Antarctica

tumblr_nn0f0eE6dv1qa11wdo1_1280

 

.

IJaggys

.

Are you trying to kill me—or you just plainly hate your husband?

.

.

Ketika kata pernikahan melintas di udara, beberapa orang akan mengeluarkan berbagai reaksi. Pernikahan membosankan, pernikahan membuat mereka kehilangan kebebasan, dan seribu alasan mengapa pernikahan menjadi momok menakutkan—walaupun sebenarnya pernikahan adalah hal yang menyenangkan, juga menjengkelkan.

Lee Donghae tidak akan bersikap naif bahwa pernikahan membuatnya kehilangan jam malam, dan waktu untuk menikmati kehidupannya sendiri. Apalagi jika dia memutuskan untuk menikah dengan wanita penuh komitmen yang dominan.

Tapi satu yang bisa dia pastikan, bahwa pernikahannya tidak pernah berjalan membosankan.

“Are you trying to kill me—or you just plainly hate your husband?” kata-kata itu terdengar berlebihan. Tentu saja. Lee Donghae suka hal yang berlebihan. Dia berdiri di ujung carport dengan tubuh menggigil, berharap bahwa istrinya mau berbaik hati memijamkan Chanel’s coat kepadanya.

Han Cheonsa disisi lain, terlihat begitu menikmati penderitaan Donghae. Dia terlihat begitu nyaman dibalik coat mahalnya, dan scarf Hermes yang melingkar melindungi leher jenjangnya. Satu tangannya menggenggam satu gelas karton dari Starbucks yang di dapatnya dari dalam Airport—tanpa memperdulikan fakta bahwa suaminya, hampir saja mati membeku saat angin utara berhembus menerpa kemeja Hamilton-nya yang tipis.

“Well, what else is new?” dia menjawab dengan tenang. Seakan menegaskan bahwa dia memang membenci Donghae. Cheonsa—istri tercintanya yang brengsek. Well, Donghae suka menyebut istrinya brengsek, karena memang Cheonsa jenis wanita yang seperti itu.

Cheonsa lebih perduli dengan empat suitcase Louis Vuitton-nya yang kini tengah dimasukan kedalam bagasi belakang Limousine yang mereka sewa, dari sebuah biro perjalanan yang telah dipesan Cheonsa secara online. 

Ketika Cheonsa tidak memberikan perhatian penuh kepadanya, membuat dia memutar otaknya dan memikirkan cara tercepat untuk mendapatkan kembali perhatian istrinya. Cheonsa masuk ke dalam limo, tanpa memperdulikan Donghae yang masih membeku diluar sana.

Saat mereka sudah berada didalam limo, dengan cepat Donghae menekan tombol privacy divider, sehingga sang supir yang nampaknya tidak bisa berbahasa internasional tidak mendengar pembicaraan mereka.

Dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk mendampatkan perhatian istrinya kembali.

“Honey, I’m cold.” dia bersuara rendah, dan satu tangannya menyusup rendah ke dalam coat Cheonsa. Dia memasang senyuman terindahnya, dan didalam kepalanya dia membuat sebuah hitungan—bahwa istrinya akan membalas pelukannya, lalu setelah itu dia tahu kemana semua ini akan berjalan.

Perapian, kilang wine, dan dirinya bersama Cheonsa di atas ranjang.

Sempurna.

Tapi semuanya berjalan diluar rencananya, dia melihat istrinya menaikan satu alisnya—tanda bahwa dia tidak akan membeli semua omong kosong yang akan dilontarkan Donghae. Dengan satu gerakan, Cheonsa mendorong Donghae menjauh dari tubuhnya.

“I told you to bring a jacket.” Cheonsa menendang kaki Donghae, agar suaminya itu menjauh dari botol wine yang tersedia disana.

Donghae menatap istrinya dengan tidak percaya, setelah semua rencana jahat yang telah istrinya lakukan dengan membuatnya  berpikir bahwa mereka akan pergi ke sebuah negara tropis—dan membuatnya percaya bahwa kemeja tipis dari Hamilton berserta celana khaki adalah pilihan yang tepat untuk liburan mereka kali ini. Lalu istrinya itu lebih memilih botol wine?

“Well, I didn’t know we were going to fricking Antarctica!” sahutnya dengan jengkel, membuat Han Cheonsa tertawa puas karena telah berhasil menipu Lee Donghae bahwa mereka akan berlibur ke negara tropis. Melihat Lee Donghae menderita adalah tujuan utamanya menikahi pria itu.

Tapi beberapa detik kemudian, Donghae bisa merasakan Cheonsa menggenggam tangganya dengan erat, dia mengecup wajah Donghae yang memerah karena menahan dinginnya angin laut dari Antarctica—.

I’m honestly lucky to have a best friend that knows me better than anybody else and has went through hell and back with me and is still here. And that’s best friend is my husband.” Bisik Cheonsa dengan senyuman indah, sebelum dia mencium bibir Donghae dengan lembut—dan meninggalkan Donghae bersama senyum kemenangannya.

Pernikahan memang tidak pernah berjalan membosankan untuk mereka.

.

-FIN-

.

.

Day #8

Additional bonus ficlet. Please leave some review or comment—seeing those high stats with lower comments, honestly I’m still trying to be nice in here with my dialy updates of stories. So—if you know that leaving ‘likes’ means nothing to me, it’s the comment that counts.

Personal Blog: https://beckhamlovesbadda.wordpress.com

xo

IJaggys

3 Comments (+add yours?)

  1. petriCHOr17
    May 13, 2016 @ 20:26:11

    Aaaahh…
    Udah lama bgt gak baca cerita couple ini*jrg piknik sih*

    Ficlet kamu bikin aku senyum2 bayangin kehidupan pernikahan mereka. Mereka cocok utk jd tmn hidup masing2.

    Keep writing, Ijaggys! :*

    Reply

  2. andreakim
    May 13, 2016 @ 20:39:05

    woaahh another great fanfiction of yourrss>.<

    i always wait for your ff bcs its really greaattt! this's only ficlet but ughhh its really cool👍🏻

    keep writing authornim! cant wait for ir next ff kkk~

    Reply

  3. ayumeilina
    May 19, 2016 @ 11:30:44

    tumben Cheonsa jinakkk 😆😆😆😆 #KaburSamaBeruang

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: