Sand And Foam

large

Nama : L

Judul : Sand And Foam

Tag: Cho Kyuhyun// Lee Seung Mi

Genre : Hurt, Sad, Romance

Rate: Teen

Length : FICLET

Disclaimer : I own nothing but the plot and the story. Lee Seungmi belong to Kenzeira and Cho Kyuhyun belong to himself

It’s already post on my personal blog http://stardustonneverland.com

Enjoy!

 

***

 

 

I AM FOREVER walking upon these shores,

Betwixt the sand and the foam,

The high tide will erase my foot-prints,

And the wind will blow away the foam.

But the sea and the shore will remain Forever…

 

-Kahlil Gibran-

 

***

 

Kutatap dia dengan gelenyar menyesak yang sama,

kutatap dia dengan buncahan cinta yang tak pernah padam,

kutatap dia dengan sejuta kata yang diam.

 

“I am the infinite sea, and all worlds are but grains of sand upon my shore.”

 

Dia mengutip sebait kalimat dari buku ‘Sand and Foam’ karya Kahlil Gibran.Dengan senyumnya yang mungkin mengandung berjuta-juta galon madu, dia menoleh padaku. Membagi selipan riang di antara lara yang menggelayut. Dusta pada diri, yang tak berdosa.

 

Kubalas senyumnya dengan nakal, “Jadi aku hanya butir pasir bagimu?”

 

Melambai indah surai keemasannya selagi kepalanya menggeleng.

 

“Kau adalah surya yang oranye bagi si laut.Akan selalu seperti itu.”

 

Aku tertawa. Rengkuhan manjanya di lenganku yang mungkin akan kurindu.

 

“Kau lapar?Aku bawa beberapa roti isi.”

 

Kutarik tangannya agar dia keluar dari air.Wajahnya berubah merajuk.

 

“Kita sudah berjam-jam berdiri di sini.Kakiku sudah keriput.Lihat.”

Aku mengangkat kakiku dan memperlihatkan padanya yang akhirnya berjalan meninggalkanku dengan bibir maju beberapa senti.Dia mengenyakkan diri pada selembar selimut bergaris merah yang terhampar di atas putihnya pasir pantai.

 

“Tak ada Wine?”

 

Dia menengok ke dalam keranjang yang tadi kubawa saat menyusulnya yang lenyap dari ruangannya di pagi buta.

 

“Itu illegal untukmu.”

 

“Kau bukan dokternya.”

 

“Dokter yang melarangku langsung.”

 

“Memangnya kau asisten dokter?”

 

Ekspresinya selalu lucu saat sedang marah.Karena itu aku senang menggodanya.

 

“Bukan asisten dokter, tapi pacarmu.”

 

Aku menahan tawa begitu dia mencibirku.

 

“Pacar dan dokter sama menyebalkannya.Aku tidak mau berteman dengan kalian lagi.”

 

“Eiihh, kau bilang aku si surya bagi si laut.Bukannya surya selalu berteman dengan laut?”

 

Dia mendelik semakin kesal.Segera kuraih dia dalam pelukanku.

 

“Kau harus sembuh untuk bisa minum Wine lagi.”

 

Kanker hati sialan!

 

“Dan kau harus bangun dari mimpimu.”

 

Tak ada nada dan emosi dalam suaranya.Namun bisa kurasakan tubuhnya menguat.

Aku memejam mata.Membaui wangi strawberry dan vanilla yang menguar darinya.

 

“Jika di dalam mimpi aku bisa terus memelukmu, aku menolak untuk bangun.”

 

Tawanya tidak lucu sama sekali menanggapi ucapanku. Sesaat, tak ada yang bersuara. Hanya debur ombak dan sepoinya angin yang mengisi.

 

“Aku ingin pergi dalam rengkuhmu, Cho.”

 

“Nanti, saat kita tua.Saat tak ada lagi warna keemasan di rambutmu.Saat keriput memenuhi wajahmu yang pasti tetap cantik.Saat anak kita telah mendewasa.Kau boleh tidur nyenyak dalam pelukku.”

 

Aku tidak bisa menyembunyikan suaraku yang bergetar.Dan dia jelas mendengarnya.

Dia kemudian berbalik.Menghadapku, bersila.Menatapku dengan sepasang netranya yang kupuja.

 

“Kau benar-benar harus bangun.Jangan memimpikan hal mitos lagi.”

 

Dia memajukan wajahnya dan mengecup di dahiku.Senyumnya terpeta dan hal itu mengundang ribuan rasa sakit di dadaku.

 

“Selamanya kususuri pesisiran ini, antara pasir dan bebuih, air pasang akan menghapus jejakku dan bebuih hilang dibawa bayu. Tapi laut dan pantai ini akan kekal Abadi.”Dia menjeda, tangannya menangkup pipiku.“Seperti Cho Kyuhyun di hatiku.”

 

“Kata-katamu mengerikan.”

 

“Kau mengejek Kahlil Gibran?”

 

Dia kembali berputar.Masuk dalam pelukku.

 

“Aku ngantuk, Cho.”

 

Aku menegang mendengar lirihannya tapi sedetik kemudian tubuhku terserang tremor.Aku berusaha memeluknya erat ditengah deraan rasa sakit yang menghantamku.

 

“Jika kau tidur nanti, aku tinggal menciummu untuk membangunkanmu kan?”

 

“Hmm…”

 

“Jangan menjawabku seperti itu, Lee Seungmi.”

 

“Lalu harus kujawab apa?”

 

Bisikannya pelan menembus runguku.

 

“Katakan kau akan bangun.”

 

“Jika kematian memberiku kompensasi,” kepalanya bersandar di dadaku.“ aku pasti akan bangun.”

 

Setelah itu aku tersadar, bahwa kata-katanya tak akan pernah bermakna.

 

 

Fin.

 

8 Comments (+add yours?)

  1. uchie vitria
    May 22, 2016 @ 19:42:07

    akhirnya lee seun mi pergi kan

    Reply

  2. Laili
    May 24, 2016 @ 14:45:54

    Agak nggantung endingnya tpi suka… suka diksinya. Sederhana tpi dalem maknanya. Good job. Nice story…

    Reply

  3. Oyis Cho
    May 29, 2016 @ 22:10:50

    Seung Mi mati ‘kan? Ya ‘kan? ‘kan? *ehh malah ngotot saya :’v

    Beuh.. Good Job (y) & Fighting^^

    Reply

  4. sssaturnusss
    Jun 01, 2016 @ 02:45:20

    Kereennn .. Bahasanya sederhana tapi makna nya dalem bgt .. yang begini ini emg feel nya suka selalu ngena T_T dan ini ngenes bgt huhuhuhu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: