Dear You, I Miss You [1/?]

Screenshot_2016-01-16-10-41-38_1

Nama : Betty Dwinastiti
Judul Cerita : Dear You, I Miss You
Tag (tokoh/cast) :
Cho Kyu Hyun

                  Shin Rhae Hoon (OC)

                  Lee Dong Hae

                  Yoon Hee Joo (OC)

Genre : AU, Romance, Sad, Hurt


Rating : PG -15
Length : Chapter
Catatan Author : FF ini sudah pernah dipublish di wp pribadi author di
www.shinrhaehoonstalkerchokyuhyun.wordpress.com, happy reading!!!

 

***

           “Sejauh apapun kau beranjak dari hidupku, berapa pun jarak yang kau coba buat di antara kita. Nyatanya, meski rotasi bumi membuatku kabur akan rasamu padaku…aku tetap merindumu.

            Dear you, I miss you..

            Dalam pekat malam atau cerah siang berawan..

            Rindu ini tetap kekal untukmu.”

***

Musim gugur 2013, Seoul Korea Selatan

***

“Bisakah kau memikirkannya lagi Hyun-ie?” gadis berwajah oval itu mengerang dalam hati. Alih-alih menangis, ia menekan bibir bawahnya – menahan sebisa mungkin – untuk tidak terlihat lemah di hadapan kekasihnya. Ini adalah pertengkaran mereka yang ratusan kali dalam beberapa bulan belakangan.

“Aku mengambil keputusan ini bukan dalam waktu sehari atau dua hari. Maafkan aku.” Kyu Hyun meletakkan gelas kopi hitamnya setelah menandaskan isinya. Kepala pria 27 tahun itu sedikit sakit – perih menyeruak hatinya – saat menatap awan mendung di wajah wanita yang baru saja menerima pernyataan menyakitkan darinya.

“Aku mencintaimu…” lirih sang gadis lagi, kali ini ia memberanikan diri menggenggam jemari panjang Kyu Hyun. Memohon lewat tatap sendunya, dia tidak yakin bisa menemukan pagi yang indah kala lelaki ini tak lagi di dekatnya.

“Tapi aku sudah tidak.” Kyu Hyun terdiam setelahnya. Atau yang benar adalah dia tak pernah menaruh rasa pada gadis di hadapannya ini? Tak urung lelaki itu kembali merutuk, dia menyakiti gadis baik hati ini lagi.

“Lalu bagaimana dengan Kyo Advertising? Tidakkah kau menyesal jika akhirnya kakakku berhenti berinvestasi di sana?”

Hening, tak ada pergerakan berarti yang Kyu Hyun tunjukkan. Lelaki itu mengulum senyum tipis. “Aku sudah mengambil antisipasi sejak jauh-jauh hari, Rhae Hoon-ie. jangan khawatir akan keadaan Kyo Advertising karena perusahaanku itu sudah sangat stabil berkat bantuan keluargamu.”

Lelaki tidak berhati.

Shin Rhae Hoon – yang sejak tadi duduk sambil menahan air mata – di hadapan Cho Kyu Hyun hanya mampu tertawa hambar. Jadi ini balasan atas segala cinta dan kasih sayangnya pada pria ini? Gadis itu menunduk dalam, berharap Kyu Hyun akan menghapus lelehan air mata di wajah putihnya.

Tapi kemudian, sampai suara bising yang berasal dari banyak pengunjung di T&Y Café berubah menjadi lantunan sepi tak ada sentuhan halus dari kekasihnya tersebut.

Ah, tidak. Yang benar adalah sejak tiga puluh menit lalu mereka sudah berpisah. Cho Kyu Hyun melepas cincin pertunangan di kelingking kirinya, tanpa berdosa lelaki itu menaruhnya di atas meja sebelum akhirnya meninggalkan Rhae Hoon yang belum memiliki kekuatan untuk mengangkat kepalanya.

Gadis itu akhirnya memejamkan mata sambil mendengar suara ketukan sepatu Cho Kyu Hyun yang menjauhinya. Suara sepatu itu semakin melemah dan menjauh, dan Rhae Hoon tahu hatinya sudah benar-benar hancur saat suara itu sudah tak dapat dia dengar lagi.

***

“Kumohon..jangan lakukan apapun pada Kyu Hyun. Kalau Oppa sampai menyentuh dia seujung kuku saja maka aku takkan segan-segan melukai diriku.” Rhae Hoon tersenyum gamang. Sementara Shin Ji Hoon – kakak lelakinya – hanya mampu membulatkan mata dan menahan amarah.

Apa adiknya itu sudah idiot?

“Kau sadar apa yang sudah dia lakukan padamu Hoon-ie?” Ji Hoon menurunkan nada suaranya, rasanya dia ingin sekali menenggelamkan lelaki bermarga Cho itu ke dalam samudera demi wajah sedih adik kesayangannya.

Setahun lalu, Rhae Hoon membujuk kakaknya untuk memberi bantuan finansial pada Kyo Advertising –perusahaan milik keluarga Kyu Hyun- yang bergerak di bidang jasa periklanan. Usaha keluarga Kyu Hyun itu hampir bangkrut setelah Yoon Jae – suami Cho Ahra yang merupakan kakak perempuan Kyu Hyun – membawa lari uang perusahaan yang jumlahnya tidaklah sedikit. Lalu apa balasan pria itu kini? Setelah apa yang sudah Rhae Hoon lakukan untuknya, yang ia dapatkan adalah lemparan kotoran seperti ini. Pertunangan antara Rhae Hoon dan Kyu Hyun yang baru berjalan selama dua bulan pun akhirnya batal setelah lelaki itu mengakhiri segalanya.

“Aku mencintai Kyu Hyun dengan tulus Oppa.”

Ji Hoon menggeram, akhirnya dia memilih keluar dari kamar adiknya setelah membanting beberapa kristal di atas etalase.

Kemudian yang tersisa adalah suara tangisan Rhae Hoon lagi. Gadis itu terus menjatuhkan air matanya, sampai malam kian beranjak dan menghadirkan suara hewan malam.

***

Rhae Hoon pergi ke kampus dengan kepala pening luar biasa. Gadis itu menyusuri lorong kampus dengan mata berkantung dan rasa sesak di dalam dadanya. Seharusnya dia beristirahat seperti apa kata dokter yang datang tadi pagi ke rumahnya. Dia ditemukan pingsan karena kelelahan, namun tiga jam setelah mendapat perawatan darutat, dia tetap memaksakan diri pergi ke kampus.

Segila apa pun dirinya karena Cho Kyu Hyun, pergi ke kampun masihlah menjadi kegiatan wajibnya karena sebentar lagi dia akan menyelesaikan kuliah strata satunya. Hanya beberapa perbaikan lagi, dirinya akan lulus dan meninggalkan bangku perkuliahan yang membosankan.

Gadis itu jadi merindukan saat dimana Kyu Hyun mengantar jemput dirinya. Biasanya lelaki begitu perhatian pada masalah studinya – sebelum dunianya berpaling tentu saja.

Memikirkan Cho Kyu Hyun membuat sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Tubuh gadis itu gemetar luar biasa, dia sadar hal itu terjadi karena dia belum makan apa-apa sejak kemarin. Dia lalu terseok-seok, tak tentu arah berjalan sebelum akhirnya seseorang menangkap tubuhnya yang rebah ke lantai.

Yang Rhae Hoon ingat sebelum matanya benar-benar terpejam adalah wangi pinus hutan yang biasa ia hirup dari tubuh Kyu Hyun. Kegelapan menelan kesadaran gadis itu, dan koridor kampus yang ramai mendadak heboh luar biasa.

***

“Hyemi-ya, pukul berapa kau selesai bimbingan?”

Rhae Hoon membuka matanya pelan, dia melihat seseorang memunggunginya. Dia seorang lelaki. Siluetnya dari belakang begitu familiar dengan setelan konservatif, rambut cokelatnya yang tebal, juga suara lantangnya. Dia pasti sedang berkhayal Kyu Hyun ada di sini ; di ruangan kesehatan kampusnya.

“Ya sudah, kau pulanglah sendiri nanti. Aku banyak urusan hari ini.” lelaki itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia menghela napas dan berbalik, dan seketika sepasang mata cokelatnya membulat melihat gadis yang tadi jatuh ke pelukannya sudah mendapatkan kembali kesadarannya.

“Jadi kau bahkan mengantarkannya ke kampus? Wah, hebat sekali.”

Kyu Hyun mengerjap. Wanita yang kini tergeletak di atas ranjang putih pucat itu mendecak kesal, dia sedikit kepayahan untuk duduk.

“Aku akan membantumu.”

Rhae Hoon menepis tangan kekar itu, meski dia merindukan sentuhan Kyu Hyun. Kalian boleh mengiris telinga gadis itu jika setelah kondisinya lebih stabil dia tidak menangis lagi.

“Gunakan tanganmu itu untuk mengurus Hyemi,” ujar Rhae Hoon keras. Hatinya sakit, membayangkan tangan lelaki itu menyentuh Hyemi. Dia bahkan bergidik, saat tiba-tiba berimajinasi lelaki itu menyentuh kedua pipi gadis itu.

“Aku akan menunggu sampai Hee Joo datang membawa dokter, setelah itu aku akan pergi dari sini,” ucap Kyu Hyun tenang.

“Aku tidak butuh dokter.”

“Apa au tidak makan sejak kemarin?” Kyu Hyun terlihat marah. Lelaki itu menangkup kedua pipi Rhae Hoon dengan tangannya.

“Jauhkan tubuhmu dariku, Cho Kyu Hyun-ssi.”

“Jawab aku! Apa sejak kemarin kau tidak mengkonsumsi apa-apa?”

Rhae Hoon mengerang dalam hati, jarak keduanya begitu tipis, lalu kenapa wangi tubuh lelaki itu begitu menyiksanya?

“Apa kalau aku bilang aku begitu tersiksa karena kau memutuskan hubungan kita maka bisa membuatmu kembali padaku?!”

Gadis itu kembali menangis, dan dia melihat sinar mata Kyu Hyun meredup begitu saja. Mereka tetap dalam posisi itu sampai tiga puluh detik kemudian, dan sampai suara pintu terbuka dan memunculkan wajah Hee Joo dan sang dokter yang baru tiba, dua manusia itu masih terus saling menatap – seakan mereka takkan bisa bernapas jika tak menghentikannya.

***

Aiden Lee tercenung. Lelaki blasteran Eropa-Korea tersebut membawa sebuah koper besar di tangan kirinya, sementara tangan yang lain sibuk melakukan panggilan untuk Ji Hoon.

Lelaki cerdas itu masuk ke dalam kediaman keluarga Shin dengan sedikit ragu. Dia melangkah masuk dengan perlahan, lalu meninggalkan kopernya begitu saja saat melihat seorang gadis tengah duduk bersandar di atas sofa.

Ada begitu banyak buku tebal berserakan di atas meja, Aiden hampir terlonjak gembira saat menemukan wajah adik Ji Hoon yang tengah terlelap sambil memeluk sebuah buku. Gadis itu memejamkan mata dengan sebingkai kaca mata di wajah cantiknya.

Shin Rhae Hoon. Aiden tersenyum lega, lelaki itu masih mengingat nama gadis itu dengan baik, sangat baik malahan. Lelaki 28 tahun itu pernah tinggal di rumah ini selama tiga tahun saat sekolah menengah, kala itu keluarganya yang berantakan karena perceraian orang tuanya, membuat Aiden muda meminta pada Ji Hoon supaya mengizinkan dirinya tinggal di rumah ini. Dan Ji Hoon, yang merupakan sahabat karib Aiden tentu begitu senang menyambut kehadiran lelaki itu.

Rhae Hoon menggerakkan kepalanya sedikit, membuat lamunan Aiden buyar. Lelaki itu sedikit tersenyum, sudah berapa lama dia tak melihat gadis ini? Jika saja Rhae Hoon tidak sedang tidur, maka lelaki itu akan segera memeluknya erat-erat.

I miss you, Honey,” bisik Aiden tepat di telinga Rhae Hoon. Lelaki itu lalu melepas jaket kulitnya, mengambil ponsel di saku celananya. Tiba-tiba saja niat jahil terselip di otaknya, lelaki itu mengambil tempat di sisi Rhae Hoon. Tak lama, jari tengah dan telunjuk tangan kirinya sudah siap di depan hidungnya. Aiden tersenyum bersamaan dengan suara kamera ponsel yang sudah mengambil gambar dirinya dan Rhae Hoon yang masih dalam keadaan terlelap.

Pria itu lalu tersenyum bahagia, dia menatap Rhae Hoon sebentar sebelum kembali mencoba menelepon Shin Ji Hoon.

***

Suara gelak tawa yang berasal dari ruang makan di ujung koridor kamar membuat gadis itu membuka matanya. Pergi kemana buku-buku tebal dan kacamata besar di wajahnya? Rhae Hoon menatap sekeliling, ini kamarnya bukan?

“Bukannya tadi aku ada di ruang tamu?” kenangnya sambil mengurut kepala, bagian tersebut terasa berdenyut, lagi dan lagi. Pasti Ji Hoon yang memindahkannya ke kamar. Memang siapa lagi yang akan mempedulikannya selain lelaki itu? Rhae Hoon meringis, dia merindukan Kyu Hyun. Dan detik ini juga dia ingin sekali menangis.

Suara bising yang didengarnya tadi berangsur-angsur menghilang. Siapa yang bisa membuat suasana rumah mewah yang hanya dihuni Rhae Hoon dan kakaknya itu begitu semarak? Membunuh rasa penasaran, gadis itu melangkahkan kaki menuju ruang makan. Lagi pula dia akan kena omel Ji Hoon kalau tidak makan malam.

“Oh, kau sudah bangun sayang?” Ji Hoon meletakkan sumpitnya saat menyadari kehadiran gadis berkaos hitam itu. Lelaki itu tersenyum, alih-alih menjawab pertanyaan sang kakak, gadis itu malah memicingkan mata pada seseorang yang duduk memunggunginya. Rambut hitamnya, bentuk punggungnya, Rhae Hoon merasa familiar. Dan ketika akhirnya lelaki berkemeja putih itu membalikkan badan, berjalan ke arahnya sambil tersenyum, Rhae Hoon menyunggingkan sebuah senyum bahagia.

Senyum pertamanya sejak Cho Kyu Hyun membuatnya menderita.

***

Oppa semakin tampan.” Rhae Hoon tersenyum kecil, gadis itu masih belum bosan memfokuskan tatapannya pada Aiden yang tengah menatap pekat malam. Keduanya sedang melepas rindu, Rhae Hoon seakan lupa pada kesedihannya karena sejak tadi Aiden selalu menggoda dan mengajaknya bercanda.

“Kau juga semakin cantik. Pasti banyak pria yang mengejarmu.” Aiden tertawa.

“Apa yang membawa Oppa kembali?” Rhae Hoon mengerjap pelan, gadis itu mengusap kedua lengannya sendiri, membuat Aiden segera melepas jaketnya, dia menaruhnya pada bahu Rhae Hoon sambil mengulas senyum. Astaga, dia sangat ingin memeluk gadis ini.

“Hei, bukannya menjawab Oppa malah menatapku seperti itu,” kata Rhae Hoon yang merasa risih, pasalnya beberapa detik lalu wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti.

“Ah, itu…” Aiden mengusap tengkuk. Masa dia mau bilang kalau kepulangannya kali ini demi gadis yang kini memiliki kantung mata menyedihkan ini. Memikirkan Rhae Hoon yang selalu dibuat menangis beberapa waktu belakangan oleh ulah lelaki itu membuat Aiden menggigit bibirnya tanpa sadar. “Aku akan kerja di Seoul International Hospital mulai minggu depan.”

“Apa?” Rhae Hoon menatap Aiden dengan dua bola mata yang membesar. “Oppa serius?”

Aiden mengangguk.

“Baguslah, jadi kita bisa bertemu kapan saja.” Gadis itu tersenyum tulus, rasanya dia akan memiliki bahu yang hangat untuk bersandar. Terkadang, dia merasa lebih nyaman berada di sisi Aiden ketimbang bersama Ji Hoon. Kakak lelakinya yang merangkap sebagi orang tua tunggalnya itu memiliki pribadi yang cenderung keras. Aiden memang selalu menyempatkan diri berkunjung ke Korea tiap tahun, khusus untuk menemui Ji Hoon dan Rhae Hoon. Lelaki itu pergi ke Belanda setelah tamat sekolah menengah atas, dia mengambil jurusan kedokteran lalu bekerja di sana, sambil menjaga sang ibu yang sudah makin tua. Perceraian orang tuanya membuat Aiden memiliki trauma tersendiri pada pernikahan, sampai akhirnya dia belum menikah sampai saat ini.

“Bagaimana dengan Bibi Roselia?” tanya Rhae Hoon penasaran.

“Dia baik-baik saja, Mom sedang sibuk dengan usaha barunya bertani bunga lili.”

“Wah, kapan-kapan aku mau melihat bunga lili juga.”

Aiden tersenyum kecil. “Kalau begitu setelah skripsimu selesai kita ke Rotterdam. Bagaimana?”

“Oke.” Rhae Hoon tersenyum hambar, sebenarnya dia sangat ingin melihat bunga kesukaannya itu bersama Kyu Hyun.

“Sebenarnya…” Aiden meringis. “Aku kembali karena seorang wanita.”

“Benarkah?” kening Rhae Hoon bertaut. “Wanita sial mana yang kau sukai?”

“Dasar tidak sopan!”

“Hahahaha!”

Aiden meracau tidak jelas. Dia akan memarahi Ji Hoon karena tidak becus mendidik adiknya nanti. “Siapa dia Oppa?”

Aiden hanya tersenyum kecil. “Dia sedang bersedih sekarang, dan aku ingin selalu di sisinya sampai kesedihan yang dia rasakan memudar dan menghilang seperti buih di lautan.”

“Aku penasaran.”

Sekali lagi Aiden tertawa.

“Aku meralat ucapanku. Dia tidak sial, dia justru sangat beruntung karena kau begitu menyayanginya.”

“Kau iri padanya?”

Rhae Hoon mengangguk.

“Aku akan mengenalkanmu padanya suatu hari nanti.”

***

“Melihatmu dari jauh, menyaksikan dirimu tersenyum untuk orang selain aku. Menyesakkan, menyedihkan. Dear you, i miss you.”

            ***

Kyu Hyun memicingkan mata. Lelaki yang hari ini terlihat formal dengan jas hitam pas badan itu sedikit terhenyak melihat pemandangan menyebalkan di depannya.

Bagaimana bisa dia merasa nyeri di ulu hatinya ketika melihat gadis yang sudah ditinggalkannya itu berfoto dengan lelaki lain? Dia terdiam di salah satu sudut kampus, Hyemi sedang sibuk dengan teman-temannya. Kyu Hyun merasa sedikit terabaikan. Hari ini, setelah tiga bulan berlalu akhirnya dia melihat Hyemi diwisuda. Dan itu artinya, dia juga harus melihat mantan tunangannya di tempat yang sama. Rasanya aneh sekali, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah Kyu Hyun menemukan gadis itu pingsan di aula kampus. Lelaki itu salah jika berpikiran Rhae Hoon akan terus mengejar dan memperjuangkan hubungan mereka. Benar, Kyu Hyun sedikit kehilangan.

Gadis itu terlihat begitu cantik dan bersinar hari ini. Apa itu ada hubungannya dengan Aiden? Kyu Hyun pernah melihat lelaki itu sebelumnya pada natal tahun lalu. Mereka sedang bercengkrama dengan Ji Hoon dan beberapa wisudawan lainnya. Dan tiba-tiba, Kyu Hyun mengingat permintaan Rhae Hoon di masa lalu.

Saat aku wisuda nanti, aku ingin kau yang berdiri di sisiku lalu kita berpoto hanya berdua.”

Kyu Hyun tersenyum kecil. Harusnya gadis itu yang kecewa bukan? Lalu kenapa dia justru terlihat seribu kali lebih bahagia, sangat berbanding terbalik dengan Kyu Hyun yang kini lebih mirip orang patah hati.

“Saat aku lulus nanti, ayo kita menikah.”

Lelaki bermarga Cho itu mengerang dalam hati. Dia merindukan nada manja dari gadis itu. Dan akhirnya, sampai acara selesai Kyu Hyun sudah tidak berminat menemani kekasihnya. Dia lebih memilih duduk di sudut ruangan dan melihat sekeliling, dan sesekali kedua matanya bertemu pandang dengan Rhae Hoon. Kyu Hyun tahu, gadis itu sedang mati-matian menahan diri untuk tidak berlari dan memeluknya meski dia berusaha terlihat setenang dan sebahagia itu di sana.

***

“Biar aku yang menggendongnya.” Aiden menahan tangan Ji Hoon yang hendak memindahkan adiknya ke kamar. Mereka bertiga baru saja merayakan kelulusan Rhae Hoon di kafe, dan ketika kembali ke rumah Rhae Hoon terlelap di dalam mobil. Ji Hoon tersenyum lalu menepuk bahu Aiden, dia masuk terlebih dahulu sambil membawa sepatu dan tas tangan milik adiknya.

Beberapa detik berselang, Aiden sudah menggendong Rhae Hoon di punggungnya. Lelaki itu tersenyum, dulu dia sering menggendong Rhae Hoon kecil yang suka tertidur di depan tv. Gadis ini sudah dewasa sekarang, dia tumbuh begitu cantik dan memesona. Lelaki itu begitu bangga karena bisa menjadi lelaki yang bersanding dengan Rhae Hoon hari ini, meski bukan sebagai orang istimewa, dia sudah cukup puas melihat tatapan penuh intimidasi dari Kyu Hyun. Lelaki itu menyimpulkan bahwa Kyu Hyun cemburu berat padanya. Menggelikan. Aiden tertawa, dia kini menaiki tangga lalu membuka pintu kamar Rhae Hoon hati-hati sementara gadis itu sudah begitu lelap. Karena ini hari istimewa, Ji Hoon membiarkannya minum beberapa gelas scotch yang kini sukses membuat gadis itu kehilangan kesadaran.

Setelah merebahkan tubuh cantik itu, Aiden duduk di tepi pembaringan. Lelaki itu mengusap rambut Rhae Hoon dengan sayang. Ingin sekali rasanya dia tinggal dan memeluk gadis ini hingga fajar tiba, namun lelaki itu justru beranjak dari duduk dan berjalan menuju pintu.

“Jangan pergi!”

Aiden Lee terhenti, kepalanya bergerak pelan dan menemukan Rhae Hoon yang sudah membuka mata. Entah sejak kapan wajah memerah itu sudah basah oleh air mata.

“Kumohon jangan pergi,” lirihnya lagi. Gadis bergaun putih berenda itu mendudukkan dirinya dengan susah payah lalu mengayunkan kakinya menuju Aiden. Masih dengan mengurai air matanya, dia memeluk Aiden dan menangis tanpa suara di dada bidang lelaki itu.

“Apa kau tidak tahu betapa menderitanya aku selama ini?”

Aiden yang masih terhenyak segera membulatkan mata. Apa yang sedang Rhae Hoon bicarakan?

“Hoon-ie?”

Rhae Hoon menjauhkan diri, dia menatap Aiden lekat. “Di sini,” ujarnya sembari menunjuk dada. “Rasanya sakit sekali. Sangat sakit!”

Gadis ini tengah mengigau. Aiden kembali memeluk Rhae Hoon dan membiarkan gadis itu menangis sampai puas. Lelaki itu tahu Rhae Hoon menahan air mata itu sejak tadi pagi, sejak dia membuka mata dan berpikir akan melihat Kyu Hyun datang di acara wisuda bersama Lee Hyemi.

***

Gadis cantik itu terbangun, kepalanya terasa nyeri seperti dijatuhi beban berat. Ah, dia mengerang dan merutuki dirinya sendiri.

“Selamat pagi.”

Rhae Hoon yang sudah terduduk mengerjapkan mata sambil mengusap-usap rambut singanya yang berantakan, namun bagaimana pun berantakannya dia takkan membuat lelaki bermata bening itu kehilangan rasa. Justru dia merasa beruntung, bisa melihat kepolosan gadis ini di pagi buta.

“Minumlah teh madu ini, untuk membuat perutmu lebih hangat,” ujar Aiden sambil mengangsurkan sebuah mug warna putih.

            “Lain kali Oppa bisa memukul kepalaku kalau aku minum minuman laknat itu lagi,” ujar Rhae Hoon setelah meminum the jahe itu sedikit. Pria berperawakan kekar itu tersenyum kecil, lalu mengusap rambut cokelat Rhae Hoon.

“Kau mau berlibur ke Rotterdam?”

Rhae Hoon tercenung, musim dingin yang akan tiba awal Desember nanti adalah hal paling ia nantikan sepanjang tahun. Sekali ini dia begitu ingin mengajak Kyu Hyun ke Belanda, gadis itu sering bermimpi melihat kincir angin bersama lelaki itu sejak dia berkunjung ke rumah Aiden di Rotterdam awal tahun dulu.

“Aku akan memikirkannya.”

Aiden mengangguk, lelaki itu sudah siap berangkat kerja. Dia bersyukur, sepertinya Rhae Hoon tak mengingat apa yang terjadi semalam.

“Ah, Oppa hampir lupa. Ada Hee Joo di bawah.”

“Hee Joo?” Rhae Hoon tergagap. Astaga, kenapa sahabatnya itu tidak langsung ke kamarnya saja?

Oppa akan berangkat kerja, jangan lupa sarapan lalu minum obat pereda mual.”

“Aku tahu.”

Wanita muda itu melambaikan tangan sambil mengukir senyum, membuat Aiden enggan pergi. Dia ingin selamanya bisa di sisi gadis itu. Maka tak heran sedetik lalu yang ia lakukan adalah menarik punggung Rhae Hoon, memeluknya erat sambil memejamkan mata. “Oppa menyayangimu. Sangat menyayangimu,” gumamnya.

“Aku juga sangat menyayangi Oppa,” balas Rhae Hoon pelan meski merasa sedikit kaget. Aiden tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Aku menyayangimu…mencintaimu,” lanjut Aiden lagi di dalam hati sebelum menjauhkan diri. Lelaki itu mengerang dalam hati, dia yakin takkan bisa bekerja dengan baik karena bayangan gadis ini akan bermain di kepalanya seharian.

***

“Ah, jadi kau tak langsung ke kamarku karena ada Aiden Oppa?” Rhae Hoon memilih sebuah novel best seller yang sudah diincarnya sejak skripsi dimulai. Gadis itu sedang berada di toko buku bersama Hee Joo setelah berperang dengan udara dingin yang menyiksa.

“Ya.” Hee Joo menatap lekat sahabatnya. Gadis berambut hitam lurus itu berniat akan mengajak Rhae Hoon keliling kota seharian. Dia tahu, Rhae Hoon butuh penyegaran setelah hari-hari melelahkan beberapa bulan belakangan. Lagi pula, dia menebak Rhae Hoon akan merindukan Kyu Hyun sambil menangis lagi.

“Apa yang kau pikirkan?” mata cokelat Rhae Hoon memicing, dia menyandarkan punggung pada dinding.

“Aku tahu kau itu sediit bodoh. Tapi, apa kau tak tahu kalau dr. Aiden yang tampan itu menyukaimu?”

Rhae Hoon tertawa dalam hati. “Dia bukan hanya menyukaiku, tapi dia juga menyayangiku.”

Terkenang kejadian tadi pagi, Rhae Hoon tersenyum hangat. “Kau sudah sering berkata Aiden Lee yang sama sekali tidak seperti orang Eropa itu menyukaiku. Dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, Hee sayang.”

Hee Joo tersenyum miring. “Kau salah besar, Rhae. Pria itu menyukaimu. Dia melihatmu seperti seorang pria dewasa kepada wanita dewasa. Sekali lihat saja, aku bisa tahu tatapan penuh cinta itu lewat sinaran matanya.”

“Ngawur,” kekeh Rhae Hoon meski dia sedikit membulatkan mata.

“Kau tahu kan kalau firasatku tak pernah salah?”

Rhae Hoon tertawa. “Sepertinya kau kelaparan. Ayo kita makan jajjangmyeon saja.”

Hee Joo mendesah – mengomel panjang lebar di dalam hati. “Kau akan menyesal jika tidak percaya padaku.”

***

Hyemi merajuk, gadis bermata bulat itu merasa kesal karena sejak beberapa hari ini Kyu Hyun selalu uring-uringan tanpa alasan yang jelas. Pria itu sering membuat alasan untuk tidak menemuinya. Ada saja yang Kyu Hyun lakukan, entah itu lembur, bermain golf, makan-makan dengan temannya. Apa saja, seolah memang dia sengaja mengacuhkan gadis tinggi semampai itu.

Meski hari ini dia berhasil mengajak Kyu Hyun berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, tetap saja lelaki itu sibuk dengan ponselnya. Hyemi merutuk, dia sengaja berhenti melangkah dan membiarkan lelaki ber-coat hitam tebal itu berjalan mendahuluinya. Setelah beberapa detik barulah Kyu Hyun sadar ada yang tidak beres, lelaki itu berhenti melangkah, dan menatap ke belakang. Hyemi sedang mengerucutkan bibir.

“Kau itu kenapa?”

Hyemi ingin menangis. Dia berjalan cepat menuju Kyu Hyun. “Kau itu yang kenapa? Apa ada hantu yang merasukimu?”

“Eh?” Kyu Hyun mengerjap. Astaga, perhatikan mata cokelat yang membulat cepat itu. Begitu indah.

“Kau mengacuhkanku. Sejak acara wisuda di kampus. Kyu Hyun-ah, jangan-jangan firasatku benar.”

Kyu Hyun hanya diam.

“Matamu tak pernah lepas pada sosok Rhae Hoon waktu itu. Kau tidak berniat kembali padanya dan pergi dariku bukan?”

Lelaki tinggi itu tak bisa menemukan jawaban. Dia – yang ber-IQ di atas rata-rata – hanya mampu meneguk salivanya, tiba-tiba dia merasa sakit kepala.

***

“Dia melihatmu sebagai wanita dewasa, bukan lagi adik kecil yang harus dilindunginya.”

Rhae Hoon berhenti mengayunkan kaki ketika ia melewati pintu kamar Aiden. Dia menghela napas sebentar, pemilik ruangan ini belum kembali ke rumah padahal hari sudah mulai beranjak malam. Pasti Aiden sibuk sekali di rumah sakit. Meski tinggal di rumah yang sama, keduanya sangat jarang berinteraksi karena jadwal masing-masing.

Tangan putihnya tergerak pada pegangan pintu. Tak lama ia membukanya, menyelipkan tubuh cantiknya ke dalam ruangan bercat hijau itu. Aroma white musk menyeruak, wangi segar milik lelaki itu tertinggal di seprai hitamnya. Rhae Hoon tercenung sambil duduk di atas ranjang. Dia tak bisa merasakan apapun saat ini.

Dia merindukan Kyu Hyun. Gadis itu bahkan sempat membuka SNS di ponsel pintarnya dan melihat sebuah foto yang di-upload Hyemi di sana. Cinta pertama mantan kekasihnya itu terlihat cantik bersama Kyu Hyun di sisinya pada hari kelulusan.

“Harusnya aku yang mengunggah foto seperti ini,” ujar Rhae Hoon serak. Gadis itu kesusahan bernapas dalam beberapa detik, sampai dia melihat lemari baju Aiden yang sedikit terbuka dan menunjukkan beberapa jas dan jaket Aiden yang terjatuh dari tempatnya digantung. Aiden memang paling tak bisa mengurus diri sendiri, lelaki yang lebih mirip aktor karena ketampanannya itu bisa dibilang sangat tidak rapi. Lihat saja dompetnya yang tercecer di dekat kaki Rhae Hoon saat ini. Dia pasti tak sengaja menjatuhkannya dan akan kebingungan di rumah sakit saat sadar benda itu tak ada padanya.

“Istrimu nanti akan kasihan sekali mengurusmu. Ck, lihat lemarimu Aiden Lee!” rutuk gadis cantik itu sambil merapikan lemari itu. Beberapa menit kemudian, kegiatannya terhenti begitu saja. Mata gadis itu mengerjap kecil, dia menemukan sesuatu yang begitu familiar. Diambilnya sebuah hoodie cokelat tua yang sudah terlihat usang tersebut dari jajaran pakaian Aiden.

Cho Kyu Hyun. Relawan.

            Kepalanya berdenyut seketika. Bagaimana bisa benda ini ada di sini – di kamar Aiden Lee ? Dia mengusap tag nama di dada benda berbahan cotton flesse tersebut.

Baiklah, Aiden Lee. Misteri apa yang sedang kau sembunyikan saat ini?

***

Jika bukan karena merasa terancam, maka Lee Hyemi takkan sudi bertemu muka dengan gadis canti bersyal cokelat di hadapannya ini. Keduanya sedang berada di Mouse Rabbit, sebuah kafe yang dibuka dekat dengan kampus mereka dulu, Kkonkuk University. Di atas meja ada sebuah kotak besar yang berisi barang-barang pemberian Rhae Hoon untuk Kyu Hyun selama setahun belakangan.

“Kyu Hyun memintaku mengembalikan semua ini padamu,” aku Hyemi sinis. Merasa menang karena memiliki pria itu saat ini.

Rhae Hoon terkekeh. Hatinya perih. Dia tak percaya Kyu Hyun harus mengutus gadis tak berbudi ini sekarang. Sejam lalu, dia bahkan melupakan niatannya menanyakan jaket milik Kyu Hyun yang berada di lemari Aiden ketika sebuah pesan masuk dari Kyu Hyun muncul di layar ponselnya. Lelaki itu mengajaknya bertemu di sini. Gadis itu bahkan memakai baju baru yang baru ia beli beberapa hari lalu ketika jalan-jalan bersama Hee Joo. Sialan! Rupanya Hyemi menipunya, pasti gadis berwajah Barbie ini sedang tertawa keras di dalam hati karena berhasil mengerjainya habis-habisan.

“Melihat raut mukamu, sepertinya Nona Shin yang terhormat ini sedang kecewa.” Hyemi berujar lirih, dia mendaratkan kedua tangannya di atas dagu – menikmati kemenangannya. Dia berani bertaruh, pasti Rhae Hoon sudah mengkhayalkan Kyu Hyun akan kembali padanya.

“Kau tahu apa yang lucu?” Rhae Hoon meminum cokelat hangatnya sambil menekan amarah yang bercampur perih dalam dadanya. Minumannya ini sudah tak lagi terasa manis di mulut kecilnya.

“Apa?”

“Kyu Hyun takkan melakukan hal-hal menggelikan seperti ini.” gadis itu menunjuk kotak berwarna merah itu. “Kau lihat pigura ini?” tanyanya sambil mengangkat benda dari kaca itu dari dalam kotak. “Kau tidak tahu ya kalau pigura ini adalah hadiah terakhir dari kakek Kyu Hyun?”

Hyemi menahan napasnya dalam beberap detik sampai dia menemukan udara lagi.

“Seharusnya kau melakukan ini,” ujarnya lagi sambil melepas foto dari dalam pigura itu. Objek cantik dalam foto itu tak lain adalah wajahnya sendiri. Benda itu dulu terpajang manis di atas meja kerja Kyu Hyun.

“Kyu Hyun hanya akan melepas fotoku tanpa memberikan piguranya padaku karena dia sangat sayang pada pemberian kakeknya itu. Sebaiknya cepat kembalikan benda itu ke dalam kantornya sebelum dia sadar bahwa kau sudah mengacak-acak tatanan ruang pribadinya. Kau tahu kan kalau dia sangat benci jika ada orang yang mengacak barangnya?”

Hyemi mengumpat dalam hati. Dia ketahuan.

“Karena kau sudah berbaik hati mengantarkan semua ini maka aku akan membawanya. Kau tenang saja, Lee Hyemi. Aku takkan bilang apa-apa pada Kyu Hyun tentang ulahmu yang lumayan kekananakan hari ini.”

Rhae Hoon tersenyum puas. Siapa pemenang sesungguhnya, Nona Lee?

Gadis cantik yang membalut tubuhnya dengan pakaian hangat itu tersenyum sambil mengangkat kotak di atas meja. “Lihat raut wajahmu, Lee Hyemi. Sepertinya kau sedang kecewa karena tak berhasil membuatku kesal hari ini.”

***

“Tidak usah menjemputku, Ji Hoon Oppa. Sebentar lagi aku akan naik bus, Oppa tenang saja.”

Dia masih terduduk sendirian di halte bus di sekitaran Kkonkuk University, juga masih memangku kotak berukuran sedang yang berisi barang-barang pemberiannya untuk Kyu Hyun. Gadis bermata cokelat itu mengulum senyum perih. Dia merindukan Kyu Hyun lagi, dulu lelaki itu suka menjemputnya di sini. Well, tentu saja sebelum Lee Hyemi kembali menggoda lelaki itu.

Sementara angin penghujung musim gugur membuat sekujur tubuhnya menggigil di senja kali ini, Rhae Hoon merasa angin dingin itu menghangat di wajahnya tatkala fokus mata gadis itu tertuju pada seorang figur di seberang jalan sana. Pada jajaran kafe bernuansa hitam putih, tepat di depan kaca-kaca besar yang membingkai bangunan kafe tengah berdiri pria yang sedari tadi bermain di ruang khayalnya.

Rhae Hoon mengucek mata sebentar, dia takut sosok Kyu Hyun yang tengah berada dalam jarak pandangnya itu adalah fatamorgana yang tercipta dalam benaknya. Tapi kemudian dia sadar, jika semua ini nyata tatkala angin dingin kembali menampar wajah putihnya.

Lelaki itu sedang menerima telepon, entah apa yang ia kerjakan di sini. Rhae Hoon tersenyum, setidaknya dia bisa melihat wajah lelaki itu hari ini. Perih itu menusuk hatinya, tatkala dia sadar bahwa dia tak bisa meraih lelaki yang kini berada hanya beberapa meter dari tempatnya terduduk lesu. Kyu Hyun sudah memilih jalannya sendiri, dan Rhae Hoon harus berbesar hati menerima perubahan besar itu di dalam kehidupannya.

Beberapa detik ini mata gadis itu terus tertuju pada Cho Kyu Hyun. Dia bahkan menatap sekeliling, berharap lalu lintas sepi di jalanan takkan berubah sampai Kyu Hyun menutup teleponnya. Sampai akhirnya gadis itu menemukan sebuah mobil yang bergerak cepat dari arah timur, instingnya bergolak cepat, mobil itu berlari – membelokkan diri – ke arah kafe, tepatnya menuju Cho Kyu Hyun. Dan saat itulah Rhae Hoon lupa caranya bernapas, gadis itu menjatuhkan kotak kayu di pangkuannya dan berlari secepat yang ia mampu.

“Kyu Hyun-ah! Awas!”

***

Ji Hoon terduduk lemas di depan pintu UGD. Lelaki yang merangkap tugas sebagai orang tua gadis yang kini tengah mengalami masa kritis di dalam ruangan putih di dalam sana itu hanya bisa mendengar helaan napas Aiden yang berjalan mondar-mandir di depannya.

“Harusnya aku menjemputnya, Aiden.”

Aiden Lee berhenti bergerak, tatapannya nanar. Daripada kekhawatiran kosong yang ia dengar dari Ji Hoon, ia lebih mencemaskan satu fakta mengerikan yang ia dapati saat Rhae Hoon berada di atas kereta dorong. Ada banyak pecahan kaca di wajah gadis itu, mungkin saja berasal dari kaca-kaca besar yang membingkai beranda kafe tempat Kyu Hyun berdiri.

Kembali Aiden Lee mengusap dahinya yang berkeringat. Dia tidak diizinkan terlibat menangani Rhae Hoon karena dia dianggap sebagai anggota keluarga oleh tim dokter. Seandaninya diperbolehkan, maka Aiden akan melakukan upaya terbaik yang ia bisa.

“Semuanya akan baik-baik saja, Ji Hoon-ah.” Aiden tersenyum kecut, dia tengah menutupi kecemasannya sendiri. Dia percaya tubuh gadis itu akan baik-baik saja, namun… Aiden kembali menggeleng cepat. Dia tak sanggup membayangkan hal itu terjadi pada Shin Rhae Hoon.

Mobil sedan hitam itu melaju cepat, seolah memang sengaja hendak menabrak Kyu Hyun yang berdiri seorang diri di tepi jalan. Lelaki itu sendiri baru tersadar jika maut mengintainya tatkala Rhae Hoon berlari menuju dirinya. Dengan sangat cepat, gadis itu mendorong Kyu Hyun sampai lelaki itu terhindar dari tabrakan. Sementara, mobil misterius itu menabrak Rhae Hoon hingga gadis itu terdorong ke belakang. Tubuhnya jatuh menimpa kaca-kaca besar yang kemudian hancur berkeping-keping.

Kyu Hyun sendiri kini dirawat di sebuah ruangan VIP di lantai yang berbeda. Lelaki itu belum sadarkan diri setelah kepalanya terbentur pembatas jalan. Mungkin dia akan mengalami gegar otak kecil, tak ada artinya jika dibandingkan luka yang kini membuat Rhae Hoon harus berjuang di meja operasi.

***

Love is … irony

            It’s okay, ‘cause my heart is yours.

***

Aiden duduk menekur di sisi pembaringan Rhae Hoon. Lelaki itu tak dapat menahan air matanya, dia menggenggam tangan gadis cantik itu sambil terus berdoa di dalam hati. Dia bersumpah akan menjauhkan Cho Kyu Hyun dari hidup gadis ini selamanya.

Apakah itu cinta, ketika berada di sisi orang yang dia cintai selalu membuatnya memikul derita?

Beberapa detik terlepas dari derak sang waktu, ketika wajah muram Ji Hoon memasuki ruangan dan ikut bergabung bersama Aiden. Dua lelaki dewasa itu hanya terdiam, menunggu Rhae Hoon membuka matanya. Selain luka di sekitar pinggang dan perut, gadis itu baik-baik saja. Ada beberapa luka di wajahnya akibat pecahan kaca. Ji Hoon mengumpat dalam hati, kenapa Rhae Hoon harus menyelamatkan pria tak tahu diri itu?

Gadis itu membuka mata seperti apa yang diharapkan oleh Ji Hoon dan Aiden. Seketika segala kesakitan mendera tubuh ringkihnya.

“Kau sudah bangun Rhae?”

“Ji Hoon Oppa?” Rhae Hoon bersuara, tatapannya tidak terfokus pada satu titik.

“Hoon-ie?”

“Ada Aiden Oppa juga, apa yang terjadi padaku?” Rhae Hoon memegangi kepalanya yang terasa berat, dia mengingat segelintir peristiwa sebelum kehilangan kesadaran. Seketika bayangan Kyu Hyun berkelebat di kepalanya, apa lelaki itu baik-baik saja sekarang?

“Di mana yang sakit sayang?” tanya Ji Hoon serak.

Rhae Hoon menggeleng. Dia terheran, kenapa ruangan ini terasa gelap sekali?

“Ji Hoon Oppa, apa sekarang sedang mati lampu? Aku tidak bisa melihat apa-apa.”

***

 

               TBC

 

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. riskakyuu
    Apr 09, 2016 @ 12:38:00

    Apa rhae hoon buta???? Omg…

    Reply

  2. cici
    Apr 09, 2016 @ 19:56:23

    kasihan rae hoon
    semoga di baok$ saj …chingu Izin baca di wp nya ua

    Reply

  3. lieyabunda
    Apr 16, 2016 @ 03:17:07

    rhae hoon buta yaa,,, kenapa jadi gini banget sih nasibnya,,,,

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: