Between Us [7/?]

between us 6

Between Us (Part 7)

Cast                 : Han Young Ra, Cho Kyuhyun, Han Young Na, Choi Siwon

Other Cast      : Hwang Yoo Shin, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Lee Eun Ha, Han Bon Sung

Genre              : Sad, Romance, Hurt, Family, Brothership

Rate                 : PG 15+

Disclaimer       : Sebelumnya aku ucapin jeongmal kamsahamnida untuk admin yang bersedia posting FF abal-abal ku ini di blog ini. dan kalian bisa mengunjungi Fanpage-ku di sini -> https://www.facebook.com/Iffuany-Yaqaz-918301831526620/.

Fanfic ini murni buatanku sendiri, so kalau mau baca di persilahkan tapi ingat, jangan copast tanpa ijin, jangan plagiat, jangan ngaku-ngaku, dan lain-lain yang berkaitan dengan penjeplakan tanpa ijin, Arrachi? Cho Kyuhyun milik keluarganya, Super Junior, SM Ent, ELF, dan Sparkyu. Dan Han Young Ra adalah milik imajinasi saya seorang. Just read, like, and coment. Happy reading all!!!

 

 

Kedua gadis kecil itu tersenyum disela-sela tidurnya, seperti mimpi indah yang selalu mendatangi mereka setiap malam, dimana mereka bertemu dan bercanda tawa dengan sosok kakak yang mereka rindukan. Young Ra tersenyum melihat kedua gadis kecilnya tertidur pulas dengan senyum manis menghiasi wajah keduanya, ia merindukan mereka, sangat, dan akhirnya setelah 3 tahun berlalu tanpa melihat wajah imut-cantik mereka, kini ia bisa melihatnya lagi, kapanpun yang ia inginkan. Young Ra menoleh ketika Kyuhyun berdeham dan melangkah menghampirinya, berdiri bersebelahan dengannya dan ikut melihat kedua gadis kecil itu. Senyum tipis muncul di wajahnya kala melihat wajah damai mereka. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan menghadap pada Young Ra yang hanya meliriknya sebentar.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya pria itu mengawali pembicaraan mereka, Young Ra menganggukkan kepalanya sekali.

“Apa yang terjadi?”

“Kita bicara diluar.” Ujar Young Ra seraya berbalik dan melangkah keluar diikuti Kyuhyun. Mereka memilih sofa berwarna pastel yang terdapat diruang tengah tempat Young Ra dan kedua adik angkatnya bermain dan bercanda. Kyuhyun mendudukkan dirinya di samping Young Ra, bersandar pada sandaran sofa.

“Aku memikirkan perkataanmu beberapa hari yang lalu.” Tutur Young Ra memulai pembicaraan mereka setelah jeda yang panjang.“Perkataan yang mana?”

“Tentang aku harus memperbaiki sikapku.” Kyuhyun mengangguk-angguk dengan wajah masam, mengerti kemana arah pembicaraan mereka yang membuatnya secara tiba-tiba kembali merasakan gejolak aneh itu.

“Aku fikir, jika sedikit berbaik hati padamu dan sedikit memberikan senyum pada Young Na Eonni akan membuat rencana kecilku berhasi, maka aku akan melakukannya.” Lagi-lagi Kyuhyun mengangguk, berusaha menghilangkan perasaan kesal dan tidak nyaman yang mulai menguasainya. Sedikit berbaik hati? Cih apa-apaan itu?! Desisnya dalam hati.

“Lalu kedua gadis kecil itu? Mereka benar-benar adikmu atau hanya adik?” tanya Kyuhyun mengalihkan topik pembicaraan karena ia benar-benar merasa tidak nyaman jika harus membicarakan ‘rencana kecil Young Ra’. Young Ra melirik Kyuhyun kemudian ikut menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, ia merasa sepertinya Kyuhyun tertarik dengan kedua adik angkatnya.

“Mereka hanya adik yang telah aku anggap benar-benar adik. Aku menemukan mereka; Kim Ryu dan Kim Rei sekitar 5 tahun yang lalu saat aku baru masuk SMA di sebelah tong sampah di komplek perumahan dekat sekolah sedang mengais-ngais makanan bekas. Saat itu mereka terlihat sangat kotor dan kelaparan, Ryu menggeledah tong sampah itu dengan tangan gemetar dan Rei menangis karena kelaparan. Aku menghampiri mereka dan bertanya berapa umur mereka dan dimana kedua orang tua mereka. Hanya Ryu yang menjawab pertanyaanku karena Rei belum bisa berbicara dengan baik. Ryu berkata saat itu umurnya 4 tahun dan Rei baru 2 tahun, orang tua mereka sengaja meninggalkan mereka ditengah-tengah festival bunga Sakura dan mereka tidak tahu jalan pulang. Aku merasa sangat kasihan dan merasa jika mereka memiliki nasib yang sama denganku. Sama-sama tidak diinginkan oleh orang tua kami. Jadi mulai saat itu aku merawat mereka, membongkar semua tabungan yang aku miliki untuk menolong mereka hingga sekarang.”

Kyuhyun merasa itu adalah cerita yang menyedihkan tapi ia bahkan tak melihat setitik air mata pun di mata gadis itu ketika menceritakannya. Entah bagaimana caranya tapi Young Ra berhasil menahan air matanya agar tidak meluncur jatuh. Walaupun begitu Kyuhyun tetap dapat melihat kesedihan yang menyakitkan itu, dan sekali lagi perasaan aneh seperti ingin melindungi gadis itu dari kesedihan kembali menyerangnya.

“Kau mengatakan nasib kalian sama. Sama-sama tidak diinginkan orang tua kalian. Apakah—“

“Tidak, tidak apa-apa. Eoh,sudah larut sebaiknya kita pulang Kyuhyun~ssi.” Ujar Young Ra melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 9 malam, menyela pertanyaan Kyuhyun yang belum sempat disampaikan pria itu. Ia bangkit berdiri, menyampirkan tas selempangnya pada bahu dan berjalan menuju pintu keluar. Kyuhyun hanya bisa menghela napas lalu bangkit dan menyusul Young Ra.

Suasana hening kembali menyelimuti mereka, Kyuhyun berusaha untuk tetap fokus pada jalanan didepannya sementara Young Ra terlihat larut dalam lamunannya sendiri. Gadis itu menatap jalanan yang masih ramai dengan berbagai macam kendaraan. Ketika mobil Kyuhyun berhenti di lampu merah pandangannya tertuju pada sebuah mobil di samping mobil Kyuhyun berisi keluarga yang terlihat sangat bahagia. Dua orang gadis kecil yang duduk di jok belakang tertawa dengan riang menyambut suapan-suapan kue kering yang diangsurkan ibu mereka dan ayah mereka yang juga tertawa. Salah satu gadis kecil itu mengangkat benda yang terlihat seperti sebuah piala yang segera mendapat elusan sayang dari ibu mereka di puncak kepalanya. Hal itu mengingatkannya pada sebuah kenangan menyakitkan beberapa tahun yang lalu.

Flashback

Terlihat Young Ra kecil berlari menerobos pintu depan rumah orang tuanya seraya memegang sebuah piala yang lumayan besar hasil dari lomba menyanyi di sekolah tempatnya belajar. Saat itu ia baru berusia 8 tahun, dan dengan keahliannya dalam bernyanyi ia berhasil memenangkan lomba tersebut, dan membawa pulang piala kemenangannya dengan bangga. Ia berlari mengelilingi rumah mencari keberadaan ibunya, bermaksud untuk menunjukkan piala tersebut dan menemukannya dihalaman belakang, Young Ra kembali berlari menghampiri ibunya namun disana sudah ada Young Na yang juga sedang menunjukkan sesuatu.

“Hebat! Kau berhasil masuk ke sekolah itu Young Na~ya, kau memang anak Eomma.” Ujar Nyonya Han seraya mengusap pipi Young Na yang bersemu, Young Ra tersenyum menyaksikan adegan itu, ia lalu mendekati ibunya dan segera menunjukkan pialanya.

“Eomma, lihat, aku berhasil menjadi juara satu lomba menyanyi di sekolah. Aku hebat kan Eomma?” Nyonya Han hanya memandang datar piala dan Young Ra tanpa menjawab pertanyaan gadis kecil itu, ia hanya menghembuskan napas panjang dan berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun, meninggalkan Young Ra yang terdiam di tempatnya dengan wajah kecewa.

“Young Na~ya, katakan pada adikmu, aku sama sekali tidak bangga dengannya. Harusnya prestasi akademis yang dia tunjukkan padaku, bukan seni.” Kata Nyonya Han sebelum masuk ke dalam rumah, Young Ra benar-benar merasa sedih mendengar perkataan ibunya, bahkan wanita itu tidak mengatakan langsung padanya, padahal ia ada disitu. Young Na mengusap bahu adiknya perlahan, “Jangan bersedih Youngie, aku bangga padamu, kau adikku yang paling hebat!” ujarnya seraya tersenyum, Young Ra mengangkat kepalanya dan menatap Young Na sinis dengan mata yang berkaca-kaca, raut wajahnya berubah kaku lalu dengan gerakan yang cepat, ia menghentakkan tangan Young Na yang masih berada di bahunya dan berlalu pergi.

Flashback end

Young Ra memejamkan matanya ketika rasa sakit itu kembali muncul, rasa sakit dihatinya yang tak akan pernah hilang.

***

Keadaan café yang sedang sepi Hyukjae manfaatkan dengan bersantai disalah satu sudut café dengan secangkir Coffe latte dan game terbaru di laptopnya yang belum sempat ia mainkan. Tadinya Hyukjae bukanlah seorang maniak game, tapi karena Kyuhyun yang bergelar raja game itu terus-terusan mengajaknya bermain game, sekarang ia jadi kecanduan. Hampir semua game yang ada di laptopnya sudah ia tamatkan, bahkan yang ada di laptop Donghae pun sudah tamat semua olehnya, dan ketika melihat bagaimana gilanya Hyukjae bermain game, Donghae dan Siwon hanya bisa menggelengkan kepala, sementara Kyuhyun tertawa setan karena berhasil menghasut salah satu sahabatnya.

“Aarrggh!! Monyet sialan! Kenapa kau susah sekali di kalahkan?!” teriaknya seraya menunjuk layar laptop karena kesal tidak bisa mengalahkan musuhnya di dalam game.

“Annyeong Oppa!” Hyukjae mengalihkan pandangannya ketika mendengar sapaan dari suara yang tak asing di telinganya, ia tersenyum menatap Young Na yang sedang menarik kursi di sampingnya dan mendudukkan diri di kursi tersebut.

“Eoh, Young Na? tumben di jam kerja seperti ini kau kemari, dan tumben sekali kau tidak mengenakan setelan formalmu?” Young Na menunduk memerhatikan penampilannya yang hanya mengenakan dress tanpa lengan selutut dan rambut yang di gulung ke atas kemudian tersenyum.

 

“Aku dari kantor agensi Oppa, dan aku sedang ingin berpakaian santai hari ini, setiap hari dihadapkan dengan tugas kantor yang menumpuk membuat kepalaku pusing, jadi hari ini aku ingin refreshing, apa kau bisa bawakan aku makanan, aku lapar?” pintanya dengan wajah di buat semelas mungkin.“Arasseo, kau ingin makan apa?”

“Bagaimana kalau Blueberry Cake dan secangkir coklat panas?” Hyukjae mengerutkan hidungnya mendengar pesanan gadis itu, coklat panas? Apa ia tidak salah dengar?

“Kau ingin meminum coklat panas di cuaca yang sedang panas seperti ini? Apa tidak salah?” Young Na menggeleng semangat seraya tersenyum.

“Seleramu itu memang aneh, baiklah tunggu sebentar akan ku siapkan pesananmu.” Hyukjae bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah dapur café untuk menyiapkan pesanan Young Na, sementara gadis itu sedang memperhatikan layar laptop Hyukjae yang masih menampilkan aplikasi game yang sedang dimainkan pria itu tadi. Tak sampai lima belas menit kemudian Hyukjae kembali dengan sepiring Blueberry Cake dan secangkir coklat panas di kedua tangannya, ia meletakkan makanan dan minuman tersebut ke atas meja dihadapan Young Na.

“Ish, bukan berarti kita sudah akrab seperti ini kau menghidangkannya tanpa menggunakan nampan begitu Oppa! Aku juga tamu di café ini. Ckckck.” Hyukjae hanya nyengir seraya mengangkat kedua bahunya lalu kembali duduk di bangkunya semula. Ia berniat melanjutkan permainannya ketika di lihat layar laptopnya tidak lagi menampilkan aplikasi game, tapi wajah Young Ra yang sedang cemberut dengan kacamata bacanya ke arah kamera.

 

“Mwohaneungeoya! Kau menutup aplikasi game-ku ya?” seru Hyukjae seraya mendelik pada Young Na yang hanya memberikan cengiran polosnya sebagai jawaban, gadis itu melirik layar laptop Hyukjae sebentar lalu memotong Blueberrry Cake dalam ukuran besar dan langsung melahapnya.

“Kau dapat foto itu dari mana Oppa?” tanyanya dengan mulut penuh Blueberry Cake, bahkan selai Blueberry-nya sampai meninggalkan jejak di sudut bibirnya. Hyukjae meraih sehelai tisu di atas meja lalu melap selai tersebut, membuat Young Na terkesiap kemudian merebut tisu tersebut dan melap sendiri sudut bibirnya.

“Dasar anak kecil. Aku memotretnya secara tiba-tiba saat Young Ra sedang belajar di rumahku. Eoh, tadi katamu, kau dari kantor agensi, agensi Siwon?” Young Na menggeleng, menyeruput sedikit coklat panasnya sebelum menjawab dan meletakkan kembali cangkirnya tanpa suara; cara yang sama seperti Young Ra ketika meminum minuman kesukaannya Cappucino.

“Bukan, aku ke kantor agensi Ha Ji Won untuk penandatanganan kontrak.”

“Kenapa tidak memakai Siwon saja untuk model produk terbaru kalian?”

“Dia sudah di kontrak permanent oleh perusahaan Kyuhyun, dan aku tidak mau menggunakan model yang sama.” Seolah teringat sesuatu ketika Young Na menyebut nama Kyuhyun, Hyukjae memposisikan dirinya menghadap pada gadis itu dan sedikit menggeser kursinya agar lebih nyaman.

“Apa kau tahu ada sesuatu antara Young Ra dan Kyuhyun?”

“Sesuatu seperti apa?” “Beberapa minggu yang lalu, tengah malam Kyuhyun menelponku dan meminta nomor telepon Young Ra, lalu kata Donghae, dia melihat dua orang itu bertemu di depan kantor Kyuhyun, beberapa hari yang lalu aku juga melihat mereka di taman dekat sungai Han.”

Young Na menggaruk hidungnya yang tidak gatal, ia ingat pernah melihat adiknya bersama Kyuhyun beberapa kali namun ia tidak pernah memikirkan itu lebih lanjut, dan keanehan sikap pria itu ketika mereka sedang rapat dadakan di taman tadi malam.

“Aku tidak tahu. Sudahlah Oppa, biarkan saja. Bukankah itu bagus? Karena setidaknya kita tidak perlu khawatir Young Ra ataupun Kyuhyun tidak menyukai lawan jenis mereka.” Hyukjae tertawa kencang mendengar perkataan Young Na, begitupun dengan gadis bersurai hitam tersebut.

***

Cahaya matahari yang terik membuat kening Young Ra mengerut jelas, ia menggunakan sebelah tangannya menutupi dahi untuk menghalau sinar matahari, matanya menyipit melihat ke arah lapangan basket yang berbayang—fatamorgana—seraya berjalan perlahan menuju kelasnya di ujung koridor, angin yang berhembus pelan menerbangkan helai-helai rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, setumpuk buku tebal terlihat berada dalam pelukannya. Young Ra mendorong pintu kelasnya menggunakan bahu lalu berjalan ke mejanya yang berada di barisan paling belakang dekat jendela. Tempat yang strategis.

Ia meletakkan buku-buku bertema sastra dan seni serta beberapa buku yang tak jauh-jauh dari seni ke atas meja kemudian mendudukkan dirinya di kursi, pandangannya mengarah ke luar jendela, menatap pohon-pohon yang berdaun rindang di taman yang berada tepat di belakang kelasnya, kepalanya di miringkan dengan sebelah tangan sebagai tumpuan. Young Ra hampir terlelap ketika mendadak suasana kelas yang semula sepi menjadi gaduh, ia mengalihkan pandangan menatap sekumpulan mahasiswa yang seperti sedang mengerumuni sesuatu, tak lama kemudian terdengar teriakan gadis dari arah kerumunan tersebut yang suaranya tak asing di telinganya.

Young Ra berusaha untuk tidak peduli dan kembali melanjutkan “kegiatannya” yang tertunda, mencari posisi yang nyaman dan siap memejamkan mata kembali tatkala tiba-tiba saja suara gadis itu kini terdengar sangat jelas

Kesal setengah mati, Young Ra menoleh dengan cepat hingga membuat lehernya sedikit ngilu dan memelototi gadis yang telah mendudukan diri di sampingnya. Secepat kemarahannya muncul secepat itu pula kemarahannya hilang. Young Ra mendengus—pura-pura bosan kala mengetahui siapa gadis itu. Ia lalu menarik tumpukan bukunya dan meletakkan kepala di atasnya.

“Kenapa kau ada disini?” tanyanya dengan nada malas dan wajah mengantuk, gadis itu menoleh, menatapnya lalu menggeleng frustrasi melihat penampilan Young Ra yang kini menjadi teman sebangkunya itu.

“Tidur jam berapa kau semalam, sampai-sampai wajahmu seperti orang yang tidak tidur berhari-hari?” tanya balik gadis itu.

“Jangan banyak komentar. Sedang apa kau disini?” Gadis itu yang tak lain adalah Hwang Yoo Shin sahabatnya mengangkat tas selempang dan beberapa buku yang dibawanya sebagai jawaban yang di tanggapi dengan wajah melongo Young Ra.

“Kau kuliah disini? Ish, kenapa harus disini?” Yoo Shin melotot, ia melipat kedua tangannya di bawah dada.

“Memangnya tidak boleh? Universitas ini kan bukan milikmu seorang, siapapun boleh kuliah disini termasuk aku.” Menghela napas, Young Ra memalingkan wajahnya ke arah jendela yang terbias sinar matahari, membiarkan peluh menetes dari dahinya (padahal AC di ruangan itu menyala). Sementara Yoo Shin berdecak kesal karena Young Ra mengacuhkannya, gadis itu menarik paksa bahu Young Ra agar ia bangun dari posisinya.

“Mwoya?” tanyanya dengan wajah kesal.“Kenapa kebiasaanmu tidak pernah berubah Nona Han Young Ra? Astaga! Ini sudah 3 tahun, kau masih saja suka tidur di dalam kelas? Apa tidak ada kegiatan lain?” Young Ra tak mengindahkan pertanyaan sekaligus protesan sahabatnya itu, ia kembali pada posisi awal dan mengambil salah satu dari tumpukan bukunya sebagai penutup wajah.

“Dasar cerewet, mulai besok hari-hariku pasti tidak akan tenang lagi karena fans-fans bodohmu itu pasti akan terus mencecarku dengan pertanyaan tentangmu dan hadiah-hadiah untukmu.” Ujarnya yang lebih mirip seperti omelan tak bermutu bagi Yoo Shin, gadis berambut emas itu hanya mengedikkan bahu lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan mulai asyik dalam dunianya sendiri.

“Hei Hwang Yoo Shin, sana kembali ke studio, banyak pemotretan yang menunggumu hari ini.” Seru Young Ra masih tanpa menatap Yoo Shin. Yoo Shin hanya meliriknya sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya.

Kuliah hari ini dilaluinya dengan malas-malasan, meskipun Seni adalah mata pelajaran favoritnya, namun hal itu tak membuat Young Ra merasa bersemangat hari ini. Sebenarnya ia merasa sangat lelah dan juga mengantuk, ingin segera cepat pulang dan beristirahat di rumah. Untungnya hari ini ia libur, jadi niatnya untuk segera tidur dengan nyaman di kasur empuknya akan segera terlaksana. Tapi itu 5 menit yang lalu sebelum Siwon datang dengan penampilannya yang mempesona setengah mati, ia hampir tidak bisa menahan diri jika saja tidak ingat saat ini mereka berada dimana. Young Ra tersenyum lebar, membuat Eye Smile-nya terlihat jelas kala Siwon melambaikan tangan di depan gerbang Universitas, memanggilnya untuk mendekat. Young Ra mempercepat langkahnya, meninggalkan Yoo Shin yang kesusahan dengan high heels super tingginya di belakang dan mengumpat tidak jelas karena di tinggal begitu saja.

“Oppa sedang apa disini?” tanyanya ketika mereka sudah berhadap-hadapan. Siwon tersenyum, menampilkan dimple khas di kedua pipi tirusnya.

“Ayo kita jalan-jalan.” Ajaknya seraya menggandeng tangan Young Ra, berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Young Ra menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, membuat Siwon juga ikut menghentikan langkahnya.

“Wae?” Young Ra hanya menggeleng samar lalu menoleh ke belakang ke arah Yoo Shin yang tengah berjalan menghampirinya.

“Yoo Shin~ah, aku pulang dengannya, kau duluan saja. Annyeong.” Kali ini Yoo Shin benar-benar mengumpat kesal, ia menghentak-hentakkan kakinya dengan keras melihat Young Ra berlalu seraya melambaikan tangan padanya bersama pria yang tidak asing. Jelas Yoo Shin mengenal pria itu, karena mereka bekerja di bidang yang sama.

***

Hanya suara dengung yang berasal dari laptop dan AC yang memenuhi ruangan kedap suara ini dan juga tarikan napas seseorang yang sedang termenung di tempatnya, kesepuluh jemarinya saling bertaut menopang dagu, pandangannya mengarah pada sebuah pot berisi pohon Akasia tiruan di sebelah pintu yang tertutup rapat. Entah apa yang di lamunkannya tapi hal itu mengundang tatapan tanya Sekertaris Yoon yang sedari 15 menit yang lalu berdiri di depannya tanpa berniat sedikitpun untuk menyela kegiatan “langka” atasannya ini dan Kyuhyun sama sekali tak menyadari kehadiran pria yang berusia 1 tahun di atasnya itu. Ia justru semakin larut dalam lamunannya. Lelah menunggu, akhirnya Sekertaris Yoon menyerah. Ia berdeham sekali, namun tidak mendapatkan respon, setelah dehaman yang ketiga kalinya, barulah Kyuhyun tersadar. Ia segera mengalihkan pandangannya dan menatap Sekertaris Yoon dengan dahi berkerut.

“Sejak kapan kau berdiri disitu?” tanyanya dengan wajah menyelidik.

“Sekitar 15 menit yang lalu Sajjangnim.” Jawab Sekertaris Yoon dengan wajah datar.

“Ada apa?” Sekertaris Yoon segera meletakkan beberapa dokumen yang sejak tadi berada dalam dekapannya ke atas meja kerja Kyuhyun dan langsung membuka salah satu dokumen.

“Saya ingin menyampaikan ini. Ini laporan dari divisi pemasaran dan keuangan mengenai hasil penjualan Marc-S05 di pasar dunia dari seluruh cabang terutama di cabang Eropa dan Amerika.” Kyuhyun mengangguk-anggukan kepala lalu membaca beberapa table dan grafik yang tertera di beberapa lembar kertas dalam dokumen tersebut. Marc-S05 adalah mobil sport keluaran terbaru dari Marc Industries yang penjualannya telah tersebar ke hampir seluruh penjuru dunia dan menjadi salah satu mobil yang paling diminati oleh orang-orang kaya. Ia kemudian membuka dokumen lainnya dan mulai membubuhkan tanda tangan setelah membacanya satu persatu.

“Lalu apa ada lagi?” tanyanya lagi ketika dilihatnya Sekertaris Yoon masih berdiri di tempatnya, Sekertaris Yoon segera melihat arloji yang tersemat di pergelangan tangannya lalu kembali menatap Kyuhyun dengan wajah serius.

“1 jam lagi pertemuan dengan Mr. Adam di hotel Marc Sajjangnim.” Kyuhyun meletakkan kembali bolpoinnya, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.“Apa ini masih mengenai proyek gagal itu? Apa kau tidak bisa mengatasinya sendiri?”

“Anda tidak bisa mengatakan proyek itu gagal Sajjangnim, karena Mr. Adam bersikeras bahwa proyek itu akan berhasil.” Bantah Sekertaris Yoon, Kyuhyun menghela napas panjang, menatap Sekertaris Yoon dengan tatapan tajam.

“Berhasil bagaimana jika keuangan dan manajemennya tidak jelas seperti itu?! Aku tidak mau mengadakan kerja sama dengan orang sepertinya apalagi jika sampai menghambur-hamburkan uang perusahaan. Lebih baik aku berikan santunan pada anak yatim dan karyawan perusahaan. Sudah sana, aku akan turun 15 menit lagi.”

“Algeuseumnida Sajjangnim.” Kyuhyun hendak memeriksa kembali beberapa dokumen ketika dilihatnya Sekertaris Yoon belum beranjak dari ruangannya dan masih berdiri di hadapannya.

“Apa lagi?”

“Ada apa denganmu Kyu? Beberapa hari ini ku lihat kau sering melamun. Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Sekertaris Yoon dengan pandangan menyelidik, menghilangkan bahasa formalnya. Kyuhyun kembali menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan memejamkan mata.

“Tidak ada apa-apa Hyung.” Jawabnya.

“Apa karena gadis itu?” tebak Sekertaris Yoon atau Yoon Seong Joo seraya memerhatikan raut wajah Kyuhyun.

“Gadis yang mana?”“Gadis yang beberapa hari lalu datang kemari dan marah-marah padamu.” Kyuhyun membuka kedua matanya, menatap langit-langit ruangannya yang berwarna kelabu dengan pandangan menerawang, bayangan Young Ra yang tertawa bersama adik angkatnya tiba-tiba melintas di pikirannya.

“Entahlah.”

***

“Kita mau kemana Oppa?” tanya Young Ra dengan wajah yang kentara penasaran sekali. Gadis itu menatap jalanan yang tidak asing untuknya.

“Lotte World.” Jawab Siwon singkat dengan senyum lebar. Young Ra menatap Siwon dengan mata berbinar-binar. Sudah lama sekali ia tidak kesana, dan hari ini ia akan ke taman hiburan itu bersama cinta pertamanya. Takdir macam apa ini? Namun ketika melihat penampilan Siwon, raut wajah Young Ra langsung berubah khawatir.

“Oppa kenapa kau tidak memakai penyamaran? Apa tidak masalah? Bagaimana jika fansmu tahu dan menyerbu kita lalu mengeroyokku?” Siwon hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan beruntun gadis itu, ia melirik sekilas Young Ra sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.

“Tidak apa-apa. Aku tidak nyaman jika harus memakai penyamaran, membuatku tidak dapat bergerak bebas. Dan jangan terlalu khawatir, fansku baik semua. Mereka tidak akan mengeroyokmu. Kajja turun, sudah sampai.” Siwon mengenakan topi hitam untuk sedikit menyamarkan wajahnya kemudian turun dari mobil, dilihatnya Young Ra yang seperti ragu untuk turun, ia memutari mobil lalu mengetuk kaca jendela sebelah kanan membuat gadis itu menoleh. Siwon mengedikkan kepalanya ke arah pintu masuk Lotte World, mengintruksi Young Ra untuk segera turun. Young Ra menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan dan meraih kenop pintu kemudian turun dari mobil. Siwon tersenyum lebar menyambutnya dan dibalas dengan senyum ragu-ragu Young Ra. Pria itu meraih tangan kanannya, menggenggamnya dengan erat kemudian berjalan beriringan memasuki taman hiburan tersebut.

Hampir semua wahana mereka naiki, walau mendapat banyak tatapan tanya dan ingin tahu dari para pengunjung, Young Ra berusaha sesantai mungkin. Tertawa dan bersenang-senang dengan Siwon adalah salah satu hal yang selalu diinginkannya selama ini tanpa kehadiran Young Na di antara mereka. Dan saat ini mereka tengah duduk di sebuah bangku tak jauh dari wahana Roller Coaster dengan 1 cone ice cream coklat dan vanilla di masing-masing tangan keduanya. Sebelumnya Siwon hendak menarik Young Ra untuk menaiki wahana yang menguji adrenalin tersebut, tapi Young Ra yang takut dengan ketinggian itu mengeluh lelah dan meminta mereka untuk istirahat sejenak alih-alih agar Siwon lupa dengan niatannya menaiki wahana tersebut.

“Youngie, kau masih ingat tidak dengan Ahjumma penjual Odeng di dekat sekolahmu dulu?” tanya Siwon setelah jeda yang cukup panjang di antara mereka. Young Ra mengerutkan keningnya berusaha mengingat-ingat Ahjumma yang di maksud Siwon lalu tawanya meledak ketika ingatan tentang Ahjumma itu beberapa tahun yang lalu muncul di benaknya.

“Ne, aku ingat Oppa. Ahjumma genit yang selalu menggodamu itu kan? Hahaha.” Siwon memanyunkan bibirnya melihat Young Ra tertawa terbahak-bahak, ia ingat setiap kali membeli Odeng di kedai dekat sekolah Young Ra dulu, Ahjumma penjual Odeng itu selalu menggodanya karena wajahnya yang memang sudah tampan sejak kecil.

“Aku kemarin bertemu dengannya lagi ketika mengantar Eomma ke supermarket. Dan kau tahu? Ahjumma itu masih mengenaliku dan menggodaku lagi, hingga banyak orang yang menatap ke arah kami. Ish benar-benar.” Ujarnya sebal seraya melahap sekaligus ice cream coklatnya yang tinggal setengah.

“Aku jadi penasaran, seperti apa ya wajahmu ketika Ahjumma itu menggodamu lagi, apa masih seperti dulu atau lebih parah dari itu? Hahahhahaha.” Kali ini Siwon tidak lagi merasa sebal karena di tertawakan gadis itu. Ia justru tersenyum senang karena dapat melihat Young Ra kembali tertawa lepas seperti ini, hal yang sudah lama tak dilihatnya. Ia mengusap puncak kepala Young Ra secara tiba-tiba, membuat gadis itu menghentikan tawanya dan menatap Siwon dengan tatapan memuja sekaligus terpesona melihat senyum berdimple kesukaannya itu terpajang jelas di wajah Siwon. Jantungnya berdegup kencang ketika tanpa aba-aba pria itu menariknya dan memeluknya dengan erat, Young Ra merasa seluruh tubuhnya kaku tidak bisa bergerak.

“Teruslah menjadi gadis yang ceria seperti ini chagiya~ ~. Ingatlah, selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah, serumit apapun masalah itu. Dan aku yakin kau pasti bisa menyelesaikannya dengan baik, karena kau gadis yang kuat. Adikku tersayang.” Bisiknya lembut seraya mengusap rambut Young Ra secara teratur. Sementara Young Ra mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih, hatinya seperti teriris mendengar kalimat terakhir yang meluncur dengan mulusnya dari bibir Siwon, ia melepaskan pelukan hangat pria itu kemudian bangkit berdiri, membuat Siwon mengernyitkan dahinya atas sikap Young Ra yang tiba-tiba saja berubah. Ia menatap heran gadis itu yang kembali menampilkan wajah datar dan dinginnya.

“Ada apa Youngie?” tanyanya masih dalam posisinya.

“Aku ingin pulang Oppa.” tukas Young Ra seraya berjalan meninggalkan Siwon yang menatapnya dengan bingung. Ia kemudian bangkit dan berjalan menyusul Young Ra dengan tergesa.

Tanpa mereka sadari, sedari tadi seseorang dengan penampilan misterius menyaksikan semuanya dari tempat tersembunyi yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Orang itu menyeringai puas melihat hasil bidikannya yang berhasil mengabadikan moment mereka, lalu beranjak pergi dari tempat itu dan kembali mengikuti Young Ra dan Siwon tanpa sepengetahuan kedua orang itu. Minggu ini akan menjadi minggu keberuntungannya karena berhasil mendapatkan berita yang akan membuat se-antero Korea Selatan heboh.

***

Siwon menghentikan mobilnya 1 blok dari rumah Young Ra karena permintaan gadis itu, ia masih menatap Young Ra dengan bingung karena gadis itu yang tiba-tiba saja menjadi pendiam. Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat malam, Young Ra turun dari mobil Siwon dan berjalan dalam keheningan tanpa berniat sedikitpun untuk menoleh ke belakang, meninggalkan Siwon dengan sejuta kebingungan di benak pria jangkung tersebut. Ia menghentikan langkahnya ketika kedua matanya menangkap sosok Kyuhyun sedang bersandar pada mobilnya seraya bersedekap di depan rumah orang tuanya. Penampilan Kyuhyun terlihat santai, berbeda dari biasanya yang selalu mengenakan setelan formal setiap kali mereka bertemu.

Dan entah mengapa Young Ra merasa darahnya berdesir melihat tatapan pria itu yang tajam mengarah padanya. Dengan ragu ia melangkahkan kembali kakinya menghampiri Kyuhyun yang tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Tatapan mereka bertemu ketika mereka telah berhadap-hadapan, untuk kali ini Young Ra benar-benar merasakan perasaan yang aneh, rasanya ia ingin sekali membenamkan jari-jarinya pada rambut Kyuhyun yang acak-acakan, mengusap bibir penuh itu dengan bibirnya dan memeluk tubuhnya dengan erat, menghirup aroma pinus yang basah sepuas mungkin dan memenuhi paru-parunya.

Young Ra tersentak dari khayalannya ketika secara tiba-tiba Kyuhyun menariknya mendekat, mencengkeram pinggangnya dengan erat, lalu menyapukan ibu jarinya di sepanjang bibirnya, kedua mata mereka bertemu dan Young Ra tidak bisa mengalihkan tatapannya. Ia terpaku pada sorot mata Kyuhyun yang seolah terpesona padanya, wajah pria itu mendekat secara perlahan namun pasti dan ketika bibir mereka saling bersentuhan, Young Ra merasa terbakar. Ia memejamkan kedua matanya dan meraih tengkuk Kyuhyun, Damn! Apa yang kau lakukan Han Young Ra? Umpat pria itu dalam hati, ia menggeram dan mengetatkan ciuman mereka, irama jantungnya berdetak keras, begitu pula dengan Young Ra dan Kyuhyun dapat mendengar irama itu dengan jelas, membuatnya tersenyum disela-sela ciuman mereka.

Setelah berdetik-detik yang terasa berharga bagi Kyuhyun dan mendebarkan untuk Young Ra, seolah tersadar Kyuhyun menghentikan ciumannya. Ia menarik wajahnya menjauh tetapi tidak melepaskan cengkeramannya pada pinggang Young Ra, sementara gadis itu masih terpaku atas apa yang baru saja terjadi. Ia kembali menatap mata Kyuhyun yang juga menatapnya, entah apa yang terjadi padanya, tapi sedetik kemudian Young Ra melepaskan cengkeraman pria itu dari pinggangnya dan meninggalkannya begitu saja, masuk ke dalam pekarangan rumahnya dan menutup pintu gerbang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kyuhyun masih termangu di tempatnya, ia mengusap wajahnya dengan kasar, berbalik dan tatapannya mengarah pada kamar Young Ra yang gelap. Ia berharap gadis itu akan muncul di balkon kamarnya yang terbuka, namun hingga setengah jam kemudian Kyuhyun menunggu, tak ada tanda-tanda gadis itu akan muncul. Akhirnya dengan perasaan yang campur aduk, Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan mulai menjalankannya. Bayangan kejadian tadi kembali melintas di benaknya, membuat Kyuhyun menghentikan mobilnya di tengah jalan dan menghembuskan napas kasar.

“Apa yang telah kau lakukan Cho Kyuhyun?!” desisnya pada diri sendiri.

***

Young Ra menyentuh dadanya yang bergemuruh dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menyentuh permukaan bibirnya dengan hati-hati, kilasan kejadian saat Kyuhyun menciumnya beberapa waktu yang lalu terus mengiang di otaknya.

“Apa yang terjadi padaku? Kenapa perasaanku seperti ini?” gumamnya. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Angin malam yang menusuk membuat tubuhnya menggigil kedinginan, Young Ra berjalan menuju balkon hendak menutup pintu ketika matanya menangkap bayangan Kyuhyun yang terbias cahaya bulan penuh masih berada di depan rumahnya. Ia menghentikan tangannya di udara, memundurkan langkahnya satu kali dan menatap pria itu yang juga sedang menatap ke arahnya, entah Kyuhyun menyadari keberadaannya atau tidak karena keadaan kamarnya yang gelap. Dan ketika Kyuhyun memutuskan untuk pergi, lagi-lagi perasaan aneh itu muncul, ia merasa seperti… tidak rela.

Untuk beberapa menit Young Ra terdiam di tempatnya mengamati kepergian Kyuhyun yang menimbulkan efek tak biasa untuk gadis itu hingga mobil yang di tumpangi pria itu tak terlihat lagi. Ia menutup pintu balkonnya, kemudian melangkah keluar kamar, turun ke lantai 1 dan berjalan menuju dapur. Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Setelah menyiapkan secangkir ukuran sedang susu dari lemari es, mangkuk dan sekotak Sereal Coklat, Young Ra menyantap makan malamnya yang ‘wah’ itu dalam keremangan cahaya dapur.

Ia hendak memasukkan suapan kelimanya ketika terdengar suara seseorang yang sedang berbincang. Tak lama kemudian Young Na muncul dari ruang keluarga mengenakan piyama berwarna pink motif kupu-kupu dengan menggenggam ponsel yang layarnya menghadap ke wajahnya. Gadis itu sedang melakukan video call dengan Choi Siwon. Young Ra menggenggam sendoknya kuat-kuat kala mengingat perkataan Siwon padanya saat di taman hiburan tadi sore.

Adik? Hanya sebagai adik Siwon menganggapnya selama ini setelah bertahun-tahun Young Ra memendam perasaan pada pria itu? Memang ini salahnya yang tak pernah mengatakan perasaannya pada Siwon, namun meski begitu ia tidak akan pernah terima jika Siwon menganggapnya hanya sebatas itu. Dan Young Ra sudah tidak bisa lagi menahan kebenciannya pada gadis itu, gadis yang telah merebut segalanya darinya. Kebenciannya pada Young Na sudah mencapai titik tertinggi, dan ia sudah bertekat, bagaimana pun ia akan membuat Young Na menderita, ia akan membuat kakaknya merasakan rasa sakit yang selama ini ia rasakan.

“Ne Oppa, aku akan menunggumu besok malam di restaurant yang biasa. Sudah sana tidur, ini sudah larut, sampai jumpa besok malam. Jaljayo Chagiya~ ~ ~ ^^” Young Na tersenyum seraya melambai ke arah ponselnya. Lalu setelah sambungan video call-nya terputus, gadis itu kembali ke kamarnya di lantai 2 yang berseberangan dengan kamar Young Ra. Sementara Young Ra tersenyum sinis mendengar percakapan terakhir kakaknya dengan Siwon, di kepalanya kini sudah tersusun rencana untuk menggagalkan acara makan malam mereka besok malam. Ia menyuapkan sesendok terakhir Serealnya lalu membereskan peralatan makannya dan kembali naik ke kamarnya.

TBC

 

 

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. arni07
    May 07, 2016 @ 18:02:32

    pasti yg menguntit siwon n young ra itu wartawan,kenapa young ra sangat membenci young na??apa yg akan direncanakan young ra untuk menggagalkan pertemuan young na dan siwon??
    wah kyuhyun mencium young ra terus young ra membalas ciumannya,wahwah pertanda bahwa mereka mulai tertarik satu sama lain tapi mereka belum menyadarinya

    Reply

  2. lieyabunda
    May 09, 2016 @ 04:07:20

    waw,,, bakalan ada gosip heboh nih….
    kyu mulai menunjukkan ktertarikannya ama young ra,,,
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: