Say Something, I’m Giving Up on You

Say Something I'm Giving Up on You

Author                        : Whin

Title                : Say Something, I’m Giving Up on You

Casts               : Kim Ryeowook, Shin Minrin

Genre              : Angst, Sad, Romance

Lenght             : Oneshoot

Author note    : Pernah di publish di blog pribadi. If you want to visit Here

***

Meja makan itu penuh dengan menu makan malam. Pemandangan yang sudah sangat biasa selama dua bulan terakhir bagi Kim Ryowook. Pria yang baru saja kembali ke apartementnya itu hanya tersenyum kecut ketika menengok dan melihat makan malamnya sudah disiapkan seperti biasanya. Setelah meletakkan tas dan juga mantelnya, dan tentu saja tidak lupa membasuh mukanya, ia pun segera kembali ke ruang makan itu. Mengamati sejenak meja itu sekali lagi.

“Makanan itu aman dimakan bukan?” tanyanya sambil terkekeh pelan. Namun dia langsung berhenti sebentar, menatap kursi di depannya, seakan ia pernah mengalami ini sebelumnya. Dejavu.

Minrin, gadis yang berdiri di pinggiran meja dapur itu hanya tersenyum melihatnya. “Ibumu yang menyiapkan itu, bodoh. Dan kau tidak akan mati memakannya,” ujarnya. Senyum lebarnya tiba-tiba memudar setelah ia menyelesaikan ucapannya.

Ryeowook tidak menjawab setelahnya. Masih menatap ragu makanan itu. Mendadak ia kehilangan nafsu makan. Bukan karena ia tidak yakin makanan yang memang telah disiapkan ibunya itu tidak akan membunuhnya perlahan, karena demi apapun kemampuan ibunya tidak pernah diragukannya. Tapi karena ia merasa tidak nyaman saja. Dia kelelahan setelah seharian bekerja, memimpin rapat dan menghabiskan sisa sore hingga pukul 9 malam di rumah sakit. Lelah fisik dan juga hatinya.

Tapi karena merasa bersalah kalau usaha ibunya untuk tetap menjaga tubuhnya tetap sehat akan terlihat sia-sia, Ryeowook pun memutuskan untuk memakannya. Dalam diam ia berusaha menelan dan mencerna satu-satunya makanan yang hari ini berhasil masuk ke dalam pencernaannya. Minrin tersenyum lagi melihatnya, mengambil tempat duduk di samping Ryeowook dan memperhatikannya.

“Kau harus istirahat setelah ini. Lihat kantung matamu sudah sangat parah. Sudah berapa hari kau tidak tidur, ha?” Suara Minrin terlihat hanya angin lalu saja bagi Ryeowook, karena pria itu langsung berdiri dan naik ke kamarnya begitu menyelesaikan makanannya.

Wajah Minrin merengut sebal, tapi tidak mengatakan apapun dan memilih berlari kecil mengikuti pria itu. Gaun putih selutut yang dikenakannya terlihat berkibar-kibar begitu kakinya dengan lincah menaiki anak tangga, mengimbangi langkah kaki Ryeowook yang sudah berada di depannya.

“Ryeowook-ah…!”

“Aku tahu kau akan memarahiku saat kondisiku seperti ini. Maaf.” Ryeowook melepaskan dasinya dan melemparnya, sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.

Sekali lagi Minrin hanya tersenyum. Wanita cantik itu memilih duduk di pinggiran ranjang memain-mainkan kakinya sembari menunggu Ryeowook keluar.

“Dan aku juga tahu, kau akan langsung menyuruhku tidur. Suaramu yang selalu memerintah itu terkadang menjengkelkan, tapi aku terbiasa mendengarnya, hingga rasanya ada yang kurang jika kau tidak memarahiku.”

Ryeowook menatap sekilas meja rias, memperhatikan pantulan dirinya sebelum berjalan di depan Minrin dan seketika itu aroma maskulin dari tubuh pria itu berhasil membuat Minrin menghirup dalam, merasakan kenyamanan dalam paru—parunya.

“Aku suka harum mint setelah kau mandi seperti ini.”

Dia mengikuti Ryeowook yang masuk ke ruang pakaian. Minrin menunggunya di depan pintu. Ryeowook keluar tidak lama setelah itu dengan t-shirt santai warna putih dan celana pendek. Pria itu kemudian naik ke atas ranjangnya. Minrin terus mengikutinya, berbaring di sampingnya dengan tangan kanan sebagai bantal.

“Selamat malam,” katanya.

“Selamat malam Minrin-ya…” Ryeowook ikut berucap sebelum memejamkan matanya perlahan.

***

Lorong rumah sakit masih sepi pagi hari itu. Ryeowook yang terbangun dan tidak mendapati siapapun di kamarnya pun langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit ini. Seperti biasanya, dia melewatkan sarapannya dan ibunya baru saja mengomel saat diperjalanan tadi. Tapi Ryeowook mengabaikannya. Baginya lebih penting menatap wajah wanita yang dicintainya setiap pagi dibandingkan memaksa lambungnya untuk mencerna.

“Ryeowook Oppa…” seorang perawat memanggilnya dari arah belakang ketika Ryeowook baru saja akan membuka pintu kamar tujuannya.

“Yeonsi-ah….,” katanya menyapa seorang perawat yang dulu adalah adik tingkatnya di SMA.

“Kau datang terlalu pagi.” Yeonsi berujar yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan dibandingkan pernyataan. Yeonsi terlalu hafal jadwal berkunjung Ryeowook selama dua bulan ini dan hari ini sedikit mengejutkannya karena Ryeowook memang datang lebih pagi dari biasanya.

“Aku tidur terlalu awal semalam dan aku pikir aku akan datang lebih pagi untuk menyapanya.”

Yeonsi tersenyum. “Eonnie pasti senang. Oppa sangat perhatian padanya meski kondisinya masih sama seperti sebelumnya.”

Ryeowook hanya bisa memaksakan tersenyum saat Yeonsi mengatakan tentang kondisi wanita yang sedang mereka bicarakan itu. Ada perasaan tidak terima tapi ia tahu tidak bisa memarahi Yeonsi karena mengucapkan hal itu. Karena kenyataannya memang begitu. Kondisi wanita itu masih sama sejak pertama kali dia masuk ke rumah sakit ini.

“Kalau begitu aku permisi.” Yeonsi membungkuk singkat sebelum pergi meninggalkan Ryeowook yang berdiri di lorong itu sendirian, memaksa hatinya untuk tidak tercabik dan menahan dirinya untuk tidak kembali dalam kesedihan. Dia menarik nafasnya perlahan sebelum membuka pintu di depannya.

Minrin yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum simpul. Ekspresinya berubah sedih. Selalu seperti itu setiap kali melihat Ryeowook yang berusaha tegar menghadapi semuanya.

Ruangan itu sudah sangat akrab untuk Ryeowook dan bahkan juga untuk Minrin. Sofa di samping kiri, jendela di samping kanan dan tempat tidur pasien di bagian tengah dengan seorang wanita yang terlihat begitu damai dalam tidur panjangnya. Bunga yang tempo hari dibawa Jihye sudah agak layu, dan ia pun memutuskan untuk membuangnya. Nanti sore setelah ia pulang bekerja, ia akan mampir untuk membeli satu ikat bunga lily untuk menggantinya.

Alat deteksi jantung masih berbunyi teratur. Dan nada itu selalu menjadi temannya setiap kali datang untuk berkunjung selama dua bulan ini. Wajah cantik yang pucat di depannya masih sama seperti sebelumnya. Seakan-akan wanita itu benar-benar nyaman dalam tidurnya.

“Aku datang lebih pagi hari ini.” Ryeowook memulai percakapannya pagi itu. Percakapan satu arah yang sedikitpun tidak pernah membuatnya lelah. Hanya ini yang bisa dilakukannya agar bisa tetap merasa dekat dengan wanita yang enam bulan lalu bersedia dinikahinya.

“Minrin-ya…,” panggilnya pelan.

Panggilan yang tidak lagi mendapat sahutan setelah isterinya itu jatuh koma karena kecelakaan dua bulan lalu. Tapi Ryeowook tidak pernah berhenti untuk memanggilnya. Ia hanya berharap panggilan itu akan membuat Minrin bangun suatu saat nanti.

Kepalanya menunduk ketika dadanya mendadak sakit. Dua bulan sudah wanita itu terbaring diam seperti orang mati, membuat Ryeowook hampir gila menghadapi semuanya. Terkadang ia ingin berteriak, menyuruhnya untuk bangun tapi Ryeowook tahu Minrin benci saat dirinya berteriak. Dia pernah berteriak marah dan Minrin langsung mendiamkannya. Ryeowook juga sering dimarahinya dulu, tapi tak pernah sekalipun ia membalasnya. Dia hanya akan tersenyum dan berbalik menggodanya untuk meredakan emosinya. Mengingat semua itu, justru membuat Ryeowook semakin sakit. Air matanya perlahan menetes pelan membasahi tangan kiri Minrin.

“Aku tidak suka saat kau menangis, Ryeowook-ah.”

“Aku tahu kau beci kalau aku menangis.” Dia mengangkat kepalanya pelan, menghapus air matanya lalu menggenggam tangan Minrin. “Maafkan aku.”

Permintaan maaf yang dipikirnya juga tidak bisa didengar Minrin. Oh ya.. dokter Lee memang mengatakan kalau mengajak berkomuniasi seperti ini bisa merangsang otak Minrin yang itu berarti bisa membuatnya sadar tapi Ryeowook mulai meragukan kata-kata dokter Lee. Karena sampai detik ini pun Minrin seperti tidak tergerak untuk membuat dirinya bangun. Wanita itu terlalu nyaman dengan tidurnya. Dan itu menyebalkan untuk Ryeowook, karena kenyamanan yang dirasakan isterinya itu justru berbanding terbalik dengan dirinya yang terlihat seperti orang kacau sepanjang waktu. Dua bulan hidup tanpa tujuan. Ryeowook sudah seperti mayat hidup. Itu yang dikatakan ibunya.

Tapi memang seperti itulah keadaan Ryeowook. Seperti orang mati. Dia akan melakukan rutinitasnya seperti biasanya tanpa diketahui jika disetiap detik waktu yang dilaluinya selalu membuatnya takut. Ketakutan jika Minrin memutuskan untuk meninggalkannya. Ryeowook memaksakan dirinya tersenyum padahal jauh di dalam hatinya sedang terjadi gejolak perdebatan yang semakin menambah ketakutannya. Perdebatan untuk mempertahankan Minrin, berharap wanita itu bangun ataukan memilih untuk melepaskannya pergi. Dan semua itu benar-benar nyaris membuatnya kehilangan arah.

Ryeowook hanya tidak tahu, kalau Minrin mendengar semua yang dikatakannya dan bahkan melihat bagaimana pria itu begitu terpuruk dengan keadaan ini. Kesedihan yang mendalam berhari-hari yang juga membuat Minrin ikut bersedih. Dia tidak terbiasa melihat wajah Ryeowook yag ditekuk sedih seperti itu. Dan melihatnya yang seperti itu juga memunculkan perdebatan tersendiri dalam diri Minrin. Bertahan untuk bisa melihat senyuman di bibir Ryeowook ataukah menyerah dan mengusir semua rasa sakit ini.

Hening untuk sementara waktu. Ryeowook masih menggenggam tangan Minrin sembari memperhatikan wajahnya, sementara Minrin berdiri di sisi lain ranjang, memperhatikan jasad dirinya dan juga Ryeowook secara bergantian.

“Aku tidak suka melihatmu seperti ini.” Minrin berujar lagi dengan ekspresi sedih. Dilihatnya Ryeowook masih terus menggenggam tangan fisiknya erat seakan tidak ingin melepaskannya.

“Katakan padaku, Minrin-ya. Apa kau lebih senang tidur seperti ini?” pertanyaan itu meluncur dari mulut Ryeowook dengan perlahan, membuat Minrin memejamkan matanya, memaksa air mata yang menggenang menetes pelan.

“Katakan padaku, Ryeowook-ah… bagaimana pendapatmu tentang keadaanku ini?” Minrin membalas, tersenyum tipis sebelum akhirnya memutuskan duduk di pojokan dan membiarkan Ryeowook sendiri dengan jasadnya yang masih tertidur.

Sepanjang waktu dia akan berada di ruangan itu, memperhatikan bagaimana Ryeowook memandanginya dan mendengarkan pria itu berbicara. Dia juga akan di sana, melihat ibu dan ayah mertuanya datang menjenguk. Hari-hari yang dilewatinya sejak ia sadar ia hanya roh yang keluar dari tubuhnya yang terbaring koma.

***

“Kau masih saja tidak menyerah meskipun dokter berulang kali mengatakan padamu kalau kondisi Minrin tidak bisa lagi diprediksikan.” Wanita setengah baya di depan Ryeowook itu menyodorkan segelas kopi yang baru saja dibelinya di cafetaria rumah sakit. “Hanya keajaiban yang akan membuatnya bangun.”

Ryeowook yang tidak suka mendengar pertanyaan itu hanya menoleh sebentar menerima gelas karton yang diulurkan ibunya dalam diam. Ibunya sudah berulang kali mengatakan itu, dan balasan Ryeowook selalu sama. Dia tidak ingin menyerah. Dia sungguh tidak ingin menyerah bahkan sampai detik ini. Tapi rasanya justru semakin menyakitkan tidak menyerah tanpa tahu harus sampai kapan ia harus dalam keadaan ini.

“Ryeowook-ah….”

“Jangan berkata seperti itu lagi eomma. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan,” tukasnya begitu ibunya kembali bersuara. Dan wanita itu hanya tersenyum, menarik tangan Ryeowook di atas meja dan menggenggamnya.

Eomma juga ingin melihatnya bangun tapi jika dia ingin pergi, kita tidak bisa menahannya untuk tetap di sini. Karena itu hanya akan menyakitinya.”

Perkataan yang sudah entah keberapa kalinya beberapa hari ini dan Ryeowook baru menyadari perkataan ibunya itu benar-benar berefek untuknya. Setelah lama memikirkan, Ryeowook tidak tahu akan berada dalam perdebatan diri yang menguras emosi.

“Aku mencintainya, eomma,” ujarnya perlahan.

Eomma tahu. Semua orang juga mencintainya bahkan aku juga sangat mencintai menantuku itu. Dan percayalah dia juga mencintaimu, mencintai kita semua.”

Minrin yang kembali mengikuti Ryeowook yang kini berdiri tidak jauh dari dua orang itu, hanya bisa menangis diam mendengar pembicaraan mereka. Untuk pertama kalinya, Ryeowook dan ibunya berbicara begitu serius tentang kondisi dirinya. Ryeowook tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Biasanya pria itu akan meyakinkan dirinya dan juga semua orang untuk tidak berhenti berharap. Tapi kini pria itu yang justru mulai kehilangan harapan.

Minrin tidak menyalahkannya, karena ia pun mulai merasa takut untuk kehilangan harapan membuka mata dan hidup seperti dulu bersama Ryeowook.

Ryeowook kembali ke kamar Minrin setelah mengantar ibunya pulang. Hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi bekerja. Ia ingin menghabiskan hari ini bersama Minrin, meski ia harus puas dengan percakapan satu arah.

Eomma sudah pulang,” katanya memberitahu. Minrin yang memang sudah menunggu di kamar itu hanya mendongak pelan sebelum memperhatikan dirinya sendiri yang tertidur.

“Untuk pertama kalinya, dia mengatakan padaku kalau dia begitu menyayangimu. Meskipun selama ini kalian tidak begitu akur dan selalu bertengkar. Tapi sebenarnya aku tahu dibalik sikap eomma yang menyebalkan, dia begitu peduli padamu. Dia hanya tidak bisa menunjukkannya dengan cara yang benar. Sayang sekali bukan dia mengatakannya saat kondisimu seperti ini.”

“Aku tahu eomma menyayangiku, Ryeowook-ah.”

Aboji beberapa kali juga datang berkunjung untuk melihat menantu kesayangannya. Dia masih berharap kau bangun. Lalu sahabatmu Han Jihye juga rutin menjengukmu. Bunga yang kemarin dia kirim sudah layu dan aku berencana untuk menggantinya tapi ibu lebih dulu datang membawa lily putih kesukaanmu.”

“Begitu banyak orang yang menyayangiku, benar kan?”

“Begitu banyak orang yang menyayangimu.” Ryeowook tersenyum. Dia menarik tangan Minrin dan menggenggamnya.

“Ryeowook-ah, aku hanya memiliki kalian sekarang ini. Terkadang aku berpikir bagaimana jika kau akhirnya menyuruh dokter untuk melepas semua alat bantu itu. Apa aku akan mati dengan mudah? Aku tidak takut, asal kau tahu saja. Aku justru berpikir mungkin dengan begitu aku bisa bertemu kedua orangtuaku. Tapi saat aku melihatmu yang terus berharap, aku tahu kau tidak akan melakukan hal itu. Aku tahu kau ingin aku hidup….”

“Kau ingat apa pernah kita bicarakan saat di Switzerland?” pertanyaan Ryeowook menghentikkan ucapan Minrin. Wanita itu segera diam dan berpikir. Sementara seulas senyum sudah menghiasi bibir Ryeowook lagi. Senyuman yang menyembunyikan banyak kepedihan hatinya.

“Bagaimana kalau salah satu dari kita pergi lebih dulu? Kau ingat? Saat itu kau bilang kalau kau tidak ingin yang pertama pergi, karena kau tahu kalau aku tidak bisa bertahan tanpa dirimu. Jadi kau memintaku untuk pergi lebih dulu, membiarkanmu hidup sendiri. Saat itu kau begitu percaya diri kalau kau bisa melewati semua masa duka itu.”

“Dan aku rasa ucapanmu itu memang benar.” Ryeowook melanjutkan. “Lihat aku benar-benar terlihat buruk sekarang. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku tidak ingin kehilangan harapan, Minrin-ya. Tapi semakin hari mereka terus mengatakan padaku untuk tidak memaksakan takdirmu.”

“Aku tahu akan seperti ini. Aku tidak pernah melihatmu begitu terpuruk selama ini, Ryeowook-ah. Dan percayalah, aku ingin bangun. Aku ingin bisa memelukmu dan aku masih ingin melanjutkan hidupku bersamamu, bersama anak-anak kita. Membayangkannya saja sudah membuatku senang. Tapi Ryeowook-ah….”

Ryeowook memejamkan matanya lagi. Pria itu kembali menangis dalam diam. Dia ingat bagaimana wajah Minrin saat tersenyum padanya, merajuk padanya dan bahkan ia masih ingat bagaimana ekspresi Minrin pagi itu sebelum kecelakan. Wanita itu menyuruhnya untuk pulang cepat dengan nadanya yang setengah memaksa. Permintaan yang tidak bisa dikabulkan Ryeowook karena pekerjaannya masih begitu banyak. Dan itu akan menjadi penyesalannya yang paling dalam. Karena saat ia memutuskan untuk tinggal lebih lama di kantornya, tanpa sepengetahuannya Minrin berencana datang menemuinya. Rencana yang akhirnya gagal karena mobil yang ditumpanginya ditabrak sebuah truk di perjalanan.

“Aku ingin kau bangun, sayang. Aku ingin melihatmu tersenyum, dan aku juga masih ingin makan masakanmu yang masih terasa asin itu. Banyak hal yang ingin kulakukan denganmu. Perjalanan kedua kita ke Swizterland dan juga perayaan satu tahun pernikahan kita. Aku ingin melakukan semua itu denganmu. Tapi jika kau memang tidak sanggup, jika semua alat itu dan juga keadaanmu sekarang justru semakin menyakitimu, maka berjanjilah padaku….”

Pria itu kembali menangis, tak sanggup meneruskan kata-katanya. Tangis yang lebih keras yang terdengar semakin memilukan hati makhluk yang tak bisa dilihatnya, yang saat ini berdiri memandanginya di sisi lain ranjang itu. Minrin membekap mulutnya, ikut menahan tangisnya.

“Aku tahu apa yang kau rasakan.” Minrin berjalan mendekat. Tangannya terulur seakan menyentuh kepala pria yang dicintainya itu. “Tapi Ryeowook-ah…., semua ini sungguh menyakitkan untukku. Melihatmu yang seperti ini dan juga melihat semua orang berusaha membuatmu tegar. Aku terkadang tidak sanggup melihatnya. Rasanya melelahkan. Jika aku pergi apa kau bisa berjanji akan baik-baik saja?”

Ryeowook mengapus air matanya lagi, menatap Minrin, mengelus kepala wanita itu dengan lembut dan berusaha menguatkan hatinya. “Berjanjilah padaku kau akan pergi dengan bahagia dan aku akan berjanji akan melepaskanmu.” Dia menunduk dan mengecup kening Minrin lama, menumpahkan kembali air matanya.

“Aku mencintaimu.”

Minrin hanya diam, memandangi prianya itu. Air matanya menetes. Selama dua bulan ini, mungkin ini kedua kalinya mereka berdua menangis hebat setelah sebelumnya pernah terjadi saat kondisi Minrin dinyatakan koma. Tangis yang tidak mungkin terjadi saat mereka masih bersama-sama. Dan perlahan semua kenangan bersama Ryeowook tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. Saat ia pertama kali bertemu dengannya, saat pria itu memintanya untuk menjadi kekasihnya, saat pernikahan mereka dan juga saat liburan bersama yang pernah mereka lakukan. Bahkan Minrin bisa melihat dengan jelas kenangannya saat ia masih berusia 9 tahun, ketika ayahnya mengajaknya ke taman hiburan, dan juga ketika ibunya memeluknya. Rasanya begitu nyata ketika melihat kedua orangtuanya tersenyum ke arahnya.

***

Ryeowook menatap gundukan tanah di depannya. Dia masih duduk di sana selama setengah jam. Ibunya menyuruh untuk pulang tapi Ryeowook menolaknya. Bagi mereka Ryeowook masih terlihat seperti seorang suami yang belum bisa merelakan kepergian isterinya. Ya, mungkin benar. Tapi Ryeowook sedang mencobanya sekarang. Dan entah bagaimana ia tahu jika usahanya gagal, Minrin akan memarahinya.

Hujan rintik-rintik turun secara mendadak, langit juga sudah berselimut mendung sekarang ini. Ryeowook masih menatap gundukan tanah itu, membiarkan tubuhnya basah karena hujan, membiarkan tetes-tetes yang semakin besar itu menusuk-nusuk wajah dan seluruh permukaan kulitnya. Tidak akan sesakit perasaannya yang baru saja kehilangan wanita yang menghuni ruang sana selama ini. Tapi terasa melegakan. Mungkin tidak akan menghapus semua kesedihan, namun Ryeowook tahu ia akan bisa melewati hari-hari di depan sana.

“Kau suka hujan bukan? Lihat hujan turun sekarang.” Dia tersenyum.

Ia mungkin akan membiarkan dirinya bersedih di masa berkabung ini, mungkin juga akan sedikit menyiksanya, lebih parah dibandingkan dua bulan ini, tapi ia akan berjanji untuk bangkit dan tersenyum kembali. Menghadapi hari-harinya tanpa Minrin, meski sampai detik ini pun ia juga belum punya bayangan akan seperti apa hidupnya nanti. Tapi satu hal yang ia tahu, Minrin tidak suka melihatnya menjadi pria yang menyedihkan, yang meratapi nasib karena ditinggal pergi wanita yang dicintainya.

Dan Ryeowook rasa ia benar-benar harus membiasakan diri mulai sekarang. Membiasakan diri untuk menjalani hidupnya tanpa seorang wanita yang sampai akhir hidupnya masih dicintai Ryeowook.

“Aku akan menganggap kau bahagia dengan pilihanmu. Maafkan aku karena menyerah dan berhenti berharap.”

Sosok Minrin yang masih berdiri di samping pria itu hanya menoleh. Waktunya hanya tinggal beberapa menit sebelum seseorang menjemputnya begitu Ryeowook meninggalkan tempat ini. Dan sekarang mungkin saat terakhirnya bisa melihat Ryeowook, melihat pria yang dicintainya yang selalu berusaha untuk berhenti berharap. Namun pada akhirnya pria itu juga tidak bisa menghentikkan takdir menyakitkan ini, begitu juga Minrin yang akhirnya memilih menyerah dan melepaskan semua rasa sakit yang dirasakannya.

“Aku juga minta maaf karena menyerah dan berhenti berjuang. Maafkan aku karena aku membuatmu seperti ini.”

Ryeowook menarik nafasnya panjang, menghapus air matanya yang telah bercampur dengan tetes air hujan. Terakhir pria itu tersenyum lagi sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

Minrin berdiri di sana, memandangi punggung pria itu yang ia yakin akan menanggung kesedihan untuk beberapa hari ke depan. Tapi entah bagaimana Minrin tahu pria itu akan menempati janjinya untuk tersenyum bahagia begitu kesedihannya hilang.

“Tersenyumlah, aku mencintaimu.”

***

END

Thank you and please leave yout comment. J

4 Comments (+add yours?)

  1. vannyradiant
    Apr 12, 2016 @ 12:29:29

    Wow… Sad ending -____-
    tapi yang penting mereka masing-masing ikhlas dengan kenyataannya.
    buat cerita afternya dong thor, gimana hidup Ryeowook setelah Minrin gaada. mungkinkah dia bisa jatuh cinta lagi (?) hehehe…
    keep writing thor🙂

    Reply

  2. mayank
    Apr 12, 2016 @ 14:15:22

    Nyesek bagi nih ff thor. Kasian bgt ryewook n minrin harus trpisah. Yah mau bagaimana lagi klo sudah takdir tidak ada yg bisa merubahnya. Bikin spesial partnya donk thor yah yah 😁✌

    Reply

  3. silver
    Jul 26, 2016 @ 15:12:38

    sad ending…
    aku suka cerita nya thor, kasian ryeowook ditinggalin ama minrin (p′︵‵。)

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: