Lee Donghae dan Lee Hyukjae

EUNHAeeeeee

Lee Donghae dan Lee Hyukjae

 

Maaf karena telah membikin kamu menjadi orang yang seperti aku….

*****

            Saat aku berjalan dalam remah-remah penghidupanku yang entah berujung dimana, aku terhenyak ketika mendapatiku berpegang pada seorang yang tak mau kubuat pegangan, bukannya aku nggak mau tetapi aku gak bisa membikin diriku jauh lebih percaya lagi.

“ mengapa?” suatu ketika Donghae bertanya padaku.

“ Enggak apa-apa, kita cukup bekerja bersama saja…. jangan mudah percaya pada orang sepertiku Donghae….” kataku kala itu.

Kami debut bersama dengan grup Super Junior, kemudian menjadi duo dengan nama D & E, kami dekat seperti saudara, tetapi aku tidak mengharapkan hal itu.

“ bekerja sama itu harus dibangun dengan rasa percaya, saat kita pertama kali bertemu aku nggak pernah menyangka kamu orang yang seperti ini!”

“ memangnya aku orang seperti apa? Donghae, aku gak bisa meminta maaf soal semua ini…”

“ aku telah menganggapmu seperti saudara, sahabat terdekatku, tetapi hari ini kamu menolak bersahabat denganku….”

“ partner kerja sudah cukup untukku… kamu pernah dengar bahwa orang yang berada di sisimu saat ini belum tentu ada di masa depan bersamamu, aku gak mau terus mengingatmu ketika kamu gak ada di masa depanku….”

“ jika memang begitu Eunhyuk, jangan kenang aku, sekarang berteman saja denganku, percayai aku sebagai sahabatmu….”

“ aku tidak bisa…..”

Ini mungkin pembicaraanku dengan Donghae yang kesekian, ia selalu ingin masuk ke hidupku, bersahabat dan membuat ikatan kepercayaan denganku karena ia merasa kami sudah seperti saudara.

Ya, memang benar, dari awal kami memang dekat. Walaupun aku terlihat pecicilan dan santai tentang hidup tapi, waktu itu Donghae langsung mengetahui bahwa aku adalah orang yang sensitif, mungkin karena itu kami menjadi dekat.

Donghae selalu ada saat aku sendiri memikirkan hidupku yang banyak masalah, kemudian Donghae juga akan menceritakan masalahnya yang ternyata juga seberat masalahku.

Aku pernah bilang, ia boleh menangis di depanku jika ia mau. Namun, aku sadar itu salah, aku tidak bisa membuat hal-hal yang semacam itu. jujur saja aku gak tau persahabatan seperti apa yang kubuat bersama Donghae, ini jauh lebih dari sekedar persahabatan tetapi, juga bukan kisah percintaan. Ini mengenai pertemanan yang katanya sehidup semati, bullshitlah.

Kiranya sekarang hampir 9 tahun aku selalu menari dan bernyanyi bersamanya, di panggung yang sama, tersenyum dan saling merangkul bahu. Tetapi, aku enggan menangis bersamanya. Pernah aku menangis di atas panggung, jauh dari member yang lain, aku menangis di hadapan ELF tetapi tiba-tiba Donghae datang dan mengusap air mataku. Aku benci itu.

“ Hai, Eunhyuk…. aku tahu semua yang telah terjadi membuatmu sulit, tapi, apa gak bisa kalau aku menjadi temanmu, meski aku gak yakin kalau aku menjadi teman yang kau impikan itu?”

“ karena gak yakin jadi tidak usah mengambil resiko Donghae…”

Mungkin itu kata-kataku yang membuat Donghae tertohok, akupun juga seperti itu, aku tertohok mendengar perkataanku.

Diam-diam aku selalu menangis saat mengingat kebersamaanku dengan Donghae, ia selalu membikin aku ingin menjebol tembok yang telah kubangun dan berlari memeluknya, lalu menangis bersamanya tapi, masih ada dinding-dinding yang lain yang terlanjur kubangun, sia-sia jika aku terus menghancurkan tembok.

Salahku jika akhirnya Donghae menyerah, ia bersikap seperti hampir tidak mengenaliku, saat-saat di atas panggung aku diam-diam memandanginya, ia bercengkrama dengan Sehun, member Boyband yang baru debut, yang kuketahui telah berteman lama dengan Donghae sejak masa pelatihan. Mengapa aku merasa seperti ini…

“ maaf Eunhyuk?”

Suatu hari setelah aku mengatakan bahwa kami telah tidak saling mengenal satu sama lain.

Mengapa ia begitu mudah meminta maaf padaku sedangkan aku tidak? Aku selalu saja memutar-mutar cerita agar kami tidak saling percaya terlalu dalam. Aku sadar ini terlalu menjijikkan untuk menjadi cerita persahabatan, apalagi kisah dua cowok. Tapi, seorang cowokpun juga punya perasaan, sisi seperti perempuan, sebenarnya bukan sisi seperti perempuan melainkan, perempuan dan laki-laki membunyai sisi perasaan yang sama, mungkin.

“ maafkan aku, aku masih ingin menjadi teman terbaikmu…”

“ aku masih tidak bisa, masih harus mengejar dia yang sempat menghancurkanku….”

“ ayo bersama-sama mengejarnya….”

“ jangan jadi sepertiku, Donghae.. jangan berjalan denganku karena aku tidak mau menuai hal yang sama lgi…”

“ begitukah?”

Begitulah aku, aku selalu memendam luka menahunku sendirian, memendamnya lewat uantaian-untaian senyum lebarku, nada-nada ceria penuh candaku, semua orang tidak tahu bahwa aku telah terluka hingga kehilangan rasa percaya, tetapi Donghae tahu.

Donghae tahu aku telah terluka.

Dan dia berusaha menyembuhkanku.

Dia bisa.

Tapi aku tidak mau.

Memang aku orang bodoh.

“ betapa aku senang ketika melihat senyum bodohnya itu saat melihat susu pisang yang kubuat khusus untuknya….”

Aku diam termenung mendengar perkataannya, pemilik senyum bodoh itu aku. Donghae membicarakanku di suatu acara. Aku tidak pernah tersenyum kepadamya dengan tulus. Tapi, aku ingat ia telah berusaha membuatku tersenyum tulus. Ia berhasil.

“ aku memeluk semua member saat ada susu pisang satu teko….” kataku pada acara itu dan aku yakin Donghae telah kecewa.

Kepada Donghae aku seperti itu, kenapa? Karena aku tahu kami sama, jika kami saling percaya dan bersahabat layaknya saudara, aku takut sesuatu yang menyakitkan seperti dulu akan terulang.

Dulu sekali Donghae pernah bilang padaku “ kalau menurutku teman adalah seseorang yang selalu ada untuk kita dalam keadaan senang maupun sedih. Teman tidak pernah melukai hati temannya sendiri, dan juga bisa menjaga perasaan kita, selalu setia, saling menyayangi, saling mengingatkan, saling memaafkan dan saling menghibur…” namun teman yang pernah kukenal adalah kebalikan dari semua itu.

“ mungkin mudah untuk diucap kata-kata yang kuucap itu! tapi itu sangat sulit dilakukan. Mungkin hanya 0, 00001% orang di dunia yang bisa mewujudkan. Akupun tidak yakin bisa atau tidak, mewujudkan kata-kataku itu mungkin tidak akan pernah bisa”

“ tapi, untukmu temanku, aku akan mencoba melakukan itu semua walaupun terlihat sulit untuk dijalani tapi, aku akan coba…”

“ dan suatu hari aku layak dikatakan sebagai seorang teman sejatimu…”

Aku selalu menyimpan deretan kata-kata itu dalam hati terdalamku, sesungguhnya aku telah mempercayai Donghae sejak lama, telah lama aku bersandar padanya. Susah senang ia menopangku selama 10 tahun berjalan ini, hanya aku yang tidak mau berusaha sepertinya, hanya berfokus pada masa lalu yang selalu ingin kukejar, yang seharusnya kutinggal dan kukubur.

Dulu aku pernah percaya pada seseorang yang membawa hidupku, aku begitu tulus menyayanginya, menganggapnya seperti segalanya, berempat persahabatan anak-anak yang demikian suci, hingga remaja, itu menjadi hal yang kian indah. Tetapi, tiba-tiba saat aku berada di awang-awang aku jatuh terhempas, di hempas tangan cantik seseorang yang kuelu-elukan. Aku difitnah hingga aku kehilangan ragaku, ia begitu pintar, pintar juga licik hingga membuatku membenci semua. Tidak berteman, memcukur rambutku hingga gundul, hanya duduk termenung di perpustakaan saat jam istirahat, badanku menjadi kurus, aku dikucilkan. Rasanya marah, malu, sedih dan ingin mengamuknya. Aku memendam itu semua hingga menjadi busuk lalu bertemu Donghae.

Tersenyum dengan tulus.

Sekarang tinggal angan aku mengharapkan bahu Donghae untukku tempat bersandar, aku yang telah menolak semua kebaikannya, aku yang telah menghancurkan, membuat semua semangatnya habis, membuat semua terasa sia-sia untuknya dan kesalahan terbesarku adalah membuatnya sama sepertiku.

Ia telah kehilangan rasa percaya.

Pernah suatu ketika aku menulis surat untuknya, ketika hubungan kami benar-benar renggang.

“ aku menulis, aku tidak akan bersama orang yang kukejar di atas puncak gunung yang sedang kudaki tapi aku akan bersama orang yang bersamaku mendaki gudung. Suatu ketika pasti kita bisa berteman seperti yang kau inginkan….buatku kamu adalah orang yang berharga Eunhyuk..” kuputuskan untuk memberikan surat itu saat ia akan pergi wajib militer tapi, hingga hari itu tiba aku gak pernah berikan surat itu, pelan-pen kuremat dan kubuang di tempat sampah.

Aku tidak pernah sampai hati, aku malu setengah mati. Tetapi, aku bingung aku tidak mau mengucap kata maaf. Itu karena aku benci meminta maaf.

Hingga akhirnya ia kembali dari kewajibannya, akupun begitu. Hari ini kami bertemu setelah 2 tahun tidak berjumpa. Aku hanya diam di sudut, tidak bicara apapun, ia tetap sama ingin memulai berbicara denganku, sejujurnya akupun begitu tetapi, entah mengapa aku terlalu cuek padanya atau aku merasa canggung. Kudengar ia akan tunangan dengan Sandara Park, tidak kusangka, ini adalah sebuah awal dari sebuah rasa sakit yang baru.

Cinta segitiga, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Tapi, entah bagaimana aku yang memulai ini semua, aku mengetahui Heechul hyung juga telah menjalin hubungan dengan Sandara sebelum bersama Donghae.

10 tahun sudah berjalan, kontrak Super Junior akan segera berakhir, aku tidak mau menuai hal yang sama lagi di saat aku mulai mengaku bahwa aku telah lama mempercayai Donghae.

“ Hai, Donghae…. coba fikirkan masa depanmu yang masih panjang!!” kataku tiba-tiba siang itu.

Pagi tadi aku telah membongkar semuanya di hadapan para member tentang perseteruan Donghae dan Heechul Hyung, aku tidak mau mengetahui ini sendiri. Leeteuk Hyung terkejut bukan main dan akhirnya perdebatan terjadi di antara Donghae dan Heechul hyung. Sungguh aku tidak menginginkan itu, tapi semua harus selesai.

Inilah yang kutakutkan, aku tidak mau saat aku dan Donghae memiliki kepercayaan tiba-tiba aku berada di posisi Heechul hyung, itu akan menyakitkan, ini adalah contoh kecil, alasanku tidak mau terlalu dalam berteman.

“ aku fikir, Sandara adalah masa depanku yang panjang…”

Aku terdiam mendengar jawabannya.

“ benarkah?”

“ ya, dan aku akan mempertahankan milikku kali ini, tidak ada yang boleh merebut….”

“ O …. ya”

Setelah siang itu aku berhenti melibatkan diri dalam cinta segitiga busuk itu, toh itu bukan urusanku. Aku merasa kecewa pada Donghae, entah mengapa.

Lama-lama Donghae berubah, menyendiri, tidak pernah berkumpul bersama member lain, akupun merasa bahwa aku juga menjauhi Donghae. Dan suatu ketika aku menyadari member lain telah menjauhi Donghae.

Heechul hyung adalah orang yang keras kepala, congkak, perfectionis dan tidak mau kalah, banyak sifat buruk yang dimilikinya. Tetapi, ia mencoba mundur dalam masalah ini.

Sosok Heechul hyung itu seperti sosok seorang yang ada di masa laluku yang telah membuatku menjadi seperti ini, makanya aku selalu mendekatinya dan belajar atau mempelajari sifat orang-orang seperti mereka.

Aku merasa karena cinta, teman juga bisa berubah sejauh ini, aku memang sudah menduga bahwa Donghae lemah terhadap hal seperti ini, Donghae memang lelaki yang kian baik tetapi aku nggak menyangka bahwa ia akan sejauh ini, memilih seorang wanita ketimbang saudara satu grupnya, kupikir seharusnya ia juga tidak memilih Sandara, agar tidak ada yang terluka, agar semua kembali tenang.

“ Tapi, maaf untuk semua, aku telah memilih Sandara, aku tidak bisa lagi mengalah..”

Kembali, Donghae mengecewakan kami, secara pribadi aku kecewa berat, itu membuktikan bahwa ia nggak lagi mementingkan saudara seperti kami.

Kulihat Heechul hyung mengepalkan tangan, sejujurnya aku tahu Heechul hyung tak mau benar-benar mundur, semua congkak dengan ambisinya.

Kamudian pandangan kami bertemu, aku memang memilih diam mulai saat itu, tidak banyak bicara. Tatapan Donghae padaku menyiratkan pertanyaan apakah kamu mengerti diriku? Aku mengerti Donghae tetapi, entah mengapa aku juga kecewa denganmu yang saat ini.

“ itu hakmu, jadi silahkan untuk menentukan pilihan tetapi, kalau bisa jagalah semua hati yang telah kau anggap saudara di sini…” itu Leeteuk hyung.

Selain aku yang begitu kecewa di sini adalah Leeteuk hyung, ia yang tertua di sini, seperti bapak kami, aku tahu ia merasa gagal. Tapi, mau bagaimana lagi.

Aku mengerti Donghae, ini mungkin adalah cintanya yang teramat besar terhadap perempuan itu, biarlah ia bahagia.

Semua telah berakhir dan Donghae bertunangan dengan Sandara. Tetapi, ia tidak kembali menjadi Donghae yang dulu, ia tetap sama, Donghae yang seperti batu, Donghae yang mengelu-elukan cintanya Sandara Park, terkadang aku ingin menyalahkan wanita itu tapi, aku sadar itu salah mereka bertiga dan kesalahanku adalah orang yang telah membongkar perang dingin itu.

Ia tidak pernah berbicara denganku lagi.

Sudahlah, toh bagus kalau Donghae sudah menyerah untuk masalah persahabatan kami. Tapi, aku merasa sedih karena aku melihat Donghae jadi sepertiku yang keras dan kejam, lebih parah ia menjadi antagonis bahkan ia tak pernah sandiwara sepertiku. Aku memang keras dan kejam karena dendam itu tapi aku selalu memakai topeng busuk bernama senyum dan tawa.

Aku menjauhi Donghae lebih jauh lagi, bahkan saat kami membuat album bersama, D & E, aku tidak bertegur sapa dengannya, kami hanya berinteraksi lewat acting, setelah itu aku kembali diam dan bisu, mengabaikannya.

“ Eunhyuk? Sudah membaca naskah?”

Aku mendongak dan hanya memberikannya sebuah anggukan ringan.

Aku tahu ia kecewa, ingin menangis karena kami jadi seperti ini. Aku juga sebenarnya, jujur aku merasa terhianati karena ia mempertahankan sifat sombongnya. Kukira ia sudah lelah sepertiku.

“ Eunhyuk, minum….”

Kuterima tanpa ucapan trimaksih, semua mengalir dan aku terus menjauhinya.

Hingga malam itu saat aku pulang ke rumahku, sebuah pesan masuk. Dari Donghae.

Jujur Eunhyuk…, aku bisa terima kehilangan Heechul hyung dan semua member… tapi kalau itu kamu??? Rasanya seperti hilang tubuhku.

Aku memandang deretan kalimat itu. Harus kujawan apa, meskipun ini bukan sebuah pertanyaan tetapi, setidaknya aku harus membalas pesannya yang menganggap diriku kian berarti. Aku menyadari sesuatu bahwa sesungguhnya Donghae telah menjadi seseorang yang berarti juga bagiku.

Aku juga nggak bisa kehilanganmu.

Aku telah berbohong dengan mengirimkan hal itu, aku memang telah kehilangan Donghae atau aku memang tidak pernah menerima Donghae dalam hidupku? tetapi semua berjalan sendiri, semua rasa sayang, percaya, kesetiaan tumbuh dengan subur tanpa pernah kusiram.

Pesanku memang hanya menjadi sebuah kata, yang akhirnya tertiup angin dan hilang. Biarlah dari pada menjadi rasa sakit.

Kini kami akan benar-benar pergi menuju jalan sendiri-sendiri. Super Junior telah resmi keluar dari SM, tetapi kami masih tetap Super Junior yang sudah benar-benar tidak ada adalah D & E, itu telah mati sejak awal.

Mungkin semua ini tidak berakhir seperti kisahku dahulu, tetapi katahuilah Donghae, ini lebih menyakitkan dan berat dibanding dulu karena kita telah saling percaya meskipun aku selalu menyangkal, kita telah saling menyanyangi layaknya seorang saudara, kita telah menjadi sahabat, lebih dari itu.

Selamat Tinggal Donghae, kamu memang bukan orang yang akan bersamaku dimasa depan tapi kupastikan aku tidak akan pernah melupakanmu.

Maafkan aku, maafkan aku…. itu sungguh kata-kata yang tidak berguna dan tidak berarti, kau tahu itu dan aku benci itu tapi, setidaknya biarkan aku mengemis maaf padamu karena telah membikin kau menjadi sepertiku. kau tahu sekeras apapun aku menolak membangun persahabatan di antara kita nyatanya tanpa pernah kita bangun telah berdiri istana persaudaraan kita.

Jaga diri Donghae, kita adalah teman syurga.

 

Selesai.

 

Untuk kisah di masa lalu yang ternyata terus terbawa hingga saat ini, mungkin juga masa depan. Maaf telah membikin kamu jadi seperti ini, mungkin ini adalah penyesalanku, kalau nanti kita bertemu dipersimpangan maut, ini adalah pembicaraan kita.

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: