That Day

sad

Author : Azizashi You

Cast : Cho Kyu-Hyun, Kim So-Eun

Genre : Romance, Hurt(?)

Leght : One-Shoot

Disclaimer : This story is mine and have posted in http://theskystale.wordpress.com/

 

Aku tidak tahu sesakit apa dikhianati

Tapi aku tahu setersiksa apa tak dihargai

Aku mengembangkan senyum lebar. Sebelum menutup pintu mobil dan membiarkannya menjauhi pandanganku, menembus gelapnya malam yang sebenarnya membuatku cemas. Tapi kuyakinkan diri bahwa tidak akan ada apa-apa yang terjadi. Padanya.

Setelah melambai singkat, aku kembali menurunkan tangan. Membuka langkah untuk masuk ke dalam rumah sederhanaku yang gelap gulita. Aku mengaduk tas tangan yang kubawa sampai menemukan kunci rumah, hinga tak butuh waktu lebih lama bagiku untuk bisa masuk ke dalam rumah yang sudah kutempati lebih dari dua tahun. Aku menekan sakelar lampu untuk menabah penerangan, sebelum mengganti sepatuku dengan sandal rumahan berbentuk es krim. Kemudian kuletakkan tas tanganku ke atas meja, sambil menghempaskan tubuhku ke sofa.

Aku memejamkan mata lagi. Yang kemudian hal itu malah membuatku merenung ke satu jam lalu. Ke tiga ribu enam ratus detik yang kulalui dengan perasaan luar biasa kacau.

Aku bahkan masih ingat makian Yu-Ra saat itu. Saat aku masih saja terdiam mematung seperti orang bodoh ketika di depanku ada badai yang siap menelan.

Kau seharusnya hampiri dia dan tarik tangannya! Apa kau buta sampai tidak bisa melihat berapa banyak wanita yang mengelilinginya sejak tadi?”

Aku masa bodo dengan hal itu. Meskipun sejujurnya aku cukup cemburu. Tapi aku juga tahu diri.

Aku meringsek di atas sofa. meraih bantal dan mencoba tertidur. Aku tidak peduli apakah besok tubuhku terasa remuk, yang pasti malam ini, aku akan tidur di ruang tamu. Daripada harus di atas ranjang yang sudah tersedia di kamar. Yang kulakukan nanti bukanlah tertidur, tapi meraung menangis.

Karena sekarang, air mataku sudah jatuh meleleh.

Bertahan di tengah topan itu sulit

Tapi menyerah begitu saja…

Kurasa tidak

Heol!”

Yu-Ra langsung meraih daguku dan memutar-mutarnya seperti barang aneh. Matanya menyipit. “Kau menangis semalaman lagi, ya?”

Aku hanya memberikan senyum simpul yang Rye-Wook bilang sangat manis. Lalu menurunkan tangannya dari daguku. “Tentu saja tidak. Kenapa aku harus menangis?”

“Lalu darimana datangnya ini?” serobot Yu-Ra sambil menunduk mataku. Yang sembab. Aku terdiam. Itu membuat Yu-Ra semakin mendengus. Ia meletakkan—nyeris melempar—lap yang tadi ia gunakan untuk membersihkan meja. Kemudian memandangku lekat. “Sudah kukatakan, Kim So-Eun. Jangan menangisinya lagi. Bukankah kau sudah berjanji padaku tidak akan menangis lagi?”

Aku baru membuka mulut, ingin protes sebelum Rye-Wook datang dan berdiri tepat di belakangku dengan pandangan menyelidik. “Kau menangis lagi?” todongnya cepat. Membuatku merasa seperti narapidana bersalah.

Aku menghembuskan napasku pelan-pelan. “Ya ampun. Kenapa kalian terus menunduhku menangis. Aku tidak menangis.”

“Dan itu pasti kebohongan.” Aku memandang Rye-Wook tak percaya. Apa dikeningku tertulis seperti itu?

“Kemari kau.” Pria berbadan kecil yang tingginya hanya berbeda sepuluh senti dariku itu menarikku seperti tawanan. Lantas mendudukkanku di salah satu kursi restoran di dekat kaca. Rye-Wook dan Yu-Ra langsung mengambil posisi di depanku. Untung hari masih jam enam pagi. Restoran belum buka, karena itu berarti hanya ada kami bertiga.

“Apa lagi yang dilakukannya padamu?” tanya Rye-Wook, mengancam.

“Tidak ada.”

“Dia kemarin berdansa dengan wanita lain.” Selak Yu-Ra, yang kontan membuatku melotot tak terima, dan Rye-Wook menganga tak percaya.

Yu-Ra mengangguk mengonfirmasi ketidakpercayaan Rye-Wook. “Kemarin, aku dan So-Eun menghadiri acara pernikahan teman sekolah kami. So-Eun memang datang bersamanya, tapi kau tahu apa yang dia lakukan saat acara dansa? Kupikir dia pasti akan mengajak So-Eun tapi dia malah berdansa dengan wanita lain. Yang berbeda-beda.”

“Yang berbeda-beda?” pekik Rye-Wook tertahan.

Yu-Ra mengangguk cepat. “Dia berganti pasangan dansa sesuka hati. Dan So-Eun bukanlah salah satu diantaranya.”

Kali ini Rye-Wook beralih memandangku. “Kemana otak pria itu?”

“Rye-Wook bukan seperti itu…”

“Aku sudah bilang pada So-Eun untuk menariknya dari gerombolan wanita genit yang ada di sana. Tapi So-Eun selalu mengelak dan mengatakan dia tidak apa-apa. Tapi kenyataannya pagi ini kau muncul dengan mata sembab.”

Aku sudah tidak bisa lagi mengatakan pembelaan apapun. Karena aku yakin, Rye-Wook pasti akan lebih percaya perkataan Yu-Ra. Daripada pembelaanku.

“Sebenarnya hubungan kalian itu seperti apa sih?” ujar Rye-Wook sewot.

Aku menunduk. Memandang tautan tanganku yang ada di atas pangkuan. “Tunangan.”

“Tunangan apa?” sahut Rye-Wook lagi. “Siapa yang menganggap kalian tunangan, huh?!”

Aku semakin menunduk. Tidak tahu harus menjawab apa karena tiba-tiba tenggorokanku terasa tercekat. Siapa yang menganggapnya tunangan? Aku juga tidak tahu.

Kudengar Rye-Wook menghela napas, dan sesuatu yang hangat menyentuh bahuku.

“Dengar, Kim So-Eun.” aku mendongak. Memandang Rye-Wook tepat dimatanya. “Aku tidak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama denganmu atau tidak. Apakah dia menganggap kau tunangannya atau bukan. Tapi ini kelewatan, sekarang dia bukan hanya mengabaikanmu tapi berani bermain dengan yang lain.”

“Dia tidak bermain dengan yang lain,” cicitku takut-takut. “Dia hanya berdansa dengan wanita lain, dan itu bukan suatu kesalahan.”

Rye-Wook memejamkan mata sejenak. “Sekarang memang bukan. Tapi nanti? Bagaimana kalau dia nekat melakukan yang lebih dari ini? Sekarang dia hanya berdansa, lalu bagaimana kalau besok ia jalan berdua, berciuman, tidur seranjang, lalu menjalin hubungan dengan orang lain di belakangmu? Kau masih bisa bilang itu bukan kesalahan?”

Aku yang memang bodoh, hanya bisa menyunggingkan seulas senyum paksa. “Sampai hari itu tiba, aku masih sanggup bertahan untuknya.”

“Lalu jika hari itu tiba?”

Kulebarkan lagi senyumku. Aku tahu, ada rasa cemas dibalik tatapan Rye-Wook. “Jika aku harus melepaskannya. Maka akan kulepaskan.”

“Yah, cepatlah lepaskan dia, Kim So-Eun.”

Aku dan Rye-Wook menoleh pada Yu-Ra. Lalu mengikuti arah pandang sahabatku itu. Detik berikutnya, aku tahu ada yang salah dengan pelupuk mataku.

Lalu aku kembali mendengar Yu-Ra yang bergumam. “Karena kau hanya akan menyakiti dirimu saja.”

Kalau setelah hujan selalu ada pelangi

Apakah

Setelah kumenangis, juga akan ada pelangi?

Aku tidak tahu, ada hubungan apa diantara mereka. Tapi mereka cukup dekat. Setidaknya itu yang kulihat selama kami—bertiga—ada dalam perjalanan menuju kampusku.

“Kau yakin tidak akan peduli dengan dananya? Itu cukup besar.” Kalau aku tidak salah ingat, wanita yang sekarang duduk di kursi penumpang belakang itu adalah Shin Hye-Rin. Yang sekarang sedang berbincang ringan dengan orang di sebelahku yang memegang kemudi mobil. Sukses membuatku merasa sama seperti mainan gantung yang ada di bawah spion depan mobil. Pajangan.

“Tidak juga, aku ini kaya. Jadi jangan khawatirkan masalah uang.”

Lalu mereka berdua tertawa. Aku juga tertawa. Menertawai diriku.

Karena daripada ikut larut dalam pembicaraan mereka, aku lebih memilih untuk memandang keluar jendela. Melihat sambil menghitung berapa banyak gedung-gedung tinggi yang sudah kami lewati. Atau mencoba menebak mobil merk apa yang sedang melintas di depan kami. Kurasa itu lebih menarik.

“Sudah sampai.”

Aku tersadar dari lamananku. Entah pada hitungan yang keberapa di dalam hati, aku baru sadar bahwa mobil sudah berhenti melaju. Aku sontak menoleh ke samping dan menemukan wajahnya yang menatapku datar.

“Sudah sampai.” Ujarnya lagi. Yang sepertinya bermaksud lain untuk membuatku cepat-cepat turun dari mobil.

Aku mengerjap bodoh. Melirik spion yang ada di depan dan menemukan Hye-Rin juga memandangku. Aku menunduk. Membenarkan letak tasku lalu menarik kunci dalam mobil, membuka pintunya sampai terbuka lalu memijakkan kaki di tanah.

Hari ini pengecualian. Setelah menutup pintu mobil, aku tidak memberikan senyum simpul dan lambaian tangan seperti biasa. Aku hanya menunduk singkat sebagai ucapan terima kasih lalu berbalik. Mengambil langkah cepat menuju kelasku—untuk menangis di sana.

Sambil berjalan, aku tahu ini bodoh. Tapi aku berbalik sejenak. Mobilnya masih terparkir di sana. Aku lantas berlari. Mengetuk kaca mobilnya hingga terbuka setengah. Aku memandang wajahnya sendu.

“Kau tahu, kan, aku mencintaimu?”

Dia terdiam. Aku menghela napas.

“Aku mencintaimu, Cho Kyu-Hyun.”

Lalu aku berbalik lagi. Kali ini benar-benar berlari menjauhinya.

Janji itu hutang dan hutang itu harus dibayar

Tapi kalau kau tidak pernah berjanji

Aku harus apa?

Malam ini aku sendirian. Tidak lagi menumpang di mobilnya untuk kembali ke rumah seperti malam-malam sebelumnya. Aku lebih memilih baik bus, turun di halte, lalu berjalan menuju restoran tempat Rye-Wook dan Yu-Ra bekerja. Kupilih untuk berada di sana beberapa jam sebelum pulang ke rumah.

Ada satu pesan masuk darinya, yang baru kubaca beberapa menit lalu. Hanya satu kalimat. Ia bertanya aku dimana. Tapi aku tak menjawabnya.

Aku bukan dalam masa merajuk, seperti gadis remaja yang marah pada pacarnya karena diabaikan. Tahap hubunganku tidak lagi sedangkal itu, lagipula, hatiku sudah kebal kalau hanya sebatas diabaikan. Tapi aku sedang berpikir. Mengoreksi apa yang sedang kujalani dan terlanjur kujalani. Merenungkan apa saja yang sudah terjadi… sejauh ini.

Sambil melewati trotoar jalan yang semakin dingin. Aku menghitung langkahku seperti menghitung domba sebelum tidur. Satuan, belasan, sampai puluhan, langkahku belum juga sampai di tujuannya.

Hingga ponselku berdering singkat. Ada satu pesan singkat lagi yang masuk darinya. Aku tersenyum tipis. Ini pertama kalinya ia mengirim pesan lebih dari satu kali dalam semalam.

Aku membuka pesannya. Lagi, dia bertanya aku dimana. Dan untuk kedua kalinya aku tidak ingin menjawabnya. Aku masih ingin, berpikir.

Kalau kuhitung mundur. Hari ini adalah hari keseratus kami. Hari dimana kami sepakat untuk berada di jenjang serius sebelum pernikahan.

Aku menghela napas berat. Ya, sepakat.

Aku baru sadar itu. Aku dan dia sama-sama sepakat untuk mencoba peruntungan. Mencocokkan diri dalam pertunangan, yang kami sepakati juga, bisa kandas kapan saja jika suatu saat kami merasa tidak cocok. Aku dan dia tidak mau membuang-buang waktu. Aku tidak mau umurku habis hanya untuk hal-hal tidak berguna, sementara dia tidak peduli dengan apapun selama ia mendapatkan apa yang dia mau.

Menurutku, aku dan dia akan menjalani masa kebersamaan kami dengan sepenuh hati. Membiarkannya mengalir begitu saja, membiarkan kebebasan satu sama lain hingga keputusan yang pasti itu datang. Dan keputusanku, aku mencintainya.

Tapi menurutnya, aku dan dia akan menjalani masa dimana kami bersama dalam keadaan yang memang menharuskan kami untuk bersama. Pesta. Kencan. Bertamu pada keluarganya atau keluargaku. Lalu dia akan membuat keputusan dari sudut pandangnya sendiri. Dan kurasa, keputusannya bertolak belakang denganku.

Aku sering sekali mengumbar kata cinta untuknya, tapi sepatah kata pun sepertinya sulit sekali untuk ia ucapkan padaku.

Aku sering tersenyum menyambut dan melepas kepergiannya, tapi dia selalu memasang wajah itu-itu saja setiap berada di dekatku.

Aku selalu memberitahu semua orang bahwa kami tunangan, tapi dia seolah bersikap seperti pria lajang yang bebas.

Kami… berbeda. Dan aku baru menyadarinya.

Apakah karena selama ini harapanku terlalu besar? Sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi sesungguhnya?

Terkadang kita harus bangun dari mimpi

Dan menghadapi kenyataan yang sebenarnya

Ada apa dengannya? Biasanya dia tidak pernah mengabaikan pesanku. Satu kali pun. Aku menginjak pedal gas mobilku pelan-pelan sambil mencari sosoknya yang mungkin masih berjalan di trotoar jalanan.

Aku menghela napas. Ini malam hari, dia bisa kedinginan.

Tiba-tiba aku melihatnya. Sedang berjalan sendirian di trotoar jalan, menunduk memandang jalanan. Aku tersenyum tipis. Dia seperti anak hilang saja.

Aku langsung menghentikan laju mobilku, memarkirkannya di depan pelataran toko terdekat. Aku turun dari mobil dengan senyum tertahan setengah mati. Dengan tangan menggenggam sesuatu yang kusembunyikan di balik saku mantel. Aku mulai membuka langkah menghampirinya.

“Hei,”

Dia berhenti, terkejut, sejurus kemudian langsung berbalik dan memandangku tak percaya. “K-kyu-Hyun.”

Aku hanya memandangnya seperti biasa. Agak mengerutkan dahi setelah menemukan semu kemerahan di hidung dan pipinya. Dia pasti kedinginan.

Diam-diam aku menghela napas. “Sendirian?”

Dia mengangguk, masih terkejut. Aku hanya memandangnya sejenak lalu mengambil langkah mendahuluinya. Hingga aku mendengar langkahnya yang kecil-kecil menyusulku. Kami berjalan berdampingan, di trotoar jalan samping pertokoan dengan lampu-lampu malam. Kurang satu hal. Memegang tangannya.

“Kenapa tiba-tiba ada di sini?”

Aku terdiam beberapa detik sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku tadi melihatmu.”

“Kau mencariku?” tanyanya cepat. Berbinar. Tapi aku tidak menoleh padanya. “Tidak.” Kataku pelan.

“Kyu-Hyun ah.” Aku merasakan tangannya bergerak melingkari lenganku. “Kau ingat ini hari apa?”

Yang kulakukan adalah memutar otak, menemukan moment apa yang terjadi dihari ini. Sayangnya tidak ada yang bisa kuingat. “Apa?”

Sekali, hatiku terasa masam menemukan wajahnya yang tercenung. Mulutku memang.

Tiba-tiba ia tersenyum lebar, aku tahu itu paksaan. “Hari… kasih sayang.”

Aku tidak harus menjawabnya dengan sesuatu, kan? Semua orang juga tahu, aku juga tahu, setelah dia beritahu barusan.

“Lalu?”

“Mm…” dia memandang langit sejenak. “Kau punya permintaan?”

“Aku bukan anak kecil.” Dia tersenyum simpul menahan tawa. Aku suka senyumnya.

“Memang bukan. Ini hanya… penawaranku saja. Karena ini hari spesial untuk semua orang. Jadi kau boleh meminta apapun dariku.”

Aku terdiam, menoleh padanya. Dia juga memandangku, terlihat sedikit sendu dan menahan sesuatu. “Karena… aku spesial untukmu, kan? Jadi kau boleh meminta sesuatu dariku.”

Bodohnya, aku tidak bisa menjawab apa-apa. Yang bisa kurasakan hanya detak jantungku yang tidak tahu harus ditenangkan dengan cara apa. Juga mataku yang tidak bisa lepas dari wajahnya.

“Tapi,” dia berhenti sejenak. “Aku juga punya permintaan.”

Terkutuklah mulutku karena benda itu bergerak tidak tahu diri dengan desisan mencemooh. “Apa? Cokelat? Bunga? Hal menjijikkan itu seperti orang kebanyakan?”

Dia tersentak, mengerjap beberapa kali sebelum menggeleng. Dia kembali memandang langit. “Kau dulu.”

Aku tahu, ada yang aneh dengan suaranya. “Kau saja.”

Dia kembali menggeleng menolak. “Kau. Katakan saja apa permintaanmu, maka akan kupenuhi. Hmm?”

“Aku tidak punya permintaan apa-apa.”

Tiba-tiba dia berhenti berjalan. Kemudian memandangku dengan caranya yang berbeda. Untuk beberapa alasan. Aku merasa was-was.

“Kenapa tidak punya permintaan?”

“Karena aku memang tidak ingin meminta apapun padamu.”

“Memangnya kenapa?”

“Memangnya kau siapa sampai aku harus meminta-minta padamu?” sialan. Ingin rasanya aku merobek lidahku yang kelewatan.

Dia terdiam cukup lama sambil memandangiku. Membuatku tidak tahan sendiri hingga akhirnya memutuskan untuk berjalan kembali. Setahuku, baru empat langkah aku berjalan, tapi sekujur tubuhku langsung membeku. Kaku di tempat.

“Aku orang yang kaukenal, Cho Kyu-Hyun.”

Aku masih belum berbalik tapi aku mendengar suaranya lagi. Lebih parau. “Oh, ya, permintaanku.”

Tanpa alasan aku langsung berbalik memandangnya. Ada sejunput rasa tidak nyaman yang langsung menyerang dadaku.

“Bahagialah,”

Dia bilang… apa?

“Bahagialah, Cho Kyu-Hyun.” dan aku melihatnya menangis. “Meskipun itu bukan denganku.”

Kemudian dia berbalik. Mengambil langkah pelan-pelan menjauhiku. Aku masih berdiri di tempat. Mematung seperti orang tolol dan tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak tahu dimana letak akan sehatku, tapi aku melihatnya berbalik, setelah kusadari aku baru saja meneriakinya jalang. Demi Tuhan.

Aku menderap padanya seperti orang kesetanan. “Katakan sekali lagi.” Geramku tertahan.

Aku sudah melihat wajahnya yang basah dan matanya yang memerah. Dia menangis sambil memandangku. Ya Tuhan, sudah berapa kali aku membuatnya menangis karena kelakuan bejatku?

Dia menarik napas pelan-pelan. “Bahagialah, meski bukan denganku. Kita selesaikan semuanya di sini.”

Aku merasa ada yang mendidih di sekujur tubuhku. “Kau bilang kau mencintaiku.”

“Lalu?” jeritnya marah. Memandangku dengan kilatan matanya yang terlihat murka dan sedih. “Apa artinya jika hanya aku yang mencintaimu? Apa artinya Cho Kyu-Hyun?!” Dia lalu memukul-mukul dadaku membabi buta. “Apa artinya cintaku padamu kalau menganggapku saja kau tidak pernah!!”

Detik berikutnya, aku meraih tangannya. Menahannya di dadaku membuat ia berhenti berontak, kemudian mendongak menatapku. Aku balas memandangnya. “Itu artinya kau memang hanya boleh mencintaku.”

“Egois.” Desisnya, kembali mencoba menepis tangannya dalam genggamanku, tapi tenaganya tak seberapa. “Kau manusia egois dan jahat yang pernah kukenal. Kau tidak pernah memikirkan perasaanku. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri.”

Aku mencengkram tangannya kuat dengan satu tangan. Lalu meraih rahangnya dengan satu tangan yang lain. Ia langsung terdiam. “Kutunjukkan, apa yang paling egois yang pernah kulakukan.”

Bermimpi memang lebih mudah

Tapi siapa yang tahu kalau kenyataan juga bisa seindah mimpi?

Aku menekan bibirnya dalam-dalam. Menyesapnya seperti kopi kesukaanku lalu melumatnya. Mencumbuinya dengan gerakan tidak sopan tapi aku tidak peduli. Aku kembali membuka mulut untuk meraih bibirnya penuh-penuh. Lebih menunduk agar bisa menjangkau bibirnya. Aku menurunkan tangan merangkul pinggangnya. Membiarkan jemariku melekuk hangat di sana. Lalu menariknya lebih dekat.

Dia yang mungkin sudah sadar dengan apa yang sedang kulakukan langsung mencoba melepaskan diri. Dia sesekali menggeleng mencoba melepaskan ciumanku, tapi aku semakin menekannya. Aku tidak mungkin melepaskannya semudah itu.

Hingga didetik terakhir ketika kurasakan bobot tubuhnya melemas. Aku melepaskan bibirku dari atas bibirnya yang basah dan manis. Mengecupnya dua kali sebelum menjauhkan wajahku darinya. Tetapi aku tidak melepaskan kontak apapun selain itu.

“Dengar, Kim So-Eun.” dia mendongak memandangiku lurus-lurus. Sama seperti apa yang kulakukan. “Aku tidak pernah berniat menjadikan siapapun berharga untukku.” Lalu aku menarik napas diam-diam. “Tapi malam ini.”

“Izinkan aku menjadikanmu satu-satunya makhluk Tuhan yang tidak bisa dimiliki orang lain. Kecuali diriku.”

Dia mengerjap, terkejut atau tidak percaya. Aku tetap melanjutkan. “Berikan kesempatan, untuk kelahiran anak-anak kita kelak.”

“Kau… melamarku?” suaranya tercekat. Aku menaikkan satu bibirku. Mengangkat kedua tanganku untuk merengkuh pinggangnya dan menciumnya lagi. Untuk beberapa detik, dia menolak.

“Cho Kyu-Hyun kau… serius?”

Aku tidak menjawab dan hanya mendekatkan wajah hendak menciumnya. Tapi lagi-lagi dia mengelak.

“Apa?”

Dia menggeleng dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak percaya… kau… bagaimana bisa—“

“Tentu saja bisa. Kita Tunangan.”

Dia terperanjat. Dan hanya mengerjap bodoh. Aku tahu, dia hanya berpikir terlalu luas. Aku menghela napas. “Maaf, kalau sikapku membuatmu salah paham.”

Dia terdiam untuk beberapa detik. Lalu tersenyum lebar, begitu manis dan menyejukkan mata. Tiba-tiba ia merentangkan tangan dan memelukku. Menyembunyikan wajahnya didadaku.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk lamarannya.” Aku merasa senyumnya semakin lebar di dadaku. “Dan maaf karena sudah salah paham.”

Aku terkekeh pelan. Menarik kepalanya dari dadaku dengan kedua tangan. “Sekarang berikan bibirmu.”

Matanya membulat tak percaya. Tapi aku hanya tahu untuk menciumnya lagi.

Kesempurnaan memang hanya milik sang Maha

Tapi semua orang, tetap berhak bahagia, kan?

 -THE END-

 

 

 

11 Comments (+add yours?)

  1. Hwang Risma
    May 17, 2016 @ 19:55:13

    Uuu happy ending 😘

    Reply

  2. mayank
    May 17, 2016 @ 20:41:37

    Ga ada penjelasan yah thor kenapa kyuhun selalu bersikap dingin pada sso eun?? Thor bikin SPnya donk 😁✌

    Reply

  3. Jung Haerin
    May 18, 2016 @ 00:22:24

    Iyeess, keren….
    Cowo macam kyu itu emang harus disentil dulu baru peka ya, hahahaha…..

    Reply

  4. siti
    May 18, 2016 @ 07:07:41

    bingung mana partnya soeun mana partnya kyuhyun. ceritanya udah bagus tapi mungkin penulisannya aja yg dirapihin lagi biar makin keren karya2 selanjutnya. semangat ya thor

    Reply

  5. ayumeilina
    May 18, 2016 @ 19:27:47

    kata2nya indah banget… 😍
    sukaaaaa….

    Reply

  6. Cici Kyuhyunnie
    May 18, 2016 @ 20:49:50

    Untung aja happy ending klau ngk hmmm ku hajar kau cho kyuhyun hehe ,,cerita nya bagus thor tapi kurang penjelasan knapa kyuhyun sikap nya kyak gitu ke so eun….

    Reply

  7. uchie vitria
    May 20, 2016 @ 09:48:00

    masih belum percaya sich ama kyuhyun
    serius enggak serius enggak jadi masih menganggap so eun bodoh aja karna percaya ama kyuhyun
    sekarang dia bilang serius tapi sikapnya nonsense

    Reply

  8. esakodok
    May 20, 2016 @ 21:47:55

    ternyata pria ini tidak bisa berkata atau bersikap wajar kepada pasangannya. pria dingin dan kaku…tp kadang juga bisa manis juga

    Reply

  9. Monika sbr
    May 24, 2016 @ 17:58:57

    Ahhh…. Sempat kesal sama sikap dinginnya kyuhyun. Tapi syukur deh berakhir dgn bahagia, akhirnya kyuhyun melamar so eun

    Reply

  10. sarivanny
    May 30, 2016 @ 01:35:53

    ini sih nunggupeka gapeka kekekeke akhirnya selesai semua happy ending

    Reply

  11. kylajenny
    Aug 09, 2017 @ 21:10:45

    Bgs ceritanyaaaa
    Tp ga dijelasin kenapa kyu nya dingin gt ke so eun sedangkan ke cewek2 lain nggak

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: