The Loved Ones

 TTT

.

IJaggys

.

 I loved her, but God loved her more.

.

.

“Siapa yang rela menukar kehangatan musim semi dengan dinginnya salju?”

Itu adalah pertanyaan yang tidak pernah bisa aku jawab sebelumnya. Aku tidak pernah menyukai musim semi atau musim dingin, pertanyaan klise yang aku buat dan aku tidak menemukan jawabannya.

Nyatanya, aku tidak pernah menyukai musim apapun—orang berkata aku adalah pria tanpa emosi, mereka salah. Aku adalah pria yang memilih menghilangkan rasa itu dalam kehidupanku, setelah pertanyaan pertama melintas tanpa pernah memiliki kesempatan untuku menjawabnya.

Hyukjae, sahabatku—teman satu flat-ku yang baru, membawa dua kardus penuh berisi dekorasi pohon natal yang tidak pernah aku gunakan.

“Donghae, sebentar lagi ada petugas home-service yang akan membantumu membawa semua barang disini.” Suara Hyukjae terdengar samar di pendengaranku.

Mataku menatap lurus pohon natal yang menjulang tinggi disana, pohon natal yang tidak pernah aku selesaikan.

Hyukjae seakan menimbang haruskah dia membuka pembicaraan ini dengan topik yang akan membuatku terhentak atau memilih diam, dan berperan sebagai sahabat yang menghargai keputusanku.

“Kita bisa membawa pohon natal ini ke flat kita. Aku bisa membantumu mendekorasi pohon itu.” Hyukjae memilih untuk tidak membawa pembicaraan itu ke permukaan. Tapi hal itu membuatku merasa tergelitik.

“Kau tahu? Dia juga berkata seperti itu, dia menjanjikanku bahwa dia akan membantuku menyelesaikan dekorasi pohon natal ini.” Aku membayangkan wajahnya saat dia meyakinkanku untuk membeli pohon natal terbesar yang di lihatnya.

“Dia memaksaku untuk membeli pohon natal ini, dan menghabiskan seluruh uangku dengan puluhan dekorasi yang dipilihnya secara asal. Aku pikir dia benar-benar harus bertanggung jawab atas kekacauan ini.”

Aku mengambil satu kartu ucapan selamat natal yang kosong. Aku berada disana, ketika dia memilihi puluhan kartu natal untuk ditulisnya sendiri. Hyukjae tidak bersuara, aku tahu bagaimana Hyukjae menghormati semua keputusanku untuk bersamanya.

“Aku rasa Han Cheonsa memang gadis yang menarik.” Hyukjae menarik satu gelas dengan wajahku dan wajahnya, foto yang diambil disebuah tempat yang menjual kebahagiaan di dunia—Disneyland. Gadis itu lebih suka menyebutnya, tanah penuh harapan.

“Kau adalah orang pertama yang berani menyebut nama itu di depan wajahku, setelah sekian lama—tujuh minggu, mungkin?”

Hyukjae menerima ucapanku dengan tersenyum senang.

“Cheonsa meninggalkanmu, itu adalah hal yang bagus.” Dia memulainya dengan intonasi yang ringan. Kata-kata pertamanya tentang Cheonsa. Aku masih mengingat bagaimana Hyukjae berkata bahwa Cheonsa bukanlah gadis yang baik untuku, bahwa gadis sempurna seperti dia hanya bermain dengan perasaan setiap pria yang memujanya.

Hyukjae tidak terlalu menyukai Cheonsa, mungkin karena semenjak mengenal Cheonsa—aku menghabiskan seluruh waktuku bersama gadis berambut coklat nilon tersebut.

Hyukjae tidak pernah mengetahui apa yang terjadi diantara diriku dan Cheonsa, yang dia ketahui adalah Han Cheonsa meninggalkanku, dan aku memutuskan untuk pindah bersamanya.

Tidak ada satupun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Cheonsa meninggalkanmu begitu saja—sebenarnya apa yang membuatmu mencintainya begitu dalam?”

Bayangan atas Cheonsa tertawa di ruangan ini akan selamanya berada didalam memoriku. Aku memandang butiran salju yang gugur secara perlahan dari pintu balkon yang terbuka. Dia selalu menyukai musim dingin, dia selalu menyukai bagaimana butiran salju pertama, menyentuh kulitnya dengan lembut.

“Kau tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Setiap harinya kau terbangun, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi didalam hidupmu. Apa yang bisa hidupmu lakukan dalam setiap detiknya.”

Hyukjae membiarkanku menlajutkan apa yang ingin kukatakan. Alasan pertama yang akan di dengarnya mengapa aku begitu mencintai Han Cheonsa.

“Kau terbangun di setiap paginya, bertanya apa yang akan takdir berikan kepadamu. Bertanya apakah kau bisa mengulang semuanya kembali? Dan beribu ‘bagaimana jika’ berada di benakmu.”

“Tapi semua itu berubah saat kau bertemu denganya. Seseorang yang akan membuatmu terbangun setiap paginya dan berpikir bahwa kau bisa merubah segalanya—semua yang telah kau lakukan, kau bisa merubahnya kembali, dan ketika dia tersenyum—kau tahu bahwa dia telah menjadi bagian terdalam di hidupmu, bagian yang tidak akan pernah menghilang, hingga kau menghembuskan nafas terakhirmu di sebuah ranjang yang nyaman, dengan rambut yang telah memutih. Bagiku, Han Cheonsa adalah dia. Dia yang menjadi bagian terdalam di hidupku.”

Aku mengakhiri kata-kataku dengan sebuah senyuman, senyuman yang selalu aku tunjukan untuk Han Cheonsa. Hyukjae terdiam, sebelum dia mengucapkan satu pertanyaan yang selalu berada dalam diriku selama ini.

“Jika kau begitu mencintainya, mengapa kau tidak mengejar dan memperjuangkanya?”

Aku kembali tersenyum ke arah Hyukjae.

“Aku sangat mencintainya. Aku memperjuangkanya, mengejarnya hingga aku tidak memiliki kekuatan lagi. Tapi takdir tidak mengizinkanku—“

Untuk beberapa saat ruangan itu dipenuhi oleh keheningan, sebelum suaraku menggema lepas.

“Karena Tuhan jauh lebih mencintainya.”

Meninggalkan sebuah kebenaran yang memilukan disana.

***

EPILOG

 

“Siapa yang rela menukar kehangatan musim semi dengan dinginnya salju?”

Han Cheonsa tertawa mendengar pertanyaan Lee Donghae, pria yang ditemuinya disebuah rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Pria yang berteriak seperti anak kecil saat Dokter mengeluarkan jarum suntiknya, untuk meredakan rasa sakit dari tulang kakinya yang patah setelah mobilnya menabrak pembatas jalan.

“Itu adalah pertanyaan bodoh. Hanya kau yang rela menukar hangatnya musim semi, dengan dinginya salju.” Donghae menatap kekasihnya dengan skeptis, dia menyodorkan beberapa pil—yang di tolak Cheonsa dengan tegas.

“Aku akan tetap mati, tidak perduli berapa banyak obat yang kau berikan kepadaku.” Cheonsa menyukai gurauan sarkastik, gadis sempurna yang divonis penyakit mematikan satu tahun lalu—gadis sempurna yang menolak melakukan chemotherapy karena dia tidak ingin kehilangan rambut indahnya. Gadis sempurna yang merubah hidupnya, saat dia menemukan senyuman indah itu di lorong rumah sakit yang menyesakan.

“Kau akan tetap hidup. Aku tidak akan membiarkanmu menyerah begitu saja, kau masih memiliki janji untuk membantuku membereskan semua kekacauan ini.” Donghae menyentil kening Cheonsa dengan pelan, tanganya menunjuk pohon natal yang baru dibelinya—pohon natal yang mereka beli di musim semi.

Gadis itu tertawa, merasa senang karena telah membuat kekacauan ini.

Dia menatap punggung Donghae yang berjalan menjauh darinya, dia memandang pria itu dengan dalam—mengumpulkan memori sebanyak yang dia bisa, tentang pria yang telah menemani hari-hari terakhirnya.

“Donghae, kau tahu mengapa aku rela menukar hangatnya musim semi dengan dinginnya salju?”

Donghae menghentikan langkahnya. Kata-kata itu terhenti di udara, membiarkan keheningan kembali menyusup diantara mereka. Sebelum suara itu kembali mengalun dengan lembut disana.

“Mungkin karena aku tahu, bahwa aku tidak akan berada disini ketika dinginnya salju datang.”

Lee Donghae sangat mencintainya, 

tapi dia tahu bahwa Tuhan jauh lebih mencintai Han Cheonsa.

 .

.

.

-FIN-

.

.

.

 

Finaly, that’s a wrap! It’s Day #7. I kept you company for the last seven days with daily ficlet updates, hope you guys enjoying these precious seven days as I do. And for silent readers, in this last day of Ficlet—I hope some of you would show up on comment box. It’s not much, but would make me happy because I know someone’s out there still visiting this blog. xo

 

personal blog: https://beckhamlovesbadda.wordpress.com

 

xo

IJaggys

6 Comments (+add yours?)

  1. Yuki
    May 12, 2016 @ 16:46:28

    wah… awalnya agak bingung sama alasan kenapa cheonsa pergi ninggalin donghae… tapi pas baca sampe akhir… ternyata bikit hati berdesir sedih.. gadis itu udah nggak adaa t.t
    nice ff authornim!🙂

    Reply

  2. Angelina Park
    May 12, 2016 @ 19:47:19

    udah lama banget ga ke sini, cuma liat aja di tl tumben kakson muncul terus di sjff ternyata lagi ada project kkk. sangat menantikan para om kembali ke pelukan diri ini /lalu dibuang ke laut/ semangat kak pokoknya!

    Reply

  3. vey
    May 13, 2016 @ 06:47:53

    wow….kata katanya menyentuh banget..
    jd ikutan sedih liat abang ikan…hiksss..

    Reply

  4. andreakim
    May 13, 2016 @ 12:16:34

    ini demi apa aku baca ff begini siang siang…kemudian baper hm((‘

    thank you for making me feel so buaperrr authornim kkk😂

    Reply

  5. elskyu03
    May 13, 2016 @ 18:15:36

    Duh, kalimat terakhir itu bikin aku galau😥 Keren banget, kak! Ficlet yang ‘beneran’ ficlet, tapi gak ada kesan terburu-buru, suka banget pokoknya😀 Cuma ada beberapa kata yang gak sesuai EyD kak, selain itu mah udah ketjeh parah ><

    Reply

  6. Laili
    May 20, 2016 @ 09:55:45

    Wow.. Suka, suka… Donghae mencintainya, tetapi Tuhan lebih mencintainya. Tu yg nyesek bgt…. Ternyata Cheonsa sakit dan Donghae jdi dokter di sini?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: