Just For One Day

Screenshot_2016-01-16-10-44-45_1

              Author: Betty Dwinastiti

            Cast: Lee Donghae (SJ)

                        Shin Na Ra

            Genre : Romance, AU.

                 “Sebuah kisah tentang sebuah rasa tulus yang tertinggal di tiap jejak angin yang mendengar rintihan hatiku.

                Tanpa jeda, tanpa niatan untuk berhenti.”

                 ***

Lee Donghae mengerutkan dahi, menikmati begitu banyak tanda tanya yang berkutat di kepala melihat sahabat terbaiknya – Shin Na Ra – mengerucutkan bibir sejak lima menit yang lalu.

“Ya! Ya! Ra-ya? Kau ini kenapa?” tanya pria tampan itu seraya menggoyang-goyangkan kedua bahu Na Ra. Gadis itu semakin menunjukkan kesebalannya, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, membuat Donghae mendesah kesal. Pria itu masih berdiri tegak di sisi ranjang putih Na Ra, kamar gadis itu terlihat lengang – hanya sesekali terdengar hela napas Na Ra menguap di udara.

“Baiklah, baiklah. Kuanggap mood-mu sedang buruk hari ini Ra-ya.” Donghae melirik arloji Rollex mewah di pergelangan tangan kirinya, kemudian menepuk dahinya sendiri tatkala ia sadar sudah terlambat menjemput Jung Ra Rin –kekasihnya yang seksi.

“Aku pergi ya? Lain kali aku akan menemanimu ke Seoul Forest. Hem?”

Tak ada sahutan, gadis itu masih bersembunyi di balik selimut merah muda menggelikannya dan tak lama terdengar suara langkah kaki Donghae yang menjauh hingga akhirnya tak terdengar lagi.

Na Ra menghela napas gusar, gadis itu membuka selimut lalu menatap nyalang pada jendelanya. Mata hitam kelabunya meredup tatkala mendapati mobil hitam Donghae menjauh, meninggalkannya di sebuah rumah besar itu sendirian.

“Sialan kau! Nemo Tampan!” desah Na Ra seraya meninju boneka bebek kuning – hadiah ulang tahun dari  Donghae setahun silam.

“Harusnya kau jangan berjanji jika akhirnya mengingkari,” desah Na Ra lagi. Gadis itu berang, bagaimana tidak? Lee Donghae mengajak gadis itu pergi ke Seoul Forest sore ini, Na Ra bahkan sudah membeli baju baru agar terlihat manis di hadapan pria itu. Namun, saat Donghae sudah menjemputnya, tiba-tiba si seksi Ra Rin menelepon Donghae dan meminta pria tampan itu menemaninya belanja.

“Sana, pergilah jalan-jalan sepuasmu Donghae-ya!” Na Ra merutuk lagi. Hatinya sakit tatkala mengingat betapa Donghae mencintai Ra Rin. Rasanya seperti kejatuhan duri tajam saat sahabat kecilnya itu mengenalkan Jung Ra Rin sebagai kekasihnya – lima bulan lalu.

***

 

“Berhentilah merajuk, Na Ra-ya. Ini sudah lima hari sejak kau tak mau melihat wajahku!”

Na Ra melirik Donghae sekilas, gadis itu terlalu sibuk dengan tanaman cantiknya hingga tak mempedulikan seorang pria beralis tebal yang sejak lima belas menit lalu mengikutinya – mengekor seperti anak kucing yang manis.

“Bantu aku menanam Lamb’s Ear ini, letakkan baik-baik di pot kecil berwarna hitam itu.”

Mata bocah Donghae mengerjap pelan, Na Ra baru saja berbicara dengannya meski lewat sebuah perintah. Tak lama Na Ra tersenyum mendapati Donghae yang begitu semangat melakukan tugasnya dengan baik – menaruh tanah secukupnya pada seonggok pot kecil lalu meletakkan bunga kuping domba itu di sana.

“Cantik sekali,” puji Shin Na Ra. Gadis itu merebut pot yang dipegang Donghae dengan mata berbinar, ia tidak tahu jika kini Donghae sedang menatap dirinya dengan seulas senyum menawan. Pria itu, hatinya menghangat meski hanya melihat seulas senyum di wajah cantik Na Ra.

“Kau sudah tidak marah padaku?”

Na Ra mendongak, ia terlalu pendek hingga harus menaikkan pandangan untuk melihat wajah Donghae – meski sebenarnya pria itu tak terlalu tinggi. Yah, tidak setinggi sahabatnya Cho Kyu Hyun yang mirip titisan tiang listrik tentu saja.

“Mana kuat aku marah padamu lama-lama Hae-ya, nanti tidak ada yang membelikan aku es krim rasa vanila lagi.” Na Ra memeletkan lidah lalu tergelak, gadis itu makin mengeraskan tawa saat Donghae terlihat sebal. Wajah pria itu sedikit menggelap, namun tak lama sebuah senyum terbit begitu indah bak panorama senja di sore hari.

Arraseo, akan kubelikan es krim kesukaanmu nanti. Terima kasih karena sudah memaafkanku!” Donghae meraih kedua bahu Na Ra lalu membenamkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Na Ra sesak napas, demi Tuhan! Kenapa pria ini suka sekali memeluknya? Meski keduanya sahabat – sejak masih suka mengompol – tentu gadis itu masih berdebar karena ia sadar jika suatu perasaan aneh sudah menelusup di dalam hatinya sejak ia sadar bahwa Donghae sudah merebut tahta terindah di hatinya – entah sejak kapan.

Apakah saat pria itu tersenyum di kala senja sambil melambaikan tangannya beberapa tahun yang lalu?

***

 

Eomma, Appa. Jagalah diri dengan baik,” ucap Donghae seraya memeluk kedua orang tuanya erat. Na Ra meringis di samping pria itu, hari ini ayah dan ibu Donghae akan pergi ke China untuk beberapa keperluan bisnis dan itu artinya mereka meninggalkan putra mereka yang masih kolokan sendirian di rumah.

“Paman, Bibi. Tenang saja, aku akan menjitak kepala Donghae jika dia nakal,” canda Na Ra. Gadis itu terkekeh saat Donghae mencubit pipinya, melihat itu ayah dan ibu Donghae ikut tertawa. Mereka memang sangat akrab, ayah dan ibu Na Ra adalah sahabat lama orang tua Donghae. Kedua keluarga itu tinggal di kota yang sama sampai dua tahun lalu orang tua Na Ra memilih pindah ke Busan untuk mengurus bisnis restoran mereka yang berkembang pesat. Na Ra sendiri enggan pindah karena ingin menyelesaikan pendidikan strata satunya terlebih dahulu, jadilah ia hidup sendirian dan sesekali mengunjungi orang tuanya di Busan.

“Oh, Na Ra-ya. Jagalah Donghae baik-baik, meski kini anak ini memiliki otot yang bagus di tubuhnya tapi sebenarnya dia masih suka manja pada Bibi.”

“Ya! Eomma!” Donghae merajuk, raut wajahnya memucat – malu.

“Hahaha, Bibi tenang saja. Aku tahu, bagiku dia tetap saja Donghae si tukang ngompol meski sebanyak apapun tonjolan otot di perutnya!”

“Ya sudah, ya sudah. Kita tidak akan berhenti mengobrol dan akhirnya kalian akan ketinggalan pesawat, oh itu tidak bagus kedengarannya,” potong Donghae cepat. Pria itu tersenyum masam lalu mendorong-dorong ayah dan ibunya agar cepat masuk pintu pemberangkatan.

“Aku akan merindukan kalian Paman, Bibi,” ujar Na Ra lagi.

“Kami Juga.”

Ayah Donghae yang sejak tadi terdiam kini memeluk Na Ra seraya mengelus puncak rambut gadis itu. Tak lama sepasang suami istri itu berjalan menjauh hingga tak terjangkau dalam jarak pandang lagi.

Kajja, kita pulang Hae-ya.”

***

Na Ra menendang-nendang kerikil kecil di ujung sepatunya. Hari ini ia harus menelan kekecewaan karena Donghae membatalkan acara jalan-jalan dengannya – lagi. Pria itu berdalih sibuk mengerjakan skripsi dan Na Ra tahu dengan benar bahwa pria itu tengah berbohong. Sejam lalu, dengan kedua bola matanya sendiri Na Ra melihat pria bermarga Lee itu tengah makan es krim di sebuah sudut kafe – dengan kekasihnya yang seksi tentu saja.

Gadis itu merasa terabaikan. Seorang Donghae yang manis dan polos tak pernah berbohong padanya, sekalipun tidak selama ingatan gadis berambut kecokelatan itu dengan Donghae selama belasan tahun. Jika kini Donghae berbohong hanya demi kekasihnya maka itu bukanlah pertanda baik untuk hubungan keduanya.

Lee Donghae sudah melupakanmu, dan dia akan makin menjauh seperti angin yang menerbangkan daun di musim gugur.

Na Ra menggigit bibir dan menggeleng lemah, entah pemikiran macam apa yang baru saja terlintas di kepalanya. Apa yang ia lakukan jika hal itu benar-benar terjadi? Benarkah Donghae akan melupakannya? Pelan-pelan seperti angin yang berhembus dan merontokkan daun-daun pada tiap tingkapnya yang retak? Na Ra kini terduduk lesu di tepi trotoar. Yang benar saja, dia bahkan begitu lemah hanya karena seseorang yang kini tengah tertawa mesra bersama gadis lain.

***

 

Ini adalah hari kedua sejak Na Ra tak mendengar kabar Donghae, entahlah. Gadis itu sama sekali tak berminat menanyakan kabar pria dengan mata bersinar indah itu, rasanya terlalu sakit saat ia harus mendengar ocehan Donghae tentang Jung Ra Rin. Pria itu selalu membanggakan gadis itu ; Jung Ra Rin yang seksi, yang pandai memasak, pandai menyanyi dan populer di kampus.

Gadis itu memakai kacamatanya dan mulai menggelung rambutnya ke atas, seulas senyum terbit di wajah cantiknya lalu gadis itu mulai menyibukkan diri lagi dengan buku-buku tebal di tangannya. Sesekali ia mengalihkan perhatian pada layar laptopnya, bukan hanya Donghae yang bisa sibuk dengan skripsiny, dia sibuk mengerjakan skripsi juga sampai-sampai tak mendengar suara pintu terbuka.

Lee Donghae datang, pria itu tersenyum seperti bocah berumur lima tahun sambil bersandar di sisi dinding dekat pintu. Bahu pria itu naik turun secara halus bersamaan dengan hela napasnya, ia senang mendapati Na Ra ada dalam keadaan baik-baik saja. Sudah dua hari sejak ia tak melihat wajah manis yang selalu membuat ia merindu, ia melangkah pelan – tak menimbulkan suara berarti sampai akhirnya ia duduk di belakang Na Ra.

“Ah, buku yang itu tertinggal di rumah Donghae,” cicit Na Ra. Gadis itu menggigit ujung pulpennya lalu mendesah kasar, ia terkesiap tatkala perutnya terasa hangat karena suhu tubuh seseorang yang kini menyandarkan kepala di bahunya.

“Kau?”

“Oh, ini aku. Harusnya kau mengunci pintunya, ini sudah larut dan seorang gadis ceroboh sepertimu bahkan tak mengunci pintu depan.”

Na Ra mencoba tak peduli dengan ocehan Donghae, gadis itu berhenti melirik ke belakang dan mulai mengetik lagi meski sebenarnya ia hampir mati – karena gugup.

“Na Ra-ya.”

“Oh?”

“Aku mendengar suara yang aneh,” pungkas Donghae tenang. Pria itu mengerjapkan mata beberapa kali dan menajamkan pendengaran. Tidak salah lagi, suara aneh yang ia maksud adalah debar jantung Na Ra yang mengalun cepat seperti genderang perang. Apa itu karena ulahnya yang memeluk tubuh ramping Na Ra dari belakang?

“Suara aneh apa?” Na Ra menelan salivanya susah payah, cepat-cepat gadis itu beranjak dari duduknya dan memegangi tengkuknya yang dingin.

“Itu tadi, tidak mungkin ‘kan suara jantung – “

“Aku lapar, aku belum makan makanya jantungku berdebar cepat. Ya! Aku buat ramen untuk kita, bagaimana?” potong Na Ra cepat, ia tak menunggu jawaban Donghae yang kini memasang wajah bodoh. Gadis itu berjalan cepat menuju dapur dan mulai menyibukkan diri dengan peralatan masak. Ia memakai celemek biru kesayangannya lalu mulai memasak mie ramen, karena memang hanya itulah keahlian Na Ra dalam hal mencampur bumbu. Gadis itu tak bisa memasak, ia lebih suka makan di luar atau makan cemilan ketika ia lapar maka tak heran jika tubuhnya tidak bisa gemuk. Dari balik lensa matanya, Donghae menautkan kedua alis. Wajah tampan itu terlihat tengah menyimpan eskpresi aneh, pria itu heran. Lee Donghae dan Shin Na Ra sudah saling menjaga seperti saudara kandung, mereka memang sudah tak mandi bersama seperti saat masih bocah, namun kedekatan mereka selama ini cukup untuk membuat pria itu menyadari bahwa ada perasaan lain yang disimpan Na Ra untuknya.

Sebuah rasa tulus yang tertinggal di tiap jejak angin yang mendengar rintihan hati Na Ra yang  terus memanggil nama Donghae.

Terus memanggilnya, tanpa jeda.

Na Ra masih sibuk memindahkan mie yang sudah matang ke dalam mangkuk, tubuh gadis itu terlihat menarik dari belakang dengan rambut panjang yang terurai panjang. Donghae mengerjap pelan , perasaan hangat macam apa yang kini merayap di dinding hatinya? Pria itu menggeleng lemah lalu mulai berbaring, menghirup wangi tubuh Na Ra yang tertinggal di bantal kecil sofa yang ia gunakan untuk tidur saat ini. Pria itu terlalu lelah mengerjakan skrispsinya di siang hari  kemudian mengantar kekasihnya jalan-jalan. Entahlah, kenapa Jung Ra Rin itu suka sekali mengitari kota lalu meminta Donghae memotretnya dalam banyak pose.

Cha, makanannya sudah si – “

Na Ra meletakkan dua mangkuk ramen yang mengepulkan asap itu di atas meja. Lee Donghae tertidur – seperti bayi tampan yang menggemaskan. Gadis itu tersenyum samar lalu mengambil selimut di kamar, tak lama ia kembali dan menaruh benda lembut bermotif bunga besar-besar itu di atas tubuh Donghae.

“Bayi besar, tidurlah dengan nyenyak.”

Gadis itu masih bersimpuh di dekat sofa hijau pupus itu meski akal sehatnya meminta untuk segera enyah dari sana. Donghae terlihat pulas dengan wajah tampannya, sesekali hela napasnya terdengar mengalun bak simfoni indah di tengah malam kali ini.

“Sejak kapan perasaan ini muncul Donghae-ya? Maaf, karena terlalu lancang mencintaimu,” lirih gadis itu pada angin.

Gadis itu menekan perasaannya kuat-kuat, baginya … Lee Donghae yang kini tertidur pulas di hadapannya adalah seorang pangeran impian yang tak tersentuh. Dia memang begitu dekat, seperti hidung dan lidah pada wajah manusia yang tak pernah bisa saling tersentuh satu sama lain. Na Ra tersenyum kecil, memang benar ia tak bisa memiliki Donghae saat pria itu terbangun. Namun, saat pria itu memejamkan mata seperti ini bolehkah dia …

Entah sejak kapan, tangan kanan gadis itu merambat di wajah Donghae. Dengan jantung bertalu hebat ia menyentuh pipi kanan Donghae yang putih, bagian wajah yang akan menyemu merah saat kedua sudut bibir di wajah itu tertarik ke atas – membentuk sebuah senyuman.

“Bolehkah, aku memilikimu – hanya di detik ini saja?” Na Ra bermonolog, hatinya sejuk seperti guguran embun yang terjatuh dari lembar dedaunan di kebunnya. Gadis itu menelan salivanya pelan saat ia sadar jika ia telah mendekatkan wajahnya pada Donghae, memiliki pria ini sebentar saja? Bolehkah?

Na Ra gila. Ia benar-benar kehilangan kewarasannya saat dengan sangat sadar gadis itu menutup belahan bibir Donghae dengan bibir merah muda miliknya. Hanya sekedar menyentuh bibir hangat Donghae saja sudah membuat hatinya sebahagia ini, gadis itu menangis tanpa suara. Dalam keheningan malam dan kehampaan hati, satu inginnya telah terpenuhi.

Gadis itu menjauhkan wajahnya dengan napas tercekat. Ia menatap wajah tenang Donghae, pria itu tidak terusik sama sekali. Dia masih terlelap, itulah yang kini dipikirkan Na Ra. Gadis itu tidak tahu, dan takkan pernah tahu jika semenjak ia mengelus pipi kanan Donghae beberapa detik lalu – pria itu terjaga dari tidurnya dan merasakan apa yang ia alami dengan seribu pertanyaan yang memenuhi ruang hatinya.

Shin Na Ra … mencintaiku?

***

 

Jung Ra Rin berdeham keras. Sejak dua puluh menit lalu ia sudah selesai dengan makan siangnya dan kekasihnya yang tampan masih tetap mengaduk-aduk pasta di piringnya. Pria itu, Lee Donghae yang mempesona memang berada di hadapan Jung Ra Rin, namun hati dan jiwanya melanglang – dalam lautan hampa. Bahkan hangat bibir Na Ra masih melekat kuat di bibirnya, Donghae meletakkan sendok dan garpunya di meja lalu beranjak dari duduk dengan wajah gusar.

“Sayang,” panggil Jung Ra Rin cepat, ia harus menahan amarah melihat wajah pucat Donghae saat ini.

“Ra Rin-ah. Kau bisa pulang sendiri ‘kan? Ada hal penting yang harus kukerjakan.”

Ra Rin membeku di tempang dengan wajah masam. Gadis cantik dengan sebingkai wajah nan aduhai itu tersenyum aneh, “Hal penting? Adalah hal yang lebih penting jika dibandingkan denganku?”

Donghae mengangguk mantap, pria itu pergi begitu saja. Mantel hitam yang meletak di tubuhnya bergerak ke sana ke ke mari bersama langkah kakinya. Ia harus menemui Shin Na Ra dan memperjelas kondisi hati gadis itu. Apakah masih memar karena menyimpan cinta sepihak yang menyesakkan? Lalu, apakah yang menggerakkan hati pria tampan itu untuk pergi sejauh ini?

Napas Donghae memburu, ia berhenti berlari saat menemukan sebuah taman bermain dengan guguran daun di sana- sini. Musim berangin ini, menyisakan rasa perih di hatinya. Donghae menggeleng lemah, beberapa meter dari hadapannya kini telah terpampang sebuah pemandangan yang menguras perasaan aneh yang baru saja menelisik di relung jiwanya.

Shin Na Ra – dan entah siapa itu – tengah duduk berpeluk di atas bangku putih. Tangan si pria berambut hitam tengah membelai rambut panjang Na Ra dan sejak saat itu … Lee Donghae bersumpah di dalam hati akan melupakan rasa indah yang kini memenuhi dinding hatinya.

***

 

Chukkae.”

Kedua anak manusia itu tertawa keras saat dengan kompak saling mengucap kata selamat bersamaan. Donghae mencubit hidung Na Ra gemas, menariknya cepat hingga membuat gadis itu mengerang kesakitan.

“Ya! Nemo jelek, hidungku bisa patah!”

“Hahaha.”

Na Ra masih merutuki nasib hidungnya saat Donghae mengambil ponsel di saku celananya, pria itu memotret sahabat baiknya yang masih setia memegangi hidung kecilnya yang memerah.

“Ya!! Izin dulu kalau memotret!”

Donghae memeletkan lidah, ia malah makin banyak memotret dan membuat Na Ra menggeram marah.

“Aku hanya mau mengirim foto jelekmu lengkap dengan toga yang melekat di tubuhmu pada orang tuaku di China. Kau tahu tidak? Sejak seminggu lalu mereka terus-terusan memintaku mengirim foto wisuda kita,” jelas Donghae panjang lebar. Jadi begitu? Na Ra mengangguk dengan cengiran lebar di wajah. Keduanya baru saja diwisuda setengah jam lalu, jika kini Na Ra menyandang gelar sarjana komunikasi maka Donghae sudah bertitel sebagai sarjana ekonomi.

“Oh, benar. Sedih sekali Paman dan Bibi tidak bisa melihat ikan jelek sepertimu menjelma menjadi pria gagah saat mengenakan toga ini,” kekeh Na Ra. Gadis itu menarik-narik ujung baju toga Donghae dan membuat pria itu mendesah sebal.

“Ya! Berhentilah memanggilku ikan, Nemo, dan semacamnya!”

“Hahaha.”

“Jangan tertawa, suara jelekmu itu tidak bagus untuk didengar. Oh, di mana orang tuamu?” Donghae menengokkan kepala ke kanan dan ke kiri. Keduanya memang tengah menunggu ayah dan ibu Na Ra yang sedang merapikan pakaian di ruang make up. Donghae tersenyum membayangkan akan berpose memakai baju toga – berdampingan dengan Na Ra yang hari ini didampingi orang tuanya.

“Ah, itu mereka Donghae-ya. Kajja, aku mau dipotret secepatnya!”

***

 

“Kau mau pergi ke China?”

Air mata itu luruh begitu saja tanpa mampu ditahan lagi oleh Na Ra. Gadis itu menunduk dalam saat Donghae memeluk tubuhnya erat-erat. Shin Na Ra tak pernah sepatah hati ini sebelumnya, rasanya ia mau mati saja saat pria itu memaparkan rencana kepergiannya beberapa detik lalu. Donghae pergi, dan itu artinya Shin Na Ra takkan bisa menatap senyum secerah matahari itu dalam jarak waktu yang lumayan lama.

Donghae menarik napas gusar sebelum berujar, “Kau sudah dengar bukan? Ayahku sakit dan sudah saatnya aku terjun mengurus bisnis keluarga.”

Na Ra mengangguk dalam dekapan Donghae, ayah Donghae mengalami stroke ringan sampai-sampai tidak bisa kembali Ke Korea untuk menghadiri acara wisuda anak lekaki satu-satunya itu dua hari lalu.

“Ya sudah, pergilah. Mereka memang membutuhkanmu, ah … sebenarnya aku juga akan pergi ke Busan. Kembali pada orang tuaku.”

Na Ra melepaskan dekapan Donghae, gadis itu menghapus air matanya sendiri dan tersenyum manis. Ekor mata gadis itu bergerak-gerak mengagumi wajah tampan yang takkan ia lihat untuk beberapa waktu ke depan. Ia mengerjapkan mata saat yakin jika sudah saatnya ia melepas pria itu, Lee Donghae sahabat kecilnya kini sudah bermetamorfosa menjadi lelaki dewasa yang siap menaklukan dunia.

“Tidak bisakah kau juga ikut, Na Ra-ya?” tanya Donghae hati-hati, napasnya tercekat dan segumpal keringat menghias di keningnya. Na Ra tertawa lepas, Donghae sedang bergurau? Lalu bagaimana dengan Jung Ra Rin yang kini berdiri tegak di bibir pintu rumah Donghae? Seharusnya pria itu mengajak serta Jung Ra Rin – kekasihnya – bukan sahabat kecil yang tak berarti macam dirinya.

“Jangan bercanda, Lee Donghae.”

Donghae tersenyum paksa, terlihat sekali jika pria itu tersiksa dengan keadaan yang mengharuskannya meninggalkan Shin Na Ra. Ya, Shin Na Ra, bukan Jung Ra Rin yang sudah ia putuskan sejak tiga hari yang lalu – tanpa sepengetahuan Na Ra tentu saja.

“Oke, aku takkan membawamu ke China, tapi bagaimana dengan … jalan-jalan sehari besok. Just for one day … hanya untuk satu hari kita berdua seolah berakting sebagai sepasang kekasih. Bagaimana?”

***

 

Just for one day? Akting sebagai apa kata ikan itu? Sepasang kekasih?”

Shin Na Ra tak bisa tidur dan terus mengulang-ulang kalimat yang Donghae ucapkan padanya tadi siang, berputar menggelikan di dalam kepalanya dan membuat gadis itu menelan ludah membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan seharian penuh – esok pagi saat Matahari musim gugur menghangat di udara.

“Makan di tepi pantai? Atau melihat orang bersepeda di Seoul Forest huh?”

Na Ra menggembungkan pipi, begitu banyak pengharapan yang ia lambungkan pada sosok Donghae yang kini juga tak mampu memejamkan mata barang sedetik pun. Ini gila! Bahkan ia tak pernah segugup ini saat berkencan dengan Ra Rin untuk pertama kalinya. Pemuda berkaos panjang itu menatap dirinya di cermin. Dia memang sudah mengubur harapannya untuk menanyakan alasan di balik ciuman Na Ra malam itu  sejak Shin Na Ra  berpelukan dengan pria bersuara merdu – Kim Jong Woon.

Pria itu merebut perhatian Na Ra – entah itu pemikiran Donghae saja atau memang mereka memang berpacaran, yang Donghae tahu setelah hari itu keduanya dekat dan selalu pergi kemana-mana berdua seperti perangko yang saling menempel satu sama lain. Sialan!

***

 

“Kau terlambat, lima belas menit dari jadwal kita Lee Donghae!”

Na Ra terkikik, ia memegangi perut – tertawa menggelikan sampai kedua mata besarnya menyipit. Donghae yang baru datang setelah perjuangan besar melawan kantuk dan jalanan ramai menggerutu panjang pendek, pria itu masih tersengal karena berlari dari mobil sampai ke ruang tamu rumah Na Ra.

“Ya! Ya! Berhenti tertawa! Lihatlah lingkaran hitam di bawah mata besarmu itu, ah … kau pasti tak bisa tidur karena memikirkan akan pergi ke mana kita hari ini, heum?”

“Aish, I…itu tidak benar!” Na Ra melayangkan tangan di udara – membentuk gerakan pengelakan meski apa yang diucapkan Tuan Ikan Tampan ini benar, sangat benar malahan.

“Sudah jangan mengelak lagi. Cha, kita pergi … seharusnya tempat itu sudah tutup jam sebelas siang.”

“Eh?”

Otak Na Ra bekerja, menimbang-nimbang tempat macam apa yang akan mereka kunjungi pagi ini. Lee Donghae menarik tangan Na Ra lalu membimbingnya menuju mobil kesayangannya, gadis itu diam saja selama perjalanan. Sesekali mata hitam kelabunya melirik pada Donghae yang berkonsentrasi penuh dengan jalanan besar di hadapannya. Gadis itu tersenyum, merekam sebanyak mungkin sebingkai wajah tampan milik Donghae yang takkan  ia temui untuk waktu yang lama. Bisa saja setelah ini pria itu menetap di China, atau mungkin jika tangan Tuhan membuat pria itu kembali maka beberapa bulan kemudian Na Ra akan mendapat undangan pernikahan pria itu dengan kekasihnya yang super seksi. Oh, sialan!

“Anginnya sejuk ya?”

Suara Donghae menguap indah di udara, Na Ra tersentak dan seketika menundukkan pandangan. Angin? Donghae benar, Na Ra memejamkan mata dan detik kemudian ia sadar bahwa angin begitu lembut menerpa kedua pipinya. Gadis itu tak sadar jika mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di sebuah pelataran taman kanak-kanak.

Na Ra membuka matanya, dan seulas senyum cantik tercipta. Pantas saja ia begitu nyaman dengan angin di tempat ini, Donghae membukakan pintu mobil – entah kapan pria itu keluar dan memperlakukan Na Ra bak putri  kerajaan.

“Tempat ini masih sama seperti dulu ‘kan?” tanya Donghae bodoh. Pria itu menggenggam tangan Na Ra, membawa gadis itu menyusuri bangunan bercat warna-warni dengan banyak gambar binatang menggemaskan di kanan kiri.

“Donghae-ya. Bagaimana bisa kau terpikir tempat ini? Astaga!” Na Ra terkekeh meski ia begitu bahagia saat ini. Taman kanak-kanak ini adalah tempat pertama bagi Na Ra dan Donghae berinteraksi dengan banyak orang. Di tempat inilah untuk pertama kalinya Na Ra kecil melihat Donghae kecil menangis keras karena mainannya direbut anak lain, juga tempat yang menjadi saksi bagaimana Donghae kecil memberikan jaket miliknya pada Na Ra kecil –saat hujan deras dan keduanya duduk kedinginan menunggu jemputan.

Kenangan-kenangan itu menyeruak begitu saja, seperti patahan puing puzzle yang akan terangkai indah pada akhinya. Na Ra tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya di dalam hidup ini bisa bersyukur menjadi sahabat Donghae – karena biasanya gadis itu lebih suka berkhayal menjadi gadis yang masuk ke dalam kehidupan pria itu tanpa embel-embel sebagai sahabat – agar ia bisa mengucap kata cinta pada Donghae tanpa rasa takut.

Aku sangat beruntung, bisa melihat pria ini tumbuh – dari begitu kecil menjadi pria dewasa yang mempesona.

***

 

“Seharusnya ada di sini,” tukas Donghae, pria itu mengerutkan dahi sambil mencari-cari sesuatu – di balik lemari besar di dalam ruangan kelas yang dulu merupakan kelas pertamanya di TK ini.

“Apa yang kaucari?”

“Ah, ini dia!” Donghae tersenyum lebar saat menemukan coretan tangannya sendiri. Meski agak tersamar tumpukan cat yang sudah banyak berganti rupanya cetakan huruf hangul karya tangannya masih dapat dibaca.

“Ini?” Na Ra melebarkan mata, gadis itu mengerjap pelan tatkala selesai membaca tulisan jelek Donghae kecil di dinding berwarna biru laut itu.

“Shin .. Na …Ra,” baca Donghae hati-hati.

“Hahh, kau pernah tanya kata apa yang berhasil aku tulis untuk pertama kalinya bukan?” lanjut pria itu.

“Oh, dan kau menjawab bahwa kau  menulis namamu sendiri dengan wajah yang dingin.”

“Aku berbohong, saat itu aku bekerja keras supaya bisa menuliskan namamu untuk pertama kalinya.”

Na Ra membulatkan mata, benarkah apa yang sedang ia dengar kali ini? Gadis itu pucat pasi saat Donghae menggenggam kedua tangannya dengan lembut.

“Tahukah kau apa alasannya?”

Shin Na Ra mengangguk dengan debaran jantung yang menguat – menggila.

“Karena … Lee Donghae menempatkan Shin Na Ra sebagai orang yang paling penting di dalam hidupnya – bahkan sejak berusia lima tahun.”

***

 

Bersepeda di Seoul Forest dan akhirnya berakhir di taman kota, Shin Na Ra memejamkan mata di sebuah bangku. Sesekali ia tersenyum lepas dalam gelap yang menyelimuti sekitar saat mampu mendengar suara daun bergemerisik bersama denting detik jam di pergelangan tangannya. Ngomong-ngomong tentang waktu, gadis itu cepat-cepat membuka mata dan sebuah eskpresi sedih terpancar di raut wajah cantiknya. Beberapa jam lagi kebersamaannya dengan Donghae akan berakhir, seperti apa kata pria itu kemarin … just for one day.

“Kim Jong Woon itu, apa dia pacarmu?” pemuda itu menatap lurus pada mata Na Ra, gadis itu tersenyum kaku dan menjawab, “Ya, memangnya cuma kau yang boleh punya pacar?!”

Donghae tersenyum dalam kesakitannya, ia tak pernah tahu jika gadis itu berbohong dengan begitu lancar. Jong Woon hanya teman sesama program studi Na Ra saja, jika saat itu Na Ra memeluk Jong Woon, maka itu adalah karena dia habis menceritakan tentang kepatah hatiannya pada sosok Donghae pada pria itu.

“Dan … Jung Ra Rin. Kau berencana menikahinya?”

Donghae menelan ludah, menikah apanya? Sedangkan dia sudah sangat kejam memutuskan hubungan dengan gadis itu sejak senyum Na Ra selalu membayang di benaknya sejak insiden di malam itu.

“Oh, tentu saja  aku ingin menikah,” pungkas Donghae setelahnya. Angin menderu dan menyibak kedua wajah yang kini terlihat pucat pasi akibat memendam rasa tak biasa yang menggerogoti tepian hati.

Just for one day, hanya sehari ini saja kita seperti sepasang kekasih. Berpegangan tangan, berpelukan … tanpa takut pasangan kita akan marah. Lucu sekali,” tukas Na Ra seperti orang bodoh. Donghae tertawa manakala menemukan sebuah ide gila yang membuncah di kepala.

“Ada satu hal yang belum kita lakukan sebagai … sepasang kekasih.”

“Oh ya?” Na Ra mengerjap, terlihat antusias dan Donghae meredupkan pandangan matanya. Kedua fokus itu menyerang – menembus sisi kelam di retina Na Ra dan pria itu tersenyum tatkala menemukan ukiran cinta pada pendaran cahaya di mata gadis itu.

“Bolehkah? Sebagai sepasang kekasih?” Donghae meraih dagu Na Ra,memohon dengan tatapan cintanya yang memabukkan.

“Berjanjilah, esok hari … kita tetap sepasang sahabat Donghae-ya.”

Pria itu mengangguk pasti dan setelahnya ia mengecup sudut bibir Shin Na Ra lembut . Mencecapi rasa manis yang segera membutakan hati dan pikirannya bersamaan dengan sambutan hangat dari gadis itu, tak cukup sekali, namun berulang kali hingga keduanya  hampir kehabisan napas. Rasa cinta itu menyeruak seperti alunan simfoni dari biola tak berdawai yang tetap mengalun indah. Yah, tanpa dawai. Karena hubungan yang terjadi detik ini … hanyalah untuk satu hari saja.

 

“Begitu banyak kata cinta, rindu, dan keinginan untuk saling memiliki yang tak mampu tersampaikan dengan baik di dunia ini …

                Maka berbahagialah … ketika harapanmu untuk mendiami hati seseorang telah terlaksana dengan sempurna.

                Kepedihan bukanlah saat kau tak mampu meraih cinta dari dia yang tak mencintaimu, namun pedih adalah saat kedua hati saling mencinta – saling mendamba – namun tak mampu saling memeluk – meski keinginan untuk bersama itu hampir membuat keduanya kehilangan kewarasan.”

 

End.

 

***

Epilog

 

Donghae melangkahkan kakinya lebar-lebar, ia hampir ketinggalan pesawat karena bangun kesiangan. Ia bisa datang ke tempat ini pun berkat jasa Na Ra yang menjemput Donghae dan segera kalang kabut membangunkan ikan tampan itu yang masih menempel erat dengan bantal putih favoritnya.

Pria bermantel hitam dengan topi berwarna senada itu membalikkan badan, melihat kembali sosok cantik Na Ra yang menekan keinginan menangisnya – sekuat yang gadis itu mampu.

“Ya! Cepat masuk!”

Lee Donghae tersenyum samar lalu berkata, “ Shin Na Ra. Jika suatu saat nanti … saat aku kembali dan aku tak ada wanita di sisiku – dan kau pun tak ada pria di sisimu, bisakah kita menjadi kekasih untuk selamanya? Bukan hanya dalam waktu satu hari?”

Na Ra memucat seketika, namun dengan cepat gadis itu menjawab dengan tegas, “ Oh, tentu saja. Jika saat itu benar-benar terjadi, maka kita akan menjadi sepasang kekasih … untuk selamanya.”

 

-END-

4 Comments (+add yours?)

  1. Hwang Risma
    Apr 03, 2016 @ 08:59:53

    Ada sedihnya ada sweetnya juga, klop deh kalau mereka jadi sepasang kekasih 😀😘

    Reply

  2. Deborah sally
    Apr 03, 2016 @ 13:21:54

    Sequel thor

    Reply

  3. zahra salsabila
    Apr 04, 2016 @ 01:15:53

    cerita nya keren lucu,sedih,sweet nya dpet,ksh squel eonni.

    Reply

  4. Jung Haerin
    Apr 08, 2016 @ 01:08:52

    Romantis meski miris…. Sukaaa, feel’y berasa dikit, heee ^^

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: