapatkan dari toples di atas meja. “Ah, kau memang tak pernah mendengarkanku! ucapnya kesal. Gadis yang tak bisa dibilang tinggi itu menguap lebar dan memperlihatkan rongga mulutnya. Astaga, dasar tidak sopan!

Sebentar kemudian aku tak bisa berhenti heran karena mendengar dengkuran halusnya. Ya Tuhan, dia tertidur lagi seperti bayi.

Aku berharap Kyu Hyun mandi lebih lama, atau menelepon Rhae Hoon –kekasihnya – atau apa saja boleh dia kerjakan asal bisa memperlambat waktu kami pergi ke kampus. Aku ingin melihat wajah polos Alana lebih lama. Entahlah, setiap kali datang ke rumah sahabatku ini…rasanya aku tak bisa melewatkan wajah Alana begitu saja.

Dia polos, ceroboh dan cenderung bodoh. Berbeda sekali dengan kakaknya yang pernah menyabet juara umum di sekolah kami dulu.

“Donghae-ya. Aku sudah siap!”

Tidak! Jangan bilang itu suara gamer sejati itu!

“Lee Donghae?! Kau dengar aku?” Kyu Hyun berkacak pinggag di dekatku. Dia memakai kemeja biru pas badan dan jeans hitam, lelaki itu lalu segera melempar tatapan horor pada gadis tak beradab yang masih menempelkan kepalanya di bantal sofa.

“Sttttt!”

“Ya!” Kyu Hyun melotot sambil memukul tanganku yang kini membekap mulutnya. Salah siapa berteriak bodoh!

“Jangan ribut, adikmu sedang tidur!”

Kyu Hyun melepas tanganku lalu menyeringai lebar. “Memang kenapa kalau dia tidur? Kau tahu tidak jam berapa dia tidur semalam?”

Aku menggeleng. Mana kutahu.

“Jam delapan malam aku sudah melihatnya bergelung selimut, lalu apa dia masih boleh tidur padahal sekarang sudah jam 9 pagi?”

“Mungkin dia lelah.”

“Aish! Siapa yang ribut di pagi buta seperti ini?”

Kami – aku dan pria berkulit putih seperti mayat ini – melempar tatapan ke arah sofa. Dimana penghuninya yang tukang tidur itu berdiri linglung sambil menyeka air liur di sudut bibirnya. Dia, Alana. Gadis tak beradab yang sudah mencuri hatiku segera membulatkan mata besarnya ketika menangkap sosokku dalam jarak pandangnya.

“Ya! Kau mau kemana?” Kyu Hyun berteriak heboh – tepat di dekat telingaku – ketika kulihat Alana berlari sekencang mungkin menaiki tangga. Loh? Dia itu kenapa?

“Ya! Cho Alana! Kau mau kemana?” Kyu Hyun kembali berteriak, membahana di sepanjang lorong rumah dan membuat Alana menengokkan kepala. “Aku mau mandi Oppa!”

Aku mengerjap kecil. Oh, jadi dia mau mandi.

“Aigo…sebentar lagi dia pasti akan segera turun dan meneriakku,”gumam Kyu Hyun cuek lalu menyambar tas punggungnya di atas meja.

“Memang kenapa dia akan teriak?” tanyaku lugu, persis seperti anak kucing yang manis.

Kyu Hyun hanya tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya. “Satu..dua…tiga…”

“Kyu Hyun Oppa! Kau mau mati hah? Kau apakan handuk pink kesayanganku?”

Benar saja, suara mengerikan nan cempreng dari pita suara Alana terdengar menggema sampai ke tempat kami berdiri. Sontak Kyu Hyun makin terkekeh puas.

“Apa yang kau lakukan pada handuk Alana?” aku menghadang Kyu Hyun di depan pintu.

Lelaki yang level ketampanannya masih jauh berada di bawahku itu tersenyum kecil. “Aku menggunting-gunting handuknya lalu kucelupkan ke dalam bath up kamar mandinya. Hahaha!”

Well, ini bukan pertama kali Kyu Hyun mengerjainya adiknya seperti ini. Dulu, Kyu Hyun pernah menyembunyikan novel kesayangan adiknya, menggantung sepeda gadis itu di pohon atau menghabiskan susu vanilla kesukaan Alana.

“Kau keterlaluan Kyu!”

“Biar saja, kau tahu apa yang dia lakukan sebelum tidur nyenyak semalam?”

Pria ini selalu menanyakan hal yang tak mungkin kuketahui. Dasar!

“Dia mengedit foto Rhae Hoon lewat adobe photoshop, membuat bentuk kumis di wajah pacarku itu lalu dengan sangat santai dia mengupload poto absurd itu di SNS-ku.”

Alana, kau memang luar biasa tidak beradab. Aku tertawa kecil melihat wajah merah temanku yang malang ini.

“Lalu bagaimana dengan Rhae Hoon. Dia marah?”

Kyu Hyun menggeleng. “Dia tidak marah. Malahan hanya tertawa.”

Loh? Ajaib sekali?

Lelaki berambut cokelat itu meringis. . “Dia bilang….” ucap Kyu Hyun sedih.

“Apa katanya?”

“Gadis itu malah bahagia karena ada spesies langka bernama Cho Alana yang mampu mengalahkan kejahilan seorang Cho Kyu Hyun!”

Oh, Tuhan! Aku ingin tertawa..tapi melihat tampang sebal sahabat baikku – baik karena suka memberi contekan saat ujian – aku menekan suara tawa itu dalam rongga dadaku. Hahaha…aku akan berlari ke toilet kampus dan tertawa sepuasnya nanti. Ya ampun, Cho Kyu Hyun yang malang!

***

Tersenyum kecil, aku baru saja mengingat masa-masa awal kedekatanku dengan Alana. Gadis ajaib itu menjungkirbalikkan duniaku. Gadis cantik, sexy, dan menawan dari seluruh penjuru kampus saja tak bisa mengalahkan pesona anehnya. Kami menjadi sepasang kekasih beberapa bulan kemudian. Tentunya setelah aku meyakinkan Kyu Hyun bahwa aku takkan memasukkan tubuh adiknya itu ke dalam sumur jika gadis itu berulah yang tidak-tidak.

Hahaha. Itu sudah lama sekali. Lagipula aku selalu bahagia bersamanya.

Aku menunggunya. Sesekali gadis itu menatap sekeliling, mencariku yang sengaja berbaur dengan banyak orang di taman panti asuhan agar tak terlihat olehnya. Aku suka melihatnya bekerja seperti ini, dia terlihat seribu kali lebih cantik dan mempesona meski dia masih kurus dengan bentuk badan seperti anak SD, kecuali rambutnya yang kini jatuh sepinggang tak ada yang berubah darinya.

Alana yang super berantakan dan tidak beradab itu telah beranjak dewasa. Terhitung sejak setahun dia bekerja sebagai dokter anak. Usiaku sudah 29 tahun sekarang dan kadang Cho Kyu Hyun masih suka mengataiku idiot karena memilih Alana sebagai calon pendamping hidupku.

Dia selesai menyuntik vitamin dan vaksin kekebalan tubuh pada anak-anak penghuni panti asuhan setengah jam kemudian. Gadis itu mengaduk-aduk tas cokelatnya, dia kerepotan menemukan ponselnya. Yah, dia tak pernah mendengar saranku untuk menaruh ponsel di dalam kantong bajunya saja. Lihat! Untuk menemukan ponselnya saja dia membutuhkan waktu beberapa menit hingga aku harus memencet nomornya berulang kali.

“Hallo? Donghae Oppa? Kau dimana?” tanyanya di telingaku. Suaranya yang lembut kubiarkan menguap di udara selama beberapa detik. Aku lebih memilih melihatnya kebingungan menatap ke segala arah.

“Hallo? Sweetheart!” katanya lagi. Oh, aku selalu suka mendengarnya memanggiku dengan sebutan sweetheart! Dia berbeda dengan gadis lain yang suka memberi nickname seperti ikan nemo, ikan asin, atau nelayan dari laut timur untukku mengingat arti namaku yang artinya ‘laut timur’. Dia lebih suka memanggilku sweetheart. Manis, bukan?

“Hallo? Sweetheart?”

Aku masih belum membuka suara.

“Ya! Lee Donghae bodoh! Apa telingamu bermasalah?!”

Sial. Dia memang tidak memanggilku nemo dan selalu memanggilku sweetheart, tapi dia masih suka menjejalkan kata bodoh dan berkata kasar seperti yang diucapkannya barusan. Sepertinya dia terlalu sering mendengar kakaknya yang jelek itu menggunakan lidah tajamnya makanya dia jadi tertular seperti ini.

“Oh, Nona Cho,” ucapku santai –mencoba meredam emosi. Bagaimanapun aku lebih tua tiga tahun darinya kan?

“Apa? Kau ini dimana?”

“Kau tahu? Selama 7 tahun aku mengalami gejala aneh di dalam tubuhku.” Kusandarkan tubuhku pada sebatang pohon. Aku yakin kini Alana bisa melihatku. Benar, gadis itu kini berada beberapa meter dari tempatku berdiri. Masih dengan ponsel di telinga kanannya, gadis itu mengerutkan kening sambil menatapku dalam.

“Apa yang kau lakukan di sana? Buang-buang pulsa saja!”

“Dengarkan keluhanku dulu, dokter Cho!”

Alana menyeringai dan menatap lurus pada kedua bola mataku. “Baiklah. Gejala apa itu?”

“Hmmm, gejala ini muncul ketika aku berhadapan denganmu.”

Alana mengerjap kecil, dia cantik sekali.

“Jantungku selalu berdebar-debar setiap kau berada di sekitarku. Terkadang, pembuluh darahku juga memanas saat kau menyentuhku. Lalu, sekujur tubuhku akan berkeringat kalau kau terus menempel padaku.”

“Wah…gawat sekali!” Alana tersenyum. “Seingatku aku tak pernah menempel padamu, yang benar adalah kau yang selalu mengikutiku kemana saja.”

Dia memasukkan ponsel ke dalam saku jas putihnya lalu bersedekap di depan dada. Mengikutinya, aku menyimpan ponselku di saku celana dan berjalan menuju dirinya. “Bisa kau simpulkan penyakit apa yang aku derita?”

Alana tersenyum kecil ketika kami sudah saling berhadapan. “Hanya ada dua diagnosa. Diagnosa yang pertama..kau selalu jatuh cinta padaku selama 7 tahun. Lalu..diagnosa yang kedua adalah kau selalu marah padaku makanya reaksi tubuhmu begitu berlebihan. Jadi, silahkan simpulkan penyakit macam apa yang kau derita.”

“Ehm, bagaimana ya bu dokter? Sepertinya aku mengalami kondisi yang pertama. Jatuh cinta padamu tanpa mengenal lelah.”

“Ck,” Alana menyeringai lalu menendang kaki kananku. “Kau ini memang perayu ulung, Sweetheart!” Gadis itu memelukku ringan lalu tersenyum riang.

“Aku satu level lebih tinggi dalam hal merayu jika dibandingkan dengan kakakmu kan?”

Alana tertawa keras. “Dia itu payah dalam semua hal kecuali main game dan mencari uang yang banyak.”

Kami berjalan beriringan menuju parkiran dan aku terus mendengarkan Alana menjelek-jelekkan kakak lelakinya itu.

“Kita mau kemana?” tanyanya acuh sambil memakai sabuk pengaman. Gadis itu hanya menganggapku angin lalu karena setelahnya dia sudah sibuk dengan gadget di tangannya. Entah apa yang ia kerjakan sampai terlihat serius seperti itu.

Drrttt…drrtttt

Ponselku bergetar. Masih dengan fokus pada jalanan ramai, aku mengenakan headset di telingaku. Ada suara bass lelaki yang akan menjadi kakak iparku di seberang sana.

“Ada apa Kyu?”

Alana menatapku sekilas lalu kembali tenggelam bersama gadget-nya.

“Sebelum kau menyesal seumur hidup, cepat batalkan rencanamu melamar adikku hari ini! Aku bisa membantumu membatalkan reservasi hotel bintang lima yang kau sewa malam ini untuk melamar Alana.”

Aku menahan tawa. Baru sekali ini dalam sejarah hidup manusia, ada kakak yang begitu kejam pada adik kandungnya.

“Ya! Aku hanya tidak mau kau menderita menikahi gadis aneh seperti Alana.”

“Aku takkan menderita! Sudah dulu ya kakak ipar!”

Alana segera menatap horor padaku. Mata besarnya memicing sempurna. “Siapa?”

“Kakakmu. Siapa lagi.”

“Ada apa? Kenapa dia menghubungimu?”

Aku tertawa kecil. “Dia sedang memperingatkanku untuk menghindari suatu penderitaan. Tapi..aku rasa sesuatu yang dia sebut pederitaan itu adalah anugerah terindah di hidupku.”

“Hah?” Alana membuka mulutnya – sepertinya dia tidak sadar sudah berperilaku semenggemaskan ini.

“Penderitaan apa?”

Aku hanya diam, tidak lagi bersuara meski Alana menarik-narik ujung lenganku. Kau akan tahu beberapa saat lagi, Alana. Dan aku yakin..kau akan menerima lamaranku karena takkan ada lelaki yang mau menjadi suami gadis pemalas yang tak bisa memasak sepertimu. Selain profesimumu sebagai dokter, kau sama sekali tak direkomendasikan sebagai calon istri yang ideal.

“Alana…”

Gadis itu menatapku lagi setelah kuacuhkan beberapa menit.

“Nanti, kalau sudah pulang dan bertemu Kyu Hyun jangan lupa melemparnya dengan sepatu atau membakar kaset gamesnya, ehm…mengacak-ngacak kamarnya juga boleh.”

“Apa?”

Aku tertawa kecil. Yah, aku akan menceritakan upaya pencegahan Kyu Hyun yang begitu kejam tadi. Aku yakin sekali, akan ada perang dunia ketiga antara dua evil bermarga Cho itu dan aku dan Rhae Hoon akan berbagi makanan kecil sambil menonton peperangan mereka nantinya.

“Kenapa kau menyuruhku bertengkar dengan Kyu Hyun Oppa? Aneh sekali.”

Aku tertawa, lalu membimbingnya keluar mobil karena kami telah tiba di pelataran parkir Royal Hotel. Kau akan mengerti nanti, Alana. Setelah aku memintamu menjadi istrimu dan menyematkan cincin lamaran yang kusimpan di kantung jasku, lalu kita akan makan malam, dan tentunya…setelah kau tahu kalau kakakmu itu begitu tega memintaku tak menikahi adiknya yang ia anggap begitu kekanakan hingga belum layak menyandang status istri.

Fin

 

 

6 Comments (+add yours?)

  1. Deesungie
    Apr 02, 2016 @ 08:29:40

    Hahaha.. Hae kena penyakit jatuh cinta.. 😂😂😂

    Reply

  2. Deborah sally
    Apr 02, 2016 @ 15:53:45

    Geli gue dengan Donghae. Romantis banget hahaha

    Reply

  3. Mrs. C
    Apr 02, 2016 @ 21:30:57

    Omg kenapa tiba2 pengen Ada FF Kyuhyun sama Alana? -_-” bakal lucu banget kaliya wkwk…

    Reply

  4. harniyunhie
    Apr 02, 2016 @ 23:06:44

    duh si donghae mah romantisnya overload wkwk keep writing kak!

    Reply

  5. zahra salsabila
    Apr 03, 2016 @ 05:04:25

    cerita nya manis,g berlebihan

    Reply

  6. Y♥NGIE
    Apr 20, 2016 @ 22:01:28

    hhhh bruntung alana dpt haepa >o<
    kyu mh jahat ish jd kaka masa sm adek sndr gtu hhh kocak
    so sweet ih sumpah haepa :*
    versi long'a cba eon pasti seru bgt😀 hwaiting❤

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: