When I Was When You Were

When I Was When You Were by Bella Eka

 

Author : Bella Eka. / samshinfiction.wordpress.com

Casts     : Cho Kyuhyun | Sam Rinhyo (OC) | Kim Junmyeon.

Genre   : Romance, Sad.

Rating  : T

Length : Oneshot.

A/N      : Hai ^^ songfic ini terinspirasi dari lagu dengan judul sama yang dinyanyiin Krystal sama Chen :3 jangan copas jangan plagiat ya, ayo berkarya bersama wkwkwk. Terimakasih buat admin yang udah posting *bow*

Happy Reading~

.

.

.

 

Hanya detakan teratur jam dinding mengisi keheningan ruangan. Dalam diam Cho Kyuhyun mengunyah tanpa selera menu sarapan roti panggang yang baru saja ia buat sendiri dengan ditemani segelas susu putih di atas meja makan. Entah mengapa roti itu terasa hambar hingga membuat Kyuhyun enggan menelannya, gerak mulutnya begitu pelan dengan sorot mata memandang kosong ke depan. Menyedihkan, karena tidak benar menyalahkan roti tanpa dosa itu atas kehambaran yang ia rasa, melainkan dirinya sendiri, ia sendiri yang menyebabkan segala kehampaan ini.

Pandangan menerawang Kyuhyun menangkap sosok seorang gadis, gadis itu seolah tampak nyata tengah duduk di hadapannya, senyuman manis gadis itu begitu jelas hingga tangan Kyuhyun terangkat hendak menyentuhnya, “Rinhyo-ah?”

Hilang.

Bayangan itu menguap tak tersisa, hanya angin tak berwujud yang mengisi kekosongan dalam tangan Kyuhyun yang mengepal. Semua telah hilang, seandainya ia menyadari lebih awal bila kehilangan Sam Rinhyo berarti kehilangan seluruh rotasi hidupnya, seandainya ia menyadari lebih awal bila tak ada gadis lain yang ia butuhkan selain Sam Rinhyo, seandainya ia tak memperkokoh keegoisannya terhadap gadis itu, seandainya ia tak terlalu bodoh melepaskan Sam Rinhyo semudah itu tepat setahun yang lalu.

 

“Kau tidak bisa makan lebih cepat?”

Kyuhyun hanya menggumam samar disela ia mengunyah roti tanpa memedulikan Rinhyo yang memintanya bergerak lebih cepat. Sekadar menyantap roti panggang, sebenarnya bisa saja ia melakukannya sembari menyetir untuk mempersingkat waktu namun hari itu Kyuhyun sama sekali tak berminat melakukan apapun.

“Cepatlah, nanti kita bisa ketinggalan pembukaan festival musim semi, Kyu.”

Kyuhyun sebenarnya menyadari Rinhyo yang berulang kali menatap arlojinya gusar, namun Kyuhyun benar-benar enggan mempercepat gerakannya dan terus tak mengindahkan ucapan gadis itu.

 

Entah mengapa, hari itu, Cho Kyuhyun merasa bahwa Sam Rinhyo adalah gadis paling mengesalkan di dunia.

 

“Bisakah kau berhenti bergerak? Kau membuatku tidak nyaman.” Nada datar suara Kyuhyun jelas menggambarkan tidak adanya kepedulian lagi dalam dirinya. Kyuhyun mengambil segelas susu dan meneguknya.

“Kau sudah beberapa kali mengatakan itu, apa aku terlalu membuatmu tidak nyaman?” Rinhyo berucap hati-hati, wajah gadis itu tampak menegang begitu mendengar kalimat yang bukan pertama kalinya lagi Kyuhyun ucapkan padanya, bahwa pria itu tidak nyaman karenanya.

“Ah, sudahlah,” desis Kyuhyun setelah meletakkan gelas kosong di atas meja, lalu berdiri mengambil jaketnya yang tergeletak di sofa.

“Kyu.” Suara Rinhyo hampir tak terdengar, terlampau lirih.

“Apa lagi?”

“Kau mulai tidak tahan denganku? Apa keberadaanku terlalu mengganggumu?”

Gerakan Kyuhyun yang tengah mengenakan jaket terhenti, sorot matanya bertemu tatapan sendu Rinhyo membuat Kyuhyun menghela napas kasar, “Lupakan saja, tadi aku hanya asal bicara.”

“Aku baik-baik saja selama kau mengatakan yang sebenarnya, Kyu. Kau benar-benar merasa begitu?”

“Sudah kubilang lupakan saja, Hyo! Aku hanya sangat lelah karena baru saja pulang dini hari tadi karena urusan pekerjaan, jadi berhentilah menanyaiku ini itu yang tidak penting.”

 

Saat itu, kalimat itu, kalimat yang baru Kyuhyun sadari betapa menyakitkannya setelah Kyuhyun kehilangan gadis itu. Seandainya ia tak sebegitu bodohnya hingga berucap sekasar itu, seandainya… Seandainya.

 

“Ini itu yang tidak penting?” Bola mata Rinhyo bergetar menatap Kyuhyun, kedua tangannya mengepal kuat.

“Ayo berangkat, kau tidak ingin ketinggalan pembukaannya, kan?”

“Tidak usah, beristirahatlah saja, aku akan pulang. Seharusnya katakan lebih awal jika kau sedang lelah jadi kau tidak akan terganggu kedatanganku kesini.” Rinhyo menyambar tas jinjingnya lantas bergegas meninggalkan Cho Kyuhyun.

 

Kyuhyun hanya mampu berandai-andai dan menyesali semua yang telah terjadi sejak saat itu hingga sekarang. Namun tak sampai disini, ia tak mau terus hidup diselimuti kehampaan hati seperti ini, ia harus membangun dan mengembalikan semua tepat di hari pembukaan festival musim semi hari ini, karena Kyuhyun yakin pasti gadis itu dapat ia temui disana.

Setelah menatap sekilas waktu jam dinding Cho Kyuhyun meletakkan roti panggangnya yang masih tersisa separuh lalu meneguk sedikit susu putihnya, tak ada waktu lagi, ia segera beranjak menyambar kunci mobil dan bergegas keluar.

 

***

 

Dengan penuh antusias Sam Rinhyo berdiri di barisan penonton terdepan untuk melihat pembukaan festival musim semi. Semakin lama semakin padat orang-orang yang terus berdatangan membuat keadaan semakin berdesak-desakan. Namun Rinhyo tetap berdiri disini, menunggu dimulainya acara yang selalu ia nanti sepanjang tahun, pembukaan festival musim semi yang selalu mampu membawa gadis itu kembali pada kenangan-kenangan indah yang dipastikan tak mungkin terulang lagi dalam hidupnya barang sekalipun.

“Kau tidak apa-apa di tengah suasana seperti ini?”

Rinhyo menatap Kim Junmyeon bersamaan merasakan pria itu semakin erat menggenggam tangannya. Rinhyo mengangguk mantap seraya tersenyum manis, “Kau tidak perlu khawatir.”

“Jika kau merasa tidak nyaman katakan padaku, jujur saja aku tidak nyaman disini, sangat panas.” Junmyeon mengipasi wajahnya menggunakan tangannya yang terbebas.

“Tidak nyaman?” Dua kata itu lagi, kata-kata yang menjadi terlalu sensitif sekarang di telinga Rinhyo. Gadis itu melepas genggaman tangan Junmyeon, “Jika ini membuatmu tidak nyaman kau bisa pergi saja, bukan masalah aku sendirian disini.”

Junmyeon dibuatnya terkejut, tak mengerti sebab Rinhyo tiba-tiba berubah dingin dalam sekejap. Segera Junmyeon meraih tangan Rinhyo kembali, menautkan kelima jari gadis itu dengan jari-jari miliknya, dengan begini mereka tidak akan terpisah dengan mudah, “Aku juga tidak masalah selama kau ada bersamaku, karena aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dan membiarkan pria-pria lain mencari kesempatan untuk berdesak-desakan denganmu, aku tidak akan memberi mereka celah.”

Rinhyo tertawa kecil, Junmyeon yang menggeleng-geleng dengan wajah tak terima benar-benar terlihat lucu, “Memangnya apa yang akan kau lakukan pada mereka?”

Junmyeon memasang ekspresi serius menatap Rinhyo, “Rahasia,” ucapnya lantas tersenyum jahil.

“Tapi jika tidak tahan berada disini kau bisa pergi, aku benar-benar bisa menjaga diriku sendiri.” Rinhyo mengulas senyuman tipis, ia tidak ingin membuat Junmyeon memaksakan diri untuk terus berada di sisinya.

“Kenapa kau terus berkata seperti itu? Dengar, Sam Rinhyo, lebih baik hatiku tetap sejuk bersamamu dalam suasana panas seperti ini daripada aku terbakar sendiri di tempat yang sejuk karena melihatmu digoda pria-pria lain.” Junmyeon merengut tak suka, “Tapi kenapa kau terus mengusirku? Kau ingin membunuhku, hm?”

Kepolosan Junmyeon kembali membuat Rinhyo tertawa kecil, “Bagaimana bisa aku membunuhmu hanya dengan cara seperti itu, Kim Junmyeon?”

“Kau tidak sadar? Selama ini kau membunuhku perlahan-lahan, Sam Rinhyo.”

Kekehan Rinhyo terhenti menyadari keseriusan dalam wajah Junmyeon yang tampak alami tanpa dibuat-buat. Pria itu menatapnya lekat membuat Rinhyo tak tahan dan memalingkan pandangan. Rinhyo sontak mengalihkan pembicaraan begitu lukisan bunga dalam kanvas raksasa ditampilkan sebagai pertanda pembukaan festival dimulai, “Lihat itu, Junmyeon-ah, indah sekali.”

 

***

 

Rangkaian pembukaan festival telah usai, Sam Rinhyo duduk di kursi panjang sementara Kim Junmyeon masih asyik berbincang dengan teman lamanya. Rinhyo tersenyum dan mengangguk ketika Junmyeon memberi tanda agar ia menunggu sebentar. Bertemu teman yang sudah bertahun-tahun tak dijumpai tentu merupakan saat yang menyenangkan untuk melepas rindu. Rinhyo tak berkeberatan sama sekali meski Junmyeon membutuhkan waktu yang lama karena Rinhyo sangat mengerti itu.

Suara berisik pertengkaran sepasang kekasih yang tengah melintas di depan Rinhyo membuat perhatian gadis itu teralih. Sedikit banyak Rinhyo mampu menyimpulkan penyebab pertengkaran mereka melalui percakapan yang terdengar sekilas. Sepertinya sang gadis merasa kesal karena keterlambatan sang pria dan membuat mereka melewatkan acara pembukaan festival musim semi. Rinhyo tersenyum kecil ketika sang pria terlihat berusaha membujuk dengan begitu lembut, mereka tampak sangat manis, sepasang kekasih yang masih dimabukkan oleh kemanisan cinta.

Namun sepasang kekasih yang sekarang sudah tampak berbaikan itu menyebabkan sekelebat kenangan pahit Rinhyo berputar dalam pikirannya. Kenangan yang terjadi tepat setahun lalu, kenangan yang membuatnya kembali teringat akan pria itu, kenangan yang selalu ia kubur lebih dalam setiap harinya.

 

Rinhyo bukan gadis yang pandai berpura-pura, Rinhyo bukan gadis yang gemar membohongi orang lain terlebih dirinya sendiri, Rinhyo sama sekali bukan gadis yang seperti itu. Itu sebabnya wajah Rinhyo yang begitu dingin dan datar menggambarkan sepenuhnya perasaan gadis itu sekarang. Dirinya dan Kyuhyun baru saja sampai ke tempat ini, ke pembukaan festival musim semi meski terlambat. Namun Rinhyo bukan gadis kekanakan yang marah besar hanya karena hal-hal kecil seperti terlambat menonton festival, melainkan kepura-puraan dan keterpaksaan, Rinhyo begitu membenci dua hal itu.

Rinhyo tak mengacuhkan Kyuhyun yang berulang kali menatapnya heran. Keinginannya menikmati pembukaan festival ini bersama Kyuhyun hilang sudah setelah ucapan pria itu yang menyatakan tidak lagi nyaman dengannya. Lebih baik ia pergi sendiri, lebih baik ia menghabiskan waktu di acara penuh kenangan ini seorang diri.

“Kenapa wajahmu terus seperti itu? Kau tidak suka?”

Pertanyaan Kyuhyun semakin memperbesar lubang kekesalan Rinhyo. Jelas pria itu sendiri yang tidak suka berada disini jadi untuk apa dia seolah mengerti segalanya dan bertanya seperti itu? Rinhyo tak berminat menanggapi, gadis itu hanya menghela napas kasar. Akhir-akhir ini Kyuhyun semakin egois, entah mengapa pria itu seakan melupakan segalanya termasuk alasan Rinhyo yang selalu antusias setiap tahun menunggu pembukaan festival musim semi.

Sebelumnya Kyuhyun tahu dan mengerti, namun sekarang ia sama sekali tak peduli.

“Kau jadi semarah ini hanya karena kita terlambat?”

Kyuhyun berpindah posisi berdiri tepat di depan Rinhyo, memblokir perhatian gadis itu agar terpusat penuh padanya. Namun Rinhyo tetap menjauhkan pandangannya menghindari tatapan tajam pria itu, gadis itu lelah meladeni pria keras kepala itu.

Karena Cho Kyuhyun sudah bukan lagi Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun di hadapannya sekarang sama sekali bukan Cho Kyuhyun yang membuatnya jatuh cinta atas segala kelembutannya dulu.

Seolah menandakan hati yang tak lagi searah, tangan mereka tak sekalipun tertaut. Kedua tangan Kyuhyun yang dulunya tak pernah membiarkan tangan Rinhyo bergelantungan tak tentu arah, yang gemar memenjarakan tangan mungil gadis itu dalam genggamannya, kini tersembunyi sepenuhnya ke dalam saku celana, membiarkan tangan Rinhyo yang terkepal di kedua sisi tubuhnya kedinginan.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun? Apa yang kau inginkan?”

“Pulang, aku ingin pulang,” jawab Rinhyo jujur. Gadis itu ingin segera menyudahi kebersamaan mereka yang ia tahu hanya membuat Kyuhyun terpaksa terus menemaninya dan berpura-pura bersedia menuruti apapun keinginannya.

Karena Rinhyo sangat membenci orang-orang yang berpura-pura menyukainya, juga mereka yang menghabiskan waktu dengannya dengan terpaksa.

Meskipun itu Cho Kyuhyun, kekasihnya sendiri, ia tak ingin membebani pria itu, karena ia sadar bahwa melakukan sesuatu dengan terpaksa benar-benar menjengkelkan. Rinhyo tak ingin menjadi gadis yang menjengkelkan, Rinhyo berusaha menguasai egonya dengan menurunkan kadar emosinya serendah mungkin untuk menjaga hubungan ini, meski raut wajahnya tetap tak pernah bisa membohongi perasaan terdalamnya.

“Pulang? Semudah ini kau ingin pulang?”

Rinhyo mendongak menatap langsung sorot mata Kyuhyun yang tersirat begitu kesal, gadis itu menghela napas panjang.

Melalui tatapan itu Rinhyo mengerti, pria itu benar-benar tak menginginkannya lagi.

“Aku hanya ingin kau beristirahat, kau sedang lelah ‘kan?”

Senyuman miring Kyuhyun membuat jiwa Rinhyo terbanting. Senyuman satu sisi sudut bibir pria itu meruntuhkan tekad Rinhyo mempertahankan hubungan ini. Mungkinkah hubungan mereka memang harus terhenti disini?

“Aku sudah mengorbankan waktu istirahatku untuk menemanimu kemari dan kau dengan mudahnya berkata ingin pulang sekarang? Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

Rinhyo menarik napas dalam. Dengan berbagai pertimbangan logika disertai perasaannya, gadis itu memutuskan bahwa sekarang telah mencapai saat terakhir, ia tidak berniat menahan emosinya lagi, “Bukankah aku sudah mengatakan padamu jika aku ingin pulang sebelum kita berangkat tadi? Tapi kau yang terus memaksa, kau yang menggeretku memasuki mobil sampai kita berakhir disini sekarang, kau lupa?”

“Tapi acara ini memang sangat berarti untukmu ‘kan? Aku melakukannya karenamu, jadi tidak seharusnya kau bertindak seenaknya sendiri seperti ini.”

“Bertindak seenakku sendiri? Tch! Jadi kau masih ingat seberapa penting acara ini untukku? Jadi bukan karena kau lupa tapi karena memang kau sudah tidak peduli lagi? Cukup hentikan kepura-puraanmu, Cho Kyuhyun!”

“Apa maksudmu berpura-pura? Aku tidak berpura-pura.”

“Tidak, kau berpura-pura. Kau berpura-pura seolah kau melakukan semua ini karena peduli padaku, padahal kau hanya merasa terpaksa, kau terpaksa melakukannya dan merasa kasihan padaku karena sudah menjemputmu ke rumah tadi ‘kan? Aku tahu itu jadi biarkan aku pulang sekarang, aku benar-benar tidak suka merepotkan orang lain.”

“Apa yang kau katakan? Mungkin kau lelah, ayo kita beristirahat ke kafe saja sekarang.”

“Jangan memutarbalikkan keadaan, aku ingin pulang.”

“Tidak, kita butuh bicara.”

 

Pertengkaran antara dirinya dan Kyuhyun itu telah berlangsung setahun lalu, sudah cukup lama, namun ajaibnya emosi itu tetap terasa hingga Rinhyo meneguk ludah berat sekadar membasahi tenggorokan yang terasa sangat kering. Rinhyo menatap Junmyeon yang tampak sedang bertukar nomor ponsel dengan teman lamanya, melihat pria berwajah polos itu membuat perasaan Rinhyo disinggahi rasa bersalah.

Karena sejak setahun lalu itu Rinhyo belum lagi ingin terikat, karena pengalaman itu Rinhyo tak mudah membangun komitmen baru, entah sampai kapan Rinhyo akan terus dibayang-bayangi kenangan pahit yang tak ingin ia ingat lagi itu.

Rinhyo tahu Junmyeon adalah pria yang baik, Junmyeon selalu ada di sampingnya dalam keadaan bahagia hingga menyedihkan sekalipun, Junmyeon juga adalah orang pertama yang berhasil menyembuhkannya dari sayatan luka Cho Kyuhyun meski sedikit demi sedikit. Namun walaupun Junmyeon telah beberapa kali mengungkapkan perasaan padanya, Rinhyo hanya bisa tersenyum dan mengucap terimakasih selama ini, ia masih takut, keberaniannya masih belum cukup untuk menjalin hubungan baru.

Rasa haus Rinhyo terasa semakin kuat, gadis itu beranjak menuju Kim Junmyeon yang kini tengah menatapnya. Junmyeon terlihat berucap singkat pada temannya sebelum melangkah menghampiri Rinhyo.

“Aku akan menunggu di kafe saja, nanti temui aku disana.”

“Tapi kau jadi sendirian.”

“Tidak apa-apa, jarang sekali bisa bertemu teman lama di tengah jadwal masing-masing, bukan? Lagipula jarak kafenya juga sangat dekat.”

Junmyeon tersenyum lega mendapati Rinhyo yang sangat mengerti situasinya, tangannya tergerak mengacak rambut gadis itu pelan lalu merapikannya kembali, “Baiklah aku akan menyusulmu nanti.”

Rinhyo mengangguk sekadar seraya tersenyum manis, lalu memutar tubuh dan mulai berjalan mengarah pada tempat kafe. Aroma bunga-bunga bermekaran yang menyatu dengan udara sepanjang jalan membuat langkahnya tak terasa, begitu ringan seperti terbang di awang-awang. Seolah membawa jiwanya kembali pada saat-saat indah bersama kakak laki-lakinya beberapa tahun silam.

 

“Awal yang baru bukan disaat tahun baru, Hyo, tapi saat hari pertama musim semi. Kau tahu kenapa?”

“Tidak, bagaimana bisa begitu, Oppa?”

“Karena bukan hanya hati manusia yang merasa senang, tapi bunga-bunga juga, semua makhluk akan berbahagia saat datangnya musim semi. Semua tanaman memancarkan keindahan mereka, menebarkan aroma berharga mereka untuk manusia, padahal manusia terkadang lupa dan memperlakukan mereka semena-mena. Bukankah itu berarti musim semi adalah saat yang paling indah untuk berbagi dan memaafkan kesalahan satu sama lain?”

“Ah, benar. Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa Oppa selalu mengajakku serta ayah dan ibu ke pembukaan festival musim semi seperti ini? Festival ini selalu diadakan sepanjang musim, bukan?”

“Karena bagiku disinilah semua harapanku dimulai, seperti orang-orang kebanyakan yang memanjatkan doa mereka saat malam tahun baru. Berharap semua akan menjadi lebih baik di tahun depan, diberi kesehatan dan umur panjang, dan semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan pembukaan musim semi yang akan datang.”

“Kau pasti bertemu pembukaan musim semi tahun depan, kau akan benar-benar sembuh lalu kita akan kesini lagi jadi kau tidak perlu khawatir, Oppa.”

“Hei, kenapa kau menangis? Jangan cengeng, Sam Rinhyo. Hahaha. Berhentilah menangis, kau benar-benar terlihat jelek.”

 

“Sam Yeonseok, Oppa? Kau juga ada disini ‘kan? Apa kau sedang menertawakanku karena menangis lagi?” Rinhyo terkekeh kecil, mengusap setetes air matanya yang baru saja terjatuh.

Langkah ringan Rinhyo mulai memasuki pintu kafe, gadis itu langsung menuju tempat pemesanan, “Tolong satu vanilla latte,” ucapnya pada seorang pria pegawai kafe. Tak begitu lama pria itu memberi Rinhyo secangkir vanilla latte ditemani sebuah sendok teh di atas nampan. Rinhyo segera membayarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.

Sam Rinhyo membawa nampan berisi minumannya itu menuju salah satu meja kosong di samping jendela besar kafe. Gadis itu menghela napas ketika mendaratkan tubuhnya pada kursi, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas jinjingnya dan meletakkan benda itu di atas meja. Berjaga-jaga jika saja Junmyeon tiba-tiba menghubunginya.

Rinhyo mengaduk minumannya menggunakan sendok teh yang tersedia, menghirup kepulan asap di atas cangkirnya sembari menikmati pemandangan bunga-bunga bermekaran di luar kafe. Senyuman gadis itu terulas, bahkan aroma vanilla latte selalu terasa lebih wangi di pembukaan musim semi.

“Boleh aku duduk disini?”

Rinhyo sedikit menengadah menatap pemilik suara berat itu. Tangannya yang bergerak mengaduk minuman terhenti, begitu juga napasnya, sosok Cho Kyuhyun dengan membawa segelas minuman yang muncul di hadapannya tiba-tiba sontak menghentikan segalanya.

Cho Kyuhyun pun serupa, tubuh pria itu tak bergerak lagi setelah pandangannya beradu dengan tatapan terkejut Rinhyo. Akhirnya gadis itu ia temukan, akhirnya bukan hanya bayangan, akhirnya Sam Rinhyo yang selama ini ia rindukan berada nyata di hadapannya sekarang. Tangan Kyuhyun bergerak menyentuh pipi gadis itu.

Ini benar-benar nyata.

Jantung Kyuhyun berdebar kencang karena…

Sosok Rinhyo benar-benar ada.

Sayangnya Rinhyo tak suka Kyuhyun menyentuhnya, gadis itu menampik tangan Kyuhyun menjauh, “Apa yang kau lakukan?”

“Aku…” Lidah Kyuhyun yang biasanya sangat pandai berbicara mendadak kelu, ruang pikirannya tersapu bersih dengan hati yang berantakan. Tak ada satupun yang benar dalam dirinya, “Aku hanya melihat bangku ini kosong, bolehkah aku duduk?”

Konyol.

Kyuhyun mendengus samar setelah mengatakan kalimat terkonyol yang pernah ia ucapkan sepanjang usianya. Namun persetan dengan itu semua, Kyuhyun tak peduli lagi.

“Silakan saja,” ujar Rinhyo berusaha berucap senatural mungkin, berusaha menghilangkan rasa canggung yang menyiksa. Mungkin vanilla latte dapat membuatnya lebih baik, Rinhyo menyesapnya pelan setelah meniup minuman itu beberapa kali.

“Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi disini.”

Rinhyo hanya tersenyum kecil dan sangat singkat, sama sekali tak berminat membalas, terlalu enggan berbincang-bincang lebih dalam yang bisa saja menjalar ke masa lalu mereka. Karena Rinhyo sedikitpun tak ingin mengungkitnya.

“Bagaimana kabarmu?” Kyuhyun berucap canggung, lagi.

“Baik, seperti yang kau lihat.”

Kyuhyun mengangguk-angguk mengerti, “Syukurlah.”

Setelah itu hening. Rinhyo lebih memilih untuk memaku tatapannya pada bunga-bunga bermekaran sembari menyanggah dagu, sedangkan Kyuhyun menatap gadis itu gusar mencari pembicaraan yang bisa ia utarakan.

“Kau sedang menunggu seseorang?”

Kyuhyun yang terus melontarkan pertanyaan basa-basi membuat Rinhyo menghela napas panjang, lalu menatap pria itu datar, “Kau sendiri?”

“Ya, ada, seseorang.”

“Yoon Sohee?” Rinhyo menyeringai kecil, ia tak akan melupakan nama gadis yang menjadi kekasih Kyuhyun tak lama setelah mereka berpisah setahun lalu. Disaat dirinya masih saja belum bisa membuka diri untuk orang lain, saat itu, dengan mudahnya Kyuhyun berbahagia bersama gadis lain.

Entah merupakan suatu kebetulan atau memang Kyuhyun sejatinya adalah seorang pria brengsek yang mudah berpaling setelah menemukan gadis idaman lainnya. Rinhyo tak lagi peduli.

Kedua mata Kyuhyun melebar begitu Rinhyo mengucap nama itu, “Bukan, bukan dia. Kau sendiri siapa yang sedang kau tunggu?”

“Seseorang,” jawab Rinhyo seraya mengecek ponselnya, “Mungkin dia akan datang sebentar lagi.”

Seketika Kyuhyun terdiam. Tidak seperti dirinya, Rinhyo tampaknya benar-benar tengah menunggu seseorang lain, berbeda dengan dirinya yang nyatanya tak sedang menunggu siapapun.

Namun tetap saja Cho Kyuhyun tak berdusta, karena selama ini ia menunggu, sepanjang tahun ini.

Menunggu Sam Rinhyo untuk kembali padanya.

“Sudah lama sekali, ya. Sejak terakhir kali kita duduk berhadapan seperti ini.”

“Sejak kita duduk bersama dan mengakhiri semuanya disana?”

Rinhyo yang berucap ringan sembari menunjuk sebuah meja tepat di pojok kafe ini, lagi-lagi membuat Kyuhyun membisu.

 

“Sebaiknya kita berhenti.”

“Apa maksudmu?”

“Kau berhenti berpura-pura bahagia bersamaku, dan aku berhenti mengganggu kehidupanmu.”

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

Rinhyo tersenyum kecut melihat tatapan Kyuhyun yang sepenuhnya tampak datar, tanpa perasaan, “Aku tahu kau mengerti maksudku, kau hanya berpura-pura tidak tahu, kau sudah terlalu banyak berpura-pura. Aku muak.”

“Kurasa kau hanya lelah, sepertinya kau butuh minum.”

“Aku tidak butuh minum dan tidak butuh kau. Jadi berhentilah bersikap bodoh dan mari kita akhiri semuanya.”

“Haruskah?” Kyuhyun menggigit bibir bawahnya emosi, jarinya mengetuk-ketuk meja kafe dengan kasar. Jauh dalam hatinya, ia juga muak dengan hubungan yang terlalu lama dan semakin membosankan ini.

Rinhyo mengatupkan bibirnya kuat, menahan dorongan dalam dirinya yang semakin mendesak untuk meledak, kedua tangannya yang kini bergetar hebat ia sembunyikan dalam saku mantelnya. Meski hatinya begitu berat namun bagaimanapun ia harus mampu melepaskan Cho Kyuhyun.

Karena Cho Kyuhyun tak lagi mencintainya, Rinhyo tak ingin memenjarakan hati yang tak nyaman bersamanya.

“Baiklah. Hiduplah dengan baik, aku akan melanjutkan hidupku dengan baik juga.”

 

“Melegakan melihatmu baik-baik saja.”

Rinhyo tersenyum tipis, “Kau juga kelihatannya sangat baik.”

Bibir Kyuhyun terulas miris membalas senyuman Rinhyo. Bagaimana ia bisa memberitahu gadis itu jika dirinya tidak sedang baik-baik saja, bagaimana cara agar Rinhyo tahu bahwa ia begitu membutuhkannya. Rasanya telah terjebak. Sejak tadi Rinhyo tak memberi ruang bagi Kyuhyun untuk menyampaikan perasaannya.

“Hyo-ah, sejujurnya aku—“

 

Drrt drrt drrt

 

Getaran ponsel milik Rinhyo di atas meja menghentikan kalimat Kyuhyun. Dengan segera gadis itu menempelkan ponselnya ke telinga kanan setelah menggeser logo hijau terlebih dulu.

“Kau dimana? Tempatku ada di dekat jendela. Eo, setelah kau masuk nanti lihatlah ke kiri, aku disini. Baiklah, kutunggu.”

Panggilan telepon yang baru saja datang dari Junmyeon itu membuat Rinhyo menghela napas lega. Akhirnya kecanggungan yang terjadi antara dirinya dan Kyuhyun akan segera berakhir, akhirnya ia akan segera terbebas dari pria ini.

“Itu… tadi aku belum selesai bicara.”

“Oh, ya, lanjutkan saja.” Rinhyo berucap malas, gadis itu sangat ingin melarikan diri sebenarnya, ekspresi sendu yang Kyuhyun tampilkan pada wajahnya membuatnya tak tahan.

“Sejujurnya aku sangat menyesal.”

“Disini, Junmyeon-ah!” Rinhyo melambai-lambaikan tangannya sembari sedikit berdiri agar Junmyeon yang terlihat baru memasuki kafe lebih mudah menemukannya di meja ini. Selain itu Rinhyo juga sengaja melakukannya untuk menghentikan topik pembicaraan Kyuhyun yang terus membahas tentang perasaan, gadis itu tak ingin mendengar lebih jauh, gadis itu tak ingin membuka luka lama yang telah ia tutup dengan susah payah selama ini.

“Maaf membuatmu menunggu lama.”

“Tidak masalah.” Rinhyo menggeleng pelan seraya tersenyum manis pada Junmyeon, lalu bergeser agar Junmyeon dapat menempati kursi di sampingnya, “Duduklah.”

Kyuhyun mengedarkan pandangan, merasa jengkel dengan senyuman Rinhyo yang begitu lebar setelah melihat Junmyeon, senyuman yang sejak tadi tak gadis itu berikan dengan tulus padanya. Namun tak ada yang bisa ia lakukan.

Eo?” Junmyeon yang baru menyadari keberadaan Kyuhyun mengernyit heran, menatap Rinhyo seolah menanyakan siapa pria yang sedang bersamanya itu.

“Dia…”

“Sebentar.” Junmyeon duduk di samping Rinhyo masih dengan tatapan melekati Kyuhyun, “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.”

Wajah Rinhyo menegang, apakah mungkin Junmyeon tahu jika Kyuhyun adalah mantan kekasihnya?

“Sepertinya kau salah orang.” Kyuhyun bangun dari duduknya, “Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian jadi aku akan pergi.”

“Tunggu.” Junmyeon menahan tangan Kyuhyun ketika pria itu bergerak selangkah, “Kau temannya Minho, kan? Kau… Kyuhyun hyung?”

Kyuhyun sedikit terkejut karena Junmyeon masih tetap mengingatnya, kemudian menatap Rinhyo yang terlihat tak percaya.

“Kalian saling mengenal?”

“Kami pernah bertemu satu kali, aku lupa dimana tepatnya tapi yang kuingat Choi Minho yang mengenalkan kami. Benar, bukan?”

“Ah, ya, itu… kau benar.” Kyuhyun mengangguk samar kemudian mendaratkan tubuhnya lagi karena Junmyeon menariknya kembali duduk.

“Disini saja dulu, hyung. Kau tidak sedang terburu-buru, kan?”

Sekali lagi Kyuhyun menatap Rinhyo yang kini melempar pandangannya ke luar jendela, “Tidak juga,” jawabnya kemudian. Setidaknya disini ia bisa bersama Rinhyo lebih lama.

Sebaliknya jawaban Kyuhyun itu membuat Rinhyo mendengus kasar, dalam hati ia merutuki Junmyeon yang malah menahan Kyuhyun hingga pria itu terus berada disini. Jika seperti ini maka apa yang dapat ia lakukan? Rasanya ingin lari sekarang juga tapi tak bisa.

“Oh, iya. Aku lupa belum memesan.”

“Biar aku saja.” Rinhyo beranjak dengan cekatan sebelum Junmyeon melakukannya sendiri, gadis itu bergegas meninggalkan meja.

“Lucunya,” gumam Junmyeon tersenyum gemas.

“Nde?”

“Sam Rinhyo, bukankah dia sangat menggemaskan?” Junmyeon tertawa kecil merasakan dirinya yang begitu dibuat terpesona oleh gadis itu, “Sepertinya aku akan gila.”

Kyuhyun terdiam, dadanya terasa bergejolak namun tak pasti apa yang tengah ia rasakan, kedua tangannya perlahan mengepal.

“Apa kalian adalah teman lama? Jadi mulai sejak kapan kalian berteman?”

“Sudah sangat lama.” Kyuhyun menegakkan tubuhnya, dalam hal ini ia bisa sedikit berbangga diri, “Sampai kami tahu apapun kegemaran dan sesuatu yang dibenci satu sama lain.”

“Benarkah? Hm, sepertinya kalian sangat dekat.” Junmyeon mengangguk-angguk polos.

“Begitulah.”

“Kalau seperti itu, bolehkah aku bertanya? Apakah Rinhyo memiliki trauma atau sejenisnya pada sebuah hubungan? Kau tahu sesuatu tentang itu, tidak?”

“Trauma?”

“Ya, seperti kenapa dia sangat sulit terbuka dengan orang lain, kenapa dia begitu takut menjalin hubungan dengan seorang pria. Aku sangat penasaran tentang hal itu sejak lama.”

“Itu aku…” Mendadak Kyuhyun tergagap, tak tahu harus berkata apa. Ia tak tahu betapa berubahnya Rinhyo ternyata setelah kejadian itu, hal ini membuatnya menyadari bahwa Sam Rinhyo sebenarnya tidak sedang baik-baik saja, karena dirinya.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Rinhyo datang sambil membawa minuman yang ia pesankan untuk Kim Junmyeon, secangkir Americano.

Gomawo.” Junmyeon tersenyum lebar, “Kau benar-benar mengerti apa saja kesukaanku.”

Rinhyo hanya tersenyum tipis lantas kembali duduk di tempatnya, kembali memusatkan perhatiannya ke luar jendela.

Kyuhyun yang mulai mengerti bila Rinhyo terus menghindarinya menghela napas panjang, “Aku harus pergi.”

“Kenapa tiba-tiba?” sahut Junmyeon heran.

“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

Sam Rinhyo sedikit mengalihkan pandangannya pada Cho Kyuhyun ketika pria itu mulai beranjak. Ya, itu benar, lebih baik dia pergi, lebih baik seperti ini.

 

***

 

“Sampai jumpa besok.”

“Eo, sampai jumpa, hati-hati di jalan.” Rinhyo membalas lambaian tangan Junmyeon seraya tersenyum, kemudian mulai berjalan menuju apartemennya setelah mobil Junmyeon berlalu pergi.

“Jadi disini tempat tinggalmu sekarang?”

Suara tak asing itu membuat Rinhyo menoleh ke kanan, menatap kesal Cho Kyuhyun yang entah sejak kapan mengetahui alamat barunya, “Sejak kapan kau disini?”

“Hanya mengikuti mobil Junmyeon sejak di kafe tadi. Karena kau tidak pernah menerima teleponku ataupun membalas pesanku, tidak ada cara lagi selain ini.”

Rinhyo menggertakkan giginya rapat, Cho Kyuhyun yang terus berusaha mengikutinya benar-benar menyebalkan, “Sekarang kau sudah tahu jadi pergilah.” Rinhyo melanjutkan langkahnya lebih cepat.

Namun suara derap langkah Cho Kyuhyun yang tak kunjung menghilang membuat gadis itu kembali berbalik menatap pria itu tajam, “Apa sebenarnya maumu?!” seru Rinhyo hingga hampir berteriak.

“Maafkan aku.”

Rinhyo semakin menajamkan sorot matanya, hatinya yang beku tak mudah lagi luluh karena permintaan maaf pria itu. Semua sudah terlambat.

“Maafkan aku.”

Kini Rinhyo mengepalkan kedua tangannya, membuang tatapannya yang enggan menatap Kyuhyun ke samping.

“Maafkan aku.”

“Sampai berapa kali kau akan terus meminta maaf dan pergi dari sini?” desis Rinhyo, sudah sangat tidak tahan lagi dengan segala sikap Cho Kyuhyun.

“Sampai kau bersedia memaafkanku.”

“Aku memaafkanmu,” tukas Rinhyo cepat lantas beranjak, namun Kyuhyun menahan pergelangan tangannya membuat amarah gadis itu semakin membuncah dalam dada, “Sekarang apa lagi?!”

“Aku benar-benar minta maaf, aku ingin kau memaafkanku dengan tulus.” Nada suara Kyuhyun semakin melirih, kedua matanya mulai memanas menatap Rinhyo yang terus memandangnya penuh kebencian.

“Anggap saja aku tulus memaafkanmu dan pergilah, lanjutkan hidupmu dengan baik seperti sekarang, buktinya kau baik-baik saja setahun ini dan menjadi lebih tampan. Kau benar-benar melakukan sesuatu yang tidak penting sekarang.”

“Apa kau tidak bisa melihatku sekali lagi? Aku tidak baik-baik saja dan aku tahu kau juga, kita harus bersama-sama, Hyo. Maafkan aku dan ayo kita mulai dari awal, aku tidak bisa hidup dengan baik tanpamu, tidakkah kau bisa melihatnya?”

“Tidak, aku tahu kau sangat baik-baik saja.”

“Berhentilah berpura-pura.”

Tubuh Rinhyo berjengit seolah baru saja tersambar petir, seketika membatu tak bergeming, pikirannya berserakan entah kemana. Apa, apa yang baru saja Kyuhyun katakan?

“Berhentilah berpura-pura jika kau satu-satunya yang baik-baik saja, berhentilah berpura-pura tidak mengetahui apa yang kurasakan, Sam Rinhyo. Kau selalu tahu semuanya tentangku, kau bisa membaca mataku ketika aku berbohong atau tidak, kau tahu segalanya. Kumohon berhentilah memaksakan diri untuk terus menjauh dariku, kita tidak bisa terpisah, kita harus tetap bersama untuk menjalani kehidupan ini agar sempurna. Aku sungguh membutuhkanmu, Hyo.”

Rinhyo membanting tangan Kyuhyun hingga genggaman pria itu terlepas kasar. Ini sudah berlebihan, telinganya semakin muak mendengar kalimat-kalimat picisan yang ditujukan untuk mengambil kembali hatinya. Cho Kyuhyun yang dulu melepasnya dengan sangat mudah, kini memohon-mohon di hadapannya untuk kembali membuat Rinhyo mendecih. Ia telah bosan, gadis itu telah jengah dengan segala hal yang berhubungan dengan pria bernama Cho Kyuhyun itu.

“Bukankah kau sudah menemukan gadis lain yang lebih baik dariku? Kenapa kau tidak meminta belas kasihan padanya saja untuk hidup denganmu? Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Rentetan pertanyaan Rinhyo sontak menyentak Kyuhyun, tak menyangka Rinhyo akan begitu terang-terangan seperti itu, “Karena itu aku minta maaf, aku sadar tak ada yang lebih baik darimu, sudah lama kami berpisah dan aku tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Sohee. Hyo, kumohon jangan seperti ini.”

“Apa yang kau lakukan jika aku sudah terlanjur menyukai Junmyeon? Bagaimana jika saat ini aku merasa Junmyeon adalah pria yang jauh lebih baik darimu seperti kau yang berpikir bahwa Yoon Sohee adalah gadis yang jauh lebih baik dariku dulu?”

Kyuhyun hanya mampu meneguk ludah berat, sesuatu terasa mengikat tenggorokannya hingga tercekat, ia tak bisa berkata apa-apa. Bongkahan rasa bersalah yang begitu besar menahan Kyuhyun untuk bicara. Bahkan pria itu merasa tak pantas untuk menyebut nama Sam Rinhyo sekarang, ia sadar, terlalu banyak jutaan kesalahan yang ia perbuat hingga Rinhyo berubah sejauh ini.

“Kau tidak memiliki hak untuk menahanku, bukan? Karena tidak ada hubungan apapun yang mengikat kita sekarang. Saat itu, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kau terluka karena harus terpaksa terus bersamaku. Tapi setelah semua itu dan kau memohon agar kita kembali seperti ini, maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa.”

Kyuhyun meraih tangan Rinhyo menandakan ia tak ingin melepaskan gadis itu untuk kedua kali meski bibirnya terus membungkam. Tiada satupun kata yang bisa mengungkapkan perasaan kalutnya lagi sekarang, sama sekali tak ada, terlalu rumit dan menyakitkan.

“Ketika aku berusaha melepas karena terlalu mencintaimu, kau membuangku dengan mudah. Dan ketika aku mulai berhasil bangkit dan bahagia tanpamu, kau memintaku kembali. Apakah ketika kau berkata sangat membutuhkanku seperti ini, aku harus menyingkirkan semua usahaku dan mencoba untuk kembali bersandar padamu, Cho Kyuhyun? Maaf, aku tidak bisa. Kusampaikan juga terimakasih karena telah memberiku kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tidak hanya bisa bersandar pada seorang pria, kau memberiku banyak sekali pelajaran hidup yang berarti.” Rinhyo membuka genggaman Kyuhyun dari pergelangan tangannya, “Kita telah berada di jalan yang berbeda. Ketika kau memilih jalur kanan, jalurku berada di kiri, ketika kau berjalan ke belakang, aku akan berusaha untuk terus menatap ke depan.” Tangan gadis itu terulur menghapus bendungan air yang menetes di pipi Kyuhyun dengan sekali usap, “Kau pasti bisa, aku telah membuktikannya.”

Cho Kyuhyun hanya bisa memandang Rinhyo yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu gedung apartemen dengan tatapan nanarnya. Semuanya telah berakhir, ia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk mendapatkan kembali napasnya, sesuatu yang paling ia butuhkan benar-benar tidak ada.

Semua ini salahnya, sepenuhnya salahnya.

Karena salahnya ini tak bisa ia menyalahkan siapapun.

Karena salahnya ini ia kehilangan kebahagiaan yang sebenarnya.

 

———————————

 

-THE END-

12 Comments (+add yours?)

  1. Fafairfa
    Apr 05, 2016 @ 23:12:53

    Waaah..sukaaa
    Biasanya aku jarang suka sad ending tp cerita ini bener2 enak dibaca

    Seneng aja kyuhyun dapet balesan yg setimpal..ga semua wanita mau balik lgi walaupun dia pernah sangat mencintai dulunya ^^ keren keren

    Reply

  2. capricestory
    Apr 07, 2016 @ 07:43:20

    ffnya padet singkat tapi ngena bangeeeet :” altough aku uda baca many times tapi gak bosen – bosen dan feelnya selalu ada tiap baca goodjob buat author^^

    Reply

  3. esakodok
    Apr 07, 2016 @ 21:06:50

    move on move on..jd pelajaran hidup banget ya…masa lalu hanya untuk dikenang dan jd pelajaran..bulan sebagai hambatan dalam menuju masa depan

    Reply

  4. Jung Haerin
    Apr 08, 2016 @ 00:44:11

    Kasian kyu….. Tapi itulah, karma namanya, uhuk….
    Baguuss, aku suka….. ^^

    Reply

  5. Wildest Dream ~
    Apr 08, 2016 @ 13:09:21

    Great story, ngena pas di hati, sukaaaa banget sama FF nya!! Author jjang! ^^

    Reply

  6. selvy
    Apr 10, 2016 @ 07:27:36

    uuuuuuuuuu kyu kamu harus merasakan tersakiti, jgn cuma bisanya nyakitin aja..
    kyu said: “yg sering nyakitin kan author2nya, gue aja belum punya pacar skrg gimna mau nyakitin. apa atuh aku mah dijadiin cast yg sifatnya nyebelin mulu”
    hahahahaha, emg para author pada kece smua kalau buat cerita..

    Reply

  7. Y♥NGIE
    Apr 20, 2016 @ 21:42:23

    JLEB~ penyesalan emg pasti dtg d akhir. sbr y kyu. kmu sndr yg bwt rinhyo mnjauh dr kmu. puk puk #tepukyu
    singkat tp ngena bgt. bkin patah hati yg baca T_T
    nice story😉

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: