Spotless Mind [4/5]

lw3-3_20150131111033993

Author: Metaz05

Title: LAST WISH [-3rd Story] Spotless Mind (4/5)

Cast: Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Henry Lau, Park Jungsu, Kim Youngwoon

Genre: Fantasy, AU

Rating: G

Length: chapter

Author’s note : I’m sorry for making this sooo confusing.. thanks for reading…

~Last chapter~

Ahra and Jongwoon joined forces to help henry solve the riddle, but henry took a step back and disappeared when the answer was right in front of them. Kyuhyun colaps and now hyejin had to join the mess by being hurt over. How will jongwoon react as he knows kyuhyun himself asking to erased his memories…

***LAST WISH***

[3rd Story]

_Spotless Mind (4th Part)_

***

As love is sometimes hurtful. Is hurting can be considered as loving? Because i can’t deny I feel yours while you do only hurting me.- Henry Lau

 

***

 

 

Henry yang berdiri didepan pintu kembali melambaikan tangannya penuh semangat setelah melihat kyuhyun dan hyejin berjalan ke arah mereka.

“Hyung. kyuhyun kemari..” ujarnya memberi informasi yang sama sekali tak ditanggapi jongwoon. Dari jauh henry melihat Kyuhyun memperlambat langkahnya, berhenti selama beberapa detik lalu berbalik mengambil langkah seribu sambil menggenggam tangan hyejin untuk menjauh dari sana.

 

Henry berteriak memanggil jongwoon yang semakin menjauh darinya,

“berhenti dulu marah padaku. Hyung, kurasa ada yang tidak beres.”

 

Setelah menyelesaikan kalimatnya henry menghilang dan muncul disebelah kyuhyun. Ia ikut berlari disamping keduanya sambil melihat arah yang dihindari kyuhyun. Beberapa komplotan pria berbaju serba hitam berkeliaran di sekitar cafe jongwoon lalu mulai berlari kearah yang sama dengan kyuhyun dan hyejin, mengejar keduanya.

 

Kyuhyun berbelok pada satu gang melangkah secepat yang ia bisa masih dengan menggenggam tangan hyejin. Kepalanya mulai berputar sementara para bodyguard itu semakin mendekat sukses mengambil keuntungan dari keadaan kyuhyun yang belum sepenuhnya pulih. Kyuhyun terseok. Henry hanya melihatnya simpatik, ia tau itu pasti terjadi.

 

Kaki kyuhyun tak mampu membawanya lebih jauh dari pada itu, pria berbadan besar itu lalu mencengkram tangan kyuhyun yang sudah tak bertenaga dan memisahkannya dari hyejin. Wajah kyuhyun tampak memucat. Henry tak perlu menerka alasannya karena Angel yang dikenalnya bernama shindong ada disana mengirimkan cahaya pada kepala kyuhyun.

 

Henry menoleh lagi kebelakang, sedikit tenang melihat jongwoon berhasil mengikutinya sampai kesana. Kyuhyun kembali meronta dalam kungkungan kaki tangan ayahnya yang takut ia melarikan diri lagi. Ia berteriak putus asa menahan sakit yang sepertinya hampir membunuhnya. Hyejin yang tak tahan melihat keadaan kyuhyun lalu kembali menghambur padanya berusaha melepaskan tangan besar yang mengunci tangan kyuhyun. Lalu semuanya terjadi dengan begitu cepat.

 

Henry hanya memalingkan wajahnya tak sanggup menyaksikan hyejin melayang menuju tiang besi yang berdiri kokoh beberapa meter dibelakangnya

 

Satu angel lagi muncul pada detik detik terakhir untuk mengubah sedikit posisi tubuh hyejin, memutarnya beberapa derajat agar tidak menghantam tiang keras itu dispot yang berbahaya. Henry kembali melirik membuka matanya perlahan, melihat hyejin telah terkapar lemas tepat dibawah tiang itu. Ia hendak melangkah mendekat tapi diurungkannya saat melihat ekspresi di wajah hyejin. Henry terpaku melihat hyejin yang masih berusaha mendekat pada kyuhyun walau setiap pergerakannya membuat air mata menetes dari pelupuk matanya. Tanpa ia sadari dirinya mundur beberapa langkah saat menyaksikan bagaimana hyejin masih menatap kyuhyun dengan cemas diatas segala keadaan yang terjadi padanya.

 

“Aku pernah melihatnya. aku melihat hal yang sama terjadi padaku.” Bisik henry mematung ditempatnya.

 

 

“APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI!” Bentak ahra saat sampai disana. Ia berlari untuk memeriksa keadaan kyuhyun sementara Jongwoon yang lebih dulu sampai disana telah menarik kerah pria yang mendorong hyejin lalu menghajarnya kalab. Anak buah ayahnya yang lain hanya berdiri tegap dan membungkuk saat menyadari keberadaan ahra disana.

 

“Beraninya kau…. melukai… adik ku..” desisnya disetiap pukulan yang dihadiahkannya.

 

“Kim jongwoon kumohon hentikan.” ujar ahra setelah menginstruksikan suruhan ayahnya untuk membawa kyuhyun ke mobilnya

 

“Oppa..” panggil hyejin sekuat tenaganya yang masih tersisa walau jongwoon tak lagi bisa mendengarnya. Ahra hendak berlari menghampiri hyejin lalu ia menghembuskan napasnya kesal lalu berbalik menangkap pergelangan tangan jongwoon yang sepertinya tak berniat menyudahi baku hantamnya.

 

“Demi Tuhan KIM JONGWOON! adikmu membutuhkan pertolonganmu sekarang!” Bentak ahra frustasi. Jongwoon menghentikan pukulannya menghentikan segala pergerakan jiwa dan raganya lalu melirik kearah hyejin yang samar dilihatnya dari sudut matanya.

 

Ahra melepaskan genggamannya, berlari menuju hyejin lalu memapahnya yang terlihat kesakitan setiap bergerak sementara jongwoon bungkam tak berani melihat keadaan hyejin selagi belum selesai mengatur emosinya. Ahra membawanya mendekat ke mobilnya lalu membantunya naik kedalamnya sementara Jongwoon merambet kunci mobil yang dipegang ahra lalu naik ke bangku pengemudi mempersiapkan mobil ahra agar bisa mengangkut kedua pasien itu secepatnya.

 

“Tahanlah sebentar lagi hyejin-ah” ujar ahra. hyejin mengangguk lalu membalas tatapan jongwoon lewat kaca spion tengah mobilnya.

 

“Oppa..Jangan lakukan apapun.” Bisiknya dalam hati. Ia tau jongwoon mampu mendengarnya.

 

 

***

 

“She broke two ribs” ujar junyoung menjawab wajah penuh pertanyaan saat ia kembali ke studio musik langganannya dibasement restoran seafood yang terletak di pojok itaewon

“Aaau.. pasti menyakitkan.” Ujarnya merenyit seakan merasakan rasa sakit itu dipunggungnya.

“Lalu kyuhyunie?” Ujar junyoung berbalik tanya sambil menanggalkan beberapa belt dari baju dinasnya.

“Kyuhyunie…mwo..?” Jawabnya santai mengunyah corndog ditangannya.

“Melihat kelakuanmu sepertinya kau sudah bebas dari tugas tugasmu?”

“Ada berapa banyak manusia di dunia ini.. hanya masalah kyuhyun kah yang kukerjakan?” Jawabnya mengutak ngatik tombol pada amplifier yang ada di hadapannya.

Joonyoung menepuk tangan jahilnya lalu menyambungkan kabel ke kotak yang sama sebelum memetik gitar merahnya mengalunkan melodi yang memenuhi ruangan kecil itu.

 

 

***

 

Jongwoon berjalan dengan cepat mengejar Hyejin yang katanya dipindahkan dari kamar rawat kelas satu yang dipesanya menuju kamar kelas vip yang berada satu lantai diatasnya. Entah atas permintaan siapa para suster itu telah memindahkannya saat jongwoon sibuk mengurus administrasi di lantai bawah. Lift dihadapannya terbuka menampakkan satu pria paruh baya dan wanita muda yang dalam pikirannya tak begitu menyukai ide datang kesini dengan tumpangannya.

 

Jongwoon masuk dan berdiri menghadap tombol lift lalu tak melakukan apapun karena angka yang ingin ditujunya telah menyala terang. Ia mendongak menunggu angka digital diatas kepalanya berganti menandakan ia telah sampai pada lantai yang ditujunya. Jongwoon menekan tombol yang membuat pintu lift kembali terbuka, sepasang sepatu hitam menyambutnya disana. Ahra yang telah berdiri didepannya meliriknya sejenak lalu membungkuk sopan pada kedua manusia dibelakangnya.

 

Wanita muda itu melompat turun dari lift lalu menggandeng ahra untuk berjalan lebih dulu ke kamar kyuhyun sementara pria paruh baya itu berjalan dengan sedikit tergesa dibelakangnya. Jongwoon tak pernah mengenal mereka, tapi ia dapat mengira-ngira identitas pria yang terlihat begitu dihormati ahra. Jongwoon tersenyum kecut saat melihatnya masih berusaha terlihat tenang padahal pikirannya sudah terombang ambing mengkhawatirkan anak lelaki satu satunya yang kembali berakhir di rumah sakit.

 

 

“Kyuhyun abeoji..” panggilnya sopan membuat pria itu berbalik menyadari keberadaan jongwoon dibelakangnya. Jongwoon menatap matanya lurus tak gentar dengan karisma yang biasa membuat orang merasa kecil dihadapannya.

 

“Apa kau begitu mengawatirkan kyuhyun?”

 

Air wajah cho younghwan sedikit mengeras walau segala usaha yang dilakukannya untuk tak menampakkan keterkejutannya melihat siapa yang menyapanya.

 

“Aku menyanyangkan kecelakaan yang telah menimpa adikmu. Kudengar kau yang membantu kyuhyun saat dia colaps kemarin, aku telah memindahkan hyejin untuk mendapatkan perawatan terbaik hingga dia sembuh. Kuharap kejadian seperti ini tak akan terjadi lagi.” Ujar cho younghwan dingin.

 

“Apa kau masih beranggapan semua kejadian yang menimpa kyuhyun berawal dari adikku?” Tuturnya menyuarakan pikiran yang ada dalam kepala ayah kyuhyun.

 

“Jika saja kau tau, satu satunya alasan mengapa aku hanya menyampaikan kalimatku tanpa merusak apapun disini adalah karena anak itu terus memohon padaku sampai detik pintu ruang operasi tertutup. KAU. Apa yang sudah kau tuduhkan pada anak sebaik itu.” Jongwoon mengepalkan tangannya kuat kuat berusaha mengalihkan darahnya agar tidak naik ke kepalanya.

 

“jika anakmu kyuhyun adalah hartamu, jika ia permatamu, maka setiap orang diluar sana juga sama persis sama denganmu. Hyejin juga harta milik orang lain, Ia juga permata bagi orang tuanya. Dia hidupku.” Tutur jongwoon.

 

“Terima kasih banyak atas kebaikanmu, aku akan mempergunakan fasilitas ini dengan sangaat baik.” Lanjutnya sambil membungkuk lalu meninggalkan ayah kyuhyun.

 

 

***

 

“Why did it sound like an excuse to me?” Tutur henry penuh emosi dalam setiap kata yang diucapkannya.

“Yes it was an excuse…” jawab wanita itu lemah sambil mengelus pipi pria dihadapannya dengan berurai air mata.

 

Henry menggeleng mencoba menghalau potongan potongan peristiwa yang terus berulang sejak melihat kejadian tadi. Dengan begitu nyata wanita itu terjatuh dihadapannya, menatapnya sama persis seperti hyejin menatap kyuhyun dan henry hanya bisa diam tak bergerak di tempatnya berdiri.

 

 

 

“Mengapa aku berdebat dengannya, mengapa aku tak menolongnya? And what were we talking about?”

 

 

Henry lalu bangkit untuk berjalan mendekat, memperhatikan wajah hyejin yang baru bisa terlelap setelah meminum obat penahan rasa sakit yang diberikan perawat padanya. Jongwoon baru saja keluar mencari udara segar untuk kepalanya yang tak cukup puas terkurung diruangan vip yang masih terasa sempit baginya. Ditelusurinya wajah yang sempat membuka ingatannya berharap sesuatu akan mencul lagi seperti tadi, lalu pintu ruangan hyejin kembali bergeser membuat henry mel0easkan konsentrasinya lagi.

 

“Secepat ini kau kembali… hyu..ng?” ujarnya tersendat karena hendak menarik kembali sapaannya. Bukan jongwoon seperti yang diperkirakannya, wajah kyuhyun yang muncul dari balik pintu mendorong dorong tiang infus yang terhubung dengan tangannya lalu duduk ditempat yang dikosongkan jongwoon belum lama tadi. Dengan hati-hati ia mengamit tangan hyejin lalu membungkusnya erat sambil menatap wajah polosnya.

 

 

“Mianhae.. jongmal mianhae…” bisik kyuhyun yang terlihat sama pucatnya dengan pasien yang dijenguknya.

 

 

Lebih dari 15 menit ia masih berada dalam posisi yang sama, menatap hyejin tanpa berkedip dengan ekspresi serupa tanpa melakukan hal lain di tempat itu. Henry yang terus berdiri memperhatikannya dari sebelah ranjang hyejin lalu menekuk dahinya bingung.

 

 

“Kau.. sudah mengingat semuanya kan…”

 

 

“….Cho kyuhyun?” Ujarnya membiarkan kyuhyun mendengar suaranya menggema di ruangan itu. Kyuhyun reflek menoleh kesekelilingnya berusaha mencari darimana suara itu bersumber, lalu ia berhenti saat tak menemukan siapapun diruangan itu. Ia menghembuskan napasnya setelah menerka apa yang terjadi disana lalu mengacuhkanya dan kembali membawa matanya menatap wanita yang terlelap dihadapannya.

 

 

“Apakah sakit? Tidak, mungkin aku tak akan merasakan sakit itu, tapi.. bagaimana? Did you have..like..strange feeling or something? How? How it feels like?” Tanya henry penasaran mencoba membuat kyuhyun menggambarkan masa depan yang mungkin akan dirasakannya nanti.

 

Kyuhyun tak terlalu perduli suara henry yang mengusik telinganya. Ia masih berkonsentrasi penuh meneliti setiap pergerakan yang mungkin dilakukan hyejin karena rasa sakit yang dirasakannya.

 

 

“YAA, Cho Kyuhyun!!!” Panggilnya tak sabar melihat kyuhyun tak sedikitpun berniat menyahut pertanyaan yang diajukannya.

 

Kyuhyun akhirnya mendecak membuka mulutnya, “kau sampai menggunakan kekuatanmu hanya untuk mengoleksi testimonial-ku?” Jawabnya tanpa repot-repot menoleh dari hyejin

 

“..sayangnya Aku tidak tau.” Ujar kyuhyun cuek masih tak melepas tangan hyejin dari tangannya.

 

“Aku sungguh tidak tau.” ulangnya pelan memperjelas kata katanya untuk henry sambil mengeratkan genggamannya di tangan hyejin. Henry yang tak puas dengan jawaban kyuhyun lalu berpindah menampakkan dirinya didepan kyuhyun.

 

“Apa yang kau bicarakan. Kau jelas jelas telah mengingat semuanya. Kau mengenalnya karena itu kau ada disini sekarang.” Bantah henry menghalangi pandangan kyuhyun untuk hyejin.

 

Kyuhyun sedikit mendongak membalas tatapan aneh yang diberikan henry padanya tanpa banyak ekspresi.

 

“Dibanding mencerna rasa sakit yang tiba tiba ku rasakan, dibanding memperlajari fakta yang tiba tiba ku ingat, pertanyaan tentang keputusanku kala itu kembali mengapung kepermukaan. saat itu…bahkan sampai detik ini aku tidak tau, apa sebaiknya aku mengingat wanita ini atau tidak.”

 

Henry menyimak baik baik setiap kalimat yang diucapkan kyuhyun selanjutnya.

 

 

***

 

“apa yang kau lakukan disini?” Ujar jongwoon lagi lagi berpapasan dengan ahra di koridor.

“Kyuhyun tidak ada di ruangannya. Aku hanya berpikir mungkin ia ada di ruangan hyejin. Karena itu aku…”

 

“Baiklah, ayo kesana bersamaku.” Potong jongwoon sambil memposisikan dirinya berjalan disebelah ahra. Melihat ekspresinya yang maju mundur jongwoon tau ada beberapa hal yang mengusik ahra walau ia tak dapat melirik kedalam kepalanya.

 

“Tadi… Apa yang kau bicarakan dengan ayahku? Maksudku, mungkin kau sudah mengetahuinya lewat kemampuanmu.. Ayahku memberikan hospitality yang bagus pada hyejin untuk menjaga namanya dari rumor yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Itu seperti…kebiasaan yang dilakukan…”

 

“…mereka” sambung ahra menyebut ‘kalangan atas’-nya dengan kata ganti yang lebih ramah untuk jongwoon.

 

Jongwoon mengangguk. “Karena itu aku tak menolaknya.. toh hyejin juga mendapatkan perawatan yang lebih baik dari yang mampu kuberikan.”

 

“Maksudku bukan seperti itu..” bantah ahra takut jongwoon berpikir ia meremahkannya atau apa.

 

“Aku mengerti maksudmu.” Ujar jongwoon tenang menepuk pundak ahra pelan.

 

***

 

“Kau tak apa? Tak terluka dimanapun kyuhyun-ssi?” Tutur hyejin meneliti keadaan kyuhyun dari atas sampai ke bawah saat menemukannya berdiri disamping dipan tempatnya berbaring.

 

“Te-terima kasih.” Ujarnya canggung tak sempat menyembunyikan kehadirannya. Lalu kesunyian kembali merebak diantara mereka.

 

“Kepalamu tak terluka?” Ujar hyejin lagi.

 

“Ne?”

 

“Saat itu kau terus memegang kepalamu erat-erat. Apakah sangat sakit?”

 

Kyuhyun terdiam tak bisa menggambarkan perasaannya yang makin campur aduk. Ia menelan air liurnya lalu melangkah maju membuat hyejin kembali memperhatikannya. Kyuhyun menggeleng perlahan lalu memulai kalimatnya.

 

“Selanjutnya… kau tak perlu mengkhawatirkanku lagi karena aku akan baik baik saja. Ayahku akan menanggung semua biaya rumah sakitmu. Kau tak perlu khawatir, aku akan memastikan kau mendapatkan penanganan terbaik disini. Cepatlah sembuh.”

 

Kyuhyun menghembuskan napasnya lagi sebelum melanjutkan kalimatnya tanpa sanggup melihat ke dalam manik mata hyejin. “If you’re hurting, just don’t mind me. You must be healthy first. Therefore, it seems like i have to make a distance with you.”

 

“Akan kupastikan keadaan seperti ini tak akan pernah terjadi lagi…”

 

 

 

 

 

“Bagaimana caramu mewujudkannya?”

 

 

 

 

 

“Dengan membuangnya?” Desis jongwoon menyambarnya dari depan pintu. Jongwoon dan ahra nampaknya sudah cukup lama berdiri disana untuk mendengar seluruh perkataan kyuhyun barusan.

 

“Jongwoon hyung?” Bisik henry menggantikan kyuhyun yang hanya bungkam seribu bahasa di tempatnya berdiri.

 

“Oppa.” Tutur hyejin berharap jongwoon tak kembali emosi melihatnya telah tergopoh gopoh mendekati kyuhyun.

 

“Aku sungguh tak ingin mencampuri urusan kalian berdua tapi sepertinya kau memanggilku untuk terlibat didalamnya cho kyuhyun. Aku bahkan belum selesai memahami keputusan mu untuk melupakannya, lalu sekarang kau mengulang keputusan yang sama? Bahkan saat hyejin sudah seperti ini? KAU SUNGGUH AKAN TETAP BEGINI CHO KYUHYUN?” Bentak jongwoon sambil mencengkram kerah seragam pasien yang dikenakannya.

 

“Kim jongwoon apa yang hendak kau lakukan disini!” Ujar ahra berusaha melepaskan kyuhyun dari cengkraman jongwoon. Kyuhyun hanya menunduk tak mengelak ataupun menghindar dari tudingan jongwoon padanya.

 

“Oppa hentikan..” ujar hyejin tanpa bisa bergerak dari tempatnya.

 

“Kau belum lupa aku dapat membaca isi pikiranmu sekarang, kan?” Tuturnya sinis sambil mengepalkan tangannya erat erat. “Lihat aku cho kyuhyun.” Desisnya lagi.

 

Ahra menendang tulang kering jongwoon sampai ia kehilangan keseimbangan lalu melepas cengkramannya di baju kyuhyun. “Kau kembali ke kamarmu, dan kau bicaralah denganku.” Tunjuknya pada jongwoon tak ingin percekcokan ini berakhir makin runyam. “Tidak disini, ini ruang rawat pasien bukan ring tinju untukmu.” Himbaunya tegas.

 

***

 

“Shindong-ah kaja!” Panggil jungsu dari microphone di monitoring-room

“Secepat ini hyung? Aku baru saja pulang…” rengeknya tak ingin lepas dari beancouch yang hampir rata dengan lantai karena berat badannya.

“Shindong-ah kaja!” Ulangnya masih tetap memamerkan lesung pipi di sudut bibirnya saat menggertakkan giginya berusaha untuk bersabar menunggu angel gemuk itu bergerak.

“Hyung. Bawa dia pergi, please. Rekamanku tak akan pernah rampung jika dia tak henti hentinya mengunyah disini.”

Jungsu mengangguk angguk sudah mengerti sambil melambaikan tangannya mengulang panggilannya lagi “Sindong-ah…”

 

***

 

“Kim jongwoon..” ujar ahra bingung memulai kalimatnya dari mana melihat jongwoon sepertinya tak sedikitpun berniat untuk berbincang dengannya.

 

Tanpa menatap wajahnya, jongwoon hanya melihat jauh kedepan pada atap-atap rumah yang terlihat dari lantai rooftop rumah sakit tempat mereka berdua berdiri.

 

“Hyung.. ada salah paham disini.” Ujar henry berusaha membujuknya walau hanya bisa berdiri jauh dipojok pintu karena ketinggian yang menyapanya dan wajah jongwoon yang berkali kali lipat lebih angker dari biasanya.

 

 

“Mengapa hyejin-ku…” bisiknya pelan.

 

 

“Dari sekian banyak manusia di dunia ini kenapa harus hyejin-ku. silahkan lakukan itu pada orang lain. Mengapa harus adikku? Mengapa harus hyeiin yang terluka. Mengapa harus hyejin yang dilupakan. Apa semudah itu membuang seseorang dalam dunia kalian?”

 

“Apa yang kau bicarakan kim jongwoon..” ujar ahra merasakan aura yang kurang baik

 

“Berkali-kali aku meyakinkan diriku. Tak semua kalanganmu berperilaku serupa. Setidaknya aku mengenal kyuhyun. Kyuhyun tak akan sama seperti yang lain.” ujarnya melirik ke arah henry

 

“Semudah itukah mengubah seseorang menjadi orang asing bagi kalian? Sena, henry, lalu hyejin-ku sekarang? Apa dengan menjadi orang asing lalu masalah selesai bagi kalian?” Ujarnya menoleh pada ahra saat menagih jawaban dari setiap tudingannya.

 

“Aku mengapa?” Bisik henry bingung dengan pernyataan jongwoon.

 

“Hal itu mengapa kau menanyakannya padaku?” Jawab ahra lugas “apa aku terlihat memiliki jawaban untuk membela mereka?”

 

“Bukankah kau menghirup udara yang sama? Bukankah kau memakan makanan yang sama kualitasnya dengan mereka? Jika aku menghabiskan uang yang sama banyaknya dengan kalian, apa aku akan mengerti, saat itu?”

 

“Mwo?” Ujar ahra kehabisan kata kata

 

“Sampai Cho kyuhyun juga. Apa manusia tak terlihat seperti manusia lagi saat kalian berada di dunia itu?”

 

“Jaga perkataanmu Kim Jongwoon.”

 

 

Henry terdiam melihat scene yang terasa begitu familiar menusuk dadanya dalam.

 

 

“Haruskah adikmu juga? Haruskah cho kyuhyun juga mengasingkan hyejin? Kesalahan apa yang hyejin lakukan padanya, pada kalian…? Aku tak perduli apa yang kalian miliki disini sampai manusia juga terlihat seperti barang bagi kalian, tapi tidak hyejin-ku.” Timpal jongwoon yang emosinya terakumulasi akibat semua kejadian yang menumpuk dalam kepalanya.

 

“Jika kyuhyun telah mengingat hyejin dan bertingkah seperti belum mengingat apapun. Ia pasti punya alasan yang kuat dibalik itu semua. Mengapa kau selalu seperti ini. Mengapa kau selalu menghakimi orang saat kau tak mengetahui keseluruhan masalahnya.”

 

“Kenyataannya aku mengetahui semuanya, Cho ahra. Aku mendengar se-ga-la-nya.” Ujar jongwoon mengguncang pundak ahra keras sambil melirik kasihan pada henry.

 

Ahra diam sejenak memandangnya, “Kau memulainya lagi….that ability? Kau mau menyombongkannya lagi dihadapanku?” Ahra menarik napasnya tenang, lalu mencibir ke arah jongwoon.

“Aku tak mengerti apa yang begitu berbeda dari kita hingga membuatmu begitu tinggi untuk menghakimi kami seperti itu. Aku makan nasi seperti dirimu aku minum air seperti dirimu. Aku tak akan membela orang lain, tapi cho kyuhyun tak mungkin menyakiti hyejin. Kalaupun iya aku yang akan lebih dulu membunuhnya.”

 

Jongwoon masih berpegangan pada pundak ahra yang dengan tak gentar membalas tatapan intimidasi yang dikeluarkan jongwoon “Kenyataannya itu yang dilakukannya sekarang cho ahra!” Tuturnya hampir mengeja kata per kata sambil berusaha sebisa mungkin menahan emosinya untuk tidak terpancing membentak wanita dihadapannya ini.

 

“Hentikan, hyung…”

 

Jongwoon menoleh, melihat Henry dengan mata merahnya mencari pegangan dari tembok disebelahnya untuk membantunya yang mulai kesulitan menjaga keseimbangan di kakinya. Perulangan itu terjadi, Henry mengingat dengan jelas bagaimana ia saat itu juga berdiri dipojok balkon melihat kedua wanita itu berargumen disana. Dengan jelas rasa takut itu terulang memenuhi dadanya.

 

“So what… if i know… if i was hurting. So what…. He will only get hurt for knowing me..knowing who I am..”

Henry menggeleng mungkin karena ia jauh dari tubuhnya keadaan ini tak begitu menyakitkan seperti yang dirasakan kyuhyun. Seberkas sinar menyilaukan matanya, saat ia sadar Jongwoon telah berdiri disampingnya.

 

“Pergilah ke kamarnya sekarang..henry-ah…” ujar jongwoon khawatir, sejenak meredam seluruh emosi yang ada dalam hatinya untuk membujuk henry kembali pada tubuhnya. “Mungkin ini akan menyakitkan, tidak, pasti menyakitkan, tapi kau akan baik baik saja. Kau akan baik baik saja, karena dari awal kau memang anak yang kuat. Kau pasti bisa melaluinya.”

 

Henry menggeleng menatap jongwoon

“I have a bad feeling for this. And i don’t think I could handle it either. I’ve told you I don’t have any courage to come up with, hyuung…” ujarnya menggenggam erat tangan jongwoon sambil bergetar tak menentu.

 

“Kau muncul disini dalam bentuk seperti ini karena dirimu sendiri yang memintanya. jauh didalam sana kau ingin menyudahinya. Kau ingin mencari ujung dari labirin ini Henry lau.” Ujar jongwoon menunjuk dadakiri henry.

“Kau akan hidup setelah mengingat segalanya. Kau akan tetap hidup setelah mengetahui segalanya. Kau akan baik-baik saja. Hadapilah karna banyak orang yang menunggumu. Termasuk aku.”

 

***

 

 

Henry berhenti didepan nomor ruangan itu. Akhirnya ia melihat wajah itu lagi, wajah yang selalu muncul dalam potongan memori yang diingatnya. ia mematung di depan pintu, berdiri tegak ditempat yang sama hanya untuk meneliti keadaan wanita itu dari jauh. Air matanya menetes, lagi lagi hanya karena melihatnya.

 

“Why are you sick?” Bisiknya saat pandangannya memeluk erat pasien itu. “Sejak kapan kau sakit?” Lontarnya lagi

 

“Iya aku sakit.. aku mungkin tak akan lama lagi disini. Lalu kau masih harus memberitahukan anakmu semua ini.??” Ujarnya disela derai air mata yang mengiringi setiap kata kata yang diucapkannya.

 

Perlahan henry menyentuh pintu ruangan july fang lalu sinar putih kembali menyelubunginya. Membawanya terbang dalam ingatannya kala itu. Saat membuka matanya ia telah berdiri dibalkon rumahnya melihat kedua saudara kembar itu berdiri berhadapan dalam uraian airmata, memberi tatapan yang sama mengerikannya untuknya.

 

“Iya aku sakit.. aku mungkin tak akan lama lagi disini. Lalu kau masih harus memberitahukan anakmu semua ini.??” Ujarnya disela derai air mata seperti potongan ingatan henry sebelumnya.

“He lives well thanks to you. He grew so well to be that great man.. thanks to you. Selama 25 tahun kehidupannya apa ada satu saja hal baik yang ku berikan untuknya..? Aku hanya akan membawanya turun untuk ikut merasakan sampah yang menyelubungiku…..

 

I am too broken to have such a great son you’ve made….” ujar July fang terlihat putus asa saat mengakhiri kalimatnya.

 

“Henry anakmu… bagaimana pun kau menjauhinya kau tak bisa mengelak kenyataan itu, kau yang paling tau itu.. kau tak pernah berhenti memikirkannya sedetikpun walaupun ia tak pernah sekalipun ada dalam gendonganmu. Kau yang paling tau hal itu..” ujar ny.lau mengeja kata perkata, kalimat perkalimat agar saudaranya menarik keputusan yang telah dibuatnya.

 

Seperti tersambar petir untuk kedua kalinya henry mencoba untuk menarik napasnya yang mulai bergerak tak beraturan. Kakinya menolak untuk bergerak maju ataupun mundur. Ia hanya bisa terpana mendengar pertengkaran mereka, mendengar segalanya untuk kedua kalinya.

 

“So what… if i know… if i was hurting. So what…. Henry should never know this, he will get nothing but wound by then. He will only get hurt for knowing me..knowing who I am..”

 

Tak kuat hanya berdiri disana Henry melangkah keluar mengumumkan keberadaannya pada kedua saudara itu.

“Then who are you….?” Tuturnya pelan sambil berjalan mendekat pada dua wanita itu.

 

“Why did you give me that wound. Why would I hurt by knowing you?” Ujarnya menatap wanita itu dengan kedua matanya dalam. Keduanya hanya diam sama kagetnya melihat anak itu sekarang ada disana, di tengah tengah mereka.

“Apa yang baru saja kalian bicarakan?” Tanyanya lurus lurus. “A..a..pa yang kau bicarakan ommaaa..? No, at this rate maybe i can’t even call you mom? A..a.pa yang baru saja ku dengar.. bukan seperti itu…kan…. aku..apa….omma?”ujar henry bingung kehilangan kata- kata untuk menghadapi keadaan ini.

 

“Bukan begitu henry-yah..” ujar ny.Lau bingung mendekat lalu menggenggam tangan henry.

 

Henry melangkah mundur, dengan dingin ia menepis genggaman tangan yang selalu dirindukannya. Rasa asing menyelubunginya, menutup semua kasih yang terpancar dari dua pasang mata itu.

 

“Eomma… omma why..? Why did you do that.. what are you doing to me..” henry berjalan mundur sampai tertahan di pojok beranda tak mampu mencerna material apa lagi yang masuk ke otaknya.

 

Ny lau hanya bersimpuh menangis dihadapannya tak mampu menjelaskan apapun lagi untuknya. Lalu July fang yang mendekat pada henry menampar pipi darah daging yang dilahirkannya untuk perbuatannya pada ny lau barusan.

 

“Apa yang baru saja kau lakukan?” Bentaknya mengiringi pipi henry yang memerah.

“Who am i.. did it even matter? Untuk apa kau bertanya jika kau tak bisa menerimanya? Untuk apa kau berdiri disini jika kau tak mampu mendengarnya? Aku seperti ini. Stiff, difficult, broken.. and not having any material to be your mother. dia eomma-mu.” Tunjuknya pada ny.Lau yang masih meringkuk di lantai karena dorongan henry.

 

“She is your mother. Seperti yang kau ketahui selama ini, dan akan tetap seperti itu.” Tekannya pada henry yang hanya diam menatapnya dengan mata nanar.

 

“Is it really hurt? Is it that hurt, far enough to have a reason to cast away your son?”

 

Wanita bernama july fang itu mengangguk dengan enteng, ” I lived alone. I don’t have husband. i can’t give you that pure love that she has coz’ i am too broken to even live myself, too nasty to be someone mother while here you have literally everything.”

 

Henry mencibir sinis, “Why did it sound like an excuse to me?”

 

July fang meneteskan air mata di depan matanya yang membuat hati henry kembali hancur berkeping keping.

 

“Yes… it was an excuse…” jawabnya tak membantah tuduhan henry. Ia tak dapat menahan airmatanya saat melihat anak lelakinya berdiri lekat dihadapannya. ia mengelus pipi henry begitu bangga melihatnya tumbuh sehat, lalu memeluknya.

 

Henry terenyuh merasakan pelukan yang terasa hangat walaupun ia baru sekali merasakannya.

“If that was all excuses then why it has to be happened!” Dorong henry kesal, July fang lalu terjatuh lemas sambil mencengkram erat baju yang tepat berada di depan jantungnya. Henry mematung tak bisa bergerak kaget dengan kejadian yang terjadi dihadapannya. Ny. Lau segera berdiri menghampiri July fang yang tak melepaskan kontak matanya dengan henry.

 

Ia segera melarikan saudara kembarnya ke rumah sakit sementara henry tetap berdiri disana, masih belum bisa menggerakkan dunianya dari pandangan ibunya barusan. Berhari hari ia disana tanpa menghiraukan panggilan siapapun, tanpa memasukan apapun kedalam tubuhnya, akhirnya tubuhnya menyerah, kepala henry kembali menjadi gelap.

 

Hitam dan tak bercahaya.

 

***

 

“Sejak kapan kau mengetahuinya? Sejak ny.Lau keluar dari kamar July fang waktu itu?”

Jongwoon mengangguk membenarkan terkaan ahra lalu serombongan tim dokter berlarian ke ruangan henry

“Ia kembali?” Tanya ahra ragu

“Aku juga masih menunggu jawaban dari pertanyaan yang sama.” Ujarnya sambil berjalan dengan cepat menuruni setiap anak tangga yang barusan didakinya.

 

“Aku.. tak akan membiarkan hyejin terluka.” Ujar ahra tiba-tiba. Jongwoon menghentikan pangkahnya untuk mendengar kelanjutan kalimat ahra yang berada cukup jauh darinya. “Apapun yang akan dilakukan kyuhyun atau ayahku, aku yang akan melindunginya.”

 

***

 

Henry membuka kelopak matanya. Matanya berkeliling mengabsen personil yang hadir di ruangan itu. Kedua orang tuanya ada disana, jika ia masih boleh menganggapnya seperti itu.

 

Henry menangis. Bukan karena sakit yang tiba tiba dirasakan seluruh saraf tubuhnya. Tapi ia tak bisa berhenti mengeluarkan air matanya. Mungkin mereka benar, kadang lebih baik tak mengetahuinya. Tanpa suara Ny. Lau ikut meneteskan air mata saat memeluk henry.

 

“Eomma…..” henry menangis dalam dekapan ibunya, menenggelamkan kepalanya pada sandaran yang masih begitu nyaman untuknya. “eomma….” tuturnya lagi tak mampu mengeluarkan kata kata lain untuk mengungkapkan perasaannya yang campur aduk.

 

“Mianhae… eomma minta maaf telah merahasiakannya darimu”

 

Tn. lau juga berdiri disana mengelus kepala anak yang telah dirawatnya sejak lahir.

 

“Bisakah aku bertemu dengannya?” Pinta henry pelan.

 

“Kau baru sadar henry-ah.. kau bisa pingsan sebelum sampai disana.” Ujar tn.Lau khawatir dengan keadaannya.

 

“Walaupun aku pingsan ditengah jalan aku tetap ingin kesana appa.”

 

***

 

Pintu ruangan henry terbuka. Jongwoon langsung berdiri membungkuk pada orang tua henry yang mendorong kursi roda yang ditumpangi henry. Henry menoleh padanya, melihat matanya jongwoon tau henry telah mengingat segalanya.

 

Kedua orang tua henry mendorongnya sampai di sebelah July fang yang terapar tak berdaya dengan segala peralatan medis yang membantu jantungnya berdetak. Henry mencengkram armrest kursi rodanya lalu berusaha bangkit dari sana. Ia melangkah dengan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyentuh tubuh ibu yang melahirkannya ke dunia.

 

“Aku…tak akan memanggilmu eomma. Jika aku memanggilmu demikian kau tak akan kembali kan?”

 

“Aku.. tak akan membiarkanmu pergi begitu saja hanya sebagai saudara kembar eomma-ku. Kau tak akan bisa pergi jika aku belum mengakui mu kan? Iya… kan..??” Ujarnya sudah berurai air mata pada pipi putihnya

 

“Aku pandai memainkan alat musik.. Kau belum pernah melihatku bermain biola kan? Kau belum pernah pergi ke konser bersamaku kan? Kau bahkan belum melihatku menikah. Apa kau akan tenang jika aku jatuh cinta pada wanita jahat yang hanya mengejar harta dan ketenaran? Kau yang harus memilahnya seperti ibu lainnya bukan?” Ujarnya mengguncang tangan ringkih yang dipegangnya erat erat. Ny lau hanya menangis dipelukan suaminya menyaksikan pertemuan kedua orang yang disayanginya itu.

 

“Eomma….Aku menangis.. disaat seperti ini bukankah seharusnya kau mengusap kepalaku? Menghapus air mataku?” Henry menggerakkan tangan july fang untuk mengelus kepalanya lalu menyandarkannya pada pipinya yang basah penuh air mata diiringi suara mesin penunjuk detak jantung yang tak berhenti melengking tanpa terputus.

 

“Peluk aku eomma…sekali saja. Aku bersalah. Jangan tinggalkan aku…”

 

***

Jongwoon memalingkan wajahnya saat melihat july fang memeluk henry yang tak mampu merasakannya lalu menghadang angel yang tanpa rasa bersalah lewat disampingnya.

“Tidakkah kau terlalu sadis? Jika kau hanya membiarkannya kesakitan seperti ini, tidakkah lebih baik henry tak pernah mengetahui segalanya?”

 

“Aku melihatnya berbeda. Tidakkah usulanmu juga terlalu sadis untuk July fang? kau membiarkan seorang ibu yang susah payah melahirkan anaknya ke dunia, menyayanginya sepanjang hidupnya tak memiliki kesempatan untuk dikenal anaknya sendiri. Bukankah itu jauh lebih sadis?” Bantahnya enteng.

 

“Lalu mengapa kau tak membiarkannya bangun menatap wajah anak yang kau bilang disayanginya sepanjang hidupnya.”

 

“Jika ia berhak mendapatkannya ia mendapatkannya jika tidak berarti ia tak berhak mendapatkannya. Aku membiarkannya menanti henry datang padanya, Tapi melakukannya lebih dari itu sama sekali diluar kekuasaanku.” Jawabnya masih menyaksikan henry menangis disebelah tubuh ibunya yang mulai membiru.

 

” If it hurts that much bukankah lebih baik ia tak mengingatnya?” Tutur jongwoon tak tega melihat henry.

 

“Kurasa setiap jawaban memiliki arti yang berbeda tergantung bagaimana kau memandangnya. Walau sekarang ia kehilangan, walau sekarang ia terluka, bukankah sekarang Ia tau dibagian mana luka itu berasal? Bukankah sekarang Ia tau dari mana ia harus mulai mengobatinya?”

 

Bukankan manusia hidup untuk melewati rasa sakit itu? Bukan menghindarinya melainkan memenangkannya?”

 

“Apa ini berlaku juga untuk kyuhyun? Saran yang diberikan jungsu itu darimu kan? Kau juga yang membiarkannya melupakan segalanya?”

 

Heechul hanya tersenyum,”Jika kau masih marah atas keputusan itu berarti kau belum memahami maksud kyuhyun.”

 

“Iya aku tak mengerti dan tak habis pikir” jawabnya lugas

 

“Untuk soal Kyuhyun.. mengapa kyuhyun memutuskan untuk melupakan hyejin. Mengapa ia mati matian tak ingin mengenalnya padahal sesungguhnya tak bisa jauh darinya. Jika kau hanya melihat masalah ini sebagai kakak laki-laki hyejin, kau tak akan pernah mengerti.”

 

“Mengapa aku harus melihat dari sisinya? Saat apa yang dilakukannya membuat hyejin terluka, mengapa aku harus mencoba untuk ada di posisinya?”

 

“Karena kau kim jongwoon. Kau mempunyai daya pengertian berkali kali lipat dari manusia kebanyakan. Kurasa aku pernah mendengar dari hyejin sebelumnya. Jika kau lupa aku akan mengulangnya untukmu.”

 

“Kau mampu mengerti lebih dari orang lain karena itu kau dianugrahkan kemampuanmu. Bukan sebaliknya.” Tutup heechul sebelum pergi bersama july fang dari lokasi itu.

 

***

 

Jongwoon melangkah dengan gontai setelah menggeser perlahan pintu yang sesungguhnya tak ingin dijumpainya lagi.

 

 

“Aku tak akan meminta penjelasan darimu saat ini. Hanya saja bisakah kau jawab satu pertanyaanku,” ujarnya tak bergerak banyak dari depan pintu

 

 

“Bisakah aku mempercayaimu?”

 

 

 

 

***TBC***

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: