She Lays Down

 

once .

.

IJaggys

.

And then she rose above it all, by not allowing herself to swim in the past.

.

.

“Lee, aku meninggalkan bagel hangat dan secangkir kopi dari Starbucks untukmu. Akan ada beberapa petugas dari home-service yang akan mengambil barang-barangku siang nanti.”

Suara itu bergema lembut di telinganya, memecah keheningan di apartemen berukuran sedang yang di sewanya dari seorang pria lanjut usia—yang memutuskan untuk pindah ke nursing home sekitar tiga tahun yang lalu, saat Donghae tengah tenggelam dalam api cintanya bersama wanita yang kini tengah memasukan barang-barangnya ke dalam kardus besar, yang dia temukan di ruang penyimpanan.

Samar-samar dia bisa mendengar suara rintikan hujan yang menghujam awan pagi. Tidak ada cahaya matahari yang menyusup di balik celah gorden tebal, di dalam apartemen itu. Tidak ada sahutan merdu dari burung camar yang selalu mewarnai paginya.

Hanya ada dentum rintikan hujan dan bunyi gesekan benda yang berpindah di dalam ruangan itu.

Donghae akhirnya membalikan tubuhnya dari bantal sofa berwarna coklat yang sejak tadi menutupi wajahnya. Setelah melalui pergulatan yang cukup panjang dengan dirinya, dia akhirnya memutuskan untuk merendahkan sedikit ego-nya dan menatap wanita yang sejak tiga tahun lalu menjadi inspirasi terbesarnya untuk menciptakan lagu-lagu sampah.

Han Cheonsa yang berkata seperti itu.

Wanita itu bilang bahwa rap adalah genre sampah yang hanya di gemari oleh orang-orang ignorant yang tidak ber-edukasi. Jelas, dia ingin menghardik wanita itu karena telah menilai rendah seleranya dalam bermusik—tapi dia tidak pernah melakukanya, bahkan dia kerap menulis lirik lagunya dengan menumpahkan semua kekesalanya pada Cheonsa—kekasihnya yang datang dari Inggris dan menyukai musik Opera. 

Ingatkan dia, seberapa mengesalkanya nona besar yang satu itu.

“Aku harap kau tidak menulis lagu sampah lagi, Lee.” Saat mengatakanya, Cheonsa terlihat sangat senang—dia mengambil satu kaset kompilasi yang di buat Donghae untuknya, dan memasukanya ke dalam handbag-nya tanpa memperdulikan tatapan Donghae. Dia terlihat sangat senang mendapatkan kaset itu, untuk seukuran wanita yang menilai bahwa musiknya adalah sampah.

Atau mungkin wanita itu hanya ingin mengumpulkan kenangan tentang Donghae sebanyak mungkin yang bisa di bawa bersamanya.

“Aku tidak masalah jika kau tetap menjadikanku inspirasi terbesarmu—tapi ingat, tulis aku dengan baik dan berkelas.”

Mendengar semua itu, berhasil membuat Donghae menyunggingkan bibirnya dan membuat sebuah senyuman. Senyuman yang terlihat sejak pertama kali hubungan mereka berakhir. Kapan hubungan itu berakhir? Mungkin sekitar tiga bulan atau sepuluh minggu yang lalu.

Tidak ada sesuatu yang menakjubkan terjadi. Tidak ada gegap gempita perihal berakhirnya hubungan tiga tahun mereka, tidak ada satupun dari mereka yang memiliki orang ketiga—mereka hanya bertengkar.

Bertengkar yang sangat hebat, dan mungkin itu adalah hal yang cukup menyakitkan untuk Donghae.

Karena pertengkaran itu seharusnya tidak mengakhiri kisah mereka.

Han Cheonsa memutuskan bahwa mereka tidak bisa lagi bersama, mungkin secara halus Cheonsa menyalahkanya karena dia tidak pernah berusaha mempertahankan hubungan mereka.

Donghae adalah Donghae, dia pria dengan arogansi yang tinggi—dia akan melakukan apapun yang dia inginkan, dan dia tidak bisa merasa terkekang. Hal-hal yang dilakukan Cheonsa diluar keinginanya, akan membuatnya sangat marah. Tidak pernah sekalipun dia mengeluarkan kata maaf dalam hubungan mereka.

Lalu detik ini dia menyaksikan wanita yang dicintainya secara pasti meninggalkanya—dia tidak tahu apa yang lebih buruk dari semua ini, dan yang hanya bisa dia lakukan adalah duduk di sofa itu, mempertahankan ego-nya dan membiarkan Cheonsa keluar dari kehidupanya.

“Lee, kau tentu akan baik-baik saja, bukan?”

Cheonsa menyadari raut wajah Donghae yang berubah. Pria yang mengisi kehidupanya selama tiga tahun kebelakang. Jika dilihat, Donghae bukanlah pria yang berada di dalam kriterianya.

Donghae jauh dari semua itu, dia menyukai musik yang dibencinya—dia ignorant, memiliki ketertarikan untuk berselingkuh dibelakangnya karena dia sangat menyukai wanita, dengan wajah yang selalu mengingatkanya pada karakter ikan Nemo.

Tapi apa yang membuatnya menyukai pria itu?

Mungkin karena dia menyukai kesederhanaan di dalam pria itu.

Dia menyukai Donghae yang sederhana—pemikiranya yang ringan dan senyumanya yang menghangatkan. Dia menyukai semua kekurangan pria itu, dan menyaksikan pria itu duduk di atas sofa dengan wajahnya yang tenang—mungkin dia harus berkerja keras untuk menghapuskan bayangan Donghae di dalam hidupnya setelah ini.

“Aku baik-baik saja—aku tidak akan mati hanya karena berpisah darimu, aku bukan lagi remaja awal yang dilanda frustasi karena hubungan cintanya berakhir—terutama dengan wanita dominan sepertimu.”

Dia terdengar begitu sesumbar. Dia tidak akan pernah mungkin mengakui bahwa perpisahan ini membuatnya hampir mati, bagaimana disetiap tarikan nafasnya selalu dipenuhi oleh rasa penyesalan karena tidak pernah memperjuangkan apa yang sangat dia inginkan di dunia ini.

Dia sangat menginginkan Han Cheonsa—lantas mengapa dia tidak pernah memperjuangkanya?

Di dalam dirinya, dia hanyalah seorang pria pengecut yang tidak bisa melakukan apapun.

Cheonsa berjalan ke arah pintu setelah memastikan bahwa barang-barangnya telah tersusun rapih. Donghae berdiri dari duduknya, tidak berusaha mendekat—dia hanya menatap wajah Cheonsa untuk waktu yang sangat lama, ingatanya atas pertemuan pertama mereka kembali terulang.

Detik-detik berikutnya akan selalu berada di dalam memorinya.

“Hey—Aku tidak suka makan sendiri, jadi mengapa kau tidak menemaniku untuk yang terakhir kalinya?”

Donghae menunjuk ke arah bagel dan kopi yang di beli Cheonsa. Dia akhirnya mengucapkan permintaan pertamanya, dia bukanlah pria yang akan meminta sesuatu kepada seorang wanita. Meminta adalah hal yang lemah untuknya. Tapi dia membuang harga dirinya hari ini untuk Cheonsa—untuk mempertahankan apa yang sangat dia inginkan.

“Tentu saja, aku tidak ingin melihatmu mati karena putus cinta denganku. Bagaimana bisa aku menolakmu?”

Mungkin dari semua perpisahan ini, Cheonsa lah yang bersifat dewasa dan menekankan bahwa mereka masih bisa menjalin hubungan baik setelah ini. Sementara Donghae tidak menyukai hal itu, dia tidak akan pernah bisa berteman dengan seorang wanita yang telah mengetahui dirinya lebih dari siapapun—dia tidak akan pernah bisa berteman dengan Han Cheonsa tanpa memikirkan hubungan mereka yang telah berakhir.

“Aku menyukai seorang wanita.”

Cheonsa menaruh bagel-nya saat Donghae melontarkan kata-kata itu di udara.

“Oh, itu adalah hal yang bagus.”

Cheonsa tidak terlihat terkejut walau tersirat sedikit kekecewaan di dalam matanya.

“Aku menemukan seorang wanita dengan rambut berwarna coklat nilon, dan mata seindah samudra menatapku dengan tenang, di bawah hujan yang mengguyur deras tiga tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi, tapi ketika melihat mata samudra itu—Aku menyadari sesuatu, bahwa dia akan menjadi sosok yang sangat aku benci dan aku inginkan dalam waktu yang sama.”

“Aku sangat menginginkanya—dia membuatku gila. Gila dalam hal yang menjengkelkan, dia memaksaku untuk memakan sayuran, dia berkata bahwa selera musiku terdengar seperti sampah, dia akan sangat marah jika aku lupa membawa pesanan es krim vanillanya—dia akan sangat manja dan membuat kepalaku pecah dengan kelakuanya—tapi aku sangat menginginkanya hingga aku bisa membunuh diriku sendiri jika kehilanganya.”

Donghae mengakhiri kata-katanya dengan senyuman yang selalu berhasil membuat Cheonsa merasa tenang. Dia tidak pernah sekalipun berkata bahwa dia mencintai Cheonsa, atau bagaimana dia membutuhkan wanita itu. Mungkin ini adalah pertama kalinya dia membuang ego dan mengatakan hal itu kepada Cheonsa.

Tapi Cheonsa hanya terdiam, dia tidak lagi tersenyum ke arahnya atau memulai sebuah pembicaraan atas hubungan mereka, seperti yang selalu mereka lakukan setiap kali mereka bertengkar hebat.

“Apa kau pernah mencintaiku?” Cheonsa akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang selalu berada di dalam pikiranya, dia berjalan ke arah pintu keluar dan menyandarkan tubuhnya disana, menanti jawaban dari Donghae yang lebih tertarik dengan cangkir kopinya.

“Mungkin aku hanya menginginkanmu.”

Dia telah mengutarakan apa yang dia rasakan, dan menurutnya itu lebih dari cukup. Dia tidak bisa membuang seluruh ego-nya dan mengatakan seberapa besar dia mencintai wanita itu. Dia tidak pernah mau mengakui kekalahanya bahwa tanpa Han Cheonsa dia tidak bisa menjalani hidupnya seperti dulu.

Sekarang semua berada di tangan Cheonsa, dia tidak akan memaksa wanita itu untuk tetap bersamanya.

“Kau tidak pernah berubah Donghae. Kau tetap menjadi pria yang keras kepala dan arogan, aku pikir itu adalah hal yang membuatku menyukaimu.”

Donghae tertawa kecil, sekarang dia bisa membayangkan bagaimana kehidupanya akan berjalan tanpa wanita itu, dan mungkin semua perpisahan ini tidak seburuk yang dia kira—atau mungkin, belum.

“Jangan tidur terlalu malam, berhenti memakan junkfood,—dan berhentilah menulis lagu sampah, sekarang kau telah kehilangan inspirasimu, apa yang harus kau tulis nanti?”

Donghae tahu perpisahan ini akan kembali memburuk, ketika dia sudah tidak bisa melihat wanita itu lagi di dalam apartemenya. Sekarang yang dia lakukan hanyalah menatap wajah Cheonsa, dan menyimpanya di dalam memorinya sebanyak mungkin.

“Tentu saja aku akan mencari wanita baru yang merasa senang ketika aku menulis lagu sampah untuknya, dan wanita yang tidak akan memaksaku memakan sayuran hijau. Memiliki kekasih sepertimu, sungguh menjengkelkan.”

Ini adalah hal yang selalu mereka lakukan, bertengkar dan saling membalas gurauan sarkastik. Dia tidak pernah menyangka bahwa waktu itu akan datang, waktu dimana pertengkaran mereka dan gurauan sarkastik mereka akan berakhir.

“Lee,”

Suara Cheonsa memecah keheningan disana, Donghae mengalihkan pandanganya ke arah Cheonsa—menatap wajah itu lekat-lekat, sebelum dia mendengar suara itu mengalun lembut di telinganya.

“Aku sangat menyukai senyumanmu.”

Mungkin itu adalah kata-kata terindah yang pernah di ucapkan Han Cheonsa kepadanya. Mungkin itu adalah cara lain untuknya mengucapkan kata-kata perpisahan yang selalu di bencinya.

And then she rose above it all, by not allowing herself to swim in the past.

Dan setelah kata-kata itu terhenti, dia menyaksikan wanita itu melangkah keluar di iringi suara pintu yang tertutup—dia hanya berdiri terdiam disana, memandang ke arah jendela, menatap punggung kecil wanita itu di bawah derasnya hujan yang membasahi rambut coklat nilonya.

Donghae menyaksikan Han Cheonsa yang semakin menjauh dari pandanganya, hujan semakin menghujam dengan deras—kilasan memori atas pertemuan pertama dan perpisahan mereka akan selalu berada di dalam matanya.

Mungkin dia akan menyesali semua ini.

Menyesali keputusanya karena tidak berlari mengejar wanita yang sangat di cintainya, menyesali keputusanya mengapa dia mempertahankan ego-nya dan membiarkan Han Cheonsa berjalan keluar dari kehidupanya.

Dia masih menebak apa yang akan terjadi kepada dia dan Cheonsa detik ini, jika saja dia berlari dan mengejar Cheonsa di luar sana—jika saja dia berlari dan memeluk wanita itu.

Semua orang memiliki satu kesempatan di dalam hidup mereka yang tidak akan pernah bisa terulang, dan untuk Donghae—satu kesempatan di dalam hidupnya, adalah ketika dia memiliki Han Cheonsa dan bagaimana dia membuang kesempatan itu di luar sana.

Meskipun dia selalu berpikir bawa dia memiliki ribuan kesempatan di dalam hidupnya, tapi kini dia sadari, bahwa satu kesempatan di dalam hidupnya adalah detik ini—detik dimana dia kehilangan wanita yang di cintainya.

Dan kesempatan itu tidak akan pernah kembali lagi untuk selamanya..

.

.

 

-FIN-

 .

.

Day #5, honestly I’m kinda mixing the ficlet’s genre everyday. Today is angsty, tomorrow probably head to a fluff. Just want you feeling content lol. Comments are greatly appreciated!

xo

IJaggys

5 Comments (+add yours?)

  1. Entik
    May 10, 2016 @ 17:11:30

    Aku gk bisa utarain apa, yang jelas aku pikir mereka berpisah karna ego yang tinggi daan tidak ada yg mau mengalah.

    Reply

  2. sssaturnusss
    May 10, 2016 @ 19:07:40

    Sejauh mata membaca .. Cheonsa seperti sudah lelah dengan Donghae. Dan Donghae pun seperti, ngerasa mau mempertahankanpun sudah kepalang percuma .. Keduanya saling cinta. Tapi dengan ego masing masing, mungkin lebih baik mereka pisah dulu dah .. Sampai waktu mempertemukan tali perjodohan mereka kembali hahahaha karna yang aku rasakan, potensi untuk saling memiliki masih sangat besar kekekekekek bisa aja besok saling samper (?) Wkwkwk

    Reply

  3. ayumeilina
    May 12, 2016 @ 18:31:13

    FF Ijaggsy selalu enakkkkkk di baca 😆😆☺
    jadi pengen nabok Donghae 😈😈😈
    kaga ada cinta butuh perjuangan yeehh..

    Reply

  4. Laili
    May 20, 2016 @ 14:20:43

    Ugh… agak nyesek ya kali ni. Donghae dan Cheonsa sudah sama2 lelah sama hubungannya mereka. Sama2 ego tinggi.

    Reply

  5. ji
    May 26, 2016 @ 01:43:08

    ga nemuin ini diblognya sonia..
    tapi tumben disini haenya aneh..bukan yang cengeng dan yadong ke cheonsa..
    ahh donghaee

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: