Princess Of The Dry Season

rc1

Princess Of The Dry Season

Cast :

Cho Kyuhyun, Kim Yeo Rin

Main cast :

Kim Heechul, Yamashita Izumi, Choi Min Ah (cameo)

Genre :

Sadness, Romance, Memories

 

 

Seperti alunan musik yang indah.

Perasaan itu bisa membuat seseorang terlena.

Hidup dalam ketidaksadaran yang berjalan lurus dengan bayangan.

Cinta.

*****

Pagi yang sejuk. Aroma air hujan yang bercampur dengan debu-debu jalanan beberapa menit yang lalu pun masih terasa menyengat di hidung. Beberapa orang yang berlalu-lalang tampak menikmati udara sejuk karena siraman air hujan. Namun di samping itu, ada pula orang yang mengutuk kehadiran hujan. Dengan alasan, maupun tanpa alasan tertentu.

“Yeo Rin-ah ~ kumohon masuklah sekolah demi aku~”

Choi Min Ah masih saja berusaha membangunkan sahabatnya dengan menarik-narik selimut tebal yang membalut sempurna tubuh sahabatnya itu. Kim Yeo Rin.

Dia tahu Yeo Rin memang akan seperti ini jika hujan datang. Seperti orang bodoh yang tanpa alasan tidak ingin melakukan apapun, bahkan untuk keluar dari rumah.

Min Ah merasa lelah melakukan segala cara untuk membujuk Yeo Rin sejak setengah jam yang lalu. Ia memukul kepala Yeo Rin yang terbalut selimut tebal dengan bantal. “Baiklah. Aku akan berangkat sendiri.” Min Ah bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Karena tetap percuma jika ia terus-terusan merengek di depan Yeo Rin. Hasilnya tetaplah sama.

Ia berhenti di ambang pintu kamar. “Aku akan membunuhmu jika kau tidak sarapan.”

Min Ah menjulurkan lidahnya ke arah Yeo Rin sebelum akhirnya memutuskan untuk berangkat sekolah sendiri. Yeo Rin yang sadar akan hal itu hanya tersenyum singkat di balik selimut tebalnya. Ia justu mengeratkan selimut di tubuhnya.

 

Kejadian 4 tahun yang lalu, saat Ayah Yeo Rin meninggal karena sakit. Ia masih ingat air matanya keluar dengan sangat deras. Lalu. 2 tahun yang lalu, ketika ia harus merasakan hal yang sama karena Ibunya tiba-tiba saja meninggal karena ditabrak seseorang. Air matanya terasa mulai mengering. Mungkin hujan yang turun saat itu mencoba menggantikan air mata yang seharusnya jatuh dari kedua matanya.

Setidaknya ia beruntung. Itulah yang selalu ditanamkan dalam dirinya. Walaupun terkesan munafik, tapi setidaknya ia masih merasa beruntung dan bermanfaat bagi orang yang selalu berada di sampingnya. Dia masih tahu untuk siapa dia bertahan hidup.

“Yeo Rin-ah, Kim Yeo Rin.”

Suara itu terdengar samar-samar dari telinga Yeo Rin. Awalnya ia kira mungkin itu hanya suara yang berasal dari mimpi. Tapi semakin lama suara itu mengeras dan bahunya terasa terguncang.

“Ahjumma.” Yeo Rin terkejut melihat ekspresi Jun Yeong Ahjuma-tetangga samping rumahnya. Yang tiba-tiba saja bercucuran air mata.

Jun Yeong Ahjuma terlihat sulit mengeluarkan satu kata pun. “Ta, Tadi di luar ada kecelakaan.”

 

*****

 

Hari ini hari selasa. Cuaca masih memungkinkan untuk beberapa murid tetap berteduh di sekolah menunggu hujan reda. Akhir-akhir ini hujan sering datang tiba-tiba tidak sesuai perkiraan cuaca harian.

“Yeo Rin-ah, kau mau ikut denganku tidak? Ayahku sudah menjemputku.”

Yeo Rin menghentikan kegiatannya dan menutup buku sketsa miliknya. “Ah, tidak. Aku akan menunggu sebentar lagi. Kau duluan saja.”

“Baiklah.”

Sebenarnya sebentar lagi untuk apa dia berada di kelas yang sepi dan hanya tersisa 4 orang termasuk dirinya. Dia bahkan bingung dengan dirinya kenapa dia berada di sini.

Ia memutuskan untuk berpindah teduh. Rasanya ia membutuhkan banyak waktu yang tenang.

Sejak 4 hari yang lalu, rasanya kakinya tidak menyentuh lantai dengan sempurna. Apapun yang dilakukannya seperti paksaan. Terlebih untuk tersenyum.

Kakinya terhenti di depan loker. Tapi bukan loker miliknya. Ia bukan memperhatikan loker miliknya. Tapi milik orang lain. Loker yang penuh tempelan surat-surat kecil.

                                    Min Ah~

Selamat Jalan.

Kami mencintaimu.

 

 

 

 

 

 

Dari kejauhan terdengar beberapa suara para siswa tertawa sangat nyaring. Yeo Rin tahu arah itu semakin mendekat, tapi kakinya masih sulit untuk lepas dari lantai.

“Ahahaha kau jahat sekali!”

“Tapi mungkin itu benar. Mungkin karena terbiasa mengalami hal serupa. Atau mungkin air matanya memang sudah habis.”

Tawa itu kembali meledak. Tapi tidak dengan Kyuhyun, diantara rombongannya mungkin hanya dia dan Heechul yang tetap tenang.

“Yaa.. sudahlah. Tidak baik berbicara seperti itu. Walau bagaimana pun juga pasti dia menderita.” Heechul mulai risih dengan tawa teman-temannya. Sebenarnya bukan hanya karena itu, tapi karena Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum simpul dan meneguk minuman kalengnya hingga habis. Sesaat matanya mendarat ke arah kanan. Ke arah gadis yang sedang berdiri mematung di depan loker.

Mungkin teman-temannya tidak menyadari objek yang sedang mereka bicarakan ada di dekat mereka. Bahkan mereka lewati.

 

*****

 

“Bagaimana hasil rapat sekelas tadi? Menarik?” Kyuhyun menarik jus apel yang sedang diminum Heechul tanpa permisi. Padahal dia tahu ini hal yang sangat dibenci Heechul. Tapi ia tetap melakukannya.

“Berengsek kau Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun tertawa melihat ekspresi Heechul yang seperti ingin memakannya. Seperti biasa, Kyuhyun selalu duduk di meja kantin. Padahal sudah sangat sering dia ditegur oleh Ibu kantin. Tapi telinganya benar-benar setebal baja.

“Ya Kyu, kau tahu, di mading ada kejutan untukmu. Kejutan untuk orang yang seenaknya tidak ikut rapat kelas. Hahaha.”

“Bodoh!”

“Bodoh? Siapa yang kau bilang bodoh, hah?” Heechul menarik kembali jus miliknya dari tangan Kyuhyun, sebelum bibir Kyuhyun mendarat disedotan Jus. “Kau sudah melihatnya?”

Kyuhyun hanya mengangguk, matanya tetap mengedar ke atap gedung di sebrang kantin. Sepertinya ia ingin ke sana. Ke tempat penuh keributan suara angin. “Hanya berdialog di atas panggung kan? Tidak sulit.”

Heechul mendengus jijik mendengar ucapan Kyuhyun yang tengil. Sejak kapan temannya itu bersedia ikut acara festival sandiwara kelas.

 

*****

 

Hari kamis. Entah kenapa setiap kamis tiba, Yeo Rin selalu sulit untuk membuka matanya. Bukan hal yang asing jika setiap hari kamis ia selalu terlambat sekolah.

Sekarang, posisinya berdiri tidak lebih dari 1 meter berada dari depan gerbang sekolah. Ia bisa melihat jelas gerbang sudah tertutup rapat. Dan sepertinya, hari ini ia malas untuk belajar.

Tidak ada jalan lain selain loncat pintu gerbang belakang sekolah. Itu pikirnya. Setidaknya masih ada jalan keluar untuk tetap masuk ke dalam sekolah. Karena dia tidak tahu akan ke mana jika ia tidak ke sekolah hari ini.

Seperti sihir, hari ini entah kenapa gerbang belakang sekolah terbuka cukup lebar. Tidak seperti biasanya yang selalu tertutup sangat rapat seolah di dalamnya terdapat benda-benda kuno bersejarah yang harus dilindungi.

Yeo Rin berjalan lurus masuk ke dalam. Tapi bukan menuju kelas, ia berjalan menuju atap gedung C. Selain atap gedung C, Yeo Rin sudah pernah singgah di 2 atap gedung A dan B sebelumnya. Tapi hanya atap gedung C yang menurutnya lebih sepi dan nyaman. Karena gedung C memang gedung khusus untuk pembagian ruang rapat atau kegiatan sekolah lainnya.

Yeo Rin menatap teduh langit yang cerah. Ia memilih untuk berdiri di sisi balkon sambil tetap menggenggam gitar miliknya. Bukan. Itu bukan miliknya.

“Itu milik Min Ah, kan?”

Yeo Rin terkejut dan spontan memutar balik tubuhnya ke belakang. Matanya menatap lurus ke mata seseorang yang tiba-tiba berbicara padanya.

Dia Cho Kyuhyun. Entah sejak kapan Kyuhyun berada di sini, duduk bersandar di dinding yang tidak jauh berada dari balkon.

Kyuhyun tidak membalas tatapan Yeo Rin, ia malah tertunduk menatap botol kaleng yang sejak tadi diputar-putar oleh tangannya. “Duduklah. Kujamin kakimu akan keram jika terus berdiri di situ.”

“Sejak kapan kau duduk di sini?” Yeo Rin menyenderkan gitarnya ke dinding. Ia duduk di samping Kyuhyun yang telah menggeser duduknya memberi tempat untuk Yeo Rin duduk.

“25 menit yang lalu. Tidak, mungkin 7 menit yang lalu. Atau”

“Bodoh!”

Kyuhyun tertawa ringan mendengar tanggapan Yeo Rin. Ia menyodorkan botol kaleng minumannya pada Yeo Rin. Kali ini beda, matanya terpaku menatap ke depan.

Yeo Rin mengambil kaleng minuman Kyuhyun. Sebenarnya ia tidak ingin berada dalam keadaan seperti sekarang ini. Tapi ia tidak punya tempat lain. “Ternyata masih hangat. Kau gunakan ini untuk penghangat?” tangannya memutar kaleng minuman yang masih terasa cukup hangat itu. “Apa kau punya masalah?”

“Sepertinya tidak. Aku hanya ingin mendengar suara angin.”

“Suara angin. Seperti apa suara angin?”

Kali ini gantian Kyuhyun yang menatap Yeo Rin. Menatap Yeo Rin yang sedang memejamkan matanya. “Kenapa kau tidak menangis?”

Yeo Rin tersenyum simpul, matanya terasa terpanggil tatapan mata Kyuhyun. Baru kali ini ia melihat begitu dekat mata seseorang yang pernah sangat ia cintai sebelumnya. Dulu, sebelum Min Ah bertemu dan jatuh cinta juga pada Kyuhyun. “Dibanding orang yang air matanya sudah habis, bukankah lebih terkesan jahat orang yang bilang bahwa dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.”

Kyuhyun yang mendengar pernyataan Yeo Rin menyadari satu hal. Ia yakin pasti Yeo Rin merasa terpukul dengan ucapan teman-temannya beberapa hari yang lalu. Saat hujan rintik turun-saat Yeo Rin berdiri terpaku di depan loker Min Ah.

“Kau mendengarnya?”

“Sedikit.”

Lagi-lagi Kyuhyun tersenyum. Tapi senyuman paksa. Ia kembali menatap langit. Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. 6 hari sebelum hari ini.

Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi dengannya. Tapi rasanya untuk bernafas lega seperti biasanya terasa sulit.

Yeo Rin yang masih memandang Kyuhyun hanya bisa bergumam dalam hati. ‘Aku tahu kau punya masalah. Apa terlalu sulit untuk bercerita?’

“Ada apa?”

Dalam hitungan detik Yeo Rin membuang pandangannya dari wajah Kyuhyun yang entah sejak kapan berada di depan wajahnya. Seharusnya tadi Kyuhyun sedang memandang langit.

“Bagaimana jika kita coba untuk pulih bersama?”

“Ah?”

 

*****

 

Hari ini hari sabtu. Semua kelas terlihat begitu senyap dengan tatanan bangku dan meja yang rapi karena piket kelas kemarin sore. Tapi tidak dengan kelas 11.2. Dari jauh pun bisa terdengar jelas suara teriakan sang ketua kelas-Kim Heechul yang sedang memberikan arahan pada teman-temannya untuk latihan drama festival 2 minggu yang akan datang.

Heechul terlihat sangat frustasi saat tahu pemeran utama sang pangeran tidak juga muncul untuk latihan. Ia benar-benar mengutuk Cho Kyuhyun. Ia menyesal kenapa tadi ia mempercayai ucapan Kyuhyun yang bilang ia akan coba datang. Bagaimana bisa ia tertipu dengan ucapan sahabatnya sendiri.

Tapi Heechul sedikit merasa tenang melihat pemeran utama sang putri hadir dan kini sedang duduk di lantai pojok kelas.

Berkali-kali Yeo Rin mengutuk kebiasaanya yang selalu malas ikut rapat kelas. Ia berharap waktu bisa terulang kembali. Bagaimana pun dia bukanlah orang yang pantas untuk bersandiwara, terlebih di depan banyak orang nanti.

“Yeo Rin-ah~”

Yeo Rin mengangkat kepalanya dari copy-an naskah dialog miliknya. Ia tersenyum menanggapi seseorang yang memanggilnya-duduk bersandar di dinding di sampingnya.

Dia benar-benar gadis cantik. Itu hal yang selalu terlintas di benak siapa pun ketika melihat sosok Yamashita Mizumi. Gadis Jepang yang satu kelas dengan Yeo Rin, sekaligus teman dekat Min Ah. Itu yang Yeo Rin tahu.

“Mungkin kau sudah tahu.”

Yeo Rin sedikit mengerutkan dahinya merasa bingung dengan ucapan Mizumi. Ia bisa melihat ada kesedihan di tatapan mata Mizumi.

“Sebenarnya, semua ini untuk Min Ah.”

Yeo Rin yang mendengarnya mulai paham dengan arah pembicaraan Mizumi. Yang ia bisa lakukan hanya tersenyum dan mencoba mendengar apa yang akan ia dengar.

“Sandiwara, pemeran utama dalam sandiwara, dan semua yang dipersiapkan ini adalah untuk Min Ah.”

Yeo Rin tertunduk memandang kosong naskah miliknya, ia hanya bisa tersenyum simpul.

Bukan keinginannya untuk membuka kenangan itu. Dia tahu benar naskah yang digenggamnya saat ini adalah naskah hasil buatan Min Ah.

Ia masih ingat bagaimana Min Ah sangat antusias saat ditunjuk untuk membuat naskah dialog oleh Heechul. Ia juga masih ingat, sebelum kejadian saat itu, Min Ah selalu kurang tidur karena harus mengecek ulang berkali-kali naskah miliknya.

Bukan hanya itu, ia juga masih ingat untuk pertama kalinya ia membentak Min Ah karena Min Ah selalu memintanya menjadi pemeran utama wanita dalam naskah buatannya. Min Ah bilang ia sangat ingin melihat Yeo Rin menjadi seorang putri yang dikelilingi banyak cinta. Walau itu hanya dalam sandiwara.

Kenapa harus aku, Min Ah?

 

*****

 

Hampir satu minggu latihan berjalan terus. Tapi tidak sekali pun Kyuhyun datang untuk latihan. Bahkan ia juga tidak masuk sekolah.

Heechul pun bingung di mana Kyuhyun. Karena saat ia ke apartemen Kyuhyun, tidak ada jawaban dan sepertinya ia tidak ada di dalam apartemen.

Yeo Rin juga merasa bingung dan mulai cemas, walau tidak seorang pun bisa melihat kecemasan Yeo Rin. Entah kenapa ia harus mencemaskan Kyuhyun. Apa karena sekarang statusnya dengan Kyuhyun berpacaran, atau karena, mungkin perasaannya yang dulu mulai kembali.

Sekeras apapun ia mencari alasan. Ia benar-benar tidak tahu apa yang membuatnya menyetujui usul Kyuhyun untuk menjalin hubungan berpacaran.

Ini memang terkesan main-main. Karena tanpa tanda-tanda apapun, tiba-tiba saja Kyuhyun mengatakan untuk pulih bersama dan mencoba untuk berpacaran.

Ia tahu maksud Kyuhyun agar dirinya pulih. Itu pasti karena luka yang dimilikinya atas kematian Min Ah. Tapi ia tidak tahu apa maksud Kyuhyun untuk pulih bersama. Yang berhasil ditangkap otaknya hanyalah Kyuhyun pasti sedang mempunyai masalah yang rumit akhir-akhir ini. Berkali-kali ia mencoba untuk bertanya, tapi rasanya kalimat itu musnah jika ia sudah berada di hadapan Kyuhyun.

 

Berkali-kali Yeo Rin hampir menempelkan telunjuknya di bel apartemen. Tapi ia menariknya kembali karena ragu. Ia merasa sangat bodoh bisa berjalan dan berdiri di depan apartemen Kyuhyun sekarang ini. Jelas-jelas tadi pagi di kelas Heechul berteriak-teriak memaki Kyuhyun yang tidak bisa di temukan, bahkan di apartemennya. Tapi kenapa dia di sini.

Min Ah pernah bilang, kadang seseorang bisa sangat ahli menemukan orang yang di cintainya di banding orang lain. Mungkin teori itu benar. Yeo Rin benar-benar tidak percaya saat hendak untuk pergi, langkahnya tiba-tiba saja terhenti melihat sosok yang dicarinya kini berdiri di depan matanya.

Tapi keadaanya sangat berbeda dengan yang sering ia lihat di sekolah. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Kyuhyun. Mata kanan Kyuhyun terlihat lebam. Sudut bibirnya berdarah, dan ada goresan luka di pipi kirinya. Benar-benar berantakan. Lebih tepatnya seperti brandalan.

 

“Ah!”

Kyuhyun berkali-kali meringis kesakitan saat Yeo Rin memberika obat merah dilukanya. Tapi Yeo Rin tetap melakukan kegiatannya sampai ia menempelkan plester bening di pipi kiri Kyuhyun yang tergores.

“Ada apa?” Kyuhyun mulai membuka pembicaraan. Tangannya mengacak-acak rambut belakangnya yang sejak awal memang sudah berantakan.

“Tidak tahu.”

“Bodoh!”

Yeo Rin mendengus mendengar makian Kyuhyun. Matanya mengedar ke seisi ruang. Baru kali ini ia berani masuk ke rumah seorang lelaki. Penataan barang-barang di ruangan ini bisa dibilang cukup rapi bagi seorang laki-laki yang tinggal sendirian. “Apa kau sedang melarikan diri dari festival sandiwara kelas minggu depan?”

“Tidak. Iya. Atau, mungkin.”

“Itu bukan jawaban, bodoh!”

Kyuhyun tertawa melihat ekspresi Yeo Rin. “Aku heran, bagaimana bisa kau ikut sandiwara kelas dengan tampang datar seperti itu? Hah?”

“Aku tidak butuh hinaanmu.”

Kyuhyun tiba-tiba saja terdiam. Seperti biasa, matanya kosong menatap ke depan. Padahal Yeo Rin duduk di sampingnya, bukan di depannya. Bukankah seharusnya ia melihat ke arah Yeo Rin.

“Apa ada masalah denganmu?”

Kyuhyun memandang Yeo Rin yang tiba-tiba mengatakan itu padanya. “Kau cemas?”

“Tidak. Mungkin. Atau, Iya.”

Kali ini giliran Kyuhyun yang mendengus mendengar Yeo Rin meniru ucapannya. “Hanya beradu tinju dengan orang gila di jalan.”

“Bukan itu, bodoh! Masalah kau selalu ribut dengan orang lain itu hal biasa.”

“Lalu?”

“Lalu. Maksudku, apa ada masalahmu yang tidak aku ketahui? Tapi sepertinya aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu.”

“Kau benar-benar seperti pacarku sekarang.” Kyuhyun tertawa ringan sambil memandang mata Yeo Rin.

Dan sepertinya Yeo Rin gugup dengan keadaan sekarang ini. Spontan ia langsung berdiri. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang. Ia benar-benar menjadi bodoh disaat seperti ini. “Besok tidak alasan kau tidak masuk! Atau Kim Heechul akan membunuhmu.”

Belum sempat Kyuhyun membalas, Yeo Rin sudah melesat keluar dari apartemen Kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa terdiam dan bersandar di sofa memandang pintu yang baru saja tertutup.

“Aku. Mungkin sekarat.”

 

*****

 

“Ya! Berengsek! Dari mana saja kau, hah? Mau membuatku mati karena emosi? Iya?”

Entah sudah berapa puluh kata-kata kotor yang keluar dari mulut Heechul karena ulah Kyuhyun. Dan sekarang ia merasa lega karena bisa memaki langsung ke objek yang ditunggu-tunggunya.

Melihat Heechul yang meledak-ledak, Kyuhyun justru hanya menyeringai dan memeluk Heechul. Lagi-lagi ia melakukan hal yang dibenci Heechul darinya.

“Lepaskan aku, bodoh! Ini naskah dialogmu. Jangan kabur lagi! Aku ingin keluar dulu.”

Kyuhyun hanya tertawa ringan memandang bahu sahabatnya yang semakin menjauh. Ia sangat berterimakasih pada Heechul yang selalu ada untuknya dan memahaminya.

Sejak ia pindah ke sekolah ini, ia harus tinggal jauh dari orangtuanya. Awalnya memang sulit baginya untuk beradaptasi, tapi semua mulai berubah saat ia bertemu Heechul dan jatuh cinta pada seorang gadis.

Tiba-tiba saja ia berpikir tentang Yeo Rin. Ia ingin tahu orang yang menyuruhnya untuk datang latihan, orang itu sendiri datang atau tidak hari ini. Matanya mengedar ke seluruh ruang, tapi sepertinya ia tidak menemukannya. Mungkin ia tidak datang. Tapi itu tidak mungkin bagi Kyuhyun. Ia yakin Yeo Rin datang hari ini.

 

“Jun Hee-ah, kau melihat Yeo Rin?” Mizumi berlari kecil menenteng sebuah gaun indah. Sepertinya itu gaun untuk festival sandiwara yang akan berlangsung 5 hari lagi.

“Bukankah tadi dia ada?”

“Tadi dia terlihat sedikit frustasi karena tidak bisa menghafal naskah dialog dan tidak bisa memasukkan ekspresi seorang putri ke dalam dialognya. Apa dia baik-baik saja?”

Dari kejauhan Kyuhyun hanya mendengar samar Mizumi yang sedang membicarakan Yeo Rin. Perasaannya sedikit merasa khawatir terhadap Yeo Rin.

Ia meletakkan naskah dialog miliknya ke sembarang tempat, ia melesat keluar tanpa menghiraukan Heechul yang berteriak memanggilnya.

Tapi sepertinya Heechul mengerti. Ada sesuatu yang harus Kyuhyun lakukan sekarang. Heechul bahkan lebih memahami perasaan Kyuhyun dibanding kedua orangtua Kyuhyun. Dan Heechul pun tahu, Kyuhyun sekarat dan menderita.

 

“Akhir-akhir ini aku benar-benar menjadi bodoh!”

“Bukannya itu hal mutlak yang kau miliki?” Kyuhyun terlihat terengah-engah dan lelah. Keringatnya juga menetes dari ujung rambutnya.

Yeo Rin yang melihatnya tidak menyangka bahwa orang seperti Kyuhyun mau mendengarkan ucapannya untuk datang. Yang ia tahu, Kyuhyun pasti lelah karena berlari menaiki tanggga hingga mencapai atap ini.

Tidak mendengar jawaban dari Yeo Rin, Kyuhyun merasa khawatir dengannya. Tapi yang ia heran, ekspresi Yeo Rin tetap sama. Hingga ia sulit membedakan apakah Yeo Rin sedang bingung, atau takut.

Kyuhyun mengambil naskah dialog yang dipegang Yeo Rin. Ia membuka lembar demi lembar. Sepertinya ia sedang memastikan seberapa banyak percakapan yang harus dihapal Yeo Rin.

“Jangan dihapalkan!”

Yeo Rin tersenyum simpul dan mengangguk menyetujui ucapan Kyuhyun. Ia berbalik membelakangi Kyuhyun. Tangannya mengenggam erat pagar pembatas sisi balkon. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi semuanya.

“Bahkan permintaan terakhirnya pun aku tidak bisa mengabulkannya.” Yeo Rin menutup kedua matanya. Merasakan hembusan angin yang menyentuh lembut setiap sisi wajah dan rambutnya. Ternyata masih ada yang mau menyentuh wajahnya selembut ini.

Entah sejak kapan Kyuhyun mulai memperhatikan Yeo Rin. Ia tidak tahu, tapi ia seolah mengerti apa yang dibicarakan Yeo Rin. Dan sepertinya ia mulai memahami Yeo Rin.

Kyuhyun menyentuh jari-jari Yeo Rin dan menggenggamnya, membuat Yeo Rin terkejut dan menatap mata Kyuhyun dalam. Seolah ia bertanya ‘apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?’

“Ini jahat, tapi mungkin benar. Dibanding aku, kau yang lebih berpengalaman dalam keadaan seperti ini. Kehilangan seseorang yang dicintai. Bahkan berkali-kali.”

Yeo Rin sulit mengontrol dirinya, ia merasakan matanya memanas. Tapi ia masih berusaha mengontrol air matanya. Melihat dalam mata Yeo Rin, Kyuhyun menyadari satu hal. Walau bagaimana pun, Yeo Rin tetap seorang wanita. Ia tidak pernah kehilangan air matanya.

“Di dunia ini tidak ada yang abadi. Tapi kau bisa membuatnya abadi dengan perasaan.”

“Yeo Rin-ah, gunakanlah perasaanmu. Aku tahu kau memiliki perasaan yang kuat, karena kau seorang wanita. Jangan mengabaikan perasaanmu, karena kau akan menderita nantinya.”

Yeo Rin tertegun dengan setiap kalimat Kyuhyun. Benar. Ia sangat menderita. Ia berbohong saat bilang bahwa ia tidak apa-apa.

Ia sangat menderita. Ia menderita saat Ayahnya meninggal, ia juga menderita saat melihat jelas dengan kedua matanya Ibunya meninggal ditabrak orang lain. Dan sekarang. Bahkan ia merasa lebih menderita karena satu-satunya orang yang selalu menemaninya juga pergi meninggalkannya.

“Benar. Aku sakit Cho Kyuhyun. Aku sangat sakit, bahkan sekarat. Aku juga tidak tahu untuk siapa lagi aku masih bertahan hidup.” Seperti apapun usahanya untuk mengontrol air matanya, tapi cairan bening itu kini sudah mengalir begitu deras dari matanya. Ia tertunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Bayangan itu lagi-lagi datang. Orang-orang yang dicintainya, hari-hari saat ia masih bisa merasakan tawa yang sesungguhnya. Tapi sekarang, bahkan untuk melihat punggung mereka pun tidak akan bisa.

Bukan hanya Yeo Rin, entah kenapa luka Kyuhyun saat ini begitu terasa dihatinya. Apalagi mendengar suara tangisan Yeo Rin. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memeluk Yeo Rin dan menepuk-nepuk ringan bahu Yeo Rin.

“Kita lakukan bersama-sama, permintaan terakhir Min Ah.”

 

*****

 

“What? You’re fu*k! sh*t!”

Berkali-kali Heechul menggerutu dan mengeluarkan puluhan kata makian. Tapi orang yang sedang dimakinya itu tetap saja duduk bersandar dengan tenang di sofa.

“Ya! Kau!”

“Jangan Tanya alasan. Aku tidak memilikinya.”

“Ya! Cho Kyuhyun! Kau gila, hah?”

“Mungkin. Atau iya.”

Heechul mendengus mendengar kata-kata Kyuhyun. Ia tidak habis pikir sahabatnya bisa melakukan hal ini. Mengencani diam-diam orang yang tidak seharusnya ia kencani. Seandainya saja ia tahu lebih awal kejadian ini. Sebelum ia melihat mereka berdua sedang berpelukan di atap gedung sekolah.

“Jika kau benar merasa mulai mencintainya, katakanlah padanya yang sebenarnya. Jika tidak, kau harus putus dengannya. Jangan melukai orang lain, termasuk melukai dirimu sendiri. Cho Kyuhyun!”

Terdengar jelas dentuman keras pintu yang dibanting Heechul. Jika saja orang yang tinggal di samping kamar Kyuhyun ada, dijamin ia pasti kena amuk tetangganya karena membuat kebisingan.

Mungkin Heechul benar. Tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia bahkan memaki dirinya sendiri karena membuat keadaan seperti sekarang ini.

Ia memahami orang lain, tapi ia merasa bodoh tidak bisa memahami dirinya sendiri.

 

*****

 

Tiga hari sebelum acara festival. Hari ini dan dua hari kedepan sampai acara festival dimulai, sekolah membuat agenda libur khusus bagi semua kelas. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pihak sekolah memang sengaja memberikan keringanan bagi para murid-muridnya dalam mempersiapkan acara festival.

Hari ini hari latihan terakhir sebelum acara festival. Semua pemain dan panitia sangat bersemangat untuk menyelesaikan semua perlengkapan hari ini. Tapi bedanya, hari ini sang ketua kelas Kim Heechul tidak hadir karena ada rapat ketua kelas.

Mizumi berkali-kali mengacungkan jempolnya ke arah Yeo Rin. Bukan hanya Mizumi, tapi juga Kyuhyun sebagai lawan mainnya, bahkan hampir semua teman-temannya yang ada di kelas ikut memberikan tepukan tangan meriah. Seperti mukjizat, dalam waktu beberapa hari Yeo Rin benar-benar memasukkan ekspresi sempurna ke dalam perannya.

Bukan hanya itu, sedikit demi sedikit ada perubahan yang benar-benar terlihat jelas dari sikap dan perilaku Yeo Rin. Kini ia lebih sensitif dan terbuka. Seperti teman baru. Itu yang dipikirkan teman-teman sekelasnya.

Melihat semuanya, kerja keras yang kuat, saling mendukung, saling berbagi cerita, ia mulai merasakan bahwa kehadirannya diakui. Kini ia tahu ia yang salah. Bukan orang-orang di sekitanya yang tidak peka dengan kehadirannya. Tapi dirinya sendirilah yang tidak peka bahwa kehadirannya sebenarnya diakui.

“Yeo Rin-ah, lihat ini, gaun untukmu di sandiwara nanti. Coba pakai sekarang.”

“Dan ini. Ini untuk pangeran. Kalian coba pakai sekarang ya.”

“Baiklah. Kalian tunggu aku kembali.”

Belum sempat Yeo Rin melangkah, tiba-tiba saja Kyuhyun mengalungkan tangannya di leher Yeo Rin. “Ayo ganti bersama.”

“Woahhh?” seperti paduan suara, kalimat itu keluar secara bersamaan dari orang-orang yang mendengar dan melihat perilaku Kyuhyun terhadap Yeo Rin.

“Ya Cho Kyuhyun! Gila, bodoh, mesum! Minggir!” Yeo Rin menepis kasar tangan Kyuhyun. Ia tidak mau ada gosip. Walaupun kenyataannya mereka memang pacaran.

 

Yeo Rin terpesona dengan desain indah gaun yang akan ia gunakan untuk sandiwara nanti. Benar-benar cantik. Paduan warna cream dengan putih tulang. Warna yang cantik dan menawan. Dan ini benar-benar pengalaman pertamanya mengenakan gaun. Sebelumnya ia selalu menolak untuk menggunakan gaun. Satu hal yang ia yakini, gaun ini adalah rekomendasi Min Ah. Karena ini adalah warna kesukaan Min Ah.

“Wahhhh.. cantikk..”

Yeo Rin terlihat canggung saat ia melihat sekelilingnya. Tidak biasa baginya menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi pusat pujian. Tapi ia tidak bisa menghindar, ia pun merasa ia sangat cantik memakai gaun indah ini.

Selang beberapa menit, lagi-lagi suara ‘Wooahh’ terdengar kembali. Bagaimana tidak, sangat munafik jika ada yang mengatakan sang pangeran terlihat buruk dengan kostumnya.

Ternyata pesona Kyuhyun memang tidak pernah sirna. Sejak dulu, bahkan sampai sekarang. Dia seperti alkohol dan obat bius.

“Wahh.. kalian cocok sekali dengan kostum seperti ini. Aku jamin, pengunjung yang menonton pertunjukan kita lebih banyak dibanding pertunjukan-pertunjukan lain.”

“Musibah jika itu tidak terjadi.”

Dengan percaya dirinya Kyuhyun mengeluarkan kalimat itu dengan begitu lantang. Membuat semua teman-temannya tertawa. Terlebih lagi Yeo Rin yang berdiri di sampingnya. Mata Yeo Rin benar-benar terbius dengan pesona Kyuhyun.

“Baiklah, sekarang kita harus selesaikan yang belum diselesaikan. Jangan sampai membuat ketua kelas marah saat kembali nanti.” Arahan Mizumi sama kuatnya dengan Heechul, pantas jika ia ditunjuk sebagai wakil ketua kelas.

Kini semua orang kembali ke tugasnya masing-masing. Hanya saja latihan disudahkan, mengingat para pemain harus istirahat lebih banyak untuk tampil maksimal.

 

“Kau sangat pantas dengan kostum itu. Terlihat-”

Kyuhyun mengerutkan dahinya menunggu kalimat Yeo Rin yang terputus. “Tampan? Bukankah itu hal mutlak yang kumiliki?”

Kyuhyun tertawa melihat ekspresi Yeo Rin yang terlihat jijik dengan kata-kata yang baru saja ia keluarkan. Ia memandang Yeo Rin dari atas sampai bawah. Menelusuri setiap jengkal tubuh Yeo Rin yang terbalut gaun indah. “Kau juga, pantas dengan kostum itu. Cantik.”

Merah semu. Pasti warna itu yang terlihat jelas di kedua pipi Yeo Rin saat ini. Bagaimana tidak, kalimat Kyuhyun seperti mantra, bukan pujian bagi Yeo Rin. Kalimat indah yang disukai wanita.

 

*****

 

Festival Tahunan

Sandiwara

Putri Musim Semi

 

“Semuanya sudah siap?” Kim Heechul berteriak-berdiri di atas kursi. Ini dilakukannya agar semua teman-temannya bisa mendengar suaranya dengan jelas.

Heechul mengangguk-angguk senang melihat semuanya berteriak semangat sebagai tanda siap untuk memulai peperangan.

Kyuhyun yang bersandar di ujung pintu menyeringai melihat aksi sahabatnya itu.

“Kalian masih ingat kan di mana panggungnya? Panggungnya ada di kelas B gedung C. Bukan di luar, karena di luar hanya penuh dengan stan-stan termasuk stan kita.”

Sontak teman-temannya tertawa karena ucapan Heechul. Apa maksudnya berbicara seperti itu. Bagaimana bisa ia berpikir bahwa teman-temannya akan lupa di mana mereka akan pentas.

“Hahhhh kalian ini. Aku hanya bercanda.”

“Lakukanlah yang terbaik. Sama seperti saat-saat latihan. Jangan gugup. Ini bukan audisi, ini hanya sebuah hadiah hiburan yang kita berikan untuk pengunjung yang datang. Kau Cho Kyuhyun, awas jika kau bercanda di atas panggung. Dan kau Yeo Rin, gunakan senyuman indahmu. Dan untuk semuanya, do your best! Kalian yang terbaik.”

Kini kelas menjadi berisik dengan suara sorakan bangga dan tepuk tangan. Kyuhyun yang melihat tingkah belagu Heechul yang mengacung-acungkan kedua tangannya seperti seorang presiden hanya mendengus. Tapi di dalam hatinya, ia bangga dengan ketegasan Heechul.

Berbeda dengan yang lainnya, Yeo Rin terlihat gugup. Ia berdiri tidak jauh dari Kyuhyun, hanya beberapa centi. Senyumannya hanya kadang-kadang muncul. Sejujurnya ia takut jika pentas kali ini akan berantakan karena kesalahan dirinya. Terlebih lagi ini adalah pentas yang selalu diharapkan Min Ah.

Tangannya tergenggam keras menahan kegugupan. Bagaimana jika ia lupa dialog, atau bagaimana jika ia tersandung di atas panggung nanti. Ada banyak puluhan pikiran gila Yeo Rin yang tiba-tiba saja bertebaran di otaknya.

Namun kegugupan itu mulai pudar secara perlahan saat Kyuhyun menggenggam tangan Yeo Rin secara diam-diam, tanpa terlihat teman-temannya yang sedang sibuk meledek Heechul.

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Dengarkan kata ketua kelas. Lakukan seperti saat latihan.”

Hebat. Kyuhyun seperti obat penenang bagi Yeo Rin. Hanya sentuhan itu Yeo Rin benar-benar merasa tenang.

 

Suara petasan mulai terdengan berkali-kali, tanda acara akan segera di mulai. Semua orang bersiap-siap menuju ruang yang menjadi bagian mereka untuk pentas.

Saat mengintip ke bangku penonton, Heechul benar-benar terkejut melihat penonton yang datang untuk melihat pertunjukkan mereka sangat banyak. Tidak sia-sia promosinya selama ini. Ia sengaja mempromosikan Kyuhyun yang akan ikut peran dalam pertunjukan ini. Memang tidak diragukan lagi bahwa penggemar Kyuhyun sangat banyak di sekolah maupun luar sekolah. Ini benar-benar keuntungan, bukan?

 

Suara sorakan ketertarikan dan tepuk tangan meriah bergema saat awal pertunjukkan, terlebih lagi saat akhir pertunjukkan. Penonton terlihat begitu puas dengan sandiwara yang ditampilkan. Membuat Kim Heechul dimaki Mizumi karena meneteskan air mata.

“Aku baru tahu laki-laki sepertimu bisa menangis.”

Bukannya kesal, Heechul justru menjatuhkan kepalanya di bahu Mizumi. “Aku benar-benar terharu. Kita memang yang terbaik.”

“Ck, anak bodoh!”

 

Baru kali ini Yeo Rin merasa bangga dengan dirinya sendiri. Sekarang ia tahu apa yang ia suka. Sandiwara. Setelah ini ia berencana akan mendaftar dalam pengembangan diri sandiwara atau acting yang diadakan sekolah. Ia ingin memulainya dari awal. Dengan cinta, dan semangat.

Yeo Rin masih saja berjalan sambil melihat-lihat stan yang berjejer di kanan dan kirinya dipenuhi banyak orang. Ia teringat tahun lalu, saat Min Ah mengajaknya masuk ke dalam stan ramalan. Bukan hanya itu, tapi seluruh stan yang ada tidak lepas dari kedatangan mereka berdua.

“Yeo Rin-ah~”

Yeo Rin berbalik dan mengayun-ayunkan tangannya ke atas, ke arah Kyuhyun yang memanggilnya dari jauh.

Tapi tiba-tiba saja Heechul mencegah Kyuhyun. Sepertinya ada yang sedang mereka bicarakan. Yeo Rin merasa ada yang tidak beres, apalagi saat melihat raut wajah Kyuhyun yang berubah saat berbicara dengan Heechul. Tapi ia hanya bisa memandang Kyuhyun dari jauh. Rasanya akan sangat tidak adil jika ia tidak membiarkan Kyuhyun berbicara dengan sahabatnya.

“Yeo Rin-ah.”

“Mizumi. Ada apa?” Yeo Rin memandang heran wajah Mizumi yang terlihat tidak baik.

“Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Sepengelihatanku, sepertinya kau berkencan dengan Kyuhyun. Sebenarnya tidak masalah jika ternyata itu salah, tapi-”

“Tapi apa?”

“Tapi kau tidak boleh salah sangka dulu terhadap Kyuhyun. Kau tahu sekarang teman-teman yang lain sedang membicarakan soal Min Ah?”

“Apa maksudmu? Katakan dengan jelas padaku, Mizumi Chan.”

“Mereka bilang, sebelum Min Ah meninggal, Min Ah dan Kyuhyun sedang pacaran. Mereka juga baru tahu tadi saat melihat ada foto Min Ah dan Kyuhyun yang jatuh di lantai. Terlebih lagi di belakang foto itu Min Ah menuliskan ‘Pasangan Min Ah dan Kyuhyun.’ ”

Yeo Rin benar-benar terkejut mendengar apa yang Mizumi katakan. Ia ingin meyakini ini tidak benar. Tapi ia ragu.

Yeo Rin menatap Kyuhyun yang masih bicara dengan Heechul. Ia mulai paham apa yang sedang mereka bicarakan saat ini. Pasti heechul sedang memberitahu Kyuhyun soal foto itu.

“Mizumi Chan. Aku ingin beli minum. Nanti kita bertemu lagi. Oke.”

Benar. Ia tidak bisa berada lama di sini. Di tempat Kyuhyun ada. Ia butuh waktu untuk meyakinkan ini semua. Bagaimana bisa ia berpacaran dengan pacar sahabatnya. Bagaimana bisa ia menjadi orang jahat.

Kyuhyun yang melihat Yeo Rin pergi segera meninggalkan Heechul untuk mengejar Yeo Rin. Ia tahu Yeo Rin pasti sudah mendengarnya. Bodohnya Yeo Rin tahu dari orang lain, bukan darinya.

Untung saja Yeo Rin masih mengenakan gaun sandiwara-yang membuatnya sulit berlari cepat sehingga Kyuhyun dapat mengejarnya. Kyuhyun menarik kasar tangan Yeo Rin. Bagaimana pun juga ia harus bertanggung jawab dengan keadaan ini.

“Tidak. Tidak perlu beritahu aku. Aku sudah tahu. Iya. Aku sudah tahu Cho Kyuhyun.”

“Kim Yeo Rin dengarkan aku!” suara Kyuhyun mengeras. Rahangnya pun mengeras. Membuat Yeo Rin diam dan menatap nanar Kyuhyun.

“Kenapa seperti ini? Aku benar-benar merasa bodoh. Mencintai seseorang yang seharusnya tidak kucintai, menjadikanmu alasan untuk siapa aku bertahan. Bodoh!” butiran air mata Yeo Rin jatuh, tapi ia masih mencoba untuk tersenyum walaupun tidak sempurna.

“Aku yang bodoh. Aku yang seenaknya menarikmu dalam kehidupanku. Saat itu, aku memang benar-benar sekarat. Sama sepertimu, aku juga berpikir lebih baik aku juga ikut mati. Tapi saat melihatmu yang masih mencoba bertahan, aku berpikir, mungkin ada baiknya jika aku mencoba untuk pulih bersama dengan orang yang juga mencintai Min Ah.”

Yeo Rin masih berusaha tersenyum. Berkali-kali ia mengusap air matanya. Tidak sedetik pun tatapan matanya lepas dari tatapan mata Kyuhyun. Ia bisa melihat jelas bahwa Kyuhyun sangat menderita. Ia juga kini tahu, alasan kenapa Kyuhyun terlihat aneh akhir-akhir ini. sama seperti dirinya. Kyuhyun juga menderita.

“Setidaknya beritahu aku kalau kau juga sangat menderita. Tidak seperti ini, membuatku seperti orang jahat yang mencari kesempatan mendapatkanmu saat Min Ah meninggal. Dan kalian. Kenapa kalian berdua menutupi hubungan kalian dariku?”

“Ini keinginan Min Ah. Dia bilang, dia akan memberitahumu selesai festival sandiwara. Iya. Dia bilang seperti itu padaku.” Kyuhyun bingung dengan dirinya. Kenapa ia bisa menghancurkan pertahanan air matanya. Ia mendengus jijik kepada dirinya sendiri.

Yeo Rin menarik kepala Kyuhyun dan memeluk Kyuhyun. Ia tidak tahu ini salah atau benar. Yang ia tahu, ia ingin melindungi orang yang ia cintai. Hanya itu, setidaknya selama ia masih hidup.

“Aku bisa merasakannya. Aku mengerti perasaanmu. Kau benar, lebih baik mencoba pulih bersama.”

“Maafkan aku, Yeo Rin.”

Yeo Rin hanya mengangguk. Ia belum ingin melepas Kyuhyun dari pelukannya. Ia ingin seperti ini untuk beberapa menit.

 

*****

 

Min Ah, maaf jika kau marah.

Setidaknya biarkan aku bersamanya.

Aku ingin melindungi orang yang sama-sama kita cintai.

Hanya itu yang ingin kulakukan.

 

Kim Yeo Rin

 

 

Bedanya, alunan musik memiliki waktu terbatas untuk berhenti.

Sedangkan perasaan cinta, tidak terukur

Dan tidak memiliki batasan waktu.

 

 

 

 

 

 

 

 

THE END

3 Comments (+add yours?)

  1. stirling lau
    Apr 22, 2016 @ 13:41:55

    keren…. *elap airmata*
    saya nangis deres ‘-‘

    Reply

  2. Nurul Aini
    Apr 22, 2016 @ 20:46:11

    ffnya keren🙂🙂

    Reply

  3. keunin
    Apr 22, 2016 @ 21:58:27

    walaupun sedikit agak bingung sama ceritanya. tapi keren. terus jadinya yeorin sama kyuhyun tetep pacaran atau gimana?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: