Dear You, I Miss You [2/?]

Screenshot_2016-01-16-10-41-38_1

Nama : Betty Dwinastiti
Judul Cerita : Dear You, I Miss You
Tag (tokoh/cast) :
Cho Kyu Hyun

                  Shin Rhae Hoon (OC)

                  Lee Dong Hae

                  Yoon Hee Joo (OC)

Genre : AU, Romance, Sad, Hurt


Rating : PG -15
Length : Chapter
Catatan Author : FF ini sudah pernah dipublish di wp pribadi author di
www.shinrhaehoonstalkerchokyuhyun.wordpress.com, happy reading!!!

 

 

Dalam gelap yang tak ada cahaya, atau ketika fajar tak terasa menyilaukan pada mataku.. tak apa. Asal aku masih bisa merasa akan mu.”

***

Musim semi 2014, Seoul, Korea Selatan

Gadis itu berjalan pelan di taman bunga belakang rumah yang baru ia tinggali selama beberapa bulan sejak dia kembali dari rumah sakit awal tahun lalu. Musim dingin lalu, adalah hari-hari paling beku yang membuat dia hampir mati. Dia tersenyum merasakan beberapa tangkai lili di tangannya. Membungkuk sebentar dan menghirup wanginya. Rambut panjangnya yang tersisir rapi tertiup angin sejuk.

Rhae Hoon bahagia, dia selalu bersyukur meski sudah begitu lama tidak melihat Kyu Hyun. Gadis itu bersikeras meninggalkan rumah sakit, setelah dia tersadar bahwa kedua matanya tak mampu lagi mendefiniskan cahaya dan pemandangan yang masuk ke dalam retinanya.

Dia tak pernah menyesali kondisinya saat ini meski sesekali dia berharap Kyu Hyun akan menyadari bahwa kini dirinya tak lagi merecoki hidup lelaki itu. Apa dia sudah menikah dengan si wanita Barbie?

Gadis bercardigan cokelat itu tersentak. Tadi dia meletakkan tongkat kayu itu tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Selama ada aku di sisimu, kau tak memerlukan tongkat jelek ini.”

“Aiden Oppa?” Rhae Hoon tersenyum kecil, sementara lelaki yang baru kembali dari rumah sakit itu memainkan tongkat kayu di tangannya dengan senyum hambar. Dia gagal lagi mendapatkan donor mata untuk gadis kesayangannya hari ini. Lelaki bertubuh atletis itu mengerjap sebentar sebelum akhirnya mendekatkan diri, memeluk Rhae Hoon lama tanpa bersuara.

Oppa kenapa?” Rhae Hoon bersuara di depan dada Aiden, membuat pemiliknya bergumam lirih. “Ayo kita melihat lili yang bermekaran di Rotterdam, Hoon-ie.”

Gadis itu meringis kecil dan menjauhkan kepalanya dari Aiden yang belum rela melepas pelukan. “Tidak usah, Oppa. Dengan kondisiku yang sekarang, aku akan merepotkanmu dan bibi Roselia. Lagipula…” Rhae Hoon tercekat. “Aku tak bisa melihat bunga itu dengan kedua mataku bukan? Aku akan menunggu sampai ada donor mata baru kita pergi ke sana bersama. Bagaimana?”

Aiden merasakan matanya memanas. “Baiklah, aku akan membuatmu dioperasi secepatnya.”

Dari kejauhan, tampak Shin Ji Hoon yang menitikkan air mata. Jika ada orang yang harus disalahkan atas semua bencana ini, maka orang itu tidak lain adalah dirinya.

Oppa, kau tidak boleh terlihat lemah. “ Hee Joo yang berada di sisinya menepuk bahu Ji Hoon. “Aku akan menemui Rhae Hoon,” lanjutnya lagi sambil melangkah anggun menuju taman.

***

Kyu Hyun memerhatikan tubuh tinggi semampai yang kini tengah berdiri tak jauh darinya. Benarkah gadis ini adalah pilihan hidupnya? Lelaki itu mengerutkan kening, meski sudah tiga bulan sejak peristiwa di penghujung musim gugur itu, dia belum bisa mengingat apa-apa.

“Kau suka yang mana? Merah atau biru?” Hyemi membuat lamunan kekasihnya buyar. Dia berjalan cepat dan meraba pipi Kyu Hyun yang terlihat pucat. “Kepalamu sakit lagi?”

Kyu Hyun menggeleng lemah, sementara Hyemi sudah tidak bernapsu untuk melanjutkan acara belanja. “Kita pulang saja, sepertinya kau butuh istirahat,” ujar gadis itu sambil mengembalikan baju-baju pilihannya tadi. Raut wajahnya yang terlihat khawatir, membuat Kyu Hyun merasa bersalah. Diam-diam lelaki itu mengucapkan kata maaf di dalam hati. Hyemi adalah yang terbaik untuknya, meski rasanya dia tak mendapatkan getaran apa pun ketika keduanya terus bersama

“Hyemi-ya?”

Lee Hyemi berhenti melangkah, pusat perbelanjaan itu begitu bising, membuat kepala Kyu Hyun sedikit pusing. “Apa?”

“Maaf, maafkan aku karena tidak bisa mengingatmu.”

Wajah Hyemi memucat, Kyu Hyun lebih sentimental semenjak terbangun dari koma panjangnya selama sebulan. Lelaki itu mengalami amnesia atau yang lebih dikenal dengan ketidakmampuan mengingat beberapa peristiwa di masa lampau. Benturan hebat yang terjadi di otak lelaki itu membuatnya harus berhenti total dari segala aktivitas berat. Dia terus melakukan pengobatan didampingi Hyemi dan keluargnya, sementara Kyu Hyun istirahat total maka yang menggantikan perannya di kantor adalah kakaknya, Cho Ahra.

Tidak ada yang menyangka kecelakaan itu akan membuat Kyu Hyun amnesia dan Rhae Hoon buta. Keluarga Cho sendiri kebingungan karena tidak bisa menemui Rhae Hoon dan kakaknya beberapa jam setelah mereka dilarikan di rumah sakit. Entah apa yang terjadi, Rhae Hoon tidak mau sampai Kyu Hyun menemukannya.

***

Aiden memasuki sebuah bar bernuansa gelap. Beberapa gadis langsung menatapnya penuh minat, namun dokter muda itu sama sekali tak menanggapi tatapan lapar tersebut. Dia yang tengah malam ini memakai hem santai dan celana jeans hitam segera menemukan Ji Hoon yang duduk terpekur di depan meja bartender. Sahabat karibnya itu memang sering mengajaknya minum, namun kesibukannya di rumah sakit membuatnya tak bisa selalu memenuhi keinginan Ji Hoon.

“Kau mau mati lebih cepat?” pria bermata teduh itu memesan segelas scotch tanpa menatap Ji Hoon yang sudah menelungkupkan kepala di atas meja. Tak lama, dia memalingkan wajah dan menemukan wajah Ji Hoon yang berantakan.

“Hei, dr. Aiden Lee..kalau aku memohonmu untuk memberikan suntikan mati padaku apa kau mau melakukannya?”

Aiden memicing. “Kau mabuk berat, kawan.”

Ji Hoon tertawa. “Aku pantas disuntik mati dan masuk neraka.”

“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Aiden ingin sekali menghajar karibnya itu, dia mencibir di dalam hati sambil memerhatikan wajah Ji Hoon yang lumayan tirus akhir-akhir ini. Lelaki itu begitu menderita melihat keadaan adik perempuannya, dia dilanda stress berat dan sering minum-minum. Aiden tahu Ji Hoon belum bisa menerima kenyataan bahwa kini adik kesayangannya tidak bisa melihat, tapi apa dengan mabuk-mabukan bisa membuat Rhae Hoon bisa melihat seperti sedia kala?

“Yang harusnya menderita itu Cho Kyu Hyun bukan?” Ji Hoon kembali meracau, matanya memerah membayangkan wajah innocent mantan tunangan adiknya itu.

“Dia sekarang menderita amnesia, Ji Hoon-ah. Dia juga pasti mengalami masa-masa yang sulit saat ini.”

“Lelaki tak tahu diri itu akan sembuh suatu saat nanti. Tapi Rhae Hoon kita?”

“Rhae Hoon akan mendapatkan donor mata secepatnya. Aku tidak akan berhenti berusaha sampai dia bisa melihat lagi,” ujar Aiden serak. “Aku akan mengajaknya melihat musim panas di Belanda. Dia bilang ingin sekali melihat kincir angin.”

Ji Hoon mengerang dalam hati. “Aku akan menanti musim panas itu, Aiden. Aku tidak akan mati sebelum Rhae Hoon bisa tersenyum seperti dulu.”

***

“Apa aku terlihat cantik pagi ini, Oppa?” Rhae Hoon tersenyum, wajahnya terlihat berseri tatkala Aiden mengajaknya sarapan di kafe yang terletak tak jauh dari rumah mereka. Lelaki itu tidak ingin Rhae Hoon tahu bahwa Ji Hoon masih tertidur di kamarnya karena mabuk berat semalam.

“Pink Rhae adalah yang terbaik, apalagi ini adalah musim semi,” puji Aiden sambil mencomot waffle. Lelaki itu tahu bahwa gadis ini sangat suka warna merah muda. Pink Rhae adalah sebutan sayang darinya karena Rhae Hoon sangat menyukai perpaduan warna merah dan putih tersebut.

“Aku meminta Hee Joo yang memilih baju ini.”

Aiden mengangguk, namun kemudian ia sadar bahwa Rhae Hoon tak bisa melihatnya. “Dia sangat tahu seleramu.” Lelaki itu terdiam melihat Rhae Hoon meraba gelas kopi lalu mengarahkan ke mulutnya, gadis itu menyesap minumannya sambil beberapa kali mengerjapkan mata. Dia lalu mengambil biscuit kecil di piring dan memakannya perlahan. Aiden meringis, gadis manja ini melakukan semuanya tanpa mengeluh. Seolah memang dia tak pernah menyesal kehilangan penglihatannya demi Kyu Hyun – supaya lelaki itu selalu baik-baik saja.

“Kenapa Oppa diam saja?”

“Tidak apa-apa.” Aiden mengulum senyum. “Gadis-gadis di ujung sana menatap iri padamu. Pasti mereka sedang cemburu karena kau sangat beruntung bisa duduk berdua bersama pria setampan aku.”

Rhae Hoon tertawa kecil. “Ah, benar. Mereka pasti sangat kesal karena pria tampan sepertimu malah makan bersama gadis buta.”

“Kau akan segera melihat lagi.” Wajah Aiden terlihat serius seketika. Mendengar nada bicara Aiden yang naik, membuat Rhae Hoon membulatkan matanya cepat. Kemudian dia tersenyum kecil dan kembali menekuni makanannya.

Sebenarnya, ada beberapa hal yang sangat Aiden ingin tanyakan pada gadis ini.

Tentang Cho Kyu Hyun. Kenapa Rhae Hoon tak pernah sekali pun menyebut nama lelaki itu setelah kepergiannya dari rumah sakit? Kenapa sampai detik ini – Aiden tahu Rhae Hoon merindukan lelaki itu setiap hari, tapi dia tak pernah menanyakan kabar Kyu Hyun? Apa dia menyerah akan rasanya pada lelaki itu? Bukankah Kyu Hyun berhak tahu siapa penyelamatnya? Lalu, apa yang akan terjadi ketika keduanya bertemu suatu saat nanti?

“Oppa melamun. Ada yang membuatmu gelisah sampai menarik napas begitu berat.”

Ketika mata tak mampu melihat, maka pendengaran akan lebih peka. Aiden menggenggam gelas tanpa berniat meminum isinya yang sudah hampir dingin. “Aku memikirkanmu, kenapa kau semakin cantik saja sampai membuatku susah bernapas?”

Rhae Hoon tahu Aiden sedang berusaha melucu untuk menutupi kebohongannya. Lelaki itu sedang mencemaskan sesuatu – tengah mengkhawatirkan dirinya mungkin?

***

“Jangan memikirkannya terlalu keras, Kyu Hyun-ah. Santai saja, kami memintamu datang ke kantor supaya kau bisa lebih akrab pada suasananya. Kau tahu kan, sesuai dengan saran dr. Han,” ujar Ahra setelah acara keliling Kyo Advertising sejam lalu.Wanita berambut pendek itu menepuk bahu adiknya lalu meminta lelaki itu duduk di kursi direktur utama, posisi yang kini didudukinya sementara.

“Apa rasanya familiar menghempaskan pantatmu di sana?”

Kyu Hyun meringis, matanya mengerjap cepat. “Aku suka duduk di sini. Apa aku selalu menghabiskan waktu di ruangan ini?”

Ahra tertawa kecil. “Kau bahkan akan lupa makan dan tidur ketika sudah berkutat dengan pekerjaanmu di sini.”

Pria berjas biru itu tersenyum. “Noona, ada yang ingin kuceritakan padamu.”

“Apa itu?”

Kyu Hyun terdiam beberapa saat, dia menarik napas gusar dan meminta Ahra duduk di kursi seberang mejanya. “Aku selalu memimpikan seorang wanita,” kenangnya perlahan.

“Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, aku juga tidak mengingatnya. Figurnya dalam mimpiku terlihat samar.”

Cho Ahra mendengarkan, dia tidak menanggapi karena tahu Kyu Hyun belum selesai.

“Pernah suatu kali dia tak datang dalam mimpiku, dan rasanya aku sangat merindukannya sampai membuatku uring-uringan seharian.”

“Mungkin gadis dalam mimpimu adalah Lee Hyemi.”

“Bukan…” Kyu Hyun menggeleng cepat, membuat Ahra tergagap. “Aku tidak tahu, tapi hatiku bilang dia bukan Hyemi.”

“Lee Hyemi adalah cinta pertamamu,” ujar Ahra lagi. Mata wanita itu bergerak gelisah, sebenarnya dia tidak menyukai Lee Hyemi semenjak gadis itu meninggalkan Kyu Hyun saat usaha keluarga mengalami kebangkrutan, namun dengan kondisi Kyu Hyun yang sekarang akan sangat berat baginya mengetahui fakta bahwa ada gadis lain yang rela mempertaruhkan hidup demi dirinya.

“Apa Noona yakin aku tidak dekat dengan gadis lain?” Kyu Hyun menggenggam jemari kakaknya, membuat wanita berkemeja cokelat itu mendesah kecil. Dia hanya diam saja, namun dalam hati Ahra berjanji akan mencari cara supaya Kyu Hyun bisa mengingat Rhae Hoon lagi.

***

It’s Sunday morning. Aiden begitu gembira menyambut hari ini. Lelaki itu bahkan tidak bisa tidur sejak pukul 4 dan hanya berguling-guling di atas kasur sampai Matahari menampakkan diri.

“Oppa, sepertinya udara hari ini bagus sekali. Anginnya sejuk dan aku bisa mencium wangi cherry blossom dimana-mana.” Rhae Hoon yang terduduk di kursi penumpang tersenyum kecil. Kali ini dia memakai dress selutut berwarna putih terang. Hee Joo sengaja memilihkan warna ini agar Rhae Hoon terlihat cocok bersanding dengan Aiden yang juga memakai kemeja putih pas badan. Diam-diam, di kursi belakang Hee Joo tersenyum seorang diri melihat senyum yang mengembang di wajah Aiden Lee. Gadis itu selalu memerhatikan Aiden tanpa ada yang menyadarinya.

“Hee Joo-ssi, apa kau sudah sarapan?” tanya Aiden tiba-tiba, untung saja Hee Joo sudah menyelesaikan acara lamunannya, karena kalau tidak dia yakin takkan bisa menemukan jawaban apapun. Mereka terus bercengkrama sampai akhirnya turun di taman kota.

“Kita duduk di bangku itu saja,” ajak Aiden yang kemudian menuntun tangan Rhae Hoon. Hee Joo berjalan di belakang mereka, baginya bisa melihat Rhae Hoon sedekat ini dengan Aiden adalah kemajuan pesat.

“Ah, aku akan beli es krim. Kalian ngobrol saja dulu.” Hee Joo mengedipkan mata pada Aiden, entah lelaki itu mengerti atau tidak jika Hee Joo sengaja memberi mereka waktu untuk berdua.

“Hee Joo sudah pergi?”

Aiden menoleh. “Ya, dia sedang mengantri es krim bersama anak-anak.”

“Ah, dia itu memang paling suka es krim, apalagi yang rasa cokelat,” ujar Rhae Hoon sembari meraba-raba bangku di dekat pahanya. Ada beberapa kuntum cherry blossom di sana, dia mengambilnya lalu mendekatkan bunga itu ke hidung. “Wangi sekali.”

Aiden kesakitan melihat tatapan tak fokus itu. Lelaki itu hanya diam beberapa saat, kesunyian melanda mereka berdua – tertelan hirup pikuk suara warga kota – yang juga menyempatkan diri menikmati datangnya musim semi.

“Oppa…”

“Apa?”

“Gambarkan suasana di tempat ini.”

Aiden Lee sedikit terkejut, dia merasa tidak bagus dalam mendeskripsikan suasana. “Eung…”

“Eung?” Rhae Hoon mengerutkan kening. Aiden Lee memang payah, dia terlalu sering berkutat dengan stetoskop dan buku-buku anatomi menyebalkan itu, pantas saja untuk menggambarkan suasana dia kebingungan. Gadis itu hendak mencibir Aiden saat ponsel lelaki itu berbunyi, dia mendengar Aiden membuka percakapan dengan lawan bicaranya sampai beberapa menit. Dan setelah Aiden menutup telepon, dia tahu lelaki itu mendesah.

“Oppa pergilah, mereka membutuhkanmu.”

Tetap bekerja di hari libur adalah hal yang paling menyebalkan di dunia. Aiden meringis kecil, wajahnya memerah karena amarah yang memuncak ke ubun-ubun. Rhae Hoon mendengarnya, tentang pasien anak yang hanya mau diperiksa oleh Aiden. Anak itu kini mengamuk padahal kondisinya lumayan parah sehingga membuat para dokter di sana menghubungi Aiden dengan cukup merasa bersalah.

“Tapi aku kan sedang jalan-jalan denganmu.”

Rhae Hoon menggerakkan tangan kirinya, menyentuh pipi Aiden yang lembut. Dia berujar,”aku akan menunggumu, kalau hanya satu pasien anak maka tidak akan lama kan? Pergilah, ada Hee Joo bersamaku. Kita takkan tahu apa yang akan terjadi jika Oppa tidak datang ke sana bukan?”

Aiden membeku, rasanya semua amarah itu mencair seperti lelehan es di musim panas. “Baiklah, aku akan pergi setelah Hee Joo kembali.”

***

Kyu Hyun menguap lebar. Dia tengah menunggu Ahra berbelanja di toko baju. Lelaki itu sengaja menolak ketika Hyemi mengajaknya jalan-jalan tadi pagi, dia hanya merasa bosan terus berada dalam pengawasan gadis itu. Kyu Hyun bisa merasakan Hyemi adalah wanita yang menyenangkan dan baik, serta perhatian tentu saja. Namun, entah mengapa dia ingin sekali tidak berada dalam satu lingkungan dengan gadis itu.

Lelaki itu menatap jajaran baju yang dijual, dan tanpa sengaja mata cokelat itu tertawan pada pemandangan seberang toko. Dia tidak tahu jika musim semi akan seindah ini. Beberapa detik kemudian, pria tinggi itu melangkahkan kakinya meninggalkan pelataran toko. Dia merasa familiar dengan suasana seperti ini.

“Kalau tahun ini belum bisa ke Belanda untuk melihat lili bersamamu, maka melihat cherry blossom juga boleh.”

Kyu Hyun menghentikan langkah, suara lembut itu memaksanya terhenyak. Dia kebingungan, lamat-lamat sosok gadis dalam mimpi itu muncul dalam benaknya. Dia memakai bando putih di kepalanya, dia…sangat cantik dan membuat jantung Kyu Hyun berdebar kencang.

***

Hee Joo mengumpulkan deraian kuntum bunga yang terjatuh dan menaruhnya di tangan Rhae Hoon. Lalu gadis itu menghirup wanginya sambil tersenyum cantik, sudah hampir tiga jam mereka menghabiskan waktu di sana dan mereka belum bosan sama sekali.

“Aiden Oppa akan kembali tidak?” Rhae Hoon masih sibuk dengan wangi bunga di tangannya, sementara kini Hee Joo sedang membalas pesan yang dikirim Aiden.

“Dia sudah di jalan, menuju kemari.”

“Wah, baguslah.” Rhae Hoon tersenyum kecil. “ Hee Joo-ya…”

Yoon Hee Joo mengalihkan pandangan dari ponsel. “Apa?”

“Aku pernah ke tempat ini pada musim semi tahun lalu bersama Kyu Hyun.”

She is miss him more for today, than what she’s did yesterday..

Selama hampir 4 bulan, Rhae Hoon tidak pernah menyebutkan nama lelaki itu. Terang saja Hee Joo tergagap, dia lalu tersenyum canggung, tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Aku masih boleh mengenangnya kan?” kali ini Rhae Hoon sedikit menunduk, menyembunyikan wajah muramnya. “Hee sayang, kenapa kau diam saja?”

Rhae Hoon tidak tahu jika saat ini temannya itu sudah menitikkan air mata. Harusnya hari itu Rhae Hoon tidak berlari pada Kyu Hyun, harusnya Hee Joo terus berada di sisinya supaya dia tak bisa menemui Hyemi di Mouse Rabbit.

“Hoon-ie,” serak Hee Joo lalu menghapus air matanya. “Aku tiba-tiba sakit perut. Tidak apa-apa kan kalau aku meninggalkanmu sendiri di sini?”

Hee Joo bohong, gadis itu hanya tidak mau kalau Rhae Hoon sampai tahu jika saat ini dia tengah menangis.

“Ya sudah, cepat ke toilet. Aigo, kau pasti salah makan lagi makanya perutmu jadi sakit huh?”

***

Cho Kyu Hyun masih berjalan berputar-putar, dia sudah pergi ke danau di ujung taman dan juga duduk-duduk melihat peramal kartu tarot. Lelaki yang mengenakan hem warna ungu pucat itu sedikit lelah, kakinya kini mencari sebuah bangku untuk mengistirahatkan diri.

Beberapa detik kemudian, lelaki itu menatap satu-satunya bangku yang kosong di tengah taman. Ah, tidak. Bangku itu berisi satu gadis cantik memakai dress putih selutut, dia sangat cantik dengan rambut panjangnya. Tidak apa-apa kan duduk di sebelahnya?

Lelaki itu lalu makin mendekatkan diri, dan ketika dia sudah ada di depan bangku yang menjadi incarannya sejak tadi, tatapannya terkunci, kakinya terhenti dan jantung lelaki itu berdetak lebih intens. Gadis itu tersenyum, tatapannya lurus ke depan namun tidak terfokus pada satu titik. Dan gadis itu…begitu mirip dengan sosok misterius dalam bunga tidurnya.

Nalurinya memohon untuk singgah di sisi gadis itu. Dengan rasa takjub luar biasa, Kyu Hyun memberanikan diri menekuk diri di sebelah sang gadis yang sepertinya menyadari kehadirannya.

Gadis ini tunanetra.

Kyu Hyun membulatkan mata saat wanita muda dengan wangi mawar merah itu menoleh padanya.

“Siapa?” bibir merah muda berucap, dan Kyu Hyun tak menemukan suaranya dalam beberapa detik.

Rhae Hoon bisa merasakannya, ini bukan Hee Joo, juga bukan Aiden. Dia tidak jadi menegur orang di sampingnya lagi ketika wangi lembut yang menguar dari sisi kanannya itu memaksa intuisinya untuk menyebut satu nama dalam hatinya.

Cho Kyu Hyun.

“Maaf Nona, aku numpang duduk di sampingmu tidak apa-apa kan?”

Deg…

Mata cokelat itu bergerak ringan, Rhae Hoon kehilangan udara dalam beberapa detik. Suara ini, wangi ini…

“Aku lelah berkeliling di sini, lalu hanya bangkumu yang kosong. Jadi…”

Benar, suara bass itu…

Tuhan, apa Rhae Hoon tidak sedang berkhayal? Lalu, kalau memang benar ini Kyu Hyun kenapa dia seolah tak mengenal Rhae Hoon?

“Kau tidak mengenalku?” tanyanya tanpa sadar. Kyu Hyun mengerutkan kening, kebingungan. Dia merasa familiar pada wajah, suara, gaya bicara, dan juga tatapan lembut gadis ini.

“Tuan, karena kau di sini bisakah kau beri gambaran suasananya? Kau tahu kan, aku penyandang tunanetra,” ujar Rhae Hoon cepat. Dia tidak tahu kenapa bersikap seperti ini. Gadis itu tak mengerti impuls mana yang memerintahkan otaknya bekerja sedemikian rupa.

“Oh, tempat ini…” Kyu Hyun tergagap, meneliti ke segala arah, lalu kembali menatap wajah Rhae Hoon cepat. “Ini tempat yang indah, Nona. Ehm…”

Rhae Hoon menikmati alunan suara itu, mengingatnya dalam-dalam supaya dia takkan pernah lupa bahwa dia hampir memiliki pemilik suara indah ini.

“Bunga-bunga itu jatuh dari dahannya, tertiup angin yang kemudian menjatuhkannya ke rerumputan hijau. Di sana, banyak para orang tua minum teh sambil bercengkarama, sedangkan di ujung danau tadi banyak muda-mudi saling berpegangan tangan. Ada juga beberapa anak yang berkendara sepeda di jalanan depan tempat kita duduk. Tapi, jika dibandingkan, menyentuh pipi kiri gadis itu sembari menelusuri duka yang tersirat di dalam mata kelam di depannya. “Mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya? Ah, tidak! Pasti kita pernah bertemu sebelumnya! Benar bukan?!”

Ya, tentu saja. Tentu saja kita pernah saling bertemu. Bahkan saling memiliki dalam kisaran waktu yang cukup lama…

***

Lelaki itu berkata bahwa Rhae Hoon adalah sesuatu yang jauh lebih indah dari musim semi dan segala keindahannya. Gadis itu hampir menangis, dia tidak bisa merasakan apapun selain kebahagiaan. Bahkan dia sudah tak mampu berpikir secara logis tentang Kyu Hyun yang tak lagi mengenalinya.

Rhae Hoon hampir mengucapkan sesuatu, saat dia merasakan kesakitan pada lengannya. Cengkraman kuat itu membuatnya meringis dan berdiri karena lengannya tertarik ke atas. Dia kebingungan, bernapas lebih cepat dan ketakutan sampai akhirnya dia mampu mengenali wangi white musk dari tubuh kekar di sampingnya.

“Hoon-ie, jangan bicara dengan orang asing!” Aiden berujar cepat, tatapan lembut lelaki itu berubah dingin dan tak bersahabat. Entah sejak kapan dia sudah berada di tempat itu, yang jelas semua orang akan menganggapnya begitu menyeramkan dengan kilatan neraka di matanya. Dia tak tahu garis takdir akan mempertemukan mereka lagi. Pada Cho Kyu Hyun yang kini tampak seperti orang bodoh, Aiden merasa kasihan, kesal, juga marah pada saat yang bersamaan.

“Ayo kita pergi!”

Rhae Hoon menggapai kembali kesadarannya. Gadis itu menurut saja ketika Aiden menarik lengannya dengan lembut, dia menangis dalam hati. Kyu Hyun tak mengingatnya, Kyu Hyun melupakannya.

“Tunggu!”

Lelaki bermata indah itu bersuara cepat, membuat Rhae Hoon terhenti dan akhirnya menoleh ke belakang. Begitu juga dengan Aiden, pria itu membiarkan Kyu Hyun menatap Shin Rhae Hoon dalam beberapa saat.

“Nona..kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Angin menderu merdu dan membawa daun dan kelopak bunga, juga menerpa wajah ayu yang kini tak mampu menawarkan ekspresi bahagia untuk dikenang. Rhae Hoon bisa merasakan genggaman tangan Aiden di lengannya lebih kuat – namun terkesan melindungi. Seolah menguatkan hatinya, seperti tengah menyemangatinya.

Dia tahu Kyu Hyun masih menunggu jawabannya. Dia tahu.

“Tidak, kita tidak pernah saling bertemu sebelumnya.”

***

 

-TBC-

4 Comments (+add yours?)

  1. cici
    Apr 10, 2016 @ 12:06:33

    gk baca disini,baca di wp asli
    msih aja ttp gk bosan3 bacanya

    Reply

  2. olaf0311
    Apr 10, 2016 @ 12:46:27

    Bikin mewek ceritanya. Nice story ga kaya cerita2 kebanyakan ini sedikit berbeda. Banyak banget rintangannya mungkin kalo jodoh pasti ada jalan. Walaupun lewat jalan sawah sekalipun.😢😢😢

    Reply

  3. Meidevi Everlasting Friend (meidevielf)
    Apr 11, 2016 @ 11:27:19

    Huaaa feelnya dapet bgt kak. ^^ di tunggu next chapter nya kak.

    Reply

  4. lieyabunda
    Apr 16, 2016 @ 03:18:40

    mereka bertemu dengan keadaan yg buruk…. huhuhuhu
    sedih bacanya,,,,
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: