Rainbow in The Dark [4/?]

rainbow2

~ Hello World! ~

Lapangan Olahraga, Outdoor

Donghae tiba-tiba menarik lengan Taesa tanpa memperdulikan keterkejutan gadis itu, entah apa lagi yang akan dilakukannya.

“D-donghae-ya, apa yang akan kau lakukan? yah, lepaskan tanganku,” bisikan panik Yoon Taesa yang sedang berada dibelakangnya itu semakin menjadi.

Ya, ditengah pelajaran olahraga tadi Park songsaengnim mengadakan permainan berpasangan. Dimana salah satu dari pasangan itu harus melindungi pasangannya agar tidak terkena lemparan bola dari pasangan lawannya. Karena jika tidak, mereka akan langsung gugur.

Dan disinilah Yoon Taesa menjadi salah satu peserta-secara paksa-bersama Lee Donghae tentunya. Ya, siapa lagi namja yang berani menariknya hingga ke tengah lapangan selain Lee Donghae.

“Mau sampai kapan kau berdiam diri saat orang lain berolahraga? Kau tidak kasihan pada tulang-tulangmu hah?” bela Donghae sambil memaksa Taesa untuk menggenggam bajunya dari belakang agar memudahkannya untuk melindunginya nanti.

Dapat Taesa rasakan orang-orang disekitarnya tangah membicarakannya, entah apa yang dibicarakannya namun itu cukup membuatnya tertekan “Tapi Hae—“

“Baiklah! Kita mulai dalam hitungan ketiga!” seru Park songsaengnim membuat Taesa semakin panik.

“Donghae-ya! Jinja! Lepaskan!” Taesa mencoba melepaskan genggaman tangan Donghae dengan sekuat tenaga namun hasilnya nihil.

“3…”

“Kau tidak percaya padaku? Ani… kau tidak percaya pada dirimu sendiri?” tanya Donghae dengan suara rendah dan seketika itu sukses membuat Taesa membeku ditempatnya.

“2…”

“Halsuiseoh….,” ucap Donghae meyakinkan sambil melepaskan genggaman tangannya seakan memberikan pilihan pada gadis itu.

“1… PRIUITTT!”

Alih-alih berlari kepinggir lapangan, Taesa malah semakin mengeratkan genggamannya dibaju Donghae sambil memejamkan matanya yang memamg sudah gelap itu dengan pasrah.

Tanpa diketahui siapapun Donghae tersenyum senang dalam hatinya.

Praakk!! Hwing~ hap!! Hwing~ ttuk! Hwing~ tuk! BUGH!!

“Arrgh!”

“Pruitt!!”

“OUUUUHHH!” ringisan para penonton—yang taklain adalah teman sekelas mereka—yang seakan merasakan sakit terkena bola tersebut. Beberapa yang lainnya bersorak senang karena jagoannya berhasil menyingkirkan lawannya.

“Hyukjae – Hanna couple out! Sisa tiga pasangan lagi!” seru Park songsaengnim dengan semangat dari pinggir lapangan.

Hyukjae membantu Hanna untuk berdiri “Hanna-ya gwenchana?? Eo? Manhi appo?” tanyanya khawatir.

“Tentu saja sakit!“ Hanna memukul lengan Hyukjae kesal “Kau juga tidak apa-apa?”

“YAK! Kalian cepat keluar lapangan! Jangan malah bermain drama disana!” sontak seluruh penonton tertawa terbahak mendengar teriakkan Park songsaengnim. Hanna dan Hyukjae-pun segera keluar lapangan dengan wajah yang bersemu merah.

“Priuuiiitttt!” suara peluit Park songsaengnim menandakan permianan sudah kembali dimulai. Bola pun dilemparkan kedalam lapangan dan berhasil ditangkap oleh Sungmin – Seojin couple.

Praaakk! Hwing~ Hap! Hwing~ Bugh!!!

“AKH!!”

“Priuuitttt! Jungsoo – Heechul outt!!”

“Yaah! Bagaimana bisa kau tak menangkap bolanyaa?” murka Heechul pada partnernya, ya, dia adalah Park Jungsoo.

Jungsoo yang juga kesal ikut berteriak “Eish! Kau menarikku kekanan dan kekiri, bagaimana aku bisa fokus pada bolanya?!”

Merekapun saling bertatapan sengit.

“Saem! Bisakah beri satu kesempatan lagi untuk kami? Pasanganku sudah tua jadi penglihatannya agak terganggu.”

“YAK! KIM HEECHUL! Berhenti memanggilku tua!!!”

Dan terjadilah acara kejar-kejaran antara dua sahabat abnormal itu. Seketika itu suasana pun riuh akan tawa karena melihat aksi tersebut.

Permainan kembali dilanjutkan dan satu persatu beberapa pasangan-pun gugur hingga menyisakan dua pasangan yakni Sungmin-Seojin dan Donghae-Taesa.

Donghae tengah sibuk mengatur napasnya sebelum permainan kembali dilanjutkan “H.. hh..hh.. gwenchana?” Donghae membalikkan badannya menghadap Teasa untuk memasikan bahwa gadis itu baik-baik saja melalui kedua matanya sendiri yang mengamati tiap sisi gadis itu “Taesa-ya, mudah bukan?”

“Ne,” Taesa mengangguk semangat, tentu saja mudah baginya, karena sedari tadi ia hanya berdiri diam sambil terus mencengkram seragam olahraga Donghae, mempercayakan segalanya pada lelaki yang bergerak kekanan-kiri-depan-belakang untuk melindunginya selama permainan tadi.

“Jalhaeseoh…” Donghae mengacak rambut Taesa gemas, ya, itulah kegiatan favoritnya yang baru.

Park songsaengnim kembali meniup peluitnya ”Baiklah, baiklah…” Park songsaengnim menyipitkan kedua matanya melihat peserta yang tersisa “Oke!! Kita akan memasuki babak final! Donghae-Taesa… waaa~ Taesa-ya saem sangat terkejut melihat kau bisa bermain dengan waktu selama ini, teruslah berolahraga agar tubuhmu tidak kaku lg eo—“

“Saem! Cepat mulai pertandingannya!” seru Kim Heechul dari bangku penonton yang sontak membuat Park songsaengnim naik darah mendengar nada bicaranya.

“NEO JJA— ah… ” Park songsaengnim mengatur napasnya untuk menahan emosinya agar tidak menurunkan kewibawaannya didepan semua muridnya, mungkin ia akan menurunkan nilai Heechul saja tapi sepertinya siswa itu tak begitu peduli dengan nilainya, yah ia akan memikirkan cara untuk memberi siswa itu pelajaran nanti “Arraseo, kita mulai babak final ini jja… Donghae-Taesa melawan Sungmin-Seojin! Siii… JAK!!”

Praakk!! Hwing~ PUK! Hwing~ HAP!

Pertandingan tersebut terlihat semakin sengit melihat gesit dan lincahnya kedua pasang peserta itu. Kini bola berada ditangan Sungmin, ia mengatupkan kedua bibirnya penuh konsentrasi lalu dengan cepat melemparkannya ke arah Taesa.

Swing~!

Donghae yang tidak begitu siap menangkap bola itu, mendadak bergeser ke kanan dengan cepat dan berhasil menghindari bola tersebut. Namun, tepat saat itu tubuh Taesa ikut terbanting hampir menyentuh lantai jika saja Donghae tidak sigap menahannya dengan kedua tangannya.

Donghae menatap wajah dihadapannya dengan tegang, jantungnya berdetak tak karuan mengingat hanya tinggal sejengkal lagi dan gadis itu sudah berada dipelukannya.

Tak beda jauh dengan Yoon Taesa yang merasakan hembusan hawa panas diwajahnya yang disalurkan dari sentuhan Donghae. Ya tuhan…. dalam keadaan gelap sekalipun ia dapat merasakan sedekat apa mereka saat ini dan itu sukses membuat jantungnya seakan berdetak 1000 kali lebih cepat.

“Wuuuuuuuuuuu~!” seruan heboh sekaligus iri orang-orang di sana menyadarkan lamunan mereka. Donghae pun segera menarik tubuh Taesa untuk dapat berdiri. Keduannya kini malah menunduk malu

Park songsaengnim diam-diam tersenyum melihat kejadian itu namun ia segera mengatur mimik muka seriusnya “Aigoo~ Ehm! baiklah-baiklah, kita lanjutkan permainannya. Jja… sekarang bola ada di tangan Donghae dan… MULAI! PRIUITTT!”

Gerakan tangan Donghae yang hendak melempar bola tiba-tiba terhenti saat ia merasakan bajunya ditarik-tarik pelan.

Donghae-pun menolehkan kepalanya “Wae?”

“Hae… bolehkah aku yang melemparkan bolanya?” tanya Taesa dengan nada yang sedikit ragu.

Orang-orang disana menatap penasaran dengan apa yang dilakukan Donghae dan Taesa saat ini, karena mereka tidak dapat mendengar apapun yang dibicarakan kedua orang tersebut. Mereka hanya dapat terkejut saat Donghae mengangguk dan berkata sesuatu sambil menyerahakan bolanya pada Taesa dan menempatkan Taesa didepannya.

“Eo, seolma…” bisik beberapa orang tak percaya.

“Apa Yoon Taesa yang akan melempar bolanya??” tanya Shindong pada Heechul yang ada disampingya.

Heechul tersenyum puas “Eo, spertinya begitu. Ini kejadian langka keutci?” tanyanya sambil menyenggol bahu Jungsoo yang hanya dapat membelalakan matanya “Maldo andwe…” gumam Jungsoo tak percaya.

“Taesa-ya HWAITING!!” seru Heechul heboh yang kemudian diikuti yang lainnya.

“Kalahkan mereka Taesa-ya!”

“Kau pasti bisa!”

“Taesaranghaeyooo—akh! Appo!!” sungut Hyukjae yang beru saja mendapatkan serangan sepatu terbang dari teman-temannya yang sudah tidak tahan melihat sikap cheese-nya. Suara tawa pun meledak melihat ekspresi menderita Hyukjae saat ini.

“Apa yang terjadi?” Taesa bergumam penasaran.

Donghae yang mendengarnya segera membisikan Taesa apa yang sedang terjadi.

“Omo! Ahahaha kasihan sekali dia,” ujar Taesa tanpa bisa menahan tawanya. Ia senang akhirnya ia bisa tertawa bersama teman-temannya. Untuk sejenak melupakan segala keterbatasannya yang tanpa sadar membatasi setiap tingkahnya.

Mendengar segala macam dukungan dari teman-temannya melainkan bukan kekhawatiran yang selalu diterimanya, benar-benar membuatnya seakan bisa melakukan apa saja.

“TANTANGAN!” seru Taesa dengan lantang membuat teman-temannya kembali terkejut melihat perubahan drastis gadis itu belakangan ini.

Seakan tidak mempedulikan apapun, Taesa mengayunkan bola diatas kepalanya lalau men-shoot-nya lurus sekencang mungkin.

SWING~~~~ Bugh!

“OOOOOOOUUUWWWWWW!” ringisan orang-orang disana terdengar tepat setelah bola Taesa menghantam sesuatu, membuat Taesa kebingungan setengah mati. Ia terlihat sangat panik dengan suasana riuh di sekitarnya “Wae-waeyo?? Saem, apa bolaku salah sasaran??”

Namun, alih-alih memarahi Taesa, Park songsaengnim malah tertawa lepas “Hahahaha… anni Taesa-ya bolamu tepat sasaran!” Kemudian Park songsangnim dan semua murid lelaki lekas membantu Sungmin—yang tadi terkena lemparan bola—dengan menepuk-nepuk bokong Sungmin.

“Sungmin-ah gwenchana?” tanya Park songsaengnim dengan khawatir sedangkan Sungmin hanya dapat menjawabnya dengan menggeleng lemas, jelas sekali bahwa sedang menahan sakit. Sontak seluruh namja itupun meringis membayangkan apa yang Sungmin rasakan. Namun, saat Sungmin akhirnya dapat berdiri, tawa yang sedari tadi mereka tahan pun lepas begitu saja.

Ya, bola yang dilempar Taesa tadi tepat mengenai ‘junior’ Sungmin.

“Sungmin-ah gwenchana? mianhae,” ucap Taesa penuh kekhawatiran, karena sedari tadi ia sama sekali tidak mendengar suara Sungmin.

Dengan susah payah Sungmin-pun membuka mulutnya “Gwen-chana… Taesa-ya aku baik-baik saj—arg,h!”

“Hahahahahaha.” Lagi-lagi tawa membeludak disana, menciptakan atmosfir menyenangkan bagi semuanya termasuk Yoon Taesa sendiri. Donghae benar-benar berhasil membawanya ke dunia baru tanpa menyisakan rasa penyesalan sedikitpun.

Park songsaengnim kembali menup peluitnya “Baiklah, karena Sungmin-Seojin couple menyerah untuk kembali bertanding maka yang memenangkan pertandingan ini adalah… Donghae-Taesa couple!!”

“YEEAAAAHH!!” seruan senang seluruh teman – temannya dari berbagai sudut seakan menyadarkan Taesa dari keterkejutannya, dan senyuman pun langsung terlukis diwajah cantiknya.

“Lihat bukan? Kau bisa melakukannya,” ujar Donghae yang kini sudah ada dihadapan Taesa lagi setelah tadi membantu membawa Sungmin ke pinggir lapangan. Namun, seketika Donghae terkejut melihat wajah di hadapannya “Ya-yah! Uljima~” Donghae terlihat panik melihat buliran air mata di kedua pipi Taesa “Tae—“

“Aku bisa… Donghae-ya, aku bisa melakukannya.”

GREPP!

Taesa membulatkan matanya terkejut saat menyadari kini ia sepertinya sudah ada dalam pelukan seseorang, dan ia tahu wangi tubuh in adalah milik Lee Donghae.

Sebuah pelukan yang tidak terlalu erat dan terkesan nyaman itu membuat keduannya seakan tidak terganggu sama sekali oleh detak jantung yang menggebu satu sama lain di suasana yang mendadak sunyi tersebut.

“Mmm, tentu saja,” bisik Donghae pelan menyetujui pernyataan Taesa tadi, keduanya tersenyum bahagia.

Namun, hal itu tak berlangsung lama saat sebuah ide gila muncul dikepala Kim Heechul dan langsung meluncur manis dibibir pedasnya “GROUP HUGS!!” Heechul berlari menghampiri Donghae dan Taesa yang berada di tengah lapangan, hal itu sontak diikuti oleh seluruh teman-temannya yang lain.

Dalam hitungan detik Donghae dan Taesa kini sudah ada di tengah-tengah pelukan 36 orang yang taklain adalah teman sekelasnya sendiri.

Dapat Donghae rasakan tubuh Taesa yang seketika menegang karena dorongan mendadak dari teman-temannya.

“Yak!! Kalian semua menyingkir!!” seru Donghae kencang.

“Shireohhh~! Victory, vicory, victory KOREA!!”

Tanpa menyadari respon tubuh Taesa yang sudah sangat kaku dan terlihat sangat terkejut ini, mereka malah semakin merangkul satu sama lain sambil berputa-putar mengelilinginya. Takjarang tubuh Taesa maupun Donghae ikut terdorong. Sampai Donghae merasakan bajunya yang digenggam erat oleh Taesa.

‘Sial!’ Donghae mengumpat kesal dalam hati. Ia tidak bisa sekaligus mendorong ke-36 orang yang tidak peka ini. Ia pun sudah lelah meneriaki teman-temannya untuk menyingkir. Alhasil, ia kembali mengeratkan pelukannya pada Taesa dengan kedua lengannya di belakang punggung Taesa untuk menahan agar tidak ada satu kainpun milik orang lain menyentuh tubuh gadis ini. Ia hanya berharap bahwa usahanya itu akan membuat gadis dipelukannya ini lebih tenang.

Perlahan Donhae merasakan bahu Taesa yang lebih rileks dalam pelukannya ‘Apa yang dirasakannya?’ tanya Donghae dalam hati karena saat ini ia takbisa melihat wajah Taesa, karena ia tidak mau mengambil resiko yang lebih buruk jika ia mngendurkan pelukannya sedikit saja.

‘Apakah wajahnya memucat? Ketakutan? Atau malah sudah pinsan??’ oh tidak… Donghae tidak akan memaafkan siapapun termasuk dirinya jika itu terjadi.

“Hahaha….”

Suara tawa itu sangat jernih ditelinga Donghae, mengalihkan fokusnya dari suara bising teman-temannya yang masih asik bernyanyi itu. Perlahan dengan tanpa melepaskan pelukannya Donghae mencari wajah Taesa dan terkejut saat melihat ekspresi sumringah di sana.

Yoon Teasa-nya kini tersenyum senang, Yoon Taesa-nya baik-bik saja.

‘Dhaengida….’ Dongahe kembali mengeratkan pelukannya.

***

Jam pelajaran olahraga pun selesai dan dilanjutkan 30 menit istirahat. Hampir seluruh murid 12-C kini sudah menyerbu kantin seperti biasanya, meninggalkan Yoon Taesa yang pastinya menolak untuk ikut pergi ke kantin. Namun, sekarang ada Lee Donghae yang menemaninya.

Teasa merasa dia lah alasan Donghae menolak ajakan teman-temannya untuk ke kantin. Setelah berpikir sebentar, ia-pun akhirnya membuka suara “Donghae-ya, kalau kau ingin ke kantin tak apa kau ke kantin saja. Aku bis—”

“Donghae oppa!! Ayo ke kantin bersama!” seru tiga siswi—yang sepertinya hobae mereka— yang datang menghampiri mereka berdua, atau Donghae lebih tepatnya.

“Ah… Tidak usah, kalian duluan saja,” tolak Donghae dengan ramah walau ia tidak mengenal siapa yeoja-yeoja di hadapannya ini.

“Eiiyy, Oppa kau pasti kelelahan setelah olahraga bukan? Biar kami temani membeli minuman eoh?”

Taesa mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan para gadis tersebut, dan tanpa sadar ia merasa iri. Ia juga ingin mengatakan hal yang sama, mengajak Donghae pergi ke kantin, menanyakan apa ia haus atau juga lapar namun lagi-lagi semua harapan itu harus cepat-cepat ia hapus dari benaknya ‘Sadarlah Yoon Taesa!!’ Taesa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ayolah Oppa~”

Donghae terlihat kebingungan menanggapi permintaan yeoja-yeoja itu “Ani… gwenchana,” ucap Donghae sambil terus melirik Taesa yang berdiri canggung di sampingnya.

Sedangkan yeoja lainnya kini sudah menggandeng lengannya “Ayolah Oppa kaja jebal~ lagipula kau sedang tidak ada teman untuk ke kantin bukan?”

Taesa yang sadar akan posisinya yang tidak di inginkan itu perlahan melangkah pergi dari sana. Namun, belum genap dua langkah ia beranjak dari sana, ia merasa pergelangan tangannya telah lebih dulu dicekal oleh Donghae.

“Aku akan pergi ke kantin bersamanya, kaja Taesa-ya.” Tanpa menunggu persetujuan Taesa, dengan perlahan Donghae menarik lengan Taesa dan pergi meninggalkan ketiga siswi itu yang tampak mendumel kesal.

Setelah jauh beberapa langkah dari yeoja-yeoja tadi, akhirnya Taesa pun membuka suaranya “D-donghae-ya, aku tidak pergi ke kantin.”

Donghae menghentikan langkahnya yang membuat Taesa juga ikut berhenti. Donghae kembali tertohok mendengar kata ‘tidak’ di kalimat Taesa tadi yang berarti ‘sesuatu yang tidak pernah dilakukannya’. Suasana hening pun menyelimuti mereka berdua karena sibuk dengan pikiran masing-masing.

“A-ah… kebetulan sekali aku juga sedang malas ke kantin,” ucap Donghae kembali melanjutkan langkahnya berusaha menghalau kecanggungan diantara mereka.

“Ehm… jadi kita langsung ke kelas saja, kan?” tanya Donghae yang dijawab dengan anggukkan oleh Taesa yang terlihat masih berpikir keras.

“Arraseo kaja!”

“Donghae-ya cangkaman,”

Donghae menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Taesa “Ada apa?”

Taesa terlihat kebingungan sebelum akhirnya membuka suara “Ini… bisa kau berjalan dengan perlahan? Aku tidak bisa menghitung langkahku.”

Donghae mengerutkan dahinya bingung “Menghitung langkah? Apa maksudnya?”

“Ne, menghitung langkah kakiku menuju kelas kita agar tidak merepotkan siapapun, seperti ini,” jelasnya sambil mengangkat tangan kanannya yang masih digenggam Donghae.

“Oh, mian.” Dengan enggan Donghae melepaskan genggamannya lalu beralih menatap Taesa dengan pandangan yang seakan berkata bawa ia sekalipun tidak pernah merasa direpotkan, tapi itu sudah seperti reflek tubuhnya untuk melindungi gadis ini.

“Keurom… otteokke?”

Taesa dapat merasakan kekhawatiran di nada suara itu, ia merasa pipinya memanas seketika “Ehm… k-kau ini terlalu berlebihan, gwenchana. Saat ini kita sedang ada dimana?”

“Tepat di pintu masuk lapangan,” ucap Donghae setelah mengitarkan pandangannya kesekitar.

Taesa memejamkan matanya sambil meraba sisi kananya dan akhirnya menyentuh sesuatu yang ia yakini adalah kenop pintu masuk lapangan “Arraseo, aku hanya membutuhkan 25 langkah ke arah kanan lalu 15 langkah ke arah kiri.”

“Ne??”

“Kajja.”

Lagi-lagi Lee Donghae terpaku melihat Taesa yang mulai melangkah perlahan di depannya. Ia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu di koridor depan kelas mereka, ya, aksi nekatnya yang menyebabkan gadis itu terluka. Ia pun segera menyusul dan berjalan beriringan di samping gadis itu. Dalam hati ia mengagumi keberanian dari sosok disampingnya ini. Berkali tubuh mungilnya tersenggol oleh orang lain yang juga berlalu lalang namun bibir tipis itu tak berhenti berhitung seiring dengan langkah kakinya yang perlahan bergerak maju.

Donghae ikut memejamkan matanya sambil terus berjalan bersisian dengan Taesa. Namun belum sampai lima detik ia langsung membuka matanya terkejut sambil memandang wajah Taesa.

‘Bagaimana bisa ia menahan beban seperti ini?’ Donghae benar-benar takhabis pikir.

Donghae menatap punggung Taesa yang mulai menjauh dengan pandangan yang sulit di artikan.

‘Gwenchana Taesa-ya, mulai saat ini semua akan jadi lebih baik, pasti akan lebih jauh lebih baik.’

-TBC-

 

 

Thankyou for reading J visit my blog happynyonyo.wordpress.com

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: