Spotless Mind [5-END]

lw3-3_20150131111033993

Author: Metaz05

Title: LAST WISH [-3rd Story] Spotless Mind (5/5)

Cast: Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Henry Lau, Park Jungsu, Kim Youngwoon

Genre: Fantasy, AU

Rating: G

Length: chapter

Author’s note : Finally.. . actually I don’t know it was supppose to be epilog or bonus chapther or what coz it was kinda too far from the original last wish thingy.. I just try to make some sneak peek about kyuhyun hyejin relationship.. and another chapter of lastwish.. and… kyuhyun solo comeback.. a million pieces ♥♥♥ Happy 10th anniversary sj~

Best wishes for 86line..please comeback prettily..

Thankyou for reading…

***LAST WISH***

[3rd Story]

_Spotless Mind (5th Part)_

EPILOG

***

“Tapi yang aku bingungkan.. bagaimana bisa ia mengingat semuanya kembali..? Jika kau menghapusnya seharusnya ia tak bisa menemukannya kembali, kan? It was almost unbelievable jungsu hyung had let it passed though.”

 

“Dari awal ia tak pernah bergerak kemanapun.. keraguan menyelubungi permintaannya.. Jika tidak, apa kim heechul akan mengabulkannya begitu saja. Tidak, ia bahkan tak akan memberikan kesempatan itu padanya.” Tutur angel itu sambil menggeleng saat menerima gelas yang disodorkan lawan bicaranya.

“There’s a saying, man is largely a creature of habits. All their action are more or less automatic reflexes. Kurasa terlalu muluk jika ia begitu mudah menghancurkan kebiasaannya hanya dalam satu malam.. moreover heechul’s offer is so tempting anyway..” lanjutnya mengangkat bahu lalu merenyitkan dahinya saat meneguk cairan pahit yang ada dalam gelas itu.

 

“Geez.. kapan hyung itu berhenti mempermainkan manusia.” Ujarnya dengan santai menyesap ginseng liquor dari seloki ditangannya. “karena itu juga jungsu hyung terus mengikuti perkembangannya, bukan? Jika begini kapan aku bisa bertemu dengannya.” Gerutunya menyadari domino effect yang tanpa sengaja melibatkannya.

 

***

 

Wanita itu menatap lurus kedepan tanpa menyambungkan apapun ke dalam otaknya. Ia hanya menghembuskan napas datar lalu menariknya kembali tanpa banyak arti sebelum mengulangnya terus menerus. Tangan kirinya menyangga dagu dan kepalanya sementara sebelah tangannya memutar cangkir latte diatas saucer berwarna senada dihadapannya.

 

“If it was that hard just stop”

 

Suara itu membangunkannya, menariknya kembali ke dunia dimana ada individu lain yang dapat bertukar opini dengannya. Hyejin tersenyum tipis menyapa pria yang kini tengah duduk menemaninya di teras cafe jongwoon. Ia meletakkan satu tangannya lagi disebelah pipinya hingga kini dua tangan menyangga kepalanya.

 

“Don’t you want to walk-out?” Tawarnya sambil mengadahkan tangan kanannya dihadapan hyejin.

 

Hyejin menaikkan sebelah alisnya, menunggu penjelasan atas kalimat ambigu-nya barusan tanpa mengubris gesture-nya.

 

“I meant.. literally, walking outside… don’t you feel suffocated being locked here for hours every freakin’ night?” Jelasnya menggebu menggerakan kedua tangannya serius mengajak hyejin kabur dari ‘penjara’ yang dimaksudnya.

 

“Kau pikir aku menjadikannya budak atau sejenisnya disini?” Sela jongwoon saat melangkah mendekat pada kedua manusia yang makin akrab sejak kembalinya pria itu pada raganya. Henry menoleh lalu meringis saat tertangkap basah memprofokasi karyawan spesial jongwoon.

 

“Sejak kapan kau disini hyung?” Ujarnya cengengesan. Jongwoon menyempatkan diri menepak kepala henry saat targetnya masuk dalam jangkauan tangannya lalu berbalik menatap hyejin khawatir.

 

“Biar aku sendiri yang akan menangani disini.. kau pulang saja lebih dulu bersamanya.” Tawar jongwoon lebih seperti perintah pada sepupunya yang terlihat kesulitan bahkan untuk menegakkan kepalanya tanpa dibantu sanggahan tangannya.

 

“Kurasa aku akan menunggumu di kantor.” Jawab hyejin tak tega meninggalkan jongwoon bertugas sendirian di cafe itu hingga tutup malam nanti.

 

Ia berusaha berdiri namun kepalanya kembali berputar membuatnya limbung, beruntung henry sigap memegang pundaknya sebelum hyejin terjatuh di lantai.

 

“Yaa.. tekanan darahmu drop lagi. Kau ingin eomma-mu membunuhku?!”

 

***

 

Sudah lebih dari satu bulan ahra menjadikan kyuhyun supir pribadinya. dua bulan tepatnya ia selalu menyempatkan diri mampir ke cafe joongwoon sebelum pulang ke rumah. Entah membeli segelas kopi, atau bingsu, atau hanya sekedar menyapa pemilik cafe itu. Tanpa pernah bosan ahra membujuk kyuhyun menemui wanita yang setiap hari berdiri didepan meja kasir walau ia tau akan selalu ditolaknya mentah mentah.

 

Ahra masih saja mengoceh soal bagaimana kyuhyun seharusnya membalas satu persatu jasa yang pernah dilakukannya sepanjang hidup mereka. Kyuhyun hanya menyumpal telinganya, berpura-pura berkonsentrasi penuh saat menyetir mobil putih kakaknya lalu tanpa sengaja melihat wanita yang selalu diungkit kakaknya disana.

 

Ia berjalan tak jauh dari cafe jongwoon bersama seorang pria yang meletakan tangannya di kedua sisi lengan wanita itu erat. Keduanya terlihat dekat, bahkan terlalu dekat bagi kyuhyun. Ia memicingkan matanya berusaha melihat lebih jelas kejadian apa yang sesungguhnya ditangkap matanya barusan namun hanya mendesah kecewa saat pria itu membuka pintu mobilnya untuk hyejin yang menurutnya dengan terlalu casual menerima uluran tangan henry untuk naik kedalam kendaraannya.

 

Ahra tak memperhatikan keadaan di luar mobilnya ataupun perubahan mood kyuhyun di sebelahnya. Ahra melewatkan setiap detailnya karena sibuk menyelesaikan kalimat-kalimat omelannya untuk kyuhyun.

 

“Sudah cukup… Aku tak pernah mengerti mengapa kau harus melakukan ini semua. Kau tau siapa dia.” Ujar ahra menyinggung kyuhyun yang bertingkah seperti tak pernah mengenal hyejin, kyuhyun yang dengan senang hati menerima pertunangannya dengan jinna lalu dengan terlalu bersemangat mengerjakan proyek kerja sama mereka. Ahra menolak untuk percaya jika kyuhyun benar tak mengingat hyejin seperti yang berusaha diperlihatkannya pada semua orang-terutama ayahnya, tapi setiap action yang dilakukan adiknya hanya membuatnya semakin jauh dari kenyataan yang ingin dipercayanya.

 

“Aku tak mengingat apapun noona. Mengapa kau selalu memaksaku mengakui hal yang tak kulakukan.” Ujar kyuhyun tanpa sadar meninggikan nada bicaranya menjawab ahra sedikit emosi, terbayang dalam kepalanya lagi bagaimana hyejin menggenggam tangan henry erat erat beberapa saat yang lalu.

 

Ahra hanya diam kehabisan kata-kata untuk menanggapi kepala batu adik lelakinya kemudian membuka pintu turun dari mobil mereka bahkan sebelum kyuhyun sempat menarik rem tangan yang terletak diantara kursi mereka.

 

“Kau masih tak akan turun? Well I don’t encourage you doing so since I’m not sure jongwoon being confisticated from his kitchen knives or not but..” Ahra memotong kalimatnya melihat kyuhyun membuka pintu disebelahnya lalu turun membiarkannya memiliki banyak imaginasi soal pertemuan legendaris yang akhirnya dapat diwujudkannya. tak diketahuinya, kyuhyun telah memastikan tak akan ada pertemuan apapun yang terjadi malam itu. Wanita yang dengan bersikeras ingin dipertemukannya telah angkat kaki dari cafe itu beberapa saat yang lalu, dengan accompany.

 

***

 

“Biasa, dan kau?” Tawarnya pada kyuhyun saat mereka berdiri di hadapan jongwoon yang kini mengambil alih tugas hyejin berdiri di depan kasir.

 

“Flat white.” Jawabnya singkat.

 

Ahra memberikan kartu kreditnya beserta royalty card selagi menjulurkan kepalanya kekanan dan kekiri berusaha menemukan hyejin yang tak kunjung muncul dari sudut matanya. Ia menghembuskan napasnya terlihat begitu kecewa tak berhasil menemukan wanita itu disana. Dengan teliti Jongwoon mencatat pesanan keduanya lalu mengembalikan kartu milik ahra tanpa banyak bicara.

 

Kyuhyun berjalan disebelah ahra yang tiba tiba saja tak bersemangat menyeret kakinya malas malasan menuju satu meja di samping jendela. Tak lama kemudian jongwoon bergabung membawa nampan berisi tiga minuman lalu ikut duduk bersama mereka. Tak ada yang berbagi kalimat dimeja itu. Hanya keheningan yang mengambil alih membuat ahra akhirnya gerah tak tahan ada dalam situasi itu lebih lama lagi.

 

“Hhhh…I’m not expecting a calm atmosphere actualy.” Celetuk ahra memotong tatapan jongwoon pada kyuhyun dan tatapan kyuhyun pada dirinya.

 

Belum sempat kedua pria itu merespon kalimatnya pintu cafe jongwoon kembali berderit menyambut kedatangan pelanggan lain yang mengharuskan jongwoon kembali ke meja kasir untuk menerima pesanannya. Kyuhyun membungkuk mendekat pada ahra lalu berbisik di telinganya.

 

“I was also not expecting we’d sit on the same table actualy. Are you in ‘some’? Or really in such interesting relationship?” Sindirnya pedas

 

“Friends.” Potong ahra menggeser minuman kyuhyun dari hadapannya lalu menyesap caramel macchiato miliknya.

 

Ia hanya mengangkat kedua alisnya tak percaya, mengambil kopinya lalu menyandarkan punggungnya sambil melirik keluar mengingat kejadian yang tadi di lihatnya didepan cafe.

 

Jongwoon menarik bangku kosong di sebelah ahra kemudian duduk menyesap kopinya mengacuhkan suasana yang kembali menjadi tegang dengan kehadirannya.

 

“….Kalian.. tak merasa ada yang perlu dibicarakan antara kalian berdua? Aku akan dengan senang hati membebaskan diriku dari suasana ini.”

 

“Sick.” Tutur jongwoon memberikan sedikit bocoran dari persoalan yang sejak tadi tak berhenti jungkir balik dalam pikiran kyuhyun.

 

Kyuhyun menatapnya sedikit kaget lalu secara tidak sadar memetakan beberapa cabang dari kata kunci yang diberikan jongwoon soal keadaan hyejin yang dapat diperolehnya dengan mudah dari riwayat hidupnya sebagai sahabat hyejin lebih dari setengah usianya.

 

“Yep..” gumamnya lagi memberi konfirmasi saat kyuhyun memprediksi dengan tepat penyakit hyejin dalam kepalanya.

 

Ahra menautkan kedua alisnya lalu menatap kedua pria itu bergantian.

 

“So…hateful..” ujarnya menyadari mereka tengah ‘berbicara’ didepan hidungnya tanpa melibatkan dirinya.

 

***

“Aku tak akan meminta penjelasan darimu saat ini. Hanya saja bisakah kau jawab satu pertanyaanku,” ujarnya tak bergerak banyak dari depan pintu

“Bisakah aku mempercayaimu?”

***

 

“Bukankah hidupmu terlalu tenang akhir akhir ini?” Ujarnya melepas alas kakinya untuk mencoba sepatu yang baru saja dilepaskan jungsu.

 

“Jangan memulainya lagi.. aku menyukainya kau tak perlu khawatir, dan Jangan berpikir untuk merusaknya.” Ancam jungsu merambet sepatu olahraga koleksinya dari tangan heechul.

 

“Hari ini kau tak membuntuti kyuhyun nampaknya? Ada perkembangan darinya? Apa ia sudah berhenti menjadikan kita kambing hitam dari masalahnya?” Tanya heechul terlihat jelas hanya bertanya karena mulutnya gatal untuk mengeluarkan suara dan tentu saja jungsu menyadarinya.

 

“Jika kau tak ingin tahu sebaiknya tak perlu repot-repot bertanya. Untuk apa kau kesini?” Ujar jungsu membungkus kembali sepatu koleksinya dalam kardus untuk menyelamatkannya dari tangan jahil heechul.

 

“Ya.. Apa kau tidak merindukanku?? Kyuhyun bisa menyelesaikan masalahnya tanpa pantauanmu lagi.” Ujarnya lagi sambil mengelus kucing kecil yang ada di pangkuannya.

 

“Kucing siapa lagi yang kau curi sekarang? Dimana heebum? Did you perhaps…colouring his hair???”

 

“Yaah.. angel tua ini….. Matamu kurang sehat park jungsu?? Ini cherry ya cherry… heebum tak sekecil ini. Babo ya..”

 

Jungsu mengelus kepala kucing kecil itu yang menggeliat tak bisa diam dipangkuan heechul

“Lihaat dia tak menyukaimu..”

 

“Ryeowookie mencarimu.” Ujarnya singkat menggantikan tangan jungsu untuk mengusap kepala anak kucing yang sedang meringkuk ke perutnya.

 

“Aku? Mengapa??” Tanya jungsu lebih dari bingung. Tak ada benang yang membuat seorang ryeowook mencarinya, apa lagi melalui heechul.

 

“Mana ku tahu..” jawabnya tak perduli masih fokus menggaruk perut cherry yang berguling geli di pelukannya.

 

“Selain itu.. mengapa dari semua angel yang tersedia harus kau yang menyampaikannya padaku… Membuatku berfirasat buruk saja.”

 

***

 

“Bagaimana bisa reaksi jongwoon padamu hanya seperti itu…? Apa yg ada dalam otaknya” ujar ahra kesal tak berhenti mengulangnya sejak turun dari mobil.

 

“Aku tak merasa pernah melamar menjadi PR kim jongwoon. Apa aku yang harus menjawab pertanyaan ini untuknya?” Tutur kyuhyun cuek memutar kenop pintu kamarnya lalu berbalik untuk menatap ahra.

 

“Apapun yg kau rencanakan.. aku tak menyetujuinya cho kyuhyun…” ujar ahra bertolak pinggang dihadapannya membuat kyuhyun berhenti mendorong pintu kamarnya lalu bersandar pada pintu yang separuh terbuka memperlihatkan isi kamarnya.

 

“Kapan aku bilang aku merencanakan sesuatu, noona?” Jawabnya membela diri dari tuduhan ahra.

 

“Kau tak pernah tidak punya rencana apapun cho kyuhyun” cecar ahra yang tak akan pernah mau kalah dalam argumennya.

 

“Jika begitu mengapa kau mencemaskannya?” Ucap kyuhyun kini kembali melangkah memasuki kamar tidurnya.

 

“Karena hyejin terluka dalam prosesnya. Bagaimana bisa kau mengisolasinya membuatnya tak mengetahui apapun sementara ia adalah inti dari ini semua. Bagaimana kau dapat memastikan ia tak berpaling darimu saat kau ‘melupakannya’?” Ujar ahra kesal menakankan kata terakhirnya sinis.

 

“Aku tak mengenalnya noona” ralat kyuhyun datar, masih bersikeras mengelak semua tudingan ahra saat menekan saklar untuk menyalakan lampu kamarnya.

 

“Jika adikku bukan kau tapi hyejin, aku akan memastikan ia tak pernah mengenalmu seumur hidupnya.” Ujar ahra saat menahan pintu kayu besar itu menutup dengan kakinya.

 

Ring.. ring… ring…

 

Ponsel kyuhyun berdering, ia bersusah payah mengeluarkan ponsel dari saku jasnya lalu menyodorkan layarnya di depan wajah ahra setelah melihat siapa yang menghubunginya.

“Tunanganku menelpon apa kau akan dengan ignorance-nya tetap ada di kamarku?”

 

Ahra mencibir kearahnya lalu membanting pintu kamar kyuhyun saat mengabulkan permintaannya angkat kaki dari ruangan itu.

 

***

 

“Gomawo..” ujar hyejin saat meraih tangan henry yang membantunya turun dari mobil suv itu.

 

“Don’t be hurt~…” ujar pria itu penuh ‘aegyo’ “I’ll be sad..” lanjutnya mengerucutkan bibirnya yang merah.

 

Henry hanya satu tahun lebih muda dari hyejin tapi tingkah lakunya tak jauh berbeda dengan level anak sekolah dasar, gerak geriknya sama sekali tak mencerminkan usianya yang lebih dari seperempat abad. Rambut coklat yang menutupi separuh alis tebal yang mewarnai wajah pucatnya juga hanya memperparah banyak usia yang tanpa sengaja disebunyikannya. Terlebih senyum sumringah yang selalu mewarnai bibirnya. Wajah polosnya lagi lagi membuat ujung bibir hyejin tertarik memberikan senyum ringan saat berjalan berdampingan menuju pintu rumahnya.

 

“…..If it’s hurt to wait.. just don’t wait. But if you choose to wait, I’ll be an accompany so it’ll be less hurt for you.” Tuturnya tiba tiba mengambil nada rendah yang membuat suasana berubah serius dan canggung tanpa sanggup menatap manik mata hyejin saat menyelesaikan kalimatnya barusan.

 

 

Hyejin terperangah dalam beberapa saat untuk mempelajari seluruh kalimatnya. Beberapa detik Ia tenggelam menatap wajah henry yang menunduk kaku tak bergerak menatap jalanan yang dilewati sepasang sepatunya.

 

 

“So…” ujar hyejin akhirnya memecah keheningan setelah sampai di teras rumahnya.

 

“…where did you learn that ment just now, Henry lau?” Lanjutnya menyenggol pundak henry dengan sikutnya pelan.

 

Henry hanya terkekeh geli, “yeaa.. I’m not fit this concept right..” ujarnya kembali menoleh pada hyejin menagih eye-contact seperti yang biasa dilakukannya.

 

“Yes. And don’t try to be cool, bagaimana jika aku menyukaimu nanti?” Canda hyejin santai membuat henry kembali terkekeh saat melambai meninggalkan pekarangan rumah hyejin.

 

***

 

“Kau sudah sampai di rumah, oppa?” suara bening menyapa dari ponselnya begitu kyuhyun mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

“Aku hanya ingin mengingatkanmu.. Jangan lupa makan siang kita besok.. aku ada keperluan sebelumnya jadi kau tak perlu menjemputku di kantor. Sampai jumpa besok di tempat biasa.”

 

Kyuhyun lalu meletakkan ponselnya begitu saja diatas meja dan menjejerkan map map yg di bawanya dr kantor sampai tak menyediakan spot yang tersisa disana. Ponselnya kemudian berdenting membuatnya kembali bergerak menyentuh layar smartphone-nya untuk membaca isi pesan yang diterimanya barusan. Gambar wajah ahra muncul dipojok atas layarnya berikut rentetan pesan yang dikirimkannya.

 

[Kau akan menyesal jika tak mengeceknya cho kyuhyun.]

 

Ahra melampirkan satu foto setelahnya. Dengan malas Kyuhyun menyentuh layar ponselnya lagi membuat gambar itu membesar lalu otomatis membeku menatap satu profil yang menyedot semua fokus pikirannya kesana. Matanya sedikit memerah karena hampir tak berkedip memperhatikan objek dalam foto yang diberikan ahra sampai ahra merentetkan pesan lain dibelakangnya.

 

[Ikutilah kata kataku jika kau tak ingin menyesal selamanya.]

 

[Aku tau kau mengerti apa yang kubicarakan.]

 

Tak berniat menunggu repon kyuhyun ahra mengirimkan pesannya beruntutan tanpa jeda hanya ingin membuat kyuhyun terbakar emosi di dalam sana. Menggigit umpannya Kyuhyun mengerutkan bibirnya kesal lalu menggerakkan kedua ibu jarinya mengetik balasan untuk ahra.

 

[Apa yang ingin kau perlihatkan? Kau dan kekasih barumu?]

 

#BRAKK

Pintu kamar kyuhyun kembali terbuka, kali ini dengan begitu lebar menampilkan satu wanita yang masih memakai pakaian yang sama sejak terakhir dilihatnya kini bertolak pinggang dihadapannya menatap kyuhyun galak sambil mengacungkan telepon genggam di tangannya.

 

“Ya. Harus berapa kali kubilang padamu hati hati dengan lidah beracunmu. Aku tak ada dalam hubungan seperti itu mengapa kau harus menyinggung hal ini terus..”

 

“Lalu mengapa kau terus memintanya?” Jawabnya santai kembali tenggelam dalam dokumen dokumen dihadapannya

 

***

 

Matahari bersinar terik dari sela sela tirai satin di ruang berbau khas itu. Uap air menyembur dari satu kotak air purrifer di pojok ruangan yang sunyi senyap itu.

 

“Ini apa lagi?” tanya jungsu malas begitu sampai disana mendapati ryeowook telah menunggunya bersama satu organisme yang kemungkinan besar akan menjadi sumber masalahnya satu minggu kedepan.

“Heechul hyung merekomendasikanmu hyung…” jelasnya berulang-ulang berusaha membersihkan namanya dari oknum penambah pekerjaan untuk jungsu.

“Mengapa lagi-lagi aku…” jawabnya masih tak terima saat mereka duduk pada sebuah sofa modern memperhatikan satu pasien yang tertidur nyenyak dengan perut membuncit ditengah tengah ruangan itu.

“Hyuung~…” rengeknya berusaha mendapatkan simpati jungsu yang tak akan pernah tega menolak permintaannya jika ia sudah begini.

 

Pintu ruangan itu kemudian terbuka memotong pembicaraan mereka. Satu wanita cantik melangkah memasuki teritori itu membawa satu buket bunga di tangan kirinya lalu merapatkan kembali pintu yang telah dilaluinya. Ia berjalan dengan begitu natural menuju meja disamping pasien itu lalu mengganti bunga kering yang ada disana dengan buket bunga yang dibawanya. Dengan hati hati ia mengatur rangkaian bunga itu untuk memenuhi vas kristal yang berdiri tegak disana lalu beralih setelah membuang bunga kering tadi ke dalam tempat sampah.

 

Ia menarik bangku, meletakkannya disamping wanita hamil yang hanya terbaring tak bergeming diatas ranjangnya. Wanita itu lalu duduk disana sambil mengelus perut pasien itu dengan lembut.

 

“Please be strong.. both of you…”

 

“Siapa lagi dia?”

 

***

 

Ikutilah kata kataku jika kau tak ingin menyesal selamanya.

 

Kyuhyun tersenyum kecut saat mau tak mau mengakui ia termakan provokasi kakak perempuannya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya memandangnya sebentar lalu mengembalikannya lagi kedalam bajunya.

 

Pria itu memarkirkan mobilnya di balik pohon maple yang cukup besar untuk mengkamuflase kehadirannya yang terlalu mencolok saat memperhatikan dari jauh satu persatu orang yang berjalan masuk kedalam gedung itu. Kyuhyun akhirnya memutuskan turun dari mobilnya, berjalan sebentar diantara angin pagi yang menerpa wajahnya dingin. Tanpa banyak berpikir ia membawa mobilnya ketempat itu, tanpa banyak berpikir ia berjalan ke arah gedung yang dulu tak pernah absen dilaluinya.

 

Dari jauh ia memicingkan matanya lalu buru-buru bersembunyi dibalik tembok saat melihat sosok yang begitu familiar untuknya. Jika sesuai prediksinya, seharusnya ia akan menemukan wajah jongwoon disana. Pria itu tak pernah sekalipun melalaikan tugasnya mengantar jemput hyejin, kecuali kyuhyun tiba tiba muncul dirumah hyejin lebih dulu untuk menculiknya atau kyuhyun merengek meminta hyejin mengabaikan jongwoon untuk pulang bersamanya. Untuk alsan itu, mata kyuhyun menolak untuk berkedip saat melihat siapa yang berjalan disamping hyejin saat ini. Tak cukup membukakan pintu untuknya pria itu merangkul pundak hyejin saat menukar posisi mereka agar hyejin berjalan di sisi yang tak berdampingan dengan jalan raya.

 

Kyuhyun menggertakkan giginya kuat kuat lalu menguatkan dirinya kembali memperhatikan kedua manusia itu atau lebih tepatnya-hanya-sahabatnya – hyejin. Hyejin berhenti sebentar di depan pintu kantornya untuk berbicara dengan rekan kerjanya yang juga baru sampai disana. Bibirnya tak kuasa melengkung menatap wanita itu tersenyum begitu manis seperti yang selama ini ada dalam bayangannya. Darahnya masih berdesir saat melihat lesung pipi muncul mewarnai wajahnya saat ia tertawa lebar. Mengapa wanita itu bertambah cantik dari yang ada dalam ingatannya. Lebih dari seribu kali kyuhyun mengulang kalimat itu dalam kepalanya.

 

Ya, Kyuhyun sangat mengenalnya. Cho kyuhyun mengingat sosok itu-wajah itu-nama itu, Kim Hyejin. Tak pernah sedetikpun ia melupakannya karena setiap sel dalam dirinya terlanjur menghapal mati kebersamaannya bersama wanita itu.

 

Kyuhyun mengintip lagi, memastikan hyejin masuk kedalam kantornya lalu ia berbalik dengan perasaan campur aduk melangkah kembali menuju parkiran mobilnya yang tak jauh dari sana.

 

 

“Cho kyuhyun..” ujar satu suara renyah memanggilnya dari belakang. Berfirasat tidak baik kyuhyun mempercepat langkahnya tanpa menoleh kebelakang.

 

 

“CHO KYUHYUN…” ulangnya lebih keras seraya merambet pundak kyuhyun yang menolak untuk berhenti. “Apa yang kau lakukan disini? did you….perhaps.. did you stalk hyejin just now?” Lanjutnya menaikan nada suaranya tak mengerti jalan pikiran kyuhyun.

 

“Apa yang sesungguhnya kau lakukan? Jangan menjual alasan kalau kau tak mengingatnya ‘coz i won’t buy it. Kau mengaku padaku kau telah mengingatnya cho kyuhyun. What are you doing now? Mengapa kalian membuatnya begitu menyulitkan.” ujarnya panjang lebar sebelum akhirnya berhenti mengekor dibelakang kyuhyun yang sama sekali tak berniat menyambut sapaan ramahnya, “Don’t beat around the bush. Apa tujuanmu kembali kesini jika kau memutuskan untuk melupakannya lagi. Sadarkah kau sekarang sedang mengulang kesalahan yang saat itu kau jelaskan panjang lebar padaku?”

 

Kyuhyun menghentikan langkah kakinya kemudian berbalik emosi.

“Lalu kau? Henry lau. Apa tujuanmu? Mendekatinya? Menurutmu kau memiliki hak untuk melarangku kesini? Kau?” Ujarnya kesal.

 

Henry terpaku sejenak menatap matanya absurd lalu tersenyum dengan percaya diri

“Menurutmu aku tak punya? Aku berada disisinya sementara kau kesana kemari dengan tunanganmu. Kau tak berpikir aku juga tak mendengar berita itu kan, Cho Kyuhyun?” tutur henry pelan “Aku tau aku tak berhak mengaturmu. Bagamana pun hubunganmu dengan hyejin dulu tapi sepertinya sekarang keadaannya berbeda, terlalu banyak bulan berlalu.” Ujarnya santai lalu memeriksa ekspresi di wajah kyuhyun yang makin mengeras

 

“Aku berada disisinya saat kau tak ada. Itu saja.” Lanjutnya sebelum meninggalkan kyuhyun yang mematung disana.

 

Itu saja. henry menekankan dua kata itu. Kenyataannya Ia berada disisi hyejin, itu saja. Kata katanya memukul kyuhyun keras. Mau diakuinya atau tidak, henry melakukan hal mudah yang tak dapat dilakukan kyuhyun. Pria itu – henry lau- ada disana di sisi hyejin.

 

***

 

“Makan makananmu. Apa yang kau tunggu…” perintahnya sambil mengibaskan rambut lurusnya saat menyendok appetizer yang telah dihidangkan di meja mereka. Kyuhyun masih mengaduk mangkuknya saat wanita cantik dihadapannya mengambil serbet lalu mengelap ujung bibirnya takut sisa sup labu menempel mengganggu penampilannya.

“Ahra unni semakin bersikap dingin padaku, Why should I getting hate along with you.?” Protesnya melanjutkan aktivitas makan siang mereka yang cukup extravagant untuk disebut sekedar makan siang. Alasannya hanya satu, Kyuhyun tak bisa memilih sembarang restaurant jika tak mau foto mereka beredar luas di internet.

 

“Kita menikah saja bagaimana?” Ucap kyuhyun tanpa berpikir membuat jinna hampir saja menyemburkan kembali sup yang baru saja dihirupnya. Ia mengangkat serbet dari pangkuannya lalu meletakkannya diatas meja menandakan ia tak lagi berselera menghabiskan sisa porsi makananya.

 

“Oppa…. Mengapa kau begini padaku?” Protesnya absurd.

 

Kyuhyun menghembuskan napasnya berat seiring dengan dentingan alat makan yang terlepas dari jarinya. “It’s getting harder lately….”

 

Jinna mengangkat dagunya lagi lalu menyentuh gelas untuk meneguk sedikit air yang ada didalamnya sambil memandang kyuhyun dingin.

“Ia menemukan pria lain? Sudah sepantasnya.” Ujarnya santai lalu membereskan lagi letak serbet diatas pangkuannya. “Lalu… jika gadis itu berbalik darimu kau pikir aku bersedia menerima-mu? Aiguh.. Jangan seret aku lebih jauh dari ini. Sudah sewajarnya. Kau bahkan meninggalkannya tanpa kepastian apapun, menurutmu ia akan menunggumu begitu saja?”

 

“Kau pun tau apa alasannya, nana-ya.” Bantah kyuhyun pelan.

 

Jinna kembali menyendok makanan di hadapannya, “Karena itu.. so scary.. jangan sekalipun berpikir gila seperti tadi. Apa untungnya bagiku. Kau pikir aku bersedia menyandang gelar ‘siapapun sama saja’ sepanjang sisa hidupku? Sebaiknya kau telah menyiapkan penjelasan yang bagus agar aku mendapatkan kembali nama baikku bulan depan.”

 

“Kau sama sekali tak membantuku.”

 

“Oppa, Manusia harus hidup dalam kepastian. Jika kau hanya temannya dan bertingkah seperti seharusnya, mengapa ayahmu berniat memisahkan kalian. Jika kau menyukainya maka peganglah yang benar. Karena bertemu orang sepertimu gadis itu harus memiliki nasip malang begini.”

 

“Kau sungguh tak membantu.” Ujar kyuhyun menggeleng lalu memulai makan siangnya yang sudah dingin.

 

“Tapi.. kau yakin Ia tak mengetahui apapun soal ini kan?” Ujar jinna menunjuk dirinya dan kyuhyun bergantian.

 

“Jika media tak ikut campur, rumor hanya sebatas rumor kan? Suatu keuntungan bagiku ia berada jauh dari dunia ini. Jika ia mendengarnya, rasanya tidak benar kan?”

 

***

 

“Karena itu heechul bersikeras merekomendasikanmu, hyung.” Ujarnya selagi menonton pertandingan baseball dari ponselnya. “Bagaimana ia bisa menghubungkannya dengan begitu epic?” Lanjutnya terkagum kagum disela pemain tim yang didukungnya berjalan ke mound untuk melakukan lemparan.

 

Jungsu menghela napasnya lelah selalu terjepit dalam permainan kim heechul. “Ini diluar lingkup kerjaku kau tau aku tak mengurus non-alive one.”

 

“Apakah aku pernah bilang kau mirip dengan jongwoon?” Potongnya tiba-tiba. “Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda.. ini menyangkut kehidupan bayi yang dikandungnya. Bagaimanapun kau akan tetap ada disana untuk kyuhyun, toh..? Besok kau akan tau siapa yang dicarinya. Just sit and keep her stand in line. Watch over her not touching something that she shouldn’t.” Gumamnya seadanya sibuk memperhatikan gambar di layar ponselnya saat pertandingan itu makin menyita konsentrasinya.

 

Jungsu hanya menggerutu karena lawan bicaranya itu terlalu menggampangkan masalahnya dan malah berteriak kegirangan saat club kesayangannya mencetak homerun.

 

“Kangin-ah.. Kau tak akan mengecek keadaan kyuhyun? Tak takut kah kau ia kehilangan kesadaran mendengar berita besok pagi?” Saran jungsu sinis.

 

“Pergilah bersamaku kalau begitu… Kau pun penasaran bagaimana akhir cerita kyuhyun, kan?” Ujarnya masih berjoget begitu bahagia tim nya akhirnya mempertahankan kemenangan mereka dua season berturut turut.

 

“Will it really end right there for kyuhyun?” Gumam jungsu menyiratkan kekhawatiran yang begitu kental dalam nada bicaranya.

 

***

 

Sejak pagi telepon di Perusahan CYH Corporation tak berhenti berdering. Media menghubunginya tanpa henti sejak beredarnya foto Cho kyuhyun makan siang bersama pewaris GN group leeJinna di headline surat kabar nasional dan menjadi search-term nomer satu di setiap webnews. Rumor keduanya akan bertunangan dan melangsungkan pernikahan akbar akhir tahun ini merebak begitu luas bukan hanya dikalangan mereka tapi di seluruh korea selatan.

 

Ahra masih sempat mengganti sandal rumahnya dengan sepatu lalu berdiri di depan pagar rumahnya melongok menunggu mobil sedan jongwoon yang barusan mengabarinya telah ada di daerah rumahnya. Kyuhyun telah menghilang sebelum ia membuka mata untuk turun menyantap sarapan yang akhirnya tak pernah disentuhnya. Ahra langsung melompat masuk saat mobil itu berenti di depan pintu pagar rumahnya.

 

“Hyejin/Kyuhyun dimana?” Tanya keduanya hampir bersamaan.

 

Ahra meletakkan koran yang ia pegang di dashboard mobil jongwoon sementara jongwoon merogoh saku belakangnya lalu meletakan benda yang sama di hadapan mereka.

 

“Lalu apa rencana kyuhyun selanjutnya?”

 

“Apa hyejin sudah melihatnya?” Tanya ahra panik.

 

“Aku membersihkan rumahnya dengan baik, Selain itu aku mengirimkan order khusus untuk menjauhkannya dari kantor dan dunia hari ini, tapi aku tak tau sampai kapan aku bisa melakukannya, karena itu dimana kyuhyun.” Jelasnya singkat menuntut keberadaan kyuhyun.

 

Ahra lalu menggenggam kedua tangan jongwoon, membuatnya sedikit terkejut dengan perlakuan ahra yang begitu spontan. “Gomawo.” Ujar Ahra menghembuskan napasnya sedikit lega mendengar jongwoon telah melakukan apa yang baru saja ingin dilakukannya.

 

Jongwoon menarik tangannya perlahan lalu mengangguk salah tingkah sambil membereskan irama jantungnya yang tak beraturan semenjak ahra mulai begitu bebas menyentuhnya seperti hal yang barusan dilakukannya.

“La-lalu..kyuhyun?”

 

“Pertama-tama. Kyuhyun tak mungkin se-ceroboh itu membiarkan fotonya diambil dengan mudah oleh paparazi.. apa yang ada dipikiran anak ini.. ” Gumam ahra mengacak-acak rambutnya bingung, sejenak ia diam lalu menatap jongwoon lurus-lurus “Tunggu. Kau juga terlibat dalam rencanaya kan? kau tau sesuatu kan? karena itu kau diam saja saat bertemu kyuhyun waktu itu? Wajahmu pun biasa saja Kim jongwoon.” Tuding ahra aneh melihat respon jongwoon pada situasi ini.

 

“Lupakan saja hal itu. Lalu apa yang akan dilakukan kyuhyun? Dimana dia? Jika kau kyuhyun, apa yang akan kau lakukan?” Tanya jongwoon berkelit dari pertanyaan ahra.

 

Ahra terperangah saat menatap jongwoon, “So i’m an outcast here…” ujarnya datar menyadari hanya dirinya yang tampak absen dari rencana kyuhyun.

 

“Kyuhyun hanya memintaku untuk mempercayainya. Incase something like this happen. And too bad it happened. So now why don’t u help me to think where the hell he is.” Jawabnya mencapai limit kesabarannya.

 

Ahra hanya merapatkan bibirnya saat mendengarkan pengakuan jongwoon lalu seperti teringat sesuatu ia merambet handle pintu untuk keluar dari sana. “Aku pergi..” pamitnya singkat sebelum beranjak dari kursi yang ditempatinya.

 

Jongwoon menahan tangannya membuat ahra kembali terduduk manis di kursi itu lagi.

 

“Aku akan mengantarmu.” Ujarnya yang lebih mirip perintah daripada tawaran.

 

Jongwoon mulai memutar kunci untuk menstarter mesin mobilnya tapi ahra menyentuh punggung tangannya diatas kemudi lalu menggeleng pelan.

“Aku tak bisa melibatkanmu, coz this is family’s matter.”

 

***

 

Kyuhyun membuka pintu hitam yang membatasi living room dengan ruang baca ayahnya di mansion pribadinya tak jauh dari pusat kota seoul.

 

“Rupanya kau berhasil menangkapku lagi, appa.” Kyuhyun tersenyum sinis meletakkan koran dengan gambar wajahnya di lembar pertama kedepan ayahnya.

“Saat aku telah merampungkan 98% pekerjaanku.. saat aku hanya perlu menunggu kelengkapan dokumen untuk melemparkan kembali semuanya kehadapanmu. Tentu saja kau akan menghentikannya terlebih dulu. Apa aku terlalu besar kepala berpikir kau akan jatuh dalam rencanaku kali ini?” Ujarnya tanpa banyak ekspresi.

 

Kyuhyun terlalu hapal style ayahnya, dengan mudah ia menunjuk siapa pelalu dibalik pecahnya scandal tentang dirinya pagi itu. Terlalu obvious jika melihat siapa yang paling diuntungkan disini. Bila seluruh dunia tau, kyuhyun tak akan mampu berkelit hingga akhirnya menikah dengan jinna, fakta jika dua perusahaan besar itu bergabung akan menguatkan kedudukan kedua perusahaan itu sehingga saham mereka melesat berkali kali lipat seperti yang mulai terlihat pagi ini. Selain itu, kenyataannya media play itu amat sangat menguntungkan untuk promosi project hotel resort kyuhyun-jinna yang kebetulan akan dilaunching bulan depan. One shot for all birds, mana mungkin ayahnya melewatkan kesempatan itu.

 

Cho yonghwan hanya tersenyum saat menilik isi koran yang disodorkan kyuhyun padanya.

“It came out well..” komentarnya dengan tenang tanpa ada sedikitpun jejak kecemasan dari suaranya.

 

“Kau tau.. kau membesarkanku dengan terlalu baik. kurasa kepala kita berjalan dengan terlalu serupa hingga aku tak dapat berpikir hal diluar jalur yang kau pahatkan. Mengapa aku tak hidup semauku seperti yang dilakukan ahra noona, sejujurnya karena aku tak menemukan alasan untuk melakukan hal itu. Sulit mengakuinya tapi perhitungan yang dijalankan kepalaku menghasilkan hasil yang sama persis dengan keinginanmu. seberapa gila-pun aku akan musik, kalkulasiku menempatkannya hanya sampai di titik kegemaran, tidak pernah lebih. Aku tau aku punya banyak tanggungan di pundakku dan aku tak mungkin, tidak bisa meninggalkannya hanya untuk keegoisanku sendiri.

 

Aku mengerti, bahkan terlalu mengerti.

 

Aku memaklumi segalanya. Hanya kali ini, untuk hal ini. berapa kalipun aku mencuci otakku aku tak dapat menerimanya appa. Aku tidak menginginkannya, aku tidak bisa menerimanya.

 

Jika kau merumuskan pernikahan ini untuk pelebaran perusahaanmu, aku akan mengabulkannya, aku telah mengabulkannya tapi aku dan jinna tidak akan menikah.” Tutup kyuhyun tegas menolak script yang telah disediakan ayahnya untuk pressconfrence sore itu.

 

“Gadis itu kan? Yang katanya sahabatmu, Kim hyejin?” Ujar cho yoghwan tenang seperti telah mengetahui apa yang ada dalam kepala kyuhyun.

 

“Mungkin kau tak akan percaya ini, tapi aku bersumpah aku telah berusaha melupakannya. Walaupun ternyata hasilnya tak memuaskanmu aku telah mencobanya appa. Seperti yang kukatakan tadi, how our brains work are way too similar. Tanpa aku sadari aku melangkah sesuai dengan cara yang kau inginkan. Aku pernah berusaha menutupnya dari hidupku, hanya sayangnya aku tidak berhasil. Aku masih ada disini abeoji.” Jelas kyuhyun memohon padanya.

 

“Kau tau aturannya cho kyuhyun. Jika bukan kau maka ahra yang akan menggantikannya. Simple.”

 

“Aku yang akan melakukannya.” Potong ahra mengajukan dirinya secara sukarela saat muncul dari pintu dibelakang kyuhyun

 

“Aku bahkan telah meluluskan project bersama jinna dan kau masih akan memaksakan kehendakmu pada ahra?” Bantahnya tak percaya “Aku tidak tau kau setamak ini abeoji..” ujarnya sarkastik, kecewa melihat cara bermain ayahnya.

 

“Cho Kyuhyun.” Sentak ahra memaksa kyuhyun tutup mulut dan menyingkir dari sana.

“Untuk ekspansi perusahanmu aku yang akan melakukannya. Aku akan menyetujui perjodohan dengan calon usulanmu, jadi biarkan kyuhyun memilih pasangannya sendiri. bukankah sudah terlalu banyak yang ia korbankan untuk memenuhi impianmu?” Lanjutnya tegas memberikan opsi terakhir saat berusaha keras melindungi adik satu-satunya.

 

Cho yonghwan menatap wajah kecil yang menantangnya tak gentar saat berdiri disamping kyuhyun yang dengan jelas terlihat sangat tidak setuju dengan ide kakaknya.

 

“Noona… tidak bisa seperti itu.” bantah kyuhyun tak sependapat dengan kondisi yang ditambahkan ahra.

 

“Aku setuju.” Jawab cho younghwan singkat.

 

“Abeoji.. aku tidak setuju jika ahra noona terlibat dalam masalah ini.. aku…..”

 

“Bungkukkan kepalamu lalu berterima kasih lah.” perintah ahra sambil menjambak ubun-ubun kyuhyun lalu membuatnya membungkuk sebelum melakukan hal yang sama lalu berlalu dari ruangan itu.

 

***

 

“Bagaimana bisa aku berbahagia jika aku harus mengganti kebebasanmu untukku.” Ujar kyuhyun menggebu satu detik setelah ahra menutup pintu ruangan ayahnya.

 

“Biar aku yang memikirkan itu nanti. Yang aku tau pasti, Jika kau tak bersamanya kau tak akan berbahagia, jika kau tak berbahagia maka aku pun demikian. Aku menyelamatkan kebahagiaanku sendiri. apa menurutmu aku dapat merasa bebas jika melihat adikku menderita?” Balas ahra sama emosinya dengan kyuhyun.

 

“Lalu kau pikir aku bisa merasa bebas jika melihat kakakku menderita? saat aku terlepas sekarang kau yang harus terbebani dengan perjodohan sampah ini. Menurutmu itu tak mengganggu ku?” ujarnya kesal karna tak bisa berbuat apa apa disamping keputusan yang sudah terjadi.

 

“Yaa.. Siapa tau ia menjodohkanku dengan chaebol tampan yang memiliki senyum memukau.” Hibur ahra mencoba membuat kyuhyun tersenyum dengan lelucon awkward-nya.

 

“Aku tau itu bukan tipe-mu.” Jawab kyuhyun datar

 

“Begitu kah?” Tanya ahra ambigu.

 

“Kau itu.. suka lelaki bersifat aneh dengan rahang v-line dan sorot mata tajam seperti keluar dari komik. Saat ia tak tersenyum ada kesan dingin yang dipancarkan matanya tapi semuanya berubah hangat ketika ia tertawa lebar hingga mata sipitnya hampir menghilang. Point plus jika ia memiliki telapak tangan dengan ukuran yang luar biasa kecil.” Ujarnya menjelaskan secara detail pria ideal yang di inginkan kakak perempuannya.

 

“Alien planet mana yang kau bicarakan? Adakah manusia seperti itu di dunia ini?”

 

“Walau aku belum memastikan ia manusia atau bukan, setidaknya aku mengenal satu organisme dengan ciri- ciri serupa” ahra menjitak kepala adiknya lalu menghembuskan napas lega saat menatap wajah kyuhyun lagi.

 

“Aku lega karena kau tak melupakan hyejin seperti yang aku takutkan. aku sangat mengkhawatirkannya.. bukankah sebaiknya kau menemui hyejin sekarang? Kurasa dia ada di suatu tempat bersama jongwoon.. but you have settled things with jongwoon, haven’t you?”

 

Senyuman kyuhyun otomatis merekah mendengar ocehan kakaknya lalu memeluknya erat.

 

“Kau tak perlu mengkhawatirkan diriku. Khawatirkanlah masa depanmu sendiri.. it’s 4 hours till press confrence right?”

 

 

***

~Flashback~

One week after hyejin-kyuhyun runaway incident.

 

Siang itu, Kyuhyun memerintahkan supir pribadinya menepikan kendaraannya di dekat cafe jongwoon disela perjalanan menuju hotel tempatnya mendaftarkan diri untuk memulai semua rencana besarnya. Ia berjalan masuk ke dalamnya lalu mendekat pada jongwoon yang untungnya berdiri di depan meja kasir hingga ia tak perlu membuat lebih banyak pergerakan mencurigakan untuk menemuinya.

 

“Satu Flatwhite” ujar kyuhyun cukup keras untuk memperdengarkannya pada seisi cafe itu.

 

 

“I love her. I won’t let her go. I can’t” ujar kyuhyun lagi dalam kepalanya saat jongwoon menoleh padanya.

 

“Apa kau liat orang-orang dibelakangku? Ini yang terjadi padaku, dan aku tak ingin hal yang sama terjadi pada hyejin” lanjutnya masih secara rahasia berteriak dalam kepalanya khusus untuk jongwoon.

 

 

“Satu flat white.. size regular?” Ujar jongwoon sama kerasnya untuk terdengar sampai di telinga pengikut pengikut kyuhyun.

 

Kyuhyun mengangguk lalu kembali berbicara dalam hatinya.

 

 

“Hyung, I’m being watched every second. please trust me aku hanya punya cara ini. Aku tak berkeinginan untuk memajang namanya menjadi target ayahku disaat aku berdiri polos tanpa senjata apapun. I will marry her at all cost. I will win this for her. Just let me do in my way.” Ujar kyuhyun memohon pengertian jongwoom yang ia tau tak akan tinggal diam jika ia tak menjelaskan apapun atas kelakuan lucunya.

 

Jongwoon menerima satu gelas flat white dari barista-nya lalu ia memberikannya pada kyuhyun sambil membungkuk mendekat padanya.

“Sampai kapan..? I don’t know where your limit is, but she is dying missing you.” Bisiknya singkat.

 

“So am I. Like crazy..”

 

~Flashback end~

 

***

 

“Dari mana saja kau, hyung.” Sapa henry yang lalu berjalan keluar counter untuk menghampiri jongwoon. Jongwoon menyapanya singkat lalu menunjuk ke arah hyejin.

 

“Sedang apa kau disini?” Ujar jongwoon tak setuju melihat hyejin berdiri di depan meja kasir menangani pesanan pelanggan. Tak ada jaminan jika pelanggan mereka tak akan membucarakan soal headline surat jabar pagi ini dihadapannya.

 

“Ada apa dengan kalian berdua hari ini?” Tanya hyejin bertolak pinggang bingung melihat keduanya kompak sekali mengasingkannya dari dunia hari ini. Henry menghabiskan satu sendok terakhir eskrim digelasnya lalu menyerahkan ponsel hyejin ke tangan jongwoon.

 

“Ia akan menyelesaikannya hari ini, kan?” Bisik henry setelah melihat update berita di internet jika pihak kyuhyun akan memberikan pressconfrence sore ini.

 

“Aku pulang dulu… you know.. I shouldn’t have this not so profitable affection for him. Duh.. lihat saja, Jika aku tak menyukai hasilnya aku akan kembali untuk sungguh-sungguh mengejar adikmu”

 

***

~Flashback~

Seoul Hospital-Hyejin’s room

 

“Dibanding mencerna rasa sakit yang saat itu tiba tiba ku rasakan, dibanding mempelajari fakta yang tiba tiba ku ingat, pertanyaan tentang keputusanku kala itu kembali mengapung kepermukaan. saat itu…bahkan sampai detik ini aku tidak tau apa sebaiknya aku mengingat wanita ini atau tidak.”

 

Henry berdiri diam di sana terlihat berusaha menyimak setiap kata yang keluar dari bibir kyuhyun sebaik yang ia bisa lakukan.

 

“When l was associated with her, She’s hurt. But then she’s at this state now as I tried to be oblivious about her. Lalu aku harus bagaimana..?” Ujarnya tanpa banyak ekspresi di wajahnya.

 

“Lalu kau… menyesalinya?” Tanya henry penuh kecemasan dalam setiap kata yang diucapkannya. Wajahnya makin kelam saat kyuhyun hanya diam tak menjawab apapun. Bukan tak ingin menjawabnya, kyuhyun juga belum selesai memikirkannya dan henry hanya menambah kekesalannya karena mengingatkannya akan hal itu.

 

 

“Dengar Henry Lau… bukan waktunya kau seperti ini. Jika kau mewawancaraiku lalu ingatanmu dapat kembali?” Jawab kyuhyun emosi.

 

 

“Bukankah setidaknya aku harus memastikan dulu apa yang akan terjadi nanti baru bisa mengetahui aku menginginkan ingatan ini kembali atau tidak.. aku akan menyukainya atau tidak.. apa yang terjadi saat kau mengingat segalanya? Lebih baik kau tak mengingatnya? kau tak menyukainya? kau menyesali kembalinya ingatanmu? Beri tahu aku itu saja.” Paksa henry masih dikuasai ketakutan merasa waktunya untuk menghadapi hal yang sama juga sudah dekat.

 

Kyuhyun menatap henry sebentar lalu menarik napasnya dalam merasa simpati melihat pria itu tak lagi ceria tapi begitu dikuasai ketakutannya.

 

“Firstly it’s hurt. Setelah mau tidak mau membandingkan apa yang terjadi dan apa yang kau bayangkan saat menutup mata dan menghindar, bagaimanapun, rasa sakit itu datang lebih dulu dari yang lain.” Ujarnya pelan kini menatap wajah hyejin disebelahnya, meninggalkan henry yang kembali menautkan kedua alis matanya bingung. Kyuhyun menghembuskan napasnya kecewa lalu mengepalkan tangannya kesal.

 

 

“Jika ada yang aku sesali dari semua kejadian ini, aku menyesal karena masih tak berhasil melindunginya setelah semua usaha gila-ku ini. Untuk kasusku, I was so scared of her, of my feeling that goes around her. There are many things would ruined just by admitting that silly feeling. My friendship, my father plan, my so called devoted-son life, her life, herself. I was so scared.” Akunya untuk pertama kalinya pada orang lain-yang secara teori tidak bisa disebut manusia.

 

 

“Kau pun demikian, kan? Henry lau?” Tanya-nya kemudian.

 

 

“Tanpa menyadarinya, kita terlalu fokus pada diri kita sendiri hingga hal seperti ini terjadi. Apa aku sanggup melaluinya, apa aku harus menghadapinya, mengapa hal ini harus terjadi padaku.” Lanjutnya menatap henry lurus lurus menarik kemiripan diantara keduanya.

 

 

“I was too busy thinking about myself then choosing the easiest way out of all choices. karena aku terlalu bodoh untuk membedakan lagi apa yang hatiku inginkan dan apa yang kepalaku pikir harus kulakukan. Karena lagi-lagi, aku terlalu takut untuk sekedar mengintip kedalam hatiku sendiri. I’m going back to my oldself cho kyuhyun.

 

Untuk kesekian kalinya, I shoved her away…

 

aku menutup mataku berpura pura tak merasakannya, berpura-pura tak mendengar saat hatiku dengan jelas mengeja setiap suku kata yang ada dalam namanya.” Kyuhyun terbang jauh membayangkan bagaimana kelakuannya beberapa hari terakhir itu sama sekali tak dapat dibanggakannya.

 

 

 

“That time, We were so scared to face the truth. That time, It was really horrible, wasn’t it? Henry lau?” Panggil kyuhyun saat menatap henry menembus kedua matanya yang mulai bergerak tak menentu.

 

 

“Kau juga menghindar karena kau tak berani melihat hasil yang akan terjadi nanti. Akuilah itu dulu. Aku tak punya jawaban bagaimana cara kau menghadapi kenyataan itu nanti, terlebih apa kau harus mengakhirinya atau tidak.

Tapi jika kau ingin mengakhirinya, tanyakan pada dirimu sendiri. Bagaimana bisa aku mewakilkanmu memberikan jawaban dari kehidupanmu sendiri.. Soal menyesalinya atau tidak, hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya usai mempelajari semuanya nanti.”

 

 

Henry mengalihkan matanya dari tatapan kyuhyun yang cukup mengintimidasi lalu menatap wajah hyejin lagi mengingat bagaimana ekspresi di wajahnya saat itu mengetuk ingatannya untuk keluar.

 

 

“That time might be a nightmare, but it was that time. Time passes henry… you would never ever know anything if you’re not figuring it out now. Apa yang kau takutkan, kau tak pernah sendirian disana. Bukankah orang tuamu selalu menunggumu menyambut uluran tangan mereka? Apakah kau harus membuat mereka menunggumu lebih lama lagi?” Ujar kyuhyun memberikan pendapatnya atas masalah henry yang sedikit banyak didengarmya dari jongwoon dan ahra.

 

 

Henry begitu goyah mendengar kalimat panjang dari kyuhyun. Ia berjalan mundur mencoba meraih apapun untuk menahan tubuhnya yang bergetar walau sesungguhnya tak perlu dilakukannya. ia menabrak meja tempat perawat meletakkan makanan untuk hyejin, membuatnya bangun menyadari keberadaan kyuhyun yang berada seorang diri di ruang rawatnya.

 

“kyuhyun ssi?”

 

~Flashback end~

 

***

 

Jongwoon tersenyum mengambil gelas yang hampir dibawa pulang henry lalu berjalan mengantarnya kedepan sementara hyejin masih menguasai meja kasir dengan paksa untuk mengisi waktu luangnya hari ini. Jongwoon melambai singkat saat henry membuka separuh jendela mobilnya untuk menjulurkan tangan sebelum menghilang dari sana. Jongwoon menarik napasnya dalam dalam saat menutup kedua kelopak matanya lalu berbalik melangkah kembali ke dalam cafe miliknya setelah mengatur singkat ekspresi di wajahnya. Belum sampai ditempat hyejin berdiri jongwoon kembali berhenti untuk mengecek ponselnya yang bergetar menunjuk satu message yang mampir di dalamnya.

 

 

 

[Hyung, bisakah kau culik noona-ku bawa ia pergi sejauh-jauhnya dari seoul sampai besok?]

 

.

Jongwoon hanya diam menatap lagi pesan yang barusan diterimanya. Tak lama berselang satu pesan menimpa lagi kotak masuknya.

 

[Oh.. kau d cafe? Hyejin masih bersamamu kan?]

 

Jongwoon refleks menoleh menemukan pintu cafenya mendengungkan bunyi bell lalu memunculkan wajah kyuhyun dari baliknya.

 

“Maaf merepotkan mu, Hyung..” ujarnya seraya menyisipkan secarik kertas kecil itu di tangan jongwoon lalu berjalan mendekati satu-satunya pemeran utama wanita dalam hidupnya.

 

Jongwoon membuka kertas yang hampir tak berbentuk itu dan menemukan satu alamat di dalamnya bersama catatan kecil yang tentu saja berasal dari kyuhyun.

 

Noona menukar posisiku dengannya. Ia akan bertemu dengan pria yang akan ditunangkannya disana, lalu mereka akan berangkat bersama ke press-confrence sebagai pasangan yang ‘seharusnya’ diberitakan di headline pagi ini. Kuharap kau dapat menghalanginya, hyung.. Aku akan mengurus hyejin dan perihal press confrence nanti malam. I leave her to you..

 

***

 

“Selamat datang, bisa kami bantu pesanannya?” Ujar hyejin mengalun begitu saja seperti rekaman kaset saat sensor matanya menemukan pelanggan yang berjarak satu meter darinya.

 

“Kau… sudah lama menunggu… Hyejin-ah?” Ujar kyuhyun hati hati saat menantikan ekspresi di wajah hyejin yang terperangah seperti melihat hantu dihadapannya.

 

“Hei” Kyuhyun melambaikan tangannya berusaha menarik perhatian hyejin lalu menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“..aku kembali…” tuturnya takut-takut.

 

Tanpa bicara air mata hyejin jatuh menyambut sapaannya sambil memperhatikan wajah manusia yang berbicara padanya detik itu.

 

“Apa hujan turun disini? Mengapa pipimu basah seperti ini?” Ujarnya menyeka pipi hyejin dengan punggung tangannya hati-hati.

 

Bukan berhenti akibat sentuhannya, tangisan hyejin malah makin menjadi. Hyejin lalu berbalik segera mencari serbet atau apapun untuk menghentikan aliran air dari matanya tumpah lebih dari itu. Kyuhyun berjalan melalui sela sela meja display pastry dan meja counter dihadapan hyejin lalu menangkup wajah hyejin dengan kedua tangannya, “mengapa menangis…” ujarnya pelan.

 

“Maafkan aku.. Jika kau begini terus aku jadi apa..” ujarnya berusaha menghapus jejak air mata dari wajah hyejin.

 

“Ini benar kau?” Ujar hyejin mengusap wajahnya menggantikan tangan kyuhyun yang telah basah dengan air matanya.

 

Kyuhyun mengangguk, “Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu lama. Kau….memaafkanku kan, hyejin-ah?”

 

Kyuhyun melangkah mundur lalu merentangkan tangannya lebar menunggu jawaban hyejin.

 

Hyejin mengusap matanya lagi, tanpa banyak bicara ia melangkah maju lalu mengubur wajahnya dalam pelukan kyuhyun. Ia menangis sejadi jadinya. Entah sudah berapa lama ia merindukan panggilan itu, entah sudah berapa malam ia menangis ingin mendengar suara itu. Tanpa henti kyuhyun mengusap punggungnya, ia mengutuk dirinya untuk membuat wanita ini terluka lagi.

“Mianhe… jongmal mianhae… ” ujarnya tak bisa berkata apapun lagi. Kyuhyun hanya mematung saat hyejin mengeratkan pelukannya takut kyuhyun akan hilang lagi dari sisinya.

 

“please stop crying.. you’re breaking my heart..” ujar kyuhyun akhirnya tak tahan lagi melihat hyejin menangis dihadapannya.

 

Hyejin mengatur napasnya, “It’s just… because I miss you… much….” tuturnya dengan suara serak diantara isak tangisnya. Seribu belati kembali menusuk jantung kyuhyun. Ia menguraikan pelukannya lalu mencengkeram pundak hyejin sebagai gantinya.

 

“Me too.. even now… I miss you..”

 

Kyuhyun menghapus lagi air mata di pipi hyejin yang masih tak bisa dibendungnya.

 

“I love you.. Kim hyejin.” Ujarnya sambil mengeluarkan satu cincin dari saku celananya,

 

“My bestfriend kim hyejin. Will you marry me. Aren’t you?” Lamarnya jauh dari kata-kata manis, jauh dari suasana romantis, ia memasang cincin itu di jari hyejin begitu saja tanpa menunggu tanggapan darinya

 

“You have to marry me though..” lanjutnya sambil mengangkat kepalanya penuh percaya diri.

 

“Karena Cho kyuhyun hanya aku.”

 

 

 

***********…end…*************

 

2 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Apr 06, 2016 @ 10:34:27

    Woaaah…. Terharu sama perjalan cinta kyuhyun dan hyejin. Akhirnya mereka bisa bersatu dan kyuhyun langsung melamar hyejin.
    Jadi kasihan sama ahra, berharap sih jongwoon bawa kabur ahra sebelum ahra dijodohkan dgn org lain.

    Reply

  2. Yz
    May 24, 2016 @ 09:27:03

    Sequel please thor;’)

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: