Rainbow in The Dark [5/?]

rainbow2

~THE CHOICE~

12-c Classroom

“Cinggudeul! Ada pengumuman!” seru Park Jungsoo saat memasuki kelas. Seluruh isi kelas sontak menghentikn aktivitasnya masing-masing dan mengalihkan perhatian pada sang ketua kelas yang kini berdiri di podium kelas.

Jungsoo menarik napas panjang lalu berseru cepat “Shin songsangnim tidak masuk hari ini karena ada pelatihan—“

“YEEEEEEEEEEEEAAAA!”

Seperti yang diduga, kalimat Jungsoo yang belum sempurna itu langsung dipotong oleh sorakan gembira dari penghuni 12-c.

Dengan suasana yang gaduh, Jungsoo kembali berseru “Tapi kita harus tetap mengerjakan tugas di buku paket hal 45!”

“Baiklah~ tapi setelah aku ke kantin~”

Jungsoo menggelengkan kepalanya ketika melihat Shindong berlalu keluar kelas dengan semangat “Kerjakan di buku tulis—”

“Eoh yeboseyo Hongki-ya, ayo kita ke ruang musik, ne, Shin songsaengnim tidak masuk kelas.” Heechul segera beranjak dari duduknya dan dengan santai melenggang keluar kelas sambil bicara dengan ponselnya.

“Yak Kim Heechul! Jangan mengajak orang lain membolos!” tegur Jungsoo geram, sedangkan yang ditegur hanya menjulurkan lidahnya tanpa rasa bersalah.

“Aish… yang sudah selesai bisa dikumpulkan padaku.” Jungsoo-pun menutup pengumumannya yang tidak lagi menarik perhatian teman-temannya karena sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Di sisi lain Donghae terlihat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku namun gerakannya tiba-tiba terhenti seketika saat telinganya menangkap sebuah suara.

“Hha… kenapa mereka seperti itu, aku bahkan akan mempertaruhkan apa saja agar bisa mengerjakan tugas tertulis itu.”

Donghae pun bebalik dan mendapati Taesa yang sedang menggerutu dengan kedua pipi yang menggembung frusasi.

“Lalu bagaimana kau mendapatkan nilai sekolah jika bukan dari tugas tertulis seerti ini?” sahut Donghae penasaran.

Taesa yang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Donghae menjawab dengan semangat “Jadi di sekolah ini bukan hanya aku saja yang seperti ini, ada teman-teman lainnya sekitar 10 orang yang juga penderita tunanetra. Kami memiliki jadwal khusus setelah jam pelajaran selesai. Di saat ituah kami mendapatkan nilai dengan cara di tes secara lisan. “

“Wah… ddaebak, ternyata sekolah ini tidak seburuk itu.”

“Dangyeonhaji, memang bagaimana menurutmu tentang sekolah ini?”

“Nyaman sekali, ah… kecuali tingkah gadis gadis yang suka menjabak rambutku.” Donghae merinding membayangkan tingkah para yeoja dihari pertamanya masuk.

“Ahahaha mereka hanya terlalu menyukaimu.”

“Tetap saja aneh… ah molla, jadi kelas khusus itu kapan?”

“Jadwal kelas khusus itu dilaksanakan seminggu dua kali, hari selasa dan kamis.”

“Selasa? Berarti hari ini?” tanya Donghae yang dibalas anggukan mantap oleh Taesa.

Donghae memandang buku paket dihadapannya sambil tersenyum kalah, lalu berkata ”Baiklah aku akan mengerjakan tugas ini dengan semangat! Benar kan?”

“Ne, Lee Donghae fighting,” ucap Taesa sambil memasang headset dan kemudian tenggelam didunianya sendiri.

Donghae memandang sekali lagi wajah damai Taesa dan untuk kesekian kalinya ia bersyukur karena telah banyak mendapatkan pelajaran berharga dari gadis itu.

****

Suasana kelas sore itu sudah sepi, kini tinggalah Taesa dan Donghae yang tanpa sadar masih setia menunggunya.

“Jadi kapan kita akan pulang aggashi?” tanya Donghae berlagak seperti pengawal seoang putri.

“Eo? Kau masih disini? Aku kan hari ini ada jadwal kelas khusus, masa kau sudah lupa.”

Donghae diam sejenak untuk mencerna ucapan Taesa, lalu bertepuk tangan sekali saat mengingat percakapan tadi siang mengenai kelas khusus “Ah.. batta! Pukul berapa kelasnya dimulai?”

“Dari puku 5 hingga pukul 7, wae?”

“Mwo? Itu berarti setengah jam lagi. Ya! Kau bahkan belum makan siang, tunggu biar ku belikan beberapa makanan eo,” ucap Donghae seraya bergegas pergi.

“Hae!” panggil Taesa tepat saat Donghae hampir keluar kelas.

Donghae-pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Taesa “Wae? Jangan menolak! Aku sama sekali tidak merasa dibebani, dan—“

“Boleh aku memesan jus strawberry?” potong Taesa ragu-ragu membuat Donghae terkejut “Ne?!”

“Ah, tapi kalau tak bisa—“

“Tentu saja bisa! Cangkaman,” seru Donghae dengan semangat dan langsung bergegas menuju kantin.

****

Donghae segera melesat ke kantin dengan semangat. Ia berlari ke arah barat dan berpapasan dengan siswa yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya “Chogiyo, kantin h..h.. ada disebelah mana?”

“Kau lurus saja, lalu belok ke arah kanan nah diujung lorong itulah kantinnya,” jelas siswa tersebut sambil menunjukkan arah dengan kedua tangannya yang bebas.

“Arraseoyo, gomawoyo,” ucap Donghae sebelum melesat pergi kearah yang ditunjukan siswa tersebut.

Dari kejauhan terlihat sebuah ruangan dengan pintu kaca yang transparan sehingga memperlihatkan deretan bangku khas sebuah kantin. Donghae-pun bergegas masuk. Kantin terlihat tidak begitu ramai. Hanya butuh waktu sepuluh menit, Donghae telah mengantongi pesanannya dan bergegas kembali kekelasnya.

Saat berbelok ke arah kelasnya dari kejauhan ia melihat beberapa yeoja keluar dari sana. Donghae-pun segera mempercepat langkahnya. Ia menghela napas lega saat melihat Taesa masih disana dan terlihat baik-baik saja, namun air mukanya terlihat begitu tegang dan tangannya sibuk merapihkan baju dan rambutnya.

“Taesa-ya! Gwenchana??” Donghae menghampiri Taesa dan duduk dihadapannya. Seketika itu Taesa menjadi canggung “Oh Donghae-ya wasseo,”

“Neo gwenchana? Siapa mereka? Yang tadi masuk ke kelas ini ada apa?”

“Ah ne, anni mereka hanyalah temanku, eoh Donghae-ya tadi Jung songsaengnim mengatakan padaku kalau jadwal kelas khusus hari ini akan di majukan, jadi sebaiknya aku pergi sekarang eoh annyeong.” Taesa bergegas pergi namun tangannya—yang kini terasa dingin—telah lebih dulu dicekal oleh Donghae.

“Cangkaman,”

Keduanya terlihat memiliki pikiran tak mengenakkan entah karena apa hanya saja ada sesuatu yang tidak beres.

“Ini…” Donghae menyerahkan sekantung makanan yang tadi di belinya “Makan ini dulu saat kau sampai disana.”

“Arraseo, gomawo,” jawab Taesa dengan nada yang datar tanpa emosi sama sekali membuat Donghae terpaku ditempatnya dan hanya menatap punggung Taesa yang semakin menjauh dengan perasaan tidak tenang.

***

School administration

“Ne? Tidak ada perubahan jadwal?” Donghae kembali bertanya karena tidak percaya dengan apa yang tadi ia dengar.

“Ne, haksaeng, hari ini kelas khusus tetap dilaksanakan pada pukul 5 sore hingga 7 malam.”

Benar, kecurigaanya kali ini pasti benar, ada sesuatu yang tidak beres.

“Haksaeng, apa ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya seorang yang memakai namtag bertuliskan staff tersebut karena melihat Donghae yang tiba-tiba diam saja.

“Oh anio, kamsahamnida.” Donghae terlihat berpikir keras sekaligus frustasi dengan apa yang terjadi.

‘Ada apa sebenarnya Taesa-ya?’

***

Taesa’s Home

“Eomma, aku pulang!” seru Taesa seperti yang selalu dilakukannya saat membuka pintu rumahnya untuk masuk kedalam. Ia pun duduk di atas sofa kuning yang ada di ruang tamu setelah meraba-raba dan yakin bahwa sofa tersebut ada didepannya.

Tak berselang lama sang ibunda, Kim Misae, keluar dari dapurnya dan duduk kembali di balik mesin jahitnya seraya menyahut “Eo, waseo,”

“Bagaimana harimu di sekolah nak?” pertanyaan yang selalu terlontar setiap harinya seakan ada yang janggal apabila tidak dilakukan.

“Baik eomma…” dan jawaban yang selalu ia berikan—baik ada atau tidaknya masalah—agar membuat sang ibunda tenang.

Namun naluri seorang ibu tetaplah menjadai pemenangnya “Tapi wajahmu terlihat murung, berbeda sekali dengan kemarin. Apa kau yakin tidak ada apa apa?”

“Ehm.. tidak ada apa-apa eomma, nan gwenchana.” Taesa berjalan perlahan ke arah suara mesin jahit “Eomma, mengapa jam segini masih menjahit saja? Eomma sebaiknya istirahat, apa uang yang aku berikan masih kurang?”

Kim Misae mengalihkan pandangan pada anak semata wayngnya dan menatap mata polos tersebut yang membuat hatinya berdesir “Bukan begitu nak, bukan masalah uang, tentu saja baik jika kita menambah penghasilan, namun selain itu menjahit adalah hal yang sangat eomma sukai, neo arratji?” jawabnya penuh pengertian sambil menggenggam kedua tanangan Taesa yang kini berdiri disampingnya .

Kalau sudah begini Taesa hanya dapat mengangguk pasrah “Arraseo eomma, tapi jangan terlalu malam eo?” Taesa tersenyum sambil memeluk tubuh eommanya dari belakang. Walau dihadapann orang lain ia terlihat kaku, pendiam dan cenderung antisosial, sebenarnya ia hanyalah gadis 17 tahun yang memiliki segudang rasa dan ekspresi seperti yang lainnya. Hanya saja sesuatu menghalanginya untuk menunjukkanya sebagaimana yang dilakukang orang lain. Kecuali saat ia sedang bersama ibunya atau Lee Donghae yang entah mengapa dapat membuatnya nyaman dan menjdi diri sendiri.

Misae menepuk lengan kanan Taesa yang melingkar di pundaknya “Aigoo arraseo adeul~ cepat mandi sana.”

“Arraseo~”

Misae kembali melanjutkan aktivitas menjahitnya saat Taesa berjalan perlahan kearah kamarnya yang tentunya sudah ia hapal di luar kepala. Sejak awal Eommanya sengaja tidak pernah merubah posisi semua benda yang ada di rumahnya sehingga Taesa masih memiliki sedikit bayangan tentang rumahnya yang akan mempermudah banyak hal seperti mencapai kamarnya sendiri.

Indra penciuman Taesa seketika menghirup wangi lembut strawberry yang berasal dari pewangi kamarnya. Ia menekan saklar yang ada di dinding dekat pintu dan masih sama ‘tak ada perubahan’.

Dengan perlahan ia membaringkan tubuhnya di singlebed yang selalu terasa lebih empuk dari biasanya. Seraya dengan itu ia meraba sekitarnya dan seketika menemukan bantal berbulu halus kesukaannya yang kemudian dipeluknya.

Dari semua hal familiar yang seharusnya terasa nyaman, pikirannya justru bertolak belakang dan untuk kesekian kalinya kembali terlempar pada kejadian beberapa waktu lalu.

BRAKK!!

Yoon Taesa refleks menegakkan tubuhnya saat merasakan meja didepannya terhentak dan menimbulkan suara nyarinng tadi. Tak berlangsung lama terdengar seruan yang tak kalah memekakan telinga.

“Kau! Gadis buta! Berhenti menempel pada Donghae oppa!!”

Salah satu dari tiga yeoja yang datang menghampiri Taesa berseru kencang dan memasang tampang jijik terhadap Taesa. Untung ia tak dapat melihatnya, karena mendengar kata-kata itu saja sudah cukup mengiris hatinya.

‘siapa mereka?’ Taesa merasa seluruh sendi di tubuhnya menegang seketika.

“Kau…” yeoja lainnya yang berambut ikal mengangkat dagu Taesa dengan telunjuk kanannya seraya berdesis geram “Tidak pantas disandingkan dengan Donghae oppa-ku! Kau sadar tidak?!” Dagu Taesa di dorong kasar membuat tubuhnya mundur membentur senderan kursi yang ia duduki sekaligus membuat kesdarannya kembali namun ia tetap bungkam, ia bingung harus bagaimana. Ini pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa… terintimidasi. Yang sudah susah payah ia hindari karena tahu bagaimana sakitnya.

“Kami tahu kau itu hanya gadis buta yang antisosial,”

Taesa menahan napasnya saat mendengar kenyataan pahit itu dan hatinya serasa mencelos mendengar kalimat selanjutnya

“Namun kami tidak menyangka, saat ada pria setampan Donghe oppa kau menjadi gadis buta yang suka merayu! Heol! Benar-benar tak habis pikir.” Gadis terakhir ikut berseru dihadapan Taesa tak peduli bahwa gadis itu sudah cukup terguncang.

“Ha… Donghae oppa yang benar saja, setidaknya carilah yang lebih baik dari kami.”

Taesa terdiam bukan berarti menyetujuinya namun ia tak kuasa menahan sesak didadanya          , entah mengapa kini bukan hanya matanya yang tak berfungsi namun seluruh organnya kini terasa mati.

Gadis berpita oranye itu kembali menarik blazer yang digunakannya ikut tertarik menghantam meja dihadapnnya.

“Akh—“

“Dengar! Kau gadis buta—pendiam—antisosial—yang tidak tahu malu, mulai skarang berhenti dekat-dekat dengan Donghae oppaku arraseo!!”

Ketiga yeoja tersebut tersenyum puas  sambil bertukar pandang satu sama lain. Melihat gadis dihadapan mereka yang tak juga bergeming, merekapun dengan langkah ringan pergi meninggalkan Taesa yang sudah terlihat kacau.

Yoon Taesa mencengkram bantal beludru yang sedari tadi ia peluk, seakan dengan itu dapat menyalurkan rasa sakitnya.

‘Apa yang harus kulakukan?’ berkali-kali pertanyaan itu terlintas dibenaknya.

Apa ia harus menyerah? Sehingga kejadian seperti tadi siang tidak lagi terulang.

Atau haruskah ia kembali hidup dalam kesendiriannya? Sehingga tak ada yang terusik dengan keberadaannya. Kembali kedalam kehidupannya yang hening dan gelap. Tiba-tiba saja sesuatu dalam dirinya menjerit tak terima, ia terlalu senang dengan kehidupannya akhir-akhir ini. Bertemu Lee Donghae benar-benar suatu keajaibannya dalam kehidupannya. Hanya lelaki itu yang dapat membuka dirinya, mengukir senyum dan memberi warna dikehidupannya dan ya, ia bersedia melakukan apapun agar dapat mempertahankan semua itu. Ia tak peduli lagi jika harus melawan banyak orang agar tetap bersama Donghae. Seperti halnya Donghae yang telah melakukan banyak hal untuk dapat mencairkan sikapnya, ia pun harus melakukan apapun untuk mempertahankan posisinya.

Jika harus merubah kebiasaanya, ia akan melakukannya.

Jika dengan bersosialisasi seperti yang dilakukan orang lain dapat membuatnya terus bersamanya, ia akan mengusahakannya.

Ya, ia memutuskan akan keluar dari zona amannya untuk menjaga keajaibannya.

-TBC-

 

 

Thankyou for reading J visit my blog happynyonyo.wordpress.com

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. elf4sujublog
    May 16, 2016 @ 14:47:54

    Jika terus menghindari masalah gak akan mengurangi apalagi menghilangkan masalah, yang ada masalah justru bertambah kayak cucian yang sebulan gak dicuci. Kebayangkan banyaknya kek gimana????
    Lebih baik masalah itu dihadapi walau gak mudah tapi itu akan mengurangi masalah yang ada.

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: