Talk Me Down

 

talkmedown

.\

IJaggys | 2016

.

Oh, she smells like flowers powder—and home.

.

.

.

Ada  satu waktu dimana Lee Donghae begitu tertarik mendengar perbincangan Han Cheonsa. Teman satu apartemennya. Dia membeli apartemen itu sekitar dua tahun yang lalu, dari seorang makelar properti yang berjanji bahwa prospek wilayah di apartemen itu akan menjadi nilai tinggi untuk investasi di masa depan.

Apartemen itu berada di wilayah strategis. Dekat dengan gedung-gedung perkantoran, ada Starbucks yang buka selama 24 jam tidak jauh dari gedung apartemennya. Juga, toko bakery yang menjual aneka pastry dan jus buah dari Capri Sun.

“Kau tidak bisa berharap bahwa semua orang memperlakukanmu dengan baik.” Han Cheonsa, wanita berambut coklat nilon dengan iris mata berwarna biru samdura, menghisap satu batang rokok dari Yves Saint Laurent. Dia merendahkan sedikit tubuhnya ketika mendengar denting nyaring dari microwave, dan mengambil lasagna yang dibawa Donghae.

Tidak jelas bagaimana awalnya. Dia mengalami kesulitan dalam membayar sinking fund apartemennya. Apartemennya termasuk dalam jajaran gedung mewah, dan memiliki biaya perawatan yang cukup mahal untuk setiap bulannya. Lalu berbekal dengan pengalaman minim yang dia lihat dalam satu film Hollywood—dia memutuskan untuk menyewakan kamar tamunya melalui iklan di Internet.

Hasilnya luar biasa menyenangkan. Dalam bayangannya dia berpikir bahwa dia akan mendapatkan roommate seorang kriminal atau drug dealer, tapi ketika dia melihat Han Cheonsa berdiri di depan pintu apartemennya. Dia percaya bahwa Tuhan telah mengirimkan kasihnya untuknya ke dunia ini.

“Aku memperlakukanmu dengan sangat baik. Tapi kenapa kau bersikap brengsek dengan menggunakan kamarku untuk menyimpan kekasih-kekasihmu selama aku tidak ada?”

Benar. 

Ketika membuka pintu kamarnya dari perjalanan bisnis yang melelahkan, dia memikirkan hal yang sangat sederhana. Dirinya, air hangat, dan tempat tidur. Tapi dia menemukan seorang pria (yang dia tebak sebagai satu dari ribuan kekasih milik Cheonsa) tengah asik bersandar di atas tempat tidurnya.

“Well, kindness doesn’t cost a thing, but you can bankrupt yourself giving it to people who don’t value it.” Cheonsa mengecup pipi Donghae. Kecupan selamat datang. Mereka tidak memiliki hubungan spesial, hanya saja Cheonsa memang jenis wanita yang seperti itu.

“Just enough stubble I can light a match off my cheek.” Dia berguman saat bibir Cheonsa menyentuh wajahnya. Normalnya, semua orang akan berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta. Atau tengah melalui masa picisan, walau sebenarnya, itu hanyalah cara Cheonsa menunjukan afeksinya terhadap orang lain—melalui sentuhan.

Oh.

“No, it’s just funny how the same words take on a whole different meaning depending on the person saying them.” Donghae menerima suapan lasagna yang diberikan Cheonsa. Setidaknya perjalanan bisnis yang diambilnya memakan waktu sekitar tujuh belas hari lebih. Dia merindukan temannya yang satu ini.

Donghae kemudian membalas kecupan Cheonsa, dengan menyapukan ciuman singkat di kening wanita itu.

Oh, she smells like flowers powder—and home. 

I appreciate the bad in you, but it’s the men you’ve slept with—that I can’t stand.” Donghae menjawab sedikit menggerutu. Sekarang, dia harus memikirkan cara bagaimana mengunci kamarnya ketika dia tidak berada disini.

“I’m sorry I interrupted your intervention to complain about my problems. But Honey, are you jealous?” Cheonsa tersenyum menggoda, dia melahap potongan lasagna pertamanya dengan hikmat. Mendengar suara Cheonsa yang memanggilnya dengan begitu kasual membuatnya semakin jengkel.

“I have this roomate. If she was a dog, she’d be some kind of Spaniel and that’s all I’m going to say about it.” Donghae menjawab dengan asal, ibu jarinya mengusap ujung bibir Cheonsa yang terdapat sebercak saus dari lasagna. 

Melihat wanita berambut nilon itu menatapnya dengan senang, selalu berhasil membuatnya melupakan kekesalannya begitu saja. Lupakan tentang Cheonsa yang memiliki hubungan polyamorous, dan ribuan kekasihnya diluar sana. Bagi Donghae, Han Cheonsa tetap seperti bubuk bunga Chamomile yang menyenangkan.

“What kind of Spaniel though?” dia bertanya dengan senyuman sugestifnya. Di dalam kepala Donghae, dia tahu kemana ini akan berjalan.

Cheonsa menatap Donghae dengan intens, dia menggigit bibir bawahnya ketika Donghae berjalan mendekat ke arahnya.

Dalam satu gerakan, Donghae menarik tubuh ramping Cheonsa ke dalam pelukannya, dan berbisik dengan suara yang sangat rendah—namun cukup membuat Cheonsa tersenyum.

“The prettier ones.”

Dan setelah itu Donghae merasakan Cheonsa mencium bibirnya dengan lembut, membuat sebuah gerakan yang sangat lambat hingga dia mendorong tubuh Cheonsa ke atas tempat tidurnya.

Lee Donghae melepaskan bibirnya dari wanita itu, menatapnya dalam-dalam—ditutup oleh sebuah umpatan yang cukup keras untuk didengar oleh keduanya.

“Shit, I’m a trash for you.”

Lalu dengan satu gerakan, kini Cheonsa berada di atas tubuhnya—menyapukan sebuah kecupan lembut di bibirnya. Donghae tidak mengerti mengapa dia bisa berakhir dalam situasi yang sangat dibencinya—friends with benefits. Tapi dia tahu dia tidak bisa meminta lebih dari wanita yang tidak ingin terikat seperti Cheonsa.

“I’ve missed you as well. Welcome home, Lee.”

Ada satu waktu dimana Lee Donghae sangat membenci Han Cheonsa, adalah ketika wanita itu menganggunya, membuatnya jengkel, dan menariknya keluar dari zona nyamannya.

Namun, ada satu hal yang membuat dirinya mempertahankannya sebagai roommate, dan tidak menendang wanita itu keluar dari apartemennya—karena Han Cheonsa selalu berhasil membuatnya tersenyum tanpa sebuah alasan.

Because she’s worth every bit of the trouble. He continuously finds himself within her.

That’s all he needs.

“The sad truth is, so many people are in love and not together. And so many people are together and not in love.”—Unknown

.

.

-THE END-

.

.

.

[footnote]
[1] Spaniel: A type of gun dog.
[2] Polyamorous: The state of having multiple sexually or romantically committed relationships at the same time, with the consent of all partners involved.
[3] Sinking Fund: Sometimes called a reserve fund, this is for emergencies and future major capital works on common property.

.

A/N: Slightly, opening up to write again. I don’t know if one should call Han Cheonsa’s character a dreamer or a bimbo, but I’m trying to get back to my sense after longing and grieving. Hope you guys like it! Sure I’d be happy to meet yours on comment box xo.

xo

IJaggys

5 Comments (+add yours?)

  1. fanatwiksparkyu
    May 07, 2016 @ 17:33:14

    As always I like your story about han cheonsa…welcome back Ijaggys I’m waiting for another story.

    Reply

  2. Fafairfa
    May 07, 2016 @ 22:51:59

    Sekian lama akhirnya author menulis kembali di blog ini #applause

    As always good for donghae and cheonsa ^^

    C’mon authornim~ I’m waiting your wonderful story🙂

    Reply

  3. Naura0661
    May 08, 2016 @ 12:23:28

    Finally, i can read your story again… thank u.. i like your story… i hope i can read another story from you… Semangaaaat…🙂

    Reply

  4. Laili
    May 20, 2016 @ 19:38:34

    Ceritanya Kak IJaggys slalu keren. Suka bgt sama cerita2nya. Di sini kok Cheonsa kelihatan bad girl bgt ya… dan Donghae gk bisa nahan godaan haha xD

    Reply

  5. Futry
    Jun 20, 2016 @ 11:20:24

    Suka banget sama quotes nya😊
    Hwaiting thor~

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: