Spotless Mind [3/5]

lw3-3_20150131111033993

Author  Metaz05

Title: LAST WISH [-3rd Story] Spotless Mind (3/5)

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Henry Lau, Park Jungsu, Kim Youngwoon

Genre: Fantasy, AU

Rating: G

Length: chapter

Author’s note :

~last chapter~

Whatever kyuhyun did he would end up dragging her name in. He could only wondering because nothing has been recalled yet from his mind meanwhile henry has succeded regain a memory to begin with.

What will kyuhyun do while he always get a headache whenever he’s trying to figure out about her?

What happen next.. enjoy this chapter.. thanks 4 reading..

 

 

***LAST WISH***

[3rd Story]

_Spotless Mind (3rd Part)_

***

Why did you risk your live for pride? Why did you hurt yourself for memories? Maybe you should short out your priorities. I don’t mind to leave, but please be save_ Kim Hyejin

***

 

 

“Kyuhyun-ah. Aku harus secepatnya kembali ke kantor kau sungguh tak apa menungguku disini?”

 

Ia mengangguk, tersenyum meyakinkan ahra bahwa ia akan baik baik saja. “Aku hanya akan duduk disini noona. Bukan terjun payung atau bungee jumping atau olahraga extreme lainnya.”

 

“Arrasseo.. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku.” Pesan ahra mengelus kepala adiknya lalu kembali menginjak gas pergi dari sana.

 

“Kau tau jika apa-apa itu sungguh terjadi, berita itu akan sampai telinga appa lebih dulu sebelum aku selesai mengetik namamu” Bisik kyuhyun melirik dua pria ber-jas hitam yang turun dari mobil yang parkir di seberangnya.

 

Kyuhyun melepaskan tongkat penyangga dari tanggannya setelah sampai di bangku yang sesungguhnya tidak diincarnya. Kakinya memaksanya duduk sebelum sampai di taman bermain yang dilihatnya dari dalam mobil tadi. Tak ada apapun, hanya angin yang menyapanya di taman itu. Tanpa alasan yang jelas ia hanya ingin kesana, menikmati angin musim panas terakhir yang masih tersisa untuk merusak tatanan rambutnya.

 

Tetesan hujan mulai turun menapaki daun kering yang berserakan di tanah namun kyuhyun masih duduk tak bergeming di tempatnya semula. Untuk saat ini ia menyerah, mungkin nanti saat kakinya lebih baik dari sekarang ia akan mengunjunginya lagi. Tangannya mengadah menampung titik titik air yang menyapa kulitnya dingin. Ia masih belum menemukan apa yang ingin dilihatnya disana. Masih belum menemukan alasan mengapa ia bersikeras meminta ahra menurunkannya di taman itu.

 

 

“It’s raining. What are you doing? sitting all alone in the rain?”

 

 

Ia menoleh mengiringi kalimat yang didengarnya dari belakang. Rambut brown-nya ikut terbang tak beraturan tertiup angin dan ia membiarkannya, tak bisa memperdulikan tatanan rambutnya lagi saat melihat wajah yang tadi siang diidamkannya datang bersama jongwoon. Tanpa sepengetahuannya ujung bibirnya tertarik kebelakang menyunggingkan senyuman saat kepalanya menunduk menyapa wanita itu sopan.

 

Hyejin melangkah penuh tanda tanya saat melihat tindakannya barusan, raut wajahnya sedikit mengeras entah karena menghindari tiupan angin atau karena kecewa menyimpulkan pria itu masih belum mengingatnya. Ia mengambil tongkat kyuhyun lalu menyodorkannya untuk membantu kyuhyun berdiri. Hyejin mengamit lengannya, menuntunnya hingga sampai didalam halte yang tadi ditinggalkannya.

 

Kyuhyun tersenyum dalam setiap langkah yang dipijaknya. Bajunya celananya sepatunya semuanya basah tertimpa air hujan tapi ia tetap tersenyum, tak mengerti mengapa kehangatan selalu terpancar saat wanita ini ada disampingnya. Dan fakta bahwa ia melihatnya lagi saat ini membuat senyuman itu tak pernah pudar dari wajahnya.

 

 

“Mengapa?” Suara bening itu bergetar memenuhi halte tempat mereka berteduh mengawali pertanyaan yang ditujukan untuk kyuhyun.

 

Kyuhyun menoleh mengalihkan matanya yang dari tadi tak habis memandang wajah hyejin yang hanya menunduk berkonsentrasi pada jalanan dihadapannya.

 

“Mengapa kau ada di taman ini dalam hujan?” Ulangnya tanpa melihat ataupun melirik kyuhyun disebelahnya.

 

“Aku menunggu… ahra noona.” Kyuhyun tak ingin berbohong, tapi memang ia sendiri juga tak tau mengapa ia mati matian memaksa ahra meninggalkannya disana untuk alasan yang tak diketahuinya.

 

“Kau baru saja pulang kantor? Kantormu ada di dekat sini?” Tanya kyuhyun mencari topik lain saatmelihat hyejin masih memakai setelan resmi dari ujung rambut sampai kakinya.

 

Hyejin hanya mengangguk lalu kesunyian kembali mengambil alih percakapan mereka. Tak ada yang berbicara, tak ada yang bergerak, persis percakapan telepon mereka kemarin. Hanya rintik hujan yang mengalun mengiringi suara mobil yang lewat di depan mereka.

 

Satu bus dengan nomor yang sama seperti bus tumpangan hyejin sebelumnya berhenti membuka kedua pintunya dihadapan mereka. Tidak ada penumpang yang turun disana dalam cuaca seperti ini dan tak ada satu pun diantara kyuhyun dan hyejin yang bergeming. Kyuhyun tak berani menoleh kesebelahnya – tak ingin melihat hyejin pergi dari tempat itu, sedangkan Hyejin sesungguhnya tak berniat meninggalkan kyuhyun menunggu ahra sendirian disana.

 

Pintu bus mulai menutup, kyuhyun lalu menoleh menyadari hyejin masih ada disebelahnya ia kembali mengecek nomor bus yang tertera di kaca jendela disamping pintu yang sekarang sepenuhnya tertutup.

 

“Bukankah itu bus-mu mengapa kau melewatkannya?” Tanya kyuhyun sebelum mematung menyadari kalimat aneh yang diucapkannya barusan, “Tunggu…. Mengapa.. Darimana aku tahu nomor bus ke rumahmu?”

 

Jantung kyuhyun berdetak lebih cepat saat mencoba memutar otaknya sekali lagi, mengobrak abrik isi kepalanya sekali lagi. Ia memejamkan matanya kuat-kuat mencoba menarik satu saja bayangan yang terus berputar tak menentu dalam kepalanya.

 

“Kyuhyun-ssi. Kau tak apa? Kyuhyun-ssi….” ujar hyejin mengguncang pelan pundak kyuhyun untuk mengecek kesadarannya. Kyuhyun masih mampu mendengarnya, walau membalasnya sedikit sulit karena saat ini dunia serasa berputar dalam kepalanya.

 

“Kyuhyun-ssi.. Cho Kyuhyun.. Kyuhyun-ah??” Ulangnya panik. Hyejin menangkupkan telapak tangannya diatas tangan kyuhyun yang memegang erat kepalanya. Keringat dinginnya menyatu dengan air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya.

 

“Kyu kumohon jangan begini.. tolong jangan pikirkan apapun saat ini. Jangan mencoba mengingat apapun jika kau akan jadi seperti ini.. kumohon.” Hyejin memeluknya berharap kyuhyun berhenti kesakitan lebih dari ini. Sebelah tangannya membongkar isi tasnya mencari pertolongan dari ponselnya. Lalu pintu halte itu terbuka. Dua pria berpakaian hitam meringsek masuk membungkuk sebelum mengangkat kyuhyun yang menolak untuk melepas genggamannya pada tangan hyejin.

 

“Aku tidak ingin pulang! setidaknya tidak dalam keadaan seperti ini.”

 

***

 

“Hyung.. mengapa kita harus berlari untuk sampai kesana? Maksudku kau- since i’m not even stepping on the ground” protes henry mengejar jongwoon yang langsung berlari setelah turun dari mobil.

 

Jongwoon menenekan password pintu ruangannya lalu melihat kyuhyun sudah terbungkus jaket dan selimut yang ditinggalkannya disana. Tangannya memegang secangkir coklat hangat untuk kyuhyun yang tidak minum kopi.

 

“Kau sudah baikan?” tanya Jongwoon selagi meletakkan barang bawaannya di meja dihadapan kyuhyun lalu membongkar isinya. Kyuhyun hanya mengangguk menanggapinya.

 

“Kau yakin tak perlu ku antar pulang sekarang?” Ia mengangguk lagi. Jongwoon lalu melemparkan handuk keatas kepalanya.

 

Kyuhyun menarik handuk biru itu dari kepalanya. Lalu menatap jongwoon yang masih berdiri dihadapannya mengeluarkan kaus yang sepertinya akan diberikan untuknya.

“Aku mengenal hyejin, kan? Dia bukan sekedar sepupumu… kan?” Tanyanya ragu.

 

Henry yang sejak tadi berdiri lalu menarik kursi dibelakang meja kerja jongwoon mencari tempat yang nyaman untuk menonton drama yang tak bisa dihindarinya.

 

“Hyung, apa pria ini juga lupa sepertiku?” Celetuk henry yang tak ditanggapi jongwoon.

 

“Tak usah banyak berpikir. Hyejin sudah menelpon kakakmu dan ia akan segera kesini.” Potong jongwoon menarik lagi handuk itu lalu mengusapkannya asal ke kepala kyuhyun.

 

“Sekuat apapun kucoba aku tak berhasil mendeskripsikannya, tak dapat memetik apapun dari dalam kepalaku. Apa sungguh aku tak mengenalnya? Lalu bagaimana aku bisa tau nomor bus menuju rumahnya?” Tanya kyuhyun tanpa arah yang pasti.

 

Jongwoon berdecak lalu bertolak pinggang dihadapan dua makhluk itu.

“keringkan saja tubuhmu. Hhh.. mengapa kalian berdua menanyakan hal itu padaku. Do you guys think i am that angel of memories?”

 

***

 

“HAATTCHHIII..” sosok bertubuh besar itu mengelap hidungnya yang tiba-tiba gatal.

“Sepertinya ada yang membicarakanku..” Lanjutnya kesal. Angel yang berdiri di sebelahnya lalu mencibir kearahnya.

“Tentu saja. Kau lupa dosamu segunung?… mereka yang kena mantramu pasti sedang berkumpul menggosipkanmu.” Timpalnya datar tanpa mengurangi sedikitpun kadar kesinisan yang ditimbulkannya

“Eeeiiiii hyuuung.. kau kira aku nenek sihir? Aku hanya menjalankan kewajibanku. Salah siapa mereka harus meminta hal itu.”

“Jangan lupa besok.. pergilah bersama joonyoung. Kudengar ia juga kesana.”

“Mengapa kau perhatian sekali dengan mantan client-mu ini hyung?

“Diam kau.” Bentaknya pelan lalu menghilang dari sana.

 

***

 

Sinar matahari terbit menyelinap dari sela-sela tirai kamarnya. Kyuhyun yang masih malas keluar kamar hanya menarik kembali selimutnya lalu benguling kembali diatas ranjangnya. Kepalanya masih sakit karena semalaman terus tak bisa berhenti memikirkan puzzle yang hilang dari kepalanya.

Ia merenggangkan tubuhnya malas selesai membersihkan dirinya lalu keluar dari kamarnya. Kamar tamu yang menjadi tempat pengungsiannya membuatnya harus melewati ruang baca ayahnya sebelum sampai di ruang makan. Ia menoleh menatap ayahnya yang membaca entah apa diatas singgahsana miliknya. Kyuhyun berbelok berjalan perlahan mendekatinya lalu berhenti di depan ayahnya lagi.

 

“How about stop letting your people stalk me and ask me by yourself. Dimana aku berada, apa yang kulakukan… aku tak menyangka rasa ingin tahu mu tentang keseharianku masih begitu besar.”

 

Tanpa terganggu dengan provokasi kyuhyun, ayahnya tak beralih dari buku bacaannya. “mungkin kau lupa bagaimana kau bisa selamat kemarin? Jika orang orangku tak datang padamu apa kau masih bisa berdiri dihadapanku saat ini? Dengan pulang bersama ahra kau pikir aku tak mengetahui apa yang kau sembunyikan dibelakang? Jika kau tau maka bertingkah lah yang benar. Karena ahra menghandle kerjaanmu di kantor bukan berarti selama itu kau bisa bermain seperti yang kau lakukan kemarin.”

 

Kyuhyun tersenyum kecut melihat ketenangan yang diperlihatkan ayahnya. Ini bukan yang pertama kalinya, entah berapa kali ia kucing kucingan dengan kaki tangan ayahnya dan saat ini Ia muak berkaitan dengan semuanya. “apa menurutmu aku tak bisa kabur dari mereka dengan keadaan seperti ini?”

 

“Kau sendiri tau bagaimana kau bisa mendapatkan keadaan seperti ini. Are you still not going to pull yourself together, Cho Kyuhyun?” Bentak ayahnya. Melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya lalu menatap mata anaknya galak.

 

“Abeoji. No matter how much i respect you, this is too much. Sampai kapan kau baru membiarkanku berjalan sendiri? I am an adult who have my own brain, and i wish i could use that brain to make a decision of my own life.” Kyuhyun membungkuk lalu berbalik menyingkir dari ruangan itu untuk memguindari pertengkaran yang semakin meruncing dengan ayahnya.

 

“Kau tak akan kemana mana cho kyuhyun. nanti sore kau akan ada disini karena keluarga jinna akan datang untuk menjengukmu.” Ujarnya mendikte anak lelakinya.

 

 

***

 

Lalu?”

 

“Lalu apa?” Gumam jongwoon saat mengangkat dahinya lalu menggantikannya dengan dagunya yang menempel diatas meja.

 

“Lalu mengapa kau mengurung diri disini..??” Ujarnya tak puas melihat jongwoon bermalam di ruang kerjanya dipojok cafenya sejak kemarin. Jongwoon hanya menghela napas lemah lalu menunduk mempertemukan kembali dahinya dengan top table kaca yang melapisi meja kerjanya.

 

“Aku belum memiliki ide bagaima caranya mengetahui keberadaannya, darimana aku harus memulainya.” Ujarnya putus asa menggelengkan kepalanya pasrah diatas meja.

 

“Aku ada.”

 

Satu suara wanita menyambar ditengah percakapannya dengan makhluk tak berbentuk di ruangannya, ahra yang sebelumnya melongok dari pintu menenteng selembar kertas lalu meletakkannya di depan jongwoon. Ia menegakan tubuhnya bingung melihat ahra tiba tiba datang ke tempatnya.

 

“Bagaimana kau bisa ada disini??” Tanya jongwoon.

 

Ahra hanya bergidik lalu mengeratkan kerah jaketnya mencoba menguatkan hatinya dari rasa takut yang tak terlalu berhasil dihindarinya. “Jika aku membantumu kau akan mendapat kejelasan soal kyu juga kan?” Jelasnya singkat.

 

“Kau Cho ahra kan..?? Pantas sepertinya aku mengenalmu.. Kita dulu di kelas biola yang sama apa kau tak ingat aku? Aku juniormu. Kurasa aku cukup terkenal di sana..” potong henry muncul disebelah ahra membuatnya bergeser hati-hati ke ujung meja. Ia hanya mengangguk lalu tersenyum kaku pada udara dihadapannya sambil menunjuk ke sebelah jongwoon mempersilahkan henry untuk pindah dari sebelahnya secepatnya.

 

Jongwoon menarik kertas yang tadi diletakkan ahra disana, melihat garis garis dan nama yang telah disusunnya secara skematis membentuk pohon silsilah yang terselip nama henry didalamnya.

“Mwo.. Apa yang kau tau?” Tantangnya masih tak melepas matanya dari skema buatan ahra

 

“Pertama. Kapan dia masuk rumah sakit? Lebih dahulu dari kyuhyun? 2 minggu yang lalu? Sebulan yang lalu?” Tanya ahra mencoba kembali fokus pada topik bahasannya.

 

“Mengapa kau menanyakannya? Aku bertemu dengannya sehari setelahnya dan itu berarti hanya beberapa hari yang lalu ia dirawat disana, bersamaan dengan kyuhyun sadar dari komanya.”

 

“Jika begitu… apa yang dilakukan ibumu di rumah sakit dua minggu yang lalu?”

 

“Kau bertemu dengan ibuku? Di rumah sakit? Dua minggu yang lalu? Why?” Tanya henry bingung menginat dia masih sehat sehat saja kala itu.

 

“Justru itu. Mengapa.” Ahra menunjuk skema yang dibawanya. Skema yang boleh dibilang terlalu sederhana untuk ukuran sebuah keluarga besar. Dari nama kakek henry hanya menurun satu garis yaitu eommanya seorang. Tak ada sepupu tak ada paman atau bibi baginya.

 

“Aku, maksudku ibuku.. sempat bertemu dengannya. Kurasa sekedar menjenguk saudara jauhnya ke rumah sakit bukan hal yang lumrah untuk dilakukan setiap hari kan? Apalagi untuk seorang ny. Lau. Bukankah menurutmu begitu?” Jelas ahra membagi pengetahuannya pada dua pria yang hanya diam dihadapannya.

 

“Aku tak tau apa, tapi pasti ada sesuatu disini.”

 

Jongwoon menatapnya bingung, “Tidakkah menurutmu itu terlalu berlebihan? Mungkin saja ia sangat dekat dengan saudara jauhnya itu ”

 

Henry menanggapi pernyataan jongwoon dengan menggeleng kuat. “Ibuku tak punya saudara jauh yang seperti itu.”

 

“Nah, Kau sendiri tau bagaimana beritamu koma saat ini di rahasiakan karena hal itu sangat berpengaruh pada harga saham keluargamu” lanjutnya tanpa sanggup menghinggapkan matanya selain pada jongwoon dan kertas yang sejak tadi diperhatikannya.

 

“Pertanyaannya jika itu bukan kau. Lalu siapa.” Tutup ahra mengetuk ngetuk meja dengan belakang pensil yang ditemukannya di meja kerja jongwoon.

 

Jongwoon meletakkan kertas yang masih dipegangnya lalu mengambil pensil kecilnya dari tangan ahra dan menorehkan satu garis sejajar di sebelah nama ibu henry.

 

“July Fang.” Bisik henry memberi bahan untuk ditulis jongwoon, “Her name.”

 

 

***

 

“Antarkan aku pergi.” Perintah kyuhyun pada pria berjas hitam yang tak lain adalah kaki tangan ayahnya. Pria itu hanya mematung tak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya.

 

Tanpa memperdulikannya kyuhyun membuka pintu belakang mobil itu lalu masuk kedalamnya.

“Kau akan menempel padaku lagi toh hari ini? Ayo berangkat. Apa yang kau tunggu.” Ujarnya sebelum menutup rapat mobil hitam itu.

 

 

“Tunggu disini. Aku tak bisa kemana-mana tanpa mu. kau tau kan?” Tuturnya sambil mengangkat tangannya yang memegang tongkat penyangga untuk membantunya berjalan.

 

“Apa perlu kuantar kedalam tuan muda?” Tawarnya yang menurut kyuhyun adalah salah satu usaha pencegahan pelarian target yang berusaha diterapkannya seperti apa yang diperintahkan bossnya.

 

“Ahjushi.. ini kantorku. Aku akan menemui kakak perempuanku. Apa menurutmu aku tak punya cukup kekuatan untuk sekedar berjalan menuju lift itu? Kau menghinaku?” Gertaknya.

 

“Maafkan kelancanganku, aku akan menunggumu disini.” Ujarnya sopan sambil membungkukan badannya dalam.

 

Kyuhyun menyunggingkan smirk kebanggaannya saat berbalik berjalan kedalam bangunan tinggi tersebut. “Kita lihat siapa yang menang Mr.Cho.”

 

***

 

Sambil berjalan Ahra merogoh dasar tasnya untuk mengambil ponsel yang bergetar dari dalamnya.

“Kau dimana? Mengapa tak ada di kantor?” Cecarnya saat ahra baru saja mendekatkan ponselnya ke telinga. Ia melirik jam pada pergelangan tangan kirinya lalu berdecak.

“Ini jam makan siang, Cho Kyuhyun. Aku masih butuh makan.”jawabnya kesal sambil mengekor dibelakang jongwoon.

“Dimana kau makan? mengapa tak ada disini?” Ujar kyuhyun dari speaker teleponnya

“Bagaimana kau bisa tau aku tak ada di kantor?”

Kyuhyun menarik tangannya dari dalam saku sweater lalu bertolak pinggang tak sabar.

“That’s not the point. Lalu kau dimana?” Tanyanya lagi seraya menutup pintu ruangannya yang sementara digunakan kakaknya selama menggantikan posisinya di kantor itu.

“Wae? Kau akan menyusul-ku? jangan bilang kau di kantor sekarang?”

 

“Belok didepan sana, benar?” Potong jongwoon memastikan jalan menuju ruang rawat yang dimaksud ahra. Ahra mengangguk lalu kembali berjalan mengikutinya

 

“Kau bersama siapa? Lelaki? Siapa? Jongwoon? Jongwoon lagi?” Sambar kyuhyun menangkap suara berat ditelinganya

 

“Yaaa..aku sibuk. Bagaimana caranya kau ke kantor? Aku akan ke cafe jongwoon sebelum kembali ke kantor. Kau mau menungguku disana atau bagaimana?”

 

Ahra menabrak jongwoon yang tiba-tiba berenti. Henry yang berada jauh didepannya juga sama-sama berhenti menyaksikan wanita yang dikenalnya keluar dari kamar sebelah ruang rawatnya. Ahra membungkuk lalu jongwoon mengikutinya. Wanita itu tersenyum ramah pada ahra saat menekuk sedikit lehernya lalu berlalu kedalam ruang rawat henry.

 

Jongwoon tak bergerak menatapnya sampai ia menghilang dibalik pintu lalu menoleh pada henry menatapnya berulang ulang dalam diam menunggu henry bergerak memutuskan apa yang akan dilakukannya.

 

“Wae..? Kim jongwoon.” senggol ahra membuat jongwoon tersadar dari lamunannya

 

“July fang disana, benar seperti dugaan kita.” Ujarnya pada dua insan yang ada disebelahnya. Henry melangkah hati-hati mendekati wanita misterius yang ternyata hanya ada disebelah ruang rawatnya.

 

“Bagaimana kau mengetahuinya? Kau sempat membaca pikiran ny.Lau barusan?” Bisik ahra dari sebelahnya.

 

Tepat di depan pintunya Henry melangkah mundur mengurungkan niatnya lalu segera angkat kaki dari sana. Jongwoon melonjak kaget lalu reflek berlari mengejarnya meninggalkan ahra yang tak dapat melihat apa-apa disana.

 

Sekuat tenaga Jongwoon berlari hingga berhasil mengurangi jaraknya dengan henry, ia memerentangkan tangan hendak menggapainya lalu henry menghilang begitu saja dari hadapannya. Jongwoon terguling terengah-engah di lantai lalu satu tangan terulur menawarkan bantuan untuknya berdiri.

 

“Dia sudah tidak ada disini, biarkan dia menata benteng pikirannya sendiri.” Ujarnya menggaung di sepanjang lorong kosong itu.

 

Jongwoon mendongak, menganalisa wajah makhluk dihadapannya selagi mengatur napasnya yang masih berantakan. “Kau, angel wish-nya? Kau Park jungsu?”

 

Jungsu mengangguk membenarkan terkaannya.

“Kau mencariku kan?” Ujarnya santai.

 

“Mengapa kyuhyun seperti itu?” Tanya jongwoon tanpa tedeng aling-aling setelah berhasil menguasai penuh seluruh tubuhnya untuk berdiri pada kedua kakinya lagi.

 

Jungsu melipat kakinya santai di bangku panjang yang ada disana.

“Pertama, ia tidak begitu karena terlalu lama menelantarkan last wish-nya. ia juga tak seperti itu karena terlalu lama bergaul denganmu atau sena, juga bukan karena terkena serangan sena waktu ia mengamuk saat itu,” mulainya tenang. Ia lalu membenarkan letak punggungnya untuk duduk tegak menatap jongwoon dihadapannya

 

“Kyuhyun memilihnya sendiri.

 

Kau tau, last wish kyuhyun adalah mencari keberanian untuk mengubah hidupnya. Seperti sena yang mendapat hadiah karena menolong kyuhyun, ia juga mendapat kesempatan yang sama karena menolong sena. Lalu semuanya mulai menyimpang disini. Priviledge yang didapatkannya, digunakan untuk melupakan satu orang itu. Sepupumu, Kim hyejin.”

 

Jungsu berhenti sejenak setelah merangkum cerita kyuhyun, memeriksa wajah jongwoon yang memiliki ekspresi yang sama dengannya saat itu.

 

“Why..? aku terus bertanya hal yang sama denganmu.” Ujarnya mengerti apa yang ada dalam kepala jongwoon.

 

“Aku tak tau sampai dimana kau akan mencoba untuk mengerti maksudnya, tapi Aku mendapat saran yang mungkin juga akan berguna bagimu. Cobalah melihat dari atas sepatunya, dari sudut pandangnya. Mengapa ia melakukan hal itu mengapa ia berusaha melupakan wanita itu. Gali lah lebih dalam karena yang aku lihat cho kyuhyun sama sekali tak menginginkannya.”

 

***

 

“Ya.. Jung joonyoung. Kapan kau akan berangkat?”

Angel kurus itu hanya menguap tanpa beranjak satu inch pun dari awan hitam tempatnya beristirahat. Ia mengusap matanya beberapa kali lalu melirik jam tangan di tangan kanannya sebelum berbalik memunggungi Shindong.

“Kurang lebih 10 menit lagi? Aku tak perlu jalan sekarang jika tak ingin jadi nyamuk karena datang sebelum waktunya.”

Shindong lalu melompat keatas awan yang ditumpanginya membuat hampir separuh awan besar itu buyar karena efek samping yang diciptakan angel berbadan gempal itu.

“kita pergi bersama. aku juga ada perlu disana.”

“Untuk apa kau kesana hyung?” Ujarnya tertarik menatap shindong saat melipat kedua tangannya dibalik kepalanya. Shindong tidur menyamping lalu menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya untuk berbincang dengan angel yang begitu jatuh cinta dengan aliran musik yang disebut manusia sebagai music rock.

“Orang yang bersamanya akan membutuhkan sedikit sulapku.”

 

***

 

“Ke tempat biasa tuan?” Sapanya ramah saat kyuhyun berhasil masuk kedalam taksi setelah bersusah payah turun diam-diam melalui lift darurat menuju loading dock di belakang kantornya. Kyuhyun bahkan belum selesai membenarkan posisi duduknya saat pengemudi taksi yang didapatkannya dari nomer pada catatan kecil di sebelah telepon kantor nya menawarkan tujuan itu.

 

Tempat biasa.

 

“Itu.. aku memiliki tempat seperti itu?” Tanyanya penuh tanda tanya, “Ehrm.. maksudku.. iya.. kesana.” ralatnya kemudian

 

Kyuhyun menelan air liurnya gugup, lalu mencengkram seat belt yang menguncinya di bangku itu. Ia mengurungkan niat awalnya kabur bersama ahra untuk menuju tempat misterius itu seperti yang diteriakkan hatinya. Banyak prediksi skenario yang lewat dalam kepalanya saat menyusuri pohon dan lampu jalan yang tak berpendar menghiasi sepanjang perjalanannya.

 

“Tempat biasa? Tak mungkin…” ia menggeleng saat mengusir semua karangan bebas yang tak kuasa diciptakan pikirannya. Taksi tumpangannya lalu berhenti. Disebelah pohon pinus yang berdiri kokoh menyendiri dari beberapa pohon lain di jalanan itu. Kyuhyun turun tanpa tongkat yang ditinggalkannya diatas meja kerja di kantornya. Ia berjalan melalui paving warna warni yang berujung pada satu restoran sederhana yang terlihat begitu sibuk melayani pelanggan yang memenuhi setiap bangku yang disediakannya.

 

“Jika aku benar-benar melihatmu disini. Jika bukan mataku yang salah berarti dunia yang sudah gila. Pasti salah satu diantara dua kondisi itu.”

 

Kyuhyun membeku, tak bergerak satu langkah pun layaknya tertancap dua buah paku pada masing masing sepatunya. Entah ia atau dunia yang sudah benar – benar gila tapi kyuhyun sungguh melihatnya disana membawa nampan berisi makan siangnya lalu duduk sendirian disamping jendela. Kyuhyun berulang kali mengedipkan kelopak matanya memastikan penglihatannya tak meleset.

 

Mungkin karena siang itu begitu cerah, sinar matahari yang memantul dari kulitnya membuatnya bersinar berpuluh puluh kali lipat dari terakhir kali kyuhyun menemuinya. Kyuhyun berusaha sekuat tenaga menjaga oksigen tetap keluar masuk paru parunya saat seluruh saraf di tubuhnya rasanya menolak untuk bekerja sama dengannya. Dengan gesit ia pergi ke counter makanan untuk memesan apa saja yang dilihatnya lalu mendekat padanya.

 

“Hi.” Kyuhyun menyapanya sambil membawa nampan dengan isi makanan yang persis sama dengan miliknya lalu meletakan dihadapannya. Hyejin kaget bukan main melihat kyuhyun kembali nyata dihadapannya, menarik bangku lalu mendudukinya saat menggigit tissue diantara kedua bibirnya. Matanya menelusuri seluruh tubuh kyuhyun, memeriksa keadaannya yang terakhir membuatnya cemas setengah mati.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya hyejin lagi lagi tak mengerti apa yang diatur penulis naskah kehidupannya dengan mempertemukannya lagi dengan manusia yang tak boleh dirindukannya.

 

Kyuhyun mengangkat tangannya menunjuk piring piring dihadapan mereka yang masih berisi penuh,

“Makan..?” Jawabnya polos sambil menyendok nasi dari mangkuknya dengan wajah bingung mengapa hyejin perlu bertanya hal yang begitu obvious.

 

“Aku tau itu… maksudku, mengapa..bagaimana kau bisa makan disini?”

 

Kyuhyun mengambil sumpit stainless yang ada dihadapannya, mengetuk meja dengan ujungnya lalu mengambil selembar kimchi dan meletakkannya diatas mangkuk nasinya.

“Tak bisakah kita hanya makan siang bersama?” Ujarnya sambil melahap daging dari paket makan siangnya, “Aku memutuskan untuk tak memikirkannya. Alasan apapun itu. Aku tak ingin rasa sakit itu menguasaiku lagi. Terlebih saat aku bersamamu.”

 

Hyejin masih diam, memperhatikan pria dihadapannya masih menyingkirkan bawang bombay dari paket bento yang dipesannya. Kyuhyun menyomot daging yang berhasil dipilahnya lalu memakan nasinya dengan lahap sambil menunggu hyejin memulai makan siangnya.

 

Hyejin membalas tatapan kyuhyun dengan tersenyum membuat kyuhyun lagi lagi kesusahan memaksa kerongkongannya bergerak menelan makanan yang sudah ada di mulutnya, memaksa jantungnya tetap memompa darah agar ia setidaknya bisa melalui makan siang ini dengan selamat. Kyuhyun tak berhenti meneliti garis garis wajah wanita dihadapannya disela mengunyah makanan untuk masuk dalam sistem pencernaannya. Tak bisa berhenti merindukannya yang sesungguhnya sudah berada didekatnya.

 

“Apa kau tak seperti ini?” Ceteluknya lolos dari bibirnya. Hyejin menyatukan kedua alisnya lalu kyuhyun buru buru mengoreksi kalimatnya. “Jika waktu makan siangmu masih tersisa, Aku akan ke cafe kakak sepupumu sehabis ini, bisakah kau mengantarkanku kesana?”

 

“Jongwoon oppa?”

 

***

 

Dia memintanya walaupun tak menginginkannya? Apa maksudnya?

 

Jongwoon menginjak pedal rem dengan kakinya lalu membuka pintu mempersilahkan penumpang di sebelahnya untuk turun karena mereka telah sampai pada tujuan mereka.

 

“Kau pikir hanya kau yang punya banyak urusan di dunia ini?” Gerutu ahra saat turun dari mobil jongwoon lalu segera berjalan menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana.

 

Jongwoon turun perlahan lalu mengunci mobilnya, masih bertahan dalam diam berjalan kembali ke cafe miliknya. Ia menghembuskan napas pasrah saat melihat henry masih berani menyapanya dengan senyum sumringah setelah kejadian yang baru saja terjadi. Ia membuka pintu kaca cafe nya lalu masuk tanpa menghiraukan keberadaan henry.

 

Henry melongok menjulurkan lehernya agar dapat melihat jarak pandang yang lebih luas.

“Dimana ahra?”

 

***

 

Kyuhyun masih tersenyum diam diam saat melangkah seirama dengan wanita disebelahnya. Beruntung kakinya jauh lebih baik dari kemarin atau mungkih hyejin yang memperlambat kecepatan langkahnya sehingga kyuhyun dapat mengimbanginya dengan baik.

 

Jika ini mimpi kyuhyun hanya berharap ia dapat bermimpi lebih lama, bersamanya lebih lama, merasakan kenyamanan ini lebih lama. Apakah mungkin orang ini tidak dikenalnya, ia menggeleng menjawab pikirannya sendiri.

 

Tanpa mereka sadari papan putih yang menandakan cafe milik jongwoon sudah terlihat dari ujung jalan. Henry melambai lambai didepan pintu cafe selayaknya kyuhyun dapat melihatnya. Bukan mendekat kyuhyun justru berhenti melangkah. Ia menarik tangan hyejin berlari menjauhi cafe jongwoon karena orang-orang suruhan ayahnya telah menunggu disekitarnya. Dari udaranya saja ia tau itu pertanda buruk.

 

Kyuhyun mengibaskan kepalanya berusaha menghalau kelebatan ingatan yang kembali menyapa kepalanya saat berlari bersama wanita ini. Sambil tetap menggenggam tangan hyejin Ia menoleh kebelakang, melihat bodyguard itu hampir mendekat mengejarnya yang tak sanggup lagi berlari. Ia menoleh kesamping melihat hyejin yang juga penuh peluh dengan kaki yang lecet karena berlari menggunakan heelsnya.

 

Pikirannya kembali berantakan. Kyuhyun limbung tak sanggup lagi berlari dengan sakit di kepalanya yang juga bertarung menguasai kesadarannya. Ia mencengkram rambutnya sendiri saat berusaha menghalau rasa sakit yang kembali menerornya. Bodyguard berpakaian hitam itu berhasil menangkapnya, kyuhyun hanya bisa berteriak frustasi saat menyadari tangan hyejin sudah tak ada lagi dalam genggamannya.

 

“Cho kyuhyun tenanglah.” Hyejin menangis melihat keadaan kyuhyun berusaha mendekat merespon kyuhyun yang mengulurkan tangan tak ingin lepas darinya. Hyejin berusaha melepaskan tangan bodyguard yang melingkar di perut kyuhyun untuk menahannya meronta, lalu satu hentakan membuyarkan segalanya. Tubuh kecil hyejin melayang ke udara membentur tiang listrik yang berdiri persis dibelakangnya.

 

“APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI!” Bentak ahra saat sampai disana.

 

Kyuhyun membeku menatap nanar pada tubuh hyejin yang jatuh tak berdaya lalu ia juga terjatuh ditempatnya tak sanggup lagi memenangkan kesadarannya diatas rasa sakit yang merajai pikirannya.

 

“Aku pernah melihatnya. aku melihat hal yang sama terjadi padaku.” Bisik henry mematung ditempatnya.

 

 

 

***TBC***

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: