Between Us [8/?]

between us 6

Between Us (Part 8)

Cast                 : Han Young Ra, Cho Kyuhyun, Han Young Na, Choi Siwon

Other Cast      : Hwang Yoo Shin, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Lee Eun Ha, Han Bon Sung

Genre              : Sad, Romance, Hurt, Family, Brothership

Rate                 : PG 15+

Disclaimer       : Sebelumnya aku ucapin jeongmal kamsahamnida untuk admin yang bersedia posting FF abal-abal ku ini di blog ini. dan kalian bisa mengunjungi Fanpage-ku di sini -> https://www.facebook.com/Iffuany-Yaqaz-918301831526620/.

Fanfic ini murni buatanku sendiri, so kalau mau baca di persilahkan tapi ingat, jangan copast tanpa ijin, jangan plagiat, jangan ngaku-ngaku, dan lain-lain yang berkaitan dengan penjeplakan tanpa ijin, Arrachi? Cho Kyuhyun milik keluarganya, Super Junior, SM Ent, ELF, dan Sparkyu. Dan Han Young Ra adalah milik imajinasi saya seorang. Just read, like, and coment. Happy reading all!!!

 

 

Kyuhyun tersentak dari tidurnya karena sinar matahari yang menyorot punggung telanjangnya tanpa ampun melalui kaca jendela yang gordennya tidak tertutup. Ia mengusap wajahnya perlahan dan melirik jam digital yang bertengger manis di atas nakas di samping tempat tidurnya. Pukul 11 siang. Pandangannya mengelilingi ruang kamarnya yang terlihat berantakan. Beberapa botol Wine yang sudah kosong berserakan di atas karpet coklat di bawah meja kaca kecil di tengah ruangan.

Ia segera beringsut dari ranjang, berjalan dengan terseok menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya yang kusut dengan air dingin dan menatap pantulan wajahnya yang sedikit terlihat lebih segar melalui cermin di depannya. Ia merasa aneh dengan dirinya saat ini; keadaannya yang di luar kebiasaan dan perasaannya yang tidak menentu.

Ia masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana caranya mencium gadis itu. Bahkan setelah berbotol-botol Wine ia habiskan, kejadian itu tidak bisa menghilang dari benaknya sedikit pun. Ia hampir gila memikirkannya semalaman. Kenapa ia bisa melakukan hal seperti itu? Kenapa ia tidak bisa menahan diri? Kenapa ia mencium gadis itu dengan cara seperti itu? pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus bermunculan di kepalanya tanpa bisa ia jawab. Dan lagi, untuk yang pertama kalinya sejak ia memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha, ia bangun sesiang ini dalam keadaan yang begitu kacau.

Sepertinya bukan hanya kejadian itu yang membuatnya gila tapi juga gadis itu. Bahkan terhadap gadis yang sejak lama ia sukai pun ia tidak pernah mengalami hal seperti ini.

Kyuhyun terdiam sejenak, masih menatap pantulan wajahnya dan menggelengkan kepala kuat-kuat saat menyadari sesuatu.

“Tidak. Itu tidak mungkin. Aku… jatuh cinta padanya?” gumamnya. Ia meraba dada kirinya dan kembali menggeleng.

“Tidak, tidak, tidak.”

Ia membasuh wajahnya sekali lagi sebelum teringat sesuatu dan segera berlari keluar, mencari ponselnya yang entah ada di mana. Ia mengacak ranjangnya yang sudah berantakan dan semakin berantakan akibat ulahnya lalu beralih ke kolong meja kecil di tengah ruangan ketika tidak menemukan benda itu.

Desahan lega keluar dari bibirnya saat tangannya berhasil meraih ponselnya yang memang berada di kolong meja. Dengan tidak sabar mengetik beberapa nomor yang sudah di hapalnya di luar kepala dan menghubungi nomor tersebut.

“Kau di mana?” tanyanya begitu sambungan teleponnya terhubung.

“Kampus, ada apa?”

“Di mana kampusmu?”

“Universitas Kyunghee.”

“Aku akan segera ke sana.”

Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Kyuhyun kembali masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap ke Universitas Kyunghee. Ada yang harus ia pastikan saat ini, dan satu-satunya cara adalah menemui gadis itu. Di dalam hatinya, Kyuhyun berdoa semoga dugaannya kali ini salah. Karena ia hal itu sampai terjadi dan menjadi kenyataan semuanya akan menjadi rumit. Dan ia bernci dengan keadaan seperti itu. Oleh karena itu ia tidak boleh jatuh cinta pada gadis itu. Pada Han Young Ra.

 

 

 

***

 

 

 

Matahari musim semi memang menyenangkan. Young Ra berjalan riang menyusuri koridor kelas Post Music Modern dengan perasaan membuncah. Bibirn tipisnya bersenandung kecil dan di kepalanya telah tersusun rapi rencana brilian untuk menggagalkan acara makan malam romantis antara kakaknya dengan Choi Siwon.

Belum pernah Young Ra merasa hatinya sesenang ini. Bagaimanapun melihat hubungan dua orang yang tidak patut untuk bahagia itu hancur adalah hal terbaik di dunia. Ia tidak peduli jika nanti Young Na akan membencinya karena yang terpenting baginya adalah melihat gadis itu menderita setelah semua kebahagiaan yang di dapatkannya. Kebahagiaan yang seharusnya juga ia dapatkan.

Young Ra masih mengingatnya dengan jelas, setiap keeping kenangan buruk yang di berikan orang tuanya kepadanya. Setiap ucapan kasar, tatapan sinis dan penuh kebencian itu. Dan ia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan membalas semuanya, tapi bukan kepada orang tuanya, melainkan kepada putri kesayangan mereka. Ia ingin gadis itu merasakan apa yang di rasakannya selama ini dan memberikan kenangan yang akan membekas di hati gadis itu seumur hidup.

Senyum sinis terkembang di bibirnya kala Young Ra membayangkan Young Na menderita. Seperti apapun caranya, ia bersumpah ia akan memberikan rasa sakit yang tak terperi untuk kakaknya, rasa sakit yang tidak akan bisa di sembuhkan oleh apapun.

Tangannya hampir meraih gagang pintu kelas ketika ponselnya berdering . Ia segera meraih benda itu dari saku sweater tipis yang di kenakannya dan seketika tubuhnya bergetar gugup saat melihat siapa yang meneleponnya. Ibu jarinya bergerak ragu untuk menjawab panggilan tersebut namun segera ia tepis keraguannya dan menggeser ikon terima panggilan yang terdapat pada touchscreen ponselnya.

“Kau di mana?” tanya Kyuhyun segera tepat saat ia menempelkan ponselnya pada telinganya.

“Kampus, ada apa?”

“Di mana kampusmu?”

“Universitas Kyunghee.” Jawabnya sedikit ragu.

“Aku akan segera ke sana.” kata Kyuhyun, lalu sambungan terputus.

Young Ra merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia meraba dada kirinya dan merasakan detak jantung yang berpacu cepat. Ia tertegun. Apa yang terjadi padanya? Kenapa reaksi tubuhnya selalu seperti ini jika ia mendengar suara Kyuhyun atau bertemu dengan pria itu?

Kepalanya menggeleng kuat. Tidak. Semua itu pasti hanya perasaannya saja.

 

 

 

***

 

 

 

Helaan napas kasar keluar dari bibirnya saat ia mendapati pria itu sudah menunggunya di halaman kampus, bersandar pada mobilnya yang lagi-lagi berbeda dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana jins-nya, penampilannya terlihat santai hari ini. Pria itu bahkan tidak ingin repot-repot memarkirkan mobilnya di tempat parkir dan membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian. Rambut coklatnya yang acak-acakan semakin terlihat tidak karuan tertiup angin. Dan pemandangan itu membuat seluruh gadis yang melintasi tempat ini berbisik-bisik dengan tatapan kagum serta terpesona. Begitu pula—tanpa di sadari—Young Ra menatap Kyuhyun penuh kekaguman tanpa berkedip. Terkadang ia tidak mengerti, bagaimana bisa Tuhan menciptakan pria dengan sejuta pesona sepertinya yang membuat banyak gadis rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatiannya.

Ia mengerjap cepat ketika menyadari dirinya telah terperosok oleh pesona pria itu tanpa sadar. Apa yang baru saja di pikirkannya? Ia memukul kepalanya lalu segera menghampiri Kyuhyun dengan langkah di hentak-hentakan dan menghentikan langkahnya di hadapan Kyuhyun, mendongak menatap pria itu seraya bersedekap, membuat Kyuhyun yang semula tengah memperhatikan desain eksterior gedung Universitas Kyunghee menoleh dan balas menatap Young Ra. Ia memperhatikan penampilan gadis tersebut yang selalu menjadi ciri khas-nya dengan mengenakan kaus putih v-neck yang di padukan dengan sweater tipis berwarna biru langit, jins abu-abu, dan sepatu kets yang juga selalu berhasil membuatnya terpesona.

Kyuhyun menggeleng samar, mengenyahkan pemikiran absurd-nya yang ingin mencium gadis itu lagi lalu berbalik dan membuka pintu mobil di sisi penumpang. Menginstruksikan gadis itu untuk masuk dengan mengedikan kepalanya.

Young Ra memutar bola matanya jengah dan menuruti perintah pria itu. Masuk ke dalam mobil dan mendudukan dirinya di kursi penumpang. Jantungnya lagi-lagi berdetak gugup saat Kyuhyun mendudukkan diri di sampingnya, menatapnya sejenak lalu secara tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arahnya. Ia menelan saliva gugup, mendorong punggungnya ke belakang saat pria itu semakin mendekat. Hembusan napas lega lolos begitu saja dari bibirnya tanpa bisa ia kendalikan ketika ternyata Kyuhyun hanya bermaksud memasangkan sabuk pengamannya. Tapi kelegaan itu segera sirna saat hidungnya mencium aroma yang menguar dari tubuh Kyuhyun. Aroma hutan Pinus yang basah dan segar. Napasnya kembali tercekat. Aroma pria ini membuatnya mabuk.

Ia menutup kedua matanya, mengusir segala pikiran tidak waras yang mulai bersarang di otaknya namun tak lama kemudian kedua matanya kembali terbuka ketika ia merasakan hembusan napas pria itu menerpa wajahnya.

Mereka saling bertatapan. Untuk yang kesekian kali Young Ra terpaku pada kedua bola mata berwarna hitam pekat itu. Yang membuat napasnya lagi-lagi tercekat adalah cara Kyuhyun menatapnya. Tidak seperti sebelumnya yang selalu menatapnya dengan tajam terkadang juga datar, kali ini Kyuhyun menatapnya dengan sorot lain. Tatapan yang sama sekali tidak bisa ia artikan.

Sementara Kyuhyun lagi-lagi harus menahan napasnya karena detak jantungnya yang berpacu cepat tidak karuan setiap kali ia berdekatan dengan gadis ini. Ia memutuskan kontak matanya dengan Young Ra—sedikit tidak rela—terlebih dulu, menunduk sejenak dan menggeleng samar kemudian mengembalikan tubuhnya ke posisi semula. Menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan kendaraan beroda empat tersebut membelah jalanan kota Seoul.

Mereka melewati beberapa distrik sebelum akhirnya berhenti di sebuah taman dekat Sungai Han. Sepanjang jalan hingga tiba di tempat ini tidak ada satu pun di antara mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan. Kyuhyun terlihat enggan untuk keluar dari mobil begitu pula dengan Young Ra. Keduanya menikmati pemandangan yang tersuguh di hadapan mereka, yaitu kelopak bunga Sakura yang mulai berguguran.

Young Ra berdeham, mencoba menarik perhatian Kyuhyun namun pria itu tidak menghiraukannya dan semakin asyik menatap kelopak bunga Sakura yang berjatuhan di atas kap mobilnya. Ia berdecak kesal, kemudian menarik lengan Kyuhyun hingga pria itu menoleh ke arahnya.

“Ada apa? Kenapa mengajakku ke tempat ini?” tanya Young Ra.

Kyuhyun menatap gadis itu sebentar lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Menahan napasnya sekali lagi karena aroma tubuh Young Ra yang semakin menusuk indera penciumannya menyerangnya tanpa ampun. Entah sejak kapan menahan napas mulai menjadi rutinitasnya setiap kali berdekatan dengan gadis ini. Ia mencengkeram setir mobil, sejak tadi dadanya selalu bergemuruh akibat detakan jantungnya semakin cepat seolah-olah akan segera meledak. Dan sialnya semua itu di sebabkan oleh gadis di sampingnya yang masih menatapnya dengan kedua alis bertaut bingung.

Kyuhyun merasa bingung sekaligus takut dengan perasaannya. Ia ingin menyangkal segala pemikiran itu dari kepalanya, namun sayangnya tubuh dan hatinya justru beraksi sebaliknya. Semakin kuat ia berusaha untuk menyangkal, perasaan itu semakin tidak terkendali hingga ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berkata tidak. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, yang jelas saat ini ia sadar dengan pasti bahwa ia memang telah jatuh cinta kepada gadis ini. Secara tidak sadar. Dan gadis ini dengan segala pesonanya yang entah di sengaja atau tidak telah membuatnya kecolongan. Untuk yang pertama kali dalam hidupnya.

Young Ra kembali berdecak kesal, ia menatap jengkel pada Kyuhyun yang terlihat tidak berniat menjawab pertanyaannya dan justru larut dalam lamunannya sendiri.

“Ya Cho Kyuhyun! Sebenarnya apa tujuanmu membawaku kemari?”

Kedua tangannya bersedekap seraya menatap tajam Kyuhyun yang menoleh, menatapnya.

“Aku tidak bisa membantumu lagi.” ujar Kyuhyun, mengalihkan pandangannya. Lagi. Dahi Young Ra kembali berkerut bingung, apa maksud perkataan pria ini?

“Maksudmu?”

“Aku… menyukai gadis lain. Dan ku fikir aku hanya membuang-buang waktu secara percuma jika aku masih membantumu untuk memisahkan mereka, sementara aku tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.”

Young Ra mengepalkan kedua tangannya, sorot matanya semakin tajam saat mendengar jawaban Kyuhyun. Pria ini seenaknya saja memutuskan persekutuan mereka. Lalu siapa gadis yang di sukainya itu? Kenapa hatinya mendadak menjadi panas?

“Kenapa kau ingin berhenti?”

“Karena aku sudah tidak tertarik lagi pada Han Young Na.”

Ini yang kedua kali hatinya membuncah senang. Setelah selama ini semua orang menyukai Han Young Na, Kyuhyun justru mengatakan dia tidak tertarik lagi pada gadis itu.

“Lalu gadis yang kau sukai itu?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Baiklah. Tapi sebelum kau benar-benar berhenti, aku minta bantuanmu sekali lagi.”

“Apa?”

“Cari tahu di restaurant mana mereka akan makan malam malam ini, karena aku akan menggagalkannya.” Young Ra tersenyum miring.

Kyuhyun mencengkeram setir mobilnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Gadis ini masih belum menyerah untuk memisahkan Young Na dan Siwon.

“Lalu?”

“Lalu kau akan membuat Young Na sibuk hingga tidak bisa datang menemui Siwon dan aku akan menyamar sebagai Young Na.”

Shit! Terkutuklah mereka yang memiliki wajah yang sama. Gadis ini benar-benar tahu bagaimana caranya memanfaatkan kesamaan wajahnya dengan Young Na. Kyuhyun semakin mengeraskan rahangnya, giginya bergemeretuk karena marah. Apa yang sebenarnya di fikirkan gadis ini? Kenapa dia begitu ingin menghancurkan hubungan kakaknya sendiri dengan pria yang sangat mencintainya?

“Aku tahu perusahaanmu sedang menjalin kerja sama dengan Han Corp untuk proyek pembangunan hotel baru di pulau Jeju. Jadi jangan menyangkal, dan terserah cara seperti apa yang akan kau gunakan untuk membuat Young Na sibuk dan tidak bisa menghadiri acara makan malam itu.” ujar Young Ra, menatap Kyuhyun dengan seringaian yang membuat pria itu semakin erat mencengkeram setir mobilnya.

 

 

 

***

 

 

 

Young Na hampir menyelesaikan pekerjaan terakhirnya saat ia teringat harus memeriksa beberapa data yang akan di gunakan untuk rapat presentasi pembangunan hotel baru di pulau Jeju. Ia menekan tombol panggil di intercom yang berada di atas meja kemudian memanggil sekertaris Park untuk masuk ke ruangannya.

“Masuklah sebentar.”

Tak berapa lama kemudian pintu ruangannya terbuka dan menampilkan seorang gadis muda berusia sekitar 24 tahunan yang memiliki paras cantik dengan rambut hitam sebahunya yang tergerai. Gadis itu tersenyum manis, kemudian melangkah mendekati Young Na yang menyambut senyumnya.

“Ada yang kau butuhkan Direktur?”

Young Na bergumam, kemudian mengangguk. Ia meraih sebuah dokumen bersampul coklat kemudian menyerahkannya pada sekertaris Park.

“Ini, tolong carikan dokumen dengan sampul seperti ini di lemari penyimpanan.”

Sekertaris Park mengangguk, kemudian berbalik menuju sebuah rak berisi dokumen-dokumen penting yang berada di belakang sofa berwarna merah marun yang terdapat di ruangan ini.

Young Na kembali meneruskan pekerjaannya. Senyum manis terkembang di bibirnya setiap kali ia melirik fotonya dengan Choi Siwon dan juga rencana makan malam mereka. Rasanya ia sangat tidak sabar untuk menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah, berdandan secantik mungkin dan mengenakan gaun cantik yang di berikan pria itu tadi siang. Malam ini pasti akan menjadi malam terbaik di dalam hidupnya.

“Direktur.” panggil sekertaris Park dengan suara dan wajah yang tegang. Young Na menoleh menatapnya, kedua alisnya berkerut bingung dengan ekspresi yang di tunjukan sekertaris Park.

“Ya?”

“Dokumennya tidak ada.”

“Apa?!”

Young Na segera berdiri dan menghampiri sekertaris Park, menatap gadis itu sebentar lalu beralih ke lemari penyimpanan setinggi 2 meter di hadapannya.

“Bagaimana bisa tidak ada? Jelas-jelas aku menyimpannya di sini. Kau sudah mencarinya di setiap sekat?”

“Sudah Direktur, tapi dokumennya tidak ada.”

Young Na berjongkok, mulai mencari dari rak yang paling bawah, lalu di rak kedua dan rak ketiga. Ia mengerang ketika dokumen itu masih belum di temukan setelah mencari di rak paling atas. Ia mengulangi pencariannya, kali ini dari rak teratas dan kembali mengerang, keringat dingin mulai membasahi wajahnya, sebelah tangannya mengurut pangkal hidungnya.

“Kenapa dokumen itu hilang di saat seperti ini? Aku akan mempresentasikannya besok.”

Ia berdiri dengan tampang lesu, menundukkan kepala dan menutup separuh dahinya dengan sebelah tangan, mengibaskan tangannya yang lain, meminta sekertaris Park untuk meninggalkan ruangannya. Sekertaris Park membungkukkan badannya sedikit kemudian melangkah keluar ruangan. Gadis berwajah manis itu meraih ponselnya dari saku rok hitam selututnya setelah keluar dari ruangan Young Na kemudian mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada seseorang.

 

To : Cho Sajjangnim

Saya sudah mendapatkan dokumennya Presdir Cho.

 

 

 

***

 

 

 

Ia kembali mematut dirinya di depan cermin, memoleskan lipgloss berwarna pink pada bibirnya, rambut panjangnya yang semula berwarna coklat gelap berubah menjadi hitam dengan sedikit ikal di bagian ujungnya. Gaun berwarna peach membalut tubuhnya hingga selutut dan sepatu heels setinggi 7 centi berwarna putih semakin mempercantik kaki jenjangnya. Ia memutar tubuhnya sekali lagi. Tersenyum manis menatap pantulan wajahnya di cermin, namun senyum manis itu segera memudar di gantikan dengan senyum sinis sekaligus licik, ia meraih tas tangan yang sewarna dengan gaunnya kemudian melangkah keluar dari kamarnya.

Menuruni anak tangga dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin, melewati ruang keluarga di mana ibunya sedang duduk manis dengan secangkir teh melati di tangannya, wanita itu menatapnya dengan tatapan menyelidik yang segera berubah menjadi tatapan sinis dan ia berusaha untuk mengabaikan tatapan tersebut seperti yang selalu di lakukannya selama ini.

Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu jati. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan, tangannya menarik gagang pintu tersebut dan melangkah keluar dari rumah. Angin malam yang cukup dingin membuatnya bergidik, ia segera mengenakan mantel berwarna coklat susu yang di bawanya kemudian melanjutkan langkah, masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan sebelumnya.

Taksi tersebut berhenti di depan sebuah restaurant bergaya Perancis, Young Ra segera turun dan menatap bangunan tersebut dengan seringai sinis terkembang di bibirnya. Ia melangkahkan kaki dengan mantap memasuki restaurant dengan nama La Belle tersebut, mengangguk sekilas pada Pramugara yang berdiri di samping pintu masuk dan segera mencari sosok yang sedang menanti ke datangannya. Senyum manis mengembang di bibirnya saat matanya bertemu pandang dengan mata pria itu, ia melangkah dengan irama anggun menirukan cara melangkah gadis yang sedang ia perankan malam ini menghampiri meja yang berada di sudut ruangan.

Siwon bangkit dari duduknya, meraih tangan kanan Young Ra dan mengecupnya sekilas kemudian menarik sebuah kursi dan mempersilahkan gadis tersebut untuk duduk. Young Ra tersenyum muak melihat perlakuan yang diberikan Siwon kepadanya, seandainya pria itu tahu bahwa yang tengah duduk di hadapannya saat ini bukanlah Young Na, apa yang akan di lakukan pria itu?

Siwon memanggil seorang pelayan yang mengenakan kemeja putih dan rok hitam selutut sebagai seragam, pelayan tersebut mendekat di ikuti seorang pelayan lagi yang mendorong sebuah troli berisi makanan di belakangnya. Pelayan yang pertama mengambil sebuah piring dan meletakkannya ke atas meja di hadapan Young Ra kemudian membuka penutupnya. Young Ra menatap makanan yang terhidang di depannya dan meneguk saliva gugup, makanan tersebut menggunakan udang sebagai bahan dasarnya dan ia alergi terhadap udang. Ia menatap piring Siwon yang berisi Steak lalu tatapannya beralih pada dua gelas berkaki tinggi yang berisi Wine. Benar-benar celaka! Ia juga tidak bisa meminum Wine, dan jika di paksakan ia yakin pada gelas kedua ia pasti akan langsung mabuk. Pandangannya lalu beralih mengelilingi ruangan. Sial! Ia baru menyadari bahwa di restaurant ini tidak ada pengunjung lain selain mereka berdua.

Young Ra duduk dengan gelisah di kursinya, keringat dingin mulai bercucuran menuruni pelipisnya. Siwon yang menyadari kegelisahan Young Ra segera menangkup tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat, membuat Young Ra tersentak dan segera menarik tangannya dari genggaman Siwon, takut jika ketahuan tangannya berkeringat dan sedikit gemetar. Siwon mengernyit, menatap tangannya yang masih berada di atas meja.

“Young Na~ya ada apa? Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”

Young Ra menggeleng, ia berusaha tersenyum dan kembali menatap piringnya.

“Sungguh?” tanya Siwon lagi.

“Aku tidak apa-apa Oppa.” jawab Young Ra dengan suara yang di buat seperti suara Young Na semirip mungkin seraya mengangguk.

“Kalau begitu ayo makan. Aku sudah memesankan menu favoritmu.” ajak Siwon, mengambil pisau dan garpu lalu mengiris daging steaknya.

Sialan kau Han Young Na, bagaimana bisa makanan seperti ini menjadi makanan favoritmu?! batin Young Ra kesal, ia masih menatap makanannya tanpa berniat untuk memakannya dan hal itu lagi-lagi membuat Siwon mengernyitkan keningnya.

“Ada apa Young Na~ya? Kenapa kau belum memakannya?”

“Em… Oppa, bolehkah aku mengganti menu?” tanya Young Ra

Siwon merasa aneh dengan sikap gadis di hadapannya malam ini, kerutan di dahinya semakin jelas. Ia menatap makanan yang terhidang di piring Young Ra dan wajah gadis itu bergantian. Ada yang aneh dengan ‘Young Na’ malam ini, tidak biasanya gadis ini meminta untuk mengganti menunya padahal makanan itu adalah makanan favoritnya. Perasaan curiga mulai merayapi hatinya.

“Memangnya ada apa dengan menunya Young Na? Bukankah itu makanan favoritmu?”

Young Ra menggerakkan kedua bola matanya gelisah, kedua tangannya saling meremas di bawah meja yang semakin licin akibat keringat dingin yang tidak henti-hentinya menyusup keluar dari pori-pori kulitnya.

“A-aku sudah bosan, aku ingin mencoba menu yang lain.” jawab Young Ra dengan terbata. Siwon menatap wajah gadis itu, mengamatinya untuk waktu yang cukup lama. Ada yang lain dari wajah itu dan semakin menguatkan kecurigaannya. Namun Siwon berusaha untuk tidak terlalu memedulikannya dan lebih memilih untuk tersenyum dan mengangguk menyetujui permintaan gadis itu untuk mengganti menunya.

Ia memanggil kembali pelayan yang tadi menghidangkan makanan ke meja mereka dan segera meminta menu yang lain untuk Young Ra saat pelayang tersebut menghampirinya.

15 menit kemudian pelayan tadi kembali menghidangkan sepiring Steak dan segelas jus jeruk ke atas meja di hadapan Young Ra dan pamit undur diri. Siwon tersenyum seraya menunjuk makanan tersebut dengan garpunya dan kembali memakan Steaknya saat Young Ra juga mulai memakan Steaknya.

Siwon kembali menatap Young Ra, kali ini dengan pandangan menyelidik. Tiba-tiba ia menyadari ada yang berbeda dengan penampilan gadis itu malam ini, namun belum sempat ia membuka mulutnya untuk bertanya sesuatu pada Young Ra, ponsel di saku jasnya bergetar menandakan pesan masuk. Ia segera meraih benda tersebut dan membuka satu pesan yang masuk dan membacanya dengan cepat. Seketika itu kedua matanya terbelalak dan melirik gadis di hadapannya dengan sorot tidak terbaca. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, kemudian menatap Young Ra dengan tatapan marah dan kecewa tapi segera mengubahnya dengan tatapan lembut saat gadis itu mendongak menatapnya.

“Ada apa Oppa?” tanya Young Ra. Siwon menggeleng seraya tersenyum yang di buat semanis mungkin.

“Young, kenapa kau tidak mengenakan gaun yang aku berikan padamu tadi siang?”

Young Ra menatap Siwon dengan kedua alis yang menyatu bingung, ia menunduk memperhatikan penampilannya lalu meneguk saliva gugup.

Brengsek! Kenapa kau harus memberikan gaun untuk Young Na Oppa?! makinya dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya.

“I-itu, a-aku… ma-maaf Oppa… aku lupa meletakkan gaun itu di mana.” Sial! Kenapa aku harus segugup ini?

Siwon kembali tersenyum, lalu menggenggam sebelah tangan Young Ra yang masih terkepal erat, membuat gadis itu tersentak dan segera melonggarkan kepalannya.

“Gwaenchana. Nanti kau pasti mengingatnya dan mengenakannya untukku.”

Young Ra berusaha menarik sudut bibirnya, memaksakan untuk membalas senyuman pria itu.

 

 

 

***

 

 

 

Siwon menghentikan mobilnya di depan rumah keluarga Han, ia menatap rumah itu sekilas kemudian menatap Young Ra yang sedang merapihkan gaun dan mantelnya.

“Young.” panggilnya lirih, Young Ra menoleh menatap pria itu dengan pandangan bertanya.

“Terima kasih untuk malam ini.”

Young Ra tersenyum, mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus rahang pria itu kemudian mengangguk. Sementara Siwon melirik tajam tangan Young Ra dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menepis tangan gadis dari wajahnya.

“Sama-sama Oppa. Kalau begitu aku harus segera masuk, Appa dan Eomma pasti sudah menungguku.” ujar Young Ra, menurunkan tangannya lalu berbalik hendak membuka pintu mobil. Siwon mengeraskan rahangnya dan menatap gadis itu dengan tajam, kedua tangannya mencengkeram setir mobil kuat-kuat.

“Mau sampai kapan kau beracting seperti itu Han Young Ra?”

Sebelah tangannya yang hampir menyentuh kenop pintu terhenti dan tubuhnya tiba-tiba kaku, Young Ra menurunkan tangannya perlahan namun tidak berniat untuk berbalik menatap Siwon. Penyamarannya sudah di ketahui.

“Kau mungkin bisa menjadi artis yang hebat dengan actingmu itu dan memenangkan penghargaan tinggi. Atau kau ingin aku merekomendasikanmu pada beberapa produser yang aku kenal?”

Young Ra mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan sinis Siwon untuknya.

“Bagaimana bisa aku hampir tertipu dengan actingmu itu. Sampai kapan pun kau—“

“Jika kau sudah tahu aku bukan Han Young Na kenapa kau tetap bersikap seolah aku Han Young Na?!” sela Young Ra. Napasnya memburu menahan marah, menatap Siwon dengan tajam.

“Karena aku ingin tahu sampai mana kau akan terus beracting seperti itu.” jawab Siwon. Tatapannya yang semula penuh dengan kemarahan dan kekecewaan perlahan berubah menjadi sendu.

“Kau sudah menyalah artikan perhatian yang aku berikan padamu selama ini. Apakah perkataanku waktu itu masih belum jelas untukmu? Aku hanya menganggapmu sebagai adikku dan aku hanya mencintai Han Young Na. Hanya Young Na.”

Ya, ia masih mengingatnya. Young Ra masih ingat dengan sangat jelas saat Siwon mengajaknya bermain ke Lotte World dan apa yang di katakan pria itu kepadanya.

“Teruslah menjadi gadis yang ceria seperti ini chagiya~~~. Ingatlah, selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah, serumit apapun masalah itu. Dan aku yakin kau pasti bisa menyelesaikannya dengan baik, karena kau gadis yang kuat. Adikku tersayang…”

Kalimat itu selalu terngiang di kepalanya, dan karena kalimat itu lah yang membuatnya merasa sangat marah, sangat benci terhadap pria itu dan kakaknya hingga membuatnya membulatkan tekad untuk menghancurkan hubungan mereka bagaimana pun caranya.

“Aku mencintaimu Oppa. Apa yang salah dengan itu? Tidak bolehkah aku menginginkanmu menjadi milikku?” tanya Young Ra dengan nada menuntut. Siwon memejamkan matanya, mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Tidakkah kau berpikir bahwa hal itu akan menyakitinya?”

“Aku tidak peduli! Aku tidak peduli jika Young Na akan tersakiti ataupun terluka. Selama ini sudah cukup aku mengalah untuknya. Dia selalu mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan! Apa yang salah jika aku menginginkanmu?!” teriak Young Ra. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi, semua rasa sakit yang di terimanya, semua penderitaan yang di rasakannya selama ini. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya siap untuk meluncur turun namun sekuat mungkin Young Ra menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Siwon. Tanpa menunggu jawaban pria itu ia segera membuka pintu mobil di sampingnya dan keluar dengan membanting pintu tersebut kemudian berlari ke dalam rumah.

Siwon tak bergeming di tempatnya, ia menatap rumah keluarga Han dengan tatapan menyesal, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan kembali membuka pesan yang di kirim Young Na beberapa waktu yang lalu.

From : Young Na

Oppa mianhae. Aku tidak bisa datang malam ini, ada masalah di kantor dan aku harus menyelesaikannya malam ini juga. Maafkan aku ya… aku berjanji akan mengganti makan malam kita yang tertunda di lain waktu. Sekali lagi maafkan aku, dan beristirahatlah malam ini ^^

Saranghae ❤ ❤ ❤

“Maafkan aku Young Ra~ya.” lirih Siwon, kemudian menjalankan mobilnya menuju ke apartemennya.

 

 

TBC

 

 

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. arni07
    May 08, 2016 @ 13:51:23

    aduh young ra ketahuan deh,kenapa kyuhyun gak mengungkapkan rasa sukanya pada young ra aja??biar young ra nanti gak saalah paham,ditunggu kelanjutannya

    Reply

  2. lieyabunda
    May 09, 2016 @ 15:47:31

    ketahuan deh penyamaran young ra,,,, kyu juga kenapa gak jujur aza ama perasaan sendiri,,,,
    lanjut

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: