Me [2-END]

cover-2

Author: Hara (@MagnaeFarah)

Title: Me (Part 2-END)

Casts: Cho Kyuhyun and OCs

Genre: Angst, Romance, Sad, Two Shoot

When there’s a link, just click on it so you can download the song as this FF’s soundtrack^^

Previous part – Me (Part 1)

-o-

Author POV

“Kokoro ga, itai na—ah,” Yeoja itu langsung pingsan setelah mengatakan kata-kata itu. Kyuhyun agak terdiam di kemudinya sebelum menyalakan mesin mobil. Dia menghembuskan nafas panjang, lalu menoleh ke sisi kanannya. Hara terlihat sangat lemah, Kyuhyun penasaran sekali berapa lama yeoja itu berada di bawah hujan. Dia baru sadar kalau semakin lama mereka ada di sana bisa-bisa nyawa yeoja itu tak terselamatkan, sehingga ia langsung tancap gas menuju apartement-nya.

Sesampainya di apartement, dia langsung membawa Hara ke kamarnya. Baju yeoja itu sangat basah, kalau saja yeoja itu tidak pingsan dia bisa mengganti bajunya sendiri. Tidak mungkin dia membiarkan yeoja itu kedinginan. Hara memakai hoodie putih polos yang pernah juga Kyuhyun lihat saat dia berada di kedai yang sama dengan Hara.

Kyuhyun adalah namja yang cenderung cuek, tak suka memiliki banyak hubungan dengan yeoja dan sekarang dia harus berperang dengan dirinya sendiri yang nyatanya malah berkata kalau dia sungguh berdebar sekarang. Ya Tuhan, selamatkan aku, bila aku berdosa melakukan ini kumohon ampuni aku, ringis Kyuhyun dalam hati.

Dia sendiri tak menyangka akan bertemu juga dengan seseorang yang Abe nyatakan sebagai yeoja yang menyukainya disaat-saat seperti ini. Kyuhyun mulai menyalakan mesin penghangat ruangan lalu perlahan membuka hoodie putih polos itu, takut membangunkan Hara. Wajahnya masih terlihat biasa saja, sekeluarnya dari kamar, rona merah tomat langsung menghiasi wajahnya, bahkan menjalar sampai ke telinganya. Dia menutup matanya rapat, menggelengkan kepala kuat-kuat sambil meremas hoodie milik Hara.

Setelahnya dia sadar bahwa dia harus menjemur hoodie itu, lalu dia mengambil baju milik nunanya yang masih tertinggal di apartement-nya, mungkin ada yang cocok untuk Hara. Setelah itu dia membuat coklat panas, lalu membawa benda-benda tadi ke kamarnya. Hara masih terlelap, wajarkan saja, dia masih sangat lelah.

Kyuhyun teringat untuk mengambil handuk, kemudian dia perlahan mengubah posisi Hara menjadi duduk dan mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Rambut yeoja itu sangat lembut, jujur saja Kyuhyun merasa sia-sia sekali Hara mencoba menyakiti fisiknya yang terkategori baik ini. Kegiatan Kyuhyun berhenti ketika ia memfokuskan matanya pada wajah Hara yang tengah terlelap.

Why am I fluttering like this?, batin Kyuhyun. Dia pun berpindah ke sisi samping Hara yang kosong. Dia juga mengantuk ngomong-ngomong, tapi bagaimana bisa kalau dia tidak tidur di sini? Dia tidak mungkin memindahkan Hara dan mencoba untuk tidur sendiri—intinya dia sedang mencari berbagai alasan pada inner self-nya yang sejujurnya berkata kalau dia sangat senang sekarang.

Dia berusaha mencari posisi terdekat dengan yeoja itu. Hatinya seperti mau meledak sekarang, dia tidak tahu kalau dia akan menyukai yeoja ini seperti yang Hara lakukan padanya. Inikah karma untuknya? Atau justru sebuah anugerah? Sementara Kyuhyun mencari jawabannya, kini otaknya memerintahkan dia untuk mendekati wajah Hara.

Jujur saja, hatinya berdebar tak karuan melihat bibir yeoja itu. Aah apa yang ia pikirkan sekarang? Apakah kalian bertanya? Bagaimana aku bisa menjawab sementara otak Kyuhyun tak bisa berpikir dengan baik dan malah meneruskan keinginan hatinya? Omo! Omo! Omo!

-o-

Hara POV

Tubuhku terasa lemah sekali dan mungkin aku sedang demam sekarang. Mataku perlahan terbuka, leherku sedikit pegal untuk menoleh. Omo! Mwoya igeoneun? Ige jeongmal Kyuhyun-ssigayo? Naega eodi, eoh? Aah, someone tell me please!! Apa yang dia lakukan dengan jarak sedekat ini padaku? “K-Kyuhyun-ssi—?” panggilku gugup.

Mata Kyuhyun terbuka sedikit, “A-ah, n-ne?” sontak dia menarik diri sambil menundukkan kepala. “Naega eodi? Naega wae yeogi?” tanyaku sambil memperbaiki posisi dudukku lalu mengedarkan pandangan. Pikiranku mendadak berjalan mundur ke waktu sebelum aku pingsan, ah iya aku hujan-hujanan lalu bertemu Kyuhyun, ketika aku mau pingsan dia langsung membopongku dan aku mengigaukan kata-kata itu.

“Ah aku ingat! Maafkan aku karena kata-kata yang kubilang tadi sebelum aku pingsan, itu tidak sengaja, sungguh! Aku tidak sadar saat itu,”

Kyuhyun menoleh padaku, “Tidak sadar? Kalau begitu bagaimana bisa kau tahu kalau kau mengatakan itu padaku?”

Aku tersentak, benar juga. He always knows what to say. Ah jinjja, etteokhae? Aku bukan orang yang pandai berbohong. “Mianhae,” jawabku singkat. “Maaf, aku rasa aku sudah berbohong…”

Kyuhyun hendak berkata lagi namun dia ingat sesuatu, “Tidak masalah, oya aku sudah buatkan coklat panas untukmu.” Dia mengambil coklat panas itu lalu memberikannya padaku. Apa ini? Aku sudah merasakan pompa di jantungku bekerja puluhan kali lebih cepat dari biasanya, lalu apa ini? Kami adalah sepasang orang tanpa status yang berada di atas kasur yang sama! AH JINJJA MWOYA?!

Dia bahkan membantuku memegangi cangkir coklat yang masih panas ini, ah mati saja aku!! Selesainya, aku menyadari ada handuk di kepalaku. “Ini handukmu?” tanyaku memberanikan diri menatap mata Kyuhyun. Mata itu, dalam jarak ±30 cm ini aku merasakan kalau aku ternyata benar-benar tak bisa melepaskannya, untuk seseorang yang mungkin akan menggantikan posisiku nanti. Tidak akan.

Senyum pertama dari Kyuhyun yang benar-benar dia tujukan padaku. “Pakailah, tadi aku sudah mengeringkan rambutmu, rambutmu lembut ternyata. Ah aku juga membawakanmu baju milik nunaku yang mungkin cocok untukmu. Kau bisa mengganti bajumu di kamar mandiku. Tenang saja, dari tadi aku tidak melakukan apa-apa padamu,” jelasnya.

Dia pun meninggalkan kamar, sebelum akhirnya dia bilang satu hal lagi, “Hoodie putihmu, aku rasa itu adalah hoodie favoritmu. Kalau kau mau mencari hoodie itu, sudah kujemur di ruang cuci. Kau tinggal mengambilnya di sana, ne?”

“Ne, jeongmal gamsahamnida!” seruku sebelum Kyuhyun menutup pintu. Hatiku merasa lega setelah tahu bahwa Kyuhyun menyelamatkan hoodie-ku. Eh tapi tunggu dulu, tunggu dulu! Bagaimana bisa dia mengambil hoodie itu dariku? Aku masih ingat betul kalau aku belum melepas hoodie itu bahkan sebelum aku pingsan. Jadi, maksudnya, Kyuhyun… hoodie-ku?? AAAAAAA!!

Aku pun melangkah keluar kamar setelah mengganti baju. Kulihat Kyuhyun sedang membuat sesuatu di dapur. Aku pun menghampirinya. “Woah, ramyeon!” seruku berbinar-binar. “Ne?” tanya Kyuhyun, dia terlihat kaget. “Gomen ne, sepertinya aku mengagetkanmu, ada yang bisa kubantu?” tanyaku. “Tunggu saja ramyeonnya jadi, kalau mau membantuku itu, ya dari tadi,” “Ne? Ah mianhamnida,” Kyuhyun menoleh kearahku lalu menyeringai manis(?), “Aku bercanda, aku hanya tak ingin merepotkanmu, lagipula kau adalah tamu di apartementku dan aku seharusnya melayanimu kan? Bukannya kau yang membantuku,” Jujur saja aku merasa sedikit… aneh? Tentu saja, rasanya sebelum hari ini Kyuhyun memperlakukanku seperti orang asing, tentu aneh jika sekarang dia tiba-tiba bersikap baik padaku.

Aku pun menunggu di depan TV, aku seperti orang bodoh saja menunggu sambil melamun. “Hey,” panggil Kyuhyun sambil membawa dua mangkuk ramyeon lalu meletakkannya di atas meja. Aku tersenyum senang, “Gamsahamnida!” Sebelum makan aku sadar sesuatu, “Kyuhyun-ssi, apakah kau juga mengamankan tas dan handphone-ku? Dimana kau meletakkannya?”

“Aku meletakkan tasmu di tempat hoodie-mu, handphone-mu—” Kyuhyun merogoh sesuatu dari saku celananya. “Ini, bagaimana bisa kau hujan-hujanan sementara handphone dan headset-mu ada di saku hoodie yang kau pakai? Untung saja benda ini bisa diselamatkan,” jelas Kyuhyun. “Ne, aku harus banyak berterima kasih padamu hari ini,” ujarku sambil meraih handphone-ku, tapi tanpa sengaja aku menyentuh tangan Kyuhyun. Geu ttatteuthan soneul, jinjja…

Aku merundukkan kepala tanda meminta maaf. Sebelum makan, aku mengecek isi iPhone-ku, aku menyambungkan headset lalu memasangnya di kedua telingaku. “Jal moggesseumnida! Itadakimasu!” seruku pada Kyuhyun yang terlihat terpaku padaku.

o-

Author POV

Mereka pun makan dalam keheningan. Dari awal yeoja itu mendengarkan musik, Kyuhyun sudah penasaran dengan lagu apakah itu tapi ia tak berani bertanya, sehingga ia diam-diam membuka iPhone Hara ketika yeoja itu sedang fokus makan. Oh, tidak di-password! Layar iPhone itu langsung menuju ke Playlist musik. Terlihat cover-nya seorang tokoh vocaloid dengan nama Megurine Luka dan judul lagunya インタビュア (Interviewer).

Dia melihat di favorite list milik Hara, hanya ada lagu itu. Belum lagi option playlist-nya, Repeat: Current song; Shuffle: Off. Pasti lagu ini benar-benar memiliki arti sendiri untuk Hara, batin Kyuhyun. “Hara-ssi,” panggilnya. Hara menoleh, oh dia masih bisa dengar rupanya! “N-ne?” Hara terlihat gugup karena mata Kyuhyun terfokus padanya.

“Boleh aku meminjam headset-mu sebelah? Sepertinya kau suka sekali lagu ini, aku ingin mendengarnya juga,” Hara agak ragu, tapi ia tetap melepas headset-nya sebelah dan memberinya pada Kyuhyun. Karena headset itu lumayan pendek dan untuk mengurangi resiko salah satu sisi headset terlepas dari telinga mereka, maka Kyuhyun menggeser posisi duduknya mendekati Hara.

DEG! Hara mendadak berubah jadi patung, pemirsa! Oh tidak benar-benar jadi patung, hanya saja dia terlihat kaget dan mematung. Dia terlihat sudah tidak tahan lagi menahan keinginan hatinya. “Kyuhyun-ssi, boleh aku bertanya?” Kyuhyun terlihat mengangguk sementara ia masih melihat lirik lagu Interviewer di iPhone Hara.

“Kenapa kau terlihat baik hari ini? Kenapa kemarin-kemarin kau seperti tak mengenalku? Kenapa kau baru memanggil namaku setelah hampir 2 minggu kau berada di kelasku? Apakah kau mengenalku sebelum ini? Oh bukannya menanyakan itu, lebih tepatnya kenapa kau memilih pindah ke kelasku?—”

Kyuhyun masih melihat lirik lagu yang ia lumayan pahami itu, kemudian dia berpikir kalau Hara benar-benar… mencintainya? Tolehan kepala Kyuhyun pun membuat Hara langsung bungkam, apakah dia marah sekarang? “Aku tidak sanggup menjawabmu sekarang, aku, aku takut—” spontan tapi perlahan dia meraih tangan Hara, “Maaf, kumohon, maafkan aku,”

Hara terlihat sedikit mengerutkan alis, “Apakah aku akan tersakiti? Kenapa? Kenapa kau malah mempedulikanku? Apakah kau sudah hidup lebih baik daripada aku?” Tangan Hara sangat gatal ingin menyentuh pipi namja itu yang sekarang tengah menundukkan kepalanya. “Wae? Apakah Donghae-ssi sama sekali tidak memberitahu apapun tentangku?” ups, keceplosan!

“Mwo? Donghae hyung? Apakah kalian benar-benar punya hubungan lebih dari teman?”

“Siapa bilang? Kami tidak begitu kok! Aku belum berpacaran seumur hidup, aku berani bersumpah!” Hara memasang tampang lucu sambil membentuk huruf V dari tangannya. Kyuhyun langsung percaya, lagipula dia sudah tahu lebih banyak tentang yeoja ini dibandingkan dengan Donghae, jika dia benar-benar ingin dibandingkan.

Ramyeon di mangkuk Hara sudah habis, sedangkan Kyuhyun masih asyik melanjutkan makannya yang tertunda, tapi dia segera berhenti mengunyah menyadari tatapan yeoja itu. “Apakah kau memang selapar itu untuk melihatku makan?” canda Kyuhyun. Hara mencoba menolak dan bilang “Ah ani, aniya,” tapi Kyuhyun masih menyiapkan sesumpit ramyeon untuk Hara.

Dia pun memasang tampang mangap, mengisyaratkan Hara untuk menerima suapannya. “Ne?” akhirnya dengan hati-hati Hara menerima suapan Kyuhyun dan menyiapkan tangannya kalau ada kuah yang tumpah nanti. Ekspresi Hara ketika makan lucu sekali, terlihat manis tanpa dibuat-buat. “Gamsahamnida,” ujarnya setelah menyelesaikan kunyahannya. Sejenak Kyuhyun masih ingin memanjakan matanya melihat sosok yeoja itu untuk malam ini saja.

Selesai makan, Hara menyiapkan barang-barangnya untuk pulang. Tasnya, hoodie-nya, semua sudah siap. Karena Hara dan Kyuhyun sudah tahu kalau tempat tinggal mereka sangat dekat, maka Kyuhyun akan menemani Hara pulang. Seperti biasa, hari ini hujan juga jadi Kyuhyun mengantarkannya dengan payung.

Di sisi lain, terlihat Donghae yang tengah berjalan menuju apartement Kyuhyun, ingin berkunjung, mungkin? Tapi saat pintunya terbuka dan ia melihat Kyuhyun bersama yeoja yang ternyata adalah Hara, ia langsung bersembunyi, ingin melihat apa yang terjadi antara mereka.

“Aku rasa mulai sekarang kita harus bersikap biasa saja, meskipun ternyata kabar jika kau mencintaiku adalah benar. Aku akan menghargai apapun itu, toh kelihatannya aku juga akan mencintaimu seperti yang kau lakukan padaku,” kata Kyuhyun dengan nada bercanda.

“Ne? Ah begitu, tentu saja. Anggap saja kita ini adalah sahabat. Aku pun sudah senang kalau ada juga namja yang bisa bersikap baik padaku,” timpal Hara. Donghae terlihat kaget, yang di otaknya ada berbagai pertanyaan tapi yang paling utama adalah Apakah Hara sudah tahu kalau aku itu bukan ‘namja baik-baik’, sehingga dia terlihat menjauh dariku?

Ketika sampai di luar apartement, Kyuhyun membuka payungnya lalu mengajak Hara bergabung dan mereka mulai berjalan. Nampaknya payung itu tidak cukup besar untuk mereka, jadi spontan Kyuhyun merangkul Hara, berniat menghindarkan yeoja itu dari rintik-rintik hujan, cukup saja sore tadi dia sudah main hujan selama hampir 3,5 jam, tapi tetap saja Hara terlihat mematung dan jantungnya berdebar tak karuan.

Sementara, di apartement Hara, Abe tengah sibuk mondar-mandir di depan pintu ruangan milik Hara, dia menelpon Hara tapi nomor yeoja itu tidak aktif. Begitu ia mendengar langkah kaki yang ia kenal -secara dia adalah orang Auditory– dia sudah sangat bersyukur, tapi begitu tahu ada sepasang kaki lain di samping sahabatnya, Abe berniat untuk bersembunyi, jaga-jaga untuk tahu dengan siapa sahabatnya datang.

Sesampainya Hara di depan pintu ruangannya, mata sipit Abe melebar seketika. “Kyuhyun-ssi?” bisiknya sangat pelan. “Aku tak percaya kau masih bisa bertahan hampir 3,5 jam di bawah hujan, kalau aku jadi dirimu, mungkin aku sudah terbaring di rumah sakit, hahaha! Sekarang pedulikan saja dirimu, kalau kau sakit, istirahatlah. Kita tak punya kelas 5 hari ke depan, ya kan? Cepat sembuh!” Wah! Kyuhyun bahkan berani mengacak pelan rambut Hara.

Ada apa ini? Mereka kenapa? Apa mereka—? “Ne, gamsahamnida, Kyuhyun-ssi. Hati-hati pulangnya nanti, jalanan sangat licin. Aku tak mau kau sampai patah tulang karena kepleset,” Hara dan Kyuhyun kompak tertawa, setelahnya Kyuhyun izin pulang sambil melambaikan tangan yang dibalas juga oleh Hara. Baru dia masuk dan hendak menutup pintu, seseorang menahan pintunya, Hara pun melongohkan kepalanya keluar pintu, “A-Abe-ya?”

Kyuhyun berjalan dengan senang hati, terlihat dia tengah senyam-senyum tidak jelas. Sampailah dia di apartement-nya. Ketika dia akan membuka pintu ruangannya, sebuah tangan melintang di depannya, menghalanginya. Seperti mengenal tangan itu, Kyuhyun pun menoleh ke si empunya tangan. Matanya membulat, “Donghae hyung?!”

-o-

Hara POV

Aku tengah diselidiki habis-habisan sama Abe, aku kan takut jadinya. Ternyata dia sudah menungguiku dari tadi. “Begitulah ceritanya, aku tidak bohong! Kau tahu aku tak bisa berbohong,” Abe tengah berpikir keras, “Iya, aku tahu! Aku bukan berpikir soal itu!” Dia terlihat memutar lehernya ke kanan dan ke kiri, pegal.

“Aku juga heran mengapa Kyuhyun-ssi tiba-tiba berubah jadi seperti itu, tapi bukannya justru bagus? Aku pun sudah yakin dari awal kalau dia juga mencintaimu! Kalau tidak untuk apa dia harus terlihat senang saat aku mengenalkanmu padanya? Belum lagi setelah kau benar-benar bertemu dengannya? Ahh kenapa kalian berdua manis sekali?” tanya Abe gemas.

“Manis apanya sih? Aku tak merasa… begitu,” ujarku malu, pipiku memanas sekarang! Tapi, tengah bahagia-bahagianya begini, aku jadi teringat dengan Donghae-ssi. Betul juga, aku belum menemuinya akhir-akhir ini. Aku pikir lebih baik aku mengaku saja kalau aku sudah mengetahui semuanya, jadi aku bisa lega tanpa dihantui olehnya lagi.

-o-

Author POV

Di ruangan Kyuhyun, terjadi juga ketegangan yang sama seperti di ruangan Hara. Kedua namja yang sama-sama punya hubungan dengan Hara ini terlihat dalam kondisi yang tidak baik. Terasa iPhone yang berada di tangan Kyuhyun sekarang bergetar. Sebuah pesan.

Dari Hara?! Buru-buru ia membuka pesan itu.

「Donghae-ssi, maaf kalau terlalu mendadak, tapi aku hanya ingin kau jujur. Kenapa kau terlihat sama jahatnya dengan Kyuhyun-ssi? Setidaknya dia tak seburuk itu. Kenapa kau harus datang padaku waktu itu dan berpura-pura menjadi namja baik yang bisa mencuri hatiku? Pada akhirnya, aku terlambat untuk mengetahui kalau kau sudah punya yeojachingu. Kalau kau jujur, itu tidak masalah untukku. Tapi kalau berbohong, justru itu menyakitiku. Nappeun nom, neo jinjja nappeun nom! I’ll leave you if you want! Don’t hurt me like this!

Kyuhyun terlihat kaget, begitukah penilaian yeoja itu padanya selama ini? “Hyung,” panggil Kyuhyun. Donghae menoleh, lalu menerima lemparan iPhone dari Kyuhyun. Setelah Donghae membacanya, dia terlihat menyeringai. “Ini yang kau mau kan?” jawab Donghae sinis.

“Kau yang memintaku untuk datang padanya hari itu, berpura-pura menjadi namja gugup di depannya dan berusaha menarik perhatiannya. Mendatangi kelas kalian dan berakting untuk membuatmu cemburu. Memancingnya untuk menceritakan segala sesuatu yang dia rasakan dan pikirkan tentangmu. Sejak hari itu, dia selalu curhat pada‘ku’ lewat SMS yang kau baca, dan dengan polosnya dia berpikir bahwa itu adalah ‘aku’,”

Kyuhyun terlihat menatap Donghae dengan kilatan marah yang luar biasa. “Wae? Santai saja uri Kyuhyunnie~, aku tak melakukan apa-apa dengan yeoja itu, aku bahkan sempat berpikir untuk merebutnya darimu. Habis kau bodoh sekali menyerahkan yeoja yang sangat baik itu pada seorang playboy sepertiku. Bahkan seluruh namja di dunia ini, kalau mereka mengenal Hara, aku jamin kau bisa turun peringkat di hatinya,”

BUGH!

“Aku bilang tutup mulutmu, Lee Donghae!” Donghae terlihat tak ambil pusing dengan pukulan Kyuhyun, darah mengucur dari sudut bibirnya. Ia pun mengelap darah itu dengan cool-nya. “Ckckck, uri Kyuhyunnie~. Ahh tapi sayang sekali Hara sudah tahu kalau aku punya yeochin, jadinya aku tak bisa merebutnya darimu. Hm, apa yang kau lakukan ini, Kyuhyun-ah? Bukankah seharusnya kau berterima kasih karena sudah kubukakan jalanmu, HAH?!” Amarah Donghae bangkit lalu dia menyerang balik Kyuhyun di bagian perut.

Namja itu jatuh terduduk. “Adik kecilku, kau tak perlu melawanku, harusnya kau sadar kalau kau bisa saja mati ditanganku. Apalagi aku sudah cukup sabar dan baik untuk menolongmu, ya kan? Dasar tidak tahu terima kasih!” Donghae yang dari tadi masih tersenyum manis namun penuh aura membunuh itu kini nampak penuh amarah di wajahnya dan menyerang Kyuhyun lagi di area wajah.

Melihat Kyuhyun cukup tak berdaya seperti itu, Donghae pun berjalan keluar dari apartement. Dia terlihat menyeringai seram, bayangkan saja seseram apa dia itu.

Sunday morning, 10.15 AM

Hara terlihat demam sekarang. Dia ingat pesan Kyuhyun untuk tetap beristirahat. Mengingatnya saja membuat Hara tersenyum. Oya, apa yang Kyuhyun lakukan pagi ini? Sudahkah dia sarapan? Tunggu dulu, harusnya dia bertanya sudahkah namja itu bangun, mengetahui Kyuhyun adalah orang yang suka tidur, betul kan?

Dia berniat meng-SMS-i Kyuhyun, tapi dia lupa menanyakan nomor namja itu tadi malam. Betapa bodohnya dia! Akhirnya Hara berinisiatif untuk mendatangi langsung apartement Kyuhyun. Dia diam-diam melihat password yang Kyuhyun ketikkan saat dia hendak mengunci pintu apartement.

Selama perjalanan, dia terlihat senang, banyak tetangga-tetangga apartement yang menyapanya. Tak lama kemudian dia sampai di apartement Kyuhyun lalu menuju pintu ruangan namja itu. Sesampainya di sana, keadaan pintunya biasa-biasa saja, Hara pun tak punya feeling apapun tentang Kyuhyun saat itu.

-o-

Hara POV

TING TONG

Kutekan bel itu dengan senyum sumringah, aku menunggu sambil menggoyang-goyangkan kakiku. Belum ada sahutan dari dalam. Akhirnya kutekan bel itu yang kedua kalinya. Belum juga ada tanda-tanda kalau penghuni ruangan itu akan membukakan pintu. Mungkin dia masih tidur, pikirku. Kutekanlah bel ketiga disertai ketukan dan panggilanku, “Kyuhyun-ssi!” seruku. Masih dengan kesabaran level tinggi kutekan bel keempat, kelima, bahkan keenam kalinya. Kesabaranku mencapai level rata-rata sekarang. Aku masih yakin kalau Kyuhyun akan membukakan pintunya. Aku berpikir untuk mengetikkan password yang tadi malam kulihat, tapi aku masih ragu dan itu termasuk tidak sopan, kan?

Akhirnya keajaiban pun terjadi ketika kutekan bel ketujuh, terdengar sahutan lesu dari dalam. KREK! Pintu itu mulai terbuka sedikit, eh, jadi pintu ini tidak dikunci? Bodohnya aku! Aku masih memasang senyum manisku sebelum kulihat kondisi Kyuhyun yang sekarang. “Kyuhyun-ssi?” tanyaku tak percaya. Ada memar di sudut bibir kiri Kyuhyun, belum lagi tangannya meraba perutnya dan dia terus mengaduh kesakitan.

“Gwenchanayo?” aku memberanikan diri memegang luka itu, tapi Kyuhyun sempat tersenyum manis sebelum akhirnya dia limbung di bahuku. “Kyuhyun-ssi! Kyuhyun-ssi!” panggilku. Aku berpikir untuk membawanya ke dalam, jadi aku hanya akan menggandengnya di bahuku, habisnya dia jauh lebih tinggi dariku. Di ambang pintu tadi, secara tak langsung aku sama saja terlihat seperti memeluknya, kan? Aduh etteokhae??

Aku sempat mengambil iPhone yang di atas meja tadi, mungkin aku akan menghubungi Donghae lewat sini. Tapi sebelumnya, aku mencari dulu kotak P3K di apartement Kyuhyun ini. Setelah menemukannya, aku mengobati luka di sudut bibir Kyuhyun. Kupikir akan baik-baik saja mengobati Kyuhyun ketika namja ini pingsan, tapi ternyata dia sadar lagi.

“A-ah, yeogineun apa, Hara-ya. Hmm.. geurae, gomapta ne? Kau baik hati sekali mau mengobatiku,” Kyuhyun masih sempat tersenyum manis, aku pun membalasnya. “Ada lagi yang sakit, dimana?” Kyuhyun menunjuk perutnya. Aku mengerjap polos, jangan berpikir yang tidak-tidak Hara-ya! Kau hanya mengobati namja ini, arraseo?

Aku mencari obat salep dan setelah ketemu aku mengambil beberapa bagian dari salep itu dan mulai mengoleskannya di perut Kyuhyun. Aku tak tega melihatnya meringis begitu, “Jjamkkanman ne? Wajar kalau memang sedikit sakit, tahan ya?” ujarku. Akhirnya pengobatan selesai. Aku membereskan lagi kotak P3K itu lalu beranjak turun dari kasur menuju tempat dimana P3K ini kuambil tadi.

Aku datang lagi ke kamar Kyuhyun dan melihat dia sedang mengutak-atik iPhone-nya. “Hara-ya, yeogi ppalli!” ajaknya padaku. Aku mengambil posisi kosong di samping Kyuhyun, lalu memfokuskan mataku pada iPhone itu. “Maafkan aku karena aku baru bisa menjawab pertanyaanmu hari ini,” Dia memperlihatkanku berbagai conversation-ku dengan Donghae, dan hampir semuanya hanya berisi bahasan tentang Kyuhyun. Ah aku malu, dihadapkan dengan orangnya langsung. Tapi, aku menyadari satu hal!

-o-

Author POV

“Berarti ini ponselnya Donghae-ssi? Apakah dia kemari tadi malam? Atau, jangan-jangan…” “Memangnya ini terlihat seperti ponselnya Donghae? Bukannya kau pernah melihat benda ini di tangan orang yang berbeda?” tanya Kyuhyun tepat sasaran. “Ne, aku melihat kau pernah memainkan ponsel ini di kedai saat aku melihatmu. Ah, cham! Aku chatting dengan Donghae malam itu dan semua pesanku masih ada di iPhone ini saat kau memegangnya… HAH? Apa maksudmu kau—” Hara spontan menoleh.

“K-Kyu-Kyuhyun-ssi, tsutaeyo! Jebal, marhaejwoyo! Tell me what on earth right now! This is my fault because I’m too fool or this really happens because this is destiny?” pinta Hara sambil mengguncangkan badan Kyuhyun, dia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia saja hampir menangis.

Kyuhyun menarik nafas panjang, dia mulai mengumpulkan keberaniannya untuk bercerita. Tapi saat dia menoleh, “Hara-ya! Niga wae ureo? Jebal uljima! Aku akan memberitahumu segalanya, tanpa ada lagi yang kusembunyikan. Aku janji, dengarkanlah aku,” setelah kondisi agak damai, Kyuhyun mulai bercerita.

“Aku mengenalmu sebelum ini, pasti kau juga sudah tahu dari Abe-ssi. Sejak saat itu, hubunganku denganmu yang masih dimediasi itu berjalan seperti yang kau ketahui. Karena Abe-ssi menceritakan berbagai hal terutama dimana kau kuliah dan di jurusan apa, aku merasa senang sekali. Kepindahanku ke kelasmu, itu kulalui dengan proses yang amat sangat panjang. Aku serius! Aku harus melewati seongsaengnim, juga kepala rektor. Aku harus memberi pernyataan ini dan itu, harus menemui kepala rektor di sini, dan situ, harus siap dipanggil jam segini dan jam segitu. Hasilnya ya, seperti sekarang ini. Kau juga pasti tahu belum ada mahasiswa senekat aku untuk memilih pindah kelas kan? Hhh~”

“Kau ingat saat Donghae hyung datang padamu hari itu? Aku tahu pasti kau merasa mendadak sekali seorang Lee Donghae mendatangimu, ya kan? Dia datang padamu, menanyakan nomormu sambil membawa iPhone ini. Jujur saja, aku yang memintanya mendatangimu dan membawa iPhone-ku untuk menyimpan nomormu. Mungkin aku terdengar seperti seorang pengecut, tidak, aku memang pengecut, ya kan?”

“Kusimpulkan saja, aku meminta Donghae hyung mendekatimu karena aku tak berani bertemu denganmu langsung. Aku memintanya mendengarkan seluruh perkataanmu tentangku, dan, selama ini kita sudah berinteraksi tanpa mediator meski masih melalui SMS. Aku tidak semestinya melakukan ini, tapi aku benar-benar tak tahu apa yang mesti kulakukan! A-aku, aku minta maaf, sungguh aku minta maaf,”

Hening. “Hara-ya?” Kyuhyun menoleh ke sampingnya dan terlihat seluruh wajah yeoja yang dipanggilnya tertutupi oleh rambut, tertunduk. “Nani iteirun desu ka?” jawab Hara lirih, agak berbisik. “So, what is this? Jadi yang terjadi akhir-akhir ini, semua karena rencanamu? Kau seharusnya senang ketika semua berjalan sesuai rencanamu, kan? Tentu saja begitu, kau berhasil meyakinkan seorang yeoja lugu sepertiku.” Hara mengangkat wajahnya yang sudah basah.

“Lalu apa? Apa lagi yang akan kau rencanakan? Mengapa kau tak berencana untuk melenyapkanku saja dari dunia ini?! Aku pikir dengan mencintai seseorang, aku punya alasan untuk hidup, nyatanya? Aku tak dibutuhkan siapa-siapa lagi di dunia ini, aku pun tak punya siapa dan apapun! Bukan salahku kalau aku menganggap kau sama jahatnya dengan Donghae-ssi!” Hara pun melangkah keluar dari kamar.

Kyuhyun hendak mengejarnya tapi langkahnya terhenti oleh kata-kata Hara, “Kejarlah aku tapi dengan niat untuk melenyapkanku. Jangan mengikutiku kalau kau hanya ingin memintaku untuk kembali! Sesampainya di depan ruanganku, aku menunggumu datang dengan apapun yang kau bawa. Bawalah pisau, pistol, atau benda apa yang anti-mainstream? Pokoknya, aku menunggumu. Kalau tidak, aku yang akan melenyapkan diriku sendiri,”

Selesai kata terakhir, Hara langsung lari tanpa mendengar teriakan Kyuhyun. Yeoja yang memiliki kecepatan lari di atas rata-rata itu sudah sampai di pintu ruangannya hanya dalam 5 menit. Di dalam, Hara menangis terisak, dengan berat hati dia mengambil pisau dapur. Dia adalah tipe orang yang selalu menepati janji, dan dia tahu kalau Kyuhyun takkan bisa melenyapkannya. Dia pun tidak benar-benar mengatakannya dari hati, dia masih ingin hidup! Meski hanya sendiri, tapi dia ingin hidup! Harapannya sekarang hanya, aku harap Kyuhyun-ssi akan menghentikanku.

-o-

Hara POV

BRAAK! Pintu apartement-ku yang tak kukunci itu dibuka kasar oleh seseorang, Cho Kyuhyun. Masih dengan keadaannya yang belum membaik dan kini wajahnya terlihat sangat panik, sementara wajahku terlihat menyedihkan, padahal dalam hati aku tersenyum melihat kedatangannya. Tangan kananku memegang pisau dapur. Aku terpaksa berakting kali ini. “Akhirnya kau datang juga, mengapa kau tak bawa apa-apa? Ah tak apalah, aku sudah memegang milikku sendiri. Jadi kau kemari untuk menontonku kan?” kataku dengan nada menyeramkan.

“Hara-ya! Neo michyeosseo? Hentikan semua permainan bodoh ini! Apakah seorang Park Hara memang sebodoh ini untuk memutuskan mengakhiri hidupnya? Apa kau pikir Abe-ssi dan Vee-ssi tidak membutuhkanmu? Mereka sahabatmu, kau tidak memikirkan mereka?” Kyuhyun melangkah ke arahku, entah apa yang hendak dilakukannya.

“Jangan coba-coba kau menghentikanku!” hardikku, melangkah mundur. Tapi sedetik kemudian kuraih lembut tangan Kyuhyun, lalu kuserahkan pisau dapurku. “Aku tak ingin melakukannya sendiri. Entah kenapa, aku ingin menyerahkan nyawaku padamu. Semua ada di tanganmu sekarang, aku mohon,” pintaku sedih. Aku menyesal mengatakannya, sebenarnya hatiku berkata, semua ada di tanganmu sekarang, aku mohon, …hentikan aku!

Kyuhyun terlihat menatap pisau itu, tapi kemudian dia melemparnya ke sembarang arah. PRAANG! Aku kaget mendengarnya, tubuhku gemetaran hebat, ketakutan. “Aku takkan melakukannya, aku bukan orang bodoh sepertimu! Aku tahu seberapa banyak sakit yang kau terima karena aku. Jangan berpikir kalau aku tak tahu! Aku selalu memintamu untuk bertahan, aku menyampaikannya di doa-doaku. Aku berharap suatu hari aku bisa memberanikan diri untuk muncul di hadapanmu, mengungkapkan perasaanku dan aku bisa selalu menjagamu. Tapi aku tak tahu mengapa semua terjadi seperti ini,” akunya.

Aku termangu mendengarnya, “Kau sudah cukup kuat bertahan selama ini. Kau menyimpan rasa sakitmu yang kau terima dari orang-orang yang mem-bully-mu. Aku belum pernah menemui dan mengakui kekuatan orang sepertimu. Tapi hari ini, jam ini, detik ini, kau membuatku merubah pikiran positifku terhadapmu. Karena itu…” Kyuhyun meraih kedua tanganku.

“Berhentilah memaksa dirimu sendiri. Aku memintamu berhenti mulai dari sekarang. Jadilah dirimu sendiri. Aku tahu kau masih ingin hidup, kau tak mungkin sebodoh itu. Meskipun aku sudah terlalu jahat padamu, tapi permintaanku kali ini, tak bisakah kau memenuhinya? Kau juga ingin berhenti dari segala kepedihan ini kan? Aku memintanya karena aku menyayangimu…”

Sontak aku pun terduduk lemas di lantai, pegangan tangan Kyuhyun tadi ikut terlepas. Aku menangis lagi, aku tak menyangka kalau selama ini, Kyuhyun selalu memperhatikanku. Tanpa diduga, Kyuhyun juga ikut duduk di depanku, tersenyum. “Kimi ga, egao yo? Nani kore…?” tanyaku.

“Aku takkan menyembunyikannya lagi. Aku akan mengungkapkannya padamu. Aku mencintaimu. Aku ingin selalu menjagamu dan tersenyum denganmu,”

Kyuhyun meraih kepala dan pundakku ke dalam pelukannya. Aku masih mengerjap tak percaya. Inikah rasanya bisa dipeluk seseorang yang kau cintai? Aku kembali menangis, membasahi baju yang Kyuhyun kenakan. Suara lembutnya menyuruhku berhenti menangis sembari dia mengelus rambutku. “Aku mencintaimu. Kau pun sudah sangat mengetahuinya bahkan tanpa aku jawab, kan?” kataku. Entah kenapa, tapi aku bisa merasa bahwa Kyuhyun sedang tersenyum sekarang, bahkan tanpa aku melihatnya.

“Untuk itu, kau harus mengubah favorite list-mu. Menyedihkan sekali kau memutar lagu itu, sekarang kau harus melupakan rasa sakitmu, bukankah aku sudah bersamamu sekarang? Lebih baik kau memutar lagu ini,” ujar Kyuhyun, dia mengajakku duduk di sofa. Dia meminta iPhone-ku dan entah apa yang dia lakukan, tapi kemudian dia menyambungkan headset lalu kami saling memasangkan bagian headset masing-masing.

Aku terkaget mendengar awalan lagunya, aku kenal lagu ini! Aku bahkan mem-favorit-kan lagu ini! Ketika lagu ini mencapai bagian chorus-nya, aku ikut bernyanyi bersama idol-ku di vocaloid ini.

🎵 Hanarebanare no bokura no ai wa

Now that we’ve become separated

Chikazuku hodo chiisaku mieteshimau kedo

Our love looks smaller the closer we get 🎵

 

“Kyuhyun-ssi, bagaimana kau bisa tahu kalau aku menyukai lagu-lagu karya 40mP? Bagaimana juga kau tahu kalau lagu ini adalah salah satu favoritku?” tanyaku penasaran. “Karena aku sudah banyak mengenalmu. Lihat lagu ini, Hatsune Miku – Life Size, dari liriknya saja sudah berbau hal-hal romantis. Kau tergolong orang yang suka keromantisan kan? Terlalu mudah juga menebaknya,”

“Setidaknya lagu ini bercerita tentang kita. Kau bahkan hapal lirik lagu ini. Aku mau jujur saja, aku beruntung bisa bertemu denganmu. Meski pertemuan langsung kita baru berlangsung beberapa hari, tapi aku merasa sangat senang. Gomawo,”

Aku menatap mata beningnya, dia tidak berbohong. Aku senang, akhirnya aku merasakan apa artinya ‘shiawase(= kebahagiaan)’ itu. “Nado, terima kasih karena kau sudah menghentikanku. Aku tak tahu harus berterima kasih seperti apa lagi karena kau sudah merubah pikiranku,”

Kyuhyun menoleh, “Begitukah? Apakah yang kau maksud itu?” Ah, yang benar saja dia tak mengerti? Akan terlihat seperti orang bodoh saja aku kalau begini jadinya. “Yaah kau mengerti kan? Mungkin ada yang ingin kau pinta dariku sehingga aku bisa memenuhinya dan aku merasa utang budiku sudah terselesaikan,” jawabku.

“Hm…,” Kyuhyun tampak berpikir, “kalau begitu, aku memintamu mengembalikan suatu keinginanku yang kau interupsi waktu itu,” jawabnya ambigu. “Keinginanmu yang kuinterupsi? Apakah aku pernah mengganggumu? Kapan? Katakan padaku kapan dan apa itu, setidaknya aku harus membalasnya sebagai permintamaafanku!” jawabku berapi-api, aku juga tak mengerti mengapa aku jadi begini.

“Kau ingat kan saat kau berada di rumahku setelah kau main hujan? Ingat kan saat kau mulai sadarkan diri dan mengagetkanku yang sedang berada pada posisi aneh menurutmu itu?” tanya Kyuhyun, kok dia tahu kalau aku menganggapnya aneh saat itu? Ah molla! “N-ne, maaf, tapi apakah ada yang salah dengan itu?” tanyaku polos.

“Tentu!” protes Kyuhyun cepat. “Kau mengganggu rencanaku waktu itu! Tapi sepertinya sekarang pun bisa jadi pengganti kesempatan yang hilang waktu itu, ne?”

Aku mengerjap pelan, “Nani iteiru no?” tanyaku. Kyuhyun yang terlihat berbeda dengan perpaduan antara dia sedang gemas, dan… full of passionate(?), tengah menatapku. “Jangan begitu, kumohon!” Kyuhyun mengusap wajahnya, “Menurutmu, jika sepasang manusia yang berlawanan jenis tengah dalam posisi seperti ini… apa yang kau pikirkan tentang kedua orang ini?” Kyuhyun mempraktikkannya dengan memojokkanku di sofa.

Apa ini?? Wajah tampannya terlihat sangat dekat, dan jantungku pun tidak terdengar seperti sedang berdetak, melainkan seperti sedang mengajak cheetah adu lomba lari! Aku tak mampu berkedip barang sedetik pun! Aku kehilangan fokus dan aku gugup setengah mati! “Kau…kau…” kataku terbata-bata.

“Karena menjelaskan ini pada seorang yeoja polos sepertimu adalah masalah tersulit di dunia, maka aku akan to the point saja. Ni ibsuri, jinjja kiseuhago shipeo!” Selesai kata terakhir itu, Kyuhyun perlahan menutup mata dan memajukan kepalanya ke arahku. Aku yang baru benar-benar mengerti juga ikut memejamkan mata. Wajahku memanas ketika merasakan hembusan nafasnya di bibirku. Sembari itu, kami membiarkan masing-masing telinga kami menikmati lagu yang sudah berganti sebagai backsound kami. Tuhan, biarkan aku menyimpan kenangan hari ini seumur hidupku…

🎵 Kawaru kawaru no bokura no ai wa

Our ever changing love

Nagareyuku toki no naka ni kieteshimau kedo

Will eventually fade away in the flow of time

Tsukuriageta sekai no naka de hitorikiri

But all alone in this made-up world

Itsudatte bokutachi wa toushindai no ai wo utaunda

We are always singing our life size love 🎵

Mataku perlahan terbuka ketika merasakan tubuhku tengah berbaring.

Friday, 06.59 AM

Itulah pemandangan yang menyambutku. Aku sontak memperbaiki posisiku dan ternyata aku berada di kamarku, kini pun aku tengah duduk dan pakaian yang kukenakan adalah baju tidurku. Ini tanggal yang sama seperti yang kutemui beberapa hari sebelum ini. Apa ini? Apakah aku bermimpi? Berhalusinasi? Atau lebih parahnya, aku berada di dunia lain yang memiliki sistem waktu mundur seperti menggunakan time machine?

Kenapa ini? Kenapa aku mendadak tak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang kenyataan? Setelah hampir 1 jam aku berpikir, akhirnya aku mendapati bahwa tadi aku baru saja bermimpi. Semua mimpiku terasa memang seperti sebagainya mimpi sesudah tanggal hari ini di mimpiku. Apakah aku akan mengalami de javu?

Semua kejadian di mimpiku… mengapa semua begitu indah? Mengapa setiap hal di dunia ini justru akan terasa lebih indah jika dibumbui dengan kebohongan? Mimpi itulah kebohongannya! Semua yang terjadi di mimpiku adalah harapanku yang tak tercapai di dunia nyata sehingga aku membawanya ke mimpi.

Tes… tes…

“Hiks.. hiks..” isakan itu meluncur saja dari bibirku. Tandanya aku sudah tak mampu menahan tangis sedihku sehingga isakan demi isakan akan keluar saja dengan bebas, bahkan tak jarang dihiasi dengan erangan dan teriakan. Aku hanya tak bisa menoleransi ini, kenapa mereka harus membuatku bahagia dalam kebohongan? Aku justru tidak bisa bahagia sama sekali kalau begitu, buktinya saja seperti sekarang ini.

Dibandingkan dengan mimpiku, lebih baik aku mati perlahan dengan memendam perasaanku yang takkan pernah sampai pada Kyuhyun. Namun, aku tak bisa melupakannya, aku hanya akan tetap mencintainya, dan selalu mencintainya. Aku harus berniat mulai sekarang untuk berjalan tanpa mengejarnya. Jika itu takdir, maka Kyuhyun pasti akan menemuiku apapun caranya, kalau tidak, ya tidak apa-apa.

Aku tak perlu memberontak atas perasaanku sekarang, aku hanya akan pasrah dan membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya. Karena aku rasa aku sudah berperang dengan diriku sendiri terlalu lama, jadi biarkan aku beristirahat, aku juga ada lelahnya dan aku butuh istirahat.

Pagi ini, matahari sudah terbit. Untuk sekali seumur hidup, aku menuruti kata hatiku seperti yang ada di mimpiku. Aku ingin tidur sebentar lagi saja…

THE END

 

NB: Thank you for everyone who still waits for the 2nd part of Me series! This I serve you, hmm what about your opinion? Maybe my ending isn’t like what all of you hope right? But that’s happen on my life story from my friend’s imagination. Do you understand? No? Oh, ok I won’t tell you too! And still, please remember to leave your comment and critic, or maybe if you request me to make a sequel for this series? With your pleasure! So I need your help, OK?

5 Comments (+add yours?)

  1. sophie
    Jun 03, 2016 @ 16:05:39

    Wehh kirain bakal hepi ending,,trnyata cm mimpi,,,iya mnta sequel dunk kak,,,biarr ygg tdi mimpi bisa jdi nyata,,kasian hara ygg udah dii PHP in,,kasih sedikit kebahagiaan bwt hara

    Reply

  2. hye rim
    Jun 03, 2016 @ 22:13:33

    akh minn .. kirain bakal happy ending . ini ff kaya hidup ku banget . mencintai seseorang tanpa pernah tersampaikan dan hanya bahagia dalam sebuah kebohongan mimpi .. Tuhan aku sangat merindukannya *maafcurhatt
    sorry baper

    Reply

  3. Hara-Fujiwara
    Jun 05, 2016 @ 12:16:29

    Aku seneng banget ada yg baca ff ini! Please check the previous chapter ya guys! Ada sequel-nya kok, tenang aja. Nice to meet you all!^^

    Reply

  4. lieyabunda
    Jun 06, 2016 @ 03:56:07

    ternyata cuma mimpi,,,,

    Reply

  5. uchie vitria
    Jun 12, 2016 @ 11:49:15

    jadi semuanya hanya mimpi belaka
    ya ampun hara nasibmu

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: