Married With A Fangirl [4/?]

married-with-a-fangirl

Nama                      : Yulianti Azhar

Judul Cerita        : Married With A Fangirl

Tag                            : Lee Hyuk Jae, Park Jisoon (OC)

Genre                      : Romance

Rating                     : PG-15

Length                    : Chapter

Note                         : Sorry for the typo(S). Visit http://allrisepink.wordpress.com . Poster by carissa story

Part 4

Avoiding

Letting you go like this is still difficult to me,
Please give me a little more time
I can’t live without you,
My all is in you

(Super Junior- My All is in you)

[PREVIEW]

Eunhyuk’s Pov

Aku sudah tiba di depan rumah Jisoon. Kuketuk pintu depan rumahnya dengan tidak sabaran. Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu rumah, dan terkejut melihatku.

“Aku mencari Jisoon. Apa dia ada di dalam?”

“Dia sudah pergi kemarin malam,” balas eomma Jisoon. “Dia melarangku memberitahu siapapun kemana dia pergi. Aku minta maaf, nak.”

Aku menundukkan kepalaku. Sejenak memikirkan kalimat yang baru saja masuk ke dalam indera pendengaranku. “Ah! Baiklah. Maaf telah mengganggu.”

Gwenchana. Kenapa kau tidak masuk dulu, Hyuk Jae-ssi?” ujar Nyonya Park—yang sekarang menjadi Nyonya Han setelah berpisah dengan suaminya—menawarkanku untuk masuk ke dalam rumahnya. Aku menggelengkan kepalaku dengan sopan.

“Aku harus pulang. Aku hanya memastikan apa benar Jisoon telah pergi. Jangan memberitahunya kalau aku datang mencarinya.”

“Baiklah.” Senyum Nyonya Han yang terakhir kulihat sebelum membalikkan badanku. Kedua kakiku terseret dengan paksa untuk berjalan ke arah mobil manajerku yang kupinjam. Aku masuk ke dalam mobil dan memukul setir untuk melampiaskan amarahku.

Sial! Aku baru saja bertemu dengannya dan kini dia lepas dari genggamanku. Jika aku bertemu lagi dengannya, aku akan selalu menahannya agar tetap berada dalam teritoriku.

***

Two Months Later, November 2014

Dua bulan berlalu sejak kepergian Park Jisoon. Dia benar-benar pergi. Menghilang. Menghindar. Seakan lenyap begitu saja dari permukaan bumi ini. Gadis itu bahkan tidak menghubungi salah satu di antara kami. Ibunya membuka coffe shop sejak kepergian Jisoon. Aku sengaja meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk mengunjungi kafenya. Berharap keajaiban berpihak padaku membuat Nyonya Han memberitahuku alamat Jisoon sekarang. Tapi nihil, Nyonya Han tetap bungkam tentang keberadaan Jisoon saat ini.

“Kau tidak sibuk hari ini?”

Seorang wanita paruh baya kini berdiri di samping mejaku. Ia menyodorkan segelas susu strawberi kesukaanku dengan tatapannya yang prihatin pada kondisiku saat ini.

“Hari ini tidak ada jadwal, eommonim.” Aku memperbaiki letak kacamata dan topiku agar penyamaranku tetap terjaga. Saat ini aku berada di kafe Nyonya Han. Dengan penampilan serba hitam. Tak lupa topi dan kacamata menutupi wajahku agar tak ada yang mengenalinya. “Kyuhyun sedang sibuk menyiapkan debut solonya. Jadi kami diliburkan untuk beberapa hari.”

Nyonya Han mengedikkan bahunya dan menatapku prihatin. Dia pasti mengerti dengan penderitaanku semenjak kepergian anaknya. Di depan member Super Junior yang lain mungkin aku tidak menampakkannya dan bersikap seperti biasanya. Tapi di depan Nyonya Han, aku tidak bisa menyembunyikannya. Wanita itu mengambil posisi duduk di hadapanku. Tangannya yang mulai menunjukkan tanda penuaan meraih tanganku, meremasnya seolah memberi sebuah harapan di sana.

“Aku minta maaf karena tidak bisa memberitahumu, Hyuk Jae.” Begitu katanya. Seperti itu setiap saat. “Jisoon menyuruhku untuk tidak memberitahu siapa-siapa.”

***

Malibu—November 2014

Jisoon’s Pov

Dua bulan telah berlalu semenjak aku meninggalkan Seoul. Aku tidak menghubungi siapapun di sana termasuk ibu dan ayahku. Kecuali Kyuhyun. Dia adalah informanku tentang apa yang terjadi di sana. Lebih tepatnya informanku tentang Eunhyuk. Aku yakin dia tidak bermulut besar seperti Donghae dan sahabatku, Jihyun. Kyuhyun tidak akan membocorkan pada siapapun kalau aku sering menanyakan kabar Eunhyuk di sini.

Pindah ke Malibu bukan berarti kegiatan fangirlku terhalang. Aku masih bisa mengetahui kabar tentang Eunhyuk melalui fansite dan fancafe. Di Seoul dulu, aku harus menutupi kalau aku adalah fans dari Lee Hyuk Jae. Tapi sekarang aku bisa bebas menempel semua posternya di dinding kamarku. Bahkan aku memiliki bantal yang memajang wajahnya. Aku seperti orang yang tidak waras saat ini. Begitu memuja seorang Lee Hyuk Jae tapi menghindarinya.

Aku tidak melanjutkan kuliahku saat ini karena masa perkuliahan sedang berjalan. Sedikit susah untuk mengurus proses pemindahanku dari Korea. Info yang kudapat dari Kyuhyun, Jihyun telah membuatkan izin cuti di kampus lamaku. Jadi statusku saat ini sedang cuti selama satu tahun di kampusku.

Ting

Suara pesan masuk di ponselku membuyarkan lamunanku. Aku membuka pesan dari Kyuhyun itu dan tertawa dalam hati melihat isinya.

<Lihatlah. Kau ELF pertama yang melihat foto teaser untuk mini albumku. Selalu tampankan?>

Aku memerhatikan foto teasernya yang Kyuhyun kirimkan padaku. Di fotonya tampak baring dan sebuah daun menutupi matanya sebelah dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Lumayan tampan. Kapan salah satu di antara mereka tidak terlihat memukau?

Aku mengetikkan sesuatu pada ponselku untuk membalas pesannya.

<Pastikan aku orang pertama yang memiliki albummu.>

Beberapa menit kemudian Kyuhyun membalas pesanku lagi.

<Kau punya saingan. You-Know-Who. Kapan kau kembali? Seseorang sedang sekarat di sini.>

Aku tahu siapa orang yang dimaksud Kyuhyun. Sainganku yang dimaksudnya adalah Jihyun. Sahabatku itu pasti akan merengek pada Leeteuk oppa untuk mendapatkan album Kyuhyun bahkan sebelum rilis. Sedangkan orang yang sekarat dimaksud Kyuhyun adalah Lee Hyuk Jae. Aku yakin dia sedang membohongiku. Eunhyuk tak mungkin berlebihan seperti itu. Apalagi hal itu berhubungan denganku.

Tanganku kembali mengetikkan pesan untuk Kyuhyun.

<Aku akan kembali kalau kau menikah dengan Jihyun.>

Tak lama kemudian, Kyuhyun membalasnya lagi.

<Aku harus rekaman, Park Jisoon. Bye!>

Aku tertawa lagi membaca pesan Kyuhyun yang terakhir. Dia pasti akan menghindariku ketika aku mulai membahas tentang Jihyun.

***

Maret 2015

Argh! Aku hampir kehabisan nafas melihat foto Donghae oppa di teasernya. Aku baru sempat mengecek emailku. Kau tahu, belakangan ini aku sibuk membantu bibi Eun Soo di butiknya. Terima kasih untuk fotonya yang kau kirimkan, Kyuhyun-ah.

“Biasa saja. Foto teaserku yang dulu jauh lebih tampan dari ikan busuk itu.”

“Hei! Donghae oppa itu hyungmu, Cho Kyuhyun. Panggil dia hyung.

“Tidak sebelum kau membiasakan lidahmu memanggilku oppa, Park Jisoon. Kau jauh lebih muda dariku dan beraninya kau memanggilku tanpa embel-embel oppa.

Aku terkekeh sambil menggaruk belakang kepalaku. Walaupun aku yakin dia tidak melihatnya. “Itu karena kau adalah temanku, Kyuhyun-ah.

“Kau juga tidak memanggil Eunhyuk memakai oppa. Aku yakin Eunhyuk pasti lebih dari seorang teman bagimu.”

Aku segera memutuskan sambungan teleponku dengan Kyuhyun.

Astaga. Mendengar namanya saja membuatku ingin menguburkan diriku hidup-hidup.

Mataku tertuju pada sebuah file foto yang terbuka di laptopku. Foto yang baru saja dikirimkan Kyuhyun di akun surat elektronikku. Foto seorang pria, yang kalau boleh jujur, sangat kurindukan. Wajahnya, matanya, dan bibirnya masih tetap sama. Tidak ada yang berubah dari seorang Lee Hyuk Jae. Dia tampak baik-baik saja. Dan begitu sehat, mungkin efek dari aplikasi yang digunakan untuk mengedit foto teasernya. Memangnya apa yang perlu berubah dari fisik seorang Lee Hyuk Jae, selain rambutnya yang tak memiliki warna tetap sejak tahun 2006? Hanya saja wajahnya terlihat semakin mempesona dalam kadar yang tidak wajar.

Kalau tadi aku mengatakan pada Kyuhyun bahwa aku kesulitan bernafas melihat foto Lee Donghae maka aku harus mengonotasikan apa ketika melihat foto Lee Hyuk Jae? Jawabannya hanya satu. Mati mungkin.

***

Author’s Pov

Lee Hyuk Jae melepaskan sepatunya ketika memasuki dorm. Ia baru saja mengunjungi kafe ibunya dan memutuskan untuk pulang ke dorm beristirahat sejenak dari jadwal performnya yang semakin hari semakin menggila.

“Lee Sungmin telah menikah. Kurasa agensimu sudah mengizinkan kalian untuk berkeluarga. Eomma ingin ada yang mengurusmu kalau kau sedang libur seperti ini.”

“Aku belum memikirkannya, eomma.

“Dia tidak akan menikah kalau bukan dengan Park Jisoon, eomma.

Eunhyuk teringat percakapan dengan ibunya dan kakak perempuannya ketika di Chocolat Bonbon tadi. Sejak pernikahan Lee Sungmin bulan desember kemarin, Ibunya mulai merecokinya dengan pertanyaan kapan kau menikah akan menikah? Sampai saat ini Lee Hyuk Jae belum memikirkannya dan belum menyediakan jawaban yang tepat untuk ibunya. Kalau dipikir, umurnya memang sudah wajar menikah, untuk orang normal, bukan sebagai seorang idol. Tapi ibunya tidak peduli dengan pernyataan dari mulut ke mulut itu. Yang ia pedulikan hanyalah pernikahan anak lelakinya harus terlaksana sebelum Eunhyuk menjalankan kewajibannya sebagai warga negara korea.

Ada banyak gadis yang belum menikah—yang sempat dekat dengannya—bisa dipilihnya secara acak untuk dijadikan menantu ibunya. Tapi gadis-gadis itu bukan jenis wanita yang ingin dijadikannya alasan pulang ke Korea secepat mungkin setelah pekerjaannya. Bukan jenis gadis yang membuatnya ingin melindunginya. Bukan jenis gadis yang keberadaannya tidak diketahuinya dan membuatnya frustasi. Bukan jenis gadis seperti Park Jisoon. Ia membenarkan pernyataan kakaknya tadi, bahwa ia tidak akan menikah kalau bukan dengan Park Jisoon.

Eunhyuk memilih untuk tidur daripada harus memikirkan pernikahan. Membuat tubuhnya sekaligus pikirannya beristirahat. Ia baru saja ingin memasuki kamarnya kemudian Leeteuk datang tergesa-gesa menghampirinya. “Donghae daritadi menghubungimu. Kau harus ke gedung SM sekarang untuk mengatur ulang jadwalmu. Music Video kalian sudah dirilis oleh agensi.”

Mworago?” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya atas semua pernyataan sang leader yang membuatnya syok. Music Video untuk album The Beat Goes On bersama Lee Donghae telah rilis itu artinya dia harus menyiapkan diri untuk penampilan mereka di acara-acara musik korea. Dengan kata lain, tidak ada istirahat untuknya.

Bahu Eunhyuk seketika melemas. Ya. Tidak ada istirahat untuknya.

Leeteuk mengusap bahu Eunhyuk. Saling memberi semangat satu sama lain seperti ini sudah wajar bagi mereka. Leeteuk mengerti betapa tersiksanya Eunhyuk, orang yang telah dianggap adiknya sendiri.

“Kau ingin manajer Kim menjemputmu?”

“Aku akan menyetir sendiri.”

“Baiklah. Hati-hati.”

Eunhyuk yang tadi berniat untuk beristirahat di kamarnya terpaksa membatalkan niatnya itu. Ia memutar tubuhnya menuju pintu masuk dorm dan melangkah keluar. Suara Kyuhyun di ruang tengah menginterupsi langkahnya. Ia berhenti sejenak karena percakapan Kyuhyun dengan seseorang di telepon mencuri fokusnya.

“Kau sudah lihat MV-nya? Geuraedo neoneun namankeum deo apeuji anhgil. Maeil bareu sueopsido.” Kyuhyun terdengar menyanyikan lagu dari MV yang dimaksudnya. Itu artinya dia tengah membicarakan Eunhyuk atau Donghae.

“Aku yakin lagu itu sangat cocok dengannya. Dia sangat hancur tanpamu, Jisoon-ah.” Kyuhyun terkekeh dengan candaannya sendiri. Lain dengan Eunhyuk yang saat ini tergelak. Ia sangat yakin kalau Kyuhyun—yang tidak sadar akan kehadirannya—kini tengah membicarakannya dengan seorang gadis yang selalu memenuhi pikirannya.

Apa Kyuhyun sering berhubungan dengan Jisoon?

Apa Kyuhyun tahu dimana Jisoon saat ini?

Kenapa Kyuhyun tidak memberitahunya?

***

Kyuhyun terkekeh menatap ponselnya setelah Jisoon memutuskan sambungan telepon mereka. Jisoon akan memutuskan koneksi mereka sepihak kalau Kyuhyun mulai mengejek dan menggodanya tentang Eunhyuk. Tanpa gadis itu mengatakannya, ia tahu bagaimana perasaan Jisoon terhadap hyungnya. Ia juga bisa melihat bagaimana hancurnya Lee Hyuk Jae ketika gadis itu pergi.

Setelah Jisoon pergi ke Malibu—Kyuhyun baru saja mengetahui hal itu ketika ia mengirimkan Album Solo pertamanya pada Jisoon—mereka sering berhubungan. Hampir setiap hari. Baik itu di permainan Starcraft, di SNS ataupun melalui telepon.

Kyuhyun bisa saja memberitahu Eunhyuk keberadaan Jisoon dan memberikan info akun SNS Jisoon yang aktif saat ini. Tapi entah sejak kapan, ia mulai menikmati waktunya bersama Jisoon walaupun dari jarak yang sangat jauh. Rasa lega yang spontan muncul begitu tahu kalau gadis itu sehat-sehat saja disana. Kenyataan gadis itu bahagia disana membuatnya merasa bahagia juga. Bahkan di tengah pekerjaannya yang semakin hari semakin menggila, setelah mendengar suara gadis itu secara ajaib kelelahannya menghilang begitu saja.

Sesuatu seperti mencengkram jantungnya dengan kuat. Berdebar tak karuan.

Kenapa nama Park Jisoon selalu memenuhi otaknya akhir-akhir ini?

-TO BE CONTINUED-

4 Comments (+add yours?)

  1. riskakyuu
    Apr 19, 2016 @ 14:27:08

    Wahhh apa kyuhyun mulai menyukai jisoon??.

    Reply

  2. ranakim9387
    Apr 20, 2016 @ 03:08:34

    Hadauuuu saingannya hyukkie nih… Jd bingung weh mau dukung yg mana

    Reply

  3. Hwang Risma
    Apr 20, 2016 @ 16:17:53

    Oh my! Kyu! Andwaeyo… *lebay ✌
    Wahhh bakal ada persaingan nihh

    Reply

  4. annisa
    Apr 24, 2016 @ 14:28:28

    mau tahu kelanjutannya dong.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: